Sword Art Online 020: Moon Cradle II

Bagian 6

Estimasi waktu baca: 63 menit

Seiring hari berlalu, angin utara bertiup kian hangat, mengusik lembut permukaan air danau yang biru. Cahaya Solus memantul pada riak-riak air, menjelma menjadi kerlipan warna yang rumit dan mungil.
Tersembunyi di antara bukit-bukit landai di luar Centoria Utara, es di Danau Norkia baru saja mencair setengah bulan yang lalu, tetapi rumput baru sudah mulai bertunas di sepanjang tepiannya, dan bunga-bunga kuning mungil menambahkan sedikit warna sederhana di sana.
Wilayah ini memiliki tanah paling subur di dekat ibu kota dan menyuguhkan pemandangan indah di setiap empat musim, tetapi sudah lama sekali--bahkan lebih dari seratus tahun--sejak rakyat jelata atau bangsawan rendah diizinkan mendekatinya. Hal itu karena tepian Danau Norkia selalu menjadi bagian dari tanah pribadi terbesar yang dimiliki para bangsawan: tanah milik kekaisaran.
Setelah Rebellion of the Four Empires, semua tanah pribadi telah dibuka, dan kini dianggap sebagai lahan bebas yang bisa dilintasi siapa saja untuk dinikmati. Namun karena puncak musim semi masih jauh, tak ada sosok lain di tepi air kecuali Ronie, Tiese, dan kedua naga mereka.
Berdasarkan kalender Human Era, hari itu tanggal 24 Februari tahun 382. Para gadis itu menyelesaikan sesi latihan mereka di pagi hari, dan dengan izin guru mereka, serta Deusolbert, Komandan Fanatio, dan bahkan Prime Swordsman, mereka membawa Tsukigake dan Shimosaki keluar dari area katedral.
Kirito kecewa karena tak bisa ikut, perasaan yang juga dirasakan Ronie, tetapi ini bukanlah perjalanan untuk bersenang-senang. Mereka hendak menguji apa yang disarankan Kepala Kandang Hainag kemarin.
Saat Solus mencapai puncaknya, kedua naga muda yang sedang bermain riang di rerumputan menghentikan kegiatan mereka dan berlari kecil menghampiri Ronie dan Tiese, yang sedang duduk di bebatuan tepi danau, lalu bergantian menciap pada mereka. Setelah puas berlarian, mereka lapar.
Untuk berjaga-jaga, mereka membawa sedikit daging kering dan buah untuk makan siang para naga di kereta kuda kecil yang Tiese ajukan diri untuk kemudikan ke sini, meski caranya agak canggung. Namun Ronie tidak mengeluarkan dendeng itu untuk mereka.
"Tsukigake, Shimosaki, hari ini kalian akan menangkap makan siang kalian sendiri."
"Kyuru..?"
Tidak jelas seberapa banyak naga-naga itu mengerti ucapan manusia. Mereka memanjangkan leher dengan rasa ingin tahu bercampur keraguan, yang membuat Tiese terkekeh dan bangkit dari batu.
"Sini, ikuti aku!" ujarnya, melintasi rumput muda yang pendek menuju tepian air. Tsukigake dan Shimosaki mengejarnya, ekor kecil mereka bergoyang-goyang. Ronie diam-diam mengikuti di belakang mereka.
Tiese berhenti di tepi danau di mana batuan putih tersingkap dan mengintip ke dalam air.
"Ooh, itu dia," gumamnya. Ronie menghampiri di sebelahnya dan melihat banyak bentuk berenang cepat di air jernih. Itu adalah kawanan ikan yang telah melewati musim dingin di bawah es. Para naga berjongkok dan menjulurkan leher panjang mereka di antara kedua gadis itu.
"Lihat, Tsukigake, itu ikan. Aku bertaruh rasanya pasti enak sekali," bisiknya pada naga yang pemilih itu, yang menatapnya dan menciap ragu. Saat dia mencoba menggeliat mundur, Ronie mengulurkan tangan untuk menahan bagian belakang tubuh naga itu dan menambahkan, "Kalau kau tidak menangkap ikan hari ini, kau tak dapat makan siang."
"Krruu..." Rengek Tsukigake, seolah berkata Itu tidak adil! Tingkahnya sangat lucu hingga Ronie ingin tertawa, tapi ini terlalu penting. Ia memasang wajah galak, bertekad berperan sebagai tuan yang tegas.
Sementara Ronie dan naganya saling tatap, Shimosaki mengeluarkan pekikan tinggi, mengepakkan sayap beberapa kali sebagai ancang-ancang, lalu melompat ke atas air. Ia melipat sayap di udara, meluruskan leher, dan terjun dengan kepala lebih dulu ke danau.
Ikan-ikan yang berenang di dasar air sedalam tujuh puluh cen itu berpencar ke segala arah. Shimosaki mengejar salah satunya dengan garang, meliuk dan berputar dengan ketangkasan bawah air yang mengesankan.
Meskipun tubuh naga dikhususkan untuk terbang, sarang naga alami di pelosok kekaisaran barat ditemukan di daerah pegunungan berbahaya yang dikelilingi danau luas yang puluhan kali lebih besar dari Danau Norkia. Di sana, naga liar berenang bebas menangkap ikan. Tsukigake dan Shimosaki, yang lahir di katedral, hanya pernah berenang di kolam dangkal di dalam dindingnya, tetapi mereka tahu caranya secara naluriah.
Hampir semenit kemudian, Shimosaki menyeruak keluar dari air, mengepakkan sayap kecilnya dengan kencang hingga ia mendarat kembali di tepian. Sebelum Tiese dan Ronie sempat menghindar, ia menggoyangkan badan dengan kuat, memercikkan air dari bulu halusnya yang basah kuyup.
"Aaaah!" teriak Ronie, memalingkan wajah. Ia melihat sesuatu berkilau di mulut Shimosaki dan mengamatinya lebih dekat.
Itu ikan trout, berwarna perak dengan bintik merah kecil. Meski ikan itu terlihat kecil di dasar air, dari dekat ia bisa melihat panjangnya hampir dua puluh cen. Tsukigake mendekat untuk mengendus trout yang menggelepar di rahang pasangannya. Tapi kemudian si pemburu sukses itu menengadahkan kepala ke belakang dan menelan ikan itu bulat-bulat.
"Kyurrrr!" ciap naga kecil yang puas itu.
Tiese hanya menggelengkan kepala. "Kau sudah susah payah menangkapnya; kenapa tidak menikmati rasanya sedikit lebih lama?"
Tapi Shimosaki hanya menggoyangkan ekor dan melompat kembali ke air, seolah berkata ini baru permulaan. Tsukigake melihat permukaan air tapi berhenti di situ.
"Ayo, Tsuki, kau pasti bisa!" bujuk Ronie. Naga itu menaik-turunkan tubuhnya beberapa kali, terjebak antara rasa lapar dan keraguan. Akhirnya, ia memekik "Krruu!" dan melompat ke air.
Sosok kuning pucat itu agak lebih canggung di danau dibanding Shimosaki, tapi dia berusaha sebaik mungkin. Kawanan trout itu cepat dan licin, melesat ke kiri dan kanan untuk menghindar. Tsukigake lebih pendiam dan tenang daripada pasangannya, dan Ronie mulai bertanya-tanya apakah menyuruhnya menangkap ikan langsung adalah rintangan yang terlalu tinggi, ketika Shimosaki tiba-tiba berbalik untuk menghadang kawanan trout itu. Ikan-ikan itu berhenti mendadak dan panik, dan saat itulah Tsukigake menerjang menembus kawanan tersebut.
Naga muda itu melesat keluar dari air dan kembali ke tepian, kini dengan membawa ikan trout megah sepanjang dua puluh lima cen di mulutnya.
"Krer!" kicaunya, dengan bangga memamerkan hasil tangkapannya.
Ronie berseru, "Kau berhasil! Kerja bagus, Tsukigake!"
Ia memberi naga itu tepuk tangan meriah, tetapi ini baru bagian mudahnya. Tsukigake sering menyisakan ikan di kandang, jadi akankah dia benar-benar memakan trout yang dia tangkap? Kepala Kandang Hainag mengklaim bahwa memakan ikan segar akan menyembuhkan sifat pilih-pilihnya, tapi benarkah begitu?
Ronie mengamati naganya dengan cemas. Tsukigake mengerjap beberapa kali, menimbang-nimbang, lalu menjulurkan leher ke arah tuannya dan menjatuhkan trout itu ke rumput. "Krr!"
Naga itu tidak bermaksud keras kepala, tapi Ronie tak bisa menahan helaan napas. Jadi dia suka menangkap ikan tapi tetap tak suka memakannya. Ronie hendak memarahinya, bilang kalau dia takkan dapat makan siang jika tidak makan—ketika Tiese menyela.
"Tidakkah menurutmu dia memberikan ikan itu padamu, Ronie?"
"Hah...?" Ia mengerjap, lalu bertanya pada naga kecil itu, "Apa ikan itu untukku?"
Tsukigake berseru "Krrrr!" seolah senang akhirnya dimengerti.
"Oh... terima kasih, Tsuki," ujarnya, mengulurkan tangan mengelus kepala naga yang berbintik tetesan air itu. Dia memungut ikan yang menggelepar dan melompat-lompat itu dengan tangan satunya dan tersenyum. "Aku akan jadikan ini makan siangku. Tapi yang berikutnya harus kau makan sendiri ya."
"Krr!" ciapnya, melompat kembali ke air.
Sejak saat itu, kemajuan para naga tak terbantahkan. Alih-alih mengejar trout secara individu, mereka membuat satu naga mengejar kawanan ikan, sementara yang lain menghadang dari arah berlawanan. Saat ikan-ikan panik, terjebak di antara dua pemangsa, masing-masing naga berhasil menangkap mangsanya sendiri.
Sebelum ikan-ikan itu akhirnya berenang ke perairan lebih dalam untuk meloloskan diri, Tsukigake dan Shimosaki masing-masing telah menangkap lima ekor. Mereka memakan tiga hasil tangkapan dan memberikan dua sisanya kepada gadis-gadis itu.
Para manusianya membakar trout itu di atas api unggun kecil dari ranting kering; sangat sederhana dibandingkan hidangan lezat yang dimasak dengan kertas ala Vice-Prime Swordsman kemarin, tapi karena ikannya begitu segar, dan para naga menangkapnya khusus untuk makan siang, rasanya sama lezatnya.
Seperti yang dikatakan kepala kandang, cara ini tampaknya menyembuhkan kebiasaan pilih-pilih Tsukigake, sementara Shimosaki memang tidak punya masalah sejak awal. Setelah selesai makan, naga-naga muda itu mulai bermain-main di sekitar bukit kecil lagi. Halaman katedral memang luas, tapi para naga jelas lebih menikmati berada di alam terbuka.
Ronie menghirup udara segar, berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia harus membawa Tsukigake ke sini lebih sering.
Di bukit dekat situ, kuda-kuda merumput dengan tenang di tempat mereka ditambatkan ke pohon. Sekitar sepuluh unggas air putih membentuk kawanan kecil agak jauh di danau, sementara kupu-kupu yang baru keluar kepompong beterbangan dari bunga ke bunga. Tetap saja, tak ada orang lain selain dua apprentice knights itu.
"Setelah kita membuka tanah pribadi, orang akan mengira lebih banyak warga kota yang berkunjung ke sini," gumam Ronie.
Tiese berhenti minum teh dari kantinnya untuk mendengus. "Oh, Ronie, kau terlalu terbiasa tinggal di katedral sekarang. Hari ini bukan hari libur, jadi orang-orang takkan begitu saja meninggalkan kota di tengah hari."
"Oh... b-benar juga."
Anak-anak pasti sedang belajar di sekolah, dan orang dewasa sibuk dengan pekerjaan atau tugas rumah jam segini. Sebagai murid, begitu selesai latihan pagi, para ksatria memiliki kebebasan lebih dalam jadwal harian mereka. Aku harus ingat untuk tidak menyia-nyiakan hal itu, katanya pada diri sendiri.
"Oh, tapi dari yang kudengar," lanjut Tiese tiba-tiba, "tak ada yang datang ke tanah kekaisaran ini, bahkan di hari libur. Padahal tanah pribadi lainnya begitu populer sampai ada antrean di gerbang."
"Ohhh...," gumam Ronie. Ia melihat sekeliling lagi.
Norlangarth menyebar keluar dari Centoria seperti kipas. Jadi makin dekat dengan ibu kota, makin sempit bentangan tanahnya. Tempat ini hanya sepuluh kilor dari kota, dan Everlasting Walls, yang memisahkan kekaisaran, masih terlihat jelas di timur dan barat.
Tanah pribadi kaisar mencakup seluruh lahan di sisi barat jalan utama yang mengarah ke utara dari Centoria, sementara tanah bangsawan lainnya berjejer di sepanjang sisi timur. Dengan kata lain, tanah kekaisaran tidak serta-merta lebih jauh letaknya, jadi itu bukanlah alasan yang menghalangi pengunjung datang.
