Sword Art Online Progressive 001

Aria Malam Tanpa Bintang - Bagian 2

Estimasi waktu baca: 10 menit

Saat tubuhnya roboh menuju lantai dungeon, sebuah pemikiran sederhana melintas di benaknya. 'Bagaimana mungkin seseorang bisa pingsan di dalam ruang virtual?'
Hilangnya kesadaran berarti aliran darah normal ke otak terhambat sesaat, sehingga fungsinya terhenti. Penyebab iskemia ini bisa berupa gangguan pada jantung atau pembuluh darah, anemia atau tekanan darah rendah, hiperventilasi, atau banyak alasan lainnya; tetapi saat melakukan FullDive di dunia VR, tubuh fisik sedang beristirahat di tempat tidur atau kursi baring. Terlebih lagi, tubuh fisik para pemain yang terperangkap dalam permainan kematian SAO ini kemungkinan besar saat ini ditempatkan di rumah sakit; kesehatan mereka jelas akan diperiksa dan dipantau terus-menerus, dan jika perlu, obat-obatan pun akan diberikan. Sulit dipercaya bahwa hilangnya kesadaran ini disebabkan oleh kelainan fisik semata—.
Setelah berpikir sejauh itu di dalam kesadarannya yang kian memudar, pada akhirnya ia berpikir, 'Hal semacam itu tidaklah penting.'
Ya, tak ada satu pun yang penting lagi bagiku...
Sebab, ia akan mati di sini. Pingsan di dalam dungeon yang penuh dengan monster ganas, mustahil ia akan selamat tanpa terluka. Memang ada pemain lain di dekatnya, tetapi ia tak berpikir orang itu akan bertindak sejauh itu hingga membahayakan nyawanya sendiri demi menolong orang lain yang tumbang.
Lagipula, bagaimana caranya ia bisa menolong? Di dunia ini, beban maksimum yang bisa dibawa seorang pemain dibatasi secara ketat oleh sistem. Di kedalaman dungeon, semua orang membawa obat-obatan dan perlengkapan cadangan hingga batas berat mereka, sembari menyisakan ruang untuk barang jarahan monster seperti emas dan item. Dengan semua beban itu, tindakan menggendong seorang manusia seutuhnya adalah hal yang benar-benar mustahil.
—Saat pemikirannya tiba di titik ini, akhirnya ia menyadari sesuatu.
Hal yang ia pikirkan saat disergap rasa pusing hebat dan tubuhnya ambruk ke tanah adalah, 'Akhirnya, aku bisa beristirahat tenang tanpa memikirkan apa pun untuk waktu yang lama.' Seharusnya, lantai batu dungeon yang keraslah yang menopang tubuhnya, namun entah mengapa, sensasi yang dirasakan punggungnya justru terasa begitu lembut dan empuk. Tubuhnya terasa hangat, dan hembusan angin sepoi-sepoi membelai pipinya…
Ia membuka matanya dengan sentakan yang cukup kuat hingga nyaris menimbulkan suara.
Ia tidak lagi berada di dalam dungeon yang dikurung dinding-dinding tebal. Ia kini berada di sebuah area terbuka di tengah hutan, dikelilingi pepohonan tua yang tertutup lumut keemasan serta semak berduri dengan bunga-bunga mungil. Di tengah area bundar berdiameter sekitar 7 atau 8 meter itu, tampaknya ia telah berbaring di atas permadani rumput yang lembut selama tak sadarkan diri… tidak, selama tertidur.
Tapi—mengapa? Bagaimana caranya ia, yang tadinya tumbang di kedalaman dungeon, bisa berpindah ke tempat terbuka yang jauh letaknya ini?
Jawaban atas pertanyaan tersebut ditemukan ketika ia mengalihkan pandangannya 90 derajat ke arah kanan.
Di tepi tanah lapang itu, terdapat sesosok siluet kelabu yang sedang duduk meringkuk di atas akar pohon yang tampak sangat megah. Ia memeluk sebuah pedang satu tangan yang agak besar dengan kedua lengannya, dan sarung pedang itu menjadi tumpuan bagi kepalanya yang tertunduk. Rambut hitam panjang menutupi wajahnya hingga tak terlihat, namun jika dilihat dari perlengkapan dan postur tubuhnya, tak salah lagi ia adalah pemain laki-laki yang sempat berbicara dengannya sebelum ia pingsan di dalam dungeon.
Kemungkinan besar, pria itulah yang menggunakan metode tertentu untuk memindahkannya keluar dari dungeon menuju hutan ini setelah ia jatuh pingsan. Dengan cepat, ia menatap melewati pepohonan hutan di latar belakang. Di sisi kiri, sekitar 100 meter jauhnya, sebuah menara raksasa yang menjulang hingga ke langit—Labirin Lantai Satu Aincrad—berdiri kokoh di sana dengan warna hitam kelam.
Ia kembali mengarahkan pandangannya ke sisi kanan.
Menyadari pergerakannya, bahu pria yang terbalut mantel kulit berwarna abu-abu gelap itu sedikit berguncang, lalu ia mengangkat kepalanya perlahan. Bahkan di tengah terangnya hutan di siang hari, kedua mata pria itu tetap kelam, laksana malam tanpa bintang.
