Sword Art Online Progressive: The Next Day
Bagian 2
Estimasi waktu baca: 19 menitSaat aku merampungkan hampir seluruh belanja keperluanku di alun-alun Desa Horunka, waktu telah menunjukkan pukul delapan tiga puluh pagi.Aku belum melihat satu pun pemain lain di desa ini selain diriku sendiri… meski kalaupun ada pemain yang berangkat dari Kota Awal pagi ini, kemungkinan besar mereka baru akan tiba di sini sekitar tengah hari. Bukannya aku keberatan bertemu pemain lain, tetapi karena saat ini aku sedang tidak berminat membentuk party dengan siapa pun, akan merepotkan jika ada yang menghampiriku untuk mengajak bergabung.Kupikir sebaiknya aku mengambil semua quest yang tersedia di desa ini, lalu menyelesaikannya satu demi satu hingga stok potion-ku habis. Maka, dengan mengandalkan ingatanku dari masa beta, aku pun beranjak pergi.Dan ya, aku menyapa setiap NPC quest yang tersebar di alun-alun, rumah-rumah penduduk, hingga gang-gang belakang, dan menyanggupi semua tugas yang mereka berikan. Meski sebagian besar hanyalah jenis pekerjaan standar seperti: "Kalahkan sekian monster ini", atau "Pergi dan kumpulkan sekian material itu" dan semacamnya, seingatku aku seharusnya bisa menemukan sebuah quest yang cukup merepotkan—namun dengan imbalan yang setimpal—di sebuah peternakan di pinggiran desa.Andai ini peternakan di dunia nyata, kau pasti akan mencium bau khas ternak yang menyengat di udara, kecuali jika peternakan itu sudah diubah total menjadi tempat wisata. Namun di sini, yang tercium hanyalah aroma rumput kering. Saat mendekati kandang sapi kecil itu, aku mendapati seorang pria paruh baya bertopi jerami tengah memegang garpu tanah di satu tangan. Ia berulang kali menengadah ke langit dengan ekspresi susah yang dibuat-buat, atau menggelengkan kepala seraya mendesah.Setelah memastikan adanya tanda "!" emas di atas topi jeraminya yang menandakan statusnya sebagai NPC quest, aku menghampiri pria itu dan hendak menyapanya.Namun, tepat sebelum aku sempat melakukannya."OoI, tunggU, tunggU!"Mendengar suara familier di belakangku, aku berbalik dengan sentakan kaget.Di sana kutemukan seorang pemain bertubuh mungil dengan tudung kuning pasir di kepalanya tengah berlari ke arahku; ia begitu terbiasa membawa dirinya di dunia virtual hingga aku nyaris tak bisa mendengar langkah kakinya. Meskipun Kursor Warna di atas kepalanya tidak menampilkan nama apa pun, aku yakin tak salah lagi, ini adalah si penjual informasi yang sama yang baru saja berpisah denganku tadi."…Kau lagi… Apa maumu denganku kali ini?"Saat Argo si Penjual Informasi mendengar pertanyaan yang kulontarkan, seringai kurang ajar mengintip dari balik tudungnya di tempat ia berhenti di hadapanku."Untung aku datang buat mengecek keadaan di sini untuk jaga-jaga, KaN. Kalau kau mau mengerjakan quest ini, biarkan aku ikutan jugA.""Apa lagi sekarang?"Meskipun ketidaksenanganku terhadap gagasan itu terlihat sangat jelas dari seruan yang tak sengaja kulepaskan, hal itu tampaknya tak mengganggu Argo sedikit pun, saat ia terus berceloteh."Di antara semua quest yang bisa kau dapat di Horunka, quest yang satu ini adalah yang paling menggiurkan kedua setelah quest Annblade, ingaT? Jadi, tidak mengejutkan kalau ada timer cooldown yang ditempel di situ jugA. Atau kau mau bilang kalau kau masa bodoh aku terpaksa menunggu berjam-jam asalkan kau berhasil menyambarnya buat dirimu sendiri sekarang, hmM?""Y-yah, aku tidak pernah bilang begitu…"Walau aku membantah demi menjaga gengsi, hati kecilku sebenarnya berkata lain. Meski ada beberapa aturan dasar yang harus diikuti dalam MMORPG, satu yang paling menonjol: "siapa cepat, dia dapat". Siapa pun yang menemukan item langka duluan berhak mengambilnya, siapa