Sword Art Online 019: Moon Cradle I

Bagian 1

Estimasi waktu baca: 20 menit

Di tengah keramaian di dekat Central Cathedral.
"Ronie, sebelah sini!", terdengar suara perempuan memanggil dari kejauhan.
Sambil berjinjit Ronie memperhatikan arah dimana suara itu berasal, dia melihat seorang gadis berambut merah terang melambai dari seberang keramaian.
Sambil mendekat ia meminta maaf kepada beberapa anggota dan para pendeta Central Cathedral. Beberapa orang memperhatikannya, bahkan ada yang terlihat kesal, tetapi setelah tahu kalau Tsukigake mengikuti Ronie, mereka memberikan jalan.
Entah bagaimana Ronie berhasil sampai ke barisan depan dengan nafas yang terengah-engah.
"Hey, akhirnya, sudah dimulai!"
Kata gadis berambut merah yang berbicara sambil menggembungkan pipinya, ternyata dia adalah sahabat Ronie.
"Maaf, aku bingung harus memakai apa…", ucap Ronie.
"Bingung ya…tapi pada akhirnya kamu tetap berpenampilan seperti biasanya."
Nama gadis berambut merah itu adalah Tiese Schtrinen. Dia juga seorang Apprentice Integrity Knight seperti Ronie. Warna matanya yang seperti daun pada musim gugur sangat mirip dengan warna rambutnya yang terkena pantulan sinar matahari, tubuh kecilnya tertutupi oleh jaket berpola dan rok berwarna nila. Dia memiliki sarung kulit merah yang lebih rendah di pinggangnya, lebih terlihat seperti perhiasan yang menempel di bajunya.
"Seharusnya aku membawa syal yang kubeli di kekaisaran selatan minggu lalu"
Sambil menyesal, ia pun mengalihkan pandangannya dan melihat Shimosaki, naga muda yang ia besarkan sedang terbang dan menggosokkan hidungnya dengan hidung Tsukigake, tak luput juga ia melihat seorang pemuda dengan senyum yang lembut di belakang Tiese.
Bahkan pemuda itu lebih terlihat seperti remaja daripada seorang pemuda, tetapi uniknya selain pedang panjang yang berat, dia dilengkapi dengan dua pisau bersilang yang ditekuk di tengah. Walaupun pedang besar yang dibawa sangat mencolok, tetapi throwing blades benar-benar berada di tingkatan yang berbeda. Senjata itu terlihat sangat tipis seperti kertas, dan tidak lain tidak bukan senjata itu adalah senjata kelas Divine Object.
Ronie mengangkat tinju kepalan tangan kanannya, meninjunya ke dadanya dan menaruh tangan kirinya di pegangan pedangnya dan membungkuk dengan formal di hadapan pemuda itu.
"Selamat pagi, Renri-sama"
Integrity Knight Renri Synthesis Twenty Seven menjawab dengan senyum masam disamping naganya.
"Selamat pagi, Ronie-san… kamu tidak perlu terlalu formal untuk saat ini, karena hari ini adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu"
"Ada apa dengan hari ini?"
Ronie memiringkan kepalanya tanpa sadar.
Hari ini, tanggal 17 Februari, tahun 382 kalender Human World, seperti hari biasa pada umumnya. Dan juga sudah tidak ada lagi Human World Fundamental Law seperti tahun lalu, serta Taboo Index juga telah diubah, tidak ada instruksi khusus untuk merayakan hari ini.
Meskipun begitu, alun-alun depan Central Cathedral yang luas itu dipenuhi oleh banyak orang yang tak terhitung jumlahnya. Semua orang tampak berebut untuk mendapatkan makanan dan minuman ringan.
Dan juga, gerbang utama Central Cathedral yang biasanya tertutup sekarang terbuka untuk warga ibu kota hari ini. Bahkan ada dua booth yang telah disediakan di sebelah kiri dan kanan gerbang utama, semuanya penuh sesak dengan pengunjung yang bahkan sudah lebih dari seribu orang.
"Yah, entah ini bisa disebut festival, atau perayaan apapun aku tidak tahu, tapi saat Tuan Prime Swordsman melakukan sesuatu, itu pasti terlihat seperti ini".