Saat pandangannya bertemu dengan sorot mata kelam itu, ia merasakan kembang api kecil seolah meledak di dalam benaknya. Dari sela-sela giginya yang bergemeretak, Asuna—Yuuki Asuna—memaksakan keluar sebuah suara yang rendah dan parau.
"Usaha… yang tak perlu."
Sejak terperangkap di dalam dunia ini, Asuna telah bertanya pada dirinya sendiri ratusan, bahkan ribuan kali.
Mengapa, pada saat itu, ia menyentuh mesin game baru yang bahkan bukan miliknya? Mengapa ia memasangkannya di kepala, berbaring di kursi santai berbahan jaring, lalu menyerukan perintah start?
Perangkat interface VR impian sekaligus mesin pembunuh terkutuk, Nerve Gear, serta kepingan game yang menjadi penjara bagi jiwa-jiwa yang tak terhitung jumlahnya, Sword Art Online; semua itu tidak dibeli oleh Asuna, melainkan oleh kakak laki-lakinya, Kouichirou. Namun, bahkan bagi kakaknya, hal-hal seperti MMORPG atau apa pun yang menyandang label 'game' sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehidupannya sejak masa muda. Terlahir sebagai putra sulung dari presiden perusahaan manufaktur elektronik raksasa Recto, ia tumbuh besar dengan menerima segala pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan untuk menjadi penerus ayahnya, sekaligus dijauhkan dari segala hal yang dianggap tidak perlu untuk tujuan tersebut. Mengapa kakak laki-lakinya itu bisa tertarik pada Nerve Gear… tidak, pada SAO, adalah sesuatu yang bahkan hingga kini tidak ia pahami.
Namun ironisnya, Kouichirou tidak bisa memainkan game pertama yang dibelinya seumur hidup itu. Tepat pada hari pertama layanan resmi game tersebut dibuka, ia ditugaskan untuk perjalanan bisnis ke luar negeri. Sehari sebelum keberangkatannya, saat duduk berhadapan dengan Asuna di meja makan, ia sempat mengeluhkan hal itu dengan nada bercanda, tetapi Asuna bisa merasakan bahwa kakaknya benar-benar menyayangkan hal tersebut.
Meskipun tidak seekstrem Kouichirou, satu-satunya pengalaman bermain game yang dimiliki Asuna, seorang siswi kelas tiga SMP, hanyalah sebatas game gratis di ponselnya sesekali. Ia memang mengetahui keberadaan game online, namun dengan ujian masuk SMA yang kian mendekat, ia tak memiliki alasan ataupun motivasi untuk tertarik pada hal semacam itu—atau setidaknya, begitulah yang seharusnya terjadi.
Itulah sebabnya bahkan ia sendiri tak mampu menjelaskan mengapa, pada hari itu satu bulan yang lalu, di sore hari tanggal 6 November 2022, ia melangkah masuk ke kamar kakaknya yang kosong, mengambil Nerve Gear yang telah terpasang rapi di atas meja, mengenakannya di kepala, lalu menyerukan Link Start.
Berawal dari satu tindakan itu, segalanya berubah pada hari tersebut… tidak, mungkin lebih tepat dikatakan bahwa segalanya telah berakhir.
Pada awalnya, Asuna mengurung diri di sebuah kamar penginapan di Kota Awal demi menunggu insiden ini berlalu. Namun, setelah dua minggu berlalu tanpa kabar dari dunia nyata, ia membuang harapannya untuk diselamatkan dari luar. Selain itu, setelah mengetahui bahwa jumlah kematian pemain telah mencapai lebih dari seribu jiwa kala itu—sementara dungeon pertama pun belum berhasil ditembus—ia menyadari bahwa menunggu di dalam kota hingga game ini diselesaikan adalah hal yang sia-sia.
Oleh karena itu, satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah "Kematian macam apa yang akan kujemput?".
Berdiam diri di satu-satunya kota yang aman selama berbulan-bulan, tidak, bahkan bertahun-tahun seperti ini mungkin bisa menjadi salah satu jalan. Namun, tak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa aturan "Monster tidak bisa memasuki kota" akan berlaku selamanya.
Daripada terus meringkuk di dalam kamar kecil yang gelap sembari mencemaskan masa depan, lebih baik melangkah keluar. Mengerahkan seluruh kemampuannya untuk belajar, berlatih, dan bertarung. Jika pada akhirnya ia harus mati setelah mengerahkan seluruh tenaganya, setidaknya ia tidak perlu meratapi keisengan masa lalu ataupun menyesali masa depan yang telah hilang.
Berlari. Menerjang maju. Lalu lenyap. Layaknya bintang jatuh yang terbakar habis saat menembus atmosfer.
Berbekal satu pemikiran itu, Asuna meninggalkan penginapan dan menapakkan kaki ke alam liar dunia MMORPG, sebuah dunia di mana ia tak memahami satu pun terminologinya. Ia memilih senjatanya sendiri, dan hanya dengan mengandalkan satu skill yang ia pelajari, ia berhasil mencapai kedalaman dungeon yang belum pernah dijamah oleh siapa pun sebelumnya.
