Sword Art Online 021: Unital Ring I
Bagian 6
Estimasi waktu baca: 13 menit"Tahu tidak ini mengingatkanku pada apa...? Shirodatsu," ujar Lisbeth.Silica terdiam dan mengerjap, sendok kayu terangkat di tangannya. "Sh... shirodatsu? Apa itu?""Keluargamu tidak menyebutnya begitu, Silica? Um, kau tahu kan, itu lho yang teksturnya kenyal-kenut dan kriuk-kriuk...""Kenyal-kenut. Kriuk-kriuk."Silica mengulangi kata sifat aneh dan jelas-jelas karangan itu, tetapi hal tersebut tak membuatnya makin paham apa yang coba dirujuk oleh Lisbeth. Di tangan kiri Silica terdapat mangkuk yang terisi sup beraroma pedas hingga nyaris penuh. Bahannya hanyalah sedikit suwiran daging dan objek terpilin menyerupai tali yang mirip pasta. Namun itu bukanlah bahan misterius—itu adalah tali whithergrass kasar yang telah mereka anyam dengan susah payah.Begitu melihat Lisbeth selesai mengunyah, Silica ikut menyendok tali itu. Tali tersebut telah dipotong-potong menjadi ukuran kurang dari tiga inci, tetapi cara anyamannya terurai di bagian ujung sama sekali tak menggugah selera. Ia ragu beberapa kali sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam mulut.Sensasi pertama yang dialaminya setelah menggigit adalah kekenyalan yang membal di gigi, disusul oleh bunyi krenyes basah dari tekstur berserat itu. Kini ia tahu apa arti "kenyal-kenut dan kriuk-kriuk" tadi. Rasanya tak terlalu kuat—kalaupun ada, itu hanyalah rasa kaldu yang diserapnya—tapi teksturnya sebenarnya tak seaneh itu. Malahan, ia merasa seperti sudah sering memakan sesuatu seperti ini di dunia nyata.Ia mencoba mengingat-ingat apa itu sembari mengunyah, dan indra pengecapnya memanggil kenangan nun jauh. "Oh...! Ini niimoji! Aku pernah makan ini di rumah kakekku jauh di Saga sana!" ujarnya.Kini giliran Lisbeth yang tampak curiga. "Niimoji? Bukan, ini jelas-jelas shirodatsu.""Seumur hidup aku belum pernah mendengarnya. Ini jelas-jelas niimoji."Keduanya saling pelotot dan mengertakkan gigi, hingga masalah itu diselesaikan oleh Yui, yang sedang mengunyah dengan sopan dan rapi di seberang meja. "Liz, Silica, kalian membicarakan makanan yang sama. Shirodatsu dan niimoji adalah nama daerah untuk batang talas.""Batang talas...""Ya, batang umbi-umbian yang tumbuh di Asia Timur. Batang itu direbus dan dikeringkan sebelum dimasak. Tentu saja aku belum pernah memakannya, jadi aku tak tahu seberapa mirip whithergrass ini dengan sayuran aslinya.""Ohhh, batang talas," ujar Lisbeth, menatap lekat-lekat whithergrass rebus di sendoknya."Memang benar makanan di gim-gim The Seed rasa dan teksturnya diambil dari benda dunia nyata. Kurasa, untuk menciptakan rasa whithergrass, mereka pasti menggunakan shirodatsu.""Maksudmu niimoji," tambah Silica, menyuapkan lebih banyak whithergrass ke mulutnya. Ia menggigit seratnya, lalu menarik bagian yang terurai dari mulutnya dengan jari dan menyodorkannya pada Pina yang duduk di pangkuannya. Naga kecil itu mengendusnya, lalu membuka mulut dan memakan pemberian itu. Rupanya, ia tidak keberatan dengan rasanya.Kelompok itu duduk di sisi tenda bundar berdiameter sekitar tiga puluh kaki. Mereka berada jauh dari pintu masuk dan duduk di atas permadani berbulu tebal dan mewah, yang dianggap sebagai kursi kehormatan. Di tengah tenda—yang sangat mirip dengan ger yang dibangun oleh pengembara Mongolia—terdapat perapian besar yang tertanam, di mana di tengahnya terdapat panci besi yang tak kalah besarnya di atas