Sword Art Online 021: Unital Ring I
Bagian 3
Estimasi waktu baca: 20 menitDemikianlah, deklarasi bertahan hidupku gagal memberikan kesan mengesankan seperti yang kuharapkan. Meski begitu, aku tetap menatap sekeliling tanah lapang itu dengan semangat yang terbarukan. Area berumput tempat pondok kayu yang setengah hancur itu berada berupa lingkaran dengan diameter sekitar lima puluh kaki. Awalnya area ini mengelilingi pohon pinus spiral raksasa, simpulku, tetapi kini terdapat jalan setapak baru ke arah barat daya yang berujung di sungai. Ruang kosong di tanah lapang itu kini sesak dipenuhi 150 batang kayu, dan tugas pertama kami adalah melakukan sesuatu terhadapnya.Satu-satunya pengalamanku dengan RPG tipe survival hanyalah di PC tuaku bertahun-tahun yang lalu, jadi aku tak punya pengalaman memainkannya dalam pengaturan full-dive; namun strategi umumnya seharusnya tetap sama. Pertama dapatkan air dan makanan, lalu cari alat dan bahan, supaya bisa membuat pakaian, tempat berlindung, dan senjata. Namun di masa tenggang awal ini, kami takkan merasa lapar atau haus, ditambah lagi ada sungai di dekat sini, jadi kami bisa memikirkan bagian itu nanti. Tugas pertama kami adalah mendapatkan alat paling primitif: pisau."Ayo kembali ke sungai.""Kenapa? Mau tangkap ikan?" heran Asuna dengan mata membelalak.Aku menyengir lebar padanya. "Nantinya begitu. Tapi ada hal lain yang harus dilakukan dulu."Kami berlari kecil menuruni jalan setapak yang baru dibersihkan dari pohon tumbang menuju sungai. Bantaran sungai, yang dipenuhi batu aneka warna, sebelumnya tampak sulit dipijak, tetapi kini setelah melihatnya dari kacamata gim survival, aku sadar itu adalah gunung harta karun. Aku berhenti dan memberitahu para gadis itu, "Carilah batu seberat dan sekeras mungkin. Sebaiknya yang panjang dan pipih, sekitar dua belas inci.""...Mengerti." Alice dan Asuna berjalan menjauh, menunduk menatap kaki mereka, sementara aku berbalik mencari sesuatu yang lain.Aku menginginkan batu besar dengan permukaan atas yang rata dan stabil—sebuah meja kerja. Aku langsung menemukan yang bagus, jadi aku memungut batu bulat acak dari tanah dan menghantamkannya ke permukaan batu itu. Batu itu terbelah menjadi dua pada pukulan pertama. Jika ini VRMMORPG biasa, batu yang hancur itu akan memercikkan partikel cahaya dan lenyap, tetapi kedua pecahan yang tergeletak di atas meja kerja itu tidak menghilang. Aku mengetuknya untuk memeriksa propertinya.Tertulis: Cracked Favillite, Weapon/Material, Attack Power: 2.18 striking, Durability: 5.44, Weight: 3.71."Ugh... Angkanya bahkan sampai desimal," erangku, tepat saat terdengar langkah kaki dan suara di belakangku."Bagaimana dengan yang ini?" Asuna meletakkan batu kasar berwarna abu-abu kehijauan di meja kerjaku."Apa ini bisa dipakai?" Alice menggelindingkan batu halus berwarna cokelat kehitaman di sebelahnya.Keduanya memiliki ukuran dan bentuk yang kuminta."Coba kulihat..." Aku memungutnya, satu di masing-masing tangan, dan menaksir beratnya. Keduanya terasa sangat padat dan berat, tapi yang hijau sedikit lebih berat. Di sisi lain, aku merasa yang hitam lebih keras. Untuk saat ini, aku memutuskan menggunakan yang hijau sebagai bahan, meletakkannya di tengah lempengan batu dan menahannya dengan tangan kiriku.Aku mengangkat batu hitam di tangan kananku dan membidik dengan hati-hati. Baik di dunia nyata maupun virtual, kehilangan konsentrasi saat melakukan tugas seperti ini bisa menyebabkan kesalahan. Aku berteriak "Tiga, dua, satu!" dan mengayunkannya ke bawah sekuat tenaga. Trang! Percikan oranye menyembur keluar dari benturan itu.Hati-hati, aku melepaskan pegangan tangan kiriku—batu hijau itu diam sesaat, lalu terbelah tepat di tengah. Ada kilau kusam pada permukaan belahannya, dan tepiannya setajam pecahan kaca. "Lumayan juga," gumamku pada diri sendiri, memegang salah satu belahan dan mengangkat batu hitam lagi. Aku fokus pada titik di sebelah tepi belahan dan mengayun lagi. Tapi kali ini tenagaku kurang. Hanya ada sedikit percikan, dan tak terjadi apa-apa."Um, Kirito?" tanya Asuna di sebelah kananku saat aku sedang membidik untuk pukulan ketiga. "Aku mengerti apa yang mau kau lakukan... tapi saat kau memukul-mukul batu sambil berpakaian seperti itu... Yah..." Entah kenapa dia menutupi mulut dengan tangannya.Lalu Alice menimpali, "Kau mirip manusia Neanderthal di acara TV yang kulihat tempo hari. Bagaimana kalau kau pakai kulit binatang saja sebagai ganti celana dalammu?" Asuna tak tahan lagi dan mulai terkikik, disusul oleh Alice. Padahal aku di sini cuma pakai celana dalam, berusaha semampuku membantu mereka bertahan hidup."Hohhh! Hoh-hoh-hoh! Hoh-hoh-hoh-hohhh!" geramku, berpura-pura. Seketika, tawa mereka pecah tak terbendung, dan para gadis itu memegangi perut mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Sementara mereka memekik geli, aku mengangkat batu pemukulku lagi. "Hohhh!!" raungku, menghantam batu hijau itu, tepat di sebelah belahan sebelumnya, dan menciptakan retakan vertikal halus lainnya. Lapisan tipis batu terlepas dan mendarat di lempengan batu. Panjangnya sekitar satu kaki, lebar dua inci, dan tebalnya kurang dari setengah inci... persis bentuk yang kucari.Aku menyingkirkan pecahan lainnya ke samping dan meletakkan serpihan itu mendatar