Sword Art Online Progressive: The Seventh Day

Bagian 3

Estimasi waktu baca: 14 menit

Persis seperti yang diceritakan nyonya pemilik penginapanku, Pak Tua Amos, si petani apel, ingat betul tentang beruang pemakan manusia yang bersembunyi di gua utara.
Namun, meyakinkannya untuk menceritakan kisah itu secara rinci ternyata cukup sulit. Orang tua itu sedang mengupas apel untuk dibuat selai di beranda depan rumahnya, dan aku terpaksa harus membantunya.
Terlebih lagi, percakapan itu berlangsung layaknya sebuah mini-game; jika hasil kupasanmu dinilai buruk, kau akan dimarahi dan alur percakapan akan terhenti, jadi aku fokus menekan ketidaksabaranku dan berkonsentrasi pada pekerjaan di depan mata. Pada saat aku akhirnya selesai mengupas total lima belas apel dan mendengar seluruh ceritanya, dua belas menit telah berlalu sejak aku berpisah dengan Argo.
Tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan, aku meninggalkan rumah pak tua itu, memotong jalan melewati kebun apel, dan memasuki ladang. Dalam keadaan biasa, aku akan menempuh perjalanan dengan kecepatan standar dari sini ke gua utara—yakni, tiga puluh menit jalan kaki sembari mewaspadai sekeliling. Namun, jika aku menurunkan kewaspadaan dan memilih berlari, aku bisa memangkas waktu lebih banyak lagi.
Sekitar lima menit yang lalu, aku menerima pesan dari Argo yang berbunyi: "Sampai di gua, masuk sekarang". Dengan kata lain, dia berhasil mencapai gua dalam tujuh menit setelah kami berpisah. Sebuah pencapaian yang luar biasa, tetapi bahkan dia pun takkan bisa berlari dengan kecepatan penuh di dalam gua.
Waktu saat ini menunjukkan pukul 08:17 pagi. Jika Bron dan party-nya meninggalkan desa pada pukul tujuh, mereka pasti sudah mendekati bagian terdalam gua sekarang.
Berharap peringatan Argo sampai tepat waktu, tetapi juga berharap Bron akan memperlambat lajunya agar aku bisa menyusul, aku berlari kencang melintasi lantai hutan yang remang-remang. Sesekali monster tipe lebah atau ular mengincarku, tapi aku terus berlari tanpa henti.
Jika aku mencoba melakukan ini di padang rumput atau alam liar, aku bakal berakhir diikuti iring-iringan panjang monster di belakangku, tetapi di area hutan, aku bisa memanfaatkan pohon-pohon tinggi dan semak belukar sebagai pelindung dan penghalang, jadi relatif mudah untuk melepaskan diri dari monster yang mengejar. Ketika aku dikejar terus-menerus oleh monster tipe serigala yang memiliki penciuman tajam, aku menyebarkan ramuan bau busuk yang terbuat dari tanaman herbal dan jamur untuk menghalau mereka.
Yang perlu kuwaspadai adalah akar pohon yang tersembunyi di semak belukar dan lubang galian hewan. Jika aku tersandung dan jatuh, bukan saja aku akan kehilangan waktu, tapi aku juga bisa terjebak dikepung monster. Aku melompati setiap titik yang mencurigakan dan terus berlari.
Meskipun aku tak bisa mengalahkan catatan waktu Argo, aku berhasil menembus hutan di utara Horunka dalam waktu sekitar sembilan menit, hingga mencapai mulut gua.
Di ujung padang rumput, kurang dari dua puluh meter jauhnya, tebing curam berwarna abu-abu menjulang nyaris vertikal, menusuk langit. Ini adalah Dataran Tinggi Dalhari, yang membelah lantai pertama Aincrad menjadi wilayah utara dan selatan.
Di sebuah bar semasa beta test, aku pernah mendengar dari seorang pemabuk bahwa Dalhari adalah nama seorang bangsawan yang tinggal di Kota Awal dahulu kala, yang memiliki putra seorang pendekar pedang yang sangat kuat, tetapi sayangnya keluarga itu telah lama runtuh, dan kabarnya tak ada lagi keturunan yang tersisa. Masih menjadi misteri mengapa nama bangsawan itu melekat pada dataran tinggi tersebut, tapi sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu.