Ronie menatap sahabatnya dan melihat cuping hidung Tiese berkedut sedikit—ekspresi yang muncul saat ia benar-benar ingin mengatakan sesuatu. Kendati memiliki firasat buruk, Ronie tetap melontarkan pertanyaan yang jelas-jelas diharapkan oleh Tiese.
"...Kenapa tanah kekaisaran ini tidak begitu populer?"
Tiese berdehem dengan gaya teatrikal dan menunjuk ke tepian jauh Danau Norkia. "Lihat mansion di seberang sana itu?"
"...Ya." Ronie mengangguk.
Terdapat sedikit hutan di sepanjang tepian jauh itu, dengan puncak menara bangunan hitam menyembul dari tengah-tengahnya. Bangunan itu lebih mirip manor istana ketimbang mansion biasa; tempat di mana para kaisar Norlangarth menginap saat mengunjungi tanah pribadi mereka. Sebelum pemberontakan, selalu ada sekitar dua puluh prajurit dan pelayan yang tinggal di sana, tetapi kini bangunan itu sepenuhnya terlarang, dan seluruh areanya dirantai untuk mencegah pengunjung masuk.
"Mansion kaisar, kan? Ada apa dengannya?" tanyanya, melihat ekspresi Tiese yang berubah keruh menjadi sesuatu yang lebih menyeramkan.
"...Kudengar kau bisa melihat sesuatu di sana."
"Melihat sesuatu? ...Seperti apa?"
"Kau tahu maksudku," gumam Tiese, mencondongkan tubuh mendekati telinga Ronie. "Hantu."
“……”
Awalnya Ronie tak begitu yakin bagaimana harus bereaksi. Ia diam selama beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, "Hantu siapa?"
Wajah Tiese yang terlalu serius akhirnya pecah. Ia berseru, "Yah, ayolah, kau tidak asyik! Kau kan harusnya ketakutan!"
"Biar kutebak: Kau sudah mempersiapkan diri seharian untuk bilang begitu."
"Tentu saja! Aku kan jarang dapat kesempatan menakut-nakutimu, Ronie," keluh Tiese.
Ronie menyodok sikutnya dan bertanya, "Itu bukan cuma karanganmu, kan? Di mana kau mendengarnya?"
"Hari libur terakhir... saat kau dan Kirito ada di tanah kegelapan, aku pergi belanja ke pasar di distrik enam, dan pria di toko roti memberitahuku. Katanya orang-orang suka mengunjungi bekas tanah pribadi sekarang, jadi roti keras bekal makan siangnya laku keras, tapi tanah kekaisaran bukan tujuan populer, dan rupanya itu karena ada hantu di dekat mansion."
"Benarkah? Mereka percaya hantu sekarang...?" heran Ronie, menggelengkan kepala.
Menurut cerita lama yang didengarnya saat kecil, memang ada hantu yang mengacau di berbagai kota dan desa sebelum Gereja Axiom berdiri. Namun semua itu telah diusir oleh para uskup Gereja dan Integrity Knights, dan kini tanah ini damai, begitu kata semua kisah itu. Seumur hidupnya, Ronie belum pernah melihat apa pun yang mirip hantu menyeramkan dari cerita-cerita itu.
"Lagipula, pertempuran yang sebenarnya terjadi di istana distrik pertama, dan satu-satunya yang mati adalah kaisar karena tidak menyerah, para jenderal bangsawan, dan kepala pelayan istana, kan? Kenapa bisa ada hantu di sekitar mansion tanah pribadi di luar kota?" ujarnya, agak lebih cepat dari yang seharusnya. Hal itu mengejutkan Tiese, yang segera pulih dan menyunggingkan seringai kecil.
"Tunggu sebentar, Ronie. Apa kau mulai agak takut?"
"A-aku...? Tidak, tentu saja tidak!"
"Oh ya? Kalau begitu... kenapa kita tidak pergi memeriksanya?"
"Hah?" Ia menjauhkan tubuh, tersentak oleh saran itu. "Me-memeriksa... mansion itu?"
"Tentu saja," kata Tiese bangga, membusungkan dada. "Dengar, kalau rumor menyeramkan ini terus menyebar, itu akan berdampak pada rencana Dewan Unifikasi untuk menggunakan kembali tanah pribadi ini, kan? Murid atau bukan, kita ini Integrity Knights, jadi kalau kita sadar ada sesuatu yang perlu diselidiki, bukankah seharusnya kita yang melakukannya?"
Ini sangaat mencurigakan, batin Ronie, tapi setidaknya, temannya itu benar. Instruktur Deusolbert sering memberi tahu mereka bahwa mereka kini adalah ksatria, dan mereka tak boleh hanya berdiri menunggu perintah sepanjang waktu. Seluruh jadwal sorenya dialokasikan untuk bersantai di danau demi memperbaiki kebiasaan makan Tsukigake, dan hari masih siang.
Ia menahan diri untuk tidak menghela napas dan mengalihkan pandangan dari temannya ke langit selatan. Dari sudut ini, Centoria tersembunyi dari pandangan oleh sebuah bukit, tetapi bahkan dari jarak sepuluh kilor, pilar agung Central Cathedral berdiri terang menantang langit biru. Kirito dan Asuna mungkin sedang berada di sana saat ini, menunggu dengan tidak sabar laporan dari kantor kota Centoria Selatan. Rencananya adalah menerima hasil penyelidikan tersebut—yang kemungkinan besar sia-sia—lalu mengadakan pencarian besar-besaran di seluruh Centoria Selatan. Namun jika keadaan darurat muncul sebelum Ronie dan Tiese kembali, ksatria elit Renly seharusnya terbang ke sini menunggangi naga tunggangannya, Kazenui, untuk memberitahu mereka.
"...Baiklah," ujar Ronie dengan nada setenang mungkin yang bisa ia upayakan. Ia melirik ke arah para naga, yang sedang berlarian penuh energi di ladang dekat situ. "Tapi bagaimana dengan mereka?"
"Kenapa tidak kita ajak saja? Hantu harusnya takut pada hewan suci seperti naga, kan? Anggap saja memang benar ada hantu di sana."
Sulit menebak seberapa serius Tiese memercayai hal ini, tapi melihat bahwa ia takkan mengalah, Ronie pun menurut. Hanya Integrity Knights yang bisa memasuki mansion yang terkunci atas perintah Gereja Axiom, dan takkan ada makhluk berbahaya seperti beruang atau serigala di sini, apalagi hantu. Jadi aman-aman saja membawa naga-naga muda itu serta.
"Kurasa kau benar..."
"Kalau begitu sudah diputuskan!" seru Tiese, melompat bangkit dari batu yang ia gunakan sebagai kursi.
Ronie pun ikut bangkit berdiri. Ia mengusap gagang Moonbeam Sword yang tergantung di sisi kirinya seraya berkata, "Kalau tahu bakal begini, mestinya kau juga memilih pedang baru untuk dirimu sendiri."
Sahabatnya menatap pedang jatah standar Human Guardian Army miliknya lalu mengangkat bahu. "Mmm, mungkin juga sih, tapi aku suka pedang ini... Rasanya sudah begitu menyatu denganku sekarang..."
Hal itu bisa dimengerti. Ronie sendiri merasa canggung beralih ke pedang yang terasa asing, dan sulit rasanya melepas pedang lama. Ia tak bisa memaksa temannya untuk berganti senjata.
Tiese memberinya cengiran kecil lalu berbalik ke arah para naga. "Shimosaki! Tsukigake! Ke sini! Kita akan jalan-jalan sebentar!"
Naga-naga mungil itu, yang kini penuh energi setelah kenyang menyantap ikan segar, mengepakkan sayap kecil mereka dan menciap serempak.
Break
Untuk pergi dari tepian timur Danau Norkia ke barat, tempat mansion terlarang itu berada, mereka harus memutar cukup jauh lewat utara atau selatan.
Ujung selatan danau merupakan lahan basah, jadi mereka memilih lewat utara. Tanah di sini berupa padang rumput kering yang lebih mudah dilalui. Meski begitu, itu berarti mereka harus berjalan hampir tiga kilor memutari danau yang luas. Mereka sempat mengkhawatirkan stamina para naga, tetapi makhluk dengan nilai hidup alami tertinggi di dunia itu tampak baik-baik saja berlari kecil mengikuti perjalanan tersebut.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka mencapai ujung utara danau, tempat sebuah sungai mengalir masuk ke dalamnya, yang di atasnya terbentang jembatan penyeberangan batu yang kokoh. Sungai itu adalah anak Sungai Rul, yang berhulu di Pegunungan Akhir di tepian utara Norlangarth. Aliran utama sungai tersebut mengikuti jalan raya langsung menuju Centoria, mengisi saluran air kota dengan air jernih sebening kristal.
Menurut cerita Kirito dan Eugeo semasa di akademi dulu, hulu Sungai Rul letaknya sangat dekat dengan Desa Rulid, tempat tinggal mereka. Ketika Tiese menyarankan, Kenapa kalian tidak membuat perahu kecil saja dan menaikinya sampai ke Centoria? mereka berdua terdiam cukup lama, lalu mengakui, "Kami tak pernah terpikir soal itu."
Secara realistis, pasti akan ada bagian dangkal, jeram, dan mungkin beberapa air terjun di sepanjang jalan, jadi itu takkan jadi perjalanan yang mudah. Namun, Kirito dan Eugeo sepakat bahwa kapan pun mereka pulang mengunjungi Rulid nanti, mereka harus menggunakan cara ini untuk kembali ke ibu kota. Tiese dan Ronie dengan penuh semangat memimpikan perjalanan bersama mereka itu, tetapi itu adalah petualangan yang takkan pernah terwujud.
Mereka melompat dari bukit berumput ke jalan setapak batu yang megah dan menyeberangi jembatan. Rute ini akan membawa mereka langsung menuju mansion tersebut. Tak lama kemudian, sebuah ladang yang sangat luas tampak di sebelah kanan. Terdapat barisan semak yang tertata rapi—kemungkinan tanaman anggur untuk pembuatan wine.
Ayah Ronie, seorang bangsawan tingkat rendah, pernah berkata bahwa jika kebun-kebun anggur di tanah pribadi kaisar dan para bangsawan tinggi diubah menjadi ladang gandum, hasilnya dapat memenuhi kebutuhan gandum tahunan seluruh Centoria Utara, tanpa perlu repot-repot mengirimnya dari wilayah penghasil gandum di utara. Kini setelah melihat sendiri luasnya lahan tersebut, Ronie menyadari bahwa ayahnya tidak melebih-lebihkan.
Dan wine kaisar dipilih hanya dari buah anggur kualitas terbaik yang tumbuh di antara tanaman anggur yang tak terhitung jumlahnya ini, tanpa ada sisa produksi yang mungkin bisa dicicipi oleh rakyat jelata. Menurut Hana, yang pernah menjadi koki pribadi Administrator, tuannya tidak terlalu terobsesi pada makanan mewah, jadi beliau sudah puas dengan wine yang dijual di toko-toko ibu kota—yang sejujurnya juga sudah sangat berkualitas. Namun kaisar Norlangarth diam-diam bangga karena wine yang diminumnya lebih istimewa daripada milik sang Pontifex.
"...Kira-kira apa yang akan terjadi pada kebun-kebun anggur ini, ya?" gumam Tiese saat mereka berjalan melewatinya. Ronie memikirkan hal itu sembari memiringkan kepalanya.
"Proyek pemanfaatan kembali tanah pribadi masih belum memutuskan apakah akan membiarkannya sebagai kebun anggur atau mengubahnya menjadi ladang gandum. Dari yang kudengar, sebagian hamba sahaya yang dulu tinggal di tanah ini dan merawat tanaman-tanaman itu masih ingin kembali dan terus menanam anggur."
"Tapi dengan lahan seluas ini, kau akan butuh banyak orang untuk mengelolanya... Kudengar masalah serupa juga terjadi di tanah pribadi kekaisaran lainnya."
"Yazen dulu tinggal di tanah pribadi Sothercrois. Kira-kira apa pilihannya, ya?" tanya Ronie kali ini.
Tiese berpikir sejenak lalu berkata, "Berdasarkan apa yang dilihat Nona Asuna dalam past-scrying art, Yazen mengatakan sesuatu seperti 'Aku bukan hamba sahaya lagi', jadi tebakanku dia tidak ingin kembali."
"Begitu ya... masuk akal. Dia baru saja menemukan Tugas Suci baru untuk dirinya sendiri..."
Mereka terdiam setelah itu, berjalan di bawah hangatnya sinar matahari yang lembut. Semilir angin yang berembus melalui kebun anggur terbengkalai itu mengacak bulu-bulu naga muda yang berjalan sedikit di depan kedua gadis itu. Tanaman anggur yang berpilin itu telah kehilangan seluruh daunnya, tetapi sebentar lagi tunas hijau baru yang cerah akan bersemi dari setiap cabangnya. Agar kebun anggur itu tetap berfungsi, mereka membutuhkan orang untuk mulai memangkas ribuan tanaman rambat itu saat waktunya tiba.
"Dengar, Tiese... jika tidak ada cukup orang untuk melakukan pekerjaan itu...," gumam Ronie dengan tatapan menerawang. Namun ia tak menyelesaikan pemikiran itu, dan ketika Tiese mendesaknya lewat tatapan mata, ia hanya berkata, "T-tidak, lupakan saja."
