Sword Art Online 021: Unital Ring I
Bagian 2
Estimasi waktu baca: 70 menitSebagai Kirito si pendekar pedang Spriggan, aku menapakkan kaki di ruang tamu pondok kayu kecil di hutan lantai dua puluh dua New Aincrad, sebuah istana melayang yang berputar di atas dunia Alfheim. Satu hari di ALO hanya berlangsung enam belas jam, tetapi kebetulan di sini juga sedang sore hari, terlihat dari cahaya matahari keemasan yang masuk melalui jendela.Seiring waktu, rumah kami telah menjadi tempat berkumpul bagi teman-teman kami, tapi saat ini, tempat itu sunyi dan kosong. Asuna bilang dia akan pergi bersama keluarganya sampai malam, dan Suguha belum pulang dari latihan kendo. Setidaknya Yui seharusnya menungguku, pikirku—tapi tak ada tanda-tanda keberadaannya di ruang tamu yang gelap itu juga. Sebaliknya, yang menungguku hanyalah ikon pesan masuk yang berkedip di sisi kanan bidang pandangku.Pesan itu dari prajurit Leprechaun bersenjata gada, Lisbeth.Segera setelah aku mengetuk ikon itu, sebuah jendela gim yang penuh emoji warna-warni muncul. Silica dan aku sedang menaikkan level skill di lantai 45. Datanglah bantu kami kalau kau sudah selesai mengerjakan PR! Oh, dan kami meminjam Yui."......Itu menjelaskan semuanya."Setidaknya aku tahu kenapa putriku tidak ada. Di ALO, Yui diklasifikasikan sebagai navigation pixie—pembantu dalam gim dengan kemampuan bantuan pemain tingkat lanjut. Dia bisa memberitahumu monster apa yang akan muncul di suatu area dan seberapa cepat mereka spawn, yang sangat membantu saat kau sedang grinding. Menurut sistem gim, dia diklasifikasikan sebagai propertiku, jadi sebelumnya, dia hanya muncul jika aku sedang online dan memanggil namanya, tapi belakangan ini dia muncul atas kemauannya sendiri selama salah satu temanku sedang online. Aku terlalu takut untuk bertanya alasannya.Namun di sisi lain, meski kemampuan Yui pastinya cukup canggih hingga dia bisa muncul di dua tempat sekaligus—atau sepuluh, atau seratus—jika dia mau, dia menolak melakukan hal semacam itu. Kecenderungan untuk sangat terpaku pada singularitas kondisi mereka adalah fitur yang dimiliki oleh semua AI rancangan Kayaba Akihiko. Bahkan penyanyi idola AR, Yuna, dari insiden Ordinal Scale setengah tahun lalu tidak terkecuali; dia nyaris menghancurkan diri sendiri karena agensinya mencoba menyalin programnya."Jadi sekarang bagaimana...?" gumamku pada diri sendiri, menutup pesan dari Lisbeth.Aku dive ke ALO supaya bisa bicara dengannya dan Silica serta melakukan riset sembunyi-sembunyi tentang apa yang mungkin disukai Asuna sebagai hadiah, tapi aku tak bisa mengganggu mereka jika mereka sedang sibuk bermain. Aku sempat berpikir untuk bergabung dengan mereka demi bersenang-senang, tapi kalimat dalam pesan tentang "kalau kau sudah selesai mengerjakan PR" menjadi penghalang mental yang besar. Aku masih punya laporan singkat tentang eksperimen ilmu komputer yang harus dikumpulkan besok dan belum selesai.Tentu saja aku tak bisa memilih untuk mengabaikan PR-ku, tapi aku juga tertinggal dalam menaikkan level skill di dalam gim. Kabarnya pertempuran bos lantai baru yang besar sedang direncanakan dalam waktu dekat, dan aku ingin mengasah kembali naluri tempurku tepat pada waktunya.New Aincrad telah di-porting ke dalam ALO bulan Mei lalu, dengan lantai satu hingga sepuluh tersedia untuk dimainkan. Pembaruan bulan September telah membuka lantai sepuluh hingga dua puluh, dan pada bulan Januari, mereka membuat hingga lantai tiga puluh bisa diakses. Pembaruan rutin terus berlanjut, memungkinkan pencapaian lantai lima puluh pada awal bulan ini.Bisa dibilang tim pengembang, Ymir, benar-benar mengerahkan segalanya dalam merancang bos-bosnya, karena mereka menjadi semakin kejam dan ganas di setiap pembaruan. Hingga hari ini, 27 September, pencapaian terjauh siapa pun masih hanya sampai lantai empat puluh enam.Lisbeth sangat bersemangat tentang kesempatan mendirikan tokonya sendiri dengan kincir air di kota Lindarth begitu lantai empat puluh delapan dibuka, seperti yang dia miliki di SAO orisinal. Agil juga telah mengumumkan bahwa dia akan memiliki toko kelontong sendiri di Algade di lantai lima puluh. Tapi dengan kecepatan ini, kami takkan mencapai yang pertama sampai bulan depan—dan menjelang akhir tahun untuk yang kedua. Aku ingin menebus budi pada mereka karena telah banyak membantuku di Underworld, dan itu berarti aku harus membuat karakterku lebih kuat...Namun butuh segenap tekadku untuk menarik kembali kaki yang hendak melangkah ke pintu. Tak sepantasnya seorang cowok yang akan genap berusia delapan belas tahun dalam sepuluh hari malah menelantarkan laporan sekolah demi bermain gim. Aku sudah memiliki data eksperimennya, jadi aku bisa menyelesaikan semuanya dalam satu jam (semoga saja). Aku duduk di meja makan virtual dan, dari dalam gim, mengakses PC rumahku serta membuka laporan yang belum rampung beserta seluruh data terkaitnya.Lalu, meminjam cangkir ajaib Asuna—hadiah quest yang menawarkan pilihan acak dari sembilan puluh sembilan jenis teh jika diketuk—aku menyesap apa yang beraroma seperti teh cokelat mint dan mulai mengetik di papan ketik, menyemangati diri sendiri, "Oke! Ayo targetkan selesai dalam empat puluh lima menit!" Sepanjang hidupku, bahkan di masa terburuk kecanduan gim daringku, aku tak pernah membiarkan PR menumpuk atau terlambat dikumpulkan.Bagian tersulitnya adalah saat liburan musim panas ini, karena bagi dunia luar, pada dasarnya aku mengalami koma selama sebulan penuh. Aku diserang dan disuntik succinylcholine oleh Johnny Black, anggota tim pembunuh paling terkenal di Aincrad, Laughing Coffin, sekaligus salah satu dalang insiden Death Gun. Zat kimia itu membuatku mengalami henti jantung, tepat pada akhir Juni, tak lama setelah liburan dimulai. Meski aku selamat dari cobaan itu, aku tak sadarkan diri hingga bulan Agustus, dan setelah menjalani rehabilitasi fisik, akhirnya aku diizinkan pulang pada tanggal 16 Agustus.Dengan kata lain, dua pertiga dari empat puluh hari liburan musim panasku berlalu begitu saja sebelum aku memiliki waktu untuk diri sendiri, sehingga penumpukan PR tak terelakkan. Mungkin aku bisa saja meminta dispensasi untuk separuhnya, tetapi untuk menegosiasikan hal itu, aku harus menjelaskan kepada pihak sekolah mengapa aku sampai koma.Mereka mungkin percaya bahwa aku diserang di jalan dan dirawat di rumah sakit. Namun siapa yang akan percaya bahwa aku diculik dari rumah sakit menggunakan ambulans palsu, diterbangkan dengan helikopter menuju kapal penelitian kelautan di laut selatan yang jauh, diikat ke mesin misterius yang mengakses jiwa manusia, dan dikirim ke tempat asing bernama Underworld, di mana aku menebang pohon cedar raksasa, masuk sekolah pedang, melawan penguasa dunia itu, dan mengalami koma di dunia itu juga...?Pada akhirnya, aku tak punya pilihan selain menyelesaikannya sebaik mungkin dengan bantuan teman-temanku. Sembari mengetik laporan, aku mengenang kembali minggu terakhir liburan musim panas yang bak neraka itu dan melampiaskan frustrasiku dengan menggerutu keras, "Setidaknya hal yang bisa kau lakukan sebelum menghilang adalah memerintahkan mereka membebaskanku dari kewajiban PR..."Tentu saja tak ada orang di sekitar yang menjawab. Aku sendirian di pondok hutan, dan pria yang kuajak bicara itu sudah lama sekali tak muncul di Alfheim. Pemain asli di balik penyihir Undine Chrysheight adalah Kikuoka Seijirou, dari Divisi Virtual Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi. Ia telah menghilang baik dari dunia virtual maupun dunia nyata lebih dari sebulan yang lalu.Kendali atas perusahaan cangkang Kikuoka, Rath, kini berada di tangan Dr.Koujiro Rinko, dan sebagai kepala teknis, Higa Takeru menjadi sosok yang jauh lebih vital dari sebelumnya. Aku punya alasan untuk menaruh harapan pada masa depan Underworld, sedikit demi sedikit—namun hilangnya Kikuoka menyisakan rasa kehilangan yang aneh dalam diriku.Jika aku saja merasa begitu, setelah segala masalah dan bahaya yang ia timpakan padaku, aku yakin staf Rath kini merasa sangat kehilangan semangat. Dia benar-benar orang yang menyusahkan, sampai akhir, pikirku... lantas aku harus mengingatkan diri sendiri bahwa dia sebenarnya belum mati.Kikuoka menyamar sebagai pegawai negeri sipil tanpa masa depan di kementerian, padahal faktanya, ia adalah letnan kolonel di Pasukan Bela Diri Darat (Ground Self-Defense Force). Ia menghilang dari SDF Darat pada saat yang sama dengan beberapa perwira senior Departemen Pertahanan, yang terbukti bersekutu dengan perusahaan pertahanan Amerika yang bertanggung jawab atas penyerangan Ocean Turtle. Kemungkinan besar ia sudah tak berada di Jepang saat ini.Aku tak tahu apakah aku akan punya kesempatan bertemu dengannya lagi. Namun kini setelah aku berada di sini, di rumah keduaku, jauh dari Underworld, bahkan cerita Kikuoka tentang hidangan gourmet super bau dari seluruh dunia menjadi kenangan yang indah.Barangkali karena aku larut dalam pemikiran yang tak biasa seperti inilah aku sampai melewatkan suara karakter yang sedang login. Baru ketika suara langkah kaki melompat-lompat itu terdengar tepat di belakangku, aku menyadarinya. Aku mendorong jendela holo berisi laporan yang nyaris rampung itu ke tengah meja, lalu berbalik."Kukira kau sudah tidur, A—"—suna.Aku menahan diri sebelum sempat menyelesaikan kalimat. Avatar wanita yang berdiri di belakangku bukanlah Undine berambut biru yang kuharapkan, melainkan Cait Sith berwujud kucing, dengan telinga kucing segitiga di atas kepalanya. Tak seperti Cait Sith lainnya, ia tak memiliki kesan imut yang manja. Rambut yang terurai hingga punggung tengahnya berwarna keemasan menyilaukan. Kulitnya begitu pucat hingga nyaris transparan. Matanya biru safir. Secara keseluruhan, kecantikannya yang memukau sangat mirip dengan wajah aslinya... bukan di dunia nyata, melainkan di Underworld.English Text: “…H-hi, Alice. Good evening,” I said, lifting my hand in greeting. The Integrity Knight Alice Synthesis Thirty just snorted, her ears twitching with displeasure. “You seem rather disappointed that I’m not Asuna, Kirito.” Terjemahan Bahasa Indonesia:"...H-hai, Alice. Selamat sore," sapaku seraya mengangkat tangan. Sang Integrity Knight Alice Synthesis Thirty hanya mendengus, telinganya berkedut tak senang."Kau tampak agak kecewa karena aku bukan Asuna, Kirito."
