Sword Art Online Progressive: The Seventh Day
Bagian 5
Estimasi waktu baca: 4 menit"Ya, pemandangan ini membawa kembali kenangan, yaH."Ujar Argo tepat di sisiku, dan aku mengangguk setuju.Di bawah kami terhampar sebuah kota elegan yang dibangun di atas undakan teras di antara dua lembah hijau. Kincir angin besar di mulut lembah, amfiteater yang mencolok mata di dekatnya, serta jembatan gantung panjang yang menghubungkan dua pemukiman—semuanya sama persis seperti saat beta test. Inilah kota Tolbana, basis terakhir di lantai satu Aincrad.Saat aku mengalihkan pandangan lebih jauh ke kejauhan, aku melihat hutan lebat membentang melintasi lembah dan sebuah pilar raksasa menjulang di belakangnya. Menara labirin yang menghubungkan lantai satu dan dua—di puncak menara setinggi seratus meter itu, sesosok bos lantai yang jauh lebih kuat daripada Antrotherium yang entah bagaimana berhasil kukalahkan beberapa menit lalu, telah menantiku.Selama beta test, aku menerjang maju dengan segala cara, menolak untuk tertinggal dari yang lain, tetapi kini keselamatan harus menjadi prioritas utamaku. Aku mungkin akan bolak-balik antara Tolbana dan Horunka untuk sementara waktu, bekerja keras menaikkan level dan memperkuat perlengkapanku.Aku memalingkan pandangan dari menara dan menatap ke arah kota di lembah sekali lagi. Meskipun aku dan Argo masih berjarak hampir satu kilometer dari celah gunung, aku bisa melihat samar-samar orang-orang berjalan di jalanan. Terlalu jauh bagi kursor untuk muncul, tapi aku bisa menebak secara kasar dari atmosfer mereka apakah mereka NPC atau bukan."Dari yang kulihat... sepertinya tidak ada pemain di sini.""Itu benaR."Argo mengangkat bahu dan tampak sedikit ragu sebelum melanjutkan."Aku akan memberimu informasi soal rumah sewaan itu sebagai tanda terima kasih atas roti mentega dan selainyA. Mungkin butuh seminggu lagi untuk menembus dungeon reruntuhan di utara MedaI. Ngarai di utara Rata Plains akan memakan waktu lebih lama, jadi mungkin butuh dua minggu lagi bagi merekA.""Apa ada orang yang mau menantang bos babi hutan di ngarai tengah?"Argo mengerutkan kening dan merentangkan tangannya sedikit."Tentu saja adA, itu kan rute resminyA.""Karena Gua Horunka sudah terbuka, bukannya mereka sebaiknya lewat sini...""Baik rute Horunka maupun rute Medai itu jalan memutar yang cukup panjanG. Lagipula, ada beberapa orang yang suka menerobos langsung lewat tengah, menghantam dari depaN.""Apa kau sudah mengontak salah satu dari mereka?""Tentu sajA. Mereka membentuk kelompok sekitar sepuluh orang, berpusat pada seorang pengguna Pedang Lurus Satu Tangan yang tampaN. Mereka kelompok yang sedap dipandang dengan keseimbangan serangan dan pertahanan yang bagus, tapI..."Argo berhenti bicara secara tidak wajar pada titik itu, jadi aku melirik ke arahnya."Tapi kenapa?""Hmm, aku belum mengonfirmasinya, tapi kurasa ada mantan beta tester di antara merekA. Jika mereka mengandalkan pengetahuan itu untuk memuluskan strategi mereka di Rata Plains, kurasa itu mungkin agak berbahayA.""……"Aku mengerti apa yang ingin disampaikan Argo.Sesosok bos beruang yang tidak ada di beta test telah ditambahkan ke gua di utara Horunka. Bron dan yang lainnya begitu patah semangat karena fakta bahwa mereka nyaris musnah, lalu berbalik mundur dari ruang bos, mengatakan mereka akan menaikkan level dan mencoba lagi.Dungeon reruntuhan di utara Medai dan ngarai di tengah Dataran Tinggi Dalhari mungkin juga telah diubah dengan cara tertentu sejak beta. Mungkin bos ngarai itu adalah monster yang benar-benar berbeda.Pengguna Pedang Lurus Satu Tangan yang tampan itu bebas saja bersikeras melakukan terobosan garis tengah yang heroik. Namun, jika dia jatuh ke dalam perangkap yang ditujukan bagi mantan tester dan seluruh kelompoknya musnah karenanya, itu akan menjadi hasil mengerikan yang bakal menunda berakhirnya death game ini.Aku menatap Tolbana sekali lagi dengan tatapan lekat, lalu berkata pada Argo."Maaf, tapi kau harus pergi ke sana sendirian.""Hah? Bagaimana denganmu, Kii-boU?""Yah... aku masih punya quest yang belum selesai di Horunka, dan aku sudah janji pada anak di rumah tempatku menumpang kalau aku bakal pulang dengan selamat..."Agak... tidak, cukup tidak wajar untuk berbalik arah ketika kau sudah begitu dekat dengan kota baru. Argo pasti memikirkan hal yang sama, karena dia menatapku bingung, mengerutkan alis di balik tudungnya, tetapi tiba-tiba dia menyeringai dan mengangkat pipi kanannya."Yah, kalau begitu kasusnya, kurasa aku akan ikut denganmU.""Hah... hah? Tidak, tidak usah, kau pergilah ke Tolbana.""Kau senang kan ditemani Kakakmu ini, iya kaN? Bersenanglah, bocaH!"Setelah menepuk punggungku, Argo berbalik tanpa sedikit pun penyesalan dan mulai berjalan cepat menuruni celah gunung."...Aku tidak senang kok..."Setelah menggerutu pelan, aku memunggungi kota di lembah itu dan mengejar jubah berwarna tikus miliknya yang berkibar tertiup angin sepoi-sepoi.
Komentar (0)
Memuat komentar...