Sword Art Online 009: Alicization Beginning
Prolog I - Bagian 1
Estimasi waktu baca: 27 menitBulan 7 Tahun 372 Human Empire CalendarGenggam kapak.Ayun.Hantam.Padahal hanya tiga gerakan sederhana, tetapi lengah sedikit saja, incaran akan meleset, dan kulit pohon yang keras akan memantulkan getaran menggemuruh yang merambat ke kedua lengan. Napas, ritme, laju, pemindahan tumpuan badan; hanya saat semua komponen ini dapat terkontrol maka bilah kapak akan meluncurkan gaya berat dan dahsyat ke arah pohon, diiringi bunyi yang lantang dan jernih.Walaupun otaknya mengerti, tubuhnya tak bisa mengikuti. Pekerjaan ini telah dipercayakan pada Eugeo di suatu hari pada musim semi saat usianya menginjak 10 tahun. Ini sudah musim panas kedua sejak saat itu, dan dia masih saja belum mahir memukul kapak dengan ayunan yang memuaskan; tak lebih dari sekali setiap 10 ayunan.Pria tua yang dia panggil Kek Garitta, pekerja sebelumnya yang juga mengajarkan Eugeo cara menggunakan kapak, selalu mengayunkan kapaknya secara sempurna, tanpa letih, bahkan setelah 100 kali. Sementara itu, lengan dan pundak Eugeo sudah mulai pegal padahal baru mendekatı 50 kali ayunan, membuat gerakannya kian melesu."Empat puluh … tiga! Empat puluh… empat!"Setidaknya, Eugeo terus meneriakkan jumlah pukulan kapaknya dengan suara lantang untuk menyemangati dirinya sendiri. Namun, keringatnya mulai mengaburkan pandangannya, melicinkan genggamannya, dan menurunkan akurasinya. Kini, dia hanya membantingkan kapak penebang pohon itu bersama tubuhnya, dengan rasa setengah nekat."Empat puluh … sembilan! Li … ma … pu … LUH!!" Pukulan terakhirnya meleset jauh dari guratan yang sudah terukir dalam-dalam pada pohon, menciptakan bunyi melengking logam yang terbanting. Gaya reaksi yang hebat menyerang Eugeo, membuatnya menjatuhkan kapaknya dan menyebabkan tubuhnya sempoyongan beberapa langkah ke belakang, sampai akhirnya jatuh terduduk di atas tanah berlumut.Eugeo tersengal-sengal. Tiba-tiba, dari arah kanannya, suara menyengir menyeletuk."Dari 50 kali pukulanmu, bunyi yang bagus cuma tiga kali, ya. Kalau dijumlahkan … totalnya jadi 41 kali?Sepertinya air Siral hari ini jadi traktiranmu, Eugeo." Pemilik suara itu adalah anak laki-laki seumurannya, yang berbaring santai agak jauh darinya. Eugeo yang sudah tidak sanggup membalas, meraba-raba sekitarnya untuk mengambil botol kulit miliknya. Baru setelah selesai menenggak air minum yang sudah berubah hangat, Eugeo bisa bersuara. Dia menjawab sambil menutup botolnya keras-keras."Apa, sih, padahal totalmu sendiri juga baru 43 kali.Akan langsung kukejar. Ayo, sekarang giliranmu … Kirito.""Iya, iya."Dia adalah Kirito; teman sepermainan Eugeo sejak kecil, sahabat paling karibnya, dan kini juga rekannya di "pekerjaan mulia" yang membuatnya penat ini. Kirito mengusap ke belakang poni hitamnya yang basah oleh keringat, lalu menjulurkan kedua kakinya lurus ke atas dan bangun berdiri dengan satu lompatan. Akan tetapi, dia tidak langsung pergi mengambil kapak, melainkan justru menaruh tangannya di pinggang sambil menatap langit.Eugeo pun ikut melempar pandangannya ke atas.Langit musim panas di tengah bulan ketujuh membentang dengan warna biru cerah, diterangi oleh cahaya melimpah dari sang Dewi Surya, Solus, yang bergeming di tengahnya. Namun, pemandangan itu kini dihalangi oleh ranting-ranting pohon raksasa sehingga cahaya matahari tak mencapai Eugeo dan Kirito yang berdiri dekat akarnya.Selama mereka terdiam menatap langit pun, pohon raksasa ini menyerap karunia Solus dengan dedaunan lebatnya dan menyedot anugerah Dewi Bumi—Terraria— dengan akar-akarnya, menyembuhkan guratan yang telah Eugeo dan Kirito perdalam dengan susah payah sampai hari ini. Sekeras apa pun mereka berupaya di tengah hanı, guratan yang mereka buat hari itu selalu sembuh setengah kedalamannya saat mereka kembali keesokan paginya.Sambil menghela napas ringan, Eugeo menurunkan pandangannya dari langit ke pohon di depannya.Pohon ini oleh penduduk desa disebut dengan bahasa sakral "Gigas Cedar" yang memiliki arti "pohon aras para dewa raksasa".Gigas Cedar memiliki ukuran kolosal dengan batang utamanya berdiameter kurang lebih 4 mel dan pucuk paling atasnya berada di ketinggian mencapai 70 mel.Menara lonceng gereja yang paling tinggi di desa ini pun tak melebihi seperempat ketinggiannya. Bagi Eugeo dan Kirito, yang tinggi badannya baru mencapai sekitar 1,5 mel tahun ini, pohon ini memang pantas disandingkan dengan dewa-dewa raksasa kuno.Apa pada hakikatnya, tidak mustahil bagi kami yang manusia untuk menebang makhluk ini?Keraguan itu selalu terlintas setiap kali Eugeo melihat guratan yang terukir di akar si pohon. Ukiran berbentuk baji itu