Sword Art Online 023: Unital Ring II

Bagian 3

Estimasi waktu baca: 5 menit

Bus yang melaju menuju gerbang utara Stasiun Kichijoji di luar dugaan tampak lengang. Asuna duduk di dekat pintu keluar, memangku tas sekolahnya, dan menghela napas.
Kehangatan dari reuni tak terduga bersama Argo masih berdesir di dadanya. Namun pada saat yang sama, ada sesuatu yang terasa janggal pada hari itu. Perasaan tersebut berasal dari pertemuannya dengan murid pindahan lainnya, Kamura Shikimi.
Sama sekali tak ada niat bermusuhan dari Shikimi, sungguh. Mereka hanya berbincang selama beberapa menit, dan gadis itu bersikap sangat santai sepanjang waktu. Alasannya menghampiri untuk menyapa, meskipun berada di kelas sebelah, adalah karena menurut pengakuannya, mereka pernah bertemu di sebuah pesta di kalangan industri manufaktur elektronik bertahun-tahun silam.
Asuna tak mengingatnya, tetapi Kamura Shikimi rupanya adalah putri dari pendiri Kamura, produsen pembuat Augma sekaligus rival dari RCT Progress.
Namun, bukanlah latar belakang Shikimi yang sedemikian mengusik alam bawah sadar Asuna.
Melainkan seragamnya. Gadis itu mengenakan seragam SMA dari Akademi Putri Eterna, sebuah sekolah terpadu dua belas tahun di Distrik Minato—sekolah tempat Asuna bernaung sebelum ia menjadi tawanan Sword Art Online.
Asuna memang hanya menempuh pendidikan hingga bangku SMP di sana, tetapi ia tak ingat pernah mengenal siswi seangkatannya yang memiliki nama keluarga Kamura. Itu adalah nama yang khas, dan Shikimi memiliki penampilan yang mencolok, jadi mustahil Asuna tak pernah melihatnya selama tiga tahun bersekolah.
Itu berarti Shikimi masuk ke tingkat SMA di Akademi Putri Eterna dari tempat lain dan, setengah tahun sebelum kelulusan, malah pindah ke sekolah penyintas.
Asuna sempat bertanya apakah hal itu akan berdampak buruk pada ujiannya, tetapi Shikimi berencana melanjutkan kuliah di luar negeri dan telah mengantongi ijazah dari International Baccalaureate serta laporan nilai SAT resmi. Ia dengar perguruan tinggi di Amerika menilai bagian esai sama pentingnya dengan nilai ujian, yang cukup menjelaskan keputusannya untuk pindah ke sekolah penyintas, di mana terdapat tingkat kebebasan yang lebih besar untuk mengejar minat akademis. Kendati demikian, itu tetap terkesan seperti keputusan yang ekstrem, dan sulit bagi Asuna untuk menepis anggapan tak menyenangkan bahwa Shikimi memandang sekolah ini tak ubahnya subsidi khusus yang bisa dimanfaatkan.
Kesan tersebut kemungkinan besar bersumber dari seragam yang dikenakan Shikimi. Seandainya Insiden SAO tak pernah terjadi, Asuna mungkin akan mengenakan blazer abu-abu itu juga. Tingkat SMP di Eterna memiliki seragam jumper dress yang polos, sehingga jaket blazer yang dikenakan siswi SMA, dengan kerah biru dongker mereka, terlihat jauh lebih modis sebagai perbandingan. Ibunya memang telah menyuruhnya untuk mengikuti ujian masuk ke SMA lain, jadi ia mungkin takkan memiliki kesempatan untuk mengenakannya, tetapi sulit rasanya untuk tidak berpikiran negatif saat dihadapkan kembali pada seragam itu.