Sebenarnya, ia hendak menyarankan, Bagaimana jika kita memindahkan semua goblin yang menderita di pelosok Dark Territory dan mempekerjakan mereka untuk merawat tanaman-tanaman ini?
Namun itu sama saja dengan menggantikan posisi para hamba sahaya yang dipaksa menjalani kehidupan menyedihkan di tempat ini dengan para goblin. Tentu saja kali ini bukan perbudakan paksa, dan akan ada upah yang setimpal dengan jumlah pekerjaannya, tetapi dalam artian mendatangkan mereka ke sini untuk melakukan kerja kasar, sulit untuk tidak melihat hal ini sebagai semacam perbudakan.
Akan tetapi, jika dipikir-pikir lagi...
Sebagian besar orang di dunia manusia dipaksa memulai Tugas Suci mereka pada usia sepuluh tahun—dan mulai bekerja. Anak-anak yang bisa melanjutkan ke sekolah tinggi, seperti Ronie dan Tiese, adalah pengecualian, dan bahkan bagi mereka, jika tidak menjadi apprentice Integrity Knights, satu-satunya pilihan mereka hanyalah bergabung dengan tentara atau menikah dengan seseorang yang dipilihkan orang tua dan menjadi ibu rumah tangga.
Jika mereka tak bisa memilih masa depan mereka sendiri, apa beda mendasarnya dengan para mantan hamba sahaya?
Ronie menghentikan langkahnya, begitu bingung oleh pertanyaan-pertanyaan baru yang tak pernah ia pertimbangkan sebelumnya. Tepat saat itu, Tiese berseru, "Oh, lihat! Gerbangnya kelihatan!"
Ia mendongak kaget dan melihat ke arah yang ditunjuk Tiese, jauh di ujung jalan. Terdapat gerbang besi megah yang menjulang tinggi dan gelap. Di baliknya terhampar barisan pepohonan kuno nan rimbun yang menyerap cahaya Solus, membuat jalan setapak di bawahnya menjadi gelap.
English Text: They crossed the last hundred mels quickly and stopped before the gate. In the center of the thin metal filigree was an enormous crest of Norlangarth: a symbol of a lily and a hawk. Beneath it was a wooden placard carved with the symbol of the Axiom Church. It had a simple message: ENTRY PROHIBITED WITHOUT PERMISSION OF THE HUMAN UNIFICATION COUNCIL. Terjemahan Bahasa Indonesia:
Mereka menempuh seratus mel terakhir dengan cepat dan berhenti di depan gerbang. Di tengah kerawang logam tipis itu terdapat lambang Norlangarth yang sangat besar: simbol bunga lili dan seekor elang. Di bawahnya terdapat plakat kayu yang diukir dengan simbol Gereja Axiom. Plakat itu memuat pesan sederhana: ENTRY PROHIBITED WITHOUT PERMISSION OF THE HUMAN UNIFICATION COUNCIL.
Selain itu, gerbang ganda tersebut dikunci oleh rantai yang tampak sangat kokoh yang memanjang ke kiri dan kanan, tampaknya mengelilingi seluruh kawasan hutan. Tentu saja, kau bisa dengan mudah melompati rantai itu di mana saja selain di gerbang, tetapi tak seorang pun di dunia ini yang berani mencoba melakukannya setelah melihat plakat tersebut.
Di kaki mereka, Tsukigake dan Shimosaki mendongak menatap rantai yang mencolok itu dan mendengus. Tuan mereka saling pandang untuk beberapa saat, hingga Tiese akhirnya berkata, "Kita anggota dewan, kan? Secara teknis?"
"...Kita datang ke rapat setiap hari. Kurasa itu terhitung?" Jawab Ronie, meski sebenarnya lebih tepat dibilang mereka mengamati rapat daripada menghadirinya. Walau begitu, ada kalanya mereka diberi hak bicara, jadi jelas mereka bukan orang luar sepenuhnya dalam proses tersebut.
Tiese mengangguk-angguk. Lalu ia memasang wajah tegas, mengangkat kepalan tangan kanan ke dada, dan meletakkan tangan kiri di gagang pedang. "Integrity Knight Apprentice Ronie Arabel! Atas nama Human Unification Council, aku mengizinkanmu melewati gerbang ini!
Awalnya Ronie terkejut, tetapi ia segera membalas hormat ksatria itu sebagai tanda terima. Saat Tiese menurunkan tangan, ia berkata "Oke, giliranku," jadi Ronie mengulangi proses formal tersebut.
Mereka memberi izin pada para naga juga, untuk jaga-jaga, lalu berjalan sekitar sepuluh mel ke kanan, di mana rantai itu hanya ditahan oleh penyangga logam, dan mereka bisa menyelinap lewat.
Seketika, udara terasa lebih dingin, membuat Ronie mengedikkan bahu. Ia mensugesti dirinya bahwa itu karena mereka berjalan ke tempat teduh, tetapi ada rasa berat yang menekan di udara sini, melebihi sekadar penjelasan sederhana itu.
Mereka berjalan di bawah pepohonan berlumut kembali ke jalan setapak batu, di mana Ronie memastikan tujuan misi dadakan mereka dengan rekannya.
"Um, Tiese, kita ke sini untuk menyelidiki rumor hantu... kan?"
"Benar."
"Dan itu artinya kita harus masuk ke dalam?"
"Benar," ulang Tiese. Ia menyeringai. "Uh-oh, Ronie. Apa kau takut hantu?"
Yah, sekarang ia jelas tak bisa mengakuinya. Meskipun cerita seram yang didengarnya saat kecil mengancam akan kembali menghantui pikirannya, ia berkata dengan santai, "Tentu saja tidak... Lagipula, tak mungkin ada hantu di zaman sekarang ini."
Entah mengapa, cengiran Tiese memudar, tapi ia segera pulih dan menepuk punggung Ronie. "Kalau begitu masuk ke mansion takkan jadi masalah buatmu! Ayo, jalan!"
"Ba-baik, baiklah..."
Ia tahu ia membiarkan dirinya didorong maju secara pasif, tetapi Ronie tetap melangkah.
Lebih dari setengah tahun telah berlalu sejak seluruh hutan ini dipasangi rantai, tetapi tanah di bawah pepohonan ternyata sangat terawat. Mungkin karena pohon-pohon tinggi di atas mengambil semua berkah Solus dan Terraria, rumput liar tak bisa tumbuh di bawahnya. Itu menjelaskan mengapa udara terasa begitu segar dan hidup di sisi lain danau namun begitu suram dan menyesakkan di sini.
Tsukigake dan Shimosaki tadinya sangat senang berjalan di depan para gadis di luar gerbang, tetapi sekarang mereka mengekor di belakang. Ronie menoleh ke belakang dan melihat para naga mengendus-endus pinggir jalan dengan curiga, mengibaskan ekor yang terangkat ke kiri-kanan.
"Ada apa, Tsuki?" panggilnya. Naga itu mendengkur pelan padanya. Ia tampak ragu untuk lanjut, tapi juga tidak berhenti.
Naga yang terhubung dengan ksatria mereka melalui ikatan kuat konon akan mengorbankan nyawa demi melindungi tuan mereka saat situasi menuntutnya. Faktanya, di akhir War of Underworld, Ronie melihat Kazenui menukik untuk memblokir tombak panjang yang dihunus ksatria merah dari dunia nyata demi menyelamatkan tuannya, Renly.
Perang sudah berakhir, jadi bahkan saat dewasa nanti, naga-naga ini seharusnya takkan pernah menghadapi situasi itu. Meski begitu, Ronie sempat lumpuh sejenak oleh pemikiran mengerikan itu.
Perjalanan ini demi kebaikan para naga, jadi jika naga-naga itu merasa tidak nyaman, tak perlu repot-repot ke mansion. Begitu pikirnya, tapi Tiese tidak berhenti. Ronie kembali menghadap ke depan dan berlari kecil untuk menyusul rekannya.
Kalau dipikir-pikir lagi, sikap Tiese terasa agak menyimpang dari karakternya yang biasa. Idenya untuk menyelidiki mansion itu disampaikan dengan nada bercanda namun anehnya terkesan mendesak, dan munculnya pun tiba-tiba. Seolah-olah dia sudah merencanakan persinggahan ini begitu perjalanan mereka ke danau diputuskan...
"Hei..." ujarnya pada sahabatnya, tepat saat gema lonceng pukul dua terdengar dari selatan yang jauh.
Kepala Tiese menoleh cepat. "Kita harus bergegas, sebelum gelap. Ayo lari!"
"O... oke," setuju Ronie, tanpa banyak pilihan, berlari kecil mengejar Tiese. Naga-naga kecil mengepakkan sayap dan melompat-lompat mengikuti mereka. Bahkan bagi naga sekalipun, naga muda akan cepat lelah dan mulai kehilangan nyawa, jadi mereka harus mencari waktu untuk berhenti sejenak dan memberi mereka buah kering yang dibawa dari kereta kuda.
Hutan di sekitar mansion tak tampak begitu dalam dari kejauhan, tapi jalannya berliku-liku, sehingga rasanya mereka tak kunjung sampai. Setelah hampir sepuluh menit berjalan sejak lonceng pukul dua berbunyi, jalan di depan mulai terang, membuat Ronie lega.
Ada lahan terbuka selebar seratus mel, tepat di tengah hutan, dengan mansion yang dimaksud berdiri persis di tengahnya.
Konstruksi batunya berwarna abu-abu tua, dan atapnya yang curam berwarna hitam. Kelihatannya bangunan itu berlantai tiga, dan sedikitnya jumlah jendela membuatnya lebih mirip benteng daripada mansion. Ada beberapa petak bunga di halaman depan sekadar sebagai hiasan, tapi kini isinya penuh rumput mati yang mengering, yang kian menambah suasana mencekam.
"Apa ini benar-benar... vila kaisar...?" tanya Ronie heran.
Tiese menimbang pertanyaan itu. "Yah... kuakui, mansion di tanah pribadi bangsawan lain sepertinya lebih besar dari ini... Oh, tapi lihat," katanya, menunjuk pintu besar di bagian depan bangunan. "Ada lambang bunga lili dan elang. Hanya keluarga kekaisaran yang boleh menggunakan simbol itu."
"Benar juga..." Gerbang di tepi hutan memiliki lambang Norlangarth yang sama, jadi tak diragukan lagi ini adalah mansion kaisar.
"...Ayo," gumam Tiese pelan, mulai berjalan ke arahnya. Shimosaki mengikutinya dengan kepala tertunduk.
Ronie menunduk menatap Tsukigake dan bertanya, "Kau tidak apa-apa? Tidak lelah?" Naga kecil itu merentangkan sayap dan menciap seolah berkata Tentu saja tidak!
Mereka menyusuri jalan setapak berumput mati, melewati petak bunga, dan mencapai pintu depan. Di belakang mereka, permukaan biru Danau Norkia sepenuhnya terhalang oleh pepohonan. Apa gunanya membangun rumah di dekat danau jika kau tak bisa melihat airnya?
Terdengar denting logam di belakangnya, dan Ronie melihat Tiese telah memegang gagang pintu dan mencoba mendorongnya terbuka.
"...Tidak bisa?" tanyanya.
Rambut merah rekannya bergoyang. "Tidak. Sepertinya terkunci."
"Yah, masuk akal. Jadi... kurasa itu artinya tidak ada orang di dalam, kan?" tanyanya, berasumsi Tiese akan setuju. Tapi rekannya tidak melepaskan gagang pintu itu.
"Tapi kan hantu tidak terhalang oleh pintu terkunci, iya kan?"
"Apa...?"
Ia tak menyangka akan mendapat sanggahan itu. Benar sih, hantu dalam cerita lama biasanya tak punya tubuh padat, dan ia rasa ia ingat deskripsi hantu yang menembus dinding dan pintu...
"Tapi bukan berarti kita bisa melakukannya..." gumamnya.
Tiese memejamkan mata, masih memegang gagang pintu, dan mulai mengerang. "Mm... mrrmng..."
"A-apa yang kau lakukan?"
"Mrrrmmngng!"
"Um, Tiese? Tiese!" Ia bergerak meraih lengan temannya sebelum tiba-tiba menyadari apa yang sedang terjadi: Tiese jelas sedang mencoba meniru trik Membuka Kunci dengan Incarnation yang dipamerkan Kirito di penginapan Centoria Selatan sebelumnya.
"Ayolah... Kita bahkan belum bisa menggunakan Incarnate Arms; mana mungkin kita bisa menggunakannya untuk membuka kunci!" ujar Ronie dengan nada jengkel. Namun wajah Tiese tampak teguh—bahkan mungkin putus asa—membuat temannya terkesiap.
Ia berhenti, ragu-ragu, dan akhirnya mencicit, "Tiese... kenapa kau melakukan ini...? Apa menyelidiki hantu sebegitu pentingnya bagimu...?"
Tiese mengembuskan napas perlahan dan akhirnya melepaskan tangannya dari pintu. Wajahnya tetap menunduk hingga akhirnya ia bertanya, "Ronie... menurutmu hantu itu nyata?"
