Sword Art Online 020: Moon Cradle II
Bagian 7
Estimasi waktu baca: 20 menitUdara dipenuhi oleh suara dentang lonceng pukul tiga yang nyaring.Asuna meletakkan cangkir teh cofil pekatnya di meja dan berkata, "Kirito, kau harus makan sesuatu. Camilan pun tak apa.""Mm... Oh..."Kirito mendongak dengan tangan bersedekap, lalu mulai menjangkau nampan kayu berisi kudapan sebelum berhenti sejenak untuk menatap Asuna. Seolah-olah ia baru menyadari sesuatu."A... ada apa?""Oh... Cuma teringat kalau dulu kau selalu mengatakan itu padaku," ujarnya sambil meringis. Asuna segera tahu bahwa Kirito sedang membicarakan dunia nyata, bukan simulasi ini. Ia duduk di kursi di sebelah Kirito dan tersenyum."Itu karena setiap kali kau terobsesi pada sesuatu, kau jadi lupa makan, dan terkadang bahkan tak sadar kalau kau lapar.""Yah... Yui juga pasti akan memarahiku soal itu," katanya dengan nada sendu sebelum menatap Asuna. Kirito pasti merasakan perubahan pada ekspresi Asuna, karena ia mengulurkan tangan dan membelai lembut rambutnya. Asuna membiarkannya, dan rasa nyeri yang menusuk di dadanya perlahan mulai mereda, sedikit demi sedikit.Mereka mungkin takkan pernah lagi melihat "putri" mereka, Yui, AI top-down yang diciptakan di SAO orisinal. Bahkan kemampuan pemrosesan Yui pun sama sekali takkan memadai untuk mengimbangi laju super-akselerasi Underworld, dan lagipula tidak ada sarana untuk terhubung ke sana. Di akhir War of Underworld, Lisbeth dan Silica telah menjelaskan bagaimana Yui-lah yang membimbing mereka, Sinon, dan Leafa ke Underworld. Dia mengumpulkan seluruh kawanan itu, menjelaskan keadaan Underworld serta pentingnya Alice, dan meminta bantuan mereka.Jika bukan karena Yui, pasukan pengalih perhatian yang diikuti Asuna pasti sudah musnah, dan Kaisar Vecta akan lolos dengan membawa Alice dalam cengkeramannya. Pemikiran bahwa mereka takkan pernah melihat putri yang telah berbuat begitu banyak untuk mereka—bahkan tanpa sempat mengucapkan terima kasih—terasa amat menyakitkan, tetapi Yui pasti mengerti. Dia pasti tahu bahwa Kirito dan Asuna tak punya pilihan lain, dan meski terpisah oleh dinding ruang dan waktu, mereka akan selamanya mencintainya.Rupanya, Yui pernah menggambarkan Alice sebagai "bukti keberadaan semua dunia VRMMO, dimulai dari SAO, dan banyak orang yang hidup di dalamnya." Kalau begitu, Asuna harus mengerahkan segalanya untuk melindungi dunia ini. Kini setelah jalan menuju perdamaian antara kedua dunia akhirnya terbuka, ia harus melakukan apa pun yang ia bisa untuk mencegah perang kembali terjadi."...Kita harus kuat," gumam Kirito, seolah membaca pikirannya. Ia menepuk punggung Asuna dengan tangan yang tadinya membelai rambutnya, lalu mengambil kudapan nougat berisi kacang dan buah, lantas memasukkannya ke dalam mulut. Underworld adalah tempat virtual, tetapi tidak seperti Aincrad, jika kau lapar cukup lama, itu akhirnya akan memengaruhi Life-mu, dan kurang gizi bisa menyebabkan penyakit. Makan sama pentingnya di sini seperti halnya di dunia nyata.Tak mengherankan, penyelidikan di kantor kota Centoria Selatan pagi ini mengungkapkan bahwa tidak ada perintah pemindahan tiga goblin gunung yang dikeluarkan, dan tidak ada pejabat yang dikirim ke penginapan. Penjaga yang hadir bersaksi bahwa sertifikat perintah itu memiliki stempel pemerintah, tetapi simbol aslinya cukup sederhana hingga mudah dipalsukan. Tapi itu hanya bisa dilakukan jika kau bisa menghindari Taboo Index, yang sejak awal melarang segala bentuk pemalsuan