Sword Art Online 020: Moon Cradle II

Bagian 4

Estimasi waktu baca: 5 menit

Ronie bergegas masuk ke kandang naga dua jam lebih lambat dari biasanya dan disambut oleh Tsukigake yang sedikit merajuk.
"Kwoooo!"
"Maaf, maaf. Aku tahu aku terlambat."
Begitu ia membuka gerbang setinggi satu mel, naga muda yang diselimuti bulu halus berwarna kuning pucat itu berlari ke arahnya sembari mengepakkan sayap. Ronie menangkap Tsukigake dengan kedua lengannya, dan naga muda itu menekan kepalanya—beserta tonjolan tanduknya yang masih bulat—ke pangkal leher Ronie.
Di kandang sebelah, Tiese menerima sambutan yang sama energiknya dari Shimosaki. Untuk saat ini, kedua naga itu masih cukup kecil hingga kedua gadis itu masih sanggup mengangkatnya, meski nyaris tak kuat, tetapi hal itu takkan mungkin lagi dilakukan setahun dari sekarang.
"Nona Arabel, boleh saya bicara sebentar?"
Suara di balik bahunya membuat Ronie terlonjak. Ia berbalik dan melihat seorang pria jangkung dan ramping. Pria itu mengenakan pakaian dari kain misterius dengan pola menyerupai sisik, dan sabuk di pinggangnya menopang sejumlah kantong kulit dengan berbagai ukuran. Di tangannya terdapat gagang kayu panjang semacam tombak, tetapi ujungnya bukan mata logam melainkan sikat besar dari rambut yang tampak kaku.
Wajahnya yang memiliki pipi cekung terlihat sedikit lebih tua dari Deusolbert, tapi usia sebenarnya adalah misteri. Dia telah bertanggung jawab atas kandang naga katedral selama bertahun-tahun, dan konon, seperti Airy, hidupnya telah dibekukan melalui seni sakral.
"Ya? Ada apa, Tuan Hainag?" tanya Ronie.
Sang kepala kandang mengulurkan tangan yang kurus namun berotot kencang. Ia menggaruk dagu naga itu.
"Belakangan ini, terkadang saat saya memberi Tsukigake ikan, dia menyisakan sedikit. Naga memang punya selera masing-masing, tapi kau tidak bisa memilih makanan di medan perang. Sebaiknya sifat pilih-pilih makanan itu diperbaiki selagi mereka masih muda."
"A… Aku mengerti. Hei, Tsukigake, kau tidak boleh pilih-pilih makanan!" ujarnya, sedikit memarahi naga muda itu. Tsukigake sepertinya mengerti ucapan Ronie, ia menurunkan telinga berbulunya dan mendengkur pelan.
"Bagaimana cara mengatasi naga yang tidak suka ikan?" tanyanya.
"Cara paling efektif adalah dengan menangkapkan ikan untuknya sendiri. Biasanya mereka akan sembuh setelah memakan ikan segar yang masih hidup, tapi itu sulit dilakukan di katedral. Dulu, saya membawa naga-naga muda ke danau di luar kota dengan izin Sir Bercouli."
"S-segar dan hidup…? Kalau begitu akan saya tanyakan pada Komandan Fanatio atau Kiri… atau Prime Swordsman apakah saya boleh mencobanya."
"Silakan. Itu saja."
Sambil membungkuk kecil, Kepala Kandang Hainag berjalan lebih jauh ke dalam bangunan menuju naga-naga dewasa. Di dekatnya, Tiese menunduk menatap pasangan naganya sendiri dan berkata, "Menurutmu mereka bisa menangkap ikan sendiri?"
"Aku bahkan tidak tahu apakah mereka bisa berenang…"
Sementara itu, kedua naga kecil tersebut mengibas-ngibaskan ekor ke sana kemari, jelas bersemangat memikirkan akan pergi keluar.
"Baiklah, baiklah.."
Mereka meninggalkan kandang dan menurunkan naga-naga itu di halaman rumput yang mengelilingi bangunan. Makhluk-makhluk itu segera berlarian, memekik dan melompat-lompat riang. Melihat tingkah mereka membuat kedua gadis itu tersenyum, tetapi itu tidak cukup untuk membuat mereka ikut berlarian mengejarnya. Saat ini juga, Kirito dan Asuna masih berbicara dengan para ksatria senior jauh di atas gedung katedral.
Mereka pergi ke pos jaga terdekat untuk menanyakan nama pejabat Centoria Selatan yang membawa tiga goblin gunung pergi dengan keretanya, tapi mereka tidak mendapat jawaban. Mereka memang menemukan pria yang berjaga di pintu penginapan, dan dia berkata bahwa perintah pemindahan yang ditunjukkan pejabat itu untuk para goblin memiliki stempel pemerintah yang sah.
Langkah mereka selanjutnya adalah bertanya langsung ke pemerintah kota, tapi itu tidak akan mudah. Pengaruh bangsawan tinggi masih kuat di antara pemerintah daerah, dan mereka tidak sejalan dengan Human Unification Council. Kantor Centoria Selatan khususnya mengambil sikap keras setelah mereka didepak dari kendali atas kasus pembunuhan Yazen. Dengan asumsi bahwa perintah tertulis resmi diperlukan untuk menyelidiki pemindahan goblin, Kirito kembali ke Katedral Pusat untuk menyiapkan materi yang diperlukan dari dewan dan Integrity Knight.
Fanatio dan Deusolbert tidak akan memprotes perintah untuk menyelidiki pemerintah kota. Tapi Kirito sudah yakin bahwa perintah pemindahan dan pejabat yang dilihat penjaga adalah palsu yang diatur oleh pelaku. Masalah sebenarnya adalah apa yang harus dilakukan setelah itu.
Kirito merasa bertanggung jawab karena para goblin telah dilarikan dari bawah hidungnya, dan dia tidak ingin menyerahkan pencarian dan penyelamatan kepada orang lain. Tapi nyawa Prime Swordsman baru saja terancam (meski secara tidak langsung) di Istana Obsidia, jadi Fanatio dan yang lainnya pasti akan berang mendengar saran bahwa mereka harus duduk diam dan membiarkan Kirito melakukan segalanya.
"…Aku bertaruh pertemuan itu sangat alot…," gumam Tiese, yang jelas memikirkan hal yang sama.
Ronie mengangguk. "Mungkin harus berlanjut sampai besok."
"Mari berharap dia tidak menyelinap keluar tengah malam…"
Tapi itu terdengar sangat mungkin terjadi. Ronie ingin Kirito bebas melakukan sesukanya, tapi sebagai mantan pelayannya, dia perlu menjaganya tetap lurus saat situasi menuntutnya. Dia menatap monumen putih kapur itu dan berkata, "Aku akan minta Nona Asuna mengawasinya dengan ketat."
Tiese hendak menjawab itu, tapi tidak ada kata yang keluar, hanya hembusan napas. Ronie menoleh dan melihatnya mengatupkan bibir dengan ekspresi seperti sedang mencari kata-kata.
"…Apa?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa."
Naga-naga muda, yang kesal karena kurangnya perhatian yang mereka terima, menciap pada keduanya dalam upaya memancing mereka mengejar.
"Baik, baik, tapi kita tidak akan berguling-guling di rumput ya!" seru Ronie saat dia berlari menuju Tsukigake dan Shimosaki.

Komentar (0)

Memuat komentar...