api. Duduk melingkar di sekelilingnya adalah banyak anggota suku Bashin, baik dewasa maupun anak-anak, yang sedang menikmati makan bersama dengan meriah.Panci itu berisi sup yang sama persis dengan yang sedang disantap Silica dan Lisbeth. Saat mereka mempersembahkan enam puluh tali whithergrass kepada orang Bashin sebagai bayaran tempat berteduh, orang-orang itu sangat gembira dan menyambut mereka untuk makan bersama. Rupanya, ini adalah pesta yang cukup mewah menurut standar mereka.Silica menghabiskan isi mangkuknya, berpikir bahwa rasanya tidak terlalu buruk jika sudah terbiasa. Tepat saat itu, si pembawa tombak yang mereka temui di padang gersang tadi—yang kini tak lagi membawa tombaknya—mendekat dan mengucapkan sesuatu dengan nada ramah."אאאא."Seperti biasa, dia tak bisa menangkap kata-katanya, tetapi Yui ada di sana untuk menerjemahkan."Dia bertanya apakah kau mau tambah.""Uh..."Dia menoleh ke arah rekannya. Lisbeth berbisik, "Mungkin dianggap tidak sopan kalau menolak," jadi Silica pun menyodorkan mangkuknya.Si pembawa tombak mengambilnya, tersenyum senang, berkata "אאאא, אאא," lalu berjalan kembali ke perapian."Apa katanya, Yui?""Um...," gumam gadis AI itu, menunjukkan keraguan yang jarang terlihat darinya. Akhirnya, dia berkata pelan, "Dia bilang untuk ukuran gadis Fel, kau makan cukup banyak.""Aku makan banyak...? Padahal kan dia yang menawari..."Sementara itu, Lisbeth terkikik kegirangan, jadi Silica menyikutnya, lalu bertanya tentang istilah asing tadi."Um... apa itu gadis Fel?""Aku tidak tahu... Itu bukan kata yang ada di memori internalku. Aku curiga, seperti suku Bashin, istilah itu merujuk pada kelompok etnis dalam setting dunia ini..."Lisbeth menandaskan sisa sup di mangkuknya dan mengunyah tanaman berserat itu sampai habis."Jadi ada banyak suku bangsa lain di dunia Unital Ring selain Bashin. Mungkin ada kota yang lebih maju dan besar di suatu tempat... sesuatu seperti Kota Awal dari Aincrad?""Oh, masuk akal," Silica setuju, mendongak menatap langit-langit tenda. Atap itu terbuat dari kain tebal yang diwarnai dengan pola sederhana, dan entah mengapa, lubang di atas perapian sebagai jalan keluar asap itu berbentuk bintang. Langit malam yang hitam pekat terlihat melalui lubang tersebut.Di pemukiman suku Bashin ini, terdapat tenda besar tersebut serta tujuh atau delapan tenda yang lebih kecil. Tempat ini bahkan belum cukup disebut desa. Di pinggiran perkemahan terdapat area berpagar yang berisi hewan-hewan mirip kambing, jadi mungkin mereka lebih bersifat nomaden daripada pemukim tetap. Bagaimanapun juga, sepertinya mustahil Silica dan Lisbeth akan menemukan peralatan dan informasi yang mereka butuhkan di sini.Tentu saja, mereka bisa menggunakan perlengkapan yang mereka bawa dari ALO, tapi menurut perkiraan Yui, masa tenggang di mana mereka bisa mengabaikan batas berat terus berjalan habis seiring perubahan warna ikon menu, dengan sisa waktu kurang dari tiga puluh menit. Setelah itu, dia harus memasukkan zirah ringan dan belati andalannya ke penyimpanan dan berganti ke sesuatu yang lebih ringan, tapi kalau begini terus, dia tak punya pilihan selain hanya memakai pakaian dalam. Untungnya, para wanita Bashin mengenakan pakaian yang sangat sejuk dan terbuka, jadi setidaknya dia tidak akan terlalu mencolok."Di sisi lain... kalau ada kota yang lebih besar di suatu tempat, aku yakin akan ada monster di sepanjang jalan," gumam Silica.Lisbeth