Sword Art Online 023: Unital Ring II
Bagian 4
Estimasi waktu baca: 38 menit"Aku pulang..."Begitu aku melangkah masuk melewati pintu kaca lorong depan, aku mendengar sebuah suara berseru, "Selamat datang, Kakak! Ngomong-ngomong, kau terlambat!" Suguha sudah menunggu dalam balutan baju jumpsuit-nya di undakan menuju lorong, kedua tangan bertaut di depan dada, seraya melompat-lompat kecil di tempat."Mau bagaimana lagi. Waktu perjalananku dua kali lipat darimu. Dan aku sudah ngebut pulang dari stasiun secepat yang kubisa."Benar saja, meskipun bulan September hampir berakhir, butir-butir keringat sebesar jagung bercucuran di keningku. Jarak dari Stasiun Honkawagoe ke kediaman keluarga Kirigaya hampir satu setengah mil, dan mengayuh sepeda sejauh itu dalam waktu enam menit pastilah rekor pribadi baruku. Namun aku tak bisa menyombongkannya, karena ternyata Suguha bisa sampai di rumah dalam waktu kurang dari lima menit. Kendati demikian, adik perempuanku yang bijak ini tidak menghina kekuatan kaki kakaknya yang menyedihkan.Alih-alih mengejek, ia menyodorkan handuk muka padaku."Ini untukmu!""Oh, makasih," ucapku, mengambilnya lalu menyeka keningku. Selanjutnya, ada sebotol air mineral."Dan ini buatmu juga!" ujarnya, membuka tutup botolnya sebelum menyerahkannya. Aku berterima kasih padanya dan langsung menenggak habis setengah botol."Ahhh, aku merasa hidup kembali...""Sekarang waktunya lari cepat lagi!" desaknya. Aku bergegas naik ke kamarku dan baru saja selesai berganti kaus dan celana pendek ketika Suguha menerobos masuk tanpa mengetuk."Sudah siap?! Kalau begitu, ayo berangkat!!" Di tangannya tergenggam sebuah AmuSphere yang sudah sering dipakai."Berangkat? Memangnya kau mau dive dari mana?""Dari sini, pastinya! Kalau waktu kita tidak pas, kita bisa-bisa terpisah sendirian dan berada dalam situasi berbahaya.""Jangan terlalu dramatis... Ini bukan Underworld, dengan fitur akselerasi waktunya itu. Kalaupun kita meleset, paling cuma beda semenit dua menit. Lagipula, Liz dan Silica seharusnya sudah ada di dalam.""Ayolah, cepat sedikit!"Suguha memasangkan AmuSphere ke kepalaku, lalu melompat ke atas tempat tidur dengan sangat bersemangat hingga bilah kayu di bawah kasur berderit. Aku tak punya pilihan selain berbaring di sebelahnya. Suguha mengangkat tiga jari."Kita berangkat pada hitungan ketiga! Tiga, dua, satu... Link Start!" Aku merapalkan perintah itu bersamanya, bertanya-tanya apakah tangan Suguha akan terjatuh saat perangkat itu mengambil alih kesadaran dan menimpa sisiku. Tentu saja, aku takkan melihatnya terjadi, kalaupun memang begitu.Saat mataku terbuka, aku tengah menatap langit-langit yang terbuat dari papan kayu yang masih baru. Hingga sekitar pukul empat pagi tadi, terdapat lubang besar yang menganga tembus ke langit, tetapi kini tak ada sekelumit pun jejaknya yang tersisa. Pondok kayu gelondongan itu, rumah hutan kesayangan kami yang tercabut dari New Aincrad dari fondasinya dan mengalami kerusakan parah saat menghantam bumi, telah berhasil diperbaiki dengan bantuan ekstra dari Lisbeth dan Silica.Syukurlah. Aku lega sekali, batinku, kembali berguling, ketika sesuatu menepuk sisiku."Ayo, Kirito, bangun! Ada baaaanyak sekali hal yang harus kita kerjakan!""Iya, iya..."Aku duduk, yang membuat zirah besi buatan Lisbeth untukku berdentang nyaring, dan menoleh ke samping. Ada avatar Suguha, Leafa, yang mengenakan gaun terusan kain sederhana. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ruang tamunya terasa jauh lebih lega sekarang karena semua furnitur sudah tak ada, dan tak ada pemain lain yang hadir. Asuna mungkin masih dalam perjalanan pulang. Selagi kami berempat berada di sekolah, Alice dan Yui seharusnya menjaga pondok ini. Di mana mereka sekarang?Baru saja pertanyaan itu terlintas di benakku, terdengar bunyi dentingan logam bernada tinggi dari luar jendela. Itu bukan suara palu yang menghantam landasan... Itu adalah suara pertarungan pedang."Suara apa itu?!"Aku buru-buru melompat berdiri, membuka pintu, dan bergegas keluar.Di sana, di halaman depan kami, dikelilingi oleh berbagai stasiun kerajinan (crafting station), ada dua sosok yang saling mengayunkan pedang. Waktu di Unital Ring disinkronkan dengan dunia nyata, jadi matahari terbenam memerah di kejauhan di depanku, membuatku sulit melihat siapa sosok tersebut. Salah satu siluetnya kira-kira setinggiku, tetapi yang satunya lagi jauh lebih kecil, seperti anak-anak."Yaaaa!" Sosok yang seperti anak kecil itu mengeluarkan seruan garang dan mengayunkan pedang ke bawah dengan kedua tangan. Kecepatannya memang mengesankan, tetapi sosok dewasa itu dengan nyaman menahan ayunannya dengan tangkisan satu tangan. Terdengar dentingan nyaring lainnya. Kepangan tebal pirang berkilau menyilaukan ditimpa cahaya matahari terbenam.Akhirnya, aku menyadari bahwa sosok dewasa itu adalah Alice. Dan gadis berambut hitam yang dengan berani menyerang Integrity Knight terkuat sepanjang masa itu tak lain dan tak bukan adalah putriku bersama Asuna, AI top-down terhebat di dunia, Yui."H-hei, ada apa ini...?" Tanpa berpikir panjang, aku mencoba ikut campur ke dalam pertarungan itu, tetapi Leafa mencengkeram bahuku."Tunggu. Bukankah dia sedang berlatih?""B-berlatih...?"
Aku melirik adikku, lalu kembali ke tengah halaman. Memang benar Alice sedang menerima dan menangkis serangan Yui, tetapi ia sama sekali tidak membalas. Alih-alih, pada setiap benturan, ia tampak memberikan sedikit nasihat."Lihat, kan? Tidak apa-apa," ujar Suguha."Y-ya...," aku setuju, meskipun aku tak ingat pernah melihat Yui memegang senjata... kecuali satu kali saat ia menggunakan senjata GM untuk melawan monster bos yang sangat kuat, Fatal Scythe, di labirin bawah tanah lantai satu Aincrad. Namun kini Yui diperlakukan layaknya seorang pemain dan memiliki batang HP sama seperti kami semua.English Text: Alice didn’t even need to fight back; she could potentially hurt herself with her own sword. I was in a state of near panic as I watched the scene unfold. Terjemahan Bahasa Indonesia:Alice bahkan tak perlu membalas; Yui bisa saja tak sengaja melukai dirinya sendiri dengan pedangnya. Aku berada dalam kondisi nyaris panik saat menyaksikan pemandangan yang terbentang di depanku ini.Yui selesai menyimak nasihat Alice dengan saksama, lalu kembali mengambil jarak. Ia mengangkat pedang pendeknya, yang memiliki hiasan agak eksotis, dalam kuda-kuda tengah dasar..."Yaaaa!"Terlepas dari penampilannya yang masih belia, ia berseru garang seraya menerjang. Aku tak kuasa menahan rasa terkejutku.Saat para pemula di VRMMO menyerang dengan pedang, mereka cenderung melakukan gerakan dua tahap: menarik pedang ke belakang, lalu mengayunkannya ke bawah. Memang ada situasi di mana gerakan itu adalah tindakan yang tepat, tetapi pada hampir semua kasus, memadatkan awal dan akhir ayunan ke dalam satu gerakan utuh akan menghasilkan kecepatan dan tenaga yang lebih baik. Tebasan Yui selaras sempurna dengan teori ini, dan bahkan, Alice sampai harus menarik kaki kirinya mundur setengah langkah untuk menangkisnya.Satu lagi dentingan logam beradu yang jernih dan tinggi memenuhi halaman. Keduanya berhenti bergerak, lalu kembali mengambil jarak."Itu tadi serangan yang sangat bagus, Yui," nilai Alice.Aku bertepuk tangan kagum, menarik perhatian mereka. Alice tampak sedikit tersipu malu, sementara Yui langsung memancarkan senyum semringah."Papa! Selamat datang!" serunya dan mulai berlari kecil ke arahku, masih mengacung-acungkan pedang pendeknya. Aku terpaksa mengulurkan tangan."Wah, wah, simpan dulu benda itu.""Oh! Tentu saja!" Ia mengerem langkahnya mendadak, lalu menyarungkan senjata itu ke sarung di sisi kirinya. Kini ia bebas melompat ke dalam pelukanku, di mana aku mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala sebelum mendekapnya dengan lengan kiriku. "Terima kasih, Yui," ucapku."Jadi... kenapa kau berlatih pakai pedang...?""Untuk bertarung, dong! Kemahiranku dengan skill One-Handed Sword (Pedang Satu Tangan) baru saja mencapai angka 7!""Oh ya? Kau sudah bekerja keras rupanya," pujiku seraya membelai kepalanya. Yui terkikik kegirangan. Skill One-Handed Sword milikku, yang kubawa dari ALO, berada di nilai maksimum 1.000, tetapi semua skill baru lainnya yang kudapatkan hanya berada di angka 2 atau 3. Untuk ukuran hasil kerja satu hari, menaikkan skill-nya ke angka 7 adalah bukti dedikasi yang luar biasa."Kalau angkanya sudah setinggi itu, mungkin kau sudah bisa memakai sword skill (keahlian pedang) sekarang," usulku."Ummm..." Yui membuka ring menu-nya dan beralih ke jendela skill untuk memeriksa."Oh! Di sini tertulis aku bisa menggunakan Vertical, Horizontal, dan Slant!" "Nah, benar kan. Ketiga jurus itu adalah fondasi dari seluruh sword skill. Kalau kemahiranmu sudah lebih tinggi lagi, aku bisa mengajarimu jurus yang lebih keren, seperti Vorpal Strike dan Howling Octave.""Hore!" seru Yui."Soal itu, Kirito," ujar suara lain, mengalihkan perhatiaanku.Itu adalah Alice, yang melangkah mendekat dalam balutan gaun putihnya, tampak agak kesal."Hei, Alice. Terima kasih sudah menjaga rumah dan mengajari Yui. Jadi... apa yang mau kau bicarakan?" "Coba lihat jendela skill-mu.""Hah? Uh... oke... "Aku menggambar lingkaran di udara dengan jariku. Ring menu muncul diiringi bunyi gemerincing, dan aku memilih ikon SKILLS.Jendela yang muncul menampilkan daftar skill yang telah dikuasai, diurutkan berdasarkan tingkat kemahiran, jadi tentu saja di urutan paling atas adalah kategori One-Handed Sword..."