"T-tidak, tidak, tidaaak! Aku tidak berpikir begitu. Sama sekali!" protesku sambil menggelengkan kepala, tetapi tatapan tajam sang ksatria justru kian mendingin.Aku melirik ke bawah dan menyadari bahwa, tak peduli waktu, ia mengenakan zirah emas dan pedang panjang emas di atas gaun birunya."Oh... Kau mau pergi berburu?" tanyaku.Alih-alih melenyapkan kerutan di dahinya, Alice hanya mengubahnya menjadi bentuk ekspresi lain. "Ya, aku sudah janji dengan Lisbeth. Tapi... harus kuakui, aku belum terbiasa dengan istilah berburu ini." Ia menarik kursi di sebelahku dan duduk dengan bunyi denting logam.Secara naluriah aku bangkit berdiri, lalu bergegas ke dapur, memberitahunya bahwa aku akan menyeduh teh. Saat kembali, aku membawa cangkir teh ajaib lainnya dan nampan berisi kue tak dikenal yang kutemukan di penyimpanan item bersama. Aku mendapati Alice sedang menatap lekat jendela laporanku yang masih terbuka di atas meja. Saat menyadari kedatanganku, ia mendongak dan bertanya, "Apakah ini tugas untuk akademi tempatmu belajar?""Er... ya, benar.""Hmm... Saat aku berlatih di katedral, aku diberi tumpukan tugas sacred arts," gumamnya. Tersungging senyum tipis di bibirnya, menyiratkan nuansa nostalgia sekaligus kesedihan. Aku tak mengenal manusia mana pun yang pernah mengalami nasib seaneh dan seliku-liku Alice.Ia lahir di sebuah desa kecil di pelosok utara Underworld, tempat ia tinggal hingga berusia sebelas tahun, ketika ia melanggar aturan Taboo Index yang melarang masuk ke Dark Territory dan serta-merta dibawa oleh seorang Integrity Knight ke benteng Gereja Axiom, Katedral Pusat.Administrator yang mahakuasa telah melakukan Ritual Synthesis padanya, menyebabkan Alice kehilangan seluruh ingatannya. Eugeo dan aku menerobos ke katedral dengan niat membawanya pulang, tetapi ia justru menghalangi jalan kami sebagai yang terkuat di antara para Integrity Knight. Namun ketika mengetahui kemunafikan Gereja Axiom dan kekejaman Pontifex, ia mendobrak segel yang membelenggu kebebasan berpikirnya, lantas bergabung dengan pihak kami dan membantu mengalahkan Administrator.Setelah itu, ia meninggalkan Gereja dan menetap di hutan di luar Rulid. Di sana, selama setengah tahun, ia merawatku yang berada dalam kondisi koma mental, hingga tibalah kabar bahwa perang pamungkas melawan Dark Territory akan segera dimulai. Ia bertarung bak iblis dalam pertempuran di Gerbang Timur, tetapi pada akhirnya diculik oleh pria yang memimpin tim penyerbu di Ocean Turtle. Namun berkat pengorbanan Komandan Bercouli, ia berhasil bebas, dan dengan bimbingan Asuna, ia log out dari konsol sistem—dan kini ia memiliki tubuh mekanis yang dikembangkan oleh HigaTakeru untuk hidup di dunia nyata.Tak peduli ia menginginkannya atau tidak, ia adalah kecerdasan buatan serbaguna sejati pertama di dunia. Jadwalnya saat ini sangat padat, membantu Dr. Koujiro dalam misinya memperjuangkan hak asasi bagi AI, tetapi tampaknya ia masih bisa sering login ke ALO saat membutuhkan istirahat. Kemungkinan besar, ia merasa dunia fantasi Alfheim jauh lebih akrab baginya ketimbang pemandangan di dunia nyata."Ya, aku juga dapat banyak tugas di Akademi Pedang. Aku bahkan masih ingat mantra-mantra sacred arts," ujarku, mengecilkan jendela PR-ku ke sudut meja lalu meletakkan cangkir dan piring.Telinga kucing Alice berkedut. "Wah, wah. Kalau begitu, apa perintah untuk menciptakan bola elemen baja berongga kecil yang diisi air, lalu dipanaskan oleh elemen panas dari luar?""Hrrg! Y-yah... aturan umumnya adalah menciptakan elemen dari yang paling stabil dulu, jadi aku akan mulai dengan Generate Metallic... eh, bukan, tunggu. Bola baja itu harus menyelubungi air, jadi apakah elemen air yang duluan...?"Tiba-tiba Alice menghela napas paling lelah yang pernah kudengar, jadi dengan kekanak-kanakan aku berkilah, "D-dengar, tak masalah. Kalau kau punya kemampuan sepertiku, kau tak perlu merapal mantranya. Incarnation akan membereskannya dalam sekejap...""Bukan itu poinnya!" sentaknya, persis seperti seorang guru. Dengan sangat terbiasa, ia mengetuk bibir cangkir dan menyesap teh merah muda pucat yang membanjir dari dasarnya. "Mmm... yang ini enak."Dilihat dari reaksi itu, jelas sekali ia sering berkunjung dan mengadakan pesta teh dengan Asuna—atau semacamnya. Tuhan tolong aku, batinku seraya bersandar dan mengetuk cangkirku sendiri.Teh yang berbuih naik berwarna ungu kemerahan pekat; aku mencicipinya dengan firasat buruk, dan rasa asam yang menghantam lidahku rasanya seperti asinan prem yang diblender. Dengan putus asa aku menyambar kue itu dan menggigitnya besar-besar, dan syukurlah, itu pai buah yang sangat normal. Alice pun tampaknya menyukainya, mengambil satu gigitan lalu gigitan lainnya—tentu saja menggunakan garpu. Aku menetralisir rasa manis gula dengan satu tegukan lagi teh prem yang membuat mulut berkerut itu, lalu bertanya, "Jadi... kau tadi mengatakan sesuatu soal kata berburu?""Ah... ya, benar," sahut Alice seraya mengangguk. Ia mengalihkan mata birunya ke arah kegelapan di luar jendela. "Bagiku... dan mungkin bagi seluruh penghuni Dunia Manusia... berburu adalah tindakan membunuh hewan liar untuk dijadikan makanan, sembari berterima kasih kepada Terraria atas berkah-Nya. Namun orang-orang di dunia ini—para 'pemain' ini—membunuh hewan dan monster dalam jumlah tak terhitung semata-mata demi menaikkan level otoritas mereka. Bukan maksudku mengatakan ini jahat. Bagaimanapun, dalam pertempuran di gerbang, aku telah membantai ratusan, kalau bukan ribuan, demi-human dari Dark Territory. Tapi... aku tak ingin menyebutnya sebagai berburu.""...Begitu rupanya," ujarku, mengangguk pelan.Alice paham bahwa Alfheim adalah dunia yang diciptakan di dalam dunia nyata. Namun ia kesulitan memahami konsep VRMMORPG... dan apa artinya memainkan sebuah "gim". Aku tak bisa menyalahkannya atas hal itu. Dalam artian sebagai dunia virtual, tempat ini sama persis dengan rumah lamanya di Underworld. Layaknya Underworld, Alfheim hanyalah tempat lain baginya, dan ia tak bisa berbagi pemahaman yang dimiliki oleh setiap pemain VRMMO lain dan aku bahwa tempat-tempat ini hanyalah sementara.Jadi, saat aku pertama kali membawa Alice turun dari New Aincrad ke Alfheim, dan kami berpapasan dengan sekelompok PKer Salamander di hutan kuno dekat wilayah Sylph, terjadilah keributan yang cukup menghebohkan. Silica terkena damage akibat serangan mendadak, dan Alice begitu murka hingga ia memaki para Salamander itu layaknya ancaman iblis yang ganas, sampai-sampai mereka begitu terintimidasi hingga meminta maaf kepada Silica dan meninggalkan sejumlah uang sebagai ganti rugi. Aku bahkan belum pernah mendengar kejadian seperti itu sebelumnya.Di kalangan segelintir pemain yang tahu bahwa Alice sang ksatria bertelinga kucing di ALO adalah kecerdasan buatan A.L.I.C.E. yang diperkenalkan dalam konferensi pers megah bulan lalu, insiden ini dikenal sebagai Legenda Lady Alice Mengomeli Para PKer Hingga Menangis. Bagaimanapun juga, aku hanya bisa berharap akan datang hari di mana Alice belajar menikmati ALO sebagai gim sebagaimana mestinya.Sembari menunggu, aku telah menghabiskan porsi pai buahku dan menelan paksa sekitar sepertiga tehku sebelum akhirnya menoleh ke arah sang ksatria kebanggaan dari dunia lain itu dan berkata, "Aku setuju bahwa kata berburu yang kau dengar di VRMMO telah bergeser cukup jauh dari makna aslinya. Namun kenyataannya, sebagian besar populasi Jepang modern tak memiliki pengalaman berburu yang sesungguhnya—termasuk aku. Ketika zaman dan tempat berubah, begitu pula kata-kata. Aku yakin fenomena itu terjadi di Underworld juga..."“……”Alice awalnya diam karena sedang mengunyah gigitan terakhir pai buahnya, yang lantas ia bilas dengan sisa tehnya."Yah, dua ratus tahun telah berlalu sejak aku tinggal di Underworld," ujarnya, "jadi kurasa telah terjadi perubahan besar tak hanya pada bahasa, tapi juga budaya secara umum. Perubahan apa pun itu, aku harus menerimanya... Satu hal yang pasti, keberadaan perubahan itu sendiri adalah bukti bahwa kau telah melindungi dan mempertahankan Underworld..."Yang membuatku salah tingkah, Alice menatap lurus ke mataku dan tersenyum. Namun, aku berhasil melontarkan sangkalan karena sudah kebiasaan. "Tapi... bukan hanya aku yang melakukannya. Asuna, Sugu, Sinon... faktanya, ada ribuan pemain dari ALO yang pergi ke Underworld untuk melindunginya.""Ya, benar juga... Dalam artian itu, penggunaan satu kata sepele rasanya menjadi hal yang sangat tidak penting," kata Alice, kembali memandang ke luar jendela. Namun ia tidak sedang melihat hutan jarum itu, melainkan dunia lain yang ada jauh di baliknya.Di Ocean Turtle, yang masih berada di tengah laut namun telah ditutup oleh SDF, Gugus Lightcube—yang menjadi wadah bagi Underworld—dan Main Visualizer-nya masih aktif, tetapi situasinya bisa dibilang tidak menentu. Faksi konservatif anti-Rath di Departemen Pertahanan untuk sementara kehilangan kekuasaan akibat langkah pengorbanan Kikuoka, jadi untuk saat ini, Underworld tidak akan serta-merta dihancurkan. Namun situasi itu bisa berubah dengan cepat tergantung bagaimana perebutan kendali berlangsung.Pagi-pagi sekali pada tanggal 18 Agustus, Asuna, Alice, dan aku telah melakukan dive ke Underworld dari kantor Rath di Roppongi. Kami sempat panik sejenak saat muncul di luar angkasa alih-alih di tanah, tetapi berkat bantuan dua Integrity Knight muda—er, Integrity Pilot—yang kami temui sedang menerbangkan pesawat naga mereka, entah bagaimana kami berhasil kembali ke Dunia Manusia.Namun aku sangat bimbang dengan gagasan untuk melenggang masuk begitu saja ke Katedral Pusat. Salah satu alasannya, apa pun yang terjadi dalam dua ratus tahun terakhir, Asuna dan aku adalah Star King dan Star Queen sekarang dan rupanya telah meninggal tiga puluh tahun yang lalu. Jika kami melenggang masuk lewat pintu depan dan menyapa "Yo!", seisi katedral, dan mungkin seluruh dunia bersamanya, bakal mengalami kepanikan eksistensial.Jadi kami bertiga membiarkan pilot bernama Laurannei memandu kami ke rumahnya di Centoria. Bangunan itu berusia lebih dari empat ratus tahun, dan rasanya anehnya akrab. Di sana, kedua pilot itu memberi kami informasi terkini tentang keadaan Underworld dan bahkan menjamu kami makan.Sebelum kami dive, Dr. Koujiro memberitahu bahwa dia akan membangunkan kami secara paksa setelah lima jam berlalu, jadi sebelum mencapai batas itu (untungnya, sekarang ada jam di Underworld), kami berjanji untuk bertemu para pilot itu lagi, dan kami bertiga pun log out. Sejujurnya aku ingin segera kembali, tetapi Dr. Koujiro dan Higa mengatakan kami dilarang dive lagi sampai mereka mengevaluasi informasi yang kami bawa dari perjalanan kami, agar mereka bisa menilai efeknya pada simulasi.English Text: I could understand why the adults were being careful. Whoever it was that told Alice the IP address she could use to connect to the Underworld—I had a vague idea—they were still unknown. And the direction the Underworld took in the times ahead would have a huge effect on the outcome of the plan to secure the Lightcube Cluster—and the issue of human rights for AI. Terjemahan Bahasa Indonesia:Aku bisa mengerti mengapa orang-orang dewasa itu bersikap hati-hati. Siapa pun yang memberitahu Alice alamat IP yang bisa ia gunakan untuk terhubung ke Underworld—aku punya dugaan samar—mereka masih belum diketahui. Dan arah yang diambil Underworld di masa mendatang akan berdampak besar pada hasil rencana pengamanan Gugus Lightcube—serta isu hak asasi bagi AI.Untungnya, Underworld saat ini berjalan dalam waktu nyata, bukan waktu yang dipercepat. Jadi tidak ada lagi kejadian seperti sebelumnya, di mana kau bisa menghabiskan bertahun-tahun di dalam Underworld hanya dari satu kali login. Meski begitu, sebulan telah berlalu. Laurannei dan Stica mungkin merasa gelisah, dan aku ingin mendengar kabar dari mereka kali ini. Salah satu alasannya, aku cukup yakin mereka sebenarnya—"...rito. Kirito. Kau mendengarkanku?"Ksatria bertelinga kucing itu menyodok sikuku, dan aku mengerjap kembali ke masa kini. "Ah! Ya. Maaf, aku sedang memikirkan Underworld..."Hal itu membuat wajah Alice melunak dari mode memarahi. "Begitu. Aku sendiri mendapati diriku memikirkannya beberapa kali sehari.""Ya... aku ingin segera kembali.""Ya," setujuinya, lalu menghela napas penuh kerinduan.Kerinduanku pada tempat itu pasti tak ada apa-apanya dibandingkan dalamnya rasa rindu rumah Alice. Dan dia punya dua tujuan jelas untuk dicapai.Salah satunya adalah menetaskan kembali telur naganya, Amayori, dan saudaranya, Takiguri—aku telah mengembalikan mereka ke bentuk pra-menetas sebelum pertempuran terakhir melawan Gabriel Miller. Yang lainnya adalah membangunkan adiknya, Selka Zuberg, yang berada dalam pembekuan di lantai delapan puluh Katedral Pusat.Keduanya takkan mudah—terutama yang kedua. Dia harus meyakinkan pemerintah Dunia Manusia saat ini bahwa dia tak lain adalah Integrity Knight legendaris Alice Synthesis Thirty, yang telah menghilang lebih dari dua ratus tahun lalu. Tapi aku tahu Alice bisa melakukannya, dan tentu saja aku akan melakukan apa pun untuk membantu. Aku juga tak sabar ingin bertemu Selka lagi.Sebelum aku sempat berkelana secara mental ke Underworld lagi, suara Alice menarikku kembali. "Omong-omong, Kirito, aku punya pesan dari Dr. Koujiro.""Uh... pesan? Apa dia tidak bisa mengirim e-mail saja?""Rupanya, dia tak ingin meninggalkan jejak di jaringan," ujarnya.Aku meringis. Jalur yang digunakan Rath dilindungi dengan keamanan yang sangat ketat. Jika Dr. Koujiro ingin menghindari e-mail atau bahkan pesan suara, dan justru menyampaikan beritanya dari mulut ke mulut di ALO, di mana takkan ada rekaman, itu pasti informasi yang sangat penting. Saat aku menegang, Alice mengumumkan, "Tanggal dua puluh sembilan, pukul lima belas. Toko kue mahal.""......Hah?""Itu saja.""