Ronie ikut mengangguk saat Tiese mengucapkan kata-kata itu dengan penuh malu.
"Yah, mungkin iya… Ayo kita berdoa semoga dia tidak menghancurkan Katedral hari ini".
Di sisi lain keramaian, ada 3 orang saling bertukar pandangan—
Sama seperti yang mereka lakukan, kata-kata tidak akan bisa menjelaskan ini.
Suara gema yang aneh muncul dari tengah alun-alun yang luasnya hampir seratus mel persegi, dan di atas lantai putih bersih munculah sebuah Dragoncraft.
Namun, sebagai bukti bahwa itu bukan hanya hiasan semata, bagian atas kepala yang tajam dibuat dari kaca transparan. Sayap pendek yang menempel di sisi kiri dan kanan terlihat tipis, dan silinder tebal terbentang dari punggung. Tidak ada ekor, tidak ada kaki.
Dapat dikatakan bahwa panjang totalnya hampir 5 mel dan api berwarna oranye menyembur dari lubang di atas dan di bawah silinder di belakang, tapi masih sulit untuk diidentifikasikan.
…Satu hal yang pasti adalah itu membuatku merasa aneh.
Sambil bergumam di dalam hatinya, Ronie mengalihkan pandangannya dari Dragoncraft itu dan menatap tiga orang yang berdiri di dekatnya.
Satu diantara mereka adalah seorang swordwoman muda dengan rambut panjang kecoklatan yang tertiup angin dengan sebilah pedang di pinggang kirinya, lebih tepatnya di atas rok berwarna putih, berbalik seolah-olah merasakan tatapan Ronie. Dia tersenyum sekali dan mengangkat tangan seolah memberi isyarat padanya.
"Hey, ayo ke sini"
Alih-alih ragu seperti yang dirasakan Tiese, Ronie dengan sigap bergerak maju dan dengan cekatan dia bergerak melewati penghalang kuning. Di belakangnya, tentu saja, Tsukigake mengikutinya.
Di tengah tatapan pengunjung yang lain dia tidak menghirukannya dan perlahan dia sudah melewati alun-alun. Berhenti di depan swordwoman tadi, mengulurkan tangan tanda ingin berbalas salam dari sang kesatria itu.
"Selamat pagi, Vice-Prime Swordman-sama"
"Selamat pagi, Ronie-san. Kelihatannya kita akan berpesta hari ini, jadi buatlah hari ini senyaman mungkin ya."
Dia berkata sambil tersenyum tipis dengan parasnya yang cantik. Cukup indah untuk membuat Ronie mengendurkan bahunya dan bersikap santai.
"… Baik, Asuna-sama"
"Sudah ku bilang berkali-kali, jangan panggil aku dengan sangat formal"
Dia tersenyum tetapi sulit untuk menerimanya.
Gadis yang ada di hadapan Ronie sedikit lebih tua darinya—seorang Vice-Prime Swordsman dari Dewan Serikat Human World, Asuna—dihormati lebih dari Prime Swordsman sendiri. Karena dia dipercaya oleh semua orang-orang di Human World sebagai reinkarnasi dari Genesis God Stacia, salah satu dari tiga dewa dari Genesis Mythology.
Sementara dia terus menyangkal bahwa dia sebenarnya bukanlah dewa, tetapi Ronie adalah saksi hidup disaat Asuna membelah tanah dengan celah yang sangat besar menggunakan pedangnya untuk menghentikan bentrokan yang tak terhindarkan kala itu. Setelah melihatnya, bahkan tidak akan terbayang sedikitpun untuk menghilangkan kata ‘sama’.
Walau sudah diberi tahu untuk "tidak perlu pakai -sama" oleh kesatria tertinggi yang harus ia patuhi, dia menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan dengan maksud untuk menolak dan mengalihannya. Asuna dengan senyum pahitnya melanjutkan pembicaraan.
"Jadi, Ronie-san. Kamu adalah yang terbaik dalam thermal element sacred art bukan?"
"Saya… I-Iya begitulah"
Merasa canggung, Ronie mengangguk. Asuna mendekatkan wajahnya dan berbisik.
