Sword Art Online Progressive 001
Aria Malam Tanpa Bintang - Bagian 1
Estimasi waktu baca: 12 menitHanya sekali dalam hidup, aku menyaksikan bintang jatuh.Momen itu bukan hadir di tengah liburan musim panas, melainkan tampak dari balik jendela rumahku sendiri. Bagi mereka yang tinggal di daerah dengan udara yang bening dan malam yang benar-benar pekat, bintang jatuh mungkin bukan hal yang istimewa. Namun sayangnya, Kota Kawagoe di Prefektur Saitama—tempat aku menghabiskan empat belas tahun usiaku—tidak memiliki keistimewaan tersebut. Bahkan pada malam yang cerah sekalipun, hanya bintang-bintang bermagnitudo dua yang mampu ditangkap oleh mata telanjang.Namun, di suatu malam pada pertengahan musim dingin, saat aku tak sengaja melirik ke luar jendela, aku benar-benar melihatnya. Di malam kelam yang tak banyak bertabur bintang itu, cahaya lampu kota seolah membentuk selubung pucat yang menyelimuti cakrawala. Lalu, dalam sekejap, kilatan cahaya cepat membelah kesunyian tersebut. Diriku yang saat itu hampir menginjak kelas 5 SD berpikir dengan kekanak-kanakan, "Aku harus memanjatkan permohonan"... Sejauh itu semua terasa wajar, namun permohonan yang terlintas di benakku justru, "Semoga drop monster berikutnya adalah item langka", sebuah keinginan yang hampa tanpa ketulusan. Kurasa hal itu muncul karena saat itu aku sedang begitu terobsesi memainkan sebuah MMORPG.Bintang jatuh yang kulihat sekilas hari itu, akhirnya kembali kulihat tiga (atau empat?) tahun kemudian; bersinar dengan warna yang sama, melesat dengan kecepatan yang serupa. Hanya saja, kali ini aku tidak melihatnya dengan mata telanjang, pun aku tidak sedang berdiri di bawah langit malam yang kelabu. Aku menyaksikannya di kedalaman sebuah dungeon yang suram, yang tercipta melalui Nerve Gear—interface VR tipe sensor penuh pertama di dunia.Pertarungan itu hanya bisa digambarkan dengan satu kata: mengerikan.Sesosok monster humanoid level 6, Ruin Kobold Trooper, mengayunkan kapak tangan yang tampak mengerikan, sementara sosok yang menghadapinya nyaris tak sanggup menghindar. Rasa dingin merambat di punggungku saat menyaksikan pertarungan tersebut. Namun, setelah sang pemain berhasil mengelak dari tiga serangan berturut-turut, si Kobold kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan emas itu, sosok tersebut melancarkan sebuah sword skill dengan kekuatan penuh.Itu adalah teknik pertama yang bisa dipelajari dalam kategori senjata rapier: sebuah serangan tusukan tunggal yang disebut Linear. Sebuah keahlian dasar yang sederhana, yang diawali dengan memosisikan pedang di depan tubuh lalu menghunjam lurus ke depan disertai putaran, namun kecepatannya sungguh mengerikan. Jelas sekali bahwa akselerasi tersebut tidak hanya bergantung pada bantuan gerakan sistem, melainkan didorong oleh perintah gerakan dari sang pemain itu sendiri.Selama masa beta test, aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri tak terhitung banyaknya anggota party maupun monster musuh yang menggunakan sword skill ini. Namun kali ini, bilah rapier itu sendiri tak sanggup kutangkap; yang terlihat hanyalah garis lintasan cahaya yang menjadi ciri khas sebuah sword skill. Kilatan putih murni itu, saat membelah kegelapan dungeon yang remang, membangkitkan kembali ingatanku akan bintang jatuh di hari itu.Sang pengguna rapier terus menghindar dari kombo tiga serangan sang Kobold, lalu membalasnya dengan serangan balik menggunakan teknik Linear. Setelah