pun yang melancarkan serangan pertama pada monster langka berhak mengalahkannya, dan siapa pun yang mengambil quest dengan timer cooldown berhak mengerjakannya duluan.Namun mengingat situasinya, kita harus lebih fokus memastikan kelangsungan hidup sebanyak mungkin pemain ketimbang mematuhi aturan dan tata krama, dan Argo sedang berusaha menyusun guidebook demi tujuan itu—…Baiklah. Kita harus berada dalam satu party, jadi aku akan…"Aku menghentikan jalan pikiranku saat menyadari sesuatu. Tidak ada gunanya repot-repot membentuk party dengannya kecuali quest ini benar-benar memiliki timer cooldown."Seingatku, begitu quest diterima, siapa pun yang bergabung ke party belakangan masih bisa mendapatkan kredit untuk itu. Begini saja: aku akan mengambil quest itu sendirian dulu, dan jika ternyata memang ada timer cooldown-nya, aku akan membentuk party denganmu. Jika tidak, kita kerjakan masing-masing. Itu cukup masuk akal, kan?""Oh terserah, suka-sukamu sajA. Cepatlah dan selesaikan urusannya, KaN."Meski aku menangkap tanda-tanda samar bahwa Argo tak begitu senang dengan gagasanku, demi kepentinganku sendiri, aku pun harus menyelesaikan ini secepatnya.Aku kembali menoleh ke arah pria paruh baya bertopi jerami itu dan menyapanya: "Halo, apakah ada masalah?". Persis seperti saat di beta, pria itu membalas: "Salah satu anak sapiku hilang. Sepertinya ia berkeliaran ke padang rumput di seberang hutan sebelah timur; bisakah kau membawanya kembali untukku sebelum ia diserang monster?", jadi aku langsung menyanggupinya.Tepat saat itu, aku menerima pesan pembaruan quest log, dan tanda "!" di atas kepala pria itu berubah menjadi tanda "?" yang menandakan quest sedang berlangsung. Namun dari sudut pandang Argo, tanda "!" seharusnya muncul kembali baginya jika tidak ada timer cooldown yang ditempelkan pada quest tersebut."…Bagaimana?"Saat aku berbalik untuk bertanya, Argo mengangkat bahu dengan isyarat tersirat "sudah kubilang, kan"."Gak muncul tanda apa pun di sinI."Mendorongku minggir, ia menghampiri pria itu—"HeI, Paman, ada masalah gak, hmM?"Gantian pria itu yang mengangkat bahu persis seperti yang dilakukan Argo beberapa saat lalu, sebelum menjawab:"Bisakah kau datang menemuiku lagi sekitar pukul tiga sore nanti?"Ini adalah frasa standar yang digunakan oleh NPC quest saat sedang dalam masa cooldown. Mengingat sekarang pukul delapan lima puluh pagi, mungkin aman untuk berasumsi berdasarkan referensi pukul tiga itu bahwa timer cooldown diatur selama enam jam."Liat kaN?", ucap Argo saat berbalik.Aku tetap membungkam mulutku seraya membuka jendela menu dan mengirimkan invite kepada si penjual informasi yang tengah menyeringai itu.Plot untuk quest 'Anak Sapi yang Tersesat' adalah sebagai berikut: sebagaimana tersirat dari judulnya, seekor anak sapi telah tersesat dan tugas kami adalah menemukannya lalu membawanya kembali ke peternakan dalam keadaan utuh.Nah, andai hanya itu tugasnya, ini cuma akan menjadi quest pencarian/pengawalan standar, tapi ada satu syarat merepotkan: demi menemukan si anak sapi, kami harus meminjam induk sapinya dari si peternak dan menuntunnya sepanjang jalan menuju area padang rumput yang harus kami sisir. Dan sapi ini luar biasa temperamental—kecuali kau memberinya jilat garam batu favoritnya setiap empat hingga lima menit, ia akan mengamuk dan kabur ke arah yang salah, yang ujung-ujungnya malah kembali pulang ke peternakan.Untungnya, monster tidak menyerang sapi itu, namun karena sangat mungkin kau terjebak dalam situasi di mana gauge garamnya habis tepat saat kau berada di tengah pertempuran, quest ini cukup berat untuk diselesaikan dengan mulus jika kau melakukannya secara solo.Tampaknya sadar betul akan fakta ini, Argo mengajakku bicara dengan seringai lebar tepat setelah kami selesai membereskan dua cacing pertama yang menyerang kami usai meninggalkan desa."Nah loH, pasti kau senang dapat bantuan di sini, iya kaN?""