"Baiklah kalau begitu, ada hal kecil yang ingin kuminta darimu. Sebenarnya kami memiliki beberapa susunan elemen termal di sebelah sana, dan kebetulan kamu hebat dalam hal ini, jadi tolong ajari aku melepaskan mereka"
"Eh, bagaimana? Ada beberapa elemen termal disana?"
Ronie sedikit bingung dengan perkataan Asuna, dia mengalihkan pandangan dan berkedip.
Dia melihat ke bagian atas Dragoncraft itu dan terlihat dua orang sedang mendiskusikan sesuatu di sana.
"… Intinya, Kiri-boy, walaupun kau bilang elemen termal bisa dikomputasi supaya tahan terhadap panas yang dihasilkan, nyatanya itu terjadi karena ada pasokan pendingin yang cukup bukan?! Cucuku ini tidak pandai dalam elemen kriogenik, jadi jika kau sedikit menunda sacred art, elemen yang terisi penuh bisa-bisa meledak dalam sekejap mata!".
Orang yang berbicara dengan keras dan penuh kata-kata aneh itu adalah pria tua berjanggut indah yang berusia sekitar lima puluh tahun. Orang yang dikenal oleh Ronie itu adalah seorang pandai besi yang memproduksi armor terbaik di ibukota Centoria, namanya adalah Sadore. Untuk waktu yang lama, dia menjalankan tokoknya di pusat kota, dan setelah bekerja sama dengan Integrity Knights Order saat Rebellion of Four Empires, sekarang ia menjabat sebagai kepala bengkel di Central Cathedral.
Sementara itu, orang yang jadi lawan biacara Sadore yang wajahnya memerah seperti anak kecil—
Dengan rambut hitam dan mata hitam, penampilannya memang lebih terlihat seperti pemuda yang cukup biasa.
Dia memakai jaket lengan panjang dan celana panjang berwarna abu-abu yang sedikit aneh. Tidak ada senjata apapun yang tersimpan di pinggangnya, hanya sepasang sarung tangan kulit cokelat yang sudah ia pakai ditangan yang sedang menopang belakang kepalanya. Dengan wajah sedikit lelah ia menjawab perkataan Sadore.
"Hey, mendengar ini membuat telingaku sakit seperti ada serangga yang masuk ke dalamnya. Ayolah Oji-san, jangan panggil saya Kiri-boy lagi".
"Hmmm, jangan harap. Sejak saat itu, tiga tahun yang lalu, di hari kau datang membawa dahan keras ke tempatku, dan aku harus menggunakan enam batu pengasah hitam untuk mengasah dahan itu menjadi pedang, aku sudah memutuskan untuk memanggilmu sebagai cucuku selamanya".
"… Terserah deh, nyatanya memang tanpa pedang itu, dunia ini pasti akan dalam masalah besar".
Pemuda yang sedang menggerutu itu memutar badannya dan tiba-tiba melihat Ronie.
Sejak pertama kali mereka bertemu, bahkan sejak saat ini, dia tidak berubah sedikitpun, masih seperti orang yang kekanak-kanakan. Begitu Ronie melihat senyum lebar di wajahnya, sesuatu terasa berdenyut di dalam dadanya.
Ronie sedikit menundukkan kepalanya, sambil memberi salam.
"Selamat pagi, Kirito-senpai"
Sekarang sebenarnya dia harus menggunakan kata –sama juga, tetapi khusus untuk orang itu, larangan memanggil –sama tertulis dalam dokumen resmi. Jadi mau tidak mau, dia memanggilnya dengan kata –senpai seperti halnya saat mereka masih seorang murid.
Mantan Elite Swordsman Trainee di Sword Mastery Academy di North Centoria, seorang pemuda bernama Kirito, yang sekarang ditunjuk untuk menjadi Prime Swordsman di The Human Unification Council, melambaikan tangannya dan berkata sambil tersenyum.
"Oh, Ronie! Sedang apa kamu di situ?"
Naga muda yang ada dibelakang Ronie tiba-tiba muncul dan bersuara "kurururu", lalu naga kecil itu mengepakan sayap kecilnya, berhenti di hadapan Kirito, dan mulai menjilati wajahnya. Suasana pun tampak cair dengan mulai munculnya senyum di wajah Ronie, tak lupa ia pun turut menyapa Sadore.
