Sword Art Online 023: Unital Ring II

Bagian 9

Estimasi waktu baca: 49 menit

Ketiga manusia tikus yang bertarung bersama Sinon adalah kaum minoritas di dunia Unital Ring yang disebut kaum Patter. Hanya ada sekitar seratus dari mereka yang tinggal di dalam gua-gua di dinding perbatasan alami ini.
Sinon bertemu mereka di dalam gua dan mempelajari sejarah kaum Patter dari seorang tetua yang bisa berbicara bahasa manusia (yakni, bahasa Jepang). Menurutnya, kaum Patter dulunya tinggal di sebuah kota besar di sisi utara Sabana Giyoru, tetapi sebuah bencana alam dahsyat meluluhlantakkannya dalam semalam, dan para penyintas diburu oleh dinosaurus karnivora raksasa yang berkeliaran di dataran tersebut hingga terpaksa beralih tinggal di gua-gua di dalam dinding. 
Kaum Patter memiliki legenda bahwa, jauh di sebelah timur di seberang dinding, terdapat sebuah hutan lebat yang kaya. Beberapa anggota yang lebih muda bermaksud pergi ke sana dan tinggal di hutan tersebut, tetapi untuk mencapai sisi timur dinding, mereka harus melewati kubah tempat katak raksasa ganas itu bersembunyi.
Sejumlah prajurit tangguh telah menantang katak tersebut, dan semuanya tewas dibunuh, sehingga sang tetua Patter telah menyerah pada impian untuk melintasi dinding. Namun Sinon bagaimanapun juga harus menembus ke sisi timur untuk menemui kami, jadi tiga pemuda Patter yang lebih berani—setidaknya menurut standar mereka—bergabung bersamanya dalam upaya untuk mengalahkan katak itu.
Goliath Rana, ternyata, jauh lebih tangguh dari yang ia duga berdasarkan cerita yang ada, dan senapan musketnya kurang berguna dari yang ia harapkan. Jadi terlepas dari keberaniannya, Sinon sempat mempertimbangkan untuk mundur. Saat itulah kelompok kami melompat masuk untuk membantu mengalahkan katak tersebut, dengan susah payah. 
Terlepas dari segala rintangannya, kami telah menyelesaikan tujuan terbesar malam ini, yakni bertemu kembali dengan Sinon, ditambah lagi bonus menemukan Klein dan Agil juga. Satu-satunya hal yang tersisa untuk dilakukan seharusnya adalah kembali melalui rute awal kami datang, tetapi masih ada satu bagian cerita lagi yang cukup tak terduga.
Kami mendapat tambahan anggota rombongan—bukan cuma tiga orang Patter yang bertarung melawan Goliath Rana bersama kami, melainkan seluruh dua puluh orang dari mereka. 
"...Menurutmu apakah ini semacam quest, Kirito?" bisik Lisbeth padaku. Kami berjalan di garis depan memimpin apa yang tak lagi terlihat seperti party melainkan sebuah prosesi iring-iringan besar-besaran.
Aku memikirkannya sejenak lalu menggeleng.
"Tidak... Kurasa tidak... Lagipula, aku sudah mengecek tab quest di menuku tadi, dan tidak ada apa-apa yang tertulis di sana..."
"Saat kita sampai di hutan, menurutmu apa mereka bakal pamit pergi begitu saja?"
"...Yeum."
"Dan apakah menurutmu kita semua bakal sampai di hutan dengan selamat sedari awal?"
"...Yeum."
"Maksud 'yeum' itu iya atau tidak?"
"Dua-duanya."
Ia menghela napas dengan keras dan menyiratkan kekesalan, lalu menoleh dari balik bahunya yang lain.
"Leafa, apa ada yang salah dengan kakakmu ini?"
"Ha-ha-ha... Kakak memang punya kecenderungan untuk kembali bersikap kekanak-kanakan sesekali..."
Itu ucapan yang jahat, tetapi aku tak ingin membuang-buang waktu untuk berdebat. Semenjak kedua puluh kaum Patter itu mengutarakan keinginan untuk ikut bersama kami, aku sibuk berpikir mati-matian mencari cara agar semuanya berjalan lancar.
Aku belum memberikan jawaban pasti atas pertanyaan Liz soal kaum Patter, tetapi sejujurnya, aku tak bisa membayangkan mereka bisa bertahan hidup begitu kami mencapai hutan pondok kayu—yang mereka sebut sebagai Hutan Besar Zelletelio.
Memang ada banyak air dan makanan, ya, tapi juga banyak monster, dan kalau mereka berpapasan dengan salah satu beruang gua berduri itu, yang bahkan lebih kuat ketimbang Goliath Rana, monster itu bakal menyapu habis kedua puluh orang ini.
Aku belum tahu apa yang terjadi saat para NPC di dunia ini mati. Mungkin saja mereka akan hidup kembali setelah beberapa waktu berlalu. Namun bukan berarti kami bisa menelantarkan mereka pada nasib yang kejam begitu saja. Kami takkan mungkin bisa mengalahkan katak itu atau bersatu kembali dengan Sinon tanpa bantuan tiga manusia tikus pemberani beserta garpu rumput mereka.
Di sisi lain, akan sulit untuk menampung dua puluh orang Patter di pondok kayu. Mereka mungkin saja muat di dalam sana, tetapi jumlah kami pun kini bertambah banyak, yang berarti hampir mustahil untuk mencari ruang lantai yang cukup bagi semua orang untuk berbaring di malam hari.
Aku menoleh dari balik bahuku, memikirkan apa yang harus dilakukan, dan menangkap sosok Yui yang sedang berjalan bersama Sinon. Ia pasti sangat kegirangan dengan reuni ini, karena ia terus menggandeng tangan Sinon dan berceloteh dengan penuh semangat.
Meskipun tak mungkin benar, rasanya ia juga terlihat sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Itu pasti hanya ilusi pikiranku saja setelah menyaksikan pertumbuhannya sebagai seorang prajurit hari ini.
Ia mengaku ingin menjadi seorang mage (penyihir), tetapi aku merasa ia akan lebih baik jika memilih Brawn atau Swiftness, ketimbang Sagacity. Lagipula, satu setengah hari telah berlalu, dan kami masih belum tahu bagaimana cara mempelajari skill sihir.
Tepat saat itu, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di benakku dan aku buru-buru memanggil ring menu-ku. Pada tab inventaris, aku menyortir item-ku dari yang paling baru, dan melihat sebuah nama yang asing di urutan teratas daftar.
Fire magicrystal (Kristal sihir api).