akhirnya baru mencapai kedalaman kurang lebih 1 mel, sementara sisa tiga kali lipatnya masih berdiri tebal.Pada musim semi tahun lalu, bersama Kirito, Eugeo dibawa ke hadapan Kepala Desa dan kepada mereka dipercayakanlah peran sebagai "penebang pohon raksasa".Saat itu pula, kepadanya diperdengarkan sebuah riwayat yang membuatnya ingin pingsan.Bahwa Gigas Gedar telah mengakar di tanah ini jauh sebelum Desa Rulid tempat mereka tinggal didirikan, dan telah terus-menerus ditebangi sejak zaman para penetap pertama. Kek Garitta adalah generasi keenam dihitung dari penebang pertama, menjadikan Eugeo dan Kirito sebagai penerus ketujuh yang melanjutkan pengabdian yang sudah berlangsung selama 300 tahun itu.Tiga ratus tahun!Bagi Eugeo, yang saat itu baru saja menyambut ulang tahunnya yang ke-10, tiga ratus merupakan angka yang tak terbayangkan. Sentimen itu belum berubah di usianya yang kini menginjak 11 tahun. Satu-satunya yang kepala kecil Eugeo bisa cerna adalah kenyataan bahwa dari zaman ayahnya, ibunya, kakeknya, neneknya, dan bahkan moyang-moyangnya, para penebang telah mengayunkan kapak mereka ke arah pohon ini tak terhitung berapa kali, dan hasil dari semua usaha itu … hanya guratan dengan kedalaman tak sampai 1 mel ini.Kenapa pohon ini sampai sebegitunya harus ditebang? Kepala Desa pun menjelaskan alasannya dengan nada yang begitu serius.Demi mempertahankan tubuh kolosalnya itu, Gigas Cedar menyedot anugerah pemberian dewi surya dan dewi bumi dari wilayah sekitarnya, melingkupi jangkauan yang luas pula. Alhasil, bibit yang dituai di lahan yang dinaungi pohon rindang ini takkan berbuah.Desa Rulid terletak di perbatasan utara dari Imperium Utara Norlangarth, salah satu dari empat kekaisaran yang menyusun Human Empire. Jadi, desa ini secara harfiah memang terletak di "ujung dunia". Pegunungan terjal mengepung desa ini dari utara, timur, dan barat, menjadikan hutan selatan sebagai satu-satunya pilihan untuk membuka lahan pertanian dan padang rumput baru. Namun, Gigas Cedar mendiami area batasan hutan. Selama pengganggu ini masih berdiri di sini, tidak ada harapan bagi Desa Rulid untuk berkembang.Kendati demikian, nyatanya, batang pohon raksasa ini setangguh besi, tidak menyembulkan asap sekalipun disembur dengan api, dengan akar yang merambat hingga mencapai kedalaman yang setara dengan tinggi pucuknya.Maka tugas Eugeo dan Kirito hanyalah melanjutkan menebang Gigas Cedar menggunakan Kapak Tulang Naga—yang mampu memotong besi sekalipun—yang diwariskan oleh para leluhur desa, lalu kian hari mewariskannya kepada keturunan mereka ….Begitulah kisah yang disampaikan oleh Kepala Desa dengan suara gemetar penuh tekad. Seusai menyimak cerita ini, Eugeo dengan ragu-ragu bertanya, "Apakah kita tidak bisa mengabaikan Gigas Cedar dan langsung saja mengembangkan lahan di hutan yang terletak lebih jauh di selatan?"Kepala Desa lalu menjawab dengan suara mencekam bahwa menebang Gigas Cedar adalah impian yang sudah berlangsung turun-temurun di desa ini, maka sudah menjadi adat desa untuk memberikan pekerjaan mulia ini pada dua orang penebang di setiap generasi.Selanjutnya, Kirito memiringkan leher dan bertanya, "Kalau begitu, dari awal, kenapa leluhur repot-repot membangun desa di tempat seperti ini?" Sesaat, Kepala Desa kehilangan kata-kata … sebelum akhirnya naik pitam dan menabok kepala Kirito, sekaligus Eugeo, entah apa alasannya.Satu tahun tiga bulan telah berlalu; kini, sehari-harinya telah mereka berdua habiskan untuk mengayunkan Kapak Tulang Naga secara bergantian demi menebang Gigas Cedar. Namun, mungkin karena lengan mereka juga belum mahir, hasil kerja mereka rasanya sama sekali tidak memperdalam guratan pada pohon. Melihat guratan yang saat ini tampak adalah hasil usaha yang telah berlangsung selama 300 tahun, wajar saja jika hasil kerja setahun yang dilakukan dua bocah itu tidak tampak di mata. Sekalipun begitu, pekerjaan ini sungguh tak memberikan rasa puas.Tidak—kalau mau, sebenarnya ada cara yang lebih pasti untuk memastikan kenyataan menyedihkan itu.Kirito yang berdiri terdiam menatapi Gigas Gedar pun tampaknya memikirkan hal yang sama. Dia berjalan mendekati batang utama dan menjulurkan tangan kirinya."Oi … berhenti, yuk, Kirito. Kepala Desa juga bilang jangan menengok hayat Gigas Cedar sembarangan, 'kan," Eugeo memanggilnya, khawatir.Namun, Kirito hanya melirik ke arah Eugeo dengan senyum bandel seperti biasa. "Terakhir aku cek, 'kan, dua bulan yang lalu. Aku bukannya mengecek sembarangan, tapi berkala.""Membangkang lagi … ya sudahlah…. Oi, tunggu aku! Aku juga ingin lihat."Setelah merasa cukup beristirahat, Eugeo mengangkat kakinya ke atas dan membangunkan badannya seperti Kirito