Sword Art Online Progressive: The Seventh Day

Bagian 2

Estimasi waktu baca: 13 menit

13 November 2022.
Hidup di dunia ini, mau tak mau aku jadi sering lupa hari apa sekarang, tapi aku tahu hari ini tepat tujuh hari setelah peluncuran resmi layanan, jadi ini adalah hari Minggu, persis seperti hari itu.
Saat masih di dunia nyata, biasanya aku bermain gim hingga pukul dua atau tiga dini hari pada malam Minggu, lalu tidur sampai lewat pukul sepuluh keesokan paginya. Tadi malam aku sulit tidur, jadi kupikir tak apa-apa bangun agak siang, meski mungkin tak sampai pukul sepuluh, tapi aku malah terbangun pukul tujuh dan tak bisa tidur lagi.
Tampaknya rasa takut aneh yang menyergapku di dungeon kemarin masih ada, tertancap dalam di hatiku. Jika terus begini, aku bisa membayangkan hari ini bakal berakhir sama saja.
Tapi bukan berarti aku bisa meringkuk di balik selimut seharian. Perlahan aku turun dari tempat tidur, mengganti tunik dan celana pendek pengganti piyama dengan perlengkapan biasaku, lalu membuka pintu.
Saat itu, aroma wangi roti langsung menyapa hidung dan perutku.
"Selamat pagi, Pendekar Pedang."
Salam itu datang dari sang nyonya rumah. Kamar yang kusewa berada di area yang hanya bisa diakses lewat ruang makan, jadi tergantung waktunya, aku kerap berpapasan dengan keluarga itu saat jam makan. Walaupun aku tahu mereka NPC, rasanya agak canggung, tetapi sekaligus memberikan rasa nyaman.
"Ini, apa kau mau juga?"
Pria tua yang sedang menyesap kopi di ujung meja mengangkat cangkirnya ke arahku.
"Terima kasih, aku mau."
Saat aku menjawab, pria tua itu menunjuk ke kursi kosong.
"Duduklah di sini."
"Permisi."
Di seberang tempatku duduk, dua anak laki-laki sedang melahap roti selai. Sang nyonya rumah meletakkan roti dan sepiring sup di hadapanku, jadi aku mengucapkan "Terima kasih, aku akan menyantapnya" sekali lagi dan mengambil sendokku.
Aku tak menyadarinya saat masih di beta, tetapi ada kemungkinan besar aku bakal bergabung dengan mereka saat sarapan dan makan malam. Menunya sederhana tapi bervariasi, dan semua hidangannya cukup lezat.
Sup pagi ini beraroma tomat dengan sayuran yang dicincang halus dan limpahan daging bacon. Memang ada restoran di pusat desa yang menyajikan hidangan yang lebih mewah, tetapi aku lebih menyukai meja makan sederhana di rumah ini.
Setelah dengan cepat menghabiskan roti asin yang renyah dan sup minestrone itu, aku menangkupkan kedua tanganku.
"Terima kasih atas hidangannya."
Tiba-tiba, terdengar suara anak-anak dari hadapanku.
"Kirito, hari ini kita mau melawan apa!?"
"Apa kau mau mengalahkan Nepent lagi!?"
Dilihat sekilas, sang kakak berusia sekitar enam tahun dan adiknya sekitar empat tahun. Keduanya bercita-cita menjadi pendekar pedang saat dewasa nanti, jadi mereka selalu membrondongku dengan pertanyaan setiap kali kami bertemu.
Sayangnya, aku tak punya kisah petualangan untuk diceritakan pada anak-anak ini.
"Hari ini, aku akan pergi ke gua utara lagi."
Saat aku menjawab, wajah keduanya langsung cemberut.
"Eeeh, ayo ke hutan barat saja!"
"Benar, kata Sugo masih banyak Nepent yang berkeliaran di sana!"
"Hmm..."
Karena mereka NPC, aku sebenarnya bisa saja menanggapi mereka sesukaku, atau bahkan mengabaikan mereka, tetapi aku justru kehabisan kata-kata.
