Sword Art Online Progressive: The Next Day
Bagian 1
Estimasi waktu baca: 37 menitDi satu sisi, Sword Art Online adalah perwujudan teknologi inovatif sebagai VRMMORPG FullDive pertama di dunia; namun di sisi lain, gim ini justru seolah menentang gagasan tersebut dengan melukiskan dunianya dalam palet kerajaan fantasi yang indah dan sangat klasik. Pemandangan kotanya terdiri dari bangunan batu dan half-timber yang mengingatkan pada Eropa Abad Pertengahan; dunianya dihuni oleh monster-monster stereotip, seperti kobold dan slime, berdampingan dengan ras-ras seperti elf dan dwarf.Kendati demikian, dunia ini tidak pernah digambarkan menggunakan frasa klise tradisional sebagai "dunia pedang dan sihir"; sebab bagaimanapun juga, sihir sama sekali tidak eksis di SAO.Kayaba Akihiko, pengembang SAO sekaligus NerveGear, pernah melakukan wawancara di mana ia menjelaskan alasannya menghapus sihir dari dunianya, terlepas dari banyaknya elemen fantasi lain yang ia masukkan. Argumennya adalah: 'Jika aku mengimplementasikan sihir dengan apa yang disebut sebagai "kemampuan ofensif jarak jauh yang pasti mengenai sasaran", hal itu akan mengubah pertempuran dalam gim menjadi sesuatu yang mirip dengan gim tembak-menembak, dan menurutku hal itu bertentangan dengan konsep unik dari RPG FullDive—yakni sensasi mengambil bagian dalam aksi itu sendiri melalui kontrol dinamis atas avatarmu.'Saat membaca artikel tersebut dulu, sejujurnya, aku mempertanyakan logikanya……apakah keberadaan atau ketiadaan sihir benar-benar memengaruhi pertempuran sedemikian rupa? Lagipula, aku sudah cukup banyak memainkan MMO fantasi non-FullDive sejauh ini, namun tak pernah merasa seolah sihir mendorong sistem pertarungan ke ranah shooting game. Lagi pula, siapa yang bilang kalau semua pemain akan memilih kelas penyihir? Firasatku mengatakan lebih dari separuh pemain akan memilih peran garda depan, mengangkat pedang dan kapak untuk bertarung jarak dekat sebagaimana yang sangat diinginkan Kayaba, bukan?Namun, ketika aku berhasil selamat dari pertemuan pertamaku dengan maut beberapa hari yang lalu, aku menyadari bahwa sudut pandang pria itu didasarkan pada premis bahwa SAO akan menjadi death game sejak awal.Karena kini menghindari kematian adalah hal yang mutlak dilakukan dengan cara apa pun, siapa pun yang berakal sehat pasti akan memilih metode penyerangan yang tidak mengharuskan mereka mendekati monster, jika diberi kesempatan. Bayangkan saja jika kelas caster dimasukkan ke dalam gim semacam ini; sebagian besar, jika tidak semua pemain yang berani meninggalkan kota, pasti akan bermain aman dan enggan bertarung melawan monster secara berhadapan demi gaya bermain yang memungkinkan mereka melontarkan mantra sesuka hati dari jarak aman—mempertimbangkan semua itu, aku bisa mengerti dari mana julukan shooting game itu berasal. Dan Kayaba pastinya tidak ingin hal itu terjadi.Akan tetapi. Kalau dipikir-pikir lagi, andai diberi kesempatan untuk menukar kelasku menjadi seorang Mage, aku—Kirito, sang pendekar pedang level 5—mungkin pada kenyataannya akan tetap memilih untuk menjadi pengguna pedang.Pada hari Death Game dimulai, aku mungkin adalah orang pertama dari sepuluh ribu pemain yang terkurung di Aincrad yang melesat keluar dari Kota Awal dan bermigrasi ke Desa Horunka di sebelah barat laut. Alasanku sederhana: aku menyimpulkan bahwa monster-monster yang menghuni field di sekitar kota akan habis diburu dalam waktu singkat, yang akan memaksa terjadinya praktik spawn-camping yang tidak efisien demi mendapatkan keuntungan dari area tersebut.Terlebih lagi, Desa Horunka memiliki quest yang memungkinkanmu mendapatkan pedang satu tangan yang kuat. Tanpa membuang waktu sedikit pun, aku mengambil quest tersebut dan mulai memburu monster tipe tanaman yang dikenal sebagai Little Nepent yang menghuni hutan di dekat sana demi mendapatkan item yang dibutuhkan.Sebenarnya Little Nepent bukanlah monster yang terlalu berbahaya, namun aku hampir saja menjemput ajal di tangan tanaman rambat mereka. Aku bertemu dengan pemain lain bernama Coper yang sedang mengerjakan quest yang sama denganku; ia mengusulkan ide untuk bekerja sama agar tugas kami lebih cepat selesai dan aku menerima tawarannya. Namun, ketika kami akhirnya berhasil mendapatkan item langka tersebut, Coper dengan sengaja memancing pasukan besar Nepent dan kemudian mencoba menggunakan skill Hiding untuk menghilangkan jejaknya demi melakukan monster player-kill terhadapku dan memonopoli item quest itu untuk dirinya sendiri.Akan tetapi, orang itu sama sekali tidak tahu bahwa skill Hiding tidak mempan terhadap monster tanpa mata seperti Nepent. Aku mengusir jeritan Coper dari telingaku saat ia dikepung pasukan monster, dan memusatkan seluruh perhatianku untuk menebas Nepent yang menyerbuku dengan Short Sword pemula milikku. Aku pasti memasuki semacam kondisi trance di tengah pertarungan, karena ingatanku tentang jalannya pertempuran itu sangat kabur, tetapi ada satu hal yang kuingat sejelas siang hari.Selama pertempuran itu, akhirnya aku merasakan…sebenarnya tidak, aku menyadari bahwa "Inilah SAO". Pedangmu bukan sekadar objek dan tubuhmu bukan sekadar avatar. Ada puncak kondisi mental yang hanya bisa dicapai ketika faktor-faktor ini melebur sempurna dengan jiwa sang pemain. Tentu saja, kondisi puncak semacam itu masih belum bisa kugenggam saat ini, namun ada satu hal yang kuyakini: jalan kemungkinan itu terbentang jauh melampaui cakrawala.Meski kehilangan tujuh puluh persen gauge HP-ku dalam prosesnya, entah bagaimana aku berhasil bertahan hidup. Mengucapkan selamat tinggal pada Coper yang telah tewas, aku kembali ke Desa Horunka, menyelesaikan quest, dan memperoleh pedang satu tangan bernama Annealed Blade sebagai imbalan atas pekerjaan itu.Kata dalam bahasa Inggris Annealed, atau yakinamasareta dalam bahasa Jepang—dalam bahasa Indonesia berarti: yang dipijarkan—merujuk pada logam olahan yang dipanaskan kembali untuk menghilangkan tekanan internalnya, sehingga menjadi lebih lunak namun lebih tangguh...sepertinya begitu. Aku tidak begitu yakin apakah pandai besi di dunia virtual benar-benar melakukan proses serumit itu, namun bisa kukatakan bahwa nilai jual Annealed Blade adalah Durabilitasnya dalam menahan benturan, yang menjadikannya mitra sempurna bagi pemain solo sepertiku.Semua itu harus dibayar dengan bobot senjata yang tergolong cukup berat jika dibandingkan dengan