...Hah?"Aku menatap angka kemahiran itu dengan terkejut. Saat aku mengecek layar ini kemarin, angkanya jelas-jelas berada di nilai maksimum 1.000, tetapi sekarang angka itu kehilangan satu nol."Se... seratus?! Kenapa...?""Tampaknya, semalam, saat masa tenggang berakhir, kemahiran dari skill apa pun yang kita bawa kemari juga ikut diturunkan. Bersamaan dengan itu, semua sword skill tingkat lanjut jadi mustahil untuk digunakan.""Mana mungkin..." erangku.Leafa mengecek jendelanya sendiri dan berseru, "Oh tidak! Aku juga!"Kami berdua menundukkan kepala bersama-sama, layaknya kakak-beradik, tetapi aku memaksa diriku untuk bangkit kembali.English Text: “W-wait just a second…We fought those PKers last night after the grace period finished, right? I’m pretty sure I used Vorpal Strike at the time. That’s supposed to be a pretty advanced skill.” “Look at your list of sword skills,” Alice stated. Terjemahan Bahasa Indonesia:"T-tunggu sebentar... Kita melawan para PKer semalam setelah masa tenggangnya selesai, kan? Aku cukup yakin aku menggunakan Vorpal Strike waktu itu. Harusnya itu skill yang lumayan tingkat lanjut.""Coba lihat daftar sword skill-mu," ujar Alice.Atas sarannya, aku mengetuk ONE-HANDED SWORD SKILLS. Sub-jendela yang dimuatnya menampilkan sword skill yang saat ini bisa kugunakan. Di urutan teratas ada skill serangan tunggal dasar: Vertical, Horizontal, dan Slant; di bawahnya terdapat Vertical Arc dan Horizontal Arc yang terdiri dari dua tahap. Lalu ada skill terjangan rendah Rage Spike; skill lompat tinggi Sonic Leap; Sharp Nail yang terdiri dari tiga tahap... dan itulah skill terakhir yang menyala. Di bawahnya, Vertical Square berwarna abu-abu, dan mengetuknya akan membuka sebuah pop-up bertuliskan Kemahiran yang dibutuhkan: 150.Angka-angka yang berbeda dari SAO dan ALO memang bisa dipahami, tetapi ini tidak menjelaskan mengapa aku bisa menggunakan skill tingkat lanjut Vorpal Strike sebelumnya.Aku menggulir daftarnya dan menemukan Vorpal Strike cukup jauh di bawah, berwarna abu-abu. Kemahiran yang dibutuhkan adalah... 700. Jauh di atas angkaku saat ini yang cuma 100."Apa artinya itu...? Apa aku cuma mereka ulang gerakannya sendiri...?" gumamku.Namun dari balik lenganku, Yui menjawab, "Saat Papa menggunakan Savage Fulcrum dan Vorpal Strike di pertarungan kemarin, ada efek visual yang semestinya. Itu berarti Papa tidak cuma menirukan gerakannya.""Itu yang kupikirkan," setujuku, lalu menyerahkan Yui pada Leafa dan mengambil posisi di tengah halaman.Aku menghunus pedang panjang besiku yang berkualitas baik, yang pembuatannya sederhana namun memiliki bobot yang memuaskan, dan merendahkan titik berat tubuhku. Aku mengulurkan tangan kiriku ke depan dan menarik pedangku ke belakang dengan tangan kananku hingga berada di atas bahuku—namun efek awal dari sword skill tak kunjung muncul."Uryaa!" seruku keras kepala seraya melecutkan pedang ke depan, tetapi gerakannya hanya berakhir sebagai sebuah tusukan biasa. Tak ada kilatan merah darah Vorpal Strike, maupun sekelumit pun raungan mesin jet raksasa itu. Aku mencobanya lagi... dan lagi. Hasilnya tetap sama."Kirito, ini benar-benar menyedihkan," erang Alice."I-iya, aku tahu kok!" sentakku kekanakan. Aku mencobanya untuk keempat kali demi memastikannya.Shwoaaaaa-syakiiiiing!!"W-waaaaa—?!"Sembari menyala merah, pedang itu melesat ke depan, menyeretku di belakangnya. Aku terbang sejauh sepuluh kaki di udara, lalu mendarat tepat dengan dadaku."Gwurf!"Di sudut kiri atas, batang HP-ku berkurang sedikit saja. Aku mengerang, kaki tangan terentang layaknya katak, sampai Alice bergegas menghampiri dan mengulurkan tangannya."A-apa kau tidak apa-apa?!""Ya... begitulah..."Begitu ia membantuku berdiri, aku menatap pedang di tanganku. Lalu aku menoleh padanya dan bergumam, "Itu tadi dia kan? Vorstrike...""Harus kukatakan, aku tak terlalu setuju dengan kebiasaan kalian orang dunia nyata yang menyingkat segalanya," ucapnya kesal.Aku buru-buru menimpali "Sori deh," yang membuat tatapannya semakin dingin."Itu memang aktif... kuakui," ujarnya."Aku jadi penasaran apa artinya...""Kau coba juga, Alice!" seru Yui dari gendongan Leafa. Alice melirik ke arahnya, menggumamkan persetujuan, lalu menghunus pedang dari pinggangnya. Desainnya sama persis dengan pedangku, jadi pasti itu buatan Liz lagi. Aku mundur hingga berdiri di sebelah Leafa. Alice kemudian mengambil kuda-kuda dengan bilah pedang terangkat lurus di depan wajahnya.Di Underworld, tempat ia dilahirkan, sword skill yang diimpor ke dalam sistem dari SAO eksis sebagai "teknik spesial." Hal itu membuatnya mampu menggunakan beragam macam jurus secara langsung di ALO. Namun ia sepertinya lebih menyukai tipe serangan pamungkas sekali tebas, alih-alih skill kombo cepat. Tampaknya ia akan mencoba skill tingkat lanjut One-Handed Sword yaitu Gelid Blade.Kaki kirinya melangkah maju, dan pedangnya menonjol di belakangnya ke sebelah kanan. Secara normal, melakukan gerakan ini akan memunculkan efek ungu kebiruan yang mengelilingi pedang tersebut, tetapi tak terjadi apa-apa.Tak gentar, Alice berteriak, "Yaaaa!" dan menusukkan pedangnya ke depan. Itu adalah tebasan yang luar biasa, tetapi Gelid Blade tak kunjung tercipta.Ia menarik pedangnya kembali dan mereka ulang gerakan yang sama persis sekali lagi. Dua, tiga, empat kali ia mencobanya, tetapi sia-sia. Aku mulai bertanya-tanya apakah Vorpal Strike yang berhasil kulakukan tadi tak lebih dari sekadar bug dalam sistem.Namun kemudian, sekitar tusukan ketujuh atau kedelapan, seberkas cahaya menyerupai api biru menyembur dari pedang Alice. Ia melangkah maju dan menebas.Suara retakan dahsyat layaknya gletser yang pecah memenuhi udara, dan lintasan ungu kebiruan berkedip di udara. Itu adalah efek dari Gelid Blade."Hah? Berhasil!" seru Leafa.Aku mengangguk antusias. Aku belum bisa memastikan apakah ini bug atau fitur, tetapi hal ini menyiratkan bahwa jika kau bersikeras mencoba cukup sering, kau bisa mengeksekusi sword skill tingkat lanjut meskipun kau tak memiliki tingkat kemahiran yang dibutuhkan. Akan tetapi, peluang keberhasilannya sepertinya tak lebih dari 10 atau 20 persen. Itu terlalu berisiko untuk dicoba dalam pertarungan sungguhan, dan aku merasa tak enak karena tak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi.Pertama-tama aku menoleh ke arah Yui di gendongan Leafa—namun kini ia hanyalah seorang pemain biasa, tanpa akses sistem khusus. Untuk sekali ini, aku benar-benar harus menggunakan otakku sendiri untuk memecahkannya.Kemudian Yui menyarankan, "Papa, mungkin penyebab anomali ini bukanlah pemain atau item-nya, melainkan tempatnya."Aku menunjuk ke kakiku dan bertanya, "T-tempat? Maksudmu ruang terbuka ini punya properti khusus atau semacamnya?""Bukan, bukan ruang terbukanya..."Matanya bergerak, dan aku mengikutinya ke arah pondok kayu gelondongan yang telah diperbaiki, diterangi oleh rona perunggu dari sinar matahari terbenam. Aku menangkap maksud sarannya dan berlari kecil menghampiri bangunan itu agar aku bisa mengetuk dindingnya. Baris pertama dari jendela properti yang muncul adalah Cypress Log Cabin (Pondok Kayu Gelondongan Cypress), diikuti namaku dan Asuna sebagai pemiliknya, lalu sebuah batang berwarna yang menunjukkan daya tahan (durability). Seharusnya bangunan ini sudah pulih sepenuhnya pagi tadi, tetapi angka di bawah batang itu sekarang menunjukkan 12.433/12.500, mengindikasikan bahwa bangunan di dunia Unital Ring akan terdegradasi secara alami seiring berjalannya waktu. Sangat disayangkan, tetapi lajunya sepertinya sekitar 120 poin per hari, jadi bangunan ini seharusnya bisa bertahan selama seratus hari sekalipun kami tak melakukan apa-apa untuk merawatnya.Di bagian bawah jendela terdapat empat tombol, bertuliskan INFO, TRANSACTION (Transaksi), REPAIR (Perbaiki), dan BREAK DOWN (Hancurkan). Aku yakin takkan pernah menekan tombol TRANSACTION maupun BREAK DOWN, jadi aku mencoba INFO. Alice, Leafa, dan Yui membungkuk di atas bahuku untuk ikut melihat.Sub-jendela yang muncul menampilkan deskripsi singkat tentang rumah tersebut, termasuk nilai numerik seperti luas lantai dan ruang penyimpanan, serta kekuatan pertahanan terhadap berbagai elemen properti.Di bagian paling bawah terdapat kolom berlabel SPECIAL EFFECTS (Efek Spesial).Pasti ini dia, putusku dalam hati. Hanya ada satu item yang tercantum di sana. Tulisannya berbunyi sebagai