Desa Horunka dikelilingi oleh hutan lebat, dengan padang penggembalaan di sisi timur, ladang pertanian di sisi selatan, dan kebun buah di sisi utara, tetapi tak ada apa-apa di sisi barat. Rupanya, Little Nepent yang menghuni hutan barat terkadang berkeliaran mendekati desa dan menyerang warga serta ternak, tapi sayangnya, mustahil bagiku untuk membasmi gerombolan Nepent itu seorang diri.
Saat aku sedang menimbang cara menjawabnya, sang kakak bicara lagi.
"Lagipula, gua di utara itu berbahaya! Ada beruang pemakan manusia yang sangat, sangat besar tinggal di bagian dalamnya!"
"Hah..."
Aku tercengang sejenak. Dalam beta test, beruang tidak muncul di dungeon gua sebelah utara Horunka, dan nyatanya aku juga tidak bertemu satu pun kemarin. Terlebih lagi, bocah itu bicaranya seolah makhluk itu adalah bos, bukan sekadar monster lemah biasa.
Aku melirik ke arah ujung meja, dan pria tua itu mendongak dari mangkuk supnya lalu mengangguk.
"Memang benar. Semasa aku kecil, para pedagang biasa datang ke Horunka dari kota Tolbana di sisi utara gunung melalui lorong itu, tetapi entah sejak kapan, seekor beruang raksasa mulai bersarang di bagian dalam gua. Banyak pendekar pedang dan pemburu andal yang mendengar rumor itu mencoba menaklukkannya, tapi tak seorang pun kembali. Aku hanya menyarankan sebaiknya kau juga jangan memasuki gua itu."
"…"
Kalau begitu seharusnya kau memberitahuku lebih awal! Aku sudah pergi ke sana kemarin, jadi wajar saja aku membatin begitu, tetapi ini salahku karena tidak menyinggung soal gua itu. Tanpa pemicu itu, sangat mungkin percakapan ini takkan pernah muncul kecuali kami makan bersama beberapa kali lagi.
"Hmm, tapi aku harus pergi ke Tolbana. Adakah yang tahu sesuatu tentang beruang di dalam gua itu?"
Saat aku bertanya, berusaha menyampaikan pertanyaanku seakurat dan sejelas mungkin, pria tua itu melipat lengan tebalnya.
"Benar juga... Apa kau tahu sesuatu?"
Saat pertanyaan itu dialihkan padanya, wanita itu berhenti mengoleskan selai pada rotinya dan memiringkan kepalanya.
"Yah... Kami dibesarkan untuk tidak pernah mendekati gua itu... Ah, benar juga. Aku ingat kakek Amos pernah memandu pasukan penakluk dari Kota Awal menuju gua tersebut."
"Di mana aku bisa menemui Amos?"
"Dia mengelola kebun apel di sebelah utara desa. Jika kau ingin mendengar ceritanya, sebaiknya kau bergegas, usianya sudah lanjut dan bisa 'dijemput' kapan saja, ha ha!"
"Kau benar, gah ha ha."
Setelah mengakhiri percakapan dengan pasangan yang tertawa riang itu—yang aktingnya begitu meyakinkan hingga sulit membedakan mana NPC dan mana manusia—aku pun bangkit berdiri.
"Terima kasih, makanannya lezat sekali."
"Sudah selesai? Kau akan cepat lapar kalau makanmu kurang. Tunggu sebentar."
Segera setelah berbicara, sang nyonya rumah membelah roti dengan pisaunya, mengoleskan selai dan mentega dalam jumlah banyak di bagian dalamnya, lalu menyerahkannya padaku.
"Maaf merepotkan, terima kasih."
Aku mengucapkan terima kasih dan menerimanya dengan penuh rasa syukur.
"Kirito, jangan pergi ke gua!"
"Pastikan kau pulang dengan selamat!"
Aku tersenyum pada kakak beradik yang mengingatkanku dengan cemas itu, lalu melangkah keluar rumah.

Tampaknya cuaca di Aincrad hanya tersinkronisasi dengan musim di dunia nyata tergantung pada lantainya. Selama beta test di bulan Agustus, aku tidak merasakan panas musim panas sampai mencapai Lantai Ketujuh yang jauh lebih tinggi, jadi Lantai Satu seharusnya bukan lantai yang tersinkronisasi, tetapi angin yang berhembus melintasi jalan setapak tanah itu terasa dingin menusuk.
