Sword Art Online 019: Moon Cradle I

Bagian 3

Estimasi waktu baca: 11 menit

Ronie terus memikirkan perkataan Kirito sepanjang waktu setelah acara minum teh yang tak terduga itu selesai dan bahkan masih terus terpikirkan saat ia mengembalikan piring ke dapur.
Bukan tentang sisi lain dari dinding ujung dunia, bukan tentang fakta kalau dunia itu sebenarnya bulat, bahkan bukan juga tentang perjalanan menuju ke bulan. Tapi, ada satu topik yang tidak bisa hilang dari pikirannya, yaitu kemungkinan "perang baru".
Ronie juga berpikir bahwa kekayaan Human World pasti akan terus menumpuk ketidakpuasan di antara demi-human. Namun, yang ini adalah perang yang sebenarnya—yaitu perang dengan menggunakan senjata—sejujurnya hal itu sulit untuk dibayangkan.
Padahal sekarang, Peace Treaty of the Five Peoples sudah berlaku di Dark Territory, dan itu sudah dipatuhi oleh semua ras disana. Meskipun itu adalah hukum yang sedikit berbeda dibandingkan dengan hukum di Human World, tetapi tetap ada larangan untuk membunuh dan menjarah pada hukum itu.
Tentu saja, bagi orang-orang di Dark Territory yang selama ratusan tahun hanya mengikuti hukum rimba, dimana hanya orang-orang kuatlah yang dapat diakui di sana, tidak mudah untuk beradaptasi dengan revolusi besar layaknya langit dan bumi itu, jadi sebagai peredam untuk periode transisi itu, dibuatlah sebuah peraturan kebebasan bertempur dalam batasan tidak boleh sampai menghilangkan nyawa. Namun, jika menyangkut perang, tidak mungkin aturan itu masih berlaku.
Dan, bahkan orang-orang di Dark Territory, telah mempertegas dan mengatakan "tidak akan melanggar hukum" layaknya orang-orang di Human World.
Itulah mengapa meskipun hanya beberapa tahun setelah perang dunia, tidak mustahil untuk menerima pengunjung dari Dark Territory di Human World…
Sedang asik-asiknya melamun, tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil. "… Ronie, hei, apa kamu mendengarkanku, Ronie?"
Panggilan itu disertai dengan dorongan kecil pada bahu kanannya, Ronie mengangkat wajah sambil terkejut.
Sepertinya, saat dia dalam pelatihan inkarnasi di sudut tempat latihan besar di lantai empat Katedral, tanpa sadar dia tenggelam dalam pikirannya.
Pelatihan hari ini adalah "Tanza mind wiping", yang merupakan teknik yang jauh lebih mudah dipahami daripada teknik "Controlling the created element" dan "Standing straight on the top of a pillar".
Tapi ternyata bagi temannya yang duduk di sebelahnya, tantangan dari latihan ini adalah mengobrol daripada memikirkan hal-hal yang tidak berguna.
Ronie melirik ke seorang guru yang menjelaskan skill pedang kepada ksatria junior di tengah tempat latihan— hari ini adalah giliran Conflagrant Flame Bow Dusolbert —dan setelah memperhatikannya sejenak, dia meminta maaf kepada sahabatnya dengan suara rendah.
"Maaf, aku mengantuk."
Setelah meminta maaf, dia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam situasi ini, ketika teman berambut merahnya berbisik dengan pipi menggemuk.
"Apa, kamu tidak mendengarkannya sama sekali? … Sudah kubilang aku perlu berkonsultasi denganmu."
"Berkonsultasi?"
Memiringkan lehernya sedikit, Ronie menatapnya dengan ekspresi bertanya.
Tiese Schtrinen, ksatria junior yang menjadi temannya sejak Sword Mastery Academy, mengubah ekspresinya menjadi serius dan mengangguk.
"Yah … masalahnya, aku … aku ditawari …"
"Kompetisi? Tolong tolak, duel tidak aman!"
Saat dia secara refleks berseru dengan suara rendah, mata Tiese menatap ke arah Ronie, dan dia dengan cepat menyangkal.
"Sama sekali tidak! Justru sebaliknya… Ini bukan duel… Ini lebih… ke…perjodohan…"
Ronie tidak begitu paham dengan apa yang sedang dibicarakan, jadi Ronie menatapnya dengan tatapan kosong selama beberapa detik, ketika dia akhirnya mengerti arti kata itu.
Segera setelah itu, Ronie sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang cukup liar.
Namun, dia malah menarik napas dalam-dalam, menahannya sebentar, dan menghembuskannya perlahan.
Setelah menarik udara lagi, Ronie bertanya dengan takut.
"…Itu…dengan kata lain…berarti…pernikahan…?"
Mendengarnya, Tiese menurunkan pandangannya ke lantai di depannya dan mengangguk pendek.