pedang lain di kelas yang sama, meskipun harus kuakui sifatnya yang satu ini justru mulai kusukai. Aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa memilih pedang ringan untuk menekan lawan dengan rentetan serangan cepat adalah ide yang salah; justru, firasatku mengatakan itu mungkin pilihan yang tepat dalam situasi saat ini. Namun, aku tetap lebih menyukai proses menangani pedang berat yang memungkinkanku merasakan dampak ayunanku, sembari menguasai pengendalian bilah pedangku seiring waktu. Dalam artian itu, Annealed Blade yang baru saja kudapatkan ini belum sepenuhnya menjadi mitra terbaikku. Meski aku sudah cukup lama menggunakan pedang ini selama Beta Test, sudah dua bulan berlalu sejak saat itu, jadi mungkin butuh waktu lumayan lama untuk mengembalikan memori ototku dalam gim ini.Satu-satunya cara untuk mempercepat proses ini adalah dengan lebih sering terjun ke pertempuran...namun selama tiga puluh menit terakhir, atau mungkin lebih, aku bahkan tak mampu memaksa diriku untuk beranjak dari tempat tidur.Hari ini adalah tanggal 7 November 2022──hari kedua layanan resmi SAO.Mungkin sudah saatnya bagi pemain lain, selain pria yang menemui ajalnya kemarin, untuk mulai berdatangan ke Desa Horunka sekarang. Karena aku belum sanggup berinteraksi dengan orang lain untuk sementara waktu, aku ingin sekali segera menyelesaikan daftar tugasku di desa ini lalu berangkat menuju basis operasi berikutnya, tapi aku benar-benar tidak bisa menemukan energi untuk bergerak. Meski aku bukan orang yang pantas bicara, aku akui aku sempat kesulitan tidur semalam; tapi setidaknya aku berhasil tidur empat atau lima jam, dan aku juga tidak merasakan ada yang salah dengan tubuhku. Lantas kenapa aku merasa begitu sulit untuk sekadar berkata 'Baiklah!' dan membuat tubuhku bangkit?Aku tidak pernah merasa selesu ini bahkan pada hari-hari kompetisi paduan suara atau pertandingan bola di sekolah. Mungkinkah ini kerusakan pada NerveGear; jika iya, apakah itu berarti aku tidak akan pernah bisa bangkit dari tempat tidur seumur hidupku?… saat aku mempermainkan pikiran pesimistis ekstrem semacam itu di kepalaku—Tiba-tiba, terdengar ketukan singkat di pintu yang menghadap ke koridor penginapan. Disusul kemudian oleh suara yang teredam."HalOO~""…………!?"Aku tersentak kaget hingga tubuhku meringkuk, sebelum akhirnya membuka menu window dari posisi berbaring. Mematerialisasikan Annealed Blade yang baru saja kudapatkan, aku menyambarnya dengan tangan kiri beserta sarungnya, lalu turun dari tempat tidur dengan perlahan seolah segala kemuraman yang kurasakan tadi hanyalah masa lalu.Saat aku bangkit berdiri, suara itu terdengar lagi."Yooo, aku datang bukan untuk urusan yang mencurigakan atau semacamnya kok, jujuR. Aku cuma mau bicara sebentar denganmU."—Yah, justru itu kalimat yang persis akan diucapkan oleh orang yang mencurigakan!Aku nyaris tak bisa menahan diri untuk tidak meneriakkan balasan itu. Aku tidak bisa membedakan apakah suara bernada tinggi dengan intonasi sengau itu milik seorang wanita atau anak laki-laki, bahkan aku tak tahu apakah itu suara pemain atau NPC—bisa saja salah satunya, setahuku. Aku tidak memiliki quest yang sedang berjalan saat ini, tapi siapa tahu, mungkin berbaring di tempat tidur penginapan ini selama tiga puluh menit atau lebih dalam keadaan sada berfungsi sebagai pemicu untuk event aneh bin ajaib, siapa yang tahu.Waktu sekarang menunjukkan tepat pukul tujuh pagi. Sekalipun pemain di balik pintu itu sebenarnya tidak berniat jahat padaku, bukankah masih terlalu pagi untuk bertamu pada jam segini?Seolah mampu membaca arah pikiranku—"Maaf kalau kau masih tidur, tapi aku punya alasan kenapa ada di sini, taU. Bisakah kau dengarkan aku dulu, setidaknya sebentaR; kurasa kau tidak akan rugi apa-apa kok, taU."Bersamaan dengan kata-kata itu, terdengar suara ketukan 'tok-tok-tok' lagi di pintu.Secara umum, pintu penginapan bersifat tak terhancurkan dalam wilayah hukum Kode Anti-Kriminal; seharusnya hanya penyewa kamar yang bisa membukanya. Jadi, mengingat orang ini pasti akan menyerah dan pergi cepat atau lambat, aku bisa saja mengabaikannya. Namun, akan membuatku merinding jika aku didekati oleh pemain yang sama lagi di suatu tempat di desa, atau di Outer Field nantinya. Karena itu, dengan tangan kanan tetap siaga di gagang Annealed Blade untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk, aku mendekati pintu, berhati-hati agar tidak terhantam jika pintu itu didorong terbuka secara tiba-tiba. Mengingat apa yang terjadi kemarin, jelas tidak ada istilah terlalu berhati-hati.Setelah menghabiskan beberapa saat mengamati kehadiran di balik pintu, aku mengerahkan suara paling berwibawa yang bisa kulakukan—"Siapa di sana."Pertanyaan singkatku langsung mendapat jawaban."Syukurlah, aku sudah mulai berpikir bakal dibiarkan menggantung sampai kiamat, niH. Namaku Argo, taU.""Argo……"Mungkin aku pernah mendengar nama itu sebelumnya di suatu waktu, atau mungkin juga tidak, aku tak begitu yakin; tetapi setidaknya, aku benar-benar belum pernah mendengarnya sejak layanan resmi SAO dimulai."Jadi, Argo-san, apa yang kau inginkan dariku?""Ada sesuatu yang ingin kubeli darimu, kaN.""Maaf……?"Aku berseru kebingungan, lantas menunduk menatap tubuhku sendiri. Perlengkapan pelindungku semuanya hanyalah barang pemula, dan tak ada satu pun barang yang melekat padaku yang masuk dalam kategori aksesori. Ruang storage-ku bisa dibilang kosong melompong bak kehampaan, jadi satu-satunya benda yang kubawa yang mungkin diincar orang hanyalah Annealed Blade di tangan kiriku ini.Tamu yang menyebut dirinya Argo ini tak diragukan lagi mengincar pedang ini, tetapi aku sama sekali tak berniat melepaskannya setelah aku nyaris mati-matian—dalam arti harfiah—untuk mendapatkannya. Masalah yang lebih besar adalah bagaimana si Argo—siapa-lah—itu bisa tahu bahwa aku memiliki sebuah Annealed Blade. Aku takkan bisa grinding menaikkan level dengan tenang sampai aku menuntaskan misteri ini hingga ke akarnya.Untuk saat ini, aku akan berpura-pura terbuka untuk negosiasi, lalu mengusir orang ini begitu aku berhasil memaksanya memberitahuku dari mana ia mendapatkan informasi itu.Setelah membulatkan tekad, aku memberikan jawaban dari balik pintu."