di permukaan kerja. Satu ujung lebih tipis dari yang lain, jadi kuputuskan itu akan menjadi ujung pisau, dan sisi yang lebih tebal akan menjadi gagangnya. Dengan sangat hati-hati, aku memukulnya dengan batu hitam. Ini dunia virtual, jadi aku yakin sistem akan memahami niatku dan membentuk batu itu menjadi bentuk yang kubayangkan. Meski begitu, aku sangat berhati-hati dalam memukulnya. Akhirnya, hanya sesaat, serpihan batu itu bersinar.Jendela sistem muncul di depan mataku. Skill Stoneworking didapatkan. Kemahiran naik menjadi 1.Mendapatkan skill baru selalu patut dirayakan, tapi aku lebih penasaran dengan kualitas produk jadiku. Aku mengetuk serpihan batu itu, yang kini bentuknya sudah lumayan pas, memanggil jendelanya. Crude Viridacutite Knife, Weapon/Tool, Attack Power: 7.82 slashing, 5.33 piercing, Durability: 10.05, Weight: 3.53."Yesss!" teriakku sambil berpose. Aku sudah lupa soal akting Neanderthal tadi. Tulisannya memang crude (kasar), tapi daya serang dan durabilitasnya jauh lebih tinggi daripada favillite retak yang kubuat sebelumnya. Ini akan membuat pekerjaan jadi jauh lebih mudah. Aku meletakkan pisau itu di tepi ruang kerja, lalu mengumpulkan pecahan batu yang rupanya bernama viridacutite itu.Sekali lagi, aku menghantamnya dengan batu hitam. Pecahan yang terkelupas terlalu kecil, jadi aku mencoba lagi. Setelah beberapa kali percobaan, aku mendapatkan potongan berukuran pas, jadi aku memangkas detailnya dan menghasilkan pisau kedua. Entah karena skill Stoneworking-ku sudah mencapai level 3 berkat latihan ekstra, atau karena kemampuanku sendiri sebagai pemain makin membaik, pisau ketiga selesai dengan sangat cepat. Sisa potongan viridacutite, yang rupanya ukurannya di bawah standar untuk menjadi item modifikasi, lenyap menjadi titik-titik cahaya kecil.Aku menata ketiga pisau itu di atas permukaan kerja batu. Baik VR maupun tradisional, gim memperlakukan senjata dan alat dengan aturan umum yang sederhana: Jika namanya sama, bentuknya pun sama. Masuk akal, mengingat kau menciptakan banyak salinan dari objek dalam gim yang sama, tetapi karena serpihan dan lekukannya juga identik, hal itu menciptakan efek visual yang aneh saat kepingan-kepingan serupa itu diletakkan berdampingan.Akan tetapi, ketiga pisau ini, meski pada dasarnya memiliki ukuran dan bentuk yang sama, semuanya berbeda dalam detail patahannya, kontur tepiannya, dan pewarnaannya. Aku memeriksa jendelanya—semuanya dianggap sebagai viridacutite knife, tetapi nilai serangan dan durabilitasnya juga memiliki angka desimal yang berbeda. "Hmm..." Aku menunduk menatap bebatuan tak terhitung di bawah kakiku, lalu menatap langit sore di atas kepala.Server yang memiliki sejumlah senjata langka unik adalah satu hal, tetapi jika mereka memiliki lebih dari tiga set data visual untuk pisau batu paling remeh sekalipun, itu menunjukkan tingkat aset dalam gim yang sangat mendetail—dan hal itu hanya membuat situasi kian mengerikan. Tak peduli seberapa hebat paket The Seed untuk pengembangan gim VR, biaya untuk memproduksi tingkat detail semacam ini tak memiliki batas atas. Setidaknya, siapa pun yang telah menyeret para pemain ALO ke dalam gim survival ini jelas tak terlalu peduli pada efisiensi biaya gim ini sebagai sebuah produk. Seorang pencipta seperti Kikuoka Seijirou, yang telah membangun Underworld, atau Kayaba Akihiko, yang telah membangun Aincrad."Apa kau tidak suka tampilannya, Kirito?" Asuna membungkuk untuk bertanya padaku, dan aku mendongak kaget.Aku menepis pikiran meresahkan itu dan menggelengkan kepala. "B-bukan, bukan itu. Um, aku cuma bertanya-tanya apakah, eh, ada cara untuk meningkatkan ini lebih jauh..."Itu alasan spontan untuk menyembunyikan pikiran asliku, tapi begitu mengucapkannya, aku sadar itu patut dicoba. Memproses dan mengkustomisasi item adalah aspek utama dari gim survival. Aku melihat sekeliling area mencari seikat ilalang yang mencuat dari bebatuan dan menggunakan salah satu pisau batu baru untuk memotongnya. Aku memberikan satu ujung ikatan itu pada Asuna untuk dipegang, lalu memilinnya.Begitu pilinan mencapai ke ujung, ilalang itu bersinar seperti pisau tadi, dan pesan baru lain muncul. Skill Weaving didapatkan. Kemahiran naik menjadi 1. Ya, ya, nanti kulihat, pikirku, menutup jendela itu agar bisa mengetuk tali rumput yang baru dipilin. Crude Ubiquigrass Rope, Tool/Material, Durability: 4.10, Weight: 0.65.Sekali lagi, hasilnya kasar, tapi aku hanya butuh benda itu bisa dipakai. Aku memungut pisau dari meja kerja dan melilitkan tali rumput erat-erat di bagian gagangnya. Sesuai harapanku, item itu berkilau lagi saat aku selesai melilit, dan tali itu menyatu dengan pisau, padahal aku tidak membuat simpul di ujungnya. Crude Rope-Wrapped Viridacutite Knife, Weapon/Tool, Attack Power: 7.82 slashing, 5.33 piercing, Durability: 15.82, Weight: 4.18."Dan begitulah cara kerjanya," ujarku, menunjukkan jendela properti pada mereka. Mereka mengangguk, setengah terkesan dengan hasil karyaku."Begitu. Jadi peningkatannya menambah durabilitas...""Meski beratnya naik sedikit."Aku mengharapkan setidaknya tepuk tangan, tapi aku kecewa. Asuna dan Alice saling berpandangan dan mengutarakan pikiran mereka secara bersamaan."Merepotkan sekali!""Tampaknya itu proses yang sangat melelahkan."