Ronie memiliki pertanyaan tentang siapa yang mengajukan lamaran, yang sebenarnya itu adalah hal yang normal jika kita semua mendengar informasi tetnang pernikahan. Tapi, saat ini hanya ada satu pria yang bisa melamar Tiese. Itu adalah Integrity Knight senior Twin Edged Wings Renri Synthesis Twenty-Seven.
Sudah jelas sejak perang dunia bahwa dia memiliki perasaan pada Tiese. Dapat dikatakan bahwa itu adalah lamaran yang agak terlambat.
Ronie hendak mengucapkan "selamat" sambil membayangkan sosok ksatria muda yang selalu tersenyum tipis.
Namun, masih melihat ke bawah Tiese dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"… Aku masih belum memutuskan harus menjawab apa"
Saat mendengar itu dari mulut Tiese, Ronie berkedip beberapa kali, lalu terkejut.
"Yah… kenapa…? Bukannya kamu tidak membenci Renri, menurutku kamu menyukainya? Dan kalian juga sering bersama dalam waktu yang cukup lama…"
Saat mendengar pertanyaan ini, wajah Tiese menjadi lebih gelap dan ekspresi sedih muncul di sana yang tidak terpikirkan oleh Ronie.
"Aku menyukainya. Tapi kau tahu, alasan utama kenapa aku menyukainya. Itu…, bagaimana Renri agak mirip dengan…"
"…!"
Ronie menarik napas dengan tajam.
Orang yang dimaksud Tiese bukanlah Prime Swordsman Kirito, tentu saja. Saat menjadi murid junior di Sword Mastery Academy, sama seperti Ronie yang melayani Kirito, Tiese juga melayani Elite Swordsman yang lain. Terlepas dari sikapnya yang tenang dan senyumnya yang lemah lembut, Orang yang dimaksud ini juga memiliki kemauan yang kuat dan kekuatan pedang yang cukup untuk tidak kalah dari Kirito, dan Ronie tahu bahwa Tiese memiliki perasaan yang tulus padanya.
Tapi dia telah meninggalkan dunia ini.
Ronie percaya bahwa sahabatnya yang berambut merah ini bisa mengatasi kesedihannya. Berharap, dia menyimpan kenangan berharga seperti permata jauh di dalam hati dan mulai berjalan maju lagi.
Tapi setetes air mata tumpah dari bulu mata merah ke pipi Tiese, pertanda bahwa pemikiran Ronie barusan tidaklah tepat.
"Tiese…"
Ronie memanggil sahabatnya dan menutup rapat bibirnya dengan telapak tangan, lalu tanpa sengaja berdiri. Dia berteriak kepada Dusolbert yang secara aktif memberikan instruksi di tengah tempat latihan.
"Instruktur Yang Terhormat! Ksatria Junior Schtrinen merasa sakit, tolong biarkan kami meninggalkan latihan hari ini dengan cepat!"
Ksatria berambut pendek melemparkan tatapan seperti panah baja ke arah mereka tapi untungnya hanya mengangguk dalam diam.
Dia dengan cepat membantu Tiese untuk berdiri dan membungkuk sehingga mereka tidak bisa melihat wajahnya, dan kemudian mereka pergi.
Ronie memegang bahu Tiese saat mereka dengan cepat menuruni tangga lebar dan pergi ke taman mawar yang tersebar di halaman belakang Katedral. Mereka mengitari raksaa si tukang kebun yang sebelumnya adalah penjaga penjara dan melewati labirin lorong-lorong dan duduk di bangku kecil yang mereka temukan jauh di dalam.
Saat itu bulan Februari, jadi mawar-mawar belum menghasilkan tunas yang lengkap, dan hanya tanaman merambat dengan daun kecil dan duri yang bergetar ditiup angin dingin.
Tiese yang mencoba menenangkan diri dengan tatapan yang kurang fokus, akhirnya bergumam.
"… Jika aku tetap bersama Renri, aku percaya suatu hari nanti aku bisa melupakannya… tidak, aku berharap begitu."
"Tiese…"
Dengan lembut mengusap punggung Tiese, Ronie merasakan kekuatan meninggalkan tubuh Tiese dan membiarkan kepala Tiese bersandar di bahu Ronie.
"Tapi kau tahu…, dalam senyuman Renri, kata-katanya, dan gerak tubuhnya, aku mencari sesuatu yang mirip dengan Eugeo sepanjang waktu… Renri juga tahu bahwa aku tidak bisa melupakan Eugeo. Dia bahkan mengatakan ini baik-baik saja. Kemudian dia melamarku. Aku sangat senang…, aku senang tapi …"
Sekali lagi, air mata mengalir di bulu mata yang panjang dan jatuh. Kali ini mereka tidak berhenti di dagu, tetesan berat itu jatuh terus ke bawah dan meninggalkan bekas pada pakaiannya. Sambil menangis, Tiese berkata.
"Aku senang tapi aku tidak benar-benar ingin melupakannya. Jauh di lubuk hatiku aku tahu aku ingin kenangan senpai tinggal bersamaku selamanya. Karena itu mengerti … bahwa aku …"
Terengah-engah dengan tenggorokan gemetar, Tiese mendorong wajahnya ke dada Ronie dan berteriak.
"Aku ingin bertemu dengannya… Aku ingin bertemu Eugeo lagi…"!