mengulangi pola serang-tahan ini sebanyak tiga kali lagi, sang pemain berhasil menumbangkan manusia berkepala binatang yang bersenjata itu—salah satu monster terkuat di Labirin ini—tanpa luka sedikit pun. Kendati demikian, pertempuran tersebut tidak tampak mudah. Begitu sword skill mematikan itu menembus tepat di tengah dadanya dan sang monster hancur menjadi partikel cahaya saat terjerembap, sang pengguna rapier tampak terhuyung-huyung, seolah terdorong oleh serpihan poligon yang tak berwujud, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong. Sosok itu perlahan meluncur turun hingga terduduk di lantai, sembari terengah-engah dengan napas yang berat.Sosok itu tampaknya tidak menyadari keberadaanku yang berdiri sekitar 15 meter darinya, tepat di sudut persimpangan jalan tersebut.Menjauh tanpa sepatah kata pun dan mencari mangsaku sendiri sudah menjadi prosedur tetap bagiku. Sebulan yang lalu, tepat pada hari yang menentukan itu, aku memutuskan untuk hidup secara egois sebagai pemain solo. Sejak saat itu, aku tak pernah sekalipun mendekati orang lain yang sendirian. Satu-satunya pengecualian hanyalah jika aku melihat seorang pemain dalam pertarungan yang jelas-jelas berada dalam bahaya; tetapi, bilah HP milik pengguna rapier itu masih hampir penuh. Setidaknya, sosok tersebut sama sekali tidak tampak membutuhkan bantuan dari orang asing yang suka mencampuri urusan orang lain.Kendati demikian...Setelah menimbang selama kurang lebih lima detik, aku meninggalkan kegelapan di sudut persimpangan dan melangkah menuju sang pengguna rapier yang masih terduduk.Perawakannya kurus, cenderung ramping. Tubuhnya mengenakan tunik kulit merah tua dengan pelindung dada tembaga yang ringan, sementara bagian bawahnya mengenakan celana kulit yang rapi dengan bot setinggi lutut. Jubah bertudung menyelimuti tubuhnya mulai dari kepala hingga ke bawah pinggang, sehingga wajahnya tak dapat terlihat. Selain jubahnya, perlengkapan yang dikenakannya tampak seperti milik seorang pemain anggar, meski penampilanku sendiri sebagai seorang pendekar pedang pun hampir serupa. Pedang kesayanganku, Anneal Blade, sebuah hadiah dari pencarian tingkat tinggi, sangatlah berat. Maka, demi menjaga ketajaman kemampuanku, aku hanya mengenakan sedikit zirah logam—hanya pelindung dada kecil dengan jubah kulit abu-abu gelap di atasnya. Menyadari langkah kakiku yang mendekat, bahu pengguna rapier itu tiba-tiba gemetar, namun ia tidak bergerak lebih jauh. Fakta bahwa aku bukanlah monster seharusnya sudah terlihat melalui kursor berwarna hijau dalam pandangan sosok tersebut. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam di balik lutut yang tertekuk, memberikan kesan kuat seolah berkata 'Lewat saja dan jangan pedulikan aku', tapi—aku berhenti sekitar dua meter dari hadapannya dan mulai berbicara."...Yang baru saja kau lakukan itu benar-benar berlebihan."Bahu kecil yang tertutup kain tebal jubah itu bergerak sedikit lagi. Tudungnya tersentak, terangkat sekitar lima sentimeter, dan dari balik kegelapan di dalamnya, sepasang pupil menatapku dengan tajam. Satu-satunya hal yang bisa kutangkap hanyalah iris mata berwarna cokelat muda. Detail wajahnya sama sekali tidak bisa terlihat.Selama beberapa detik, sang pengguna rapier terus memperhatikanku dengan tatapan tajam yang sama seperti saat ia bertarung tadi, tetapi akhirnya kepalanya sedikit miring ke kanan, sebuah gestur yang menyiratkan kebingungan. Melihat reaksi itu, aku