"Selamat pagi, master"
"Oh, selamat pagi juga Ronie"
Setelah bertukar salam, dengan cepat Ronie mendekati pria tua yang tersenyum manis dan meminta.
"Jadi… yang baru saja kamu bicarakan, seperti apa, elemen termal itu?"
"Ya, jadi, coba lihat bagian belakang dari Dragoncraft prototaip #1"
"Dragon…craft?"
Itu sebenarnya merupakan kata yang asing baginya, tetapi dia langsung cepat mengerti bahwa itu adalah nama dari naga-logam yang ada di hadapannya.
Namun, semakin dilihat dia merasa kurang nyaman menyebut Dragoncraft itu dengan sebutan naga, jelas karena itu adalah benda mati tidak bernyawa. Tetapi, tiba-tiba naga tidak bernyawa itu mengeluarkan suara aneh dari bagian belakang yang berbentuk silinder itu, "Hiruuruuruu".
"Disana, ada dua wadah yang tebuat dari baja adamantin barat, masing-masing terdapat 10 elemen termal di dalamnya".
"Eh… Ehhhhh!"
Saat mendengarnya, Ronie perlahan mundur ke belakang.
Elemen termal adalah elemen tersulit diantara delapan atribut yang menjadi sumber sacred art. Berbeda dengan elemen kriogenik dan elemen arial yang dapat disimpan di wadah untuk sementara waktu, jika kita membiarkannya seperti ini, elemen termal akan cepat panas dan mengeluarkan cahaya, lalu menghilang. Ketika memakai elemen termal, kita tidak boleh kehilangan konentrasi sedikitpun, baik saat baru mulai, saat proses ataupun saat dilepaskan — itu merupakan hal mendasar yang paling pertama diajarkan kepada para apprentice clerics.
"Yaaah, Tapi… Walaupun dengan baja keras dan tahan panas seperti adamanit, jika membiarkan elemen termal bersentuhan dengannya, bukankah akan sama saja, akan tetap meleleh dan meledak?"
"Ada sebuah penemuan. Di bagian luar wadah, ada sebuah pipa yang terbuat dari lipan raksasa Yorund, yang memiliki katahanan beku yang tinggi. Ini adalah sistem pipa kasar yang terhubung ke kaleng tertutup dengan elemen kriogenik yang memasok udara dingin di sana untuk mencegah kaleng panas meleleh dan meledak".
"Itu… hmmmm…"
Walaupun disebut dengan penemuan, tapi untuk Ronie elemen termal dan elemen kriogenik adalah sumber sacred art yang merupakan skramen Dewa dan sangat berbeba dari kerajinan pandai besi. Dia tidak pernah memikirkan pada yang akan terjadi ketika menggabungkan keduanya.
"… Hal seperti itu, apakah akan berkerja?"
Master Sadore merentangkan tangannya sambil bergumam.
"Yah, ini sudah selesai"
"Eeeee!"
"Kiri-boy akan mengendarai benda ini"
"Eeeeeee~~!?"
"Mengendarai, apakah bisa?"
Dengan penuh ketakutan dia menggerakkan wajahnya dan melihat ke ujung Dragoncraft itu.
Lalu, dia menyadari bahwa ada sesuatu yang tampaknya seperti kursi yang terpasang di dalam kepala dengan pelat kaca transparan itu. Ada pipa logam dan beberapa piringan kecil yang terpasang di sekeliling kursi. Jarum tipis ditengah satu disk yang tampaknya bergetar halus selaras dengan suara-suara aneh yang muncul.
"…Tidak mungkin… seseorang yang duduk di sana, lalu… melepaskan elemen termal… dari wadah dibaliknya… lalu…"
"Wish!! Terbang… seperti naga di langit".
Kirito memotong kata-kata Ronie yang belum selesai di sampingnya.
Di sebelahnya lagi ada Tsukigake yang mengendus-endus sayap logam milih si Dragoncraft, dan berbalik dengan wajah yang sedikit kecewa.
"Ini… ini tidak masuk di akal senpai!"
Dia berteriak sambil menarik lengan baju Kirito.