......"Tanggal dua puluh sembilan itu dua hari lagi. Pukul lima belas adalah jam tiga sore. Bagian itu jelas.Tapi apa itu "toko kue mahal"? Ada banyak tempat di Tokyo yang cocok dengan deskripsi itu. Aku bertaruh aku bahkan bisa menemukan satu atau dua di Kota Kawagoe, Prefektur Saitama, tempat aku tinggal.Aku hampir berpikir untuk mengirim pesan pada Dr. Koujiro untuk memastikan, tetapi aku menahan diri. Jika aku menghubungi dari sisi ini, itu akan merusak upaya keras yang ia lakukan untuk merahasiakannya.Saat aku merenungkan hal ini, menggeleng-gelengkan kepala, Alice tampak iri. "Ada varian kue yang tak terhitung jumlahnya di dunia nyata. Banyak sekali hal yang tak pernah kumakan di Centoria. Melihat gambar-gambarnya saja membuatku lapar.""Uh... ya, kurasa... Tapi aku sangat suka manisan yang dulu kubeli di Centoria. Pai madu itu? Tiga buah cuma sepuluh shia, dan itu memenuhi satu kantong penuh...""Apakah kue-kue di sini mahal?""Yah, aku selalu membayangkan satu shia setara dengan sekitar sepuluh yen, jadi toko kue yang agak bagus mungkin harganya... oh, empat puluh shia per potong?""I-itu terdengar mahal sekali," kekagumannya, matanya terbelalak.Aku menyeringai. "Dan ada yang jauh lebih mewah. Aku pernah makan sepotong kue di Ginza yang harganya seratus enam puluh shia..."Tapi aku berhenti di situ, menyadari sesuatu. Dr. Koujiro bukanlah tipe orang yang menggunakan kata sandi samar yang mengejek seperti itu. Artinya pesan tentang "toko kue mahal" ini secara harfiah hanyalah pesan untuknya. Dia menyampaikannya dari orang lain di Rath, dan hanya ada satu orang yang terpikir olehku yang akan menulis pesan ini.Bahuku merosot, dan aku menghela napas. Alice menatapku bingung. "Ada apa, Kirito?""Oh... tidak apa-apa. Aku sudah tahu apa maksud pesannya. Terima kasih sudah memberitahuku, Alice.""Itu tugas yang sangat mudah... itulah yang biasanya akan kukatakan... tapi..."Telinga kucing sang ksatria emas berkedut saat ia berpikir, dan senyum jahil tersungging di bibirnya."Kalau begitu, mungkin kau bisa membantuku latihan," ujarnya."Hah? Oh, menaikkan kemahiran skill-mu...?"Hanya ada satu alasan mengapa Alice, ksatria yang penuh harga diri dan anggun, memilih bermain sebagai Cait Sith, lengkap dengan telinga dan ekor kucingnya: Itu adalah ras termudah untuk mencapai kelas karakter dragoon, ksatria penunggang naga. Namun mentang-mentang paling mudah, bukan berarti itu benar-benar gampang. Untuk menunggangi naga, kau butuh level skill yang sangat tinggi dalam hal menjinakkan hewan maupun penggunaan pedang atau tombak.Untuk meningkatkan keduanya sekaligus, kau harus terus bertarung, memicu peningkatan kemahiran senjata, sembari menghabiskan poin skill yang didapat untuk skill Beast-Taming. Aku memikirkannya sejenak, lalu mengembalikan jendela PR yang tadi kugeser ke sudut meja ke ukuran aslinya."Beri aku waktu tiga puluh menit. Begitu ini selesai, kita bisa menyusul Liz dan yang lain untuk mencari SP buat—"Ucapanku terpotong oleh suara desingan ringan. Itu adalah suara pemain yang sedang login. Dan hanya ada satu orang lain yang bisa muncul langsung di dalam pondok kayu ini...Aku memutar kursi secepat kilat, dan Alice mengikuti dengan berputar mulus, tepat saat sesosok avatar ramping muncul di ambang pintu. Dia memiliki rambut panjang berwarna biru pucat, gaun tempur yang didominasi warna putih, dan rapier perak di pinggangnya. Asuna, sang penyihir dan pengguna rapier Undine, mengenali Alice dan aku—dan ekspresinya perlahan berubah menjadi terkejut."S... selamat datang kembali, Asuna," sapaku sambil bangkit berdiri.Akhirnya, dia tersenyum dan mengangkat tangan untuk melambai. "Selamat sore, Kirito. Selamat datang, Alice.""Maaf aku mengganggu, Asuna," balas Alice dengan senyum serupa. Mungkin cuma perasaanku saja, tapi rasanya suhu ruangan jadi naik beberapa derajat...Bagaimanapun, aku masih harus menyelesaikan PR-ku. Aku berdeham dan bicara lagi. "Um, aku perlu menyelesaikan laporan ini, jadi kalau kalian berdua tidak keberatan, kalian bisa duluan menemui Liz—" Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, guncangan hebat meledak menembus lantai pondok kayu, dan gemuruh rendah nan dalam seperti guntur menenggelamkan semua suara lainnya."Kyaaa!" jerit para gadis itu. Berdasarkan naluri murni, aku melompat, menyambar Alice dengan tangan kanan dan Asuna dengan tangan kiri. Begitu aku berhasil membuat mereka berjongkok di lantai, terdengar dentuman lain. Balok-balok tebal yang melintang di langit-langit berderit, dan cangkir-cangkir berjatuhan dari meja.Tentu saja tak mungkin ada gempa bumi di dunia virtual, dan kalaupun itu terjadi di Alfheim, itu takkan berpengaruh apa-apa pada New Aincrad yang melayang di langit. Ditambah lagi, jika New Aincrad entah bagaimana berguncang, itu bukan berarti pondok ini akan runtuh. Namun meskipun bagian logis otakku mengetahui semua ini, naluriku mengambil alih, dan aku berteriak, "Keluar, kalian berdua!"Aku bergegas melintasi lantai yang berguncang hebat, nyaris menyeret sang pengguna rapier dan ksatria bertelinga kucing, hingga mencapai pintu. Segera setelah aku mendorongnya terbuka dan melompat ke beranda, guncangan ketiga dan terbesar menghantam kakiku, dan kami bertiga terguling menuruni tangga beranda. Untungnya, halaman depan hanyalah rerumputan, jadi HP kami tidak berkurang. Aku baru saja hendak membentangkan sayap periku, berpikir setidaknya jika aku melayang, tanah yang berguncang takkan mempengaruhiku lagi—ketika Asuna mencengkeram tanganku sekuat tenaga."Kirito, l-lihat...!" desahnya terkejut. Tangannya yang gemetar menunjuk ke langit biru yang terlihat melalui celah luar, yang letaknya sangat dekat. Sedetik kemudian, aku juga menyadarinya. Waktu internal Alfheim tidak disinkronkan dengan dunia nyata, jadi hari masih siang, jauh dari matahari terbenam, tetapi cakrawala kini membara merah. Warna merah darah itu mendekat dengan kecepatan yang mencengangkan dan segera menyelimuti seluruh langit New Aincrad."...Itu bukan matahari terbenam...," ujar Alice yang menggenggam tanganku yang satu lagi. Kata-kata itu nyaris tak menembus kesadaranku, tetapi aku pun meneriakkan hal yang sama di dalam benakku. Bukan hanya cakrawala yang memerah—pola heksagonal dengan cepat memenuhi langit. Pada segi enam itu terdapat susunan kata yang berganti-ganti: Warning dan System Announcement."Kirito," panggil Asuna lagi, suaranya terdengar rapuh.Aku meremas tangannya yang halus, tetapi benakku memutar ulang dengan jelas kenangan saat terakhir kali melihat langit seperti ini: hari yang sungguh sangat menentukan. Itu terjadi hampir empat tahun yang lalu, pada tanggal 6 November 2022.Pada pukul lima tiga puluh sore di hari peluncuran VRMMORPG pertama di dunia, Sword Art Online, sepuluh ribu pemain secara otomatis diteleportasi ke alun-alun Kota Awal, di mana pola segienam merah tua mulai memenuhi langit.Sang Game Master raksasa muncul menetes turun dari langit itu dan, dengan suara berat yang mengancam, mengumumkan, Selamat datang di duniaku, para pemain terkasih. Sejak saat itu, Asuna dan aku serta hampir sepuluh ribu orang lainnya terjebak dalam permainan mematikan tanpa kemampuan untuk log out. Butuh waktu dua tahun penuh di dunia nyata bagi kami untuk akhirnya bisa meloloskan diri.Apakah hal itu akan terulang lagi? Tidak. Itu mustahil. Asuna dan aku mengenakan AmuSphere, yang memiliki banyak lapisan keamanan dan langkah keselamatan, bukan NerveGear lama, dan Alice tidak membutuhkan mesin antarmuka untuk login ke ALO. Bahkan jika tombol LOG OUT di menu hilang, kami akan baik-baik saja begitu seseorang di dunia nyata melepas AmuSphere dari kepala kami.Lalu, apa yang dilambangkan oleh langit merah ini? Semacam event kejutan dalam gim? Sulit membayangkannya. Dalam hal kepatuhan aturan, mustahil mereka akan meniru kejadian di SAO yang menyebabkan empat ribu kematian—tak peduli bahwa Ymir, perusahaan yang menjalankan ALO, hanyalah firma kecil yang didanai modal ventura.Apakah server diretas dari luar? Bukan tidak mungkin, tapi meski menimpa tekstur langit mungkin mudah, mengguncang seluruh New Aincrad seperti itu pasti sangat sulit. Tidak ada sihir atau item yang bisa menghasilkan efek semacam itu di dunia ini. Namun baru saja pikiran itu melintas di benakku, guncangan keempat menghantam kami.Tanah di lantai dua puluh dua beriak layaknya cairan, dan retakan muncul di rerumputan hijau. Pondok kayu di belakang kami menjerit dan berderit, dan Asuna mencengkeram pagar beranda dengan kedua tangannya."Asuna!" teriakku—tapi kemudian aku sadar. Undine berambut biru itu tidak sedang berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya; ia sedang berusaha mencegah rumah itu runtuh. Aku segera bergegas dan mendorong dinding. Alice melakukan bagiannya dengan menekan bagian atas beranda agar tetap di tempatnya.Tapi tentu saja, kami bertiga takkan mampu melawan guncangan destruktif itu. Seratus pemain pun takkan lebih beruntung dari kami. Seluruh lantai istana terapung sepanjang enam mil itu bergemuruh di bawah kami."Ah...!" Asuna memekik saat suara retakan kering menenggelamkan suaranya. Atap segitiga di atas beranda pondok terbelah dua. Jika guncangan terus berlanjut, seluruh rumah akan mengalami kerusakan serupa dalam waktu kurang dari satu menit.Aku juga memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan pondok ini, meski mungkin tak sedalam Asuna. Pondok kayu tempat kami tinggal sebagai pengantin baru selama dua minggu bahagia di Aincrad orisinal telah hancur saat permainan mematikan itu berakhir, tetapi yang ini, yang muncul di New Aincrad saat diperkenalkan ke ALO setengah tahun kemudian, disalin langsung dari server SAO. Ini barang asli. Setiap detailnya sama, dari pola di papan lantai hingga mata kayu pada balok penopang.Faktanya, bahkan Aincrad dari server SAO lama diam-diam telah dipulihkan oleh guru lama Kayaba Akihiko, Profesor Shigemura Tamotsu... tapi pada titik ini, server itu tak ubahnya nisan bagi putri tunggal sang profesor, Yuna, yang telah menyelamatkan banyak nyawa dalam insiden Ordinal Scale April lalu. Itu berada jauh di lantai bawah tanah kelima gedung Argus yang terlarang, jadi tak akan mudah diakses—dan aku pun tak ingin melakukannya. Saat ini, pondok di sinilah tempat yang disebut Asuna dan aku sebagai rumah bagi banyak kenangan kami bersama.Dengan pikiran itu sebagai pendorong, aku membenamkan jari-jariku ke dinding kayu dan mengerahkan seluruh tenaga untuk mencoba menahannya agar tidak bergerak. Lalu getaran itu berhenti, seolah-olah tak pernah terjadi sama sekali. Saat itu, aku merasa lega karena guncangan akhirnya berakhir—tapi kemudian aku menyadari bahwa meski gemuruh terhebat telah hilang, tanah itu sendiri perlahan miring ke depan... mencondongkan kami ke arah tepi luar istana terapung."Apa ini...?!" Dikuasai oleh firasat buruk yang belum pernah kurasakan sebelumnya, aku berbalik. Dan seketika aku terbungkam tanpa kata. Hanya lima hingga sepuluh kaki dari pagar yang membatasi pekarangan pondok, tanah itu terputus begitu saja.Guncangan itu telah membelah lantai New Aincrad itu sendiri. Tanah tempat kami berpijak kini melayang di udara—bukan, jatuh. Itulah sebabnya guncangan tadi berhenti. Sesaat kemudian, Asuna dan Alice menyadari hal yang sama dan akhirnya bisa bersuara. "Kirito... tanahnya!" "Rumahnya jatuh, Kirito!"Aku sadar akan hal itu, tetapi aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa menyaksikan dengan tak percaya saat potongan lantai dua puluh dua itu hanyut menjauh. Mungkin kecepatan jatuh kami terasa lambat karena bongkahan lantai yang membawa pondok kayu ini berdiameter lebih dari seratus yard dan mengalami hambatan udara yang besar. Jika kami jatuh bebas sepenuhnya, kaki kami pasti akan terangkat dari tanah, tetapi aku masih bisa berjalan, meski dengan sensasi gravitasi yang berkurang.Sebagian diriku cukup optimis berharap rumah ini mungkin takkan hancur saat kami mendarat, tetapi segera kutepis perasaan itu. New Aincrad melayang tiga puluh ribu kaki di atas Alfheim. Bahkan dengan udara virtual yang bertindak sebagai