Aku bertanya-tanya apakah sebaiknya aku membeli jubah atau semacamnya untuk menghangatkan diri, tapi kalau aku punya uang sebanyak itu, lebih baik aku memperbarui armor-ku dulu... Sambil memikirkan hal ini, aku bergerak dari penginapanku di tenggara desa menuju kebun buah di utara.
Di tengah jalan, aku melintasi alun-alun pusat, tapi tak terlihat batang hidung pemain lain. Mereka pasti sudah menyelesaikan sarapan dan belanja, lalu pergi ke medan perburuan.
Kalau dipikir-pikir, tidak mengejutkan jika seseorang atau sekelompok orang yang tinggal di Horunka mencoba menyeberangi gua dan menuju Tolbana. Apa mereka tahu ada beruang raksasa di gua itu? Bahkan jika mereka tidak tahu, mereka mungkin tidak akan menyerbu masuk tanpa rencana jika mereka bisa menemukan monster itu sebelum ia menargetkan mereka, tapi sangat mungkin penempatan musuhnya begitu kejam hingga mereka langsung menabraknya begitu berbelok di tikungan.
Seharusnya aku menunda mengumpulkan informasi di kebun apel dan langsung pergi ke gua untuk memperingatkan pemain mana pun yang mungkin menuju ke sana. Namun, aku sudah bicara dengan banyak NPC selama seminggu terakhir, dan satu-satunya yang menyinggung soal beruang adalah keluarga tempatku menginap. Jika beruang pemakan manusia benar-benar tinggal di sana, pastinya lebih banyak penduduk desa yang membicarakannya.
"Hmm…"
Aku berhenti di pertigaan jalan—satu arah menuju keluar desa dan yang lainnya menuju kebun apel—bertanya-tanya jalan mana yang harus kupilih.
“Hei, Kii-boy.”
Suara itu tiba-tiba menghantamku dari belakang, dan aku terlonjak kaget beberapa sentimeter.
“Waah… Apa, ternyata kau…”
Aku berbalik dan melihat pemain bertubuh mungil mengenakan jubah bertudung warna pasir. Wajahnya, dengan tiga kumis kucing terlukis di pipinya, terlihat seperti anak laki-laki, tapi dia bersikeras kalau dia tipe ‘kakak perempuan’.
Dengan tatapan mencurigakan di wajahnya, pemain itu—yang mengaku sebagai penjual informasi, Argo—berkata. “Gak usah kaget gitU. Kita masih dalam jangkauaN.”
“Siapa pun pasti takut kalau tiba-tiba ditepuk dari belakang. Lagipula, kau tidak kelihatan beberapa hari terakhir ini.”
Argo sadar dia bereaksi agak berlebihan, tapi dia berpura-pura tenang saat menjawab, seraya menunjuk dengan jempol kanan ke arah belakangnya, menuju tenggara.
“Aku barusan balik ke Kota AwaL. Gak ada juru tulis di HorunkA.”
“Juru tulis? Jadi... maksudmu, mereka benar-benar membuat buku panduan itu?”
“Tentu sajA.”
Dia menyeringai lalu memberi isyarat dengan dagunya.
“Temani aku sebentar, aku lapaR.”
“Umm…”
Alasanku ragu bukanlah karena aku sudah selesai sarapan, melainkan karena aku khawatir soal bos beruang di dalam gua. Jarak dari desa ke mulut gua kurang dari 30 menit, dan gua itu sendiri tidak terlalu besar. Jika ada party yang meninggalkan desa pagi-pagi buta, mereka mungkin sudah melangkah sampai separuh jalan menembus gua sekarang.
Setelah menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan, akhirnya aku teringat bahwa pemain di hadapanku ini menyebut dirinya seorang informan.
"Itu dia... Argo, apakah kau memantau pergerakan para pemain yang bermarkas di desa ini?"
"Mm? Apaan inI, Kirito si serigala penyendiri mulai merasa cemas pada orang laiN?"
"Bukan, bukan begitu..."
Kepada Argo yang sedang menyeringai, aku menjelaskan secara singkat kisah tentang beruang yang kudengar dari keluarga NPC itu. Biasanya itu adalah informasi yang bisa dijual dengan harga lumayan, tapi aku tak bisa bicara soal untung-rugi pada titik ini.
