Sword Art Online Progressive: The Seventh Day
Bagian 4
Estimasi waktu baca: 11 menitSetelah menggunakan ramuan untuk memulihkan luka yang kutorehkan sendiri, aku berlari kembali menuju bagian terdalam dungeon.Setelah itu, aku berpapasan dengan monster tiga kali lagi, tetapi aku membereskan mereka semua dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Termasuk waktu saat aku tak bisa bergerak karena kepanikan yang tiba-tiba, total keterlambatannya mungkin paling banyak tiga menit.Namun sayangnya, tampaknya situasi telah berubah drastis selama tiga menit tersebut.Segera setelah aku mendekati ruangan besar di bagian terdalam dungeon gua, raungan menggelegar mengguncang tanah. Itu jelas bukan raungan monster lemah."Sialan..."Mengumpat pada diri sendiri, aku berlari menempuh dua puluh meter terakhir secepat mungkin dan melompat masuk ke ruangan besar itu. Percikan api berhamburan dari paku di sol sepatuku saat aku mengerem langkah dan berteriak."Argo! Apa kau masih hidup?"Akan tetapi, seruanku itu kembali ditimpali oleh raungan keras.Di siang hari, sedikit cahaya alami merembes masuk ke gua ini dari jalan keluar di bagian belakang, memungkinkanku melihat seluruh ruangan tanpa perlu obor. Ruangan itu seukuran gimnasium kecil, dengan kedalaman 35 meter dan lebar 20 meter, di mana stalagmit raksasa menjulang dari tanah di berbagai tempat dan stalaktit tak terhitung jumlahnya menggantung dari langit-langit. Tak ada tanda-tanda monster kecil, tapi di sebelah kanan belakang, aku bisa melihat siluet hitam yang mirip bukit kecil.Itu pasti bos beruangnya. Saat memfokuskan pandangan, kursor berwarna muncul tepat di atas bayangan itu.Kursornya berwarna merah kirmizi yang menyala. Nama resminya adalah Antrotherium. Kupikir cara bacanya An-tro-the-rium, tapi aku tak tahu apa artinya. HP bar-nya hanya satu lapis, tapi isinya masih hampir penuh.Dengan kaki depannya menapak tanah, tinggi kepalanya mencapai lebih dari dua meter. Bisa kukatakan dengan yakin bahwa aku belum pernah melawan beruang sebesar itu di lantai satu selama beta test. Aku belum pernah melihat nama itu sebelumnya, dan tak diragukan lagi itu adalah monster baru yang ditambahkan pada layanan resmi.Beruang itu menunduk dengan mata merahnya yang bersinar ke arah tiga pemain yang berdiri dalam formasi. Menilai dari postur mereka, itu adalah Bron dan teman-temannya. HP mereka juga masih tersisa di atas 90%, tapi bukannya mereka kelompok berempat?Selain itu, Argo, yang pergi lebih dulu untuk memperingatkan Bron dkk, tak terlihat batang hidungnya.Mengambil risiko menarik perhatian beruang, aku menarik napas dalam untuk memanggil mereka sekali lagi."Kerja bagus, Kii-boU."Aku mendengar bisikan dari kiriku, dan dengan cepat menoleh ke arah itu.Di balik bayangan stalagmit, sosok kecil telah berdiri di sana tanpa kusadari. Aku mengangkat obor, menerangi jubah bertudung warna pasir yang familier serta pipi yang dicat di baliknya."...Kau baik-baik saja?"Aku menghela napas lega dan mencoba minta maaf karena terlambat, tapi Argo menghentikanku dengan tangan kirinya dan cepat-cepat menjelaskan situasi."Sayangnya, saat aku sampai di sini, mereka sudah ditarget oleh bos beruanG. Aku tak punya pilihan selain mengalihkan perhatian beruang dan memberikan waktu bagi mereka untuk kabur ke pintu masuk, tapi lalu ada masalaH.""Masalah?""Ada banyak sekali stalaktit yang tumbuh di langit-langit sini, kaN? Saat beruang itu mengamuk, batuan itu berjatuhan di sekitarnya, dan kalau mengenai anggota tubuhmu secara langsung, kau bakal kehilangan bagian tubuhmU.""Seriusan..."Aku mengerutkan kening sembari menatap tajam