Sebuah lekukan besar di permukaan tebing menampakkan gua gelap gulita di bagian dalam. Tak terlihat satu pun pemain di sana.
Aku mengambil obor dari storage dan menyalakannya dengan tangan kiri, lalu menghunus pedang di punggungku dengan tangan kanan. Aku berlari menuju gua, mengangkat obor, dan menarik napas dalam-dalam.
Tak apa-apa. Aku tidak merasakan kecemasan dan ketakutan tak berdasar yang kurasakan kemarin. Yang harus kulakukan sekarang hanyalah terjun ke dalam gua dan menuju bagian terdalam sembari menghindari pertarungan sebisa mungkin.
"...Maju!"
Aku membisikkan perintah itu pada diriku sendiri dan menjejak tanah. Berubah di bawah kakiku, tanah yang tertutup semak berganti menjadi bebatuan yang dipenuhi kerikil lepas. Sesekali genangan air tanah merembes keluar dari celah-celah, yang berusaha kuhindari sembari berlari kecil, dan secara bertahap jumlah stalaktit dan stalagmit meningkat, membuat suasana terasa kian mirip gua alami.
Segera saja sinar matahari yang mengejarku dari belakang berhenti sepenuhnya, dan satu-satunya cahaya bersumber dari nyala api oborku. Pengguna senjata satu tangan tanpa perisai biasanya punya keuntungan tangan kiri yang bebas, yang berarti kekuatan tempur mereka tak banyak menurun bahkan dalam situasi seperti ini. Di sisi lain, Argo, yang berada jauh di depan, menggunakan senjata cakar dua tangan, jadi jika dia memegang obor di satu tangan, dia takkan bisa menggunakan lebih dari separuh sword skill-nya. Namun, dengan kelincahan dan kemampuan mengendap-endapnya, dia seharusnya bisa menghindari hampir semua pertarungan. Berharap memang begitu adanya, aku pun bergegas maju.
Dan kemudian...
"Hmm...?"
Aku mengerutkan kening dan berhenti. Sedikit di depan, di sisi kanan lorong yang bercabang dua, ada sesuatu yang memantulkan cahaya obor.
Aku mendekat dan, setelah mewaspadai sekeliling, memungut benda itu. Itu adalah bola kaca berwarna dengan diameter sekitar 1,5 cm, dengan kata lain, sebuah kelereng. Benda itu jelas buatan manusia, dan tidak terlihat seperti jenis material yang muncul secara alami di dalam gua.
Argo mungkin menjatuhkannya sebagai penanda jalan bagiku. Dalam dongeng, remah roti yang akan digunakan, tapi secara realistis benda itu akan sulit ditemukan dalam kegelapan gua, dan bakal lenyap dalam sekejap mata jika durabilitasnya habis total. Sebaliknya, bola kaca bisa bertahan untuk waktu yang cukup lama meskipun dibiarkan begitu saja.
Aku tahu tata letak gua ini, tapi ada banyak lorong yang saling terjalin, jadi rute menuju jalan keluar tidak semudah garis lurus. Bahkan jika Argo menemui masalah di tengah jalan, aku bisa bertemu dengannya dengan mengikuti penanda ini.
Aku menjatuhkan kembali bola kaca itu di tempat asalnya dan mulai berlari lagi. Alasan aku belum menemui monster bukanlah karena Argo telah mengalahkan mereka semua—melainkan karena dia menggunakan kelincahannya untuk berlari melewati mereka, yang mengakibatkan semua musuh di rutenya tertarik semakin ke dalam. Dengan kata lain, ada kemungkinan besar sekelompok monster telah terbentuk sedikit di depan sana.
Aku bergegas, dengan sensor visual, pendengaran, dan penciumanku aktif sepenuhnya. Aku hanya bertegur sapa sekadarnya dengan Bron si pengguna flail dan teman-temannya sebanyak empat atau lima kali selama beberapa hari terakhir, tetapi sebagai sesama mantan beta tester, aku tak tega melihat mereka mati gara-gara jebakan yang dipasang di dunia ini.
Aku berdoa semoga mereka tetap hidup... saat aku melewati percabangan jalan kedua, mengikuti penanda kelereng tersebut.
Aku mendengar suara berderit samar dari arah depan, dan memperlambat laju, berusaha menyenyapkan langkah kakiku.
