Sword Art Online 021: Unital Ring I

Bagian 5

Estimasi waktu baca: 43 menit

Makan malam buatan Ibu adalah stew cokelat yang dipenuhi jamur dan daging ayam. Karena itu adalah makanan pertama yang kuminta setelah pulang dari SAO, aku menganggapnya sebagai makanan favoritku sejak saat itu. Tentu saja aku memang menyukainya, dan terkadang aku mencoba membuatnya sendiri. Namun aku tak sanggup berterus terang pada Ibu bahwa alasanku menyukainya terikat erat dengan kenangan di dalam Aincrad, dan bahwa aslinya itu adalah stew kelinci, bukan ayam.
Faktanya, semua hidangan favoritku—burger teri-mayo, ramen rasa garam, dan pai madu—berasal dari kenangan dunia virtual. Jika kenangan masa lalu itu memudar, mungkin aku takkan mau lagi menyantap makanan-makanan itu, tetapi untuk saat ini, tampaknya hal itu takkan terjadi.
Aku mengirim satu surel sebelum makan, lalu melepas Augma-ku agar bisa menikmati santapan—meski bekerja dengan teknologi sebagai pemimpin redaksi majalah TI, Ibu sangat cerewet soal etika perangkat elektronik di meja makan. Saat aku selesai membereskan semua piring, jam ruang tamu menunjukkan pukul 19:22. Hanya tinggal tiga menit sampai waktu janjianku bertemu kembali dengan Asuna.
Ibu sedang menikmati kopi pasca-makan malam di sofa; aku berterima kasih atas hidangannya dan beranjak kembali ke lantai atas. Suguha mengikuti di belakangku dan berkata, "Aku mau mandi dulu, ya?" sebelum menuju kamarnya.
Aku menarik kerah belakangnya.
"Gweh... A-apa-apaan itu?!"
"Kita perlu bicara. Ini penting. Bawa AmuSphere-mu ke kamarku sekarang juga."
"H... hah?"
Tak bisa kupungkiri aku pantas mendapatkan tatapan curiga darinya. Terlepas dari itu, aku mencengkeram bahu adikku, memutarnya, dan mendorongnya maju.
"Cepatlah!"
Suguha masuk ke kamarnya sambil menggerutu, tetapi ia kembali keluar dengan AmuSphere di satu tangan dan ponsel di tangan lainnya. Aku mengisyaratkannya masuk.
Begitu dia di dalam kamarku, aku menutup pintu dan bertanya secepat mungkin, "Sugu, di mana titik respawn-mu sekarang?!"
"Hah...? Di rumah Kakak... di lantai dua puluh dua New Aincrad."
"Bagus. Dan di situ tempat terakhir kau log out?"
"Benar. Ada apa sih sebenarnya ini?"
"Akan kujelaskan di dalam. Bersiaplah untuk dive."
"Dive... dari sini?!" ujarnya, matanya membelalak saat melihat sekeliling kamarku.
"Tapi Kakak bahkan tidak punya bantal duduk di sini. Apa aku harus tiduran di lantai?"
"Kita bisa berbagi tempat tidur. Ayo, cepat!"
Aku mendorong bahunya lagi dan mendudukkannya di tempat tidur. Dia mendongak menatapku, mulutnya bergerak tanpa suara. Aku menyambar AmuSphere dari tangannya dan memasangkannya ke kepalanya.
"Ah, h-hei, tunggu..."
Tepat saat itu, ponsel di tangan Suguha berbunyi menandakan notifikasi. Dia melihat layar secara refleks, dan alis tebalnya menukik turun.
"Oh, dari Nagata... Astaga! Lihat semua surel dan panggilan ini!"
"Abaikan saja. Aku tahu apa yang dia mau," kataku tanpa ampun, membuat mulut Suguha kembali menganga.
English Text: “H…huh…?” “There’s something more important to deal with now. C’mon, take the other side.” “Sheesh…” Suguha pouted but placed her phone on the headboard, then went to lie down on the back side of the bed. I positioned myself next to her and put on my AmuSphere, lowered the visor, and glanced at the clock in the lower left of the interior monitor as I waited for it to boot up. It was 7:24:47. Terjemahan Bahasa Indonesia:
"H... hah...?"
"Ada hal yang lebih penting untuk diurus sekarang. Ayo, ambil sisi sebelahnya."
"Dasar..."
Suguha cemberut tapi meletakkan ponselnya di sandaran kepala tempat tidur, lalu berbaring di sisi belakang kasur. Aku memosisikan diri di sebelahnya dan mengenakan AmuSphere-ku, menurunkan visor, dan melirik jam di kiri bawah monitor internal sembari menunggu proses booting. Pukul 19:24:47.
Sebenarnya tak perlu pas detik yang tepat, tapi aku tetap menarik napas dalam dan berkata, "Kita akan dive dalam hitungan mundur lima, empat, tiga, dua, satu..."
"Link Start!"

Saat gravitasi kembali bekerja dan menghempaskan telapak sepatuku ke lantai keras lagi, aku membuka mata dan melihat Undine berseragam ksatria putih serta Cait Sith berzirah emas sudah menunggu di ruang tamu pondok kayu. Di dalam gelap, hanya diterangi oleh obor buatan tangan yang lemah yang diselipkan di retakan dinding.
Asuna dan Alice hendak mengatakan sesuatu saat melihatku, tetapi mata mereka beralih ke sisi kananku. Dua detik kemudian, sosok keempat muncul di sebelahku, dan mereka berseru.
"Itu Leafa!" "Leafa!" Mereka bergegas menghampiri dan mencengkeram lengan prajurit sihir Sylph itu.
"Kau baik-baik saja! Syukurlah..."
"Kami sangat khawatir!"
Suguha, yang kini mewujud sebagai Leafa, tampak benar-benar kebingungan. Dia menatap mereka berdua.
"Um, Asuna, Alice... apa maksudnya baik-baik saja...? Kenapa di sini gelap sekali?"
Lalu dia menatapku, dan rahangnya kembali ternganga.
"K-Kakak... kenapa kau berpakaian seperti itu?!"
"Aku minta kau memaklumi penampilanku ini untuk sementara waktu," ujarku, melirik sekilas avatarku yang hanya bercelana dalam sebelum menatap adikku. Zirah hijau ringan dan katana panjang di pinggang kirinya adalah pakaian tempur biasanya.
Dia tampak tidak terbebani oleh perlengkapannya. Itu berarti masa tenggang untuk beban bawaan masih aktif. Telinga Leafa sudah berubah menjadi lebih mirip telinga manusia, tetapi perubahannya begitu halus hingga dia sendiri belum menyadarinya. Lega, aku bertanya padanya, "Sugu... maksudku, Leafa, ada yang berbeda dengan urutan login ALO tadi?"
"Hah? Oh... ya, aku agak bingung saat adegan jatuh tadi... Aku melewati semacam benda berbentuk roda bermotif. Itu beda dari biasanya. Apa itu?"
"...Sudah kuduga...," gumamku. Aku pernah melihat gambar itu sekali sebelumnya. Itu terjadi saat aku mengonversi avatar Spriggan-ku ke dunia yang berpusat pada tembak-menembak, Gun Gale Online.
"Itu cincin konversi. Saat kau login, avatarmu dipaksa dikonversi ke gaya dunia ini."
"H-hah?! Dikonversi...? Tapi ini kan rumah biasa Kakak... maksudku, rumah Kirito dan Asuna...," ujar Leafa, melihat sekeliling ruang tamu yang gelap.
Lalu dia menekan tangan ke mulutnya dan berucap dengan suara serak, "A... apa-apaan...? Asuna, apa yang terjadi?!" Aku tak bisa menyalahkannya karena kaget. Semua benda interior, perabotan, dan hiasan yang dipilih dan ditata Asuna dengan susah payah, telah lenyap dari ruang tamu yang luas itu.
Dan bukan itu saja. Dinding belakang tempat perapian besar dulu berada telah hancur total, menampakkan dunia luar. Bagian tengah lantai penyok parah. Ada lubang di langit-langit sana-sini. Aku sudah melihat kerusakannya berkali-kali sekarang, tapi tetap saja membuat hatiku sakit.
Asuna memindahkan tangannya dari lengan Leafa ke punggungnya dan berkata, "Leafa, kita tidak di Alfheim lagi. Kita diteleportasikan ke dunia ini bersama pondok kami... yah, tidak, kurasa bersama seluruh New Aincrad."

Kami duduk melingkar di tempat sofa besar nan empuk dulu berada, lalu memaparkan situasi kami saat ini kepada Leafa. Ia mendengarkan sambil memeluk lutut, lalu mengangguk saat kami selesai, membuat kuncir kuda pirangnya yang panjang bergoyang. Ia mengerling ke arahku.
"Begitu ya... Sekarang aku paham kenapa kau berpakaian seperti itu."