Aku membuat kedua gadis yang jengkel itu membuat tali rumput mereka sendiri agar mereka mempelajari skill Weaving, lalu kami kembali ke pondok kayu sembari membawa pisau batu baru kami. Pada titik ini, warna merah lembayung langit senja sudah tepat berada di atas kepala. Hari akan gelap dalam satu jam. Rasanya mustahil bagi kami mengumpulkan semua bahan perbaikan yang diperlukan dalam waktu sesingkat itu, tapi setidaknya aku ingin menyelesaikan urusan kayu gelondongan ini.Ini pasti berhasil, kataku pada diri sendiri, meletakkan tangan satunya di batang kayu terdekat dan membenamkan mata pisau ke kulit kayunya yang kasar. Dengan menggosoknya bolak-balik secara kuat, aku menciptakan suara robekan yang memuaskan, mengelupas kulit kayu itu hingga jatuh ke tanah, di mana ia... tidak menghilang. Sekali lagi, sebuah jendela muncul tepat di depan wajahku. Skill Woodworking didapatkan. Kemahiran naik menjadi 1.Aku sudah menduga hal itu akan terjadi, jadi aku segera menutupnya dan mengabaikan kulit kayu di tanah untuk saat ini, berfokus menggerakkan pisau. Jika kau mencoba menyerut batang pohon sebesar ini dengan pisau yang nyaris tak lebih baik dari alat Zaman Batu, itu akan memakan waktu lebih dari seharian penuh, tetapi di dunia virtual, selama cara kau melakukannya benar, sisa prosesnya akan disederhanakan—dalam banyak kasus.Kulit kayu yang tebal terkelupas dengan irama yang menyenangkan, dan hanya dalam satu menit, sawlog pinus spiral yang menghitam itu berkilau dan berubah menjadi kayu gelondongan bersih berwarna putih gading yang bulat. Alur-alur dangkal menjalar di seluruh bagian dalam kayu yang bersinar itu dalam bentuk spiral dan pusaran, yang kutebak menjadi asal-usul namanya. Aku mengetuk permukaannya, dan jendela yang muncul mengungkap item baru tersebut sebagai Sawed Aged Spiral Pine Log. Jendela perbaikan untuk pondok tidak menentukan spesies pohon secara spesifik, jadi seharusnya kayu ini memenuhi persyaratan."Kalian mengerti cara kerjanya?" tanyaku pada dua orang lainnya.Asuna dan Alice mengangguk."Kalau begitu bantu aku menguliti semua batang kayu ini."Kami langsung mengerjakannya. Dengan kami bertiga bekerja sama, 150 batang kayu itu memerlukan waktu kerja sekitar lima puluh menit.Tapi bukan itu saja. Selain kayu gelondongan olahan, kami membutuhkan tujuh puluh lima papan gergajian, dua ratus lembar besi, segenggam paku besi, minyak, dan kaca... Jelas mustahil bagi kami untuk mengumpulkan semua benda ini sebelum malam tiba. Urusan papan mungkin masih bisa diakali, tapi membuat lembaran besi dan paku dari nol akan membutuhkan berbagai bahan baku serta alat dan peralatan penunjang yang berkualitas, ditambah lagi kemahiran skill untuk menggunakannya.Aku benar-benar butuh wiki! pikirku putus asa sementara tanganku sibuk menguliti kayu. Dalam keadaan normal, berlarian mengumpulkan informasi sendiri dan bertukar pikiran dengan teman untuk mencapai tujuan adalah inti dari sebuah RPG—tapi dengan pondok kayu kami yang dijadwalkan runtuh dalam setengah hari, aku sangat membutuhkan bantuan apa pun yang bisa kudapat. Jika aku punya akses ke wiki sekarang, itu pasti akan sangat membantu bagaikan cat's meow. Sebenarnya, salah satu dari kami secara teknis adalah kucing. Jadi apakah istilahnya menjadi "cait sith's meow", kalau begitu? Mereka mungkin sudah melontarkan lelucon itu sejak ALO diluncurkan, jadi kuputuskan lebih baik tidak mencobanya pada audiens tawanan di hadapanku ini.Pikiran-pikiran melantur seperti itu memenuhi benakku saat tanganku sibuk bekerja. Pekerjaannya sendiri berjalan lancar, tetapi aku khawatir dengan durabilitas pisau batu yang kugunakan secara berlebihan ini. Bagaimanapun juga, itu pisau kasar, jadi aku takkan terkejut jika nilai durabilitas 15 itu turun menjadi nol sewaktu-waktu. Jika aku berhenti dan memeriksa propertinya, aku akan segera tahu angkanya, tapi bukannya aku punya cara untuk membuatnya bertahan lebih lama, jadi aku memilih untuk fokus pada tugas yang ada, berdoa semoga pisau itu bertahan.Sesekali, sebuah jendela muncul memberitahukan bahwa kemahiran Woodworking-ku meningkat, yang menjadi penyemangat yang kubutuhkan untuk terus bekerja. Aku memperkirakan lima puluh menit, tetapi karena semakin terbiasa dengan gerakan itu seiring waktu, kami mencapai batang kayu terakhir hanya dalam empat puluh dua menit. Asuna dan Alice selesai menguliti kayu kelima puluh mereka sedikit lebih dulu dariku, yang rasanya tidak adil, tapi setidaknya aku bisa berterima kasih pada pisauku karena bertahan sepanjang tugas itu.Batang pohon itu berkilau dan berubah menjadi kayu gergajian, dan aku mengetuk pisau batuku. Jendela itu mengatakan sisa durabilitasnya hanya 0.46. "Ooh, punyamu bertahan sangat tipis," komentar Alice. Dia memeriksa pisaunya sendiri. Tertulis 0.13."Melilitkan tali di gagangnya adalah keputusan yang tepat," kata Asuna dengan seringai yang cepat pudar. Dia mungkin teringat bahwa kami baru saja selesai mendapatkan satu dari enam bahan berbeda yang dibutuhkan untuk tugas ini. Dan pohon-pohon yang kami gunakan bahkan bukan pohon yang kami tebang sendiri—melainkan yang tumbang rata dengan tanah akibat jatuhnya pulau. Kami butuh setidaknya sebuah kapak untuk menebang lebih banyak pohon demi sisa dua belas kayu gelondongan dan semua papan itu."