Nah, itu nama yang sangat menggiurkan. Aku mengetuknya untuk memunculkan properti item tersebut. Di bawah nama dan tingkat daya tahannya terdapat sebuah deskripsi singkat: Sebuah kristal yang terbuat dari esensi sihir api yang dipadatkan. Memberikan skill sihir api. Jika sudah dimiliki, menambahkan sedikit bonus kemahiran.
Mantaaap! Aku ingin menjerit kegirangan, tetapi aku menahannya, takut mengejutkan kaum Patter yang tengah gugup. Mereka sudah cukup ketakutan melihat Kuro, yang berjalan di depanku.
Kini jelas bagiku kapan aku memungut fire magicrystal itu. Itu adalah cahaya merah yang membubung dari tubuh Goliath Rana. Saat aku menggapainya, item tersebut langsung masuk ke inventarisku.
Lantas mengapa cahaya itu muncul dari tubuh Goliath Rana dan bukan dari beruang gua berduri? Jawabannya karena katak itu menggunakan sihir api. Dengan kata lain, mempelajari skill sihir di dunia ini mensyaratkanmu untuk mengalahkan monster yang menggunakan jenis sihir tersebut. Hanya saja belum jelas apakah bisa dari monster acak mana pun, ataukah harus musuh tipe bos yang lebih tangguh. 
Aku mengetuk jendela properti yang terbuka, dan itu memunculkan jendela yang lebih kecil berlabel TIPS (Petunjuk). Untuk menggunakan item ini, Anda harus mematerialisasikannya, lalu menghancurkannya dengan gigitan gigi Anda.
"......"
Itu metode yang ekstrem, harus kuakui, tetapi mengingat item itu berasal dari tubuh monster, kurasa itu masuk akal juga. Aku menutup pemberitahuan itu, lalu menekan tombol pada jendela properti untuk memunculkannya ke ruang fisik.
Magicrystal itu bukan lagi sekadar cahaya tak berwujud, seperti saat aku menangkapnya. Kini benda itu berwujud kristal tembus pandang berukuran kurang dari satu inci. Warnanya merah tua cemerlang, dengan nyala api kecil yang terperangkap di tengahnya. 
Yang perlu kulakukan hanyalah mengunyahnya dengan gigiku layaknya permen keras untuk mendapatkan skill sihir api, tetapi tentu saja aku takkan melakukan itu. Alih-alih, aku berbalik dan menyodorkannya pada Yui.
"Ini untukmu, Yui."
"...? Apa ini?" tanyanya, memiringkan kepalanya.
Ia mengamati magicrystal itu dengan saksama lalu tersenyum semringah.
"Ooh, cantik sekali, Papa! Aku akan merawatnya baik-baik!"
"Jangan, jangan lakukan itu... Coba dimakan."
".........Apa?"
Bukan cuma Yui. Sinon, Lisbeth, dan Leafa semuanya memasang raut skeptis. Aku mungkin seharusnya menjelaskannya dari awal, tetapi aku dirasuki keinginan untuk menjadikan skill sihir ini sebagai kejutan yang menyenangkan untuknya.
"Kau akan mengerti kalau kau memakannya. Coba kunyah sedikit?"
"......" 
Ia memberiku tatapan yang sama persis seperti tatapan Asuna saat sedang curiga padaku, tetapi ia tetap memasukkan magicrystal itu ke dalam mulutnya. Ia menggulirkannya di pipinya, lalu bergumam, "Papa, wajanya tidak ceperti apa-apa." 
"Kirito, apa kau sadar apa yang sedang kaulakukan?" tuntut Sinon.
Aku meyakinkannya bahwa tidak apa-apa dan semuanya terkendali.
"Jangan cuma diisap, Yui. Kau harus menggigitnya sampai hancur."
"Oh... oke."
Yui memasang raut penuh tekad, menjepit magicrystal itu di antara gigi geraham di sisi kanannya, lalu memejamkan mata dan menggigitnya kuat-kuat. Bukan bunyi kunyahan yang kuduga, melainkan bunyi derak nyaring yang melengking.
Nyala api menyembur dari mulut Yui.
"Hwaaaaah!" pekik Yui.
Keterkejutanku kira-kira separuh dari keterkejutannya, tetapi tak ada HP yang berkurang.
Lisbeth menjerit "Api, api, api!" dan meraih air minumnya untuk disuapkan pada gadis kecil itu, tetapi apinya sudah telanjur padam.
"Hei, Kakak! Itu benar-benar lelucon yang jahat!" Leafa memarahiku, dengan kepalan tangan terangkat.
Aku menggelengkan kepala. "B-bukan, bukan, itu bukan lelucon! Apa kau dapat pesannya, Yui?!" 
"Hwaaah... Oh, dapat... Tulisannya, skill sihir api diperoleh— Apa?!" Mata Yui berbinar, dan ia seketika membuka ring menu untuk mengecek tab skill-nya. Ia mengetuk bagian teratas dari daftar skill yang telah diperoleh dan membaca jendela yang muncul.
"Wah, katanya aku bisa merapal mantra sihir bernama Flame Arrow (Panah Api)!" serunya, membuat yang lain terkejut.
Aku tersenyum bangga pada putriku dan menyemangatinya. "Nah? Coba saja."
"Oke! Sepertinya sihir di dunia ini dieksekusi dengan gestur (gerakan tubuh), tidak seperti di ALO. Coba kulihat..."
Ia mengalihkan pandangan dari jendela menu dan mengatur posisi tangannya di depan tubuhnya. "Katanya ini adalah gestur dasar untuk sihir api."
Ia mengepalkan tangan kirinya, lalu merentangkan jari-jari tangan kanannya sejajar dan memukulkannya ke kepalan tangan kirinya dari sudut diagonal. Aura merah merekah di sekeliling kedua tangannya.
"Gestur berikutnya akan menentukan mantra sihir yang digunakan." Ia membuka tangan kirinya dan menjulurkannya ke depan, lalu mengangkat tangan kanannya di atas bahu, layaknya sedang menarik busur panah. Garis merah bercahaya muncul di udara, menghubungkan kedua tangannya.
Ia mengedarkan pandangan dengan cepat, lalu mengarahkan tangan kirinya pada sebuah batu sekitar enam puluh kaki di depan kami. "Ini adalah gestur aktivasinya. Rupanya, semakin akurat gestur fisik dan ritmenya, sihirnya akan semakin kuat dan presisi."
Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Sebuah lingkaran sihir kecil muncul di depan tangan kirinya, dan garis merah itu berubah menjadi panah api yang melesat ke depan diiringi suara wusss! 