langit-langit gua.Sekarang setelah kau mengatakannya, ujung dari stalaktit tak terhitung yang menggantung itu semuanya setajam tombak, jadi kalau kau kena telak, kau takkan selamat begitu saja. Atau lebih tepatnya, mungkin hal itu sudah—"Salah satu dari mereka kena, kan?""BenaR."Mengangguk, Argo dengan cepat menunjuk ke sudut kanan gua, di sisi lain bos beruang."Di sekitar situ, orang bernama Korpis dari kelompok Bron ambruk dengan kedua kaki putuS. Kami mencoba mengambilnya, tapi Korpis itu si besar yang pakai full scale armor, dan butuh dua orang untuk menggotongnya, tapi kalau kami coba, beruang itu bakal menghempaskannyA. Jadi Bron bakal terus menarget si beruang sampai kaki Korpis pulih dan dia bisa bergerak lagI."“……”Aku sangat bisa memahami perasaan Bron.Namun, hilangnya satu atau lebih anggota tubuh adalah salah satu efek penghambat yang paling merepotkan di SAO. Efeknya berlangsung selama 180 detik penuh, bahkan untuk amputasi fisik sederhana. Jika kau sedang bermalas-malasan di tempat tidur, waktu segitu berlalu dalam sekejap mata, tetapi di tengah pertempuran, rasanya begitu lama bagaikan keabadian.Jika hanya lengan non-dominan yang hilang, masih mungkin untuk terus bertarung atau melarikan diri, tetapi jika kau kehilangan lengan dominan atau kaki, kau praktis menjadi tak berdaya di dunia tanpa sihir ini. Selama periode beta, bukan hal aneh jika satu party musnah seluruhnya saat mencoba menggendong atau melindungi rekan yang menderita kehilangan anggota tubuh yang parah.Jika terus begini, party Bron mungkin akan mengalami nasib yang sama. Kemampuan Bos Beruang, Antrotherium, belum terungkap sepenuhnya, jadi jika dinilai dengan tenang—atau lebih tepatnya, dengan dingin—ini adalah saatnya mereka harus mengorbankan satu orang demi menjaga tiga lainnya tetap hidup. Seandainya ini masih beta test, atau judul gim lainnya, mungkin mati bersama dianggap sebagai tanda keberanian, tetapi di dunia yang telah menjadi death game ini, sekali kau mati, kau takkan pernah bisa hidup kembali.Tidak...Mungkin justru itulah alasannya. Jika kau mati, kau benar-benar mati, makanya Bron tidak ingin meninggalkan Korpis. Tapi jika terus begini... Saat aku mengambil waktu dua detik untuk memikirkannya, sebuah jeritan bergema di seluruh gua."Dia datang! Berlindung di belakangku!"Aku menyipitkan mata dan melihat dua orang lainnya merapat erat ke punggung Bron, yang sedang memegang perisai kayu besar.Antrotherium di hadapannya mengangkat kepala tinggi-tinggi dan sibuk menggaruk tanah dengan kaki depan kanannya. Sekilas saja, secara intuitif aku bisa tahu bahwa itu adalah ancang-ancang untuk menyeruduk.Tubuh besar beruang itu panjangnya lebih dari empat meter, dan aku tak bisa membayangkan berapa kali lipat lebih berat tubuhnya dibandingkan gabungan mereka bertiga. Sekuat apa pun perisainya, mustahil untuk memblokir serangan itu."Ahh...!"Saat aku mengertakkan gigi dan mencoba melompat keluar, Argo menarik lengan kiriku seraya berkata: "Tunggu!"Segera setelahnya, Antrotherium itu meraung bagaikan ledakan."Vooooooh!!"Binatang raksasa itu mulai menyeruduk, menimbulkan gemuruh yang menggetarkan bumi.Pada titik ini, akhirnya aku menyadari ada sebuah stalagmit besar yang menjulang di antara jalur yang menghubungkan beruang itu dengan Bron beserta orang-orang di belakangnya. Beberapa detik kemudian, beruang itu menghantam stalagmit dengan kepalanya, menghancurkannya dengan dentuman yang menggelegar.Beruang itu terhuyung dan jatuh terduduk.Serudukannya berhenti, tetapi kini bongkahan batu yang tak terhitung jumlahnya menyerang mereka bertiga.Sebagian besar batu