bergumam dalam hati, "Ternyata dugaanku benar." Dalam apa yang kulihat sebagai seorang solo player ini, terdapat sebuah keganjilan yang mencolok. Teknik Linear yang dilepaskan oleh sang pengguna rapier begitu sempurna hingga membuatku merinding. Keefektifan gerakan sebelum dan sesudah serangan, serta yang paling utama, kecepatan tusukan yang melampaui kemampuan mata untuk menangkap bilah rapier itu sendiri. Belum pernah aku menyaksikan sebuah sword skill yang begitu mengerikan sekaligus indah. Karena itulah, sejak awal aku mengira bahwa ia juga merupakan seorang beta tester. Sebelum dunia ini berubah menjadi permainan maut, pengalaman bertarung yang luas pastilah telah terkumpul demi mencapai kecepatan seperti itu. Namun, saat melihat Linear untuk kedua kalinya, keraguan mulai muncul atas dugaanku. Kemampuannya memang sempurna, namun ritme pertarungannya terlalu berisiko. Memang benar bahwa teknik Minimal Side Step Defense memiliki kecepatan serangan balik yang lebih tinggi dibandingkan dengan menangkis atau memblokir, serta tidak akan mengurangi ketahanan senjata maupun zirah. Akan tetapi sebagai gantinya, jika pertahanan tersebut gagal, bahaya yang mengancam akan sangat besar. Kemungkinan terburuknya, kerusakan balasan bisa terjadi dan mengakibatkan efek stun. Dalam pertarungan solo, kondisi stun adalah sebuah kematian. Terdapat ketidakseimbangan antara kemahiran pedang yang sempurna dengan taktik pertahanan yang penuh risiko. Entah mengapa, aku sangat ingin mengetahui alasannya, apa pun itu. Itulah sebabnya aku melangkah mendekat dan menyapanya, sembari mengatakan bahwa terlepas dari apa pun situasinya, tindakannya tadi benar-benar berlebihan. Namun, lawan bicaraku ini tampaknya tidak memahami istilah gim online yang sudah sangat populer tersebut. Artinya, sang pengguna rapier di hadapanku bukanlah seorang beta tester. Tidak hanya itu, mungkin ia bahkan belum pernah menjadi pemain MMO sebelum terjebak di sini. Aku menarik napas sejenak, lalu mulai menjelaskan kembali."Overkill berarti... jumlah kerusakan yang diberikan jauh melampaui sisa nyawa yang dimiliki monster tersebut. Kobold tadi sebenarnya sudah hampir tewas setelah serangan Linear kedua... tidak, dia praktis sudah mati. HP-bar hanya tersisa dua atau tiga titik saja. Alih-alih menghabisinya dengan teknik pedang, sebuah serangan normal yang ringan saja sudah lebih dari cukup."Di dunia ini, sudah berapa hari... atau berapa minggu berlalu sejak terakhir kali aku berbicara sebanyak ini? Sembari merenungkan pertanyaan itu, aku pun terdiam.Bahkan setelah mendengarkan penjelasanku—hasil dari kerja keras serta kemampuan bicaraku yang buruk—sang pengguna rapier tetap tidak memberikan reaksi selama lebih dari sepuluh detik. Tepat ketika aku mengira penjelasanku gagal tersampaikan, sebuah suara lirih akhirnya menyelinap keluar dari balik tudung yang tertunduk."……Overkill, apakah ada masalah dengan hal itu?" Pada saat itulah, aku baru menyadari bahwa sosok pengguna rapier yang meringkuk di hadapanku ini adalah salah satu dari Pemain Wanita yang sangat langka di dunia ini—terutama di kedalaman dungeon seperti ini.Sudah sebulan berlalu sejak peluncuran resmi VRMMORPG pertama di dunia, Sword Art Online.Pada titik ini, dalam gim MMO biasa, kita seharusnya sudah melihat para pemain mendekati batas level maksimal, dan peta dunia semestinya telah dijelajahi hingga ke ujungnya. Namun dalam SAO, bahkan kelompok kelas atas saat ini baru menyentuh