Sword Art Online Progressive: The Next Day
Bagian 3
Estimasi waktu baca: 14 menitMeskipun kami berhadapan dengan tiga sergapan monster lagi setelah itu, kami tidak mengalami kesulitan berarti untuk memukul mundur mereka. Harus kuakui—meski dengan berat hati—bahwa semua itu berkat ketangkasan fisik Argo yang lihai serta pengambilan keputusannya yang tenang dan terkendali. Sembari menjaga gauge garam si sapi agar tetap terisi aman, kami berhasil menembus hutan dan tiba di tempat tujuan tepat menjelang pukul sepuluh pagi.Terpisahkan oleh sungai raksasa dari Padang Rumput Selatan yang menjadi lokasi bernaungnya Kota Awal, padang rumput yang terhampar di hadapan kami hanyalah sebagian dari peta dataran terluas di Aincrad. Jika ingatanku tidak salah, nama resminya adalah "Rata Plain", namun semua orang di era Beta menyebutnya "Central Plain". Dengan asumsi ukurannya tetap sama seperti masa beta, maka luasnya mencakup tiga kilometer dari utara ke selatan dan empat kilometer dari timur ke barat.Aku pernah mendengar orang mengatakan bahwa luasnya kira-kira setara dengan Distrik Taitou di Tokyo. Wilayah pusat dataran ini berubah menjadi lahan basah, dan tepat di tengah-tengahnya terdapat pemukiman monster dasar terkuat, yakni Kobold. Jika kami tidak waspada dan malah tersasar masuk ke sana, bahkan nyawa kami pun akan melayang.Di sisi utara dataran, seolah memangkas jalur, menjulang tebing-tebing raksasa yang membelah Lantai Satu menjadi bagian utara dan selatan. Untuk melintasinya, kau harus melewati salah satu dari tiga jalur: dungeon di sebelah timur tebing, gua-gua di sebelah barat, atau ngarai tengah tempat Field Boss tipe Babi Hutan telah menanti.Menempuh jalur dungeon maupun gua akan memakan waktu lama, dan karena kota Tolbana terletak tepat setelah ngarai tersebut, kau tak punya pilihan selain menghadapi sang Field Boss. Selama beta test, tidak butuh waktu sampai tiga hari untuk mengalahkannya, namun kala itu hal tersebut dimungkinkan karena adanya ratusan orang yang mati berkali-kali dalam serbuan nekat.Karena kita tak sanggup menanggung korban jiwa lagi sejak peluncuran resmi ini, itu berarti tim penakluk harus meningkatkan kualitas perlengkapan semua orang dengan cermat serta melatih kerja sama tim mereka demi mengalahkannya. Dan lagipula, berapa banyak orang yang sebenarnya bisa dikumpulkan untuk membentuk tim penakluk tersebut?Adapun aku, apakah aku bahkan ingin bergabung dengan itu? Apa aku punya hak? Pikirku seraya memandangi padang rumput yang melambai tertiup angin selatan, ketika tiba-tiba..."Ini, ambillaH!" seru seseorang seraya menyodorkan botol kecil tepat di bawah hidungku.Aku mendongak."A-apa ini?""Apanya yang apA? Ini minuman, bodoH," sahut Argo dengan wajah jengkel saat aku menerima botol tersebut.Botol itu terbuat dari kaca kasar yang masih memiliki gelembung udara di dalamnya, disegel bukan dengan gabus melainkan sumbat kayu, dan terakhir, menampilkan label yang hanya bergambar buah lemon."...tunggu, aku belum pernah melihat yang seperti ini di beta.""YaH, kalian kan terlalu fokus mencapai lantai ataS, begitu lewat Lantai Dua kalian hampir tidak pernah balik lagi ke Kota Awal, kaN? Aku menemukan penjual ini tepat sebelum beta test berakhir di distrik Barat Kota AwaL. Minuman ini cuma dijual di kios keciL.""Begitu ya? Terima kasih, berapa hutangku?""Yang ini aku traktiR," kata Argo, mengejutkanku, yang kemudian kubalas dengan ucapan terima kasih.Sambil melihat sekeliling, aku menemukan batu yang tampak nyaman dan duduk di atasnya.Pertama-tama, aku memeriksa keadaan si sapi. Ekornya berkibas malas di udara sementara ia dengan senang hati melahap rumput. Memperkirakan aku punya waktu sekitar 3 menit lagi, aku