Sword Art Online 023: Unital Ring II
Bagian 2
Estimasi waktu baca: 27 menitSekolah khusus penyintas (returnee) yang Asuna, Lisbeth, Silica, dan aku masuki terletak di sebuah sekolah negeri hasil renovasi yang sebelumnya sempat ditelantarkan setelah dua SMA setempat dilebur menjadi satu.Karena hal ini, area kampusnya secara mengejutkan begitu rumit dan memiliki sejumlah titik yang, layaknya dalam sebuah RPG, takkan bisa kau temukan kecuali kau memang sudah tahu keberadaannya. Petak hijau tempatku berdiri ini adalah salah satunya—kau harus naik ke lantai atas di gedung klub ekstrakurikuler, menyusuri lorong sampai ujung, keluar lewat pintu darurat, menuruni tangga luar, lalu berjalan di sepanjang deretan pot tanaman sampai kau melewati celah sempit yang takkan kau sadari jika tak memperhatikannya dengan saksama.Petak berumput ini, yang dikelilingi oleh deretan pot tanaman tinggi, gedung klub, dan gedung perpustakaan, berbentuk persegi panjang dengan sisi-sisi sekitar tiga puluh kaki. Di bagian tengahnya, di mana tanahnya sedikit meninggi, terdapat sebatang pohon sengon putih dan sebatang pohon cendana yang berdampingan, dikelilingi oleh bunga-bunga musiman. Rerumputan lembut menutupi tanah, dan pada dasarnya tak ada gulma liar sama sekali. Pasti ada seseorang yang merawat tempat ini, tetapi aku belum pernah melihat siapa pun pelakunya.Semenjak aku menemukan tempat ini musim semi lalu, Asuna dan aku menyebutnya sebagai "taman rahasia" demi menjaga kerahasiaannya. Sayangnya, Lisbeth berhasil mengetahuinya setelah itu, jadi dia dan Silica pun ikut mengunjunginya. Dan kini ada orang kelima—sebenarnya keenam, jika kau menghitung si tukang kebun misterius—yang mengetahui tentang taman ini.Orang kelima ini mengamati tempat tersebut dan berkata dengan suara yang khas, "Yah, yah, ini sih benar-benar kelihatan kayak tempat kencan yang bagus dan rapi. Yakin nih kau mau membawaku ke sini?""Aku tidak punya banyak pilihan setelah kemunculanmu yang mencolok itu," gerutuku, tetapi aku segera menahan diri dan menggelengkan kepala."Pertama-tama, ini bukan tempat kencan. Jadi sama sekali tidak masalah kalau aku menunjukkannya padamu.""Awww, sudah lama sekali. Kau tidak perlu sedingin itu, Kiri-boy. Apa kau tidak mau pelukan reuni yang hangat?"Gadis remaja bertubuh kecil itu, yang mengenakan hoodie khaki di atas seragam sailor gelap, serta tas punggung kecil, merentangkan kedua lengannya. Tingginya hanya sedikit di bawah Asuna dan mungkin sekitar satu inci lebih tinggi dari Silica. Ia sepertinya tumbuh cukup pesat sejak terakhir kali aku rutin menemuinya... yang berarti gadis yang selalu tampak jauh lebih tua dariku ini masih terus bertumbuh, bahkan sampai sekarang.Argo si Tikus. Itu adalah nama pialang informasi berbakat dari masa lalu di kastil apung Aincrad—yang entah dari mana tiba-tiba muncul di ruang kelasku di sekolah penyintas beberapa menit yang lalu. Di sekolah dengan ketidakseimbangan yang begitu mencolok antara siswa laki-laki dan perempuan—dengan laki-laki yang mendominasi—mustahil seorang gadis tak dikenal berseragam sekolah lain bisa lolos dari perhatian. Jadi aku langsung menyambar lengan Argo dan melesat keluar kelas sebelum anak-anak cowok lain mengerumuninya. Berhubung ini jam istirahat makan siang dan lorong-lorong disesaki para siswa, satu-satunya tempat yang bisa kutuju hanyalah ruang hijau kecil ini. Begitu kami hanya berdua, ada ketegangan yang berbeda di udara.Aku mundur menjauhi senyuman dan rentangan tangan Argo."A... Aku simpan itu untuk kesempatan berikutnya saja.""Kau memang selalu jadi pengecut, Kiri-boy.""Aku tidak masalah dengan itu! Yang lebih penting... sedang apa kau di sini?" tanyaku akhirnya. Argo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya dan menyeringai. Aku tak kuasa untuk tidak menatap wajahnya.Raut wajah di balik rambut ikal berwarna terang itu masih sama dengan raut wajah si Tikus yang sangat kukenal di Aincrad. Namun karena ketiadaan cat kumis di pipinya atau karena sudah dua—atau lebih tepatnya empat—tahun berlalu sejak awal mula gim mematikan itu, ia tampak jauh lebih dewasa. Sejujurnya, saat pertama kali aku bertemu Argo di Aincrad, aku tak bisa memastikan apakah ia laki-laki atau perempuan. Namun melihatnya sekarang, bahkan jika kau mengabaikan seragam perempuannya, tak diragukan lagi kodrat femininnya. Aku hampir merasa sedikit canggung memperlakukannya dengan kasar seperti biasanya.Argo rupanya merasakan bahwa aku merasa sedikit canggung, jadi ia mendekat, menyunggingkan senyum menggoda, dan berkata, "Sedang apa aku di sini? Pindah sekolah dong, pastinya.""H-hahhh?!" teriakku, lalu segera membungkam mulutku sendiri.Dengan nada yang lebih terkendali, aku berdesis, "Pindah sekolah? Sudah dua tahun sejak kita lolos. Kenapa baru sekarang? Dan yang lebih penting, kenapa kau tidak pernah menghubungiku? Aku tadinya sangat yakin kalau kau..." Aku tak sanggup mengucapkan kelanjutannya. Argo hanya tersenyum dan mengangkat bahunya."Kau tahu aku takkan mati semudah itu. Lagipula, kau tak bisa menyalahkanku karena tidak menghubungimu sementara aku juga bisa mengatakan hal yang sama padamu. Dengan koneksimu, kau bisa dengan mudah mencari tahu info kontakku.""