tertahan oleh perisai kayu Bron, tapi beberapa menghantam anggota tubuhnya yang terbuka, menguras sekitar lima persen dari HP bar-nya. Reaksi berantainya belum berakhir."Stalaktitnya jatuH!"Argo berteriak keras, dan Bron serta yang lainnya dengan cepat mendongak ke langit-langit lalu melompat mundur ke kiri. Segera setelahnya, stalaktit tajam menyerupai tombak lepas dari langit-langit dan jatuh, menembus titik di mana ketiganya berada sedetik sebelumnya.Saat aku melihat stalaktit itu hancur, aku bergumam, "Aku mengerti..." Serudukan beruang itu dihentikan oleh stalagmit yang tumbuh di seluruh gua. Namun, pecahan batu beterbangan dan stalaktit jatuh dari langit-langit. Meskipun Bron dan kawan-kawannya punya rencana menggunakan stalagmit sebagai perisai, mereka tidak mengantisipasi jatuhnya stalaktit, dan main tank mereka, Korpis, kehilangan kedua kakinya."Argo, berapa detik lagi sampai kaki Korpis tumbuh kembali?"Aku berbalik bertanya, dan Argo melirik ke kanan bawah bidang pandangnya sebelum menjawab singkat."Seratus dua puluh detiK.""Masih lumayan lama... Bisakah mereka bertahan sendiri?""Mungkin, kalau polanya terus berulang seperti inI. Masalahnya, banyak stalaktit bisa jatuh bersamaan, dan jumlah stalagmit di sini terbataS, taU.""...Benar juga."Melihat sekeliling gua lagi, ada kurang dari sepuluh stalagmit yang cukup besar untuk menahan serudukan Antrotherium. Tidak jelas apakah Korpis akan bertahan cukup lama hingga bisa bergerak.Aku mengangkat tangan kiriku dan mengusap perut bawahku perlahan. Masih tersisa panas samar dari rasa sakit yang intens di tempat aku menikam diriku sendiri dengan Annealed Blade tadi. Selama aku mengingat rasa sakit itu, aku seharusnya takkan terkena serangan panik lagi."Ayo kita bantu?"Saat aku bergumam demikian, Argo mengangkat alis di balik tudungnya."Menurutmu kita punya peluanG?""Selama informasi yang kudapat dari kakek di kebun apel itu benar.""Aku yang menyuruhmu pergi dan mendengarkan ucapannya, jadi aku tak punya pilihan selain percaya padanyA."Sambil menyeringai, Argo memasang cakar besi yang tergantung di pinggulnya ke kedua tangannya dengan suara klang. Aku juga mengembalikan obor yang tadi kupegang di tangan kiri ke dalam storage.Jauh di dalam rongga gua, Antrotherium kembali menggaruk tanah dengan kaki depannya. Biasanya, momen saat beruang itu terhuyung setelah menanduk stalagmit adalah kesempatan emas untuk menyerang, tapi sepertinya Bron dan yang lainnya memilih untuk tetap bertahan. Itu keputusan yang tepat, karena kehilangan satu saja anggota tubuh lagi akan mengurangi drastis peluang hidup mereka berempat, tetapi jika semua stalagmit hancur, mereka bakal berada dalam situasi yang sangat sulit.Aku bertatapan dengan Argo dan melangkah masuk ke dalam gua. Memanfaatkan bayangan stalagmit, aku mengendap-endap maju.Baru saja kami bergerak sekitar sepuluh meter, terdengar benturan menggelegar di depan. Beruang itu telah menabrak stalagmit."Ayo maju!"Teriakku seraya berlari secepat mungkin. Hanya beberapa langkah kemudian, tubuh raksasa sebesar bukit mulai terlihat. Cahaya kuning berputar lembut di sekitar kepala beruang yang sedang meringkuk itu. Itu adalah tanda visual efek yang melumpuhkan gerakan si beruang."Hr…aagh!"Aku menahan Annealed Blade di pinggang dan merendahkan kuda-kuda serendah mungkin. Pedang itu bergetar dan memancarkan cahaya biru pucat. Saat merasakan System Assist aktif, aku menjejak tanah sekuat tenaga. Tubuhku sedikit melayang dan aku meluncur ke depan, menyapu tepat di atas tanah.Kemahiran skill Pedang Lurus Satu Tangan milikku telah mencapai level 50, dan aku baru