Sword Art Online 001: Aincrad I

Bagian 3

Estimasi waktu baca: 25 menit

Ding, dong … Ding, dong …
Tiba-tiba terdengar suara seperti bel, atau alarm peringatan, yang sangat keras. Aku dan Klein melompat karena kaget.
"Eh …?"
"Ada apa, nih?!"
Kami berteriak bersamaan dan menatap satu sama lain dengan mata terbelalak.
Tubuhku dan Klein diselimuti oleh pilar cahaya berwarna biru terang. Padang rumput yang terlihat dari balik lapisan cahaya biru itu berangsur hilang.
Aku pernah mengalami hal ini beberapa kali selama mengikuti beta test. Ini adalah 'teleportasi' yang bisa diaktifkan dengan menggunakan sebuah item untuk berpindah tempat. Namun, aku tidak sedang memegang item tersebut. Aku juga tidak mengatakan perintah untuk teleportasi. Kalau ini adalah teleportasi paksa oleh pihak operator gim, kenapa mereka tidak memberi informasi terlebih dahulu?
Ketika aku berpikir demikian, cahaya yang menyelimutiku bergetar semakin kuat sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa.
Saat cahaya biru tersebut menghilang, penglihatanku pun kembali. Namun, pemandangan yang kulihat bukan lagi pemandangan senja di padang rumput.
Sebuah jalanan besar yang terbuat dari batu. Jalanan ini dikelilingi oleh pepohonan dan pusat pertokoan yang elegan ala abad pertengahan. Jauh di depan sana, ada istana megah berwarna hitam yang bersinar.
Tidak salah lagi. Tempat ini adalah titik awal kami memulai gim ini, yaitu alun-alun pusat Kota Awal.
Aku melihat ke arah Klein yang mulutnya menganga lebar di sampingku. Kemudian di saat yang bersamaan, kami berdua melihat ke arah kerumunan orang yang berada di sekeliling kami.
Dilihat dari penampilan mereka yang menggunakan berbagai macam perlengkapan, rambut yang warna-wami, serta wajah-wajah yang tampan dan cantik, mereka pasti adalah pemain SAO, sama sepertiku. Jumlahnya ribuan, mendekati sepuluh ribu orang. Sepertinya semua pemain yang sedang berada di gim ini diteleportasi secara paksa ke alun-alun pusat.
Selama beberapa detik, semua orang hanya melihat ke sekeliling mereka tanpa bicara apa-apa.
Lalu, orang-orang mulai berbisik dan bergumam hingga makin lama makin terdengar ramai.
"Apa yang terjadi?"
"Apakah kita bisa log out sekarang?"
"Bisakah mereka memperbaiki bug-nya lebih cepat?"
Komentar-komentar seperti ini terdengar bertubi-tubi.
Saat para pemain mulai merasa kesal, ada yang sampai berteriak, "Jangan main-main, ya!" dan, "Keluar kau, GM!"
Tiba-tiba …
Ada yang berteriak dengan suara lebih keras daripada suara pemain-pemain lain yang sibuk melontarkan komentar-komentar itu.
"Ah … Lihat! Di atas!"
Aku dan Klein langsung mengarahkan pandangan. kami ke atas. Kemudian, kami melihat sesuatu yang aneh di sana.
Permukaan dasar lantai dua, yang berada seratus meter di atas kami, dipenuhi oleh motif kotak-kotak berwarna merah.
Kalau dilihat baik-baik, pola tersebut menunjukkan dua kata-kata dalam bahasa Inggris yang bersilangan. Kalimat yang ditampilkan dengan warna merah itu adalah [Warning] dan [System Announcement].
Aku, yang selama beberapa saat tadi masih terkejut, akhirnya merasa lega karena berpikir bahwa akhirnya ada pengumuman dari pihak operator gim. Kegaduhan di alun-alun pun tidak terdengar lagi. Semua orang terlihat bersiap-siap mendengarkan pengumuman.
Namun, hal yang terjadi setelah itu sangat berbeda dengan apa yang aku harapkan.
Dari bagian tengah pola berwarna merah yang memenuhi langit itu, ada cairan mirip darah yang mengalir lambat. Gerakannya yang turun perlahan itu menunjukkan betapa kentalnya cairan tersebut. Namun, cairan itu tidak sampai menetes ke bawah. Cairan merah itu tiba-tiba berubah bentuk di udara.
Kemudian, muncullah sosok manusia raksasa setinggi dua puluh meter yang mengenakan jubah bertudung berwarna merah.
Tidak, itu kurang tepat. Dari tempat kami berdiri, kami bisa dengan mudah melihat ke bagian dalam tudungnya, tapi tidak ada wajah di balik tudung itu. Sama sekali tidak ada apa-apa. Kami sampai bisa melihat dengan jelas kain dan sulaman hijau yang ada di sisi dalam tudungnya. Di balik jubahnya yang memanjang ke bawah itu pun juga sama-hanya ada bayangan gelap di sana.