segel dan tanda tangan.Jika pria—yang secara teknis hanya berupa lengan memegang belati—yang dilihat Asuna melalui penerawang masa lalunya telah membunuh Yazen, maka secara alami, dia tidak terikat oleh Taboo Index. Jika dia orang yang sama dengan pejabat palsu yang menculik para goblin, memalsukan segel hanyalah permainan anak-anak baginya.Penyelidikan pemerintah selesai setelah tengah hari, dan begitu hasilnya keluar, mereka memulai pencarian di seluruh Centoria Selatan untuk menemukan goblin yang diculik. Kotanya luas, tetapi itu hanya seperempat dari keseluruhan luas Centoria. Dan kantor penjaga kota memelihara dua puluh serigala gurun berhidung tajam yang konon mampu mendeteksi jika ada goblin yang ditahan di dalam gedung hanya dengan mengendus di ambang pintu. Mereka diperkirakan selesai menggeledah semua gedung menjelang petang, jadi Kirito dan Asuna menghabiskan hari dengan menunggu di kamar mereka di katedral dalam keresahan.Mereka ingin ikut serta dalam pencarian, tetapi Komandan Fanatio memohon agar mereka tetap berada di dalam, khawatir akan kemungkinan bahwa penculikan ini, layaknya pembunuhan Yazen, dimaksudkan sebagai jebakan untuk memancing para delegasi ke posisi yang rawan. Setidaknya mereka berniat menunggu di ruang rapat lantai lima puluh, tapi kali ini Ayuha-lah yang memberitahu Asuna bahwa cara terbaik untuk pulih dari ketegangan akibat melakukan penerawangan masa lalu adalah dengan istirahat yang cukup di kamarnya sendiri.Ayuha Furia adalah ahli sacred arts terkemuka, dan bahkan dia pun tidak bisa menggunakan penerawangan masa lalu dengan benar. Ia curiga kemampuan Asuna menggunakannya dalam waktu sesingkat itu ada hubungannya dengan kekuatan Stacia.Selama lebih dari setahun, Asuna dengan sabar dan gigih menjelaskan bahwa ia berasal dari dunia nyata dan bukanlah titisan Dewi Pencipta, Stacia, tetapi para anggota katedral, termasuk Integrity Knights, masih belum sepenuhnya mempercayainya. Demi mencegah kesalahpahaman lebih lanjut, ia melarang dirinya sendiri menggunakan kemampuan Manipulasi Lanskap Tanpa Batas... namun, baru seminggu yang lalu, ia terpaksa menggeser puncak katedral ke samping, demi menghindari tabrakan mengerikan dengan Dragoncraft Unit One milik Kirito.Bagaimanapun, Ayuha berteori bahwa pikiran Asuna telah membangun resistensi tertentu terhadap arus informasi yang besar, dan begitulah caranya ia bisa menahan tekanan dari penerawangan masa lalu. Namun hal itu tidak mengurangi kelelahan nyata yang ditimbulkannya, dan Asuna sudah merasakannya sendiri, jadi ia tak berniat menyalahgunakan kemampuan tersebut. Akan tetapi, keselamatan ketiga goblin gunung itu adalah masalah gawat yang berhubungan langsung dengan kesejahteraan seluruh Underworld.Jika manusia seperti Yazen dibunuh, dan ketiga goblin yang diculik itu difitnah sebagai pelakunya—atau bahkan jika mereka sekadar ditemukan mati—percik perdamaian yang telah dipupuk dengan hati-hati antara kedua dunia akan mengalami pukulan telak.Jika pencarian di Centoria Selatan tidak berhasil menemukan para goblin, hanya ada satu pilihan tersisa bagi mereka: Asuna harus melakukan penerawangan masa lalu di penginapan itu lagi untuk menyelidiki ke mana kereta kuda itu pergi. Namun itu menimbulkan masalah tersendiri. Mustahil mengikuti target sembari mempertahankan seni tersebut, jadi begitu kereta meninggalkan pandangan piringan kristal, ia harus berpindah lokasi dan melihat ke masa lalu lagi. Dan satu kali penerawangan kemarin saja