berikut: Level-1 / Protection of the Forest (Perlindungan Hutan): Dalam radius 100 kaki dari pusat bangunan, pemilik beserta teman atau anggota party memiliki peluang kecil untuk mengeksekusi attack skill (skill serangan) yang persyaratannya belum terpenuhi."Ahhh... pantas saja," gumamku seraya mengelus kepala kecil Yui."Tebakanmu tepat sekali. Apa efek Protection of the Forest ini juga ada di ALO...?" "Tidak, sistem ini tidak ada di ALO," jawabnya seraya menggelengkan kepala.Leafa menyela, "Hei, lihat tulisannya bilang 'level-1'? Apa itu berarti ada efek spesial level 2 dan level 3?""Aku... berasumsi begitu. Tapi aku tak bisa membayangkan bagaimana cara mengaktifkan efek-efek itu," kataku.Alice menoleh dan menyarankan, "Tidak bisakah kita membangunnya agar terwujud? Sama seperti kita membangun kekuatan diri kita sendiri.""Maksudmu... menaikkan status rumahnya? Bagaimana caranya?""Dengan menambah ruangan atau membentengi strukturnya. Waktu aku membangun pondok di hutan dekat Rulid, aku memulainya hanya dari gubuk sederhana berdinding dan beratap, lalu membangunnya jadi lebih besar dari sana.""O-oh ya? Menarik..."Tanggapanku terdengar lumayan canggung, tetapi aku tak bisa menyembunyikannya. Alice menghabiskan waktu berbulan-bulan di pondok itu merawatku saat aku berada dalam kondisi katatonik, berdasarkan cerita yang kudengar. Aku tak mengingat masa-masa itu, kecuali secuil ingatan samar saat disuapi dengan sendok dan diselimuti di tempat tidur. Topik ini memenuhiku dengan campuran rasa syukur dan malu."Y-yang pasti, jelas inilah penyebab sword skill tingkat lanjut itu bisa bekerja. Aku pasti sedang sangat beruntung saat menggunakan Vorpal Strike itu dan langsung berhasil pada percobaan pertama semalam.""Dan itu memberi kita satu hal lagi untuk dilakukan," ujar Leafa yang membuatku kebingungan.Ia melihat raut wajahku dan menjelaskan, "Menaikkan level rumahnya! Aku penasaran banget apa efek spesial di level 2 dan level 3!""Oh... benar juga. Tentu, itu masuk akal," aku setuju, meskipun aku merasakan sedikit penolakan terhadap gagasan memperluas pondok kayu ini. Aku tahu lebih baik dari siapa pun betapa besar cinta dan usaha yang telah Asuna curahkan untuk rumah ini, sejak masa-masa SAO dulu.Namun Yui bisa langsung membaca keraguanku. Ia menyatakan, "Tidak apa-apa, Papa! Mama tidak terlalu terpaku pada penampilan kok. Jadi selama esensi sejati dari rumah ini tetap ada, kurasa Mama takkan keberatan sama sekali!"English Text: “What’s its…true nature?” Terjemahan Bahasa Indonesia: "Apa... esensi sejatinya?""Sudah jelas, kan! Menjadi tempat di mana Papa dan Mama, juga aku, Leafa, Liz, Silica, dan Sinon bisa bersantai dan merasakan kedamaian!""...Uh-huh. Itu benar," setujuku, mengangguk pelan. Aku mengelus kepala Yui sekali lagi."Tapi... kurasa perluasan apa pun masih akan sangat jauh di depan kita. Pertama-tama kita harus lebih fokus untuk mempertahankan seluruh area ini..."Aku memandang luas ke sekeliling ruang terbuka itu, sebuah lahan selebar lima puluh kaki, tepat di tengah hutan lebat yang rimbun. Paruh timur dari lahan ini diisi oleh pondok kayu, dan paruh baratnya dipenuhi oleh stasiun kerajinan besar seperti tungku peleburan, meja pengecoran, dan tempat pembakaran biskuit keramik (bisque firing kiln). Stasiun-stasiun ini mudah dibuat selama kau memiliki materialnya, tetapi mendapatkan material tersebut adalah perkara yang berbeda. Jadi aku ingin melindungi seluruh lahan ini, jika memungkinkan. Selagi kami berada di sekolah hari ini, Yui, Alice, dan hewan peliharaan Asuna, Aga si long-billed giant agamid (agamid raksasa berparuh panjang), menjaga pondok ini.Namun jika bencana lain seperti beruang gua thornspike atau sekelompok pemain musuh menyerang, mereka bertiga takkan mampu bertahan.Sang ksatria wanita yang agung itu pun menyadarinya dan ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling lahan bersamaku sebelum mengutarakan pendapat, "Pertama-tama kita membutuhkan tembok yang mengelilingi tepi luar lahan ini. Lebih baik batu, bukan kayu.""Benar... tapi entah seberapa banyak batu yang akan dibutuhkan, kalau kita bicara soal seluruh batas luarnya. Seandainya saja kita punya sang Administrator yang mulia di sini. Dia pasti bisa membangunkan kita tembok baja tebal hanya dengan jentikan jarinya, aku yakin..."Menyebutkan nama dewa hidup yang menciptakan Everlasting Walls (Tembok Abadi)—yang membelah dunia manusia sepanjang seribu mil atau lebih menjadi empat bagian yang sama rata hanya dengan menggunakan sacred arts (seni suci)—langsung memancing tatapan dingin dari Alice."Coba saja. Suruh sang Pontifex melakukan tugas kasar seperti itu. Dia bakal mengubahmu jadi jangkrik." "Masa sih? Perasaanku mengatakan dia bakal membantu kita kalau kita menawarinya sepotong atau tiga potong kue yang lezat." Benar begitu kan, Eugeo? batinku.Diiringi rasa perih yang menusuk, aku menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan mendiang sahabatku itu. Alice membawakan kami pesan dari Dr. Koujiro dari Rath kemarin, sebuah pesan bersandi yang berbunyi Tanggal dua puluh sembilan, pukul lima belas. Toko kue mahal. Namun pengirim asli pesan itu nyaris bisa dipastikan bukanlah Dr. Koujiro. Untuk mengetahui kebenaran dari apa yang dimaksudnya, aku harus pergi ke kafe mewah di Ginza pada pukul tiga sore besok. Baru terpikir olehku sekarang bahwa besok adalah hari sekolah. Untuk berangkat dari sekolah di Tokyo Barat menuju Stasiun Ginza, aku harus naik Jalur Seibu Shinjuku ke Takadanobaba, berganti kereta bawah tanah Jalur Tozai, lalu transit ke Jalur Ginza di Nihonbashi. Itu adalah perjalanan selama delapan puluh menit, jadi aku tak mungkin bisa sampai tepat waktu kecuali aku membolos kelas siangku.Kenapa juga kau memilih waktu spesifik itu? Aku ingin berteriak. Namun itu urusan besok. Untuk saat ini, karena tak memiliki kekuatan super maha kuasa layaknya sang Pontifex dewi, aku harus mengumpulkan bahan-bahan untuk tembok kami dengan cara yang lambat dan membosankan.Untungnya, kami sudah tahu bahwa kau tak perlu menumpuk batu satu per satu untuk membangun tembok. Di dalam menu kerajinan untuk skill Beginner Carpentry (Pertukangan Kayu Pemula) terdapat daftar untuk Crude Stone Wall (Tembok Batu Kasar).Kata sifat kasar memang tak terlalu menarik, tetapi kami harus berpuas dengannya sampai tingkat kemahiran skill kami menjadi lebih tinggi."Jadi... haruskah kita pergi ke dasar sungai untuk mencari batu?" usulku, seraya menutup jendela properti pondok. Alice, Leafa, dan Yui setuju untuk ikut bersamaku."Selama kita pergi, kita akan serahkan tugas penjagaan pada Aga... Tunggu. Ke mana dia?" Aku mengedarkan pandang ke sekeliling ruang terbuka, tetapi tak ada tanda-tanda kehadiran Aga, sang long-billed giant agamid. Awalnya, aku takut periode penjinakannya telah habis, dan ia kembali menjadi liar. Asuna pasti akan sangat murka! Namun tepat pada saat itu, terdengar suara "Kwek!" yang khas dari belakangku. Aku berbalik dan melihat Aga di jalan setapak selatan menuju sungai, melompat-lompat riang bersama Silica dan Lisbeth yang mengekor di belakangnya.Saat keduanya menyadari keberadaanku dan Leafa, mereka berlari kecil menghampiri kami."Kirito, kenapa lama sekali?! Apa kau mampir makan di jalan waktu pulang?!" sentak Liz, menatapku tajam.Sementara itu, Silica tersenyum canggung."Perjalanan Kirito memang jauh. Memang selama itu waktu yang dia butuhkan untuk sampai ke rumah."Aga membuka paruhnya dan mengwek. Di atas kepalanya ada Pina, yang mencicit, meski sulit untuk memastikan gadis mana yang sedang mereka setujui. Bagaimanapun juga, Aga jelas masih jinak dan ramah."Kalian berdua dari mana tadi?" tanyaku.Liz mengelus leher Aga dan menjawab, "Si kecil ini akan kehilangan HP kalau dia tidak berendam beberapa kali sehari di air. Jadi kami pergi ke sungai dan sekalian mengumpulkan beberapa batu mumpung ada di sana.""Oh, baguslah. Untuk ukuran kadal, makhluk ini lumayan manja, ya...?""Papa, ada banyak kadal semi-akuatik di dunia nyata juga. Seperti biawak air Mertens atau kadal buaya Sulawesi," catat Yui dengan tangkas. Aku bergumam terkejut, tetapi kemudian aku teringat bahwa saat pertama kali kami berpapasan dengan Aga, ia baru saja keluar dari sungai. Dan paruh mirip bebek itu adalah bukti bahwa ia memiliki sifat akuatik."Yah, kalau begitu kita harus segera menggali sumur. Ada banyak sekali yang harus dikerjakan!"Aku menggelengkan kepala dan memeriksa jam di sudut kanan bawah. Waktu menunjukkan pukul 17:50. Kali ini aku tak bisa terus berada dalam dive ini sampai fajar, jadi jika aku log off pada tengah malam atau pukul dua pagi, itu akan memberiku waktu lebih dari delapan jam. Aku nyaris merasa sedikit merindukan masa-masa SAO, saat aku bisa menghabiskan sepanjang hariku menaklukkan berbagai tantangan di dalam gim.Tarikan napas dalam-dalam membantuku menepis pikiran itu. Aku baru saja hendak menuju sungai untuk mencari batu-batu itu