Senyum Argo pun lenyap dengan cepat, dan ia mengerang seraya menggosok cat wajah di pipi kanannya dengan ujung jari.
"Hmm, kupikir aku sudah bicara dengan semua NPC di desa, tapi sepertinya aku melewatkan informasi itU... Kurasa itu adalah percakapan yang hanya muncul jika kau tinggal di sana selama beberapa hari, persis seperti tebakan Kii-boU."
"Tidak ada beruang di gua sebelah utara Horunka selama beta, kan?"
"Sama sekali tidak adA. Ya ampuuun, aku harus menulis ulang guidebook-nyA..."
Setelah menghela napas, Argo melirik waktu.
"Jam delapaN. Aku tidak memantau pergerakan setiap orang yang menggunakan tempat ini sebagai markas, tapI... Sepertinya party Bron bilang mereka akan mencoba menyeberangi gua hari inI..."
"Bron... siapa?"
"Kau pernah bertemu dengannya sebelumnyA, dia pengguna flail yang rambutnya kribO."
Segera setelah ia mengatakannya dengan wajah kaget, bayangan orang yang dimaksud muncul di benakku. Bukan hanya gaya rambut sarang burungnya yang mencolok, tapi senjata flail itu juga tergolong langka di SAO, jadi bahkan aku, yang payah dalam mengingat wajah orang, mampu mengingatnya dalam sekali lihat.
"Oh, orang itu... Aku yakin itu party beranggotakan empat orang, kan? Kurasa akan aman-aman saja dengan empat orang..."
"Hmm, aku tidak yakiN..."
Tapi Argo menggaruk pipinya lagi dengan ekspresi sulit di wajahnya.
"Aku belum memastikannya, tapi kemungkinan besar Bron itu mantan beta tester jugA."
"Kalau begitu, justru akan lebih aman..."
Tepat saat mengucapkannya, aku teringat kata-kata yang saling kami tukar dengan Argo pada hari pertama kami bertemu.
Pencipta SAO dan dalang di balik insiden ini, Kayaba Akihiko, akan mencoba menyingkirkan para mantan beta tester secara halus. Cara melakukannya adalah dengan mengubah penempatan monster dan pola perilaku secara bertahap dari beta test. Dengan begitu, para mantan beta tester akan lengah karena prasangka yang bersumber dari pengetahuan mereka yang terbatas.
"...Belum tentu begitu kasusnya. Faktanya, saat aku mengerjakan quest 'Anak Sapi yang Tersesat'... maksudku, 'Pembalasan Dendam Sapi' bersamamu, aku benar-benar panik menghadapi Swamp Kobold, yang seharusnya tidak muncul di beta. Jika Bron dan yang lainnya melewati tempat yang mereka nilai aman berdasarkan pengetahuan di beta, dan bos baru ditempatkan di sana..."
Saat aku mengatakan itu, Argo mengangguk dan membuka sebuah jendela menu.
"Aku akan kirim pesan ke Bron sajA. Sebagai penjual informasi, aku memang ingin cari uang, tapi ini bukan waktunya untuk itU... 'Ada informasi bahwa bos baru ditempatkan di gua utara Horunka, putar balik untuk sementarA'..."
Dia mengetik di keyboard holo begitu cepat hingga ujung jarinya tampak kabur, lalu menekan tombol kirim. —Namun.
"Sial, gak terkirim niH. Dia sudah ada di dalam dungeoN..."
"Seriusan..."
Keduanya mengernyitkan dahi di saat bersamaan.
Fitur pesan instan SAO adalah fitur praktis yang memungkinkanmu mengirim pesan meski belum mendaftarkan seseorang sebagai teman, asalkan kau tahu namanya, tetapi fitur ini tidak bisa digunakan jika orang tersebut atau dirimu sendiri berada di dalam dungeon. Dengan kata lain, jika aku ingin memperingatkan Bron sekarang, aku harus mengejarnya dan menghubunginya secara langsung.
"Kau mau pergi?"
"Kau mau pergI?"
Argo dan aku mengucapkan hal yang sama pada saat bersamaan dan saling pandang sejenak. Jelas bagi kami berdua bahwa kami berpikir 'tak kusangka kau berpikiran sama', tapi kami tak punya waktu untuk menyembunyikan rasa canggung kami saat ini.
"Bagaimana dengan perawatan perlengkapan?"