rem, pulau kecil tempat kami berada ini akan hancur lebur menjadi atom setelah jatuh dari ketinggian itu, tak menyisakan apa pun selain kawah. Mungkin tanahnya sendiri akan baik-baik saja, karena medan VR dianggap tak bisa dihancurkan—tapi HP kami dan daya tahan pondok ini akan lenyap seketika.Tidak, tunggu... Asuna, Alice, dan aku bisa selamat. Bagaimanapun juga kami memiliki sayap peri, jadi kami bisa lolos dari akhir yang mengerikan itu hanya dengan membentangkan sayap dan terbang. Namun kurasa Asuna takkan memilih cara itu. Dia tahu kami sedang jatuh, tapi dia masih mencengkeram pagar beranda hingga buku-buku jarinya memutih dan tak berniat melepaskannya sekarang.Aku memandangi istana melayang yang kian menjauh dari kami, tanganku juga menekan dinding pondok. Tampaknya seluruh istana itu sendiri sedang jatuh, bukan hanya pulau-pulau tanah yang terisolasi ini. Aku tak tahu apa yang terjadi pada New Aincrad, tapi tak diragukan lagi ini adalah bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di bawah langit yang memerah, siluet kerucut raksasa itu miring ke arah selatan dan terus jatuh. Pulau-pulau batu seukuran dengan tempat kami berada patah dari lantai-lantai di bawah kami.Lisbeth, Silica, dan Yui sedang menaikkan level di lantai empat puluh lima New Aincrad, seingatku. Aku mengkhawatirkan mereka, tapi hal terpenting saat ini adalah mencari cara menyelamatkan pondok kayu ini. Jika seseorang jatuh dari ketinggian tiga puluh ribu kaki sambil merentangkan anggota tubuh untuk memaksimalkan hambatan udara, butuh waktu sekitar tiga menit untuk mencapai tanah, menurut sesuatu yang sepertinya pernah kubaca sebelumnya. Itu berarti kami mungkin punya waktu yang sama sampai pulau kecil ini menghantam tanah Alfheim. Tapi karena ini dunia virtual, bisa jadi lebih cepat atau lebih lambat.Untuk menembus gemuruh udara di sekitar kami, aku berteriak sekuat tenaga, "Sialan! Kalau ini Underworld, aku bisa menggunakan kekuatan Incarnation-ku untuk mengangkat batu bodoh ini ke atas!" Seketika, ksatria bertelinga kucing yang berpegangan pada beranda membentak balik, "Berhenti mencoba menggunakan Incarnation untuk menyelesaikan setiap masalahmu!""J-jika ada situasi yang membutuhkannya, inilah saatnya!""Justru di saat darurat terbesarlah pola pikir seorang ksatria paling diuji!"Asuna telah memulihkan sedikit kesadarannya, dan dia memotong perdebatan kami dengan tegas: "Kau mungkin tak bisa menggunakan Incarnation, tapi mungkin masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan!"Cara dia mengatakannya membuatku berpikir sejenak bahwa Asuna mungkin benar-benar bisa memanggil kekuatan pembentuk geografi milik Stacia di dunia ini juga. Namun tentu saja, jawabannya sama sekali berbeda. "Ayo gunakan sayap kita untuk mendorong batu ini!"English Text: “What…?! You know there’s no way for us to lift a chunk of earth this big—,” I protested, but Asuna shook her head. “No, we’re not going to lift it, just change the trajectory. If we can push it to land in the right spot, then maybe…” “Oh…I—I get it!” I exclaimed, reading the intention of my longtime partner. “If we drop it onto water, or maybe sand or swamp, the shock should be alleviated somewhat!” Terjemahan Bahasa Indonesia:"Apa...?! Kau tahu mustahil bagi kita mengangkat bongkahan tanah sebesar ini—," protesku, tapi Asuna menggeleng."Tidak, kita tidak akan mengangkatnya, hanya mengubah lintasannya. Jika kita bisa mendorongnya agar mendarat di tempat yang tepat, maka mungkin...""Oh... A-aku mengerti!" seruku, membaca niat mitra lamaku ini."Jika kita menjatuhkannya ke air, atau mungkin pasir atau rawa, guncangannya seharusnya bisa sedikit mereda!""Begitu rupanya," gumam Alice seraya mengangguk. Ia membentangkan sayap perinya. Asuna dan aku menjauh dari pondok lalu melompat. Karena kami sedang jatuh bebas, hanya butuh sedikit dorongan ke atas agar avatar kami naik dengan cepat dari tanah.Pada ketinggian seratus yard di atas atap pondok, kami berhenti mengepakkan sayap dan menjaga jarak sembari kembali jatuh. Dalam posisi melayang (secara relatif) di atas pulau kecil itu, terlihat jelas bahwa bongkahan tanah itu mirip sepotong kue shortcake, paling banter seratus yard di satu sisi, tapi dua ratus yard di sisi lainnya.Pondok itu berada di ujung yang lebih sempit, jadi jika kami bisa menjatuhkan ujung yang lebih lebar ke air terlebih dahulu, mungkin ada peluang rumah kami bisa selamat—atau setidaknya itulah yang ingin kupercaya. Aku memandang jauh melampaui pulau itu. Tanah nun jauh di bawah sana adalah hutan hijau cemerlang. Hanya di wilayah Sylph dan Undine terdapat hutan luas nan rimbun seperti itu, tetapi pantulan air yang berkilauan di sana-sini menandakan bahwa, di antara keduanya, itu pasti wilayah Undine.Itu keberuntungan bagi kami. Gaya yang bisa kami bertiga hasilkan bersama sangatlah kecil, tetapi dengan banyaknya danau di bawah, jarak yang perlu kami dorong agar mendarat di salah satunya jadi lebih pendek—atau begitulah harapanku. Dengan konsentrasi penuh, aku berfokus pada lintasan turun diagonal pulau yang jatuh itu. Aku bisa melihat beberapa danau di bawah, tetapi tak satu pun yang tampak cocok dari segi ukuran dan bentuk. Perairan yang ideal haruslah panjang dan sempit, seperti landasan pacu bandara, tapi terlalu muluk untuk mengharapkan hal sepas itu—"Oh... di sana!" "Sebelah sana!" Asuna dan aku berteriak bersamaan. Permukaan berkilauan di kejauhan sana mungkin sungai, bukan danau, tapi cukup lebar untuk memberikan pendaratan air yang lunak bagi pulau itu. Lokasinya juga berada di sepanjang lintasan jatuhnya pulau. Hanya perlu geser dua ratus yard ke kanan, itu sudah cukup."Ayo cepat!" Alice membentangkan sayapnya lagi. Kami bertiga melesat turun menuju sisi kiri pulau. Segera setelah aku melewati tepi batu yang terjun bebas itu, peningkatan besar hambatan udara mendorongku kembali ke atas, tetapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menukik dan menembusnya hingga aku berada di sisi lapisan batu.Ketinggian kami saat ini sekitar empat ribu yard. Jadi untuk setiap dua puluh yard kami jatuh, satu yard gerakan lateral seharusnya bisa menempatkan kami dengan aman ke sungai. Kami bertiga takkan pernah bisa menggerakkan seluruh bongkahan tanah seperti ini saat berpijak di permukaannya. Itu hanya mungkin dilakukan saat di udara. Aku menempelkan tangan ke sisi batu yang gelap dan mengepakkan sayap sekuat tenaga.n to say, but now wasn’t the time for critique. Terjemahan Bahasa Indonesia:"Hrrraaaaah!" Di sebelah kananku, Asuna bergabung, dengan Alice di sebelah kiri."Hnggghh!!" "Hup-la!!" Itu terdengar seperti ucapan yang aneh bagi seorang Integrity Knight yang anggun dan wanita muda untuk diucapkan, tapi sekarang bukan waktunya memberi kritik.Jika kami mencoba ini selama periode ketika RCT Progress mengelola ALO, gauge terbang kami pasti sudah kering dalam sekejap, membuat kami jatuh tanpa daya. Namun tim manajemen baru, Ymir, jauh lebih murah hati dan menghapus semua batasan penerbangan. Kami bisa menggunakan energi sebanyak yang kami mau tanpa kehabisan. Bongkahan batu itu, yang panjangnya empat ratus yard, awalnya menolak usaha kami layaknya raksasa, tetapi karena kami gigih, lintasannya perlahan bergeser."Kalau kita mendorong terlalu jauh, kita takkan bisa mengoreksi arahnya!" peringat Alice. Kami hanya bisa mengikuti insting pada titik ini."Tapi bahkan sekarang, peluang kita sampai ke sana masih kecil... kurasa! Jangan ragu—dorong saja!""Aku percaya pada keberuntunganmu, Kirito!" teriak Asuna.Yah, aku sendiri tak percaya pada keberuntungan itu. Aku hanya harus meyakinkan diri bahwa jika selama ini aku menabung keberuntungan, inilah saatnya untuk menggunakannya. Selama lebih dari sepuluh detik, kami bersusah payah mendorong pulau itu menembus angin yang menderu.Tanah kini jauh lebih dekat. Kami hanya tinggal seribu yard di atas... sembilan ratus... delapan ratus. Aku belum bisa melihat sungai itu, saat melihat ke bawah melewati sisi batu. Tanpa sadar, aku mulai menendang-nendangkan kaki dalam upaya bawah sadar untuk menambah tenaga. Setiap ons kekuatanku dikerahkan untuk mendorong.Cahaya bersinar dari bawah. Permukaan air..."Itu sungainya! Dorong lima detik lagi, lalu lepaskan!" Teriakku. Asuna segera memulai hitungan mundur."Empat! Tiga! Dua! Satu! Sekarang!"Kami bertiga membentangkan sayap untuk melakukan pengereman mendadak. Aku merasakan sentakan kuat yang melempar tubuhku ke belakang, nyaris membuatku berputar tak terkendali, tetapi kami saling mengunci lengan agar tetap stabil dan tegak.Bongkahan batu besar berbentuk kue shortcake itu meluncur deras menuju air dengan bagian belakang terlebih dahulu. Pondok kayu masih bertengger di ujung yang lancip; bilah langit-langit dan tiang pagar berhamburan lepas, tetapi bangunan itu dengan keras kepala menolak untuk runtuh. Asalkan air menyerap cukup banyak dampak benturan itu...Aku berdoa kepada tuhan yang mungkin tak bersemayam di dunia virtual ini seiring detik-detik penentuan itu mendekat. Tiga detik kemudian, dasar bongkahan batu itu bersentuhan dengan permukaan air.Tirai air biru menyembur tinggi ke udara di kejauhan. Air yang bergerak adalah elemen dalam realitas virtual yang cenderung disederhanakan demi menghemat daya pemrosesan, tetapi realisme semburan air di sini membuatku takjub; aku tak percaya ALO mampu menampilkan detail sedemikian rupa. Pulau itu memantul, lalu memantul lagi, dan lagi.Di setiap benturan, pondok itu berderit dan retak. Kumohon bertahanlah! pintaku, tetapi seolah hendak mengejekku, pulau batu itu terbelah tepat di tengah. Kali ini air memberikan tekanan balik lebih keras, dan pulau kecil yang posisinya nyaris vertikal itu tak sanggup menahan energi kinetik yang menerpanya, lantas patah di bagian tengah."Aaah...!" ratap Asuna. Aku menggenggam tangannya yang gemetar. Ujung pulau kecil yang memuat pondok kayu kami patah dari bagian belakangnya dan terlempar ke udara. Di depan sana sungai membelok tajam, sehingga tak banyak air tersisa di arah itu untuk meredam benturan. Di seberang sungai terhampar hutan lebat. Bongkahan batu itu menghunjam ke dalamnya, melontarkan pohon-pohon konifer raksasa ke udara. Awan tanah dan debu yang menyesakkan membumbung tinggi, menghalangi pandangan kami.Terakhir, terdengar gemuruh yang dalam... dan kemudian sunyi senyap secara aneh. Aku terjebak di antara hasrat ingin mengetahui nasib pondok kayu itu dan keengganan melihatnya hancur berkeping-keping. Baik Asuna maupun Alice tak mengucapkan sepatah kata pun. Kami bertiga hanya melayang di sana, memandangi jejak debu yang mengepul.Oh, tapi bagaimana dengan sisa New Aincrad? Itu juga jatuh bersama kami. Aku baru saja berbalik untuk meninjau nasib istana melayang itu—ketika dua hal terjadi secara beruntun. Pertama, pola pesan peringatan merah heksagonal yang memenuhi langit lenyap ke arah cakrawala dengan kecepatan yang sama seperti saat kemunculannya.Kemudian kekuatan yang membuat tubuhku melayang sirna seketika."Ap—?!" pekikku, berusaha mengepakkan sayap di punggungku, tetapi itu tak menghasilkan gaya angkat sekecil pikoneutron pun. Para gadis menjerit, dan kami semua mulai jatuh menukik dengan kepala lebih dulu menuju permukaan sungai, tiga ratus kaki di bawah sana.Kupikir ada yang salah dengan mekanisme terbang manualku, jadi aku mengibaskan tangan kiri untuk memunculkan pengontrol bantuan. Namun jari-jariku hanya mencengkeram udara kosong. Dan aku tak berhenti jatuh. Jatuh dari ketinggian ini, bahkan ke air, akan menyebabkan kerusakan fatal.Lalu terlintas di benakku, jika kami bertiga mati, titik respawn kami diatur di pondok kayu. Jika pondok kayu itu hancur atau lenyap, di mana kami akan hidup kembali? Kota terdekat? Titik spawn sebelum itu, di Kota Yggdrasil?Dan jika pondok kayu kami lenyap, di dalamnya masih tersimpan semua item milik kami, termasuk benda-benda yang menyimpan kenangan. Kami harus mengambilnya kembali. Jika kami bangkit kembali di tempat yang sangat jauh, bisakah kami kembali ke sini sebelum item-item itu lenyap? Kami harus menghindari kematian di sini."Meringkuklah seperti bola, kalian berdua!"Di ALO—sebagaimana halnya di SAO—damage jatuh dipengaruhi oleh posisimu saat mendarat. Jika di bawah ada tanah, kau harus mendarat dengan kaki, tetapi jika ada air yang kedalamannya tak diketahui, posisi defensif total adalah yang paling aman. Tekuk kaki ke arah dada, lindungi kepala dengan lengan, dan tahan napas.Benturan.HP-ku langsung berkurang separuh. Sesuatu dalam benakku menimbulkan pertanyaan saat itu terjadi.Namun aku tak punya kesempatan untuk menelusuri sumber pertanyaan itu sekarang. Gelembung buih menyembur dari mulutku, dan air biru membanjiri diriku saat aku tenggelam. Aku merentangkan anggota tubuh, mencoba menghentikan laju tenggelam, berjuang menuju permukaan."Bwaaah!!" Aku terengah-engah mencari udara saat kepalaku menembus permukaan sungai. Tak lama kemudian, Asuna dan Alice juga muncul. Tampaknya mereka menderita jumlah kerusakan yang sama denganku.Tapi tidak cerdas rasanya berenang di tempat dengan HP yang tinggal separuh. Aku tak tahu banyak tentang wilayah Undine, tapi sungai-sungai besar seperti ini biasanya menjadi sarang aligator, kura-kura, belut, dan monster sejenisnya. Lebih baik kami segera menepi ke bantaran sungai sebelum mereka mulai menggigiti jari kaki kami."