…Bukan berarti dua cacing kroco itu masalah besar; aku bisa saja menghabisi mereka dalam sekejap sendirian, tahu."Membalasnya dengan argumen setingkat anak SD, aku mengeluarkan bongkahan garam batu seukuran telur dari kantong sabukku dan membiarkan sapi itu menjilatnya. Meskipun gauge garam si sapi sebenarnya tak kasat mata, ekor sapi itu mulai bergerak semakin cepat seiring menipisnya gauge, jadi selama kau peka terhadap tanda kecil itu, kau tak punya alasan nyata untuk khawatir sapi itu bakal kabur.Karena sapi itu mengeluarkan suara "Mooo~" yang puas, aku mengelus tubuhnya yang bercorak hitam di atas putih (atau sebaliknya?), sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Jalan setapak kecil yang melintasi hutan ke arah timur itu tidaklah rumit bak labirin, tak seperti rute menuju Desa Horunka dari Kota Awal. Monster berbahaya juga tidak muncul di sekitar tempat ini, jadi aku punya lebih dari cukup keleluasaan untuk menikmati kilau sinar matahari yang menerobos sela pepohonan dan kicauan burung-burung kecil di atas sana, namun pandanganku justru tertarik ke arah pinggang—tepatnya senjata yang tergantung di pinggang itu—milik si penjual informasi yang berjalan di depanku.Argo tidak menyombongkan diri di penginapan tadi tanpa alasan, sebab senjata utamanya tergolong barang antik: Claws. Pada dasarnya, itu adalah cakar yang terbuat dari besi, atau tetsu no tsume dalam bahasa Jepang, yang kau pasang di punggung kedua tanganmu, tapi praktis aku belum pernah melihat ada orang yang benar-benar memilih senjata khusus ini, bahkan selama waktuku di beta test.Sebenarnya aku sempat mencobanya sendiri pada hari-hari awal tes, namun aku sama sekali tak berhasil menemukan cara menggunakannya dengan benar, dan akhirnya menyerah tak lama kemudian. Meski senjata itu memiliki keunggulan bobot yang ringan dan kemampuan menyerang dengan kedua tangan, jangkauannya terlampau pendek, yang mengharuskanmu melangkah masuk begitu dekat ke arah musuh hingga rasanya kau hampir menabrak monster itu. Ya, memang ada kalanya kau berakhir dalam jarak dekat dengan monster saat bertarung secara tak sengaja, namun butuh nyali luar biasa besar untuk mendekat dan menempel sedekat itu secara sengaja dalam lingkungan FullDive.Faktor ketakutan berada dalam jarak yang terlalu dekat itu seharusnya terasa jauh lebih nyata dan tak terbandingkan dalam layanan resmi gim ini sekarang karena statusnya sebagai death game, ketimbang saat masa beta dulu. Lantas, mengapa Argo justru secara khusus memilih untuk menggunakan claws…Sementara aku terus berjalan dengan pemikiran itu memenuhi benakku, Argo tiba-tiba berbalik ke arahku, dan dengan lihai berjalan mundur, seringai puas menghiasi wajahnya."Bocah, apa tubuh bagian bawah Kakak ini sebegitu menarik perhatianmu, hmM?""Bo-…Kak…"Aku bukan bocah! Dan kau juga bukan Kakak!, protes batinku, namun aku berhasil menelan kembali kata-kata itu dengan susah payah; setelah menarik napas dalam, aku membuka mulut sekali lagi."Yang menarik perhatianku sebenarnya adalah senjatamu. Kenapa harus claws secara spesifik, dari sekian banyak senjata?""Info itu bakal menelan biaya seratus Cor, KaN.""Grrr…"Aku mengerang pendek mendengar komentar yang seharusnya sudah kuduga itu. Seratus Cor bukanlah jumlah yang tak terjangkau, tapi apakah aku begitu penasaran akan jawabannya sampai rela membayar demi itu?… Aku tak begitu yakin… dan yang lebih penting, hal itu menyebalkan secara prinsip."