Aku ingat suara itu. Aku tidak menemuinya kemarin, tapi itu adalah Large Whip Spider, spesies endemik di gua-gua utara Horunka. Meskipun ada kata laba-laba dalam namanya, itu bukanlah laba-laba. Itu adalah monster tipe serangga yang mengerikan, dengan lengan berduri yang sangat panjang tumbuh dari tubuh gepengnya yang berukuran sekitar 40 sentimeter.
Selama periode beta test, aku meriset tentang laba-laba cambuk ini, dan sepertinya hewan ini memang ada di dunia nyata, dan nama Jepangnya adalah 'Udemushi'. Spesies terbesarnya hanya sekitar 5-6 cm, tapi penampilannya yang absurd membuatnya menjadi satu dari tiga serangga paling aneh di dunia.
Karena ini adalah versi raksasa dari spesies tersebut, jika kau bisa membayangkan rasa jijik fisiologis yang dirasakan para pemain, Large Whip Spider jelas akan menjadi kandidat kelas atas di antara monster yang muncul di lantai satu. Saat pertama kali melawannya, aku merinding hebat di sekujur tubuh avatarku.
Namun, setelah mengalahkan sepuluh ekor, aku mulai terbiasa, dan ada cukup banyak monster yang jauh lebih menjijikkan di lantai-lantai atas. Walaupun ada jeda lebih dari dua bulan antara akhir beta test ;dan dimulainya layanan resmi, pada titik ini aku takkan ketakutan lagi hanya karena melihat penampilannya semata.
Berdasarkan intensitas suara berderit yang khas itu, ada tiga atau empat whip spider yang berkumpul di hadapanku. Jika aku menyerang bertubi-tubi dengan sword skill yang telah kupelajari saat ini, seharusnya aku bisa menghabisi mereka tanpa banyak kesulitan.
"—Ayo."
Seraya memikirkan hal itu di kepalaku, aku melangkahkan kaki kiriku ke depan.
Namun, segera setelahnya, kekuatan seolah meninggalkan kakiku.
"Hah...!?"
Aku menekan tangan kiri yang memegang obor ke dinding gua, nyaris tak mampu mempertahankan posisi berdiri. Nyala api yang menghantam permukaan batu basah itu berkelip seolah sedang bernapas.
Aku mengalihkan pandangan ke kiri atas dan memeriksa HP bar-ku, tapi statusku tidak terhalang oleh apa pun.
Namun, bukan hanya kaki kiriku yang kehilangan rasa, kini kaki kananku pun ikut mati rasa. Seakan-akan koneksi antara avatar dan otakku hendak terputus.
Mungkinkah ini malfungsi NerveGear? Atau masalah jaringan?
Bukan...
Beberapa detik yang lalu, aku sengaja memerintahkan diriku sendiri untuk bergerak maju demi menerjang ke area tempat para Whip Spider berkumpul. Biasanya aku tak perlu melakukan hal semacam itu. Jangkauan lengan berduri mereka, yang lebih dari dua kali panjang tubuhnya, memang tak boleh diremehkan, tapi selama aku bisa menahan rasa jijik melihat wujudnya, Whip Spider seharusnya bukan ancaman berarti bagiku saat ini. Annealed Blade +3 cukup tangguh untuk efektif tidak hanya melawan bos lantai satu, tapi bahkan di lantai berikutnya, dan aku punya margin level yang lebih dari cukup. Dalam situasi di mana aku harus menyusul Argo secepat mungkin, seharusnya aku terjang saja tanpa henti.
Penyebab ketidaknormalan itu ada di dalam diriku.
Saat aku menyadari hal ini, jantungku serasa berhenti berdetak.
Persis seperti kemarin, detak jantungku mulai meningkat pesat. Pelipisku berdenyut seolah sedang diremas, dan napasku menjadi dangkal. Hawa dingin sedingin es perlahan menyebar dari sekitar ulu hatiku.
Ini adalah rasa takut. Hanya itu yang bisa kupikirkan, tapi apa sebenarnya yang kutakutkan?
Bukan karena Whip Spider. Bukan karena monster kecil lainnya. Bukan karena kegelapan dungeon. Bukan pula karena bos beruang yang belum kulihat.