ketika Leafa melangkah ke depanku, masih menggendong Yui."Kakak, bukankah kita seharusnya memprioritaskan untuk bertemu dengan Sinon? Untuk jangka panjang, lebih banyak tangan akan membuat pekerjaan lebih cepat selesai, dan tambahan kekuatan tempur akan sangat menenangkan.""Hmm. Kau tidak salah...," ucapku dengan enggan.Pada pertemuan sepulang sekolah tadi, Sinon menyampaikan beberapa berita mengejutkan. Sejumlah pemain dari gim asalnya, Gun Gale Online, juga dikonversi ke dalam Unital Ring. Hal itu tidak terlalu mengejutkan, tetapi fakta bahwa mereka bisa membawa masuk senapan-senapan mereka benar-benar tak terduga.Tentu saja, kami para pemain ALO membawa masuk pedang dan tombak kami, jadi masuk akal jika para pemain GGO juga bisa memiliki senjata mereka. Itu memang adil—namun senjata mereka adalah senapan. Dan di GGO, tidak hanya ada senapan berbasis bubuk mesiu, melainkan juga senapan optik yang menembakkan laser. Bagaimana dalang misterius di balik insiden ini bermaksud mengelola integritas logis dari penggabungan dunia-dunia yang sangat berbeda seperti ini?Namun itu bukanlah hal yang perlu kami khawatirkan untuk saat ini. Hecate II milik Sinon adalah senapan yang teramat kuat, setara dengan mantra serangan tiga puluh kata tingkat atas di ALO. Rupanya, ia telah kehilangan hampir seluruh amunisinya, tetapi jika kau bisa memiliki senapan di sini, pasti ada cara untuk mengisinya kembali, dan jika kami bisa bertemu dengannya, ia akan menjadi keuntungan besar bagi pertahanan bersama kami.Namun masalah terbesarnya adalah..."Kita bahkan tidak tahu ke arah mana harus mencari desa manusia burung tempat Sinon berada...," ratapku dengan bahu merosot."Dia bilang dia bahkan tidak menyadari suara atau gelombang kejut dari jatuhnya New Aincrad," ujar Silica cemas."Itu menyiratkan bahwa para pemain GGO memulai di suatu tempat yang sangat jauh dari lokasi awal kita.""Hmm..."Sementara itu, Lisbeth membuka ring menu-nya dan mengetuk ikon MAP di sudut kiri bawah. Peta yang ditampilkannya telah diwarnai dengan jangkauan yang jauh lebih luas daripada milikku ataupun Leafa."Coba kita lihat," ucapnya."Ini adalah reruntuhan tempat para pemain ALO memulai, kan? Dan lokasi jatuhnya New Aincrad ada di sini. Desa kaum Bashin ada di sebelah utaranya, dan jauh di timur laut adalah pondok ini... Silica dan aku berjalan kemari dari desa itu, tapi kami tidak melihat dinosaurus raksasa atau monster kelabang seperti yang digambarkan Sinon."Silica mengangguk, lalu menyadari sesuatu dan menelusurkan jarinya di atas peta."Tapi waktu kami berjalan dari desa Bashin, awalnya berupa tanah gersang lalu perlahan berubah jadi padang rumput, dan kemudian hutan setelah kami menyeberangi sungai. Sinon bilang areanya adalah gurun tanpa air sama sekali, jadi kemungkinan besarnya dia berada di arah yang berlawanan dari hutan.""Uh-huh...," gumam Leafa, Alice, dan aku.Silica menyampaikan poin yang bagus, tetapi meskipun dia benar soal arahnya, kami tak bisa pergi mencari secara membabi buta tanpa mengetahui perkiraan jaraknya. Ada poin stamina dan poin dahaga yang harus dikelola di sini, di samping HP, dan itu berarti kami membutuhkan banyak makanan dan air untuk menyelesaikan perjalanan tersebut.Baru saja pemikiran itu terlintas di benakku, aku mulai sedikit menyadari perutku yang kosong dan tenggorokanku yang kering. Syukurlah, gim ini mempertahankan status poin tersebut saat kami offline, jadi batangku hanya turun sekitar 20 persen untuk SP dan 30 persen untuk TP, tetapi poin itu akan cepat terkuras begitu kami mulai bekerja. Kami punya sungai di dekat sini untuk air dan banyak sisa daging beruang untuk makanan, tapi kami segera membutuhkan sumber yang lebih stabil untuk itu."Kita harus menebang beberapa pohon dan menggarap ladang... berasumsi kita benar-benar bisa melakukannya di gim ini," gumamku."Akan kumasukkan ke dalam daftar hal yang harus dilakukan," catat Yui dengan saksama."T-terima kasih... Uh, jadi bagaimana rupa daftarnya sekarang?""Aku belum mengurutkannya berdasarkan prioritas, tapi saat ini daftarnya seperti: membangun tembok pertahanan, memperluas pondok kayu, membuat senjata dan zirah untuk semuanya, menaikkan level, menjinakkan monster yang lebih kuat, menggali sumur, menggarap ladang, bertemu dengan Sinon, dan mencapai tanah yang diungkapkan oleh cahaya surgawi!""........."Kelompok itu saling bertukar pandang dalam diam. Hal terakhir di daftar itu memang harus disimpan untuk yang paling akhir, tetapi hal-hal lainnya merupakan prioritas tinggi saat ini."...Mari kita mulai dengan tembok pertahanan," ujarku, mengumpulkan kembali inisiatifku.Lisbeth mengangguk."Itulah yang kami pikirkan dan alasan mengapa kami membawa banyak batu kembali ke sini. Aku akan coba membuat tembok dan melihat apa yang terjadi.""Terima kasih, itu bakal bagus sekali." Liz mengacungkan jempol padaku, lalu menutup petanya dan beralih membuka jendela skill. Dari daftar item yang bisa dibuat di bawah skill Beginner Carpentry (Pertukangan Kayu Pemula), ia memilih Stacked Rock Wall (Tembok Batu Bertumpuk), memunculkan objek bayangan (ghost object) tembus pandang berwarna ungu muda. Dengan agak canggung, ia menggeser bayangan itu hingga berhenti di batas antara ruang terbuka dan hutan. "Bisa kubuat di sini?" tanyanya."Tunggu sebentar," kataku, lalu berjalan menghampiri tembok batu tembus pandang itu, memeriksa penempatan dan sudutnya dengan saksama."Bisa kau dorong sekitar enam inci ke belakang... dan putar sedikit saja ke kanan?" "S-seperti ini?"Liz memiringkan jari-jarinya sedikit, dan bayangan itu merayap maju. Saat posisinya sudah sangat pas, aku berseru, "Nah, di situ!"Liz mengepalkan tangannya, dan sejumlah batu abu-abu berjatuhan dari udara kosong lalu mendarat dengan sempurna di tempat tembok bayangan tadi.Wujud asli tembok yang dihasilkan tingginya sekitar lima kaki, panjang lima kaki, dan tebal satu kaki. Batu-batu dengan berbagai ukuran itu tersusun rapat tanpa celah, sehingga tak terasa asal-asalan seperti yang kutakutkan sebelumnya. Sekadar untuk menguji, aku mendorongnya, tetapi tak ada satu pun batu yang goyah. "Ini benar-benar terlihat bisa membantu melindungi dari monster," nyataku seraya menepuk tembok tersebut.Alice tampak sedikit bimbang."Memang... namun aku ragu ini bisa menghentikan terjangan beruang gua thornspike, dan pemain mana pun akan bisa memanjatnya.""Kita hanya bisa berdoa semoga tak ada beruang teddy yang nyasar ke arah kita untuk sementara waktu. Tapi kalau soal pemain..." ucapku beralih pada Lisbeth."Berapa banyak batu yang kau gunakan untuk blok tembok ini, Liz?""Hmm. Aku pakai tiga puluh batu favillite—itu yang paling umum di sungai—dan lima bongkah tanah liat abu-abu kasar.""Dan sisa berapa banyak untuk keduanya?""Seratus dua puluhan batu dan dua puluh tanah liat," jawabnya.Silica mengangkat tangannya."Aku juga punya seratus batu dan lima belas tanah liat!""Terima kasih, Silica. Jadi itu berarti kita bisa membuat tujuh blok tembok lagi dari apa yang kalian berdua bawa. Liz, coba tes apakah kau bisa meletakkan bagian tembok lain di atas yang satu ini.""Okeydoke," balas Lisbeth seraya membuka jendelanya lagi.Saat ia menggeser bayangan tembok kedua ke arah yang pertama, bayangan itu langsung terpasang pada tempatnya, awalnya menempel pada tepi kanannya. Saat ia mencoba mendorongnya ke kiri, bayangan itu melompat dan menumpuk dirinya sendiri di atas yang pertama."Oh, sepertinya berhasil.""Luar biasa. Lakukan."Da-doom! Diiringi gemuruh berat lainnya, tembok baru itu jatuh tepat di atas tembok pertama. Kini tingginya sepuluh kaki. Tembok ini memang tak sepenuhnya tak tertembus, tetapi cukup untuk membuat pemain paling gesit sekalipun berpikir dua kali sebelum memanjatnya.Tentu saja, dalam kondisinya saat ini, tembok itu lebih terlihat seperti pilar yang sangat pipih daripada sebuah tembok utuh. Ruang terbuka ini berdiameter lima puluh kaki, yang berarti kelilingnya mendekati 160 kaki. Untuk mengitari seluruh area, kita akan membutuhkan sekitar tiga puluh dua blok, yang berarti enam puluh empat blok jika ditumpuk dua lapis. Aku bahkan tak sanggup menghitung berapa banyak batu favillite yang kita butuhkan untuk itu...Tepat saat itulah pintu pondok kayu gelondongan terbuka lebar, dan Asuna melompat keluar, mengenakan gaun putih."Maaf, semuanya! Aku tidak bermaksud terlambat!""Tidak, Asuna, waktu kedatanganmu tepat sekali! Berapa enam puluh empat kali tiga puluh?!" tanyaku segera. Asuna tampak kebingungan pada awalnya namun segera menjawab, "Seribu sembilan ratus dua puluh."Lalu ia menyipitkan matanya dengan curiga dan bertanya, "Kenapa...?""Itu jumlah batu yang kita butuhkan untuk membangun tembok yang mengelilingi seluruh ruang terbuka ini."Aku menunjuk tembok abu-abu yang berdiri di dekat tungku peleburan."Ohhh," serunya, mulai mengerti. "Kakak, apa kau benar-benar tidak bisa menghitung angka itu di kepalamu?" gumam Leafa dengan nada khawatir.
