Sword Art Online 023: Unital Ring II
Bagian 8
Estimasi waktu baca: 46 menitPemandangan cahaya rembulan pucat yang menyinari dataran putih berlapis es itu begitu memukau hingga membuatku tak sanggup berkata-kata, sekalipun aku sadar ini semua hanyalah hasil rendering (rekaan) virtual. Adalah anggota party terbaru kami, Kuro sang lapispine dark panther, yang menyadarkanku kembali ke alam realita lewat sundulan kepalanya di pinggangku."Rrrr...," dengkurnya, menyuruhku untuk segera bergerak.Aku menggaruk lehernya dan membalas, "Ide bagus. Kita sudah hampir sampai di desa Bashin."Kenyataannya, desa itu bukanlah tujuan akhir kami. Kami akan meminta informasi kepada mereka tentang kaum manusia burung yang ditemui Sinon, dan setelahnya kami harus melanjutkan perjalanan dari sana. Jika kami bisa bertemu dengan Sinon sebelum tengah malam, itu mungkin adalah hasil terbaik yang bisa kami harapkan.Berkat badai es tadi, monster-monster kecil telah menyingkir dari jalan, jadi sebaiknya kami berlari sejauh mungkin selagi situasinya masih aman. Aku baru saja hendak memberikan aba-aba untuk berangkat ketika Lisbeth memotong perkataanku."Soal itu, Kirito.""Soal apa... kaum Bashin?""Ya. Kau ingat saat aku bilang kalau aku, Silica, dan Yui sempat makan di tenda besar kaum Bashin? Yah... mereka menggelar banyak permadani bulu di tanah di dalam sana.""Lalu...?""Aku cukup yakin melihat salah satunya yang merupakan campuran warna hitam dan biru...""..."Aku mengalihkan pandangan dari Liz ke punggung Kuro. Bulu hitamnya yang berkilau memiliki semburat biru cerah yang membentang di sepanjang tulang belakangnya, persis seperti yang dideskripsikan oleh nama spesiesnya.Yui sudah telanjur jatuh hati pada Kuro. Ia menepuk-nepuk punggungnya dan menambahkan, "Benar, ada permadani di sudut tenda dengan susunan warna seperti ini. Tingkat kecocokannya dengan bulu Kuro mencapai sembilan puluh sembilan persen."Jika Yui yang mengatakannya, maka ingatan yang keliru sama sekali bukan faktor penyebab. Hal itu tak menyisakan keraguan bahwa kaum Bashin memang memburu lapispine dark panther di sabana ini.Entah benar atau tidak, dalam gim normal, seorang NPC takkan pernah menyerang monster peliharaan milik pemain. Kendati demikian, tidak ada jaminan sistemnya akan bekerja dengan cara yang sama di Unital Ring."Hmm. Kalau begitu, bagaimana kalau kau menunggu bersama Kuro di luar desa supaya kami bisa pergi dan mengumpulkan informasi di dalam?" usul Leafa.Itu adalah ide yang logis, dan aku baru saja mau menambahkan agar mereka membawakan makanan untukku juga, kalau-kalau mereka diberi makan.Namun kemudian Yui kembali angkat bicara."Sebenarnya, Papa, kita mungkin tak perlu masuk ke desa itu sama sekali.""Hah? Apa maksudmu?""Badai tadi memiliki cakupan yang cukup besar. Jika Sinon menghadapi badai yang sama, ada kemungkinan dia berada di sisi seberang sabana.""...Begitu ya. Benar juga... Tapi bagaimana cara kita menghubungi Sinon, kalau begitu? Dia belum terdaftar sebagai teman atau anggota party, jadi kita tak bisa mengirim pesan," ujarku.Yui tersenyum lebar."Kenapa Papa harus menghubunginya di dalam Unital Ring? Kenapa tidak di dunia nyata saja?"
Mengikuti saran putriku, aku melakukan log out dan duduk tegak. Berpindah dari dataran putih sedingin es ke kamarku di dunia nyata sempat membuatku pusing sesaat, hingga aku menoleh ke sisiku. Di sisi kiri tempat tidur tampak Suguha, mengenakan AmuSphere-nya dan terlihat tak berdaya layaknya orang tertidur... namun tentu saja, ia tidak sedang tidur.Suguha saat ini tengah berada di dunia virtual yang jauh, melindungi avatarku. Kami tahu tak ada musuh dalam jarak pandang, tetapi selalu ada kemungkinan munculnya monster berbahaya secara tiba-tiba, jadi aku harus bergegas.Aku mengangkat jendela bidik (visor) AmuSphere dan menyambar ponselku. Dengan hadirnya Augma, benda ini dengan cepat berubah menjadi gawai yang usang, tetapi aku tetap menggunakannya untuk menelepon Sinon.Ia kemungkinan besar juga sedang berada di tengah-tengah dive UR, tetapi AmuSphere memiliki fitur tautan ke ponsel pintar yang memungkinkanmu untuk menerima panggilan di dalamnya. Berasumsi ia menyalakan fitur tersebut—dan ia tidak sedang berada di tengah pertarungan atau hal lain yang tak kalah penting—seharusnya ia akan menjawab. Aku menunggu dengan sabar selama tiga puluh detik, mendengarkan nada sambungnya."Cepat katakan!" sahutnya sebagai jawaban, langsung pada intinya.Itu jelas suara Sinon, jadi aku mengabulkan permintaannya dengan langsung masuk ke topik pembicaraan."Apa kau sempat terjebak badai es?!""Nyaris mati membeku sekitar dua puluh menit yang lalu.""Jadi kau juga ada di Sabana Giyoru?""Iya, aku sedang menuju tenggara dari arah barat laut.""Mengerti. Kami akan menuju barat laut dari tenggara! Apa ada bentang alam di dekatmu yang bisa dijadikan patokan yang bagus?""Tentu saja ada. Ada dinding alami raksasa yang membentang dari utara ke selatan, kemungkinan menembus tepat di tengah-tengah sabana. Aku masuk ke sebuah gua menembus dinding itu. Di situlah posisiku sekarang.""Gua di dalam dinding...? Ada monster?""Banyak sekali. Aku log out di tempat yang lumayan aman, tapi mereka bisa muncul kapan saja, jadi aku tidak bisa berlama-lama."Ia melakukan hal yang sama persis denganku, tetapi sementara aku memiliki rekan-rekan tim dan hewan peliharaan untuk melindungiku, Sinon benar-benar sendirian. Jika ia diserang saat sedang log out, ia akan mati dalam hitungan detik."Baiklah. Kami akan masuk ke dinding itu dari sisi timur. Bertahanlah sebentar lagi.""Mengerti. Terima kasih."Ia menutup telepon. Aku buru-buru meneguk sedikit air, lalu kembali berbaring di tempat tidur dan menurunkan visor AmuSphere-ku.
Kembali ke dataran yang diterangi temaram rembulan, es mulai mencair selama beberapa menit aku log out. Gadis-gadis meraup sisa es yang ada dan memasukkannya ke dalam kendi air. Belum ada monster yang menampakkan diri di area tersebut."Aku kembali!" seruku seraya bangkit berdiri.Kuro kembali menggosokkan kepalanya padaku. Terlepas dari penampilannya yang garang, ia rupanya sangat manja begitu merasa nyaman denganmu. Setelah memberinya semua sisa dendeng beruang, kami harus segera mencari makanan tambahan.Lisbeth, Leafa, dan Yui berkumpul untuk mendengarkan pesan Sinon."Dinding alami...?" gumam Leafa, menatap jauh ke arah barat laut.Aku pun melakukan hal yang sama, tetapi tak ada apa pun yang terlihat di balik kegelapan cakrawala. Aku mulai khawatir kalau-kalau terjadi kesalahpahaman besar di sini. Namun Sinon telah mempertaruhkan nyawa karakternya demi menyampaikan informasi itu, jadi aku harus memercayainya."Ayo bergegas," ujarku. Gadis-gadis itu mengangguk, dan Kuro mengeluarkan dengusan pelan.Kami berlari melintasi dataran, berpapasan dengan dua kawanan hiena yang sudah tak asing lagi serta satu monster menyerupai bison. Bison itu lumayan merepotkan, tetapi berkat Kuro yang mengalihkan perhatian binatang buas tersebut seraya memamerkan gerakan akrobatik, kami leluasa melancarkan sword skill yang cukup untuk menguras HP-nya. Gadis-gadis yang lain masing-masing naik satu level dari pertarungan itu.Syukurlah, bison itu juga menjatuhkan banyak daging mentah, yang dilahap habis oleh Kuro dengan riang gembira. Kini aku tak perlu khawatir untuk sementara waktu akan pudarnya efek penjinakan akibat kelaparan.Tak ada lagi perjumpaan dengan monster setelah titik itu. Tiga puluh menit perjalanan kemudian, Yui menunjuk ke depan dan berseru, "Aku bisa melihat dindingnya!"Aku menghentikan langkah dan menyipitkan mata hingga sebuah permukaan yang menjulang lurus di atas dataran mulai terlihat olehku. Tebing masif itu membentang dari utara ke selatan, dan skalanya mengingatkanku pada Everlasting Walls (Tembok Abadi) dari Underworld."Dan di suatu tempat di sana ada gua tempat Sinon menunggu?" tanya Lisbeth.Memang benar, tetapi semakin kupikirkan, akan semakin sulit rasanya mencari satu mulut gua kecil di permukaan yang panjangnya bermil-mil. Ditambah lagi, tak ada jaminan hanya ada satu gua di sana. Aku berpikir keras, berusaha agar tak panik menghadapi tugas di depan mata ini."...Papa, ini mungkin tidak adil, tapi aku akan meningkatkan penglihatanku untuk mencari gua itu," umum Yui, dengan sepasang matanya yang membelalak.Dari kami berempat, Lisbeth, Leafa, dan aku menggunakan otak kami untuk "melihat" informasi visual yang disajikan oleh AmuSphere, tetapi sebagai sebuah AI, Yui bisa memproses tingkat kecerahan dan kontras dari detail-detail tersebut sesuka hatinya. Aku tak ingin memperlakukannya layaknya alat perangkat lunak yang praktis, tetapi kami harus segera bertemu dengan Sinon.Lagipula, seandainya pun kami melanjutkan perjalanan ke desa Bashin seperti rencana awal, aku juga akan memintanya menjadi penerjemah bagi kami di sana. Suka atau tidak, aku tetap membutuhkan bantuan Yui."Aku akan sangat menghargainya," gumamku. Yui menatapku sekilas, tersenyum, lalu kembali berbalik untuk berkonsentrasi. Beberapa detik kemudian, ia menunjuk ke sebuah titik di depan kami."Aku menemukannya! Ada tangga dan pintu masuk gua di arah ini!""Terima kasih, Yui!" seru Leafa seraya memeluk gadis kecil itu. Liz juga ikut mengelus kepalanya.Dari sini, tak ada cara untuk mengetahui seberapa tebal dinding tebing itu, tetapi aku tak bisa membayangkan ketebalannya akan mencapai bermil-mil. Sekalipun gua itu membentuk sebuah dungeon (labirin/ruang bawah tanah), ukurannya takkan sebesar itu.Bertahanlah sedikit lagi, Sinon! ujarku dalam hati seraya mulai berlari ke arah yang ditunjuk oleh Yui.
Tebing samar di kejauhan itu tampak semakin kokoh seiring kami mendekat, dan begitu kami berada di kakinya, ukurannya membuat kami tak sanggup berkata-kata. Tinggi tebing itu sekitar 150 kaki, dan meskipun ada celah elevasi yang lebih lebar di Alfheim, jarak yang dibentangi dinding ini teramat luas.Satu garis tebing vertikal utuh yang membentang dari satu ujung cakrawala ke ujung lainnya adalah jenis hal yang biasanya tampak seperti desain level yang malas (lazy level-design) dalam sebuah gim, tetapi entah mengapa, di dunia Unital Ring, hal itu terasa seperti sebuah keajaiban alam yang sesungguhnya.Permukaan batunya yang gelap terasa keras dan mulus; tak mungkin memanjatnya dengan tangan kosong. Mungkin saja membuat tangga untuk disandarkan ke sana, tetapi tak ada pohon atau tanaman rambat di sekitar sini yang bisa dipanen sebagai material. Kami harus menggunakan tangga yang dilihat Yui.Anak-anak tangga itu dipahat hanya dengan lebar ruang satu kaki di sepanjang permukaan tebing, tanpa ada pegangan apa pun. Jaraknya nyaris seratus kaki untuk mencapai pintu masuk gua, jadi satu salah langkah saja sudah pasti berarti kematian. Aku ingin memasang tali panduan di dinding, tetapi lebih dari satu jam telah berlalu sejak aku menghubungi Sinon, dan kami tak bisa membiarkannya menunggu lebih lama lagi."Kuro, apa kau bisa naik tangga ini?" tanyaku.Macan kumbang hitam itu menggeram, lalu melompat sepuluh kaki menaiki anak tangga tanpa rasa takut sedikit pun. Ia bahkan mengibaskan ekornya dengan penuh semangat.Yah, tak elok rasanya kalau sang majikan malah gentar menghadapi tantangan ini sekarang."Oke... aku naik," umumku.Di belakangku, Lisbeth mendengus. "Ayo dong—cepatlah sedikit."Syukurlah, kami mencapai puncak tanpa insiden apa pun, tetapi kami tak berani bersantai sampai kami semua berada di dalam mulut gua yang menganga di ujung sana. Tangga itu adalah buatan manusia, jadi kupikir gua ini juga sama, tetapi kelihatannya gua ini terbentuk secara alami.Berarti seseorang telah memahat anak-anak tangga dari tebing tersebut demi mencapai lubang yang menganga di tengah-tengah dinding itu. Pelakunya pasti seorang NPC, bukan pemain, tentu saja. Namun apakah itu kaum Bashin atau pihak lain? Tak ada cara untuk mengetahuinya.Bagaimanapun juga, ini adalah dungeon pertama yang layak dijelajahi sejak konversi paksa kami kemarin. Aku ragu ada pemain lain yang pernah masuk ke sini sebelum kami, jadi material atau peti harta karun apa pun—jika memang ada—akan tersedia untuk diambil. Hal itu membuatku ingin memetakan setiap jengkal tempat ini, tetapi bertemu dengan Sinon adalah prioritas utama kami.Kami telah berlari jauh untuk sampai ke sini, jadi batang SP-ku berada di bawah 60 persen, dan TP-ku di bawah 50. Kami punya banyak air minum, tetapi satu-satunya makanan yang ada hanyalah daging bison mentah. Untuk saat ini, aku memutuskan untuk minum sedikit cairan dan memberi Kuro daging serta air, lalu kami bisa makan sesuatu setelah menemukan Sinon."Ini semacam party yang tak ortodoks, jadi menurutmu bagaimana kita akan mengambil formasi?" tanya Leafa setelah ia menyimpan kendi airnya.Aku menimbangnya sejenak lalu menjawab, "Aku dan Kuro di depan, Liz dan Yui di tengah, dan kau jaga barisan belakang, Leafa. Yui dan aku bisa memegang obornya."Lisbeth memasang raut wajah seolah ingin mengatakan sesuatu. Ia satu-satunya yang membawa perisai, jadi ia kemungkinan ingin berdiri di depan untuk berperan sebagai tank, tetapi aku ingin ia lebih fokus melindungi Yui. Syukurlah, ia memahami maksudku dan tidak mendebat."Baiklah, kita bertukar posisi begitu situasinya memburuk.""Terima kasih. Aku mengandalkanmu."Dan dengan demikian, kami pun mengambil formasi 2-2-1.Di kalangan pemain VRMMO, ada kecenderungan untuk berpikir bahwa akan ada banyak waktu untuk mengambil formasi begitu pertarungan dimulai, dan berbaris rapi saat kau hanya sedang berpindah tempat itu konyol dan tidak keren.Aku mungkin akan menyetujui pendapat itu sembilan puluh sembilan kali dari seratus kesempatan, tetapi di Aincrad, hanya butuh satu momen kecerobohan untuk berujung pada tragedi—terutama di dalam dungeon, di mana situasinya sempit dan kacau. Bahkan sekarang, saat kami tak lagi berada dalam gim kematian (death game), aku cenderung bersikap sangat teliti soal formasi pertarungan."Beri tahu aku kalau kau menyadari ada monster," bisikku pada Kuro, seraya menggaruk lehernya.Macan kumbang itu menjawab, "Graar."Sinon bilang ada "banyak sekali" monster saat di telepon tadi, dan ternyata itu bukanlah bualan belaka. Ada begitu banyak monster tipe amfibi berlendir di gua yang lembap ini, dan mereka terus-menerus membuat kami sibuk bertahan.Untungnya, kemampuan pencarian tingkat lanjut Kuro memungkinkannya menggeram memberi peringatan sebelum kami melihat musuh, dan kami pun mampu membalas serangan mereka semua dengan mudah. Bahkan Yui memamerkan hasil latihannya bersama Alice. Ia bertarung dengan gagah berani menggunakan pedang pendeknya, membuktikan bahwa aku terlalu mencemaskannya.Kami terus maju menyusuri gua, membasmi kadal air raksasa (giant newt), sesilia tak berkaki (legless caecilian), dan axolotl. Sayangnya, kami tak menjumpai satu pun peti harta karun, tetapi ada lumayan banyak urat bijih besi dan perunggu, jadi kami menimbun segala hal yang bisa kami temukan.Setelah dua puluh menit, aku mulai mencemaskan SP-ku, tetapi aku juga tak sudi melahap kadal air mentah. Dari barisan belakang, Leafa berujar, "Agak aneh, tidak menurutmu?""Apanya yang aneh?""Kita berhadapan dengan semua amfibi ini, dan ada banyak sekali kadal air dan salamander, tapi belum ada satu