Sword Art Online 023: Unital Ring II

Bagian 6

Estimasi waktu baca: 25 menit

"...Aku benar-benar tak pandai dalam urusan semacam ini," gumamku seraya menatap layar kemampuan.
Lisbeth selesai meminum sedikit air dan mengerang, "Ikuti saja intuisimu. Leafa dan aku memilihnya dengan sangat cepat."
"Itulah masalahnya. Aku tidak pandai mengandalkan intuisi," gumamku, memusatkan perhatian pada pilihan-pilihan yang ada. Di tengah layar terdapat empat ikon dalam pola silang. Searah jarum jam dari atas, ikon-ikon itu adalah BRAWN (Tenaga), TOUGHNESS (Ketangguhan), SAGACITY (Kecerdasan), dan SWIFTNESS (Ketangkasan).
Masing-masing ikon tersebut memiliki dua garis yang memanjang lebih jauh ke arah ikon-ikon lainnya. Setelah BRAWN, terdapat BONEBREAKER dan STOUT. Setelah TOUGHNESS, terdapat PERSEVERANCE dan ANTIVENOM. Setelah SAGACITY, terdapat CONCENTRATION dan LEARNED. Setelah SWIFTNESS, terdapat GALLOP dan DEXTEROUS. Mengetuk sebuah ikon akan memunculkan deskripsi mengenai kemampuan tersebut.
Menurut penjelasannya, Brawn memberikan bonus pada daya serang senjata jarak dekat ukuran sedang dan besar, batas beban perlengkapan (equip weight), serta batas beban bawaan (carry weight). Toughness memberikan bonus pada HP, TP, SP, dan resistansi terhadap efek status buruk. Sagacity memberikan bonus pada nilai MP dan kekuatan sihir. Swiftness memberikan bonus pada daya serang senjata jarak jauh, daya serang senjata jarak dekat ukuran kecil, serta jarak lompatan.
Dengan kata lain, rekomendasinya adalah para damage dealer (penyerang) harus mengambil pohon kemampuan Brawn; para tank (pelindung) memilih pohon Toughness; para mage (penyihir) mengambil pohon Sagacity; dan para scout (pengintai) mengambil pohon Swiftness. Sebagai pengguna pedang panjang, yang merupakan senjata jarak dekat ukuran sedang, itu berarti aku harus mengambil Brawn tanpa perlu berpikir panjang—namun urusannya takkan sesederhana itu.
Dalam RPG survival (bertahan hidup), nilai maksimum HP, SP, dan TP sangatlah krusial. Aku bisa membayangkan diriku di masa depan, nyaris mati kelaparan atau kehausan, dan menyesali, Seandainya saja dulu aku memaksimalkan Toughness, setidaknya sekali atau dua kali, atau bahkan hingga puluhan kali. Aku menghela napas dan bertanya pada teman-temanku, "Ngomong-ngomong... ke mana perasaan kalian menuntun pilihan kalian?"
Lisbeth menjawab, "Aku pilih Toughness," sementara Leafa menambahkan "Kalau aku Brawn," dan Yui menimpali dengan "Aku pilih Sagacity!"
Jawaban yang satu itu membuatku terkejut.
"Sagacity...? Apa kau akan menjadi pengguna sihir, Yui?" tanyaku.
"Benar sekali! Aku ingin menjadi battle mage (penyihir tempur) seperti Mama!"
"Uh... oke. Kedengarannya cukup menenangkan."
Tentu saja, alasan Asuna ditakuti di mana-mana sebagai Berserk Healer (Penyembuh Mengamuk) di ALO adalah karena teknik pertahanan dan hindarannya yang luar biasa, tetapi aku tak ingin menghancurkan impian seorang anak, jadi alih-alih mengatakan itu, aku menepuk-nepuk kepala Yui. Lagipula, tak ada cara untuk menyingkirkan kemungkinan tersebut, dan sudah menjadi tugasku untuk melindunginya, terlepas dari build apa pun yang ia pilih. 
Dalam artian itu, mungkin menjadi tank adalah yang terbaik, batinku, kembali tersesat dalam kebimbangan. Saat kami meninggalkan pondok, masih ada sedikit cahaya senja di langit sebelah barat, tetapi kini cahaya itu telah lama sirna, digantikan oleh awan gelap yang mengalir menutupi bintang-bintang yang memudar.
"Hmm, seandainya saja aku tahu efek dari baris kemampuan yang kedua..."
Aku hanya bisa membaca deskripsi dari kemampuan yang saat ini dapat dipilih, jadi aku harus benar-benar menjatuhkan pilihan untuk bisa mengetahui lebih jauh.
Leafa sedang mengunyah kacang di seberang sana, dan ia bertanya dengan nada nakal, "Pernahkah kau terpikir untuk bertanya pada kami apa saja efeknya...?"
"Hah...? Oh, i-iya juga, ya..."
Mereka sudah memilih kemampuan pertama mereka, jadi mereka pasti bisa membaca deskripsi dari opsi-opsi berikutnya. Aku berdeham, merasa canggung, lalu menoleh pada ketiga gadis itu.
"Kalau kalian tidak keberatan, bisakah kalian memberitahuku apa kelanjutannya?"
"Kalau kau memaksa," sahut Liz seraya menghela napas, membuka ring menu-nya. 