Ronie memeluk erat punggung teman dekatnya yang tidak mengangkat wajahnya dan seluruh tubuhnya gemetar karena menangis.
Bahkan mata Ronie pun sudah sangat sembab.
Hanya sekitar satu bulan mereka berdua bertugas sebagai pelayan di Sword Mastery Academy.
Tapi bagi mereka, pertemuan itu menentukan takdir mereka. Sungguh keajaiban yang hanya terjadi sekali seumur hidup.
Mereka menerima keajaiban dan bersumpah sejak saat itu untuk tidak mencintai orang lain selamanya.
Itu sebabnya, Ronie akhirnya mengerti, dia dengan egois berpikir bahwa Tiese mencari kebahagiaan berikutnya — tetapi sebenarnya itu adalah keinginan yang tidak bisa dihindari.
Karena, tidak seperti Ronie, Tiese tidak bisa bertemu dengan orang itu lagi. Tidak menyentuh atau berbicara, bahkan menatap diam-diam dari kejauhan tidak mungkin baginya.
Ronie tidak memiliki kata-kata penghibur untuk memberikan sahabatnya yang sedang sedih itu. Sebaliknya, dia terus menepuk punggungnya dan membelai rambutnya.
Air mata Tiese akhirnya berhenti ketika warna malam menyelinap ke taman mawar.
Seolah-olah semua emosinya terkuras, teman dekatnya yang berambut merah menyandarkan kepalanya ke bahu Ronie dan menatap Solus yang tenggelam dengan pandangan kabur.
"… Maaf. Dan terima kasih"
Akhirnya Tiese berkata dengan suara lemah, tapi Ronie sedikit menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Tidak … Aku yang minta maaf, Tiese. Aku … … tidak memperhatikan perasaanmu sama sekali, kupikir kamu ingin bahagia dengan Renri"
"Tidak apa-apa, aku merasa aku akan senang dengan itu sebentar lagi."
Ucap Tiese disertai dengan helaan napas berat dan dilanjut berkata dengan suara yang kuat.
"Aku akan meminta Renri untuk menunggu sebentar lagi. Bahkan setelah beberapa waktu, tidak ada yang berubah, tapi … tapi, aku punya firasat."
"Firasat…?" Tanya Ronie.
"Ya, aku merasa sejak aku melihat mesin naga yang Kirito buat, … sesuatu akan terjadi mulai sekarang, sesuatu akan berubah"
Ronie tiba-tiba teringat saat itu oleh kata-kata Tiese. Langit biru tua di belakang, cahaya perak mengalir ke mana-mana. Dia merasakan ketinggian yang menyakitkan dari penglihatan itu.
Tentunya ada sesuatu dalam pandangan itu yang menandakan perubahan besar.
"… … Ya, aku juga merasa."
Saat Ronie menggumamkan itu, Tiese perlahan mengangguk.
Dua gadis terus duduk di bangku untuk sementara waktu. Dalam beberapa menit, ketika mereka mendengar bel pukul lima, Tiese berbalik, melihat Ronie sekilas dan mengatakan sesuatu yang tidak terduga padanya.
"Jadi, bagaimana dengan dirimu?"
"Eh… apa maksudmu?" Ronie tidak siap dengan pertanyaan itu.
Mata berwarna daun musim gugur Tiese berkedip, bahkan senyum lembut muncul, dan berkata.
"Apakah kamu memberi tahu Kirito sedikit tentang perasaanmu?"
"Tidak … Tidak mungkin, hal seperti itu!"
Ronie berteriak tanpa sengaja, mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Aku tidak akan pernah melakukan itu … Itu tidak mungkin. Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Terusnya.
"Kamu mengkhawatirkanku jadi boleh dong jika aku melakukan hal yang sama?" Tanya Tiese.
Tapi Ronie terus menyangkal untuk menjawab pertanyaan serius itu.
"Bukan seperti itu, tidak apa-apa… Kirito sudah memiliki Asuna. Selain itu, ada Alice yang seharusnya kembali ke dunia ini suatu hari nanti, kemudian Jenderal Human Guardian Army, Serlut… Atau mungkin, Fanatio-sama…"
"Begitu banyak Ronie"
Tiese mendesah, kagum.
"Kirito belum menikah dengan siapa pun dari mereka, dan sekarang status senpai lebih tinggi dari seorang kaisar, jadi jika Anda melihat ke Empire's Fundamental Law, dia bisa memiliki … tiga istri? Empat mungkin?
Ilustrasi Ronie berbincang dengan Tiese
"Tidak mungkin, Kirito tidak akan melakukan itu!"
Ronie berteriak lagi dan bangun dengan tiba-tiba untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.
"Aku baik-baik saja! Tiese, jaga dirimu dulu!"
Setelah mendengar perkataan Ronie itu, Tiese sekali lagi menghela nafas, bangkit dari bangku dan berdiri di sampingnya dan berkata.
"Yah, Kirito sendiri tidak mungkin mengatakan hal seperti itu untuk saat ini… Ayo kembali Ronie. Shimosaki lapar."
"Ya… aku baru saja akan mengatakannya…". Sambung Ronie.
Kemudian Ronie melihat pagar tanaman yang sama di kiri dan kanan dan berkata.
"… Tiese, apa kamu tahu jalan pulang?"
"… Aku menangis, aku tidak ingat apa-apa." Jawab Tiese.
Mereka saling memandang wajah satu sama lain dan menghela nafas lagi berdiri di kedalaman labirin mawar besar.

