Sword Art Online 021: Unital Ring I

Bagian 7

Estimasi waktu baca: 39 menit

27 September, pukul 21:05.
Akhir dari masa tenggang akhirnya tiba—semua ikon pada ring menu kini sepenuhnya berwarna ungu kemerahan. Asuna, Alice, Leafa, dan aku menantikan momen itu dari ruang tamu pondok kayu kami. Sisa-sisa warna biru pada ikon menu sistem—sebuah roda gigi—di kiri atas cincin perlahan tapi pasti memudar, lalu lenyap. Pada saat itu, serangkaian peristiwa yang kuduga akan terjadi, serta beberapa yang sama sekali tak kuduga, terjadi secara bersamaan.
Hal pertama yang kusadari adalah cahaya yang masuk melalui jendela. Itu bukan matahari terbit. Itu adalah warna ungu kemerahan yang cemerlang secara tak wajar. Aku berjalan ke jendela yang pecah dan memandang keluar, melihat serangkaian tirai cahaya yang beriak di langit malam. Itu adalah aurora.
Selanjutnya, kami mendengar sebuah suara. Suara itu sangat aneh, memadukan kemudaan seorang gadis belia dengan kebijaksanaan matang seorang wanita yang jauh lebih tua... namun entah bagaimana, rasanya familier bagiku, seolah aku pernah mendengarnya sebelumnya.
"Benih-benih bertunas, batang dan daun bersemi, hingga ujung-ujung bersatu membentuk gerbang melingkar. Wahai pengunjung negeri ini, yang terkuras harapannya, pertahankanlah nyawa tunggal kalian. Tahanlah hadapi ribuan cobaan, bertahanlah dari bahaya yang tak terkatakan, dan kepada ia yang pertama mencapai tanah yang disingkap oleh cahaya surgawi, segalanya akan dianugerahkan."
Ketika suara dari ketinggian itu senyap, aurora yang menerangi langit malam pun lenyap bersamanya. Pengunjung? Segalanya akan dianugerahkan...? Aku merenungkan makna kata-kata itu saat berdiri di jendela. Tapi kemudian terdengar jeritan di belakangku, dan aku berbalik dengan waspada.
"Ada ap—?" aku mulai bicara, sampai aku melihat apa yang terjadi.
"Sudah kuingatkan untuk melepasnya..."
Di tengah ruang tamu, tiga wanita sedang merangkak bertumpu pada tangan dan lutut. Masing-masing berusaha mati-matian untuk bangkit, tapi yang terbaik yang bisa mereka lakukan hanyalah menahan diri agar tidak jatuh tertelungkup. Dengan berakhirnya masa tenggang empat jam, bobot zirah level tinggi mereka kini berlaku sepenuhnya dan membebani mereka secara berlebihan. Alice tampak paling tertekan, karena dialah satu-satunya yang mengenakan zirah logam. Ia mengangkat wajahnya dengan penuh keputusasaan dan berteriak, "Kirito, keluar sebentar!"
Aku sudah menduga ini akan terjadi, jadi aku menjawab, "Baik, Nyonya," dan menurut, membuka pintu dengan hati-hati agar tidak lepas dari bingkainya saat aku keluar ke beranda. Dampak serangan Thornspike Cave Bear tadi telah menambah kerusakan pada kondisi pondok kayu yang sudah menyedihkan. Dinding depan yang tadinya sebagian besar utuh kini memiliki dua lubang besar, dan fondasinya miring secara signifikan. Perhitungan awal adalah kami punya waktu sampai jam enam besok pagi sebelum durabilitas habis, tapi sekarang akan habis dua jam lebih cepat. Itu berarti kami punya tujuh jam sampai tenggat waktu.
Tapi ada alasan untuk optimis juga. Dari semua material yang kami butuhkan untuk memperbaiki rumah, yang tampaknya paling sulit didapat adalah bijih besi, dan kami menemukan cukup banyak di gua beruang. Rupanya, mengonsumsi banyak zat besi adalah cara makhluk itu menumbuhkan bulu-bulu logam di dadanya.
Kami menggunakan kapak batu darurat untuk menambang bijih sebanyak yang bisa dibawa, tapi tak ada cara untuk tahu apakah ini akan menghasilkan cukup besi sampai kami meleburnya. Yang berarti misi kami berikutnya adalah langkah nyata pertama menuju Zaman Besi—membangun tungku yang layak untuk peleburan.
"...Tapi sebelum itu, aku benar-benar ingin pakaian," gumamku, menatap ke bawah pada avatarku yang hanya mengenakan pakaian dalam tanpa sehelai benang lain.
Aku merasa cukup rentan berjalan di hutan malam hari seperti ini, tapi kami harus menemukan gua beruang selagi masih bisa menggunakan pedang Leafa. Kami memang, pada kenyataannya, berakhir dalam pertempuran sekali lagi saat melakukan pencarian. Itu adalah monster tipe kelelawar raksasa, dan adikku yang brilianlah yang memastikan kami bisa mencapai tempat di mana kami menemukan semua besi itu. Ya, aku sudah melompat sampai level-13, tapi dalam RPG, perlengkapanmulah yang benar-benar menentukan kekuatanmu.
Jadi tungku dulu baru zirah—atau setidaknya pakaian. Lalu aku mendengar suara dari dalam memanggil, "Kakak boleh masuk lagi!" Tapi jawaban itu tidak memberitahuku bagaimana mereka menyelesaikan masalah beban berlebih itu. Merasa skeptis, aku membuka pintu dengan hati-hati.
Di ruang tamu yang diterangi obor, tiga gadis berdiri berbaris. Yang mengejutkanku, ketiganya mengenakan gaun yang identik.
"Uh... a-ada apa dengan pakaian itu?!" tanyaku, jari telunjukku bergoyang bolak-balik dari ujung ke ujung.
Dengan tatapan yang tujuh bagian bangga dan tiga bagian malu-malu, Asuna menjawab, "Kami membuat kain dari serat ubiquigrass dan mengubahnya menjadi pakaian."
English Text: “Wh-when did you…?” I gaped. This time, it was Alice’s turn to give me a grin. “We already knew from your example that the equipment we brought over from Alfheim would eventually be unusable. So I started to prepare from that point onward.” “A-and were you going to make something for…?” I tried to ask, but Leafa clapped her hands to interrupt. “Sorry, Kirito, we used up all the rough ubiquigrass cloth making our outfits. You’ll have to wait a little longer for us to make more!” Terjemahan Bahasa Indonesia:
"Ka-kapan kalian...?" aku menganga.
Kali ini, giliran Alice yang menyeringai padaku. "Kami sudah tahu dari contohmu bahwa perlengkapan yang kami bawa dari Alfheim akhirnya takkan bisa digunakan. Jadi aku mulai bersiap sejak saat itu."
"D-dan apa kalian akan membuatkan sesuatu untuk...?" aku mencoba bertanya, tapi Leafa menepuk tangannya untuk memotong.
"Maaf, Kirito, kami menghabiskan semua kain ubiquigrass kasar untuk membuat pakaian kami. Kau harus menunggu sedikit lebih lama bagi kami untuk membuat lagi!"
Ilustrasi Alice, Asuna, dan Leafa Mengenakan Gaun yang Identik.
"...Oke," ujarku, menghibur diri bahwa aku selalu bisa membuatnya sendiri nanti. Lagipula, kurasa masih banyak hal lain yang perlu dibahas saat ini.
"...Ngomong-ngomong, soal..."
"Tunggu dulu, Kakak. Bukankah ada hal lain yang harus kaukatakan lebih dulu?" sela Leafa. Dia berputar kecil memamerkan dirinya, yang membuatku mendengus.
"Ah ya. Tentu saja. Kalian semua terlihat sangat manis dengan—"
"Apa gim ini punya fitur foto, Kirito?" tanya Asuna. Jelas sekali, mereka bertiga sangat puas dengan gaun kain kasar mereka. Atau mungkin karena, untuk pertama kalinya, mereka semua mengenakan pakaian yang seragam.