sudah hampir membuatnya pingsan. Asuna tidak tahu apakah ia sanggup melakukannya berkali-kali berturut-turut, bahkan dengan jeda istirahat sekalipun.Raut wajah serius Kirito mungkin dikarenakan ia sangat berharap mereka bisa mengamankan para goblin sebelum tindakan semacam itu diperlukan. Namun harapan itu kian menipis setiap detiknya. Dua setengah jam telah berlalu sejak pencarian dimulai, dan mereka belum menemukan ketiga goblin itu ataupun kereta kuda yang digunakan untuk melarikan mereka.Kirito hanya memakan satu camilan sebelum kembali terdiam, jadi untuk meredakan kecemasannya, Asuna mencoba mengalihkan topik."Omong-omong, kudengar para apprentice knights pergi jalan-jalan?""Hah...? Oh... ya," sahutnya, kembali melihat ke luar jendela. "Sepertinya naga Ronie, Tsukigake, mulai pilih-pilih makanan, jadi mereka pergi ke danau untuk mencoba mengatasi masalah itu.""Benarkah...? Aku tidak tahu naga punya makanan yang disukai dan tidak," ujarnya sambil terkikik.Bibir Kirito ikut menyunggingkan seringai. "Rupanya begitu. Kepala Kandang Hainag memberinya saran: Suruh mereka mencoba memakan ikan yang mereka tangkap sendiri.""Ah. Ya, makanan yang kau dapatkan sendiri selalu terasa lebih enak, kan? Aku ingat pernah pergi ke gunung di rumah kakekku di Miyagi untuk memetik tanaman liar dan jamur..."Kenangan masa mudanya membanjiri benaknya, sebuah kehangatan menenangkan yang membantunya melupakan sejenak kesulitan saat ini.Kalau dipikir-pikir, semua bahan yang ia gunakan untuk memasak di sini berasal dari pasar Centoria; ia belum pernah mendapatkannya dari alam liar sendiri. Makanan di Underworld mulai kehilangan Life begitu dipanen, dan nilai hidup itu terikat langsung dengan rasa. Lain kali jika ada kesempatan, ia harus mencoba memetik sendiri bahan-bahan segar."Di mana letak danau yang mereka tuju?" tanyanya penasaran."Um, kalau tidak salah di tengah tanah kekaisaran di utara. Kabarnya es di danau itu baru saja mencair... tapi...," ujar Kirito, kata-katanya kian melambat hingga akhirnya terhenti sama sekali.Asuna menatapnya penuh tanya. Sang Prime Swordsman sedang menatap kosong ke satu titik di udara, wajahnya tampak kendur. Akhirnya, dahinya berkerut, dan ia berbisik pada dirinya sendiri, "Tapi mungkinkah mereka dibawa... bukan ke dalam Centoria, melainkan ke suatu tempat di luar sana... seperti bekas tanah pribadi...?"Jelas bahwa subjek tak terucap dari pemikiran itu adalah para goblin yang hilang.Asuna langsung menggelengkan kepala. "Itu mustahil. Setelah insiden Yazen, setiap orang atau kereta yang melewati gerbang Centoria Selatan harus menjalani pemeriksaan menyeluruh. Meskipun tubuh goblin kecil, mustahil menyembunyikan tiga ekor sekaligus di dalam kendaraan... Apalagi mereka semua pasti diikat atau dibuat pingsan, kan?""Aku setuju mereka tak mungkin lolos dari gerbang selatan. Tapi... bagaimana dengan gerbang lainnya?" tanyanya.Ia menatap Kirito. "Maksudmu... jika kereta itu melewati Dinding Keabadian menuju Centoria Timur atau Barat...?""Mungkin bahkan dua kali, sampai ke Centoria Utara.""Hmm..."Asuna merenungkan gagasan ini. Hal itu bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Dinding Keabadian, yang memisahkan Centoria dan sisa dunia manusia dengan bentangan tiga ribu kilor, adalah keajaiban yang bahkan hanya bisa dikagumi oleh Asuna dengan pengalaman VR-nya yang segudang. Konon, Administrator memanggil dinding itu hanya dalam semalam menggunakan sacred arts—dan bahkan dengan kemampuan Manipulasi