Malam harinya.
Berbaring di tempat tidur di kamarnya di lantai 22 Katedral, Ronie tidak bisa tidur.
Itu semua karena hal-hal aneh yang dikatakan Tiese tadi.
Dan dia segera merasakan ketidaksenangan terhadap gadis di kamar sebelah, dipisahkan darinya oleh dinding batu yang tebal. Tapi dengan cepat, dia merenungkan bahwa dia mungkin juga mengalami malam tanpa tidur.
Bagaimanapun, seorang pria melamar Tiese untuk pertama kalinya dalam hidupnya hari itu.
Di tempat mana di Katedral itu terjadi? Kata-kata seperti apa yang dia pilih?
Imajinasinya segera mengembara ke arah yang salah.
"Jika, misalnya … Dengan kebetulan Kirito melamarku. Tempat seperti apa yang akan dia pilih untuk itu? Lantai 95 Katedral, Watchtower of the Morning Star… Atau mungkin halaman belakang Sword Mastery Academy yang mengesankan… Tidak, mungkin di awan di atas, menggunakan teknik terbang…"
Ronie menghela nafas berat, lalu menampar pipinya dan melindungi pikiran ini.
"Saya harus mengatakan pada diri sendiri bahwa bahkan membayangkan hal-hal seperti itu tidak boleh dilakukan. Hanya ada satu hal yang bisa saya harapkan. Hari-hari damai itu akan berlanjut mulai sekarang. Tidak ada lagi yang bisa diinginkan. Tidak ada apa-apa."
Dia berbalik, menjatuhkan kepalanya ke bantal, akhirnya kelopak matanya tertutup, dan ia pun tertidur dalam dinginnya angin malam.

Komentar (0)

Memuat komentar...