…Ah sudahlah, aku yakin bisa mencari tahu sendiri jawabannya saat kita menyelesaikan quest ini nanti, jadi tak usah saja.""Ho-hoh, tak sabar melihatmu mencobA. Kakak di sini bersedia menambahkanmu ke daftar teman jika kau benar-benar bisa menebaknya, KaN.""H-hei kok gitu…"Tepat saat aku hendak mengajukan protes, telinga kananku menangkap suara dengungan rendah 'bzzzt…'. Sepertinya menyadari hal itu pada saat bersamaan, Argo memasang cakar yang tergantung di pinggulnya begitu cepat hingga mataku bahkan tak mampu mengikuti kecepatannya."Mooie, berhenti!"Mendengar perintahku, sapi itu patuh berhenti di tempat. Argo memang memberiku tatapan "Mooie, seriusan?", tapi aku mengabaikannya dan justru menghunus Annealed Blade dari punggungku. Mendekat ke arah kami dari kedalaman hutan adalah monster tipe lebah raksasa yang masing-masing berukuran lebih dari empat puluh sentimeter.Lebah sebesar ini di dunia nyata pasti akan memancing lebih dari sekadar teriakan, tapi di sini, di Aincrad, mereka justru termasuk dalam kelas monster terkecil. Hal itulah yang membuat mereka jauh lebih sulit untuk diserang secara telak.Lebah-lebah raksasa itu—secara resmi bernama Forest Wasp—berjumlah dua ekor. Mengambil posisi untuk melindungi sapi, aku memberi perintah kepada anggota party ketiga yang kumiliki sejak layanan resmi game dimulai."Argo, yang di kiri bagianmu. Forest Wasp menembakkan racun, jadi hati-hati!""Apa kepalamu terbentur sampai lupa siapa yang sedang kauhadapi di sinI, ayolaH."Responsnya tajam, namun sama-sama penuh dengan kompetensi. Yakin bahwa dia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik, aku mengalihkan fokusku sepenuhnya ke Forest Wasp di sebelah kanan.Terus membuat suara dengungan 'bzzt', 'bzzt' yang tak enak didengar dengan sayapnya, lebah raksasa itu mendekatiku perlahan, seolah mengejekku. Mereka dianggap sepupu superior dari ras Yellow Wasp yang menghuni padang rumput dekat Kota Awal karena alasan yang bagus: pola gerakan mereka lebih sulit ditebak, dan mereka bahkan punya kemampuan serangan jarak jauh berupa tembakan racun, persis seperti yang kuperingatkan pada Argo.Serangan berbasis cairan jauh lebih mudah ditangani jika kau memegang perisai besar, tapi karena aku memutuskan tidak menggunakan perisai demi bidang pandang yang lebih baik, aku harus menghindari serangan racun itu, mengingat aku tak bisa menangkisnya dengan benar. Bukannya mustahil menepis serangan itu dengan pedangku, tapi senjata cenderung menderita kerusakan durabilitas jauh lebih besar akibat serangan racun dibandingkan armor.Masalah yang sama juga menimpa Argo, mengingat dia juga sama-sama tak berperisai, tapi aku tak bisa mengalihkan fokus dari musuhku sendiri saat ini. Hingga kini, Forest Wasp itu telah mendekatiku dengan gerakan tak beraturan di udara, namun setelah melayang di satu titik selama beberapa saat, ia tiba-tiba menjulurkan penyengat panjang di bagian belakangnya ke arahku, dan tepat saat itu.."Toryaa!"Tanpa sadar berteriak, aku melompat ke kanan. Sepertinya aku agak lambat, karena aku merasakan sedikit rasa perih di pipiku akibat cipratan racun, tapi itu tidak cukup untuk menyebabkan penurunan HP yang berarti, dan aku juga tidak terkena debuff racun.Saat melayang di udara, aku menumpukan Annealed Blade di bahu kananku, memicu Sword Skill tebasan diagonal satu serangan: Slant. Menjejak tanah begitu kakiku mendarat, aku mengeksekusi skill-ku. Masih terhuyung akibat motion delay dari serangan racunnya, Forest Wasp itu tak berdaya melawan saat aku mengincar celah kecil antara kepala dan dadanya.Walaupun jangkauan dan berat Annealed Blade sangat berbeda dari Short Sword yang kupakai sebagai perlengkapan awal, rasa pedang itu rupanya sudah tertanam di tubuhku