……Baiklah, aku akan membuka pintu, tapi tunggu lima detik sebelum kau masuk.""SiaP."Langsung menerima persyaratanku yang merepotkan begitu saja justru membuat sosok ini semakin mencurigakan—tapi aku tak mungkin bilang "Tahu tidak, aku berubah pikiran, bye" pada tahap ini.Mengetuk pintu dengan jari telunjuk, aku menekan tombol "Unlock" pada jendela yang muncul, lalu melompat menyingkir tepat pada detik itu juga. Tempat ini mungkin Inner Area, namun jika secara kebetulan si Argo ini ternyata adalah NPC event dan bukan pemain, aku tak bisa sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan bahwa Code takkan berfungsi.Sembari terus mencengkeram gagang pedangku, pintu itu terbuka lebar lima detik kemudian, tepat waktu."HalO."Bersamaan dengan sapaan yang teramat santai itu, melangkahlah masuk sesosok tubuh mungil yang mengenakan leather armour tingkat pemula dan jubah bertudung warna kuning pasir yang menutupi…… saat pengamatanku terhadap penampilan mereka sampai di titik itu, aku buru-buru memeriksa Kursor Warna yang melayang di atas kepala sosok itu. Warnanya: hijau. Jadi ini adalah pemain, bukan NPC. Namun, aku masih belum bisa memastikan apakah ini seorang pria atau wanita, bahkan setelah melihat avatarnya.Setelah memastikan pintu tertutup, tamuku melirikku dari balik tudungnya yang menjuntai rendah, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, sebelum kembali menatapku seraya berkata:"Tak perlu sewaspada itu, aku takkan berbuat macam-macam padamu kok, KaN. Kau tak keberatan jika aku duduk di situ, kaN?"Jarinya menunjuk ke arah meja bundar kecil di tengah ruangan. Begitu aku merespons dengan anggukan, orang itu menarik bangku kayu usang dari bawah meja, lalu langsung duduk di atasnya."Nah, kalau kau juga bersedia duduk, itu akan sangat bagus, KaN."Meski mengangguk sebagai jawaban, aku memilih untuk duduk di tempat tidur yang berjarak sedikit dari mereka, alih-alih di bangku satunya, sebelum akhirnya melepaskan tangan kananku dari gagang pedang."……Langsung ke intinya saja, berapa yang kau tawarkan?" Aku melontarkan pertanyaan untuk memegang kendali situasi—atau setidaknya, begitulah niatku.Namun setelah berkedip beberapa kali di balik tudungnya, Argo hanya mengangkat bahu sedikit."Bagaimana aku bisa menyebutkan nominal kalau aku bahkan belum bilang apa yang ingin kubeli, taU?""Hah?"Aku tak sengaja mengeluarkan seruan konyol, sebelum mengangkat sedikit Annealed Blade di tangan kiriku."B-bukannya ini yang kau incar?""BukaN, Skill Pedang Satu Tangan bahkan tidak ada dalam daftarku, KaN.""……Oh, b-begitu."Kehilangan momentum sepenuhnya, aku kembali mengamati pinggang Argo, namun tak kutemukan perlengkapan apa pun yang menyerupai senjata. Aku tahu kami berada di dalam Inner Area dan sebagainya, tapi datang menemui orang yang belum pernah kau temui sebelumnya tanpa apa pun di pinggang... Aku tak yakin apakah orang ini pemberani atau sekadar nekat, atau mungkin mereka sengaja membiarkan pinggangnya tampak kosong, demi menyembunyikan senjata kecil di balik punggung—"Oi, memelototi tubuh bagian bawah seorang wanita itu tidak sopan, KaN.""Heh!? W-wanita, di mana?""Tepat di depanmu ini, aduH. Sebenarnya, bagaimana bisa kau gagal menyadari kalau aku ini perempuan setelah melihatku baik-baik, aku benar-benar tak habis pikiR."Nyaris tak bisa menahan diri untuk membantah, aku berdehem sebelum memberikan jawaban."Maaf kalau begitu. Tapi, aku sedang melihat pinggangmu, bukan tubuh bagian bawahmu.""Tak banyak bedanya, KaN.""Ralat, bukan pinggang juga; aku hanya mencoba mencari senjatamu.""Maaf kalau begitU."Menirukan kata-kataku barusan, Argo menyeringai lebar di balik tudungnya."TaPi, Skill Senjata apa yang ada dalam daftarku adalah sepotong informasi berharga, taU. Aku takkan membiarkan siapa pun mengintipnya semudah itu, pahaM.""…………"Aku nyaris saja melontarkan protes bahwa ia terlalu paranoid, namun segera kubungkam mulutku tepat sebelum sepatah kata pun terucap. Tak bisa dipungkiri bahwa segudang Weapon Skills yang ada di SAO masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan dalam pertarungan satu lawan satu—atau dengan kata lain, kompatibilitas dan counter memang memegang peran penting—jika kita ingin bersikap teliti—jadi bukan hal yang mustahil untuk mengambil tindakan pencegahan jika seseorang berniat melakukannya.Dari sudut pandang itu, pada dasarnya aku telah membuka salah satu kartu as-ku kepada Argo, pemain yang mengaku-ngaku perempuan ini. Namun untung atau buntung, pedang satu tangan adalah senjata yang rata-rata dalam segala aspek, jadi seharusnya tidak ada pencegahan khusus yang bisa dirancang untuk melawannya. Lagi pula, dia mungkin tidak akan repot-repot mengetuk pintuku jika dia benar-benar berencana untuk melakukan PK (Player Kill) terhadapku. Begitu meletakkan Annealed Blade di pangkuanku, aku menyusun pertanyaanku."Jadi kalau bukan pedang ini yang kauincar, apa yang kauingin aku jual padamu?""Yah, tebakanmu kalau aku mengincar pedangmu memang meleset dari sasaran tepat, tapi tidak jauh-jauh amat kOk."Dengan pembukaan itu, tangan kanan Argo bergerak lincah."Yang sebenarnya ingin kubeli adalah info tentang quest untuk mendapatkan Annblade milikmu itu, taU.""Annblade……"Tanpa sadar aku nyaris menyunggingkan senyum kaku mendengar singkatan sederhananya itu, dan buru-buru berusaha menormalkan ekspresiku kembali, sebelum mengajukan pertanyaan lanjutan."Yo Argo, karena—ehem, Argo-san, kalau kau tidak keberatan aku bertanya— karena kau sudah tahu tentang pedang ini, bukankah itu berarti kau juga mantan beta tester? Kenapa kau malah perlu membeli info quest dariku padahal seharusnya kau sudah tahu segalanya tentang itu?"Pada saat itu, sudut bibir Argo kembali melengkung membentuk seringai."Aku belum pernah sekalipun menyebutmu alumni beta, kaN.""Apa……?"Setelah mengerutkan dahi, aku menyadari bahwa frasa "juga" yang kugunakan tadi pada dasarnya membocorkan bahwa aku sendiri adalah mantan beta tester. Perasaanku saja, atau dia memang menyedot informasi dariku setiap kali aku membuka mulut besarku ini. Siapa sebenarnya cewek ini… sembari memiringkan kepala kebingungan dalam hati, aku berusaha menutupi kesalahanku."Y-yah, itu sudah jelas. Dalam situasi luar biasa begini, apa menurutmu ada orang selain mantan beta tester yang benar-benar bisa mencapai Horunka seawal ini dalam gim?""Hmm, mungkin tidak juga, taU? Meski kita ada di dalam death game di mana nyawa cuma satu, rasanya tak aneh kalau menemukan lima puluh, atau mungkin seratus pelari awal yang tak tahu apa-apa bergegas keluar kota padahal ada total sepuluh ribu pemain di sini, iya kaN?"