Mereka tampak begitu bahagia hingga aku pun ingin mengabadikan momen itu, tetapi sayang sekali.
"Sepertinya tak ada tombol fotografi di UI... Mungkin ada item pemotret seperti di SAO, tapi aku ragu kita akan menemukannya dalam waktu dekat," ujar anggota trio yang paling kecewa, yang secara mengejutkan adalah Alice.
Namun dia segera memulihkan suasana hatinya dan menatap ke luar jendela. "Suara tadi... Pesan yang sangat aneh. Sesuatu tentang segalanya akan dianugerahkan."
"Oh! Ya, suara itu memang bilang begitu!" seru Leafa.
Asuna menambahkan, "Mengatakan segalanya sama saja dengan tidak mengatakan apa-apa... Tapi setidaknya aku agak paham apa yang mereka inginkan untuk kita lakukan..."
"Cara bicaranya mengingatkanku pada Pontifex," ujar Alice.
Akhirnya, aku menepukkan kepalan tanganku ke telapak tangan. Mungkin alasan suara itu terdengar begitu familier adalah karena ia mengingatkanku pada penguasa setengah manusia setengah dewa dari Underworld, Administrator, serta pidato-pidatonya yang angkuh dan penuh teka-teki.
Asuna dan Leafa tak tampak bingung dengan hal ini, sebab mereka tahu cukup banyak mengenai sejarah dan peristiwa di Underworld. Bagaimanapun juga, di sana mereka pernah menjadi Dewi Stacia dan Terraria. Tentu saja, suara tadi bukanlah milik Administrator.
Dia telah tewas di lantai teratas Central Cathedral, fluctlight-nya musnah. Dan hal itu harus ditebus dengan nyawa sahabat terbaik sekaligus mitra terkuatku... Rasa nyeri yang tiba-tiba dan mengejutkan menyengat dadaku, dan aku menahan napas. Hembusan napas perlahan membantuku membenamkan kembali denyut menyakitkan itu ke kedalaman ingatanku. Aku tersenyum pada para gadis, yang sedang menatapku dengan cemas.
"Yah... kesampingkan dulu soal suara tadi, kita harus bergegas memperbaiki rumah. Aku akan mengumpulkan batu-batu di tepi sungai. Kalian buatlah lebih banyak kayu bakar dari..."
Namun kalimat itu tak sempat kuselesaikan. Bukan karena gangguan dari luar; melainkan karena rasa haus dahsyat yang tiba-tiba menyerang, hingga lidahku kelu.
Aku melirik ke bawah batang HP dan MP, dan mendapati bahwa batang TP (Thirst Points) yang berwarna biru sudah berada di bawah titik tengah, sementara batang SP (Stamina Points) yang kuning juga turun sekitar 20 persen. Rupanya bukan hanya beban bawaan yang ditahan oleh masa tenggang tadi. Masa itu juga menahan rasa lapar dan haus, dan begitu suara misterius tadi terdengar, perlindungan itu pun lenyap seketika... Mulai detik ini, segalanya benar-benar menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.
"Aku... haus..." Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat Leafa serta dua lainnya juga sedang memegangi tenggorokan sembari terbatuk. Terlalu dini bagi tubuh asli kami untuk mengalami dehidrasi di dunia nyata, jadi ini pastilah sensasi virtual yang ditimbulkan oleh sistem gim. Dengan kata lain, kami bisa saja mengabaikannya tanpa dampak buruk pada tubuh fisik, tetapi begitu batang TP menyentuh nol, HP kamilah yang akan terkuras selanjutnya. Kami harus mengisi ulang cairan tubuh jika ingin selamat di sini.
"Kutarik ucapanku. Ayo kita semua pergi ke sungai," saranku, yang disetujui secara bulat. Asuna, Alice, dan aku membawa pisau batu andalan kami, sementara Leafa melengkapi diri dengan kapak batu yang tadi kami gunakan untuk menambang bijih, lalu kami pun meninggalkan pondok.
Dengan obor di tangan untuk menerangi jalan, kami bergegas ke barat daya menuju sungai. Sekadar mendengar suara alirannya yang sejuk dan gemericik membuat rasa kering di tenggorokanku terasa dua kali lebih menyiksa. Awalnya, aku berniat menggunakan suatu bahan untuk membuat cangkir, tapi aku tak sabar lagi. Aku berlutut di tepi sungai, menyelipkan pangkal obor di antara bebatuan, dan menyauk air dengan kedua tangan.
Tidak sedingin es yang menusuk, tetapi tetap terasa sangat sejuk. Saat aku mengangkatnya ke mulut dan meneguknya dengan rakus, sensasi melegakan yang menjalar hingga ke belakang kepala menyebar, dan batang TP-ku mulai pulih. Para gadis berlutut di sisiku dan ikut meminum air. Aku mengulangi proses itu tiga kali sebelum merasa normal kembali.
Ketika batang TP-ku sudah penuh, aku memeriksa jam di sudut pandanganku. Pukul sembilan lewat lima belas malam. Mulai saat ini aku harus menahan rasa haus untuk sementara waktu dan memastikan berapa jam yang dibutuhkan agar TP-ku turun ke tingkat berbahaya lagi. Setelah puas minum, kami berempat berdiri, lalu tersenyum malu-malu saat menyadari baju kami basah terciprat air, persis seperti anak kecil.
"...Aku ingin cangkir," ujar Alice. Asuna memandang tepian sungai.
"Kurasa kita tak bisa membuat cangkir dari rumput. Mungkin kau bisa mengukirnya dari kayu..."
"Mungkin lebih mudah membakarnya dari tanah liat," sahutku.
"Sebenarnya, tunggu dulu. Bakal merepotkan kalau harus turun ke sungai setiap kali kita haus. Kita perlu membuat wadah yang bisa menyimpan banyak air—dan botol minum untuk dibawa-bawa..."
"Bagaimana kalau kita gali sumur saja?" usul Alice.
Masuk akal juga. Hanya Centoria yang memiliki sistem perairan layak di Underworld. Di desa dan kota pinggiran seperti Rulid dan Zakkaria, orang-orang menggunakan sumur dan gentong air. Hal itu dimungkinkan karena dunia tersebut bukanlah tatanan digital konstruksi 3D biasa. Namun dalam gim VR normal, mengubah lanskap dengan membuat gunung atau menggali lubang dalam adalah hal yang mustahil.
"Kita bisa mencobanya nanti, tapi untuk sekarang, tungku adalah yang perta—" Namun sebelum kata itu sempat lolos dari bibirku, perutku dengan riang mengeluarkan bunyi keroncongan yang dahsyat. Aku merasakan gelombang rasa lapar menerjang, dan kini giliran batang SP yang nyaris hilang setengahnya.
Para gadis sontak memegangi perut mereka sendiri, mungkin khawatir akan mengeluarkan bunyi serupa. Hal itu mungkin berpengaruh di dunia nyata, tapi takkan berguna di ranah virtual... "Aaah! Aaah! Aaah!" teriak Leafa tiba-tiba. Aku tersentak, tubuhku menegang. Awalnya aku khawatir, tetapi kemudian aku sadar itu hanyalah usahanya untuk menutupi suara perutnya yang berbunyi. Ahhh, adikku yang manis dan konyol. Sebagai kakak tertua di sini, aku harus mengatakan sesuatu.
"Dengar, siapa yang peduli kalau perutmu bunyi sedikit? Lagipula, itu cuma avatarmu—bukan kau yang asli."
"Aku tak sudi mendengar itu dari pria yang berdandan ala manusia gua!"
"H-hei, aku begini bukan atas kemauanku sendiri. Lagipula kalian tak repot-repot membuatkan pakaian untukku, jadi..." Terdengar suara misterius lain, dan aku pun terdiam. Kali ini bukan berasal dari perutku sendiri, melainkan sumber lain... Suara kecipak air yang keras dari sekitar tengah sungai.
"...Apa itu?" tanya Asuna.
Wajah Alice menegang. "Mungkin hanya ikan yang melompat dari air."