pun—"Blaaaam!Terdengar suara gema kering dari kejauhan yang berasal dari bagian dalam gua, membuat Leafa menghentikan kalimatnya di tengah jalan.Aku belum pernah mendengar suara spesifik itu sekalipun di dungeon ini—maupun di Unital Ring sama sekali. Kuro berhenti, berjengit, lalu mulai menggeram. Itu pastilah suara ledakan mesiu: tembakan senapan."Itu Sinon!" seruku, berusaha agar tak membuat terlalu banyak suara, lalu menoleh dari balik bahuku."Yui, apa kau bisa memastikan dari arah mana suara itu berasal?"English Text: “I’m analyzing the echoes…It came from a hallway ahead and to the right!” she stated. I thanked her and picked up my pace. At the next fork, we went right and followed the tunnel as it curved and descended somewhat. Terjemahan Bahasa Indonesia:"Aku sedang menganalisis gemanya... Suaranya datang dari lorong di depan dan di sebelah kanan!" nyatanya.Aku berterima kasih padanya dan mempercepat langkahku. Di percabangan berikutnya, kami mengambil arah kanan dan menyusuri terowongan saat jalurnya sedikit melengkung dan menurun.Tiba-tiba, gua melebar di depan. Kami berada di dekat puncak sebuah rongga berkubah raksasa. Ukurannya pasti hampir lima puluh yard. Jarak itu jauh melebihi kemampuan pencahayaan obor, tetapi aku bisa melihat ukuran keseluruhan kubah tersebut berkat sejenis lumut bercahaya yang tumbuh di dinding-dindingnya.Sebuah jalan setapak sempit yang menurun membentang dari lokasi kami di sepanjang dinding menuju dasar kubah. Dasarnya terbagi antara bebatuan lembap dan air yang gelap, dan di atas sebuah batu besar di tengah-tengahnya tampak sesosok siluet manusia.Sosok itu mengenakan setelan zirah ketat dan syal (muffler) putih. Di lengannya terdapat sesuatu yang menyerupai tongkat panjang—sebuah senapan. Tak mungkin ada penembak (gunner) lain di sini secara kebetulan. Kami akhirnya menemukannya."Si—," aku baru saja mulai memanggil namun menelan kembali suaraku.Di belakang sang penembak terdapat lebih banyak sosok humanoid (menyerupai manusia). Namun meskipun mereka berdiri tegak, mereka bukanlah manusia. Moncong runcing, telinga bulat besar... Kepala mereka jelas-jelas kepala tikus. Mereka membawa senjata yang tampak seperti garpu rumput. Ekor kecil mereka bergoyang saat mereka bergerak maju mendekati sang penembak. Ada dua... tidak, tiga dari mereka."Sinon, di belakangmu!!" seruku, menuruni anak tangga di sisi kubah secepat yang kubisa. Kuro dan yang lainnya mengikuti rapat di belakangku.Sang penembak, Sinon, mendongak lalu menoleh ke belakangnya. Jarak yang memisahkannya dari para manusia tikus itu tak lebih dari lima belas kaki. Ia bisa menembak salah satu dari mereka, tetapi dua lainnya akan menusuknya dengan senjata mereka."Ryaaa!" Aku melompat dari pertengahan jalan setapak ke dalam genangan air yang dangkal. Lompatan itu menciptakan cipratan besar dan merenggut sedikit HP-ku, tetapi aku tak peduli.Aku menarik lenganku ke belakang, bersiap melempar oborku ke arah manusia tikus yang paling dekat dengan Sinon."Jangan, Kirito! Mereka bukan musuh!" Kudengar ia berseru, dan aku buru-buru menyesuaikan cengkeramanku pada obor.Sang macan kumbang baru saja akan menerkam salah satu dari mereka yang lain, jadi aku memerintahkannya, "Kuro, berhenti!"Macan kumbang itu mengerem mendadak, dan ketiga manusia tikus itu memekik "אאא!" lalu mundur menjauh ke arah dinding. Ada mulut lorong lain di sana, berbeda dari jalan tempat kami masuk tadi.Mataku bersirobok dengan mata Sinon saat ia berdiri di atas batu besar. Ia memiliki rambut biru muda yang ujungnya sedikit meruncing, dan mata tajam layaknya kucing—itu tak diragukan lagi adalah Sinon. Namun senapan yang dipegangnya terlihat sangat kuno dan sama sekali tidak mirip dengan senjata andalannya, PGM Ultima Ratio Hecate II. Berasumsi bahwa Hecate melampaui batas Equip Weight-nya, sama halnya seperti Blárkveld dan Excalibur-ku, dari mana ia mendapatkan senapan ini? Namun hal itu tak penting sekarang."Kalau para manusia tikus ini bukan musuh, lantas siapa yang sedang kau lawan, Sinon?!" tuntutku saat Lisbeth, Yui, dan Leafa mencapai dasar kubah. Ekspresi Sinon melembut saat melihat mereka berlari menerjang genangan air, tetapi itu tak berlangsung lama."Cepat keluar dari air, semuanya!" serunya."Lebih baik naik ke atas bebatuan yang tinggi!"Nadanya tak menyisakan ruang untuk bantahan, jadi aku menahan pertanyaanku untuk nanti dan mulai memanjat batu besar di dekatku. Namun sebelum aku bisa naik, aku mendengar suara cipratan air di dekatku.Sesuatu sedang mendekat dari bawah air dengan kecepatan luar biasa. Tak ada waktu untuk menghindarinya; sesuatu menghantam pergelangan kaki kananku. Aku digigit—bukan, dicengkeram?Tiba-tiba, kakiku disentak ke samping, dan aku jatuh tercebur ke dalam air. Obor terlempar dari tanganku dan padam. Dengan pedang di tangan kananku, aku mencoba memutus benda mirip tali yang melilit pergelangan kakiku, tetapi aku tak bisa menjangkaunya. Benda itu akan menyeretku ke kedalaman—"Growwr!" Kuro menggeram dan terjun menyelam ke dalam air, lalu muncul kembali dengan menjepit benda yang menarikku itu di taringnya.Benda itu bukan tali. Melainkan semacam tentakel merah muda berlendir."Kakak!"Leafa mengangkat katananya dan mengaktifkan Sonic Leap.Sywaa!Ia membelah permukaan air menjadi dua. Itu adalah serangan dengan dorongan yang sempurna, dieksekusi dengan skill luar biasa berkat keahlian berpedangnya di dunia nyata. Bilah hijau yang bercahaya itu menghantam tentakel yang ditarik Kuro—namun tidak memutusnya.Katana baja buatan Lisbeth itu amblas beberapa inci ke dalam tentakel merah muda itu, tetapi terhenti di sana. Anggota tubuh mirip karet itu bergetar lentur dan memantul kembali."Aaaah!""Grrarp?!"Hantaman itu melemparkan Leafa dan Kuro mundur bersamaan diiringi cipratan air yang besar. Namun serangan mereka membuahkan hasil, karena tentakel itu melepaskan pergelangan kakiku dan kembali tenggelam ke perairan yang lebih dalam.Aku membantu Leafa berdiri dan kali ini naik ke atas batu sepenuhnya. Yui dan Lisbeth mundur ke bebatuan yang berbeda, dan Kuro melompat ke sebelahku dalam satu lompatan."Apa itu tadi, Sinon?!" tanyaku terengah.Sang penembak mengacungkan senapan kunonya dan menjawab, "Dia akan segera muncul dari air! Buka mata kalian lebar-lebar. Gerakannya cepat!"Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutnya, terdengar cipratan keras, dan sesosok bayangan gelap melompat keluar dari air di sisi seberang kolam. Ukurannya besar, panjangnya sekitar enam kaki... dan jika kaki-kakinya yang teramat panjang dan kuat itu direntangkan, tubuhnya bisa terulur hingga dua kali lipat panjang tersebut. Sementara itu, kaki depannya lemah dan kecil, dan kepalanya menyatu dengan bagian batang tubuhnya.Makhluk raksasa itu melompat dari satu genangan ke genangan lain dengan kecepatan yang memusingkan, lalu mendarat dan menempel pada dinding kubah. Lisbeth, Yui, Leafa, dan aku meneriakkan kata yang sama secara serempak."Katak!!"Mengesampingkan ukurannya, segala sesuatu tentang monster itu benar-benar menyerupai katak tulen. Ia memiliki sepasang mata besar yang melotot dan batang tubuh berbentuk wajik. Kaki-kakinya terlipat di bagian tengah dan berujung pada jari-jari panjang yang melebar, tampak seperti alat pengisap (sucker).Akhirnya, aku mengerti apa yang coba dikatakan Leafa sebelum kami mendengar suara tembakan tadi. Kami telah melihat banyak kadal air dan salamander—namun tak ada satu pun katak."Hei, beruntung sekali kau. Ini dia katak yang kau inginkan," ujarku, menatap ke arah amfibi ikonik yang menempel di dinding itu."Aku tidak ingin ada katak." Leafa cemberut."Apalagi yang ukurannya raksasa begini...""Pasti dia bos dari gua ini..."Aku tak sekadar menebak-nebak soal itu. Aku telah menerima serangan tentakel di kaki kananku, jadi aku bisa melihat kursor berbentuk cincin di atas kepala katak raksasa tersebut. Nama individunya adalah Goliath Rana. Seluruh monster yang kami temui sebelumnya, termasuk Kuro, memiliki nama deskriptif dalam bahasa Jepang, tetapi yang satu ini menggunakan bahasa Inggris, yang mana kuasumsikan pasti memiliki suatu arti. Dengan asumsi itu benar-benar bahasa Inggris, tentu saja."...Goliath berarti 'raksasa', kan? Apa itu rana?" gumamku.Yui menjawab, "Seingatku itu adalah nama famili dari katak sejati. Di Jepang, mereka diklasifikasikan sebagai katak merah."Benar saja, tubuh katak raksasa itu berwarna merah tua, dan matanya berkedip-kedip layaknya nyala api.Sepasang mata melotot Goliath Rana mengerjap, dan ia mulai merayap naik ke dinding dengan santai. Semakin tinggi ia memanjat dan semakin curam sudut negatifnya, makhluk itu semakin terlihat seolah tak memiliki bobot dengan cara yang mengerikan, sesosok bayangan seukuran sapi yang menolak untuk jatuh."Bukankah ini saatnya untuk menembaknya, Sinon?" tanyaku, menyadari bahwa saranku ini kemungkinan tidak diinginkan.Sang penembak tetap menahan senapannya di sisi tubuh tanpa bergeming. Ia menatap ke arah katak itu dan meludah, "Aku sudah menembaknya beberapa kali. Tapi punggungnya terlalu keras untuk ditembus peluru musket ini."Berkat The Three Musketeers dan kisah-kisah semacamnya, aku tahu bahwa musket adalah jenis senapan kuno. Namun kau tak bisa menyebutnya "rifle" (senapan laras panjang berulir), karena tak ada ulir (rifling) di bagian dalam larasnya. Hal ini membuatku bertanya-tanya dari mana ia mendapatkan benda semacam itu, tetapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengajukan pertanyaan yang tidak relevan."...Apa kau bisa menembakkan Hecate kalau dibantu?" tanyaku penasaran.Ia langsung menepisnya. "Tidak. Kita tak bisa mendapatkan sudut tembaknya saat makhluk itu ada di langit-langit, dan saat di tanah, gerakannya terlalu cepat untuk dibidik.""Poin yang bagus..."Aku masih penasaran dengan para manusia tikus di belakang kami, tetapi selama mereka tidak bersikap memusuhi, aku bisa mencari tahu jawabannya nanti. Inilah saatnya untuk memikirkan cara mengalahkan Goliath Rana."Ingat, Kirito, kelemahan sebagian besar monster tipe katak di Aincrad ada di perutnya," catat Lisbeth, seraya menggenggam gadanya."Benar juga. Mari pancing dia untuk memperlihatkan perutnya sebelum menyerang.""Tapi bagaimana caranya?" tanya Leafa."Ummm..."Tepat pada saat itu, katak raksasa tersebut mencapai puncak tertinggi dari kubah setinggi seratus kaki itu dan menatap lurus ke arah kami dengan matanya yang menyeramkan, dalam posisi yang sepenuhnya terbalik."Itu dia datang!" seru Sinon tepat ketika kaki-kaki katak yang kuat itu melontarkannya dari bebatuan dan meluncur lurus ke arahku dengan kecepatan yang membutakan."Aaaah!"Aku melakukan salto ke belakang murni berdasarkan reaksi instingtif untuk menghindari hantaman tersebut, tetapi batu tempatku berpijak hancur lebur, menghujani tubuhku dengan pecahan batu. Aku hanya kehilangan 3 persen dari HP-ku, tetapi akibatnya bisa jauh lebih buruk seandainya bukan karena zirah logamku. Dan tanpa adanya satupun ramuan (potion) untuk digunakan, akumulasi damage apa pun pada akhirnya akan berakibat fatal.Untungnya, yang lain tidak kehilangan HP sedikit pun. Namun kemudian aku menyadari bahwa aku melupakan sesuatu yang penting. Aku mundur lebih jauh, memanggil ring menu, dan menekan ikon INVITE (Undang) di tab komunikasi, lalu menggeser ke nama Sinon. Ia segera menerimanya, menambahkan sebuah batang indikator baru yang disingkat pada daftar di sudut kiri atas pandanganku.Goliath Rana itu tetap diam di tempat selama sekitar tiga detik setelah hantamannya yang secepat meteor, lalu kembali mulai bergerak. Ia melompat ke dalam genangan air di dekatnya dan menghilang."Naik ke atas batu!" instruksi Sinon, jadi kami kembali melompat ke atas bongkahan batu di dekat kami.Dari sudut mataku, aku menangkap sosok Yui dan Kuro yang sedang memanjat naik, lalu bertanya pada Sinon, "Jadi pola serangannya adalah menyelam ke dalam air, dilanjutkan dengan serangan tentakel, lalu memanjat ke langit-langit dan menukik turun? Cuma dua itu?""Untuk saat ini. Dan itu lidahnya, bukan tentakel.""Oh... itu lebih masuk akal."Jadi saat Goliath Rana itu mencengkeram pergelangan kakiku, ia bukannya mencoba menenggelamkanku melainkan memangsaku. Jika aku hanya punya satu nyawa untuk dijalani di Unital Ring, aku akan mengerahkan segala kemampuanku untuk menghindari kematian dengan cara seperti itu.Setelah cukup lama menunggu di atas bebatuan, kami memancing katak itu keluar dari air lagi, di mana ia kembali mulai memanjat dinding. Kami belum memiliki celah untuk menyerang, tetapi jika kami menghindari serangan tukikannya, setidaknya kami takkan menerima damage besar... Namun itu bukanlah alur pemikiran yang tepat.Masing-masing dari tukikannya menghancurkan satu batu aman untuk berpijak, jadi pada akhirnya kami akan kehilangan pertahanan kami terhadap serangan lidahnya."Liz, Leafa, begitu kita menghindari tukikannya, kita harus menggunakan sword skill sebelum dia bergerak lagi. Cobalah incar bagian bawah tubuhnya untuk membalikkannya.""Oke.""Mengerti.""Sinon, Yui," lanjutku, "serang susulan saat perut katak itu terbuka. Kuro, lindungi Yui.""Siap laksanakan!" "Baik, Papa!" "Grawr!"Aku merasa yakin bahwa kedua gadis itu memahami maksudku, tetapi tak seyakin itu soal si macan kumbang. Ya hanya bisa berharap saja.Anggota tubuh berpenghisap milik katak raksasa itu merayap naik ke dinding batu dengan mudahnya. Sepuluh detik lagi sampai ia kembali mencapai puncak. Bisakah kami menggunakan material yang ada untuk membuat semacam jebakan di tempat ia akan mendarat? Seperti membuat barisan kayu berduri—dengan asumsi hal semacam itu eksis dalam skill Woodworking (Pekerjaan Kayu)..."Kirito!" seru Sinon, mengagetkanku dari lamunan.Goliath Rana itu belum sampai di puncak kubah, tetapi kaki-kakinya menonjol penuh dengan kekuatan yang menegang."Kwah!"Aku melompat mundur dengan putus asa, tepat ketika katak itu melontarkan diri dari dinding. Ia meluluhlantakkan batu besar di depan mataku layaknya bola meriam. Bongkahan batu seukuran kepalan tangan menghantam bahu dan kakiku. Pukulan itu mencekungkan zirah besiku dan menyebabkan kehilangan HP yang cukup kentara. Keparat!Aku mengambil kuda-kuda untuk Rage Spike—sebuah skill tusukan rendah—sebelum aku mendarat. Kau biasanya harus mencondongkan tubuh sejauh mungkin tepat di atas tanah, jadi mengeksekusi gerakan yang tepat selagi masih berada di udara merupakan teknik tingkat tinggi.Pedangku memancarkan kilau biru pucat segera setelah kakiku menjejak genangan air yang dangkal. Sesaat setelah skill itu aktif, aku melompat ke depan, mendorong laju serangannya. Air berbusa ke samping saat aku menerjang leher katak yang tengah tertegun sejenak itu.Tanpa melewatkan satu ketukan pun, Leafa merangsek masuk dari sebelah kanan dan Lisbeth dari sebelah kiri. Mereka menggunakan skill yang menargetkan posisi rendah, sesuai dengan rencana. Dengan serangan sebanyak ini yang terjadi secara bersamaan, tak mungkin kami gagal membalikkan katak itu, tak peduli seberapa besar ukurannya.Namun dalam waktu kurang dari sedetik, rasa percayadiriku berubah menjadi kengerian. Goliath Rana, yang tampak seperti miniatur gunung jika dilihat dari dekat, tiba-tiba