…………"Dia mungkin ada benarnya. Di sebagian besar gim di luar sana, para perintis yang mencuri start dibanding rekan-rekan mereka adalah masalah nyata; jika seseorang menyapu bersih semua peti harta karun, mat langka, dan monster layaknya seorang pebisnis cerdas yang menaklukkan pasar blue ocean yang belum terjamah—namun dalam kasus ini, para petualang cerdaslah yang menaklukkan field biru—mereka akan membangun keunggulan besar atas para pemain yang terlambat berkembang. Itulah tepatnya alasan mengapa aku sendiri memilih untuk melesat keluar dari Kota Awal segera setelah Kayaba Akihiko mengumumkan death game ini.Kendati demikian, aku sendiri memiliki persediaan pengetahuan dari beta test sebagai sandaran; di sisi lain, aku jelas hanya bisa menyebut tindakan bergegas keluar kota itu sebagai tindakan nekat jika dilakukan tanpa bekal informasi apa pun."……Yo Argo, aku asumsikan kau sudah menyisir desa dan memeriksa semuanya sebelum datang ke penginapan ini, ya? Secara kasar, menurutmu ada berapa pemain lain yang sudah mencapai desa ini sekarang?"Mendengar pertanyaanku, Argo mengerang pendek 'Hmmm', sebelum mengatakan hal berikut."Info itu harganya sepuluh Cor… atau setidaknya segitu yang biasanya kutagih untuk info semacam inI, tapi ya sudahlaH. Totalnya nol besar pemain, KaN.""Nol……?"Jawabannya begitu mengejutkan hingga membuatku mengerjap tanpa sadar."Yo Argo, lantas bagaimana dengan omonganmu tadi soal adanya lima puluh, atau bahkan seratus pemula buta arah yang bergegas keluar kota……""Memangnya seberapa besar peluang seseorang yang berlarian tak tentu arah bakal benar-benar sampai di Horunka secara tak sengaja, cobA?"Sergahan cepatnya sempat membuatku terdiam sejenak, sebelum akhirnya aku mengajukan keberatan."Tapi kau hanya perlu mengikuti jalan dari gerbang barat laut Kota Awal dan akhirnya kau akan tiba di Hutan Horunka; hutan itu mungkin agak membingungkan, tapi tidak sebanding dengan Hutan Kabut Berayun di Lantai Tiga. Kau pasti akan sampai di desa itu pada akhirnya jika kau menyisir area tersebut.""Gerbang barat laut…… itu terlalu panjang, jadi kusingkat saja jadi gerbang barat yA; lagipula, kau takkan tahu keberadaan gerbang itu tanpa pengetahuan mendalam soal geografi Lantai Satu, jadi nyaris mustahil ada yang memilihnya. Gerbang utara itu tiga kali lebih megah daripada gerbang barat, taU…… sebagian besar pelari awal non-tester pasti mengambil rute melintasi padang rumput setelah keluar dari gerbang utara, aku yakin itU.""Tapi satu-satunya hal yang akan kau temukan di ujung jalan setelah melewati padang rumput hanyalah desa kobold dan seekor Field Boss……"Saat aku mengutarakan fakta itu dengan suara berbisik, Argo mengangguk dalam diam.Terletak di ujung selatan Lantai Satu, Kota Awal memiliki tiga gerbang besar: gerbang barat laut, gerbang utara, dan gerbang timur laut, namun para beta tester menyebutnya gerbang barat, gerbang utara, dan gerbang timur demi kemudahan. Masing-masing adalah titik awal jalan yang membentang ke kota atau desa berikutnya di arah tersebut; tetapi, jalan timur yang menuju Desa Medai melalui pegunungan dipenuhi monster yang levelnya terlalu tinggi; di sisi lain, jalan utara melalui padang rumput awalnya damai, tapi untuk mencapai Kota Tolbana di ujung utara lantai, kau harus melewati rawa yang disarangi swamp kobold, setelah itu kau harus mengalahkan Field Boss tipe babi hutan raksasa yang bersarang di jurang tanpa jalan memutar.Sebaliknya, meski ada potensi risiko tersesat di hutan dengan mengikuti jalan barat menuju Desa Horunka, itu adalah rute yang paling tidak sulit di antara semuanya, jadi itu adalah pilihan yang jelas untuk diambil—atau setidaknya begitulah seharusnya, namun tentu sulit untuk sampai pada kesimpulan itu kecuali kau mendengarnya dari seseorang yang mengetahui hal ini, atau dengan menyelesaikan quest suruhan di Kota Awal untuk mendapatkan informasi tersebut dari NPC."……Kalau begitu, bagaimana dengan mantan tester lainnya? Bukankah tidak aneh jika menemukan orang-orang yang menuju ke sini sekarang kalau mereka sudah tahu seperti apa petanya?"Argo kembali mengerang "Hmm" mendengar pertanyaanku. Sebagai seseorang yang terus bicara soal jual-beli informasi, tampaknya ia tak berniat memberikan sedikit pun infonya secara cuma-cuma.Memangnya kau ini penadah informasi atau semacamnya, ampun deh……, terlepas dari rasa jengkelku, aku beranjak dari tempat tidur dan menuju meja kecil di dekat jendela. Aku menuangkan air ke dalam gelas dari kendi yang disediakan kamar sewaan itu, sebelum kembali dan meletakkannya di meja di hadapan Argo."Ini. Tapi cuma air putih.""Cuma air putih, yA……"Dengan komentar yang blak-blakan itu, Argo menyingkap tudung yang sedari tadi menutupi kepalanya.Saat mataku menatap wajahnya yang kini terekspos, aku bisa merasakan rahangku jatuh secara komikal. Rambut keriting cokelat keemasannya yang mencuat ke segala arah sungguh unik, dan wajah di bawahnya terbilang manis, ya, tapi yang paling menarik perhatianku adalah tiga garis nyata di kedua pipinya, seperti kumis kucing. Mengingat garis-garis itu menyatu sempurna dengan tekstur kulitnya, sepertinya ia menggunakan pewarna face-painting yang mahal, alih-alih menggambarnya dengan cat biasa atau semacamnya."……K-kenapa ada kumis kucingnya?"Saat aku mengajukan pertanyaan ini dengan ragu-ragu, Argo mengangkat alis kanannya dengan luwes."Apa yang bikin kaget, woY? Dulu pas beta juga banyak cowok yang pakai cat di wajah mereka, ingaT?""Yah, memang sih, tapi bukannya item makeup itu harganya selangit…… dan kau bahkan tidak menambahkan bunyi 'meong' di kalimatmu padahal sudah repot-repot menggambar kumis di wajahmu……""HaH!?"Bersamaan dengan teriakan itu, Argo menunjuk wajahnya sendiri dengan ibu jari kiri."Siapa yang bilang kalau ini kumis kucing, cobA!""Lho, bukan?""Bukanlah, aduH! Ini kumis tikus, masa membedakannya saja tidak bisa, siH!""Oh, kalau begitu sal—……"Tepat saat aku hendak melontarkan permintaan maaf, aku kembali mengamati tiga garis radial yang tergambar di kedua pipinya, dan membantah balik."Tunggu dulu, mana mungkin ada orang yang bisa membedakan kumis kucing dan kumis tikus hanya sekali lihat, mustahil! Setidaknya tambahkan bunyi 'cit' di akhir kalimatmu kalau kau memang sepeduli itu!""Gak bakal terjacit…… maksudku, terjadI!"Sambil mendengus lewat hidung, Argo menyambar gelas di meja dan menenggaknya dalam sekali