jauh lebih dalam dari dugaanku berkat masa-masa aku mengayunkannya di beta dulu. Memancarkan cahaya biru pucat dan suara getaran berat, ujung pedang itu dengan mudah menembus celah yang kurang dari lima milimeter tersebut, dan menimbulkan bunyi 'Kah!' tajam saat memenggal putus kepala lebah itu.Terbelah dua, kepala dan tubuh lebah itu diam secara tidak wajar di udara, lalu mengerut sesaat, sebelum buyar menjadi partikel biru. Aku segera menoleh ke kiri, di mana kulihat Argo tengah menangkis serangan gigitan lebahnya dengan claw kanan, lalu menyusul dengan tusukan dalam tepat ke perut musuh yang tak terlindungi dengan claw kiri.Saat HP bar lebah itu menyentuh nol, tubuhnya berhamburan di udara dengan suara mirip kaca pecah. Setelah melihat sekilas jendela Results yang muncul di pandanganku, aku berjalan menghampiri si penjual informasi."Kerja bagus.""Kau juga, KaN."Andai anggota party-ku ini teman lama, ini saatnya melakukan tos kepalan tangan atau semacamnya, tapi aku baru kenal Argo beberapa jam saja, dan lagi pula, dia memakai cakar tajam di punggung tangannya. Itu bakal jadi alasanku untuk melewatkan adu tinju itu, tapi Argo tampaknya berpikiran lain: dia mengembalikan cakarnya ke pengait logam di kedua sisi pinggangnya, lalu menyodorkan kepalan tangan kanannya ke arahku tanpa ragu.Terjebak dalam situasi sulit, dengan enggan aku mengulurkan kepalan tangan kiriku dan mengadunya pelan dengan miliknya. Detik itu juga, kenangan yang telah kukunci di lubuk terdalam pikiranku terlepas sedikit dari rantainya.Kemarin, dari jam satu siang saat layanan resmi SAO dimulai, sampai jam lima tiga puluh sore saat Kayaba Akihiko mengumumkan bahwa SAO telah menjadi death game, aku telah bekerja bahu-membahu dengan pemain lain.:Seorang pengguna pedang lengkung bernama Klein, yang berhasil mengidentifikasiku sebagai mantan beta tester meski dia pemula total, dengan tak tahu malu mendesakku: "Bro, ajarin aku main gim ini dong!". Kewalahan oleh semangat orang itu dan akhirnya menjawab OK, aku membatalkan rencana lari cepatku di awal gim, dan malah berakhir mengajarinya dasar-dasar penggunaan Sword Skills.Walaupun Sword Skills sebenarnya bisa dipicu saat melompat, atau bahkan dari posisi tiarap saat kau benar-benar sudah menguasainya, semua orang kurang lebih kesulitan melakukannya dengan benar saat pertama kali. Bahkan ketika kau berhasil meraba-raba posisi dan sudut yang tepat dengan senjatamu untuk memulai Sword Skills, menguasai eksekusi skill—atau lebih tepatnya, bantuan system—untuk mendaratkan serangan ke target pilihanmu bukanlah perkara mudah. Skill akan fumble jika kau terburu-buru dan mengayunkan pedang sebelum assist aktif; sebaliknya, jika assist aktif tapi kau telat mengikuti momentum dan terseret gerakan itu tanpa persiapan, membidik dengan benar akan jadi masalah terakhirmu.Karena pada dasarnya aku punya nol pengalaman dalam melatih orang cara pakai Sword Skills… atau mengajar apa pun secara umum, aku hanya bisa menjelaskan cara kerja skill pada Klein lewat penjelasan berdasarkan insting yang sangat samar seperti: "Tahan sebentar di tempat dan tunggu sampai bunyinya 'kyuiin', lalu biarkan pedangnya 'bam' menebas"; meski begitu, Klein tetap gigih sampai akhirnya dia berhasil mengaktifkan teknik dasar Curved Sword, Reaver, dan menghabisi monster terlemah di gim, Frenzy Boar, dengannya.Orang itu begitu kegirangan atas keberhasilannya sampai-sampai seolah ia baru saja mendapatkan Bonus Serangan Terakhir dari mengalahkan Floor Boss saat ia berteriak: "Hec' yeaaah, baby!" sembari melakukan pose kemenangan yang berlebihan, sebelum mengajakku melakukan high-five.Aku masih bisa merasakan sisa-sisa rasa kebas di tangan kiriku akibat