memipih, seolah-olah semua tulangnya lenyap begitu saja. Ia meratakan dirinya hingga benar-benar horizontal di atas tanah, menyembunyikan leher dan perutnya.Namun aku tak bisa menghentikan sword skill-ku. Pedangku menghantam moncong katak itu, sementara katana Leafa dan gada Lisbeth menghantam bahunya, dan kulit merah tuanya pun melesak ke dalam.Rasanya seperti mengiris gumpalan karet raksasa. Ujung pedangku amblas ke dalamnya, tetapi aku sama sekali tak merasa sedang memotong apa pun. Kemudian ada daya tolak luar biasa yang mendorong balik hingga mengalahkan daya dorong dari sword skill-ku.Serentak, kami bertiga memekik saat kami terlempar mundur. Tak ada cara untuk bertahan saat tubuhmu terlempar ke udara. Mulut katak itu terbuka. Lidah merah mudanya yang ganas tertarik mundur, menegang, bersiap melesat ke depan layaknya tombak berdaging. Blaaaam!Sebuah raungan dahsyat menerjang gendang telingaku. Sinon telah menembakkan senapan musketnya. Peluru itu membelah lidah sang katak, membuat efek damage berwarna merah tua berhamburan ke mana-mana. Ia kehilangan tak sampai 10 persen HP-nya, tetapi katak itu menguok dan terjengkang ke belakang, mengekspos tenggorokannya yang tampak lunak."Yaaaa!" "Raaaar!"Yui mengeksekusi sword skill Vertical, dan Kuro menerjang, memamerkan taring-taring besarnya. Pedang dan gigi mencabik tenggorokan katak itu dari kedua sisi. Melenyapkan 10 persen lagi dari HP-nya.Serangan serentak Yui dan Kuro mungkin hanya memberikan damage yang tergolong lumayan, tetapi keuntungan sebenarnya adalah serangan itu memperpanjang efek tumbang dari serangan kami. Katak itu mendarat telentang di air, dalam keadaan masih terekspos.Kita harus menambah serangannya! Namun Liz, Leafa, dan aku masih bersusah payah memulihkan diri dari efek knockback. Kaki depan katak yang pendek dan kaki belakangnya yang masif mengepak-ngepak dan meronta, seolah-olah ia akan segera melompat bangkit lagi. Sinon sedang mengisi peluru dan belum bisa menembak lagi.Kombinasi ini sebagian besar adalah produk dari sebuah kebetulan dan kemungkinan takkan bisa diulangi untuk kedua kalinya. Jika kami melewatkan kesempatan untuk memperpanjang rentetan serangan ini, harapan kami untuk menang akan semakin menipis. Aku mengertakkan gigi, berusaha mati-matian untuk menyeimbangkan posisiku. Aku mengulurkan tangan kiriku, mencengkeram udara kosong dengan jari-jariku, tetapi avatarku dengan kejamnya terus saja terjengkang..."Keeee!"Sebuah pekikan bernada tinggi memenuhi udara. Itu bukan suara katak itu, dan tak mungkin berasal dari salah satu dari kami. Apakah itu monster add (tambahan) yang baru ikut campur dalam pertarungan? Namun apa yang kulihat melompat maju ke tengah pertikaian itu sama sekali tidak memiliki sifat amfibi. Sosoknya kecil, mengenakan pakaian sederhana, dan memegang garpu rumput berkarat dengan kedua tangannya—trio manusia tikus yang keberadaannya sudah sepenuhnya lenyap dari benakku.Mereka bergegas menghampiri Goliath Rana yang telentang itu dan menusukkan garpu rumput mereka dalam-dalam ke perut pucatnya."Errrbit!" katak itu mengaum murka, menyentakkan dan mengontraksikan seluruh tubuhnya lalu melompat bangkit lagi layaknya mainan yang diputar pegasnya.Para manusia tikus memekik "אאא!" lalu mundur menjauh ke tepian kubah. Mereka tampaknya bukan partisipan yang konsisten dalam pertarungan ini, jadi mendapatkan sedikit ekstra damage singkat ini merupakan bantuan yang sangat besar. Batang HP katak itu telah turun 40 persen dan berubah dari warna putih menjadi rona yang jauh lebih kuning.Goliath Rana, yang kini telah berdiri tegak, melompat diiringi cipratan air ke arah dinding, di mana ia kembali memanjat. Liz, Leafa, dan aku bergegas bangkit untuk bersiap menghadapi salah satu serangan tukikannya.Setelah rangkaian peristiwa tadi, tampak jelas bahwa pertarungan melawan Goliath Rana ini adalah pertarungan yang sulit untuk mengenai titik lemahnya, tetapi begitu kau berhasil, ada banyak sekali damage yang bisa ditimbulkan. Kami bisa mengalahkannya hanya dengan membalikkannya dua kali lagi—mungkin sekali saja, jika kami beruntung. Namun untuk melakukan itu, kami harus memberikan damage pada mulutnya."Sinon, incar mulutnya!" seruku.Sinon selesai mengisi pelurunya dan membalas, "Mengerti."Kepada Lisbeth, aku menginstruksikan, "Saat dia menukik ke arah kita, pukul kepalanya dengan gadamu! Itu akan membuatmu terpental mundur, tapi itu akan memberi kita kesempatan untuk menyerang lidahnya... kurasa!""Kau pikir?!" raungnya namun segera memulihkan ketenangannya, meremas erat gagang gadanya."Baiklah kalau begitu! Ayo kita lakukan!" Dalam pertarungan menegangkan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, kehadiran seorang moodmaker (pencair suasana) seperti Lisbeth adalah bantuan yang sangat besar. Itu adalah skill personal yang kutahu takkan pernah bisa kutiru."Leafa, Yui, Kuro," lanjutku, "gunakan sword skill terkuat kalian saat kataknya terbalik! Hati-hati saja dengan tendangan kaki belakangnya!""Beres!" "Baik, Papa!" "Grar!"Mereka bertiga sudah bersiap. Aku menoleh sekilas ke arah dinding di belakang kami untuk memberikan satu instruksi terakhir."Kalian juga, bersiaplah untuk melakukan hal yang sama lagi!"Aku berbicara kepada trio manusia tikus itu. Mereka tidak merespons. Tak ada pilihan lain selain memercayai bahwa mereka mengerti, karena aku harus memusatkan perhatianku ke puncak kubah. Goliath Rana sudah berada 70 persen jalan ke atas dinding. Ia bisa menukik ke arah kami kapan saja.Kali ini, aku akan menghindarinya dengan benar, tekadku dalam hati seraya menatap lurus sang katak. Anggota tubuhnya berhenti bergerak. Sepasang matanya yang melotot berubah memerah.Namun pada detik berikutnya, terjadilah sesuatu yang sama sekali di luar dugaanku. Lima atau enam benjolan serupa kutil di punggung Goliath Rana menonjol makin jauh ke luar dan menyemburkan nyala api merah pekat. Semburan itu menyusut dengan cepat namun mempertahankan intensitasnya semenjak saat itu, berkedip-kedip di tempatnya.Aku tak punya waktu untuk mencerna apa yang sedang terjadi sebelum katak itu membuka mulutnya dan mengarahkannya ke dasar kubah. Jaraknya lebih dari tujuh puluh lima kaki. Lidah katak itu memang panjang, tetapi takkan sepanjang itu......Benar, kan?Apa yang muncul di dalam mulutnya yang menganga lebar adalah sebuah lingkaran merah pendar. Terdapat simbol-simbol rumit di dalam polanya."Lingkaran sihir...?!" decakku.Suara Leafa menenggelamkan suaraku, berseru, "Awas, semuanya!"Sebelum kata-kata itu tuntas keluar dari mulutnya, sebuah bola api raksasa termuntahkan dari mulut sang katak. Aku melompat ke arah kanan murni karena insting semata, menyambar Yui, dan terjun ke dalam air di dekat kami.Terdengar suara gemuruh, dan warna merah memenuhi pandanganku. Gelombang panas memanggang punggungku, menguras HP-ku sedikit demi sedikit. Begitu ledakannya mereda, aku bangkit berdiri seraya membopong Yui."Apa kalian semua tidak apa-apa?!"Sinon, Lisbeth, dan Leafa balas mengiakan, dan Kuro menggeram garang. Bola api katak itu telah menguapkan salah satu genangan air tempat ia menghantam dasar kubah, tetapi tak seorang pun yang terkena proyektil itu secara langsung. Para manusia tikus di dekat dinding tampak baik-baik saja, meskipun jelas terguncang oleh kejadian barusan.Di atas sana, Goliath Rana masih berada di titik yang sama, menggembungkan dan mengempiskan tenggorokannya. Tampaknya ia belum akan turun untuk sementara waktu."Katak yang bisa menembakkan api? Sama saja seperti siput yang punya serangan garam...," keluhku.Lisbeth menyahut, "Kau tak bisa asal mengarang peribahasa seolah-olah itu... Eh, sebenarnya masuk akal juga sih."Jadi kemampuan bahasaku masih bisa mempertahankan martabatnya, tetapi kondisi pertarungannya malah semakin memburuk dari sebelumnya. Satu-satunya serangan jarak jauh yang kami miliki hanyalah senapan musket Sinon, jadi jika monster itu terus menembakkan bola api dari langit-langit, pertarungan ini akan semakin lepas dari kendali kami.Kami sebenarnya tidak diwajibkan untuk mengalahkan katak ini. Selama kami bisa kabur ke sisi timur Sabana Giyoru bersama Sinon, kami aman. Namun itu berarti kami harus mendaki jalan setapak yang melandai di sepanjang dinding menuju mulut terowongan, yang berada jauh di atas sana. Dan katak itu jelas takkan membiarkan kami lewat begitu saja.Jalan setapak itu..."...Semuanya, aku akan berlari memanjat sisi dinding dan menggunakan skill lompatan untuk menjatuhkan katak itu ke bawah. Kalian susul dengan serangan sesuai rencana awal!" ujarku, menangkap ide yang baru saja melintas di benakku. Kendati demikian, raut wajah rekan-rekanku tampak cemas."Tapi Kakak juga bakal ikut jatuh bersamanya nanti. Kakak bisa mati kalau jatuh dari ketinggian seperti itu...," ucap Leafa cemas."Aku takkan apa-apa," yakinku padanya."Aku tidak akan menerima damage selama aku mendarat di air yang dalam. Hanya ini satu-satunya cara.""..."Ia bungkam, tetapi kekhawatiran di manik hijaunya tak jua sirna. Sejujurnya, aku sendiri pun tak terlalu yakin bisa mendarat tepat di perairan yang cukup dalam untuk menyelamatkanku.Itu adalah pertaruhan yang nekat, tetapi tepat saat aku menurunkan Yui ke tanah untuk bersiap, ia tiba-tiba berseru, "Jangan, Papa! Biar aku saja yang melakukan bagian itu!"Terkejut, aku pun tergagap, "T-tidak, kau tidak perlu...""Papa memiliki daya serang tertinggi di party ini, jadi Papa seharusnya mengeksekusi serangan susulan pada titik lemahnya, bukan serangan pembuka.""Tapi, Yui, kau kan tidak bisa menggunakan Sonic Leap...""Kalau aku mundur ke dalam terowongan untuk mengambil ancang-ancang lari, aku bisa menjangkaunya dengan Vertical!""Tapi..."Seolah-olah satu-satunya hal yang bisa kulontarkan hanyalah bantahan. Yui menatap lurus ke mataku dan berujar, "Papa, aku tak ingin menghabiskan seumur hidupku hanya sebagai pihak yang selalu dilindungi.""..."Tatapan sungguh-sungguh di matanya mengingatkanku pada Asuna. Dan meskipun tak bisa memastikannya, aku menduga tatapan itu mungkin mirip denganku juga."...Baiklah. Majulah," kataku seraya menurunkannya.Cukup jauh dari kami, Sinon berseru, "Dia bergerak lagi!"Aku menengadah ke arah kubah dan melihat katak raksasa itu merayap secara horizontal. Ia kemungkinan akan menembakkan bola api lagi. Mungkin saja ia akan membidik Yui yang sedang berusaha mendaki lereng.Lisbeth memecah lamunanku. "Biar aku yang pancing agresinya (aggro)! Biarkan saja dia pergi!" Ia memukul perisai bundarnya dengan gada. Efek riak kecil memancar dari perisainya, yang berarti ia pasti telah memperoleh semacam skill provokasi (taunt) di suatu waktu.Goliath Rana itu berhenti bergerak dan mulai berputar arah. "Aku maju!" seru Yui lalu mulai berlari dengan pedang pendek di tangannya. Bahkan aku pun tercengang melihat kecepatannya melompati bebatuan dan genangan air. Ia berbelok di dinding dan mempercepat langkahnya mendaki jalan setapak menuju mulut terowongan.Katak itu memutar bagian atas tubuhnya ke belakang dan membuka mulutnya lebar-lebar. Arahnya memperjelas bahwa ia membidik Lisbeth."Mundur, semuanya!" instruksinya.Aku mundur patuh, dan berseru, "Pastikan kau menghindarinya, Liz!""Percayalah pada kualitas perisaiku!"Apa maksudnya seperti yang kupikirkan? tanyaku dalam hati, tepat pada saat lingkaran sihir merah lainnya muncul di mulut Goliath Rana, memancarkan cahaya terang.Dengan raungan yang menggetarkan udara, binatang buas itu menembakkan proyektil api dari mulutnya. Namun Lisbeth tetap tegak berdiri. Ia mengangkat perisai bundarnya dengan lengan kiri dan menahan gadanya di belakang tubuhnya.Perisai itu terbuat dari ingot baja premium yang ia hasilkan dari melebur Blárkveld. Sesuai dengan tingginya kemahiran Blacksmithing sang pembuatnya, perisai itu pastilah memiliki kualitas pertahanan yang mumpuni. Namun tak mungkin perisai itu bisa menahan serangan api dari bos dungeon tanpa menanggung damage sedikit pun.Kaki kananku menegang, bersiap mendorongku maju untuk bertindak. Namun aku mencengkeram lututku dengan tangan, menahannya agar tetap di tempat. Jika aku melompat maju dan ikut terkena ledakan, aku mungkin takkan siap menyerang katak itu setelah ia jatuh. Aku harus memercayai Liz dan Yui serta membiarkan mereka melakukan apa yang telah mereka tekadkan.Bola api berdiameter delapan belas inci itu menghantam perisainya secara langsung. Serangan itu berkilat, mendistorsi pandangan, mengepulkan nyala api merah dan asap hitam yang menyembunyikan Liz dari pandangan. Aku menutupi wajahku dengan lenganku untuk berlindung dari ledakannya.Di sudut kiri atas, aku melihat batang HP Lisbeth menurun. Terus menyusut... 70, 60, hingga berada di bawah 50 dalam sekejap mata... lalu berhenti di kisaran 40 persen."Liz!" seruku, menengadah.Meringkuk di tengah radius ledakan, Lisbeth mengangkat ibu jarinya untuk meyakinkanku. Ia sebenarnya bisa saja melesat menghindar dan mungkin bertahan melawannya dengan lebih sukses, tetapi ia sengaja menerima hantaman itu demi memastikan serangannya takkan beralih mengincar Yui.Adapun Yui, ia sudah hampir mencapai puncak lereng yang berkelok di sepanjang tepian kubah. Bahkan aku pun akan kesulitan berlari mendaki birai sempit itu tanpa pegangan apa pun. Namun Yui berhasil melakukannya dengan ketenangan yang mengagumkan—bukan karena ia adalah seorang AI, melainkan karena kami telah membesarkannya untuk memiliki hati dan keberanian yang nyata. Begitu ia mencapai ujung jalan setapak, ia melesat ke dalam terowongan untuk memberinya sedikit ruang lari demi mengambil ancang-ancang melompat ke arah katak tersebut."Rrrbit...," Goliath Rana menguok, berbalik agar bisa menghadap ke terowongan.Gawat... Jika ia menyerang dengan lidahnya, ia bisa memukul jatuh Yui saat ia melompat di udara."Sebelah sini!" seru Sinon. Ia mengarahkan senapan musketnya yang sudah terisi penuh pada katak yang menempel di langit-langit kubah lalu segera menarik pelatuknya. Pemantiknya memercikkan bunga api, dan sesaat kemudian, senapan itu menggelegar. Peluru itu menghantam Goliath Rana tepat di matanya."Gribbaaaw!" katak itu memekik, kembali memutar tubuhnya.Lalu sesosok bayangan berpakaian putih melesat keluar dari terowongan. Ia telah menyiagakan pedang pendek di bahu kanannya, rambut hitam panjangnya berkibar di belakangnya. Senjatanya memancarkan pendar biru, tetapi cahayanya berkedip-kedip. Mengeksekusi sword skill di udara saat kuda-kudamu tak kokoh pastilah sangat sulit bagi Yui, yang belum pernah berlatih melakukan hal itu, tetapi ia berhasil mempertahankan pendar efeknya sejauh ini."Yaaaa!" Pekik pertarungannya yang garang mencapai kami di dasar kubah. Begitu kaki kanannya terayun ke udara, Yui mengaktifkan Vertical. Sistem gim mendorong tubuh mungilnya, melontarkannya ke depan dan meninggalkan tebasan brilian di udara.Ujung pedangnya mengunci target pada sisi tubuh sang katak. Walaupun tidak menembus kulitnya, daya kejut dari serangan itu melepaskan alat penghisap di jari-jari kaki katak tersebut dari dinding. Kulit katak yang kenyal bak karet memantulkan Yui ke belakang. Katak itu pun menyusul di belakangnya, jatuh dari langit-langit seraya mengayun-ayunkan kaki-kakinya dengan liar di udara.