membuka sumbat botol itu. Namun, aku berhenti tepat di situ.Di dunia SAO, di luar Safe Zone, aturannya adalah apa saja boleh terjadi. Jadi selama beta test, ada beberapa bajingan yang gemar melakukan PK, atau membunuh pemain lain. Tentu saja, seharusnya tidak ada pemain yang akan melakukan hal itu sekarang setelah peluncuran resmi mengubah semua ini menjadi death game. Alasannya karena hal itu akan menjadikan orang tersebut pembunuh tulen, 100% asli. Terlebih lagi, itu akan membuat upaya menamatkan game menjadi jauh lebih sulit.Kalau dari teman atau anggota guild itu lain cerita, tapi memakan dan meminum apa pun dari orang yang baru kau kenal beberapa jam lalu tanpa rasa curiga sedikit pun rasanya tidak benar bagiku, tapi... Saat aku sedang merenungkan pikiran-pikiran ini, Argo datang dan menyambar botol di tangan kananku lalu menjejalkan botolnya sendiri yang belum dibuka."Nih, apa ini bikin perasaanmu lebih enaK?""Oh, m-maaf. Bukannya aku mencurigaimu atau apa, tapi...""EnggaK, poinmu benar jugA. Itu salahkU. Kau benar untuk waspada sampai segitu," ujarnya seraya menyingkap tudung kepalanya, mengangkat botol yang telah ditukar itu ke bibirnya, lalu menenggak isinya hingga nyaris separuh."Fyuuuh!" ia mengembuskan napas puas, tanpa menunjukkan sedikit pun tanda-tanda mati rasa atau terkena damage.Andai aku jauh lebih paranoid, aku semestinya curiga bahwa ia membubuhkan racun pada kedua botol dan menggunakan purification tepat sebelum meminumnya. Namun jika demikian, seharusnya terlihat ikon buff berkedip di bawah bar HP-nya. Sejauh pengamatanku, bar HP Argo tak menampilkan hal semacam itu, dan lagipula, dialah yang pertama kali mengajak membentuk party.Setelah menimbangnya matang-matang, aku membuka sumbat botol dan meneguk isinya banyak-banyak. Rasanya manis. Dan asam. Aroma lemon yang kaya membasuh lidah maupun rongga hidungku, dan saat ditelan, tersisa rasa pahit yang menyegarkan diiringi sensasi panas yang menjalar dari tenggorokan hingga lambungku..."...tunggu sebentar, bukannya ini alkohol???" teriakku, sementara Argo mengangkat alisnya di sebelahku."Yah iyalaH, itu kan limoncello.""Limon... apa itu?""Yah, berhubung aku sudah mentraktirmu satu, sekalian saja kuberitahu tentang inI. Biasanya aku memungut bayaran buat informasi semacam ini, taU? Omong-omong, limoncello itu liqueur buatan Italia. Mereka merendam kulit lemon dan gula ke dalam vodka atau minuman keras netral tapi kuat lainnya untuk membuatnya, gitU.""Begitu ya? Jadi dengan kata lain, itu, um, agak mirip lemon sour?""Sama sekali beda, taU!" protes Argo dengan ekspresi jengkel seraya menyodorkan botolnya yang setengah kosong ke bawah hidungku."Dengar ya kawaN, lemon sour itu shochu yang dicampur air soda dan perasan lemon. Yah, itu memang enak jugA, dan alkoholnya paling cuma 5%, tapi itu minuman yang benar-benar berbeda, pahaM!"...yah, maafkan ketidaktahuanku. Aku ini cuma anak SMP yang baru menginjak usia 14 tahun bulan lalu. Itulah kalimat yang ingin sekali kulontarkan balik padanya. Namun, menilai dari pengetahuannya soal alkohol, usia Argo kemungkinan besar di atas 20 tahun, jadi kalau lain kali dia memanggilku "bocah", aku benar-benar takkan punya alasan untuk membantah.Meneguk limoncello itu sekali lagi, aku menelan protesku dengan bantuan alkohol tersebut lalu mengangguk."Aku mengerti. Omong-omong, seberapa kuat kadar alkohol limoncello ini?""Hmmm. Yah, takaran air campurannya biasanya beda-beda tiap rumah atau mereK, tapi kalau dipukul rata, kira-kira sekitar 30% laH? Yang ini rasanya ada di kisaran itU.""30%..." yang berarti kadar alkoholnya 5 atau 6 kali lebih tinggi daripada bir yang biasa diminum ibuku. Tentu saja, di dunia nyata aku belum pernah