"Pengertianmu sangat berharga bagiku. Asuna dan Alice masih memiliki zirah mereka, tapi mereka tak bisa lagi melengkapi diri dengan pedang... jadi hanya pedangmulah yang bisa kami andalkan saat ini, Leafa."
"...Jadi kau membawaku ke sini untuk jadi pengawalmu?"
"Yah, uh, bukan cuma itu," sahutku buru-buru.
Adikku memelototiku, lalu memandang hutan lewat dinding yang runtuh. "Monster macam apa yang muncul di sekitar sini?"
"Kami belum melihat makhluk apa pun sejauh ini," jawab Alice. Ia meraba sabuk pedangnya yang kosong secara naluriah. Gerakan yang menyiratkan rasa kehilangan.
"Tapi saat kami pergi ke hutan mencari kayu bakar tadi, terdengar lolongan bersahutan di kejauhan. Hampir bisa dipastikan ada sesuatu yang hidup di hutan ini."
"Ugh... dan kalau aku level-1, berarti aku tak bisa menggunakan sihir..."
"Ya, Sacred Arts... er, mantra yang digunakan di Alfheim tidak berpengaruh di sini. Jika Yui ada di sini, dia mungkin bisa menjelaskan situasinya pada kita. Apa kau bisa berkomunikasi dengannya di sisi sana, Kirito?"
Bahkan dalam kegelapan, mata biru Alice bersinar terang layaknya safir. Aku menatap balik mata itu dan berkata, "Tidak, dia tak merespons. Kurasa kemungkinan besar dia masih ada di sini, di suatu tempat bersama Liz dan Silica."
"Hmm... Kuharap kita bisa bergabung kembali dengan mereka. Jika mereka berada di dalam New Aincrad, seharusnya mereka tak terlalu jauh..."
"Oh, soal itu!" sela Leafa seraya mencondongkan tubuh. "Aku mengerti bahwa New Aincrad jatuh ke bumi, tapi apa yang terjadi setelahnya? Apa kau melihat semuanya, Kirito?"
"Kami begitu sibuk berusaha agar pondok ini mendarat dengan lunak hingga aku tak sempat memperhatikannya..."
"Lagipula, Leafa," ujar Asuna, mengangkat tangan untuk menjelaskan, "potongan batu yang terbelah itu meluncur di udara bersama kami di atasnya, dengan sudut kemiringan sekitar tiga puluh derajat... Jika New Aincrad jatuh dari ketinggian enam mil, maka titik pendaratan kami berjarak sekitar sepuluh setengah mil jauhnya. Ada pegunungan batu di bawah kami di beberapa titik, jadi sejujurnya, kami bahkan tak mendengar suara hantaman New Aincrad ke tanah."
"Sepuluh mil... Itu perjalanan enteng kalau kita punya sayap," keluh Leafa, menggeliatkan punggungnya, tetapi tentu saja, tak ada sayap peri yang muncul. Dia begitu gandrung akan terbang hingga dijuluki Speedaholic. Kehilangan sayap pastilah guncangan yang lebih besar baginya ketimbang reset status karakter.
Namun sesuai sifat aslinya, adikku memasang senyum tegar dan menerimanya dengan lapang dada. "Baiklah, aku sudah paham situasinya. Jadi tujuan kalian sekarang adalah memperbaiki rumah ini, kan? Kalau begitu aku pasti bantu! Ini kan rumahku juga!"
"...Terima kasih, Leafa," ucap Asuna, terkejut sesaat. Ia menggenggam lembut tangan adikku lalu mengalihkan pandangan ke ruang tamu yang rusak.
"Berdasarkan laju penurunan durabilitas, kita punya waktu sedikit lebih dari sepuluh jam sebelum bangunan ini hancur... dan kita masih harus mengumpulkan segudang material sebelum itu. Yang kita butuhkan adalah..."
Asuna mengetuk lantai untuk memunculkan jendela properti rumah dan menunjukkan pada Leafa layar daftar item yang dibutuhkan untuk proses perbaikan. Sementara mereka mendiskusikannya, aku membuka ring menu dan memilih ikon SKILLS. Jendela yang muncul memuat daftar skill yang telah kudapatkan.
Di bagian paling atas ada skill One-Handed Sword yang merupakan peninggalan dari ALO, tetapi skill itu tak berguna saat ini, karena aku tak bisa menggunakan pedang asliku. Di bawahnya terdapat daftar skill kerajinan dan pendukung yang kupelajari sejak kami mendarat di sini. Stoneworking, Woodworking, Weaving, dan Physique. Semuanya baru sedikit di atas nol, tetapi itulah penyambung hidupku untuk saat ini.
Aku mengetuk skill Stoneworking, dan jendela baru muncul menampilkan tingkat kemahiranku saat ini serta item yang bisa kubuat dengannya. Di antara senjata primitif seperti pisau batu, kapak batu, dan tombak batu, terdapat pedang batu. Jika terpaksa, itu akan menjadi senjataku, tapi terlalu mudah membayangkan Suguha berguling-guling sambil tertawa sampai menangis saat melihatku memegang pedang batu hanya dengan mengenakan celana dalam, jadi aku berharap bisa membuat senjata pertamaku dari logam.
Di sebelah nama senjata-senjata batu itu terdapat simbol palu. Karena penasaran, aku mengetuknya, dan pop-up kecil bertuliskan Tips muncul disertai denting kecil.
Item yang ditampilkan dengan ikon ini harus dibuat secara manual, dengan tangan atau alat.
English Text: That would suggest that some items didn’ t need to be created that way, so I scrolled farther through the list. After the weapons were tools like stone plates, stone hammers, and whetstones, followed by building materials like stone blocks and stone foundations. All the items so far had the manual symbol next to them. Terjemahan Bahasa Indonesia:
Itu menyiratkan bahwa ada item yang tak perlu dibuat dengan cara seperti itu, jadi aku menggulir daftar lebih jauh lagi. Setelah senjata, ada peralatan seperti piring batu, palu batu, dan batu asah, diikuti material bangunan seperti balok batu dan fondasi batu. Semua item sejauh ini memiliki simbol manual di sebelahnya.
English Text: At the very bottom were names like stone hut and stone hearth and stone furnace, and they had a symbol that looked like two overlapping rectangles next to them. I tapped that icon, and the pop-up jingled again. Items displa yed wi th this icon can be produced from the skill window . All the necessary materials must be in your inventory already. Terjemahan Bahasa Indonesia:
Di bagian paling bawah terdapat nama-nama seperti gubuk batu, perapian batu, dan tungku batu, dan di sebelahnya terdapat simbol yang menyerupai dua persegi panjang yang saling tumpang tindih. Aku mengetuk ikon itu, dan pop-up kembali berdenting.
Item yang ditampilkan dengan ikon ini dapat diproduksi dari jendela skill. Semua material yang diperlukan harus sudah ada di dalam inventaris Anda.
"Begitu rupanya..." Aku mengetuk item gubuk batu untuk memunculkan daftar material yang dibutuhkan. Terdapat tombol PRODUCE di bagian bawah jendela. Karena terbawa suasana, aku menekannya, tetapi tentu saja muncul pesan: Anda tidak memiliki material yang diperlukan.
"Ooh, ada tungku untuk melebur besi!" seru Alice, yang menghampiri untuk melihat jendelaku.
"Bisakah kita menggunakannya untuk membuat lembaran besi, paku, dan semacamnya demi memperbaiki pondok kayu? Sekaligus membuat senjata baru?"
"Yah, kurasa itu benar," ujarku, tak bisa memberikan jawaban pasti antara ya atau tidak.
"Tapi tentu saja kita butuh bijih besi untuk membuat besi, dan itu tak mudah ditemukan di gim seperti ini. Aku ragu kita akan menemukannya menyembul begitu saja dari tanah di tengah dataran."
"Lalu di mana kau mendapatkannya?"
"Cara ortodoksnya adalah di gunung atau di dalam gua. Tapi tak ada gunung di sekitar sini..."
"Yang berarti tinggal gua," ujar ksatria bertelinga kucing itu. Suaranya terdengar tak antusias.
Satu hal yang kupelajari sejak kami mulai bertualang bersama di ALO adalah bahwa ksatria pemberani dan tampak sempurna yang kutemui di Underworld itu sebenarnya memiliki kelemahan alami terhadap hal-hal tertentu. Salah satunya adalah gua alami; meski ia sangat nyaman berada di dungeon dan katakombe buatan manusia, ia tak suka masuk ke gua dan ceruk yang terbentuk oleh kekuatan alam.
Aku curiga hal itu berkaitan dengan kenangan masa kecil yang jauh yang seharusnya sudah dihapus, tetapi aku tak pernah menganggapnya cukup penting untuk ditanyakan padanya.