......"Dia benar.Di masa-masa SAO, aku tidak mengetahui nama asli, alamat, ataupun nomor telepon Argo, tetapi aku tahu nama karakternya, "Argo." Seandainya kuberikan info itu kepada Seijirou Kikuoka di Divisi Virtual Kementerian Komunikasi dan Urusan Dalam Negeri, dia pasti akan menarik seluruh informasi yang terkandung dalam data pengguna itu untukku.Namun bukan hanya Argo; aku tidak secara proaktif mencari tahu satupun pemain yang kukenal di SAO yang hidup atau matinya tidak kuketahui. Kelompok yang selamat dari pertarungan bos lantai tujuh puluh lima pasti telah log out dengan aman, asumsiku, tetapi semua orang lainnya—seperti Tuan Nishida atau Kibaou, Nezha, Mahocle, dan seterusnya—bisa saja masih hidup atau sudah mati, sejauh yang aku tahu. Aku tidak mencoba mencari tahu karena aku takut. Aku tak ingin mendengar dari mulut Kikuoka, dengan segala kepastiannya, bahwa mereka tidak pernah kembali.Karena alasan yang sama, aku tak ingin mencari tahu informasi Argo di dunia nyata. Aku mulai menundukkan kepalaku untuk meminta maaf. Namun dengan kecepatan yang sama seperti saat di SAO dulu, Argo memangkas jarak dan menyodok keningku dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, mendorongku kembali tegak."Apa aku menyuruhmu minta maaf? Kan kubilang kita berdua sama-sama salah karena tidak saling menghubungi. Kau sudah membuat kehebohan besar di ALO dan GGO pakai namamu sendiri, aku bisa saja menghubungimu kalau aku mau berusaha."Argo melepaskannya dan mundur selangkah. Aku mengusap keningku, tak yakin harus bereaksi bagaimana. Pada akhirnya, aku langsung saja menanyakannya secara blak-blakan: "Justru itu... Kenapa kau tidak datang ke ALO? Kau bukan tipe orang yang bakal ketakutan sama mesin full-dive sekarang, kan?""Eh, kau pikir aku ini siapa?" Ia meringis. Argo kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan berayun ke depan dan ke belakang."Mmm. Yah, ada beberapa alasan. Bukan berarti aku sama sekali tak peduli. Saat aku dengar kau bisa membawa kembali karakter SAO lamamu ke ALO, itu godaan yang besar. Tapi... aku tahu kalau aku berbisnis sebagai pialang informasi lagi di ALO, aku takkan punya motivasi yang sama seperti dulu...""Ya... kurasa aku bisa memahaminya," kataku. Namun sejujurnya, aku sangat memahaminya.Sword Art Online adalah dunia alternatif sesungguhnya yang diciptakan oleh si jenius gila Kayaba Akihiko. Gim itu menjebak kami di daratan apung yang terbuat dari batu dan baja serta menuntut para pemainnya untuk menamatkan permainan dengan peringatan mengerikan: Jika kau mati di dalam gim, kau mati di dunia nyata.Dulu, nyaris tak sehari pun terlewat tanpa aku merasakan ketakutan, keputusasaan, kepanikan, ataupun penderitaan. Namun bukan hanya itu yang kurasakan di dalam gim. Ada kebahagiaan saat naik level, kegembiraan saat memperoleh jarahan langka, sorak-sorai kemenangan setelah mengalahkan monster bos. Semua itu adalah emosi sejati dari lubuk hati yang tak pernah kualami dalam gim-gim yang kumainkan sebelum SAO. Sesulit apa pun untuk mengakuinya, bahkan gim utamaku sekarang, ALO, yang benar-benar kunikmati, tak memunculkan tingkat dedikasi yang sama seperti SAO...Namun aku menepis sentimen sesaat itu dan bertanya, "Kalau begitu... apa yang kau lakukan selama dua tahun terakhir ini, dan di mana?""Aku bersekolah di tempat tinggalku, tentu saja.""Oh..."Tentu saja. Seharusnya itu sudah jelas. Aku juga telah melalui banyak hal setelah SAO, tetapi sebagian besar hal yang kulakukan pada intinya adalah "bersekolah di tempat tinggalku.""Asalmu dari mana? Kau kelas berapa?"Argo mengulurkan tangan kanannya dan menjawab, "Dua pertanyaan harganya seribu col.""Oh, benar..." Aku merogoh saku seragamku mencari koin emas seribu col sebelum menghentikan diriku sendiri.Argo hanya tertawa."Nya-ha-ha-ha... Cuma bercanda kok. Aku tinggal di bagian kiri bawah Kanagawa, dan aku kelas tiga SMA.""Kiri bawah," gumamku, membayangkan peta Prefektur Kanagawa di benakku.Aku tahu di bagian barat dayanya terdapat kota Odawara, Hakone, dan Atami... tapi yang terakhir sebenarnya berada di Shizuoka. Bagaimanapun juga, tempat-tempat itu tidak bisa dibilang dekat dari Tokyo. Jika ia kelas tiga SMA, berarti ia kakak kelasku setahun. Seperti Asuna dan Liz, ia akan lulus pada paruh kedua tahun ini."...Kenapa kau baru pindah ke sini sekarang?""Mmm." Argo bergumam, lalu mengangkat bahu dan berkata, "Ah, boleh juga." Ia meraih tas punggung kecil yang dikenakannya. Jari-jarinya dengan cekatan menemukan saku di bagian belakang tanpa melihat, lalu mengeluarkan sebuah wadah persegi panjang. Wadah itu terbuat dari kulit kuning, dan ia mengeluarkan selembar kartu abu-abu dari dalamnya yang kemudian ia sodorkan padaku.Aku mengambil benda itu, yang ternyata adalah kartu nama. Mataku tertuju pada nama yang tercetak di bagian tengahnya."Hosaka... Tomo. Itu nama aslimu?""Maaf, tidak terdengar seperti namaku, ya?""Erm, bukan begitu maksudku... Aku cuma kaget kau mau memberitahuku nama aslimu semudah itu...""Aku pindah ke sekolah ini. Kan tidak mungkin aku menyembunyikannya selamanya." Argo, alias Hosaka Tomo, mencibir.Aku kembali menatap kartu nama itu. Tepat di bawah namanya terdapat alamat surel dan nomor telepon. Di kiri atas tertera jabatannya. Yang mengejutkanku, tulisannya berbunyi MMO TODAY, PENULIS/PENELITI."Tunggu, serius?!" seruku.Reaksi itu saja sudah memberitahunya apa yang kulihat pada kartu tersebut. Ia mengangguk dan berkata, "Yep.""Jadi kau penulis untuk MMO Today... Berarti aku mungkin sudah membaca beberapa artikel tulisanmu tanpa menyadarinya...?""Mungkin.""Tapi bukankah MMO Today berpusat pada berita tentang The Seed? Apa kau bisa menulis artikel kalau kau tidak memainkan gimnya?""Aku tidak meliput gim secara individual. Aku lebih fokus pada berita keseluruhan tentang The Seed Nexus dan sisi perangkat kerasnya, kurasa. Kadang aku membuat karakter dan dive sebentar, tapi begitu risetku selesai, aku langsung menghapusnya.""Ohhh..."Aku menghela napas dan kembali menatap wajah Argo. Fakta bahwa ia setahun lebih tua dariku memang tidak terlalu mengejutkan, tetapi mendengar bahwa ia adalah penulis untuk MMO Today, sumber berita terbesar di dunia VRMMO, membuatku merasa jarak di antara kami menjadi begitu lebar. Aku bahkan tidak punya pekerjaan paruh waktu."...Kurasa... aku harus memperlakukanmu dengan lebih hormat... Mulai sekarang, aku akan memanggilmu Nona Hosaka...""Hentikan! Bersikaplah biasa saja," bentak Argo dengan nada cukup serius. Ia mengangkat dagunya menunjukku dengan nada menuduh dan berkata, "Nah? Kau membiarkanku memperkenalkan diri tapi tidak berniat membalas kesopanan yang sama?""Hah? Oh, benar juga..."Akhirnya, aku menyadari bahwa aku belum memberitahukan nama asliku padanya. Rasanya canggung melakukannya sekarang, setelah sekian lama, tetapi aku tak punya kartu nama yang bisa mewakiliku berbicara."Yah, eh... nama asliku Kirigaya Kazuto. Senang bisa bertemu denganmu lagi.""Yep. Aku juga," ujarnya menyeringai, seraya mengulurkan tangan kanannya. Telapak tangannya tegak kali ini, memperjelas bahwa ia mengajak berjabat tangan, bukan meminta bayaran. Dengan ragu, aku mengulurkan tangan dan menjabatnya.Ia menggenggam erat. Di balik kulitnya, aku bisa merasakan denyut nadi yang bukan milikku."