Sword Art Online 008: Early and Late

Hari Pertama

Estimasi waktu baca: 53 menit

Death game: gim penentu hidup dan mati.
Namun, sebenarnya, rangkaian kata ini sendiri tidak memiliki definisi tetap. Kalau yang dimaksudkan di sini adalah "kompetisi dengan risiko fisik", maka seni bela diri, panjat tebing, dan olahraga otomotif juga akan termasuk ke dalamnya. Kalau ada faktor yang membedakan jenis gim yang hendak kubicarakan dengan olahraga-olahraga berbahaya tersebut, maka itu hanya satu.
Bahwa kematian, sebagai penalti, tertulis jelas pada peraturannya.
Bukan suatu kecelakaan yang terjadi secara kebetulan. Kematian diberikan secara paksa sebagai penalti atas kesalahan atau kekalahan sang pemain. Pemain dibunuh sebagai hukuman.
Maka, menurut klasifikasi ini, VRMMORPG pertama dunia yang dinamakan Sword Art Online ini tak salah lagi adalah suatu gim yang bersifat demikian. Seperti telah diumumkan dengan sangat jelas oleh Kayaba Akihiko, pencipta dan penguasa gim ini, 20 menit yang lalu.
Saat HP pemain mencapai 0%—saat "kalah", pemain akan dibunuh. Dan saat pemain melepaskan NerveGear—saat "melanggar aturan", pemain juga akan dibunuh.
Itu tidak terasa nyata. Logikanya tidak dapat langsung kuterima. Di benakku, beribu keraguan masih terus berputar-putar.
Apa itu mungkin? NerveGear hanyalah sebuah konsol gim. Apa benar dia memiliki kemampuan untuk menghancurkan otak manusia?
Lagi pula, apa untungnya Kayaba berbuat seperti ini? Kalau dia menyandera kami di dunia virtual untuk memalak uang dari keluarga kami, aku masih mengerti. Akan tetapi, keuntungan material seperti apa yang dia peroleh dari memaksa pemain mempertaruhkan nyawa mereka untuk menaklukkan gim? Yang dia lakukan hanyalah melepaskan reputasi tingginya sebagai ilmuwan mekanika kuantum dan desainer gim untuk menjadi salah satu pelaku kriminal terbusuk dalam sejarah.
Aku tidak mengerti.
Otak rasionalku tidak dapat mengerti.
Meski begitu, di sisi lain, instingku tahu.
Bahwa seluruh perkataan Kayaba itu nyata. Kastel Layang Aincrad yang merupakan latar SAO telah berubah wujud, dari suatu dunia fantasi yang mendebarkan dan menakjubkan, menjadi penjara maut yang memerangkap kami yang berjumlah 10.000 di sini. Apa yang Kayaba katakan di akhir tutorial—"situasi ini sendiri adalah tujuanku"—kurasa memang kata-kata yang bersumber dari hatinya. Jenius berbahaya itu menciptakan SAO… menciptakan NerveGear hanya demi membuat gim penentu hidup dan mati menjadi kenyataan.
Karena meyakini hal itulah, aku—petarung satu pedang level 1, Kirito—berlari sekuat tenaga.
Melintasi rerumputan yang membentang luas, seorang diri. Membuang teman pertamaku di gim ini.
Hanya demi menyelamatkan diri—

Kastel Layang Aincrad terdiri dari 100 lantai.
Konstruksi kastel berupa kerucut, di mana lantai bawah memiliki luas terbesar, dan lantai-lantai di atasnya makin menyempit saat mendekati puncak. Lantai satu— yang paling luas—berdiameter hingga 10 km. Kota utama sekaligus kota terbesar di lantai satu adalah "Kota Awal", berupa setengah lingkaran berdiameter 1 km di satu pojok selatan lantai.
Kota itu dikelilingi tembok pertahanan tinggi, berfungsi menahan monster dari luar. Sebuah aturan sistem yang disebut Kode Pencegahan Kriminal juga melindungi bagian dalam kota sehingga HP pemain, yang juga menjadi sisa nyawa yang nyata, tidak akan berkurang satu piksel pun. Dengan kata lain, selama kau tinggal di dalam Kota Awal, kau akan terlindungi, tidak akan mati.
Namun, bersamaan dengan selesainya tutorial dari Kayaba Akihiko, aku memutuskan keluar dari Kota Awal.
Keputusanku didasari beberapa alasan: satu, tak adanya bukti bahwa Kode Pencegahan Kriminal akan bekerja selamanya; dua, aku ingin menghindar dari purbasangka dan pertikaian yang pasti akan tumbuh antarpemain; dan tiga: obsesi untuk menaikkan level, yang telah tertanam sampai ke sumsum tulangku sebagai pemain gim MMO.
Entah ini karma apa, aku adalah penggemar berat berbagai karya fiksi yang mengulas gim penentu hidup dan mati—novel, komik, serta film dari berbagai zaman dan negara. Gim yang dibahas dalam semua karya fiksi itu berbeda-beda, tetapi tampaknya didasarkan pada teori yang sama di mataku.
Teori pertama adalah, bahwa dalam sebuah gim penentu hidup dan mati, "keamanan" dan "pembebasan" sejatinya merupakan dua konsep yang saling paradoks. Kalau gim dimulai di sebuah area aman, maka nyawamu tidak akan terancam selama kau berada di area tersebut. Namun, tidak keluar dari area aman demi menghindari bahaya juga sekaligus berarti kau takkan bisa menghirup kebebasan.
Tentu saja, aku tidak punya ambisi heroik seperti mengalahkan 100 bos monster yang menghuni Aincrad dan menaklukkan gim dengan pedangku sendiri. Namun, mestinya di antara 10.000 pemain yang terperangkap di sini, setidaknya ada lebih dari 1.000 orang yang memiliki pemikiran seperti itu. Mereka akan keluar dari kota, baik sendiri-sendiri atau berkelompok, lalu memburu monster lemah di sekeliling untuk mengumpulkan EXP. Mereka akan menaikkan level, memperbarui perlengkapan, dan menjadi kuat.
Ini lalu membawa kita ke teori kedua.
Dalam sebuah gim penentu hidup dan mati, yang menjadi musuh seorang pemain bukan hanya aturan gim, jebakan, maupun monster. Pemain lain pun berpotensi menjadi musuhmu. Aku tidak pernah mengonsumsi cerita di mana hal ini tidak benar.
Di SAO, pemain dapat melakukan player killing (PK) saat berada di luar kota, atau di luar area aman. Walau mungkin takkan sampai benar-benar membunuh-sebab membunuh di gim ini sama dengan membunuh di dunia nyata tak ada jaminan bahwa tak akan muncul seorang pun yang tega mengancam pemain lain dengan senjata dan merampok mereka. Hanya dengan membayangkan situasi di mana seseorang yang berpotensi menjadi musuhku memiliki parameter jauh lebih tinggi dariku sudah membuat isi mulutku pahit akan rasa takut dan gelisah yang nyata.
Berdasarkan alasan-alasan inilah, pilihan untuk tinggal di Kota Awal dan melepaskan kekuatan demi keamanan tidak pernah ada di benakku.
Kalau aku memang serius ingin menaikkan level, maka tidak ada waktu untuk melamun. Lapangan rerumputan sekitar perkotaan yang tergolong aman akan segera dipenuhi oleh orang-orang yang membuat keputusan sama denganku. Monster di SAO memiliki batasan spawn, artinya ada batas berapa ekor yang bisa muncul selama durasi tertentu di lokasi tertentu. Saat para monster buruan habis, maka aku akan harus membuka mata lebar-lebar untuk mencari lokasi sparen selanjutnya, bahkan berebut tempat dengan pemain lain.
Kalau ingin menghindari hal itu dan menaikkan level dengan cara yang lebih efisien, aku harus pergi menyeberangi wilayah yang "tergolong aman" ini—menuju tempat yang "agak berbahaya".
Memang, melakukan hal tersebut di suatu gim yang baru kau mainkan untuk kali pertama adalah sebuah tindakan bunuh diri. Namun, walau SAO baru resmi dirilis hari ini, karena suatu alasan, aku sudah sangat familier dengan lantai bawah, dari kondisi geografisnya sampai monster-monster yang berpotensi muncul.
Keluar dari gerbang barat laut Kota Awal, mengarungi rerumputan luas, di ujung jalan setapak bagai labirin yang memotong ke dalam sebuah hutan lebat, bersemayam sebuah desa bernama Horunka. Walau kecil, desa ini Juga merupakan area aman yang dilengkapi dengan penginapan, toko senjata, dan toko perlengkapan sehingga kuanggap memadai untuk menjadi pangkalan saat berburu. Monster dengan skill berbahaya seperti menghancurkan perlengkapan atau membuat lumpuh tidak akan muncul di hutan yang mengelilingi desa ini sehingga kecil kemungkinan bertemu nasib celaka walau menjelajah sendirian.
Dengan Desa Horunka sebagai pangkalanku, hari ini aku berencana menaikkan levelku dari 1 ke 5. Waktu menunjukkan pukul 18:15. Rerumputan sekitarku diwarnai emas dari sinar senja yang datang dari perimeter Aincrad, sementara hutan yang mulai terlihat di kejauhan tercelupkan ke dalam kegelapan pucat ambang malam.
Untungnya, tidak ada monster kuat yang akan muncul di sekitar Horunka pada malam hari. Kalau aku terus berburu monster sampai hari berganti, aku akan bisa mendapatkan parameter dan perlengkapan yang cukup untuk berpindah ke lokasi selanjutnya, sebelum desa ini mulai diisi pemain lain.
"…Disebut apa kalau bukan egois, ya… Benar-benar solo player sejati…?" bisikku sambil berlari sekuat tenaga untuk kali pertama sejak keluar dari kota.
Tanpa kubuat candaan seperti ini, aku tidak bisa melenyapkan kepahitan baru yang muncul di dalam mulutku, yakni rasa najis terhadap sifatku sendiri.
Seandainya saja petarung pedang pendek berbandana, yang tampak baik dan bersahabat itu ada di sampingku sekarang. Mungkin membantunya menaikkan level dan bertahan hidup bisa menjadi tameng yang akan mengurangi perasaan bersalahku ini.
Namun, aku telah meninggalkan pria bernama Klein itu, temanku satu-satunya di gim ini, di Kota Awal.
Tepatnya, dia menolak ajakanku untuk pergi bersama-sama ke Horunka, dengan alasan tidak rela meninggalkan kawan-kawannya yang dahulu tergabung dalam guild yang sama dengannya di gim lain.
Aku bisa mengusulkan Klein untuk mengajak mereka, tetapi aku tidak melakukannya. Sebab, berbeda dengan lapangan rerumputan yang hanya dipenuhi oleh monster babi hutan dan ulat yang bisa dikalahkan pemain level 1 dengan mudah, monster agak berbahaya seperti lebah beracun dan tanaman karnivora akan muncul di hutan.
