Sword Art Online Progressive: The Next Day
Bagian 4
Estimasi waktu baca: 5 menitSetelah menyerahkan anak sapi dan induknya dengan selamat sentosa, pemilik peternakan bertopi jerami itu meledak dalam kegembiraan, dan memberi kami hadiah Cor yang dijanjikan, serta sebuah keranjang misterius. Tepat setelah pesan penyelesaian quest muncul, tubuhku dan Argo mulai memancarkan efek naik level. Dengan ini, aku telah menjadi Level 6, dan Argo Level 4. Bukan hasil yang buruk setelah kurang dari 24 jam sejak awal permainan. Namun untuk sekadar mencoba menantang bos Lantai Satu, Illfang the Kobold Lord, setidaknya kau harus mencapai Level 10. Menara Labirin rasanya masih seperti mimpi yang jauh di awan pada titik ini..."Oke, itu tadi luar biadab!" kata Argo sambil meregangkan tubuh dan mengibaskan tudungnya, "siapa sangka quest 'Anak Sapi yang Tersesat' yang lurus-lurus saja itu bakal punya tambahan event mengerikan macam itu, iya kaN? Taruhan kau pasti senang tidak mengerjakannya sendirian, kan, bocah?" Seringai Argo membuatku kesal bukan main, tapi kali ini aku tak bisa membantah."Itu berlaku untukmu juga. Pastikan kau tulis di guidebook-mu: Jika Trapper muncul, jangan panik dan lari.""Aku tahu, aku tahu! Tapi tunggu..."Argo memeriksa quest log-nya yang telah diperbarui dan mengerutkan kening, lalu melanjutkan, "ngomong-ngomong, sepertinya nama quest-nya berubah dari versi beta.Sepertinya kita lupa mengeceknya saat memulai quest.""Hah? Bukannya 'Anak Sapi yang Tersesat'?""Ahh. Tulisannya 'Pembalasan Dendam Sapi'.""..."Kami berdiri di sana tanpa kata-kata. Tak diragukan lagi, nama yang pas untuk quest di mana sapi itu langsung menggencet Swamp Kobold Trapper. Tapi kalau dia sekuat itu sejak awal, aku jadi berpikir mungkin setidaknya dia bisa membantu sedikit dalam pertempuran di sepanjang jalan tadi.Sambil menghela napas panjang, aku membuka keranjang yang kuterima dari pemilik peternakan. Di dalamnya ada dua bongkah roti hitam, dan sebuah toples kecil."Roti dan... toples apa ini? Kita tidak dapat yang seperti ini di versi beta, kan?""Kau benar sekalI!" kata Argo, mengintip ke dalam keranjang. Dengan jari telunjuknya, dia mengetuk toples itu. Setelah menekan "Use" dari jendela yang muncul, ujung jarinya mulai bersinar, "hei! Sini mana telapak tanganmu!""Kenapa kau mau pakai tanganku?" keluhku, sembari dengan patuh menyodorkan tangan kiriku.Argo mencolekkan jarinya ke tengah telapak tanganku, dan menyemburlah pasta putih susu. Kelihatannya agak seperti krim... tunggu, kalau dipikir-pikir... Aku mencolek sedikit dengan jari kanan dan menjilatnya. Saat itu, rasa asam seperti yogurt dan rasa manis yang kaya memenuhi mulutku. Ini krim."Enak banget!" seruku, lanjut melahap sisanya.Aku ingin meraih tanganku dan menjilati setiap sudutnya, tapi karena aku ini siswa SMP kelas 2, tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu di depan wanita yang lebih tua."Ini sepertinya sour cream. Taruhan kalau kau oleskan di roti itu dan memakannya, rasanya bakal enak gila, taU.""Oh ya? Yah, aku tak yakin itu sepadan dengan rasa takut setengah mati gara-gara SK Trapper tadi, tapi orang itu baik juga!" jawabku sambil mengetuk toples. Sisa penggunaan menunjukkan "4/5", yang berarti masih ada sekitar 80% sour cream tersisa.Masalahnya kami cuma dapat satu keranjang. Jika ingatanku benar, tidak seperti 'Obat Rahasia dari Hutan', jika menunggu sebentar, 'Anak Sapi yang Tersesat'... ralat, "Pembalasan Dendam Sapi", seharusnya bisa diambil lagi.Namun, masih ada empat jam lagi untuk cooldown timer-nya, dan meski itu tak lebih dari pertarungan event, mengetahui bahwa Swamp Kobold Trapper muncul membuatku ingin melengkapi senjata sekunder untuk jaga-jaga.Sambil memikirkan hal ini, aku menutup keranjang dan menyodorkannya pada Argo."Ini, ambillah.""Apa-. Buat apa?""Buat apa? Yah, cuma ada satu toples krim..." gumamku.Argo menepuk punggungku keras-keras dan menyeringai lebar."Hihihi. Begitu dong caranya, bocah. Tapi yah... yang satu itu buatmu, kawanku.""Hah? Tunggu, kenapa?""Karena tadi itu, kau tidak lari," kata Argo sambil mundur selangkah dan mengedipkan mata."Yah, kalau kau masih tak sampai hati memakannya, mungkin lain kali kalau kau ketemu orang yang lagi depresi, kau bisa menghibur mereka pakai itu. Manusia... kasih saja mereka sesuatu yang enak dan mereka bakal bangkit lagi, taU.""Mana mungkin hal sesederhana itu...""Itu berhasil justru karena sederhana. Oke deh, sampai jumpa nanti, Ki-boy!" kata Argo sambil menyeringai, lalu si penjual informasi itu mengibaskan jubahnya dan berlari menuju alun-alun, menghilang dalam sekejap.Terperangah, aku berdiri di tempat sejenak sebelum berbisik, "apa-apaan panggilan 'Ki-boy' itu." Menggelengkan kepala, aku menyimpan keranjang itu di storage-ku. Karena aku berencana solo untuk sementara waktu, kurasa aku takkan bertemu orang depresi dalam waktu dekat. Untungnya, di dunia ini, item makanan apa pun yang disimpan di storage terjaga keawetannya. Masalahnya adalah aku mungkin tergoda dan melahap semuanya. Kurasa pada titik itu, aku tinggal kembali dan menyelesaikan 'Pembalasan Dendam Sapi' lagi. Entah kenapa aku merasa itu justru bakal bikin aku ketemu si penjual informasi itu lagi...Aku segera sadar bahwa aku benar-benar lupa menebak alasan kenapa dia memilih claws sebagai senjatanya. Tapi mungkinkah apa yang dia katakan saat pertempuran tadi adalah alasan harfiahnya? Bahwa claws efektif melawan serangan Weapon Dropper milik Swamp Kobold Trapper...? Lain kali aku bertemu dengannya, akan kuberitahu hipotesis itu. Yah, bukannya aku ingin sekali menambahkannya sebagai teman atau apa sih, tapi..."Ngomong apa sih aku ini, aku harus pergi."Memukulkan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kiri, aku mulai berjalan keluar kota untuk menyelesaikan sisa quest yang ada.
Komentar (0)
Memuat komentar...