"Yah, aku ragu kita akan kebetulan menemukan gua di mana pun kita melangkah... jadi mari fokus merampungkan semua material yang bisa kita buat dari kayu dulu. Terutama karena sekarang kita punya penebang kayu yang siap membantu."
Leafa berputar, tampak berang.
"Permisi, Kirito! Apa kau sedang membicarakanku?! Aku cuma punya pedang ini!"
"Dan itu sudah cukup. Saat aku di Underworld, aku menebang pohon yang tak bisa ditebang selama seribu tahun, dan itu hanya dengan sebilah pedang panja—"
"Oke, oke, aku akan melakukannya," selanya agar tak perlu mendengarku menyombong.
"Tapi berdasarkan ucapanmu, kemampuanku menggunakan pedang ini hanya akan bertahan selama... apa sebutannya tadi? Masa tenggang? Berapa jam lagi sisa waktunya?"
"Um, untuk mengetahuinya, kita harus bertanya pada orang di balik semua kekacauan in—," kataku, sampai Alice menyodok rusukku.
"Gah! Un... untuk apa itu?"
"Ini, Kirito, lihat ini," ujarnya, mengabaikan protesku dan membuka ring menu-nya. Aku menatap ikon-ikon itu, tetapi delapan ikon ungu tersebut tampak tak berbeda dari milikku.
"...Apa yang harus kulihat?"
"Warna ikonnya. Tidakkah warnanya tampak bergeser saat berputar ke kanan?"
"Oh... itu benar!" seru Asuna. Ia sudah membuka menunya sendiri dan mengangguk saat mengamatinya.
"Ya, ikon yang paling atas agak kemerahan, tapi saat bergerak searah jarum jam, warnanya makin membiru, sampai ikon kedelapan warnanya seperti ungu kebiruan. Tapi... apa maksudnya itu, Alice?"
"Saat aku melihat ini tepat setelah mendarat, seingatku hampir semua ikon berwarna biru. Itu melekat di benakku karena kupikir warnanya mirip bunga zephilia. Tapi sekarang, warnanya berubah, sampai sekitar ikon kelima... Mungkinkah ini menggambarkan sisa waktu masa tenggang?"
"Ohhh... aku mengerti maksudmu..."
Aku menutup semua jendela crafting dan menatap menu dasar. Jika ikon-ikon itu mewakili semacam pengatur waktu, seperti kata Alice... maka sekitar lima ikon telah berubah warna dalam dua setengah jam. Tiga puluh menit untuk setiap ikon.
"...Jika hanya tersisa tiga ikon, itu artinya tinggal satu setengah jam sampai semuanya berubah warna..."
"Apa...? Cuma segitu?!" seru Leafa, memandang sekeliling ruangan seolah mencari jam dinding.
Alice menutup ring menu-nya dan berkata singkat, "Ayo bergegas. Setidaknya kita harus menebang semua pohon yang dibutuhkan selagi kita masih bisa menggunakan pedang Leafa."
Kali ini Leafa tak mengeluh. Ia mencengkeram sarung katana panjangnya dan berkata serius, "Baiklah. Aku akan menebang pohonnya. Kalian yang menguliti kulit kayunya."
"Kita tahu apa yang harus dilakukan. Jadi ayo kita mulai bekerja, Leafa," ujar Asuna.
Dengan itu, kami bergegas keluar dari pintu yang terbuka. Namun langkah kami terhenti bahkan sebelum sempat turun dari beranda yang rusak parah itu. Kegelapan malam hutan yang pekat seolah menelan kami. Bahkan di luar, kami tak bisa melihat lebih dari belasan kaki ke depan.
"...Kurasa kita butuh penerangan...," gumamku, dan sekeliling kami menjadi sedikit lebih terang. Bukan karena gim ini berbaik hati membantu, melainkan karena Alice membawa keluar obor darurat yang tadi kami gunakan untuk menerangi pondok.
"Omong-omong, bagaimana caramu memantik api untuk menyalakannya?" tanyaku terlambat.
Alice mengeluarkan dua batu seukuran telur dari kantong di sabuknya untuk ditunjukkan padaku.
"Aku kembali sedikit lebih awal dari kalian berdua, jadi aku mencari batu api di sungai. Kupikir kita akan membutuhkannya saat gelap nanti."
"B-bagus sekali..."
Seharusnya aku sudah menduga bahwa seseorang yang benar-benar berasal dari dunia lain pasti berpikiran praktis!
"Jadi bagaimana cara pakainya?"
"Sebenarnya di sini lebih mudah daripada di Underworld. Kau cukup mengumpulkan rumput mati menjadi rabuk, lalu memantikkan bunga api sekitar sepuluh kali sampai menyala. Kemudian pindahkan apinya ke dahan kayu."
"Hmm..."
Aku lebih suka pakai sihir! keluhku dalam hati, tetapi berhasil kutahan agar tak terucap. Di SAO, di mana tak ada sihir, kami biasanya punya lentera, tapi mengingat cara menyalakannya hanya dengan mengetuknya, itu pada dasarnya sama saja dengan sihir. Dunia Unital Ring ini takkan mempermudah segalanya bagi kami.
"Yah, aku akan cari lagi..."
Namun sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Alice melompat turun ke tanah, melangkah beberapa jenak, lalu berjongkok. Ada tumpukan besar ranting mati di sana yang tak kulihat sebelumnya. Ia mengulurkan obor ke tengah tumpukan itu, dan tak lama kemudian ranting-ranting itu mulai meletup dan berderak hebat.
"Oh wow! Efek apinya realistis sekali!" seru Leafa.
Aku tak bisa menyalahkannya. Lidah api merah yang menari dan percikan yang membumbung begitu detail hingga aku tak bisa membedakannya dengan api unggun sungguhan. Seperti yang kupikirkan saat pertama kali melihat pepohonan di hutan, kualitas grafis dunia ini jauh melampaui ALO... bahkan SAO. Dari segi dampak visual, rasanya seperti meningkatkan layar panel datar dari kualitas HD ke 4K.
Namun hal itu juga tak sesuai dengan informasi yang kukumpulkan saat log out tadi. Bukan hanya kami pemain ALO yang dikonversi ke sini secara paksa. Melainkan mayoritas VRMMO besar yang membentuk Seed Nexus. Mungkin ratusan ribu pemain dari seratus lebih dunia virtual secara keseluruhan. Apakah kapasitas sistem di tahun 2026 sanggup menampung dunia yang cukup besar untuk memuat begitu banyak pemain namun tetap memiliki detail luar biasa seperti ini...?
"Kirito, sadarlah dan bantu kami!" Sebuah tangan menepuk punggung telanjangku, dan aku terlompat.
"Waduh!"
"Kau sendiri yang bilang kita tak punya waktu. Ayo bergerak!"
"B-benar..."
Seperti kata Leafa, ini waktunya bertindak, bukan merenung. Api unggun Alice kini menyala berkobar, memancarkan cahaya kemerahan ke hutan di sekeliling tanah lapang. Kami bisa melakukan banyak pekerjaan seperti ini tanpa perlu membawa obor.
"Oke, ayo lakukan..." aku mulai bicara.
English Text: But Leafa already had her blade out, swinging it fiercely at the nearest spiral pine. Sh wack! It made a nice, pleasing sound. Meanwhile, I was standing there with my fist raised at an awkward height, earning me mixed glances from Asuna and Alice. After we save our house, I’m going to get m ysel f some new gear, I swore to myself. Even i f i t means going to school after an all-nighter . Terjemahan Bahasa Indonesia:
Tapi Leafa sudah menghunus pedangnya, mengayunkannya dengan garang ke pohon pinus spiral terdekat. Blar! Terdengar suara hantaman yang memuaskan. Sementara itu, aku berdiri di sana dengan kepalan tangan terangkat canggung, memanen tatapan campur aduk dari Asuna dan Alice.
Setelah menyelamatkan rumah kami, aku akan mencari perlengkapan baru untuk diriku sendiri, sumpahku dalam hati. Sekalipun itu berarti harus pergi ke sekolah setelah begadang semalaman.

Sesuai hakikatnya sebagai senjata kelas Ancient di ALO, pedang Leafa membelah pinus spiral itu dengan mudahnya, meski itu bukanlah kapak penebang kayu sungguhan. Ia hanya butuh waktu tak lebih dari tiga puluh detik untuk menebang sebatang pohon, jadi meskipun ada tiga orang yang bekerja menguliti dan mengangkutnya, penundaan sedikit saja akan membuat antrean pekerjaan di pihak kami menumpuk.
Setelah lima belas menit kerja sama tim dengan fokus tinggi bersama Asuna dan Alice, kami berhasil mengumpulkan tumpukan besar batang kayu bermotif spiral di tanah lapang. Terdapat tiga tumpukan yang masing-masing berisi sepuluh batang. Jumlah itu seharusnya lebih dari cukup untuk membuat tujuh puluh lima papan gergajian yang kami butuhkan demi perbaikan.