teguk. Setelah meletakkannya kembali dengan suara berdebum, ia berkata:"Yah, beri waktu seminggu dan semua pemain garis depan, termasuk kau, bakal kenal namaku mau tidak maU. Nama Argo-sama, sang Penjual Informasi, lihat sajA!"Karena bingung, aku kembali duduk di tempat tidur. Pernyataannya barusan memuat begitu banyak informasi hingga aku tak tahu harus mulai menanggapi dari mana.Demi mendinginkan kepala, aku mulai meminum air dari gelasku sendiri, ketika Argo kembali membuka mulutnya."Oi kawan, sudah saatnya kau memberitahukan namamu sendiri, iya kaN? Membiarkan seorang wanita menyebutkan namanya tanpa membalas itu tidak sopan, taU.""Hah…… tunggu, kupikir kau menerobos kamarku justru karena kau sudah tahu siapa aku sejak awal?"Begitu aku balik bertanya, aku sadar bahwa aku melakukan kesalahan lagi. Argo tak menyia-nyiakan sedetik pun untuk memamerkan seringainya seraya menghantamku dengan serangan verbal yang telak."Wah-wah, liat tuh, rupanya bukan cuma aku yang kepedean di sini, yaH. TapI, maaf mengecewakanmu, aku tidak mencarimu berdasarkan nama, KaN.""Kalau begitu, kenapa kau sampai repot-repot menerobos masuk ke kamar penginapanku…… dan bagaimana kau bisa tahu kalau aku menginap di kamar ini sejak awal……""Perburuanku berfokus untuk menemukan si super dasher sialan yang menyelesaikan quest Annblade entah dari mana pada hari pertama, taU. Kupikir orang itu mungkin masih menginap di penginapan pada jam sepagi inI, jadi aku memeriksa window pemesanan di meja depan dan menemukan bahwa hanya kamar ini yang sudah terisi, taU. Aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu memikirkan cara untuk memaksamu buka mulut apakah kau orang yang menyelesaikan quest itu, tapi kau malah mempermudahku dengan memamerkannya begitu saja, KaN."Mendengar semua itu, aku melirik ke arah Annealed Blade yang kutinggalkan di tempat tidur sedari tadi. Kelihatannya, aku sudah membocorkan informasi tentang diriku sejak detik pertama cewek itu membuka pintuku, rupanya.Dia mungkin benar-benar serius mengaku sebagai penjual informasi… dengan pemikiran itu, aku menyuarakan pertanyaan terakhirku."Satu hal lagi. Bagaimana kau bisa tahu bahwa sudah ada pemain di luar sana yang menyelesaikan quest 'Obat Rahasia dari Hutan' yang memberimu hadiah Annealed Blade itu? Tidak ada window pemesanan untuk quest, kan?"'Obat Rahasia dari Hutan' adalah quest yang diberikan oleh ibu dari anak yang sakit-sakitan yang menugaskanmu mengumpulkan bahan obat yang hanya bisa didapat dari varian spesifik monster tipe tanaman yang menghuni hutan di sebelah barat (yakni Little Nepent), yang kalau dipikir-pikir, adalah jenis pekerjaan standar yang bisa kau dapatkan di sini. Bagian dalam rumah tempat ibu dan anak itu tinggal diubah menjadi instanced area sementara pribadi bagi setiap pemain yang masuk; meskipun anak yang kulihat sembuh berkat obat itu, pemain lain yang mampir ke rumah itu setelahku akan menemukan anak itu terbaring sakit lagi. Jadi pada dasarnya, tidak ada cara untuk mengetahui apakah pemain lain sudah menyelesaikan quest itu sebelum kau sampai di sana, atau setidaknya seharusnya tidak ada caranya."Agh……"Argo menghabiskan beberapa saat menatap langit-langit dengan tatapan merenung, sebelum akhirnya menjawabku."Yah, kurasa aku bisa menganggap ini sebagai bonus gratis juga untukmU. Tidak seperti versi beta, quest itu sekarang memiliki tambahan cooldown time, asal kau taU.""Hah, berapa menit lamanya?""Dua puluh empat jam.""……Kau serius?……"Pikiranku menjadi kosong sesaat.Dalam kasus SAO, cooldown time merujuk pada periode tunggu yang harus dilalui pemain sebelum mereka bisa mengambil quest setelah orang lain mengambilnya. Kembali di masa beta test, quest 'Obat Rahasia dari Hutan' tidak memiliki cooldown time, yang artinya bisa diambil oleh sepuluh atau bahkan dua puluh orang sekaligus tanpa masalah saat itu; namun, jika cooldown time-nya diatur selama dua puluh empat jam untuk service resmi gim ini, itu berarti hanya satu Annealed Blade per hari yang bisa didapatkan di seluruh komunitas.Tentu saja, tidak seperti saat beta, pemain yang mencoba menamatkan gim meski harus mempertaruhkan nyawa mereka sendiri hanya mencakup sebagian kecil dari komunitas; jumlahnya akan lebih sedikit lagi jika kita hanya menghitung pengguna pedang satu tangan. Meski begitu, tidak mungkin satu pedang per hari bisa memenuhi permintaan pada tahap awal gim."……Yo tunggu dulu, jadi kalau kau datang untuk mengambil sendiri quest 'Obat Rahasia dari Hutan', bukankah itu berarti kau juga seorang pendekar pedang satu tangan? Namun kau justru tertarik membeli info quest, bukannya pedang itu sendiri?"Saat aku mengajukan pertanyaanku dengan sedikit rasa gelisah yang menggangguku, Argo mengencangkan pipinya yang bergambar kumis untuk mengerucutkan bibirnya."Bukankah sudah kujelaskan cukup gamblang padamu; aku ini penjual informasi, KaN. Sekalipun aku menggunakan pedang satu tangan, aku takkan pernah merendahkan diriku untuk menawar pedang itu sendiri, dengaR. Lain ceritanya kalau ada orang yang menyewaku untuk bertindak sebagai perantara bagi negosiasi mereka sendirI, taPi.""……B-begitu ya."Jual beli item antar individu adalah bagian mendasar dari MMORPG; SAO bahkan memiliki trading system untuk tujuan itu, jadi aku tidak begitu paham apa yang merendahkan dari menawar untuk pembelian, tapi kurasa itu menghina namanya sebagai penjual informasi berdasarkan standar Argo sendiri. Dari sisiku, aku justru bersyukur dia tidak di sini untuk mendesakku menjual item yang tak berniat kulepaskan."Kalau begitu…… info macam apa yang ingin kau beli?""Oi, bagaimana kalau kau beritahu dulu namamu, KaN."Sekarang setelah dia menyebutkannya, aku ingat kalau aku belum melakukannya.Karena player name-ku Kirito hanyalah bentuk pendek dari nama asliku, Kirigaya Kazuto, aku merasa agak canggung memberitahukan namaku padanya, tapi Argo pun tak mungkin bisa mengetahui hal itu. Setelah berdehem, aku membisikkannya."Aku Kirito."“Kirito……”Melihat Argo berkali-kali merengut mendengarnya, aku mulai panik apakah dia benar-benar telah menyimpulkan nama asliku, namun si penjual informasi yang memproklamirkan diri itu hanya mengangguk dua atau tiga kali setelahnya, seolah semuanya masuk akal baginya."Oh, aku mengerti sekaranG, jadi kaulah orang yang…… Harusnya aku sudah menduga sebanyak itu, yaH……""……Apa maksudnya itu?""Perlu kucetuskan buatmu kah; kau itu SI Kirito, bukAN? Satu-satunya orang yang berhasil melihat tampang bos Lantai Sepuluh, begitu katanya."