Lanskap Tanpa Batas dari akun Stacia, Asuna tak bisa membayangkan mampu mengulangi prestasi yang sama. Ia takkan mampu menahan aliran data masif ke dalam fluctlight-nya dan kemungkinan besar akan jatuh koma setelah menciptakan sepuluh kilor dinding saja.Karena pemahaman inilah, Asuna menganggap Dinding Keabadian sebagai rintangan yang tak tertembus dan tak pernah terpikir untuk berjalan di atasnya, seperti yang dilakukan Kirito kemarin. Jadi ia begitu saja menyingkirkan kemungkinan kereta pembawa goblin gunung itu menyelinap melewati dinding dari benaknya."...Untuk melewati salah satu dari empat gerbang di Dinding Keabadian, kau butuh surat jalan terbitan Katedral atau sertifikat perjalanan satu hari dari salah satu pemerintah empat kota," ujar Asuna."Tapi...""Si penculik sudah berhasil memalsukan surat perintah pemindahan dari pemerintah kota Centoria Selatan. Surat jalan tembaga mungkin sulit dipalsukan, tapi sertifikat di atas kertas kulit domba... Pada titik ini, kita melihat metode yang sangat mirip dengan apa yang terjadi di Obsidia..."Pria berjubah hitam yang menculik Leazetta, putri Sheyta dan Iskahn, bersembunyi di lantai teratas Istana Obsidia, yang diyakini semua orang tertutup rapat. Cara yang digunakannya untuk masuk ke sana masih belum jelas. Namun harus diakui, pola tindakannya sangat mirip dengan penculikan goblin ini.Kirito mengatupkan bibir sejenak. Ia bangkit berdiri dengan cepat. "Mari kita perluas pencarian goblin ke Centoria Utara, Timur, dan Barat, serta tanah pribadi di luarnya.""Aku setuju..." sahut Asuna, ikut bangkit berdiri. Ia memandang ke arah jendela di dinding selatan.Bangunan batu pasir merah Centoria Selatan bermandikan cahaya matahari sore. Warna keemasan sudah menghiasi langit di sebelah barat."Tapi hari sudah menjelang malam. Bukankah akan sulit melakukan pencarian di luar ruangan jam segini? Apalagi tanah-tanah itu sangat luas...""Ya... itu benar. Tapi meski kita baru bisa mulai mencari di tanah pribadi besok pagi, kita harus mulai menyisir kota sekarang juga. Aku akan ke lantai lima puluh. Kau tetap di sini, dan—"Mulutnya tiba-tiba dibungkam oleh jari telunjuk. Asuna berkata, "Tentu saja aku ikut denganmu. Jangan khawatir, semua rasa lelah akibat penerawangan masa lalu sudah hilang."English Text: “……All right,” Kirito said, picking up another nougat off the platter on the table, then popping it into Asuna’s mouth in revenge. “Then you’d better eat up to build your strength.” She started to say “I know,” but with the treat in her mouth, it came out more like “Gamh mbow .” Terjemahan Bahasa Indonesia:"......Baiklah," ujar Kirito, mengambil sepotong nougat lagi dari nampan di meja, lalu memasukkannya ke mulut Asuna sebagai aksi balas dendam. "Kalau begitu kau harus makan sampai habis untuk menambah tenaga."Ia hendak berkata "Aku tahu," namun dengan kudapan di dalam mulutnya, suaranya malah terdengar seperti "Agkuh auuh."Keduanya bergegas menaiki tangga besar menuju lantai lima puluh dan masuk ke aula pertemuan, di mana mereka seketika menarik perhatian orang-orang yang duduk mengelilingi meja.Yang pertama angkat bicara adalah Ayuha Furia yang berjubah putih."Lady Asuna, Anda harus istirahat; saya mohon!""Aku sudah tidak apa-apa, Ayuha. Aku sudah tidur siang yang cukup, dan aku merasa jauh lebih baik," jawabnya serta-merta, mendudukkan kembali pemimpin brigade sacred artificers itu ke kursinya.Berikutnya giliran Fanatio, yang mengenakan zirah ringan tak seperti biasanya, menoleh