"Hah...?" Itu seperti pertanyaan anak kecil. Ronie hampir terkekeh dan bertanya ada apa dengannya, tapi ia menahan diri. Mata Tiese tampak mencari jawaban dan serius saat menatap tanah. Ia sama sekali tidak bercanda. Apa pun alasannya, sahabatnya bertanya dengan sungguh-sungguh, dan ia harus merespons dengan keseriusan yang sama.
Ronie belum pernah melihat hantu—setidaknya, yang didefinisikan sebagai jiwa orang mati yang menyimpan kebencian atau kesedihan mendalam, ditakdirkan berkeliaran di bumi alih-alih mencapai alam samawi. Dan hal yang sama mungkin berlaku bagi ibu dan neneknya, yang sejak awal menceritakan kisah-kisah lama itu padanya.
Jadi apakah ada hantu ratusan tahun yang lalu, dalam latar kisah-kisah itu? Ia rasa tidak. Salah satu alasannya, alam samawi tempat berpulangnya jiwa orang mati kemungkinan besar tidak ada. Di luar Underworld adalah dunia nyata, tempat asal Kirito dan Asuna. Tidak ada dewa di sana, hanya lebih banyak manusia yang telah saling berperang selama ribuan tahun.
Jika tidak ada alam samawi, maka menurut logika cerita itu, dunia seharusnya dipenuhi oleh arwah gentayangan orang mati yang tak punya tempat tujuan. Karena itu tidak benar, mungkin artinya terlepas dari kebencian atau kesedihan apa pun yang dipendam jiwa manusia, jiwa itu tetap lenyap di saat kematian, dan tidak ada hantu yang tercipta.
Ronie menarik napas untuk mempersiapkan jawabannya. Tapi sebelum ia bicara, sebuah bayangan yang jelas membanjiri benaknya, dan matanya membelalak.
Ia belum pernah melihat hantu menyeramkan sebelumnya.
Tapi ia pernah melihat kilau jiwa orang yang sudah mati.
Itu terjadi di penghujung War of Underworld, ketika pria berjubah hitam yang memimpin ksatria merah dari dunia nyata terlibat bentrokan sengit dengan Kirito, yang baru saja bangun dari koma panjangnya.
Bilah besar yang diayunkan pria berjubah itu telah menekan pedang Kirito, hingga sepertinya akan mengiris bahunya—saat Tiese menangkupkan kedua tangannya dan berdoa: Kumohon, Eugeo. Tolong Kirito...
Dan seolah menjawab panggilan itu, sebuah lengan emas transparan muncul dan menopang Night-Sky Blade. Dengan bantuan lengan itu, Kirito berhasil memukul mundur pisau raksasa itu dan memenangkan pertarungan putus asanya melawan pria berjubah hitam. Tak diragukan lagi itu adalah tangan seseorang yang tak lagi hidup: sahabat Kirito dan mentor Tiese, Eugeo sang Murid Elit.
"Tiese...... apakah kau......?" Semua pemikiran tentang logika hantu lenyap dari benaknya. Akhirnya, ia merasa mengerti mengapa Tiese begitu terpaku pada rumor hantu di bangunan terbengkalai di dalam hutan itu.
Ilustrasi Tiese sedang sedih
Ia mengulurkan tangan menyentuh punggung temannya yang sedang putus asa itu—ketika suara samar namun nyata membuatnya tersentak. Wajah Tiese terangkat dengan cepat sebagai reaksi.
Itu bukan suara alam, melainkan bunyi gesekan logam dengan logam yang tidak mengenakkan. Dan suara itu tak diragukan lagi berasal dari balik pintu yang terkunci.
Ronie menempelkan jari di bibir memberi isyarat diam pada Tiese, lalu dengan hati-hati menempelkan telinganya ke pintu.
Ia menunggu beberapa detik. Tak ada suara lagi yang terdengar. Namun bunyi tadi bukanlah ilusi. Ronie menjauhkan diri dari pintu untuk menatap Tiese, yang wajahnya pucat. Sahabatnya berbisik, "Kita harus masuk ke dalam sana..."
"......"
Ronie tak yakin apakah harus setuju.
Bahkan jika rumor hantu itu benar, mustahil rasanya percaya bahwa hantu itu kebetulan adalah Eugeo, pemuda yang dirindukan Tiese semasa hidupnya. Eugeo telah gugur di lantai teratas Central Cathedral; ia tak mungkin muncul sebagai hantu di vila tanah pribadi kaisar.
Dan jika suara itu disebabkan oleh manusia sungguhan, bukan hantu, sangat mungkin orang ini bukanlah warga sipil biasa. Satu-satunya orang yang bisa keluar-masuk bangunan yang disegel atas perintah Dewan Penyatuan dan Gereja Axiom adalah seseorang yang mampu menentang Indeks Tabu, yang merupakan gada hukum Gereja.
Ronie merasa sebaiknya mereka segera kembali ke katedral untuk melapor pada Kirito atau Fanatio, tetapi Tiese langsung bertindak sebelum ia sempat menyarankannya. Ia mulai berlari ke arah selatan menyusuri bagian luar mansion, berniat memutar ke belakang. Shimosaki mengikuti di belakangnya, melompat-lompat riang.
"Krrrr!" desak Tsukigake di kaki Ronie. Ia tak punya pilihan selain mengikuti.
Akan tetapi, pintu belakang pun pasti terkunci juga. Apa pun yang Tiese rencanakan, Ronie harus mencegahnya membahayakan diri sendiri. Namun, jarak sepuluh mel di antara dia dan rekannya tak kunjung memendek.
Setelah memutari dua sudut, mereka sampai di halaman belakang, yang mendadak jauh lebih gelap. Di sini juga ada petak bunga, tetapi nyaris tak ada sinar matahari yang mencapai tempat ini, sehingga tempat itu diambil alih oleh lumut kebiruan dan tanaman rambat kelabu. Jalan setapaknya dipenuhi sampah roda gerobak rusak dan tong-tong busuk. Sekarang tempat ini jelas tak terlihat seperti kediaman seorang kaisar.
Pintu belakang yang dicari Tiese ternyata terletak tersembunyi di sisi utara bangunan. Sebenarnya lebih cepat jika mereka memutar lewat utara ketimbang selatan, tetapi Tiese berlari kian kencang, nyaris tak memedulikan detail semacam itu, hingga ia mencapai pintu tersebut.
Ia mencengkeram gagang pintu berkarat dan memutarnya, tetapi seperti dugaan Ronie, pintu itu bergemerincing keras dan tetap terkunci rapat. Meski begitu, Tiese mengerahkan tenaga lebih besar lagi. Murid ataupun bukan, level otoritas penggunaan senjatanya hampir mencapai 40, jadi jika ia bersungguh-sungguh, ia bisa saja menghancurkan pintu biasa.
Namun, mansion ini telah disita dari dinasti kekaisaran dan kini menjadi milik Human Unification Council, jadi bahkan dalam keadaan darurat, seorang Integrity Knight tak boleh menghancurkan pintu tanpa izin dewan.
Ronie akhirnya menyusul rekannya dan segera menyambar tangannya. "Jangan lakukan ini, Tiese. Kau akan merusak pintunya."
"Tapi... suara di dalam itu...," balas temannya dengan ratapan melengking. Bahkan dalam kegelapan bayang-bayang, kulitnya tampak sangat pucat.
Ronie menggunakan kedua tangan untuk menggenggam jari-jari dingin Tiese dan memohon, "Aku juga mendengar suara itu. Itu bukan salah dengar. Tapi justru karena itulah kita harus berpikir jernih."
Cengkeraman Tiese pada gagang pintu melemah hingga terlepas, dan saat itulah Ronie menuntunnya menjauh sekitar satu mel dari pintu agar mereka bisa melihat-lihat halaman.
"...Mungkin memang hantu di dalam sana, tapi bisa saja sesuatu yang lain. Jika ada orang hidup yang keluar-masuk mansion ini, mereka pasti meninggalkan jejak kehadiran di suatu tempat."
Hal itu membuat Tiese mengerjap beberapa kali, menjernihkan pandangannya. Ia mengangguk, dan ekspresi linglungnya kembali mendapatkan sedikit kejernihan dan kehidupan.
"Ya... kau benar. Ayo periksa area sekitar."
Ronie mengangguk mantap pada rekannya karena Tiese kini tampak lebih seperti dirinya yang biasa, lalu kembali mengamati sekeliling. Halaman belakang yang suram itu lebih sempit daripada halaman depan, tetapi tetap saja lebarnya seratus mel dan kedalamannya tiga puluh mel.
Terdapat petak bunga berlumut di kiri dan kanan, serta sebuah kolam kecil berair tenang berwarna hijau tua di tengahnya. Sampah-sampah rusak berserakan di jalan setapak, dan ilalang tumbuh di mana-mana. Meskipun awalnya ini adalah idenya, ia tak tahu bagaimana cara mencari petunjuk.
Namun melihat-lihat secara acak pastinya takkan membuahkan hasil. Ia harus memutar otak dan menentukan titik mana yang perlu diselidiki secara khusus.
"Jika ada yang masuk lewat pintu belakang...," gumam Ronie, memeriksa tanah di depan pintu.
Jika tanahnya terbuka, mungkin ada jejak kaki yang bisa ditemukan, tetapi sayangnya, bahkan di bagian belakang, jalan setapaknya terbuat dari batu-batu bulat kelabu. Namun tak seperti di depan, di sini terdapat lapisan tipis lumut di sana-sini. Tidak cukup tebal untuk mencetak jejak kaki, tapi mungkin ada hal lain...
"Tiese, bisakah kau awasi naga-naga sebentar?"
"Um... oke," Tiese menyetujui, mundur beberapa langkah. Ia berjongkok agar bisa meletakkan tangan di punggung Tsukigake dan Shimosaki, menahan mereka. Puas, Ronie mengulurkan tangan kanannya.
"System Call, Generate Umbra Element."
Perintahnya menghasilkan cahaya ungu bersinar yang menyelubungi bola hitam kecil, layaknya lubang yang ditusukkan ke ruang hampa. Ini adalah elemen gelap, elemen yang paling sulit dikendalikan dari kedelapan elemen.
Berlawanan dengan elemen cahaya, elemen ini memiliki semacam energi negatif dan, jika dilepaskan, akan menyedot objek di sekitarnya sebelum lenyap. Air dan udara sih tidak masalah, tapi jika benda atau manusia menyentuhnya, hasilnya bisa membawa bencana. Namun ada cara untuk memanfaatkan sifat ini yang sama sekali mustahil dilakukan dengan elemen lain.
English Text: “Form Element, Mist Shape,” Ronie continued, and the dark element silently spread out until it formed a little purple fog cloud. It could be combined with a wind element’s vortex and hurled at enemies as an attack, but that wasn’t the point right now. She used both hands to widen the mist into a thin, flat shape, then whispered, “Discharge.” The purple curtain spread out in front of her. This mist had the ability to draw sacred power into itself, react to it, and vanish. If combined with a whirlwind, the blades of wind would tear the enemy’s skin, and the dark mist would cling to the wound, sucking out blood, which was the source of sacred power. Terjemahan Bahasa Indonesia:
"Form Element, Mist Shape," lanjut Ronie, dan elemen gelap itu menyebar dalam senyap hingga membentuk awan kabut ungu kecil. Elemen ini bisa digabungkan dengan pusaran elemen angin dan dilontarkan ke musuh sebagai serangan, tetapi bukan itu tujuannya sekarang.
Ia menggunakan kedua tangan untuk melebarkan kabut menjadi bentuk pipih dan tipis, lalu berbisik, "Discharge."
Tirai ungu itu menyebar di hadapannya. Kabut ini memiliki kemampuan untuk menarik kekuatan suci ke dalam dirinya, bereaksi terhadapnya, lalu lenyap. Jika digabungkan dengan pusaran angin, bilah-bilah angin akan menyayat kulit musuh, dan kabut gelap akan menempel pada luka, mengisap darah, yang merupakan sumber kekuatan suci.
Tentu saja, bukan hanya manusia dan hewan yang memiliki kekuatan suci—tanaman pun memilikinya, bahkan lumut yang menempel di sela-sela bebatuan jalan. Jumlahnya memang sangat kecil, tetapi jika terinjak hingga rusak, mereka akan melepaskan sisa kekuatan suci itu ke udara.
Kabut itu terlepas dalam wujud sabuk ungu, bercabang halus layaknya tanaman sungguhan saat merayap di tanah dengan pendar cahaya yang mencekam. Pola yang terbentuk tak diragukan lagi adalah jejak kaki manusia. Dan dilihat dari pendar cahayanya, lumut itu baru saja terinjak.
Jejak itu mengarah dari pintu belakang mansion menuju ke utara, menghilang ke dalam hutan yang mengelilingi halaman belakang.
"Lewat sana, Tiese!" desis Ronie, mulai berlari mengikuti cahaya jejak langkah yang kian memudar itu.
Ia berbelok ke kiri di ujung utara halaman belakang dan menangkap pemandangan jalan setapak kecil yang membelah lebatnya hutan, nyaris menyerupai mulut gua. Semak belukar telah dibabat dan ranting-ranting dipatahkan; jelas ini adalah ulah manusia. Terlihat serangkaian jejak kaki ungu bercahaya milik seseorang yang menelusuri jalan setapak itu.