…………"Yah, dia memang benar soal itu.Sebagai salah satu dari seribu orang yang diberkahi keberuntungan—walau 'keberuntungan' bisa diperdebatkan, mengingat situasi saat ini—untuk berpartisipasi dalam closed beta test SAO, aku berhasil mencapai tingkat teratas area Labirin Lantai Sepuluh, yang juga dikenal sebagai Kastil Seribu Ular, pada hari terakhir CBT tanggal 31 Agustus. Hitung mundur untuk akhir tes dimulai tepat saat aku berada sepelemparan batu dari ruang boss, jadi aku berlari panik melalui koridor terakhir untuk setidaknya melihat sang boss; setelah berhasil melepaskan diri dari tester lain dan menerobos masuk melalui pintu agung seorang diri, entah bagaimana aku berhasil melihat sosok dan nama Floor Boss itu, tepat sebelum aku dipaksa log out.Aku masih ingat jelas campuran aneh antara ketidakpuasan dan rasa belum tuntas yang kurasakan saat terbangun di tempat tidurku sendiri kala itu. Aku telah bersumpah untuk menumbangkan Floor Boss Lantai Sepuluh, Kagachi sang Raja Samurai, dengan tanganku sendiri kali ini ketika layanan resmi gim akhirnya dimulai, tapi siapa sangka aku malah mempertanyakan apakah aku akan berhasil mencapai Floor Boss Lantai Satu.Mengibaskan lamunan sesaatku, aku berbisik:"Yah, kuserahkan pada imajinasimu apakah aku Kirito yang sama atau bukan.""Ooh, lihat siapa yang akhirnya jadi lebih hati-hati, yaH.""Mari fokus pada apa yang sebenarnya penting; info macam apa yang ingin kau beli?""Oke deh, ayo kita mulai bisnisnya, yukS."Setelah berkata demikian, Argo dengan gesit memindahkan tubuhnya ke posisi bersila di atas bangku kecil. Perlengkapan tubuh bagian atasnya terdiri dari barang pemula yang sama denganku, namun di bawahnya ia mengenakan celana panjang selutut yang longgar mirip knickerbockers. Karena kau tak bisa menemukan pakaian seperti itu dijual di desa ini, kuduga ia pasti mendapatkannya di Kota Awal bersama dengan jubah bertudungnya, namun aku tak punya petunjuk di mana ia bisa menemukannya, bahkan sebagai mantan tester sekalipun."Oi, memelototi tubuh bagian bawah seorang wanita itu tidak……"Karena Argo hendak mengulangi kalimat yang persis sama dengan yang diucapkannya beberapa saat lalu, aku buru-buru membuang muka."Aku tidak melihat, sumpah deh, tidak melihat apa-apa! Langsung ke intinya saja, bisa tidak.""Oke deH, KaN. Ada dua info yang ingin kubeli, taU. Pertama, rincian lengkap soal quest 'Obat Rahasia dari Hutan', terutama momen-momen bahayanYa. Hal lain yang ingin kutahu adalah spesifikasi pra-upgrade untuk Annealed BladE. Totalnya dua potong info, jadi bagaimana kalau kuberi kau dua ratus Cor untuk jerih payahmu, yaH?""Hah, kau memberiku sebanyak ini cuma untuk itu?"Segera setelah aku menyelesaikan pertanyaan impulsifku, aku sadar aku mengacau lagi. Benar saja, senyum tersungging di wajah Argo, setengah bangga, setengah jengkel."Ampun deh, kau benar-benar tidak asyik diajak tawar-menawar, kawaN. Yah, dua ratus itu memang sudah menguras kantongku saat ini, jadi kalau minta lebih bakal benar-benar bikin aku susah, taU.""……Kalau begitu, bisakah kau tambahkan bonus info gratis untuk menyepakati kesepakatan ini?"Aku hanya menyebutkan ini sebagai caraku membalasnya sedikit, namun Argo memasang ekspresi cemberut yang terang-terangan mendengar kata-kataku."Aku dan mulut besarku, ampuN. Jadi apa yang ingin kau tahu, haH?""Bagaimana dengan alasan di balik lukisan kumis di pipimu itu?"Aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan info apa yang akan kuminta, tapi jawabanku malah langsung mendapat tatapan tajam."Asal kau taU, tidak keren nanya-nanya kenapa cewek pakai makeup, KaN.""Uh…… itu bukan makeup sih sebenarnya, kan……""Kalau kau benar-benar penasaran setengah mati sama jawabannya, setor saja seratus ribu Cor dan infonya jadi milikmU!""Seratus……"'Gakun' bunyi rahangku saat jatuh karena kaget, setelah itu aku mengangkat tangan menyerah untuk menarik kembali ucapanku."Oke baiklah, dua ratus Cor tanpa tambahan apa pun. Mari mulai dengan rincian tentang quest 'Obat Rahasia dari Hutan'……"Pada titik itu, mulutku terhenti saat aku memiringkan kepala sedikit karena bingung."Tunggu, kalau kau sudah pernah menjalani quest Annblade di beta sendiri, bukannya kau seharusnya sudah tahu segalanya tentang itu, seperti apa tugasnya, momen-momen berbahaya dan hal-hal seperti itu?""Oh, aku tahu, iyA. TaPi, menurutku, justru di situlah letak jebakannya, kurasA……""Jebakan? Apa maksudmu dengan itu……?""Ingat apa yang dibilang si jubah merah raksasa itu di Alun-Alun Gerbang Teleportasi di Kota Awal kemariN? 'Situasi inilah tujuan utamaku', begitu katanya, taU."Saat Argo menyuarakan kalimat itu dengan tatapan serius, suara dingin GM berjubah merah—Kayaba Akihiko terngiang kembali di benakku. Lidahku kemudian menyuarakan kata-katanya."……Aku mengembangkan NerveGear… dan SAO untuk satu tujuan, dan satu tujuan saja: untuk menciptakan dunia ini dan menikmati pengamatan atasnya. Dan sekarang semua itu telah tercapai……""Ooh, ingatanmu bagus juga, yaH."Seringai muncul di pipi kanan Argo, hanya untuk menghilang tak lama kemudian."Omongannya memang gila, tapi kalau kita telan mentah-mentah kata-katanya, tujuan orang itu adalah mengamati sepuluh ribu pemain di dalam death game ini ketakutan setengah mati. Aku bisa mengerti alasannya; ini pada dasarnya adalah pertunjukan hiburan terbesar dalam sejarah—bahkan jutawan di seluruh dunia pun tak bisa menonton hal semacam ini, kan. Asal kau tahu, mungkin saja dia sedang memantau kita yang lagi ngobrol di sini sekarang juga, hM? Soalnya kalau bicara soal kemajuan dalam gim, kitalah satu-satunya yang sudah mendorong batas sampai sejauh ini, kan."Saat mendengar idenya, mataku tertuju ke langit-langit ruangan. Aku hanya bisa melihat papan langit-langit tua di sana, namun tatapan seseorang seolah menembus melaluinya—atau setidaknya, aku tak bisa menyangkal kemungkinan bahwa seseorang, pada kenyataannya, sedang mengawasi kami."Berhenti menakut-nakutiku, dong……"Aku bergumam setelah mengembalikan kepalaku ke posisi semula, yang memancing Argo mengangkat bahu."Itulah makna dasar dari 'menikmati pengamatan' atas sesuatu, bukaN? Kalau kau berencana untuk maju dalam death game ini sendirian, sebaiknya kau selalu menyimpan keberadaan Kayaba—atau niatnya, atau apalah itu—di sudut pikiranmu setiap saat, KaN.""