Namun saat aku berdiri di sana dengan perasaan puas sambil bertolak pinggang, sebuah pertanyaan terlintas di benakku. "Um... bagaimana cara kita membuat papannya...?"
Memang banyak papan yang tersedia untuk dibeli di toko bangunan di dunia nyata, tapi aku tak tahu persis bagaimana cara pembuatannya. Tebakanku mereka mungkin hanya mengiris batang kayu menjadi potongan-potongan yang lebih tipis... namun kau mungkin membutuhkan peralatan berat untuk memproses batang kayu selebar ini.
Asuna memiliki pengetahuan untuk mendukung dugaanku.
"Tentu saja, kita tidak memiliki gergaji pita besar di sini, jadi setidaknya kita akan membutuhkan gergaji bingkai..."
"G-gergaji bingkai?"
"Ya, itu gergaji raksasa yang mereka gunakan di era Meiji dulu."
"Ohhh... sepertinya aku pernah melihatnya di buku teks sejarah Jepang sekali..."
Aku juga belum pernah mendengar tentang gergaji pita, tapi aku bisa menebak bahwa itu adalah nama sejenis alat pengolah kayu lainnya.
"Jadi kita butuh gergaji... Kita mungkin bisa membuatnya dengan besi dan skill Blacksmithing, tapi keduanya mungkin akan memakan banyak waktu. Tapi kalau dipikir-pikir lagi... mereka belum memiliki gergaji pada periode-periode paling awal sejarah Jepang, kan? Jadi bagaimana orang-orang zaman dulu membuat papan kayu?"
"Yah, coba kulihat..." Bahkan Asuna yang cerdas pun harus jeda sejenak dan memasang wajah seolah sedang menelusuri ingatannya, tetapi seperti biasa, ia menemukan jawabannya di sana. Dari situlah aku tahu bahwa otaknya memang berbeda dengan otakku.
"Gergaji yang bisa memotong kayu secara vertikal, seperti gergaji bingkai yang kusebutkan tadi... masuk ke Jepang dari daratan Asia pada abad keempat belas atau lima belas. Sebelum itu, mereka memalu pasak ke dalam batang kayu untuk membelahnya, lalu menggunakan kapak tangan dan ketam untuk menghaluskan permukaannya. Membelah kayu dengan pasak pada dasarnya hanya berharap serat kayu akan terbelah sesuai keinginanmu, jadi cara itu tidak efisien dan rentan gagal. Papan panjang benar-benar barang mewah di masa itu."
"Hah... Dengan pasak, ya?" gumamku, menatap tumpukan kayu gelondongan itu.
Aku sudah mengamatinya saat kami menguliti kulit kayunya. Nama pinus spiral jelas merujuk pada cara pohon itu tumbuh memutar layaknya mata bor. Serat-seratnya terpilin dalam pola spiral di dalam batangnya. Jika gim ini bahkan bisa memperhitungkan arah serat pada setiap pohon, maka menghantamnya dengan pasak hampir pasti akan menghancurkannya tanpa menghasilkan belahan yang lurus. Dan kami juga tak bisa mendapatkan pasak sampai peradaban kecil kami di tanah lapang hutan ini mencapai Zaman Besi.
"Rrrmmm... papan kayu benar-benar merupakan produk kebijaksanaan umat manusia," ujarku terkesan.
Asuna berkata, "Itu benar, tapi bukan hanya itu. Kau hanya bisa mendapatkan papan yang layak dari bagian tengah batang kayu, jadi itu sejatinya adalah kehidupan dan sejarah pohon yang telah hidup selama puluhan tahun. Kurasa jika kau melihatnya dari sudut pandang itu, masuk akal jika sulit membuat papan dari pohon."
"Benar juga. Namun, entah bagaimana caranya, kita harus mengubah ini menjadi papan, atau kita takkan bisa memperbaiki pondok kita...," kataku seraya menepuk ujung kayu gelondongan itu.
Tepat saat itu, Leafa kembali dari tugasnya bersama Alice dan menepuk punggungku dengan keras.
"Waduh!"
"Tenang saja, Kirito. Sebaiknya kau tidak meremehkan skill-ku dan kekuatan Lysavindr di sini."
"Aduh... kenapa semua orang terus-terusan menepuk punggungku...?"
"Ha-ha-ha! Kalau penampilanmu seperti itu, rasanya mustahil untuk menahan diri. Mau memberinya pukulan, Asuna?"
"Kau bisa memilih kata-kata yang lebih baik!" protesku, melompat menjauh dari mereka. Kupikir Asuna tampak kecewa sesaat, tetapi aku berharap itu hanyalah tipuan cahaya. Bagaimanapun juga, aku harus lebih berhati-hati untuk menjauhkan punggungku dari para wanita ini.
"N-ngomong-ngomong," tanyaku pada Leafa, "apa maksudmu soal skill-mu tadi?"
"Minggir saja." Dia memberi isyarat agar kami semua mundur, lalu berdiri di depan tumpukan kayu gelondongan. Bilah peraknya diam sempurna di tangannya, dalam kuda-kuda depan ortodoks.
"Um, Sugu, kau tidak berniat memotong kayu-kayu itu menggunakan pedangmu, kan—?" tanyaku, tak sengaja menyebut nama aslinya.
Tanpa menoleh, sang prajurit Sylph menyahut, "Aku sudah menebang tiga puluh batang, jadi kurasa aku sudah paham seluk-beluknya sekarang. Lihat saja."
Pada titik itu, aku tak punya pilihan lain. Sisi datar bilah Lysavindr berkilau kemerahan memantulkan cahaya api unggun. Secara kategori, katana panjang Leafa tergolong bastard sword, yang berarti saat diayunkan dengan satu tangan, ia bisa menggunakan skill One-Handed Sword, dan saat digenggam dengan kedua tangan, ia bisa menggunakan skill Two-Handed Sword.
Namun ada kelemahan yang menyertai kenyamanan itu; senjata itu berat dan sulit digunakan dengan satu tangan, tetapi lebih ringan dan tak sekuat pedang dua tangan sejati. Namun sebagai atlet kendo, ia mengklaim bahwa panjang dan beratnya justru sangat pas.
Saat kami bertiga menyaksikan, Leafa mengangkat bilahnya dengan mulus seolah ditarik oleh benang tak kasat mata. Lalu ia menjedanya dan menahannya sejenak hingga pendar hijau menyelimutinya—efek visual yang menandakan sword skill akan segera dilancarkan. Aku sudah yakin karena skill senjata masih eksis, tetapi ini adalah konfirmasi lebih lanjut bahwa berbagai serangan spesial dari SAO orisinal masih terbawa ke dalam gim ini.
"...Haah!" seru Leafa seraya mengayunkan pedangnya. Dua tebasan membelah udara malam: skill Two-Handed Sword dua bagian, Cataract. Biasanya, jurus itu berupa ayunan tinggi beruntun yang berbunyi wham, wham!
Namun versi Leafa begitu cepat hingga kedua tebasan itu tampak terjadi dalam satu tarikan napas. Tebasan itu menghunjam tepian batang kayu di puncak tumpukan, cahaya hijaunya menembus hingga ke ujung satunya sebelum sirna.
Setelah jeda sedetik, batang kayu itu terbelah dua tanpa suara, lalu terguling ke tanah. Di tengahnya, di antara celah tempat dua tebasan tadi lewat, terdapat selembar papan kayu tipis. Papan itu pun oleng ke kanan dan pasti sudah jatuh ke tanah seandainya aku tak melompat maju untuk menyambarnya lebih dulu.
Tebalnya sekitar tiga perempat inci. Permukaannya sehalus seolah telah diketam dengan penuh kasih sayang, dan serat kayunya terlihat jelas serta diagonal. Aku mengetuknya dengan tangan kiri untuk memunculkan jendela properti. Namanya adalah Sawed Aged Spiral Pine Plank.
"Bagaimana menurutmu, Kirito? Apa itu bisa dipakai untuk memperbaiki pondok?" tanya adikku seraya menurunkan pedangnya. Aku mengacungkan jempol.
"Sempurna. Tapi..." Aku memasukkan papan yang baru dipotong itu ke dalam inventaris, lalu melirik dua belahan batang kayu di tanah.
"...Metode ini hanya bisa menghasilkan satu papan per batang kayu... Kita perlu membuat penyangga untuk batang kayunya dulu..."
"Hah? Pakai tanganmu saja," ujarnya enteng. Lalu ia menunjuk salah satu belahan kayu dan berkata, "Taruh kembali itu di atas tumpukan, lalu pegang dalam posisi vertikal."
“……”
Firasatku buruk soal ini, tetapi aku menuruti perkataannya, memungut dan meletakkannya kembali ke tempat semula—tapi didirikan di atas sisi potongannya. Begitu keseimbangannya pas, aku menggunakan kedua tangan untuk menahannya.