Asuna sama sekali tidak merasa minder bersekolah di tempatnya sekarang, ia juga tak memendam hasrat rahasia untuk mengulang kembali hidupnya dari empat tahun lalu. Namun melihat Kamura Shikimi dalam balutan seragam itu, rasanya seolah... Seolah ia sedang melihat dirinya sendiri sebagai siswi Akademi Putri Eterna seandainya ia tak pernah terjebak di dalam SAO...
"...Bodohnya aku," gumamnya seraya memejamkan mata. Masih ada sembilan halte lagi sebelum tiba di Stasiun Kichijoji. Kemungkinan besar ia akan begadang semalaman lagi malam ini, jadi ia harus menyempatkan diri untuk tidur kapan pun ia bisa.
Asuna menyandarkan kepalanya ke dinding bus, tetapi kantuk tak kunjung menghampirinya. Di sudut benaknya, ia tak bisa mengenyahkan bayangan raut wajah Shikimi yang begitu sempurna dan tak bernoda, kecantikan cerdas yang entah mengapa justru memicu kecemasan samar di dalam diri Asuna.
Asuna sama sekali tak memiliki keluhan atas kehidupannya. Ia mencintai dan memercayai Kazuto serta Yui dengan sepenuh hati, dan ia telah bertemu dengan sahabat-sahabat terbaik dalam diri Rika, Keiko, Shino, dan Suguha. Tak peduli apa yang mungkin dipikirkan oleh Shikimi—dengan rekam jejaknya yang tak bernoda—tentang dirinya, Asuna tahu bahwa ia sudah sangat bahagia.
Namun fakta bahwa aku harus meyakinkan diriku sendiri akan hal itu adalah pertanda bahwa aku sedang terguncang oleh semua ini.
Asuna mengembuskan napas panjang perlahan dan memutuskan untuk hanya memikirkan kesenangan apa yang menantinya di depan.
Konversi paksa ke VRMMO misterius Unital Ring memang telah membawa kebingungan dan kekacauan besar pada The Seed Nexus, tetapi Asuna merasa lebih antusias alih-alih khawatir atau takut menghadapi babak baru ini. Bahkan aturan baru yang ekstrem, yakni kau takkan bisa log in lagi jika mati, takkan mampu menggoyahkan nyali seorang veteran SAO.
Saat ini, para pengembang ALO—Ymir—dan banyak kelompok lainnya tengah mengupayakan solusi untuk mengatasi situasi tersebut, menurut penuturan Argo. Cepat atau lambat, insiden ini pasti akan berakhir. Sampai saat itu tiba, ia akan membantu melindungi rumah mereka di hutan dan, jika memungkinkan, mencoba menyingkap misteri dunia baru ini.
Sayangnya, Argo tak berencana untuk ikut serta dalam Unital Ring dalam waktu dekat, tetapi kepindahannya ke sekolah ini sepertinya juga bukan tanpa kaitan dengan UR. Rupanya, ia sudah memiliki firasat mengenai insiden UR sejak beberapa waktu lalu, dan ia mengambil keputusan untuk pindah ke sekolah penyintas demi bisa lebih dekat dalam menggali kebenaran di balik peristiwa ini.
Seperti biasa, Argo takkan membicarakan hal apa pun yang tak memiliki bukti kuat, dan waktu pertemuan mereka pun terbatas, jadi hanya sejauh itulah informasi yang ia laporkan pada mereka. Namun jelas bahwa ia akan menyelidiki rahasia Unital Ring dari luar. Saat mereka berpisah di sekolah, ia menyeringai dan berkata bahwa ia menyerahkan penyelidikan dari dalam kepada Asuna. Hal itu tak menyisakan pilihan lain bagi Asuna selain melakukan yang terbaik.
Asuna tak pernah merasa perjalanan panjang komuternya menyiksa, tetapi pada hari ini, ia akhirnya berharap rumahnya berada lebih dekat dari sekolah. Pada titik tertentu, perasaan janggal di dadanya perlahan telah mencair dan sirna.

Komentar (0)

Memuat komentar...