ke arah Kirito. "Prime Swordsman, sayangnya kami belum mendengar kabar baik. Pencarian di Centoria Selatan dimulai di Distrik Sepuluh, dan mereka telah mencapai mansion di Distrik Tiga tanpa hasil apa pun. Sejauh ini bagaikan ayunan yang meleset."Ungkapan ayunan yang meleset itu pasti berasal dari bisbol, yang sempat mengalihkan perhatian Asuna sejenak karena ia heran bagaimana ungkapan semacam itu bisa ada di dunia yang tidak mengenal olahraga tersebut, tetapi ini adalah hal yang paling tidak penting saat ini."Soal itu, Fanatio," ujarnya, terlalu terburu-buru untuk sekadar duduk di kursi biasanya, "kami rasa ada kemungkinan kereta kuda yang membawa goblin gunung itu melewati Dinding Keabadian dan meninggalkan Centoria Selatan."Ruang rapat yang luas itu menjadi sunyi. Mereka yang duduk di meja bundar adalah Ayuha, Fanatio, serta para ksatria Renly, Nergius, dan Entokia. Deusolbert berada di markas pencarian sementara yang didirikan di Distrik Lima Centoria Selatan, dan kepala intelijen, Xiao Choucas, sedang pergi bersama bawahannya melakukan penyelidikan sendiri.Yang pertama bicara adalah Entokia, yang tergolong banyak bicara untuk ukuran ksatria senior."Hmm, bukankah itu agak mustahil dilakukan? Untuk melewati salah satu Gerbang Musim, kau butuh surat jalan dari Gereja Axiom, dan Pontifex membuat benda itu dengan sacred arts.""Oh... benarkah? Jadi kalau yang ada sekarang habis, mustahil membuat lagi?" tanya Kirito.Kepala ksatria itu mengangguk, rambut birunya yang cepak tetap kaku dan rapi. "Kurasa begitu. Kudengar benda itu dibuat sedemikian rupa hingga ahli arts terhebat pun tak bisa meniru detailnya...""Itu benar. Benda itu dikonstruksi agar simbol emas Gereja Axiom bersinar pada surat jalan tembaga saat terkena cahaya, tapi bahkan Tuan Bercouli dan aku tak pernah diberitahu cara pembuatannya," tambah Fanatio. Hal itu menjawab pertanyaan apakah benda itu bisa dipalsukan.Kirito menumpukan pergelangan tangan di meja dan menautkan jemarinya. "Kita bisa memikirkan soal kekurangan surat jalan itu nanti; untuk saat ini, bagus sekali mengetahui bahwa benda itu tak bisa dipalsukan. Masalahnya, bahkan tanpa surat jalan permanen, masih ada cara melewati gerbang.""Sertifikat satu hari, maksudmu," kata Ayuha. Kirito dan Asuna mengangguk. Para ksatria tampak kaget sejenak, dan Nergius akhirnya membuka mulut untuk bicara."Artinya para pemberontak tidak hanya memalsukan perintah pemindahan dari pemerintah kota, tapi juga sertifikat perjalanan untuk melewati gerbang. Berapa banyak pelanggaran Taboo Index yang berniat mereka lakukan...?""Dinginkan kepalamu, Negi Kecil. Para pemberontak sudah membunuh orang, jadi jelas mereka tak takut pada Taboo Index," ujar Fanatio. Nergius menarik napas, mungkin hendak memprotes panggilan itu, tetapi yang keluar hanyalah helaan napas pasrah.Sebaliknya, Renly dengan sabar mengangkat tangan sebelum bicara. "Tapi, Kirito, jika penculik telah melewati salah satu Gerbang Musim... kita belum memeriksa isi kereta kuda mana pun di luar Centoria Selatan. Mungkinkah mereka sudah meninggalkan ibu kota sepenuhnya...?""Benar," kata Kirito pada ksatria muda itu. "Kupikir kita perlu memperluas pencarian goblin ke Centoria Timur, Barat, dan Utara, serta ke bekas tanah pribadi di luar kota. Tapi hari sudah mulai gelap...""Kita bisa bersiap mencari di tanah pribadi mulai subuh. Kita akan langsung mencari di dalam kota. Aku yang akan memimpinnya," kata Fanatio, bangkit berdiri. Kirito membungkuk