...Dua belas jam lagi...," gumamnya cemas.Aku terpaksa menambahkan satu lagi kenyataan pahit ke dalam situasi ini."Dan... besok hari Senin...""Ah!" Mata Asuna terbelalak; ia melupakan bagian itu. Seandainya ini menjelang Sabtu atau Minggu, kami bisa saja mencoba begadang semalaman untuk mengumpulkan bahan, tetapi tetap berada di dalam dive hingga saatnya berangkat sekolah adalah permintaan yang terlalu berlebihan.Aku mungkin bisa melakukan hal semacam itu, tapi seorang putri teladan dari keluarga kaya takkan bisa lolos dengan perilaku seperti itu. Ia baru saja berbaikan dengan ibunya yang tegas; ia tak perlu cari gara-gara karena bermain gim semalaman suntuk. Aku meletakkan tangan di bahunya dan berusaha menyalurkan ketenangan sebanyak mungkin ke dalam suaraku."Semua akan baik-baik saja. Jika orangtuaku tahu, aku bisa bersujud memohon ampunan mereka—aku akan menemukan cara untuk mengumpulkan semua bahan malam ini dan menyelamatkan pondok kita. Percayalah padaku; aku akan menyelesaikannya.""Dan tentu saja aku akan membantu. Jadwalku kosong sampai besok petang," imbuh Alice sambil tersenyum, tetapi hal itu tak membuat Asuna ceria."...Tapi... takkan mudah membuat besi dan kaca, kan? Jika kita bertiga bekerja sama hingga detik terakhir dan tetap gagal, mungkin aku bisa menerima kekalahan itu... tapi aku tak bisa log out lebih awal dan membiarkan kalian berdua mengerjakan bagian tersulit sendirian..."“…”Aku hendak menenangkannya lagi namun mengurungkan niat.Dalam situasi sebaliknya, aku mungkin akan log out lalu terjaga sepanjang malam, tak bisa tidur. Faktanya, probabilitas kami mendapatkan semua bahan dalam dua belas jam sangatlah rendah. Dalam situasi itu, aku lebih memilih dia tetap tinggal daripada harus mengusirnya pergi. Tapi..."Hmm..."Aku nyaris bisa merasakan asap mengepul dari telingaku saking kerasnya aku berpikir. Hampir tanpa sadar aku melakukannya, aku bertanya, "Ibumu... Bagaimana cara Kyouko-san memantau aktivitas dive-mu?""Yah, dia punya layar admin untuk server rumah kami. Dia tidak sepenuhnya mengawasiku seperti dulu, tapi dia memang sering begadang untuk bekerja... jadi kalau dia kebetulan melirik ke layar, dia akan langsung tahu.""Hmm, begitu rupanya... Baiklah, aku akan melakukan sesuatu soal itu.""A-apa?! Bagaimana caranya?!" tanya Asuna kaget.Aku menyeringai. "Biarlah itu jadi kejutan nanti... Bagaimanapun juga, kau perlu log off untuk makan malam, kan?""Ya... dari sekitar pukul tujuh hingga tujuh tiga puluh.""Oke, aku akan log off di waktu yang sama. Aku akan mengirimimu pesan setelahnya.""Baiklah..." ujar Asuna, tetapi masih tersirat kekhawatiran di matanya saat ia menatap pondok kayu dan terdiam.Dinding kiri telah runtuh total, langit-langitnya penyok parah, dan kerangka bangunannya bengkok. Rasanya menyakitkan hanya dengan melihatnya seperti ini. Setiap detik berlalu, durabilitas rumah kami terus terkikis. Aku hendak memberitahunya sekali lagi bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi Alice terlebih dulu memegangi perutnya dan mengeluh, "Andai saja tubuh mesinku sudah bisa menyantap makanan."Asuna dan aku terkejut. "Um... maksudmu, seperti roti dan nasi dan daging sungguhan dan semacamnya...?" tanyaku.Ksatria bertelinga kucing itu mengangguk dengan wajar. "Ya, tentu saja. Menurut Dr. Koujiro dan Higa, pengembangannya sedang berjalan. Rupanya, penyempurnaan sensor perasa dan semacamnya akan memakan waktu lebih lama.""Ooh!" seru Asuna, akhirnya tersenyum. Ia mengulurkan tangan menggenggam tangan Alice dan berseru, "Kalau begitu saat kau sudah bisa makan di dunia nyata, kita harus mengadakan pesta penyambutan untukmu di Dicey Café! Aku akan memasak banyak makanan lezat untuk acara itu!""Itu tawaran yang sangat menggiurkan. Aku harus mendesak Higa."Kedua wanita itu begitu bersemangat mengenai hal ini hingga yang bisa kupikirkan saat ini hanyalah Semoga beruntung, Higa.Langit mulai berubah menjadi ungu pekat pada titik ini, dengan bintang-bintang mulai mengintip. Sudah pukul 18:50, sudah waktunya bagi kami untuk log out dari dunia misterius ini—tapi ada sesuatu yang ingin kucoba terlebih dahulu. Asuna, Alice, dan aku membagi sepuluh tumpukan kayu gelondongan pinus spiral olahan ke dalam tiga inventaris pribadi kami.Begitu penuh, kami bergegas masuk ke pondok kayu dan memindahkannya ke penyimpanan rumah, sebuah kotak dekoratif besar yang menempel di dinding ruang tamu. Meskipun masa hidup bangunan itu sendiri mungkin sedang menurun, tempat itu masih berfungsi sebagai rumah, jadi kalaupun ada kemungkinan kecil pemain lain kebetulan menemukan pondok kami saat kami, mereka takkan bisa masuk, apalagi mencuri kayu-kayu berharga kami.Saat seratus lima puluh batang kayu telah tersimpan di dalam pondok, kami memunguti semua sisa kulit kayu yang masih berserakan, dan meski tak tahu apa gunanya, kami menyimpannya juga. Terakhir, kami mengemas senjata-senjata yang belum bisa digunakan untuk sementara waktu, lalu beranjak ke ruang tamu. Waktu menunjukkan pukul 18:55 sekarang.Saat login berikutnya, aku butuh zirah baru... atau setidaknya pakaian, pikirku seraya menunduk menatap avatarku yang nyaris telanjang. Lalu aku melirik Asuna dan Alice. "Sampai jumpa tiga puluh menit lagi.""