Panah itu melengkung sangat tipis dan menghantam batu itu dengan telak, memicu ledakan kecil. Kami semua bergumam kagum dan bertepuk tangan. Aku menduga kaum Patter akan merasa terancam, tetapi rupanya mereka tidak sepenakut itu. Alih-alih, mereka mulai mencicit satu sama lain.
Mantra itu memang tak bisa dibandingkan dengan sihir tingkat tinggi yang digunakan oleh para mage ahli di ALO, tetapi ini adalah sihir pertama yang kulihat di sini, selain dari bola api milik Goliath Rana, dan aku merasa sangat berbesar hati karenanya.
Dan kau bisa meningkatkan skill sihir tidak hanya dengan menggunakannya tapi juga dengan mengonsumsi lebih banyak magicrystal, jadi ada lebih banyak jalan untuk meningkatkannya dibandingkan dengan skill senjata. Semoga saja, aku pada akhirnya mendapat kesempatan untuk mempelajari sihir, tetapi untuk saat ini lebih baik mendukung perkembangan Yui.
"Berapa banyak MP-mu yang terkuras untuk itu, Yui?"
"Um, MP maksimal-ku 157, dan biayanya 15, jadi sedikit di bawah sepuluh persen."
"Hm-mm... Dan seberapa cepat regenerasi alaminya?"
"Dengan kemampuan Concentration (Konsentrasi)-ku di peringkat 1, butuh waktu enam koma dua detik untuk memulihkan satu poin sihir. Artinya butuh sembilan puluh tiga detik untuk memulihkan biaya satu Flame Arrow. Rasanya sihir ini tidak cocok untuk penggunaan beruntun yang cepat," akunya dengan raut muram.
"Jangan khawatir soal itu, Nak. Memang begitulah regenerasi alami di sebagian besar gim. Aku yakin kita akan segera mendapatkan potion (ramuan) MP atau belajar cara membuatnya dari bahan-bahan yang ada."
"Kuharap begitu..."
"Aku yang akan mengurus semua itu—kau tak perlu memikirkannya, Yui. Untuk saat ini, kusarankan kau menggunakan mantra itu setiap kali MP-mu sudah pulih sepenuhnya. Dengan begitu kau akan mendapatkan kemahiran secara bertahap seiring waktu."
"Oke! Aku akan melakukan yang terbaik!" ujarnya, akhirnya kembali tersenyum.
Leafa berseru, "Kalau begitu, aku ingin segera belajar skill sihir angin! Kalau kau menemukan batu sihir angin, Kirito, berikan padaku ya!"
"Tentu saja. Aku jadi penasaran apa yang bakal keluar dari mulutmu kalau kau memakan batu angin itu," ujarku murni karena penasaran. 
Namun entah mengapa, Leafa meninju bagian bawah lengan kiriku yang tidak terlindungi zirah. Aku melebih-lebihkan reaksiku dengan mengerang kesakitan. Di barisan belakang party bersama Agil, Klein mengeluh cukup keras hingga semua orang bisa mendengarnya, "Yaaah, ampun deh. Apa di UR bakal begini juga?"

Perjalanan kembali ke timur melintasi Sabana Giyoru terasa luar biasa mudah dibandingkan dengan apa yang harus kami lalui saat mencari Sinon. Mengetahui ke mana kami harus melangkah serta adanya antisipasi akan rumah idaman (home sweet home) yang menanti di ujung jalan membuat kami benar-benar bisa menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.
Seperti biasa, hiena dan kelelawar mengganggu perjalanan kami, tetapi kini kami sudah jauh lebih kuat, dan tak ada lagi badai es mengerikan di tengah jalan. Bahkan urusan air dan makanan, aspek yang paling merepotkan dari semuanya, ternyata aman terkendali, berkat timbunan besar daging katak dari tubuh Goliath Rana, ditambah air mata air alami dari dalam gua. Kendati demikian, gadis-gadis itu tampaknya tidak terlalu menikmati sajian daging katak bakar. 
Hal yang sangat beruntung adalah selain air dan makanan, gua tersebut mengandung banyak bijih besi dan tembaga. Benda-benda ini diserahkan kepada para wanita, yang menolak memasukkan daging katak ke dalam inventaris mereka maupun ke dalam tas-tas kecil yang dikenakan kaum Patter. Begitu kami bisa melebur bijih-bijih tersebut di markas, kebutuhan ingot kami akan terpenuhi untuk waktu yang cukup lama.
Kami akhirnya selesai melintasi Sabana Giyoru lagi setelah pukul setengah sebelas malam dan memasuki Hutan Zelletelio. Kami hanya perlu menyusuri hutan sebentar, menyeberangi sungai, dan kami pun akan tiba kembali di pondok kayu kami. 
Begitu pepohonan raksasa mulai terlihat di depan mata, kedua puluh orang Patter itu melompat-lompat kegirangan dan saling berpelukan penuh suka cita. Beberapa bahkan meneteskan air mata. Bagi mereka, Hutan Zelletelio adalah tanah yang dijanjikan yang telah diperbincangkan turun-temurun, jadi wajar saja jika mereka begitu kegirangan, tetapi hutan itu tidaklah aman, dan jelas bukan sebuah surga.
Karena Sinon adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara bahasa Patter, aku memintanya untuk memberitahu mereka agar tidak lengah sebelum kami masuk. Kami melanjutkan perjalanan ke timur, membasmi tipe-tipe monster baru di dalamnya, hingga akhirnya cahaya mulai berkelip di kejauhan. 
"Oh! Itu sungainya! Kita sudah hampir sampai!" sorak Leafa lalu mulai berlari mendahului.
"Jangan lari ke sana! Ada monster di sungainya," seruku, mulai mengejarnya bersama Kuro—hingga Leafa tiba-tiba berhenti mendadak.
"Hei, ada a...?"
"Kakak, lihat!!" serunya seraya menunjuk. Saat aku mengikuti arah telunjuknya, jantungku nyaris berhenti berdetak. Di balik pepohonan yang memagari tepi seberang sungai, langit malam menyala merah membara. Aku memanggil petaku untuk mengecek lokasi kami. Ke arah yang kami hadapi saat ini... terdapat pondok kayu kami.
Aku mendengarkan saksama, dan di balik deru kobaran api, terdengar suara dentingan logam yang beradu sayup-sayup. Saat menangkap bau hangus yang terbawa angin malam, Kuro menggeram pelan.
"Asuna... Silica... Alice!"