"Ya, mungkin kau berfikir bahwa kami berencana untuk melepaskan semua elemen termal itu secara bersamaan bukan? Jelas itu akan meledakkan semuanya. Tapi ini akan kami lakukan seperti halnya tangga berjalan di Katedral".
"Yap, karena noselnya bisa diatur dan awalnya disegel, kau bisa menaikkan atau menurunkan tekanannya dengan aliran elemen udara. Tidak ada yang lebih untuk menerbangkan kita ke langit selain kekuatan ledakan elemen termal…"
Akhirnya Kirito berbalik sambil tersenyum.
"Selain itu, ada begitu banyak orang yang menunggu untuk melihat hal seperti itu… Jika kamu mengatakan bahwa kami harus membatalkan ini sekarang, bisa-bisa ‘Pemberontakan Pemerintah Pusat’ mungkin akan terjadi".
"Ah, bukannya senpai yang mengumpulkan mereka semua?!".
Banyak orang berkumpul hari ini di alun-alun depan Central Cathedral, karena Kirito memiliki banyak mengumumkan bahwa "Kami akan melakukan eksperimen publik oleh gudang senjata katedral".
Di saat seperti ini, dimana kedamaian datang ke Underworld, wajar saja jika para staf katedral dan warga sangat menikmati Northern Cave Protective Dragon Restoration Experiment baru-baru ini, yang sebentar lagi akan dipresentasikan oleh Prime Swordsman dari Human World si orang yang menjadi tontonan publik saat ini.
Tapi, saat sedang melakukan sesuatu dengan naganya, sepertinya Kirito melakukan kesalahan kecil, hampir saja semua tanaman di Katedral membeku akibat ulahnya. Ronie yang mengetahuinya kaget dan sedikit melompat kebelakang.
Punggungnya ditahan oleh Vice-Prime Swordsman yang berdiri dibelakangnya. Asuna, yang memiliki hubungan dengan Kirito sejak lama berkata dengan wajah sedikit malas.
"Jangan buang-buang waktu Ronie-san. Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan, itu pasti akan terjadi".
"Ya… Tapi, ini tidak baik…"
Sedikit mengela nafas, akhirnya dia kembali mengingat kejadian-kejadian beberapa tahun kebelakang. Dalam beberapa tahun terakhir, Ronie telah mempelajari sebuah hal bahwa ‘tidak ada jalan lain selain melakukannya’ jika si keras kepala Kirito sudah muncul dengan suatu hal.
Berniat melakukan segala sesuatu setidaknya untuk menghindar dari bencana, Ronie memfokuskan pikirannya pada Dragoncraft.
Meskipun sudah ditunjuk sebagai Apprentice Integrity Knight, Ronie masih belum mencapai level di mana dia bisa bebas mengaktifkan inkarnasi yang merupakan rahasia para Integrity Knight. Dulu benar-benar tidak mungkin baginya untuk menggunakan sacred art dengan memperpendek rapelan mantra seperti Kirito dan Integrity Knight yang lebih tinggi tinggatannya, tetapi baru-baru ini dia dapat memahami efek dari elemen yang dihasilkan.
Seperti yang dikatakan Sadore-shi, banyak sekali elemen termal yang terdapat pada Dragoncraft. Dia merasakan bagaimana mereka bergetar karena mencoba untuk menerbangkan cangkang di sekitarnya.
"Dengan aktivitas elemen seperti ini, apa yang terjadi jika kita melepaskannya?"
Gumam Ronie, yang tidak ada pilihan lagi selain terus menonton prosesnya, sembari manahan hawa dingin di punggungnya.
"Saya bisa merasakan elemen itu Asuna-sama, sepertinya mereka bisa mengontrolnya", Ronie membuka obrolan dengan Asuna.
Asuna yang berada di sampingnya membalas dengan suara agak gemetar.
"Terima Kasih, tapi tetaplah terjaga".
"Baik".
Saat Ronie mengangguk, Kirito dengan lantang berteriak dari kejauhan.
"Oke, sekarang, ayo kita mulai! Asuna, tolong hitung mundur".
"Kenapa harus aku!?", Asuna tampak sedikit kebingungan.
"Seperti di masa lalu, ketika kita bersiap-siap untuk melakukan Boss Rush."