Jika ia mendarat di air, semuanya akan baik-baik saja. Namun jika ia menghantam batu, ia akan mati. Jika aku bergegas menangkapnya, aku takkan ada di sana untuk menyerang katak itu tepat waktu.Ini adalah dilema terbesar sejak pertarungan dimulai. Namun kemudian aku mendengar suara yang asing—namun entah mengapa terasa tak asing."Biar aku yang tangkap Yuippe!"Terima kasih, siapa pun kau! batinku seraya mengambil kuda-kuda untuk Sharp Nail, serangan tiga-tahap yang merupakan serangan terkuat yang bisa kueksekusi saat ini. Di sebelahku, Leafa menyiagakan jurus yang sama, dan Lisbeth memulihkan diri dari dampak bola api tadi dengan gada di tangannya. Sinon memegang senapan laser kecil alih-alih musketnya, dan Kuro memamerkan taring-taring tajamnya.Goliath Rana jatuh dengan perut menghadap ke atas menimpa salah satu pilar batu lalu memantul tinggi. Saat ia mendarat untuk kedua kalinya, aku berseru, "Sekarang!"Leafa, Lisbeth, Kuro, dan aku menghantam perut katak yang tak berdaya itu dari segala sisi dengan pedang, gada, dan gigi.Batang HP-nya seketika anjlok drastis, merosot hingga di bawah 20 persen. Kami berempat menarik diri mundur, dan para manusia tikus memekik saat mereka merangsek maju, menusuknya dengan garpu rumput mereka. Tersisa sepuluh persen.Aku berjuang menahan jeda (delay) dari sword skill, berusaha memberikannya satu ayunan biasa saja untuk mengalahkan katak itu selamanya. Namun sesaat sebelum aku berhasil melakukannya, katak itu membuka mulutnya, masih dalam keadaan telentang."Grrrrrrr g-gooooooo!" ia meraung penuh amarah, membentuk satu lagi lingkaran sihir raksasa. Jika ia menyemburkan bola api dari jarak sedekat ini, tak ada cara untuk menghindarinya..."Jangan harap!"Sinon melompat maju dengan keberanian luar biasa, menusukkan senapan lasernya langsung menembus lingkaran sihir itu, lalu menarik pelatuknya. Senapan itu melepaskan rentetan suara pew-pew-pew-pew! khas fiksi ilmiah, menembakkan proyektil energi hijau muda ke dalam mulut Goliath Rana yang menganga dan mengikis habis batang HP-nya.Lingkaran sihir di sekitar lengan Sinon berkilat. Nyala api berkedip-kedip di dalam mulut sang katak, berpusar menjadi sebuah tornado, alih-alih bola api...Dan kemudian HP-nya pun habis."Gre-gurk!" katak itu menguok, dan lingkaran sihir merah tua itu berubah menjadi asap hitam yang melayang pergi. Tampak sangat mirip dengan efek mantra sihir yang gagal dirapal di ALO.Tubuh masif binatang buas itu berkedut beberapa kali, kian lama kian melemah... hingga akhirnya berhenti bergerak sama sekali.
Di SAO dan ALO, monster yang mati akan segera meledak menjadi partikel-partikel biru, tetapi di sini, mayat mereka tetap utuh—yang berarti kau tak bisa memastikan apakah monster itu benar-benar sudah mati. Aku mengkhawatirkan Yui, tetapi yang lebih penting adalah memastikan katak itu telah mengembuskan napas terakhirnya. Aku melangkah maju, menyiagakan pedangku.Lalu sesuatu yang aneh terjadi. Dari bagian tengah katak yang terbujur kaku dan telentang itu, di sekitar posisi jantungnya, secercah cahaya merah muncul, membubung dalam senyap di kegelapan. Kami telah mengalahkan banyak monster sejauh ini, termasuk beruang gua berduri (thornspike cave bear) yang sama kuatnya, tetapi aku belum pernah melihat hal seperti ini terjadi pada satu pun dari mereka."Kirito, lihat...!"Terdorong oleh seruan Sinon, aku mengambil dua langkah, lalu melompat setinggi mungkin, menggapai cahaya merah tersebut. Namun tepat saat ujung jariku menyentuhnya, cahaya itu meletus dan lenyap, persis seperti gelembung. Begitu mendarat, aku memeriksa tanganku, tetapi tak ada apa pun di telapak tanganku.Tiba-tiba, seluruh anggota party dikelilingi oleh cincin cahaya biru. Sesaat aku sempat panik, mengira itu semacam jebakan, tetapi segera menyadari bahwa itu hanyalah efek naik level (level-up). Katak itu benar-benar sudah mati. Sebuah pesan muncul memberitahuku bahwa aku kini berada di level 16, tetapi aku buru-buru menyingkirkannya dan menengadah.Bahkan di dalam kegelapan, gaun putih Yui sangat mudah dikenali. Ia menggantung di udara tepat di bawah pintu keluar terowongan, lengan kirinya yang kurus dicengkeram oleh lengan terulur dari seseorang yang menggantung terbalik. Pemain itu memiliki tali yang terikat di pergelangan kakinya, yang mana dipegang erat oleh pemain lain dari arah pintu masuk terowongan.Yui dan pemain misterius itu berayun-ayun pada tali, terombang-ambing ke kiri dan kanan, sementara suara derit samar memperjelas bahwa tali itu tak cukup kuat untuk menahan beban dua orang dan perlahan mulai terkoyak. Pria bertubuh besar yang berdiri di pintu masuk gua terus menarik tali itu ke atas.Aku melesat maju ke posisi tepat di bawah Yui dan berseru ke atas, "Hei, pelan-pelan, pelan-pelan!"Pria yang menarik tali itu balas berseru ke bawah, "Taliku tidak cukup panjang untuk menurunkan mereka ke sana, dan daya tahannya (durability) bakal habis dalam waktu kurang dari dua puluh detik!"Pemain yang satunya—pria yang menahan Yui dengan tangannya—menyahut, "Jangan sampai hal itu terjadi padaku, Bos! Tidak setelah kita sampai sejauh ini! Kau harus menarikku naik!"Aneh, batinku, merasakan sensasi déjà vu. Aku berani sumpah pernah mendengar kedua suara itu sebelumnya. Aku menjejakkan tumitku untuk berhenti. Menunggu di bawah mereka takkan membantu jika aku tak bisa benar-benar menangkap Yui dan pria itu secara bersamaan. Sebagai gantinya, aku butuh bantalan. Sekalipun aku menggelar seluruh kulit hiena di inventarisku, itu kemungkinan takkan cukup untuk menyerap damage dari jatuh setinggi itu.Hanya ada satu hal yang bisa berhasil di sini. Aku berbalik, berlari kembali, dan berseru pada yang lain, "Bantu aku memindahkan ini, teman-teman!"Lalu aku meraih kaki Goliath Rana yang sudah mati itu. Seketika, semua orang langsung memahami maksudku. Sinon melompat mendahuluiku, sementara Lisbeth dan Leafa mencengkeram kaki kirinya. Kami berempat mulai menyeret mayat raksasa tersebut.Dengan lolongan singkat, Kuro menggigit sisi tubuh katak itu untuk membantu kami mendorong, dan bahkan ketiga manusia tikus meletakkan garpu rumput mereka untuk membantu mendorong kepalanya. Begitu kami bergerak, tubuh itu meluncur lebih cepat dari dugaanku di atas tanah berbatu. Aku menoleh dari balik bahuku seraya menarik dan melihat bahwa Yui sudah ditarik separuh jalan dari jarak sekitar tiga puluh kaki menuju mulut terowongan, tetapi talinya terlihat semakin aus.Kami hampir tiba di titik tepat di bawah mereka berdua saat terdengar bunyi putus yang kejam!"Maaf, Kirito! Lakukan sesuatu!" seru pria bertubuh besar yang sedari tadi menarik tali. Aku tak punya waktu untuk bertanya-tanya dari mana ia mengetahui namaku."Aaaieeee!" ratap pria yang satunya lagi. Namun sungguh mengagumkan bagaimana ia berhasil menarik Yui mendekat padanya dan memastikan gadis itu akan mendarat di atasnya, bukan sebaliknya. Kami harus memastikan pengorbanan itu tidak sia-sia."Yaaaa!" aumku, mengerahkan sisa tenaga terakhirku. Sebuah pesan baru muncul, bertuliskan Kemahiran skill Physique telah naik ke angka 4, dan tubuh katak itu sedikit terangkat ke udara. Tubuh itu mendarat di genangan air lalu berhenti.Sedetik kemudian, Yui dan pria itu amblas ke dalam perut Goliath Rana. Meskipun sudah mati, tubuhnya tetap mempertahankan kekenyalannya, dan mereka memantul kembali lebih dari tiga kaki ke udara sebelum akhirnya mendarat lagi dengan aman."Papa!" tangis Yui, yang sama sekali tak bersuara saat ia menggantung maupun terjatuh tadi. Ia melompat ke arahku dengan lengan terentang lebar. Aku mendekapnya dan memeluk tubuh mungilnya erat-erat, berhati-hati agar tak menghimpitnya ke zirah logamku."Kau hebat sekali," bisikku."Caramu mengeksekusi Vertical di udara sungguh luar biasa."Untuk pertama kalinya sejak pertarungan melawan Goliath Rana dimulai, suara Yui bergetar. "Iya... aku sudah berusaha keras!"Yui belum pernah bertarung sendiri sebelumnya. Mendapatkan pengalaman pertamanya melawan bos yang mengerikan pasti terasa sangat luar biasa dan menakutkan dengan cara yang tak bisa kubayangkan. Dan itu bukanlah semacam tiruan emosi manusia yang dimodelkan secara saksama layaknya gaya AI pada umumnya. Pada titik ini, Yui telah melampaui batas kecerdasan buatan (top-down artificial intelligence) dan memperoleh emosi yang sejati—menurut pendapatku. Itulah satu-satunya penjelasan atas pengorbanan dirinya, batinku seraya membelai rambutnya.Tepat saat itu, pria yang tengah berbaring dengan kaki dan tangan terentang di atas perut katak itu terduduk, menggerutu, "Sembilan puluh sembilan kali dari seratus kesempatan, aku pasti sudah mati di situ..."Rambut cokelat pendeknya tertahan ke atas oleh bandana merah tua. Wajahnya panjang dan tirus, dan rambut-rambut acak-acakan menghiasi dagunya. Zirahnya terbuat dari kulit, dan sebilah pedang melengkung bersandar di sisi kirinya.Saat pertama kali mendengar suara itu, ada dua pendapat yang berdebat di benakku: Mungkin saja dan Tidak mungkin. Tampaknya pemenangnya memang Mungkin saja."Klein... apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku takjub.Pendekar katana (sekarang jadi pendekar pedang lengkung/scimitar?) yang kukenal sejak zaman SAO itu merentangkan kedua tangannya dan mengeluh, "Wah, wah, itukah hal pertama yang keluar dari mulutmu, Kiri, sobatku? Kami buru-buru kemari karena mengira kau sedang dalam masalah dan butuh bantuan!""Ya, dan kami sangat menghargainya," sela Lisbeth."Tapi bagaimana kalian tahu kami ada di sini? Tidak ada seorang pun yang menghubungi kalian di seberang sana, kan?""Biar aku yang menjawabnya," ujar suara lain dari atas, membuat kami semua menengadah. Seorang pria berpenampilan mengesankan tengah menuruni jalan setapak di sepanjang sisi kubah dengan hati-hati, bertubuh besar, berkepala plontos, dan berdada bidang. Ini adalah satu lagi wajah yang tak asing, sang petarung kapak sekaligus pedagang, Agil.Namun yang tersandang di punggungnya bukanlah kapak dua tangan ciri khasnya, melainkan kapak bermata dua yang tampak jauh lebih kecil—meskipun masih jauh lebih besar ketimbang pedangku. Seperti halnya Klein, ia mengenakan zirah kulit."Hai, Agil," sapaku, melakukan salam adu tinju dengannya saat ia mencapai dasar kubah.Lalu aku menyapa Klein dengan cara yang sama dan bertanya, "Jadi... bagaimana kalian bisa sampai di sini? Apa kalian memulai di reruntuhan di sebelah selatan seperti para pemain ALO lainnya?""Ya. Aku dan Klein terlambat satu hari. Kami akhirnya baru sempat dive malam ini, dan masa tenggangnya sudah lama berakhir, ditambah lagi map di sekitar kami sudah dikeruk habis. Entah bagaimana, aku berhasil bertemu dengan Klein, dan kami memutuskan untuk menuju pondok kayumu...""Hah? Bagaimana kalian tahu di mana letaknya?""Asuna menggambarkan petanya dengan tangan untuk kami.""Oh, begitu rupanya..." Sesaat, aku terdiam memikirkan kekasihku, mantan wakil komandan Knights of the Blood, dan kegemarannya akan detail yang teramat teliti."Kiri, ngaku saja. Kau sama sekali melupakan kami, kan?" Klein mendengus penuh cela dari atas perut katak.Ucapannya seratus persen benar, tetapi aku takkan membiarkannya mengetahui hal itu."T-tidak... itu tidak benar. Maksudku, kau dan Agil kan harus bekerja di hari kerja... jadi aku berniat menghubungi kalian kalau situasinya sudah lebih tenang..."Agil menyilangkan tangannya dan berkata, "Tempat kami tutup hari ini."Klein menimpali dengan, "Dan aku ambil cuti setengah hari lalu pulang setelah makan siang.""Dicey Café kan jam operasionalnya tidak menentu, dan aku tidak bisa membaca pikiranmu untuk tahu kapan kau mengambil jatah cuti, Klein!" bantahku.Sinon menghentikan proses pengisian senapannya untuk berdeham. Ia menggerutu, "Bisa langsung ke intinya saja? Kita masih punya banyak urusan.""Oh, maaf, maaf." Agil kembali ke topik pembicaraan."Singkat cerita, kami mengumpulkan beberapa perlengkapan seadanya dan meninggalkan reruntuhan menuju hutan, lalu diserang oleh tiga PKer (Player Killer). Kami cuma punya senjata batu, sedangkan mereka punya besi, ditambah zirah yang lebih bagus, jadi kupikir kami bakal celaka besar.""Saat itulah kau seharusnya melihat kombinasi kami beraksi," lanjut Klein."Kami mencincang para PKer itu berkeping-keping, satu demi sa—"Suara berat Agil memotongnya. "Kau cuma sembunyi di belakangku sepanjang waktu.""Yah, habisnya aku harus bagaimana? Skill bawaanku kan..."Klein menghentikan kalimatnya di situ dengan nada yang agak mencurigakan. Aku berasumsi kemungkinan itu ada hubungannya dengan bagaimana skill Katana-nya yang sudah maksimal tidak berlaku untuk scimitar yang ia gunakan saat ini."Jadi kau menghabisi para PKer itu?" tanyaku, menoleh pada Agil."Ya... sepertinya mereka itu kelompok dadakan, dan kerja sama tim mereka sangat buruk. Jadi kami berhasil melewatinya. Tapi aku lupa kalau masa tenggang sudah lewat, dan tanpa pikir panjang, aku menggunakan skill serangan area yang langsung melibas mereka bertiga," ujarnya seraya mengerutkan kening. Agil pada dasarnya adalah pemain yang berhati lembut meski bertubuh raksasa, dan jika para PKer itu mencoba kabur, ia pasti akan membiarkan mereka pergi.Leafa mendekat dan menepuk lengan kekarnya."Jangan terlalu dipikirkan, Agil. Kalau mereka melakukan PK (Player Killing), mereka pasti sudah tahu risiko dibunuh balik oleh target mereka. Kemarin kami juga diserang oleh komplotan PKer, dan Kirito benar-benar menghancurkan mereka semua!""H-hei, aku tidak melakukannya sendirian kok," klarifikasiku buru-buru, lalu memberi isyarat pada Agil. "Lalu setelah itu?"Ia menyeringai dan menepuk zirah kulitnya yang mengilap. "Para PKer itu dengan berbaik hati menjatuhkan beberapa zirah kulit serta kapak besi dan scimitar. Berbekal upgrade itu dan bantuan peta, kami berhasil sampai ke pondok kayu, di mana Asuna bilang dia mencemaskan kalian dan meminta kami untuk menyusul dan membantu kalian.""Oh, begitu ya," sahutku, berterima kasih pada pasanganku atas pemikirannya yang tajam."Tapi tunggu... Bagaimana Asuna bisa tahu rute mana yang kita ambil? Bagaimana kalian berdua bisa sampai ke gua ini...?" Agil kembali menyeringai, lalu mendongakkan dagunya ke arah Klein. Sang petarung scimitar itu menggaruk bandana di dahinya, lalu menarik napas, bersiap untuk bicara."Itu berkat penggunaan skill yang kubawa...""Hah? Skill-mu kan Katana, kan? Apa hubungannya dengan ini?" ujar Lisbeth, menyuarakan apa yang juga ada di pikiranku. Leafa, Sinon, dan Yui kemungkinan besar mempertanyakan hal yang sama.Semua orang menatap Klein, yang memasang ekspresi yang mustahil untuk diklasifikasikan."Bukan Katana.""Hah?"English Text: “I inherited Pursuit.” “Huh?! ” we shouted together. Terjemahan Bahasa Indonesia:"Aku mewarisi Pursuit (Pelacakan).""Hah?!" seru kami bersamaan.Di ALO, skill Pursuit memang berguna, menyoroti jejak kaki pemain maupun monster dan mempermudah pencarian material yang kau inginkan, tetapi butuh kesabaran ekstra untuk menaikkan levelnya, dan sangat sedikit pemain yang secara khusus melatihnya.Namun Klein telah melatih skill senjata utamanya yaitu Katana hingga mencapai tingkat kemahiran maksimum 1.000, kalau aku tidak salah ingat. Jika ia tidak membawa serta Katana, berarti ia pasti juga telah memaksimalkan Pursuit..."Kenapa juga kau sampai sejauh itu melatih skill semacam itu?" tanya Lisbeth dengan nada jengkel.Lalu ia menyadari sesuatu dan berseru, "Oh! Jangan-jangan kau memakainya untuk melacak dan membuntuti gadis-gadis manis! Dasar penguntit!""B-bukan! Bukan begitu! Aku cuma melatihnya supaya bisa menyelesaikan quest pengejaran yang diberikan Skuld padaku...""......Hah?" gumam semua orang kecuali Agil.Skuld adalah nama seorang NPC yang kami temui di alam Jotunheim, tepat di bawah Alfheim. Ia adalah sesosok wanita cantik nan anggun yang mengingatkan pada penggambaran Valkyrie dalam mitologi Nordik. Mengingat kembali hal itu, aku teringat bahwa ia pernah memberikan sesuatu pada Klein saat kami berpisah. Jadi benda itu adalah item yang memulai quest baru... dan itulah dorongan bagi Klein untuk melatih skill Pursuit-nya hingga maksimal?"Jadi... apa kau berhasil menyelesaikan quest itu?" tanyaku.Klein menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Aku hampir menyelesaikannya... lalu kejadian ini menimpa. Kuharap Skuld baik-baik saja..."Aku memutuskan untuk tidak bertanya padanya apa yang akan terjadi jika ia berhasil menyelesaikan quest Pursuit-nya. Lebih baik kembali ke masalah yang ada di depan mata."Jadi kau berhasil menyusul kami berkat skill Pursuit yang kau bawa. Tapi tingkat kemahirannya pasti sudah turun jadi 100, kan? Aku kagum kau bisa melacak kami sampai sejauh ini.""Yah, begitulah... di tingkat 100 kau tak bisa benar-benar memilih untuk melacak jejak kaki pemain tertentu, tetapi cuma ada jejak kaki milik satu party di dataran itu. Jadi aku yakin itu pasti kalian dan mengikuti jejaknya sampai kemari.""Ah, begitu rupanya," gumamku, akhirnya merasa puas.Aku membungkuk pada Agil dan Klein. "Kalian benar-benar menyelamatkan kami. Kalau kau tak menangkapnya, Yui pasti akan jatuh ke tanah bersama katak itu.""Agil, Klein, terima kasih!" tambah Yui, ikut membungkuk. Kedua pria bertubuh besar dan kekar itu tersenyum malu-malu."Seandainya saja kami bisa tiba tepat waktu untuk ikut bertarung," ujar Agil."Entahlah. Aku bukan penggemar monster berlendir semacam itu," gumam Klein dengan nada suara yang menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak sedang bercanda. Aku menunjuk pada benda yang sedang ia gunakan sebagai alas duduk."Kau tahu itu bangkai si katak, kan?""Hah...? Ueowaaaah!!" pekiknya, melompat vertikal ke udara dengan kaki yang masih bersila. Bahkan Sinon pun ikut tertawa melihatnya.