"Apa? Ikan? Kalau begitu ayo kita tangkap!" seru Leafa, sama sekali tak berusaha menutupi rasa laparnya saat mendekati sungai.
Aku menyambar kerah bajunya dan menyentaknya mundur.
"Dengar, kita belum tahu itu ikan atau bukan. Bisa saja itu buaya."
"Ha-ha-ha! Sejak kapan ada buaya di hutan konifera?"
"Dan sejak kapan aturan akal sehat dunia nyata berlaku untuk...?"
Byur, byur.
Kali ini, suara baru itu terdengar lebih dekat dari sebelumnya. Sesuatu sedang mendekat.
"Menjauh dari air!" perintahku pada yang lain dengan suara seminim mungkin, mundur dari sungai sembari tetap memegangi kerah Leafa. Lalu aku memungut obor di dekatku dan menggenggam pisau di tangan satunya.
"Beri aku apinya juga!"
Aku menoleh ke kiri mendengar permintaan itu dan melihat Alice menyodorkan tongkat yang pasti ia pungut di tepian sungai. Cahaya dan durabilitasnya pasti lebih rendah daripada obor layak yang ujungnya dibalut rumput kering, tapi kami butuh segala jarak pandang yang bisa didapat saat ini. Aku memiringkan obor dan menyulut dahan mati itu.
Kini setelah cahaya kami 50 persen lebih terang, sinarnya menerangi kegelapan air. Arusnya rumit dan bergolak karena sungai membelok di titik itu, menyembunyikan apa pun yang ada di bawah permukaan. Aku menunggu selama beberapa detik, tetapi tak ada suara baru.
Mungkin itu memang cuma ikan...
Baru saja aku akhirnya rileks, air menyembur hanya sepuluh kaki jauhnya. Muncul kepala bulat dan paruh pipih, persis seperti bebek. Namun yang ini lebarnya satu kaki dan panjangnya dua kali lipat.
"...P-platipus...?" bisik Leafa. Seolah mendengarnya, makhluk itu membuka paruh kuningnya.
"Kwek." Yah, suaranya terdengar persis seperti bebek, tapi itu tak cukup untuk menenangkan sarafku—karena saat paruh itu terbuka, terlihatlah deretan taring kecil yang tajam.
"Kwek-kwek," ulangnya, terdengar konyol dan sengau, dan paruh masif itu mulai meluncur ke arah tepian. Aku memberi isyarat agar yang lain mundur lebih jauh.
Seperti halnya si beruang, makhluk ini belum memiliki kursor yang terlihat. Tampaknya, dalam gim ini, kursor musuh takkan muncul sampai kau atau anggota party menyerang atau diserang. Dengan kata lain, kau tak bisa menggunakan metode tampilan sistem untuk menentukan apakah makhluk itu mendekat karena bermusuhan atau karena ia tak berbahaya dan hanya menginginkan makanan.
Paruh itu berhenti lagi, tepat sebelum tepian air. Aku mengayunkan obor lebih dekat, tetap menjaga jarak, tetapi makhluk ini pun tampaknya tak takut api. Mata di kedua sisi kepalanya yang bulat berwarna hitam, memantulkan cahaya oranye obor. Tiba-tiba, ia memecah permukaan air dengan deburan keras, dan pemilik paruh itu bangkit menampakkan tubuhnya. Batang tubuhnya pendek dan kekar, dengan tungkai tebal. Awalnya tampak seperti platipus, tetapi alih-alih kulit berbulu, ia tertutup sisik hijau.
Platipus itu berjalan megal-megol sedikit, lalu bangkit berdiri dengan kaki belakangnya. Saat berdiri, kepalanya setinggi dadaku. Kini aku bisa melihat bahwa kaki belakangnya lebih besar daripada kaki depan dan jauh lebih kuat. Ekornya panjang dan berfungsi menjaga keseimbangan saat berdiri, persis seperti...
"...Dinosaurus!" teriakku tanpa sadar.
Platipus (platisaurus?) itu membuka paruhnya. "Kweeeek!" Suaranya masih terdengar persis seperti bebek, tetapi taring-taring berkilau itu tak diragukan lagi milik karnivora dan bakal lebih dari sekadar menyakitkan jika menggigitmu. Aku bersiap tempur, menyadari bahwa jika ia maju selangkah lagi ke arah kami, aku harus menyerang seketika, atau kami akan celaka.
Tepat saat itu, semacam gumpalan kemerahan melayang dari arah kiri dan mendarat telak di tengah paruh makhluk yang terbuka itu. "Gwek!" pekik si platisaurus, menundukkan kepala dan menggoyang-goyangkan paruhnya dengan heboh. Setelah menelan, ia membuka mulutnya lagi.
Aku menoleh dan melihat Asuna melemparkan gumpalan lain. Ukurannya kira-kira sebesar bola softball. Akhirnya, aku sadar bahwa yang dia lemparkan adalah daging Thornspike Cave Bear. Platisaurus itu melahap potongan daging kedua dan mulai bergerak ke arah Asuna melintasi tepian sungai berpasir. Lengan pendeknya melambai, dan ia memekik, "Kwek-kwek!" Jelas makhluk itu minta tambah, tapi aku tak tahu apakah memberinya daging lagi akan memuaskannya. Platisaurus itu lebih kecil dari beruang tadi, tapi dua kali ukuran anjing besar.
"Um, Asuna..." Aku ingin menyarankan untuk melempar potongan daging berikutnya lebih jauh, supaya kami bisa kabur saat platisaurus itu mengejarnya. Tapi dia mengangkat tangan untuk mendiamkanku dan berbisik, "Aku bisa melihat meteran bundar di depannya. Isinya sekitar enam puluh persen."
"M-meteran...?" ulangku membeo. Lalu aku tersadar—kemungkinan besar dia melihat indikator penjinakan.
Terlintas di pikiranku bahwa menjinakkan makhluk itu mungkin akan menimbulkan kesulitan tersendiri... tapi aku tak bisa mengatakannya sekarang. Asuna mengeluarkan bongkahan daging beruang ketiga dari inventarisnya dan mendekati makhluk itu, memegangnya di tangan alih-alih melemparnya. Platisaurus itu memekik dan mundur sebentar, tetapi nafsu makannya menang, dan ia mencondongkan kepala ke depan. Ia mengendus tangan Asuna dengan lubang hidung di ujung paruhnya, lalu mengambil daging itu ke mulut dan mengunyahnya.
Asuna menatapku dengan cemas dan berkata, "Meterannya penuh, tapi tak terjadi apa-apa... Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Um, entahlah..."
Kau yang memulainya, Asuna! Tapi sejujurnya, aku juga ingin penjinakan ini berhasil. Hanya saja aku tak tahu apa masalahnya.
Alice menyarankan, "Saat menangkap naga liar, kami menenangkan mereka dulu dengan daging, sebelum memasangkan tali kekang pada mereka."
"Tali kekang...? Oh, benar." Aku memanggil ring menu dan masuk ke inventaris. Ada sesuatu yang aneh di tengah cincin itu, tapi aku terlalu sibuk untuk menyelidikinya sekarang. Aku mengeluarkan sisa tali ubiquigrass dan melemparkannya ke Asuna. "Kalungkan itu di lehernya dan ikat!"
Sang fencer—pengguna pisau batu?—tampak takut memikirkan hal itu. Tapi aku harus berasumsi usaha itu hanya akan berhasil jika dilakukan Asuna, yang bisa melihat meterannya. Dia memegang tali dan perlahan mendekati platisaurus. Saat makhluk itu mengunyah daging beruang dengan asyiknya, dia menyelipkan ujung tali ke lehernya dan mencoba mengikat simpul.
"M-meterannya bergetar!" ujarnya gemetar.
Leafa memberinya semangat. "Kau pasti bisa, Asuna!"
"Aku cobaaaa," rengeknya, tapi ujung tali terlepas dari jemarinya.
Mengikat simpul adalah salah satu tindakan fisik tersulit dalam setting virtual, karena koordinasi halus yang dibutuhkan antar tangan. Sementara itu, platisaurus selesai memakan daging dan menyadari tali di lehernya. Ia memekik, "Kwek!"