Ronie berhenti di mulut jalan setapak dan menunggu Tiese menyusul. "Hati-hati," bisiknya. "Kita mungkin akan berpapasan dengan pemilik jejak ini."
"Mengerti," jawab rekannya.
Di kaki mereka, kedua naga kecil itu melipat sayap dan memasang ekspresi serius. Jika kelompok mereka terus melangkah ke arah ini, bisa jadi akan berakhir dengan pertempuran. Ia ingin meninggalkan naga-naga itu karena alasan tersebut, tetapi halaman mansion juga belum tentu aman.
Menyadari mereka harus membawa serta naga-naga itu, Ronie berjongkok. "Kalian berdua harus tenang, ya?"
Tsukigake merespons dengan dengkuran pelan, jadi Ronie mengusap kepala naga itu lalu bangkit berdiri lagi.
Cahaya jejak kaki di jalan setapak sudah mulai memudar, tetapi melihat ukuran hutannya, mereka takkan tersesat di sini. Ia dan Tiese saling berpandangan sekali lagi untuk memantapkan hati, lalu melangkah masuk ke dalam pepohonan.
Hanya dalam beberapa mel, udara dingin menyengat kulit mereka. Padahal hari itu hangat menandakan datangnya musim semi, tetapi napas mereka mengembun seolah-olah sedang berada di tengah musim dingin.
Ronie punya firasat buruk tentang ini. Saat ia menerobos masuk ke ruang takhta Kastil Norlangarth bersama Tiese selama Rebellion of the Four Empires, rasanya juga sama menyesakkannya seperti ini. Bukan sekadar dingin; rasanya seperti hawa dingin yang telah meresap ke dalam dinding dan lantai selama bertahun-tahun kini secara aktif mengisap habis seluruh kehangatan.
Lonceng pukul dua lewat tiga puluh belum berdentang, tetapi area itu kian gelap seiring langkah mereka yang makin jauh. Semak berduri tajam memagari sisi jalan setapak, dan dahan-dahan pohon yang berpilin menjulur tepat di atas kepala mereka.
Jika bertambah gelap lagi, mereka perlu menggunakan elemen cahaya untuk bisa melihat.
Ronie baru saja memikirkan hal itu ketika Tiese berseru, "Oh! Ronie... lihat!"
Menembus kegelapan, ia bisa melihat sejumlah batang logam berdiri tegak. Awalnya, ia mengira mereka telah mencapai pagar logam yang mengelilingi hutan, tetapi kemudian ia menyadari bahwa ini bukanlah pagar, melainkan pola kisi-kisi. Terdapat bangunan kecil menyerupai kuil di ujung jalan setapak, dengan pintu berkisi-kisi di depannya.
Mereka berhenti, memastikan tak ada tanda-tanda kehadiran manusia di sekitar bangunan kecil itu, lalu mendekatinya dengan hati-hati.
"Bangunan ini... tua sekali...," gumam Tiese. Ia benar—kuil batu itu telah menghitam akibat terpaan angin dan hujan, dan lumut menutupi bagian dasarnya yang menyentuh tanah. Waktu sepuluh atau dua puluh tahun takkan bisa menyebabkan perubahan semacam itu. Gerbang kisi-kisi besar itu agak berkarat namun pastilah terbuat dari material berprioritas sangat tinggi, karena masih tampak sangat kokoh.
Kedua daun pintu gerbang itu sejajar sempurna tanpa celah, dengan gembok yang tampak berat terpasang sekitar satu mel dari permukaan tanah. Mereka memegang gerbang itu dan mencoba mendorong atau menariknya, tetapi seperti dugaan, gerbang itu bergeming. Di baliknya terdapat anak tangga yang mengarah turun ke dalam tanah, menuju kegelapan pekat.
"Yang ini juga terkunci," ujar Ronie.
Frustrasi, Tiese mengerang, "Dan aku yakin ada sesuatu di balik sini..."
Ronie merasa lega karena temannya terdengar lebih rasional, tidak seperti kerasukan seperti beberapa menit yang lalu. Tiese mungkin belum sepenuhnya melupakan obsesinya pada hantu, tapi antara pintu belakang dan pondok batu kecil ini, jelas bahwa siapa pun yang ada di sini adalah manusia hidup, bukan arwah. Begitu pula dengan penyebab suara di dalam mansion tadi.
Sangat mungkin orang tersebut melanggar perintah dewan yang melarang masuk tanpa izin, jadi sebagai apprentice knights, mereka ingin mengungkap siapa yang bertanggung jawab dan menangkapnya jika mereka berniat jahat—namun itu tidak membenarkan tindakan merusak kunci. Tak ada kejahatan yang terlihat di depan mata saat ini.
Sayangnya, mereka harus kembali ke katedral, melapor, dan datang lagi bersama salah satu Ksatria Integrasi senior, Ronie menyadari hal itu. Tapi sebelum ia sempat mengatakannya, Tiese berseru, "Oh...! Di sana!"
Tiese menjulurkan tangan lewat celah pola kisi-kisi, menunjuk ke dinding kanan tangga menurun. Ronie menempelkan wajahnya dekat ke gerbang dan menatap ke dalam kegelapan.
Sekitar tujuh anak tangga ke bawah, ia melihat sesuatu berpendar samar di tengah kegelapan. Tergantung pada paku di dinding adalah seutas tali yang terhubung ke benda perak panjang...
"......Kunci!" teriak mereka bersamaan, saling berpandangan.
Kemungkinan besar itu adalah kunci cadangan, seandainya pengguna terkunci di dalam bangunan. Dengan kata lain, gerbang megah ini memang dimaksudkan untuk mencegah penyusup masuk.
Mereka mencoba meraih kunci itu lewat celah gerbang, tetapi jarak antar jeruji logam itu paling banter hanya sepuluh cen, dan menjulurkan tangan sampai bahu pun masih belum cukup panjang untuk menggapai kuncinya.
"Kalau... kalau saja kita bisa menggunakan Incarnate Arms...," keluh Tiese.
Ronie setuju, tapi kalau mereka bisa melakukannya, mending sekalian saja belajar Membuka Kunci dengan Incarnation dari Kirito. Ia melihat sekeliling kalau-kalau ada tongkat panjang di dekat situ, tapi tentu saja tidak ada.
Jika ada tongkat sepanjang tiga mel, mereka bisa menggunakannya untuk mengait kunci dari pakunya, jadi menaruh benda semacam itu di sekitar sini adalah tindakan ceroboh. Tapi jika memang ingin menyediakan kunci cadangan, bukankah lebih baik menyimpannya jauh di bawah tangga, alih-alih di dekat gerbang?
Sebenarnya untuk apa bangunan ini? herannya lagi.
Tepat saat itu, ia mendengar naga menggeram di bawah. Shimosaki yang berwarna biru pucat sedang berusaha meliuk-liukkan tubuhnya melewati celah jeruji pagar. Tiese buru-buru berbisik, "Tidak, Shimosaki, kau pun takkan bisa menyelinap—"
Namun pada saat itu, Tsukigake mendorong pantat Shimosaki dengan kepalanya. Tubuh naga kecil itu melesat melewati celah, melakukan salto sebelum berhenti tepat di dekat tangga.
"Kyurrr!" pekik Shimosaki bangga. Ada sedikit karat menempel di bulu halusnya, tapi ia tampak tidak terluka. Lapisan bulu yang mengembang membuat makhluk itu terlihat lebih besar dari tubuh aslinya yang mungil.
"Siapa yang bilang kau boleh melakukan itu?" omel Tiese, tetapi terselip rasa bangga dalam senyumnya. Dengan lengan masih terjulur lewat gerbang, ia menunjuk ke arah kunci demi si naga. "Bisakah kau ambilkan itu untuk kami?"
Shimosaki menciap mengiyakan, lalu berjalan tertatih menuruni tangga hingga tepat berada di bawah paku gantungan. Kunci itu berada 1,8 mel di atasnya.
Sambil mengepakkan sayap kecilnya, Shimosaki melompat sekali, dua kali, lalu pada lompatan ketiga, ia berhasil menangkap kunci itu dengan mulutnya. Kemudian ia kembali ke gerbang dengan riang, dan menjulurkan moncong sempitnya kembali lewat sela gerbang.
Tiese mengambil kunci itu dan memberikannya pada Ronie agar ia bisa menggunakan kedua tangan untuk mengelus kepala naga itu. Ronie mengamatinya seraya memasukkan kunci tua itu ke lubang kunci gerbang. Kunci itu sedikit seret namun berputar sesuai harapan dan akhirnya berbunyi klik.
Setelah menunggu Tiese mundur, ia menarik gerbang itu hingga terbuka, menimbulkan bunyi berderit. Shimosaki mengepakkan sayap dari dalam, mendesak mereka untuk bergegas.
Kini setelah gerbang terbuka, mereka harus menyelidiki apa yang ada di bawah tanah, tetapi saat Ronie kembali melirik ke dalam kegelapan di bawah tangga, telapak tangannya mendadak banjir keringat.
Ia tak suka kejanggalan yang ada di sini: gerbang baja yang indah, dengan kuncinya tergantung di tempat yang jelas terlihat, seolah minta diambil. Ia tak serta-merta berpikir ini jebakan untuk memancing penyusup ke bawah tanah—kalau begitu kenapa gerbangnya dikunci?—tapi ia sama sekali tak bisa menebak apa yang ada di bawah sana.
Tsukigake tampaknya merasakan kecemasan tuannya dan menggesekkan tubuh ke kaki Ronie. Ia menggendong naga itu dan menyarankan, "Tiese, biar aku yang turun dan memeriksa ada apa di bawah sana. Kau tunggu di sini, dan..."
"Enak saja. Tentu saja aku ikut turun," sahut temannya tegas. Kini Ronie tak bisa mundur dan berkata bahwa ia lebih suka menunggu di luar bersama para naga.
"...Baiklah. Tapi ingat, harus sangat berhati-hati."
"Kau juga," ujar Tiese sambil menyeringai.
Hal itu cukup untuk sedikit memberanikan hati Ronie. Ia membalas senyuman itu, lalu berjalan ke semak-semak di sisi kiri jalan setapak, memilih dahan tak berduri dan mematahkannya. Kemudian ia memanggil satu elemen cahaya dan menempelkannya pada daun di ujung dahan tersebut menggunakan perintah Adhere.
Dengan Tsukigake diapit di ketiak kiri dan obor dadakan di tangan kanan, ia melangkah masuk ke dalam kuil. Tiese dan naganya mengikuti masuk, lalu Ronie menutup gerbang dan menguncinya kembali. Ia ingin membawa serta kunci itu, tetapi seseorang mungkin akan menyadari kuncinya hilang dan tahu ada penyusup, jadi ia mengembalikannya ke paku gantungan.
Tangga turun itu jauh lebih panjang dari dugaannya. Total ada tiga puluh anak tangga untuk mencapai ujung, lalu berbelok memutar untuk tiga puluh anak tangga lagi sebelum akhirnya mencapai tanah datar. Setiap anak tangga tingginya sekitar dua puluh cen, jadi mereka kini berada dua belas mel di bawah permukaan tanah. Itu setara dengan tiga lantai katedral.
Udara terasa jauh lebih hangat dibanding di luar, tetapi lembap, pengap, dan berbau jamur. Sebagian dirinya sempat berpikir ini mungkin ruang harta karun tersembunyi Kekaisaran Norlangarth, tetapi dalam kondisi seperti ini, harta apa pun akan kehilangan life-nya hanya dalam beberapa tahun dan hancur berantakan.
Setelah lima puluh mel penuh menyusuri koridor bawah tanah, lorong itu berbelok ke kanan. Akhirnya, cahaya redup tampak di depan. Namun mereka tak boleh ceroboh sekarang. Apa pun sumber cahaya itu, mereka pasti akan menemukan siapa yang memasangnya di dekat situ.
Masih ada jarak lebih dari tiga puluh mel antara mereka dan cahaya itu, tetapi Ronie berhenti di sana, menunggu dan mendengarkan tanda-tanda kehidupan. Tak ada suara ataupun percakapan untuk saat ini. Ketika ia kembali melangkah maju, tudung jubahnya ditarik ke belakang.
Ia tersentak dan berbalik, berseru "...Apa?!" sepelan mungkin.
Tiese sedang menatap langit-langit koridor dengan ekspresi gundah. Ronie ikut mendongak, tetapi hanya ada lapisan batu yang sama dengan dinding. Ia kembali menatap Tiese.
"Kita berjalan ke barat laut dari halaman, masuk ke hutan... lalu turun ke bawah tanah di bangunan itu dan berbalik arah... Ronie, tidakkah menurutmu kita sudah kembali berada di bawah mansion sekarang?"
"Uh......"
Ia membayangkan profil samping mansion dan hutan itu, mengerjap pelan lalu mengangguk. "Ya... kau mungkin benar soal itu. Lalu kenapa?"
"Bukankah itu... aneh? Jika ini ruang bawah tanah untuk mansion, mereka bisa saja membangun tangga di dalam gedung... Mengapa harus ada pintu masuk yang berjarak puluhan mel di dalam hutan?"