Mengikuti saran putriku, aku melakukan log out dan duduk tegak. Berpindah dari dataran putih sedingin es ke kamarku di dunia nyata sempat membuatku pusing sesaat, hingga aku menoleh ke sisiku. Di sisi kiri tempat tidur tampak Suguha, mengenakan AmuSphere-nya dan terlihat tak berdaya layaknya orang tertidur... namun tentu saja, ia tidak sedang tidur.Suguha saat ini tengah berada di dunia virtual yang jauh, melindungi avatarku. Kami tahu tak ada musuh dalam jarak pandang, tetapi selalu ada kemungkinan munculnya monster berbahaya secara tiba-tiba, jadi aku harus bergegas.Aku mengangkat jendela bidik (visor) AmuSphere dan menyambar ponselku. Dengan hadirnya Augma, benda ini dengan cepat berubah menjadi gawai yang usang, tetapi aku tetap menggunakannya untuk menelepon Sinon.Ia kemungkinan besar juga sedang berada di tengah-tengah dive UR, tetapi AmuSphere memiliki fitur tautan ke ponsel pintar yang memungkinkanmu untuk menerima panggilan di dalamnya. Berasumsi ia menyalakan fitur tersebut—dan ia tidak sedang berada di tengah pertarungan atau hal lain yang tak kalah penting—seharusnya ia akan menjawab. Aku menunggu dengan sabar selama tiga puluh detik, mendengarkan nada sambungnya."Cepat katakan!" sahutnya sebagai jawaban, langsung pada intinya.Itu jelas suara Sinon, jadi aku mengabulkan permintaannya dengan langsung masuk ke topik pembicaraan."Apa kau sempat terjebak badai es?!""Nyaris mati membeku sekitar dua puluh menit yang lalu.""Jadi kau juga ada di Sabana Giyoru?""Iya, aku sedang menuju tenggara dari arah barat laut.""Mengerti. Kami akan menuju barat laut dari tenggara! Apa ada bentang alam di dekatmu yang bisa dijadikan patokan yang bagus?""Tentu saja ada. Ada dinding alami raksasa yang membentang dari utara ke selatan, kemungkinan menembus tepat di tengah-tengah sabana. Aku masuk ke sebuah gua menembus dinding itu. Di situlah posisiku sekarang.""Gua di dalam dinding...? Ada monster?""Banyak sekali. Aku log out di tempat yang lumayan aman, tapi mereka bisa muncul kapan saja, jadi aku tidak bisa berlama-lama."Ia melakukan hal yang sama persis denganku, tetapi sementara aku memiliki rekan-rekan tim dan hewan peliharaan untuk melindungiku, Sinon benar-benar sendirian. Jika ia diserang saat sedang log out, ia akan mati dalam hitungan detik."Baiklah. Kami akan masuk ke dinding itu dari sisi timur. Bertahanlah sebentar lagi.""Mengerti. Terima kasih."Ia menutup telepon. Aku buru-buru meneguk sedikit air, lalu kembali berbaring di tempat tidur dan menurunkan visor AmuSphere-ku.
Kembali ke dataran yang diterangi temaram rembulan, es mulai mencair selama beberapa menit aku log out. Gadis-gadis meraup sisa es yang ada dan memasukkannya ke dalam kendi air. Belum ada monster yang menampakkan diri di area tersebut."Aku kembali!" seruku seraya bangkit berdiri.Kuro kembali menggosokkan kepalanya padaku. Terlepas dari penampilannya yang garang, ia rupanya sangat manja begitu merasa nyaman denganmu. Setelah memberinya semua sisa dendeng beruang, kami harus segera mencari makanan tambahan.Lisbeth, Leafa, dan Yui berkumpul untuk mendengarkan pesan Sinon."Dinding alami...?" gumam Leafa, menatap jauh ke arah barat laut.Aku pun melakukan hal yang sama, tetapi tak ada apa pun yang terlihat di balik kegelapan cakrawala. Aku mulai khawatir kalau-kalau terjadi kesalahpahaman besar di sini. Namun Sinon telah mempertaruhkan nyawa karakternya demi menyampaikan informasi itu, jadi aku harus memercayainya."Ayo bergegas," ujarku. Gadis-gadis itu mengangguk, dan Kuro mengeluarkan dengusan pelan.Kami berlari melintasi dataran, berpapasan dengan dua kawanan hiena yang sudah tak asing lagi serta satu monster menyerupai bison. Bison itu lumayan merepotkan, tetapi berkat Kuro yang mengalihkan perhatian binatang buas tersebut seraya memamerkan gerakan akrobatik, kami leluasa melancarkan sword skill yang cukup untuk menguras HP-nya. Gadis-gadis yang lain masing-masing naik satu level dari pertarungan itu.Syukurlah, bison itu juga menjatuhkan banyak daging mentah, yang dilahap habis oleh Kuro dengan riang gembira. Kini aku tak perlu khawatir untuk sementara waktu akan pudarnya efek penjinakan akibat kelaparan.Tak ada lagi perjumpaan dengan monster setelah titik itu. Tiga puluh menit perjalanan kemudian, Yui menunjuk ke depan dan berseru, "Aku bisa melihat dindingnya!"Aku menghentikan langkah dan menyipitkan mata hingga sebuah permukaan yang menjulang lurus di atas dataran mulai terlihat olehku. Tebing masif itu membentang dari utara ke selatan, dan skalanya mengingatkanku pada Everlasting Walls (Tembok Abadi) dari Underworld."Dan di suatu tempat di sana ada gua tempat Sinon menunggu?" tanya Lisbeth.Memang benar, tetapi semakin kupikirkan, akan semakin sulit rasanya mencari satu mulut gua kecil di permukaan yang panjangnya bermil-mil. Ditambah lagi, tak ada jaminan hanya ada satu gua di sana. Aku berpikir keras, berusaha agar tak panik menghadapi tugas di depan mata ini."...Papa, ini mungkin tidak adil, tapi aku akan meningkatkan penglihatanku untuk mencari gua itu," umum Yui, dengan sepasang matanya yang membelalak.Dari kami berempat, Lisbeth, Leafa, dan aku menggunakan otak kami untuk "melihat" informasi visual yang disajikan oleh AmuSphere, tetapi sebagai sebuah AI, Yui bisa memproses tingkat kecerahan dan kontras dari detail-detail tersebut sesuka hatinya. Aku tak ingin memperlakukannya layaknya alat perangkat lunak yang praktis, tetapi kami harus segera bertemu dengan Sinon.Lagipula, seandainya pun kami melanjutkan perjalanan ke desa Bashin seperti rencana awal, aku juga akan memintanya menjadi penerjemah bagi kami di sana. Suka atau tidak, aku tetap membutuhkan bantuan Yui."Aku akan sangat menghargainya," gumamku. Yui menatapku sekilas, tersenyum, lalu kembali berbalik untuk berkonsentrasi. Beberapa detik kemudian, ia menunjuk ke sebuah titik di depan kami."Aku menemukannya! Ada tangga dan pintu masuk gua di arah ini!""Terima kasih, Yui!" seru Leafa seraya memeluk gadis kecil itu. Liz juga ikut mengelus kepalanya.Dari sini, tak ada cara untuk mengetahui seberapa tebal dinding tebing itu, tetapi aku tak bisa membayangkan ketebalannya akan mencapai bermil-mil. Sekalipun gua itu membentuk sebuah dungeon (labirin/ruang bawah tanah), ukurannya takkan sebesar itu.Bertahanlah sedikit lagi, Sinon! ujarku dalam hati seraya mulai berlari ke arah yang ditunjuk oleh Yui.
Tebing samar di kejauhan itu tampak semakin kokoh seiring kami mendekat, dan begitu kami berada di kakinya, ukurannya membuat kami tak sanggup berkata-kata. Tinggi tebing itu sekitar 150 kaki, dan meskipun ada celah elevasi yang lebih lebar di Alfheim, jarak yang dibentangi dinding ini teramat luas.Satu garis tebing vertikal utuh yang membentang dari satu ujung cakrawala ke ujung lainnya adalah jenis hal yang biasanya tampak seperti desain level yang malas (lazy level-design) dalam sebuah gim, tetapi entah mengapa, di dunia Unital Ring, hal itu terasa seperti sebuah keajaiban alam yang sesungguhnya.Permukaan batunya yang gelap terasa keras dan mulus; tak mungkin memanjatnya dengan tangan kosong. Mungkin saja membuat tangga untuk disandarkan ke sana, tetapi tak ada pohon atau tanaman rambat di sekitar sini yang bisa dipanen sebagai material. Kami harus menggunakan tangga yang dilihat Yui.Anak-anak tangga itu dipahat hanya dengan lebar ruang satu kaki di sepanjang permukaan tebing, tanpa ada pegangan apa pun. Jaraknya nyaris seratus kaki untuk mencapai pintu masuk gua, jadi satu salah langkah saja sudah pasti berarti kematian. Aku ingin memasang tali panduan di dinding, tetapi lebih dari satu jam telah berlalu sejak aku menghubungi Sinon, dan kami tak bisa membiarkannya menunggu lebih lama lagi."Kuro, apa kau bisa naik tangga ini?" tanyaku.Macan kumbang hitam itu menggeram, lalu melompat sepuluh kaki menaiki anak tangga tanpa rasa takut sedikit pun. Ia bahkan mengibaskan ekornya dengan penuh semangat.Yah, tak elok rasanya kalau sang majikan malah gentar menghadapi tantangan ini sekarang."Oke... aku naik," umumku.Di belakangku, Lisbeth mendengus. "Ayo dong—cepatlah sedikit."Syukurlah, kami mencapai puncak tanpa insiden apa pun, tetapi kami tak berani bersantai sampai kami semua berada di dalam mulut gua yang menganga di ujung sana. Tangga itu adalah buatan manusia, jadi kupikir gua ini juga sama, tetapi kelihatannya gua ini terbentuk secara alami.Berarti seseorang telah memahat anak-anak tangga dari tebing tersebut demi mencapai lubang yang menganga di tengah-tengah dinding itu. Pelakunya pasti seorang NPC, bukan pemain, tentu saja. Namun apakah itu kaum Bashin atau pihak lain? Tak ada cara untuk mengetahuinya.Bagaimanapun juga, ini adalah dungeon pertama yang layak dijelajahi sejak konversi paksa kami kemarin. Aku ragu ada pemain lain yang pernah masuk ke sini sebelum kami, jadi material atau peti harta karun apa pun—jika memang ada—akan tersedia untuk diambil. Hal itu membuatku ingin memetakan setiap jengkal tempat ini, tetapi bertemu dengan Sinon adalah prioritas utama kami.Kami telah berlari jauh untuk sampai ke sini, jadi batang SP-ku berada di bawah 60 persen, dan TP-ku di bawah 50. Kami punya banyak air minum, tetapi satu-satunya makanan yang ada hanyalah daging bison mentah. Untuk saat ini, aku memutuskan untuk minum sedikit cairan dan memberi Kuro daging serta air, lalu kami bisa makan sesuatu setelah menemukan Sinon."Ini semacam party yang tak ortodoks, jadi menurutmu bagaimana kita akan mengambil formasi?" tanya Leafa setelah ia menyimpan kendi airnya.Aku menimbangnya sejenak lalu menjawab, "Aku dan Kuro di depan, Liz dan Yui di tengah, dan kau jaga barisan belakang, Leafa. Yui dan aku bisa memegang obornya."Lisbeth memasang raut wajah seolah ingin mengatakan sesuatu. Ia satu-satunya yang membawa perisai, jadi ia kemungkinan ingin berdiri di depan untuk berperan sebagai tank, tetapi aku ingin ia lebih fokus melindungi Yui. Syukurlah, ia memahami maksudku dan tidak mendebat."Baiklah, kita bertukar posisi begitu situasinya memburuk.""Terima kasih. Aku mengandalkanmu."Dan dengan demikian, kami pun mengambil formasi 2-2-1.Di kalangan pemain VRMMO, ada kecenderungan untuk berpikir bahwa akan ada banyak waktu untuk mengambil formasi begitu pertarungan dimulai, dan berbaris rapi saat kau hanya sedang berpindah tempat itu konyol dan tidak keren.Aku mungkin akan menyetujui pendapat itu sembilan puluh sembilan kali dari seratus kesempatan, tetapi di Aincrad, hanya butuh satu momen kecerobohan untuk berujung pada tragedi—terutama di dalam dungeon, di mana situasinya sempit dan kacau. Bahkan sekarang, saat kami tak lagi berada dalam gim kematian (death game), aku cenderung bersikap sangat teliti soal formasi pertarungan."Beri tahu aku kalau kau menyadari ada monster," bisikku pada Kuro, seraya menggaruk lehernya.Macan kumbang itu menjawab, "Graar."Sinon bilang ada "banyak sekali" monster saat di telepon tadi, dan ternyata itu bukanlah bualan belaka. Ada begitu banyak monster tipe amfibi berlendir di gua yang lembap ini, dan mereka terus-menerus membuat kami sibuk bertahan.Untungnya, kemampuan pencarian tingkat lanjut Kuro memungkinkannya menggeram memberi peringatan sebelum kami melihat musuh, dan kami pun mampu membalas serangan mereka semua dengan mudah. Bahkan Yui memamerkan hasil latihannya bersama Alice. Ia bertarung dengan gagah berani menggunakan pedang pendeknya, membuktikan bahwa aku terlalu mencemaskannya.Kami terus maju menyusuri gua, membasmi kadal air raksasa (giant newt), sesilia tak berkaki (legless caecilian), dan axolotl. Sayangnya, kami tak menjumpai satu pun peti harta karun, tetapi ada lumayan banyak urat bijih besi dan perunggu, jadi kami menimbun segala hal yang bisa kami temukan.Setelah dua puluh menit, aku mulai mencemaskan SP-ku, tetapi aku juga tak sudi melahap kadal air mentah. Dari barisan belakang, Leafa berujar, "Agak aneh, tidak menurutmu?""Apanya yang aneh?""Kita berhadapan dengan semua amfibi ini, dan ada banyak sekali kadal air dan salamander, tapi belum ada satu pun—"Blaaaam!Terdengar suara gema kering dari kejauhan yang berasal dari bagian dalam gua, membuat Leafa menghentikan kalimatnya di tengah jalan.Aku belum pernah mendengar suara spesifik itu sekalipun di dungeon ini—maupun di Unital Ring sama sekali. Kuro berhenti, berjengit, lalu mulai menggeram. Itu pastilah suara ledakan mesiu: tembakan senapan."Itu Sinon!" seruku, berusaha agar tak membuat terlalu banyak suara, lalu menoleh dari balik bahuku."Yui, apa kau bisa memastikan dari arah mana suara itu berasal?"English Text: “I’m analyzing the echoes…It came from a hallway ahead and to the right!” she stated. I thanked her and picked up my pace. At the next fork, we went right and followed the tunnel as it curved and descended somewhat. Terjemahan Bahasa Indonesia:"Aku sedang menganalisis gemanya... Suaranya datang dari lorong di depan dan di sebelah kanan!" nyatanya.Aku berterima kasih padanya dan mempercepat langkahku. Di percabangan berikutnya, kami mengambil arah kanan dan menyusuri terowongan saat jalurnya sedikit melengkung dan menurun.Tiba-tiba, gua melebar di depan. Kami berada di dekat puncak sebuah rongga berkubah raksasa. Ukurannya pasti hampir lima puluh yard. Jarak itu jauh melebihi kemampuan pencahayaan obor, tetapi aku bisa melihat ukuran keseluruhan kubah tersebut berkat sejenis lumut bercahaya yang tumbuh di dinding-dindingnya.Sebuah jalan setapak sempit yang menurun membentang dari lokasi kami di sepanjang dinding menuju dasar kubah. Dasarnya terbagi antara bebatuan lembap dan air yang gelap, dan di atas sebuah batu besar di tengah-tengahnya tampak sesosok siluet manusia.Sosok itu mengenakan setelan zirah ketat dan syal (muffler) putih. Di lengannya terdapat sesuatu yang menyerupai tongkat panjang—sebuah senapan. Tak mungkin ada penembak (gunner) lain di sini secara kebetulan. Kami akhirnya menemukannya."Si—," aku baru saja mulai memanggil namun menelan kembali suaraku.Di belakang sang penembak terdapat lebih banyak sosok humanoid (menyerupai manusia). Namun meskipun mereka berdiri tegak, mereka bukanlah manusia. Moncong runcing, telinga bulat besar... Kepala