menyentuh alkohol sekeras itu, pun aku tak sempat mencicipi hal semacam itu di Aincrad versi beta. Jika aku menghabiskan botol ini, bukankah aku bakal mabuk dan tak bisa bertarung dengan benar?Seolah bisa membaca pikiranku, Argo menyeringai."Jangan cemas, di dunia ini alkohol cuma sekadar rasa, taU. Biarpun kau tenggak satu barel vodka, kau takkan mabuK. Yah, memang ada sih orang-orang bodoh yang bisa mabuk walau cuma minum Teh Oolong, tapi kalau kau termasuk tipe orang yang suka menipu diri sendiri seperti itu, aku tak tahu harus bilang apA.""Delusi," bisikku pada diri sendiri seraya menggelengkan kepala sedikit. Andai aku bisa memanipulasi pikiranku semudah itu, aku takkan sebegitu mengkhawatirkan Klein ataupun Coper."Enggak, aku bukan orang seperti itu," jawabku, seraya meneguk limoncello lagi. Rasa manis asam yang pekat serta aromanya yang tajam benar-benar cocok dengan seleraku. Dan sensasi panas saat cairan itu melewati tenggorokanku juga tak buruk-buruk amat.Setelah mengosongkan botol itu, aku menghela napas sebelum bangkit berdiri, lalu menatap Argo."Terima kasih minumannya, enak sekali. Mungkin rasanya bakal lebih mantap lagi kalau disajikan dingin sedingin es.""Hey now, don't be greedy. First of all, in this world there's no refrigerators, and there isn't even a way to get ice" Argo said, rolling her eyes. I smirked at her "Is that so? I guess it's impossible for even a mighty information broker like you isn't it?" Terjemahan Bahasa Indonesia:"Hei, jangan serakah donG. Pertama-tama, di dunia ini tidak ada kulkas, dan bahkan tidak ada cara buat dapat eS," ujar Argo sambil memutar bola matanya.Aku menyeringai ke arahnya."Begitu ya? Kurasa hal itu mustahil bahkan bagi penjual informasi hebat sepertimu, kan?""Nah, kau sudah mengatakannyA! Suatu hari nanti, bakal kuberi kau air es yang dingin membeku, lihat sajA!""Wah, aku tak sabar menunggunya," jawabku, sementara Argo menatapku dan menghela napas."Melihat sikapmu itu, kau mungkin bakal lupa kalau percakapan ini pernah terjadI."Setelah menyudahi istirahat kami dan memberi sapi itu jilatan garam, kami kembali melanjutkan quest 'Anak Sapi yang Tersesat'. Yang mana, pada titik ini, pada dasarnya hanya melibatkan menuntun si sapi berkeliling padang rumput ke mana pun. Anak sapi itu berada di ujung barat Rata Plain, di dalam area berdiameter sekitar 500 meter.Begitu kami mendekat, induk sapi akan memberi tahu kami lewat suaranya. Tentu saja, monster akan tetap muncul, dan kau mungkin masih akan menemukan jebakan fitur geografis seperti kolam yang tersembunyi di antara alang-alang atau duri yang berserakan, tapi jika kau memperhatikan langkahmu, tak ada bahaya akan menabraknya.Tinggi rumput paling banter 50 sentimeter, jadi bahkan seekor anak sapi pun seharusnya terlihat menyembul di antaranya. Namun, entah apakah itu karena kontur tanah yang bergelombang, tetapi jarak pandang kami tetap terbatas. Jadi, kami menyerahkan urusan mencari anak sapi kepada induknya, sementara kami para pemain bertugas mewaspadai monster dan kondisi medan. Itulah cara tercepat untuk menuntaskan quest ini. Seolah memikirkan hal yang sama, kulihat Argo berjalan dalam diam sembari terus memperhatikan pijakan kakinya. Sambil menghalau tikus raksasa dan kumbang scarab raksasa, kami akhirnya telah menyisir sekitar separuh dari area pencarian berdiameter 500 meter tersebut ketika..."Moo!" lenguh sapi itu dengan nada yang berbeda dari sebelumnya. Seolah-olah ia sedang terburu-buru. Memutar tubuh raksasanya, ia berlari ke arah timur. Aku dan Argo segera menyusul. Sapi itu sendiri seharusnya tidak dalam bahaya terperosok ke dalam kolam tersembunyi atau semacamnya, namun ia bisa memancing amarah (aggro) sekumpulan