"Coba kita lihat. Kemampuan setelah Toughness adalah Perseverance, yang memberikan bonus pengurangan damage saat menangkis, dan Antivenom, yang memberikan bonus pengurangan damage terhadap racun, seperti yang sudah bisa kau tebak."
"Mm-hmm." 
Selanjutnya, Leafa mengecek jendelanya.
"Kemampuan setelah Brawn adalah Bonebreaker, yang memberikan bonus damage yang mengabaikan tangkisan musuh, dan Stout, yang memberikanmu penurunan efek knockback (terpukul mundur) saat menangkis."
"Hmm...?"
Yui tak perlu mengecek jendelanya lebih dulu.
"Kemampuan yang bercabang dari Sagacity adalah Concentration, yang memberikan bonus pada tingkat pemulihan MP, dan Learned, yang meningkatkan perolehan kemahiran dari seluruh skill bahasa."
"Hmmmm."
Skill bahasa kemungkinan merujuk pada skill yang memungkinkanmu berbicara dengan NPC, tetapi aku takkan membutuhkannya selama ada Yui. Aku tak berniat menjadi mage, jadi aku menyingkirkan pohon Sagacity dari serangkaian opsiku. Namun meski sudah mengetahui kelanjutan dari Brawn dan Toughness, rasanya tetap sulit untuk memilih di antara keduanya.
"Hmm. Kedengarannya Stout dan Perseverance itu lumayan mirip. Kenapa kemampuan untuk pengurangan knockback dan pengurangan damage berada di pohon yang berbeda...?"
"Mungkin karena Stout dimaksudkan untuk bekerja pada tangkisan senjata alih-alih tangkisan perisai?" usul Leafa.
"Jika kau bisa memblokir serangan tanpa merusak kuda-kudamu, kau bisa melakukan serangan balik dengan jauh lebih cepat."
Aku mengangguk.
"Jadi pohon Brawn juga tidak murni cuma soal menyerang... Mungkin aku harus ambil yang itu juga kalau begitu..."
"Tidak bisakah kau ambil dua-duanya saja?" tanya Lisbeth.
"Mmm, bisa saja sih," akuku, "namun dalam banyak kasus, kalau kau menguasai satu pohon kemampuan ketimbang menyebarkan poinnya ke mana-mana, pada akhirnya kau bakal jadi jauh lebih tangguh."
"Kalau begitu, kau harus fokus murni pada daya serang. Lagipula, itu yang paling sesuai dengan gayamu," ujar Liz.
Entah mengapa Leafa menyeringai, dan Yui mengangguk dengan senyum semringah. Aku ingin memprotes bahwa aku bukanlah murni seorang penyerang (damage dealer) di SAO maupun ALO, tetapi mereka bertiga tampak sudah sepemikiran, dan aku ragu Asuna, Silica, atau Alice bakal mendebatnya juga. 
"...Baiklah, tapi kalian yang ambil peran pendukung, kalau begitu."
"Beres. Kami yang akan menjaga punggungmu," Liz meyakinkanku.
Aku menyentuh ikon BRAWN lagi lalu menekan tombol ACQUIRE (Peroleh) di bagian bawah jendela pop-up. Kotak dialog lain muncul, menanyakan apakah aku ingin menghabiskan satu poin kemampuan. Saat aku menekan tombol YES (Ya), jendela itu berkedip diiringi bunyi gemerincing, dan ikon BRAWN yang semula hitam putih kini berubah menjadi merah.
Hal itu membuat Bonebreaker dan Stout menjadi tersedia, tetapi kali ini masing-masing membutuhkan dua poin kemampuan. Sepertinya setiap kemampuan memiliki sepuluh peringkat (rank), jadi aku punya pilihan untuk menaikkan Brawn hingga peringkat 10 sebelum mengambil Bonebreaker, jika aku mau. Aku masih memiliki sebelas poin tersisa, tetapi kurasa aku belum ingin menghabiskan semuanya sekarang.
Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk mengambil Bonebreaker. Langkah itu memunculkan dua kemampuan tambahan yang melampauinya.
Salah satunya adalah Assault, yang memberikan bonus pada hantaman tambahan selama serangan berturut-turut. Yang lainnya adalah Expand, yang memperluas jangkauan serangan area. Seperti dugaanku, masing-masing butuh tiga poin untuk dibuka. Dengan kata lain, untuk mencapai peringkat 10 di Brawn, Bonebreaker, dan Assault sekaligus akan membutuhkan total enam puluh poin kemampuan. Dan kemungkinan besar masih ada lebih banyak lagi kemampuan di tingkat yang lebih tinggi pada pohon tersebut. 
"Wah, ini bakal makan waktu lama...," gumamku pada diri sendiri, seraya menaikkan Brawn ke peringkat 5. Itu berarti aku sudah menggunakan tujuh poin, menyisakan lima poin lagi untukku. Aku kembali ke layar statusku, yang kini menampilkan efek dari Brawn. Meteran yang menunjukkan persentase penggunaanku saat ini terhadap total batas beban perlengkapan dan batas beban bawaan telah turun drastis. Ada banyak air, makanan, dan material yang harus dibawa ke mana-mana di gim ini, jadi ini adalah bonus yang bagus untuk dimiliki, meskipun terasa membosankan. 
"...Oke, aku sudah dapat kemampuanku," umumku, seraya menutup jendela tersebut.
"Berapa poin yang kau sisakan?" tanya Liz santai.
"Lima, kurasa?"
"Aha! Setidaknya lima! Aku menang taruhan!"