Aku mulai berlari menembus ke arah pondok, memikirkan tiga orang yang kami tinggalkan untuk menjaganya. Yang lainnya bergegas menyusul tepat di belakangku. Aku melintasi tepian sungai yang berbatu, mencari titik di mana perairannya dangkal, dan berhasil menyeberangi sungai lewat sana. Di antara pepohonan di sisi timur sungai terdapat sebuah ceruk raksasa tempat jatuhnya kepingan New Aincrad. Pondok itu tak jauh dari tempat tersebut.
Pada titik ini, aku bisa melihat kobaran api dengan jelas dari sela-sela pepohonan. Dentingan logam yang beradu tak lagi terdengar teredam. Tampaknya tak dapat dimungkiri bahwa pondok kami sedang diserang, kemungkinan besar oleh sekelompok PKer layaknya Mocri dan komplotannya tadi malam.
Aku ingin segera bergegas membantu mereka yang kutinggalkan, tetapi hal pertama yang harus kuurus adalah memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap kedua puluh kaum Patter. Zirah mereka terbuat dari kain sederhana, dan senjata mereka—garpu rumput dan sabit—pada dasarnya hanyalah perkakas yang dialihfungsikan.
Berdasarkan pertarungan melawan Goliath Rana, kuperkirakan mereka baru berada di level 2 atau 3. Jika mereka nekat menerjang ke dalam pertarungan yang sarat akan sword skill, beberapa dari mereka pasti akan terbunuh.
"Sinon, beritahu kaum Patter untuk sembunyi dan tunggu di sini!"
Ia meneruskan pesanku, tetapi hanya setelah diskusi singkat selama dua detik, mereka semua menggelengkan kepala. Sulit untuk membaca emosi yang lebih halus di mata hitam mereka yang besar, tetapi aku bisa merasakan kegeraman dalam suara mereka saat mereka mencicit "אאא!"
"Dia bilang mereka juga ingin bertarung."
Aku nyaris menimpali dengan "Dia (perempuan)?", tetapi kuputuskan detail tersebut bisa menunggu nanti. Hal itu tak menuntaskan kekhawatiranku, tetapi kami tak punya waktu untuk mendebatkannya sekarang.
"Baiklah, suruh saja mereka untuk tetap merapat. Jangan berpencar."
Sementara Sinon menerjemahkan hal itu untuk para manusia tikus, aku menoleh pada Leafa, Lisbeth, Klein, Agil, dan Yui.
"Kita tak tahu siapa yang menyerang atau ada berapa jumlah mereka, tetapi jika kita membuang terlalu banyak waktu untuk mengamati, itu hanya akan membiarkan mereka bertiga dalam bahaya. Kita harus menerjang masuk, memberi musuh serangan kejutan, lalu menyesuaikan strategi di tengah pertarungan (adjust on the fly)."
"Kalau kau ingin bertarung dengan improvisasi, akulah orang yang tepat!" sombong Klein, menepuk zirah kulitnya.
Aku berbaik hati untuk tak mengingatkannya bahwa skill terbaiknya saat ini hanyalah Pursuit (Pelacakan). Dengan ditetapkannya strategi kami, kami mulai berlari. 
Alur tanah yang mengarah ke timur laut dari sungai adalah jalur kami menuju pondok. Tak butuh waktu lama hingga kobaran api merah mulai terlihat. Untungnya, bukan pondok itu sendiri yang terbakar, melainkan pohon-pohon pinus spiral kuno yang tumbuh di sekitar area terbuka. Dinding batu setinggi sepuluh kaki dan gerbang kayu masih berdiri kukuh.
Di puncak dinding, tampak kilatan cahaya perak yang tak beraturan. Itu adalah pertarungan yang tengah berlangsung. Teman-teman kami dan para penyerbu sedang bertarung di atas dinding selebar satu kaki itu. Di bawah penerangan pepohonan yang terbakar, aku bisa melihat apa yang tampak seperti sepuluh—tidak, lebih dari dua puluh—sosok melontarkan diri mereka ke dinding dan berusaha memanjatnya. Mungkin mereka sengaja membakar pohon pinus spiral itu untuk mendapatkan lebih banyak cahaya. 
Suara dentingan kencang Trang! berbunyi, dan salah satu penyerang di atas dinding terjungkal jatuh ke tanah. Asuna, dengan rambut cokelat panjangnya yang berkibar, dengan cepat berbalik ke arah lain dan menusukkan rapier-nya pada penyerbu lain yang sedang memanjat dinding. Tak jauh dari sana, Alice dan Silica juga bertarung tak kalah sengitnya. Tampaknya mereka bertiga memusatkan fokus utama pada memukul mundur para penyerang agar jatuh dari dinding.
Niat mereka sudah jelas. Mereka sedang mengulur waktu, memercayai bahwa kami akan kembali bersama Sinon untuk membantu, dan melakukan apa pun yang mereka bisa demi melindungi rumah kami hingga saat itu tiba.
Berdasarkan seberapa hangusnya pohon pinus spiral itu, pertempuran ini pasti sudah dimulai lebih dari tiga puluh menit yang lalu. Para penyerbu bisa menunggu dan beristirahat di tanah, tetapi Asuna, Alice, dan Silica harus terus bertarung di jalur sempit (catwalk) itu. HP dan tekad mereka pasti sudah nyaris mencapai batasnya, asumsiku.
Musuh yang lain mengendap mendekati Asuna dari belakang. Silica dan Alice terlalu sibuk bertarung untuk menyadarinya. Api di pepohonan menderu di sekeliling mereka, jadi aku tahu mereka takkan mendengarnya sekalipun aku berteriak dari kejauhan. Kendati demikian, aku tetap meraup udara ke dalam paru-paru virtualku, putus asa ingin memperingatkan Asuna. 
Namun sebelum aku bisa mengeluarkannya, terdengar suara tembakan di belakangku. Musuh yang mengendap-endap di belakang Asuna itu terhuyung ke belakang, mengambil beberapa langkah gontai, lalu jatuh ke sisi dalam dinding. Sinon telah menembak jatuh orang itu dengan musketnya. Bidikannya masih seakurat biasanya, tetapi jika orang itu berada di sisi dalam, ia bakal bisa membuka palang gerbangnya.
Namun kekhawatiranku tersapu bersih oleh suara "Kuuaaak!" ganas dari makhluk yang pastinya adalah Aga. Hewan peliharaan Asuna, kadal agamid raksasa berparuh panjang, tengah membereskan siapa pun yang jatuh ke sisi dalam dinding batu.
Untungnya, suara tembakan musket itu tidak terlalu keras sehingga masih tersamarkan oleh deru pohon pinus spiral yang terbakar. Aku memberi isyarat pada Sinon untuk mengisi ulang pelurunya, lalu menambah kecepatan lariku. Hanya sepuluh yard yang memisahkanku dari kelompok musuh.