tadi, lalu berlari kecil menuju partnernya itu."Siap? Kubuka sekarang," ujar Kirito dengan suara rendah. Lalu, dia meluruskan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke depan, sementara jari lainnya dikepalkan, dan menggambar garis meliuk seperti ular di udara. Itu adalah simbol paling sederhana untuk disuguhkan pada sang Dewi Pencipta.Ujung jari yang selesai menggambar simbol tersebut lalu mengetuk batang utama Gigas Cedar. Bunyi yang terdengar bukanlah ketukan tumpul, melainkan bunyi jernih seperti benturan sejumlah perabot perak. Dari dalam batang pohon itu pun timbul jendela kecil segi empat yang bercahaya.Seluruh makhluk, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang mendiami langit dan bumi di dunia ini, memiliki life—"hayat" yang dianugerahkan oleh Dewi Pencipta, Stacia, selaku pengatur kehidupan. Hayat itu berbentuk secubit untuk para serangga dan flora; berkali-kali lipatnya untuk kucing-kucing dan kuda-kuda; dan bergelimang untuk para manusia. Ada pula pepohonan di hutan dan bebatuan berlumut, yang menyimpan hayat dalam jumlah berganda-ganda dibanding manusia. Hayat akan bertambah seiring waktu dari kelahiran si makhluk dan kelak akan berkurang setelah mencapai batas umur tertentu. Di akhir hayatnya, manusia dan binatang akan mengembuskan napas terakhir mereka, tumbuhan akan layu, dan batu-batuan akan pecah berkeping-keping."Hayat" tersebut tercantum secara kuantitatif dengan huruf sakral pada jendela yang disebut "Stacia Window". Jendela itu dapat dipanggil oleh mereka yang memiliki energi sakral yang memadai, dengan cara menggambar simbol di udara, lalu mengetuk target. Hampir setiap makhluk di sini bisa memanggil jendela milik kerikil dan rumput, tetapi akan semakin sulit bila jendela yang ingin dipanggil adalah milik binatang, dan untuk memanggil Stacia Window pada manusia perlu penguasaan penuh ilmu sakral level pemula. Tentunya, melihat jendela milik sendiri adalah tindakan yang memerlukan nyali.Umumnya, melihat jendela pepohonan lebih mudah daripada jendela manusia, tetapi Gigas Cedar yang dijuluki pohon setan ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Eugeo dan Kirito pun baru setengah tahun yang lalu berhasil melihat jendelanya.Katanya, suatu ketika, seorang ahli ilmu sakral yang menjabat sebagai senat di Gereja Axiom—gereja di ibu kota sentral, Centoria—berhasil memanggil Stacia Window dari bumi ini … dengan kata lain, dari sang Dewi Bumi Terraria sendiri, setelah melakukan ritual yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Namun, sang ahli kemudian diserang ketakutan yang luar biasa setelah melihat "hayat" dari bumi, hingga menjadi hilang kewarasan dan lenyap entah ke mana.Sejak mendengar cerita ini, Eugeo merasa agak takut melihat tak hanya jendelanya sendiri, tetapi juga jendela benda-benda besar seperti Gigas Cedar. Namun, Kirito tak tampak sedikit pun galau. Sekarang saja dia mendekatkan wajahnya pada jendela bercahaya itu dengan suka ria. Walaupun Kirito memang teman terdekatnya sejak kecil, terkadang Eugeo sulit mengikuti tingkahnya …. Terlepas dari perasaannya ini, Eugeo tetap saja kalah oleh rasa ingin tahunya dan akhirnya ikut mengintip dari sebelah Kirito.Pada jendela segi empat yang mengeluarkan cahaya ungu muda, tercantum angka aneh yang terdiri dari garis-garis lurus dan lengkung. Huruf-huruf sakral yang keramat ini, apabila sebatas angka, masih bisa Eugeo tafsirkan, tetapi penulisannya dilarang oleh hukum."Eng …. " Eugeo mengikuti angka-angka dengan jarinya, lalu berkata, "235 … 542.""Ooh … yang dua bulan lalu berapa?""Kalau tidak salah … 235.590?""…….."Mendengar jawaban Eugeo, Kirito mengangkat kedua tangannya dengan gerakan dibuat-buat dan jatuh berlutut di tanah. Lalu, dia menggaruk-garuk rambut hitamnya."Cuma 50! Kita sudah kerja keras selama dua bulan, dan dari total 230.000 lebih ini, yang berkurang cuma 50!?Kalau begini, kita takkan bisa menebangnya secara tuntas seumur hidup!""Ya iya, lah," celetuk Eugeo, tersenyum kecut, "Enam generasi penebang sebelum kita bekerja keras selama 300 tahun dan hasilnya cuma guratan dengan kedalaman seperempat keseluruhannya …. Kalau dihitung, eng … kita akan butuh sekitar 18 generasi atau 900 tahun lagi."Kaaa-uuu ili-niii, yaaa …."Kirito yang berjongkok sambil merangkul kepalanya mengangkat pandangannya ke arah Eugeo, lalu tiba-tiba menjerat kedua kaki Eugeo, membuatnya kehilangan keseimbangan kemudian jatuh memunggungi kasur tanah berlumut."Kenapa lagakmu … kayak anak baik-baik banget, sih!Mana usahamu mengatasi pekerjaan hampa ini, hah!"Walau kata-katanya terdengar marah-marah, wajah Kirito menyengir sambil menaiki Eugeo dan mengacak-acak rambutnya."Uwah, apa-apaan, sih, orang