"...Hah?" mulutku ternganga.
Liz menyodorkan tangannya ke arah Leafa dengan telapak menengadah. Leafa lalu menuangkan setumpuk kacang ke telapak tangannya yang terbuka. Mereka membuat taruhan soal berapa banyak poin yang bakal kusisakan?
"Terima kasih banyak ya, Kakak! Buat apa menimbun poin-poinmu? Jadilah pria sejati dan manfaatkan poin-poin itu dengan baik!" sentak adik perempuanku, yang mana terasa cukup tidak adil bagiku. Yui mengelus-elus kepalaku untuk menghibur.
Ilustrasi Cabang Skill yang Dapat Dipilih di Unital Ring.
Selesai dengan istirahat makan kami, kami melompat turun ke tanah dari zona aman dadakan kami di atas bongkahan batu besar. Kami melanjutkan perjalanan ke arah barat daya, menghindari segala bentuk cahaya buatan dan berjalan hanya dengan mengandalkan cahaya bintang yang temaram.
Kami telah lama meninggalkan hutan di belakang kami; kini tak ada apa pun selain padang rumput kering di sekeliling. Karena saat itu malam hari, monster-monster yang kami temui adalah tipe nokturnal, seperti hiena dan kelelawar. Mereka tidak bisa diremehkan, tetapi juga tak terlalu sulit untuk dikalahkan. Tentu saja itu berkat perlengkapan logam buatan Liz—aku pasti bakal merasa gugup walau hanya untuk keluar dari hutan kalau cuma bermodalkan pisau batu dan pakaian rumput ubiquigrass.
Untuk air minum, Asuna telah mengisi beberapa kantong air tembikar buatan tangan dari sungai, dan kami membawa sedikit dendeng beruang untuk dimakan, tetapi untuk sebagian besar kebutuhan, kami harus mencari persediaan di sepanjang jalan. Daging hiena tidak bisa dimakan, bahkan setelah dimasak sekalipun, tetapi sesekali kami menemukan beberapa pohon pendek dan bulat dengan kacang mirip walnut. Cangkangnya keras untuk dipecahkan namun rasanya enak begitu kau berhasil mengeluarkannya. Dua jam telah berlalu sejak kami berangkat, tetapi kami berhasil menjaga TP dan SP di kisaran 80 persen sejauh ini.
"Liz, seberapa jauh lagi ke desa kaum Bashin?" tanyaku pada Lisbeth, yang berjalan dengan jendela petanya terbuka.
Sambil menoleh dari balik bahunya, sang pandai besi menjawab, "Kita baru menempuh sepertiga perjalanan. Ada dua pohon raksasa di depan sana, dan itu pada dasarnya adalah titik tengahnya, menurutku."
"Seberapa besar? Sebesar Pohon Dunia di Alfheim?" tanya Leafa.
Lisbeth hanya meringis dan menggelengkan kepala. "Tidak, tidak sebesar itu. Aku tidak sepenuhnya yakin, karena terakhir kali kami melihatnya juga malam hari, tapi tebakanku tingginya sekitar tiga ratus kaki?"
"Itu mengingatkanku... Waktu kaum Bashin melewati bukit dengan pemandangan pohon-pohon besar itu, mereka berhenti untuk berdoa," tambah Yui, yang berjalan bergandengan tangan denganku.
"Oh, benar juga! Mereka memang melakukannya!" Lisbeth menyetujui.
"...Berdoa pada pohon-pohon raksasa...," ulangku, berpikir keras. Entah bagaimana, bayangan itu merangsang sesuatu jauh di dalam ingatanku, tetapi aku tak bisa memastikan apa yang sedang dipanggilnya. Aku sempat mempertimbangkan untuk meminta Yui menjalankan ide tersebut melalui basis data VRMMO-nya namun mengurungkan niatku. Yui adalah sesama pemain sekarang, bukan peri navigasi, dan terlebih lagi, ia merasa sangat antusias dengan perannya tersebut. Takkan adil rasanya jika aku terus memperlakukannya layaknya alat AI yang praktis.
Sebagai gantinya, aku baru saja hendak bertanya apakah mereka juga ikut berhenti dan berdoa bersama kaum Bashin, tetapi perhatianku teralihkan oleh embusan angin dingin nan lembap dari utara.
"Brrr. Malam di sini lumayan dingin untuk ukuran sabana... Apa kau tidak kedinginan, Yui?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Liz kan sudah membuatkan zirah untukku."
Memang benar, Yui tak lagi hanya mengenakan gaun putih kecil itu; kini ia memakai pelindung dada tipis, ditambah sarung tangan dan sepatu bot dengan desain senada. Ia masih mengenakan gaun itu di balik perlengkapan tersebut, jadi penampilannya tak terlihat begitu menghangatkan. Namun tingkat kemahiran skill Blacksmithing Lisbeth berada di angka 100, jadi meskipun menurun dari sebelumnya, angka itu terbilang sangat tinggi. Mungkin ia telah menambahkan bonus penahan dingin di dalamnya.
Adapun Lisbeth, ia masih menggunakan zirah kulit dan gada satu tangan pemberian kaum Bashin, dan dari ingot yang dilebur dari Blárkveld, ia hanya membuat sebuah perisai bundar kecil untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, Leafa, sama sepertiku, memiliki empat potong perlengkapan logam, termasuk sebuah katana panjang yang bisa digunakan dengan satu maupun dua tangan. 