"Kuro, lindungi Yui!"
"Gaurr!" geram si macan kumbang.
Aku mengangkat pedangku hingga di atas bahu.
Di pertarungan kemarin, aku harus melawan PKer hanya dengan pakaian dalam bermodalkan pisau batu, yang mana lumayan menyulitkan—hal itu takkan terulang lagi hari ini. Pedangku bergetar halus, memancarkan rona hijau muda. Sesaat setelah aku merasakan skill-nya aktif, aku melontarkan diriku dari tanah: Sonic Leap.
Akhirnya, salah satu penyerang menyadariku.
"Hei, di blak—"
Namun sepersepuluh detik kemudian, pedangku sudah amblas dalam ke bahu kirinya. Batang HP berwarna merah muncul di atas kepala mereka semua secara serentak, pertanda bahwa mereka telah membentuk raid party (grup sergapan berskala besar) bersama.
Pria itu mengenakan zirah kulit, dan membawa sebilah kapak besi. Aku tak bisa memastikan apakah itu bawaannya dari ALO atau dia memperoleh keduanya di sini, tetapi sama halnya seperti kelompok Mocri semalam, kurasa itu bukanlah perlengkapan level rendah. 
Meskipun begitu, berkat Brawn peringkat 5 dan Bonebreaker peringkat 1, skill tunggalku merenggut lebih dari 80 persen HP-nya. Serangan itu membantingnya ke tanah lalu memantulkannya kembali ke atas, di mana sebuah garis jingga membelah otot dada kirinya dari belakang. Itu bukan tembakan runduk dari Sinon, melainkan Flame Arrow milik Yui. Serangan itu melenyapkan sisa HP-nya yang tinggal sedikit, dan ia pun kembali tersungkur ke tanah. Kursor berbentuk cincin berputar dan membesar, menampilkan deretan angka di tempat batang HP sebelumnya berada: 0001:01:41:26.
Satu hari, satu jam, empat puluh satu menit, dan dua puluh enam detik. Selama itulah pria ini mampu bertahan hidup di Unital Ring.
Angka-angka yang berputar itu kemudian menghilang, dan poros kursor yang berbentuk gelendong melesat ke bawah, menembus tubuh pria itu. Avatar tak bernyawa itu, beserta seluruh perlengkapannya, berubah bentuk menjadi sekumpulan cincin yang dengan cepat terurai menjadi pita-pita kecil yang membubung ke langit.
Tepat pada saat itu, teriakan-teriakan mulai bersahutan.
"Serangan musuh! Serangan musuuuh!"
"Mereka datang dari belakang! Kepung dan habisi mereka!" Teriakan itu berasal dari seorang pemain pembawa perisai di dekat kami dan seorang pengguna tombak yang tampaknya adalah pemimpin kelompok tersebut. 
Aku merasa sangat tersinggung karena mereka menyebut ini sebagai "serangan musuh," namun sekarang bukan waktunya untuk meributkan soal terminologi. Para penyerbu bersenjatakan pedang dan tombak segera merangsek ke arahku dari kedua sisi di sepanjang dinding batu yang melengkung. 
Sekitar separuh dari mereka membawa senjata besi, dan sisanya batu. Jika mereka mampu memproduksi besi, mereka pasti sudah mempersenjatai semua anggotanya dengan senjata besi sebelum menyerbu, jadi aku berasumsi bahwa, sama halnya dengan kelompok Mocri, entah perlengkapan bawaan mereka belum mencapai batas Equip Weight, atau mereka telah membeli, menemukan, atau mencuri senjata-senjata itu di suatu tempat di sepanjang perjalanan mereka. 
Kalau begitu, dari mana mereka tahu soal pondok kayu ini? Kurasa mereka tidak sekadar menjelajahi tepian sungai lalu secara kebetulan melihat bekas jatuhnya kepingan itu.
Aku belum bisa memastikannya, tetapi aku mendapat kesan bahwa orang-orang ini sudah tahu tentang markas di sini dan telah mempersiapkan diri semaksimal mungkin sebelum menyerang. Apakah Mocri atau teman-temannya membocorkan info kami sebagai ajang balas dendam? Mereka tampaknya tak sependendam itu hingga sudi melakukan sesuatu yang takkan membuahkan hasil apa pun bagi mereka...
Namun dalam ruang-waktu terkompresi di benakku, aku kembali mendengar suara ejekan Mocri terngiang di telingaku.
Yah, persis seperti yang Sensei ajarkan. Jangan cuma melihat satu bagian dari lawanmu; pahami keseluruhannya. Dengan begitu kau akan tahu apa yang mereka incar—dan apa yang tidak mereka sukai, paham?
Itu adalah ucapan Mocri saat ia berhasil menyudutkanku dalam pertarungan satu lawan satu kami. Sensei-nya—seseorang yang mengajari mereka seluk-beluk pertarungan PvP (Player versus Player)—masih hidup di dunia Unital Ring ini.
Jika Sensei ini juga yang menjadi dalang di balik serangan ini, maka aku harus berasumsi bahwa dua puluhan petarung ini semuanya sama-sama mahir dalam taktik PvP. Satu-satunya pertanyaan sekarang adalah apakah Sensei ini telah mengajari mereka lebih dari sekadar pertarungan satu lawan satu, seperti misalnya cara bertarung sebagai sebuah kelompok. Apa pun itu, aku harus berasumsi bahwa mereka mengetahuinya.
Dalam waktu kurang dari sedetik, aku telah sampai pada jawabannya. Aku berseru pada rekan-rekanku, "Masuk ke hutan! Jangan biarkan mereka mengeroyok kalian!"
Agil langsung menyahut, "Tidak bisa! Ada api di pepohonan!"
"...!"
Aku menarik napas tajam, mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan melihat bahwa kobaran api yang membakar pohon pinus spiral telah menyebar ke semak belukar di bawahnya. Jika kau melompat ke tengah-tengah kobaran api itu, kau akan hangus terbakar dalam hitungan detik.
Saat itulah aku menyadari bahwa para penyerang membakar hutan di sekitar pondok bukan untuk penerangan, melainkan sebagai sarana untuk mencegah taktik gerilya terhadap diri mereka sendiri. Untuk mendukung dugaan tersebut, kelompok-kelompok yang mendatangi kami dari kedua sisi dipimpin oleh tank pembawa perisai yang diapit oleh penyerang bersenjatakan pedang dan kapak, lalu debuffer dengan senjata panjang di barisan belakang—sebuah formasi pertarungan yang ortodoks. Sisi baiknya adalah mereka tidak memiliki mage, tetapi itu tak lantas membuat keadaan menjadi lebih mudah bagi kami.