Kami menuju dasar sungai beramai-ramai dan mengumpulkan batu favillite dan tanah liat sebanyak mungkin di bawah temaram cahaya matahari yang hampir terbenam. Setibanya di pondok, Liz dan aku menghabiskan waktu sejam lamanya menggunakan skill Pertukangan Kayu Pemula kami untuk membangun blok demi blok tembok secara berturut-turut. Pada saat kami merampungkan pemasangan tembok setinggi sepuluh kaki yang mengelilingi seluruh area terbuka itu, matahari telah tenggelam sepenuhnya.Pada kenyataannya, keberadaan gerbang kayu yang kami pasang di ujung utara dan selatan mengartikan bahwa jumlah batu yang kami pakai sedikit berada di bawah perhitungan Asuna—namun tetap saja itu adalah pekerjaan besar bak membangun candi. Kendati demikian, kepuasan setelah merampungkan tembok itu sungguh luar biasa, dan kami merayakannya dengan saling melempar high five antusias, tak terkecuali Alice."Rasanya benar-benar jauh lebih aman dengan adanya tembok!" komentar Silica setelah kami sedikit lebih tenang."Benar sekali," aku setuju."Aku jadi penasaran apakah orang-orang Yunani kuno merasa seperti ini saat mereka selesai membangun tembok yang mengelilingi kota mereka.""Tempat ini tak sebesar Athena ataupun Korintus kok," sindir Asuna, tetapi aku hanya membalasnya dengan seringaian lebar. "Siapa tahu. Kita akan terus membangun dan membangun sampai akhirnya tempat ini jadi kota sebesar Athena—atau bahkan Centoria." Kini giliran Alice yang ikut nimbrung keasyikan kami."Oh? Pernyataan yang berani. Aku tak sabar ingin melihatnya terwujud." "A... aku yang akan menanganinya," bualku seraya menepuk dada, sebelum buru-buru mengalihkan pembicaraan."Ngomong-ngomong, satu hal sudah coret dari daftar tugas kita. Selanjutnya adalah...""Ooh! Ooh, ooh, ooh!" seru Leafa kegirangan, seraya melambaikan tangannya."Aku juga mau pedang dan zirah!""...Ya, poin yang bagus..."Dengan diriku yang berbalut zirah besi utuh, rasanya tak adil menolak permintaannya. Liz dan Silica memiliki zirah kulit dan senjata logam yang mereka dapatkan dari kaum Bashin, tetapi malang nasib Leafa dan Asuna yang masih mengenakan gaun dari rumput ubiquigrass serta memegang kapak batu dan pisau batu secara berturut-turut.Untungnya, kami punya Liz, yang mewarisi skill Blacksmithing (Pandai Besi)-nya dari ALO, jadi aspek teknisnya sudah tertangani. Masalahnya adalah seluruh bijih besi yang harus kami lebur. Semalam kami menemukan banyak bijih besi di sarang beruang gua thornspike dan berhasil merampas beberapa perlengkapan besi dari para PKer, tetapi hampir seluruhnya telah dihabiskan untuk memperbaiki pondok. Kami harus kembali ke gua beruang itu untuk menambang lebih banyak bijih, tetapi sang empunya sarang sudah pasti respawn saat ini, dan kami harus mengambil langkah nekat menjatuhkan berton-ton kayu gelondongan ke arahnya dari atap pondok demi menghabisi beruang yang pertama. Aku tahu persis, taktik itu takkan mempan dua kali."Yui, apa kaum Bashin menyebutkan dari mana mereka mendapatkan bijih logam mereka?" tanyaku.AI itu adalah satu-satunya dari kami yang mampu memahami bahasa NPC yang misterius itu, tetapi ia hanya menggelengkan kepala."Maaf, Papa. Aku tidak berhasil mengetahui informasi itu...""Kau tak perlu meminta maaf. Ini salahku karena lupa menanyakan di mana mencari bijih logam saat mereka menunjukkan sumber silika dan rami kepada kita. Kita akan mencari tahunya nanti.""Benar, Yui. Kirito pasti akan mencari jalan keluarnya," ujar Asuna, mengangkat Yui dan memberinya senyuman keibuan.Yui balas tersenyum, tetapi ia masih tampak cemas."Apa tepatnya yang akan Papa lakukan?""Mengalahkan beruang gua thornspike dengan cara ortodoks, pastinya... Tapi, tunggu sebentar."Aku menoleh menatap Silica, yang duduk di sebelah kananku dengan Pina bertengger di kepalanya."Hasil terbaiknya adalah menjinakkannya, alih-alih membunuhnya. Itu mungkin akan menghentikannya dari muncul kembali setiap kalinya.""Apa?! Menjinakkan beruang?!" serunya seraya menarik diri mundur.Aku menyeringai."Asuna bahkan tak punya skill Beast-Taming (Penjinak Binatang), dan dia berhasil mengubah dino-bebek itu jadi peliharaan. Kau mewarisi skill itu dari masa-masa di ALO dulu, jadi menjinakkan beruang harusnya cuma perkara kecil buatmu...""Sayangnya, Kirito, skill yang kuwarisi adalah Daggers (Belati).""Apa? Benarkah? Kemahiranmu lebih tinggi di skill Daggers?" seruku terkejut.Silica cemberut, mengerucutkan bibirnya."Kirito, menaikkan skill Beast-Taming hingga tingkat kemahiran 1.000 itu luar biasa sulit. Sepengetahuanku, satu-satunya orang di ALO yang memaksimalkannya hanyalah Alicia, pemimpin ras cait sith.""Oh, maafkan ketidaktahuanku...Jadi itu berarti Asuna sebenarnya punya skill Beast-Taming yang lebih tinggi pada titik ini..."Aku menatapnya, tetapi ia hanya mengerjap dan menggelengkan kepala."T-tidak, jangan menatapku! Aku tak bisa menjinakkan beruang mengerikan itu," protesnya.Meskipun begitu, aku sedang sibuk memikirkan cara untuk menipu—eh, meyakinkan—dirinya agar mau mencapai prestasi itu saat Silica mengumumkan, "J-jika kau cuma akan memaksa Asuna untuk mencoba sesuatu yang berbahaya, biar aku saja yang melakukannya!"Entah dia sedang merasa berani berkat zirah dari kaum Bashin, atau aku telah melukai harga dirinya sebagai seorang penjinak binatang. Asuna mencoba mengatakan sesuatu, tetapi Silica merentangkan tangannya untuk menahannya agar tetap duduk."Tidak apa-apa, Asuna. Aku memang belum melihat beruang ini, tetapi dalam hal menjinakkan binatang, tingkat kesulitannya pasti lebih rendah daripada tipe serangga atau tipe iblis. Aku akan melatih kembali skill Beast-Taming-ku dan menundukkan binatang buas itu di bawah kendaliku!"Wujudnya mungkin tak seperti beruang yang kau bayangkan, batinku. Asuna, Leafa, dan Alice kemungkinan besar memikirkan hal yang sama. Sebelum ada yang sempat mengatakan hal sebaliknya, aku melangkah maju dan mencengkeram kedua bahu Silica. "Ya! Itulah Silica yang kukenal—idola seluruh penjinak binatang di SAO! Lega sekali rasanya mendengar jaminanmu itu!""Heh-heh-heh... Aku akan melakukan yang terbaik," jawabnya, tertawa salah tingkah. Dari balik bahu Silica, aku bisa melihat Asuna menghela napas, tetapi aku tak berniat berhenti sekarang. "Asuna, bisakah kau mengajari Silica cara mendapatkan skill Beast-Taming? Tadi ada monster rubah di hutan saat kita dalam perjalanan pulang dari sungai, jadi mungkin itu target latihan yang bagus. Aku, Liz, Alice, dan Leafa akan menggali sumur sebelum kita kehabisan TP lagi.""Kedengarannya bagus... tapi apa kau yakin kita bisa menggali di mana saja semau kita di gim ini?" tanya Lisbeth.Pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak. Di sebagian besar VRMMO, termasuk ALO, mustahil untuk mengubah bentang alam liar. Lagipula, hal itu akan mengacaukan desain peta, dan para pemain akan menggali lubang raksasa di mana-mana hanya untuk saling menjahili.Unital Ring bukanlah gim normal dalam banyak aspek, tetapi aku sulit membayangkan kau bisa mengubah medan di sini... dan aku juga sudah memikirkan hal ini sejak kemarin. Namun di sisi lain, di dalam menu produksi skill Beginner Carpentry terdapat..."Lihat... ada sumur," ujarku, menunjuk pada menu yang terbuka agar yang lain bisa melihat. Sesuai ingatanku dari daftar itu, ada entri yang bertuliskan Small Stacked Rock Well (Sumur Batu Bertumpuk Kecil)."Bukankah itu berarti sama seperti tungku peleburan, kalau kau menempatkannya, kau bisa punya sumur di mana pun kau mau?" tanya Leafa, tetapi aku tak sependapat."Apa kau benar-benar berpikir sesederhana itu? Jika kau bisa membuat sumur kapan pun kau mau, selama kau punya materialnya, itu akan sepenuhnya menganulir fungsi dari batang TP.""Jangan mengeluh padaku—bukan aku yang menciptakannya. Lagi pula, kenapa tidak kau coba saja?"Poin yang bagus. Aku mengecek jenis dan jumlah material yang dibutuhkan untuk sumurnya: tiga ratus batu, dua puluh kayu gergajian, sepuluh tanah liat, lima puluh paku besi, satu rantai besi."Ugh, bahan kita jauh dari kata cukup. Batu dan kayu