Dibandingkan dengan perlengkapan batu kami sebelumnya, kami telah bertransformasi menjadi pasukan tempur bersenjata berat. Namun terlepas dari semua itu, Leafa menggigil dan mengeluh tepat saat angin utara itu menerpa kami. Ia menoleh ke belakang, mengibaskan kuncir kuda emasnya, lalu dengan lincah berjalan mundur agar bisa berbicara tatap muka denganku.
"Hei, Kirito, bisakah kau membuat jubah atau semacamnya dari kulit hiena itu?"
"Jangan konyol. Aku bahkan tidak punya skill Tailoring (Penjahit)."
"Kalau begitu ayo kita lari! Perjalanan kita juga bakal lebih cepat sampai!"
"Uhhh... Kau mungkin bisa lari terus-menerus karena kau selalu berolahraga di klub sekolahmu, tapi aku kan cuma langsung pulang ke rumah sepulang sekolah..."
"Kau tahu hal itu sama sekali tidak berpengaruh di dunia virtual!" sentak Leafa.
Aku menyadari kesalahanku dan berdeham untuk menyembunyikan rasa maluku.
"Y-yang pasti, berlari cuma buang-buang TP dan SP. Dan kita tidak bisa melihat tanah dengan terlalu jelas, jadi itu berbahaya..."
"Tapi, Papa, kita punya obor!" seru Yui seraya mengeluarkan benda mirip tongkat dari inventarisnya. Benda itu tampak seperti cabang pohon dengan rumput kering yang dililitkan pada ujungnya. Penerangan yang kami gunakan di pondok hanyalah dahan mati biasa, jadi ini adalah satu langkah lebih maju dari itu.
"Kau yang membuatnya, Yui?"
"Iya, tapi ini idenya Liz."
"Ooh, begitulah layaknya seorang perajin profesional."
"Aku tidak terima sogokan berupa pujian," komentar Lisbeth, melirik dari balik bahunya.
"Tapi... kita mungkin harus segera bersiap-siap untuk lari. Semalam kaum Bashin memberitahu kami bahwa... Sabana Giyoru, ya namanya? Terkadang tempat ini dilanda badai es, dan kalau itu terjadi, kau harus membungkus tubuhmu dengan bulu hewan atau mencari gua. Kalau tidak, kau bakal mati."
"Apa?! Kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi?!"
"Karena mereka bilang itu cuma terjadi sekali setiap beberapa tahun."
"Oke, kau sendiri seharusnya tahu kalau di dalam video game, itu artinya sekali setiap beberapa hari...," sentakku.
Namun Yui, dengan suara kecil dan murung, berkata, "Maafkan aku, Papa. Aku juga mendengar mereka mengatakannya, tetapi aku tidak mengklasifikasikannya sebagai informasi penting."
"A—aku tidak menyalahkanmu kok, Yui. Maksudku, siapa juga yang pernah dengar ada badai es di sabana?"
"Tunggu dulu! Kenapa perlakuannya dibedakan begini?!" rutuk Lisbeth, menggembungkan kedua pipinya. 
Tepat pada saat itu, ada embusan angin lagi dari utara, dan kami berempat spontan membungkuk bersamaan. Terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya—dan sedikit lebih basah. Aku menatap langit dan melihat awan hitam berarak dari utara ke selatan dengan kecepatan tinggi.
"...Firasatku mulai memburuk soal ini," gumam Leafa.
Aku menyetujuinya dan menunduk menatap Yui.
"Ayo kita nyalakan obor itu."
"Baiklah."
Yui dengan khusyuk mengarahkan ujung dahan yang terbalut rumput itu kepadaku. Aku mengeluarkan sepasang batu api dari tasku dan memukulkannya satu sama lain. Di dunia nyata, batu api harus dipukulkan ke sepotong logam yang disebut firesteel (baja pemantik) untuk menciptakan percikan api, tetapi di sini, kau hanya butuh dua buah batu. Aku memukulkannya, meyakinkan diriku sendiri bahwa meskipun aku tidak mengambil pohon kemampuan Sagacity, suatu hari nanti aku pasti akan mempelajari skill sihir api. Pada pukulan ketujuh, percikan apinya mendarat dengan tepat dan mulai membakar rumput kering tersebut.
Aku memasukkan kembali batu api itu ke dalam tasku dan mengambil obornya dari Yui, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Angin kencang menerpa nyala apinya, tetapi api itu takkan padam semudah itu. 
Pandangan sekilas ke sekeliling kami tak menampakkan tempat yang berpotensi menjadi gua; seandainya pun ada di dekat sini, cahayanya tak cukup kuat untuk menjangkaunya. Namun cahaya itu memperlihatkan siluet tinggi nan sempit layaknya formasi bebatuan di sebelah timur dan beberapa lereng bukit landai di sebelah barat. Ke arah mana kami harus pergi?
Memang belum pasti badai es akan menyapu kami, tetapi jika kami menunggu sampai saat itu tiba untuk mencari tempat berlindung, semuanya sudah akan terlambat. Seandainya ada gua di dekat sini, pastilah letaknya di formasi bebatuan itu, tetapi bentuknya menyerupai menara runcing, jadi gua berongga apa pun di sana kemungkinan takkan cukup dalam untuk kami.
Di sebelah kananku, Yui berseru, "Ada sesuatu yang datang dari utara, Papa!"