...Ya."Aku belum menjelaskan inti rencana rahasiaku pada Asuna, tetapi sang pengguna rapier itu tetap menanggapinya dengan berani. Alice mengangguk tanpa kata, dan kami bertiga memanggil ring menu bersamaan. Ikon SYSTEM berada di kiri atas, dan dari submenu yang muncul setelahnya, kami menekan tombol LOG OUT yang bergambar pintu.Sebuah jendela konfirmasi muncul diiringi bunyi denting kecil. Jendela itu memperingatkan bahwa jika tidak log out di lokasi aman, ada kemungkinan karakter akan mati di tengah proses tersebut, tetapi tak ada tempat yang lebih aman daripada di dalam rumah milik pemain. Aku menekan tombol berbentuk tanda centang di bagian bawah jendela, dan teks di bagian atas jendela konfirmasi pun berubah.Disconnecting from Unital Ring."Unital... Ring?" ulangku. Itulah kali pertama aku mendengar nama dunia ini. Jadi kami bukan lagi berada di Alfheim. Ini adalah tempat asing yang dikuasai oleh sistem permainan yang benar-benar baru.Cincin pelangi muncul dari kakiku, mengelilingi avatarku dan menyelimuti pemandangan senja dengan banjir warna. Aku terangkat oleh sensasi tanpa bobot, arah gravitasi pun bergeser...
Saat sensasi tubuh fisikku kembali, aku belum sanggup membuka mata. Tekanan kasur di punggungku, empuknya bantal yang menopang kepala, serta tekstur serat alas kasur yang agak kasar di tanganku—semuanya adalah sensasi familier dari tempat tidurku sendiri. Tombol LOG OUT berfungsi sebagaimana mestinya.Merasa lega, aku baru saja hendak membuka mata ketika menyadari ada yang janggal. Terasa beban yang cukup berat menindih perutku. Malahan, aku merasa sisi-sisi tubuhku juga sedang tergencet. Apa aku diikat?! pikirku panik, seraya menyentakkan AmuSphere dari kepala dan membuka mata."Ah, Kakak sudah bangun!" seru sebuah suara. Aku tidak sedang disekap. Seseorang tengah duduk mengangkang di atas perutku. Kamar itu agak gelap, jadi aku tak bisa melihat wajahnya, tetapi hanya ada satu orang di seluruh dunia yang kutahu akan melakukan hal semacam ini."...Um... Suguha?" tanyaku pada adik perempuanku. "Sedang apa kau di situ?""Harusnya Kakak tak perlu tanya. Ini sudah hampir jam makan malam, jadi aku datang untuk membangunkanmu!" Suguha cemberut sambil menggembungkan pipinya. Ia mengulurkan tangan yang terbalut lengan jaket olahraga dan menarik poniku.
"Aku sudah mengguncang-guncang tubuh Kakak, tapi Kakak tidak bangun-bangun, sampai aku nyaris melepas paksa AmuSphere-mu. Sedang dalam pertarungan pun, harusnya Kakak sadar!""Tidak, aku tidak sedang bertarung... Hmm, aneh sekali. Aku sama sekali tak merasakan guncangan apa pun. Lagipula, tak perlu pakai fisik begitu; kau kan bisa mengirim pesan saja." ALO memungkinkan komunikasi dengan jaringan luar, yang berarti kau bisa menjelajah internet saat berada di dalam gim, bertukar e-mail, dan mengirim pesan singkat.Namun Suguha makin cemberut dan memprotes, "Sudah kulakukan! Dua kali! Tapi bermenit-menit berlalu tanpa balasan, jadi aku terpaksa mengambil tindakan yang lebih langsung!""Tunggu, benarkah? Aku tak menerima apa pun.""Kakak pasti terlalu asyik questing sampai tak sadar. Ugh, kalau saja aku pulang satu jam lebih awal, aku bisa bergabung dengan semuanya. Liz janji mau menunjukkan tempat baru yang bagus untuk menaikkan level skill...""Mereka mengundangku juga, tapi aku jelas menerima pesan Liz. Pasti ada kesalahan sistem atau pemutusan koneksi...," aku mulai bicara, sebelum menyadari sesuatu. Bukanlah error jika pesan Suguha tak sampai padaku. Pada saat itu, sistem permainan sudah beralih—dari gaya familier ALfheim Online menjadi RPG survival baru yang misterius, Unital Ring. Tampaknya, UR—jika itu singkatan resminya—tidak seramah ALO dalam hal koneksi luar."