cukup mudah didapat, tapi besinya...""Tidak akan mudah," ujar Alice, mengangkat bahu.Ia melirik ke arah tungku peleburan."Bagaimanapun juga, kita pasti butuh besi. Butuh waktu sampai proyek penjinakan binatang Silica membuahkan hasil. Apa kita harus melawan beruang gua thornspike yang lain?""Hmm... Di gim normal, aku bakal nekat dan tetap mencoba melawannya, tapi sekarang..." Aku bergumam ragu, sementara Alice dan yang lainnya mengerutkan kening.Di Unital Ring, mati berarti kau takkan pernah bisa log in lagi. Namun itu juga takkan memuntahkanmu kembali ke ALO. Dunia-dunia VRMMO yang terjebak dalam insiden ini telah ditimpa di sisi peladen dan secara efektif ditutup untuk umum. Para pengembang mencoba melakukan roll back (mengembalikan ke kondisi sebelumnya) pada beberapa gim, tetapi sekalipun program Seed diinstal ulang, gim-gim itu tetap takkan berfungsi, menurut Argo. Dalam keadaan seperti ini, bahkan aku, sang peraih triple-crown dalam urusan perjudian gila nan nekat, tak sanggup untuk melawan beruang gua thornspike yang teramat kuat itu."Besi... besiiiii..."Aku melipat tangan dan menatap langit malam. Di SAO dan ALO, senjata dan peralatan besi tersedia melimpah bahkan di kota-kota paling awal sekalipun, jadi barang-barang itu tak pernah terasa begitu berharga. Monster-monster akan menjatuhkan berton-ton item besi, sehingga aku rutin membuang apa pun yang tak sanggup kubawa. Sekarang aku berharap bisa memutar waktu untuk memungut semua pasokan berlebih itu.Jika aku mencari cukup keras di area sekitar, aku mungkin bisa menemukan bijih besi di lokasi selain gua beruang. Namun mengingat aturan umum tingkat kesulitan gim, tampaknya kelangkaan bijih besi diatur pada level "cukup kuat untuk mengalahkan beruang gua thornspike dengan relatif mudah." Aku tak seharusnya mengharapkan pasokan bijih yang stabil di lereng-lereng bukit yang terbuka. Zaman Besi yang sesungguhnya takkan tiba kecuali kami bisa membereskan beruang itu entah bagaimana caranya."...Mari kita cari Sinon," gumamku. Alice, Leafa, dan Liz menoleh padaku; di kejauhan, Asuna, Silica, dan Yui berhenti membicarakan penjinakan binatang untuk ikut menatap ke arahku.Di tengah keheningan mencekam yang menyusul, suara Asuna terdengar sejernih kristal."Aku juga ingin bertemu Shino-non... tapi kita tidak tahu dia ada di mana atau bahkan ke arah mana harus mencari. Bagaimana cara kita mencarinya?""Orang-orang Bashin yang mereka temui mungkin tahu sesuatu tentang kaum manusia burung tempat Sinon berada. Lagipula kita memang butuh info soal bijih besi, jadi mari kita pergi ke desa Bashin dan bertanya pada mereka," ujarku, memandang anggota kelompok yang lain secara berurutan."Asuna, Silica, Alice, kalian tetap di sini dan jaga pondok. Aku akan pergi bersama Leafa, Liz, dan Yui ke desa... Bagaimana kedengarannya?""Aku mengerti kalau Asuna dan Silica harus mendiskusikan skill Beast-Taming, tapi kenapa kau meninggalkanku di sini?" tuntut Alice, terdengar kesal."Karena kalau kau yang menjaga rumah, aku merasa yakin tempat ini bakal aman," ujarku jujur."...Kalau begitu alasannya... aku tak bisa membantah. Baiklah... tapi aku bersikeras untuk ikut serta dalam ekspedisi berikutnya," serunya, berbalik dan menyejajarkan diri dengan Asuna dan Silica.Asuna meletakkan tangannya di punggung Alice, dan dengan suara lantang serta jernih yang mengingatkanku pada saat ia menjabat sebagai wakil komandan Knights of the Blood dulu, ia berkata, "Kami akan menjaga rumah kita tetap aman, jadi pastikan kalian pulang dengan selamat juga. Itu janji." "...Tentu," aku setuju. Liz menimpali, "Kami akan membawa Sinon pulang bersama kami!" dan Yui bergegas memeluk Asuna. Sementara itu terjadi, aku membuka inventarisku untuk mencoba sesuatu yang sedari tadi kupikirkan.Aku mengeluarkan pedang panjang Blárkveld, yang telah kupindahkan dari penyimpanan rumah kami. Pedang spesialku dari ALO itu masih terlalu berat untuk dipakai; bahkan di level 13 pun, aku belum bisa menggunakannya. Dengan jendela yang masih terbuka, aku berjalan menghampiri Lisbeth."Liz... tak enak rasanya memintanya setelah kau repot-repot membuatkannya untukku, tapi bisakah kau melebur pedang ini?""Apa?" seru sang penempa Blárkveld, tertegun."Y-yah, kau kan pemiliknya, jadi kau bebas mau diapakan saja... tapi tidak ada jaminan aku bisa membuatkanmu pedang dengan peringkat yang sama sekarang karena kita terjebak di dunia ini.""Aku tahu. Tapi kurasa aku butuh level 40 atau level 50 untuk memakai benda ini. Daripada cuma jadi rongsokan di penyimpanan, aku lebih suka meleburnya dan memanfaatkannya untuk kepentingan kelompok.""...Hmm. Baiklah."Ia menyeringai, lalu mengulurkan tangan meraih pedang hitam yang bertengger di atas jendela."Oh, tunggu! Ingat, kalau kau menyentuhnya, pedang itu bakal jatuh ke tanah, dan setelahnya kau takkan bisa memindahkannya.""Ah, benar.""Tunggu—biar kumasukkan langsung ke dalam tungku."Dengan inventaris yang masih terbuka, aku berjalan ke sisi barat ruang terbuka itu, membuka jendela pengoperasian tungku peleburan, dan menjatuhkan Blárkveld ke dalamnya. Pedang yang mengambang di udara itu lenyap, menghamburkan titik-titik cahaya. Kemudian aku memasukkan kayu bakar ke dalam ruang bakar tungku dan membiarkan Lisbeth mengambil alih dari sana.Sang pandai besi sempat mengatupkan kedua tangannya sejenak untuk mendoakan pedang yang ditempanya sendiri itu, lalu menggunakan batu api untuk menyulut kayu gelondongannya. Tak lama kemudian, nyala api merah berkedip-kedip di dalamnya, dan suara deru lolos dari tungku saat api itu berkobar hebat.Semalam, bijih besi mulai meleleh hanya dalam beberapa puluh detik setelah aku memasukkan kayu ke dalam tungku, tetapi Blárkveld menahan jilatan api itu selama hampir dua menit. Namun akhirnya, logam cair yang bersinar putih keluar dari keran dan mengisi cetakan ingot (batang logam). Saat penuh, logam itu berkilat dan lenyap sehingga cetakan bisa terisi kembali.Hanya ada satu pedang satu tangan di sana, jadi aku mengira mendapatkan sepuluh ingot saja sudah bisa dibilang sukses, tetapi di Unital Ring, sepertinya perlengkapan berperingkat tinggi juga meningkatkan jumlah material yang bisa kau selamatkan darinya. Besi cair itu terus mengalir dan baru berhenti setelah aku menyerah untuk menghitung jumlahnya."...Sudah selesai," gumam Lisbeth, membuka jendela tungku."Coba kita lihat. Kita dapat... enam puluh dua premium steel ingot (ingot baja premium), delapan belas fine silver ingot (ingot perak halus), sembilan fine meteoric iron ingot (ingot besi meteorik halus), enam mythril ingot (ingot mitril), dan dua black dragon steel ingot (ingot baja naga hitam).""Wowww... Beberapa di antaranya kedengarannya sangat langka," bisik Leafa dengan penuh takjub. Jika Blárkveld saja memberi kami material sebanyak ini, apa jadinya kalau aku melebur Pedang Suci Excalibur, senjata lain yang kubawa dari ALO? Tentu saja melebur senjata legendaris yang kudapatkan dengan susah payah itu takkan pernah kulakukan kecuali sebagai pilihan paling terakhir.Alih-alih memikirkannya, aku bertanya pada Liz, "Bisa kau buatkan perlengkapan untuk Alice, Asuna, dan Leafa pakai bahan-bahan ini?""Hmm... Ingat, skill Blacksmithing-ku juga turun jadi 100. Aku mungkin tidak bisa pakai logam yang lebih mewah," gumamnya dengan cemas, memindahkan ingot-ingot itu ke inventarisnya sendiri, lalu duduk di kursi kecil di depan paron (anvil). Ia menjatuhkan sebuah premium steel ingot ke jendela paron dan membuka menu kerajinan. "Oh, sepertinya aku nyaris tak bisa membuat senjata baja. Jadi aku akan buat pedang Alice duluan. Pakai bastard sword tidak apa-apa?""Ya, Liz. Terima kasih.""Siap laksanakan."Lisbeth mengacungkan jempol ke arah sang ksatria dan meraih palu tempanya, lalu menghantam ingot cokelat keperakan yang muncul di atas paron. Seiring dentangan keras dan nyaring dari palu yang beradu dengan logam, aku berdoa semoga pedang-pedang baru yang akan segera lahir ini terbukti sama tangguh dan setianya dengan Blárkveld-ku yang telah tiada.