…………"Dia mungkin ada benarnya. Monster penghuni Aincrad adalah musuh kita dalam pertempuran, namun sistem SAO-lah yang mengendalikan mereka, dan Kayaba adalah satu-satunya orang yang mampu mengelola sistem ini. Yang artinya Kayaba adalah dewa dunia ini, sementara kita hanyalah sekumpulan semut yang berlarian di dalam terarium buatan ilahi yang dianugerahkan kepada kita—Saat aku mengikuti pikiranku sejauh ini, rasa tidak nyaman yang sulit digambarkan memenuhi dadaku. Tapi sebanyak apa pun waktu yang kuhabiskan memikirkan masalah itu tak membantu menjelaskan penyebabnya, jadi aku menyerah pada alur pemikiran itu dan mengarahkan pandanganku ke wajah Argo."……Jadi mari kita asumsikan tujuan Kayaba adalah menikmati menonton dunia ini; lantas apa hubungannya dengan masalah jebakan yang kau sebutkan tadi?""Pikirkan saja, KaN; kalau kau ada di posisi orang yang bersusah payah merancang peta dunia, cuma untuk melihat sekelompok orang membajaknya dengan mudah berdasarkan pengetahuan yang mereka peroleh sebelumnya, apa yang bakal kau pikirkan tentang mereka, hM? Mereka yang tampaknya tak pernah tersesat, atau jatuh ke dalam jebakanmu, para beta tester seperti kita inI.""…Perusak suasana?"Saat aku memberikan jawabanku, si penjual informasi menjentikkan jari kanannya dengan gesit."Tepat sekalI. Orang itu pasti ingin kesepuluh ribu pemainnya memulai dari titik yang persis samA. Tapi, dia juga tak bisa begitu saja melewatkan beta test, atau membatalkan tester mendapatkan akses awal ke gim inI. Menghabisi semua mantan tester tepat saat death game dimulai... pikiran itu setidaknya pasti pernah terlintas di benaknya, menurutkU.""W……whoa whoa."Secara refleks, aku mengangkat tangan kananku untuk menyentuh bagian pelipis. Namun tentu saja aku tak bisa menyentuh NerveGear yang masih terpasang di tubuh daging-dan-darahku di dunia nyata saat kami berbicara. Aku buru-buru menurunkan tanganku kembali, tapi Argo tidak menertawakan tindakanku. Jauh dari itu, sebenarnya, karena dia sedang menautkan tangannya erat-erat di atas meja, seolah menahan dorongan yang sama.Karena rambut keriting yang menjuntai sampai ke hidungnya, serta tanda kumis di pipinya, aku tak bisa menebak usia aslinya—aku mendapat kesan dia sebaya denganku, namun juga kesan lain bahwa dia jauh lebih tua dariku—tapi satu hal yang pasti: tubuh daging-dan-darah Argo sedang terbaring di suatu tempat tidur di dunia nyata, dengan NerveGear terpasang di kepalanya, sama sepertiku. Dan jika HP-nya mencapai nol, bukan hanya avatarnya yang akan lenyap selamanya, pancaran gelombang mikro mematikan dari NerveGear akan memastikan tubuh aslinya mengalami nasib serupa.Kemarin, saat aku mendengar penjelasan Kayaba tentang hal itu, aku menyadari bahwa semua itu adalah kebenaran pahit, bukan gertakan atau semacamnya. Kayaba Akihiko yang kutahu—dan pernah sangat kukagumi—tidak akan ragu untuk melaksanakannya. Namun jika dilihat dari sisi sebaliknya, jika dia telah menyatakan akan "membebaskan semua pemain jika bos terakhir yang menunggu di Lantai Seratus Aincrad berhasil dikalahkan", dia juga tidak akan menarik kembali kata-katanya itu.Cara untuk menyingkirkan beta tester sambil tetap menepati janjinya…… itu adalah—"Oh aku mengerti, yang perlu dilakukan hanyalah membuat perubahan kecil pada berbagai hal dari beta dan……"Saat aku bergumam demikian, Argo kembali menjentikkan jarinya."Tepat seperti yang kumaksud, yA. Contohnya, kalau kau mengubah total daftar monster di suatu area, bahkan mantan tester pun akan waspada terhadap kejutan, kaN? Tapi katakanlah kau mempertahankan penampilan dan bahkan nama monsternya, tapi membuat sedikit perubahan pada spawn atau pola serangan mereka, lalu bagaimanA? Tidakkah kau pikir pengalaman mereka sendiri akan menjadi bumerang bagi mantan tester itu, hM?""Poin yang valid……"Mengangguk, aku teringat kembali pada pertempuran tadi malam.Monster Little Nepent yang menjadi subjek dalam quest 'Obat Rahasia dari Hutan' tidak mengalami perubahan apa pun dalam penampilan maupun pola serangan mereka dari beta test. Namun, varian Nepent berkepala bunga yang menjatuhkan Ovula Little Nepent—bahan yang dibutuhkan untuk obat tersebut—kini muncul bersamaan dengan Nepent berkepala buah; meski keduanya terlihat agak mirip, varian yang terakhir ini memiliki buah yang dapat memancing banyak temannya di area sekitar jika kau menyerangnya. Perubahan inilah yang menjadi faktor pendorong di balik keputusan gegabah Coper untuk mengotori tangannya dengan sengaja menyerang si kepala buah lalu bersembunyi untuk melakukan MPK terhadapku, karena takut ia akan kehilangan si kepala bunga dariku.Aku belum pernah mendengar fruithead muncul bersamaan dengan flowerhead saat di beta, jadi ini mungkin salah satu momen "sedikit perubahan" yang dibicarakan Argo tadi. Andaikan aku sedang memburu Nepent sendirian dan bertemu kedua varian itu di satu tempat: si kepala bunga yang sangat perlu kuburu, dan si kepala buah yang harus kuhindari dengan cara apa pun; dalam situasi semacam itu, kemungkinannya cukup tinggi bahwa aku akan bertindak gegabah dan mengacau di tengah jalan."……Jadi, maksudmu… pengetahuan yang dimiliki mantan tester justru hanya akan menghambat kemajuan kita dalam gim ini……?"Mendengar gumamanku, Argo dengan cepat menggelengkan kepala."EnggaK, kita justru harus memanfaatkan info dari beta test sebaik mungkin, KaN. Malah, berkat info itulah kita berdua, aku dan kau, bisa sampai sejauh ini ke Horunka, padahal baru empat belas jam sejak death game ini dimulai, taU.""Empat belas jam……"Aku terkejut mengetahui bahwa waktu yang berlalu sebenarnya sesingkat itu, namun pengumuman Kayaba faktanya terjadi pukul lima tiga puluh sore kemarin, dan sekarang baru pukul tujuh tiga puluh pagi keesokan harinya. Akan tetapi, rasanya sudah lama sekali sejak aku melewati gerbang barat Kota Awal."