benturan kepalan tangan kami yang penuh semangat saat itu. Aku bahkan ingat sempat berpikir bahwa mungkin aku bisa cocok dengan orang ini, meskipun awalnya aku bertekad bulat untuk melanjutkan gaya bermain solo-ku di layanan resmi gim, persis seperti saat beta…Namun aku meninggalkan Klein begitu saja.Saat aku memutuskan untuk memindahkan basis operasiku ke Desa Horunka segera setelah fakta death game diumumkan, aku menawarkan Klein untuk ikut bersamaku. Tapi dia menolak saranku, menyatakan bahwa dia tidak bisa begitu saja meninggalkan teman-temannya dari gim lain, yang masih tertinggal di alun-alun Kota Awal.Saat itu, aku dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan pertama adalah menemui teman-teman Klein dan pindah ke Horunka bersama mereka semua. Pilihan lainnya adalah berpisah dengan Klein saat itu juga, dan berangkat ke Horunka seorang diri.Saat aku bimbang di antara kedua pilihan itu, Klein berkata padaku:—Aku nggak mungkin membebanimu lebih dari ini, kan. Asal tahu saja, aku bangga karena dulu pernah memimpin guild di gim lamaku. Kami pasti bisa bertahan entah bagaimana caranya dengan teknik yang kau ajarkan, lihat saja nanti. Jadi, jangan khawatirkan kami dan pergilah ke desa berikutnya tanpa kami.Kata-katanya memberiku jalan keluar, dan aku langsung mengambilnya. Aku memilih jalan yang memastikan diriku sendiri menjadi lebih kuat, meski itu berarti meninggalkan teman pertama yang kubuat di SAO.Dari perspektif jangka panjang, aku jelas membuat pilihan yang salah saat itu. Tak peduli berapa banyak level yang kucapai, bahkan Floor Boss di Lantai Satu akan terlalu berat untuk kukalahkan seorang diri. Demi menaklukkan death game ini, kerja sama tim mutlak diperlukan.Kemarin, Klein memang masih pemula, tapi pengendalian tubuhnya di lingkungan FullDive tidaklah buruk, dan dia adalah cowok baik yang punya cukup karisma untuk mengklaim "aku bangga karena dulu pernah memimpin guild" tanpa melebih-lebihkan. Dengan sedikit leveling di sana-sini, serta menambah pengetahuan dan pengalaman, dia sangat mungkin memanfaatkan sifat kepemimpinannya—yang kurasa tidak kupunya—untuk memimpin para pemain dalam menamatkan gim ini.Namun aku justru meninggalkan orang yang suatu hari nanti bisa menjadi pemimpin yang cakap itu di Kota Awal, memilih memprioritaskan hasrat egoisku sendiri: "Aku ingin curi start sebagai pelari awal". Padahal aku bisa dengan mudah membayangkan skenario terburuknya: dia bertemu dengan rekan-rekannya dan kemungkinan besar meninggalkan kota bersama mereka, hanya untuk mendapati dirinya dan party beranggotakan enam orang itu musnah dalam sekejap akibat nasib buruk di Outer Field.Ada cara untuk memastikan apakah dia masih hidup. Karena aku ingat player name-nya, dieja Klein, aku bisa saja mengiriminya pesan instan. Faktanya, saat kami berpisah kemarin, aku memang bilang padanya: "Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja."Tapi sampai sekarang, lebih dari lima belas jam kemudian, aku masih belum mendengar kabar darinya.Itulah tepatnya mengapa aku tak sanggup mengirim pesan padanya lebih dulu, apa pun yang terjadi. Jika aku mengirim pesan dan menerima pesan error "Pemain dengan nama ini tidak dapat ditemukan"… memikirkannya saja sudah membuat punggungku merinding.Pada akhirnya, aku cuma terus lari dari masalah, bahkan sampai sekarang. Sejak aku berpisah dengan Klein di gang belakang Kota Awal dan kabur, aku terus memalingkan muka dari semua tanggung jawab yang seharusnya kupikul, berpura-pura bodoh dengan meyakini bahwa aku sedang memperkuat diriku sendiri. Mungkin itulah sebabnya aku berakhir tak mampu bangkit dari tempat tidur pagi ini."Kenapa tampangmu aneh begitu, KaN."Mendengar suara