Aku pernah melihat jubah itu sebelumnya. Itu jubah yang sama dengan yang selalu dipakai pegawai Argus yang bekerja sebagai GM saat beta test. Namun, saat beta test dulu, GM laki-laki memilik wajah seperti seorang penyihir tua berjanggut putih panjang, sedangkan GM perempuan menggunakan avatar seorang gadis berkacamata. Mungkin kali ini mereka tidak sempat menyiapkan avatarya karena suatu hal, sehingga hanya memunculkan jubahnya saja. Namun, bagian dalam tudung merah yang kosong itu entah kenapa membuatku takut.
Pemain-pemain yang tidak terhitung jumlahnya di sekelilingku ini juga pasti merasakan hal yang sama.
"Itu GM?"
"Kok, tidak ada wajahnya?"
Terdengar banyak bisikan seperti itu.
Kemudian, lengan kanan jubah besar itu tiba-tiba bergerak seolah meminta para pemain untuk diam.
Dari kedua lengan jubahnya, muncul sarung tangan putih bersih. Namun, sarung tangan dan lengan baju itu terpisah, tidak terlihat ada bagian tubuh yang menghubungkannya.
Lengan kirinya perlahan-lahan terangkat ke atas. Kemudian, di atas kepala sepuluh ribu pemain, sosok yang tidak berwajah itu membentangkan sarung tangannya yang kosong, dan kurasa … dia membuka mulutnya. Setelah itu, terdengar suara seorang laki-laki dengan nada yang rendah dan tenang, bergema dari tempat yang jaula dan tinggi.
"Selamat datang di duniaku, para pemain sekalian."
Ilustrasi Gamemaster dengan Avatar Bertudung Merah
Aku tidak langsung mengerti maksudnya.
"Duniaku", katanya? Kalau sosok berjubah merah itu adalah Gamemaster dari pihak operator, dia memang memiliki kekuatan seperti Tuhan—kekuatan untuk mengendalikan dunia ini sesuai keinginannya. Namun, kenapa dia mengatakannya sekarang?
Aku dan Klein, yang sama-sama terkejut, saling tatap. Sosok tidak dikenal yang berjubah merah itu menurunkan kedua tangannya dan lanjut bicara,
"Namaku Kayaba Akihiko. Saat ini, aku adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan dunia ini."
"Ap—"
Saking terkejut, rasanya seperti ada yang mengganjal di tenggorokan avatarku, dan mungkin juga di tenggorokanku yang asli.
Kayaba…Akihiko!!
Aku tahu nama itu. Tidak mungkin aku tidak tahu.
Seorang pemuda desainer gim yang jenius sekaligus ahli fisika kuantum. Dialah yang membuat Argus—perusahaan yang beberapa tahun lalu hanyalah salah satu perusahaan gim kelas ikan teri—menjadi salah satu perusahaan yang maju di bidangnya.
Dia juga merupakan direktur pengembangan SAO, dan di saat yang sama merangkap sebagai desainer NerveGear.
Sebagai seorang pecinta gim garis keras, aku sangat mengagumi Kayaba. Aku membeli semua majalah yang meliputnya dan terus-terusan membaca artikel wawancaranya yang berjumlah tidak terlalu banyak sampai aku hafal isinya. Saat mendengar suaranya sedikit saja, aku bisa membayangkan sosoknya yang selalu memakai jubah putih panjang dan terlihat pintar.
Namun, selama ini dia tidak suka tampil di depan publik dan selalu berada di balik layar. Tentu saja dia juga tidak pernah menjadi GM. Lalu, kenapa dia melakukan hal seperti ini?!
Aku berusaha keras memutar otakku yang hampir berhenti berputar karena masih terkejut, mencoba untuk dapat memahami situasi ini. Namun, kata-kata yang dilontarkan oleh si jubah kosong terdengar seperti mengejek usahaku itu.
"Para pemain sekalian, sepertinya hampir semua dari kalian menyadari kalau tombol log out telah menghilang dari jendela menu utama. Namun, ini bukan bug. Aku ulangi, ini bukan bug. Ini adalah bagian dari sistem 'Sword Art Online' yang sebenarnya."
"Bagian dari … sistem?" Klein bergumam dengan terbata-bata. Suara Kayaba yang rendah dan halus itu melanjutkan pengumuman.
"Kalian tidak akan bisa log out dari gim atas keinginan kalian sendiri, sampai kalian mencapai lantai teratas kastel ini."
Kastel ini? Awalnya aku tidak mengerti maksud kata-kata tersebut. Tidak ada kastel di Kota Awal ini.
Kata-kata yang dikatakan Kayaba selanjutnya menghapus semua kebingunganku dalam sekejap.
"Selain itu… orang-orang di dunia luar juga tidak boleh menghentikan atau melepas NerveGear secara paksa.
Kalau ada yang mencoba melakukan hal tersebut …"
Dia berhenti sesaat.
Suasana hening yang menyelimuti sepuluh ribu orang ini terasa sangat menegangkan. Kata-kata selanjutnya pun perlahan terdengar.