ini!"Eugeo menggenggam kedua pergelangan tangan Kirito dan menariknya. Saat Kirito melawan, Eugeo balik menggunakan momentumnya untuk berguling hingga dia berada di atas Kirito."Ini balasannya!" Eugeo tertawa dan mencoba menarik rambut Kirito dengan tangan bertanahnya. Akan tetapi, berbeda dengan rambut pirang halus lemas miliknya, serangan ini tak begitu ampuh pada rambut hitam lancip Kirito. Akhirnya, dia memilih untuk menggelitik bagian samping perut Kirito."Ugyah… oi, i-itu … cura …."Kirito terus melawan serangan gelitik Eugeo dengan ngos-ngosan, sampai tiba tiba, suara cempreng menyela mereka dari belakang."Heh, kalian—! Lagi-lagi bolos, ya!!"Seketika, Eugeo dan Kirito membeku."Ukh"Gawat…"Sambil menggerutu, mereka pelan-pelan menengok ke arah sumber suara.Di atas batu besar yang agak jauh dari mereka, terlihat sosok kecil berkacak pinggang dan membusungkan dada.
Eugeo menyapanya dengan senyum kaku."Ha … hai, Alice. Kau datang cepat hari ini, ya.""Apanya? Aku memang biasa datang jam segini."Saat si gadis berpaling, rambut pirang panjang yang menghiasi kedua sisi wajahnya berayun merefleksikan percikan cahaya emas yang menerawang rindangnya pohon. Gadis itu melompat turun dari batu dengan langkah ringan, rok birunya yang dihiasi celemek putih melambai. Pada lengan kanannya tergantung sebuah keranjang besar dari rotan.Nama gadis itu adalah Alice Zuberg. Putri kepala desa, umur 11 tahun, sama dengan Eugeo dan Kirito.Sesuai adat, anak-anak yang tinggal di Desa Rulid … tepatnya seluruh kawasan perbatasan utara ini, semuanya diberikan "pekerjaan mulia" dan mulai magang di musim semi pertama mereka setelah menginjak umur 10 tahun.Akan tetapi, Alice merupakan satu-satunya pengecualian, karena dirinya punya kewajiban utama sebagai pelajar.Berkat bakat ilmu sakralnya yang mengungguli anak-anak lain di desa, dia mendapat pendidikan khusus dari Suster Azalia di gereja desa untuk mengembangkannya.Di sisi lain, terlepas dari kejeniusan sang putri kepala desa ini, Desa Rulid tak begitu makmur hingga anak yang sudah berumur 11 tahun tak akan dibiarkan hanya belajar seharian. Siapa yang sudah berumur produktif, dia akan diwajibkan bekerja; hanya saja, tanpa dibebani kewajiban untuk terus menanggulangi "kejahilan Vecta sang Dewa Kegelapan" yang menyerang "hayat" tanaman pertanian dan hewan ternak dengan kata lain: terik panas matahari, hujan deras berkepanjangan, hama, dan benalu. Selama ulah sang Dewa Kegelapan ini belum diatasi, akan sulit bagi penduduk desa untuk bersama melewati kejamnya musim dingin dengan selamat.Keluarga Eugeo memiliki lahan gandum di lahan budidaya yang terhampar di selatan desa. Ayahnya, Orick, berasal dari keluarga petani secara turun-temurun. Dari luar, dia terlihat merayakan saat putra ketiganya terpilih sebagai penebang Gigas Cedar, tetapi sepertinya di dalam hati dia agak menyayangkannya. Memang, keluarga Eugeo mendapat upah yang dibayarkan pihak desa dalam bentuk uang dari pekerjaan Eugeo sebagai penebang, tetapi tetap saja, mereka jadi kekurangan satu orang pekerja di lahan bertani.Sesuai norma setempat, putra pertama setiap keluarga diberikan "pekerjaan mulia" yang sama dengan ayah mereka. Untuk keluarga petani, hal itu berlaku juga untuk putri-putri dan putra-putra selanjutnya. Maka, toko barang bekas diwariskan, profesi penjaga desa diajarkan, dan anak kepala desa pun kelak menjadi kepala desa. Desa Rulid sudah mempertahankan tradisi ini selama beratus-ratus tahun sejak pembentukannya. Orang-orang dewasa menyebut kondisi ini sebagai bentuk anugerah dari Dewi Stacia, tetapi Eugeo merasakan sepercik keganjilan pada pernyataan mereka itu.Eugeo tidak mengerti apakah orang-orang dewasa memang ingin mengembangkan desa, atau sebenarnya tidak ingin mengubah apa pun? Kalau mereka sungguh-sungguh berniat memperluas lahan, seharusnya mereka mengabaikan saja pohon menyusahkan ini dan membuka lahan yang terletak lebih jauh di selatan. Sekalipun begitu, bahkan Kepala Desa, yang seharusnya paling bijaksana di antara mereka, tidak tampak terpikir sedikit pun untuk meninjau kembali adat yang sudah berlangsung turun-temurun tersebut.Karena itu, sebanyak apa pun zaman berganti, status miskin penduduk Desa Rulid tetap tidak berubah; Alice sebagai putri kepala desa pun hanya bisa berkonsentrasi belajar pada siang hari dan harus sibuk merawat ternak dan membersihkan rumah pada sore hari. Dan rutinitas kesibukan Alice ini dimulai dengan mengantarkan bekal makan siang untuk Eugeo dan Kirito.Alice turun dari bebatuan dengan lincah, keranjang rotan menggantung dari lengan kanannya. Mata biru pekatnya tertanam tajam pada Eugeo dan Kirito yang baru berhenti bergulat. Sebelum