Jika menghadapi mereka menggunakan teknik bertarung yang salah, HP pemain bisa dengan cepat menjadi nol… dan pemain itu akan mati dalam sekejap.
Aku takut, akan kemungkinan teman-teman Klein mati… tidak, aku takut akan pandangan mata Klein padaku saat aku membiarkan itu terjadi. Akhirnya, hanya untuk menghindar dari ketidaknyamanan itu, dari perasaan terlukai, aku memutuskan untuk meninggalkan pria yang kali pertama menyapaku dan mengajakku membentuk party di gim ini…
"…!!"
Rasa najis yang tak terhapuskan seutuhnya oleh candaanku meluap-luap dari dasar perut. Aku menggeretakkan gigi, meraih pedang di punggung dengan tangan kanan.
Seekor babi hutan biru baru saja muncul di rerumputan seberang. Karena mereka tipe monster yang tidak menyerang lebih dahulu, aku bermaksud mengabaikan lawan semacam ini sampai mereka selesai melintasi wilayah rerumputan. Akan tetapi, aku terbawa impuls sehingga malah menghunuskan pedang sederhana yang merupakan senjata awalku, dan mengaktifkan "Slant" sword skill serangan tunggal.
Si babi hutan, sadar bahwa dirinya menjadi target, menatapku tajam sambil menggosok-gosokkan kaki kanan depannya ke tanah. Itu motion serangan gelincirnya. Kalau aku terintimidasi olehnya dan menghentikan jurusku, bisa jadi akulah yang akan mendapat damage besar darinya. Dengan perasaan bercampur antara kekesalanku pada diri sendiri dan ketenangan, aku menatap si babi hutan, melancarkan jurusku ke arah belakang leher yang merupakan titik lemahnya.
Mata pedangku mengeluarkan sinar biru samar-samar, dan avatarku bergerak secara semiotomatis diiringi efek bunyi yang tajam. Itu adalah assist jurus dari sistem untuk menguatkan serangan dengan mengaplikasikan motion tebas yang sesuai. Sambil berhati-hati untuk tidak melawan momentum, aku mempercepat gerakan kaki dan tangan kananku secara sengaja, menambahkan manual kekuatan pada jurusku. Demi menguasai teknik ini, aku melatih pedangku ke boneka latihan di kota selama sekitar 10 hari.
Walau parameter dan spesifikasi perlengkapan pemain level 1 teramat lemah, kalau aku bisa melancarkan jurus "Slide" yang diperkuat ke arah titik lemahnya sebagai serangan kritikal, maka HP si babi hutan—atau nama resminya Frenzy Boar—akan habis dalam satu serangan itu. Tebasan lurus pedangku mengenai telak surai si babi hutan yang hendak menggelincir ke arahku, dan monster berukuran 1,2 meter itu terdorong ke belakang.
"Giiiiik!" dekiknya, terpental dari tanah, lalu terhenti tak normal di udara. Efek bunyi dan efek cahaya biru meletup darinya, dan si babi hutan meledak menjadi ribuan kepingan poligon.
Tanpa memedulikan EXP maupun drop item yang kudapat, aku terus berlari menembus efek cahaya yang ditinggalkan si babi hutan. Tak ada rasa senang yang lahir dari kemenanganku barusan. Aku mengembalikan pedangku ke sarungnya di punggung dan berlari mengerahkan segenap parameter ketangkasanku menuju hutan kelam di depanku.
Setibanya dalam hutan, aku jadi waspada untuk menghindari lingkup respons para monster sambil melintasi jalan setapak secepat mungkin. Aku tiba di tujuanku, Desa Horunka, tepat sebelum matahari tenggelam sepenuhnya.
Dari gerbang masuk, aku menyisir pemandangan desa yang memiliki tak lebih dari beberapa belas bangunan, termasuk hunian dan pertokoan. Seluruh kursor warna yang kutemukan memiliki tag NPC. Sepertinya aku yang pertama datang. Itu sebenarnya wajar, sebab aku langsung berlari ke sini tanpa banyak bicara seusai menyimak tutorial dari Kayaba.
Yang pertama kulakukan adalah mengunjungi toko senjata yang menghadap plaza kecil. Sebelum tutorial dengan kata lain, saat SAO masih berupa gim biasa, aku berburu beberapa monster bersama Klein, jadi aku memiliki beberapa item bahan di inventoriku. Aku tidak berniat menaikkan skill manufaktur, jadi aku menjual semuanya ke toko NPC. Lalu, aku membeli mantel kulit pendek yang memiliki perlindungan tinggi menggunakan seluruh Cor yang kudapatkan.
Tanpa ragu, aku menekan tombol "langsung pakai" yang muncul bersama barang pembelianku. Di atas kemeja linen putih dan rompi tebal abu-abu yang merupakan perengkapan awalku, mantel kulit otentik termanifestasi sambil mengeluarkan cahaya. Kuhela napas, merasakan secikit kelegaan, lalu melirik penampilan baruku yang terpantul pada cermin di dinding toko tersebut.
Benar-benar 'aku', ya…" gumamku refleks. Pemilik toko, pria paruh baya yang sedang memoles sarung pedang pendek di konter, mengangkat satu alis pada kata-kataku, tetapi segera melanjutkan aktivitasnya.
Penampilan avatarku yang terpantul di cermin, selain tinggi dan jenis kelamin, ternyata jauh berbeda dari wujud "Kirito" yang kubuat dengan susah payah.
Kurus kerempeng, tanpa garis kekar pada wajahnya.Poni hitam panjang menutupi dahiku, dan mataku pun berwarna hitam, lebih tepatnya suram. Begitu mendetail, persis dengan wujud asliku di dunia nyata—
Hanya membayangkan diriku memakai baju zirah emas mewah seperti yang sebelumnya kuberikan pada Kirito-lah yang membuat penolakan kuat melesat ke seluruh tubuhku. Untungnya, di SAO, memakai zirah kulit yang ringan dapat memberi parameter lindung yang cukup untuk petarung pedang satu tangan yang tangkas.
Memang tidak cukup untuk menjadi pemain build tank yang berperan memancing serangan monster, tetapi itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan solo player.
Sebaiknya aku terus memakai zirah yang terbuat dari kulit selama situasi memungkinkan, dan kalau bisa, yang desainnya juga sederhana.
Sambil bertekad demikian, aku meninggalkan toko senjata. Yang kubeli hanya mantel kulit ini. Perisai hendak kucari nanti, dan aku juga masih memakai pedang awal. Aku memasuki toko perlengkapan di sebelah dan membeli ramuan penyembuh dan penawar racun sebanyak mungkin, sampai uangku menjadi nol.
Ada alasan mengapa aku tidak memperbarui senjataku.
Satu-satunya pedang satu tangan yang dijual di toko senjata di desa ini adalah Bronze Sword, yang memiliki kekuatan lebih tinggi, tetapi juga durabilitas lebih rendah dari senjata awalku, Small Sword, sehingga tidak cocok saat melawan cairan korosif yang dapat disemprotkan oleh monster tipe tanaman. Small Sword lebih ideal untuk digunakan saat aku ingin berburu banyak… tetapi aku juga sebaiknya tidak terlalu lama mengandalkan senjata bawaan awal. Setelah keluar dari toko perlengkapan, aku berlari ke satu rumah penduduk yang berada di pusat desa.
Seorang NPC yang sedang mengaduk-aduk isi sebuah panci di dapur, tipikal "ibu-ibu desa" di gim, menoleh ke arahku.
"Selamat malam, pendekar kelana. Anda pasti kelelahan. Saya ingin menghidangkan sesuatu untuk Anda, tapi sayangnya tidak ada apa-apa sekarang. Yang bisa saya berikan hanya segelas air minum."
Tanpa jeda, aku menjawab dengan suara lantang supaya bisa dideteksi sistem, "Iya, itu cukup."
Sebenarnya, jawaban "iya" saja sudah memadai, tetapi ini tergantung suasana hatiku. Namun, kalau aku bersikap segan dan menjawab "Tidak perlu repot-repot", NPC benar-benar tidak akan memberi apa-apa.
Si NPC menuangkan air dari teko ke sebuah cangkir usang lalu meletakkannya ke meja di depanku. Aku duduk di kursinya dan meminumnya dalam satu tegukan.
Si ibu tersenyum tipis melihatku, lalu kembali mengaduk isi pancinya. Dia tidak bisa memberi makanan, padahal tampak seperti memasak sesuatu berarti ini adalah sebuah petunjuk. Aku menunggu sejenak, lalu dari dalam pintu yang memisahkan ruang sebelah terdengar suara batuk anak kecil. Si ibu menjatuhkan bahunya dengan sedih.
Setelah menunggu beberapa detik lagi, akhirnya tanda tanya berwarna emas muncul di atas kepalanya. Itu adalah bukti aktivasi quest. Aku segera menanyainya.
"Apakah Anda sedang kesusahan?"
Aku mengucapkan salah satu dari sekian pola kalimat tanya yang bisa digunakan untuk mengambil quest NPC. Tanda tanya berkedip-kedip di atas kepala si ibu saat dia berbalik ke arahku.
"Sebenarnya, putriku…"
Tampaknya, putri dari si ibu telah terjangkit suatu penyakit berat, dan tidak kunjung sembuh walau meminum rebusan berbagai tanaman herbal yang dia beli di toko (itulah isi dari pancinya). Hanya ada satu cara untuk menyembuhkannya, yaitu memberinya obat yang didapat dari bakal biji tanaman karnivora yang tumbuh di hutan barat. Namun, tanaman tersebut sangat berbahaya dan jarang yang sampai berbunga, jadi dia ingin aku mengambilkannya untuknya, dan sebagai imbalannya, dia akan memberikan pedang panjang warisan keluarganya.
Kira-kira begitulah rangkuman cerita yang dia sampaikan sambil coba diperjelasnya dengan banyak gestur. Aku mendengarkannya sampai akhir dengan sabar, sebab itu dibutuhkan untuk membuat quest tetap berjalan. Lagi pula, kadang batuk-batuk putrinya terdengar dari kamar sebelah dan membuatku segan menyela ceritanya.
Setelah cerita si ibu berakhir, jendela quest yang berada di sudut kiri pandanganku diperbarui. Aku berdiri, berseru, "Serahkan padaku!"—ini tidak perlu, aku cuma ingin mengatakannya saja dan keluar dari rumah itu.
Tak lama kemudian, dari menara observasi kecil di tengah plaza desa, lonceng pemberitahu waktu berbunyi merdu. Pukul 19:00.
Seperti apa keadaan di dunia nyata sekarang, ya? Pasti situasi ini membuat kegaduhan juga di sana. Pasti sekarang, ibuku, adikku, atau keduanya berada di sisiku yang telentang di kasur mengenakan NerveGear.
Cemas? Atau berduka…?
Apa yang mereka rasakan sekarang? Kaget? Ragu?