Jika aku adalah tipe orang yang bakal ditelan oleh rasa takut yang bahkan tak kupahami hingga tak bisa bergerak, mungkin aku takkan meninggalkan Kota Awal sejak awal. Tapi aku kemungkinan besar adalah orang pertama yang bergegas keluar ke field, dan aku tidak membeku ketakutan saat dikepung oleh Little Nepent yang tak terhitung jumlahnya akibat ulah Coper, atau saat menghadapi Swamp Kobold Trapper yang tangguh dalam quest ;'Pembalasan Dendam Sapi'.
Mungkinkah kepribadian seseorang berubah hanya dalam beberapa hari? Lain ceritanya jika ada pemicu tertentu—misalnya jika HP-ku turun menjadi 1 dan aku mengalami ketakutan akan kematian yang memuncak, tapi aku tak punya ingatan semacam itu. Bahkan saat Coper menjebakku, HP-ku hanya sedikit di bawah 40%.
Tak peduli seberapa keras aku memikirkannya, aku tak bisa menemukan alasan mengapa aku harus begitu ketakutan.
Namun jantungku berdegup kencang, napasku pendek, dan anggota tubuhku gemetar tanpa ada tanda-tanda akan mereda.
Jika ini terus berlanjut, aku takut aku akan pingsan dan ambruk. Saat aku berpikir begitu, rasa takutku justru makin menjadi-jadi. Aku menekan punggungku ke dinding dan mencoba mati-matian untuk melawan, tetapi hawa membeku yang merembes dari dalam perutku menjalar melalui pembuluh darah, melumpuhkan seluruh tubuhku.
English Text: Is there no option but to turn around and run as fast as I can, like yesterday, and jump out of the cave? But that would mean betraying Argo, who had left a marker for me, believing that I would catch up. If she and Bron and the others died because I ran away without even seeing the enemy, then I doubt I would be able to fight again and attempt to clear this game. Terjemahan Bahasa Indonesia:
Apakah tak ada pilihan lain selain berbalik dan lari secepat mungkin, seperti kemarin, lalu melompat keluar gua?
Tapi itu berarti mengkhianati Argo, yang telah meninggalkan penanda untukku karena percaya bahwa aku akan menyusul. Jika dia serta Bron dan yang lainnya tewas karena aku lari tanpa sempat melihat musuh, aku ragu bakal sanggup bertarung lagi dan mencoba menamatkan gim ;ini.
"Ghh... uh..."
Menggeretakkan gerahamku hingga batasnya, aku mencoba menghancurkan rasa takut yang menumpuk jauh di dalam tubuhku.
Akan tetapi, semakin aku berkonsentrasi, semakin cepat jantungku berpacu, dan anggota tubuhku pun mati rasa. Seolah-olah usahaku untuk mengatasi rasa takut itu justru menjadi bahan bakarnya.
Terdengar bunyi gedebuk tumpul, dan pandanganku menjadi gelap. Obor itu terlepas dari tangan kiriku yang sudah hampir kehilangan seluruh rasa. Jika tidak segera kupungut, apinya akan padam dalam waktu kurang dari sepuluh detik, tapi satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah bersandar di dinding.
English Text: Putting all my remaining strength into my right hand, I gripped the hilt of the Annealed Blade tightly. I could faintly feel the grip of the leather handle on my numb palm. No matter how much I thought about it later, I could not understand why I had done what I did at that time. Terjemahan Bahasa Indonesia:
Mengerahkan seluruh sisa kekuatanku ke tangan kanan, aku mencengkeram gagang Annealed Blade erat-erat. Samar-samar aku bisa merasakan tekstur pegangan kulit itu di telapak tanganku yang mati rasa.
Tak peduli seberapa banyak aku memikirkannya kelak, aku tak bisa mengerti mengapa aku melakukan apa yang kulakukan saat itu.
Dengan tangan kiri yang gemetar, aku mencengkeram bilah Annealed Blade dan mengubah pegangan tangan kananku ke arah sebaliknya.
Aku menempatkan ujung tajam pedang tepat di bawah ulu hatiku—titik di mana hawa dingin membeku itu meluap tanpa henti.
“Uh… Ah… Aaaaahhhh!”
Semua udara yang tersisa di paru-paruku berubah menjadi teriakan serak.
Aku menghujamkan pedang kesayanganku, yang telah kugunakan untuk menebas monster tak terhitung jumlahnya, jauh ke dalam tubuhku sendiri.