monster. Jika itu terjadi, yang bisa kami lakukan hanyalah mengabaikan semua monster yang menyerang sampai ia menemukan anaknya. Sambil berdoa agar ia tidak memicu sesuatu yang berbahaya, kami berlari mengejarnya sekuat tenaga.Untungnya, sapi itu berhenti setelah 20 meter dan kembali mengeluarkan lenguhan tajam. Sebagai balasan, lenguhan "moo!" yang lebih melengking terdengar dari kejauhan. Aku dan Argo bergegas maju ke depannya untuk memahami situasi ketika..."Apa?""Oh!" Kami berdua berseru serempak.Anak sapi itu ada tepat di hadapan kami. Namun melingkar di lehernya adalah tali kasar yang terbuat dari jalinan rumput kering, dan yang menuntunnya dengan posisi membelakangi kami adalah sesosok pria kecil. Kelihatannya ia sedang berusaha membawa anak sapi itu ke suatu tempat."Hei!" teriakku secara naluriah, berbarengan dengan si pencuri sapi yang berbalik badan. Begitu melihat wajah sosok itu, aku berseru "Whoa!".Dia bukan manusia. Moncong anjing, telinga segitiga yang lancip, dan akhirnya, menyembul dari rerumputan yang menyembunyikannya beberapa detik lalu, sebuah ekor panjang. Itu adalah salah satu monster humanoid yang menjadikan Lantai Satu sebagai rumah mereka, seekor Kobold.Kursor di atas kepalanya menunjukkan nama Swamp Kobold Rat Hunter. Aku pernah melawan beberapa dari mereka selama beta test. Untuk ukuran Kobold, itu adalah kelas terlemah, namun bagi seseorang yang baru saja menginjak level 5 sepertiku, ia tetaplah lawan yang mengkhawatirkan. Lagipula, mengapa makhluk yang seharusnya tidak keluar dari lahan basah pusat bisa berada di sini, di bagian barat dataran ini?"Kororu guru..." pekik Kobold itu dalam bahasanya saat menyadari kehadiranku dan Argo, seraya membuang tali di tangan kanannya dan menghunus tombak pendek di punggungnya. Senjata itu hanyalah alat kasar dengan gagang kayu bengkok dan ujung tulang, namun daya serangnya tak bisa diremehkan. Faktanya, kursor di atas kepalanya—yang warnanya menjadi lebih gelap atau terang berdasarkan perbandingan kekuatan lawan dengan pemain—menampilkan warna merah darah pekat bagi pemain level 5 sepertiku."Argo, kau level berapa?" tanyaku sembari mengawasi anak sapi yang telah bebas itu berlari menuju induknya lewat sudut mataku.Kali ini, ia menjawab tanpa memungut bayaran untuk informasi tersebut."Level 3.""Aku Level 5. Kalau kita berdua, pertarungannya bakal sengit. Bagaimana menurutmu?""Quest ini ternyata berbeda dari versi beta. Sebisa mungkiN, aku ingin mendapatkan infonya," jawab Argo, seolah menyiratkan bahwa ini demi kepentingan semua pemain yang akan mengambil quest ini nantinya.Tak diragukan lagi, siapa pun yang mengambil tugas ini tanpa informasi sebelumnya, lalu bertemu Swamp Kobold untuk pertama kalinya di sini, kemungkinan besar akan digepengkan layaknya serangga."Mengerti," bisikku, bersamaan dengan teriakan "Naru ran gura!" dari si Kobold.Maju sini! Pikir kami seraya menyiapkan pedang dan claws kami. Namun tepat pada saat itu, terdengar suara gemerisik dari belakang Kobold diiringi goyangan rerumputan, dan muncullah bukan hanya satu, melainkan dua Swamp Kobold tambahan."Apa—"Melihat kursor di atas para Kobold baru itu, jantungku nyaris berhenti saking takutnya. Salah satu Kobold yang berbalut kain usang tampak seperti Rat Hunter yang pertama. Namun yang satunya lagi lebih tinggi satu kepala, mengenakan armor kulit. Di tangan kanannya tergenggam belati tebal, sementara tangan kirinya mencengkeram tali yang berujung kait besi.Bahkan tanpa melihat kursornya pun, aku tahu makhluk apa itu. Bernama Swamp Kobold Trapper, ia adalah yang paling berbahaya di antara para Swamp Kobold. Hampir semua orang selama masa Beta setidaknya pernah mati sekali di tangan makhluk