kata-kata bak petir selanjutnya sempat terlontar dari bibir mungil si gadis, Eugeo bergegas berdiri dan menggelengkan kepala."Bukan, kami bukan bolos! Kuota siang kami sudah selesai," celoteh Eugeo, diikuti seruan pembenaran yang santai dari Kirito di belakangnya.Pandangan tajam Alice menyapu mereka sekilas, lalu melembut menjadi senyum gurau. "Kalau kalian begitu semangat sampai sempat main-main setelah kerja, apa perlu kuminta Kek Garitta menambahkan kuotanya?""Ja-jangan!""Bercanda, kok-Nah, ayo kita makan siang. Hari ini panas, sebaiknya bekalnya cepat dimakan sebelum basi." Alice menaruh keranjangnya di tanah, mengambil sehelai kain putih besar dari dalamnya, dan membentangkannya. Kain yang digelar di atas tanah rata itu pun segera diduduki oleh Kirito, yang tergopoh-gopoh melepas sepatunya. Setelah Eugeo ikut duduk, Alice mulai menghidangkan berbagai santapan di depan mata si kedua buruh kelaparan tersebut.Menu hari ini terdiri dari pastel tutup berisi daging asinan dan rebusan kacang-kacangan, sandwich roti hitam berisi keju dan daging asap, beberapa buah kering, dan susu yang baru diperah dini hari tadi. Selain susu, semua makanan ini tampak bisa bertahan lama, tetapi sinar matahari musim panas yang menyengat terus merampas "hayat" mereka.Alice menyela Kirito dan Eugeo yang sudah tak sabar, seakan mereka adalah anjing peliharaannya yang rakus, lalu menggambar simbol di udara untuk memeriksa jendela para makanan, dimulai dari susu yang disimpan di tembikar."Yah, susunya cuma tahan 10 menit lagi. Pastelnya juga tinggal 15 menit. Padahal tadi aku lari ke sini …. Jadi kalian makan yang cepat, ya. Tapi jangan lupa kunyah yang cukup."Makanan yang "hayat"-nya sudah habis akan menjadi basi. Hanya menyantapnya sedikit saja akan menyebabkan sakit perut seketika, kecuali mungkin pada orang-orang dengan tubuh yang luar biasa tangguh. Eugeo dan Kirito hanya berujar "selamat makan" singkat sebelum melahap pastel dengan rakus.Mereka bertiga menyantap makanan tanpa bertukar kata. Tidak hanya kedua anak laki-laki yang kelaparan, Alice pun menunjukkan kerakusan yang tak sepadan dengan tubuh rampingnya. Ketiga potong pastel tutup pun segera habis, diikuti sembilan potong sandwich dan seguci susu, dan terakhir ditutup oleh tiga napas puas."—Bagaimana rasanya?" lirih Alice sambil melirik dua pemuda itu.Eugeo menjawab dengan segenap kesungguhannya, "Pastel hari ini enak. Sekarang kau sudah ahli, ya, Alice.""Be-begitu? Tapi, kurasa masih sedikit agak hambar," Alice berpaling tersipu, sementara Eugeo melirik ke arah Kirito dan bertukar senyum.Alice telah bertanggung jawab atas bekal siang mereka sejak bulan lalu, tetapi sebenarnya, ada perbedaan jelas pada rasa hidangannya saat ibu Alice, Bibi Sadina, membantunya dan saat tidak. Maklum saja, sebab segala bentuk keterampilan perlu diasah dalam jangka waktu yang panjang sebelum benar-benar dikuasai …. Bisa dibilang, Eugeo dan Kirito pun kini sudah menguasai kearifan untuk menjaga ucapan saat diperlukan."Tapi—" Kirito berkata, sambil mengambil selembar buah marigo kuning dari toples buah-buahan kering, "Padahal ada makanan enak, sayang sekali kita tidak bisa menikmatinya dengan lebih santai. Kenapa makanan lebih cepat basi sewaktu panas, ya ….""Kenapa?" Eugeo tidak menutupi senyum tawarnya dan mengangkat bahu. "Aneh-aneh saja kau ini. Tentu saja karena hayat-nya lebih cepat berkurang sewaktu panas, kan. Daging, ikan, sayur, buah … semuanya akan basi dalam sekejap mata kalau dibiarkan.""Ya, tapi kenapa harus begitu? Padahal kalau musim dingin, daging asinan tahan saja berhari-hari di luar.""Yah … karena musim dingin itu, dingin?"Menanggapi jawaban Eugeo ini, Kirito hanya mesem seperti bocah bandel. Mata hitam pekatnya, yang jarang ditemukan di kawasan ini, berbinar penuh tantangan."Iya, tepat sekali, Eugeo! Makanan lebih tahan lama kalau disimpan dalam suhu dingin. Masalahnya ada di temperatur, bukan jalannya musim. Jadi … di musim panas sekalipun, bekal kita bisa saja tahan kalau didinginkan." Karena hilang kesabaran, Eugeo menendang ringan tulang kering Kirito dengan ujung kakinya."Sembarangan. Didinginkan bagaimana maksudmu? Musim panas, ya, panas. Jangan bilang kau mau menurunkan salju pakai ilmu terlarang untuk memanipulasi cuaca.Kalau itu kau lakukan, besoknya Integrity Knight pasti akan datang dari ibu kota dan menangkapmu.""E-eng …. Apa tidak ada cara lain, ya … Padahal rasanya ada cara yang lebih simpel …" Kirito menggerutu dengan muka masam. Alice, yang sejak tadi hanya diam mendengar percakapan mereka, akhirnya membuka mulut sambil memainkan ujung kucirnya dengan jan."Ide yang menarik.""Eh, kau jangan ikut-ikutan dia juga, Alice.""Aku bukan