Di puncak dinding batu, gadis-gadis itu masih bertarung dengan gagah berani. Asuna menoleh ke arahku selama sepersekian detik, dan percikan api seolah memercik saat mata kami bersirobok.
Ia tampaknya tak menyimpan rencana serangan balik rahasia apa pun, tetapi jelas terlihat bahwa ia dikuasai oleh tekad untuk melindungi rumah kami, berapa pun harga yang harus dibayar. Trio yang kami tinggalkan telah memercayai kepulangan kami dan memusatkan fokus pada memukul mundur para penyerbu dari dinding. Kami harus memastikan upaya mereka tidak sia-sia. 
Keuntungan yang kami miliki adalah senjata besi kualitas unggul buatan Lisbeth, sihir api milik Yui, dua puluh kaum Patter, dan Hecate II milik Sinon. Satu-satunya hal dari daftar tersebut yang berpotensi membalikkan keadaan dari kerugian masif secara jumlah yang kami derita adalah Hecate, tetapi Sinon bilang ia hanya memiliki enam butir peluru yang tersisa. 
Senjata itu bisa saja mengalahkan seekor naga jika tembakannya mengenai titik vital—ia bilang ia telah membunuh seekor dinosaurus raksasa dengan senjata itu—namun enam tembakan takkan cukup untuk mengalahkan kelompok yang terdiri dari lebih dari dua puluh pemain. Ini bukanlah saat yang tepat untuk menghabiskan seluruh daya tembak terbesar di seluruh dunia Unital Ring.
"Hei, apa yang harus kita lakukan, Kiri?!" seru Klein gugup, seraya menggenggam scimitar tipisnya.
"Kalau kita mau langsung menerjang, aku ikut denganmu!"
"Terlalu dini untuk bertindak nekat. Pasti ada cara untuk membalikkan keadaan."
"Ya, tapi dengan formasi seketat itu, tidak ada cara yang tepat untuk menghancurkannya." Klein benar; musuh tidak terburu-buru melainkan memangkas jarak dengan sangat berhati-hati, menempatkan para pengguna perisai di posisi terdepan dan di tengah. Jika kami panik dan melancarkan sword skill, para tank itu hanya perlu bertahan, lalu mereka bisa menghabisi kami dengan serangan balik. Seolah-olah mereka tahu bahwa kelompok kami dirancang untuk menyerang, bukan untuk bertahan.
Haruskah kami mundur ke sungai? Namun jika begitu, para penyerang hanya akan melanjutkan pengepungan mereka terhadap pondok kayu. Merasakan tekanan dari musuh, Kuro menggeram dari barisan belakang, tempat ia melindungi Yui. Di belakang mereka, kaum Patter saling berkerumun, mengobrol dengan cemas. 
Jika aku adalah pemimpin yang benar-benar tak kenal ampun, aku akan memerintahkan mereka untuk menerjang ke tengah-tengah musuh dan memicu kekacauan agar kami bisa menyingkirkan para tank. Namun tentu saja aku tak bisa melakukan itu. Mereka telah mengalahkan musuh bebuyutan mereka, Goliath Rana, dan akhirnya berhasil mencapai tanah yang dijanjikan di Hutan Besar Zelletelio. Ya, memang ada monster berbahaya di area ini, tetapi hal terakhir yang kuinginkan adalah membiarkan mereka mati konyol akibat perselisihan antar pemain...
"...Oh!" decakku. Aku tak yakin apakah ini akan menjadi sebuah keuntungan atau tidak, tetapi ada satu variabel tak menentu yang sangat besar di hutan ini. Dan jika kami bisa membawa variabel itu ke dalam medan pertempuran, para penyerang itu takkan lagi merasa sepercaya diri ini.
"Klein, Agil," gumamku pada dua orang di sisiku.
"Lemparkan semua daging katak yang kalian punya ke dalam kobaran api." Aku membuka ring menu dan mulai sibuk tanpa menunggu jawaban, mematerialisasikan seluruh daging Goliath Rana yang memenuhi kapasitas inventarisku. Bongkahan-bongkahan daging berwarna merah cerah muncul di atas jendela menu, dan aku meraihnya lalu melemparkannya ke dalam kobaran api di sebelah kiri.
Dalam beberapa saat, Klein dan Agil mulai melakukan hal yang sama. Fakta bahwa kami sudah saling mengenal sekian lamalah yang mencegah mereka mempertanyakan mengapa kami menyibukkan diri dengan tugas konyol semacam ini, mengingat bahaya yang ada di depan mata. Meskipun kalau ini sampai tidak berhasil, mereka pasti bakal kehilangan banyak kepercayaan padaku nantinya. 
"...Apa yang sedang mereka lakukan? Membuang barang rongsokan mereka?" tanya salah satu petarung musuh.
Pemain lain menimpali, "Mereka sedang memasak daging. Apa-apaan, apa mereka pikir bisa memancing kita keluar dengan makanan?"
"Mereka tidak mengira kita ini NPC, kan?" 
Seraya mereka saling melempar kelakar, daging katak itu matang di dalam kobaran api, menciptakan aroma yang harum. Warna merah mudanya memang sedikit terlalu mencolok, tetapi daging itu adalah bahan makanan yang cukup berkualitas, dan entah bagaimana wanginya tercium seolah-olah kami telah menambahkan lada hitam dan rosemary, hanya dengan membakarnya di perapian.
Tentu saja, hal itu tidak lantas membuat para penyerang menyerah begitu saja. Pemimpin mereka yang bersenjatakan tombak berseru dari barisan belakang, "Mari kita habisi mereka sebelum mereka merencanakan sesuatu yang aneh-aneh. Laksanakan Rencana B!"
Sisa kelompok itu menyahut, "Siap, laksanakan!" 
Namun tak ada cara untuk mengetahui strategi macam apa Rencana B itu. Terdengar suara gemuruh berat dari arah hutan, layaknya alu dan lesung raksasa yang tengah menumbuk.
"Grrrrr..." Itu dia.
Tanah mulai bergetar. Kengerian jenis baru membuat tulang punggungku merinding. Daging katak itu telah membawa variabel tak menentu tersebut ke dalam arena permainan—dan itu adalah pedang bermata dua. Kelompok musuh di sebelah kiri terlihat mulai panik. "Hei, ada sesuatu di belakang kita..." 
"Gurrraaaa!"
Raungan itu menggelegar layaknya guntur, dan salah satu pohon pinus spiral yang terbakar di dekat sana patah di bagian pangkalnya. Seekor binatang buas berkaki empat yang luar biasa besar, dengan tinggi lebih dari enam kaki bahkan saat keempat kakinya menjejak tanah, muncul dari balik kobaran api.