Namun, karena aku masih hidup di dalam Aincrad, itu berarti ibuku maupun adikku tidak mencoba melepaskan NerveGear dariku secara paksa. Berarti, untuk sekarang, mereka percaya. Akan peringatan Kayaba Akihiko dan juga kepulanganku…
Untuk bisa pulang dengan selamat dari gim ini, seseorang perlu memanjat Kastel Layang Aincrad yang berjumlah 100 lantai itu, mengalahkan bos terakhir yang pastinya teramat kuat, dan menaklukkan gim.
Aku tidak berniat menjalankan misi itu. Yang perlu kulakukan… yang bisa kulakukan hanya satu, yaitu berjuang untuk bertahan hidup. Hanya itu.
Pertama, aku akan menjadi kuat. Setidaknya cukup kuat untuk melindungi diri dari monster apa pun, seberapa pun banyaknya… bahkan juga dari serangan pemain yang memiliki niat jahat, yang mungkin muncul di lantai ini. Rencana setelah itu akan kupikirkan nanti.
…Maafkan aku, Bu. Aku pasti membuatmu sangat khawatir… Maaf, Sugu. Gim VR yang kau benci itu jadi seperti ini, ya…"
Kata-kata tersebut keluar dari bibirku tanpa kusadari, membuatku sedikit terkejut. Sudah tiga tahun atau bahkan lebih sejak kali terakhir aku memanggil adikku dengan nama panggilannya.
Kalau… Kalau aku bisa pulang hidup-hidup, aku ingin bertatap muka dengannya sekali lagi dan memanggilnya "Sugu".
Tekad seperti itu muncul di dadaku tanpa alasan tertentu, dan aku keluar dari gerbang masuk desa, menginjakkan kaki ke hutan malam yang seram.

Interior Aincrad tidak memiliki langit. Sebagai gantinya, dasar lantai berikutnya membentang beberapa ratus meter di atas kepala. Matahari hanya bisa dilihat di waktu terbatas saat pagi dan senja. Bulan pun sama.
Akan tetapi, itu bukan berarti pencahayaan di dunia ini terus-terusan redup di siang hari kemudian menjadi hitam kelam di malam hari. Ada pencahayaan memadai berkat sifat virtual dari dunia ini, dan kontras—koreksi gamma pada level memadai—dipertahankan secara konsisten. Walau hutan malam lebih gelap dari siang hari, sinar biru pucat cukup menerangi sampai sekitar kaki sehingga berlari pun tidak lebih sulit.
Namun, kegelisahan psikis adalah masalah berbeda. Sewaspada apa pun aku mengawasi sekelilingku, perasaan cemas, bahwa akan ada sesuatu yang menyerangku dari belakang, terus meluap secara berkala. Walau dibuat rindu akan kedamaian hati saat tergabung dalam party, aku sudah tidak bisa kembali. Secara jarak… maupun secara sistem.
Hanya dua slot skill yang disediakan untuk pemain level 1.
Salah satu slot sudah kuisi dengan skill pedang satu tangan pada pukul 13:00 hari ini, segera setelah gim ini dirilis. Aku bermaksud memikirkan masak-masak apa yang ingin kumasukkan ke slot kedua, tetapi keleluasaan untuk memilah-milah skill sudah terampas oleh tutorial yang tak ubahnya mimpi buruk itu.
Ada beberapa skill yang wajib dimiliki seorang solo player. Skill terpenting dari semuanya adalah "pindai" dan "sembunyi". Keduanya meningkatkan peluang hidup, dan skill pindai terutama meningkatkan efisiensi berburu, sementara skill sembunyi agak kurang cocok dengan lokasi hutan. Karena itu, aku memilih untuk mengisi slot keduaku dengan skill pindai, dan mengisi slot ketiga nanti dengan skill sembunyi.
Namun, kedua skill ini tidak begitu dihargai dalam party, sebab bermain dalam party sejatinya sudah cukup menjamin keamanan, dan mendeteksi musuh dalam lingkup yang lebih luas pun bisa lebih mudah dilakukan dengan banyak pasang mata. Jadi, sejak aku mengambil skill pindai, jalanku sebagai seorang solo player sudah ditentukan. Mungkin aku akan menyesalinya suatu saat nanti, tetapi setidaknya itu bukan sekarang…
Pikiran ini berputar di sudut benakku selagi aku berlari, sampai sebuah kursor warna kecil muncul di pandanganku.
Lingkup deteksiku meluas berkat skill pindai, tapi pemilik kursor itu sendiri masih terlalu jauh untuk terlihat oleh mata. Kursor yang muncul ini berwarna merah, menandakan monster, tetapi agak lebih pekat, mendekati magenta.
Tingkat warna menentukan kekuatan relatif monster terhadap pemain. Monster berlevel jauh lebih tinggi, yang mustahil untuk dikalahkan si pemain, akan memiliki kursor berwarna merah padam, keunguan, maupun warna-warna yang lebih pekat dari darah. Sebaliknya, monster kelas teri yang tidak memberi banyak EXP walau diburu sebanyak apa pun pemain akan memiliki kursor merah muda pucat, mendekati putih. Lalu, monster dengan level setara memiliki kursor merah terang.
Kursor yang kuamati ini berwarna merah kelam. Nama yang tertulis adalah "Little Nepenthes". Kontras dengan namanya, Little Nepenthes adalah monster tanaman karnivora berukuran 1,5 meter yang dapat berjalan. Mereka berlevel 3, jadi tentu terhitung lebih tinggi dariku yang level 1.
Aku tak boleh meremehkannya, tetapi aku juga tak bisa berkecil hati. Sebab kursor si monster dibingkai oleh garis kuning yang menandakan bahwa dia adalah target dari quest yang sedang kujalankan.
Aku berhenti sejenak untuk memastikan tidak ada monster lain di sekeliling, lalu kembali berlari untuk menghadapi Little Nepenthes dari depan. Menyerang dari belakang hampir tidak berefek pada monster yang tidak memiliki mata sepertinya.
Aku beralih dari jalan setapak, memutari pohon tua besar, dan menemukannya. Tubuhnya seperti kantong semar Nepenthes, seperti namanya. Dari bawah tubuh itu, akar-akar yang berperan sebagai kaki meliuk-liuk.
Sulur tajam tumbuh dan menggeliat dari samping kanan dan kiri tubuhnya, sementara di bagian kepalanya terdapat "mulut" yang membuka tutup sambil meneteskan lendir.
"…Bukan kau," gumamku setelah memastikan wujud musuhku. Ada varian langka dari monster ini yang memiliki bunga besar di atas kepalanya. Item bernama "bakal biji Little Nepenthes", yang kucari untuk quest kali ini, hanya bisa didapat dari varian berbunga. Dan peluang kemunculan mereka di bawah 1%.
Akan tetapi, peluang muncul varian berbunga akan meningkat semakin banyak aku mengalahkan Nepenthes varian normal.
Bertarung dengannya tidak akan sia-sia, meski ada satu hal yang perlu kuperhatikan.
Selain varian berbunga, ada varian dengan buah bulat, yang muncul dengan peluang yang sama. Varian ini adalah "jebakan". Buah mereka bisa meledak saat diserang, serta mengeluarkan bunyi menggelegar dan asap dengan bau yang tidak enak. Asap ini tidak bersifat racun maupun korosif, tetapi memiliki efek khusus yang sangat merepotkan, yaitu mampu memanggil Nepenthes lain dari rentang area yang lebih luas. Kalau jumlah spawn sudah menipis, tak banyak Nepenthes yang akan terpanggil, tetapi karena ini masih tahap awal gim, pastinya akan terkumpul jumlah musuh yang melebihi kemampuanku.
Setelah memfokuskan mata dan memastikan bahwa Nepenthes di depanku bukanlah varian berbuah, aku mengambil pedang di punggungku. Si Nepenthes yang menyadari keberadaanku mengangkat kedua sulurnya, mengintimidasi.
Pola serangan monster ini terdiri dari tebas dan tusuk menggunakan sulurnya yang berujung tajam seperti mata pedang pendek, dan semprotan cairan korosif dari mulutnya. Lebih bervariasi dibanding babi hutan biru yang hanya bisa menerjang lurus, tetapi masih lebih sederhana dibanding monster tipe humanoid seperti Kobold dan Goblin yang bisa menggunakan sword skill.
Terlebih lagi, parameter Nepenthes lebih mengutamakan serangan, dan lemah dalam segi perlindungan. Di Ainarad yang sebelumnya pun aku menyukai monster tipe ini. Selama bisa menghindari serangan mereka, aku dapat beturu banyak monster seperti ini dalam waktu pendek.
"Syuuuuh!"
Nepenthes mengeluarkan raungan dari mulutnya, dan meluncurkan sulur kanannya. Aku membaca jalur serangannya dalam sekejap, menghindar ke kiri. Lalu menyerang titik lemahnya— sambungan bagian kantongnya dengan batang gemuknya dengan pedangku.
Respons baik. HP Nepenthes langsung berkurang 20%.
Dia meraung penuh amarah, dan kantongnya meng-gemuk. Itu adalah motion persiapan semprotan cairan korosif. Jangkauannya mencapai 5 meter ke depan, jadi mengelak ke belakang tidak akan efektif.
Selain mengurangi HP dan durabilitas perlengkapan dalam jumlah banyak, sensasi lengket dari cairan ini akan membelenggu pergerakanku. Namun, jangkauan luasnya hanya 30 derajat. Menunggu waktu yang tepat, aku mengincar waktu saat Nepenthes berhenti menggemukkan kantongnya, lalu melompat ke kanan.
Bisyuuuh! Cairan berwarna hijau pucat disemprotkan, jatuh ke tanah dan melahirkan uap putih. Berhasil menghindar tanpa terkena setetes pun, aku mengayunkan pedangku saat kaki kananku mendarat, sekali lagi melancarkan serangan kritikal ke arah titik lemahnya.
Nepenthes meraung, terjatuh lemas, dan efek cahaya kuning mengelilingi bagian atas mulutnya. Itu adalah status efek teler. Tanaman? Teler? Memang fakta yang aneh, tetapi ini kesempatan yang tidak bisa kulewatkan.
Aku menarik pedangku ke kanan. Menunggu sejenak, sword skill teraktifkan, menyelubungi bilah pedang dengan sinar biru pucat.
"…Hrrah!"
Pada pertempuran ini, aku mengiringi seranganku dengan teriakan untuk mungkin kali pertama sejak SAO resmi dirilis. Aku menendang tanah dan melancarkan jurus serangan tebas "Horizontal". Perbedaannya dengan "Slant" yang menebas diagonal hanya pada arah tebasnya, dan arah horizontal lebih mudah untuk mengincar titik lemah Little Nepenthes.
Monster tumbuhan yang telah kehilangan 50% HP-nya akibat kedua seranganku ini tampak hendak pulih dari status telernya, tetapi batang tubuhnya segera kuterjang menggunakan sword skill. Tentu saja, seranganku ini diperkuat sampai batas oleh tendangan kakiku dan gerakan tangan kananku. Bilah pedang yang bersinar memotong ke dalam batang yang keras, memberi resistansi sedetik—
Shkaaang! Lalu, bersamaan dengan bunyi nyaring, kantong terpisah dari batang sepenuhnya dan terpental ke udara. Sisa HP-nya berubah merah, menyusut dari ujung kanan. Saat mencapai nol, tubuh Little Nepenthes membeku biru, lalu meledak.