saja membuka sword skill, Rage Spike.Ujung Annealed Blade yang bersinar biru menembus sisi kiri Antrotherium dalam-dalam.Segera setelahnya, Argo melompat tinggi dari belakangku dan mengayunkan cakar bersinar oranye menyilang satu sama lain. Tanda X yang jelas terukir di bulu abu-abu Antrotherium. Kalau tidak salah ingat, itu adalah Claws Sword Skill dasar bernama Cross Hatch.Dua sword skill berturut-turut itu mengurangi HP bar Antrotherium sekitar 15%. Tidak buruk mengingat ini adalah pertarungan level bos, malah itu kerusakan yang lebih dari cukup, yang seharusnya membuat target serangannya beralih pada kami.Sekarang aku dan Argo perlu berjaga terhadap serudukan sementara Bron dan yang lainnya menyerang beruang yang terkena stun itu. Aku tak punya waktu memberi instruksi lisan, tapi aku percaya mereka mengerti, dan aku pun mundur bersama Argo. Setelah pulih dari stun, Antrotherium memelototiku dengan mata merah suram yang menyala."Grrrrr…"Sebuah geraman rendah. Dalam sekejap, aku menggerakkan tangan kiriku dan membuka storage secepat mungkin tanpa melihat. Aku mematerialisasikan item yang tadinya ingin kusiapkan di awal tapi tak sempat karena pertarungan yang intens.Tiba-tiba, beruang itu berdiri dengan kaki belakangnya. Ia mengangkat kedua tangannya, yang memiliki cakar seperti pedang scimitar, tinggi-tinggi ke udara…"GROOOOOOOOOO!!" lalu meraung lagi."Hei, jangan diterjang doNG!"Argo berteriak panik, dan aku balas berteriak, "Tidak akan!" seraya mengangkat tangan kiri. Aku memegang botol kaca cokelat tanpa label.Antrotherium hendak melepaskan serangan area kuat yang akan menyapu apa pun yang disentuhnya sembari mengayunkan kedua tangan maju-mundur. Pak Tua Amos dari kebun apel bilang bahwa lima belas tahun lalu, dia menyaksikan regu pembasmi bersenjata lengkap dari Kota Awal musnah akibat teknik beruang ini.Aku dan Argo hanya mengenakan armor ringan dan mustahil menahan teknik dahsyat yang bahkan bisa menghancurkan stalagmit ini, apalagi menghindarinya sepenuhnya. Satu-satunya harapanku hanyalah setengah lusin botol kaca yang dipercayakan Pak Tua Amos padaku."Hmph!"Aku melempar botol kaca itu sekuat tenaga, benda itu berputar saat melayang, menghantam hidung beruang tepat di sasaran. Saat botol pecah dengan suara keras, bau manis yang menyengat memenuhi udara.Isi botol itu bukan racun maupun minyak. Itu adalah 'Pembunuh Beruang' khusus yang dibuat dari campuran anggur apel yang diseduh dan difermentasi dengan telaten oleh Pak Tua Amos dengan tambahan banyak mead buatan sendiri.Antrotherium mengangkat kedua lengan dan menjilati cairan emas yang menetes dari hidungnya. Tiba-tiba, tubuh besar itu bergoyang ke kiri-kanan sebelum jatuh terduduk. Efek visual stun berputar di kepalanya sekali lagi.—Berhasil, Kek!Teriakku dalam hati dan mengangkat pedang kesayanganku. Aku mengaktifkan Sword Skill Vertical dan membelah perut beruang itu dalam garis lurus. Sesaat kemudian, Argo juga menghujamkan cakar tangan kirinya dalam-dalam ke tubuh beruang.Saat kami mundur berdampingan, Argo bicara cepat."Hei Kii-bou, apa itu tadI... Enggak, nanti saja penjelasannyA. Berapa banyak lagi botol yang kita punyA!?""Lima.""Gak banyaK.""Aku cuma bakal pakai untuk menahan serangan ayunan dua tangan tadi.""MengertI."Saat Argo mengangguk, beruang itu pulih dari stun.Sambil bersiap diri, suara Bron terdengar dari kiri depan."Kalian penyelamat! Berkat kalian berdua, kami sudah pulih, jadi kami bisa mengambil alih target kapan saja!""Dimengerti, aku akan beri aba-aba!" Teriakku balik, bersiap menghadapi serangan Antrotherium berikutnya.
Komentar (0)
Memuat komentar...