padanya."Terima kasih, Fanatio. Aku menghargai bantuanmu.""Bukan apa-apa, sungguh. Aku cuma ingin kau tetap di sini dan bersikap manis, anak muda," ujarnya, menyindir tajam sang pendekar pedang yang cemas itu seraya melangkah ke buaian kayu yang diletakkan di dekat situ. Ia membelai kepala Berche yang sedang tidur dengan penuh kasih sayang, mengucapkan sepatah dua patah kata pada pelayan yang menunggu di dekatnya, lalu bergegas keluar aula.Biasanya selama rapat, Tiese atau Ronie-lah yang menjaga bayi itu. Namun Asuna ingat mereka sedang tidak ada di katedral kali ini.Tepat saat itu, Kirito angkat bicara. "Um... Aku tidak akan ikut serta dalam pencarian, tapi aku ingin pergi keluar sebentar."Ia bicara seolah sedang meminta izin, padahal hanya Fanatio dan Deusolbert yang bisa menolak permintaan delegasi, dan mereka sedang tidak ada di tempat.Tiga ksatria dan satu ahli seni itu saling berpandangan. Nergius bicara mewakili yang lain dengan bertanya, "Ke mana kau berencana pergi?""Sebenarnya, Ronie dan Tiese pergi ke danau di tanah pribadi kaisar wilayah utara. Mereka sedang melatih naga mereka menangkap ikan, atau semacamnya...""Ah, memperbaiki kebiasaan makan yang buruk?" Nergius menyadari.Entokia segera menambahkan, "Benar juga, aku ingat naga Negio, Shionade, suatu hari pernah berhenti memakan apa pun yang berbau melon saat masih kecil. Itu sangat merepotkan untuk diatasi, kan? Kita harus pergi jauh ke hutan selatan demi mencari melon legendaris, yang termanis di dunia...""Lagipula bukan aku yang memintamu menemaniku," kata Nergius datar. Ia menoleh ke Kirito. "Danau di tanah utara itu Danau Norkia, benar? Seingatku danau itu dikelilingi padang rumput terbuka... Bukan jenis tempat di mana pemberontak bisa bersembunyi.""Yah, itu benar. Tapi mengingat sifat mereka, jika mereka, katakanlah, melihat kereta mencurigakan lewat, mereka mungkin akan memutuskan untuk menyelidikinya sendiri..."Asuna mau tak mau setuju. Ronie dan Tiese adalah gadis yang baik, tetapi setelah bimbingan Kirito di sekolah, mereka jadi punya sedikit sifat nekat. Dan sekarang mereka adalah murid yang bekerja keras agar diakui sebagai ksatria sejati, jadi mudah membayangkan usaha keras mereka itu merembet menjadi perilaku berisiko."Jarak ke Danau Norkia sepuluh kilor, jadi aku akan melesat ke sana untuk menjemput mereka lalu kembali. Paling cuma butuh satu jam... Empat puluh lima menit, bahkan," Kirito meyakinkan mereka seraya bangkit berdiri. Ia menuju ruang elevator di utara, bukan tangga di selatan. Agaknya supaya ia bisa terbang dari lantai katedral yang lebih tinggi.Asuna bergegas berdiri dan menambahkan, "Aku ikut juga!"Kirito berbalik menghadapnya, lalu melirik Ayuha. Wanita berjubah putih itu jelas khawatir dengan ide ini, tetapi ia mengalah, menyadari bahwa ia tak bisa menghentikan mereka. Tetap saja, ia tak lupa berpesan "Segera kembali," jadi Asuna memberinya bungkukan sopan dan berlari kecil menyusul Kirito."Um, kalau ada aktivitas mendadak di kota, aku akan pergi memberitahu kalian!" teriak Renly. Kirito membalas "Tolong lakukan!" dan membuka pintu ke poros piringan elevator. Keduanya melompat masuk dan cepat-cepat menutup pintu di belakang mereka, lalu menghela napas."Kau terlihat seolah berpikir 'Kita berhasil kabur!'" ledek Asuna, melirik pasangannya dari samping.Kirito menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak berpikir begitu sama sekali. Aku cuma khawatir soal Ronie dan Tiese...""Ha-ha-ha, aku tahu. Aku yang akan