...Kurasa keputusanmu tepat untuk tidak dive, Sugu," gumamku. Adikku mengerjap."Apa maksud Kakak?""Um... susah dijelaskan secara singkat, tapi sesuatu yang buruk sedang terjadi di dalam sana...""Buruk? Seperti serangan Salamander?""Bukan, bukan hal semacam itu. Aku masih belum yakin apa yang ter—"Aku memotong ucapanku sendiri. Asuna dan Alice seharusnya sudah log out dengan aman sekarang, sepertiku. Tapi bagaimana dengan Liz, Silica, dan Yui, yang berada di lantai empat puluh lima New Aincrad saat anomali itu terjadi? Aku bangkit duduk, membuat Suguha terguling dari posisi menungganginya hingga jatuh telentang."Aaagh!" pekiknya, kakinya menendang-nendang di udara, tetapi aku mengabaikan adikku dan menyambar Augma dari meja lalu mengenakannya.Segera setelah aktif, aku berteriak, "Yui, kau di sana?!" Namun tak ada jawaban. Dia mungkin masih di ALO... er, di Unital Ring. Jika mau, aku bisa menggunakan PC tempat program inti Yui disimpan untuk memutus koneksinya ke gim, tapi aku tak ingin memaksanya melakukan apa pun kecuali benar-benar perlu."Tapi apa artinya ini...?" gumamku pada diri sendiri. Lalu sesuatu terlintas di benakku. Fakta bahwa aku bisa log out berarti Unital Ring tidak tertutup dari dunia luar seperti SAO yang lama. Peristiwa abnormal itu terjadi sekitar pukul lima sore, dan sekarang hampir pukul tujuh. Selama dua jam terakhir, banyak pemain ALO pasti sudah log out dan bicara pada penerbit atau bertukar informasi di tempat lain secara daring.Menggunakan desktop virtual yang ditampilkan Augma-ku, aku mencoba mengakses situs info gim daring terbesar di negara ini, MMO Today. Namun tepat saat itu, Suguha berdiri dengan garang di sisiku, setelah berguling turun dari tempat tidur, dan menarik kemejaku."Sudah kubilang, ini waktunya makan malam! Ibu memasak makanan kesukaanmu malam ini!"Yah, sekarang aku tak bisa bilang padanya aku akan makan nanti. Dengan enggan, aku bangkit berdiri, masih mengenakan Augma. Saat berjalan menyusuri lorong, aku membuka browser. Pertama, aku memeriksa pesan dari Ymir, perusahaan yang menjalankan ALO, tapi tidak ada apa-apa. Lalu aku pergi ke MMO Today, dan saat melirik halaman utama yang familier itu, aku memekik, "Nwuh...?!"Suguha, yang memimpin jalan, menoleh ke belakang dengan bingung."Ada apa?"Namun aku tak sanggup membuka mulut untuk bicara—atau bahkan melihat adikku. Tubuhku membeku layaknya batu, menatap judul utama di bagian atas halaman web.Anomali Besar-besaran Terjadi di Lebih dari Seratus Dunia VRMMO!Bukan hanya ALO. Anomali itu terjadi di seluruh Seed Nexus.
Aku membuat kedua gadis yang jengkel itu membuat tali rumput mereka sendiri agar mereka mempelajari skill Weaving, lalu kami kembali ke pondok kayu sembari membawa pisau batu baru kami. Pada titik ini, warna merah lembayung langit senja sudah tepat berada di atas kepala. Hari akan gelap dalam satu jam. Rasanya mustahil bagi kami mengumpulkan semua bahan perbaikan yang diperlukan dalam waktu sesingkat itu, tapi setidaknya aku ingin menyelesaikan urusan kayu gelondongan ini.Ini pasti berhasil, kataku pada diri sendiri, meletakkan tangan satunya di batang kayu terdekat dan membenamkan mata pisau ke kulit kayunya yang kasar. Dengan menggosoknya bolak-balik secara kuat, aku menciptakan suara robekan yang memuaskan, mengelupas kulit kayu itu hingga jatuh ke tanah, di mana ia... tidak menghilang. Sekali lagi, sebuah jendela muncul tepat di depan wajahku. Skill Woodworking didapatkan. Kemahiran naik menjadi 1.Aku sudah menduga hal itu akan terjadi, jadi aku segera menutupnya dan mengabaikan kulit kayu di tanah untuk saat ini, berfokus menggerakkan pisau. Jika kau mencoba menyerut batang pohon sebesar ini dengan pisau yang nyaris tak lebih baik dari alat Zaman Batu, itu akan memakan waktu lebih dari seharian penuh, tetapi di dunia virtual, selama cara kau melakukannya benar, sisa prosesnya akan disederhanakan—dalam banyak kasus.Kulit kayu yang tebal terkelupas dengan irama yang menyenangkan, dan hanya dalam satu menit, sawlog pinus spiral yang menghitam itu berkilau dan berubah menjadi kayu gelondongan bersih berwarna putih gading yang bulat. Alur-alur dangkal menjalar di seluruh bagian dalam kayu yang bersinar itu dalam bentuk spiral dan pusaran, yang kutebak menjadi asal-usul namanya. Aku mengetuk permukaannya, dan jendela yang muncul mengungkap item baru tersebut sebagai Sawed Aged Spiral Pine Log. Jendela perbaikan untuk pondok tidak menentukan spesies pohon secara spesifik, jadi seharusnya kayu ini memenuhi persyaratan."Kalian mengerti cara kerjanya?" tanyaku pada dua orang lainnya.Asuna dan Alice mengangguk."Kalau begitu bantu aku menguliti semua batang kayu ini."Kami langsung mengerjakannya. Dengan kami bertiga bekerja sama, 150 batang kayu itu memerlukan waktu kerja sekitar lima puluh menit.Tapi bukan itu saja. Selain kayu gelondongan olahan, kami membutuhkan tujuh puluh lima papan gergajian, dua ratus lembar besi, segenggam paku besi, minyak, dan kaca... Jelas mustahil bagi kami untuk mengumpulkan semua benda ini sebelum malam tiba. Urusan papan mungkin masih bisa diakali, tapi membuat lembaran besi dan paku dari nol akan membutuhkan berbagai bahan baku serta alat dan peralatan penunjang yang berkualitas, ditambah lagi kemahiran skill untuk menggunakannya.Aku benar-benar butuh wiki! pikirku putus asa sementara tanganku sibuk menguliti kayu. Dalam keadaan normal, berlarian mengumpulkan informasi sendiri dan bertukar pikiran dengan teman untuk mencapai tujuan adalah inti dari sebuah RPG—tapi dengan pondok kayu