Lalu hari ini, Jumat, 2 Desember, pukul 4 pagi. Asuna jatuh pingsan—kemungkinan besar akibat refleks saraf alami karena kelelahan bertarung tanpa henti—dan perjalanannya seharusnya berakhir di sana. Di Istana Besi Hitam yang terletak di Kota Awal, tepatnya di sisi kiri Monumen Kehidupan, nama 'Asuna' yang dicoret garis horizontal seharusnya sudah terukir rapi, dan segalanya akan usai—begitulah yang seharusnya terjadi. Namun kenyataannya tidak.
"Tidak perlu……"
Sekali lagi, Asuna memaksakan kata itu keluar dari mulutnya. Pengguna pedang satu tangan berambut hitam yang sedang berjongkok empat meter darinya itu menundukkan mata kelamnya yang serupa malam. Kesan pertama Asuna terhadapnya adalah bahwa pemuda itu sedikit lebih tua darinya, namun gestur polos yang tak terduga barusan membuat Asuna sedikit mengernyitkan dahi.
Akan tetapi, beberapa detik kemudian, bibir pria itu menyunggingkan senyum sinis yang seketika menghapus kesan sebelumnya.
"Aku tidak menyelamatkanmu." Sebuah gumaman lirih yang rendah. Suara itu terdengar muda, namun ada sesuatu di dalamnya yang kali ini pun menyamarkan usia aslinya.
"……Lantas, kenapa kau tidak meninggalkanku di sana?"
"Yang kuselamatkan adalah data peta yang kau miliki. Jika kau mengurung diri di dekat garis depan selama empat hari, kau pasti sudah memetakan area yang belum terjamah dalam jumlah yang cukup banyak. Akan sedikit mubazir jika data itu lenyap bersamamu."
Dihadapkan pada logika dan pragmatisme yang disodorkan padanya itu, ia pun menarik napas panjang.
'Pentingnya nyawa' dan 'Bagaimana seharusnya semua orang bersatu dan bekerja sama'; hingga kini, setiap kali orang-orang di kota menceramahinya tentang hal-hal semacam itu, ia selalu langsung mematahkan argumen mereka—tentu saja hanya lewat kata-kata. Ia sempat terpikir untuk melakukan hal yang sama sekarang, namun tak kuasa menemukan satu pun balasan yang masuk akal.
"……Kalau begitu, ambil saja ini."
Sambil bergumam lirih, ia membuka jendela utama sistemnya. Dengan gerakan tangan menelusuri tab yang baru belakangan ini mulai terbiasa ia lakukan, ia mengakses data petanya dan menyalin seluruh isinya ke dalam sebuah item perkamen. Ia mewujudkan data itu menjadi sebuah objek berbentuk gulungan kecil, lalu melemparkannya ke dekat kaki pria tersebut.
"Dengan begini, tujuanmu sudah tercapai, bukan? Kalau begitu, aku pergi dulu."
Dengan bertumpu pada rerumputan, ia bangkit berdiri meski tubuhnya sedikit limbung. Berdasarkan tampilan waktu di jendela menu, ia memperkirakan telah tertidur selama tujuh jam sejak ia pingsan, namun tampaknya ia belum sepenuhnya pulih dari kelelahan. Kendati demikian, ia masih memiliki tiga bilah rapier cadangan. Ia telah bertekad sebelumnya bahwa ia takkan meninggalkan menara itu sampai durabilitas rapier terakhirnya tinggal separuh.
Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab di benaknya. Dengan cara apa pengguna pedang satu tangan bermantel kelabu itu memindahkannya dari kedalaman dungeon ke area terbuka di hutan ini? Sekalipun ia bisa menerima fakta bahwa pria itu telah memindahkannya, mengapa ia harus repot-repot membawanya keluar, alih-alih menempatkannya di area aman di dalam dungeon?
Meski begitu, ia merasa hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengharuskannya berbalik badan dan bertanya. Karena itu, demi kembali ke dungeon yang menjulang gelap di balik pepohonan di sebelah kiri, Asuna mencoba mengayunkan langkah kakinya ke depan. —Akan tetapi, tepat sebelum ia sempat melangkah.
"Tunggu, Nona Ahli Pedang."
"……"
Asuna mengabaikan panggilan itu dan terus melangkah maju, namun kalimat yang menyusul kemudian sontak menghentikan langkah kakinya.
"Kau juga pada dasarnya sedang berjuang keras untuk menamatkan game ini, bukan? Bukan sekadar mencari mati di dalam dungeon. Kalau begitu, bukankah lebih baik jika kau menampakkan diri dalam meeting itu?"
"...Meeting?"
Setelah ia menggumamkan kata itu tanpa menoleh, suara sang pendekar pedang kembali menyapanya dengan nada yang berbeda, terbawa oleh hembusan angin lembut di dalam hutan.
"Sore ini, di kota Tolbana yang paling dekat dengan dungeon ini, konferensi strategi Boss Lantai Satu yang pertama akan diadakan."

Komentar (0)

Memuat komentar...