"Gelombang mikro yang sangat kuat, yang dipancarkan oleh sensor sinyal NerveGear, akan menghancurkan otak dan menghentikan semua fungsi tubuh kalian."
Aku dan Klein saling tatap selama beberapa detik.
Otakku seolah menolak untuk memahami arti kata-kata yang baru saja kudengar. Namun, pernyataan Kayaba yang singkat dan jelas itu menusuk sampai ke dalam kepalaku.
Menghancurkan otak kami.
Dengan kata lain, membunuh kami.
Kalau mematikan NerveGear atau membuka kunci pengaman dan melepas NerveGear, pemain akan terbunuh. Itulah yang Kayaba katakan barusan.
Para pemain mulai bergumam, tapi tidak ada yang berteriak atau panik. Sepertinya pemain-pemain lain pun sama sepertiku, mereka mash belum bisa memahami ini semua, atau menolak untuk mencoba memahaminya.
Klein perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya dan mencoba untuk memegang NerveGear yang sebenarnya ada di dunia nyata. Dia berkata dengan suara yang bercampur tawa hambar, "Haha… Apa katanya? Dia sudah gila, ya? Hal semacam itu tidak mungkin terjadi … NerveGear … Benda ini cuma mesin gim. Mana mungkin … dia bisa menghancurkan otak kita? Ya 'kan, Kirito?!"
Suaranya terdengar serak. Klein pun menatapku tajam, tapi aku tidak bisa mengangguk menyetujui perkataannya.
Sensor sinyal yang tidak terhitung jumlahnya di dalam NerveGear memancarkan sedikit gelombang elektromagnetik untuk mengirimkan sinyal palsu ke sel otak.
Bisa dibilang ini adalah teknologi ultra yang terbaru, tapi secara teori ini sama dengan barang elektronik rumah tangga yang sudah digunakan orang-orang selama lebih dari empat puluh tahun di Jepang, yaitu microwave.
Jika dayanya cukup, NerveGear juga mungkin bisa menggetarkan partikel air di dalam sel otak kami dan membakarnya dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan. Namun …
"Secara teori … itu mungkin saja terjadi, tapi … dia pasti hanya membual saja, karena kalau kita mencabut kabel NerveGear, tidak mungkin NerveGear dapat memancarkan gelombang sekuat itu. Kecuali jika di dalamnya ada sejenis baterai … yang kapasitasnya besar …"
Sepertinya Klein sudah menebak alasan kenapa aku berhenti bicara sampai di sana.
Dengan ekspresi kosong di wajahnya, si jangkung yang tampan itu berkata, "Baterai itu … ada … Aku dengar, 30% dari berat NerveGear adalah baterainya. Tapi … itu gila! Bagaimana kalau tiba-tiba ada pemadaman listrik atau semacamnya?!"
Seolah mendengar teriakan Klein, Kayaba melanjutkan penjelasannya dari atas sana.
"Lebih detailnya, proses penghancuran otak akan dimulai jika salah satu dari hal-hal berikut terjadi, yaitu terputus dari sumber tenaga listrik eksternal selama sepuluh menit, terputus dari jaringan server selama dua jam, atau percobaan untuk membuka kunci, membongkar, atau merusak NerveGear. Hal ini juga sudah diumumkan di dunia luar melalui media massa. Sebagai catatan, saat ini sudah ada beberapa kasus yang terjadi karena keluarga atau teman pemain mengabaikan peringatan ini dan melepas NerveGear secara paksa. Akibatnya …"
Suaranya yang seperti mesin berhenti sesaat.
"…. sangat disayangkan, ada 213 pemain yang telah meninggalkan Aincrad dan meninggalkan dunia nya, untuk selamanya."
Terdengar suara jeritan kecil. Namun, sebagian besar pemain masih belum bisa percaya, atau menolak untuk percaya apa yang baru saja dikatakan Kayaba. Ada yang bengong, ada juga yang tersenyum miris.
Otakku pun lagi-lagi tidak bisa menerima perkataan Kayaba. Namun, tidak dengan tubuhku. Kakiku muai gemetar.
Lututku melemah, tapi aku mundur beberapa langkah ke belakang dan berhasil mencegah diriku terjatuh, sedangkan Klein jatuh dan terduduk di tempatnya berdiri dengan wajah syok.
213 pemain telah …
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telingaku.
Kalau kata-kata Kayaba memang benar, berarti saat ini lebih dari dua ratus orang telah mati?
Di antara mereka, pasti ada peserta beta test sepertiku.
Bahkan, mungkin saja ada yang nama karakter dan avatarnya kukenali. Pemain-pemain itu … otak mereka terbakar dan sudah mati … katanya?
"Tidak … Aku tidak percaya."
Klein yang mash terduduk di lantai itu bicara dengan suara parau.
"Dia hanya mencoba menakuti-nakuti kita. Mana mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu? Berhenti bercanda dan keluarkan kami. Kami tidak punya waktu untuk mendengar omong kosongmu di upacara pembukaan yang gila ini. Ya … ini semua hanya sebuah eventdalam gim. Eventupacara pembukaan. Benar, 'kan?"