...Kau hidup," ucapku, kata-kata yang tak sanggup kulontarkan sebelumnya.Argo kembali tersenyum padaku, meskipun nuansa kehangatannya sedikit berbeda kali ini. "Ini semua berkatmu, Kiri-boy. Sejujurnya, aku tak yakin bisa bertahan sampai lantai keseratus. Kalau kau tidak menamatkannya di lantai tujuh puluh lima, aku mungkin sudah mati entah di mana sebelum itu.""Bukan cuma aku..."Hanya itu yang sanggup kuucapkan. Tiba-tiba ada perasaan yang mengoyak dada. Dan itu memang benar—aku hanya bisa mengalahkan Heathcliff, alias Kayaba Akihiko, berkat dukungan, dorongan, dan bimbingan dari banyak pemain.Termasuk Argo, tentu saja.Syukurlah dia selamat, batinku, meresapi luapan emosi tersebut, sebelum akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Kuhirup udara beraroma hutan itu, lalu kuembuskan kembali, menyingkirkan segenap perasaan yang masih tertinggal. Kemudian aku kembali ke topik pembicaraan."Jadi... apa hubungannya antara kepindahanmu ke sekolah ini dan pekerjaan penulismu di MMO Today?""Ahhh, kalau soal itu..."Namun Argo tak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia melirik ke arah celah di antara pot-pot tanaman, yang merupakan satu-satunya jalan masuk atau keluar dari taman rahasia tersebut. Aku mulai mendengar derap langkah kaki yang cepat dan ringan.Beberapa detik kemudian, Asuna menyeruak masuk ke ruang hijau itu, menggenggam ponsel di salah satu tangannya. Aku memang sempat mengiriminya pesan saat kami dalam perjalanan ke mari. Asuna berhenti melangkah di atas rumput, menatapku lebih dulu, lalu beralih menatap Argo di sebelahku."...Tidak mungkin..."Sepasang mata cokelat hazel-nya berkaca-kaca memantulkan cahaya yang menelusup dari sela-sela dedaunan di atas. Argo juga mengerjapkan mata, lalu mengangkat tangan dan melambai."Haiya. Bagaimana kabarmu, A-cha—?"Namun ia tak sempat menyelesaikan pertanyaannya. Asuna menerjang dengan kecepatan yang begitu luar biasa hingga ia seolah dirasuki kembali oleh identitas lamanya, si Flash dari SAO, dan mendekap erat gadis mungil itu dalam sebuah pelukan hebat. Ponselnya terlepas dari tangan kanannya akibat gerakan itu, dan aku nyaris tak sempat menangkapnya sebelum benda itu menghantam tanah.Asuna membenamkan wajahnya di bahu Argo dan bergumam, "Aku tahu... aku tahu suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.""...Maaf aku tidak menghubungimu selama ini, A-chan," bisiknya seraya menepuk punggung blus gadis itu. Setelah pelukan mereka terurai, Asuna menatap lekat wajahnya, lalu menanyakan hal yang sama persis dengan yang kutanyakan beberapa menit lalu."Jadi, um... sedang apa tepatnya kau di sini, Argo?"
Jam istirahat makan siang di sekolah penyintas berlangsung dari pukul 12:40 hingga 13:30. Lima puluh menit adalah waktu istirahat yang panjang untuk ukuran SMA, tetapi kami tak punya cukup waktu untuk duduk santai dan bernostalgia. Lagipula, sebagai remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan, melewatkan makan siang bukanlah pilihan jika kau ingin bertahan hidup sepanjang hari.Jadi pesan yang kukirim ke Asuna saat dalam perjalanan ke mari adalah BELI TIGA PORSI MAKANAN APA SAJA DARI KANTIN, DATANG KE TAMAN RAHASIA. Asuna membawakan tiga sandwich baguette. Salah satunya berisi keju Camembert, ham, dan arugula. Yang kedua berisi krim keju, salmon asap, dan tomat. Yang terakhir berisi udang, alpukat, dan selasih. Kami menggelar alas polietilena ringan di kaki pohon cendana, dan Asuna mempersilakan Argo memilih sandwich pertamanya."Pilih mana saja yang kau suka, Argo. Aku yang traktir.""Ah, ya ampun, mana bisa begitu," protesnya, tetapi Asuna menyodorkan ketiga sandwich itu ke wajahnya sambil tersenyum."Tentu saja bisa. Ingat waktu kau membantu kami menyelesaikan quest saat kami membeli rumah di hutan di lantai dua puluh dua? Ini sebagai balasan atas bantuanmu waktu itu!""...Ahhh, benar juga, itu memang pernah terjadi," ujar Argo, matanya menyipit saat bernostalgia. "Baiklah, kuterima hadiahmu. Kurasa aku mau... yang ini."Sembari menyeringai, ia mengambil baguette salmon asap. Asuna menoleh ke arahku dan menanyakan mana yang kuinginkan. Dari kedua pilihan tersisa, aku menebak ia pasti menginginkan yang alpukat, jadi aku menjawab, "Ham dan keju!"Meskipun sudah dua tahun sejak kami terbebas dari SAO—dan hidup bersama Asuna hanya selama dua minggu di dunia itu—aku tak bisa lepas dari kebiasaan berbagi inventaris pada masa-masa itu.Dan aku pun mengembangkan sebuah kebiasaan buruk: Setiap kali Asuna membayarkan sesuatu untuk kami berdua, aku sering lupa menggantinya. Aku baru menyadarinya kali ini setelah mengambil sandwich tersebut, dan buru-buru mengeluarkan ponselku. Asuna juga membelikan kami tiga es teh, jadi aku menjumlahkan biaya tiga porsi, membaginya dua, dan memasukkannya ke aplikasi pembayaran agar perangkat Asuna bisa membaca kode yang ditampilkannya. Sebenarnya lebih mudah lagi mengirim pembayaran pribadi menggunakan Augma, tetapi saking paniknya, aku meninggalkannya di dalam tas di kelas tadi.Tepat pada saat itu, aku mematung, ponsel di satu tangan dan baguette di tangan lainnya, lalu tersiap, "Oh...!!"Seharusnya kami menggunakan jam istirahat makan siang ini untuk bertemu dengan Liz dan Silica di kantin demi membicarakan anomali yang telah mengguncang The Seed Nexus sampai ke akarnya kemarin. Ditambah lagi, Suguha dan Sinon rencananya akan ikut serta menggunakan Augma dari SMA mereka di Ohmiya dan Ueno. Semuanya sedang menunggu Asuna dan aku untuk bergabung sekarang juga.Argo menatapku dengan aneh, tetapi Asuna hanya memutar bola matanya dan berkata, "Jadi kau benar-benar lupa. Jangan khawatir—aku sudah menghubungi semuanya dan meminta mereka menunda pertemuannya sampai sepulang sekolah.""Oh... m-makasih," ucapku tersipu malu.Argo ikut menundukkan kepala dan berkata, "Apa kalian sudah