Tubuhku mematung di pose akhir seranganku. Aku bisa melihat bahwa EXP sejumlah dua kali lipat dari yang kuperoleh saat mengalahkan babi hutan ditambahkan di sudut pandangku. Pertarungan ini memakan waktu sekitar 40 detik. Kalau aku bisa mempertahankan laju ini, aku bisa menaikkan level secara efisien.
Aku menurunkan tangan kananku yang masih meng-senggam pedang sambil melihat sekelilingku. Dari tepi jangkauan skill pindaiku, terlihat kursor beberapa Little Nepenthes. Kursor pemain lain masih belum terdeteksi.
Aku harus mengumpulkan EXP sebanyak mungkin sebelum pemain lain menemukan lokasi berburu ini.
Kalau bisa, sampai menghabiskan batas spawn. Sungguh, ambisi seorang egois sejati. Meski begitu, kurasa filantropi memang sejatinya adalah sifat yang tidak dijumpai dalam diri solo player.
Memasang wajah apatis, aku menetapkan buruanku selanjutnya dan kembali berlari menelusuri hutan lebat.

Lima belas menit kemudian, aku sudah membantai lebih dari 10 Little Nepenthes. Sayangnya, tak satu pun dari mereka adalah varian berbunga. Jujur, aku tak ingat pernah menang banyak di quest jenis ini, yang bergantung pada keberuntungan si pemain secara pribadi.
Akan tetapi, betapa menjengkelkan saat kusadari bahwa di dunia ini hidup pemain-pemain beruntung yang terus mendapat item langka yang peluang munculnya nyaris 0%, sukses dalam penempaan senjata 10 kali beruntun, dan bahkan bisa populer di kalangan pemain perempuan di dalam gim. Aku hanya bisa berupaya terus-menerus untuk menandingi mereka. Tentunya yang kumaksud adalah upaya dalam mencari item langka, bukan menyapa setiap perempuan yang lewat.
Kalau dipikir-pikir, avatar gim kami telah berubah menyerupai wajah asli si pemain di dunia nyata atas kuasa Kayaba. Pasti ini menurunkan jumlah pemain perempuan yang ada di Aincrad. Memang jadi tidak ada kecemasan bahwa perempuan yang diajak bicara sebenarnya laki-laki, tetapi pasti ini situasi pelik bagi mereka yang memilih nama dan pakaian feminin dengan maksud melakukan role play sebagai perempuan dalam gim. Demi keselamatan mereka, kuharap Kayaba sudah menyediakan item dan quest pengganti nama dan semacamnya…
Entah mungkin karena aku sudah mulai terbiasa, aku mengalahkan Nepenthes kesebelas sambil memikirkan hal sepele seperti itu di benakku. Tiba-tiba, suatu melodi fanfare sampai di telingaku. Lalu, efek cahaya keemasan menyelimutiku. Termasuk EXP yang kukumpulkan dari berburu babi hutan bersama Klein sebelumnya, tampaknya EXP-ku akhirnya cukup untuk naik level.
Kalau aku sedang tergabung dalam party, pasti anggota lain akan mengucapkan selamat padaku. Namun, yang kudengar selagi mengembalikan pedang ke punggungku hanyalah desiran daun-daun di pepohonan tua. Aku membuat gerakan menggeser dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku, membuka jendela menu. Aku membuka menu parameter dan menambahkan 1 poin ke parameter kekuatan otot dan 2 poin ke parameter ketangkasan dari 3 poin yang kuterima dari naik level. Konsep sihir tidak ada di SAO, jadi hanya dua parameter eksplisit ini yang bisa ditingkatkan. Sebagai gantinya, sistem menyediakan berbagai macam jenis skill bertarung dan manufaktur atau setidaknya kudengar begitu. Seiring dengan bertambahnya slot skill-ku, pasti aku juga akan dibuat bimbang oleh banyaknya pilihan itu nantinya.
Akan tetapi, yang perlu kuutamakan sekarang adalah bertahan hidup satu hari, satu jam, lebih lama. Aku boleh memikirkan masa depan setelah levelku naik sampai ke "margin aman".
Setelah selesai menata parameter, aku menutup jendela menu. Namun, tiba-tiba—
Dari belakangku, mendadak terdengar dentuman "plak, plak!" beruntun.
"…!!"
Aku melompat menghindar, menaruh tanganku di gagang pedangku. Sibuk membuka jendela menu di 
lapangan hingga lupa mewaspadai gerakan di belakangmu
adalah keteledoran di bawah level pemula.
Sambil mencaci diriku dalam hati, aku mengambil posisi bertarung, dan menghadap monster humanoid yang seharusnya tidak muncul di hutan ini-tidak… dia memang manusia.
Dan bukan NPC. Seorang pemain.
Dia lelaki yang sedikit lebih tinggi dariku. Mungkin kami seumuran. Dia mengenakan baju zirah kulit ringan dan perisai bulat kecil yang dijual di Horunka. Senjatanya sama denganku, pedang awalan, Small Sword, tetapi dia tidak sedang menghunusnya.
Mulutnya menganga karena terkejut, sementara kedua
tangannya ditempelkan di depan badannya.
Tampaknya, bunyi "plak, plak!" tadi adalah tepukan tangan dari lelaki ini untuk merayakan kenaikan levelku.
Saat aku menghela napas dan menurunkan tanganku, si lelaki tersenyum canggung dan menundukkan kepala.
"…Ma-maaf, ya, sudah mengagetkanmu. Seharusnya aku menyapa dahulu, ya."
"…Tidak… aku juga salah. Maaf reaksiku berlebihan," jawabku, berkomat-kamit, memasukkan tanganku ke saku mantel.
Kesan pertamaku adalah dia tampak seperti tipe pemain yang gigih dan tekun. Terhadap kata-kataku, dia menunjukkan senyuman lega yang lebih ceria, lalu entah mengapa, mengangkat jari kanannya ke dekat mata kanannya. Seketika, dia menurunkan tangannya dengan malu-malu. Saat itulah aku mengerti. Dia pasti pengguna kacamata di dunia nyata.
"Se-selamat sudah naik level. Kau cepat, ya."
Aku menaikkan bahu menanggapi kata-katanya. Entah mengapa, rasanya seperti dia bisa membaca bahwa aku baru saja berangan-angan soal dirayakan di dalam party.
Agak memalukan, jadi aku segera menggelengkan kepala.
"Ah, biasa saja… Lagi pula, kau juga cepat, ya, datang ke sini. Kukira pemain lain baru akan datang dua atau tiga jam lagi."
Ahaha, aku juga mengira bahwa aku yang akan pertama tiba. Jalan di sini agak rumit, sih." Balasannya itu akhirnya menyadarkanku.
Dia sama denganku.
Bukan soal senjata atau jenis kelamin. Bukan juga soal status kami sebagai pemain SAO dan tawanan dalam sebuah gim penentu hidup dan mati.
Dia mengetahui hal-hal yang sama denganku. Letak Desa Horunka. Alasan tidak perlu membeli Bronze Sword di sana. Juga lokasi spawn Little Nepenthes.
Semua ini berarti—
Dia mantan beta tester. Sama seperti diriku.
Sword Art Online, VRMMORPG pertama di dunia dirilis secara resmi dan mulai dimainkan oleh 10.000 orang pada hari ini, tanggal 6 November 2022. Akan tetapi, tiga bulan sebelumnya, gim ini mengadakan tahap pengujian prarlis dengan kata lain beta test, dengan mengundang 1.000 peserta yang dipilih melalui undian dari mereka yang mendaftar.
Keberuntungan (yang kalau dipikir sekarang sebenar-Hya malapetaka dahsyat) berpihak padaku untuk sesekali dan aku berhasil terpilih di antara beberapa puluh ribu pendafar yang masuk. Jangka waktu beta test adalah sepanjang bulan Agustus. Karena sedang libur musim panas, aku melakukan full-dive dari pagi sampai malam… atau tepatnya dari siang sampai subuh, asyik menjelajahi dunia Aincrad yang belum menjadi kandang maut. Berlari, mengayunkan pedang, bahkan mati. Berkali-kali.
Berkat ribuan metode coba dan ralat yang kulakukan itu, pengetahuan dan pengalamanku mengenai dunia ini pun menggunung.
Jalan-jalan setapak dan jalur rahasia yang tidak ditandai di map. Letak perkotaan dan pedesaan, barang-barang yang dijual di pertokoan. Harga dan spesifikasi senjata yang dijual. Syarat aktivasi quest dan cara penyelesaiannya.
Lokasi spawn para monster, berikut kekuatan beserta kelemahan mereka.
Berkat pengetahuan inilah aku bisa tiba dalam kondisi hidup-hidup di kedalaman hutan lebat yang berada jauh dari Kota Awal. Kalau aku pemula yang tidak mengikuti beta test, mungkin pilihan untuk keluar sendirian dari kota pun takkan terlintas di benak.
Hal yang sama dapat dikatakan mengenai lelaki yang berdiri beberapa meter di depanku ini.
Lelaki berambut sedikit lebih panjang dariku ini juga memiliki pengalaman beta test. Tidak hanya karena dia tahu rute hutan yang mirip labirin ini, tetapi juga dari postur tubuhnya itu, yang menunjukkan keterbiasaan dirinya dengan VR engine orisinil yang dipakai oleh SAO.
Selama aku berspekulasi, si lelaki membuktikan dugaanku dengan satu kalimatnya.
"Kau juga datang ke sini untuk quest 'Obat Rahasia dari Hutan', 'kan?"
Itu adalah judul quest yang kuterima dari wanita penduduk desa tadi. Karena dia sudah menebak sampai sejauh itu, sudah tidak ada artinya mengelak. Aku mengangguk, dan lagi-lagi sang lelaki mengangkat kacamata imajinernya sambil tersenyum.
"Itu memang quest wajib untuk pengguna pedang satu tangan, ya. Imbalannya Anneal Blade, yang bisa digunakan sampai labirin lantai tiga."
"…Penampilannya kurang keren, sih," tambahku.
Si lelaki tertawa riang. Setelah beberapa saat, tawanya terhenti, dan dia terdiam sejenak sebelum membuka mulutnya. Kata-katanya selanjutnya lumayan tak terduga.
"Hei, bagaimana kalau kita kerjakan quest ini bersama?"
"Eh… tapi ini quest untuk satu orang, bukan?"
Aku membalas secara refleks. Ada quest yang saat dilakukan bersama party akan dianggap selesai untuk seluruh anggota, dan ada yang tidak. Quest "Obat Rahasia dari Hutan" ini tergolong tipe yang kedua. Lagi pula, bakal biji yang merupakan drop item yang diminta hanya bisa diperoleh sebanyak satu buah dari satu Little Nepenthes, jadi pada akhirnya, party harus mengumpulkan bakal biji sejumlah anggota party untuk menyelesaikannya bersama.