Ia harus mengakui Tiese punya poin yang sangat bagus. Perasaan curiga yang ia rasakan akibat kunci di dinding sebelah gerbang kembali membanjiri benaknya, tetapi ia tahu mereka takkan menemukan jawabannya hanya dengan berdiri di sini.
"Mungkin kalau kita periksa lebih jauh ke dalam, kita akan tahu sesuatu," bisik Ronie. Rekannya setuju. Bagaimanapun juga, mereka sudah sampai sejauh ini, jadi mereka tak bisa berbalik sebelum menyelidiki lorong bawah tanah ini dari ujung ke ujung.
Pasangan lintas spesies itu mengendap-endap ke selatan menyusuri lorong, mendengarkan dengan saksama. Cahaya kuning berpendar samar di depan. Ronie memusatkan perhatian pada udara dan menyadari bahwa di antara bau apek, tercium aroma khas hangus dari lentera minyak. Dan di antaranya ada aroma lain yang lebih samar.
Dalam gendongan di bawah lengan kirinya, moncong lancip Tsukigake berkedut-kedut. Ronie tahu ia pernah mencium bau ini sebelumnya tapi tak bisa mengingat di mana. Meski begitu, mereka terus bergerak maju.
Cahaya itu ternyata berasal dari dua lentera minyak yang tergantung di dinding kanan. Lorong itu berakhir tepat setelahnya, tetapi ada sesuatu di dinding kiri. Benda itu bersinar suram dalam cahaya lentera. Sebuah gerbang berjeruji baru. Bukan... itu adalah...
"S-sebuah sel...?" bisik Tiese. Ronie mengangguk.
Itu terlalu besar untuk disebut pintu. Jeruji besi membentang dari lantai hingga langit-langit, persis seperti sel penjara bawah tanah di kantor penjaga kota. Terdapat dua sel besar di sini, masing-masing selebar empat mel. Dari sudut pandang mereka, mereka tak bisa melihat lebih jauh ke dalam.
Mereka merapatkan punggung ke dinding kiri dan merayap menyusurinya. Semakin dekat ke sel, semakin menyengat bau misterius itu. Baunya seperti jerami yang dijemur di bawah matahari atau baju zirah kulit yang sudah lama dipakai. Pernah ada aroma serupa sebelumnya... bukan di dunia manusia, tapi di Dark Territory...
Sebelum mencapai jawabannya, Ronie berhenti. Ia telah sampai di ujung sel yang lebih dekat. Dengan Tsukigake dalam gendongannya, diam-diam ia menjulurkan kepala melewati sudut untuk mengintip ke dalam.
Cahaya lentera di dinding seberang terlalu lemah dan tidak menerangi sepenuhnya hingga ke ujung sel. Ia menjulurkan dahan berelemen cahaya, dan segera terlihat jelas bahwa sel itu tidak kosong. Di sudut terjauh dari Ronie terdapat tiga tahanan. Mereka berkerumun, tampaknya sedang tidur.
Sosok-sosok itu, yang mengenakan pakaian kasar dan sederhana, bertubuh sangat kecil. Masing-masing tingginya kurang dari satu setengah mel. Anak-anak? ...Bukan, lengan mereka terlalu panjang. Kepala mereka gundul, serta hidung dan telinga mereka lancip.
Mereka bukan anak-anak.
Mereka bahkan bukan manusia.
Mereka adalah goblin.
Ronie langsung menegakkan tubuh kembali dan menekan tangan yang memegang dahan bercahaya itu ke mulutnya. Tiese mencondongkan tubuh mendekat.
"Ada apa...? Ada orang di dalam?" Ronie mengangguk cepat. Ia mengembuskan napas, lalu menghirup dalam-dalam melalui hidung. Aroma jerami kering itu terasa akrab baginya karena itulah bau badan goblin gunung yang pernah ia cium saat mengunjungi tempat tinggal mereka.
"Ya... tiga goblin gunung. Kurasa mereka adalah turis yang dibawa keluar dari penginapan Centoria Selatan."
"Apa...?" ujar Tiese dengan mata terbelalak. Ia mencondongkan tubuh melewati Ronie, berpegangan padanya, untuk melihat ke dalam sel. Tiga detik kemudian, ia menarik diri. "Kau benar... Tapi kenapa...? Kenapa goblin yang dibawa dari Centoria Selatan bisa ada di sini, di tanah pribadi kaisar di Norlangarth?"
Tak ada jawaban langsung untuk pertanyaan itu.
Untuk bepergian dari Centoria Selatan ke Centoria Utara, mereka harus melewati Centoria Timur atau Barat, jadi bagaimanapun juga, itu melibatkan penyeberangan Dinding Keabadian dua kali. Untuk melewati satu-satunya pos pemeriksaan bergerbang di antara setiap kota, kau memerlukan surat jalan atau sertifikat satu hari, dan sertifikat itu pun sulit didapat, apalagi surat jalannya.
Meskipun orang-orang yang menculik goblin dengan memalsukan perintah pemerintah kota Centoria Selatan dan menyamar sebagai pejabat mungkin bisa memalsukan sertifikat izin, masih ada pertanyaan apakah mereka mau mengambil risiko bahaya dihentikan di gerbang, hanya untuk membawa mereka ke kekaisaran utara. Ada sama banyaknya lahan di kekaisaran selatan, dengan kesempatan yang sama besarnya untuk menyembunyikan para goblin.
"...Kita bisa memikirkan ini nanti," gumam Ronie, baik pada dirinya sendiri maupun pada Tiese. "Kita harus membebaskan mereka dan membawa mereka ke katedral."
"Ya... tapi selnya pasti terkunci."
Tiese benar soal itu. Mereka melihat ke sekeliling dinding, tapi sepertinya tidak ada kunci di sekitar situ. Namun, situasinya sangat berbeda dari sebelumnya.
Tepat di depan mata mereka ada para turis dari dunia kegelapan yang diculik dengan perintah palsu. Ini jelas merupakan tindakan pengkhianatan terhadap Human Unification Council, dan sebagai ksatria, apprentices ataupun bukan, Ronie dan Tiese bisa memperbaiki situasi ini sesuai penilaian mereka.
"Aku akan hancurkan jerujinya," kata Ronie, mencengkeram gagang Moonbeam Sword-nya.
Material jeruji logam itu mungkin sama dengan gerbang di permukaan. Hampir tidak mungkin pedangnya memiliki level prioritas yang lebih rendah. Apakah ia bisa memotongnya atau tidak bergantung pada kemampuan penggunanya.
"...Baiklah. Lakukan, Ronie," kata Tiese, yang bahkan tersenyum sejenak. Ia melirik ke sel itu lagi. "Tapi kita harus membangunkan para goblin sebelum kau melakukannya. Mereka bakal ketakutan setengah mati kalau kau tiba-tiba mulai menghantam jeruji dengan teknik tempur."
"Poin yang bagus..."
Kekhawatiran Tiese memang beralasan, tetapi membangunkan para goblin yang kelelahan dan ketakutan tanpa menimbulkan keributan akan menjadi tantangan tersendiri. Jika mereka mulai menjerit, penculik di mansion di atas mereka pasti akan mendengarnya.
Tentu saja, menebas jeruji logam dengan pedang akan menimbulkan suara, tetapi jika Ronie menggunakan teknik tercepat yang dikuasainya dan berhasil dengan sempurna, ia bisa meminimalkan kebisingan tersebut. Tetap saja, hal itu mengharuskan mereka membangunkan para goblin terlebih dahulu.
Ronie berjongkok untuk membiarkan Tsukigake pergi. Kemudian ia menangkupkan tangan di sekitar mulutnya untuk memanggil para goblin yang sedang tidur.
Tepat saat itu, suara gemuruh dahsyat memenuhi lorong, seperti benda-benda yang sangat berat saling bergesekan. Ronie dan Tiese terlompat kaget, sementara ketiga goblin di dalam sel juga tersentak bangun dan menyadari keberadaan kedua gadis yang berdiri di depan jeruji.
"Giiie!"
"Tolong berhenti! Jangan sakiti kami lagi!"
Ketiganya saling berpelukan dan gemetar, tanda perlakuan sangat kejam dan traumatis yang telah mereka terima. Ronie ingin meyakinkan mereka bahwa ia datang untuk menyelamatkan, tetapi ada masalah yang lebih mendesak saat ini. Dinding di ujung lorong, yang tadinya mereka kira jalan buntu, perlahan terangkat. Itu adalah pintu tersembunyi—dan hampir bisa dipastikan merupakan sumber suara yang mereka dengar samar-samar dari luar pintu depan mansion.
Dan jika pintu itu terbuka sekarang, artinya seseorang sedang memasuki lorong bawah tanah ini.
Tak ada tempat untuk bersembunyi. Tikungan terdekat di lorong itu berjarak lebih dari tiga puluh mel di belakang mereka; mustahil lari sejauh itu tepat waktu.
"Kita harus melawan," Ronie mendengar Tiese berbisik.
Memang. Jika tak ada tempat bersembunyi, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah bertarung atau menyerah. Pilihan itu sudah jelas.
Ronie dan Tiese menghunus pedang dan menggenggamnya dengan kedua tangan dalam kuda-kuda tempur. Di lantai di hadapan Ronie, Tsukigake merentangkan sayapnya—posisi yang dimaksudkan untuk melindungi tuannya—sementara Shimosaki melakukan hal yang sama di depan Tiese.
"Tsukigake, Shimosaki, masuk ke dalam sel dan diam!" perintah Ronie dengan suara mendesis.
Naga-naga kecil itu mendengkur tak puas namun menuruti perintah tersebut. Pertama, Tsukigake menyelip di antara jeruji besi. Ia mengepakkan kaki-kaki kecilnya, memilin tubuhnya hingga berhasil lolos dan berguling ke tengah sel. Para goblin di sepanjang dinding belakang menjerit ketakutan, tetapi mereka akan segera menyadari bahwa naga itu tak bermaksud menyakiti mereka.
Selanjutnya, Shimosaki mencoba menerobos masuk. Pintu tersembunyi itu sudah terangkat setengah, mengembuskan kabut beku berwarna putih kapur dari dalam kegelapan. Kegelapan itu begitu pekat hingga mereka tak bisa melihat siapa pun yang berada di sisi lain pintu, tetapi hawa keberadaannya sungguh terasa nyata.
"Cepat, Shimosaki!" seru Tiese. Shimosaki mengerang kesakitan.
Rupanya, jeruji ini sedikit lebih sempit daripada jeruji gerbang di atas tanah. Mungkin karena kebiasaan pilih-pilih makanannya, perawakan Tsukigake yang sedikit lebih kecil mampu menyelip lewat, tetapi pangkal sayap Shimosaki terlalu lebar. Mungkin mereka bisa mendorongnya masuk, tetapi hal itu bisa berakibat mematahkan sayapnya yang rapuh. Dan sementara itu, pintu terus terangkat naik.
"Lupakan, Shimosaki! Sembunyi di belakang kami!" teriak Tiese, mempererat cengkeraman pada pedangnya. Shimosaki menjawab panggilannya, menarik diri keluar dari jeruji dan bergegas ke belakang kedua gadis itu.
Akhirnya, pintu tersembunyi itu mencapai langit-langit dan berhenti dengan gemuruh yang lebih keras lagi.
Dari kegelapan beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki yang kering dan tegas—tok, tok, tok—di atas lantai batu menuju ke arah mereka. Ronie harus mengerahkan seluruh pengendalian dirinya agar tidak langsung menggunakan teknik tempur untuk menebas sosok itu sebelum ia terlihat. Itu adalah tindakan pengecut, bukan ksatria, dan membunuh musuh akan membuat identitas serta alasan penculikan goblin gunung tetap menjadi misteri.
Beberapa detik lagi berlalu, meski terasa bagaikan selamanya, dan sesosok bayangan muncul dalam cahaya redup lentera minyak.
Sosok itu begitu kelam hingga tampak seperti kegelapan itu sendiri yang dipahat membentuk manusia. Tak lama kemudian mereka menyadari bahwa itu adalah jubah hitam legam, tetapi efeknya begitu dahsyat hingga pada detik pertama, Ronie bahkan tak yakin apakah itu manusia yang hidup.
Tidak, itu pasti manusia.
Dan Ronie mengenali hawa keberadaannya.
Ini adalah pria berjubah hitam yang telah menculik Leazetta, putri Komandan Iskahn dan Duta Besar Sheyta. Sosok di lorong hadapan mereka memiliki aura yang sama persis dengan orang di lantai teratas Istana Obsidia—sesuatu di antara manusia dan monster.
Namun itu mustahil.
Penculik berjubah hitam itu telah melompat dari jendela Istana Obsidia dan menghilang baru tiga hari yang lalu. Lebih dari tiga ribu kilor memisahkan Obsidia dari Centoria. Jarak itu memakan waktu setengah tahun perjalanan kaki, tiga bulan dengan kereta kuda, atau dua minggu penuh menggunakan kurir berkuda estafet melalui sepuluh kota dan desa yang membentang di antaranya. Satu-satunya cara melintasi jarak itu dalam tiga hari hanyalah dengan naga—namun kepanikan pasti terjadi jika ada orang selain Integrity Knight yang terbang di atas kota-kota manusia.