...Kita benar-benar tidak bisa terbang lagi...," gumam Alice.Kulihat sayapnya lenyap begitu saja. Dan anehnya, meski telinga kucing Alice masih ada, telinga peri Asuna yang panjang kembali terlihat seperti telinga manusia. Telingaku mungkin juga begitu. Firasat burukku kian memuncak, tetapi keselamatan adalah prioritas utama sekarang."Kita terpaksa harus berenang," ujarku.Keduanya mengangguk. Tak banyak yang bisa dilakukan selain berenang menuju tepian kanan, ke arah jatuhnya pondok kayu. Untungnya, tak ada predator yang melompat dari air menyerang kami. Kami mencapai tanah keras dengan tubuh basah kuyup, lalu berhenti sejenak untuk mengatur napas. Napas Asuna yang tersengal tampak lebih dari sekadar kelelahan, jadi aku mengulurkan tangan untuk menopangnya.Di hutan depan sana, pepohonan telah tumbang dengan dahsyat seolah-olah binatang raksasa Jotunheim baru saja menerjang melewatinya. Efek awan debu telah mereda, tetapi pulau kecil yang membawa pondok kayu itu tak terlihat dari sini. Entah itu tersembunyi oleh lekukan tanah—atau memang sudah musnah sepenuhnya."...Aku tidak apa-apa," bisik Asuna seraya menegakkan tubuh."Kita harus cari tahu apa yang terjadi pada rumah kita.""Aku yakin rumah itu baik-baik saja," kata Alice sembari mendekat, mengibaskan sisa air dari tubuhnya.Ia menyentuh salah satu telinga segitiganya dan menyadari, "Ini tidak kering-kering..." Benar saja, air masih menetes dari lengan dan ujung mantel hitamku. Versi ALO saat ini mengunggulkan kemudahan bermain, jadi "efek basah" yang sangat tidak nyaman biasanya tak bertahan lama. Dalam hitungan detik setelah keluar dari air, rambut dan pakaianmu seharusnya sudah kering sempurna kembali.Mungkin jatuhnya New Aincrad bukan sekadar kejadian aneh belaka, melainkan bagian dari gangguan yang lebih besar dan serius. Dilanda firasat yang kian buruk, aku mengibaskan tangan untuk memanggil menu dan memastikan senjataku terpasang. Namun menu itu tidak muncul. "Oh, yang benar saja..."Aku melakukan gerakan menyentil dengan dua jari, bolak-balik. Namun efek suara yang biasa tak menyertai gerakanku. Aku mencobanya dengan tangan kanan dan hasilnya nihil. Kita tidak benar-benar mengulangi ini lagi, kan...? pikirku, merasakan hawa dingin merambat di punggungku. Namun kemudian terdengar bunyi denting samar, dan sebuah jendela kecil muncul di bawah tangan kananku yang terangkat. Aku buru-buru memeriksanya dan melihat tulisan dengan huruf polos yang berbunyi Tips: Untuk memanggil jendela menu, buatlah lingkaran searah jarum jam dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kananmu."...Lingkaran?" Aku bingung tapi tetap mengikuti petunjuk itu, menggambar lingkaran di udara dengan dua jari, kira-kira selebar empat inci. Dengan suara yang asing dan berbeda, jendela menu berwarna ungu samar muncul. Aku merasa lega sesaat—sampai aku melihat isi jendela itu, dan bersama Asuna serta Alice, aku terkesiap.Pertama, layar menunya bukanlah tata letak persegi yang familier dari SAO dan ALO, melainkan lingkaran ikon-ikon sederhana—sebuah ring menu. Itu bukan format yang langka, tapi aku belum mendengar apa pun tentang ALO yang mengubah UI. Tertegun, aku menggerakkan jari di sekitar jendela itu. Setiap ikon yang ditunjuk sesaat akan membesar dan menampilkan hamparan teks alfabet Inggris.Searah jarum jam dari atas, ikon-ikon itu adalah untuk STATUS, SKILLS, EQUIPMENT, STORAGE, QUESTS, MAP, COMMUNICATION, dan SYSTEM. Kumpulan menu yang sangat ortodoks untuk sebuah MMORPG, tetapi bahkan itu pun terasa dingin dan asing dalam situasi seperti ini. Aku mengetuk ikon SYSTEM di kiri atas dengan jari-jari yang kaku.Ikon-ikon melingkar berputar dan membelah diri, menampilkan sejumlah submenu. Grafik, suara, pengaturan UI—dan ikon berbentuk pintu untuk log out."Fiuuh...," Asuna dan aku mendesah serempak. Alice awalnya agak bingung, tetapi kemudian menyadari alasan kelegaan kami."Ah, kalian sedang memikirkan Sword Art Online.""Benar...," sahut Asuna dengan senyum kecut."AmuSphere dirancang dengan memprioritaskan keamanan, jadi hal yang sama mustahil terjadi lagi... tapi setiap kali terjadi sesuatu di luar dugaan di dunia virtual, aku tak bisa menahan rasa waswas.""Itu reaksi yang wajar," ujar sang ksatria dengan ekspresi kehangatan yang langka—meski mungkin agak jahat mengatakannya begitu tentang dia. Namun kemudian ia menggeleng dan kembali ke nada tegasnya yang biasa."Akan tetapi, aku tak bisa memahami pria bernama Kayaba itu. Lebih dari seratus ribu manusia mati setiap hari di dunia nyata, jadi mengapa ia mengurung anak-anak muda di dalam dunia virtual yang katanya aman ini dan memaksa mereka mempertaruhkan nyawa serta bertarung melawan monster dan manusia lain...? Apa untungnya baginya?"Baik Asuna maupun aku tak bisa menjawab pertanyaan yang sangat blak-blakan ini. Apa yang—apa yang diinginkan Kayaba Akihiko? Kami sudah memikirkan hal ini selama hampir empat tahun dan tak kunjung memahami motivasinya."...Kalau kau ingin tahu, kurasa kau harus menanyakannya langsung padanya. Meskipun, aku ragu dia akan memberimu jawaban yang lugas," kataku, menutup ikon SYSTEM. Demi alasan keamanan semata, kami mungkin harus log out dulu, tapi sebelum itu, aku ingin memeriksa status pondok kayu.Namun sebenarnya, ada hal lain yang harus dipastikan lebih dulu. Apa yang terjadi pada sisa New Aincrad, yang seharusnya jatuh ke tanah sedikit lebih lambat daripada pondok? Aku tak bisa membayangkan konstruksi raksasa seperti itu hancur begitu saja tanpa jejak. Pemain mana pun yang terjebak di dalamnya mungkin terkena damage jatuh setelah terhempas dari ketinggian sedemikian rupa.Aku ingin mengirim pesan pada Lisbeth, yang pergi ke lantai empat puluh lima untuk menaikkan level skill bersama Silica, jadi aku meraih ikon COMMUNICATION namun menahan diri. Ada cara yang lebih cepat untuk melakukan ini ketimbang mengetik di papan ketik holo."Yui, kau di sana?" ucapku pada udara kosong, lalu menunggu. Asuna dan Alice ikut menatap udara kosong juga.Yui, kecerdasan buatan yang lahir di SAO, terdaftar dalam sistem ALO sebagai navigation pixie pribadiku. Tak seperti pixie lainnya, dia bisa bertindak sendiri di tempat lain, tapi jika aku memanggil namanya, dia bisa muncul seketika di hadapanku, tak peduli di mana pun dia berada di peta dunia. Itu dalam keadaan normal."......"Aku menunggu dan terus menunggu, tapi tak terjadi apa-apa. Setiap kali aku melakukan ini sebelumnya, dia selalu langsung muncul di udara di dekatku."...Kirito, apa yang terjadi pada Yui?" gumam Asuna cemas.Aku berusaha menekan kepanikan yang mulai timbul."Dia bersama kelompok Liz di lantai empat puluh lima, aku cukup yakin...""Kalau begitu seharusnya dia terhubung ke ALO," kata Asuna. Aku ragu tapi hendak menyetujui pernyataan itu, ketika Alice melangkah maju dan menatap ke langit, yang kini sudah biru kembali."Kurasa pertanyaannya adalah... apakah kita masih berada di Alfheim?""Hah...? A-apa maksudmu?" tanyaku terbata.Alice mengalihkan mata birunya ke hutan di belakang kami."Meski kau mungkin tidak menyadarinya, Kirito, variasi tanaman di Alfheim sangat terbatas dibandingkan Underworld—dan terutama dunia nyata. Hanya ada sekitar tiga puluh jenis pohon, antara pohon peluruh dan konifer... Tapi ada banyak jenis pohon di hutan itu yang belum pernah kulihat di Alfheim.""Oh... Sekarang setelah kau mengatakannya...," gumam Asuna. Aku ikut menatap hijaunya hutan. Detail medannya tampak sangat tinggi... tapi aku tak bisa membedakan jenis-jenis pohonnya. Asuna punya minat pada pohon langka dan perabotan kayu, dan dia tampaknya setuju dengan penilaian itu.Dia menoleh padaku dan berkata, "Alice benar. Ada berbagai jenis pohon di sini yang tidak tumbuh di Alfheim. Ditambah lagi... aku merasa ada hal lain yang aneh.""Aneh? Bagaimana?""Ada banyak danau di wilayah Undine di Alfheim, tapi sebagian besar terhubung melalui reservoir bawah tanah. Tidak ada sungai besar di sana seperti yang satu ini."Setelah dia menunjukkannya, rasanya itu akurat bagiku, tapi aku tahu bahwa tiga puluh menit yang lalu, aku dive ke ALO dari perangkatku, dan tidak ada peta medan di ALO selain Alfheim itu sendiri. Mungkin alam lain dari mitologi Nordik seperti Asgard, alam para Aesir, atau Vanaheim, rumah para Vanir, telah ditambahkan sebagai event kejutan. Tapi ini tampak terlalu keras dan kacau untuk menjadi sesuatu seperti itu."...Tapi kita pasti masih di ALO, dan itu berarti Yui seharusnya merespons panggilan," kataku, seolah mencoba meyakinkan diriku sendiri. Aku meraih menu cincin itu lagi dan mengaktifkan ikon STATUS di bagian atas lingkaran. Ikon bulat itu berdesing dan membesar, membelah menjadi empat bagian dan berganti menjadi jendela persegi panjang."Lihat, ini semua data karakterku, tepat di mana aku..." Kata-kataku lenyap bagaikan asap. Tepat di bagian atas jendela tertera nama avatarku: Kirito. Tapi itu satu-satunya bagian dari status karakterku yang aku kenali.Di sebelah kanan namaku ada teks bersinar yang bertuliskan Lv.1. Di bawahnya, empat batang berwarna. Secara berurutan, itu untuk HP, MP, TP, dan SP. Di atas batang HP, tertulis 98/200, sementara batang MP, TP, dan SP semuanya bersinar putih dan tertulis 100/100. HP dan MP cukup jelas—tapi bagaimana dengan TP dan SP? Dan lebih parah lagi..."......Level-1......"Asuna dan Alice mendengarku mengerang dan menatapku, lalu membuat gerakan melingkar yang sama dengan tangan mereka di udara untuk membuka menu cincin. Begitu mereka bisa melihat jendela status mereka, mereka melapor bersamaan."Tulisannya aku level-1 juga!""Aku juga!""Apa yang terjadi?!""Apa artinya ini?!"Mereka menoleh ke arahku, tapi yang bisa kulakukan hanyalah menggelengkan kepala, gemetar. "A-aku tidak tahu kenapa kalian bertanya padaku... Aku sendiri sangat syok... Tapi masalahnya, ALO seharusnya tidak..."...memiliki level. Aku bisa mendengar suara Agil memutar ulang apa yang dikatakannya saat dia mengajariku tentang cara kerja gim ini, satu setengah tahun yang lalu.Gim ini sangat berfokus pada skill, artinya tidak ada sistem level. Kau hanya meningkatkan skill-mu melalui penggunaan, dan sebagian besar, hit point-mu tidak naik sama sekali. Entah kenapa, aku juga mendapat bayangan mental yang jelas dari pemilik toko berkepala plontos itu yang memberiku senyum dan acungan jempol. Kesal, aku mengusir bayangan itu supaya aku bisa memikirkan masalah ini.Jika bukan hanya UI yang diubah, tapi bahkan sistem level/skill yang menjadi akar perkembangan pemain ikut berubah, maka ini sudah di luar batas sekadar pembaruan belaka. Jelas ini bukan lagi ALfheim Online yang kutahu. Aku memalingkan wajah dari data karakter level-1 dan memeriksa indikator batang di kiri atas penglihatanku. Batang HP-ku hampir tidak bergerak dari titik tengahnya setelah jatuh ke sungai.Di bawahnya ada batang MP hijau dan dua batang baru lagi di bawahnya. Yang biru mungkin TP, dan yang kuning SP. Alasan aku merasa aneh saat melihat batang HP-ku ketika jatuh mungkin karena alam bawah sadarku menyadari ada elemen tambahan yang tak familier di tampilan."