itu, aku mengerjap dua atau tiga kali sebelum memfokuskan pandanganku. Hanya untuk mendapati Argo menatap wajahku dari jarak cuma lima belas sentimeter—"Woaah!"Aku melompat mundur secara refleks, jadi aku mencoba menenangkan suasana dengan terburu-buru."O-oh, yah, bukan apa-apa…"Saat itu juga, aku merasa jika aku tidak melontarkan pertanyaan ini sekarang, aku takkan mendapat kesempatan lain dalam waktu dekat, jadi aku cepat-cepat menggelengkan kepala."S…sebenarnya, bukan 'bukan apa-apa', sih.""HaH?""Umm…Argo-san, apa yang mendorongmu jadi penjual informasi? Kurasa kau tidak akan mendapat untung besar dari pekerjaan ini, dan kau juga tidak akan punya banyak waktu buat leveling sendiri kalau sibuk mengumpulkan info atau menyusun guidebook, kan?""Hmmm…"Argo mengerang sejenak sembari mempermainkan ujung rambut ikalnya yang mencuat dari balik tudung, namun tak lama kemudian, senyum sinis yang biasa ia pamerkan kembali menghiasi wajahnya, membuatku terkejut."Aku punya beberapa jawaban: satu gratis, satu seharga seratus Cor, dan satu lagi seharga seratus ribu Cor; mana yang mau kau dengaR?""…Hei, harga yang terakhir itu terdengar sangat tidak masuk akal mahalnya."Setelah menggumamkan keluhan pelan, aku mengangkat bahu seraya menjawab:"Oke kalau begitu, yang gratis saja.""SiaP. Oke deH, ini jawabanku: Aku sebenarnya yakin bisa meraup untung di sini, taU.""Hah? Tapi bukannya barusan kau bilang bisnis guidebook itu bakal bikin kau merugi, atau semacamnya?""Yah memaNg, pada awalnyA. Tapi di buku keempat atau kelima, aku seharusnya mulai melihat keuntungan jugA. Begitu bisnisku berjalan lancar, aku berencana menyewa bantuan untuk mulai membuat sesuatu yang lebih mirip koran, sekalian.""K-koooran…"Kurasakan rahangku jatuh karena terkejut, namun kalau dipikir-pikir lagi, SAO memang sangat minim hiburan. Aku bisa dengan mudah membayangkan para pemain yang bersikeras menunggu penyelamatan di dalam Inner Area bakal kelaparan akan informasi dan bahan bacaan secara umum, jadi jika seseorang menerbitkan koran, mereka mungkin memang akan meraup penjualan yang lumayan."…Jadi intinya, kau menjalankan bisnis jual beli informasi ini karena kau pikir bakal untung?""Tepat sekalI. Tapi ingat ya, itu cuma jawaban yang kutawarkan secara gratiS."Menatap seringai 'nishishi' Argo, aku sempat bimbang beberapa saat apakah harus menanyakan jawaban seharga seratus Cor juga, sebelum akhirnya mengangguk."Begitu. Kalau begitu aku akan berdoa semoga seluruh urusan bisnismu itu berjalan lancar.""Oh yaH? Yakin tidak mau dengar jawaban seharga seratus Cor, hmM?""Ya. Tapi asal kau tahu saja, itu bukan karena aku terlalu pelit buat bayar seratus Cor. Hanya saja, rasanya… aku tidak mau terkesan membayar uang untuk mengorek isi hatimu."Saat aku menyatakan jawabanku dengan wajah masam, giliran Argo yang mengerjap kaget beberapa kali, dan kemudian seringai paling lebar yang pernah kulihat menghiasi wajahnya."Ya ampuN, ya ampuN, begitu yaH; kulihat bocahku ini akhirnya mulai paham cara memperlakukan wanita dengan benar, walau cuma sedikiT.""Berhentilah memanggilku 'bocah'.""Uupsie, Mooie kelihatannya mulai ngamuk sekaranG, bocah.""Hah…"Saat aku berbalik melihat sapi itu, aku menyadari ayunan ekornya memang sudah bertambah cepat. Dengan panik, aku bergegas menghampirinya, mengeluarkan garam batu dari kantongku, dan membiarkan sapi itu menjilatnya.Saat suara 'Moooo…' sapi itu masuk ke telingaku, aku bergumam dalam hati: "Tahu tidak, lupakan apa yang baru saja kukatakan; suatu hari nanti aku akan menabung dua ratus ribu Cor dan membuatnya memberitahuku alasan di balik kumis itu, serta alasannya menjadi penjual informasi, camkan kata-kataku."
Komentar (0)
Memuat komentar...