mereka jelas-jelas kepala tikus. Mereka membawa senjata yang tampak seperti garpu rumput. Ekor kecil mereka bergoyang saat mereka bergerak maju mendekati sang penembak. Ada dua... tidak, tiga dari mereka."Sinon, di belakangmu!!" seruku, menuruni anak tangga di sisi kubah secepat yang kubisa. Kuro dan yang lainnya mengikuti rapat di belakangku.Sang penembak, Sinon, mendongak lalu menoleh ke belakangnya. Jarak yang memisahkannya dari para manusia tikus itu tak lebih dari lima belas kaki. Ia bisa menembak salah satu dari mereka, tetapi dua lainnya akan menusuknya dengan senjata mereka."Ryaaa!" Aku melompat dari pertengahan jalan setapak ke dalam genangan air yang dangkal. Lompatan itu menciptakan cipratan besar dan merenggut sedikit HP-ku, tetapi aku tak peduli.Aku menarik lenganku ke belakang, bersiap melempar oborku ke arah manusia tikus yang paling dekat dengan Sinon."Jangan, Kirito! Mereka bukan musuh!" Kudengar ia berseru, dan aku buru-buru menyesuaikan cengkeramanku pada obor.Sang macan kumbang baru saja akan menerkam salah satu dari mereka yang lain, jadi aku memerintahkannya, "Kuro, berhenti!"Macan kumbang itu mengerem mendadak, dan ketiga manusia tikus itu memekik "אאא!" lalu mundur menjauh ke arah dinding. Ada mulut lorong lain di sana, berbeda dari jalan tempat kami masuk tadi.Mataku bersirobok dengan mata Sinon saat ia berdiri di atas batu besar. Ia memiliki rambut biru muda yang ujungnya sedikit meruncing, dan mata tajam layaknya kucing—itu tak diragukan lagi adalah Sinon. Namun senapan yang dipegangnya terlihat sangat kuno dan sama sekali tidak mirip dengan senjata andalannya, PGM Ultima Ratio Hecate II. Berasumsi bahwa Hecate melampaui batas Equip Weight-nya, sama halnya seperti Blárkveld dan Excalibur-ku, dari mana ia mendapatkan senapan ini? Namun hal itu tak penting sekarang."Kalau para manusia tikus ini bukan musuh, lantas siapa yang sedang kau lawan, Sinon?!" tuntutku saat Lisbeth, Yui, dan Leafa mencapai dasar kubah. Ekspresi Sinon melembut saat melihat mereka berlari menerjang genangan air, tetapi itu tak berlangsung lama."Cepat keluar dari air, semuanya!" serunya."Lebih baik naik ke atas bebatuan yang tinggi!"Nadanya tak menyisakan ruang untuk bantahan, jadi aku menahan pertanyaanku untuk nanti dan mulai memanjat batu besar di dekatku. Namun sebelum aku bisa naik, aku mendengar suara cipratan air di dekatku.Sesuatu sedang mendekat dari bawah air dengan kecepatan luar biasa. Tak ada waktu untuk menghindarinya; sesuatu menghantam pergelangan kaki kananku. Aku digigit—bukan, dicengkeram?Tiba-tiba, kakiku disentak ke samping, dan aku jatuh tercebur ke dalam air. Obor terlempar dari tanganku dan padam. Dengan pedang di tangan kananku, aku mencoba memutus benda mirip tali yang melilit pergelangan kakiku, tetapi aku tak bisa menjangkaunya. Benda itu akan menyeretku ke kedalaman—"Growwr!" Kuro menggeram dan terjun menyelam ke dalam air, lalu muncul kembali dengan menjepit benda yang menarikku itu di taringnya.Benda itu bukan tali. Melainkan semacam tentakel merah muda berlendir."Kakak!"Leafa mengangkat katananya dan mengaktifkan Sonic Leap.Sywaa!Ia membelah permukaan air menjadi dua. Itu adalah serangan dengan dorongan yang sempurna, dieksekusi dengan skill luar biasa berkat keahlian berpedangnya di dunia nyata. Bilah hijau yang bercahaya itu menghantam tentakel yang ditarik Kuro—namun tidak memutusnya.Katana baja buatan Lisbeth itu amblas beberapa inci ke dalam tentakel merah muda itu, tetapi terhenti di sana. Anggota tubuh mirip karet itu bergetar lentur dan memantul kembali."Aaaah!""Grrarp?!"Hantaman itu melemparkan Leafa dan Kuro mundur bersamaan diiringi cipratan air yang besar. Namun serangan mereka membuahkan hasil, karena tentakel itu melepaskan pergelangan kakiku dan kembali tenggelam ke perairan yang lebih dalam.Aku membantu Leafa berdiri dan kali ini naik ke atas batu sepenuhnya. Yui dan Lisbeth mundur ke bebatuan yang berbeda, dan Kuro melompat ke sebelahku dalam satu lompatan."Apa itu tadi, Sinon?!" tanyaku terengah.Sang penembak mengacungkan senapan kunonya dan menjawab, "Dia akan segera muncul dari air! Buka mata kalian lebar-lebar. Gerakannya cepat!"Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutnya, terdengar cipratan keras, dan sesosok bayangan gelap melompat keluar dari air di sisi seberang kolam. Ukurannya besar, panjangnya sekitar enam kaki... dan jika kaki-kakinya yang teramat panjang dan kuat itu direntangkan, tubuhnya bisa terulur hingga dua kali lipat panjang tersebut. Sementara itu, kaki depannya lemah dan kecil, dan kepalanya menyatu dengan bagian batang tubuhnya.Makhluk raksasa itu melompat dari satu genangan ke genangan lain dengan kecepatan yang memusingkan, lalu mendarat dan menempel pada dinding kubah. Lisbeth, Yui, Leafa, dan aku meneriakkan kata yang sama secara serempak."Katak!!"Mengesampingkan ukurannya, segala sesuatu tentang monster itu benar-benar menyerupai katak tulen. Ia memiliki sepasang mata besar yang melotot dan batang tubuh berbentuk wajik. Kaki-kakinya terlipat di bagian tengah dan berujung pada jari-jari panjang yang melebar, tampak seperti alat pengisap (sucker).Akhirnya, aku mengerti apa yang coba dikatakan Leafa sebelum kami mendengar suara tembakan tadi. Kami telah melihat banyak kadal air dan salamander—namun tak ada satu pun katak."Hei, beruntung sekali kau. Ini dia katak yang kau inginkan," ujarku, menatap ke arah amfibi ikonik yang menempel di dinding itu."Aku tidak ingin ada katak." Leafa cemberut."Apalagi yang ukurannya raksasa begini...""Pasti dia bos dari gua ini..."Aku tak sekadar menebak-nebak soal itu. Aku telah menerima serangan tentakel di kaki kananku, jadi aku bisa melihat kursor berbentuk cincin di atas kepala katak raksasa tersebut. Nama individunya adalah Goliath Rana. Seluruh monster yang kami temui sebelumnya, termasuk Kuro, memiliki nama deskriptif dalam bahasa Jepang, tetapi yang satu ini menggunakan bahasa Inggris, yang mana kuasumsikan pasti memiliki suatu arti. Dengan asumsi itu benar-benar bahasa Inggris, tentu saja."...Goliath berarti 'raksasa', kan? Apa itu rana?" gumamku.Yui menjawab, "Seingatku itu adalah nama famili dari katak sejati. Di Jepang, mereka diklasifikasikan sebagai katak merah."Benar saja, tubuh katak raksasa itu berwarna merah tua, dan matanya berkedip-kedip layaknya nyala api.Sepasang mata melotot Goliath Rana mengerjap, dan ia mulai merayap naik ke dinding dengan santai. Semakin tinggi ia memanjat dan semakin curam sudut negatifnya, makhluk itu semakin terlihat seolah tak memiliki bobot dengan cara yang mengerikan, sesosok bayangan seukuran sapi yang menolak untuk jatuh."Bukankah ini saatnya untuk menembaknya, Sinon?" tanyaku, menyadari bahwa saranku ini kemungkinan tidak diinginkan.Sang penembak tetap menahan senapannya di sisi tubuh tanpa bergeming. Ia menatap ke arah katak itu dan meludah, "Aku sudah menembaknya beberapa kali. Tapi punggungnya terlalu keras untuk ditembus peluru musket ini."Berkat The Three Musketeers dan kisah-kisah semacamnya, aku tahu bahwa musket adalah jenis senapan kuno. Namun kau tak bisa menyebutnya "rifle" (senapan laras panjang berulir), karena tak ada ulir (rifling) di bagian dalam larasnya. Hal ini membuatku bertanya-tanya dari mana ia mendapatkan benda semacam itu, tetapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengajukan pertanyaan yang tidak relevan."...Apa kau bisa menembakkan Hecate kalau dibantu?" tanyaku penasaran.Ia langsung menepisnya. "Tidak. Kita tak bisa mendapatkan sudut tembaknya saat makhluk itu ada di langit-langit, dan saat di tanah, gerakannya terlalu cepat untuk dibidik.""Poin yang bagus..."Aku masih penasaran dengan para manusia tikus di belakang kami, tetapi selama mereka tidak bersikap memusuhi, aku bisa mencari tahu jawabannya nanti. Inilah saatnya untuk memikirkan cara mengalahkan Goliath Rana."Ingat, Kirito, kelemahan sebagian besar monster tipe katak di Aincrad ada di perutnya," catat Lisbeth, seraya menggenggam gadanya."Benar juga. Mari pancing dia untuk memperlihatkan perutnya sebelum menyerang.""Tapi bagaimana caranya?" tanya Leafa."Ummm..."Tepat pada saat itu, katak raksasa tersebut mencapai puncak tertinggi dari kubah setinggi seratus kaki itu dan menatap lurus ke arah kami dengan matanya yang menyeramkan, dalam posisi yang sepenuhnya terbalik."Itu dia datang!" seru Sinon tepat ketika kaki-kaki katak yang kuat itu melontarkannya dari bebatuan dan meluncur lurus ke arahku dengan kecepatan yang membutakan."Aaaah!"Aku melakukan salto ke belakang murni berdasarkan reaksi instingtif untuk menghindari hantaman tersebut, tetapi batu tempatku berpijak hancur lebur, menghujani tubuhku dengan pecahan batu. Aku hanya kehilangan 3 persen dari HP-ku, tetapi akibatnya bisa jauh lebih buruk seandainya bukan karena zirah logamku. Dan tanpa adanya satupun ramuan (potion) untuk digunakan, akumulasi damage apa pun pada akhirnya akan berakibat fatal.Untungnya, yang lain tidak kehilangan HP sedikit pun. Namun kemudian aku menyadari bahwa aku melupakan sesuatu yang penting. Aku mundur lebih jauh, memanggil ring menu, dan menekan ikon INVITE (Undang) di tab komunikasi, lalu menggeser ke nama Sinon. Ia segera menerimanya, menambahkan sebuah batang indikator baru yang disingkat pada daftar di sudut kiri atas pandanganku.Goliath Rana itu tetap diam di tempat selama sekitar tiga detik setelah hantamannya yang secepat meteor, lalu kembali mulai bergerak. Ia melompat ke dalam genangan air di dekatnya dan menghilang."Naik ke atas batu!" instruksi Sinon, jadi kami kembali melompat ke atas bongkahan batu di dekat kami.Dari sudut mataku, aku menangkap sosok Yui dan Kuro yang sedang memanjat naik, lalu bertanya pada Sinon, "Jadi pola serangannya adalah menyelam ke dalam air, dilanjutkan dengan serangan tentakel, lalu memanjat ke langit-langit dan menukik turun? Cuma dua itu?""Untuk saat ini. Dan itu lidahnya, bukan tentakel.""Oh... itu lebih masuk akal."Jadi saat Goliath Rana itu mencengkeram pergelangan kakiku, ia bukannya mencoba menenggelamkanku melainkan memangsaku. Jika aku hanya punya satu nyawa untuk dijalani di Unital Ring, aku akan mengerahkan segala kemampuanku untuk menghindari kematian dengan cara seperti itu.Setelah cukup lama menunggu di atas bebatuan, kami memancing katak itu keluar dari air lagi, di mana ia kembali mulai memanjat dinding. Kami belum memiliki celah untuk menyerang, tetapi jika kami menghindari serangan tukikannya, setidaknya kami takkan menerima damage besar... Namun itu bukanlah alur pemikiran yang tepat.Masing-masing dari tukikannya menghancurkan satu batu aman untuk berpijak, jadi pada akhirnya kami akan kehilangan pertahanan kami terhadap serangan lidahnya."Liz, Leafa, begitu kita menghindari tukikannya, kita harus menggunakan sword skill sebelum dia bergerak lagi. Cobalah incar bagian bawah tubuhnya untuk membalikkannya.""Oke.""Mengerti.""Sinon, Yui," lanjutku, "serang susulan saat perut katak itu terbuka. Kuro, lindungi Yui.""Siap laksanakan!" "Baik, Papa!" "Grawr!"Aku merasa yakin bahwa kedua gadis itu memahami maksudku, tetapi tak seyakin itu soal si macan kumbang. Ya hanya bisa berharap saja.Anggota tubuh berpenghisap milik katak raksasa itu merayap naik ke dinding batu dengan mudahnya. Sepuluh detik lagi sampai ia kembali mencapai puncak. Bisakah kami menggunakan material yang ada untuk membuat semacam jebakan di tempat ia akan mendarat? Seperti membuat barisan kayu berduri—dengan asumsi hal semacam itu eksis dalam skill Woodworking (Pekerjaan Kayu)..."Kirito!" seru Sinon, mengagetkanku dari lamunan.Goliath Rana itu belum sampai di puncak kubah, tetapi kaki-kakinya menonjol penuh dengan kekuatan yang menegang."Kwah!"Aku melompat mundur dengan putus asa, tepat ketika katak itu melontarkan diri dari dinding. Ia meluluhlantakkan batu besar di depan mataku layaknya bola meriam. Bongkahan batu seukuran kepalan tangan menghantam bahu dan kakiku. Pukulan itu mencekungkan zirah besiku dan menyebabkan kehilangan HP yang cukup kentara. Keparat!Aku mengambil kuda-kuda untuk Rage Spike—sebuah skill tusukan rendah—sebelum aku mendarat. Kau biasanya harus mencondongkan tubuh sejauh mungkin tepat di atas tanah, jadi mengeksekusi gerakan yang tepat selagi masih berada di udara merupakan teknik tingkat tinggi.Pedangku memancarkan kilau biru pucat segera setelah kakiku menjejak genangan air yang dangkal. Sesaat setelah skill itu aktif, aku melompat ke depan, mendorong laju serangannya. Air berbusa ke samping saat aku menerjang leher katak yang tengah tertegun sejenak itu.Tanpa melewatkan satu ketukan pun, Leafa merangsek masuk dari sebelah kanan dan Lisbeth dari sebelah kiri. Mereka menggunakan skill yang menargetkan posisi rendah, sesuai dengan rencana. Dengan serangan sebanyak ini yang terjadi secara bersamaan, tak mungkin kami gagal membalikkan katak itu, tak peduli seberapa besar ukurannya.Namun dalam waktu kurang dari sedetik, rasa percayadiriku berubah menjadi kengerian. Goliath Rana, yang tampak seperti miniatur gunung jika dilihat dari dekat, tiba-tiba memipih, seolah-olah semua tulangnya lenyap begitu saja. Ia meratakan dirinya hingga benar-benar horizontal di atas tanah, menyembunyikan leher dan perutnya.Namun aku tak bisa menghentikan sword skill-ku. Pedangku menghantam moncong katak itu, sementara katana Leafa dan gada Lisbeth menghantam bahunya, dan kulit merah tuanya pun melesak ke dalam.Rasanya seperti mengiris gumpalan karet raksasa. Ujung pedangku amblas ke dalamnya, tetapi aku sama sekali tak merasa sedang memotong apa pun. Kemudian ada daya tolak luar biasa yang mendorong balik hingga mengalahkan daya dorong dari sword skill-ku.Serentak, kami bertiga memekik saat kami terlempar mundur. Tak ada cara untuk bertahan saat tubuhmu terlempar ke udara. Mulut katak itu terbuka. Lidah merah mudanya yang ganas tertarik mundur, menegang, bersiap melesat ke depan layaknya tombak berdaging. Blaaaam!Sebuah raungan dahsyat menerjang gendang telingaku. Sinon telah menembakkan senapan musketnya. Peluru itu membelah lidah sang katak, membuat efek damage berwarna merah tua berhamburan ke