Biasanya di SAO, bahkan jika kau menerima damage yang menghabiskan 90% HP dalam satu serangan, hanya ada guncangan benturan dan tidak ada rasa sakit. Tapi di momen itu, aku benar-benar merasakan nyeri yang membakar.
Di kiri atas bidang pandangku, HP bar berkurang dengan kecepatan yang mengerikan. Tapi pada saat yang sama, sensasi panas membara menghempaskan ketakutan dinginku.
Itu adalah rasa sakit yang sangat nyata saat logam keras dan tajam menembus inti avatarku. Aku merasakan kekuatan serangan pedang kesayanganku, Annealed Blade +3, bukan sebagai angka, melainkan sebagai sensasi fisik.
Inilah realitas. Kerasnya pedang yang menembus perutku, kasarnya dinding batu di belakangku, bau hangus dari obor—semuanya nyata. Bahkan jika ini hanya sensasi virtual yang dikirim ke otakku oleh NerveGear, itu adalah realitasku.
Saat aku menyadari hal ini lebih jelas dari sebelumnya, mati rasa di anggota tubuhku dan sesak napasku menghilang bak disihir.
Pada saat yang sama, samar-samar aku menyadari sumber ketakutan yang merundungku.
Sejak terjebak di dunia ini, aku belum bisa sepenuhnya mencerna realitas pernyataan Kayaba Akihiko—bahwa jika HP-mu mencapai nol, otakmu akan dibakar oleh NerveGear dan kau benar-benar akan mati—aturan yang kejam dan absurd. Meski kupikir tidak mengejutkan kalau Kayaba melakukan hal seperti itu, selalu ada perasaan di belakang pikiranku bahwa itu semua hanyalah lelucon buruk, bahwa saat aku mati, aku hanya akan terbangun di kamarku sendiri di dunia nyata.
Aku entah bagaimana berhasil bertahan selama tujuh hari, hanya didorong oleh hasratku untuk menjadi lebih kuat, tapi selama itu aku terus bertanya-tanya apakah yang kulihat itu kenyataan atau fiksi. Kemarin, saat aku memasuki dungeon gelap untuk pertama kalinya dan kehilangan penglihatan, keraguan itu meledak dari lubuk perutku dan berubah menjadi ketakutan, menyerangku... mungkin itulah penyebabnya.
Aku bukan psikolog, jadi aku tak bisa menilai apakah spekulasiku benar atau tidak.
Namun, ada satu hal yang aku yakini.
Inilah kenyataan. Aturan death game di mana kematian bersifat mutlak, monster yang mencoba membunuhku, serta kekerasan dan ketajaman baja yang menembus tubuhku—semuanya nyata dan benar.
Setelah mengukir kesadaran ini dalam-dalam di benakku, aku menarik Annealed Blade dari perutku dan menarik napas panjang ke paru-paruku yang kini kosong.
Rasa sakit itu telah menghilang, tapi efek damage berwarna merah tua masih tumpah dari luka itu layaknya darah. Segera setelah itu berhenti, HP bar ;juga berhenti berkurang. Sedikit lebih dari lima puluh persen tersisa.
Pedang itu hanya menancap di perutku selama tiga atau empat detik. Mengambil setengah HP-ku dengan itu memang benar-benar pukulan yang cukup kuat.
Aku menggenggam pedang di tangan kananku lagi dan mengelus bilahnya dengan tangan kiri.
Tapi aku tak punya waktu untuk berterima kasih pada pedang kesayanganku atas pengobatan ekstremnya yang telah menghancurkan sumber ketakutanku. Suara berderit mendekat dari kegelapan di depan. Teriakan tadi telah memancing kawanan Large Whip Spider.
Aku memungut obor yang hampir padam dengan tangan kiri dan menyiapkan Annealed Blade di pinggul kiri. Bilahnya memancarkan cahaya samar dan mengeluarkan pekikan frekuensi tinggi yang lirih.
Saat artropoda raksasa yang menyeramkan muncul dalam cahaya oranye, aku menjejak tanah. Seberkas cahaya biru muda membelah kegelapan dalam garis lurus, membelah tubuh pipih Whip Spider itu hingga terpisah atas dan bawah. Sword Skill: Horizontal.
Di tengah partikel yang berhamburan, aku membidik musuh kedua.

Komentar (0)

Memuat komentar...