bicara soal ilmu terlarang. Tak perlu sampai mendinginkan seluruh desa, kurasa sudah cukup kalau keranjang makanan ini saja yang didinginkan, bukan?" Mendengar celetukan tidak terpikirkan yang terkesan sungguh wajar itu, Eugeo secara refleks menengok ke arah Kirito, dan mereka berdua mengangguk bersamaan.Memasang senyum bangga, Alice melanjutkan."Ada saja, kok, benda dingin yang bisa ditemukan di musim panas. Misalnya, air dari sumur dalam, atau daun silve. Kalau memasukkan benda itu ke keranjang, mungkin makanan di dalamnya bisa didinginkan.""Ah… benar juga."Eugeo melipat tangannya dan berpikir.Di tengah plaza depan gereja, ada sebuah sumur dalam yang katanya digali pada saat Desa Rulid didirikan.Air yang ditimba dari sana sangat dingin hingga mampu membekukan tangan, bahkan di musim panas sekalipun.Selain itu, ada pula pohon silve yang tumbuh jarang-jarang di hutan utara. Daunnya mengeluarkan aroma segar menyengat dan sensasi dingin saat dipetik sehingga sering dimanfaatkan untuk mengobati luka memar.Memang, kalau kita memasukkan sebotol air sumur bersama bekal makanan, atau membungkus pastel dengan daun silve, rasanya tidak mustahil untuk memperpanjang hayat makanan dalam keranjang.Kirito tampaknya merenungkan ide itu juga, tetapi dia akhirnya menggelengkan kepala."Itu tidak akan cukup. Air sumur cuma tahan dingin tak lebih dari semenit setelah ditimba, daun silve juga tidak sebegitu dingin. Kurasa mereka tidak akan bisa menjaga 'hayat' makanan selama perjalanan dari rumahmu sampai ke Gigas Cedar ini.""Jadi? Ada ide lain?" Alice merengut, kesal karena ide cemerlangnya ditolak. Kirito terdiam sementara, mengacak-acak rambut hitamnya, lalu kembali membuka mulut."Es. Yang kita perlukan adalah es yang banyak untuk menjaga bekal supaya tetap dingin dalam waktu lama.""Kau ini, ya …" Alice menggelengkan kepala, gemas."Kau tahu, kan, ini musim apa. Di mana kita bisa dapat es? Dicari di pasar besar di ibu kota pun takkan ketemu!" bentaknya, seperti ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya yang rewel.Di sisi lain, Eugeo merasakan firasat buruk dan menatap Kirito tanpa berkata-kata. Berkat waktu panjang yang mereka habiskan bersama sampai saat ini, dia tahu betul kalau saat teman sepermainannya itu mulai menghasut dengan mata berbinar seperti ini, yang ada di otaknya bukanlah hal bagus. Kilas balik sejumlah momen, seperti mencuri madu dari kaisar lebah di gunung timur, memecahkan botol susu yang sudah berakhir hayat 100 tahun lalu di rubanah gereja, dan lain-lain, muncul dan pergi dalam benak Eugeo."Ya … yah, sudah cukup, 'kan? Lagi pula, tidak ada masalah selama kita makan cepat. Ayo mulai kuota sore kita. Nanti kita malah pulang larut, lho."Eugeo mencoba mengakhiri pembicaraan dengan mengumpulkan piring-piring kosong dan mengembalikannya secara cekatan ke dalam keranjang. Akan tetapi, melihat mata Kirito lagi-lagi berbinar dengan ide baru, Eugeo menangkap bahwa kekhawatirannya tengah berubah menjadi kenyataan."… Apa? Kali ini ada ide apa lagi?" Eugeo bertanya, pasrah. Kirito membalasnya dengan senyum menyeringai."Hei … kalian ingat tidak, cerita kakek Eugeo duluuuu sekali?""Erm…?""Yang mana…""Eugeo dan Alice memiringkan kepala.Kakek Eugeo telah mencapai akhir hayatnya dan dipanggil kembali ke sisi Dewi Stacia dua tahun yang lalu. Sebelum itu, ketiga bocah ini seringkali duduk menengadah di sekeliling kursi goyang beliau di kebun, demi mendengarkan tuturan beraneka ragam kisah yang tersimpan di balik janggut putih beliau. Kisah aneh, kisah mendebarkan, kisah seram … Eugeo tak tahu kisah mana yang dimaksud Kirito kali ini dari ratusan kisah yang telah diperdengarkan pada mereka."Es di musim panas … berarti cuma itu, 'kan? Legenda Bercouli dan si Nag ….""Oi, cukup! Kau itu mau melawak, ya, hah!" Eugeo langsung menyela sambil menggelengkan kepala dan menggoyangkan kedua tangannya.Bercouli adalah pendekar pedang terkuat di antara para leluhur yang mendirikan Desa Rulid ini, juga ketua pertama dari penjaga desa. Tentunya, karena dia adalah sosok yang hidup 300 tahun silam, yang tertinggal darinya hanyalah beberapa kisah kepahlawanan yang diturunkan dari mulut ke mulut. Dan legenda yang hendak Kirito ceritakan adalah kisah yang paling absurd di antaranya.Alkisah, di suatu hari yang membakar di musim panas, Bercouli mengunjungi Sungai Ruhr yang mengalir di sebelah timur desa dan menyadari keberadaan batu-batu transparan besar yang mengapung di sana. Saat dia memungutnya, Bercouli mendapati bahwa itu adalah sebuah batu es. Karena heran, dia pun menelusuri sungai tersebut sampai ke hulu. Kakinya membawanya ke Pegunungan Ujung yang menjadi ujung Human Empire, terus menelusuri aliran