Tapi saat itulah Asuna selesai mengikat talinya. Seketika, seluruh tubuh platisaurus berkilau, sama seperti material saat kau mengubahnya menjadi benda lain. Kursor 3D yang sama, memadukan batang HP bundar dan pasak tajam, muncul di atas kepalanya. Warnanya hijau. "Kwah-wah-wah-kwek!" seru platisaurus, menggosokkan ujung paruhnya ke wajah Asuna. Usaha pertama kami menjinakkan binatang sukses.
English Text: “You did it, Asuna!” cheered Leafa, throwing her arms around the platysaur’s neck and scratching at its triangular scales. The tamed monster made little grunting noises of pleasure. I stared at the cursor, eager to find out what the creature’s official name was. Underneath the HP bar was a string of words reading: Long-billed Giant Agamid. What’s an agamid? Terjemahan Bahasa Indonesia:
"Kau berhasil, Asuna!" sorak Leafa, merangkul leher platisaurus dan menggaruk sisik segitiganya.
Monster jinak itu mendengus kecil penuh kepuasan. Aku menatap kursor itu, tak sabar ingin mengetahui nama resmi makhluk tersebut. Di bawah batang HP terdapat deretan kata bertuliskan: Long-billed Giant Agamid.
Apa itu agamid?
Aku hendak bertanya pada Yui, sampai aku ingat putri tersayang kami berada di lokasi terpisah. Pilihan berikutnya adalah membuka peramban, tapi kami juga tak bisa melakukan itu. Yah, lain kali saat aku log out, aku bisa mencari di internet... kalau aku ingat. Bagaimanapun, untung sekali kami tak perlu bertarung. Karena Asuna berhasil menjinakkannya tanpa memiliki skill Beast Taming, kemungkinan monster itu tak terlalu kuat, tapi kami perlu menghindari setiap pertarungan yang mungkin terjadi sampai kami berhasil memperbaiki pondok dengan aman.
"Oke, ayo kita angkut batu-batu itu," ujarku, kembali menuju tepian sungai untuk menyelesaikan misi awal kami.
"Sebelum itu, kita harus makan," sahut Alice. Perutku sontak berbunyi merespons.
Suaranya agak mirip pekikan si Long-billed Giant Agamid.

Kami menyantap menu yang agak tak seimbang berupa daging beruang bakar, tetapi hidangan itu memulihkan rasa lapar dan batang SP-ku—ditambah HP yang hilang akibat pertarungan melawan beruang, yang merupakan bonus tak terduga. Barulah setelah itu kami akhirnya mengumpulkan batu-batu dari sungai. Material lain yang diperlukan adalah tanah liat dan rumput kering.

Rumput kering mudah didapat, tetapi awalnya aku tak yakin di mana bisa mendapatkan tanah liat. Lalu aku menyadari adanya bercak-bercak keputihan di tanah dekat sungai, menggalinya, dan saat mengetuknya, kutemukan bahwa benda itu bernama tanah liat abu-abu kasar, yang tampaknya sesuai dengan kebutuhan. Setelah semua material terkumpul, kami kembali ke pondok kayu, dan aku membuka menuku.
Saat itulah aku menyadari, sekali lagi, bahwa bagian dalam ring menu, di antara kedelapan ikon itu, bukan lagi ruang kosong.
"A...apa ini?" Itu adalah deretan angka yang menunjukkan 0000:01:03:24. Digit paling kanan bertambah satu setiap detik, jadi bisa kusimpulkan formatnya adalah hari : jam : menit : detik, tetapi waktu macam apa yang sedang diukurnya?
"Oh, kami menyadarinya saat sedang membuat pakaian tadi," ujar Asuna seraya membuka menunya sendiri. Hitungan yang sama terpampang di sana, angka-angkanya identik hingga ke detiknya.
"Coba kulihat... Satu jam tiga menit yang lalu itu...," ujarku, mencoba menghitung mundur ke momen dimulainya, tetapi itu tak perlu.
Dari balik bahuku, Alice mengumumkan dengan penuh keyakinan, "Jam itu mulai menghitung pukul 9:05... tepat saat suara tadi berkata segalanya akan dianugerahkan."
"Oh, benar... tentu saja. Tapi untuk apa penghitung ini? Rasanya kita tak butuh benda semacam ini hanya untuk mengingat berapa jam yang telah berlalu sejak saat itu..."
"Kalau boleh memilih, aku lebih suka jam yang menunjukkan waktu dunia nyata," ujar Leafa. Kami semua mengangguk. Namun mengingat kami masih belum tahu siapa pencipta Unital Ring atau mengapa mereka mengonversi ratusan ribu pemain, rasanya sia-sia menebak tujuan tersembunyi apa pun yang dikandung UI tersebut.
"Ayo fokus pada tugas kita sekarang," ujarku, menepis rasa frustrasi itu dan mengetuk ikon SKILLS. Dari daftar item yang bisa dibuat di bawah skill Stoneworking, kupilih Stone Furnace. Sesuatu yang aneh muncul di hadapanku—objek besar transparan berwarna ungu muda. Itu adalah tungku pengolahan logam dalam mode tampilan ghost. Jendela Tips baru muncul di depannya.
Memanipulasi posisi objek konstruksi dalam mode ghost dilakukan secara manual. Gunakan kontrol cubitan jari untuk mendekatkan atau menjauhkan—dan kepalkan tangan dengan kuat untuk memulai konstruksi. Setelah masuk mode konstruksi, pembatalan tidak dapat dilakukan.
"Kontrol cubitan...?" ulangku. Aku mencoba menutup tanganku sedikit, dan bayangan ghost sementara itu melayang mendekat. Jika aku merenggangkan jari, bayangan itu bergerak menjauh. Memiringkan tangan ke kiri atau kanan memungkinkanku menyesuaikan posisinya menempel di tanah dengan presisi.
"Kalian semua bisa melihat ini juga?" tanyaku, dan mereka bertiga mengangguk. Dugaanku, membuat konstruksi tak bisa dibatalkan bertujuan mencegah kejahilan atau gangguan menggunakan objek ghost. Mungkin menyenangkan melambai-lambaikannya dengan tangan, tapi hal terakhir yang kubutuhkan adalah seseorang menghukumku dengan tepukan keras di punggung lagi.
Terdapat ruang yang cukup luas di tanah lapang sekitar pondok kayu, tetapi mudah membayangkan kami bakal kehabisan tempat jika tak melakukannya secara logis. Setelah berdiskusi dengan Asuna, kami memutuskan untuk mengambil jarak dari dinding barat pondok. Dengan hati-hati kusesuaikan penempatannya lalu kukepalkan tangan kananku.
Dengan suara gedebuk! sebuah objek besar jatuh dari udara kosong dan mendarat di tanah tepat di posisi bayangan ghost tadi. Mode konstruksi berakhir, dan skill Stoneworking-ku meningkat lagi. Objek baru itu menyerupai perapian batu putih dengan adukan tanah liat abu-abu. Cerobong asapnya setinggi enam kaki, dan ruang pembakaran setengah lingkaran menonjol di bagian depan layaknya oven. Aku tak bisa tahu cara mengoperasikannya hanya dengan melihatnya.
Agamid raksasa itu mendekatinya lebih dulu, menjulurkan kepalanya ke area oven, mengendus, dan berkomentar, "Kwek!"
"Omong-omong... kita harus panggil dia apa?" tanyaku pada pemilik makhluk itu, yang tampak merenung.
"Hmm... aku tak terlalu jago membuat nama..."
"Jangan bercanda. Nama avatarmu saja nama aslimu."
Dia memukul bahuku. "Namamu juga praktis nama aslimu! Tapi... akan kupikirkan sesuatu," ujarnya seraya mengangkat bahu.
Agamid raksasa itu berlari kecil kembali, kuku-kukunya bergemerincing, dan Asuna menggaruk dagu makhluk itu. Mengingat kepribadiannya, dia takkan mau asal pilih nama pertama yang terlintas, melainkan akan meriset dan mencari nama yang penuh makna. Hal itu mengharuskan dia kembali ke dunia nyata, tetapi karena sedang meminjam koneksi rahasia kakaknya untuk dive, dia takkan log out sampai kami selesai memperbaiki pondok.