Si lelaki tersenyum, seperti sudah memperkirakan balasanku. "Iya, tapi peluang menemukan varian berbunga akan bertambah seiring kita mengalahkan varian normal, 'kan? Jadi lebih efisien kalau kita melakukannya berdua."
Dia benar. Karena sendirian, aku pun hanya bisa melawan satu monster dalam satu waktu, tetapi kalau berdua, kami bisa melawan dua monster secara bersamaan. Waktu yang terbuang saat memilih target bisa dihemat dan jumlah target yang bisa kami buru per satuan waktu pun akan bertambah—yang berarti peluang munculnya varian berbunga akan lebih tinggi.
Saat hendak mengangguk… avatarku menjadi kaku.
Aku jadi kepikiran akan si pengguna katana yang ceria, Klein… kawan pertamaku yang baru saja kutinggalkan sekitar satu jam yang lalu. Setelah apa yang kulakukan, apa aku pantas membentuk party dengan orang lain?
Namun, tampaknya lelaki di depanku salah paham atas alasanku terdiam, dan menggelengkan kepalanya terburu-buru.
"Ah, kita tak perlu membentuk party! Kau yang lebih dulu tiba di sini, jadi drop item pertama nanti untukmu saja. Kalau terus berburu dengan peluang gabungan kita, pasti monster kedua juga akan cepat muncul. Aku cuma perlu bantuanmu sampai saat itu…"
"O… oh, oke… Kalau begitu, boleh saja. Maaf, ya…" Aku mengangguk dengan canggung.
Saat berburu dengan party, drop item dari monster yang berhasil dikalahkan akan masuk ke inventori sementara party, bukan inventori pribadi. Jadi, bisa dibilang ada risiko juga bahwa dia akan membawa kabur item-nya. Tampaknya dia mengira aku mencemaskan kemungkinan itu. Nyatanya, aku tak sempat memikirkan kemungkinan itu, tetapi kurasa aku tidak perlu meralat usulnya.
Si lelaki tersenyum pada anggukan kepalaku, lalu mendekat dan menjulurkan tangan kanannya.
"Aku senang, kok! Kalau begitu, mohon bantuanmu sampai quest selesai, ya. Namaku Coper."
Kalau dia juga peserta beta test, tidak aneh kalau kami mengenal satu sama lain, tetapi nama yang disebutnya barusan tidak familier bagiku. Memang belum tentu dia menggunakan nama yang sama dengan nama yang dia gunakan saat tahap beta test.
Terlebih lagi, karena nama pemain tidak muncul di kursor, ada kemungkinan itu bukan nama aslinya. Di sisi lain, itu berarti aku juga bisa memalsukan namaku. Sayangnya, aku tidak begitu ahli memikirkan nama karakter. Nama yang kupakai di seluruh gim online yang kumainkan selama ini hanyalah singkatan dari nama belakang dan nama depanku yang asli. Maka mustahil bagiku memikirkan nama palsu baru dalam seketika.
"…Mohon bantuanmu juga. Aku Kirito."
Menanggapi kata-kata perkenalanku, si lelaki… Coper memiringkan lehernya.
"…Kirito… hmm? Kurasa aku pernah…"
Sepertinya, walau secara tidak langsung, dia mengenali namaku sebagai sesama pemain pada tahap beta test. Aku pun mengelak secara refleks.
"Kau salah orang. Ayo mulai berburu. Kita harus mendapat dua bakal biji sebelum pemain lain datang."
"I iya, ya. Ayo!"
Kami saling mengangguk, lalu berlari menuju sepasang Little Nepenthes yang berkeliaran di dekat situ.

Seperti yang bisa diharapkan dari seorang mantan beta tester, kapabilitas bertarung Coper cukup menakjubkan.
Dia sangat memahami ritme serangan pedang satu tangan, gerak-gerik monster, dan waktu penggunaan sword skill secara tepat. Memang, di mataku, dia terlihat bermain terlalu defensif, tetapi kurasa itu bisa dimaklumi jika melihat situasinya. Pola bertarung kami, di mana Loper terlebih dahulu mengalihkan perhatian musuh sementara aku menyerang titik lemah monster, terbentuk secara alami.
Tanpa henti, kami menghancurleburkan para buruan kami menjadi kepingan poligon.
Perburuan kami lancar, tetapi kalau dipikir-pikir, situasi kami sangat aneh.
Aku dan Coper sama sekali tak bertukar kata mengenai situasi SAO. Apakah kata-kata Kayaba itu benar? Apakah kami benar-benar akan mati di dunia nyata kalau mati di gim? Apa yang akan terjadi pada dunia gim mulai sekarang…? Seharusnya Coper juga mempertanyakan hal yang sama denganku, tetapi nyatanya, sejauh ini kami hanya berbicara seputar quest. Dengan begitu lumrah.
Apakah itu berarti—kami berdua sama-sama pencandu berat MMO? Kalaupun gim yang kami mainkan ini menjadi pertaruhan nyawa, kalaupun tombol log out menghilang dari jendela menu saat bermain gim, maka yang perlu dilakukan hanyalah melaksanakan quest dan mengumpulkan EXP. Benar-benar bentuk kecanduan yang tidak tertolong… tetapi kalau dipikir lagi, Coper pun mendaftar menjadi beta tester untuk bisa bermain di SAO. Maka pastinya dia seorang pemain gim online akut. Impuls kami untuk memperkuat karakter hanya melebihi rasa takut kepada kematian…
Tidak.
Tidak, pasti bukan itu.
Aku dan Coper hanya memalingkan mata.
Walau terus memperhitungkan efisiensi peningkatan level dan batas spawn monster, sesungguhnya daya pikir kami telah mogok. Kami memalingkan mata dari kenyataan bahwa NerveGear yang kami pakai akan menembakkan gelombang elektromagnetik tinggi dan membakar otak saat HP kami mencapai nol. Mesin itu selama ini hanya terus-menerus menggerakkan tubuh kami untuk maju sebagai bentuk pelarian. Mungkin, para pemain yang tinggal di Kota Awal sebenarnya lebih menerima kenyataan dengan kepala dingin dibanding kami yang berada di luar sini.
Namun, kalau begitu—
Alasanku bisa melawan monster mengerikan dengan begitu tenang adalah karena aku masih buta terhadap kenyataan. Karena aku tidak takut akan kematian, aku bisa menghindar dengan enteng dari sulur tajam dan cairan korosif berbahaya yang hendak membunuhku.
Sampai sini, instingku membuat suatu kesimpulan.
Ah… Aku pasti akan mati dalam waktu dekat.
Kalau aku belum bisa memahami mortalitasku, konsep yang menjadi aturan utama gim ini, itu berarti aku juga masih tidak tahu batas. Seperti menyerahkan diri pada nasib saat memilih untuk berjalan di tepi tebing dalam kegelapan. Lagi pula, sejak awal, keluar sendirian dari Kota Awal dan masuk ke hutan lebat yang gelap di malam hari itu sangat gegabah…
Deg! Sensasi dingin yang luar biasa menusukku dari tulang punggung sampai ke ujung jari, menghentikan gerakan avatarku.
Aku hendak mengangkat pedangku, mengincar titik lemah Little Nepenthes untuk entah keberapa kalinya malam ini. Kalau aku membeku setengah detik lebih lama, mungkin malah aku yang akan menerima serangan balik mengerikan dari musuh.
Aku segera siuman, mengaktifkan kembali sword skill Horzontal, dan memotong batang lawanku tepat waktu. Ledakan pun menggema dan menghujaniku dengan kepingan kaca tak nyata.
Coper yang sibuk melawan Nepenthes lainnya, dengan punggungnya menghadapku, tidak tampak menyadari kelalaianku tadi. Lima detik kemudian, dia mengalahkan lawannya tanpa skill dan menengok ke arahku sambil menghela napas.
"…Belum muncul, ya…"
Suaranya terdengar lelah. Lebih dari satu jam telah berlalu sejak kami berburu sebagai duo. Walaupun kami sudah mengalahkan hampir 150 ekor monster Nepenthes bersama, varian berbunga masih belum juga muncul.
Aku menaikkan bahu dengan lagak berlebihan untuk menghapus sensasi dingin yang masih tertinggal di punggungku.
"Jangan-jangan, peluang munculnya sudah berubah dari sewaktu beta test… MMO lain juga kadang mengubah peluang munculnya drop item langka dari beta test saat rilis, 'kan…"
"…Mungkin juga, ya… Bagaimana? Level kita sudah naik lumayan, dan pedang kita sudah mulai terkikis. Apa kita kembali ke desa dul—"
Kata-kata Coper terputus oleh penampakan cahaya merah samar-samar dari kerindangan pohon yang terletak sekitar 10 meter dari kami.
Blok poligon kasar bermanifestasi, bergabung membentuk siluet kotak-kotak. Aku sudah melihatnya berkali-kali—itu momen terbentuknya monster spawn.
Seperti kata Coper, perburuan berlebih kami sudah membawa kami naik ke level 3. Kalau menurut beta test, level yang dianjurkan untuk menaklukkan lantai 1 adalah sekitar level 10, jadi perjalanan kami memang masih panjang, tetapi kami sudah tidak perlu takut akan serangan Little Nepenthes barang seekor pun. Warna kursor mereka pun sudah memudar dari magenta menjadi merah terang.
"…"
Aku dan Coper hanya berdiri terdiam di rerumputan, mengamati kemunculan monster baru. Wujud Nepenthes yang keseratus sekian puluh itu menjadi jelas dalam hitungan detik dan mulai berjalan, sulur-sulurnya menggeliat. Batang hijau yang berkilau seperti makhluk hidup tersendiri, kantongnya yang dihiasi pola bercak berbeda untuk setiap ekor, dan di atasnya, sebuah bunga raksasa menyerupai tulip tampak bersinar mencolok bahkan di tengah keremangan.
"…"
Kami melongo memandanginya selama beberapa detik, lalu saling bertatap.
"…!!"
Jeritan gembira yang tidak terungkapkan. Kami menyiapkan pedang kami dan mulai menerkam si varian berbunga yang akhirnya muncul, seperti kucing yang memburu tikus—
Akan tetapi, aku mendadak mengerem dengan kedua kaki. Tangan kiriku memberi aba-aba pada Coper untuk berhenti juga.
Кепара!?
Begitu yang tertulis di wajahnya. Aku mengangkat jari telunjuk kiriku dan menunjuk ke belakang si varian berbunga.
Ada sosok satu lagi Nepenthes di sana, tersembunyi oleh pepohonan. Aku dapat menyadari keberadaannya berkat skill pindaiku yang telah diasah. Sepertinya Loper belum memiliki skill pindai. Dia menyipitkan mata pada sudut gelap hutan yang kutunjuk, sampai menyadari maksudku beberapa detik kemudian.