kami yang dijadwalkan runtuh dalam setengah hari, aku sangat membutuhkan bantuan apa pun yang bisa kudapat. Jika aku punya akses ke wiki sekarang, itu pasti akan sangat membantu bagaikan cat's meow. Sebenarnya, salah satu dari kami secara teknis adalah kucing. Jadi apakah istilahnya menjadi "cait sith's meow", kalau begitu? Mereka mungkin sudah melontarkan lelucon itu sejak ALO diluncurkan, jadi kuputuskan lebih baik tidak mencobanya pada audiens tawanan di hadapanku ini.Pikiran-pikiran melantur seperti itu memenuhi benakku saat tanganku sibuk bekerja. Pekerjaannya sendiri berjalan lancar, tetapi aku khawatir dengan durabilitas pisau batu yang kugunakan secara berlebihan ini. Bagaimanapun juga, itu pisau kasar, jadi aku takkan terkejut jika nilai durabilitas 15 itu turun menjadi nol sewaktu-waktu. Jika aku berhenti dan memeriksa propertinya, aku akan segera tahu angkanya, tapi bukannya aku punya cara untuk membuatnya bertahan lebih lama, jadi aku memilih untuk fokus pada tugas yang ada, berdoa semoga pisau itu bertahan.Sesekali, sebuah jendela muncul memberitahukan bahwa kemahiran Woodworking-ku meningkat, yang menjadi penyemangat yang kubutuhkan untuk terus bekerja. Aku memperkirakan lima puluh menit, tetapi karena semakin terbiasa dengan gerakan itu seiring waktu, kami mencapai batang kayu terakhir hanya dalam empat puluh dua menit. Asuna dan Alice selesai menguliti kayu kelima puluh mereka sedikit lebih dulu dariku, yang rasanya tidak adil, tapi setidaknya aku bisa berterima kasih pada pisauku karena bertahan sepanjang tugas itu.Batang pohon itu berkilau dan berubah menjadi kayu gergajian, dan aku mengetuk pisau batuku. Jendela itu mengatakan sisa durabilitasnya hanya 0.46. "Ooh, punyamu bertahan sangat tipis," komentar Alice. Dia memeriksa pisaunya sendiri. Tertulis 0.13."Melilitkan tali di gagangnya adalah keputusan yang tepat," kata Asuna dengan seringai yang cepat pudar. Dia mungkin teringat bahwa kami baru saja selesai mendapatkan satu dari enam bahan berbeda yang dibutuhkan untuk tugas ini. Dan pohon-pohon yang kami gunakan bahkan bukan pohon yang kami tebang sendiri—melainkan yang tumbang rata dengan tanah akibat jatuhnya pulau. Kami butuh setidaknya sebuah kapak untuk menebang lebih banyak pohon demi sisa dua belas kayu gelondongan dan semua papan itu."...Dua belas jam lagi...," gumamnya cemas.Aku terpaksa menambahkan satu lagi kenyataan pahit ke dalam situasi ini."Dan... besok hari Senin...""Ah!" Mata Asuna terbelalak; ia melupakan bagian itu. Seandainya ini menjelang Sabtu atau Minggu, kami bisa saja mencoba begadang semalaman untuk mengumpulkan bahan, tetapi tetap berada di dalam dive hingga saatnya berangkat sekolah adalah permintaan yang terlalu berlebihan.Aku mungkin bisa melakukan hal semacam itu, tapi seorang putri teladan dari keluarga kaya takkan bisa lolos dengan perilaku seperti itu. Ia baru saja berbaikan dengan ibunya yang tegas; ia tak perlu cari gara-gara karena bermain gim semalaman suntuk. Aku meletakkan tangan di bahunya dan berusaha menyalurkan ketenangan sebanyak mungkin ke dalam suaraku."Semua akan baik-baik saja. Jika orangtuaku tahu, aku bisa bersujud memohon ampunan mereka—aku akan menemukan cara untuk mengumpulkan semua bahan malam ini dan menyelamatkan pondok kita. Percayalah padaku; aku akan menyelesaikannya.""Dan tentu saja aku akan membantu. Jadwalku kosong sampai besok petang," imbuh Alice sambil tersenyum, tetapi hal itu tak membuat Asuna ceria."...Tapi... takkan mudah membuat besi dan kaca, kan? Jika kita bertiga bekerja sama hingga detik terakhir dan tetap gagal, mungkin aku bisa menerima kekalahan itu... tapi aku tak bisa log out lebih awal dan membiarkan kalian berdua mengerjakan bagian tersulit sendirian..."“…”Aku hendak menenangkannya lagi namun mengurungkan niat.Dalam situasi sebaliknya, aku mungkin akan log out lalu terjaga sepanjang malam, tak bisa tidur. Faktanya, probabilitas kami mendapatkan semua bahan dalam dua belas jam sangatlah rendah. Dalam situasi itu, aku lebih memilih dia tetap tinggal daripada harus mengusirnya pergi. Tapi..."Hmm..."Aku nyaris bisa merasakan asap mengepul dari telingaku saking kerasnya aku berpikir. Hampir tanpa sadar aku melakukannya, aku bertanya, "Ibumu... Bagaimana cara Kyouko-san memantau aktivitas dive-mu?""Yah, dia punya layar admin untuk server rumah kami. Dia tidak sepenuhnya mengawasiku seperti dulu, tapi dia memang sering begadang untuk bekerja... jadi kalau dia kebetulan melirik ke layar, dia akan langsung tahu.""Hmm, begitu rupanya... Baiklah, aku akan melakukan sesuatu soal itu.""A-apa?! Bagaimana caranya?!" tanya Asuna kaget.Aku menyeringai. "Biarlah itu jadi kejutan nanti... Bagaimanapun juga, kau perlu log off untuk makan malam, kan?""Ya... dari sekitar pukul tujuh hingga tujuh tiga puluh.""Oke, aku akan log off di waktu yang sama. Aku akan mengirimimu pesan setelahnya.""Baiklah..." ujar Asuna, tetapi masih tersirat kekhawatiran