"Kirito, ayo langsung pakai saja!" seru Leafa, melambai memanggilku ke arah tungku. Aku menghampirinya.
"Oke." Aku menduga bakal ada trial and error, tetapi ternyata mengoperasikan tungku itu sederhana. Aku mengetuknya untuk memunculkan jendela khusus—lalu meletakkan material di sana atau mentransfernya langsung dari inventarisku—dan selesai.
Hal pertama yang kulakukan adalah memasukkan beberapa bijih yang kami ambil dari gua beruang, dan mengikuti saran di jendela Tips, memadatkan kayu ke dalam ruang pembakaran. Setelah menyulutnya dengan batu api Alice, api mulai menyala merah membara.
Tungku itu bekerja seperti apa yang disebut kompor roket, menyedot udara dari pintu masuk ruang pembakaran dan menyemburkan lidah api keluar dari cerobong asap dengan suara menderu. Prosesnya agak mirip mini game, di mana kau harus terus-menerus memasok bahan bakar di waktu yang tepat demi menjaga suhu bagian dalam tungku tetap ideal.
Kumasukkan kayu demi kayu, mengamati nyala api dari cerobong, hingga akhirnya logam cair merah membara menetes keluar dari keran dan mengalir ke cetakan persegi panjang di dasar tungku. Begitu penuh, muncul efek kilatan lagi lalu lenyap sehingga lebih banyak logam cair bisa terkumpul di sana. Sebuah pesan muncul bertuliskan Skill Smelting didapatkan. Kemahiran naik menjadi 1. Rasanya build karakterku makin lama makin condong ke arah crafting.
Setelah sekitar tiga menit, api otomatis padam. Saat aku membuka jendela operasi tungku lagi, terdapat empat item Crude Pig-Iron Ingot di area barang jadi. Kusentuh satu untuk mematerilasikannya, mengetuknya hati-hati dengan ujung jari sampai yakin sudah dingin, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.
"Zaman Besi telah tiba!" umumku dengan penuh semangat. Namun hal itu tampaknya tak terlalu berkesan bagi para wanita, yang hanya memberiku tepuk tangan sopan sekadar basa-basi. Si agamid raksasa mendekat, mengendus batangan itu sebentar, lalu bergumam "Kwek" dengan nada yang kutangkap sebagai ejekan.
Butuh waktu lebih dari tiga puluh menit dan seratus lebih batang kayu untuk melebur semua bijih besi tersebut. Kami memiliki banyak persediaan batang pinus spiral di sekitar, jadi kayu bukanlah masalah, tetapi waktu menunggunya sungguh menyiksa, terutama setelah aku terbiasa dengan proses crafting yang nyaris instan di SAO dan ALO. Rekan-rekanku kembali ke sungai untuk mengambil tanah liat, jadi aku memasukkan kayu-kayu itu seorang diri, dan saat semuanya selesai, aku merasa lebih lelah ketimbang gembira. Kendati demikian, ini berarti kami bisa melanjutkan ke langkah berikutnya. Untuk memperbaiki pondok, kami membutuhkan lembaran besi dan paku besi, dan untuk membuatnya, kami memerlukan paron dan palu pandai besi.
Sesaat aku sempat cemas, berpikir bahwa untuk membuat paron, kami akan membutuhkan paron juga, tetapi menurut jendela Tips, hal itu bisa dilakukan dengan peralatan bernama casting table (meja cor). Meja itu bisa dibuat dengan skill Stoneworking, tapi membutuhkan batu, tanah liat, kayu, dan pasir. Jadi aku harus pergi ke sungai juga, dan mengisi inventarisku dengan batu, pasir, dan sejenisnya. Aku merasa seperti anak TK yang sedang bermain lumpur dan batu.
Aku masuk ke mode konstruksi dan membuat ghost meja cor, lalu memasangnya di sisi kiri tungku peleburan. Di jendela operasi, aku mengatur item produksi menjadi paron, memasukkan ingot dan kayu, lalu menyalakannya. Besi cair terkumpul di dalam cetakan, dan ketika selesai, aku mendapatkan sebuah paron kasar. Aku juga memperoleh skill Metal-Casting, tetapi pada titik ini, pendapat jujurku hanyalah: Gabungkan saja semua ini ke dalam skill Ironworking! Satu-satunya langkah yang tersisa adalah mendapatkan palu pandai besi. Benda itu juga bisa dibuat di meja cor, jadi aku sudah siap untuk memulai, ketika aku diinterupsi.
"Kirito, kenapa kau tidak istirahat sebentar dari itu dan buatkan kami tungku pembakaran bisque?" tanya Asuna, yang kembali dari sungai bersamaku.
Aku mempertimbangkan ini selama dua detik lalu bertanya, "...Maksudmu istirahat itu apa, tepatnya?"
"Istirahat dari mengerjakan besi supaya kau bisa mengerjakan peralatan pembakaran tembikar sebagai gantinya," ujarnya tanpa berkedip, lalu tersenyum.
Inilah yang kau dapatkan dari orang-orang yang beristirahat dari PR Bahasa Inggris untuk mengerjakan PR Matematika, pikirku dengan kecut seraya membuka skill Stoneworking lagi.
Tungku pembakaran bisque juga membutuhkan banyak material, tapi itulah yang dibawa Asuna dan yang lainnya dari sungai. Aku memuat inventarisku dengan batu, tanah liat, dan sebagainya, lalu kembali ke mode konstruksi. Atas permintaan Asuna, aku memilih lokasi yang dekat dengan pondok dan melihat mereka mulai bekerja. Tungku itu tampak seperti kandang anjing raksasa, dengan pintu di depan dan ruang pembakaran di bawahnya. Jika pintunya dibuka, terdapat rak-rak batu di dalam, yang mereka tumpuk dengan piring, mangkuk, dan cangkir yang mereka buat dari tanah liat yang sudah diuli. Kami memadatkan kayu ke dalam ruang pembakaran, dan Asuna menyulutnya.
"Kemahiran skill Pottery-ku naik," ujarnya dengan gembira.
Menyadari bahwa dia juga mulai berubah menjadi pengrajin ketimbang petarung, aku kembali ke peradaban Zaman Besi yang sedang kubangun. Menurut empat batang statusku, HP dan MP-ku penuh, sementara TP turun 40 persen, dan SP turun 20 persen. Semua air yang kuminum itu pada pukul sembilan lima belas, dan sekarang pukul sebelas lima belas, jadi butuh dua jam bagi TP-ku untuk turun 40 persen. Dengan kata lain, 10 persen setiap tiga puluh menit.
Itu laju yang sangat santai dibandingkan dengan RPG survival yang pernah kumainkan sebelumnya, tetapi kemungkinan besar itu bisa berubah tergantung pada aktivitas pemain dan lingkungannya. Jika kau melakukan kerja berat terus-menerus atau berada di gurun yang memanggang, mungkin akan turun lebih cepat. Perubahan pada status, skill, dan perlengkapan mungkin juga berpengaruh.
"Hmm..."
Aku membuka ring menu. Di tengah lingkaran ikon, penghitung misterius itu telah mencapai 0000:02:10:45. Sedikit lebih dari dua jam sejak suara misterius itu... Namun hal itu tak membuatku merasakan apa-apa, kecuali bahwa waktu berlalu dengan cepat. Aku mengangkat bahu dan membuka ikon STATUS di bagian paling atas.
Gim Unital Ring yang aneh ini tidak memiliki status numerik seperti Strength dan Intelligence. Sebaliknya, ini lebih merupakan sistem berbasis perk—kemampuan konkret yang bisa didapatkan, alih-alih meningkatkan status dasar. Jika skill adalah bakat yang kau latih dan kembangkan, kemampuan (ability) adalah hal-hal yang bisa kau lakukan sebagai hasilnya. Sepertinya pembagian umumnya adalah skill lebih ditujukan untuk pembuatan item, sementara kemampuan lebih berfokus pada pertarungan.