...Kurasa saat sayap kita lenyap, dan kita jatuh... itulah saat sistem beralih... Dan telinga kita berubah...," gumamku.Asuna menyentuh telinganya yang memendek dan menambahkan, "Ini tak mungkin pembaruan normal jika mereka me-reset total data karakter kita. Dan UI-nya terlalu rapi untuk dianggap semacam kecelakaan atau bug...""Benar," kataku, melingkari menu dengan jariku. Cara ikon-ikon itu membesar dan mengecil sangat mulus, dan jelas telah deprogram dengan sangat teliti.Aku tidak melihat ikon notifikasi untuk pesan masuk, tapi kupikir mungkin ada pemberitahuan untuk pemain dari Ymir, tim pengembang, jadi aku memilih ikon COMMUNICATION. Itu menampilkan sub-ikon untuk PARTY, FRIENDS, dan MESSAGES. Aku memilih yang ketiga. Tak ada satu pun pesan baru di jendela yang muncul. Malahan, seluruh isi kotak masuk telah hilang. Ditambah lagi, daftar temanku kosong. Sekarang aku tak bisa mengirim pesan ke kelompok Liz dan Silica."Jadi statistik dan daftar teman kita sudah dihapus total," kataku sambil menghela napas.Alice menggeleng, rambut pirangnya bergoyang. "Tapi kita tidak kehilangan segalanya, kan? Kita masih punya ini." Dia mengangkat tangan kirinya dan mengetuk sarung tangan emas yang masih terpasang di sana. Benar, baik Asuna maupun aku masih mengenakan zirah kami.Perlengkapan kami telah dibuatkan oleh Lisbeth dengan bahan yang dikumpulkan hati-hati, atau didapat dengan menaklukkan dungeon sulit di New Aincrad, jadi jika ada yang tersisa, setidaknya itu perlengkapan kami. Dan air yang terserap akhirnya mulai kering. Jika zirah kami masih ada, maka senjata yang tidak sedang kami pakai seharusnya juga ada, harapku... dan memeriksa menu penyimpanan item.Daftar item juga telah dipermak dari format teks sederhana yang lama. Sekarang ada ikon grafis persegi untuk setiap item yang disusun dalam kisi, jadi kau bisa melihat bentuknya tanpa mengeluarkannya. Memang lebih mudah dilihat, tapi masalahnya kisi raksasaku hanya berisi dua ikon kecil. Keduanya adalah pedang satu tangan. Satu adalah Blárkveld, karya buatan bengkel Lisbeth, dan satunya lagi adalah pedang suci Excalibur, yang kudapatkan di Jotunheim. Semua item lain yang memenuhi inventarisku sebelumnya telah lenyap tanpa jejak."Aku cuma punya pedangku...," erangku. Sementara itu, Asuna dan Alice mendongak dari layar mereka sendiri untuk menimpali."Aku juga. Aku hanya punya rapier dan tongkatku.""Sama denganku. Aku punya pedang dan perisaiku.""Hmm... Aku tahu aku punya senjata lain di sana juga. Kenapa hanya yang favorit yang tersisa...?" tanyaku heran.Alice mengangkat bahu. "Mungkin karena itu favoritmu? Item dengan masa penggunaan terlama yang tersisa, dan yang lainnya lenyap...""Begitu ya. Kalau begitu... ini pasti fenomena buatan manusia. Tidak ada bug atau kecelakaan yang dengan mudahnya menyisakan perlengkapan favoritmu." Untuk mengeluarkannya dari inventaris, aku mengetuk ikon pedang biasaku, BLÁRKVELD, dan memilih EQUIP dari submenu. Ikon pedang itu lenyap, dan aku merasakan beban yang familier dan menenangkan di punggungku—"Bwauh...?!" Tapi kenyataannya, beban itu jauh dari kata menenangkan. Rasanya seperti ada balok konstruksi baja raksasa yang diikatkan ke punggungku. Lututku goyah, dan untuk menghindari jatuh memalukan dengan pantat duluan, aku mengayunkan lengan dan secara naluriah mencengkeram apa pun yang bisa diremas jari-jariku."Kyaaa!" "Hei, apa yang kau—?!" Dua jeritan itu membuatku mendongak, dan kulihat tangan kananku memegang sabuk pedang Asuna, sementara tangan kiriku memegang milik Alice. Itu hal yang paling tidak jantan yang bisa kulakukan, tapi kalau aku lepaskan, tamatlah sudah. Aku akan jatuh tepat di kerikil bantaran sungai.
"M-maaf, bertahanlah sebentar lagi!" pintaku saat mereka terus menjerit. Akhirnya, aku nyaris berhasil menarik diri hingga bisa menyentuh tanah dengan satu lutut, bukan pantatku. Aku melepaskan sabuk pedang para gadis itu dan meletakkan tangan di tanah untuk menopang tubuh atasku.Aku nyaris terhindar dari jatuh terguling, tapi berat pedang itu masih luar biasa. Aku tak bisa berdiri. Di ruang sebelah kanan batang HP-ku, ada ikon pemberat kertas logam yang berkedip merah. Aku belum pernah melihatnya, tapi artinya jelas: aku melebihi batas beban. Tapi kenapa? Jawaban atas pertanyaan itu datang dari Asuna, wajahnya memerah saat dia menarik sabuknya ke atas."Oh, aku mengerti... Karena semua status kita di-reset, jumlah beban yang bisa kita bawa jadi turun. Itu pedang terbaru buatan Liz untukmu, kan? Tentu saja kau tak bisa mengangkatnya dengan status pemula.""Ugh, yang benar saja...? Jadi mereka menyisakan benda ini padaku, tapi aku malah tak bisa menggunakannya...?" gerutuku sembari memeriksa layar status yang masih terbuka. Ada dua meteran yang tampaknya berkaitan dengan beban. Yang di atas bertuliskan Equip Weight, sedangkan yang di bawah bertuliskan Carry Weight. Itu cukup jelas. Meteran Carry Weight, yang mungkin berhubungan dengan inventarisku secara keseluruhan, hanya terisi sepertiga, tetapi meteran Equip Weight berwarna merah terang dan terisi penuh hingga ke tepi kanan.Dalam artian itu, fakta bahwa carry weight-ku terisi hampir sepertiga hanya gara-gara satu senjata di penyimpanan—entah itu Excalibur legendaris atau bukan—cukup meresahkan."Gawat... jika kita tak punya senjata yang bisa dipakai, kita takkan punya harapan menang kalau ada monster yang menyerang kita sekarang," ujarku mengingatkan.Asuna mengangguk, ekspresinya suram. "Benar. Dan tebakanku skill sihir kita juga sudah di-reset... juga......"Suaranya menghilang secara tak wajar, jadi aku memalingkan wajah dari layar status. Wajahnya tampak kendur, menatap kosong seolah jiwanya telah meninggalkan tubuhnya. Kemudian ia tersentak kembali sadar dan memutar menu cincin dengan kecepatan luar biasa. Berdasarkan pergerakan jarinya, kutebak ia sedang membuka dan memeriksa menu skill."A-ada apa, Asuna?"Sang Undine tidak menjawab. Ia hanya mengetuk bagian jendela itu dengan jari gemetar, lalu beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas lega yang luar biasa."...Ada apa?" tanyaku lagi, masih berlutut dengan satu kaki. Asuna menatapku dan tersenyum lemah."Kupikir kita mungkin kehilangan skill senjata... dan semua sword skill yang sudah kita pelajari juga. Tapi... meski skill sihir dan peracikan obat mungkin hilang, aku masih punya skill Rapier. Kemahiran dan sword skill-ku masih ada di sana."Saat itulah aku akhirnya mengerti. Ada hal lain di sini yang dihargai Asuna setidaknya sama berharganya dengan pondok kayu itu. Itu adalah sword skill orisinal, Mother’s Rosario, yang diberikan padanya oleh Yuuki, sang pejuang terhebat, yang telah berpulang dalam tidur abadi baru setengah tahun lalu. Syukurlah, jurus itu dan semua teknik lain yang telah ia pelajari masih ada di sini."Mm-hmm... Aku juga masih punya skill Pedang Satu Tangan-ku. Seperti halnya senjata, tampaknya skill dengan tingkat kemahiran tertinggilah yang dipertahankan," ujar Alice. Dia mungkin benar soal itu. Itu artinya skill Pedang Satu Tangan milikku juga aman.Aku menoleh ke Asuna dan bertanya-tanya, "Um... jadi, Asuna, apa itu artinya skill Rapier-mu lebih tinggi daripada skill Sihir Air-mu...?""Ada masalah dengan itu?" tanyanya sambil melotot.Aku buru-buru menggeleng. "T-tidak, tidak sama sekali. Aku cuma teringat julukan Berserk Healer milikmu itu...""Sekarang karena aku tak punya skill sihir lagi, aku tanggalkan julukan itu," kata Asuna, memalingkan wajah dengan kesal. Saat ia menoleh kembali, ia menambahkan, "Dan sampai kapan kau akan terus begitu, Kirito? Tak ada gunanya membawa-bawa pedang yang tak bisa kau pegang. Masukkan kembali ke inventarismu.""B-baik, baiklah..." Namun dalam upaya perlawanan terakhir, aku mencoba bangkit berdiri dengan Blárkveld di punggungku. Satu-satunya yang terjadi hanyalah lututku gemetar—dan tak terangkat sama sekali. Aku mengerang dan mengejan, tetapi tak menghasilkan apa-apa selain helaan napas dari Asuna dan Alice. Akan tetapi, usahaku tidak sia-sia.Terdengar efek suara desingan dan denting, lalu sebuah jendela kecil muncul di depan mataku. Aku mengerjap berulang kali saat membaca pesannya: Skill Physique didapatkan. Kemahiran naik menjadi 1. Jadi dunia ini tampaknya berbagi sistem berbasis skill yang sama dengan ALO. Ketika tindakan pemain memenuhi kondisi pemicu kemahiran, sistem akan mengundi peluang untuk mendapatkan skill atau meningkatkan level kemahirannya.Aku belum pernah melihat skill Physique ini sebelumnya, tapi mungkin mirip dengan Carry Limit Expansion dari SAO, jadi semakin tinggi kemahiranku, semakin berat beban yang bisa kubawa. Dengan kata lain, jika aku terus memikul beban pedangku yang luar biasa berat itu, perlahan-lahan itu akan meningkatkan skill Physique-ku hingga ikon merah kelebihan beban itu menghilang—tapi aku tak tahu berapa jam atau bahkan berapa hari hal itu akan memakan waktu.Lebih baik mematuhi perintah Asuna dan kembali ke layar perlengkapan, lalu menyeret ikon BLÁRKVELD di ruang tangan kananku ke area inventaris dan melepasnya. Seketika, beban di punggungku lenyap, dan aku melompat berdiri. Aku meregangkan tubuh, melemaskan otot-otot yang kram—tentu saja itu semua hanya ilusi mental—dan melihat ke arah jatuhnya pondok kayu. Para gadis itu menatap diam ke seberang sungai bersamaku."...Ayo jalan," gumamku, dan mereka mengangguk. Aku gugup berjalan ke dalam hutan tanpa senjata terpasang, tapi kami tak bisa hanya duduk di bantaran sungai ini dan menunggu selamanya. Bantaran sungai itu dipenuhi batu-batu besar dan kecil. Tiba-tiba aku punya ide, jadi aku masuk ke ring menu dan memilih COMMUNICATION, lalu PARTY, dan akhirnya mengetuk ikon INVITE agar bisa mengirim undangan ke Asuna dan Alice.Saat mereka menerima, indikator baru muncul di kiri atas bidang pandangku. Fungsionalitas antarmuka dasar itu sama dengan ALO, GGO, dan SAO, jadi setidaknya bisa kutebak bahwa kami berada di dunia VRMMO yang berbasis mesin The Seed."HP dan MP aku mengerti, tapi untuk apa batang TP dan SP ini...?" tanya Asuna sambil berjalan.Keduanya penuh dan tidak berubah, jadi belum ada cara untuk mengetahuinya sekarang."Kurasa akan jelas nanti kalau isinya berkurang," kata Alice, yang memiliki pemikiran serupa.Asuna menyeringai dan berkata, "Kurasa kau benar."Mungkin mereka berdua bisa akur lebih baik daripada yang mereka sadari, pikirku namun tak berani mengucapkannya keras-keras.Akhirnya, pendakian hati-hati kami melewati bebatuan membawa kami ke ujung depan jalur kerusakan mengerikan tempat pondok itu jatuh ke dalam hutan. Pohon-pohon raksasa tercabut dari akarnya, sebuah pemandangan yang mengejutkan, tapi setidaknya itu memberikan sedikit rintangan bagi monster apa pun yang mungkin ada di sekitar.Sebelum kami melangkah ke bekas luka baru di permukaan tanah itu, aku memeriksa ikon MAP sekadar untuk memastikan, tapi seperti dugaanku, itu hanya berisi area terpetakan yang sudah kami lihat sendiri. Entah ini benar-benar wilayah Undine di Alfheim atau bukan, data peta telah di-reset. Tapi setidaknya aku bisa tahu bahwa kami berjalan ke arah timur laut—dengan asumsi "atas" pada peta berarti utara.Kami berjalan hati-hati melewati labirin batang pohon tumbang yang berantakan, memanjat, menunduk, dan menyelip di celah-celah kosong, hingga setelah sekitar lima puluh kaki, jalan kami terhalang oleh dinding kayu setinggi avatar kami. Akan mudah melompatinya jika kami masih punya sayap, tapi kali ini kami tak punya pilihan selain memanjat."Hup..." Ini mengingatkanku saat masih kecil dan bermain dengan adikku, Suguha, di wahana rintangan taman petualangan di Taman Isanuma, di kampung halamanku Kawagoe.Aku sudah separuh jalan memanjat dinding ketika Asuna berkata, "Ah... bagaimana jika kita...?" dan mengetuk kayu gelondongan tempat kaki kananku berpijak. Sebuah jendela berputar muncul disertai efek suara desingan kecil."Aha, aku