……Argo-san, ngomong-ngomong, kapan kau meninggalkan Kota Awal?""Jam lima pagi ini, kira-kirA. Ujung-ujungnya aku butuh waktu satu jam penuh cuma buat nembus Hutan Horunka, ampuN.""Begitu ya…… Meskipun, bisa saja butuh waktu lebih dari tiga jam untuk perjalanan yang sama kalau kau belum tahu jalan, sih……""Nah, mengerti kan maksudku, hM?"Sudut bibir Argo terangkat sebentar membentuk seringai, namun kembali ke posisi semula dalam sekejap saat ia melanjutkan."Tebakanku, mantan tester lain bakal mengikuti jejak kita dan pindah ke Horunka sore inI. Beri waktu dua, mungkin tiga hari lagi dan orang-orang yang bukan mantan tester juga akan mulai menguasai cara bertarung, yang bakal mendorong mereka mulai bergerak mencari lahan farming yang belum terjamah, aku yakiN…… MmmhN, 'mantan tester' dan 'orang yang bukan mantan tester' itu kepanjangan buat diucapin, taU. Ada ide julukan yang lebih ringkas buat mereka, hM?""Hah? ……Seperti, 'veteran' dan 'pemula', atau semacamnya……?"Saat mendengar opsi yang berhasil kuperas dari kosakata mentalku yang terbatas, Argo memutar matanya dengan berlebihan."Woah woaH, menyebut dirimu sendiri veteran cuma karena kebetulan ikut beta test selama sebulan… pede banget sih kau ini, ampuN.""K-kalau begitu kenapa kau tanya padaku……""Nihihi, yah sudahlah, biarkan saja alam yang menentukan julukan-julukan itu, yaH. Omong-omong…… jumlah pendatang baru mengalahkan mantan tester sepuluh banding satu, dan sebelum semua pemain ini mulai bergerak, aku kepikiran untuk mengumpulkan info minimal yang bakal mereka butuhkan untuk bertahan hidup ke dalam satu, apa itu namanya…… guidebook atau semacamnya, yang kemudian bisa kusebarkan di antara mereka, taU.""G-guidebook? Disebarkan……?"Setelah mengulangi kata-katanya dengan bengong, akhirnya aku menangkap apa maksudnya. Argo mencoba menuangkan pengetahuan yang dimiliki mantan beta tester ke atas kertas, yang kemudian bisa ia bagikan kepada pemain non-tester.Ya, memang dimungkinkan untuk membuat sesuatu setingkat selebaran atau buklet dengan membawa naskah tulisan pemain ke kantor juru tulis NPC untuk disalin. Tapi proses itu memakan biaya yang cukup besar; saking mahalnya, praktis tak ada seorang pun di masa beta yang pernah menggunakan jasa mereka."Tapi, bukannya itu butuh banyak uang untuk diwujudkan……"Saat aku mengajukan pertanyaan ini dengan tampang sebodoh biasanya, Argo hanya mengangkat bahu."Yah, tentu sajA. Makanya aku berencana memungut bayaran untuk edisi pertama, yang hasilnya nanti bisa kupakai membiayai edisi kedua yang gratis, mungkin…… Walaupun saat ini aku bahkan belum punya modal buat edisi pertama itu, siH."Melihat seringai 'nihihi' dari si penjual informasi yang memproklamirkan diri itu sekali lagi, aku dihantam rasa malu yang tak tertahankan.Aku bermigrasi ke Desa Horunka seorang diri semata-mata demi meningkatkan peluangku bertahan hidup. Meski aku merasa berlindung di dalam kota, tempat monster tak bisa menginjakkan kaki, adalah langkah yang tepat jika tujuan utamaku hanya menghindari kematian, tidak ada jaminan nyata bahwa jaring pengaman itu akan bertahan selamanya. Jika aku tetap di level 1, aku hampir pasti akan mati jika suatu hari penghalang system yang melindungi kota runtuh, membiarkan gerombolan monster menyerbu masuk.Argo sendiri... pasti sudah mempertimbangkan skenario yang sama. Tapi alih-alih hanya berfokus pada dirinya sendiri, gadis ini justru berusaha memastikan kelangsungan hidup sebanyak mungkin pemain yang telah meninggalkan keamanan kota. Ya, secara logika aku bisa memahami fakta bahwa ini adalah cara paling optimal untuk memenuhi tugas menamatkan gim yang dibebankan oleh Kayaba... tapi memikirkan bahwa ada seseorang yang bersedia bertindak berdasarkan ide itu seawal hari kedua sejak peluncuran gim..."……Yo Argo, maksudmu—ehem, Argo-san, apakah kau bermaksud mengatakan—bahwa info yang hendak kau dapatkan dariku juga akan dimasukkan ke dalam guidebook-mu itu?""Tentu sajA, itu kan pedang satu tangan early-game terbaik yang ada dan bisa dipakai sampai Lantai Empat, atau bahkan Lantai Lima, asalkan kau meng-upgrade-nya. Meskipun cuma bisa dapat satu biji per hari—justru karena masalah itulah, pemain pasti bakal berbondong-bondong mengambil quest ini, taU. KurasA bukan cuma aku yang bakal susah tidur kalau mereka semua mati konyol, kaN?"—Sudah ada yang mati.Menyimpan fakta itu untuk diriku sendiri, aku merespons dengan anggukan kecil. Aku telah meninggalkan satu lagi Ovula Little Nepent yang drop untukku di tempat Coper menemui ajalnya sebagai hadiah perpisahan, tetapi kuduga benda itu sudah hancur sekarang. Aku yakin bahkan dia pun takkan keberatan meninggalkan bukti bahwa dia pernah ada di dunia ini dalam guidebook Argo."……Baiklah, akan kuberitahu semua info yang kupunya tentang quest dan pedang itu, dan aku takkan memungut biaya sepeser pun.""Oh-ho, yakiN?""Aku bakal kelihatan seperti orang yang gila uang kalau menagih bayaran untuk infoku setelah semua penjelasan tadi, dan kau tahu itu."Mendengar ocehanku, "Maaf soal itU", jawab Argo tanpa sedikit pun tanda penyesalan di wajahnya, sebelum kembali tertawa 'nihihi'.Aku menghabiskan dua puluh menit berikutnya menjelaskan semua momen penting dari quest 'Obat Rahasia dari Hutan' yang kutemui saat mengerjakannya sendiri, serta beberapa tips cara melewati Hutan Horunka sekalian; untuk Annealed Blade, aku membiarkannya menyalin angka-angka langsung dari property window.Setelah mendapatkan info yang diinginkannya, "MakasiH", Argo mengucapkan terima kasih singkat seraya berdiri dan menuju pintu. Namun ia berhenti saat hendak meraih gagang pintu, dan justru mengangkat tangan kanannya setinggi kepala, mengetuk pintu dengan irama "tok, tok-tok-tok"."Lain kali aku bakal ngetuk pintu kayak gitu, jadi pastikan jangan bikin aku nunggu di depan pintu, okE."Pernyataan si penjual informasi membuatku terperangah, mengerjap kaget saat aku memintanya mengonfirmasi apakah aku tidak salah dengar:"Hah…… kau berencana datang lagi?""Tentu sajA, duH. Aku tidak mau kehilangan sumber informasi berharga, jadi pastikan kau jangan sampai mati konyol, dengaR.""……Kau juga, Argo-san."Mendengar ucapanku dengan senyum canggung, Argo melengkungkan ketiga kumis di pipi kanannya menjadi sebuah seringai."Panggil saja aku Argo, KaN. Yah, sampai jumpA."Setelah benar-benar membuka pintu kali ini, sang penjual informasi pun menghilang dari pandangan.Masih duduk di tempat tidur, aku menghabiskan sekitar sepuluh detik menatap pintu yang tertutup, sebelum tiba-tiba bangkit berdiri setelah menggelengkan kepala pelan.Ada banyak hal di daftar tugasku. Aku ingin menjual item tak penting yang kupungut kemarin, lalu membeli satu set pelindung baru, kemudian aku juga harus mengisi ulang stok potion-ku, dan aku juga ingin meng-upgrade Annealed Blade-ku menjadi +1 atau +2, jika memungkinkan.Rasa hampa aneh yang menahanku di tempat tidur selama ini, sebelum Argo menerobos masuk, telah lenyap nyaris tanpa kusadari.
Komentar (0)
Memuat komentar...