punya acara? Maaf ya sudah mengacaukannya.""Tidak apa-apa kok. Aku juga tahu istirahat makan siang ini bakal terlalu singkat untuk hal yang harus kita bahas," jelas Asuna seraya membagikan gelas-gelas es teh kepada kami."Ayo—kita makan. Aku sudah kelaparan nih."Aku sama sekali tak berniat membantah saran itu. Kukupas kembali kertas pembungkusnya dan kugigit ujung sandwich di mana isiannya menonjol keluar. Seorang warga setempat mengelola stan makanan di kantin, jadi meskipun makanannya sudah disiapkan sebelumnya, kulit baguette-nya beraroma harum dan sayur-sayurannya segar. Aku mengunyah beberapa gigitan dalam diam, lalu membasuhnya dengan es teh.Argo menghabiskan separuh miliknya dalam waktu singkat, tampak sangat puas."Ini bukan makanan kantin sembarangan. Aku tidak salah pilih datang ke sini.""Hampir semua menu di kantin memang enak. Tapi... di luar itu," ujarku, berdeham dan kembali ke topik pembicaraan yang tertunda, "kau harus memberitahu kami kenapa kau memutuskan pindah tepat pada saat-saat seperti ini.""Waktunya tak seaneh itu, tahu. Sekolah ini membagi periode penerimaannya menjadi periode awal dan akhir, dan ini adalah tanggal masuk untuk penerimaan akhir.""Apa, sungguh? Kalau begitu... harusnya mereka buat saja sistem dua semester, bukannya trimester...""Kalau begitu kau takkan dapat libur musim dingin.""Oke, lupakan saja kalau begitu," jawabku cepat.Asuna terkikik dan menjelaskan, "Sekolah ini baru mengembangkan sistem penerimaan bulan Agustus lalu. Jadi tidak sempat untuk akhir liburan musim panas, dan sebagai gantinya mereka harus menetapkannya untuk akhir September. Itu menjadikan Argo murid pindahan nomor satu. Selain itu, katanya kau tak harus mantan pemain SAO untuk pindah ke sini.""Benarkah...? Tapi apa ada murid dari sekolah normal yang benar-benar mau pindah ke tempat ini? Aku merasa masyarakat memperlakukan sekolah ini seperti sesuatu yang unik dan terisolasi...""Ya, tapi karena ini sekolah khusus, banyak kurikulumnya yang pada dasarnya bersifat praktis, kan? Kau bisa memilih unit pelajaran yang benar-benar ingin kau pelajari... Dan semenjak media mulai meliput berbagai keunikan sekolah ini, semakin banyak orang yang tertarik. Ada murid pindahan di kelasku juga, dan dia mengatakan hal yang sama.""Begitu rupanya... Jadi Argo ada di sini karena alasan yang sama...," ucapku sebelum menyadari sesuatu.Anomali yang rencananya akan kami bicarakan bersama yang lain—konversi paksa para pemain dari setiap VRMMO Seed ke dalam Unital Ring yang misterius—baru saja dimulai kemarin, tanggal 27 September. Dan Argo, yang kebetulan sedang menulis artikel tentang The Seed Nexus untuk MMO Today, tiba-tiba saja pindah ke sekolah ini pada tanggal 28 September.Apakah ini benar-benar sekadar kebetulan? Argo berdalih bahwa ini adalah hari pertama masuk untuk gelombang penerimaan akhir, tetapi mustahil itu menjadi satu-satunya alasan."Argo, apa kau sebenarnya pindah ke sini gara-gara Unital—?"Ia memotong ucapanku dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibirku."Jangan buru-buru begitu, Kiri-boy. Aku pasti bakal memberimu penjelasan yang layak, tapi waktuku tidak cukup kalau sekarang. Keberatan kalau aku ikut bergabung di pertemuan sepulang sekolah nanti?""A... apa?" Asuna dan aku saling bertukar pandang dengan raut tertegun.Di masa-masa SAO dulu, Argo telah banyak berkontribusi dalam kemajuan kami menaklukkan gim mematikan tersebut, berkat bisnisnya sebagai pialang informasi. Namun di sekitar lantai-lantai pertengahan, ia lebih berfokus pada urusan di balik layar, dan bahkan aku pun nyaris tak pernah melihatnya lagi setelah titik itu. Silica dan Liz mungkin tahu namanya, tetapi mereka kemungkinan besar tak pernah bertransaksi informasi dengannya. Sementara Leafa dan Sinon sama sekali tak punya bayangan apa pun tentang dirinya.Namun jika dipikir-pikir lagi, Liz dan Silica baru mengenal Leafa satu setengah tahun yang lalu, dan Sinon baru sembilan bulan yang lalu. Akan tetapi, sekarang mereka sudah begitu dekat, seakan-akan telah bersahabat selama bertahun-tahun. Argo pun pasti punya kesempatan untuk membaur. Asuna dan aku mengangguk lalu kembali menoleh pada Argo."Boleh saja. Tapi... awas... jangan asal bicara yang aneh-aneh, oke?""Apa maksudmu dengan 'aneh-aneh'?""Aku mengandalkan kebijaksanaanmu soal itu," ujarku dengan penuh keseriusan lalu kembali menyantap baguette-ku. Argo pasti bisa berteman baik dengan yang lain, yakinku dalam hati, seraya berusaha menulikan diri dari bisikan firasat buruk di sudut benakku.
Pada pukul setengah empat, seusai jam wali kelas (homeroom) singkat terakhir kami, aku bergegas meninggalkan kelas menuju laboratorium komputer yang terletak di ujung utara lantai tiga Gedung Dua.Tempat itu disebut "lab" karena ruangan tersebut dulunya digunakan untuk kelas teknologi informasi sewaktu masih berstatus sekolah negeri; sebenarnya tidak ada mainframe raksasa di sana. Lagipula, sebagian besar PC desktop yang dulu ada di sana kini telah dipindahkan, sehingga ruangan itu jelas tak lagi mencerminkan namanya.Sebagai siswa jurusan mekatronika di sekolah ini, dua siswa laki-laki lain dan aku membentuk sebuah tim riset dan secara resmi meminjam lab komputer dari pihak sekolah. Masing-masing dari kami memiliki kunci pintunya, tetapi kedua rekanku sedang pergi ke Akihabara untuk mencari suku cadang hari ini, menjadikannya tempat yang sangat leluasa untuk pertemuan kami.Aku bergegas menyusuri lorong penghubung antar gedung, lalu menaiki tangga menuju lantai tiga. Kukira aku bakal jadi orang pertama yang tiba, tetapi Lisbeth, alias Shinozaki Rika , ternyata sudah menunggu di luar ruangan."Kau terlambat!" seru Liz begitu melihatku. Aku merapatkan telapak tanganku dan menundukkan kepala meminta maaf."Enak saja. Kau yang kepagian! Aku langsung lari ke sini begitu jam wali kelasku bubar...""Yah, wali kelasku sedang dinas luar, jadi kami tidak ada jam wali kelas. Memangnya aku harus ngapain lagi?""Buang-buang waktu kek di kelasmu sebelum datang kemari...""Aku sudah sengaja jalan pelan-pelan supaya bisa sampai di waktu yang tepat, tahu!"Kami