sungai yang menyempit, sampai dia tiba di mulut sebuah gua raksasa.Bercouli memasuki gua, melawan angin beku yang bertiup dari dalam, mengarungi beragam bahaya yang menghadang jalannya, sebelum akhirnya mencapai ruangan besar paling dalam di gua. Di sana, dia bertatap muka dengan seekor naga putih bertubuh raksasa yang disebut melindungi peradaban manusia dari seluruh arah mata angin. Bercouli, mendapati sang naga yang bersemayam di atas harta karun berlimpah tersebut sedang tidur, nekat mendekatinya. Dia menemukan pedang panjang yang begitu cantik di tengah gunung harta itu, dan sangat ingin mendapatkannya. Berhati-hati untuk tidak membangunkan sang naga, Bercouli mengambil pedang itu diam-diam … dan saat dia mencoba untuk kabur ….Begitulah singkatnya cerita Bercouli dan Naga Putih Utara.Sebandel apa pun Kirito, tidak mungkin dia berniat melanggar adat dan menyeberangi celah gunung di utara desa untuk mencari naga itu … bukan? Sambil berdoa dalam hati, Eugeo bertanya dengan was-was."Jadi, kau ingin menunggu di tepi Sungai Ruhr untuk mengumpulkan es-es batu yang mengalir … begitu?" Mengkhianati harapan Eugeo, Kirito mendengus dan berkata tegas, "Musim panas keburu berakhir kalau kita cuma menunggu. Aku bukannya mengusulkan supaya kita ikut-ikutan Bercouli untuk menemui si naga, kok. Kalau menurut ceritanya, ada jurai-jurai es di dekat mulut gua, 'kan? Kita cuma perlu memotek es-es tersebut sebanyak dua atau tiga, lalu pulang, seharusnya itu sudah cukup.""Benar-benar kau ini …."Eugeo tercengang beberapa saat, sebelum menoleh ke Alice di sampingnya, berharap dia bisa mengomeli bocah durhaka ini menggantikannya. Namun, menyadari cahaya tak biasa yang muncul di bola mata biru tua si gadis, Eugeo patah hati.Amat sangat disayangkan, Eugeo dan Kirito terkenal sebagai duo bocah ternakal di desa dan sehari-hari sering dihujani rintihan, keluhan, dan bentakan para sesepuh. Akan tetapi, sedikit dari mereka yang tahu, bahwa di balik sejumlah kenakalan mereka berdua, ada campur tangan provokatif dari Alice yang terkenal sebagai anak teladan desa.Dan kini, Alice menaruh jari telunjuk kanannya ke bibir; terdiam merenung beberapa saat, sebelum akhirnya mengedipkan mata dan angkat bicara."—Tidak buruk""Ya-yang benar saja, Alice ….""Memang, anak-anak dilarang untuk menyeberangi celah gunung utara sendirian. Tapi, coba kau ingat baik-baik. Bunyi peraturan resminya begini: Anak-anak tidak diperbolehkan menyeberangi celah gunung utara untuk bermain, tanpa pengawasan orang dewasa.""Eh .. i-iya, ya?"Eugeo dan Kirito saling bertatapan.Adat desa, atau yang secara resmi disebut dengan "Tata Tertib Desa Rulid", tercatat di sebuah buku perkamen usang setebal 2 cen yang disimpan di kediaman kepala desa. Semua anak di desa ini pertama-tama akan disuruh menghafalnya saat mereka mulai menghadiri sekolah gereja. Setelahnya pun, para orang tua dan sesepuh selalu mengulangi isinya dengan berkata, "Menurut adat begini …" atau, "Di adat disebutkan …" sehingga Eugeo telah mengingat semuanya di umurnya yang 11 tahun ini—atau setidaknya dia kira begitu, tetapi tampaknya Alice telah menghafal seluruhnya sampai ke setiap kata.…Jangan bilang dia juga hafal isi Undang-Undang Dasar Imperium yang memiliki ketebalan dua kali lipat…? Tidak, tidak. Tunggu sebentar, lebih parah lagi, jangan-jangan dia juga mengingat dengan sempurna isi yang satu itu, yang punya ketebalan berkali-kali lipat dari aturan adat …?Selagi Eugeo menyerang Alice dengan tatapan penuh penasaran, Alice berdehem dan mulai menjelaskan seperti seorang guru."Dengar baik-baik, ya. Yang dilarang oleh adat adalah pergi ke sana untuk bermain. Tapi, kita bukan ke sana untuk bermain, 'kan? Kalau kita berhasil memperpanjang hayat bekal makanan, yang tertolong bukan hanya kita, tapi juga para pekerja lahan dan ternak. Jadi, bisa dibilang, kita pergi ke sana untuk bekerja."Mendengar argumen piawai Alice, Eugeo dan Kirito lagi-lagi saling tatap. Awalnya, mata hitam partnernya itu tampak ragu, tetapi itu pun mulai mencair bagai batu es yang terbawa aliran sungai musim panas—"Iya. Kau benar. Betul sekali." Dia melipat tangannya dan mengangguk dengan wajah serius. "Kalau untuk pekerjaan, menyeberangi celah sampai ke Pegunungan Ujung tidak melanggar adat. Si Om Barbossa juga sering bilang, 'kan. Kerja itu bukan cuma melakukan hal yang diperintahkan, jadi kalau ada waktu luang, kita harus cari kerja selanjutnya sendiri! Kalau nanti kita dimarahi, kita beralasan saja dengan kata-katanya."Keluarga Barbossa adalah pemilik lahan gandum terluas di Desa Rulid. Kepala keluarga mereka saat ini adalah pria besar berumur sekitar 50 tahun bernama Neigi Barbossa, yang tampak tidak puas dengan lahannya yang berkali-kali lipat lebih luas dari petani-petani desa lain. Dia selalu memprotes, "Kau belum juga berhasil menebang pohon aras terkutuk itu?" setiap kali berpapasan dengan Eugeo di jalan. Menurut kabar angin, dia menuntut hak pilih pertama kepada pemimpin desa untuk jatah lahan yang akan dibuka setelah Gigas Cedar berhasil ditebang Eugeo selalu diam-diam membatin, "Hayatmu akan berakhir sebelum itu terjadi, Om."Ide Kirito untuk memanfaatkan kata-kata Om Neigl ini untuk beralasan jika mereka diomeli memang menawan.Akan tetapi, Eugeo telah sejak dulu menjadi suara kalbu di trio mereka, jadi dia tak bisa menghentikan diri untuk menggugat dengan kata "tapi"."