Level 10—aku tidak tahu seberapa tinggi batas levelnya, tapi—mustahil hanya sampai di situ. Kastel melayang Aincrad, yang menjadi panggung gim ini, baru berhasil ditaklukkan beberapa persen saja dari total keseluruhannya.Alasannya adalah karena SAO yang sekarang bukanlah sekadar permainan; dalam arti tertentu, tempat ini telah menjelma menjadi sebuah Penjara. Fitur logout manual ditiadakan, dan kematian sang avatar berarti kematian bagi pemain di dunia nyata. Dengan kondisi seperti ini, tidak banyak orang yang berani memasuki dungeon yang dipenuhi monster berbahaya dan jebakan maut.Selain itu, setelah sang Gamemaster memaksa seluruh avatar untuk menyesuaikan gender dengan pemain aslinya di dunia nyata, keberadaan perempuan menjadi sangat langka. Bahkan setelah satu bulan berlalu, kurasa hampir semuanya masih memilih untuk menetap di Kota Awal. Di dungeon besar pertama ini, yakni Labirin Lantai Satu, aku baru melihat pemain wanita sebanyak dua atau tiga kali saja, dan mereka semua merupakan bagian dari kelompok party besar.Itulah sebabnya aku tidak pernah membayangkan bahwa pengguna rapier solo yang kutemui di area Labirin yang belum terjamah ini adalah seorang pemain wanita.Sejenak, aku sempat terpikir untuk menggumamkan permohonan maaf dan segera beranjak dari sana. Bukannya aku menaruh prasangka buruk pada tipe pemain laki-laki yang selalu menggoda setiap pemain wanita yang mereka temui; aku hanya benar-benar tidak ingin dianggap sebagai salah satu dari mereka.Di sisi lain, andai ia mengatakan sesuatu seperti 'Ini pilihanku' atau 'Tinggalkan aku sendiri', aku akan menjawab 'Begitu rupanya' dan segera pergi. Namun, balasan singkat dari sang pengguna rapier tadi justru berbentuk sebuah pertanyaan. Maka, aku pun mengurungkan niat untuk menjauh di detik terakhir, dan sekali lagi menjawab dengan mengerahkan segenap kemampuan bahasaku yang terbatas ini."……Overkill memang tidak memberikan hukuman atau penalti apa pun dari sistem, tapi... itu buruk untuk efisiensi. Teknik pedang membutuhkan konsentrasi tinggi, sehingga menggunakannya secara terus-menerus akan sangat menguras mental. Jangan lupakan juga perjalanan pulang nanti, jadi ada baiknya untuk tidak bertarung dengan cara yang membuatmu cepat lelah.""……Perjalanan pulang?"Sekali lagi, suara bernada tanya muncul dari balik kedalaman tudung itu. Kelelahan membuatnya terdengar sangat samar dan datar, namun terlepas dari itu, aku merasa suaranya cukup indah. Tentu saja, itu bukan sesuatu yang akan kuucapkan dengan lantang. Sebagai gantinya, aku pun mulai menjelaskan sekali lagi."Benar. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai pintu keluar Labirin dari sini, dan dari sana menuju kota terdekat memakan waktu sekitar 30 menit bahkan jika bergerak cepat, bukan? Kelelahan akan meningkatkan risiko kesalahan. Kau tampak seperti pemain solo, dan bagi seorang pemin solo, kesalahan kecil apa pun bisa berbayar nyawa."Sementara mulutku terus berbicara, aku bertanya dalam hati, 'Mengapa aku berbicara segebu-gebu ini?' Karena lawanku seorang perempuan—itu tidak mungkin alasannya, karena aku sudah memberikan ceramah panjang lebar bahkan sebelum mengetahui hal itu.Andai aku berada di posisinya, dan seorang pemain tingkat atas menceramahiku seperti ini, aku pasti sudah berkata, 'Ini pilihanku, jadi tinggalkan aku sendiri,' atau semacamnya. Jadi, dengan kepribadian dan tindakanku yang agak bertolak belakang, aku hampir saja berkeringat dingin, ketika si pengguna rapier itu akhirnya menjawab."