Sword Art Online 001: Aincrad I
Bagian 1
Estimasi waktu baca: 7 menitSebilah pedang abu-abu gelap menyayat bahuku.Garis panjang dan tipis yang terpampang di sisi kiri atas pandanganku pun sedikit menyusut. Di saat yang sama, aku merasakan sentuhan tangan yang dingin di jantungku.Dikenal dengan nama HP bar, garis biru yang menyusut itu adalah garis yang menunjukkan sisa nyawaku. Nyawaku masih ada lebih dari 80%. Namun, tidak seharusnya aku menginterpretasikannya seperti itu. Interpretasi yang benar adalah, saat ini, aku 20% lebih dekat menuju kematian.Sebelum pedang musuh mulai bergerak menyerangku lagi, aku melompat mundur dan menjauhinya dengan cepat."Haa …"Aku memaksakan diri untuk mengeluarkan napas panjang supaya bisa mengatur napasku. Di dunia ini, "tubuh" tidak membutuhkan oksigen. Namun, tubuhku yang lain, yaitu tubuh yang saat ini sedang terbaring di dunia nyata, pasti sekarang bernapas dengan terengah-engah. Bahkan, mungkin tanganku yang tidak berdaya itu berkeringat dingin dan jantungku pun berdetak dengan sangat cepat.Wajar saja.Sebab, meskipun seandainya semua yang kulihat ini adalah objek virtual dalam wujud tiga dimensi, dan HP-ku yang berkurang itu tidak lebih dari sekadar angka, hal tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa saat ini aku sedang bertarung mempertaruhkan nyawa.Oleh karena itulah, pertarungan ini sangat tidak adil. "Musuh" yang ada di hadapanku adalah monster jadi-jadian bertubuh manusia, tetapi berekor dan berkepala seperti kadal. Kulitnya hijau gelap, bersik dan lengket serta tangannya panjang. Sesuai penampilannya, dia bukan manusia. Bukan hanya itu, dia juga tidak sungguh-sungguh memiliki nyawa. Dia adalah sekumpulan data digital buatan sistem. Mau dibunuh berkali-kali pun, dia akan muncul lagi dan lagi.Tidak …Saat ini, program AI (Artificial Intelligence) yang mengendalikan si manusia kadal sedang mengamati dan mempelajari gaya bertarung ku. Kemudian, program tersebut akan terus-menerus meningkatkan kemampuan manusia kadal itu dalam merespons gerakanku. Namun, ketika manusia kadal yang ini musnah, data yang telah dipelajari tersebut akan hilang dan tidak ditransmisikan ke manusia kadal berikutnya yang akan muncul lagi di area ini.Jadi, dalam arti tertentu, manusia kadal itu juga hidup. Keberadaannya di dunia ini tidak ada duanya."Benar, kan …?"Meskipun tidak mungkin dia mengerti gumamanku, tapi manusia kadal yang merupakan monster level 82 bernama Lizardman Lord itu menyeringai, menunjukkan barisan taring tajam yang tersusun di rahangnya yang panjanIni adalah kenyataan. Semua yang ada di dunia ini nyata. Tidak ada yang namanya kepalsuan virtual atau apa pun.Aku mengubah posisi pedang panjang satu tangan yang kugenggam dengan tangan kanan supaya sejajar dengan tubuhku, untuk bersiap menghadapi Lizardman.Lizardman pun mengubah posis perisai bundar dari tangan kiri ke depan tubuh, dan menarik pedang lengkung di tangan kanannya ke belakang.Angin dingin yang entah dari mana datangnya berembus melewati labirin yang kelam ini hingga menggoyangkan api obor di dinding. Permukaan lembap lantai batu memantulkan cahaya dari api yang menari-nari itu."Graaah!!"Lizardman Lord melompat maju sambil berteriak keras. Dari jauh, pedang lengkungnya berkeluk tajam dan menuju ke arahku. Lintasan pedang tersebut memancarkan cahaya jingga terang yang menyilaukan di udara. Ini sword skill tingkat tinggi pada kategori pedang lengkung, yaitu Fell Crescent. Serangan tunggalnya yang mematikan dapat menempuh jarak empat meter dalam waktu 0,4 detik. Teknik ini benar-benar hebat.Namun, aku sudah menduga serangan itu akan datang.Aku sengaja terus-terusan menjaga jarak yang jauh darinya supaya Al penggerak manusia kadal itu menggunakan teknik tersebut. Ujung pedang lengkung manusia kadal mendekat hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidungku. Aku mencium bau hangus yang dihasilkan dari tebasannya. Aku pun merendahkan posisi tubuhku, mengincar dada manusia kadal itu."Ha …!"Sambil berteriak, aku mengayunkan pedang di tangan kananku ke samping. Pedang yang diselimuti efek cahaya biru muda itu menebas bagian perut si manusia kadal yang bersisik tipis. Namun, yang berhamburan dari perutnya bukanlah darah, melainkan cahaya berwara merah."Gyah!" Monster itu memekik lemah.Namun, pedangku tidak berhenti sampai di sana. Sesuai motion