mana-mana. Ia kehilangan tak sampai 10 persen HP-nya, tetapi katak itu menguok dan terjengkang ke belakang, mengekspos tenggorokannya yang tampak lunak."Yaaaa!" "Raaaar!"Yui mengeksekusi sword skill Vertical, dan Kuro menerjang, memamerkan taring-taring besarnya. Pedang dan gigi mencabik tenggorokan katak itu dari kedua sisi. Melenyapkan 10 persen lagi dari HP-nya.Serangan serentak Yui dan Kuro mungkin hanya memberikan damage yang tergolong lumayan, tetapi keuntungan sebenarnya adalah serangan itu memperpanjang efek tumbang dari serangan kami. Katak itu mendarat telentang di air, dalam keadaan masih terekspos.Kita harus menambah serangannya! Namun Liz, Leafa, dan aku masih bersusah payah memulihkan diri dari efek knockback. Kaki depan katak yang pendek dan kaki belakangnya yang masif mengepak-ngepak dan meronta, seolah-olah ia akan segera melompat bangkit lagi. Sinon sedang mengisi peluru dan belum bisa menembak lagi.Kombinasi ini sebagian besar adalah produk dari sebuah kebetulan dan kemungkinan takkan bisa diulangi untuk kedua kalinya. Jika kami melewatkan kesempatan untuk memperpanjang rentetan serangan ini, harapan kami untuk menang akan semakin menipis. Aku mengertakkan gigi, berusaha mati-matian untuk menyeimbangkan posisiku. Aku mengulurkan tangan kiriku, mencengkeram udara kosong dengan jari-jariku, tetapi avatarku dengan kejamnya terus saja terjengkang..."Keeee!"Sebuah pekikan bernada tinggi memenuhi udara. Itu bukan suara katak itu, dan tak mungkin berasal dari salah satu dari kami. Apakah itu monster add (tambahan) yang baru ikut campur dalam pertarungan? Namun apa yang kulihat melompat maju ke tengah pertikaian itu sama sekali tidak memiliki sifat amfibi. Sosoknya kecil, mengenakan pakaian sederhana, dan memegang garpu rumput berkarat dengan kedua tangannya—trio manusia tikus yang keberadaannya sudah sepenuhnya lenyap dari benakku.Mereka bergegas menghampiri Goliath Rana yang telentang itu dan menusukkan garpu rumput mereka dalam-dalam ke perut pucatnya."Errrbit!" katak itu mengaum murka, menyentakkan dan mengontraksikan seluruh tubuhnya lalu melompat bangkit lagi layaknya mainan yang diputar pegasnya.Para manusia tikus memekik "אאא!" lalu mundur menjauh ke tepian kubah. Mereka tampaknya bukan partisipan yang konsisten dalam pertarungan ini, jadi mendapatkan sedikit ekstra damage singkat ini merupakan bantuan yang sangat besar. Batang HP katak itu telah turun 40 persen dan berubah dari warna putih menjadi rona yang jauh lebih kuning.Goliath Rana, yang kini telah berdiri tegak, melompat diiringi cipratan air ke arah dinding, di mana ia kembali memanjat. Liz, Leafa, dan aku bergegas bangkit untuk bersiap menghadapi salah satu serangan tukikannya.Setelah rangkaian peristiwa tadi, tampak jelas bahwa pertarungan melawan Goliath Rana ini adalah pertarungan yang sulit untuk mengenai titik lemahnya, tetapi begitu kau berhasil, ada banyak sekali damage yang bisa ditimbulkan. Kami bisa mengalahkannya hanya dengan membalikkannya dua kali lagi—mungkin sekali saja, jika kami beruntung. Namun untuk melakukan itu, kami harus memberikan damage pada mulutnya."Sinon, incar mulutnya!" seruku.Sinon selesai mengisi pelurunya dan membalas, "Mengerti."Kepada Lisbeth, aku menginstruksikan, "Saat dia menukik ke arah kita, pukul kepalanya dengan gadamu! Itu akan membuatmu terpental mundur, tapi itu akan memberi kita kesempatan untuk menyerang lidahnya... kurasa!""Kau pikir?!" raungnya namun segera memulihkan ketenangannya, meremas erat gagang gadanya."Baiklah kalau begitu! Ayo kita lakukan!" Dalam pertarungan menegangkan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, kehadiran seorang moodmaker (pencair suasana) seperti Lisbeth adalah bantuan yang sangat besar. Itu adalah skill personal yang kutahu takkan pernah bisa kutiru."Leafa, Yui, Kuro," lanjutku, "gunakan sword skill terkuat kalian saat kataknya terbalik! Hati-hati saja dengan tendangan kaki belakangnya!""Beres!" "Baik, Papa!" "Grar!"Mereka bertiga sudah bersiap. Aku menoleh sekilas ke arah dinding di belakang kami untuk memberikan satu instruksi terakhir."Kalian juga, bersiaplah untuk melakukan hal yang sama lagi!"Aku berbicara kepada trio manusia tikus itu. Mereka tidak merespons. Tak ada pilihan lain selain memercayai bahwa mereka mengerti, karena aku harus memusatkan perhatianku ke puncak kubah. Goliath Rana sudah berada 70 persen jalan ke atas dinding. Ia bisa menukik ke arah kami kapan saja.Kali ini, aku akan menghindarinya dengan benar, tekadku dalam hati seraya menatap lurus sang katak. Anggota tubuhnya berhenti bergerak. Sepasang matanya yang melotot berubah memerah.Namun pada detik berikutnya, terjadilah sesuatu yang sama sekali di luar dugaanku. Lima atau enam benjolan serupa kutil di punggung Goliath Rana menonjol makin jauh ke luar dan menyemburkan nyala api merah pekat. Semburan itu menyusut dengan cepat namun mempertahankan intensitasnya semenjak saat itu, berkedip-kedip di tempatnya.Aku tak punya waktu untuk mencerna apa yang sedang terjadi sebelum katak itu membuka mulutnya dan mengarahkannya ke dasar kubah. Jaraknya lebih dari tujuh puluh lima kaki. Lidah katak itu memang panjang, tetapi takkan sepanjang itu......Benar, kan?Apa yang muncul di dalam mulutnya yang menganga lebar adalah sebuah lingkaran merah pendar. Terdapat simbol-simbol rumit di dalam polanya."Lingkaran sihir...?!" decakku.Suara Leafa menenggelamkan suaraku, berseru, "Awas, semuanya!"Sebelum kata-kata itu tuntas keluar dari mulutnya, sebuah bola api raksasa termuntahkan dari mulut sang katak. Aku melompat ke arah kanan murni karena insting semata, menyambar Yui, dan terjun ke dalam air di dekat kami.Terdengar suara gemuruh, dan warna merah memenuhi pandanganku. Gelombang panas memanggang punggungku, menguras HP-ku sedikit demi sedikit. Begitu ledakannya mereda, aku bangkit berdiri seraya membopong Yui."Apa kalian semua tidak apa-apa?!"Sinon, Lisbeth, dan Leafa balas mengiakan, dan Kuro menggeram garang. Bola api katak itu telah menguapkan salah satu genangan air tempat ia menghantam dasar kubah, tetapi tak seorang pun yang terkena proyektil itu secara langsung. Para manusia tikus di dekat dinding tampak baik-baik saja, meskipun jelas terguncang oleh kejadian barusan.Di atas sana, Goliath Rana masih berada di titik yang sama, menggembungkan dan mengempiskan tenggorokannya. Tampaknya ia belum akan turun untuk sementara waktu."Katak yang bisa menembakkan api? Sama saja seperti siput yang punya serangan garam...," keluhku.Lisbeth menyahut, "Kau tak bisa asal mengarang peribahasa seolah-olah itu... Eh, sebenarnya masuk akal juga sih."Jadi kemampuan bahasaku masih bisa mempertahankan martabatnya, tetapi kondisi pertarungannya malah semakin memburuk dari sebelumnya. Satu-satunya serangan jarak jauh yang kami miliki hanyalah senapan musket Sinon, jadi jika monster itu terus menembakkan bola api dari langit-langit, pertarungan ini akan semakin lepas dari kendali kami.Kami sebenarnya tidak diwajibkan untuk mengalahkan katak ini. Selama kami bisa kabur ke sisi timur Sabana Giyoru bersama Sinon, kami aman. Namun itu berarti kami harus mendaki jalan setapak yang melandai di sepanjang dinding menuju mulut terowongan, yang berada jauh di atas sana. Dan katak itu jelas takkan membiarkan kami lewat begitu saja.Jalan setapak itu..."...Semuanya, aku akan berlari memanjat sisi dinding dan menggunakan skill lompatan untuk menjatuhkan katak itu ke bawah. Kalian susul dengan serangan sesuai rencana awal!" ujarku, menangkap ide yang baru saja melintas di benakku. Kendati demikian, raut wajah rekan-rekanku tampak cemas."Tapi Kakak juga bakal ikut jatuh bersamanya nanti. Kakak bisa mati kalau jatuh dari ketinggian seperti itu...," ucap Leafa cemas."Aku takkan apa-apa," yakinku padanya."Aku tidak akan menerima damage selama aku mendarat di air yang dalam. Hanya ini satu-satunya cara.""..."Ia bungkam, tetapi kekhawatiran di manik hijaunya tak jua sirna. Sejujurnya, aku sendiri pun tak terlalu yakin bisa mendarat tepat di perairan yang cukup dalam untuk menyelamatkanku.Itu adalah pertaruhan yang nekat, tetapi tepat saat aku menurunkan Yui ke tanah untuk bersiap, ia tiba-tiba berseru, "Jangan, Papa! Biar aku saja yang melakukan bagian itu!"Terkejut, aku pun tergagap, "T-tidak, kau tidak perlu...""Papa memiliki daya serang tertinggi di party ini, jadi Papa seharusnya mengeksekusi serangan susulan pada titik lemahnya, bukan serangan pembuka.""Tapi, Yui, kau kan tidak bisa menggunakan Sonic Leap...""Kalau aku mundur ke dalam terowongan untuk mengambil ancang-ancang lari, aku bisa menjangkaunya dengan Vertical!""Tapi..."Seolah-olah satu-satunya hal yang bisa kulontarkan hanyalah bantahan. Yui menatap lurus ke mataku dan berujar, "Papa, aku tak ingin menghabiskan seumur hidupku hanya sebagai pihak yang selalu dilindungi.""..."Tatapan sungguh-sungguh di matanya mengingatkanku pada Asuna. Dan meskipun tak bisa memastikannya, aku menduga tatapan itu mungkin mirip denganku juga."...Baiklah. Majulah," kataku seraya menurunkannya.Cukup jauh dari kami, Sinon berseru, "Dia bergerak lagi!"Aku menengadah ke arah kubah dan melihat katak raksasa itu merayap secara horizontal. Ia kemungkinan akan menembakkan bola api lagi. Mungkin saja ia akan membidik Yui yang sedang berusaha mendaki lereng.Lisbeth memecah lamunanku. "Biar aku yang pancing agresinya (aggro)! Biarkan saja dia pergi!" Ia memukul perisai bundarnya dengan gada. Efek riak kecil memancar dari perisainya, yang berarti ia pasti telah memperoleh semacam skill provokasi (taunt) di suatu waktu.Goliath Rana itu berhenti bergerak dan mulai berputar arah. "Aku maju!" seru Yui lalu mulai berlari dengan pedang pendek di tangannya. Bahkan aku pun tercengang melihat kecepatannya melompati bebatuan dan genangan air. Ia berbelok di dinding dan mempercepat langkahnya mendaki jalan setapak menuju mulut terowongan.Katak itu memutar bagian atas tubuhnya ke belakang dan membuka mulutnya lebar-lebar. Arahnya memperjelas bahwa ia membidik Lisbeth."Mundur, semuanya!" instruksinya.Aku mundur patuh, dan berseru, "Pastikan kau menghindarinya, Liz!""Percayalah pada kualitas perisaiku!"Apa maksudnya seperti yang kupikirkan? tanyaku dalam hati, tepat pada saat lingkaran sihir merah lainnya muncul di mulut Goliath Rana, memancarkan cahaya terang.Dengan raungan yang menggetarkan udara, binatang buas itu menembakkan proyektil api dari mulutnya. Namun Lisbeth tetap tegak berdiri. Ia mengangkat perisai bundarnya dengan lengan kiri dan menahan gadanya di belakang tubuhnya.Perisai itu terbuat dari ingot baja premium yang ia hasilkan dari melebur Blárkveld. Sesuai dengan tingginya kemahiran Blacksmithing sang pembuatnya, perisai itu pastilah memiliki kualitas pertahanan yang mumpuni. Namun tak mungkin perisai itu bisa menahan serangan api dari bos dungeon tanpa menanggung damage sedikit pun.Kaki kananku menegang, bersiap mendorongku maju untuk bertindak. Namun aku mencengkeram lututku dengan tangan, menahannya agar tetap di tempat. Jika aku melompat maju dan ikut terkena ledakan, aku mungkin takkan siap menyerang katak itu setelah ia jatuh. Aku harus memercayai Liz dan Yui serta membiarkan mereka melakukan apa yang telah mereka tekadkan.Bola api berdiameter delapan belas inci itu menghantam perisainya secara langsung. Serangan itu berkilat, mendistorsi pandangan, mengepulkan nyala api merah dan asap hitam yang menyembunyikan Liz dari pandangan. Aku menutupi wajahku dengan lenganku untuk berlindung dari ledakannya.Di sudut kiri atas, aku melihat batang HP Lisbeth menurun. Terus menyusut... 70, 60, hingga berada di bawah 50 dalam sekejap mata... lalu berhenti di kisaran 40 persen."Liz!" seruku, menengadah.Meringkuk di tengah radius ledakan, Lisbeth mengangkat ibu jarinya untuk meyakinkanku. Ia sebenarnya bisa saja melesat menghindar dan mungkin bertahan melawannya dengan lebih sukses, tetapi ia sengaja menerima hantaman itu demi memastikan serangannya takkan beralih mengincar Yui.Adapun Yui, ia sudah hampir mencapai puncak lereng yang berkelok di sepanjang tepian kubah. Bahkan aku pun akan kesulitan berlari mendaki birai sempit itu tanpa pegangan apa pun. Namun Yui berhasil melakukannya dengan ketenangan yang mengagumkan—bukan karena ia adalah seorang AI, melainkan karena kami telah membesarkannya untuk memiliki hati dan keberanian yang nyata. Begitu ia mencapai ujung jalan setapak, ia melesat ke dalam terowongan untuk memberinya sedikit ruang lari demi mengambil ancang-ancang melompat ke arah katak tersebut."Rrrbit...," Goliath Rana menguok, berbalik agar bisa menghadap ke terowongan.Gawat... Jika ia menyerang dengan lidahnya, ia bisa memukul jatuh Yui saat ia melompat di udara."Sebelah sini!" seru Sinon. Ia mengarahkan senapan musketnya yang sudah terisi penuh pada katak yang menempel di langit-langit kubah lalu segera menarik pelatuknya. Pemantiknya memercikkan bunga api, dan sesaat kemudian, senapan itu menggelegar. Peluru itu menghantam Goliath Rana tepat di matanya."Gribbaaaw!" katak itu memekik, kembali memutar tubuhnya.Lalu sesosok bayangan berpakaian putih melesat keluar dari terowongan. Ia telah menyiagakan pedang pendek di bahu kanannya, rambut hitam panjangnya berkibar di belakangnya. Senjatanya memancarkan pendar biru, tetapi cahayanya berkedip-kedip. Mengeksekusi sword skill di udara saat kuda-kudamu tak kokoh pastilah sangat sulit bagi Yui, yang belum pernah berlatih melakukan hal itu, tetapi ia berhasil mempertahankan pendar efeknya sejauh ini."Yaaaa!" Pekik pertarungannya yang garang mencapai kami di dasar kubah. Begitu kaki kanannya terayun ke udara, Yui mengaktifkan Vertical. Sistem gim mendorong tubuh mungilnya, melontarkannya ke depan dan meninggalkan tebasan brilian di udara.Ujung pedangnya mengunci target pada sisi tubuh sang katak. Walaupun tidak menembus kulitnya, daya kejut dari serangan itu melepaskan alat penghisap di jari-jari kaki katak tersebut dari dinding. Kulit katak yang kenyal bak karet memantulkan Yui ke belakang. Katak itu pun menyusul di belakangnya, jatuh dari langit-langit seraya mengayun-ayunkan kaki-kakinya dengan liar di udara.