Di bagian bawah jendela status terdapat tombol menuju layar detail kemampuan, yang muncul dalam jendela baru saat kutekan. Di tengah layar tersebut ada empat ikon yang disusun membentuk salib. Yang di atas adalah BRAWN, di kanan TOUGHNESS, di bawah SAGACITY, dan di kiri SWIFTNESS. Dua garis memanjang lebih jauh dari sana ke setiap arah, menuju ikon-ikon lainnya. Contohnya, BRAWN mengarah ke BONE BREAKER dan STOUT, sementara TOUGHNESS mengarah ke PERSEVERANCE dan ANTIVENOM, sehingga semakin jauh kau melangkah, pohon kemampuan itu semakin berkembang ke arah luar. Dan setiap kemampuan memiliki sepuluh peringkat yang bisa didapatkan.
Aku telah mengalahkan Thornspike Cave Bear yang sangat sulit itu dengan menggunakan 'stat' langka Menggelindingkan Kayu dari Atap untuk Menggepreknya, yang mendongkrak levelku hingga 13, jadi kini aku punya dua belas poin kemampuan untuk dibelanjakan. Aku tak tahan membayangkan mati saat sedang menabung poin dan berpotensi kehilangan sebagian karena penalti. Menghabiskannya sekarang mungkin keputusan bijak, tapi aku tak melihat tombol re-spec di jendela itu untuk mengembalikan semua poin. Aku sama sekali tak tahu pilihan mana yang terbaik atau paling efisien pada titik ini.
Dalam hal ini, SAO terasa jauh lebih sederhana—pilihanmu hanya antara STR dan AGI. Aku melirik ke arah para wanita yang sedang memasukkan kayu ke dalam tungku dan merenungkan topik tersebut. Sepertinya kami akan berada dalam party berempat ini untuk sementara waktu, jadi mungkin yang terbaik adalah mempertimbangkan kemampuan berdasarkan peran yang berbeda. Jika kami mempertahankan build dari ALO, aku akan menjadi penyerang fisik, Alice menjadi tank yang fokus pada pertahanan, Leafa menjadi pendekar pedang sihir serba bisa, dan Asuna menjadi healer yang bisa menggunakan pedang saat terdesak. Itu mungkin berarti aku harus mengambil pohon Brawn... tapi dalam gim survival, tak ada yang lebih berfokus pada bertahan hidup selain Toughness. Dan mungkin bagus juga mempelajari sihir agar seluruh MP-ku bisa digunakan untuk mencegah kematian.
Lagipula, mungkin yang lain ingin mengambil peran yang berbeda dari yang mereka jalani di ALO. Pada tahap kehidupanku saat ini, akhirnya aku belajar bahwa rahasia untuk akur dengan para gadis adalah mendiskusikan segalanya dengan mereka, jadi aku memutuskan untuk tidak gegabah memilih kemampuan sendirian dan menutup jendelaku. Aku mengamati paron yang baru saja jadi di dekat kakiku.
"Hmm, apa yang harus kulakukan selanjutnya...?"
Menyadari bahwa aku sudah terlalu terbiasa mengandalkan Yui untuk mengingat berbagai hal, akhirnya aku teringat bahwa aku hendak membuat palu pandai besiku sendiri.
Sekali lagi, aku menghadap meja cor dan mengatur item yang akan dibuat. Pertama, aku melelehkan ingot untuk membuat kepala palu besi kasar, lalu menggabungkannya dengan sepotong kayu untuk mengubahnya menjadi palu pandai besi kasar. Akhirnya, aku siap.
Berikutnya, aku menuju paron dan meletakkan ingot. Di SAO, kau harus memasukkan logam ke tungku agar memerah panas sebelum ditempa, tetapi di Unital Ring, kau bisa melakukannya dalam keadaan dingin. Aku memilih Iron Sheet dari menu paron dan mengayunkan palu. Terdengar bunyi trang! yang nyaring dan pesan bertuliskan Skill Blacksmithing didapatkan muncul, tetapi aku lebih khawatir dengan volume benturannya yang mengejutkan.
Kalau dipikir-pikir lagi, Thornspike Cave Bear yang menyerang kami tadi bisa jadi terpancing oleh suara sword skill Leafa saat membelah kayu. Tiga jam telah berlalu sejak insiden itu, jadi kuasumsikan beruang baru mungkin sudah muncul kembali dari gua yang sama sekarang.
Asuna dan yang lainnya menatapku dengan gugup dari arah tungku, jelas mengkhawatirkan hal yang sama. Aku mengangkat palu sebagai isyarat untuk menenangkan mereka bahwa semua baik-baik saja. Jika beruang lain menyerang, kami masih bisa menggunakan teknik jatuhan kayu yang sama lagi...
Tapi... tidak. Metode itu terlalu kuat, mampu membunuh monster yang jauh lebih tangguh tanpa risiko terkena damage. Jika Cardinal System yang dimuat ke dalam The Seed mengelola Unital Ring seperti gim lainnya, dan semua fitur otonomnya diaktifkan, sistem pasti sudah menyadari setelah penggunaan pertama bahwa trik jatuhan kayu itu pada dasarnya adalah glitch dan akan mencari cara untuk mencegah kami melakukannya lagi.
"Hmm..." Aku memandang hutan yang gelap gulita ke atap pondok kayu dan kembali lagi. Jaga-jaga kalau sistem hanya mencoba mencegah kami menggunakan kayu, mungkin ide bagus untuk menimbun sekumpulan batu. Atau bongkahan batu besar.
"Aku mau kembali ke sungai sebentar!" seruku pada tiga lainnya.
Yang mengejutkan, Asuna membuka pintu tungku, berkata "Oh, kalau begitu bawa ini!" dan mengeluarkan dua benda bulat. Panci...? Ahhh ya, sudah saatnya meteran TP-ku menyentuh titik tengah lagi.
"Siap!" Aku berlari kecil menghampiri, mengambil panci itu, dan bergegas ke sungai. Kupergoki keduanya dengan air, kumasukkan kembali ke inventaris, lalu kuisi sisa kapasitas angkutku dengan batu-batu besar.
Kembali di tanah lapang, para wanita telah menata tembikar lainnya di tanah. Beberapa ada yang retak saat pembakaran, tetapi ada empat cangkir, lima mangkuk, dan enam piring yang bertahan utuh.
"Ini dia," ujarku seraya mengeluarkan gentong berisi air. Asuna tersenyum dan menyodorkan cangkir, yang kuambil dan kuisi air.
"Ayo kita coba!" Aku meletakkan tangan kiriku di pinggang dan menenggak habis isi cangkir dalam sekali teguk, mengisi ulang meteran TP. Yang lain juga menikmati air mereka, dan kami mengisi semangkuk untuk dijilat si agamid raksasa dengan lidahnya.
English Text: I exhaled and said, “So we have to drink water every two hours…This is going to make it really tough if you run out while in the middle of a dungeon or something…” “What if it’s like the Underworld, and there are sacred art…er, magic spells that produce water?” Alice asked. I smirked initially, then said, “I suppose that’s not out of the question. The real issue is how to learn the Magic skill…” Terjemahan Bahasa Indonesia:
Aku menghela napas dan berkata, "Jadi kita harus minum air setiap dua jam... Ini bakal sangat menyusahkan kalau kita kehabisan air saat di tengah dungeon atau semacamnya..."
"Bagaimana kalau ini mirip Underworld, dan ada sacred art... er, mantra sihir yang menghasilkan air?" tanya Alice.
Awalnya aku menyeringai, lalu berkata, "Kurasa itu bukan hal yang mustahil. Masalah utamanya adalah bagaimana cara mempelajari skill Magic..."
"Mungkin jika kau menggunakannya, kau akan mendapatkannya? Seperti Weaving dan Pottery," saran Alice, lalu menjentikkan jarinya tepat di depan hidungku.
Karena refleks murni, aku tersentak mundur, dan dia terkekeh padaku. Leafa menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Kau penakut sekali, Kirito."