Apakah ini orang yang sama atau hanya seseorang yang sangat mirip? Ronie menatap tajam, berharap dapat menangkap sekilas detail yang bisa membantunya memastikan hal itu. Lengan kanan si penculik telah putus ditebas Duta Besar Sheyta, sang Ksatria Diam, disusul oleh teknik Sonic Leap gaya Aincrad milik Ronie yang memotong lengan kirinya. Seorang pengguna sacred arts yang sangat kuat memang bisa meregenerasi anggota tubuh melalui penyembuhan, tetapi gerakan anggota tubuh itu akan terasa canggung selama seminggu setelahnya.
Namun pria ini—itu pun masih berupa asumsi—mengambil satu langkah ke lorong lalu terdiam sepenuhnya. Dari kegelapan tudung sosok itu yang dalam, Ronie dan Tiese bisa merasakan tatapan menyelidik yang seolah menempel di kulit mereka.
Dia mencoba memprediksi apa yang akan kami lakukan duluan... Atau bukan, apakah dia sedang menunggu sesuatu...?
Ronie mempererat cengkeramannya pada gagang Moonbeam Sword. Apa pun yang ditunggu pria itu, mereka tak punya alasan untuk menuruti keinginannya. Jika ini memang penculik yang sama dari Obsidia, ia pasti akan menggunakan racun. Lebih baik bagi mereka untuk menyerang sebelum ia sempat menggunakannya pada mereka entah bagaimana caranya.
Mereka tak bisa membunuhnya begitu saja. Ronie akan menyerang kaki kanan musuh; Tiese menyerang kaki kiri. Itu akan melumpuhkan kemampuan bertarungnya.
Ronie mengarahkan ujung pedangnya sedikit ke kiri. Tiese seketika memahami maksudnya dan mencondongkan tubuh ke arah berlawanan.
Napas mereka selaras dalam persiapan eksekusi serentak teknik gaya Aincrad, Slant. Tarik, embuskan, tarik...
Saat ia merasa telah sinkron sempurna dengan rekannya, Ronie mulai bergerak. Namun seolah mencuri napas dari paru-parunya, pria berjubah hitam itu bertindak lebih dulu.
Jika ia bergerak untuk menyerang, mereka pasti sudah melancarkan teknik mereka. Sebaliknya, pria itu dengan malas mengangkat tangan dan sekadar menyibakkan tudungnya ke belakang. Itu sudah cukup untuk mengacaukan ritme Ronie, dan ia menarik pedangnya sedikit ke belakang.
Suara berat bergemuruh, "Tamu tak diundang, rupanya. Atau... mungkin aku harus menyebutnya sebagai tuntunan Vecta."
Ia mengenali suara berat nan parau itu. Sama sekali tak mirip dengan bisikan serak si penculik di Obsidia.
Satu hal yang pasti, gerakan lengannya sangat mulus. Dan yang lebih penting, Ronie mengenali wajahnya. Fitur wajahnya tajam dan garang. Kumis dan janggutnya yang kelabu dibentuk meruncing di ujungnya, matanya berwarna biru pucat layaknya danau beku.
"...T-tak mungkin...," gagap Tiese.
Ronie ingin mengatakan hal yang sama. Itu adalah kaisar keenam Kekaisaran Norlangarth: Cruiga Norlangarth.
Detail kejadian masa lalu membanjiri benaknya. Hiasan dinding hitam yang terbakar, suara adu pedang di kejauhan.
Namun itu mustahil. Kaisar Cruiga tewas di ruang takhta kekaisaran tepat sekitar waktu ini tahun lalu.
Ronie dan Tiese pernah bersilang pedang langsung dengan sang kaisar. Mereka telah menghadapi gaya bertarung High-Norkia miliknya, di mana setiap teknik memiliki celah besar yang bisa dimanfaatkan namun juga berdaya hancur mematikan; pertarungan itu berlangsung lebih dari lima menit. Ketika Deusolbert akhirnya tiba, ia menembus kaki kanan kaisar dengan anak panah dari Conflagration Bow. Momen singkat itu cukup bagi Ronie dan Tiese untuk melepaskan serangan terbaik mereka, menghujamkan bilah pedang dalam-dalam ke kedua sisi dada kaisar.
Tak ada manusia yang bisa selamat dari luka seperti itu. Deusolbert telah mengonfirmasi kematian kaisar, dan jasadnya dibawa ke katedral, di mana ia dikremasi bersama jenazah dua kaisar lainnya. Jasad kaisar berubah menjadi cahaya kekuatan suci, dan Ronie melihatnya melebur ke udara dengan mata kepalanya sendiri.
Jadi Kaisar Cruiga mustahil masih hidup.
Namun, pria berjubah hitam di hadapannya tak mungkin orang lain selain Kaisar Cruiga.
Pikirannya menjadi mati rasa. Ronie tak bisa bergerak atau bahkan bicara. Pandangannya menyempit, dan indra tubuhnya memudar. Mata pria yang tanpa perasaan dan sedingin es itu tampak kian membesar, menyingkirkan segala hal lainnya.
Dan karena ia jatuh dalam kondisi mati rasa, reaksinya terlambat sesaat terhadap suara samar yang datang dari belakangnya.
Langkah kaki... Serangan mendadak... Musuh!
Pikiran itu meledak dalam benaknya. Ronie tetap mengarahkan tangan kirinya ke arah pria berwajah kaisar itu dan memutar kepalanya ke arah lain. Namun pria yang baru datang dengan jubah hitam lain itu sudah melompat mundur menghindar.
Dan di tangannya tergenggam bulu leher biru halus milik seekor naga muda.
"Gyurururuu!" naga itu mendeguk kesakitan.
"Shimosaki!!" teriak Tiese.
Bagi para gadis itu, Tsukigake dan Shimosaki adalah mitra tak tergantikan yang telah menghabiskan delapan bulan bersama mereka, sejak menetas dari telur yang diletakkan induk mereka, Akisomi.
Pikiran bahwa naga-naga itu akan disakiti sungguh tak tertahankan. Tiese menerjang ke arah pria berjubah hitam itu tanpa pikir panjang, tetapi seperti Ronie, ia membeku kaku hanya selangkah darinya. Pria itu telah menghunus pisau besar yang ia tekankan ke leher Shimosaki. Mata pisaunya berbintik-bintik dan berwarna hijau, jelas dilapisi semacam racun. Shimosaki merasakan bahaya itu dan berhenti meronta.
Perlahan tapi pasti, pria itu mundur, hingga tercipta jarak lebih dari lima mel antara dia dan para gadis. Mereka harus melakukan sesuatu, tapi mereka tak berani beranjak dari tempat mereka berdiri.
"Kalian para ksatria terlalu menghargai kadal-kadal itu," ejek pria berwajah Kaisar Cruiga dari pintu tersembunyi. "Mereka hanyalah binatang buas. Sulit dimengerti mengapa kalian begitu dekat, padahal masih banyak lagi dari tempat asalnya."
"Aku tak berharap orang sepertimu bisa mengerti," ujar Tiese dengan suara tertahan yang sarat emosi. "Perintahkan orangmu untuk melepaskannya. Jika kau melukai satu helai bulu pun di tubuh naga itu, tak satu pun dari kalian akan keluar dari tempat ini hidup-hidup."
"Ha-ha-ha. Bahkan sebagai ksatria, kalian masih senekat biasanya." Pria yang mirip kaisar itu tertawa, suaranya pecah. Ia meraba dada kirinya dengan jemari—titik yang sama di mana pedang Tiese menghujamnya setahun lalu.
"Sayangnya bagi kalian," lanjutnya, "akulah yang akan memberi perintah. Jatuhkan pedang kalian dan tendang menyusuri tanah ke arahku. Jika kalian membuat satu gerakan tambahan saja, kepala kadal kecilmu akan melayang."
Dan kepalamu juga, batin Ronie kelam. Namun bahkan jika pria itu adalah Kaisar Cruiga yang asli, nyawanya bukanlah pertukaran yang adil bagi nyawa Shimosaki. Tiese menatapnya dengan pandangan memohon, dan Ronie memberinya anggukan kecil.
Para gadis itu menjatuhkan bilah pedang telanjang mereka ke tanah. Sambil meminta maaf dalam hati pada pedangnya, Ronie menempatkan ujung sepatunya pada gagang pedang dan menendangnya perlahan ke arah sang kaisar.
Sang kaisar menjulurkan kaki dari jubahnya untuk menghentikan laju kedua pedang itu, lalu menendangnya dengan asal kembali ke lorong di balik pintu tersembunyi yang terbuka. Kilau perak pedang-pedang itu segera tertelan kegelapan.
"Bagus sekali. Sekarang, untuk perintah selanjutnya..."
Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan kunci hitam yang berkilau, lalu melemparkannya ke Ronie. Ronie mengulurkan tangan menangkapnya dengan kedua tangan. Meskipun baru saja berada di tubuhnya, kunci itu sedingin es.
"Buka sel di sebelah para goblin, masuk ke dalam, tutup pintunya, lalu kunci."
English Text: Ronie was hoping that if he approached them, careless after having disarmed them, she could grapple with him barehanded and take him hostage, then demand the man behind them release her dragon. But the emperor was calm and careful, keeping his distance. She glanced back and saw that Shimosaki was holding firm not to agitate the poison blade, despite the occasional struggle. Terjemahan Bahasa Indonesia:
Ronie berharap jika pria itu mendekati mereka karena lengah setelah melucuti senjata mereka, ia bisa bergulat dengannya dengan tangan kosong dan menjadikannya sandera, lalu menuntut pria di belakang mereka melepaskan naganya. Namun sang kaisar bersikap tenang dan hati-hati, tetap menjaga jarak. Ronie melirik ke belakang dan melihat Shimosaki bertahan diam agar tidak memicu pisau beracun itu, meskipun sesekali meronta.
Begitu mereka berada di dalam sel, melarikan diri akan menjadi hal yang nyaris mustahil, tetapi kini mereka tak punya banyak pilihan. Ronie memberi isyarat mata pada Tiese, lalu menghampiri sel kosong di sebelah kiri. Ia membuka kunci pintu tersebut, lalu masuk bersama rekannya. Kemudian ia menutup pintu, mengulurkan tangan kembali melalui celah jeruji, dan meraba lubang kunci agar bisa memasukkan anak kuncinya lagi dan memutarnya.
Kalau saja aku bisa memutarnya sedikit agar terlihat terkunci tanpa benar-benar menguncinya rapat... Tapi cara itu takkan berhasil. Ia teringat Kirito pernah mengatakan sesuatu seperti, Kunci dan lubang kunci di dunia ini bukanlah perangkat mekanis—melainkan pengunci yang dikendalikan sistem.
Ia tahu bahwa Kata Suci system merujuk pada cara kerja dunia ini. Jadi intinya Kirito mengatakan bahwa Tugas Suci pembuat kunci, yang diwariskan dari orang tua ke anak, melibatkan proses melubangi pelat logam menggunakan pahat khusus warisan leluhur, lalu membentuk potongan logam yang terlepas itu menjadi anak kunci—dan hukum dunia memastikan bahwa hanya kombinasi anak kunci dan lubang kunci itulah yang bisa bekerja bersama. Berdasarkan logika itu, setiap kunci hanya memiliki dua status—terkunci atau terbuka—dan mustahil memanipulasinya agar "terlihat" terkunci padahal sebenarnya terbuka, agar bisa dibuka paksa dengan hentakan kuat.
Ronie memutar kunci ke kanan hingga terasa ada tekanan balik dan akhirnya terdengar bunyi klik yang kejam. Ia menarik kunci itu keluar dan melemparkannya kepada sang kaisar.
Cruiga menangkapnya dengan tangan pucat, memasukkannya kembali ke dalam jubah, dan tersenyum kejam lagi. "Heh... Aku senang melihat kalian bisa patuh pada orang yang lebih tinggi derajatnya. Aku tak ingin mengotori tempat bersejarah ini dengan darah kadal kotor."
“...!”
Tiese menggeram menahan amarah, tetapi Ronie meletakkan tangan di bahunya. Dengan suara tertahan, ia berkata, "Bersejarah...? Bagiku ini cuma terlihat seperti penjara bawah tanah biasa."
Sang kaisar memilin ujung janggut lancipnya dengan jari. "Memang, ini hanyalah penjara bawah tanah. Namun bebatuan tempat kalian berdiri itu ternoda oleh darah selama tiga ratus tahun. Begitu banyak hamba sahaya yang telah dihukum di tempat itu atas nama Otoritas Penegakan Hukum..."
“...!”
Kini giliran Ronie yang terkesiap. Ia menunduk menatap batu yang menghitam di bawah kakinya.
Otoritas Penegakan Hukum adalah hak istimewa yang hanya diberikan kepada bangsawan tinggi dan keluarga kekaisaran, yang mengizinkan mereka menghukum siapa pun yang gagal menunjukkan rasa hormat yang pantas, dengan cara apa pun yang mereka pilih. Hanya bangsawan rendah atau rakyat jelata di tanah merekalah yang bisa dihukum, tetapi ayah Ronie, seorang bangsawan tingkat enam, pernah berkata bahwa ia telah berkali-kali dipermalukan oleh bangsawan tinggi karena alasan yang sangat tidak adil.