Aku pun sedari tadi terus meneriakkan hal yang sama di dalam kepalaku.
Namun, seolah hendak menghancurkan harapan kami dan seluruh pemain, pengumuman dari Kayaba yang bergaya bahasa kaku itu kembali terdengar.
"Para pemain, kalian tidak perlu mengkhawatirkan tubuh yang kalian tinggalkan di dunia nyata. Saat ini, pihak media massa sedang melaporkan situasi ini, termasuk fakta bahwa sudah timbul beberapa korban jiwa, melalui TV, radio, dan internet. Bisa dibilang, ancaman NerveGear kalian dilepas secara paksa pun sudah berkurang. Sebentar lagi, aku akan memutus jaringan NerveGear dan memberikan waktu dua jam. Dalam dua jam itu, tubuh kalian yang masih memakai NerveGear akan dibawa ke rumah sakit atau fasilitas sejenis agar mendapatkan perawatan yang sesuai. Jadi, aku harap kalian bisa tenang … dan fokus untuk menaklukkan gim ini."
"Apa …?"
Pada akhirnya, aku pun berteriak dengan keras.
"Apa kau bilang?! Menaklukkan gim?! Kau ingin kami bermain di tengah situasi seperti ini?!"
Aku terus berteriak sambil memelototi sosok jubah merah raksasa yang melayang di dekat permukaan dasar lantai atas.
"Ini bukan gim lagi namanya!!"
Lagi-lagi, seolah mendengar teriakanku tadi, suara Kayaba Akihiko yang monoton itu kembali menyampaikan pengumuman dengan tenang.
"Tapi, aku ingin kalian semua mengerti dengan baik bahwa 'Sword Art Online' bukan gim biasa lagi, tapi dunia nyata yang kedua … Mulai sekarang, tidak ada lagi yang namanya 'dihidupkan lagi' di sini. Ketika hit points kalian mencapai angka nol, avatar kalian akan hilang untuk selamanya, dan pada saat yang sama …"
Aku bisa menebak lanjutannya.
"Otak kalian akan dihancurkan oleh NerveGear."
Tibatiba, aku ingin tertawa dengan keras, tapi aku berusaha mati-matian menahannya.
Saat ini, ada sebuah garis horizontal panjang menyala biru di bagian kiri atas pandanganku. Aku memfokuskan pandangan ke arahnya dan terlihat angka 342/342 di atas garis itu.
Hit points. Sisa nyawaku.
Saat angkanya mencapai nol, aku akan benar-benar mati… Gelombang mikro akan membakar otakku dan membunuhku dalam waktu singkat. Inilah maksud Kayaba.
Tidak salah lagi, ini adalah gim yang mempertaruhkan nyawa kami. Dengan kata lain, sebuah gim yang menentukan hidup dan mati.
Selama dua bulan masa beta test SAO, aku sudah mati setidaknya seratus kali. Namun, aku dibangkitkan lagi dengan senyum malu di wajahku di dalam bangunan bernama "Istana Besi Hitam", yang ada di bagian utara alun-alun, kemudian kembali bertarung lagi.
Itulah gim RPG. Pemain akan mati berkali-kali, kemudian belajar, dan meningkatkan skill-nya. Namun, Kali ini kami tidak bisa seperti itu? Kalau mati sekali, kami juga akan kehilangan nyawa kami? Apalagi … kami juga tidak bisa berhenti bermain?
"Tidak mungkin ..," gumamku pelan.
Kalau seperti itu, siapa yang mau pergi ke medan tempur yang berbahaya? Semua pemain pasti akan memilih untuk mengurung diri mereka di kota yang merupakan tempat aman.
Seolah membaca pikiranku, dan mungkin pikiran para pemain lain juga, Kayaba melanjutkan pengumumannya.
"Para pemain sekalian, hanya ada satu cara untuk bisa terbebas dari gim ini. Seperti yang kukatakan tadi, kalian harus mencapai lantai teratas Aincrad, yaitu lantai seratus, dan mengalahkan bos terakhir yang ada di sana. Aku bisa menjamin kalau semua pemain yang masih hidup pada saat itu akan segera dikeluarkan dari gim ini dengan selamat."
Sepuluh ribu pemain terdiam.
Saat itulah, aku baru sadar apa yang dimaksud Kayaba ketika dia mengatakan "sampai kalian mencapai lantai teratas kastel ini" di awal pengumumannya tadi.
"Kastel ini" maksudnya adalah kastel raksasa yang mengurung seluruh pemain di lantai paling dasar, dengan 99 lantai yang tersusun di atasnya, dan melayang tinggi di langit. Dia merujuk ke Aincrad itu sendiri.
"Menaklukkan … lantai seratus?!" Klein tiba-tiba berteriak. Dia buru-buru berdiri dan mengangkat tangan kanannya yang mengepal ke atas.
"Ba-bagaimana caranya kami bisa melakukannya?!" Katanya, bahkan waktu beta test pun naik satu lantai saja sangat susah!!"