Kalau Nepenthes yang satu lagi cuma varian normal, aku pun tidak akan menghentikan serangan kami. Namun, kantong semar kedua itu menggantungkan suatu "gumpalan" di atas kepalanya.
Kalau itu juga bunga, aku sudah tak lagi pantas mengeklaim bahwa keberuntunganku rendah. Akan tetapi, yang menjuntai dari ujung tangkai tipisnya bukanlah bunga, melainkan bola berdiameter sekitar 20 cm… Itu buah. Buah itu membengkak gemuk seakan siap meledak kapan saja. Kalau kami melukainya sedikit saja, buah akan benar-benar meledak, mengeluarkan asap yang berbau. Lalu asap akan memanggil gerombolan Nepenthes yang murka, dalam sekejap menjatuhkan kami ke liang bahaya yang menjerat, walau dengan level kami yang sudah naik sekalipun.
Sebaiknya bagaimana?
Aku bimbang. Kurasa kami punya cukup kekuatan untuk mengalahkan varian berbuah tanpa melukai buah-nya. Meski begitu, itu tidak pasti. Kalau ada sedikit saja ancaman kematian, apakah tidak lebih baik kami menahan diri sedikit lebih lama dan menunggu sampai kedua Nepenthes ini berpisah?
Namun, suatu kabar angin yang pernah kudengar di tahap beta test membuatku semakin bimbang. Menurut kabar, varian berbunga yang memberikan drop item penting untuk quest ini akan berubah wujud menjadi varian berbuah apabila dibiarkan tanpa diburu setelah spawn.
Itu tidak terdengar mustahil untukku, malah sangat mungkin. Selama kami terdiam memandangi kedua Nepenthes seperti ini pun, kelopak bunga berjatuhan dari si varian berbunga yang menjauh beberapa belas meter. Mungkin akan tumbuh buah bulat dari sana dan, jika benar begitu, Nepenthes varian berbuah yang harus kami lawan akan menjadi dua.
"…Bagaimana ini…" lirihku.
Kebimbanganku ini menjadi bukti bahwa aku belum
bisa menimbang bahaya dan keselamatan nyawa dengan benar. Saat merasa bimbang, kurasa mundur menjadi keputusan paling rasional, tetapi aku bahkan tak lagi bisa memercayai rasionalitas diriku sendiri.
Aku mematung, seperti terselap dari serangan jitu. Lalu, bisikan Coper mencapai telingaku.
"—Ayo pergi. Selagi aku mengalihkan perhatian varian berbuah, kalahkan varian berbunga secepatnya, Kirito." Sepatu botnya menginjak maju tanpa menunggu balasanku.
'…Oke," aku membalas dan mengejar Coper.
Kebimbanganku belum hilang; aku hanya menundanya. Akan tetapi, kalau situasinya juga berkembang ke arah tertentu, mau tidak mau aku akan harus memusatkan pikiran pada gerakan pedang dan avatarku. Bila aku gagal melakukan itu… maka yang menungguku cuma maut.
Varian berbunga terlebih dahulu menyadari Coper mendekat, dan membalikkan badannya. Bibirnya yang mirip manusia bergetar dan dia mengaum, "Shaaaah!".
Coper mengelak ke kanan untuk menghadapi varian berbuah di seberang, tetapi varian berbunga terus mengincarnya. Tanpa berpikir lebih panjang, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekat dan mengacungkan pedang di tangan kananku.
Walau tergolong monster langka dengan peluang muncul kurang dari 1%, parameter Nepenthes varian berbunga hampir tidak berbeda dengan varian normal. Tampaknya pertahanan dan kekuatan serangannya sedikit lebih tinggi, tetapi itu selisih yang dapat kuabaikan berkat level 3 yang telah kucapai setelah berburu selama satu jam ini.
Meski benakku dipenuhi kebimbangan, pengalaman bertarungku yang telah terakumulasi sejak beta test membuat avatarku bergerak hampir secara otomatis, menangkis dan mengelak dari serangan sulur si Nepenthes sambil balik menyerangnya. Dalam 10 detik, HP bar miliknya berubah kuning, dan aku melompat ke belakang untuk melancarkan sword skill yang mengakhirinya.
Aku bisa merasakan skill pedang satu tanganku terasah berkat pertarungan terus-menerus, terbukti dari waktu peluncurannya yang makin cepat dan jangkauan seranganku yang makin luas. Sebelum Nepenthes menggelembungkan kantongnya sampai mentok untuk menyemprotkan cairan korosif, aku melancarkan jurus Horizontal, menciptakan lengkungan cahaya biru yang memotong batang gemuknya diikuti bunyi renyah.
Jeritan mautnya agak berbeda dengan varian normal. Badan kantong yang terpisah dari batangnya terjatuh ke tanah, lalu-sebelum jasadnya hancur menjadi kepingan poligon, bunga di kepalanya berguguran.
Dari dalamnya, keluar bola seukuran kepalan tangan yang bersinar samar. Bola itu menggelinding sampai kakiku, terhenti saat menabrak ujung sepatu botku, dan jasad Nepenthes yang terpotong dua akhirnya hancur.
Aku membungkuk untuk mengambil bola bercahaya itu—yang tak lain adalah bakal biji Little Nepenthes yang kucari. Hanya untuk mendapatkan item ini, aku harus mengalahkan 150 lebih monster dan mengalami banyak kebimbangan.
Walau itu membuatku ingin jatuh lemas, aku belum bisa istirahat. Aku harus segera membantu Coper yang masih menjadi umpan varian berbuah.
"Maaf menunggu!"
Aku mendongak dan berseru, lalu memasukkan bakal biji itu ke kantong pinggangku. Sebenarnya akan lebih aman kalau aku memasukkannya ke inventori lewat jendela menu, tetapi aku tidak punya waktu. Aku kembali menggenggam erat pedangku dan berlari—
Namun, kakiku terhenti setelah beberapa langkah.
Aku pun tidak tahu mengapa. Di hadapanku, Coper, partner mendadakku, sedang menghindari serangan Nepenthes dengan lincah, memakai pedang dan perisai bundar kecil di tangannya. Mungkin karena dia memang pandai bertarung dengan gaya defensif, dia memiliki cukup keleluasaan untuk menengok ke arahku di tengah pertarungan. Matanya yang agak sipit, yang memberi kesan gigih dan tekun, menatapku.
Dan pandangan matanya itu—
—mengandung sesuatu yang membuat kakiku terhenti.
Ada apa? Mengapa Coper menatapku seperti itu? Seolah meragukanku, atau mengasihaniku…
Dia menangkis serangan sulur Nepenthes dengan perisainya, menciptakan jeda di tengah pertempuran.
Melihat diriku yang termangu, dia berkata.
"Maaf, Kirito."
Kemudian, matanya berbalik pada si monster, dan dia mengayunkan pedangnya tinggi-tinggi ke atas kepala.
Bilah pedang itu bersinar dengan cahaya biru pucat. Dia mengaktifkan sword skill. Aku mengenali motion yang dilakukannya jurus serangan tebas "Vertical".
"Hah… itu bahaya, 'kan…" gumamku, masih merasa heran akan kata-katanya beberapa detik yang lalu.
Bagian atas batang yang merupakan titik lemah Little Nepenthes merupakan kantong keras bermulut yang sejak awal resisten terhadap serangan vertikal. Akan tetapi, selain itu juga, ada alasan jelas mengapa Coper tidak boleh melancarkan serangan tebas ke bagian itu kali ini. Dan seharusnya Goper mengetahuinya dengan baik.
Akan tetapi, jurus yang diluncurkannya sudah tidak bisa dia tarik kembali. Avatar Coper yang bergerak semi-otomatis, dibantu assist dari sistem, menendang tanah dan mengayunkan pedangnya yang bersinar ke arah mulut Nepenthes bukan, ke arah buah yang ada di atasnya.
Duarr!
Bunyi ledakan menggoyangkan pepohonan hutan.
Ini kali kedua aku mendengar bunyi ini. Kali pertama tentu saat beta test. Saat itu, salah satu anggota party sementaraku tanpa sengaja menusuk buah dengan tombaknya. Para Nepenthes pun datang bergerombol karena terpancing oleh bau asap, dan party empat orang kami yang ada di rentang level 2 sampai 3 berakhir mati.
Setelah meledakkan buah, serangan Vertical yang diluncurkan Coper juga memotong kantong dan menghabisi HP Nepenthes. Sang monster hancur seketika, tetapi asap hijau muda yang memenuhi udara dan baunya yang menyengat masih tersisa.
Melihat Coper melompat jauh untuk menghindari asap, aku melontarkan kata-kata tak percaya.
"Ke… kenapa?"
Itu bukan kecelakaan, tetapi serangan yang disengaja. Coper memotong dan meledakkan buah itu atas kehendak-nya sendiri.
Mantan peserta beta test yang bertarung di sisiku selama satu jam ini berkata sekali lagi tanpa menatapku.
"…Maaf."
Berbagai kursor berwarna muncul dari seberangnya.
Dari kanan, kiri, belakang. Mereka merupakan para Little Nepenthes yang terpanggil oleh bau asap. Seluruh Nepenthes yang telah spawn di lokasi ini semuanya tengah berkumpul ke arah kami. Jumlahnya 20… tidak, mungkin lebih dari 30 ekor. Mustahil, saat kata itu terngiang, kakiku berkutik ingin lari, tetapi itu pun juga mustahil. Kalaupun aku berhasil menerobos kepungan mereka, laju Nepenthes jauh lebih cepat dari kelihatannya. Aku akan malah menarik perhatian monster lain sebelum berhasil kabur darinya. Ya, tidak ada jalan keluar—
Kalau begitu, apakah ini tindakan bunuh diri?
Apakah dia hendak menyeretku mati bersamanya?
Apakah dirinya sebegitu hebatnya terguncang oleh ketakutan akan maut, hingga rela kabur dari gim ini dengan cara apa pun?
Aku termangu sambil menduga-duga hal tersebut di benakku.
Namun, semua itu salah.
Coper telah memalingkan pandangannya dariku dan mengembalikan pedangnya ke sarung di pinggang kirinya.
Dia berbalik badan, lalu berlari menuju semak-semak terdekat. Tidak ada keraguan pada langkahnya; dia masih belum menyerah untuk hidup. Namun.
"Tak ada gunanya…" Aku mendorong keluar gumaman dari tenggorokanku.
Gerombolan Little Nepenthes menyerbu dari segala arah. Mencari celah untuk kabur maupun menerobos gerombolan itu dengan pedang kami sendiri hampir tidak mungkin, dan kalaupun berhasil, musuh lain akan mengadang kami di tengah pelarian. Jadi, menilik situasi ini, mengapa sejak awal Coper melancarkan serangan Vertical pada buah Nepenthes kalau akhirnya dia tetap berniat kabur? Apakah awalnya dia berniat mati, tetapi nyalinya ciut ketika melihat gerombolan monster ini?