"T-tidak! Enak saja!" protesku.
Kau hanya tidak tahu betapa menakutkannya Alice si Integrity Knight! Tapi aku tak bisa mengatakannya dengan lantang. Alih-alih, aku meminum secangkir air lagi dan mengembalikannya ke Asuna.
"Jika kau punya tanah liat lebih, buatlah lebih banyak panci dan kendi. Melihat situasi ini, tak ada ruginya membiarkan wadah-wadah itu terisi penuh dan tersedia di sekitar sini."
"Benar juga. Dan sepertinya menaikkan level skill Pottery mengizinkan kita membuat kendi air yang lebih besar. Aku akan melanjutkannya."
"Trims. Aku akan pergi membuat lempengan dan paku itu."
"Semoga sukses, Kirito."
Kami melakukan tos kepalan tangan, dan aku kembali ke paron. Aku hanya harus percaya bahwa jika ada beruang lain yang datang mengincar kami, aku bisa mengatasinya menggunakan semua batu yang telah kujejalkan ke dalam inventarisku.
Aku menggunakan potongan kayu gelondongan sebagai kursi dan mengambil palu pandai besi. Mungkin itu cuma takhayul, tapi Lisbeth si pandai besi berpengalaman pernah memberitahuku bahwa jika kau ragu, tingkat kegagalan akan lebih tinggi. Jadi aku mengerahkan segenap tenaga ke dalam ayunan dan menghantam ingot tersebut.
Tang! Tang! Aku melayangkan sepuluh pukulan yang mantap dan tegas ke ingot sebelum benda itu berkilau putih. Logam itu perlahan berubah bentuk di atas paron dan menjadi sepuluh lempengan logam tipis. Perbaikan itu butuh 216 lempengan, yang berarti minimal dua puluh dua ingot tanpa kesalahan. Tapi bahkan termasuk bahan untuk paku, aku tahu persediaan kami pas-pasan. Aku berkata pada diri sendiri bahwa aku akan selesai dengan bahan besi ini menjelang tengah malam, lalu meletakkan ingot kedua di atas paron.
Ini proses sederhana dan berulang lainnya, tetapi dibandingkan memberi makan kayu ke tungku, ini jauh lebih menyenangkan. Jika aku benar-benar memilih bermain sebagai pengrajin di gim ini, aku memutuskan lebih suka menjadi pandai besi ketimbang pelebur logam. Tapi itu berarti harus memulai sebagai murid magang di toko senjata Lisbeth. Aku bertanya-tanya apakah dia, Silica, dan Yui baik-baik saja setelah jatuh bersama New Aincrad...
Pikiranku berkelana ke sana kemari saat bekerja, dan sebelum aku sadar, aku sudah memiliki 220 lempengan besi. Bahkan jika setiap lembar tebalnya kurang dari sepersepuluh inci, jika ditumpuk semuanya, tingginya mencapai satu setengah kaki. Jika aku mencoba mengangkat seluruh tumpukan tebal logam itu sekaligus, ikon pemberat kertas penanda beban berlebih muncul lagi. Aku berharap level 13 akan memperbaiki masalah itu, tapi kalau begini terus, bakal butuh waktu lama sebelum aku bisa melengkapi diri dengan Blárkveld andalanku.
Aku bisa membawanya di dalam inventaris, hanya saja ruang penyimpananku saat ini penuh dengan batu-batu besar. Jika aku menurunkan berat bawaan hingga setengah kapasitas, aku bisa mengangkat tumpukan itu, jadi aku mulai berjalan tertatih kembali ke pondok untuk menaruhnya di penyimpanan rumah di sana. Yang lain sedang sibuk menguli lebih banyak tanah liat di depan tungku.
Rasanya kami tidak butuh piring sebanyak itu menurutku, tapi kurasa mereka serius ingin menaikkan skill Pottery cukup tinggi untuk membuat gentong air raksasa. Hanya satu dari mereka yang benar-benar butuh itu... tapi mungkin aku hanya berpikiran jahat. Mereka hanya suka membuat piring dan peralatan makan. Mereka melambai padaku dengan tangan berlumpur, dan aku membalas senyum mereka, lalu naik ke beranda yang setengah hancur. Supaya bisa membuka pintu, aku harus meletakkan tumpukan lempengan besi di lantai, jadi aku mengambil kesempatan itu untuk meregangkan otot.
Sudah hampir tengah malam, tapi aku belum merasa mengantuk. Sarafku mungkin masih tegang karena berada di situasi asing dan berbahaya ini, pikirku, tapi kemudian aku sadar bukan itu saja alasannya. Sebagian dari diriku, jauh di lubuk hati, menikmati tantangan baru ini.
Ada kegembiraan tersendiri saat berjuang menembus dunia baru dan asing tanpa strategi sukses yang teruji, mencari tahu segalanya sembari menjalaninya. Secara teknis, kami belum pergi ke mana-mana, hanya berdiam di dekat titik awal, tapi jika kami tak memiliki pondok ini sebagai markas tetap, aku mungkin akan memilih untuk terus bergerak, maju dan berkembang. Persis seperti waktu empat tahun lalu, saat aku meninggalkan Kota Awal sendirian, mencoba mencapai tujuan berikutnya sebelum orang lain...
Dan karena aku terlalu larut dalam pemikiran seperti ini, awalnya aku gagal menyadarinya. Tapi seharusnya aku sadar jauh lebih awal. Seharusnya aku tahu bahwa dentingan palu di larut malam akan mengundang hal lain selain sekadar beruang.

"...Siapa di sana?!"
Alice-lah yang pertama angkat bicara. Aku menghentikan gerakanku membuka pintu pondok untuk menatap sang ksatria bertelinga kucing—lalu beralih ke arah yang sedang dipandanginya. Sejumlah obor tampak mendekat dari jalan setapak yang mengarah ke barat daya, menuju sungai. Di barisan terdepan terdapat seorang pria bertinggi badan rata-rata, mengenakan zirah cokelat yang tampak terbuat dari kulit.
Cahaya oranye obor memantul pada bonggol pedang panjang di pinggul kirinya. Seperti halnya monster, tak ada kursor yang muncul hanya dengan bertatapan mata, jadi saat ini, mustahil untuk menentukan apakah dia seorang pemain, NPC, atau bahkan monster. Kelompok itu tak menghentikan langkah meski mendengar suara Alice. Sebagai tanda bahwa mereka mungkin tak berniat bertarung, pria di depan mengangkat tangan kanannya untuk menunjukkan bahwa tangan itu kosong saat ia memasuki tanah lapang.
Asuna dan Leafa mengambil posisi mengapit Alice, sementara si agamid raksasa membuka paruhnya dengan gestur mengancam. Aku segera melompat turun dari beranda ke tanah. Setelah memastikan pisau batuku terselip di karet belakang celana dalamku, aku berseru, "Berhenti di situ!"
Akhirnya, orang-orang itu berhenti. Berdasarkan cahaya obor, total ada delapan orang. Dua kali lipat jumlah kami... dan mereka semua bersenjata. Beberapa dari mereka bahkan memiliki pelat logam kecil pada zirah kulit mereka yang disusun menyerupai scale mail. Aku terkesan mereka bisa mencapai tingkat teknik seperti itu dalam delapan jam pertama permainan. Para wanita di sini hanya mengenakan gaun dari anyaman serat rumput, sedangkan aku terjebak hanya dengan celana dalam yang menyedihkan.
Mereka juga menaksir tingkat teknologi kami, terlihat dari cara mereka memandang para wanita. Saat pemimpin mereka melihatku, matanya terbelalak, dan dari barisan belakang, aku mendengar kikik tertahan, seolah lega... atau mungkin mengejek.
Itu minus satu poin afinitas untukmu, pikirku.
"Apakah kalian pemain?" tanyaku, sekadar memastikan.
Pria berzirah kulit itu mengangguk.
"Kalian juga, kurasa."