Itu adalah sang tiran hutan, makhluk yang telah menebarkan teror pada kami tadi malam—beruang gua berduri (thornspike cave bear). Aroma daging katak panggang telah merangsang rasa laparnya; air liur menetes dari deretan giginya yang tebal, dan sepasang mata merahnya menatap pemandangan di depannya dengan penuh kerakusan.
"Aaaah!" Seorang petarung musuh menerjang, menusukkan pedangnya.
Sang beruang sama sekali tak gentar dan melompat dengan kecepatan yang mengejutkan, dengan mudahnya menepis sang penyerang hingga terpental.
"Gaaah!"
Ia menghantam dinding batu di sekeliling pondok diiringi bunyi retakan mengerikan, seringan seolah-olah ia hanyalah secarik kain, dan memantul balik sekitar sepuluh kaki sebelum akhirnya menghantam tanah. Inti dari kursornya melesat turun dan mencerai-beraikan avatarnya, yang berubah menjadi untaian pita-pita yang membubung ke langit.
Itu memang bukan zirah terberat, tetapi pemain itu memiliki perlengkapan yang lumayan bagus, dan ia hanya bertahan menghadapi satu sapuan saja. Beruang gua berduri (thornspike cave bear) itu ternyata memiliki status yang jauh lebih tinggi dari yang kusadari. Ia tak bisa menggunakan sihir, jadi daya serang fisiknya sudah pasti lebih tinggi ketimbang Goliath Rana.
Hal ini menyadarkanku bahwa sungguh sebuah keajaiban kami bisa mengalahkan beruang itu tadi malam dengan cara menggelindingkan batang-batang kayu dari atas atap. Klein, Agil, dan aku perlahan mundur menjauh dari makhluk tersebut.
Aku sempat menduga para pemain itu akan panik dan lari tunggang-langgang ke segala arah setelah melihat rekan mereka dibantai hanya dalam sedetik, tetapi aku harus menelan kekecewaan. Pengguna tombak itu segera pulih dari keterkejutannya, mengangkat senjatanya—sebuah fauchard dengan desain yang fantastis, semacam senjata tiang kait (hooked polearm) yang jelas-jelas merupakan warisan dari gim sebelumnya—lalu berteriak, "Jangan panik! Tim A dan B, berkumpul dan ambil formasi melawan bos!"
Rambutnya berwarna merah tua, dan kulitnya kecokelatan. Di ALO, ia pasti seorang Salamander. Aku tak mengenalinya, tetapi aku bisa membayangkan bahwa ia dulunya adalah salah satu prajurit tombak yang bertugas di bawah pimpinan Jenderal Eugene dalam perang teritorial. 
Kalau begitu keadaannya, aku tak urung bertanya-tanya, siapakah sebenarnya Sensei ini hingga mampu merekrut pemain-pemain hardcore berbakat seperti mereka...? 
Kedua kelompok penyerang itu dengan cepat berkumpul, membentuk satu raid party yang masif. Formasi tank, penyerang, dan debuffer mereka sama seperti sebelumnya. Bahkan tiga orang yang tadinya bertarung melawan Asuna, Alice, dan Silica melompat turun untuk bergabung dengan kelompok tersebut.
"Grrraaaah!!"
Beruang gua berduri itu meraung dan mencakar tanah, lalu melancarkan terjangan yang sangat dahsyat. Serangan yang sama dengan yang ia lakukan saat nyaris menghancurkan dinding pondok kami. 
Traaang!
Bunyi benturan keras memenuhi udara. Keempat tank membentuk formasi garis dan dengan susah payah berhasil meredam momentum sang beruang. Aku sampai tak tahan untuk tak menggumamkan "Whoa," saking takjubnya.
Namun ini bukanlah waktunya untuk berdiam diri dan merasa terkesan. Kami harus memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin mumpung situasinya sedang kacau-kacaunya.
"Kirito! Apa yang akan kita lakukan?!" tuntut Lisbeth, menyentak lenganku.
Aku berpikir keras. Sisi samping formasi musuh terbuka lebar ke arah kami, jadi aku ingin menyerang, tetapi jika kami malah menarik perhatian beruang itu, situasi yang sudah buruk ini hanya akan menjadi semakin parah.
Meskipun aku tak menyukainya, mungkin akan lebih baik jika kami mundur sejenak dan mengamati pertarungan mereka untuk saat ini. Jika si beruang yang menang, baguslah, dan jika ia kalah, ia pastinya akan memberikan banyak damage pada para pemain itu, yang mana akan mempermudah kami untuk menghabisi mereka...
Itu adalah taktik yang kejam namun rasional. Namun aku tak sempat menjelaskannya.
"Kirito," ujar sebuah suara dari arah kanan. Entah bagaimana Silica sudah berada di sana, tidak lagi berada di atas dinding batu. Aku baru saja hendak memuji perjuangannya yang panjang dan melelahkan dalam mempertahankan pondok, tetapi ia mengulurkan tangannya untuk menghentikanku.
"Kirito, beruang besar itu adalah beruang gua berduri yang kau ingin aku jinakkan, kan?"
"Eh... ya, benar sekali. Tapi aku memikirkannya untuk rencana jangka panjang..."
"Meski begitu, jika suatu hari nanti aku akan menjadikannya peliharaan, aku tidak bisa menelantarkannya pada nasib yang mengerikan sekarang," ujarnya dengan penuh tekad.
Pina, naga kecil yang bertengger di atas kepalanya, mencicit "Kyuu..."
Entah beruang itu menang atau kalah, beruang yang bakal coba kau jinakkan di masa depan adalah individu yang berbeda, aku bisa saja berkata begitu, tetapi kuurungkan.
Silica telah menjadi seorang penjinak binatang (beast-tamer) sejak zaman SAO, dan baginya ini bukanlah keputusan logis semacam itu. Jika kami memanfaatkan beruang gua berduri ini sebagai pion pengorbanan sekarang, maka ketika pada akhirnya ia menjinakkan beruang lain, ia takkan merasa benar-benar terikat dengannya. Aku memahami pola pikir tersebut, dan aku menghargainya.
Aku balas menatap mata yang penuh tekad itu, lalu menoleh pada Asuna dan Alice di atas dinding di kejauhan sana. Mereka berdiri di sana, menggenggam rapier dan longsword di tangan, rambut mereka berkibar tertiup angin, dan mengangguk seolah meyakinkanku bahwa mereka akan menerima keputusanku, apa pun itu. 