ini.Meskipun Sword Skill yang dilancarkan tangan kanannya tak boleh diremehkan, yang jauh lebih mengerikan adalah kait tali di tangan kirinya yang memiliki serangan khusus bernama "Weapon Dropper" yang bisa merenggut paksa senjatamu. Begitu kau mencoba memungut senjata itu kembali, serangan ganas akan menghujanimu, dan besar kemungkinan akan menguras habis HP-mu saat itu juga.Terlebih lagi, kursor si Trapper itu berwarna merah tua pekat layaknya darah kering, dan statusnya jauh lebih tinggi daripada statusku saat ini."Konjura!" raung si Trapper, memanggil kedua Rat Hunter untuk mengapitnya."Argo, ayo kita kabur! Untuk saat ini, mustahil kita bisa menang!" teriakku, sementara Argo mengibaskan tangan kanannya."EnggaK, kalau kita berdua membelakangi mereka, kita bakal tamat, taU!""...!!"Aku lupa. Dia ada benarnya. Biasanya saat sebuah party mencoba melarikan diri, pemain tercepat harus tinggal di belakang untuk mencoba menangkal serangan tali itu. Tapi dulu, pemain yang tinggal di belakang punya peluang mati yang cukup tinggi.Saat si Trapper melengkungkan mulut raksasanya menjadi sebuah seringai, ia mulai memutar-mutar tali di tangan kirinya. Meski talinya tampak kendur, kau bisa mendengar suara desingan dari kait besi yang berat itu. Para Rat Hunter di kedua sisi juga bersiap dengan tombak tulang mereka seraya mempersempit jarak.Saat aku terpaku ketakutan, Argo berbisik di telingaku, "Jangan khawatir. Weapon Dropper tidak mempan pada Claw-ku. Aku akan memancingnya melempar tali, dan begitu aku memotongnya, aku akan menyusul. Jangan pikirkan aku, kabur sana!"Dia benar. Claws itu, yang terpasang kuat dengan penjepit logam, tidak berisiko dilucuti paksa oleh kait tali, dan jika salah satu Claw tersangkut, kau masih bisa menggunakan yang satunya untuk memutus tali tersebut. Tapi itu hanya berlaku jika kau berhadapan satu lawan satu dengan si Trapper. Dalam kasus ini, jika tali itu menangkapmu, maka saat para Rat Hunter menyerbu, kau hanya akan jadi sasaran empuk."Aku akan urus para Rat Hunter, kuserahkan talinya padamu," balasku seraya mengacungkan Annealed Blade."...dasar bodoh. Gak bisa dengerin Kakakmu ya," gumam Argo dengan nada marah, namun ia menghentikan keluhannya sampai di situ.Seolah menyadari rencana kami, si Trapper mempercepat putaran kait talinya dan maju selangkah. Memasuki jangkauan Weapon Dropper dalam 30 sentimeter.... 20 sentimeter... 10 sentimeter...Pada saat itu."Moooo!" terdengar lenguhan yang menggetarkan tulang dari sapi yang kami kira sedang melindungi anaknya. Dan tak lama kemudian, tanah mulai bergemuruh. Mematung di tempat dan menoleh ke belakang, kami melihat sapi itu menundukkan kepala bertanduknya, dan menyeruduk dengan penuh murka."Whoa!""Wha!"Argo dan aku melompat menyingkir. Induk sapi yang menyeruduk di antara kami mengguncang tanah saat ia menghantam telak ke arah Swamp Kobold Trapper."Narungo!!!" teriaknya sambil melemparkan kait tali ke arah sapi. Serangan itu, yang akan memakan porsi besar HP pemain jika mengenai sasaran langsung, memantul dari tanduk kanan sapi dengan suara klank saat ditepis begitu saja. Tepat setelahnya, kepala sapi yang beratnya sedikit lebih dari 500 kilogram itu menghantam langsung ke dada si Trapper.Meskipun ia lebih besar dari kebanyakan Kobold lain, Trapper itu jauh lebih kecil dari manusia dewasa, yang berarti serangan itu membuatnya terpental terbang. Di puncak lintasannya, tubuh itu berubah menjadi partikel biru dan berhamburan."Mustahil..." bisikku, sementara kedua Rat Hunter merengek "roggo..." Argo dan aku saling berpandangan, mengangguk, dan mengarahkan pandangan kami pada Rat Hunter yang kini kehilangan semangat juang tersebut.
Komentar (0)
Memuat komentar...