Otakku berputar-putar di sudut kesadaranku yang setengah lumpuh, dan aku hendak mengikuti Coper bersembunyi di semak-semak. Avatarnya tersembunyi di balik dedaunan lebat, tetapi kursor warnanya masih—
Tidak… ada? Jarak kami seharusnya tak lebih dari 20 meter, tetapi kursor Coper telah menghilang dari pandanganku. Sejenak, terlintas kecurigaan bahwa dia kabur menggunakan kristal teleportasi, tetapi itu tidak mungkin. Mustahil dia bisa membeli item semahal itu di awal gim, dan benda itu memang tidak bisa dibeli di toko maupun diperoleh dari monster di lantai 1.
Kalau begitu, jawabannya hanya satu. Itu efek dari skill sembunyi. Dengan itu, kursor akan menghilang dari pandangan pemain lain, dan penggunanya akan luput dari incaran monster. Selama ini, slot kedua Coper tidak kosong; dia telah mengisinya dengan skill sembunyi. Karena itulah, aku tidak menyadarinya mendekat saat kami pertama bertemu…
Sambil merasakan getaran seperti gempa di kakiku seiring mendekatnya gerombolan Nepenthes, renunganku… akhirnya membawaku pada suatu kesimpulan yang begitu terlambat.
Coper bukannya mencoba bunuh diri dan kabur di detik terakhir karena takut.
Dia hendak membunuhku.
Karena itulah, dia menyerang buah Nepenthes secara sengaja untuk mengumpulkan Nepenthes lain ke sini. Lalu, dia menyembunyikan diri dengan skill yang dimilikinya. Perhatian lebih dari 30 ekor monster pun semuanya akan tertuju padaku yang tidak memiliki skill tersebut. Benar-benar sebuah teknik MPK—player killing melalui perantara monster—yang begitu ortodoks.
Motifnya pun jelas. Dia ingin merampas bakal biji Little Nepenthes dariku. Kalau aku mati, segala benda yang sedang kukenakan atau kumasukkan ke kantong akan jatuh di tempat sebagai drop item. Coper hanya tinggal mengambilnya setelah gerombolan Nepenthes bubar dan kembali ke desa untuk menyelesaikan quest.
"…Begitu, ya…" bisikku, mengamati puluhan kursor mendekat membentuk gerombolan monster yang kian kentara.
Coper, ternyata kau tidak memalingkan mata dari kenyataan, ya. Malah sebaliknya. Kau memaklumi gim penentu hidup dan mati ini sebagai kenyataan dan naik ke panggung sebagai pemainnya. Kau telah lama memutuskan untuk mengelabui, mengecoh, dan merampas Pemain lain demi tujuanmu bertahan hidup.
Anehnya, aku sama sekali tidak merasakan amarah maupun benci. Kepalaku terasa begitu dingin meski aku baru saja termakan perangkapnya dan dihadapkan oleh jurang kematian. Mungkin, itu karena aku mengetahui suatu "lubang" pada rencana Coper ini.
"…Coper, kau tidak tahu, ya."
Aku memanggilnya, walau tidak tahu apa dia mendengarku dari semak-semak tempatnya bersembunyi.
"Ini pasti pertama kalinya kau memilih skill sembunyi. Memang itu skill yang praktis… tapi bukan serbabisa. Sebab bersembunyi tidak akan efektif terhadap monster yang mengandalkan indra selain penglihatan. Seperti Little Nepenthes."
Di antara gerombolan Nepenthes yang mendekat diiringi gemuruh dan amukan, beberapa ekor berjalan menuju semak-semak di mana Coper bersembunyi.
Sekarang, mungkin dia baru sadar bahwa dia toh akan tetap diincar meski sudah mengaktifkan skill sembunyi. Inilah alasan mengapa aku memutuskan untuk mengambil skill pindai terlebih dahulu.
Dengan hati yang masih tenang, aku membalikkan badan untuk menghadapi Nepenthes yang mengepungku. Musuh-musuh di belakang mengincar Coper, jadi aku bisa mengabaikan mereka untuk sementara. Kalau aku bisa membasmi musuh di depan sebelum kerusuhan di belakang beres, mungkin peluang hidup masih tersisa untukku. Sekalipun kemungkinan itu satu banding sejuta.
Padahal kematian sudah begitu dekat, tetapi tanpa bisa mencernanya sebagai kenyataan, aku menggenggam kembali Small Sword di tanganku. Durabilitasnya sudah sangat terkikis oleh 150 pertarungan selama satu jam ini. Bilah pedangnya pun telah aus. Kalau aku gegabah menggunakannya secara agresif, mungkin senjata ini akan terpecah-belah di tengah pertarungan.
Kuputuskan, jumlah tebasan akan kuhemat. Dengan menendangkan kaki ke tanah dan mengibaskan lengan, aku memperkuat jurus Horizontal dan memastikan titik leman musuh kena telak sehingga satu tebasan mestinya cukup untuk menghancurkan satu musuh. Ini syarat minimumnya. Kalau gagal, aku akan disambut kematian memalukan tepat setelah diriku kehilangan pedang.
Dari belakangku, terdengar raungan dan suara serangan para monster, dan Coper yang meneriakkan sesuatu.
Akan tetapi, aku tak lagi menoleh, melainkan memusatkan seluruh perhatian pada musuhku sendiri.

Aku tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi selama beberapa menit—atau belas menit—setelah itu.
Semua pikiran rasional menghilang. Yang ada hanya musuh di depanku, pedang sederhana di tanganku, dan tubuh yang bergerak—digerakkan perintah motorik yang dikeluarkan otakku.
Aku membaca motion para monster untuk memprediksi pola dan lintasan serangan mereka, menghindar dengan gerakan minimal, lalu membalas dengan sword skill. Seperti yang sudah kulakukan di pertarungan-pertarungan sebelumnya, tetapi tanpa kesia-siaan dan dengan akurasi yang jauh meningkat.
"Serangan sihir yang pasti kena" tidak ada di SAO. Secara teori, itu berarti pemain bisa menghindar dari Serangan apabila dia sangat cekatan dan reaktif.
Namun, keterampilanku sebagai pemain belum setinggi itu dan musuhku saat ini terlalu banyak; tentu aku tak bisa mengelak sepenuhnya.
Terkadang sulur-sulur yang diluncurkan dari berbagai arah itu mengoyak kaki dan lenganku, lalu cairan-cairan korosit yang disemprotkan itu melubangi mantel kulitku.
HP bar-ku menyusut, mendekatkanku pada kematian di dua dunia.
Namun, aku berhasil menghindar dari serangan telak dan terus mengayunkan pedangku.
Kalau sampai terlahir jeda—walau setengah detik—pada gerakanku akibat serangan telak, aku akan dihujani serangan tak henti sampai mati. Entah HP-ku akan digerogoti sedikit demi sedikit, atau aku akan terbelenggu dan mati dalam sekejap.
Di tahap beta test… bahkan di berbagai gim MMO lain yang kumainkan sebelum SAO, aku telah menjalani banyak situasi yang merampas harapan seperti ini. Selama ini, walau tetap berjuang sampai akhir, aku membiarkan HP-ku menjadi nol, sambil dengan santai berpikir, "Ah, malas mengambil kembali yang hilang saat mati," atau, "Kuharap senjataku tidak menjadi drop item."
Kalau aku sebegitu bernafsunya ingin merasakan "kenyataan" gim ini, aku bisa berbuat hal yang sama juga sekarang. Dengan itu, aku akan tahu apakah kata-kata Kayaba itu benar atau hanya lelucon buruk.
Suara seperti itu berbisik dari benakku. Akan tetapi, aku mengabaikannya dan terus melancarkan serangan Slant dan Horizontal ke arah kepala para Nepenthes yang bermunculan tak henti.
Apa karena sebenarnya aku tak ingin mati? Entahlah.
Akan tetapi, sesungguhnya ada satu lagi motif yang mendorong semangat bertarungku. Membuat ujung bibirku menyeringai garang membentuk senyum.
Kupikir, ini dia.
Inilah SAO. Padahal aku sudah memainkannya lebih dari 200 jam pada tahap beta test, tetapi selama ini aku tidak benar-benar memahami esensi SAO. Aku belum bertarung sebagaimana semestinya.
Pedang bukan hanya meliputi item senjata, dan tubuh bukan hanya meliputi objek bergerak. Ada alam yang bisa kau raih hanya saat seluruh kesadaranmu itu bersatu melampaui batas. Sekarang pun, aku masih hanya memandangi gerbang itu dari kejauhan. Aku ingin lebih tahu. Aku ingin lebih mendekat.
"UuuwWOOAAAAH!!"
Aku meraung dan menendang tanah.
Serangan Horizontal yang kuluncurkan melesat terlepas bahkan dari efek cahayanya, melemparkan kantong dua Nepenthes sekaligus ke udara.
Sesaat kemudian, bunyi kaca pecah yang tajam dan fana terdengar agak jauh di belakangku.
Berbeda dengan efek bunyi saat monster mati. Itu adalah efek bunyi kematian pemain.
Coper yang dikepung lebih dari sepuluh monster akhirnya tumbang.
"…!!"
Aku nyaris menengok ke arahnya, tetapi aku menahan diri dan memilih untuk terlebih dahulu mengalahkan dua monster yang tersisa di sekitarku.
Setelah itulah, baru aku bisa berbalik.
Para Nepenthes yang telah membunuh mangsa pertama mereka memindahkan perhatian padaku dengan mata yang haus darah. Jumlah mereka tujuh. Berarti Coper berhasil mengalahkan setidaknya lima ekor. Mungkin dia tidak mengeluarkan jeritan di akhir bukan karena dia sudah terlalu lemas… tetapi karena harga dirinya sebagal mantan beta tester telah mencegahnya berbuat demikian.
Ilustrasi Kirito sedang menghadapi Nepenthes
"…Kerja bagus."
Aku mengucapkan salam standar untuk pemain yang log out, lalu menghadap ke depan bersama pedang lusuhku. Kalau di situasi ini, mungkin aku bisa kabur dengan selamat, tetapi pilihan itu tidak terlintas di benakku.
Pemimpin dari ketujuh Nepenthes yang mendekatiku, mangsa keduanya, memiliki bunga merah di atas kepalanya.
Andaikan Coper tidak mencoba melakukan MPK padaku dan berjuang lebih lama, dia pun mestinya bisa memperoleh bakal biji Little Nepenthes. Meski begitu, tak ada gunanya berangan-angan. Pilihan dan konsekuensi. Hanya itu yang bermakna.
HP-ku sudah kurang dari 40%, mendekati merah bahaya. Akan tetapi, aku tidak merasa akan mati. Melihat dua dari tujuh ekor Nepenthes di ujung kanan mulai melakukan motion semprotan cairan korosif, aku berlari ke arah mereka dan memusnahkan keduanya sebelum mereka menyerangku.
Lima ekor yang lain kuselesaikan dalam 25 detik, dan pertarungan berakhir.