Di SAO dan ALO, monster yang mati akan segera meledak menjadi partikel-partikel biru, tetapi di sini, mayat mereka tetap utuh—yang berarti kau tak bisa memastikan apakah monster itu benar-benar sudah mati. Aku mengkhawatirkan Yui, tetapi yang lebih penting adalah memastikan katak itu telah mengembuskan napas terakhirnya. Aku melangkah maju, menyiagakan pedangku.Lalu sesuatu yang aneh terjadi. Dari bagian tengah katak yang terbujur kaku dan telentang itu, di sekitar posisi jantungnya, secercah cahaya merah muncul, membubung dalam senyap di kegelapan. Kami telah mengalahkan banyak monster sejauh ini, termasuk beruang gua berduri (thornspike cave bear) yang sama kuatnya, tetapi aku belum pernah melihat hal seperti ini terjadi pada satu pun dari mereka."Kirito, lihat...!"Terdorong oleh seruan Sinon, aku mengambil dua langkah, lalu melompat setinggi mungkin, menggapai cahaya merah tersebut. Namun tepat saat ujung jariku menyentuhnya, cahaya itu meletus dan lenyap, persis seperti gelembung. Begitu mendarat, aku memeriksa tanganku, tetapi tak ada apa pun di telapak tanganku.Tiba-tiba, seluruh anggota party dikelilingi oleh cincin cahaya biru. Sesaat aku sempat panik, mengira itu semacam jebakan, tetapi segera menyadari bahwa itu hanyalah efek naik level (level-up). Katak itu benar-benar sudah mati. Sebuah pesan muncul memberitahuku bahwa aku kini berada di level 16, tetapi aku buru-buru menyingkirkannya dan menengadah.Bahkan di dalam kegelapan, gaun putih Yui sangat mudah dikenali. Ia menggantung di udara tepat di bawah pintu keluar terowongan, lengan kirinya yang kurus dicengkeram oleh lengan terulur dari seseorang yang menggantung terbalik. Pemain itu memiliki tali yang terikat di pergelangan kakinya, yang mana dipegang erat oleh pemain lain dari arah pintu masuk terowongan.Yui dan pemain misterius itu berayun-ayun pada tali, terombang-ambing ke kiri dan kanan, sementara suara derit samar memperjelas bahwa tali itu tak cukup kuat untuk menahan beban dua orang dan perlahan mulai terkoyak. Pria bertubuh besar yang berdiri di pintu masuk gua terus menarik tali itu ke atas.Aku melesat maju ke posisi tepat di bawah Yui dan berseru ke atas, "Hei, pelan-pelan, pelan-pelan!"Pria yang menarik tali itu balas berseru ke bawah, "Taliku tidak cukup panjang untuk menurunkan mereka ke sana, dan daya tahannya (durability) bakal habis dalam waktu kurang dari dua puluh detik!"Pemain yang satunya—pria yang menahan Yui dengan tangannya—menyahut, "Jangan sampai hal itu terjadi padaku, Bos! Tidak setelah kita sampai sejauh ini! Kau harus menarikku naik!"Aneh, batinku, merasakan sensasi déjà vu. Aku berani sumpah pernah mendengar kedua suara itu sebelumnya. Aku menjejakkan tumitku untuk berhenti. Menunggu di bawah mereka takkan membantu jika aku tak bisa benar-benar menangkap Yui dan pria itu secara bersamaan. Sebagai gantinya, aku butuh bantalan. Sekalipun aku menggelar seluruh kulit hiena di inventarisku, itu kemungkinan takkan cukup untuk menyerap damage dari jatuh setinggi itu.Hanya ada satu hal yang bisa berhasil di sini. Aku berbalik, berlari kembali, dan berseru pada yang lain, "Bantu aku memindahkan ini, teman-teman!"Lalu aku meraih kaki Goliath Rana yang sudah mati itu. Seketika, semua orang langsung memahami maksudku. Sinon melompat mendahuluiku, sementara Lisbeth dan Leafa mencengkeram kaki kirinya. Kami berempat mulai menyeret mayat raksasa tersebut.Dengan lolongan singkat, Kuro menggigit sisi tubuh katak itu untuk membantu kami mendorong, dan bahkan ketiga manusia tikus meletakkan garpu rumput mereka untuk membantu mendorong kepalanya. Begitu kami bergerak, tubuh itu meluncur lebih cepat dari dugaanku di atas tanah berbatu. Aku menoleh dari balik bahuku seraya menarik dan melihat bahwa Yui sudah ditarik separuh jalan dari jarak sekitar tiga puluh kaki menuju mulut terowongan, tetapi talinya terlihat semakin aus.Kami hampir tiba di titik tepat di bawah mereka berdua saat terdengar bunyi putus yang kejam!"Maaf, Kirito! Lakukan sesuatu!" seru pria bertubuh besar yang sedari tadi menarik tali. Aku tak punya waktu untuk bertanya-tanya dari mana ia mengetahui namaku."Aaaieeee!" ratap pria yang satunya lagi. Namun sungguh mengagumkan bagaimana ia berhasil menarik Yui mendekat padanya dan memastikan gadis itu akan mendarat di atasnya, bukan sebaliknya. Kami harus memastikan pengorbanan itu tidak sia-sia."Yaaaa!" aumku, mengerahkan sisa tenaga terakhirku. Sebuah pesan baru muncul, bertuliskan Kemahiran skill Physique telah naik ke angka 4, dan tubuh katak itu sedikit terangkat ke udara. Tubuh itu mendarat di genangan air lalu berhenti.Sedetik kemudian, Yui dan pria itu amblas ke dalam perut Goliath Rana. Meskipun sudah mati, tubuhnya tetap mempertahankan kekenyalannya, dan mereka memantul kembali lebih dari tiga kaki ke udara sebelum akhirnya mendarat lagi dengan aman."Papa!" tangis Yui, yang sama sekali tak bersuara saat ia menggantung maupun terjatuh tadi. Ia melompat ke arahku dengan lengan terentang lebar. Aku mendekapnya dan memeluk tubuh mungilnya erat-erat, berhati-hati agar tak menghimpitnya ke zirah logamku."Kau hebat sekali," bisikku."Caramu mengeksekusi Vertical di udara sungguh luar biasa."Untuk pertama kalinya sejak pertarungan melawan Goliath Rana dimulai, suara Yui bergetar. "Iya... aku sudah berusaha keras!"Yui belum pernah bertarung sendiri sebelumnya. Mendapatkan pengalaman pertamanya melawan bos yang mengerikan pasti terasa sangat luar biasa dan menakutkan dengan cara yang tak bisa kubayangkan. Dan itu bukanlah semacam tiruan emosi manusia yang dimodelkan secara saksama layaknya gaya AI pada umumnya. Pada titik ini, Yui telah melampaui batas kecerdasan buatan (top-down artificial intelligence) dan memperoleh emosi yang sejati—menurut pendapatku. Itulah satu-satunya penjelasan atas pengorbanan dirinya, batinku seraya membelai rambutnya.Tepat saat itu, pria yang tengah berbaring dengan kaki dan tangan terentang di atas perut katak itu terduduk, menggerutu, "Sembilan puluh sembilan kali dari seratus kesempatan, aku pasti sudah mati di situ..."Rambut cokelat pendeknya tertahan ke atas oleh bandana merah tua. Wajahnya panjang dan tirus, dan rambut-rambut acak-acakan menghiasi dagunya. Zirahnya terbuat dari kulit, dan sebilah pedang melengkung bersandar di sisi kirinya.Saat pertama kali mendengar suara itu, ada dua pendapat yang berdebat di benakku: Mungkin saja dan Tidak mungkin. Tampaknya pemenangnya memang Mungkin saja."Klein... apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku takjub.Pendekar katana (sekarang jadi pendekar pedang lengkung/scimitar?) yang kukenal sejak zaman SAO itu merentangkan kedua tangannya dan mengeluh, "Wah, wah, itukah hal pertama yang keluar dari mulutmu, Kiri, sobatku? Kami buru-buru kemari karena mengira kau sedang dalam masalah dan butuh bantuan!""Ya, dan kami sangat menghargainya," sela Lisbeth."Tapi bagaimana kalian tahu kami ada di sini? Tidak ada seorang pun yang menghubungi kalian di seberang sana, kan?""Biar aku yang menjawabnya," ujar suara lain dari atas, membuat kami semua menengadah. Seorang pria berpenampilan mengesankan tengah menuruni jalan setapak di sepanjang sisi kubah dengan hati-hati, bertubuh besar, berkepala plontos, dan berdada bidang. Ini adalah satu lagi wajah yang tak asing, sang petarung kapak sekaligus pedagang, Agil.Namun yang tersandang di punggungnya bukanlah kapak dua tangan ciri khasnya, melainkan kapak bermata dua yang tampak jauh lebih kecil—meskipun masih jauh lebih besar ketimbang pedangku. Seperti halnya Klein, ia mengenakan zirah kulit."Hai, Agil," sapaku, melakukan salam adu tinju dengannya saat ia mencapai dasar kubah.Lalu aku menyapa Klein dengan cara yang sama dan bertanya, "Jadi... bagaimana kalian bisa sampai di sini? Apa kalian memulai di reruntuhan di sebelah selatan seperti para pemain ALO lainnya?""Ya. Aku dan Klein terlambat satu hari. Kami akhirnya baru sempat dive malam ini, dan masa tenggangnya sudah lama berakhir, ditambah lagi map di sekitar kami sudah dikeruk habis. Entah bagaimana, aku berhasil bertemu dengan Klein, dan kami memutuskan untuk menuju pondok kayumu...""Hah? Bagaimana kalian tahu di mana letaknya?""Asuna menggambarkan petanya dengan tangan untuk kami.""Oh, begitu rupanya..." Sesaat, aku terdiam memikirkan kekasihku, mantan wakil komandan Knights of the Blood, dan kegemarannya akan detail yang teramat teliti."Kiri, ngaku saja. Kau sama sekali melupakan kami, kan?" Klein mendengus penuh cela dari atas perut katak.Ucapannya seratus persen benar, tetapi aku takkan membiarkannya mengetahui hal itu."T-tidak... itu tidak benar. Maksudku, kau dan Agil kan harus bekerja di hari kerja... jadi aku berniat menghubungi kalian kalau situasinya sudah lebih tenang..."Agil menyilangkan tangannya dan berkata, "Tempat kami tutup hari ini."Klein menimpali dengan, "Dan aku ambil cuti setengah hari lalu pulang setelah makan siang.""Dicey Café kan jam operasionalnya tidak menentu, dan aku tidak bisa membaca pikiranmu untuk tahu kapan kau mengambil jatah cuti, Klein!" bantahku.Sinon menghentikan proses pengisian senapannya untuk berdeham. Ia menggerutu, "Bisa langsung ke intinya saja? Kita masih punya banyak urusan.""Oh, maaf, maaf." Agil kembali ke topik pembicaraan."Singkat cerita, kami mengumpulkan beberapa perlengkapan seadanya dan meninggalkan reruntuhan menuju hutan, lalu diserang oleh tiga PKer (Player Killer). Kami cuma punya senjata batu, sedangkan mereka punya besi, ditambah zirah yang lebih bagus, jadi kupikir kami bakal celaka besar.""Saat itulah kau seharusnya melihat kombinasi kami beraksi," lanjut Klein."Kami mencincang para PKer itu berkeping-keping, satu demi sa—"Suara berat Agil memotongnya. "Kau cuma sembunyi di belakangku sepanjang waktu.""Yah, habisnya aku harus bagaimana? Skill bawaanku kan..."Klein menghentikan kalimatnya di situ dengan nada yang agak mencurigakan. Aku berasumsi kemungkinan itu ada hubungannya dengan bagaimana skill Katana-nya yang sudah maksimal tidak berlaku untuk scimitar yang ia gunakan saat ini."Jadi kau menghabisi para PKer itu?" tanyaku, menoleh pada Agil."Ya... sepertinya mereka itu kelompok dadakan, dan kerja sama tim mereka sangat buruk. Jadi kami berhasil melewatinya. Tapi aku lupa kalau masa tenggang sudah lewat, dan tanpa pikir panjang, aku menggunakan skill serangan area yang langsung melibas mereka bertiga," ujarnya seraya mengerutkan kening. Agil pada dasarnya adalah pemain yang berhati lembut meski bertubuh raksasa, dan jika para PKer itu mencoba kabur, ia pasti akan membiarkan mereka pergi.Leafa mendekat dan menepuk lengan kekarnya."Jangan terlalu dipikirkan, Agil. Kalau mereka melakukan PK (Player Killing), mereka pasti sudah tahu risiko dibunuh balik oleh target mereka. Kemarin kami juga diserang oleh komplotan PKer, dan Kirito benar-benar menghancurkan mereka semua!""H-hei, aku tidak melakukannya sendirian kok," klarifikasiku buru-buru, lalu memberi isyarat pada Agil. "Lalu setelah itu?"Ia menyeringai dan menepuk zirah kulitnya yang mengilap. "Para PKer itu dengan berbaik hati menjatuhkan beberapa zirah kulit serta kapak besi dan scimitar. Berbekal upgrade itu dan bantuan peta, kami berhasil sampai ke pondok kayu, di mana Asuna bilang dia mencemaskan kalian dan meminta kami untuk menyusul dan membantu kalian.""Oh, begitu ya," sahutku, berterima kasih pada pasanganku atas pemikirannya yang tajam."Tapi tunggu... Bagaimana Asuna bisa tahu rute mana yang kita ambil? Bagaimana kalian berdua bisa sampai ke gua ini...?" Agil kembali menyeringai, lalu mendongakkan dagunya ke arah Klein. Sang petarung scimitar itu menggaruk bandana di dahinya, lalu menarik napas, bersiap untuk bicara."Itu berkat penggunaan skill yang kubawa...""Hah? Skill-mu kan Katana, kan? Apa hubungannya dengan ini?" ujar Lisbeth, menyuarakan apa yang juga ada di pikiranku. Leafa, Sinon, dan Yui kemungkinan besar mempertanyakan hal yang sama.Semua orang menatap Klein, yang memasang ekspresi yang mustahil untuk diklasifikasikan."Bukan Katana.""Hah?"English Text: “I inherited Pursuit.” “Huh?! ” we shouted together. Terjemahan Bahasa Indonesia:"Aku mewarisi Pursuit (Pelacakan).""Hah?!" seru kami bersamaan.Di ALO, skill Pursuit memang berguna, menyoroti jejak kaki pemain maupun monster dan mempermudah pencarian material yang kau inginkan, tetapi butuh kesabaran ekstra untuk menaikkan levelnya, dan sangat sedikit pemain yang secara khusus melatihnya.Namun Klein telah melatih skill senjata utamanya yaitu Katana hingga mencapai tingkat kemahiran maksimum 1.000, kalau aku tidak salah ingat. Jika ia tidak membawa serta Katana, berarti ia pasti juga telah memaksimalkan Pursuit..."Kenapa juga kau sampai sejauh itu melatih skill semacam itu?" tanya Lisbeth dengan nada jengkel.Lalu ia menyadari sesuatu dan berseru, "Oh! Jangan-jangan kau memakainya untuk melacak dan membuntuti gadis-gadis manis! Dasar penguntit!""B-bukan! Bukan begitu! Aku cuma melatihnya supaya bisa menyelesaikan quest pengejaran yang diberikan Skuld padaku...""......Hah?" gumam semua orang kecuali Agil.Skuld adalah nama seorang NPC yang kami temui di alam Jotunheim, tepat di bawah Alfheim. Ia adalah sesosok wanita cantik nan anggun yang mengingatkan pada penggambaran Valkyrie dalam mitologi Nordik. Mengingat kembali hal itu, aku teringat bahwa ia pernah memberikan sesuatu pada Klein saat kami berpisah. Jadi benda itu adalah item yang memulai quest baru... dan itulah dorongan bagi Klein untuk melatih skill Pursuit-nya hingga maksimal?"Jadi... apa kau berhasil menyelesaikan quest itu?" tanyaku.Klein menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Aku hampir menyelesaikannya... lalu kejadian ini menimpa. Kuharap Skuld baik-baik saja..."Aku memutuskan untuk tidak bertanya padanya apa yang akan terjadi jika ia berhasil menyelesaikan quest Pursuit-nya. Lebih baik kembali ke masalah yang ada di depan mata."Jadi kau berhasil menyusul kami berkat skill Pursuit yang kau bawa. Tapi tingkat kemahirannya pasti sudah turun jadi 100, kan? Aku kagum kau bisa melacak kami sampai sejauh ini.""Yah, begitulah... di tingkat 100 kau tak bisa benar-benar memilih untuk melacak jejak kaki pemain tertentu, tetapi cuma ada jejak kaki milik satu party di dataran itu. Jadi aku yakin itu pasti kalian dan mengikuti jejaknya sampai kemari.""Ah, begitu rupanya," gumamku, akhirnya merasa puas.Aku membungkuk pada Agil dan Klein. "Kalian benar-benar menyelamatkan kami. Kalau kau tak menangkapnya, Yui pasti akan jatuh ke tanah bersama katak itu.""Agil, Klein, terima kasih!" tambah Yui, ikut membungkuk. Kedua pria bertubuh besar dan kekar itu tersenyum malu-malu."Seandainya saja kami bisa tiba tepat waktu untuk ikut bertarung," ujar Agil."Entahlah. Aku bukan penggemar monster berlendir semacam itu," gumam Klein dengan nada suara yang menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak sedang bercanda. Aku menunjuk pada benda yang sedang ia gunakan sebagai alas duduk."Kau tahu itu bangkai si katak, kan?""Hah...? Ueowaaaah!!" pekiknya, melompat vertikal ke udara dengan kaki yang masih bersila. Bahkan Sinon pun ikut tertawa melihatnya.
Komentar (0)
Memuat komentar...