"Hah...?" Aku berputar, mengarahkan obor melawan arah angin, tepat ketika sesosok bayangan besar yang senyap meluncur masuk ke dalam jangkauan cahaya.
Berhenti hanya lima yard (sekitar 4,5 meter) jauhnya, bayangan itu merendah ke tanah dan menggeram. Ini bukanlah salah satu hiena yang sudah beberapa kali kami lawan. Tubuh berbulu hitam itu ramping namun jauh lebih besar dari hiena, dan kaki depannya tampak kekar sebagai perbandingan. Ini bukan tipe canine (anjing) melainkan feline (kucing)... Berdasarkan telinganya yang membulat, ini kemungkinan adalah sejenis macan tutul.
"Graaar!!" raung panther (macan kumbang) hitam itu, sepasang mata biru mudanya mengawasi kami berempat dengan saksama. Kenapa harus sekarang?! ratapku. Kami tak bisa berlari cukup cepat untuk menghindarinya, dan makhluk itu jelas merasa terancam oleh obor kami. Aku memindahkan obor ke tangan kiriku dan menggenggam gagang pedangku.
English Text: “We’re going to fight!” I shouted. Leafa drew her weapon and stepped forward. Liz loosened her mace from its fasteners. I whispered “Take care of Yui” to her, and she replied, “Don’t worry. I’ve got her.” Terjemahan Bahasa Indonesia: "Kita bertarung!" seruku. Leafa menghunus senjatanya dan melangkah maju. Liz melepaskan gadanya dari pengaitnya. Aku berbisik "Jaga Yui" padanya, dan ia menjawab, "Jangan khawatir. Aku yang urus."
Begitu melihat pedang panjangku dan katana Leafa, macan kumbang itu memamerkan taring-taringnya yang ganas. Ukurannya memang tak sebesar harimau saber-tooth, tetapi setidaknya tiga kali lebih panjang dari macan tutul sungguhan mana pun. Bulunya segelap malam, dengan kilau kebiruan yang menjalar dari leher hingga ke tulang belakangnya.
Macan kumbang hitam itu merendahkan tubuhnya, memasuki kuda-kuda bersiap melompat. Ia mengincarku. Aku menahan pedangku di bahu kananku, bersiap membalas serangan dengan sword skill. Lalu terdengar raungan yang memekakkan telinga—bukan dari macan kumbang itu melainkan dari angin. 
Embusan angin yang membuat semua terjangan angin sebelumnya terasa imut sebagai perbandingan kini menghantam kami. Aku harus menegangkan kakiku menahan pijakan di tanah. Obor kecil kami yang gagah berani tak sanggup menahannya dan akhirnya padam, menjerumuskan kami ke dalam kegelapan. Butiran-butiran keras mencambuk wajah dan tanganku yang terbuka.
Ini es... hujan es. 
Oh, tidak! batinku, meskipun aku tak merasa akan ada yang mengapresiasi permainan kata itu karena, tepat pada saat itu, macan kumbang tersebut melompat. Secara naluriah aku mulai mengaktifkan sword skill Vertical, tetapi aku menghentikan diriku sebelum sempat menjejakkan kaki, dan aku berputar.
Dengan tenaga yang luar biasa, macan kumbang itu melompati kami berempat, lalu mendarat di sisi seberang. Ia tidak mengincar kami. Ia hanya berlari menjauh ke selatan.
"Um, menurutmu... apa dia cuma sedang lari dari badai...?" tanya Liz keheranan, tepat ketika pemikiran yang sama melintas di benakku.
Kalau dugaan kami benar, maka embusan angin es ini hanyalah guncangan peringatan dari badai yang begitu berbahaya hingga monster-monster pun lari dari jalurnya. Itu juga berarti si macan kumbang hitam sudah punya tujuan evakuasi di kepalanya. 
"Ayo kita kejar!" seruku, menyarungkan pedangku dan menggenggam tangan Yui. Kami langsung berlari, disusul Lisbeth dan Leafa tepat di belakang. Siluet macan kumbang itu menyatu dengan kegelapan, dan kalau jaraknya bertambah lebih dari beberapa yard, kami akan kehilangan jejaknya.
Obor telah padam, sehingga kami tak bisa melihat permukaan tanah. Jika salah satu dari kami tersandung pada perubahan elevasi tanah atau sebuah batu, berakhirlah pengejaran kami. Aku hanya bisa berdoa memohon keberuntungan yang benar-benar nyata selama pengejaran ini. Aku sempat mempertimbangkan untuk menggendong Yui, tetapi sebagai sesama pemain, agility (kelincahan)-nya pasti hampir setara dengan milikku, dan ia pun mampu mengimbangi langkah kami dengan baik.
Selama dua menit, kami mengejar macan kumbang hitam yang melarikan diri itu. Sebuah bukit kecil mulai tampak di depan sana. Macan kumbang itu melompat ke arah kaki bukit, lalu seolah-olah lenyap ke dalamnya. Saat kami tiba sesaat kemudian, terdapat mulut gua setinggi kira-kira tiga kaki, tampak gelap kontras dengan lereng bukit tersebut.
Begitu aku berhenti, hujan es menghantam zirah besiku dari belakang, menimbulkan bunyi dentang saat beradu dengan logam. Butiran-butiran es itu saat ini ukurannya baru sepersekian inci, tetapi situasinya pasti akan memburuk. Suhu udara juga mulai merosot drastis; embusan napasku berubah memutih.