"Sekarang tahan di situ. Ini dia..." Leafa mengangkat pedangnya lagi dan dengan mudah mengaktifkan sword skill. Ini adalah skill Two-Handed Sword satu serangan sederhana, Cascade. Bilah pedang menghantam tiga perempat inci dari potongan sebelumnya, cahaya hijaunya berkilau menembus bagian bawah tanganku.
"Waduh!" pekikku. Terasa guncangan ringan dari efeknya, tetapi tak ada damage. Aku pasti sudah melepaskannya, kalau saja Leafa tidak memerintah, "Tahan di situ!"
Kali ini, ia menggunakan Cataract lagi, yang baru saja selesai cooldown. Lalu Cascade sekali lagi, disusul oleh Cataract.
Setelah total enam tebasan, objek itu pasti kehabisan durabilitas, karena ujung batang kayu itu pecah berantakan layaknya kaca. Aku ditinggalkan dengan enam lempeng kayu panjang, sejajar sempurna, meski ukurannya sedikit bervariasi—ini tak terelakkan, karena kayu gelondongan berbentuk silinder bundar. Ditambah papan awal tadi, ini berarti kami mendapatkan tujuh papan kayu dari belahan batang kayu tersebut.
"Kerja yang brilian, Leafa!" puji Alice, yang memberinya tepuk tangan kecil.
"Saat aku hidup menyepi di dekat Rulid, aku mencari nafkah dengan menebang pohon, tapi aku tak pernah bisa membelahnya menjadi papan dengan begitu terampil."
"Ehe-he-he-he, ah, bukan apa-apa kok." Leafa terkekeh dengan nada yang agak menyeramkan.
"Tidak, itu benar-benar hebat," tambah Asuna.
"Skill Pedang Dua Tangan sulit dikendalikan, tapi kau mendaratkannya dengan akurasi sempurna. Kurasa Kirito pun takkan bisa melakukan itu."
Apa?! bantahku dalam hati. Namun aku tak punya cara untuk mendemonstrasikan skill luar biasaku saat ini. Alih-alih, aku diam-diam memasukkan enam papan itu ke inventaris, memutari sisi lain tumpukan, dan mengangkat belahan kayu satunya ke posisi semula.
"Ayo teruskan dan selesaikan sisa kayu gelondongannya, adikku sayang," perintahku.
Leafa berseru riang, "Siap!" dan mengangkat pedangnya lagi. Saat dia selesai membelah sepuluh batang kayu, waktu sudah lewat pukul delapan. Tinggal kurang dari satu jam sampai masa tenggang beban perlengkapan kami berakhir.
Karena ekshibisi pembelahan kayu Leafa nyaris tak pernah meleset, kami mendapatkan 130 papan, tetapi secara keseluruhan, kami baru memenuhi dua dari enam jenis material yang dibutuhkan untuk memperbaiki pondok kayu kami. Dan empat sisanya bakal sulit didapatkan. Kami bahkan tak tahu cara mendapatkannya.
"Sekarang kita harus melakukan sesuatu soal besi," gumam Asuna, menatap cahaya api unggun yang mulai meredup.
Aku bersedekap dan berkata, "Ya... Seharusnya aku bisa membuat tungku dengan batu-batu dari dasar sungai, tapi itu tak memecahkan masalah soal bijih untuk dimasukkan ke dalamnya. Aku yakin kita akan menemukannya di gua, seperti yang kita bicarakan tadi, tapi pasti ada monsternya... dan yang lebih tangguh daripada yang kita temukan di luar..."
"Aku tahu... Kalau saja kita bisa menggunakan pedang kita...," keluh Asuna, menatap tangannya. Aku merasakan hal yang sama—malah, aku dua kali lipat lebih frustrasi karena aku juga tak bisa memakai zirah. Memberi kami waktu empat jam untuk mengabaikan aturan itu memang bagus, tapi mengonversi karakter semua orang secara paksa dan mengatakan nasib sial jika kau sedang tak memakai perlengkapanmu, atau melepasnya sebentar, itu benar-benar kejam.
Sudah umum bagi orang-orang untuk melepas senjata di kota atau di dalam ruangan, dan pasti ada persentase tinggi dari ratusan ribu pemain yang terseret ke sini—seperti Asuna dan aku—yang tidak dibangun untuk peran tank dan tak lagi bisa memegang senjata mereka. Pada titik ini, papan pesan MMO Today dan berbagai jejaring sosial pasti sedang ramai mendiskusikan insiden ini. Aku ingin log out dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, tapi material untuk memperbaiki pondok kayu lebih prioritas. Leafa adalah tali harapan kami, dan dia hanya bisa menggunakan Lysavindr sebentar lagi.
"Aku jadi penasaran," gumam Asuna tiba-tiba, "bagaimana kau tahu kalau kakakku punya koneksi online itu, Kirito?"
"Er, i-itu..." Orang yang kikirimi surel lewat Augma-ku setelah log out tadi adalah kakak Asuna, Yuuki Kouichirou. Aku tahu dia memasang jalur khusus rahasia yang tidak melewati server rumah, dan aku memintanya membiarkan Asuna menggunakannya. Tapi aku tak punya waktu menjelaskan bagaimana aku tahu soal itu, jadi aku harus membuatnya sesingkat mungkin.
"Aku berjanji pada Kouichirou untuk memandunya keliling New Aincrad, dan saat itulah aku mendengar tentang jalur independen itu." Asuna mengeluarkan suara tersentak yang aneh.
"A-apa itu tadi?"
"Maaf... hanya saja aku tak terbiasa kau memanggil kakakku dengan nama depannya. Kau tahu kan itu tidak sopan..."
"Hei, dia yang memaksa. Bagaimanapun, itu artinya kau bisa dive sampai selarut apa pun tanpa khawatir dimarahi."
"Aku merasa agak bersalah, tapi Mama juga menyukai pondok ini, jadi rasanya aku harus menjelaskannya padanya suatu hari nanti," ujar Asuna, menghela napas sedikit. Lalu momen itu berlalu, dan dia berkata, "Nah, sebaiknya kita berangkat mencari bijih besi i—"
Dia tak menyelesaikan kalimatnya. Terdengar panggilan hewan liar lain dari hutan. Kali ini, bukan lolongan jauh, melainkan geraman permusuhan yang jelas. Suara itu disertai bunyi gemeretak ranting dan semak belukar.
"Kirito!" "Kakak!" Alice dan Leafa bergegas membentuk formasi.
Kami berempat menyiapkan senjata, tapi hanya Leafa yang memiliki pedang sungguhan. Tiga anggota 'penduduk asli' party ini hanya memegang pisau batu kasar yang menyedihkan. Tetap saja, itu lebih baik daripada tidak sama sekali, kataku pada diri sendiri, meremas gagang yang terbalut tali rumput.Sesuatu menggeram lagi, kali ini lebih dekat. Suaranya dalam dan serak, brrrrr, seperti suara mesin motor besar yang sedang idle. Jelas takkan ada benda semacam itu di dunia ini. Aku menyipitkan mata ke arah hutan yang gelap, tetapi terangnya api unggun membuatku tak mampu melihat apa pun di luar barisan pepohonan pertama.
Mungkin sebaiknya kami memadamkan apinya... Tapi jika ini adalah monster tipe hewan, mereka mungkin takut pada api. Aku harus berasumsi bahwa jika kami memadamkannya, takkan ada cara untuk menyalakan kembali kayu bakar itu dengan metode memantik bunga api yang tidak efisien begitu kami berada di tengah pertempuran. Seolah menegaskan keraguanku, geraman pendek ketiga terdengar.
Bunyi gemeretak ranting yang terinjak mendekat perlahan dari arah utara tanah lapang menuju ke barat. Pemilik suara itu berada tepat di balik batas pepohonan.
"Kita akan baik-baik saja," ujarku dengan suara yang cukup serak untuk mengindikasikan bahwa kami sebenarnya tidak baik-baik saja.
"Itu mungkin monster, tapi aku yakin itu cuma monster pemula yang lemah. Pisau batu seharusnya lebih dari cukup untuk membunuhnya."
"...Maksudmu seperti babi hutan biru di SAO?" tanya Asuna.
Aku mengangguk.
"Ya, sesuatu yang lebih rendah dari babi hutan, seperti serigala atau rubah atau nutria..."
"Kirito, apa itu nutria?" tanya Alice. Aku hendak memberitahunya bahwa itu mirip kapibara, tapi kemudian aku sadar dia juga takkan tahu apa itu kapibara. Apa sebutan tikus besar bertelinga panjang dari Underworld itu, ya...? Sebelum aku bisa mengingat jawabannya, sebuah lolongan yang sangat ganas terdengar dari hutan di sisi lain api unggun.