Pedang dan perisai bundar kecil tertinggal di tempat Coper menghilang. Kondisinya sudah sebobrok pedangku.
Dia telah bertarung beberapa jam di Kastel Layang Aincrad ini dan mati. HP-nya menyusut ke angka no, dan avatarnya hancur lebur. Akan tetapi, aku tidak benar-benar bisa memastikan apakah di suatu kota di Jepang, terbaring di rumahnya, lelaki di balik avatar tersebut juga benar-benar mengembuskan napas terakhir. Yang bisa kulakukan hanyalah mengantar kepergian pendekar pedang bernama Coper.
Setelah berpikir sejenak, aku mengambil pedangnya dan menusukkannya ke akar pohon terbesar yang ada di sekitar situ. Selanjutnya, aku menaruh bakal biji yang kuperoleh dari varian berbunga kedua.
"Ini bagianmu, Coper," lirihku, lalu berdiri.
Durabilitas dari item yang ditinggal di atas tanah akan berkurang secara alami sampai lenyap, tetapi asalkan bisa bertahan beberapa jam, itu sudah cukup untuk minimal dianggap sebagai sebuah makam sederhana.
Aku memutar tumitku dan berjalan menelusuri jalan setapak di timur untuk kembali ke desa.
Ditipu, hampir mati, dan akhirnya menyaksikan kematian orang yang menipuku sementara aku bertahan hidup. Setelah runtutan kejadian ini pun, gim penentu hidup dan mati ini masih juga tidak terasa nyata bagiku.
Akan tetapi, setidaknya, semua hal ini menambah keinginanku untuk menjadi lebih kuat. Walau itu bukan karena aku ingin pulang, melainkan karena hasrat keingintahuanku atas jurus pedang tertinggi di SAO, sesuatu yang tidak bisa kukatakan pada orang lain.
Sepertinya usaha kami berdua menyebabkan spawn di hutan cukup berkurang, terbukti aku tidak bertemu monster selama jalan pulangku menuju Desa Horunka.
Waktu menunjukkan pukul 21:00. Tiga jam telah berlalu sejak selesainya tutorial yang diselenggarakan oleh Kayaba.
Seperti kuduga, alun-alun desa mulai diisi beberapa pemain lain. Kemungkinan mereka juga mantan beta tester seperti kami. Kalau mantan beta tester seperti mereka ini terus melaju meninggalkan pemain lain, tidak lama pasti akan tercipta ketimpangan performa yang mencolok antara mereka dengan pemain biasa yang mayoritas… tetapi aku tidak punya hak untuk mencemaskan hal tersebut.
Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun, jadi sebelum bertemu pemain lain, aku memakai jalan belakang untuk mencapai bagian dalam desa. Untungnya, Pola perilaku NPC belum masuk ke mode larut malam, dan jendela dari rumah tujuanku masih menyala dengan sinar oranye.
Aku membunyikan lonceng sebagai bentuk sopan santun dan membuka pintu. Ibu NPC—mengaduk-aduk isi pancinya seperti biasa—menoleh ke arahku.
Tanda perintah "!" berwarna emas mengambang di atas kepalanya, menandakan jalannya quest.
Aku mendekatinya, lalu mengeluarkan bola yang bersinar hijau muda samar bakal biji Little Nepenthes dari kantong pinggangku, lalu memberikannya padanya.
Sang ibu menerima bakal biji itu dengan wajah bersinar yang membuat dirinya sesaat seperti 20 tahun lebih muda. Bersamaan dengan ungkapan terima kasihnya yang menggebu, riwayat quest di sudut mataku diperbarui.
Sang ibu yang mungkin lebih muda dari dugaanku itu memasukkan bakal biji itu ke panci lalu berjalan menuju peti besar di selatan ruangan, dan membukanya. Dia mengangkat dengan hati-hati sebuah pedang bersarung merah yang tampak tua, tetapi mengeluarkan aura berbeda dengan senjata bawaan awal. Sang ibu kembali ke hadapanku dan menyerahkan pedang itu sambil berterima kasih sekali lagi.
"…Terima kasih," ujarku sambil menerimanya. Tangan kananku terasa berat. Mungkin beratnya 1,5 kali lipat dibanding Small Sword. Aku telah banyak menggunakan pedang Anneal Blade ini saat beta test, tetapi aku perlu berlatih lagi untuk memulihkan ingatan motorikku.
Jendela pesan yang mengumumkan selesainya quest muncul di hadapanku, diiringi pertambahan EXP yang menaikkanku ke level 4.
Saat beta test, aku keluar dari desa ini dengan semangat, mencoba pedang baruku pada Large Nepenthes yang ada lebih dalam di hutan barat.
Karena sudah menyelesaikan quest, si ibu tak lagi menyediakanku segelas minum. Dia membalikkan badannya dan kembali mengaduk isi pancinya.
Berserah pada rasa lelah yang tiba-tiba menguasaiku, aku melamun menatap perilaku si NPC. Entah berapa menit berlalu. Si ibu mengambil cangkir kayu dari rak dan menuangkan isi panci ke cangkir dengan centong.
Dia memegang cangkir yang mengepul dengan jauh lebih hati-hati dibanding saat memegang pedang tadi, lalu mendekati pintu di pojokan.
Tanpa alasan tentu, aku berdiri dan mengikutinya. Si ibu NPC membuka pintu dan masuk ke kamar yang redup. Kalau tidak salah, aku pernah mencoba membuka pintu ini saat beta test, tetapi tidak diizinkan oleh sistem. Dengan agak ragu, aku melewati ambang pintu.
Yang kami masuki adalah sebuah kamar tidur kecil. Kamar itu hanya dilengkapi lemari pakaian di dinding, kasur di dekat jendela, dan satu kursi kecil.
Seorang gadis kecil berumur sekitar tujuh atau delapan tahun terbaring di atas kasur tersebut.
Walau hanya disinari sinar bulan, wajahnya terlihat jelas pucat. Lehernya kurus, dan bahunya yang mengintip dari balik selimut bagai tulang berkulit.
Gadis itu membuka matanya perlahan saat menyadari kedatangan ibunya, lalu pandangannya jatuh padaku.
Eh? Aku tercenung. Bibir pucat sang gadis membentuk senyum kecil.
Si ibu mengulurkan tangan kanannya, menopang punggung putrinya untuk duduk. Saat itu juga, si gadis mulai menunduk dan batuk-batuk. Rambut cokelatnya yang dikepang berayun lemas di belakang gaun tidur putihnya.
Aku mengecek kembali kursor warna yang berada di
samping sang gadis. Terdapat tag NPC di sana, dengan nama "Agatha".
Sang ibu mengelus punggung putrinya—Agatha—sambil duduk di kursi sampingnya, lalu berkata, "Agatha, pendekar kelana ini telah mengambilkan obat dari hutan untukmu! Minumlah, kau pasti akan sembuh."
Dia kemudian memindahkan cangkir di tangan kirinya ke tangan putrinya.
'…Ya," jawab Agatha dengan suara manis, menopang cangkir itu dengan kedua tangan kecilnya, dan meminum-nya.
Cahaya keemasan datang dari langit dan membuat raut wajah si gadis seketika membaik hingga dia melompat dari kasurnya dan berlarian—yah, itu semua tidak terjadi. Meski begitu, warna merah sehat tampak sedikit kembali ke pipi Agatha yang menurunkan cangkirnya.
Dia mengembalikan cangkir kosong itu kepada ibunya, lalu menunjukkan senyum padaku.
Bibirnya bergerak, mengeluarkan kata-kata agak cadel yang berseri seperti permata mungil.
"Telima kasih, Kak."
"…Ah…"
Tanpa menjawabnya, aku hanya mendesah tak jelas
dan mendelikkan mata.
Dahulu—
Dahulu sekali, aku pernah mengalami hal yang mirip.
Adikku… Suguha terkena flu dan terbaring seharian. Ayah kami sedang bertugas di luar negeri, sementara Ibu ada urusan penting di kantor. Aku harus menjaga Suguha selama dua jam sampai Ibu kembali. Saat itu, aku masih SD… entah kelas berapa. Sebenarnya aku merasa berat hati, tetapi aku juga tidak tega meninggalkannya untuk main sendiri, jadi aku terus mengelap keringat Suguha dan mengganti pendingin dahinya saat perlu.
Lalu, tiba-tiba dia bilang ingin meminum teh jahe.
Aku menelepon Ibu untuk menanyakan cara membuatnya. Resep yang dia berikan padaku hanyalah cara mendidihkan parutan jahe dengan madu, yang mungkin lebih simpel bahkan dari cara memasak di Aincrad. Meski begitu, itu sangat sulit bagiku yang tidak pernah memasak Sambil terkadang malah memarut kulit jariku dengan parutan, akhirnya aku berhasil membuat segelas teh jahe, dan membawanya ke kamar Suguha. Padahal biasanya dia cerewet, tetapi saat itu dia melihatku dengan bangga, dan…
"…Uu… ukh…"
Tanpa sadar, suara yang tersendat meluap dari dasar tenggorokanku.
Aku ingin bertemu.
Aku ingin bertemu dengan Suguha, Ibu, dan Ayah.
Emosi panas mengguncang avatarku, dan aku jatuh terhuyung, menaruh tanganku pada kasur Agatha. Aku  menurunkan lututku ke lantai, menggenggam erat selimut putih di kasur, dan terus mengeluarkan desahan rendah.
Aku ingin bertemu mereka. Sayangnya, itu tidak diizinkan. Berbagai medan listrik yang dipancarkan dari NerveGear telah memutuskan kesadaranku dari dunia nyata, memerangkapku di dunia ini.
Sambil berusaha sekuat tenaga menahan isak tangis yang keluar dari mulutku, aku akhirnya mengerti "kenyataan" gim ini.
Bukan soal hidup dan mati. Sejak awal, realitas maut bukanlah sesuatu yang bisa dipahami. Sebab, bahkan di dunia nyata sekalipun—dunia di mana "manusia bisa benar-benar mati", tak berbeda dari gim ini—aku tidak pernah merasakan kematian sebagai sesuatu yang dekat.
Kenyataan sebenarnya adalah… aku berada di "dunia lain". Aku tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang ingin kutemui. Itulah hal paling nyata yang akhirnya kusadari ada di gim ini.
Aku membenamkan wajah ke kasur, menggeretakkan gigi, dan sekujur tubuhku terus terguncang. Air mataku tidak keluar, tetapi mungkin mengalir membasahi pipi tubuh asliku yang sedang terbaring di kasur di dunia nyata.
Mungkin Suguha menyaksikannya dari sisi kasurku.
"…Ada apa, Kak?"
Tangan hangat menyentuh kepalaku dengan ragu.
Lalu, tangan itu mulai mengelus kepalaku. Berkali-kali. Berkali-kali.
Sampai aku berhenti menangis, tangan kecil itu terus bergerak di kepalaku.

Komentar (0)

Memuat komentar...