Aku juga bisa melihat batang HP-ku menurun, sedikit demi sedikit. Sebuah ikon Debuff yang berkedip berbentuk kristal es di ujung kanan batang tersebut memberitahuku semua yang perlu kuketahui.
"Papa, ayo kita masuk!" desak Yui.
Aku mengangguk. Gua itu membentang jauh lebih dalam, dan kami hanya bisa berdoa semoga macan kumbang tadi telah masuk sejauh mungkin.
Aku melepaskan genggaman tangan Yui dan menghunus pedangku untuk berjaga-jaga seraya menghampiri mulut gua. Aku tak bisa melihat apa pun di dalam sana. Angin bertiup begitu kencang sehingga tak ada obor yang mampu bertahan lebih dari sedetik pada titik ini. Aku meneguhkan nyali dan membungkuk untuk masuk ke dalam. 
Gua itu melandai turun secara perlahan, dan langit-langitnya semakin meninggi seiring aku melangkah maju. Gua itu memang sempit di permukaan tanah, tetapi tampaknya dimensi penuhnya semakin meluas saat menurun ke dalam. Aku terus melangkah maju, merasa sedikit lega menyadari hal itu.
Setelah sekitar tiga puluh kaki, lerengnya merata, dan aku berhenti melangkah maju lalu menegakkan tubuh. Langit-langitnya cukup tinggi hingga aku bisa mengulurkan pedangku ke atas tanpa menyentuh apa pun.
Berarti ini adalah ruangan yang lumayan luas. Tak ada tanda-tanda keberadaan macan kumbang hitam itu. Aku mengecek batang HP-ku, yang telah berhenti menurun dan tak lagi memunculkan ikon Debuff pembekuan. Aku menghela napas dan berbalik. Gua itu gelap gulita, dengan jarak pandang nyaris nol. 
"Apa kalian semua sudah di sini?" bisikku.
"Sudah, Papa."
"Aku di sini."
"Sudah dong!"
Merasa lega, aku mulai menyarungkan kembali pedangku agar kami bisa menyalakan obor lagi.
Namun kemudian aku mendengar Leafa tersiap "A-apa itu...?" dan aku pun sontak berputar.
Aku masih belum bisa melihat apa-apa. Namun setelah menyipitkan mata cukup lama, aku mendapat pesan yang bertuliskan Skill Night Vision diperoleh. Kemahiran telah naik ke angka 1. Dan seketika itu juga, menjadi sedikit lebih mudah bagiku untuk melihat menembus kegelapan.
Dan tak lama kemudian, aku pun menyadarinya. Di kedalaman gua mengambang dua pendar cahaya biru. Apa itu? tanyaku dalam hati. Cahaya itu padam, lalu menyala lagi. Nyaris seperti kedipan... Tidak. Itu memang kedipan. Sepasang mata macan kumbang yang telah masuk sebelum kami. Keberadaan kami telah disadari.
"Grrrr..." Binatang buas itu menggeram, dan sepasang mata biru itu naik lebih tinggi, menyiratkan bahwa sang macan kumbang beranjak dari posisi berbaring ke posisi berdiri. Jelas, penglihatan malamnya jauh lebih baik dari milik kami, jadi kalau ini sampai berujung pada pertarungan, kami sama sekali tak punya peluang menang. 
"Yui, nyalakan obornya," gumamku, memegang obor di tangan kiriku di belakang punggung.
"Oke," jawabnya lalu mengambil obor itu.
Aku baru saja akan menyodorkan batu api padanya, tetapi sebelum sempat kulakukan, terdengar suara aneh.
Itu adalah suara derit bernada tinggi, sesuatu yang tak terdengar seperti berasal dari sang macan kumbang. Waspada terhadap musuh di depan kami, aku buru-buru berputar dan melihat bahwa partikel-partikel putih kecil sedang menyapu masuk dari arah mulut gua. 
Tepat saat partikel-partikel itu menyentuh Lisbeth, yang berada paling belakang, ia bersin dengan keras.
Leafa menjerit, "Dingin banget!" dan Yui mengerang.
Terakhir, aku pun menggigil.
Ini lebih buruk dari sekadar rasa dingin biasa. Ikon Debuff pembekuan muncul lagi, dan aku bisa melihat HP-ku menyusut. Kami tak bisa menghindari hawa dingin dari mulut gua di lokasi ini. Aku bahkan bisa mendengar siulan angin, yang terdengar seperti jeritan samar. Aku tak berani membayangkan seperti apa rasanya di ruang terbuka sana.
"Kakak, kita harus masuk lebih dalam!" desak Leafa dengan gugup. Aku balas berseru, "Aku tahu, tapi bagaimana dengan si macan kumbang?!"
Monster di kedalaman gua itu memang tak menyerang, tetapi ia terus menggeram. Tak sulit untuk membayangkan binatang buas itu menerkam kami jika kami mendekat sedikit saja.
Batang HP-ku telah menyusut 10 persen. Kalau terus begini, angkanya akan menyentuh titik nol dalam waktu kurang dari tiga menit. Sepertinya kami memang harus melawan macan kumbang itu, tak peduli betapa tidak diuntungkannya kami... namun kemudian aku teringat akan satu hal yang masih bisa kami coba.