berdebat layaknya yang sering kami lakukan di ALO, tetapi di sekolah ini, aku adalah siswa kelas dua, sementara Liz adalah siswi kelas tiga, jadi mau tak mau aku merasa sedikit segan padanya. Klein dan Agil jauh lebih tua, dan aku bisa berbicara dengan mereka secara setara. Jadi kurasa ini ada kaitannya dengan kekuatan struktural hierarki tingkat kelas di sekolah. Seandainya ada yang membuat gim Seed berlatarkan sekolah raksasa, apakah gim itu bakal populer? Jangan-jangan malah sudah ada."Kenapa kau malah melamun? Ayo, cepat buka pintunya." Liz menepuk punggungku dengan akrab, dan aku pun tersadar dari lamunanku. Terdapat seuntai kunci dengan gantungan plastik pudar di sakuku. Aku mengeluarkannya dan memasukkannya ke lubang kunci. Kunci silinder tua yang macet itu pun berputar. Aku menarik pintu geser itu hingga terbuka, meletakkan tangan di dada, lalu membungkuk."Silakan masuk, Nona Lisbeth.""Terima kasih, pelayan," ucapnya dengan nada jemawa, lalu aku mengikutinya masuk ke dalam lab komputer. Kami memang berusaha membersihkannya dengan vacuum cleaner sesering mungkin, tetapi tak ada yang bisa menghilangkan aroma khas ruang kelas tua tersebut.Sinar matahari sore menyorot tajam menembus tirai putih, menciptakan kontras cahaya yang cukup kuat sehingga kami tak perlu menekan sakelar lampu."Ooh, lumayan juga. Aku benar-benar suka suasana di sini," komentar Liz, yang belum pernah menginjakkan kaki ke lab ini sebelumnya. Aku sudah begitu terbiasa dengan tempat ini hingga tak lagi memancing emosi apa pun dalam diriku. Seandainya ini adalah bangunan kayu, mungkin akan ada unsur fotogenik di dalamnya, tetapi Gedung Dua tidaklah setua itu. Dindingnya terbuat dari beton yang sedikit retak, lantainya berlapis linoleum pudar, dan meja-mejanya berpermukaan melamin murahan. Namun Liz melintasi ruangan, mengamati segala sesuatunya dengan penuh rasa ingin tahu, lalu menoleh padaku dengan senyuman penuh teka-teki sesampainya di dekat jendela."Tidakkah ini terasa seperti adegan dari anime berlatar sekolah? Sepulang sekolah, di gedung sekolah lama, di mana seorang cowok dan cewek sedang berduaan..."Aku mencondongkan tubuh ke belakang, sedikit ngeri dengan maksud terselubungnya.Ia menudingkan jari padaku dan menuntaskan kalimatnya, "...terlibat pertarungan gila-gilaan dengan kekuatan psikis!""Pertarungan, ya...?" sahutku kehabisan kata-kata. Liz menurunkan tangannya dan tertawa terbahak-bahak. "Memangnya apa lagi yang mau kita lakukan?""Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong... kenapa yang lain lama sekali, ya?" tanyaku heran, tepat ketika pintu geser itu kembali terbuka."Terima kasih sudah menunggu.""Maaf kami terlambat!" Itu Asuna dan Silica, yang masuk bersamaan. Dan di belakang mereka... tak tampak ada orang ketiga.Apa Argo yang meminta ikut pertemuan ini lalu malah mundur di tengah jalan? Aku merogoh ponselku untuk menghubunginya, tetapi baru teringat bahwa kami belum bertukar info kontak. Bayangan sosok Argo si Tikus di taman rahasia dua jam lalu sudah mulai memudar menjadi rintik cahaya matahari di benakku. Seakan-akan Asuna dan aku baru saja menyaksikan sebuah ilusi..."Haiya!" sapa sebuah suara yang teramat santai, dan Argo pun melangkah riang melewati ambang pintu yang terbuka. Aku nyaris jatuh terjungkal ke lantai. Asuna balas melambai padanya sembari tersenyum, tetapi Liz dan Silica tampak tercengang kebingungan.Argo, yang masih mengenakan hoodie-nya, menyadari keberadaan mereka dan membungkuk kecil, lalu menoleh ke arahku dan berkata, "Hei, cepat perkenalkan aku.""Oh, benar juga... Uh, Liz, Silica, perkenalkan, ini Argo. Terhitung mulai hari ini, dia adalah siswi pindahan di sekolah ini. Dia penyintas SAO seperti kita, dan dulu di Aincrad—"Argo memotong pembicaraan dengan mulus dan melanjutkannya, "Dulu di Aincrad, aku ini teman spesialnya Kiri-boy.""Kiri-boy?!" seru Liz."Teman spesial?!" pekik Silica.Aku melakukan slide dash, melesat ke sisi Argo, di mana aku sukses menahan hasrat untuk menjambak tudung jaketnya dan menyeretnya. Alih-alih melakukan itu, aku berdesis, "Kan sudah kubilang jangan asal bicara yang aneh-aneh?!""Maksudmu apa? Kenyataannya memang begitu, kan.""Kenyataan dari mana?! Hubungan kita tak lebih dari sekadar penjual dan pelanggan, kau juga tahu itu!""Wah, dingin sekali ucapanmu. Padahal sudah sering aku memberimu perlakuan istimewa..."Asuna yang sudah jengah mendengar perdebatan itu pun menyela, "Bisa kita hentikan perdebatan ini dan masuk ke inti persoalan? Kita bisa memperkenalkan Argo saat pertemuan berlangsung. Kalau tidak, kita harus mengulanginya lagi untuk Suguha dan Shino-non."English Text: “Oh, r-right…Good point,” I said, seeing the stunned looks on Liz’s and Silica’s faces. “I’ll explain who she is very soon, so why don’t we prep for the meeting now?” “Are you all right? You sort of tripped over your words there,” noted Silica, fixing me with a piercing gaze. I quickly backed away and made a beeline for my school bag. Terjemahan Bahasa Indonesia:"Oh, b-benar juga... Ide bagus," ujarku, melihat raut wajah Liz dan Silica yang masih tertegun."Aku akan segera menjelaskan siapa dia sebenarnya, jadi bagaimana kalau kita bersiap-siap untuk pertemuannya sekarang?""Kau tidak apa-apa? Ucapanmu agak sedikit terbata-bata barusan," tegur Silica, menatapku dengan pandangan menusuk. Aku buru-buru melangkah mundur dan langsung melesat menuju tas sekolahku.