… Tapi, 'kan, pergi ke Pegunungan Ujung tidak hanya dilarang menurut adat desa … tapi juga menurut itu. Kalaupun kita menyeberangi celah, kita cuma bisa pergi sampai ke kaki gunung, tidak guanya…."Menanggapi kata-katanya ini, Alice dan Kirito tampak sedikit termenung.Itu yang disebut Eugeo adalah "Indeks Tabu", aturan absolut yang berlaku tanpa terkecuali untuk semesta penduduk Human Empire, yang memegang kuasa jauh, jauh lebih tinggi dari Tata Tertib Desa Rulid dan bahkan Undang-Undang Dasar Imperium Norlangarth.Pihak proklamatornya tak lain adalah Gereja Axiom, gereja dengan menara kolosal yang menjulang sampai langit, yang berada di ibu kota, Centoria. Indeks tersebut berbentuk buku tebal dengan kover kulit putih suci. Tak hanya di Imperium Norlangarth tempat mereka tinggal, seluruh kota dan desa di setiap imperium pun menyimpan setidaknya satu eksemplar.Berbeda dengan adat desa dan UUD, Indeks Tabu hanya menguraikan "hal-hal yang dilarang", persis seperti namanya. Dimulai dari larangan mendasar, seperti menentang gereja, membunuh satu sama lain, mencuri, sampai ke hal-hal terperinci, seperti "batas jumlah ikan dan makhluk darat yang boleh diburu dalam setahun" dan "jenis pakan yang tidak boleh diberikan kepada ternak". Sekolah tak hanya wajib mengajarkan anak-anak cara bertulis dan berhitung, tetapi juga memiliki tugas paling penting untuk memampukan mereka menghafalkan seluruh isi Indeks Tabu. Lalai untuk mengajarkannya pun dilarang menurut indeks itu sendiri.Meski Indeks Tabu dan Gereja Axiom memiliki kuasa besar, katanya terdapat tanah yang tak terjangkau oleh kuasa tersebut, yaitu negeri kegelapan yang dikatakan berada di seberang Pegunungan Ujung yang mengepung dunia ini dalam bahasa sakral, julukannya adalah "Dark Territory". Karena itulah, mendekati Pegunungan Ujung dilarang menurut baris pertama indeks. Ini juga menjadi dasar dari perkataan Eugeo, bahwa batas jangkauan mereka hanya sampai ke kaki gunung dan bukan gua.Alice pun pasti tak berpikir untuk menantang Indeks Tabu, bukan? Apalagi karena pemikiran itu sendiri juga dilarang berat menurut indeks …. Eugeo menatap teman sepermainannya yang satu itu dengan penuh harap.Alice terdiam, bulu mata lentiknya yang seperti deretan benang emas halus berkilau diterpa rintikan sinar mentari siang bolong yang menembus dedaunan. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat wajahnya dan—dengan begitu mengejutkan—ada binar menantang yang tak berubah di matanya saat dia membalas."Eugeo, kali ini kau salah mengingat isi Indeks Tabu.""Eh…. Bo-bohong.""Aku tidak bohong, Kalimat tepatnya di indeks itu seperti ini. Bab I, Pasal 3, (11): Segala individu dilarang melintasi Pegunungan Ujung yang melingkari Human Empire. … Melintasi itu tentu saja berarti mendaki sampai ke sisi seberang. Masuk ke gua tidak termasuk. Lagi pula, tujuan kita bukan pergi sampai ke seberang Pegunungan Ujung, tapi cuma mengambil es. Di Indeks Tabu sama sekali tidak ada larangan untuk mencari batu es di Pegunungan Ujung."Setelah dibantah oleh suara manis dan jernih dari Alice yang terdengar seperti bel terkecil di menara gereja, Eugeo tidak bisa lagi berkata-kata. Malah, dia mulai merasa bahwa Alice yang benar.Tapi selama ini kita cuma pernah pergi sampai ke Kolam Kembar yang ada di tepi Sungai Ruhr, di awal-aral celah gunung. Kita tidak tahu jalan setelah itu bagaimana. Ini juga musim-musim di mana serangga menjengkelkan biasa bermunculan di sekitar sumber air….Sementara Eugeo berkuncup hati, Kirito memukul punggungnya—dengan kekuatan yang nyaris cukup untuk mengurangi hayatnya dan berseru."Ayolah, Eugeo, kalau Alice yang kutu buku terunggul di desa sudah bilang begini, pasti dia benar! Oke, teman-teman! Hari libur selanjutnya, kita akan pergi mencari naga … maksudku gua es!""Sebaiknya kita membawa bekal yang bisa bertahan lama."Melihat wajah berseri-seri dari kedua teman karibnya, Eugeo menghela napas berat dalam hati dan menjawab dengan lemas, "Iya …."
Komentar (0)
Memuat komentar...