Kusarungkan kembali pedangku dan kurogoh tas peralatanku, lalu mengeluarkan sebuah benda pipih nan tipis. Benda itu adalah dendeng beruang yang dibuatkan Asuna untuk kami. Ransum darurat itu memang penting, tetapi aku takkan pernah bisa memakannya jika aku telanjur mati kedinginan atau dibunuh sang macan kumbang.
"Ayo, ini enak! Waktunya makan malam!" seruku pada sepasang mata biru di tengah kegelapan itu seraya melemparkan daging kering tersebut.
Benda itu jatuh ke tanah, menarik perhatian si macan kumbang. Ia berkedip. Lalu berkedip lagi. 
Sepasang mata biru itu bergerak dalam senyap menghampiri daging tersebut. Aku bisa merasakan macan kumbang itu mengendus-endus udara. Setelah beberapa detik yang menegangkan, aku mendengar suara derit kunyahan. Sang macan kumbang hitam telah menggigit dendeng itu.
Seketika itu juga, muncul sebuah cincin bercahaya di tengah kegelapan, tampak menyerupai spidometer mobil. Sekitar sepertiganya terisi dari arah kiri bawah dan berwarna merah, sementara ujungnya bergetar naik-turun. Itu adalah meteran penjinak binatang yang Asuna bilang muncul saat ia menjerat Aga.
Aku mengeluarkan sepotong dendeng lagi, potongan terakhirku, lalu melemparkannya ke depan. Macan kumbang itu segera menyambarnya, dan meterannya naik 10 persen lagi.
"Berikan dendeng kalian."
Aku mengulurkan tangan ke belakang punggungku, dan Yui dengan sigap menjatuhkan sepotong daging ke telapak tanganku. Berusaha meraba-raba kapan macan kumbang itu selesai mengunyah, aku melemparkan potongan dendeng ketiga. Meterannya naik lebih jauh hingga mencapai titik tengah. Potongan dendeng pertama menaikkannya hingga 30 persen, dan dua potongan berikutnya masing-masing menambah 10 persen. Yui seharusnya masih punya satu potong dendeng, ditambah masing-masing dua potong dari Liz dan Leafa, yang mana seharusnya pas untuk memenuhi meteran itu.
Memercayai perhitunganku, aku terus melemparkan daging kering itu kepada si macan kumbang. Namun untuk setiap porsi meteran penjinak binatang yang berhasil kami naikkan, HP kami juga terus menyusut. Di level 13, aku memiliki total HP yang lebih banyak daripada yang lain, yang baru berada di sekitar level 4 atau level 5. Aku bisa melihat pada indikator party di bawah batang HP-ku bahwa kesehatan mereka sudah merosot di bawah titik separuh.
Cepatlah, cepatlah, doaku dalam hati. Namun aku punya firasat bahwa timing pemberian umpan makanan adalah kunci kesuksesan penjinakan binatang di gim ini: Tunggu sampai monster itu selesai makan agar meterannya sedang naik saat kau memberinya potongan makanan berikutnya. Jika terlalu cepat atau terlalu lambat, trik ini takkan mempan.
Setelah aku memberikan potongan dendeng kedua milik Yui pada macan kumbang itu, disusul kedua potongan milik Liz, meteran penjinak binatang telah terisi sekitar 80 persen. Asuna hanya menghabiskan tiga potong daging beruang untuk menjinakkan Aga, jadi macan kumbang ini jelas jauh lebih sulit ditundukkan. Entah itu karena kami memberinya daging kering alih-alih daging segar, atau karena level macan kumbang ini jauh lebih tinggi.
"Leafa."
"Oke."
Ia meletakkan potongan daging kesembilan di telapak tanganku, dan aku pun melemparkannya. Macan kumbang itu langsung melahapnya, mendongkrak meteran hingga 90 persen. 
"Leafa."
"Sudah habis."
"......Hah?"
Aku berputar menghadap adik perempuanku, yang siluetnya nyaris tak bisa kulihat di tengah kegelapan ini.
"Apa maksudmu sudah habis? Asuna membagikan kita masing-masing tiga potong! Dan kita sudah memakan satu potong saat berhenti istirahat tadi, jadi harusnya kita masing-masing masih punya dua..."
"Sebenarnya aku makan dua potong."
"Hah?!"
"Habisnya aku tak tahan! Aku kelaparan!"
"Apa...?"
Aku terperangah, tetapi nasi telah menjadi bubur. Sudah terlambat juga untuk kembali dan memungut semua daging hiena yang kami tinggalkan tadi. Lagipula, aku punya firasat bahwa macan kumbang ini takkan sudi memakan daging berbau busuk mengerikan semacam itu. 
Meteran penjinak binatang sang macan kumbang kini bergetar bimbang di kisaran 90 persen. Jika kami tak bertindak dan meteran itu mulai menyusut, seluruh upaya dan persediaan kami akan menguap sia-sia.
Kudengar Yui merintih, "Papa... HP-ku..."
"Yui," gumamku, menjatuhkan obor yang padam dan menarik putriku mendekat agar aku bisa mendekapnya dalam pelukanku. Bahkan dari balik zirahnya sekalipun, aku bisa merasakan tubuhnya sedingin es dan menggigil hebat. Batang HP-nya telah menyusut hingga nyaris menyentuh angka 10 persen pada titik ini. Aku tak bisa membiarkannya mati membeku begitu saja.