gerakkan piringannya." Mereka berdiri di atas piringan perak yang terletak di lantai, dan Asuna meletakkan tangannya di sekeliling tabung kaca yang berdiri di tengahnya.Sebelumnya, Airy sang operator memanipulasi elevator ini dengan sacred arts, tetapi prosesnya kini sudah otomatis. Tabung besar yang tertanam di lantai poros elevator dimuat dengan sejumlah besar elemen angin, dan dengan menekan tombol nomor lantai di dinding, tabung itu akan mengeluarkan jumlah elemen angin yang diperlukan untuk mendorong piringan ke ketinggian tersebut, lalu memecahkannya sesuai kebutuhan untuk memberikan tekanan ke atas.Akan tetapi, piringan itu masih memiliki tabung kaca untuk pembuatan elemen angin, agar pengendara bisa menggunakannya secara manual dalam keadaan darurat. Dengan kata lain, alih-alih menggunakan kecepatan lembut fungsi otomatis, kau bisa memilih untuk mengoperasikannya secara manual. Kirito mulai berkata "Tolong mengemudi yang aman y—," tapi Asuna menciptakan sepuluh elemen angin di dalam tabung tanpa mendengarkan akhir kalimat itu.Saat Airy mengajarinya cara mengoperasikan platform ini, dia bilang "Lepaskan tiga saat mulai naik, lalu satu setiap kali mulai kehilangan kecepatan," tapi itu mode lembut saat membawa penumpang; dia memberitahu Asuna diam-diam bahwa alat ini bisa dibuat melaju lebih cepat."Burst!" perintahnya, melepaskan enam elemen sekaligus. Cahaya hijau berkilau di dalam tabung, yang memancarkan ledakan udara dari dasarnya, melesatkan piringan tempat mereka berdiri tinggi ke dalam poros.English Text: “Wh-whoa…!” Kirito shouted, grabbing Asuna’s shoulders. He always seemed perfectly calm when flying by dragoncraft or Incarnation, but this shaft was frightening to him for some reason. Asuna had heard that it was because he’d nearly fallen from the top of the cathedral before she’d arrived in the world, but he didn’t like to talk about the details. Terjemahan Bahasa Indonesia:"W-waaah...!" teriak Kirito sambil mencengkeram bahu Asuna. Dia selalu tampak sangat tenang saat terbang menggunakan pesawat naga atau Incarnation, tetapi entah mengapa poros ini membuatnya takut. Asuna pernah mendengar alasannya adalah karena dia hampir jatuh dari puncak katedral sebelum Asuna tiba di dunia ini, tapi Kirito tak suka membicarakan detailnya.Namun kenyataannya, Integrity Knight Alice telah menceritakan pada Asuna apa yang terjadi, saat War of Undewrwolrd berkecamuk di sekitar mereka. Sebelum memiliki kemampuan terbang, dia pernah bergelantungan di bagian luar lantai delapan puluh hanya dengan bermodalkan sebilah pedang untuk menopang tubuhnya. Itu pastilah pengalaman yang mengerikan, pikir Asuna. Namun melihat Kirito, yang kini secara mental lebih tua darinya, merengek seperti anak kecil di dalam poros elevator ini membuatnya ingin meluncurkan mereka ke atas lebih cepat lagi.Saat pendakian enam elemen mereka mulai melambat, ia melepaskan empat elemen yang tersisa. Piringan itu melesat ke atas lagi, dan Kirito memeluk punggungnya sambil menjerit. Kejahilan itu sudah cukup memuaskan baginya, dan karena mereka baru saja mencapai lantai sembilan puluh, ia menginjak pedal yang mengunci posisi piringan ke dinding.Poros ini dulunya menghubungkan lantai lima puluh hingga delapan puluh, tetapi dalam proses otomasinya, mereka menambahkan poros baru dari lantai satu hingga lima puluh dan memperpanjang poros yang sudah ada hingga ke lantai sembilan puluh. Hal itu tentu saja karena Pemandian Besar di lantai tersebut kini