Asuna mengangguk kebingungan saat Kirito membalasnya dengan kata-kata itu. Tak lama, iya mengangkat tangannya dan memulai mengucapkan mantra-mantra sacred art.
"System Call!"
Dengan cepat dan lancar, ia merapel sacred art gabungan antara elemen arial dan elemen kristal. Dia sebenarnya bisa menggunakan inkarnasi, tetapi di sekitarnya tidak ada musuh, jadi tidak ada alasan untuk menyembunyikan tekniknya.
Asuna mengangkat bibirnya ke lapisan tipis seperti kaca yang mengembang di tengah pusaran udara.
"Kepada semua orang yang sedang berkumpul, maaf karena telah membuat kalian menunggu lama. Sekaranglah, dipersembahkan oleh Gudang Senjata Central Cathedral, percobaan penerbangan Dragoncraft Prototaip #1!"
Suara keras dan bergema itu tersebar ke penjuru alun-alun, dan kedua staff Katedral yang berdiri di sisi lain dari kerumunan warga berdiri dan bertepuk tangan. Melihat ke Central Cathedral, armor dari Integrity Knight terlihat berkilauan terkena pantulan cahaya di lantai 30 diatas sana.
Dengan tepuk tangan dan sorakan, Kirito melambaian tanganya kepada pengunjung dan mulai menaiki tangga yang bersender di Dragoncraft. Dia dengan cekatan sudah berada di kepala naga itu dan mulai membuka dam masuk ke dalam kaca transparan di sana.
Dia duduk dan menghadap langit, serta beberapa kali memposisikan tubuhnya agar nyaman dengan ikat pinggang kulit yang menyilang pada tubuhnya. Setelah memakai kacamata besar yang sebelumnya tergantung di lehernya, ia akhirnya siap dengan mengisyaratkan jempol tangan kiri ke pada master Sadore.
Pak tua Sadore, Ronie dan Asuna pun mundur sejauh 20 mel. Ronie yang masih takut memilih untuk mundur lebih jauh tanpa kehilangan fokus untuk tetap melihat elemen termal yang berada pada Dragoncraft itu.
"Selanjutnya, akan saya mulai hitung mundurnya! Semuanya, tolong ikuti saya!"
Asuna memanggil para penonton dengan nada yang sangat familiar. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara dan mengulurkan sepuluh jari miliknya.
"Semuanya, Sepuluh! Sembilan! Delapan!"
Kurang lebih ada 1000 suara yang terdengar merespon hitung mundur yang Asuna katakan. Pada momen yang sama, Tiese dan Renry juga turut berhitung dengan wajah yang sangat sumringah.
Ronie ikut berteriak juga sambil memeluk erat leher Tsukigake.
"Tujuh! Enam! Lima!"
Saat Asuna melanjutkan hitung mundurnya, tanpa diduga getaran dari elemen termal meningkat kekuatannya. Kirito mulai mengontrolnya dengan inkarnasi.
Kekuatan pikiran Kirito yang kuat mengalir ke Ronie, terhubung melalui elemen-elemen yang berfungsi sebagai konektornya. Lagi-lagi, sesuatu terasa sangat sesak di dadanya.
"Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Sebagai rekan dari Kirito-senpai, aku harus tetap tenang sampai akhir hayatku", guman Ronie di dalam hati.
Untuk menyembunyikan mata sedihnya dari Asuna yang berada di sampingnya, ia mulai ikut teriak hitung mundur.
"Empat! Tiga! Dua!"
Suara dari Dragoncraft itu meningkat sangat pesat. Ujung belakangnya bersinar dan bergetar dengan hebat, diikuti dengan cahaya yang mulai keluar dari tabung bagian bawah. Tampak cahaya warna merah berubah menjadi oranye lalu kuning.
"Satu!… Nol!!"
Batu paving di alun-alun mulai bergetar karena efek dari mantra oleh kirito, dan di akhiri dengan suara teriakan Kirito yang samar.
"Lepaskan!!"
Sebuah kata yang menjadi kunci penanda perilisan elemen yang sebelumnya sudah disiapkan. Tiba-tiba, dua puluh elemen termal meledak sekaligus dengan kekuatan tersembunyi mereka.