Tekadku sudah bulat. Aku merayap maju inci demi inci seraya mendekap Yui. Semakin jauh dari pintu masuk memang mengurangi rasa dinginnya, tetapi sang macan kumbang hitam kembali mulai menggeram. Meteran penjinak binatang, yang masih bergetar bimbang, mulai bergeser ke tren negatif.
Tak ada makanan tersisa untuk diberikan. Namun makanan pasti bukanlah satu-satunya cara untuk menaikkan meteran itu.
"Kau tak perlu takut... aku bukan musuhmu," bisikku pada binatang buas itu seraya mendekat. Geraman sang macan kumbang semakin keras, tetapi untuk saat ini ia tak melarikan diri maupun menyerang.
Aku memangkas jarak hingga enam kaki... tiga kaki... dua kaki. Pada jarak sedekat ini, aku akhirnya bisa melihat siluet makhluk tersebut. Kepalanya merendah, siap menerkam kapan saja. Meteran penjinak binatang telah merosot ke angka 80 persen.
Bersiap menanggung risiko tanganku digigit hingga putus, aku mengulurkan tanganku. Saat aku menyentuh leher kekar macan kumbang itu, tubuhnya tersentak.
"Nah, begitu. Anak baik..."
Aku membelai bulunya yang mewah dengan ujung jariku. Geramannya tak kunjung berhenti. Meterannya masih terus menurun, sedikit demi sedikit. Namun jika aku menunjukkan sedikit saja rasa takut sekarang, macan kumbang itu pasti akan langsung menyerang. Aku terus mengelusnya dengan tangan kananku, seraya mendekap Yui di tangan kiriku.
Otot-otot sang macan kumbang menegang, mengendur, lalu menegang lagi.
"Grrr... rrrrr..."
Seiring geramannya yang semakin memelan, kepala macan kumbang itu pun ikut merendah.
Apakah ini pertanda serangan yang akan segera datang, ataukah hal lain?
"Rrrr... grorrr..."
Gemuruh konstan di tenggorokan kucing raksasa itu sedikit berubah. Kini suaranya lebih terdengar seperti dengkuran bergelombang, layaknya versi raksasa dari kucing peliharaan yang sedang mendengkur manja (purring).
Pada akhirnya, otot lehernya yang kekar mengendur, dan meteran penjinak binatang berhenti menurun lalu mulai merangkak naik sekali lagi.
Macan kumbang hitam itu berguling ke sisinya dan membiarkanku mengelusnya.
Meteran itu menyentuh angka 80 persen lalu melampaui 90.
"Nah, begitu... Anak baik...," bisikku, mengulurkan tanganku yang lain ke belakang. Leafa telah menyaksikan proses penjinakan Aga dan tahu ia harus menyodorkan seutas tali dari rumput ubiquigrass kepadaku.
Dengan kelambatan yang menyebalkan, meteran penjinak binatang itu akhirnya terisi penuh, dan saat itulah aku melingkarkan ujung rumput itu di sekeliling leher sang macan kumbang untuk membentuk sebuah lingkaran. Dengan jari-jari yang menegang, aku mengikatnya erat, dan tubuh kucing besar itu berkilat, memunculkan lingkaran hijau di atas kepalanya.
Di bawah batang HP berbentuk cincin itu terdapat nama spesiesnya: Lapispine Dark Panther. Ada juga pesan yang muncul untukku: Skill Domestication (Domestikasi) diperoleh. Kemahiran telah naik ke angka 1.
Jadi ini dark panther (macan kumbang gelap), bukan black panther (macan kumbang hitam). Oke. Tapi apa maksudnya lapispine? tanyaku dalam hati, meskipun tak ada waktu untuk memikirkan hal itu sekarang.
Aku berseru "Berkumpullah di sekeliling macan kumbangnya!" kepada Leafa dan Lisbeth, lalu merapatkan Yui ke leher binatang buas itu. Gadis-gadis yang lain menyandarkan diri mereka pada bulu tebal nan lembut di perutnya.
Suhu tubuh kucing itu begitu tinggi, dan kehangatannya merekah menembus kulitku yang nyaris membeku. Aku mengembuskan napas lega. HP-ku berhenti menyusut, dan ikon Debuff pembekuan pun menghilang. 
Partikel-partikel es masih terus mengalir masuk dari arah pintu masuk, tetapi tak mencapai bagian terdalam dari gua kecil ini.
Merasa aman pada akhirnya, aku melontarkan pertanyaan yang tak tertuju pada siapa pun secara khusus.
"...Apa artinya lapispine? Mirip usus (intestine) gitu?"
Leafa mengelus bagian kebiruan di punggung macan kumbang itu dan menjawab, "Mungkin karena bercak biru lapis (lapis-blue) di tulang belakangnya (spine) ini, kan?"
"Oh... lapis spine..."
Lisbeth bertanya, "Jadi mau kita panggil apa dia?"
"Hmm? Yah... warnanya hitam (kuro dalam bahasa Jepang), jadi namanya harusnya Kuro," ujarku setelah dua detik mempertimbangkan dengan cepat.
Leafa dan Liz berseru "Bosanin banget!" secara serempak.
Namun Yui menimpali, "Itu sederhana dan bagus kok."
Aku memutuskan untuk bertanya pada makhluk yang bersangkutan.
"Itu nama yang bagus kan, Kuro?"
Macan kumbang hitam itu menyahut, "Graar!"
Ilustrasi Kuro, Hewan Peliharaan Baru Kirito.

Komentar (0)

Memuat komentar...