Meja-meja di lab komputer bukanlah meja ruang kelas, melainkan meja panjang untuk diduduki tiga orang. Kami mendorong dua meja ke tengah ruangan untuk membuat meja rapat dadakan. Asuna dan Argo duduk di sisi kiri meja, Liz dan Silica berbaris di sebelah kanan, dan aku duduk di ujung, paling dekat dengan pintu.Kami semua mengenakan Augma—milik Argo dicat kuning mustard, dengan simbol tikus kecil pada tempat baterai di bagian belakang. Begitu semuanya menyala, Yui yang berukuran sebesar peri kecil muncul di atas meja."Papa, Mama, Liz, Silica! Halo!" sapanya dengan suara kecil yang imut. Lalu ia menyadari keberadaan Argo."Dan ini pasti...""Oh, eh, aku akan menjelaskannya sebentar lagi, segera setelah kita memulai—," baru saja aku hendak bicara, tetapi Yui hanya berkedip sekali lalu menyeringai."Argo! Anda sangat membantu Papa dan Mama di SAO. Namaku Yui," ucapnya sembari membungkuk.Mulut Argo sontak menganga. "Uhhh... dari mana kau tahu aku ini Argo...?""Biometrik Anda sembilan puluh sembilan persen cocok dengan data avatar SAO Anda!""Tapi... aku tumbuh lumayan banyak dua tahun terakhir ini...""Aku menjalankan simulasi pertumbuhan selama proses identifikasiku!" kicau Yui, dan pada titik ini Argo akhirnya tampak memahami bahwa Yui adalah AI, bukan anak sungguhan.Setelah tiga detik keheningan, ia mengulurkan tangannya ke atas meja. "Y-yah, senang bisa bekerja sama denganmu.""Ya, aku juga!" Yui menggenggam ibu jari Argo dengan kedua tangannya yang mungil.Terpikir olehku bahwa kemampuan pengumpulan informasi Yui, yang jauh melampaui kemampuan manusia organik mana pun, pastilah menjadi sumber kecemburuan bagi Argo, yang masih melakukan semacam pekerjaan pialang informasi di dunia nyata. Saat Yui kembali ke tengah meja, aku mencatat dalam hati untuk terus mengawasinya dan memastikan ia tidak direkrut untuk pekerjaan sampingan yang mencurigakan.Yui merentangkan kedua tangannya dan berkata, "Sekarang aku akan menghubungkan Sinon dan Leafa!" Ada efek visual seperti percikan api keputihan di udara, dan Sinon serta Suguha muncul di ujung meja dekat jendela. Keduanya mengenakan seragam sekolah mereka dan duduk di kursi dengan desain yang berbeda.Ini adalah pertama kalinya kami mencoba sistem rapat AR milik Yui, tetapi realisme pengalamannya sungguh memukau; rasanya seolah-olah ada dua orang lain yang benar-benar hadir secara fisik di ruangan bersama kami. Mereka juga sama terkejutnya, dan memandang sekeliling lab komputer dengan takjub."...Wow... jadi ini sekolah penyintas...," gumam Sinon, yang mulai bangkit dari kursinya, tetapi aku mengulurkan kedua tangan untuk menghentikannya."Jangan, jangan bergerak! Apa yang kau lihat sedang ditimpa oleh Augma, jadi kalau kau bergerak, kau bakal menabrak barang-barang dan jatuh.""Oh... benar juga. Omong-omong, aku sedang di lab bahasa. Jadi kalau ada siswa lain yang masuk, mereka cuma bakal melihatku duduk sendirian, bicara pada ruang kosong, kan?" tanya Sinon.Yui mengonfirmasi hal ini dengan antusias, dan Suguha meringis. "Ugh, aku tersambung dari ruang UKS. Pasti bakal ada orang yang mampir...""Bagaimana dengan klubmu, Sugu?" tanyaku.Anggota tim kendo itu menjulurkan lidahnya. "Aku minta izin libur hari ini.""Tunggu, serius? Kau yakin? Bagaimana kalau anak-anak kelas tiga melampiaskan amarah padamu?""Aku bakal baik-baik saja, terima kasih banyak! Lagipula, anak-anak kelas tiga sudah pensiun dari klub setelah kejuaraan nasional bulan Agustus, jadi aku wakil kaptennya sekarang.""Tunggu, benarkah? Harusnya kau bilang dari awal! Kita belum mengadakan perayaan apa-apa untukmu.""Dijadikan wakil kapten bukan hal yang pantas dibesar-besarkan. Tapi kalau aku melaju jauh di kompetisi pendatang baru bulan November nanti, aku bakal menuntut pesta besar-besaran!"Kami malah asyik mengobrol layaknya kakak-beradik di tengah pertemuan penting ini. Namun Silica tampak terkejut dan bertanya pada Suguha, "Kalau kau wakil kaptennya, berarti ada orang yang lebih hebat darimu di klub?""Oh, tentu saja. Kadang aku menang kadang kalah saat latihan, tapi aku lebih mengikuti gaya individuku sendiri... Kalian butuh orang yang ortodoks untuk jadi kapten tim."Aku mulai khawatir dia akan dirundung lagi, tetapi klub kendo takkan memilih anggota yang tidak populer untuk menjadi wakil kapten. Kejuaraan nasional telah berlangsung pada awal Agustus, saat aku masih di rumah sakit, jadi aku belum bisa datang menyemangatinya. Kompetisi pendatang baru untuk siswa kelas satu dan dua setelah para senior lulus sudah dekat, jadi aku pasti harus hadir di acara itu."Ngomong-ngomong," ujarku, "mari tidak membuang-buang waktu lagi. Pertama-tama, aku ingin memperkenalkan dia—eh, maksudku tamu kita."Aku menunjuk Argo, yang bangkit dari kursinya dan membungkuk."Ini adalah siswi pindahan baru di sekolah penyintas terhitung mulai hari ini,Hosaka Tomo... Namun di SAO, ia adalah pialang informasi yang dikenal sebagai Argo si Tikus."Seketika, Liz dan Silica berseru serempak, "Ohhh! Dari buku panduan strategi itu!" Sinon dan Suguha memandang mereka dengan curiga, menggumamkan, "Buku panduan strategi?"Argo sendiri tertawa gugup dan berdiri lagi agar ia bisa berjabat tangan dengan keempat orang selain aku, Asuna, dan Yui—meskipun untuk kedua rekan jarak jauh, mereka harus menirukan gerakan berjabat tangan.Tentu saja, terpikir juga olehku bahwa ini hanya memperburuk ketidakseimbangan jumlah laki-laki dan perempuan di tim kami. Ada banyak sekali pemain VRMMO laki-laki di sekolah ini, jadi jika kami ingin merekrut lebih banyak orang ke dalam grup, hal itu akan sangat mudah dilakukan, tetapi aku tak pernah benar-benar berniat melakukannya.Itu mungkin karena aku sudah bertemu dengan sahabat terhebat yang pernah kumiliki setelah dua tahun berada di Underworld. Aku tidak merasa akan pernah punya teman laki-laki sebayaku lagi yang bisa mencapai kesepahaman sedekat itu denganku, dan aku tak terlalu menginginkannya. Saat ia gugur dalam pertempuran, sebagian dari diriku ikut mati bersamanya. Itu adalah luka batin yang kemungkinan besar takkan pernah sembuh seumur hidupku.Aku menarik napas dalam-dalam menghirup udara beraroma lilin lantai, meredam rasa sakit yang menusuk di dadaku, lalu menyatakan, "Sekarang setelah perkenalannya selesai, mari kita mulai pembahasannya. Hal pertama yang ingin kuketahui adalah kondisi pemain non-ALO... Kau juga dikonversi ke Unital Ring dari GGO, kan, Sinon?""Yep," setujunya, menarik perhatian semua orang."Dan sekadar memastikan, kau tahu kan avatarmu tetap berada di ruang virtual setelah kau log out? Apa kau berada di lokasi yang aman?""Yah... kurasa aku aman. Para manusia burung melindungiku."Semua orang, termasuk aku, tampak kebingungan mendengarnya. Sinon hanya mengangkat bahu, seolah menyiratkan bahwa ia juga tak mengerti.