Kami menuju dasar sungai beramai-ramai dan mengumpulkan batu favillite dan tanah liat sebanyak mungkin di bawah temaram cahaya matahari yang hampir terbenam. Setibanya di pondok, Liz dan aku menghabiskan waktu sejam lamanya menggunakan skill Pertukangan Kayu Pemula kami untuk membangun blok demi blok tembok secara berturut-turut. Pada saat kami merampungkan pemasangan tembok setinggi sepuluh kaki yang mengelilingi seluruh area terbuka itu, matahari telah tenggelam sepenuhnya.Pada kenyataannya, keberadaan gerbang kayu yang kami pasang di ujung utara dan selatan mengartikan bahwa jumlah batu yang kami pakai sedikit berada di bawah perhitungan Asuna—namun tetap saja itu adalah pekerjaan besar bak membangun candi. Kendati demikian, kepuasan setelah merampungkan tembok itu sungguh luar biasa, dan kami merayakannya dengan saling melempar high five antusias, tak terkecuali Alice."Rasanya benar-benar jauh lebih aman dengan adanya tembok!" komentar Silica setelah kami sedikit lebih tenang."Benar sekali," aku setuju."Aku jadi penasaran apakah orang-orang Yunani kuno merasa seperti ini saat mereka selesai membangun tembok yang mengelilingi kota mereka.""Tempat ini tak sebesar Athena ataupun Korintus kok," sindir Asuna, tetapi aku hanya membalasnya dengan seringaian lebar. "Siapa tahu. Kita akan terus membangun dan membangun sampai akhirnya tempat ini jadi kota sebesar Athena—atau bahkan Centoria." Kini giliran Alice yang ikut nimbrung keasyikan kami."Oh? Pernyataan yang berani. Aku tak sabar ingin melihatnya terwujud." "A... aku yang akan menanganinya," bualku seraya menepuk dada, sebelum buru-buru mengalihkan pembicaraan."Ngomong-ngomong, satu hal sudah coret dari daftar tugas kita. Selanjutnya adalah...""Ooh! Ooh, ooh, ooh!" seru Leafa kegirangan, seraya melambaikan tangannya."Aku juga mau pedang dan zirah!""...Ya, poin yang bagus..."Dengan diriku yang berbalut zirah besi utuh, rasanya tak adil menolak permintaannya. Liz dan Silica memiliki zirah kulit dan senjata logam yang mereka dapatkan dari kaum Bashin, tetapi malang nasib Leafa dan Asuna yang masih mengenakan gaun dari rumput ubiquigrass serta memegang kapak batu dan pisau batu secara berturut-turut.Untungnya, kami punya Liz, yang mewarisi skill Blacksmithing (Pandai Besi)-nya dari ALO, jadi aspek teknisnya sudah tertangani. Masalahnya adalah seluruh bijih besi yang harus kami lebur. Semalam kami menemukan banyak bijih besi di sarang beruang gua thornspike dan berhasil merampas beberapa perlengkapan besi dari para PKer, tetapi hampir seluruhnya telah dihabiskan untuk memperbaiki pondok. Kami harus kembali ke gua beruang itu untuk menambang lebih banyak bijih, tetapi sang empunya sarang sudah pasti respawn saat ini, dan kami harus mengambil langkah nekat menjatuhkan berton-ton kayu gelondongan ke arahnya dari atap pondok demi menghabisi beruang yang pertama. Aku tahu persis, taktik itu takkan mempan dua kali."Yui, apa kaum Bashin menyebutkan dari mana mereka mendapatkan bijih logam mereka?" tanyaku.AI itu adalah satu-satunya dari kami yang mampu memahami bahasa NPC yang misterius itu, tetapi ia hanya menggelengkan kepala."Maaf, Papa. Aku tidak berhasil mengetahui informasi itu...""Kau tak perlu meminta maaf. Ini salahku karena lupa menanyakan di mana mencari bijih logam saat mereka menunjukkan sumber silika dan rami kepada kita. Kita akan mencari tahunya nanti.""Benar, Yui. Kirito pasti akan mencari jalan keluarnya," ujar Asuna, mengangkat Yui dan memberinya senyuman keibuan.Yui balas tersenyum, tetapi ia masih tampak cemas."Apa tepatnya yang akan Papa lakukan?""Mengalahkan beruang gua thornspike dengan cara ortodoks, pastinya... Tapi, tunggu sebentar."Aku menoleh menatap Silica, yang duduk di sebelah kananku dengan Pina bertengger di kepalanya."Hasil terbaiknya adalah menjinakkannya, alih-alih membunuhnya. Itu mungkin akan menghentikannya dari muncul kembali setiap kalinya.""Apa?! Menjinakkan beruang?!" serunya seraya menarik diri mundur.Aku menyeringai."Asuna bahkan tak punya skill Beast-Taming (Penjinak Binatang), dan dia berhasil mengubah dino-bebek itu jadi peliharaan. Kau mewarisi skill itu dari masa-masa di ALO dulu, jadi menjinakkan beruang harusnya cuma perkara kecil buatmu...""Sayangnya, Kirito, skill yang kuwarisi adalah Daggers (Belati).""Apa? Benarkah? Kemahiranmu lebih tinggi di skill Daggers?" seruku terkejut.Silica cemberut, mengerucutkan bibirnya."Kirito, menaikkan skill Beast-Taming hingga tingkat kemahiran 1.000 itu luar biasa sulit. Sepengetahuanku, satu-satunya orang di ALO yang memaksimalkannya hanyalah Alicia, pemimpin ras cait sith.""Oh, maafkan ketidaktahuanku...Jadi itu berarti Asuna sebenarnya punya skill Beast-Taming yang lebih tinggi pada titik ini..."Aku menatapnya, tetapi ia hanya mengerjap dan menggelengkan kepala."T-tidak, jangan menatapku! Aku tak bisa menjinakkan beruang mengerikan itu," protesnya.Meskipun begitu, aku sedang sibuk memikirkan cara untuk menipu—eh, meyakinkan—dirinya agar mau mencapai prestasi itu saat Silica mengumumkan, "J-jika kau cuma akan memaksa Asuna untuk mencoba sesuatu yang berbahaya, biar aku saja yang melakukannya!"Entah dia sedang merasa berani berkat zirah dari kaum Bashin, atau aku telah melukai harga dirinya sebagai seorang penjinak binatang. Asuna mencoba mengatakan sesuatu, tetapi Silica merentangkan tangannya untuk menahannya agar tetap duduk."Tidak apa-apa, Asuna. Aku memang belum melihat beruang ini, tetapi dalam hal menjinakkan binatang, tingkat kesulitannya pasti lebih rendah daripada tipe serangga atau tipe iblis. Aku akan melatih kembali skill Beast-Taming-ku dan menundukkan binatang buas itu di bawah kendaliku!"Wujudnya mungkin tak seperti beruang yang kau bayangkan, batinku. Asuna, Leafa, dan Alice kemungkinan besar memikirkan hal yang sama. Sebelum ada yang sempat mengatakan hal sebaliknya, aku melangkah maju dan mencengkeram kedua bahu Silica. "Ya! Itulah Silica yang kukenal—idola seluruh penjinak binatang di SAO! Lega sekali rasanya mendengar jaminanmu itu!""Heh-heh-heh... Aku akan melakukan yang terbaik," jawabnya, tertawa salah tingkah. Dari balik bahu Silica, aku bisa melihat Asuna menghela napas, tetapi aku tak berniat berhenti sekarang. "Asuna, bisakah kau mengajari Silica cara mendapatkan skill Beast-Taming? Tadi ada monster rubah di hutan saat kita dalam perjalanan pulang dari sungai, jadi mungkin itu target latihan yang bagus. Aku, Liz, Alice, dan Leafa akan menggali sumur sebelum kita kehabisan TP lagi.""Kedengarannya bagus... tapi apa kau yakin kita bisa menggali di mana saja semau kita di gim ini?" tanya Lisbeth.Pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak. Di sebagian besar VRMMO, termasuk ALO, mustahil untuk mengubah bentang alam liar. Lagipula, hal itu akan mengacaukan desain peta, dan para pemain akan menggali lubang raksasa di mana-mana hanya untuk saling menjahili.Unital Ring bukanlah gim normal dalam banyak aspek, tetapi aku sulit membayangkan kau bisa mengubah medan di sini... dan aku juga sudah memikirkan hal ini sejak kemarin. Namun di sisi lain, di dalam menu produksi skill Beginner Carpentry terdapat..."Lihat... ada sumur," ujarku, menunjuk pada menu yang terbuka agar yang lain bisa melihat. Sesuai ingatanku dari daftar itu, ada entri yang bertuliskan Small Stacked Rock Well (Sumur Batu Bertumpuk Kecil)."Bukankah itu berarti sama seperti tungku peleburan, kalau kau menempatkannya, kau bisa punya sumur di mana pun kau mau?" tanya Leafa, tetapi aku tak sependapat."Apa kau benar-benar berpikir sesederhana itu? Jika kau bisa membuat sumur kapan pun kau mau, selama kau punya materialnya, itu akan sepenuhnya menganulir fungsi dari batang TP.""Jangan mengeluh padaku—bukan aku yang menciptakannya. Lagi pula, kenapa tidak kau coba saja?"Poin yang bagus. Aku mengecek jenis dan jumlah material yang dibutuhkan untuk sumurnya: tiga ratus batu, dua puluh kayu gergajian, sepuluh tanah liat, lima puluh paku besi, satu rantai besi."Ugh, bahan kita jauh dari kata cukup. Batu dan kayu cukup mudah