Namun Otoritas Penegakan Hukum sekalipun tidak bisa mengambil nyawa orang lain tanpa alasan yang sangat tepat—atau bangsawan tersebut berisiko melanggar Taboo Index. Dan hukuman pribadi yang dilakukan bangsawan tidak terhitung sebagai alasan yang "tepat". Bahkan Integrity Knights, yang memiliki hak istimewa terbesar di dunia manusia, dibatasi hanya boleh mengambil 70 persen dari Nilai Hidup maksimum orang yang bersalah sebagai hukuman.
"Hukuman apa pun yang menumpahkan cukup darah hingga menodai lantai pasti melanggar Taboo Index," ujar Ronie dengan suara parau.
Sang kaisar hanya terkekeh lagi. "Heh, heh-heh-heh... Ada tak terhitung banyaknya cara untuk mengakali indeks yang penuh celah itu. Kalian bahkan bisa bilang bahwa sejarah empat keluarga kekaisaran dan bangsawan tinggi adalah upaya terus-menerus untuk menemukan celah-celah tersebut."
Kata-kata itu memanggil ingatan mengerikan ke dalam benak Ronie, bak sambaran petir di tengah gelapnya malam.
Mantan Murid Elit kursi pertama, Raios Antinous, meskipun sesama siswa, telah memasang perangkap rumit dan licik bagi Ronie dan Tiese, serta mencoba menggunakan Otoritas Penegakan Hukum sebagai alasan untuk menodai mereka. Ia merinding membayangkan kebejatan macam apa yang pasti telah dilakukan ayah dan kakeknya—yang merupakan bangsawan tingkat tiga—di tanah pribadi mereka sendiri.
Dan jika bicara soal keluarga Kekaisaran Norlangarth, yang berdiri di atas semua bangsawan lainnya...
"Apa kau tak pernah merasa aneh, Nak? Jika ada pintu masuk ke dalam mansion, mengapa harus ada lorong bawah tanah yang mengarah keluar ke hutan?" tanya pria itu. Ronie menatap wajah sang kaisar dari balik jeruji.
Kumis tipis pria itu bertengger di atas senyum pucat yang kejam. Dia tidak menunggu jawabannya. "Tentu saja untuk mengeluarkan mayat-mayat itu. Hal terakhir yang kami inginkan adalah menodai mansion dengan darah kotor rakyat jelata."
"B... berani-beraninya kau!" teriak Tiese. Ia menghempaskan diri ke jeruji seolah hendak mendobraknya, mencengkeram baja itu.
Amarah yang membara juga menjalar dalam diri Ronie. Pria di hadapannya—dan seluruh keturunannya—telah bertahun-tahun mengurung orang di sel-sel ini, menyiksa mereka sembari menghindari hukum dan merenggut nyawa mereka secara tidak adil.
Gerbang yang mereka temukan di hutan itu tidak dimaksudkan untuk melindungi lorong dari penyusup. Itu hanyalah gerbang yang mereka gunakan untuk mengangkut mayat rakyat jelata tak berdosa dari sel di bawah. Itulah sebabnya kunci gerbang itu berada di lokasi yang begitu sembrono. Dan tentu saja demikian—siapa yang bakal menyelinap ke tanah pribadi kaisar dengan niat jahat?
Terlepas dari usaha keras Tiese, yang secara teknis adalah seorang Integrity Knight, jeruji logam itu hanya berderit, tidak lebih. Hanya membayangkan keputusasaan mendalam yang dirasakan orang-orang yang dikurung di sini selama bertahun-tahun saat memegang jeruji yang sama membuat Ronie gemetar dengan amarah yang kian memuncak.
Namun kemudian pria berjubah hitam yang menyandera Shimosaki muncul dalam diam dari sisi kanan lorong dan mengambil posisi di belakang kaisar. Sekali lihat pada pisau beracun yang ditempelkan ke leher naga kecil itu langsung membuat Tiese mundur menjauh dari jeruji.
Shimosaki terkulai kelelahan setelah meronta, tetapi saat melihat tuannya, ia mengeluarkan lolongan kecil. Tiese merintih mendengar suara itu, dan mata Ronie berkaca-kaca.
Tapi mereka tidak boleh berteriak. Tidak sekarang.
Di sel sebelah, di balik dinding batu yang memisahkan mereka, Tsukigake masih bersembunyi. Ia tetap diam, mati-matian mematuhi perintah yang ia terima tadi, tapi jika Ronie kehilangan kendali, Tsukigake kemungkinan akan melakukan hal yang sama. Ia mungkin akan menerobos kembali lewat jeruji dan menyerang pria berjubah itu demi menyelamatkan kakaknya. Sekejam apa pun pemikiran ini, jika Tsukigake tertangkap juga, maka peluang mereka untuk melarikan diri akan semakin kecil.
Kumohon, Tsuki. Tetaplah diam di tempatmu berada, doa Ronie menembus dinding batu tebal itu. Hanya itulah satu-satunya hal yang bisa menahan amarahnya. Seolah bisa membaca pikirannya, Kaisar Cruiga menatap tajam ke arah Ronie.
"Kau... gadis berambut hitam. Bukankah kau punya kadal sendiri?" Ia begitu terkejut hingga hanya bisa menggelengkan kepala tanpa kata. Tiese mengambil alih untuk menjawab. "Kami datang ke danau untuk membantu yang satu itu mengatasi sifat pilih-pilih ikannya. Naga Ronie masih di katedral."
"Ah... Kalian mungkin tidak tahu bahwa ada lima jenis ikan di Danau Norkia. Kami mengizinkan para hamba sahaya menangkap empat jenis di antaranya, tetapi siapa pun yang menangkap golden trout terlarang akan langsung dijebloskan ke sel-sel ini," ujar sang kaisar, suaranya terdengar penuh kerinduan.
Tiese membantah, "Seolah-olah mereka bisa memilih jenis ikan apa yang memakan umpan mereka."
"Tepat sekali. Mereka tidak bisa. Namun orang-orang yang kelaparan itu tak punya pilihan selain tetap menurunkan pancing mereka, berdoa agar golden trout yang lezat itu tidak memakan kail mereka. Kau mungkin hanya menangkap satu dari tiga ratus, tapi si pemenang yang beruntung... atau harus kukatakan, sial itu bisa terdengar melolong di seberang air. Cukup menyenangkan menikmati minuman di tepi air, diiringi teriakan mereka."
Ronie memelototi pria yang terkekeh itu. Ini ujian kesabaran lainnya untuk tidak meledak di hadapannya.
Memang benar bahwa pelanggaran Taboo Index dan hukum kekaisaran hampir semuanya tidak disengaja. Salah satu alasannya, melanggar hukum secara sadar mengharuskan seseorang memecahkan Segel Mata Kanan. Namun dihukum karena sesuatu yang tak bisa dihindari secara sadar sungguh tidak adil dan tidak benar. Dan sang kaisar pada dasarnya memaksa penduduk tanah pribadinya untuk jatuh ke dalam kemalangan.
Pada intinya, hal itu tak berbeda dengan Raios Antinous yang memusuhi Ronie dan Tiese demi menggunakan Otoritas Penegakan Hukum pada mereka.
Senyum kejam kaisar lenyap. "Hmm. Jadi hanya ada satu kadal. Kalau begitu kami akan menahan yang satu ini dengan hati-hati. Jangan khawatir, dia akan diberi makan... dan jika kalian mencoba melarikan diri, dia akan diberikan pada para goblin sebagai daging panggang."
Bersamaan dengan itu, Kaisar Cruiga berbalik menuju pintu tersembunyi. Namun kemudian ia berhenti dan melirik Shimosaki, yang lehernya masih dicengkeram oleh bawahannya.
"...Zeppos, menurutmu apa kadal itu bisa muat melewati jeruji sel?"
Jantung Ronie serasa mencelos. Pria yang dipanggil Zeppos itu mengangkat Shimosaki ke depan wajahnya dan mengamatinya. Dengan suara yang ternyata melengking tinggi, pria itu berkata, "Kalau dipaksa dorong cukup kuat, mungkin saja."
"Begitu rupanya."
Sang kaisar mengambil lentera minyak dari dinding dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah sel Ronie dan Tiese. Dengan tatapan tajam, ia memeriksa seluruh isi sel, lalu mengangguk puas.
Kumohon berbaliklah sekarang, doa Ronie. Namun sang kaisar berbelok ke kanan, bukan ke kiri, dan mulai berjalan menuju sel satunya.
Tsukigake pasti sedang bersembunyi di sudut sel, tetapi begitu cahaya lentera mencapainya, bulu halus berwarna kuning pucat itu akan terlihat sangat mencolok. Ia harus menghentikannya entah bagaimana caranya—tapi jika ia sembarangan memanggilnya, pria itu akan curiga. Dan lagi, apa gunanya mengulur waktu beberapa detik saja?
Kalau dia melihatmu, Tsukigake, berusahalah lari sekuat tenaga menuju gerbang di permukaan! batinnya, mengepalkan tinju, menyalurkan kehendak agar pesan itu sampai ke mitra kecilnya.
Sang kaisar berdiri di depan sel sebelah dan mengangkat lenteranya. Alisnya berkerut, ia menjulurkan leher ke depan dan mengamati seluruh penjuru sel dengan saksama.
Tiga detik... lima... sepuluh.
"...Hmph," dengusnya, melangkah mundur dari jeruji. Ia lantas mengembalikan lentera ke paku di dinding dan, tanpa menoleh lagi ke arah para gadis, kembali melewati pintu tersembunyi. Pria yang dipanggil Zeppos mengikuti, dengan Shimosaki menggantung dalam cengkeramannya.
Beberapa saat setelah mereka lenyap, terdengar bunyi thunk kecil dari kegelapan, dan pintu tersembunyi yang tadi terangkat ke langit-langit mulai bergemuruh dan turun kembali.
Ketika bagian bawah pintu bertemu dengan lantai, Ronie mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Tiese melepaskan tangan dari jeruji dan menempelkan dahi ke bahu Ronie yang mendekat.
"...Shimosaki akan baik-baik saja... kan...?" cicitnya.
"Tentu saja," Ronie menenangkannya. "Dia sandera yang berharga. Mereka takkan menyakitinya."
"...Ya," sahut Tiese dengan suara gemetar. Ronie mengusap punggung temannya berulang kali sebelum akhirnya melepaskan diri. Ia mendekati jeruji dengan hati-hati dan, sesenyap mungkin, berkata ke arah sel sebelah, "Terima kasih, para goblin."
Awalnya ia disambut keheningan, tetapi akhirnya, sebuah bisikan balasan terdengar.
"...Mereka tidak menemukan naga kecil itu."
Memang, hanya ada satu alasan yang memungkinkan Kaisar Cruiga tidak bisa melihat Tsukigake di sel yang sempit itu. Para goblin gunung, yang tadinya begitu takut padanya saat ia pertama kali menyelip masuk lewat jeruji, menggunakan tubuh mereka sendiri untuk menyembunyikan makhluk itu dari pandangan sang kaisar.
"Terima kasih banyak...," ucap Ronie. Dan kali ini respons yang ia dapatkan adalah bunyi "Krr!" pelan.
Tsukigake kembali menyelip keluar lewat jeruji dan berlari kecil menghampiri Ronie. Ia berjongkok saat makhluk itu mencoba meliuk masuk melewati jeruji lagi untuk bergabung dengannya, tetapi Ronie mengulurkan tangan untuk menahannya.
Ilustrasi Ronie sedang memberi arahan kepada Tsukigake
"Tsukigake, kumohon. Telusuri lorong naik ke permukaan dan cari jalan menuju gerbang utara Centoria... Jika penjaga melihatmu, mereka akan membawamu kembali ke katedral."
Ini adalah perintah yang sulit diberikan kepada seekor naga berusia delapan bulan. Bukan saja jarak dari Danau Norkia ke Centoria Utara lebih dari sepuluh kilor, jalan dari mansion ke jalan raya pun tak mudah. Dan mereka sudah berjalan jauh hari ini—Ronie bahkan tak bisa memperkirakan seberapa banyak Life Tsukigake yang akan berkurang sebelum mencapai kota.
Sangat mungkin naga itu akan pingsan di tengah jalan. Namun pada titik ini, Tsukigake adalah satu-satunya harapan mereka. Kemungkinan besar mustahil mematahkan jeruji besi tanpa pedang, dan kalaupun mereka bisa, itu pasti akan memancing perhatian para penculik dan mungkin berakhir dengan kematian Shimosaki.
Di tengah kecemasannya, ia menggenggam tubuh Tsukigake dari balik jeruji. Naga itu menciap, seolah meyakinkannya bahwa ia sanggup melaksanakan tugas itu.
Kemudian ia mundur menjauhi Ronie, mengepakkan sayap dua kali, dan mulai berlari ke arah utara menyusuri lorong. Tak lama kemudian ia hilang dari pandangan, dan derap langkah kaki kecilnya pun lenyap dari pendengaran.
"Maafkan aku... Kumohon berjuanglah, Tsukigake."
Ronie merosot ke lantai batu yang keras, menangkupkan kedua tangan, dan berdoa.

Komentar (0)

Memuat komentar...