Jam istirahat makan siang di sekolah penyintas berlangsung dari pukul 12:40 hingga 13:30. Lima puluh menit adalah waktu istirahat yang panjang untuk ukuran SMA, tetapi kami tak punya cukup waktu untuk duduk santai dan bernostalgia. Lagipula, sebagai remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan, melewatkan makan siang bukanlah pilihan jika kau ingin bertahan hidup sepanjang hari.Jadi pesan yang kukirim ke Asuna saat dalam perjalanan ke mari adalah BELI TIGA PORSI MAKANAN APA SAJA DARI KANTIN, DATANG KE TAMAN RAHASIA. Asuna membawakan tiga sandwich baguette. Salah satunya berisi keju Camembert, ham, dan arugula. Yang kedua berisi krim keju, salmon asap, dan tomat. Yang terakhir berisi udang, alpukat, dan selasih. Kami menggelar alas polietilena ringan di kaki pohon cendana, dan Asuna mempersilakan Argo memilih sandwich pertamanya."Pilih mana saja yang kau suka, Argo. Aku yang traktir.""Ah, ya ampun, mana bisa begitu," protesnya, tetapi Asuna menyodorkan ketiga sandwich itu ke wajahnya sambil tersenyum."Tentu saja bisa. Ingat waktu kau membantu kami menyelesaikan quest saat kami membeli rumah di hutan di lantai dua puluh dua? Ini sebagai balasan atas bantuanmu waktu itu!""...Ahhh, benar juga, itu memang pernah terjadi," ujar Argo, matanya menyipit saat bernostalgia. "Baiklah, kuterima hadiahmu. Kurasa aku mau... yang ini."Sembari menyeringai, ia mengambil baguette salmon asap. Asuna menoleh ke arahku dan menanyakan mana yang kuinginkan. Dari kedua pilihan tersisa, aku menebak ia pasti menginginkan yang alpukat, jadi aku menjawab, "Ham dan keju!"Meskipun sudah dua tahun sejak kami terbebas dari SAO—dan hidup bersama Asuna hanya selama dua minggu di dunia itu—aku tak bisa lepas dari kebiasaan berbagi inventaris pada masa-masa itu.Dan aku pun mengembangkan sebuah kebiasaan buruk: Setiap kali Asuna membayarkan sesuatu untuk kami berdua, aku sering lupa menggantinya. Aku baru menyadarinya kali ini setelah mengambil sandwich tersebut, dan buru-buru mengeluarkan ponselku. Asuna juga membelikan kami tiga es teh, jadi aku menjumlahkan biaya tiga porsi, membaginya dua, dan memasukkannya ke aplikasi pembayaran agar perangkat Asuna bisa membaca kode yang ditampilkannya. Sebenarnya lebih mudah lagi mengirim pembayaran pribadi menggunakan Augma, tetapi saking paniknya, aku meninggalkannya di dalam tas di kelas tadi.Tepat pada saat itu, aku mematung, ponsel di satu tangan dan baguette di tangan lainnya, lalu tersiap, "Oh...!!"Seharusnya kami menggunakan jam istirahat makan siang ini untuk bertemu dengan Liz dan Silica di kantin demi membicarakan anomali yang telah mengguncang The Seed Nexus sampai ke akarnya kemarin. Ditambah lagi, Suguha dan Sinon rencananya akan ikut serta menggunakan Augma dari SMA mereka di Ohmiya dan Ueno. Semuanya sedang menunggu Asuna dan aku untuk bergabung sekarang juga.Argo menatapku dengan aneh, tetapi Asuna hanya memutar bola matanya dan berkata, "Jadi kau benar-benar lupa. Jangan khawatir—aku sudah menghubungi semuanya dan meminta mereka menunda pertemuannya sampai sepulang sekolah.""Oh... m-makasih," ucapku tersipu malu.Argo ikut menundukkan kepala dan berkata, "Apa kalian sudah punya acara? Maaf ya sudah mengacaukannya.""Tidak apa-apa kok. Aku juga tahu istirahat makan siang ini bakal terlalu singkat untuk hal yang harus kita bahas," jelas Asuna seraya membagikan gelas-gelas es teh kepada kami."Ayo—kita makan. Aku sudah kelaparan nih."Aku sama sekali tak berniat membantah saran itu. Kukupas kembali kertas pembungkusnya dan kugigit ujung sandwich di mana isiannya menonjol keluar. Seorang warga setempat mengelola stan makanan di kantin, jadi meskipun makanannya sudah disiapkan sebelumnya, kulit baguette-nya beraroma harum dan sayur-sayurannya segar. Aku mengunyah beberapa gigitan dalam diam, lalu membasuhnya dengan es teh.Argo menghabiskan separuh miliknya dalam waktu singkat, tampak sangat puas."Ini bukan makanan kantin sembarangan. Aku tidak salah pilih datang ke sini.""Hampir semua menu di kantin memang enak. Tapi... di luar itu," ujarku, berdeham dan kembali ke topik pembicaraan yang tertunda, "kau harus memberitahu kami kenapa kau memutuskan pindah tepat pada saat-saat seperti ini.""Waktunya tak seaneh itu, tahu. Sekolah ini membagi periode penerimaannya menjadi periode awal dan akhir, dan ini adalah tanggal masuk untuk penerimaan akhir.""Apa, sungguh? Kalau begitu... harusnya mereka buat saja sistem dua semester, bukannya trimester...""Kalau begitu kau takkan dapat libur musim dingin.""Oke, lupakan saja kalau begitu," jawabku cepat.Asuna terkikik dan menjelaskan, "Sekolah ini baru mengembangkan sistem penerimaan bulan Agustus lalu. Jadi tidak sempat untuk akhir liburan musim panas, dan sebagai gantinya mereka harus menetapkannya untuk akhir September. Itu menjadikan Argo murid pindahan nomor satu. Selain itu, katanya kau tak harus mantan pemain SAO untuk pindah ke sini.""Benarkah...? Tapi apa ada murid dari sekolah normal yang benar-benar mau pindah ke tempat ini? Aku merasa masyarakat memperlakukan sekolah ini seperti sesuatu yang unik dan terisolasi...""Ya, tapi karena ini sekolah khusus, banyak kurikulumnya yang pada dasarnya bersifat praktis, kan? Kau bisa memilih unit pelajaran yang benar-benar ingin kau pelajari... Dan semenjak media mulai meliput berbagai keunikan sekolah ini, semakin banyak orang yang tertarik. Ada murid pindahan di kelasku juga, dan dia mengatakan hal yang sama.""Begitu rupanya... Jadi Argo ada di sini karena alasan yang sama...," ucapku sebelum menyadari sesuatu.Anomali yang rencananya akan kami bicarakan bersama yang lain—konversi paksa para pemain dari setiap VRMMO Seed ke dalam Unital Ring yang misterius—baru saja dimulai kemarin, tanggal 27 September. Dan Argo, yang kebetulan sedang menulis artikel tentang The Seed Nexus untuk MMO Today, tiba-tiba saja pindah ke sekolah ini pada tanggal 28 September.Apakah ini benar-benar sekadar kebetulan? Argo berdalih bahwa ini adalah hari pertama masuk untuk gelombang penerimaan akhir, tetapi mustahil itu menjadi satu-satunya alasan."Argo, apa kau sebenarnya pindah ke sini gara-gara Unital—?"Ia memotong ucapanku dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibirku."Jangan buru-buru begitu, Kiri-boy. Aku pasti bakal memberimu penjelasan yang layak, tapi waktuku tidak cukup kalau sekarang. Keberatan kalau aku ikut bergabung di pertemuan sepulang sekolah nanti?""A... apa?" Asuna dan aku saling bertukar pandang dengan raut tertegun.Di masa-masa SAO dulu, Argo telah banyak berkontribusi dalam kemajuan kami menaklukkan gim mematikan tersebut, berkat bisnisnya sebagai pialang informasi. Namun di sekitar lantai-lantai pertengahan, ia lebih berfokus pada urusan di balik layar, dan bahkan aku pun nyaris tak pernah melihatnya lagi setelah titik itu. Silica dan Liz mungkin tahu namanya, tetapi mereka kemungkinan besar tak pernah bertransaksi informasi dengannya. Sementara Leafa dan Sinon sama sekali tak punya bayangan apa pun tentang dirinya.Namun jika dipikir-pikir lagi, Liz dan Silica baru mengenal Leafa satu setengah tahun yang lalu, dan Sinon baru sembilan bulan yang lalu. Akan tetapi, sekarang mereka sudah begitu dekat, seakan-akan telah bersahabat selama bertahun-tahun. Argo pun pasti punya kesempatan untuk membaur. Asuna dan aku mengangguk lalu kembali menoleh pada Argo."Boleh saja. Tapi... awas... jangan asal bicara yang aneh-aneh, oke?""Apa maksudmu dengan 'aneh-aneh'?""Aku mengandalkan kebijaksanaanmu soal itu," ujarku dengan penuh keseriusan lalu kembali menyantap baguette-ku. Argo pasti bisa berteman baik dengan yang lain, yakinku dalam hati, seraya berusaha menulikan diri dari bisikan firasat buruk di sudut benakku.