Seiring dengan suara impulsif yang luar biasa, nyala api keputihan meledak dari bagian bawah Dragoncraft. Batu paving marmer yang seharusnya adalah benda abadi terlihat terbakar dengan banyaknya asap putih. Kerumunan mulai riuh dengan suara yang bergerma.
Dari asap itu—
Dragoncraft tiba-tiba melesat lurus ke atas seperti anak panah. Suara bernada tinggi bergema di langit, suara yang sangat asing bagi Ronie. Api keluar dari ekor Dragoncraft ketika naga itu naik lebih tinggi dan lebih tinggi.
Ronie merasakan sakit di kedua telapak tangannya setelah melepaskan panas tadi. Memang tak dapat dielak, apapun material pembuatnya, panas tinggi seharusnya dapat menghancurkan dan Dragoncraft itu akan meledak. Bagaimanapun, suhu ultra rendah dari elemen es yang dikirim ke salah satu tabung yang menempel dekat dengan ruangan itu, dapat mengurangi suhu ruangannya. Hasilnya, kekuatan ledakan dari thermal element yang dilepaskan hanya berada pada satu arah dari tabung pipa itu, dan mesin naga raksasa itu terbang lurus.
Sekarang, untuk pertama kalinya dalam sejarah Underworld, manusia terbang ke angkasa tanpa mengendarai naga.
"…Keren…"
Air mata untuk alasan yang berbeda dari sebelumnya memenuhi kedua mata Ronie. Dengan pandangannya yang kabur, terlihat Naga Silver tadi mulai naik dan terus naik setinggi ujung dari Central Cathedral.
"Jika naga itu tetap berada di suatu tempat di bawah, Sacred Power di sekitarnya akan cepat habis karena elemen kriogenik secara terus-menerus terbentuk, tetapi jika bergerak dengan kecepatan tinggi, seharusnya hampir tidak mungkin pasokaan Sacred Power akan habis. Lalu naga buatan manusia itu mungkin bisa naik ke ketinggian yang tidak bisa dicapai bahkan dengan naga asli".
Begitu dia memikirkan hal barusan, Ronie merasa bahwa dia menyadari maksud sebenarnya dari Prime Swordsman dari Human World ini.
"Tujuan Kirito-senpai bukan hanya bisa terbang, mungkin… bahkan dengan Dragoncraft ini dinding ujung dunia yang tidak mungkin dilintasi oleh makhluk apapun, akan bisa terlampaui…"
Namun, saat dia membayangkan hal tersebut, tiba-tiba Ronie merasakan tanda-tanda bahwa elemen termal mengembang.
Kaleng-kaleng yang tersegel mulai terdistorsi. Itu meleleh dengan panas yang tinggi. Tidak terlalu jelas alasaannya apa, tapi pasokan elemen kriogenik yang seharusnya menurunkan suhu kaleng terasa kurang cukup ampuh.
"Ah, Asuma-sama! Elemen termal adalah…"
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara "BO-MUM!", yang tidak terdengar bagus sama sekali, dan terlihat asap hitam mengalir dari salah satu silinder di bagian belakang.
Ilustrasi Kirito sedang menaiki Dragoncraft
Setelah suara tadi, naga itu mulai berputar dengan sumbu vertikal. Naga itu bergerak ke selatan, dimana itu adalah lokasi dari—
Central Cathedral, lantai 95.
"Tabrakan!?"
Ronie menggenggam kedua tangannya tepat di depan dadanya sambil berteriak. Jeritannya terdengar begitu nyaring sampai pengunjung pun teralihkan oleh suaranya.
Dengan suara "Shats" khas pedang, Asuna mencabut pedangnya dari sarung yang berada di pinggangnya.
Cahaya kuning yang menyilaukan dari Solus terbagi menjadi tujuh warna, bersinar tepat ke arah Katedral.
"Yosh!"
Asuna berseru bagaikan suara dewi, di saat yang bersamaan, dia mengarahkanujung pedangnya ke arah kiri.
Seolah ditarik olehnya, bagian atas Central Cathedral lantai 95 mulai bergeser ke arah barat dengan suara yang sangat berat.
Di momen berikutnya, Dragoncraft tadi melewati bagian itu dengan bekas asap garis-garis warna hitam.