merenungkan hal ini. "Yah, tentu saja. Astaga, empat jam itu terlalu singkat untuk masa tenggang... Kita akan menghabiskan semua waktu ini hanya untuk membangun tempat berlindung supaya bisa log out dengan aman. Kita takkan sempat mendapatkan perlengkapan baru sama sekali.""Sayang sekali skill Blacksmithing yang kau bawa itu, Liz.""Maaf ya kalau aku lebih berusaha keras di situ daripada skill Mace," ujar Lisbeth merajuk.Silica mencubit bagian lengan atas temannya yang empuk. "Tidak sama sekali; justru aku butuh kau memanfaatkannya!""Hei! Jangan pegang-pegang!"Saat mereka bertengkar kecil, si pembawa tombak Bashin kembali dengan mangkuk lain yang mengepul penuh dengan niimoji—er, whithergrass rebus. Silica memasukkan sendoknya ke dalam mangkuk. Si pembawa tombak lalu tampak bertanya pada Lisbeth dan Yui apakah mereka mau tambah juga karena mereka sudah selesai makan, tapi gadis-gadis itu menolak dengan sopan. Dia mengangguk dan hendak beranjak pergi saat Yui menanyakan sesuatu padanya.“אא, אאאא, אאא?””אאאא,אאאא."Seperti biasa, percakapan itu hanya terdengar seperti suara bising yang terdistorsi. Setelah berbalas komentar beberapa kali, si pembawa tombak merentangkan tangannya, lalu kembali ke area perapian."Apa yang kaukatakan padanya, Yui?" tanya Lisbeth. Gadis kecil itu menunduk menatap gaun putihnya."Aku bertanya apakah mereka punya armor cadangan—dan apakah mereka bersedia memberikannya pada kita.""W-wah... jago juga kau bernegosiasi...""Sebenarnya, dia bilang semua barang di perkemahan ini sangat penting. Tak ada yang tersisa... tapi mereka mau barter dengan kita.""Masalahnya kalau harus barter...," gumam Silica seraya menatap dirinya sendiri. Inventarisnya terkuras habis saat dia diteleportasikan ke dunia ini. Harta benda Silica hanyalah satu set zirah dan senjatanya, Issreidr. Meski sebentar lagi barang-barang itu tak mungkin dipakai, dia tak bisa begitu saja menyerahkannya. Dan Pina, yang sedang asyik mengunyah whithergrass rebus di pangkuannya, jelas tak mungkin diserahkan. Lisbeth pasti merasakan hal yang sama tentang barang miliknya.Namun Yui menggeleng dan, yang mengejutkan mereka, berkata, "Bukan, yang mereka inginkan bukan perlengkapan kalian, tapi tenaga... atau lebih tepatnya, kemampuan tempur kalian.""K-kemampuan tempur...?""Ya. Si pembawa tombak—kalau tak salah namanya Tajil—berkata bahwa selain New Aincrad yang jatuh di selatan, mereka melihat bintang kecil lain jatuh ke bumi di arah timur laut. Mereka harus pergi menyelidiki untuk memastikan tidak ada iblis yang menunggangi bintang itu. Jika kita menawarkan bantuan untuk misi tersebut, mereka akan memberi kita senjata dan zirah.""Bintang kecil...?" Silica mendongak melalui lubang di tenda. Hampir tak ada bintang yang terlihat dari situ. Kemungkinan besar yang dilihat orang Bashin itu bukan bintang jatuh, melainkan pecahan salah satu lantai New Aincrad yang terpisah saat jatuh.Dia mengutarakan gagasan itu, tapi Lisbeth tampak skeptis. "Kita berjalan jauh untuk sampai ke sini, kan? Memangnya pecahan New Aincrad bisa jatuh sejauh itu?""Tergantung bentuk pecahannya, kurasa itu mungkin," kata Yui, menangkupkan tangan di atas lututnya yang menyembul dari balik gaun."Salah satunya, VRMMO berbasis The Seed memiliki physics engine yang mengatur hambatan udara lebih tinggi daripada kenyataan. Aku menduga ini demi meredam guncangan mental akibat jatuh dari ketinggian, sehingga mencegah fitur