di matanya saat ia menatap pondok kayu dan terdiam.Dinding kiri telah runtuh total, langit-langitnya penyok parah, dan kerangka bangunannya bengkok. Rasanya menyakitkan hanya dengan melihatnya seperti ini. Setiap detik berlalu, durabilitas rumah kami terus terkikis. Aku hendak memberitahunya sekali lagi bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi Alice terlebih dulu memegangi perutnya dan mengeluh, "Andai saja tubuh mesinku sudah bisa menyantap makanan."Asuna dan aku terkejut. "Um... maksudmu, seperti roti dan nasi dan daging sungguhan dan semacamnya...?" tanyaku.Ksatria bertelinga kucing itu mengangguk dengan wajar. "Ya, tentu saja. Menurut Dr. Koujiro dan Higa, pengembangannya sedang berjalan. Rupanya, penyempurnaan sensor perasa dan semacamnya akan memakan waktu lebih lama.""Ooh!" seru Asuna, akhirnya tersenyum. Ia mengulurkan tangan menggenggam tangan Alice dan berseru, "Kalau begitu saat kau sudah bisa makan di dunia nyata, kita harus mengadakan pesta penyambutan untukmu di Dicey Café! Aku akan memasak banyak makanan lezat untuk acara itu!""Itu tawaran yang sangat menggiurkan. Aku harus mendesak Higa."Kedua wanita itu begitu bersemangat mengenai hal ini hingga yang bisa kupikirkan saat ini hanyalah Semoga beruntung, Higa.Langit mulai berubah menjadi ungu pekat pada titik ini, dengan bintang-bintang mulai mengintip. Sudah pukul 18:50, sudah waktunya bagi kami untuk log out dari dunia misterius ini—tapi ada sesuatu yang ingin kucoba terlebih dahulu. Asuna, Alice, dan aku membagi sepuluh tumpukan kayu gelondongan pinus spiral olahan ke dalam tiga inventaris pribadi kami.Begitu penuh, kami bergegas masuk ke pondok kayu dan memindahkannya ke penyimpanan rumah, sebuah kotak dekoratif besar yang menempel di dinding ruang tamu. Meskipun masa hidup bangunan itu sendiri mungkin sedang menurun, tempat itu masih berfungsi sebagai rumah, jadi kalaupun ada kemungkinan kecil pemain lain kebetulan menemukan pondok kami saat kami, mereka takkan bisa masuk, apalagi mencuri kayu-kayu berharga kami.Saat seratus lima puluh batang kayu telah tersimpan di dalam pondok, kami memunguti semua sisa kulit kayu yang masih berserakan, dan meski tak tahu apa gunanya, kami menyimpannya juga. Terakhir, kami mengemas senjata-senjata yang belum bisa digunakan untuk sementara waktu, lalu beranjak ke ruang tamu. Waktu menunjukkan pukul 18:55 sekarang.Saat login berikutnya, aku butuh zirah baru... atau setidaknya pakaian, pikirku seraya menunduk menatap avatarku yang nyaris telanjang. Lalu aku melirik Asuna dan Alice. "Sampai jumpa tiga puluh menit lagi.""...Ya."Aku belum menjelaskan inti rencana rahasiaku pada Asuna, tetapi sang pengguna rapier itu tetap menanggapinya dengan berani. Alice mengangguk tanpa kata, dan kami bertiga memanggil ring menu bersamaan. Ikon SYSTEM berada di kiri atas, dan dari submenu yang muncul setelahnya, kami menekan tombol LOG OUT yang bergambar pintu.Sebuah jendela konfirmasi muncul diiringi bunyi denting kecil. Jendela itu memperingatkan bahwa jika tidak log out di lokasi aman, ada kemungkinan karakter akan mati di tengah proses tersebut, tetapi tak ada tempat yang lebih aman daripada di dalam rumah milik pemain. Aku menekan tombol berbentuk tanda centang di bagian bawah jendela, dan teks di bagian atas jendela konfirmasi pun berubah.Disconnecting from Unital Ring."Unital... Ring?" ulangku. Itulah kali pertama aku mendengar nama dunia ini. Jadi kami bukan lagi berada di Alfheim. Ini adalah tempat asing yang dikuasai oleh sistem permainan yang benar-benar baru.Cincin pelangi muncul dari kakiku, mengelilingi avatarku dan menyelimuti pemandangan senja dengan banjir warna. Aku terangkat oleh sensasi tanpa bobot, arah gravitasi pun bergeser...
Saat sensasi tubuh fisikku kembali, aku belum sanggup membuka mata. Tekanan kasur di punggungku, empuknya bantal yang menopang kepala, serta tekstur serat alas kasur yang agak kasar di tanganku—semuanya adalah sensasi familier dari tempat tidurku sendiri. Tombol LOG OUT berfungsi sebagaimana mestinya.Merasa lega, aku baru saja hendak membuka mata ketika menyadari ada yang janggal. Terasa beban yang cukup berat menindih perutku. Malahan, aku merasa sisi-sisi tubuhku juga sedang tergencet. Apa aku diikat?! pikirku panik, seraya menyentakkan AmuSphere dari kepala dan membuka mata."Ah, Kakak sudah bangun!" seru sebuah suara. Aku tidak sedang disekap. Seseorang tengah duduk mengangkang di atas perutku. Kamar itu agak gelap, jadi aku tak bisa melihat wajahnya, tetapi hanya ada satu orang di seluruh dunia yang kutahu akan melakukan hal semacam ini."...Um... Suguha?" tanyaku pada adik perempuanku. "Sedang apa kau di situ?""Harusnya Kakak tak perlu tanya. Ini sudah hampir jam makan malam, jadi aku datang untuk membangunkanmu!" Suguha cemberut sambil menggembungkan pipinya. Ia mengulurkan tangan yang terbalut lengan jaket olahraga dan menarik poniku.
Komentar (0)
Memuat komentar...