Di sisi langit bagian selatan, memancarkan kilatan yang menyilaukan.
Dan dengan suara "Dokun!" cahaya itu meledak.
Walaupun sejumlah energi sudah dikonsumsi untuk menjalankan Dragoncraft itu, kekuatan dari dua puluh elemen termal yang terbakar secara bersamaan itu memang luar biasa.
Biasanya, satu jari hanya mampu mengendalikan satu elemen saja, jadi clerics tingkat tinggi pun belum tentu bisa mengatasi elemen termal yang lebih dari sepuluh.
Rumornya juga, mantan ketua Dewan Tetua yang dulu mengelola Gereja Axiom pernah menggunakan jari kakinya, jadi ia bisa mengendalikan dua puluh elemen secara bersamaan. Dan, Highest Priest Administrator yang telah lama meninggal juga rumornya pernah hampir memanipulasi seratus elemen dengan rambutnya, tapi tentu Ronie tidak pernah menyaksikan itu.
Saat knight Ronie berhenti, tak ada satupun kerumunan yang meninggalkan Katedral. Diatas udara, kilatan warna oranye menyala begitu terang sehingga bisa disebut sebagai Solus kedua, bukan hanya itu, raungan dan guncangan juga terdengar, seolah-olah langit telah jatuh ke tanah. Hampir seluruh kerumunan berseru dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.
Tapi, tentu saja, elemen termal yang belum di aktifkan hanya meledak di langit. Jadi, tidak ada kerusakan yang terjadi di tanah.
Di ujung garis pandang para pengunjung yang beramai-ramai menaikan wajahnya, asap hitam pekat dengan luas menutup bagian atas Katedral yang sudah kembali ke posisi semula.
Setelah melihat ledakan dengan skala besar yang lebih besar dari ledakan kembang api Tahun Baru beberapa bulan yang lalu, mungkin semua orang berpikir jika Prime Swordsman yang berada di dalam Naga itu telah tiada. Tentu saja, Ronie berpikir begitu juga, mengepalkan tangannya di depan dadanya sambil membuka mata lebar-lebar.
"Ki… Kirito-senpai!".
Saat dia berteriak, Asuna yang berada di sampinya dengan perlahan menepuk pundaknya dan berkata.
"Tenang, dia baik-baik saja".
Tampak sebuah bayangan kecil keluar dari bagian belakang asap yang masih mengebul, disertai dengan suara-suara samar khas orang kesulitan.
Manusia. Hampir semua bagian dari naga itu berserakan di mana-mana, tetapi orang yang memakai pakaian serba hitam itu perlahan keluar dari sana.
Bayangan yang nampak sedang melebarkan kedua tangannya.
Bagian baju yang sudah rusakpun berubah menjadi sesuatu yang sangat sangat unik, yaitu sayap kecil di bagian pundaknya.
Sayap kecil itu terbang dua atau tiga kali dengan kecepatan yang sedikit menurun dan lama-lama berhenti total.
Teknik terbang yang seharunya sudah tidak ada sejak kematian Highest Priest Administrator.
Tetapi bukan itu, yang ini sebenarnya bukan sacred art. Tapi ini lebih seperti sebuah mantra untuk membentuk ulang materi yang ada pada dunia ini, untuk mengubah kain menjadi sayap asli dan membuat orang biasa dapat terbang ke angkasa.
Dan, sudah jelas tidak ada seorang pun didunia ini yang bisa melakukan hal itu selain Kirito. Para penonton yang mulanya betepuk tangan, sekarang riuh tidak beraturan.
Walaupun ekperimen terbang dengan Dragoncraft tampaknya gagal, Kirito dengan perlahan turun melambai dan tersenyum, Ronie pun juga ikut bertepuk tangan sambil mencari-cari Kirito.
Kebiasaan Kirito yang selalu membawa ide aneh dan luar biasa memang tidak bisa hilang sampai saat ini.
Senyuman dari sosok itu tiba-tiba mulai kabur dari pandangan Ronie karena matanya yang sudah basah.
Dengan cepat ia mengusap matanya dan berdoa dari lubuh hati yang paling dalam.
"Suatu saat nanti, ini pasti akan menjadi kenyataan".

Komentar (0)

Memuat komentar...