yang aku aktifkan, sistem secara otomatis membimbing gerakanku untuk lanjut ke serangan berikutnya dengan kecepatan yang luar biasa.Inilah sword skill, faktor paling penting yang menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam pertarungan di dunia ini.Pedangku kembali bergerak dengan cepat, dari kiri ke kanan, sekali lagi menebas dada manusia kadal itu. Tanpa mengubah posisi, aku memutar tubuhku dan melanjutkan ke serangan ketiga—serangan yang menebas tubuh si manusia kadal lebih dalam daripada sebelumnya."GRUAAAH!"Lizardman tidak bisa bergerak selama beberapa saat sebagai akibat dari kegagalan serangan skill tingkat tingginya. Ketika akhirnya bisa bergerak kembali, ia langsung berteriak, entah karena marah atau takut. Sambil berteriak, dia mengangkat pedang lengkung di tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.Namun, serangan beruntunku belum selesai. Seolah-olah dipantulkan oleh pegas, pedangku yang tadi mengayun ke kanan tiba-tiba berbalik arah ke kiri atas, dan langsung mengenai bagian jantung yang merupakan titik vital Lizardman.Garis cahaya biru muda berbentuk segi empat yang terbentuk dari serangan empat kali berturut-turutku itu memancar terang, kemudian menyebar. Inilah Horizontal Square, sword skill berupa empat rangkaian serangan secara horizontal.Elek cahaya yang terang itu menyinari dinding labirin, lalu menghilang. Saat itu jugalah HP bar yang terpampang di atas kepala Lizardman menghilang tanpa menyisakan saru titik pun.Tubuh besar berwarna hijau yang sekarat itu jatuh ke belakang, lalu tiba-tiba berhenti bergerak dalam posisi yang tidak wajar.Bersamaan dengan terdengarnya suara keras seperti suara balok kaca yang pecah, Lizardman pun hancur menjadi pecahan-pecahan kecil berbentuk poligon, kemudian lenyap.Inilah "kematian" di dunia ini—singkat dan cepat. Kebinasaan sempurna tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.Aku melihat sekilas tulisan experience points dan drop item list berwarna ungu yang muncul di bagian tengah pandanganku, lalu mengayunkan pedangku ke kanan dan ke kiri, kemudian memasukkannya ke dalam sarung pedang yang ada di punggungku. Aku mundur beberapa langkah hingga punggungku mengenai dinding labirin dan perlahan terduduk.Aku menghela napas yang sejak tadi ku tahan dan menutup kedua mataku rapat. Saat itulah, aku merasakan sakit di pelipisku. Sepertinya, karena kelelahan akibat bertarung seorang diri dalam pertarungan yang panjang tadi. Aku menggelengkan kepala dengan kuat berkali-kali untuk menghilangkan rasa sakitnya, lalu membuka mataku lagi.Jam yang menyala di sisi kanan bawah pandanganku menunjukkan bahwa saat ini sudah jam tiga sore lewat. Kalau aku tidak segera keluar dari labirin ini, aku tidak akan bisa sampai ke kota sebelum matahari terbenam."Pulang saja, deh…" gumamku, meskipun tidak ada siapa pun yang mendengarya. Aku pun perlahan bangun.Kegiatan "menaklukkan" monster untuk jatah satu hari ini telah selesai kulakukan. Hari ini pun, entah bagaimana caranya, aku berhasil menghindari dewa kematian dan dapat bertahan hidup. Namun, ketika nanti aku kembali ke rumahku dan istirahat sejenak, hari esok sudah menanti bersama dengan pertarungan yang lain lagi. Meskipun aku sudah meningkatkan level sampai batas aman, kalau terus-terusan melalui pertarungan yang kemungkinan menangnya tidak 100%, pasti akan datang hari ketika dewi fortuna tidak lagi berada di pihakku.Masalahnya adalah, yang manakah yang akan terjadi lebih dulu, kematianku atau "selesainya" gim ini?Bagi yang ingin kembali ke dunia nyata hidup-hidup, tidak keluar selangkah pun dari kota yang aman dan menunggu sampai ada seseorang yang berhasil menyelesaikan gim ini adalah pilihan yang paling bijaksana. Namun, aku tidak mengambil pilihan itu.Setiap hari, aku bertarung di garis terdepan seorang diri, terus-terusan memperkuat stats dengan nyawaku sebagai taruhan. Apakah ini berarti aku adalah seorang pecandu VRMMO yang sudah kerasukan sampai ke tulang, atau….…atau aku hanyalah orang bodoh yang arogan, yang berpikir bahwa dirinya bisa membebaskan semua orang di dunia ini dengan pedangnya?Aku tersenyum mencela diriku sendiri, kemudian melangkah menuju pintu keluar labirin. Saat itulah, tiba-tiba aku teringat tentang hari itu.Dua tahun yang lalu.Momen ketika segalanya berakhir sekaligus dimulai.
Komentar (0)
Memuat komentar...