"Grroarrroooo!" Diiringi bunyi gemeretak dahsyat, serumpun semak belukar rata dengan tanah, dan sebuah bayangan besar melompat ke tanah lapang. Makhluk itu menerjang ke arah kami, menggetarkan bumi, dan berdiri tegak tepat di depan api. Ukurannya sangat besar. Kepalanya berada lebih dari enam kaki di atas tanah. Tungkainya tebal, kepalanya bulat, serta cakar dan taringnya luar biasa panjang dan tajam. Bulu cokelat kehitamannya panjang dan kusut. Jelas itu bukan serigala atau rubah—dan pastinya bukan nutria...
"B-b-beruaaang!" jerit Leafa seraya menunjuk makhluk itu. Lalu ia berputar menunjuk ke arahku. "Katamu tadi cuma monster lemah!"
"Hah? Aneh sekali...," gumamku. Lalu aku tersadar.
Kami terpisah dari New Aincrad bersama pondok kayu. Berkat hambatan udara, dan mungkin daya rotasi kastil melayang itu, kami mendarat lebih dari sepuluh mil jauhnya. Dalam istilah dunia nyata, itu hanya jarak dari kampung halamanku di Kawagoe ke kota tetangga Wakoshi, tapi dalam istilah RPG, itu adalah perjalanan tanpa akhir. Terlebih lagi, tak ada jaminan bahwa titik pendaratan New Aincrad adalah "zona awal" untuk gim ini. Seluruh area di sekitar kami bisa saja justru penuh dengan monster level menengah.
"Grrrlg...," geram beruang itu, berdiri dengan kaki belakangnya. Cahaya api dengan jelas menyinari pola petir bergerigi dari bulu putih di bawah lehernya. Kurasa alih-alih beruang bulan, ini adalah beruang petir. Aku ingin tahu nama resminya, tapi meskipun jelas-jelas bermusuhan, gim ini belum menampilkan kursor di atas kepala beruang itu.
Lawan atau lari? Otakku bekerja sangat keras saat menatap mata merah beruang yang penuh ancaman itu. Kami semua level-1. Jika beruang itu level-10 atau lebih, kami tak punya harapan. Tapi jika kami lari, pilihan kami hanyalah masuk ke dalam pondok atau menuju sungai di barat daya. Ada lubang besar di dinding pondok, dan bisa saja ada monster lain di sungai. Ditambah lagi, jika kami lari dalam kegelapan tanpa cahaya, aku yakin aku akan tersandung sesuatu dan jatuh dalam sekejap.
Tepat saat itu, terdengar bunyi kertak keras, dan kayu di api unggun runtuh, mengirimkan tirai percikan api yang besar ke udara. Dengan isyarat itu, beruang tersebut menurunkan kaki depannya ke tanah, mencakar tanah dengan kuku-kukunya yang garang beberapa kali, dan mulai menerjang.
"Kita harus lawan, Kirito!" teriak Leafa, menghunus pedangnya.
Tak ada waktu untuk berpikir lagi. Aku berteriak, "Ambil posisi depan!" dan melompat ke sisi kanan beruang, menyiapkan pisauku. Asuna melompat ke kiri, sementara Alice bergegas membantu Leafa.
"Gwoaaah!" raung beruang itu sambil berlari. Ia melompati api, sama sekali tak takut, dan mendarat di depan Leafa. Lalu ia berdiri dengan kaki belakangnya lagi, mengangkat cakarnya tinggi-tinggi. Leafa bukanlah target yang kecil, tapi karena bulu gelap beruang itu membaur dengan kegelapan, makhluk itu tampak tiga kali lebih besar darinya.
Namun, sang prajurit Sylph tak gentar. "Haah!" serunya seraya menerjang, bilah panjangnya berkilau menyasar tepat ke sisi kiri tubuh beruang yang terbuka. Efek damage merah terang memuncrat keluar, dan akhirnya, kursor merah serta batang HP muncul di atas kepala beruang itu.
Ini pertama kalinya aku melihat kursor di gim ini. Bentuknya berupa cincin berputar yang dipotong oleh pasak-pasak tajam. Cincin itu memuat batang HP dan nama monster di bagian atas dan bawah. Nama beruang itu ditampilkan dalam bahasa Jepang, bukan abjad Inggris, bertuliskan Thornspike Cave Bear.
Aku nyaris tak punya waktu memproses informasi visual ini ketika empat cakar besar menebas pandanganku. Namun, cakar kanan beruang yang masif itu tidak mengenai sasaran. Hilangnya sayap Leafa sama sekali tak mengurangi kelincahannya; ia dengan sigap menghindar dari cakar makhluk itu dan menusukkan pedangnya lagi. Serangan telak lainnya... tapi batang HP beruang itu baru turun sekitar 10 persen sejauh ini.
Lysavindr adalah salah satu senjata Ancient terhebat di ALO, dan jika spesifikasinya terbawa ke gim ini, maka, bahkan di tangan pemain level-1, senjata itu seharusnya bisa memusnahkan monster pemula dalam satu serangan. Jika sesulit ini untuk memberikan damage nyata padanya, berarti beruang itu pastilah monster berperingkat sangat tinggi.
"Groaaaah!" raungnya penuh amarah, merentangkan lengan dan mencoba menghalangi Leafa agar tak kabur. Begitu berhasil menangkapnya, kemungkinan besar ia berniat menggigitnya. Leafa harus sangat berhati-hati dalam mendekatinya. Namun inilah momen di mana Asuna, yang telah memutari bagian belakang beruang, dengan berani menerjang.
"Yaaaa!" pekiknya, dan segera setelah itu terdengar suara gedebuk berat. Pisau batu di tangannya terbenam dalam ke bulu beruang, dan memuncratkan cahaya merah saat ia segera menariknya kembali. Damage-nya sangat kecil, tapi berhasil menarik perhatian beruang. Ia berbalik untuk mengejar Asuna, tapi putarannya lambat, dan kakinya tidak dirancang untuk berputar dengan lincah.
Segera setelah aku merasakan perhatian beruang itu teralihkan, aku bertatapan dengan Alice, dan kami melompat bergerak bersamaan. Tanpa kata, kami menghunjamkan pisau ke sisi tubuh dan punggung binatang itu. "Goaaah!" raungnya, menyentakkan kepala ke belakang karena kesakitan.
Begitu kami melompat menjauh, Leafa mengaktifkan skill One-Handed Sword, Vertical Arc. Serangan itu mengukir huruf V biru di punggung masif beruang tersebut. Kali ini, efeknya terlihat jelas pada batang HP. Kini tersisa 70 persen.
Kita bisa menang!
Dengan tiga pisau yang keluar-masuk membingungkan beruang sementara Leafa menghantamnya dengan serangan besar, kami bisa menyelesaikannya dalam empat—tidak, tiga ronde lagi, aku yakin. Aku menarik napas untuk menginstruksikan kelompok agar terus mengulangi pola ini.
Kecuali... "Grraaagh!!" beruang itu melolong, menurunkan kaki depannya kembali ke tanah dan melompat ke arah hutan. Apakah ia akan melarikan diri—?
Sayangnya, bukan itu masalahnya. Ia menggunakan keempat kakinya untuk menjauh dengan cepat dari kami, lalu berbalik diiringi kepulan debu dan berdiri lagi. Ia merentangkan lengan, mengarahkan kepala ke langit, dan melengkungkan punggung besarnya sejauh mungkin. Garis bentuk petir yang sangat jelas dari bulu putih di dadanya tiba-tiba bergetar, seolah-olah itu adalah hewan yang sama sekali berbeda dan terpisah dari si beruang.
Sesuatu akan datang. Aku merasakan hawa dingin merambat di punggungku dan mencoba berteriak, "Menjauh dari..." Tapi terlambat. Bulu putih kasar pada pola petir itu berdiri tegak layaknya duri landak dan melesat mendesing dari dadanya. Ada lusinan... ratusan jumlahnya.
"Kirito!" teriak Alice. Ia melompat ke depanku dan menyilangkan lengan. Kami diselimuti badai duri. Tang-tang-tang! Zirah logam menangkis duri-duri itu, sementara sisanya menembus kulit dan kain—serta daging. Di bahu kanan dan kaki kiriku, aku tidak merasakan sakit, melainkan sesuatu yang sangat mirip—campuran rasa panas dan dingin yang intens menyatu.
Batang HP di sudut kiri atas pandanganku kehilangan lebih dari 70 persen nilainya sekaligus, berubah menjadi oranye tua. HP tiga orang lainnya juga turun. Aku melihat bahuku dan melihat duri putih susu dengan kilau logam menancap dalam, panjangnya sekitar enam inci dan lebarnya tak sampai satu inci.
Cuma dua duri ini menghilangkan hampir tiga perempat nyawaku?!