terbuka untuk umum, tetapi tak ada jalan keluar ke bagian luar di sana, jadi mereka harus menaiki tangga lagi menuju lantai sembilan puluh lima, Anjungan Pandang Bintang Pagi.Di sinilah mereka makan siang bersama Ronie, Tiese, dan Hana si juru masak kemarin, tetapi saat matahari menjelang terbenam, taman gantung ini memiliki suasana yang jauh berbeda. Sinar matahari menyorot tajam langsung melalui bukaan di samping saat ia turun, membuatnya terasa seperti versi mini matahari terbenam di benteng melayang Aincrad.Asuna senang menyaksikan matahari terbenam di sini, tetapi sekarang bukan waktunya. Kirito bergegas ke bukaan di ujung utara dan mengulurkan lengannya pada Asuna. Asuna mendekat padanya agar Kirito bisa mendekap tubuhnya."Dengar... aku tahu kita sedang terburu-buru, tapi... terbanglah dengan aman, oke?" ujarnya.Kirito memberinya cengiran tanpa suara, lalu mengubah ujung jaket kulit hitamnya menjadi sayap naga. Asuna memeluknya erat saat sayap itu terbentang lebar.Ia lega Kirito akan menggunakan penerbangan Incarnation yang senyap alih-alih metode elemen angin yang cepat namun bising... tapi kelegaan itu hanya bertahan sesaat. Kirito melompat dari peron, dan sayap hitam itu mengepak kuat melawan udara untuk menstabilkan posisi mereka sejenak...Dan kemudian mereka melesat melintasi langit dengan akselerasi berkali-kali lipat dari piringan elevator saat ia menggunakan enam elemen sekaligus. Dinding udara menghantam wajah mereka saat menara tertinggi istana Centoria Utara mendekat dengan cepat. Ia tahu katedral jauh lebih tinggi, tetapi ia tak kuasa memejamkan mata saat mereka melewati menara itu.
Jika dia bisa bergerak secepat ini hanya dengan Incarnation, akan seperti apa jadinya jika dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk terbang dengan elemen angin? batinnya. Kemudian ia teringat bahwa ia pernah merasakannya sekali sebelumnya.Itu terjadi di akhir War of Underworld, satu tahun tiga bulan yang lalu.Saat Kirito bangun dari kondisi komanya, ia menggunakan penerbangan elemen angin kecepatan maksimum untuk mengejar Kaisar Vecta, yang telah menculik Alice. Kala itu, Asuna tidak tahu apa-apa tentang geografi Underworld, jadi baru belakangan ia mengerti seberapa jauh Kirito telah membawanya terbang. Faktanya, dia telah menempuh jarak lebih dari enam ratus mil hanya dalam lima menit, sambil membawa Asuna di satu lengan. Itu hampir 7.500 mil per jam, sepuluh kali kecepatan suara.Penguasaan Incarnation Kirito kini cukup kuat untuk mengangkat pesawat naga logam, tetapi pencapaiannya kala itu benar-benar sebuah mukjizat ilahi. Pertama penerbangannya, lalu mengembalikan naga Alice dan saudaranya ke wujud telur untuk menyelamatkan mereka dari cedera fatal, dan terakhir bertarung melawan akun super Kaisar Vecta—termasuk seni Perfect Weapon Control yang mengubah seluruh langit Underworld dari siang menjadi malam.Pertanyaannya adalah, apakah Kirito menunjukkan kekuatan khusus pada momen tunggal itu, ataukah dia hanya menahan kekuatannya sekarang? Jika yang kedua, maka tak ada alasan bagi Kirito untuk menyembunyikan kekuatan Incarnation-nya saat Ronie dan Tiese dalam bahaya, pikir Asuna.Ia sedang berpegangan lebih erat pada bahu Kirito ketika, seolah menunggu sinyal tersebut, cahaya hijau cemerlang meledak dalam pandangannya, dan serangkaian ledakan terdengar tepat di belakangnya. Mereka berakselerasi dengan begitu dahsyat seolah dihantam palu raksasa, dan Asuna pun menjerit.
Komentar (0)
Memuat komentar...