benar! Kayu ini dianggap sebagai item material. Kupikir ini akan masuk ke inventaris kita jika kita memilihnya.""T-tunggu, jangan dulu sampai aku selesai memanjat dari—," ujarku, ketika tiba-tiba kayu besar di bawah kakiku bersinar biru dan menghilang."Nwaaa!!"Kakiku menjejak udara kosong. Tanpa ada yang menopangku, kali ini aku benar-benar jatuh terduduk, dan kemudian sejumlah batang pohon lain menggelinding ke arahku karena penahannya hilang."Ah, maaf!" "Maafkan aku, Kirito." Asuna dan Alice mencengkeram kerah belakangku dan menyeretku menyingkir. Jika terlambat sedetik saja, kayu-kayu itu pasti sudah menggepengkanku.Jadi aku hampir mati, tapi Asuna telah menemukan metode sederhana untuk menyingkirkan rintangan yang menghalangi jalan kami—aku anggap itu impas. Kami bertiga mengetuk kayu-kayu dan menyerapnya ke dalam inventaris kami, dan dalam hitungan detik, dinding itu hilang, tapi kapasitas beban bawaan kami sudah terisi lebih dari 90 persen. Kami harus menggunakan kemampuan fisik manual mulai titik ini.Untungnya, tidak ada lagi dinding yang cukup tinggi untuk dipanjat, jadi serangkaian gerakan melompat dan menunduk sudah cukup. Beberapa menit kemudian, ruang di depan kami terbuka jauh lebih lebar. "Ah...," desah Asuna. Awalnya aku tak bisa membedakan apakah itu karena lega atau syok.Pondok kayu yang menyimpan begitu banyak kenangan kami tergeletak di tengah lapangan kecil di hutan, rusak parah. Bangunan itu lolos dari kehancuran total, tapi kondisinya jauh dari kata utuh. Dinding kiri telah menyerap damage guncangan terus-menerus akibat jatuh hingga hancur lebur, sedangkan atap serta bagian tengah pondok penyok parah. Setiap kaca jendela telah pecah, dan beranda serta tangga depan tampak seperti telah diinjak-injak dan digepengkan oleh Dewa Sesat dari Jotunheim.Tapi mengingat pondok itu jatuh dari ketinggian ribuan demi ribuan kaki, praktis merupakan keajaiban bahwa bangunan itu masih menyerupai rumah. Itu mungkin berkat dampak awal yang diserap oleh sungai—dan banyaknya pohon yang dikorbankan untuk memperlambat lajunya setelah memantul. Asuna mulai berlari ke arahnya. Alice dan aku mengikutinya.Dia berhenti di beranda yang runtuh dan menatap pondok itu dalam diam. Alice hendak mengatakan sesuatu untuk menghiburnya, lalu mengurungkan niatnya dan menatapku."Kirito... adakah cara kita bisa memperbaiki rumah ini?""Memperbaiki...? Masalahnya, rumah pemain seharusnya adalah objek yang tak bisa dihancurkan... Mereka bahkan tidak punya nilai durabilitas sejak awal," kataku, berjalan menghampiri Asuna.Aku mengetuk pagar beranda yang bengkok secara diagonal. Saat aku memeriksa jendela yang muncul, aku berseru kaget. Di ALO, saat kau melihat properti rumah milik pemain, yang ditampilkan hanyalah fakta bahwa rumah itu dimiliki oleh pemain. Tapi jendela besar ini bertuliskan Cypress Log Cabin di bagian atas, diikuti nama pemiliknya—Asuna dan aku—di baris berikutnya, lalu batang berwarna yang tampaknya mewakili tingkat durabilitas. Angka pada lapisan batang itu tertulis 4.713/12.500. Itu pasti HP pondok kayu ini.Dibandingkan dengan HP-ku sendiri yang di bawah seratus, total mendekati lima ribu itu sangat besar, tapi angkanya sudah hampir sepertiga dari nilai maksimumnya. Dan bahkan saat aku sedang melihatnya, angkanya turun menjadi 4.712. Tampaknya kerusakan pada struktur pondok menyebabkan penurunan lambat yang berkelanjutan. Penurunannya sekitar satu poin setiap sepuluh detik, artinya kami punya 47.100 detik sampai mencapai nol. Dibagi enam puluh, itu menjadi 785 menit—atau sedikit lebih dari tiga belas jam.Indikator jam di sudut kanan bawah menunjukkan pukul 17:32 tanggal 27 September. Jika kami tidak melakukan apa-apa, pondok kayu ini akan kehilangan seluruh durabilitasnya pada pukul enam tiga puluh besok pagi—dan lenyap selamanya.Asuna sampai pada kesimpulan yang sama saat menatap jendela properti. Ia bergumam, "Menjelang besok pagi..."Akan tetapi, sekali lagi, pengamatan tenang Alice membantu meredam kepanikanku yang mulai memuncak. "Bukankah itu tombol REPAIR di bagian bawah jendela?""Ah!" Aku melirik ke bawah dan melihat deretan empat tombol: INFO, TRANSACTION, REPAIR, dan BREAK DOWN."Fiuuh...," gumamku, merasakan kelegaan membanjiri diriku. Aku mengetuk tombol REPAIR, sangat berhati-hati agar tidak menyentuh tombol BREAK DOWN di sebelahnya.Sayangnya, rumah yang rusak parah itu tidak bersinar dengan cahaya mukjizat dan pulih seperti baru di depan mata kami. Sebaliknya, kami disambut oleh dua pesan yang kejam.Skill Beginner Carpentry diperlukan untuk memperbaiki struktur ini. Anda tidak memiliki material yang dibutuhkan untuk memperbaiki struktur ini. Untuk menyelesaikan perbaikan, Anda memerlukan: sawed log ×162, sawed plank ×75, iron sheet ×216, iron nail× 463, linseed oil ×30, glass pane ×24."Seratus... enam puluh dua... log...""Dan apa itu skill Carpentry...? Apa artinya kau bisa membangun rumahmu sendiri?" heran Asuna, yang sama terperangahnya. Kami saling berpandangan, dan aku mengangguk canggung."A-aku rasa begitu. Itu hal yang lumrah dalam gim di mana perumahan pemain menjadi nilai jual utama, tapi ALO dan SAO tidak pernah memiliki sistem itu. Artinya...""Kita harus menganggap ini sebagai gim yang sama sekali berbeda," ujar Alice dengan lugas. Ia menepuk tangannya. "Tapi itu artinya sekarang kita tahu apa yang harus dilakukan. Jika kita mengumpulkan bahan-bahan yang tertera di sana, dan mempelajari skill Carpentry ini, kita bisa memulihkan rumah ini. Kurasa tak ada gunanya membuang waktu, bukan?""Ya... kau benar," kata Asuna, yang cepat beralih mengambil tindakan, meskipun ia lebih terguncang daripada aku oleh pengalaman ini. Ia menatap jendela itu lagi, agaknya sedang menghafalkan nama dan jumlah item-nya."Pertama-tama, untuk seratus enam puluh dua log itu, kurasa kita bisa mendapatkannya dengan cepat. Ada banyak yang berserakan di sekitar sini," ujarnya cepat, menunjuk tumpukan pohon konifer yang tumbang, yang bertumpuk layaknya bebatuan besar. Dia mungkin benar bahwa kami bisa menggunakannya, tetapi aku curiga masih ada satu atau dua masalah yang harus diatasi terlebih dahulu.Tapi kami bisa memikirkan itu nanti. Aku berkata pada Asuna, "Kalau begitu kita harus bergegas mengumpulkannya. Aku tak yakin kayu-kayu itu akan tetap dalam kondisi layak selama berjam-jam tanpa mengalami penurunan kualitas.""Poin bagus," sahutnya.Sebelum ia sempat berlari, aku meraih pergelangan tangannya dan menyarankan, "Pertama, mari kita keluarkan batang kayu yang baru saja kita ambil tadi, supaya beban bawaan kita lebih ringan saat memulai."Tanpa sepatah kata pun, Asuna segera membuka jendelanya dan mulai bekerja. Tiga batang kayu besar mendarat dengan suara gedebuk di halaman depan pondok, yang dulunya berupa rerumputan terawat rapi namun kini tertutup semak dan ilalang. Patahan bergerigi dan cabang-cabang tambahannya sudah bersih, berbeda dengan saat sebelum kami mengambilnya, tetapi kulit pohonnya masih kasar.Alice dan aku mengeluarkan kayu kami di tempat yang sama, lalu mengeluarkan senjata kami juga untuk disandarkan pada tumpukan itu. Aku waswas meninggalkan senjataku di tempat terbuka, tetapi aku tak bisa membayangkan ada pemain lain di sekitar sini yang akan mencurinya.Begitu inventarisku kosong, aku berlari kembali ke tempat pohon-pohon itu tumbang. Aku mengetuknya satu per satu, memilih opsi untuk memasukkannya ke penyimpananku. Hanya butuh lima atau enam pohon untuk mencapai batas kapasitas angkutku. Pada titik itu, aku harus bergegas kembali ke pondok dan mengeluarkannya lagi.Setelah aku mengulangi perjalanan ini lima kali, ruang di depan pondok sudah penuh sesak dengan batang kayu. Mumpung kami di sini, aku sekalian menyingkirkan beberapa pohon tumbang lain di sekitar bangunan untuk membuka lebih banyak ruang. Proses ini mustahil dilakukan di dunia nyata tanpa alat berat khusus, tetapi aktivitas fisik ini tidak membuat avatar virtualku lelah. Kami bertiga bekerja dalam keheningan hingga, dua puluh menit kemudian, semua pohon yang tumbang telah tersusun menjadi tumpukan kayu gelondongan raksasa yang rapi dan teratur.Asuna mengatur napas dan menunjuk dengan jari untuk menghitungnya. "Coba lihat; satu tumpukan ada lima belas batang, dan ada sepuluh tumpukan, jadi totalnya seratus lima puluh... benarkah? Sebanyak ini, dan kita masih kurang?!""Kurang dua belas," gumam Alice seraya mengangkat bahu. Ia memandang ke sekeliling hutan. "Tapi ada banyak pohon di sekitar sini. Kita bisa menutupi kekurangannya dalam waktu singkat dengan menebang beberapa pohon."Tapi itu pun takkan mudah, pikirku.Lantas muncul kekhawatiran baru. "Sebelum itu... Asuna, apa nama item batang kayu itu?""Hah...?" Ia mengetuk batang kayu di dekatnya dengan ragu. Saat jendela properti muncul, ia membacanya keras-keras, "Tulisannya aged spiral pine sawlog. Jadi kurasa pohon-pohon ini disebut pinus spiral...""Apa itu ada di dunia nyata?""Tidak!" sahutnya serta-merta, seolah kesal aku bahkan berpikir begitu. Ia mengusap kulit kayu yang kasar dengan telapak tangannya."Tapi menurutku ini kayu yang cukup bagus. Aku bertaruh ini akan jadi kayu olahan yang baik setelah diproses.""Ahhh... ada pohon serupa di hutan sekitar Rulid," ujar Alice.Nama yang akrab itu memicu rasa nostalgia yang menyengat di tenggorokanku, tetapi kutelan kembali agar bisa menjelaskan kekhawatiranku. "Yah, kau tahu kan ada kata sawlog di namanya? Kurasa ini belum memenuhi syarat jenis kayu yang dibutuhkan untuk memperbaiki pondok. Kita perlu memproses batang-batang ini menjadi kayu olahan yang layak.""M-memproses...? Tapi tidak ada gergaji mesin atau kilang kayu di dunia ini."Aku belum pernah mendengar tentang kilang kayu sebelumnya. Malah, aku jadi bertanya-tanya sedalam apa kecintaan Asuna pada perabotan kayu hingga dia tahu benda apa itu. Tapi itu bukan poin utamanya."Tidak," kataku, "kurasa mesin-mesin besar itu sama sekali tak ada di dunia ini. Kita seharusnya bisa mengubah sawlog menjadi sawed log dengan alat yang tepat. Dan aku bertaruh prosesnya sama seperti penempaan dan pengerjaan kayu di SAO.""Ohhh," seru Asuna, mengerti. Ia melirik tumpukan batang kayu itu. "Maksudmu, cukup dengan menggosokkan alat yang tepat ke batang kayu beberapa kali? Jadi pertanyaannya adalah alat macam apa itu, dan bagaimana cara mendapatkannya...""Ya... Ahhh, andai saja Yui ada di sini!" Aku berusaha tidak memanfaatkan keistimewaan kemampuan navigasinya setiap hari, tetapi aku takkan sungkan dalam keadaan darurat seperti ini.Asuna meringis sebentar, lalu tampak khawatir. "Kau masih belum bisa menghubunginya?" tanyanya."Ya... Kurasa sistem navigation pixie dari ALO sudah dihapus sepenuhnya. Tapi aku tak bisa menebak apakah Yui masih seperti biasa bersama kelompok Liz atau dia terputus dari server..."Bisa kulihat ekspresi Asuna kian muram saat aku terus bicara, jadi buru-buru kutambahkan, "Oh, tapi perangkat keras fisik Yui ada di PC-ku di rumah, jadi tak mungkin terjadi apa-apa padanya secara nyata. Kalau kau khawatir, kita bisa log out untuk mengeceknya...""