Aku mendengus kesal. Tapi aku adalah pemain level-1 tanpa zirah, dan monster ini setidaknya level-10, jadi kurasa sebuah keajaiban aku masih bisa selamat. Dan tanpa perlindungan Alice, aku pasti sudah mati. Baru saja mendemonstrasikan mengapa ia disebut Thornspike Cave Bear, binatang itu menurunkan kaki depannya ke tanah dan menggeram puas, yakin akan kemenangannya. Duri-duri bulu itu menyebar cukup luas; setidaknya ada lusinan yang menancap di zirah Leafa dan Asuna juga. Kami bakal habis jika diserang seperti itu lagi.
"Ayo mundur!" saranku.
Tapi dengan pisau batu terarah ke beruang, Asuna berteriak balik, "Ke mana kita harus pergi?!"
"Harus ke dalam pondok!"
"Tidak ada dindingnya!"
Ya, dinding kiri pondok kayu itu rusak parah hingga ada lubang besar menganga di sana. Jika beruang itu masuk...
"Kita hadapi saja nanti!" jawabku.
Asuna, Alice, dan Leafa memberiku tatapan yang berkata sudah kuduga, tapi mereka tetap mengikuti rencana itu.
Beruang itu kembali mendekat. Mata merahnya yang menyala penuh ancaman, memperingatkan bahwa jika mangsanya berbalik dan lari, ia siap menerkam punggung kami. Aku melambai pada tiga lainnya untuk mundur, sambil bergerak stabil menjauh ke kanan. Tujuanku adalah sisi lain tumpukan kayu gelondongan yang tidak kami gunakan untuk papan. Mundur hati-hati agar tidak membuka celah serangan, aku menunggu sampai tumpukan kayu menghalangi pandangan beruang, lalu berteriak, "Lari!"
Ilustrasi Thornspike Cave Bear sedang mengamuk.
Kami berlari sekencang mungkin menuju pintu masuk pondok kayu, tepat saat beruang itu meraung di belakang kami. "Gwaoooh!!" Aku bisa merasakan getaran dari bobot tubuhnya yang luar biasa saat ia berderap mengejar kami, diikuti oleh suara gemuruh yang bising.
Aku berbalik dan melihat beruang itu menerjang tumpukan kayu gelondongan dengan kepalanya, lalu terjebak di bawahnya saat tumpukan itu runtuh. Sia-sia saja aku berharap ia akan mati tergencet, tetapi tentu saja, kami tak seberuntung itu. Beruang itu dengan mudah menendang batang-batang pohon hingga terpental dan kembali menerjang. Batang HP-nya memang turun sedikit, tapi bahkan belum mencapai setengahnya.
"Cepat, Kirito!" desak Asuna.
Aku menoleh dan melihat para gadis itu sudah mencapai pintu masuk di beranda. Aku berlari sekuat tenaga, melompati tangga yang runtuh dan masuk ke dalam pondok, menyambar gagang pintu dan membantingnya hingga tertutup di belakangku memanfaatkan momentum lari.
Blar! Guncangan dahsyat menghantam pintu dua detik kemudian, menggetarkan seluruh pondok. Serpihan debu dan kayu berguguran dari balok yang retak dan atap yang berlubang.
"B-bantu tahan pintunya!" teriakku, tapi yang lain sudah ada di sana, menekan pintu itu. Terjadi guncangan lagi. Pintu itu makin melengkung, sampai-sampai aku takut daun pintunya akan segera lepas dari bingkainya.
Setelah dua kali hantaman tubuh ke pintu, aku merasa beruang itu berjalan menjauh. Kumohon, kembalilah ke hutan, doaku saat langkah kaki itu berlanjut ke arah kanan. Aku bergerak jinjit, mengintip keluar melalui bingkai jendela yang kacanya sudah pecah. Seketika, seolah sudah menungguku, beruang itu meraung "Grrfh!" dan menerjang ke arah kami. Aku panik dan menarik kepalaku kembali. Beruang itu tetap saja menanduk dinding. Dinding kayu, yang jauh lebih kuat daripada pintu, berderit dan retak, membuat makin banyak serpihan kayu berjatuhan di seluruh ruang tamu.
Asuna mengetuk dinding di dekatnya untuk melihat jendela properti dan memekik kecil.
"Kirito, durabilitas rumahnya turun!"
"Sial..." Aku mengertakkan gigi, tapi itu tak mengejutkan, setelah menerima tiga hantaman dari tubuh sebesar dan sekuat itu. Jika kami tetap di sini, dan beruang itu terus menyerang, cepat atau lambat ia akan merobohkan pondok ini sepenuhnya.
Pasti ada sesuatu—cara lain untuk mengusir binatang itu. Aku memandang sekeliling ruangan dengan kepanikan yang memuncak. Seandainya aku punya sebotol cabai kering di dapur, aku bisa menyerang hidung beruang itu dengannya, tapi segalanya mulai dari perabotan hingga bahan makanan telah lenyap saat kami diteleportasikan ke dunia ini. Satu-satunya yang tertinggal hanyalah kotak penyimpanan rumah kami, tapi itu juga...
Tidak kosong. Inspirasi muncul. Aku melirik kotak itu, lalu ke lubang besar di langit-langit, lalu ke kotak itu lagi. Jaraknya sangat dekat... tapi jika jangkauan permintaan trade di sini sama seperti di SAO dan ALO, seharusnya pas.
"Alice, berlututlah di situ!" perintahku. Ksatria bertelinga kucing itu tampak sangat bingung. Lalu hantaman keempat mengguncang pondok. Kami tak punya waktu untuk disia-siakan. Dengan wajah serius, Alice melakukan apa yang diperintahkan dan berlutut di tempat yang ditunjuk.
"Maaf soal ini!" teriakku, menempatkan kaki telanjangku di pelat bahu kanan zirahnya. Alice memekik kaget, tapi aku melontarkan diriku dari bahunya, meregangkan tubuh sejauh jangkauan lenganku. Bahkan dengan status karakterku yang di-reset, aku nyaris berhasil menggapai balok itu dengan ujung jari. Berjuang dan mengayunkan tubuh, aku berhasil menarik diriku naik, lalu memberikan perintah baru.
"Asuna, tarik semua kayu gelondongan dari menu penyimpanan rumah dan trade ke Leafa!" Setelah bertahun-tahun bekerja sama denganku, Asuna sudah terbiasa dengan ide-ideku yang membingungkan dan tanpa penjelasan. Tanpa bertanya kenapa, dia segera mengetuk kotak penyimpanan itu. Setelah menekan beberapa tombol di jendela, dia segera menumpukan tangannya ke lantai, seolah menahan beban tak kasat mata yang mengerikan. Namun dengan tekad kuat, dia memanggil ring menu dan mengirim permintaan trade kepada Leafa, yang menunggu sekitar enam kaki jauhnya.
Begitu sumber beban itu berpindah, giliran Leafa yang jatuh berlutut. "Berat sekaliii!" erangnya. Bahkan sebelum aku sempat memberitahunya apa yang harus dilakukan, dia sudah sibuk mengerjakannya; dia mengirim jendela trade ke Alice, yang menerima item tersebut, lalu mengirim permintaan trade terakhir ke arahku.
Jaraknya cukup jauh, tetapi aku melihat jendela kecil muncul. Di sinilah pengetahuan mendalam dan pengalaman bertahun-tahun bermain VRMMO menjadi sangat berguna. Jangkauan jendela trade sedikit lebih dari delapan kaki. Namun begitu menerima jendelanya, kau bisa bergerak tiga kaki lagi sebelum menyelesaikan atau menolak tawaran tersebut. Dihadapkan pada pesan kecil bertuliskan Alice telah mengirim permintaan trade. Apakah Anda menerima?, aku berdiri di atas balok langit-langit.
Terdapat lubang yang cukup besar untuk dilewati manusia pada atap tepat di atas kepalaku. Aku meraih tepiannya dan melakukan pull-up. Tepat sebelum melewati ambang batas tiga kaki itu, aku melepas satu tangan dan menekan tombol ACCEPT pada jendela, lalu kembali mencengkeram dan mendorong dengan segenap tenaga hingga aku sepenuhnya keluar dari lubang tersebut.
Aku berlutut di atap saat sebuah jendela muncul, bertuliskan Anda telah menerima 150 Sawed Aged Spiral Pine Logs.
Saat itu juga, bobot yang luar biasa menyentakku ke bawah. Aku jatuh telungkup di atap yang miring dan berusaha mati-matian agar tidak tergelincir jatuh.
Beruang di bawah menyadari keberadaanku di atap dan menggeram dengan suara dalam dan keras. Api unggun nyaris padam, tetapi cahayanya cukup untuk melihat sosok hitam besar itu mundur mengambil ancang-ancang. Posisinya sejajar sekitar tiga kaki di sebelah kananku. Teknik dan pengetahuan sudah tak lagi diperlukan. Yang kubutuhkan sekarang hanyalah nyali murni.