didapat, tapi besinya...""Tidak akan mudah," ujar Alice, mengangkat bahu.Ia melirik ke arah tungku peleburan."Bagaimanapun juga, kita pasti butuh besi. Butuh waktu sampai proyek penjinakan binatang Silica membuahkan hasil. Apa kita harus melawan beruang gua thornspike yang lain?""Hmm... Di gim normal, aku bakal nekat dan tetap mencoba melawannya, tapi sekarang..." Aku bergumam ragu, sementara Alice dan yang lainnya mengerutkan kening.Di Unital Ring, mati berarti kau takkan pernah bisa log in lagi. Namun itu juga takkan memuntahkanmu kembali ke ALO. Dunia-dunia VRMMO yang terjebak dalam insiden ini telah ditimpa di sisi peladen dan secara efektif ditutup untuk umum. Para pengembang mencoba melakukan roll back (mengembalikan ke kondisi sebelumnya) pada beberapa gim, tetapi sekalipun program Seed diinstal ulang, gim-gim itu tetap takkan berfungsi, menurut Argo. Dalam keadaan seperti ini, bahkan aku, sang peraih triple-crown dalam urusan perjudian gila nan nekat, tak sanggup untuk melawan beruang gua thornspike yang teramat kuat itu."Besi... besiiiii..."Aku melipat tangan dan menatap langit malam. Di SAO dan ALO, senjata dan peralatan besi tersedia melimpah bahkan di kota-kota paling awal sekalipun, jadi barang-barang itu tak pernah terasa begitu berharga. Monster-monster akan menjatuhkan berton-ton item besi, sehingga aku rutin membuang apa pun yang tak sanggup kubawa. Sekarang aku berharap bisa memutar waktu untuk memungut semua pasokan berlebih itu.Jika aku mencari cukup keras di area sekitar, aku mungkin bisa menemukan bijih besi di lokasi selain gua beruang. Namun mengingat aturan umum tingkat kesulitan gim, tampaknya kelangkaan bijih besi diatur pada level "cukup kuat untuk mengalahkan beruang gua thornspike dengan relatif mudah." Aku tak seharusnya mengharapkan pasokan bijih yang stabil di lereng-lereng bukit yang terbuka. Zaman Besi yang sesungguhnya takkan tiba kecuali kami bisa membereskan beruang itu entah bagaimana caranya."...Mari kita cari Sinon," gumamku. Alice, Leafa, dan Liz menoleh padaku; di kejauhan, Asuna, Silica, dan Yui berhenti membicarakan penjinakan binatang untuk ikut menatap ke arahku.Di tengah keheningan mencekam yang menyusul, suara Asuna terdengar sejernih kristal."Aku juga ingin bertemu Shino-non... tapi kita tidak tahu dia ada di mana atau bahkan ke arah mana harus mencari. Bagaimana cara kita mencarinya?""Orang-orang Bashin yang mereka temui mungkin tahu sesuatu tentang kaum manusia burung tempat Sinon berada. Lagipula kita memang butuh info soal bijih besi, jadi mari kita pergi ke desa Bashin dan bertanya pada mereka," ujarku, memandang anggota kelompok yang lain secara berurutan."Asuna, Silica, Alice, kalian tetap di sini dan jaga pondok. Aku akan pergi bersama Leafa, Liz, dan Yui ke desa... Bagaimana kedengarannya?""Aku mengerti kalau Asuna dan Silica harus mendiskusikan skill Beast-Taming, tapi kenapa kau meninggalkanku di sini?" tuntut Alice, terdengar kesal."Karena kalau kau yang menjaga rumah, aku merasa yakin tempat ini bakal aman," ujarku jujur."...Kalau begitu alasannya... aku tak bisa membantah. Baiklah... tapi aku bersikeras untuk ikut serta dalam ekspedisi berikutnya," serunya, berbalik dan menyejajarkan diri dengan Asuna dan Silica.Asuna meletakkan tangannya di punggung Alice, dan dengan suara lantang serta jernih yang mengingatkanku pada saat ia menjabat sebagai wakil komandan Knights of the Blood dulu, ia berkata, "Kami akan menjaga rumah kita tetap aman, jadi pastikan kalian pulang dengan selamat juga. Itu janji." "...Tentu," aku setuju. Liz menimpali, "Kami akan membawa Sinon pulang bersama kami!" dan Yui bergegas memeluk Asuna. Sementara itu terjadi, aku membuka inventarisku untuk mencoba sesuatu yang sedari tadi kupikirkan.Aku mengeluarkan pedang panjang Blárkveld, yang telah kupindahkan dari penyimpanan rumah kami. Pedang spesialku dari ALO itu masih terlalu berat untuk dipakai; bahkan di level 13 pun, aku belum bisa menggunakannya. Dengan jendela yang masih terbuka, aku berjalan menghampiri Lisbeth."Liz... tak enak rasanya memintanya setelah kau repot-repot membuatkannya untukku, tapi bisakah kau melebur pedang ini?""Apa?" seru sang penempa Blárkveld, tertegun."Y-yah, kau kan pemiliknya, jadi kau bebas mau diapakan saja... tapi tidak ada jaminan aku bisa membuatkanmu pedang dengan peringkat yang sama sekarang karena kita terjebak di dunia ini.""Aku tahu. Tapi kurasa aku butuh level 40 atau level 50 untuk memakai benda ini. Daripada cuma jadi rongsokan di penyimpanan, aku lebih suka meleburnya dan memanfaatkannya untuk kepentingan kelompok.""...Hmm. Baiklah."Ia menyeringai, lalu mengulurkan tangan meraih pedang hitam yang bertengger di atas jendela."Oh, tunggu! Ingat, kalau kau menyentuhnya, pedang itu bakal jatuh ke tanah, dan setelahnya kau takkan bisa memindahkannya.""Ah, benar.""Tunggu—biar kumasukkan langsung ke dalam tungku."Dengan inventaris yang masih terbuka, aku berjalan ke sisi barat ruang terbuka itu, membuka jendela pengoperasian tungku peleburan, dan menjatuhkan Blárkveld ke dalamnya. Pedang yang mengambang di udara itu lenyap, menghamburkan titik-titik cahaya. Kemudian aku memasukkan kayu bakar ke dalam ruang bakar tungku dan membiarkan Lisbeth mengambil alih dari sana.Sang pandai besi sempat mengatupkan kedua tangannya sejenak untuk mendoakan pedang yang ditempanya sendiri itu, lalu menggunakan batu api untuk menyulut kayu gelondongannya. Tak lama kemudian, nyala api merah berkedip-kedip di dalamnya, dan suara deru lolos dari tungku saat api itu berkobar hebat.Semalam, bijih besi mulai meleleh hanya dalam beberapa puluh detik setelah aku memasukkan kayu ke dalam tungku, tetapi Blárkveld menahan jilatan api itu selama hampir dua menit. Namun akhirnya, logam cair yang bersinar putih keluar dari keran dan mengisi cetakan ingot (batang logam). Saat penuh, logam itu berkilat dan lenyap sehingga cetakan bisa terisi kembali.Hanya ada satu pedang satu tangan di sana, jadi aku mengira mendapatkan sepuluh ingot saja sudah bisa dibilang sukses, tetapi di Unital Ring, sepertinya perlengkapan berperingkat tinggi juga meningkatkan jumlah material yang bisa kau selamatkan darinya. Besi cair itu terus mengalir dan baru berhenti setelah aku menyerah untuk menghitung jumlahnya."...Sudah selesai," gumam Lisbeth, membuka jendela tungku."Coba kita lihat. Kita dapat... enam puluh dua premium steel ingot (ingot baja premium), delapan belas fine silver ingot (ingot perak halus), sembilan fine meteoric iron ingot (ingot besi meteorik halus), enam mythril ingot (ingot mitril), dan dua black dragon steel ingot (ingot baja naga hitam).""Wowww... Beberapa di antaranya kedengarannya sangat langka," bisik Leafa dengan penuh takjub. Jika Blárkveld saja memberi kami material sebanyak ini, apa jadinya kalau aku melebur Pedang Suci Excalibur, senjata lain yang kubawa dari ALO? Tentu saja melebur senjata legendaris yang kudapatkan dengan susah payah itu takkan pernah kulakukan kecuali sebagai pilihan paling terakhir.Alih-alih memikirkannya, aku bertanya pada Liz, "Bisa kau buatkan perlengkapan untuk Alice, Asuna, dan Leafa pakai bahan-bahan ini?""Hmm... Ingat, skill Blacksmithing-ku juga turun jadi 100. Aku mungkin tidak bisa pakai logam yang lebih mewah," gumamnya dengan cemas, memindahkan ingot-ingot itu ke inventarisnya sendiri, lalu duduk di kursi kecil di depan paron (anvil). Ia menjatuhkan sebuah premium steel ingot ke jendela paron dan membuka menu kerajinan. "Oh, sepertinya aku nyaris tak bisa membuat senjata baja. Jadi aku akan buat pedang Alice duluan. Pakai bastard sword tidak apa-apa?""Ya, Liz. Terima kasih.""Siap laksanakan."Lisbeth mengacungkan jempol ke arah sang ksatria dan meraih palu tempanya, lalu menghantam ingot cokelat keperakan yang muncul di atas paron. Seiring dentangan keras dan nyaring dari palu yang beradu dengan logam, aku berdoa semoga pedang-pedang baru yang akan segera lahir ini terbukti sama tangguh dan setianya dengan Blárkveld-ku yang telah tiada.
Komentar (0)
Memuat komentar...