Dia benar. Selama dua bulan masa beta test, seribu pemain yang berpartisipasi hanya bisa mencapai lantai enam. Meskipun sekarang ada sekitar sepuluh ribu pemain, butuh waktu berapa lama sampai kami bisa mencapai lantai seratus?
Seluruh pemain yang dipaksa berada di sini pun kemungkinan besar bertanya-tanya mengenai hal itu.
Keheningan yang menegangkan akhirya pecah oleh bisikan-bisikan lirih, tapi tidak ada tanda-tanda ketakutan dan rasa putus asa pada pemain.
Kebanyakan dari mereka pasti masih bingung apakah ini benar-benar "situasi berbahaya" atau "eventpembukaan yang berlebihan". Semua yang Kayaba katakan terlalu menakutkan sehingga terasa tidak nyata.
Aku mendongak ke arah jubah kosong itu, mencoba memaksakan pikiranku untuk menerima situasi ini.
Aku tidak bisa log out lagi. Aku tidak bisa kembali ke kamarku dan ke kehidupanku di dunia nyata. Satu-satunya cara untuk kembali ke sana adalah ketika ada seseorang yang mengalahkan bos di lantai teratas kastel layang ini. Kalau selama berada di sini, HP-ku mencapai angka nol, meski hanya sekali saja… aku akan mati. Aku akan benar-benar mati dan lenyap untuk selamanya.
Namun …
Aku tetap tidak bisa menerimanya, mau seberapa keras pun aku mencoba. Hanya sekitar lima atau enam jam yang lalu, aku masih makan makanan buatan ibuku, berbicara sebentar dengan adik perempuanku, dan berjalan menaiki tangga rumahku.
Sekarang aku tidak bisa kembali ke sana? Apakah ini benar-benar nyata?
Sosok jubah merah yang sedari tadi seperti membaca pikiranku dan pemain lainnya itu mengibaskan sarung tangan kanannya dan mulai berbicara dengan suara yang tidak menunjukkan emosi apa pun.
"Sebagai penutup, aku akan menunjukkan bukti kalau dunia ini adalah satu-satunya kenyataan bagi kalian. Silakan ambil hadiah dariku yang sudah kusiapkan di inventori item kalian."
Segera setelah mendengarnya, aku menempelkan dua jari tangan kananku dan menggerakkannya ke bawah bersamaan. Semua pemain pun melakukan hal yang sama. Efek suara dering bel menggema di seluruh penjuru alun-alun.
Aku mengetuk tombol item di menu yang muncul. Ada item hadiah dari Kayaba di sana, di bagian paling atas dari daftar barang-barangku.
Nama item-nya adalah "cermin tangan".
Kenapa dia memberikan benda ini kepada kami? Aku menyentuh di bagian namanya dan mengetuk tombol "Buat menjadi objek". Seketika terdengar efek suara gemerincing dan muncul sebuah cermin tangan kecil berbentuk persegi.
Aku memegangnya dengan ragu, tapi tidak terjadi apa-apa. Cermin itu hanya menunjukkan wajah avatarku yang kubuat dengan susah payah.
Aku memiringkan kepala dan melihat ke arah Klein di sebelahku. Dia pun, dengan penampilan berupa samurai gagah berani, sedang kebingungan menatap cermin yang sama di tangan kanannya.
Kemudian—
Tiba-tiba cahaya putih menyelimuti Klein dan avatar-avatar di sekelilingku. Tidak lama setelahnya, aku juga dikelilingi cahaya itu sehingga tidak bisa melihat apa-apa selain warna putih.
Sekitar dua sampai tiga detik kemudian, cahaya itu menghilang. Aku pun bisa melihat sekelilingku seperti semula …
Tidak.
Wajah yang ada di depanku bukan wajah Klein yang kukenal.
Pelindung badan berplat besi yang dijahit, bandana yang jelek, dan rambut merah jabriknya masih sama. Namun, wajahnya berubah. Matanya yang tajam kini menjadi sayu. Hidungnya yang mancung menjadi sedikit pesek. Di dagu dan pipinya ada janggut tipis. Avatar sebelumnya terlihat seperti seorang samurai muda yang enerjik, tapi orang ini terlihat seperti samurai tak bertuan .. atau seorang bandit.
Aku melupakan situasi kami saat ini dan bergumam, "Kau… siapa?"
Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh orang yang berada di depanku itu.
"Hei… Siapa kau?"
Tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu dan menyadari apa maksud "cermin tangan" yang Kayaba berikan.
Aku buru-buru mengangkat cerminku dan melihat wajah yang dipantulkannya.
Rambut hitam yang rapi, mata yang terlihat lemah di balik poni yang agak panjang, dan wajah halus yang sampai sekarang sering disangka wajah perempuan ketika orang ini bejalan jalan memakai baju biasa dengan adik perempuannya.
Wajah seorang pendekar kuat dan berani bernama "Kirito", yang beberapa detik lalu masih ada, kini telah tiada. Wajah yang dipantulkan cermin itu adalah …
…wajah asliku di dunia nyata yang sudah susah payah aku sembunyikan.