Pada pukul setengah empat, seusai jam wali kelas (homeroom) singkat terakhir kami, aku bergegas meninggalkan kelas menuju laboratorium komputer yang terletak di ujung utara lantai tiga Gedung Dua.Tempat itu disebut "lab" karena ruangan tersebut dulunya digunakan untuk kelas teknologi informasi sewaktu masih berstatus sekolah negeri; sebenarnya tidak ada mainframe raksasa di sana. Lagipula, sebagian besar PC desktop yang dulu ada di sana kini telah dipindahkan, sehingga ruangan itu jelas tak lagi mencerminkan namanya.Sebagai siswa jurusan mekatronika di sekolah ini, dua siswa laki-laki lain dan aku membentuk sebuah tim riset dan secara resmi meminjam lab komputer dari pihak sekolah. Masing-masing dari kami memiliki kunci pintunya, tetapi kedua rekanku sedang pergi ke Akihabara untuk mencari suku cadang hari ini, menjadikannya tempat yang sangat leluasa untuk pertemuan kami.Aku bergegas menyusuri lorong penghubung antar gedung, lalu menaiki tangga menuju lantai tiga. Kukira aku bakal jadi orang pertama yang tiba, tetapi Lisbeth, alias Shinozaki Rika , ternyata sudah menunggu di luar ruangan."Kau terlambat!" seru Liz begitu melihatku. Aku merapatkan telapak tanganku dan menundukkan kepala meminta maaf."Enak saja. Kau yang kepagian! Aku langsung lari ke sini begitu jam wali kelasku bubar...""Yah, wali kelasku sedang dinas luar, jadi kami tidak ada jam wali kelas. Memangnya aku harus ngapain lagi?""Buang-buang waktu kek di kelasmu sebelum datang kemari...""Aku sudah sengaja jalan pelan-pelan supaya bisa sampai di waktu yang tepat, tahu!"Kami berdebat layaknya yang sering kami lakukan di ALO, tetapi di sekolah ini, aku adalah siswa kelas dua, sementara Liz adalah siswi kelas tiga, jadi mau tak mau aku merasa sedikit segan padanya. Klein dan Agil jauh lebih tua, dan aku bisa berbicara dengan mereka secara setara. Jadi kurasa ini ada kaitannya dengan kekuatan struktural hierarki tingkat kelas di sekolah. Seandainya ada yang membuat gim Seed berlatarkan sekolah raksasa, apakah gim itu bakal populer? Jangan-jangan malah sudah ada."Kenapa kau malah melamun? Ayo, cepat buka pintunya." Liz menepuk punggungku dengan akrab, dan aku pun tersadar dari lamunanku. Terdapat seuntai kunci dengan gantungan plastik pudar di sakuku. Aku mengeluarkannya dan memasukkannya ke lubang kunci. Kunci silinder tua yang macet itu pun berputar. Aku menarik pintu geser itu hingga terbuka, meletakkan tangan di dada, lalu membungkuk."Silakan masuk, Nona Lisbeth.""Terima kasih, pelayan," ucapnya dengan nada jemawa, lalu aku mengikutinya masuk ke dalam lab komputer. Kami memang berusaha membersihkannya dengan vacuum cleaner sesering mungkin, tetapi tak ada yang bisa menghilangkan aroma khas ruang kelas tua tersebut.Sinar matahari sore menyorot tajam menembus tirai putih, menciptakan kontras cahaya yang cukup kuat sehingga kami tak perlu menekan sakelar lampu."Ooh, lumayan juga. Aku benar-benar suka suasana di sini," komentar Liz, yang belum pernah menginjakkan kaki ke lab ini sebelumnya. Aku sudah begitu terbiasa dengan tempat ini hingga tak lagi memancing emosi apa pun dalam diriku. Seandainya ini adalah bangunan kayu, mungkin akan ada unsur fotogenik di dalamnya, tetapi Gedung Dua tidaklah setua itu. Dindingnya terbuat dari beton yang sedikit retak, lantainya berlapis linoleum pudar, dan meja-mejanya berpermukaan melamin murahan. Namun Liz melintasi ruangan, mengamati segala sesuatunya dengan penuh rasa ingin tahu, lalu menoleh padaku dengan senyuman penuh teka-teki sesampainya di dekat jendela."Tidakkah ini terasa seperti adegan dari anime berlatar sekolah? Sepulang sekolah, di gedung sekolah lama, di mana seorang cowok dan cewek sedang berduaan..."Aku mencondongkan tubuh ke belakang, sedikit ngeri dengan maksud terselubungnya.Ia menudingkan jari padaku dan menuntaskan kalimatnya, "...terlibat pertarungan gila-gilaan dengan kekuatan psikis!""Pertarungan, ya...?" sahutku kehabisan kata-kata. Liz menurunkan tangannya dan tertawa terbahak-bahak. "Memangnya apa lagi yang mau kita lakukan?""Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong... kenapa yang lain lama sekali, ya?" tanyaku heran, tepat ketika pintu geser itu kembali terbuka."Terima kasih sudah menunggu.""Maaf kami terlambat!" Itu Asuna dan Silica, yang masuk bersamaan. Dan di belakang mereka... tak tampak ada orang ketiga.Apa Argo yang meminta ikut pertemuan ini lalu malah mundur di tengah jalan? Aku merogoh ponselku untuk menghubunginya, tetapi baru teringat bahwa kami belum bertukar info kontak. Bayangan sosok Argo si Tikus di taman rahasia dua jam lalu sudah mulai memudar menjadi rintik cahaya matahari di benakku. Seakan-akan Asuna dan aku baru saja menyaksikan sebuah ilusi..."Haiya!" sapa sebuah suara yang teramat santai, dan Argo pun melangkah riang melewati ambang pintu yang terbuka. Aku nyaris jatuh terjungkal ke lantai. Asuna balas melambai padanya sembari tersenyum, tetapi Liz dan Silica tampak tercengang kebingungan.Argo, yang masih mengenakan hoodie-nya, menyadari keberadaan mereka dan membungkuk kecil, lalu menoleh ke arahku dan berkata, "Hei, cepat perkenalkan aku.""Oh, benar juga... Uh, Liz, Silica, perkenalkan, ini Argo. Terhitung mulai hari ini, dia adalah siswi pindahan di sekolah ini. Dia penyintas SAO seperti kita, dan dulu di Aincrad—"Argo memotong pembicaraan dengan mulus dan melanjutkannya, "Dulu di Aincrad, aku ini teman spesialnya Kiri-boy.""Kiri-boy?!" seru Liz."Teman spesial?!" pekik Silica.Aku melakukan slide dash, melesat ke sisi Argo, di mana aku sukses menahan hasrat untuk menjambak tudung jaketnya dan menyeretnya. Alih-alih melakukan itu, aku berdesis, "Kan sudah kubilang jangan asal bicara yang aneh-aneh?!""Maksudmu apa? Kenyataannya memang begitu, kan.""Kenyataan dari mana?! Hubungan kita tak lebih dari sekadar penjual dan pelanggan, kau juga tahu itu!""Wah, dingin sekali ucapanmu. Padahal sudah sering aku memberimu perlakuan istimewa..."Asuna yang sudah jengah mendengar perdebatan itu pun menyela, "Bisa kita hentikan perdebatan ini dan masuk ke inti persoalan? Kita bisa memperkenalkan Argo saat pertemuan berlangsung. Kalau tidak, kita harus mengulanginya lagi untuk Suguha dan Shino-non."English Text: “Oh, r-right…Good point,” I said, seeing the stunned looks on Liz’s and Silica’s faces. “I’ll explain who she is very soon, so why don’t we prep for the meeting now?” “Are you all right? You sort of tripped over your words there,” noted Silica, fixing me with a piercing gaze. I quickly backed away and made a beeline for my school bag. Terjemahan Bahasa Indonesia:"Oh, b-benar juga... Ide bagus," ujarku, melihat raut wajah Liz dan Silica yang masih tertegun."Aku akan segera menjelaskan siapa dia sebenarnya, jadi bagaimana kalau kita bersiap-siap untuk pertemuannya sekarang?""Kau tidak apa-apa? Ucapanmu agak sedikit terbata-bata barusan," tegur Silica, menatapku dengan pandangan menusuk. Aku buru-buru melangkah mundur dan langsung melesat menuju tas sekolahku.
Komentar (0)
Memuat komentar...