keselamatan pengguna AmuSphere aktif. Tapi karena itu, jika tertiup angin dengan tepat, objek yang sangat besar pun seharusnya bisa melayang cukup jauh. Hanya saja kejadian itu sangat langka dan mungkin membutuhkan manipulasi pemain agar efeknya bertahan...""Hmm..." Penjelasannya sulit dipahami, tapi Silica tetap merenungkannya dan menatap Yui lalu Lisbeth bergantian."Liz, kalau pecahan New Aincrad itu memuat kota kecil saja, kita mungkin bisa mendapatkan perlengkapan dan consumable items.""Yah, aku takkan sepenuhnya menutup kemungkinan itu... tapi menurutku kemungkinan besar itu cuma bagian dari gunung atau hutan atau semacamnya.""Biarpun begitu, kita mungkin bisa menemukan material langka di sana yang tak ada di sekitar sini. Dan kalaupun gagal, kita tetap dapat perlengkapan karena membantu mereka menyelidiki. Tak ada alasan untuk menolaknya!""Kau memang tak pernah bisa melewatkan penawaran bagus, ya?" ujar Lisbeth dengan nada jengkel, tapi tampaknya dia mulai setuju."Yah, kurasa tak ada pilihan yang lebih baik bagi kita. Yui, bisakah kau beri tahu... um, Tajil ya namanya? Beri tahu dia kita bersedia membantu.""Akan kulakukan!" Yui bangkit dan berjalan ke perapian untuk bicara dengan si pembawa tombak. Mereka bertukar kata, dan pria itu menatap Silica serta Lisbeth, menyeringai, lalu mengangkat cangkir di tangannya. Silica merasa lega; kesepakatan tercapai."אאא!"Tepat saat itu, terdengar teriakan, dan tirai gantung di pintu masuk tenda tersibak dengan kasar. Melalui pintu itu masuklah sosok yang jelas-jelas paling besar dan paling kuat secara fisik dari orang Bashin yang pernah mereka lihat—dan dia seorang wanita.Dia mengenakan zirah kulit di dada dan pinggang, tapi hanya itu. Selain tubuhnya yang jangkung, dia memamerkan lebih banyak kulit daripada wanita lainnya. Cat perang yang garang dan mendetail menghiasi tubuhnya. Dia melangkah lebar menuju perapian dan berbicara pada si pembawa tombak dengan suara serak namun tegas dan lantang. Dari percakapan mereka, jelas bahwa statusnya lebih tinggi daripada pria itu. Tatapan yang ia lemparkan kepada para tamu dari waktu ke waktu dipenuhi rasa permusuhan dan penghinaan yang nyata.Akhirnya, si pembawa tombak mengangkat bahu dan mengangguk. Yui bergegas kembali untuk memberitahu para gadis apa yang terjadi."Nama wanita itu Yzelma, dan rupanya dia adalah pemimpin perkemahan ini. Yzelma bilang jika kalian ingin masuk dalam kelompok pengintai, kalian harus menunjukkan kemampuan kalian.""K-kemampuan...?" Silica berdiri, tetapi ia tak yakin apa yang harus dilakukan sekarang.Lisbeth berbisik, "Mungkin ini pertarungan event. Kalau iya, ini bagianmu, Silica.""A-apa?! Aku?!""Aku bahkan tak sempat membawa skill senjataku. Aku cuma punya Blacksmithing.""Yah, tapi aku juga masih level-1!" desis Silica balik, tetapi Lisbeth hanya menyeringai dan menepuk bahu temannya.Kalau tahu bakal begini, aku pasti sudah menaikkan level dengan melawan kalajengking dan laba-laba unta tadi, pikir Silica, tapi sudah terlambat sekarang. Lagipula, jam-jam yang mereka habiskan antara jatuhnya New Aincrad hingga bertemu anggota suku ini terlalu terfokus pada bertahan hidup, tak menyisakan waktu untuk grinding level. Jika aku kehilangan 30—tidak, 20 persen HP-ku, aku akan mundur dari pertarungan, putusnya, seraya menyerahkan Pina kepada Yui.Naga kecil itu mengepakkan sayap demi menjaga keseimbangan saat bertengger di kepala gadis itu dan