"Wah … Ini wajahku …"
Klein yang juga sedang melihat ke cerminnya di sebelahku terkejut.
Kami berdua bertatapan sekali lagi dan berteriak di saat yang sama.
"Kau Klein?!" "Kau Kirito?!"
Ilustrasi Kirito dan Klein Saling Menatap Kaget
Suara kami juga berubah. Mungkin alat modulasi suaranya sudah tidak berfungsi. Namun, kami tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu.
Cermin kami terjatuh dari tangan kami dan mengenai lantai, kemudian menghilang bersamaan dengan terdengarnya efek suara cermin pecah.
Aku melihat sekelilingku lagi. Kerumunan orang-orang tampan dan cantik seperti karakter dari gim fantasi, yang beberapa detik lalu berada di sini, kini digantikan oleh kerumunan pemuda-pemudi normal. Rasanya bagaikan berada di antara kerumunan orang yang memakai kostum seperti baju pelindung di lokasi sebuah acara khusus gim di dunia nyata. Selain itu, yang tidak kalah menyedihkan adalah perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan yang berubah drastis.
Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Aku, Klein, dan kemungkinan besar seluruh pemain di sekitar kami telah berubah. Avatar yang telah kami buat dari nol kini digantikan oleh diri kami yang sebenarnya. Tentu saja tekstur tubuhnya mash terlihat seperti model poligon dan masih terasa agak aneh, tapi tampilannya nyaris sempurna sampai membuatku takut. Seolah-olah seluruh tubuh kami telah dipindai oleh sebuah alat.
Pindai …
"Oh, iya …" Aku mendongak ke arah Klein dan mencoba menjelaskannya.
"Ada sensor sinyal densitas tinggi di NerveGear yang menutupi kepala dan seluruh wajah kita. Jadi, NerveGear tidak hanya bisa melihat isi kepala kita, tapi juga wajah kita …"
"Ta-tapi, bagaimana bisa alat itu tahu bentukan tubuh kita seperti apa? Misalnya, tinggi badan kita …" tanya Klein lirih sambil melirik ke sekitar kami.
Tinggi badan rata-rata seluruh pemain, yang saat ini sedang melihat wajah mereka sendiri dan wajah pemain lain dengan ekspresi terkejut, terlihat sangat berbeda setelah "perubahan" itu terjadi. Aku, dan kemungkinan besar Klein juga, telah menyetel tinggi badan avatar kami di sini sesuai dengan tinggi badan asli di dunia nyata. Sebab, kalau disetel lebih tinggi, ada kemungkinan gerakan kami akan terhambat karena perbedaan sudut pandangan kami. Namun, hampir semua pemain lain sepertinya menyetel tinggi badan di sini sepuluh sampai dua puluh sentimeter lebih tinggi dari tinggi badan mereka yang sebenarnya.
Tidak hanya itu, bentuk dan lebar tubuh para pemain juga rata-rata terlihat lebih besar. Tidak mungkin semua ini bisa dipindai oleh NerveGear yang hanya kami pakai di kepala.
Klein-lah yang menemukan jawaban pertanyaan ini.
"Ah… tunggu. Aku baru kemarin membeli NerveGear, jadi aku mash ingat. Waktu pengaturan awal ada yang namanya … apa ya? Kalibrasi? Yah, pokoknya waktu kita disuruh memegang bagian tubuh di sini dan di situ ….
Mungkin karena itu …?"
"Ah, benar juga … Jadi karena itu …"
Kalibrasi adalah proses ketika NerveGear mengukur "seberapa jauh tangan pengguna harus bergerak untuk menyentuh tubuhnya". Hal ini dilakukan unuk menciptakan sensasi gerakan yang nyata di dalam gim. Jadi, bisa dikatakan bahwa data bentuk tubuh asli kami tersimpan di dalam NerveGear.
Di dunia SAO, mengubah semua avatar pemain menjadi seperti replika poligon dari tubuh asli mereka adalah hal yang tidak mustahil.
Tujuan dari semua ini juga sekarang menjadi jelas.
"Kenyataan..," gumamku.
"Kayaba bilang, ini adalah kenyataan. Dia sudah menciptakan duplikat diri kita yang sempurna untuk membuat kita percaya… bahwa avatar yang terbuat dari poligon ini … dan HP kita benar-benar adalah tubuh dan nyawa kita."
"Tapi … Tapi, Kirito."
Klein menggaruk kepalanya. Sepasang mata besar yang ada di bawah bandananya itu terlihat bercahaya, kemudian dia berteriak.
"Kenapa?! Kenapa dia melakukan hal seperti ini …?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan menunjuk ke atas kepala kami.
"Tunggulah. Paling dia juga akan memberikan jawabannya sebentar lagi."
Kayaba mengabulkan perkataanku. Beberapa detik kemudian, suara yang terdengar khidmat menggema dam langit yang berwarna merah darah.