“Nwaaaaa!” raungku, sama kerasnya dengan si beruang, seraya merentangkan lenganku yang terlipat. Aku mengabaikan pesan sistem yang menyatakan Kemahiran skill Physique telah naik menjadi 3 dan menggunakan segenap tekad yang kumiliki untuk menggeser tubuhku ke kanan. Enam inci... satu kaki... dua kaki... tiga kaki.
English Text: “Graoooor g!! ” it howled monstrously. The bear began a fifth charge at the cabin. From my precarious spot on the gabled roof, I could easily imagine being shaken and tumbling off, but I fended off that fear to bring up my menu. From there, I tapped the log icon in my inventory menu, selected the button to materialize, and jabbed OK with my index finger. Terjemahan Bahasa Indonesia:
“Graoooorg!!” lolongnya dengan mengerikan.
Beruang itu memulai terjangan kelimanya ke arah pondok. Dari posisiku yang genting di atap pelana, dengan mudah aku membayangkan diriku terguncang dan terpelanting jatuh, tetapi aku menepis rasa takut itu demi memunculkan menuku. Dari sana, aku mengetuk ikon kayu gelondongan di menu inventaris, memilih tombol untuk mematerialisasikan, dan menekan OK dengan telunjukku.
Sejumlah batang kayu tiba-tiba muncul di depan mataku, masing-masing setebal lebih dari satu kaki, dan terguling menuruni kemiringan atap. Kayu-kayu itu muncul dalam aliran yang tak putus-putus, menutupi pandanganku sepenuhnya. Namun aku mendengar dengan sangat jelas hantaman batang kayu pertama ke tanah—serta jeritan beruang yang terperangkap. Batang-batang pinus spiral itu terus bermunculan di hadapanku, meluncur menuruni atap dan terlontar ke udara saat jatuh. Dan tak mengherankan—ada 150 batang kayu di ruang penyimpanan rumah kami.
Bahkan orang terkuat sekalipun takkan sanggup berdiri jika memikul semua beban itu di inventaris pribadinya. Namun, memanfaatkan jangkauan jendela trade memungkinkan kami mengoper kayu-kayu itu hingga ke atap layaknya estafet ember pemadam kebakaran. Suara gedebuk terus berlanjut tanpa henti di bawah sana, dan akhirnya beruang itu berhenti meraung. Tanah lapang berukuran sedang itu mungkin sudah berantakan oleh batang kayu sekarang, tetapi dibandingkan pedihnya kehilangan pondok kami, memungut kembali 150 batang kayu... atau seribu, atau sepuluh ribu sekalipun, bukanlah masalah besar.
Akhirnya, batang kayu terakhir keluar dari inventarisku, berguling dari atap, dan jatuh bergemuruh ke tumpukan di bawah. Tiba-tiba, terdengar musik fanfare asing di udara, megah dan agung namun entah mengapa terasa sunyi, dan sebuah cincin cahaya biru mengelilingi tubuhku. Cincin itu berputar cepat dan naik ke atas kepalaku, lalu lenyap, meninggalkan jendela pesan baru.
Level Kirito naik menjadi 13.
Dari 1 langsung ke 13?! Itu membuatku tercengang. Kenapa banyak sekali?! Cuma gara-gara menggulingkan sekumpulan kayu dari atap?! Namun sesaat kemudian, aku menyadari lonjakan besar poin pengalaman itu tentu saja bukan dari aktivitas menggulingkan kayu, melainkan dari kematian beruang gua di bawahnya. Aku hanya ingin membuatnya cukup terluka agar lari, tetapi jatuhan kayu itu rupanya cukup masif hingga menghabiskan sisa hit point beruang itu sepenuhnya.
Kalau begitu, mengapa aku tak mendapatkan pesan perolehan item sebelum fanfare kenaikan level? Bahkan monster hewan liar pun seharusnya menjatuhkan semacam material alami, jika bukan koin tunai. Dengan sangat hati-hati, aku merangkak menuruni kemiringan atap agar bisa mengintip ke tanah lapang di bawah. Seketika menjadi jelas mengapa tak ada item yang jatuh. Aku bisa melihat tubuh beruang itu, dengan tungkai terentang, di bawah lautan kayu yang kacau balau. Rupanya, di dunia ini, monster tidak hancur lebur seperti di SAO saat mati, melainkan tetap berwujud bangkai. Dengan kata lain, jika kau menginginkan bahan bakunya, kau harus mengambilnya sendiri.
Berasumsi bangkai itu takkan menghilang dalam waktu dekat, aku merangkak kembali ke lubang di atap. Terjatuh melaluinya sekarang akan menjadi puncak rasa malu, jadi aku menurunkan kakiku dengan hati-hati, masuk kembali ke dalam ruangan dengan selamat berkat bantuan balok langit-langit.
“Kau berhasil, Kirito!” sorak Asuna, meluncur ke arahku bak peluru meriam dan mengalungkan lengannya ke leherku. Aku menepuk punggung rampingnya dan hendak mengatakan bahwa ini berkat kerja kerasnya, ketika aku menyadari tatapan penuh arti yang dilemparkan Alice dan Leafa ke arah kami. Dengan kalkulasi ulang di tempat, aku berkata, “Ini berkat... k-kerja keras semuanya.” Alice mengangguk dengan senyum sombong yang seolah berkata Tentu saja begitu.

Serangan beruang itu adalah bencana terbesar—yah, terbesar kedua, setelah menghantam bumi bersama New Aincrad—sejak kami diteleportasikan ke dunia baru ini. Tapi kami berhasil selamat, berpencar untuk memunguti kembali semua batang kayu yang berserakan di luar, dan mengembalikannya ke penyimpanan rumah. Itu hanya menyisakan bangkai beruang raksasa yang tertinggal.
"Jadi... apa yang harus kita lakukan dengan ini?" tanya Leafa ragu.
Asuna dan Alice menatapku. Kupikir Alice punya pengalaman mengolah hewan liar yang diburunya di Underworld... tapi aku tak ingin mengandalkan hal itu. Aku menyiapkan pisau batuku.
Grafis di Unital Ring memang luar biasa, tapi pastinya mereka takkan mereka ulang mayat sampai tingkat serealistis itu. Pastinya mereka akan membuatnya sederhana, cukup satu atau dua tindakan cepat untuk menyelesaikan prosesnya. Pasti begitu, doaku saat menekan pisau ke rahang beruang itu.
Aku menyayat dengan rapi dari dada ke perut, dan beruang besar itu berkilau, lalu lenyap, meninggalkan banyak item. Sesuai dugaan, sebuah pesan muncul: Skill Dismantling didapatkan. Kemahiran naik menjadi 1. Aku menutup pesan itu dan melihat tumpukan material di tanah. Benda lembut berbulu itu pasti kulit beruang, dan gumpalan besar merah muda itu mungkin daging beruang, tapi ada banyak benda kecil lain berserakan di sekitar.
"Jadi barangnya tidak otomatis masuk ke inventaris," catat Asuna, memungut sesuatu dari tanah. Itu sebuah cakar, besar dan melengkung, panjangnya sekitar empat inci.
Alice menyadarinya dan mengerutkan kening. "Tapi bagaimana mereka menentukan siapa yang mendapat hak menjarah?"
"Siapa saja bisa mengambil apa saja... asumiku," ujarku, merenungkan hal ini.
"Tapi kalau kulit dan daging beruang sih satu hal, rasanya bakal kacau balau kalau senjata dan item langka jatuh dalam pertempuran raid skala penuh. Biarpun kalian sudah menentukan aturannya di awal, tak ada apa pun dalam gim yang mencegah seseorang mengabaikannya..."
Itu pemikiran yang meresahkan bagiku, tapi bukan sesuatu yang harus kami hadapi dalam waktu dekat. Asuna melemparkan cakar beruang itu padaku dan menepuk tangannya.
"Yah! Untuk saat ini cuma ada kita di sini. Ayo kita masukkan sisa-sisa tubuh Tuan Beruang ke penyimpanan dan kembali mengumpulkan material perbaikan."
"Ide bagus," setujuku, membuka ring menu. Tinggal satu ikon yang warnanya masih asli sekarang. Kami punya tiga puluh menit sampai masa tenggang berakhir. Leafa menatap warna-warna itu dengan wajah serius.
"Tapi, Kirito, kita perlu cari besi selanjutnya, kan? Kau punya petunjuk di mana mendapatkannya?"
"Aku mungkin punya ide."
"Oh ya? Di mana menurutmu?" Ketiga wanita itu menatapku dengan antusias. Aku menjepit cakar pemberian Asuna di antara dua jari dan memutarnya.
"Tempat makhluk ini."

Komentar (0)

Memuat komentar...