mencicit, "Kyurrr!"Yui mengepalkan tangannya dan menambahkan, "Semoga berhasil!" sementara Lisbeth memberinya acungan jempol dalam diam. Dengan diamati saksama oleh teman-temannya, Silica melangkah menuju tengah tenda.Orang-orang Bashin yang sedang makan mundur merapat ke dinding, hanya menyisakan Yzelma sang prajurit di sebelah perapian. Mendekat membuatnya ukuran tubuhnya terasa kian nyata. Dari tingginya saja, dia lebih jangkung daripada avatar prajurit kapak Gnome raksasa milik Agil. Sangat terlambat bagi Silica untuk berharap mereka bisa menyelesaikan ini dengan dialog, tetapi bukan saja mereka tak saling memahami, masa tenggang juga akan berakhir kurang dari sepuluh menit. Pasti dia bermimpi kalau berpikir bisa mengalahkan Yzelma dalam kondisi tak bisa bergerak karena kelebihan beban.Silica berhenti di seberang perapian dari wanita itu, yang menatapnya dengan tajam seolah sedang menilai. Dia berusaha sekuat tenaga membalas tatapan itu dan menyadari bahwa Yzelma tidak memegang senjata. Apakah dia akan bertarung dengan tangan kosong? Namun tepat saat itu, wanita tersebut membungkuk dan memungut sebatang kayu bakar cadangan yang belum dimasukkan ke api. Jadi dia mau bertarung menggunakan sepotong kayu? Mungkin aku harus melakukan hal yang sama, pikir Silica, agak bingung.Yzelma menatapnya lekat-lekat, lalu membuka mulut untuk bicara. “אאאאא, אאאאאאא." Yui segera menerjemahkan pernyataan itu."Silica, dia bilang dia akan melempar kayu itu, dan kau harus membelahnya jadi dua sebelum menyentuh tanah!""Oh... i-itu saja?" sahut Silica tanpa berpikir. Yzelma tak mungkin mengerti artinya, tapi sepertinya dia merasakan sesuatu dari ekspresi Silica. Raut wajahnya menajam.Dia berteriak "אאאא!" dan melambungkan kayu itu tinggi ke udara.Silica tak butuh penerjemah untuk memahami tantangan itu: Lakukan kalau bisa.Tangan kanannya bergerak sendiri, menarik Issreidr dari pinggang kirinya. Potongan kayu itu mencapai titik puncak dan mulai turun sambil berputar. Jika dia membidik dengan akurat dan menebas dari bawah ke atas, itu sudah cukup untuk membelahnya. Namun alih-alih begitu, Silica menarik bilah familiarnya ke sisi kanan dan memutar pergelangan tangannya. Bilah pedang mulai bersinar merah dan mendesing. Yzelma tersentak dan mundur selangkah.Dengan bantuan sistem gim, tangan Silica melesat berulang kali, layaknya senapan mesin. Itu adalah sword skill belati empat tebasan, Fad Edge. Kata Fad dalam namanya adalah sedikit kebebasan kreatif, yang dimaksudkan berarti berubah-ubah atau sesuka hati. Karenanya, bidikannya memang sedikit kurang akurat, tetapi melalui banyak pengalaman, Silica telah menguasai teknik untuk mengoreksinya sedikit. Kecepatan dan kekuatan serangannya luar biasa, dan belati itu adalah senjata Ancient dari Jotunheim.Zzka-ka-ka-ka! Hantamannya menggetarkan dinding tenda, dan potongan kayu yang sedang jatuh itu terhenti sesaat di udara. Issreidr kembali ke sarungnya dalam kilatan cahaya, menimbulkan bunyi klik logam kecil saat meluncur masuk—tepat saat kayu itu terbelah tanpa suara menjadi lima bagian yang jatuh ke abu perapian. Sebelum Yzelma sempat pulih dari kekagetannya dan berkata sesuatu, terdengar sorakan riuh dari arah dinding tenda, dan anak-anak berhamburan menghampirinya. Saat mereka berseru "אא! אא!" dengan senyum smringah, Silica tiba-tiba merasakan hasrat yang kuat untuk segera belajar bahasa Bashin.
Komentar (0)
Memuat komentar...