Aku tak mengenali suara maupun wajahnya. Tapi tentu saja tidak. Unital Ring telah mengonversi lebih dari seratus ribu pemain VRMMO. Aku tak bisa memastikan apakah para pemain ini berasal dari New Aincrad atau bukan—atau apakah mereka mantan pemain ALO sama sekali—namun bisa kutebak bahwa mereka muncul di suatu tempat di benua luas ini dan menelusuri sungai hingga menemukan kami.
Seolah memperkuat dugaanku, pria berzirah kulit itu mengangkat tangannya lagi.
"Kami tak berniat melawan kalian," ujarnya, "kami hanya ingin beristirahat sejenak. Kami sudah terus bergerak selama hampir lima jam, dan kalian adalah pemain pertama yang kami temui."
"Yang pertama? Kalau begitu bagaimana caramu punya party sebesar ini?" tanyaku.
Dia mengerjap beberapa kali, terkejut, lalu balik bertanya, "Bagaimana dengan kalian? Apa kalian tidak bergegas keluar dari sana?"
"Bergegas keluar...?"
Aku melirik anggota party-ku yang lain, tapi tak ada satu pun dari kami yang tahu di mana "sana" itu. Aku kembali menatapnya dan memilih kata-kata dengan sangat hati-hati.
"...Kami jatuh ke sini bersama rumah kami. Jadi kalian juga pemain pertama yang kami lihat."
Kini giliran dia yang tampak skeptis. Seorang pemain bertubuh lebih kecil yang mengenakan perlengkapan kain maju dan menaksir pondok kami yang setengah hancur.
"Aku paham... Kalian pasti jatuh jauh-jauh dari New Aincrad."
"Apa? Memangnya hal itu mungkin?" Seorang pria besar berzirah sisik ternganga. Meski aku tak punya bukti, intuisiku mengatakan bahwa ketiga orang inilah pemimpin kelompok tersebut.
Pria kecil itu memiliki belati logam di sisi kirinya, dan pria besar itu memanggul palu dua tangan di punggungnya. Tak ada yang terlihat terlalu mewah, tapi jelas jauh lebih kuat daripada pisau batu dan kapak yang kami miliki. Si pengguna belati mendongak ke arah pria berzirah sisik dan mengibaskan tangannya.
"Ayolah, Pak Tua, kau lihat sendiri kan puing-puing atap dan dinding di dekat jatuhnya New Aincrad? Aku memang tak melihat rumah yang utuh, tapi di sana kan tanahnya keras. Kalau mereka jatuh di pasir atau air, mungkin saja ada bangunan yang selamat dengan kerusakan seperti itu, kan?" ujarnya seraya menunjuk pondok.
"Jangan panggil aku 'Pak Tua'," gerutu si pria besar, memancing tawa singkat dari sisa anggota kelompok.
Suasana tampak sedikit lebih santai, tetapi hanya sesaat—sampai Asuna berkata,
"Jadi kalian juga berasal dari ALO?! Apa kalian melihat di mana New Aincrad jatuh?!"
"Hah? Er... y-yah, kami melihatnya. Tapi di kejauhan."
"Di mana jatuhnya?! Apa masih utuh?!" tanyanya memberondong.
Si pengguna belati mencoba mengimbangi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tapi pria berzirah kulit menaruh tangan di bahunya.
"Tunggu sebentar... itu data peta yang berharga. Kami tak bisa memberikannya begitu saja secara cuma-cuma."
Alice hendak mengatakan sesuatu, tetapi Leafa dengan sigap menarik gaunnya dan membuatnya tetap diam. Aku yakin itu pasti hinaan soal sifat picik yang serakah, tapi menghentikannya adalah tindakan yang tepat. Aku melangkah maju dan berkata pada pria berzirah kulit itu, "Baiklah. Kita bisa buat kesepakatan... Apa yang kalian inginkan sebagai imbalan data peta kalian?"
Dia berbalik untuk berunding dengan teman-temannya sebentar dan segera memberikan jawaban.
"Makanan dan tempat istirahat... Lebih disukai tempat di mana kami bisa bermalam."
"Izinkan kami mendiskusikan hal itu juga kalau begitu." Aku mengangkat tangan, meminta mereka jangan bergerak, lalu menghampiri tiga gadis lainnya. Hal pertama yang kubisikkan adalah pertanyaan untuk Asuna.
"Berapa banyak lagi sisa daging beruang kita?"
"Masih banyak, tapi jumlah orangnya banyak... Kalau kita masak hidangan lengkap dan padat untuk kita, mereka, dan Aga, mungkin persediaan kita akan habis."
Benarkah? ingin aku bertanya. Kau akan memanggilnya Aga?
"Bagaimana kalau kita mengolahnya menjadi sup, alih-alih memasaknya secara langsung?" saranku kemudian.
"Oh, kalau begitu kita bisa menjadikannya dua kali makan. Tapi kita tidak punya garam atau rempah-rempah, jadi aku tak bisa memprediksi rasanya."
"Mereka harus terima nasib. Selain itu... bagaimana soal membiarkan mereka masuk?" Merasa terganggu, Asuna mengerutkan kening sesaat, tetapi ia menyetujuinya.
"Tak masalah; hanya satu malam. Nah... apa kalian juga setuju dengan kesepakatan ini, Alice dan Leafa?"
"Kurasa kita tak punya pilihan yang lebih baik."
"Mengetahui lokasi New Aincrad adalah hal besar bagi kita." Ditambah lagi, si agamid raksasa menguik tanda setuju, jadi aku berbalik dan berjalan menuju kelompok lain itu, memberi mereka anggukan singkat.
"Kami akan beri kalian tempat bermalam dan makanan yang cukup untuk mengisi ulang batang SP. Tapi kami tak punya tempat tidur atau selimut, dan kami tak bisa menjamin makanannya enak."
"Tak masalah. Cukup dengan mengetahui kami tak perlu khawatir soal serangan mob atau NPC. Log out di dunia ini adalah pertaruhan besar."
"...Apa maksudmu?" tanyaku. Pria berzirah kulit itu mengangkat bahu.
"Kau tak tahu...? Yah, baru tiga jam berlalu sih. Kau mendengar pesan itu, kan?"
"Ya."
"Sejak saat itu, setiap kali kau log out, avatarmu tetap diam di tempatnya, bahkan di dalam rumahmu sendiri. Jika mob menyerangmu, kau sama sekali tak berdaya. Pada dasarnya kami datang ke sini mencari tempat aman untuk tidur."
"...Avatarmu... tetap di tempatnya...," ulangku, menunduk menatap tubuhku.
Jika aku diserang dengan pertahanan nol begini, tak perlu beruang; bahkan rubah atau tanuki—jika makhluk semacam itu memang ada di hutan ini—akan dengan mudah membunuhku. Jika kau tak punya tempat yang terjamin aman dari serangan monster, atau teman yang mau menjagamu berjam-jam, kau bahkan tak bisa log out dengan aman untuk tidur.
"Itu gila... Jika kau mati karena keadaan yang securang itu, tak ada yang mau terus memainkan gim bodoh ini setelahnya."
"Oh, itu bukan kekhawatiran utamanya," ujar pria berzirah kulit.
Dia, si pengguna belati, dan bahkan si pria besar berzirah sisik, memasang senyum kaku yang aneh. Dia melanjutkan, "Kami tak menggunakan ini sebagai bahan tawar-menawar, jadi akan kuberitahu secara cuma-cuma. Bisa dibilang, Unital Ring adalah reka ulang SAO."
"...Apa maksudnya itu?" Apa dia tahu aku Survivor SAO? Aku sempat gugup, tapi ternyata bukan itu masalahnya. Sebaliknya, pria itu membuka ring menu-nya dan menunjuk penghitung waktu di tengahnya.
"Kau sadar mereka menambahkan ini ke menu, kan?"
"Y-ya..."
"Awalnya kami tak tahu apa yang dihitungnya... sampai salah satu teman kami dibunuh oleh NPC. Ini menghitung sudah berapa lama kita bertahan hidup sejauh ini. Begitu kau mati di gim ini, tamat sudah... Kau takkan pernah bisa log in lagi."

Komentar (0)

Memuat komentar...