…Kalau begitu, tidak ada masalah. Aku tidak akan kembali.""Apa? …Ti-Tidak kembali ke kota? Tapi… mengisi ulang potion, memperbaiki perlengkapan… dan tidur..." tanyaku dengan tercengang. Bahu pengguna rapier itu sedikit berguncang."Aku tidak butuh obat kalau tidak menerima damage, dan aku sudah membeli lima pedang yang sama… Kalau soal istirahat, aku menggunakan area aman di dekat sini."Saat gumaman itu memudar, aku terdiam untuk beberapa saat. Area aman adalah ruangan-ruangan tertentu di dalam dungeon yang tidak akan dimasuki monster.Sebuah area aman dapat dikenali dari obor berwarna khusus yang ditempatkan di dinding pada keempat sudutnya. Saat sedang berburu dan memetakan area, tempat itu memang nyaman; tetapi, meski begitu, biasanya hanya bisa digunakan untuk istirahat singkat sekitar satu jam. Lantainya terbuat dari batu dingin dan tentu saja tidak ada tempat tidur, ditambah lagi suara langkah kaki atau geraman monster di sekitar bisa terdengar sesekali. Tak peduli seberapa beraninya seorang pemain, tidur nyenyak adalah hal yang mustahil dilakukan di sana.Tapi, berdasarkan apa yang baru saja kudengar, pengguna rapier ini telah menggunakan area aman sebagai pengganti penginapan di kota dan terus mengurung diri di dalam Labirin… inikah maksudnya?"……Sudah berapa jam berlalu?"Aku bertanya dengan cemas. Sang pengguna rapier menjawab setelah menarik napas panjang."Tiga hari… atau empat hari… Itu saja, kan? Monster di sekitar sini akan segera bangkit kembali, jadi aku harus pergi."Dengan tangan kiri mungil yang terbalut sarung tangan kulit tebal, ia menolakkan tubuhnya dari dinding dan bangkit berdiri dengan langkah goyah.Pedang rampingnya yang masih terhunus itu terkulai berat, seolah ia sedang menggenggam pedang dua tangan dengan satu tangan, dan pengguna rapier itu pun membalikkan punggungnya ke arahku.Saat ia melangkah menjauh dariku, terlihat jubahnya sudah compang-camping di sana-sini, menandakan bahwa durabilitasnya sudah banyak terkuras. Tidak, untuk perlengkapan berbahan kain yang telah digunakan dalam ekspedisi perburuan selama empat hari, fakta bahwa jubah itu masih mempertahankan bentuknya saja sudah merupakan sebuah keajaiban. Ucapan 'Asal aku tidak terkena damage' tadi mungkin bukanlah sebuah hiperbola...Setelah menyadari hal itu, tanpa sadar aku melontarkan kata-kata yang tak terpikirkan ke arah punggung rampingnya."……Jika kau bertarung seperti itu, kau akan mati…"Tiba-tiba langkahnya terhenti. Pengguna rapier itu menyandarkan bahunya ke dinding di sebelah kanan dan berbalik perlahan. Dari balik tudungnya, sorot mata yang sebelumnya kulihat berwarna hazel kini menatap tajam ke arahku dengan pendar cahaya kemerahan."……Bagaimanapun juga, semua orang akan mati."Suara yang serak dan parau itu membuat udara Labirin yang sejuk terasa semakin dingin menusuk."Hanya dalam satu bulan, 2.000 orang telah tewas, namun lantai satu saja belum berhasil diselesaikan. Mustahil untuk menamatkan gim ini. Di mana dan bagaimana kau mati, serta apakah itu terjadi lebih cepat… atau lebih lambat, hanya itulah perbedaannya……"Kalimat terpanjang dan paling sarat emosi yang pernah kudengar darinya hingga kini, mendadak tersendat di tengah jalan dan memudar.Di hadapanku, saat aku melangkah maju secara refleks, pengguna rapier itu seakan dihantam oleh serangan kelumpuhan tak kasatmata dan perlahan ambruk ke lantai.
Komentar (0)
Memuat komentar...