"Kalian semua mungkin ingin tahu, "Kenapa?" Kenapa aku, Kayaba Akihiko, pencipta NerveGear dan SAO, melakukan hal seperti ini? Apakah untuk minta uang tebusan? Apakah ini sejenis serangan teroris?"
Sebelumnya, suara Kayaba terdengar dingin dan tidak berperasaan, tapi kali ini seperti ada sedikit emosi yang terkandung di suaranya. Tiba-tiba, kata "kagum" melintas di pikiranku, meskipun tidak ada hubungannya dengan situasi ini.
"Semua itu bukan alasanku melakukan hal ini. Bahkan, bagiku saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya alasan atau tujuan, karena… situasi ini sendiri adalah tujuanku. Satu-satunya alasanku membuat NerveGear dan SAO adalah untuk menciptakan dan melihat dunia ini. Sekarang, semua itu sudah terwujud."
Setelah jeda sesaat, suara Kayaba yang kembali terdengar dingin berkata, "Penjelasan tutorial 'Sword Art Online' sudah selesai… Para pemain, semoga kalian beruntung."
Kalimat terakhirnya bergema lirih, kemudian menghilang.
Sosok jubah merah besar itu kemudian melayang tinggi dalam diam dan masuk ke dalam pesan sistem yang menutupi langit, dimulai dari ujung tudungnya, seolah-olah dia meleleh.
Bahunya, dadanya, serta kedua tangan dan kakinya tenggelam ke dalam permukaan air berwarna merah. Riak air itu kemudian menyebar dan menghilang. Segera setelah itu, sama seperti kemunculannya yang tiba-tiba, pesan sistem yang berada di langit pun mendadak hilang.
Suara embusan angin di alun-alun dan alunan musik latar yang dimainkan oleh grup orkestra NPC perlahan terdengar.
Gim telah kembali normal, terlepas dari adanya peraturan-peraturan yang telah diubah.
Lalu, pada akhirnya …
Kerumunan yang terdiri dari sepuluh ribu pemain itu mulai menunjukkan reaksi yang seharusnya.
Dengan kata lain, suara-suara gaduh mulai terdengar dengan keras di seluruh penjuru alun-alun.
"Dia bercanda, 'kan ..? Apa-apaan itu? Pasti dia cuma bercanda! Ya, 'kan?!"
"Berhenti bercanda! Keluarkan aku! Keluarkan aku dari sini!"
"Kau tidak bisa melakukan ini! Sebentar lagi aku ada janji dengan seseorang!"
"Aku tidak mau begini! Aku mau pulang! Aku mau pulang!!"
Seruan. Tuntutan. Teriakan. Kutukan. Permohonan. Jeritan.
Orang-orang yang tadinya pemain gim, kini menjadi tahanan hanya dalam hitungan menit. Mereka terduduk dan memegangi kepala mereka, mengangkat kedua tangan mereka, memeluk satu sama lain, atau mulai mengumpal.
Anehnya, di tengah-tengah kebisingan ini, pikiranku justru menjadi tenang lagi.
Ini adalah kenyataan.
Semua yang Kayaba Akihiko katakan adalah fakta Tidak aneh kalau laki-laki seperti dia melakukan hal begini. Kejeniusannya yang sampai bisa memikirkan hal seperti ini adalah daya tarik Kayaba.
Sekarang, untuk sementara, mungkin beberapa bulan alau lebih, aku tidak bisa kembali ke dunia nyata. Aku tidak bisa menemui ibuku dan adik perempuanku, juga tidak bisa bicara dengan mereka. Bahkan mungkin saja aku tidak akan punya kesempatan itu lagi. Kalau aku mati di sini …
… aku akan mati di dunia nyata.
NerveGear, yang dulunya hanya sebuah mesin gim, kini menjadi kunci penjara ini sekaligus alat pembunuh yang akan membakar otakku.
Perlahan aku menarik dan menghela napas, kemudian membuka mulutku.
"Klein, sini sebentar."
Aku meraih lengan si pengguna pedang lengkung yang ternyata di dunia nyata pun lebih tinggi dariku itu, dan berjalan dengan cepat melalui kerumunan orang-orang yang menggila.
Mungkin karena posisi kami berada di pinggir, kami bisa keluar dari sana dengan cukup cepat. Kami masuk ke salah satu jalan untuk keluar dari alun-alun dan melompat ke belakang kereta kuda yang tidak bergerak, bersembunyi di balik bayangannya.
"Klein …"
Aku memanggil namanya lagi dengan nada serius. Ekspresinya mash terlihat kosong.
"Dengar, aku akan pergi dari kota ini menuju ke desa sebelah. Ikutlah denganku."
Klein membuka mata yang ada di bawah bandana jeleknya lebar-lebar. Aku terus bicara dengan suara rendah.