Argo mendengus menanggapi pertanyaanku.
"Tentu saja sudah bereS. Aku sudah siap sedia kecuali soal lapaR."
"Tahan dulu kalau gitu."
Setelah mengucapkan hal yang menggelikan itu, aku segera mencoba berlari ke jalan kiri yang mengarah ke gerbang utara desa. Namun tangan kanan Argo menjulur bagaikan sambaran petir dan mencengkeram kerah bajuku.
"Guh... Ada apa?"
"Tunggu sebentaR. Kii-bou, bukannya tadi kau bilang kalau kau bisa mendengar informasi lebih lanjut soal beruang itu di suatu tempaT?"
"Hah? Ah... kakek tua di kebun apel itu. Aku memang penasaran, tapi kita tak punya waktu untuk bersantai mendengarkan ceritanya. Bahkan jika kita bergegas sekarang, entah apakah kita bisa menyusul Bron dan yang lainnya sebelum mereka bertemu beruang itu..."
"Aku taU. Makanya kau pergi dan dengarkan cerita itu sendiriaN."
"Hah!?"
Terperangah, aku cepat-cepat menggelengkan kepala.
"Tidak, kalau begitu biar aku yang ke gua. Adalah tugasmu sebagai penjual informasi untuk mengumpulkan informasi."
"Itu benaR... biasanya itu yang akan kukatakan, tapi ada kemungkinan aku belum memicu flag event-nyA. Aku pergi ke kebun apel itu beberapa hari lalu, tapi sama sekali tidak ada pembahasan soal beruanG. Mungkin aku harus menginap di rumah Kii-bou dulu untuk mendengar apa yang dikatakan kakek tua itU."
Aku hendak mengatakan bahwa dia terlalu banyak berpikir, tetapi aku mengatupkan rahangku. Sebagai seorang gamer, harus kuakui deduksi Argo cukup meyakinkan.
Titik awalnya terasa agak terlalu sulit ditemukan untuk sebuah event percakapan tentang monster sekelas bos, tapi hal itu mungkin mencerminkan niat membunuh yang dimiliki dunia ini terhadap para mantan beta tester. Sistem ini ingin membunuh semua mantan tester dengan bos beruang yang baru ditempatkan itu, jadi informasi semacam itu takkan diberikan begitu saja dengan cuma-cuma.
Jika sistemnya memang sepelit itu, besar kemungkinan informasi yang diberikan kakek dari kebun apel itu benar-benar berharga. Hal itu bahkan bisa menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam mengalahkan bos beruang tersebut.
Setelah memikirkannya selama 0,3 detik, dengan enggan aku mengangguk.
"...Aku mengerti. Tapi jika pertarungan dengan bos beruang sudah dimulai saat kau menyusul Bron dan yang lainnya, jangan coba-coba memaksakan diri untuk membantu mereka. Aku tidak meragukan kemampuanmu, tapi build-mu itu murni scout."
"Aku taU. Kalau begitu, tolong kumpulkan informasinyA! Aku akan mengirimimu pesan sebelum aku memasuki guA!"
Argo berbalik tepat setelah itu. Lalu sebuah ide tiba-tiba terlintas di benakku, dan aku segera membuka storage-ku. Aku mengetuk entri pertama dalam menu pilihan item, dan mematerialisasikannya.
"Hei, tangkap ini!"
Saat aku mengatakan itu, Argo berbalik lagi dan dengan sigap menangkap bungkusan roti selai dan mentega yang kulemparkan.
"Trims yaH!" Dia mengangkat lukisan kumis di pipi kanannya dalam seringai lebar, berbalik lagi, dan berlari dalam sekejap dengan gerakan seekor kucing—bukan, seekor tikus.
Aku juga tak bisa bersantai. Mungkin butuh setidaknya lima menit untuk mengumpulkan informasi tentang beruang di kebun apel itu. Dalam gim konvensional, kau bisa mempercepat percakapan dengan NPC dengan menekan controller atau mouse berulang kali, tapi di VRMMO kau tak punya pilihan selain bercakap-cakap dengan kecepatan yang sama seperti di dunia nyata.
Aku mulai berlari dengan kecepatan penuh menyusuri jalan menuju perkebunan itu.

Komentar (0)

Memuat komentar...