...Tidak, aku baik-baik saja. Jika dia bersama Liz dan Silica, aku ingin dia membantu mereka," kata Asuna dengan tegar, lalu menepuk batang kayu di sebelahnya. "Kita harus melakukan apa yang kita bisa sendiri.""Itulah Asuna yang kukenal," ujar Alice sambil tersenyum.Ia mengusap permukaan pinus spiral yang tak rata itu dengan tangan berzirahnya. "Aku tak tahu banyak soal urusan pertukangan kayu, tapi saat aku kabur dari Katedral Pusat ke hutan sekitar Rulid, aku dibantu Pak Tua Garitta membangun gubukku sendiri. Aku menebang pohon pinus seperti ini, meski tak sebesar ini, membersihkan dahan-dahannya, dan menguliti kulitnya untuk mengubahnya menjadi kayu gelondongan. Tapi seingatku untuk membuang kulitnya, aku harus menggunakan alat seperti bilah pisau pipih tipis dengan gagang di kedua ujungnya."Melihat Alice menggerakkan tangan untuk menggambarkan bentuk alat itu membuatku merasa sadar diri. Aku sudah mendengar apa yang terjadi di antara pertempuran melawan Administrator dan War of Underwolrd. Selama sekitar setengah tahun, Alice merawatku di gubuk yang ia bangun di hutan luar Rulid, karena fluctlight-ku rusak, membuatku tak sadarkan diri. Mencoba membayangkan kondisiku saat itu, dan apa yang harus ia lakukan untuk merawatku, memenuhiku dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Aku harus menepisnya hati-hati untuk saat ini demi fokus pada topik yang sedang dibahas.Meski aku tak bisa membayangkan alat yang dideskripsikan Alice, Asuna langsung tahu benda apa itu. "Ah, itu drawknife (pisau serut). Di luar negeri orang memakainya untuk menyerut kulit pohon. Di Jepang, mereka biasanya menggunakan serutan bergagang panjang yang mirip alat pertanian."English Text: “Hmm. Then we shall need to build or purchase this drawknife tool. But to create one would require other tools and materials, I am sure…and I did not see any towns or villages around where we fell.” The cat-eared knight scowled, scratching at the stubbled bark of the spiral pine with her fingernails. “Argh! Forget the drawknife; even a regular knife would be enough for me to scrape loose this infernal bark.” Terjemahan Bahasa Indonesia:"Hmm. Kalau begitu kita perlu membuat atau membeli alat drawknife ini. Tapi untuk membuatnya pasti butuh alat dan bahan lain, aku yakin... dan aku tak melihat kota atau desa di sekitar tempat kita jatuh." Ksatria bertelinga kucing itu merengut, menggaruk kulit kasar pinus spiral dengan kukunya."Argh! Lupakan drawknife; pisau biasa pun cukup bagiku untuk mengikis kulit jahanam ini."Aku tak bisa menahan senyum mendengar keberanian klaimnya itu. Asuna sendiri tersentak, seolah baru teringat sesuatu. "T-tunggu sebentar!" serunya, seraya bergegas masuk ke dalam rumah yang setengah hancur itu. Namun ia kembali keluar kurang dari sepuluh detik kemudian, menggelengkan kepala dengan kecewa."Kalau penyimpanan item rumah kita baik-baik saja, aku bisa mengambil pisau dari sana... tapi isinya kosong, persis seperti milik kita. Semua perabotan dan peralatan makan yang kita letakkan di tempat terbuka juga lenyap.""Oke..." Perabotan dan hiasan yang kami miliki di pondok kayu itu adalah pilihan elit yang dibeli Asuna dari berbagai toko di seantero Alfheim. Guncangan akibat lenyapnya semua usaha itu dalam sekejap pasti lebih buruk dari yang bisa kubayangkan. Aku melangkah menuju Asuna, berniat menghiburnya, ketika pikiran lain melintas di benakku."...Tidak, tunggu... Jika pisau bisa digunakan, maka..." Aku berbalik untuk melihat sisi tumpukan kayu, tempat empat pedang, sebuah tongkat, dan sebuah perisai bersandar. Aku berlari menghampiri dan menyambar gagang Blárkveld."...Seharusnya aku bisa menyerut kulit kayu pada batang-batang ini.""Mungkin itu benar, Kirito, tapi apa kau sudah lupa betapa menyedihkannya kondisimu tadi?" tanya Alice dengan jengkel.Aku melemparkan seringai nakal padanya. "Tentu saja aku tidak lupa. Tapi tadi aku kelebihan beban karena memakai semuanya. Kalau aku melepas semua perlengkapan lainnya..."Sambil berbicara, aku memutar tangan untuk memunculkan menu cincin, lalu memutarnya ke menu perlengkapan. Setidaknya manekin di sana masih sama sejak zaman SAO—aku menepuk tombol REMOVE ALL EQUIPMENT di sebelah kirinya. Sejumlah lingkaran cahaya mengelilingi tubuhku, membuat mantel, kemeja, celana, dan sepatuku lenyap seketika. Satu-satunya yang tersisa hanyalah celana boxer hitam.Seketika, para gadis itu menjerit. "A-apa yang kau lakukan?!" "Jangan telanjang sembarangan di sini!" Tapi aku tak mau buang waktu untuk minta maaf."Lihat saja!"Aku menepukkan kedua tanganku yang kini tak bersarung dan mencengkeram gagang Blárkveld. Aku merendahkan pusat berat tubuhku dan bergerak untuk menariknya dalam satu gerakan mulus... Namun yang terjadi malah lututku menghantam tanah. Pedang itu hanya bersandar pada kayu, tapi rasanya seberat seolah dilas ke tanah. Di dunia nyata, punggungku pasti sudah cedera gara-gara mencoba ini."Hah...?! Tapi kenapa...?" Zirah yang kulepas pada dasarnya hanya kulit dan kain, tapi itu semua perlengkapan level tinggi, jadi pasti berat. Mustahil berat gabungan pakaian itu kurang dari satu pedang. Bingung, aku menatap pedang itu dari posisi berlutut. Lalu sebuah gagasan menghantam otakku."Oh... a-apa menurut kalian mungkin itu tindakan bantuan sementara...?""Maksudmu?" tanya Asuna bingung.Aku mendongak menatapnya dan menjelaskan dugaanku. "Yah... aku tak tahu kapan momen tepatnya, tapi kita semua dikembalikan jadi karakter level-1 dengan status yang di-reset, kan? Kupikir alasan aku tak langsung kelebihan beban gara-gara zirah adalah karena aku memakai bahan kulit dan kain... tapi zirah Alice punya banyak logam, dan semua orang yang bermain sebagai tank pasti mengenakan full plate armor. Bakal sangat tidak adil kalau orang-orang seperti itu langsung tak bisa bergerak karena batas beban setelah reset.""Yah... kurasa kau benar...""Jadi kupikir pasti ada semacam tindakan bantuan yang diberlakukan, sehingga perlengkapan yang sedang kau kenakan saat reset memiliki beban yang diturunkan, artinya kau masih bisa tetap memakainya tanpa terbebani. Tapi senjata kita disimpan di penyimpanan item, jadi...""Senjata-senjata itu tidak mendapatkan efek tersebut... dan itulah sebabnya kita tidak bisa memakainya sekarang?" sahut Asuna, cepat menangkap maksudnya.Dia mengerutkan kening. "Tapi tunggu. Kalau itu benar... dan kau baru saja melepas semua zirahmu..."English Text: “Yes,” I said heavily, opening my equipment window again. In the list of items on the right side of the window, I dragged the Cloak of Harald—my main armor—onto the torso slot. The rings of light appeared, and my dark-gray coat materialized. Terjemahan Bahasa Indonesia:"Ya," kataku berat, membuka jendela perlengkapanku lagi. Dalam daftar item di sisi kanan jendela, aku menyeret Cloak of Harald—zirah utamaku—ke slot tubuh. Lingkaran cahaya muncul, dan mantel abu-abu gelapku mewujud kembali."Hrrg!" Meski sudah bersiap, aku tetap tak sanggup menahan beban yang menindih sekujur tubuhku. Aku terpaksa menumpukan kedua tangan di tanah; jika aku terus merosot, posisiku bakal terlihat seperti sedang bersujud memohon ampun pada Asuna. Dengan susah payah, kuangkat tangan kananku. Sebuah pop-up muncul bertuliskan Kemahiran skill Physique naik menjadi 2, yang kutanggapi dalam hati dengan Oh, diam kau! lantas menekan tombol REMOVE ALL EQUIPMENT lagi. Beban yang menyiksa itu sirna, dan aku kembali mengembuskan napas."...Begitulah jadinya," ujarku seraya mendongak dan menyeringai. Terdengar sambaran petir di belakangku."Apa kau benar-benar bodoh?!" Alice berdiri di samping Asuna, zirah emasnya bergemerencing, dan menudingkan telunjuknya ke arahku yang sedang berlutut, hanya mengenakan celana boxer."Kenapa kau tak menyadari hal ini sebelum melepas seluruh pakaianmu?! Sekarang kau terpaksa berkeliaran dalam keadaan menyedihkan ini untuk sementara waktu!" desisnya."Yah, um, iya sih," akuiku sambil meringis. Aku bangkit berdiri. "Tapi setidaknya hanya aku korbannya. Bakal jadi bencana kalau kalian berdua ikut melucuti pakaian juga.""Jika itu terjadi, aku takkan login lagi sampai kau menyiapkan pakaian baru untuk kami," ujar Alice blak-blakan, membuat Asuna tiba-tiba tertawa terbahak-bahak."Kalian berdua selalu saja begini," ujarnya sembari terkikik dan menggelengkan kepala. Hal itu cukup untuk menghentikan mode omelan Alice, tetapi tak menyelesaikan masalah kami."Jadi pedang-pedang itu takkan membantu kita... yang berarti tersisa..." Aku bersedekap dan merenungkannya. Kami kembali ke level-1, dengan semua status di-reset, hampir semua item hilang, dan bahkan perubahan UI, tetapi setidaknya, kami masih berada di dalam VRMMO. Bagian itu tak diragukan lagi. Namun bagiku tampaknya singkatan di akhir istilah itu harus berbeda sekarang. Kami telah beralih dari VRMMORPG ke genre yang berbeda."Survival...," gumamku. Kedua gadis itu menatapku dengan curiga."Apa katamu?""Kurasa ini mungkin gim survival...""...Survival? Apa maksudmu?" tanya Alice.Kata yang kuucapkan adalah bahasa Inggris, yang ia pahami sebagai bahasa suci di Underworld. Pengalaman barunya belakangan ini telah memberinya banyak latihan bahasa Inggris, tetapi referensi ini tak dimengertinya."Itu adalah sebuah genre gim. Awalnya, permainan survival adalah sesuatu yang dilakukan di dunia nyata menggunakan air gun—senjata mainan—tapi belakangan ini ada genre gim komputer yang berkembang dengan nama yang sama. Beberapa orang menyebutnya open-world survival games. Gim ini lebih sulit dimainkan daripada RPG biasa—kondisi bertahan hidupnya lebih keras, dan penaltinya lebih buruk.""Apa maksudmu dengan kondisi bertahan hidup?""Contohnya, kau takkan mati di ALO meski tak pernah makan atau minum apa pun, ingat? Tapi gim survival memiliki meteran lapar dan haus, jadi HP-mu akan turun jika kau tak minum air atau menyantap makanan. Oh! Itulah sebabnya..." Akhirnya, aku menyadari kegunaan dua batang tambahan di bawah HP dan MP."Di antara batang TP biru dan batang SP kuning, salah satunya pasti rasa lapar, dan satunya lagi rasa haus."Asuna segera berkata, "Kalau begitu, TP pasti singkatan dari Thirst Points dan SP untuk Stamina Points.""Ah. M-mengerti.""Hmm," gumam Alice seraya menyentuh leher jenjangnya."Tapi meskipun sudah berlarian bolak-balik membawa kayu-kayu itu, aku belum merasa lapar atau haus sedikit pun, dan kedua batang itu belum berkurang sama sekali.""Kurasa ada masa tenggang untuk itu, sama seperti berat perlengkapan tadi.""Oh?""Struktur dasar gim survival adalah, ketika kau mati, kau menjatuhkan semua item-mu dan harus kembali untuk mengambilnya setelah bangkit lagi. Tentu tidak adil menempatkan pemain di dunia asing ini tanpa buku panduan—dan membiarkan mereka langsung mati kelaparan serta kehilangan perlengkapan mereka... Aku bertaruh batang TP akan mulai turun lebih dulu. Meskipun aku tak tahu apakah akan ada sensasi rasa haus yang sebenarnya menyertainya."Saat menjelaskan, aku bisa merasakan diriku tenggelam dalam perasaan yang lebih dalam dan berat. Aku bertolak pinggang dan mengembuskan napas perlahan. Saat ini, aku hanya mengenakan pakaian dalam, tak mampu menggunakan pedang dan zirahku. Rasanya aku takkan bertahan hidup lama.Namun aku berkata pada diri sendiri, "Itu bukan berarti aku bisa duduk diam di sini mengasihani diri sendiri... Aku tak bisa mati begitu saja tanpa mencari tahu siapa yang menimpa dunia ini sepenuhnya dan alasannya. Ditambah lagi, aku ingin memulihkan rumah kami ke kondisi semula.""Itu baru semangat, Kirito," ujar Alice dengan seringai garang.Ia mengulurkan tangan dan menepuk punggung telanjangku. Tidak sakit, tetapi karena naluri murni, aku memekik, "Aduh!"Aku tak tahu banyak tentang genre survival ini, tapi tentu saja aku merasakan lapar dan haus di dalam Underworld. Lihat saja sekeliling kita... ada sungai di sebelah sana—serta buah-buahan dan hewan buas di hutan. Jika kau kelaparan di tengah kelimpahan seperti ini, para goblin di Dark Territory akan menertawakanmu.""......Y-yah, kurasa kau benar..."Aku tak yakin apakah keduanya bisa dibandingkan secara langsung, tetapi memang benar hutan ini tampak sangat subur jika dibandingkan dengan kesengsaraan Dark Territory di Underworld. Pondok kayu kami bisa saja terlempar ke gurun gersang wilayah Salamander di Alfheim, jadi ini pasti lokasi awal yang cukup nyaman untuk sebuah gim survival.Aku meregangkan tubuh setinggi mungkin dan menatap langit yang mulai keemasan. Sesaat kemudian, aku menarik napas dalam-dalam dan mengumumkan, "Baiklah... Aku tak tahu apa nama gim ini, tapi aku tahu ini bukan lagi VRMMORPG, melainkan gim survival VRMMO. Aku akan memakan batu jika itu yang diperlukan untuk bertahan hidup, sampai aku membangun Kekaisaran Kirito di tanah ini!"Ooh! seru para gadis itu—tapi hanya dalam mimpiku.Kenyataannya, Asuna hanya memberiku tatapan canggung dan berkata, "Yah, um, aku sudah cukup senang dengan melindungi rumah kita."Alice tampak sangat jengkel dan menambahkan, "Tak ada satu pun ucapanmu yang bisa terdengar gagah dan menginspirasi seperti harapanmu saat kau berpakaian seperti itu."
Komentar (0)
Memuat komentar...