"Kalau apa yang dia bilang itu benar, kita harus memperkuat diri kita supaya bisa bertahan hidup di dunia ini. Kau juga pasti tahu 'kan kalau MMORPG adalah pertarungan sumber daya di antara pemain. Hanya pemain-pemain yang paling banyak mendapatkan uang, item, dan experience points yang disediakan secara terbatas dan sistem lah yang bisa menjadi kuat … Pemain lain yang menyadari hal ini pasti akan memburu semua monster di sekitar Kota Awal sampai habis. Kalau sudah diburu, kita harus menunggu sangat lama sampai monsternya muncul lagi. Akan lebih baik kalau kita pergi ke desa sebelah sekarang dan menjadikannya markas kita. Aku tahu jalannya dan semua titik yang berbahaya, jadi kita bisa ke sana dengan aman walaupun masih level satu."
Tidak biasanya aku bicara banyak seperti itu. Meskipun demikian, Klein hanya diam dan mendengarkan.
Beberapa detik kemudian, wajahnya mengernyit.
"Tapi … tapi, seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, aku mengantre lama sekali untuk membeli gim ini bersama dengan teman-temanku yang kukenal di gim lain. Pasti mereka juga sudah masuk ke sini dan ada di alun-alun tadi. Aku tidak bisa pergi tanpa mereka…"
"…"
Aku menahan napas dan menggigit bibirku.
Aku bisa mengerti dengan jelas apa yang ada di balik tatapannya yang terlihat gugup.
Klein adalah orang yang ceria dan supel. Selain itu, sepertinya dia juga sangat perhatian terhadap orang lain.
Dia pasti berharap agar aku juga mengajak semua teman-temannya itu.
Namun, bagaimanapun juga aku tidak bisa menyanggupinya.
Kalau hanya bersama Klein, meskipun masih level satu, aku yakin bisa ke desa sebelah sambil melindunginya dari monster-monster yang agresif. Namun, kalau ada dua orang… tidak, bahkan satu orang lagi yang ikut, risikonya terlalu besar.
Kalau di tengah perjalanan ada yang mati, otaknya akan terbakar dan dia akan benar-benar mati, seperti yang dikatakan Kayaba.
Lalu, pasti hal itu menjadi tanggung jawabku karena aku yang mengusulkan untuk pergi keluar dari Kota Awal yang aman dan gagal melindungi rekan setim.
Aku tidak bisa menanggung beban seberat itu. Tidak akan bisa.
Sepertinya, lagi-lagi Klein dengan jeli bisa membaca reaksiku. Meskipun terlihat tegang, sebuah senyum muncul di wajah berjanggut tipis itu, kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak … Aku tidak bisa terus-terusan bergantung padamu. Begini-begini, aku adalah seorang ketua guild di gim yang sebelumnya kumainkan. Jadi, tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku pasti bisa melakukan sesuatu dengan teknik-teknik yang sudah kau ajarkan padaku selama ini. Selain itu … masih ada kemungkinan kalau ini hanya sebuah event pembukaan yang jahat dan kita semua akan bisa log out. Jangan khawatirkan kami dan pergilah ke desa sebelah."
"…"
Aku mash terdiam selama beberapa saat. Aku tidak pernah merasa sebimbang ini seumur hidupku.
Kemudian, aku mengatakan pilihanku yang ternyata akan menyiksaku selama dua tahun ke depan.
"Baiklah …"
Aku mengangguk, melangkah mundur, dan berkata dengan tenggorokanku yang kering, "Kalau begitu, kita berpisah di sini. Kalau ada apa-apa, hubungi aku lewat pesan, ya … Sampai jumpa, Klein."
Saat aku mengalihkan pandangan ke bawah dan hendak membalikkan badan, Klein memanggilku.
"Kirito!"
"…"
Aku melihat ke arahnya dengan tatapan bertanya-tanya. Namun, dia tidak berkata apa-apa, hanya tulang pipinya yang sedikit bergetar.
Aku melambaikan tanganku dan berbalik ke arah barat laut, arah desa yang akan kujadikan tempat singgah berikutnya.
Ketika aku sudah berjalan lima langkah, terdengar suara yang memanggilku lagi dari belakang.
"Hei, Kirito! Di luar dugaan, ternyata aslinya mukamu imut juga, ya! Aku lumayan suka muka yang seperti itu, lho!"
Aku tersenyum pahit. Tanpa menengok ke belakang, aku berteriak, "Wajah aslimu yang seperti samurai tak bertuan itu juga sepuluh kali lebih cocok untukmu!"
Aku yang masih membelakangi teman pertamaku di dunia ini pun melanjutkan langkahku meninggalkannya.
Setelah melewati gang-gang yang ada di kanan dan kiriku selama beberapa menit, aku melihat ke belakang lagi. Namun, tentu saja, di sana sudah tidak ada siapa-siapa.
Aku mengabaikan perasaan aneh yang ada di dalam. dadaku dan berlari.
Aku berlari sekuat tenaga ke gerbang barat laut Kota Awal, melewati padang rumput yang luas dan hutan yang lebat, menuju ke desa kecil yang berada di baliknya, kemudian melewatinya lagi … demi bertahan hidup di dunia yang sepi dan terus berlanjut tanpa akhir ini.

Komentar (0)

Memuat komentar...