"...Baiklah. Kita biarkan beruang itu mengurus garis depan dan kita menyerang dari belakang," umumku.
Silica berseru "Oke!" dan Klein menepuk punggungku diiringi sorakan "Nah, begitu dong semangatnya!"
Di depan sana, beruang gua berduri dan para penyerbu itu tengah terkunci dalam pertarungan sengit. Serangan utama beruang itu adalah sapuan kaki depannya dan terjangan, sementara keempat tank bertahan mati-matian menahannya agar para pengguna pedang bisa memberikan damage dari sisi samping, dan para pengguna tombak dari barisan belakang.
Kerja sama tim mereka terlalu terlatih untuk sebuah raid party dadakan, tetapi aku belum melakukan kontak dengan beruang tersebut, jadi aku tak bisa melihat apakah mereka benar-benar memberikan damage nyata pada batang HP-nya. Tergantung pada timing kami, bisa jadi kami malah harus bertarung melawan beruang gua berduri yang murka dalam kondisi HP penuh, tetapi jika itu yang terjadi, ya sudahlah.
Aku bertukar pandang dengan yang lain untuk menyamakan persepsi kami, lalu mengangkat pedangku, menunggu sang beruang menerjang sekali lagi—dan mengayunkannya ke bawah.
Agil, Klein, dan aku berlari cepat ke depan dalam satu barisan. Kami mengincar sang pemimpin pengguna tombak, yang mengambil alih komando dari tengah barisan belakang. Agil melancarkan serangan pertama menggunakan skill Whirlwind tipe Two-Handed Ax (Kapak Dua Tangan) jangkauan luas, memukul mundur dua pemain yang menjaga sang pemimpin.
"Whoa..." 
"Mereka di sini!" seru keduanya seraya terjatuh, menarik perhatian seluruh barisan belakang musuh. Dua pemain lain merangsek ke arah Agil dengan refleks yang mengagumkan, memanfaatkan jeda pasca-skill-nya.
"Jangan harap!"
Klein menggunakan skill dasar Reaver untuk pedang melengkung satu tangan, sementara aku menggunakan Vertical. Serangan yang tersinkronisasi sempurna itu menumbangkan kedua musuh tersebut.
Kami telah membuat empat musuh terpuruk, tetapi kini kami bertiga terjebak dalam jeda. Pemimpin musuh menarik fauchard-nya ke belakang dan menggeram, "Cara bertarung yang pengecut untuk menyerang kami sekarang, Kirito!"
Bagaimana bisa semua orang ini tahu siapa diriku? gerutuku dalam hati seraya mengawasi ujung tajam fauchard yang memancarkan pendar aquamarine (biru kehijauan). Itu adalah warna dari Whirlpool, sebuah skill area untuk tombak dua tangan. Serangan itu tidak sekuat skill Whirlwind tipe Two-Handed Ax, tetapi dapat menyebabkan efek Debuff linglung (dazed). 
Pada titik itulah, aku akhirnya melihat nama Schulz di atas batang HP pemimpin musuh. Aku tak mengenali nama itu, tetapi aku punya firasat bahwa, sama halnya seperti Mocri, aku takkan melupakannya sekarang.
Sesaat sebelum Whirlpool-nya bisa menumbangkan kami bertiga, terdengar dua suara letusan berbeda di baliknya, dan dua jenis tembakan berbeda menghantam dada serta bahu Schulz. Itu adalah sihir Yui dan senapan Sinon. Ia kehilangan peluang skill-nya dan terhuyung mundur. Lisbeth dan Silica melompat masuk, menimpali dengan serangan gada dan belati biasa lalu menjatuhkannya ke tanah. 
Akhirnya terbebas dari jeda, aku mencondongkan tubuh ke depan sejauh yang kubisa dan mengangkat pedangku. Jika aku mengenainya dengan ketiga tebasan Sharp Nail, aku mungkin bisa menguras HP Schulz hingga nol. Namun jika aku mengeksekusinya dengan cara biasa, tebasan itu takkan mengenai target yang terkapar di tanah. Pada saat-saat seperti itu, kau harus merendahkan tubuh mendekati tanah—namun jika mengambil kuda-kuda yang terlalu tak beraturan, sword skill itu takkan aktif. 
Jadi aku menjejakkan ujung kakiku ke tanah sebagai upaya untuk mendapatkan tumpuan lebih, dan aku memasuki gerakan yang tepat serendah mungkin yang kubisa. Pedang besiku berpendar merah, bergetar dengan nada tinggi. Sesaat setelah aku melontarkan diri dari tanah, aku membalas tatapan Schulz. Matanya memancarkan keterkejutan, frustrasi, dan sesuatu yang lain. Keraguan...? Tentang apa?
Teramat sangat terlambat, aku baru menyadari bahwa aku ingin mendengar apa yang akan ia katakan. Bagaimana ia tahu letak pondok kayu ini? Bagaimana ia bisa mengumpulkan pasukan sebesar ini? Mengapa mereka menyerang dengan cara seperti ini? Namun semua itu sudah terlambat. Aku tak bisa menghentikan sword skill begitu ia mulai bergerak.
Dengan bantuan sistem gim, aku melompat sejauh lima yard dalam satu langkah. Schulz tak repot-repot untuk bangkit. Ia memang menahan fauchard-nya dalam upaya untuk menangkis, tetapi ia mengira tebasanku akan terlalu tinggi. Ayunan pertama Sharp Nail, yang datang melalui terjangan menyusur tanah, menyelinap melewati gagang senjata tiang itu dan menghantam leher Schulz. 
Pedangku memantul balik dan kembali menghantam untuk kedua dan ketiga kalinya, mengabaikan hukum inersia. Gerakan itu mengukir jejak cakar merah di udara yang berbaur dengan efek damage sewarna darah. Batang HP-nya pun seketika kosong.
"Kirito... kau... benar-benar..." Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, poros dari batang HP-nya menembus tubuhnya dan melarutkannya menjadi cincin-cincin.
Aku benar-benar apa?!
Aku tidak meneriakkan pertanyaan di benakku itu karena rasanya itu bukanlah kata-kata perpisahan yang pantas bagi seorang pria yang meninggalkan dunia ini selamanya setelah pertarungan yang adil. Terlebih lagi, pertarungannya belum usai.
Ilustrasi Kirito Mengalahkan Schulz.
Aku menegakkan tubuh dan memandang para pemain musuh di sekelilingku.
"Pemimpin kalian sudah mati! Kami takkan mengejar kalau kalian lari menyelamatkan diri sekarang!"
Saat melawan kawanan goblin di gua dekat Rulid di Underworld, gertakan semacam itu sudah cukup untuk membuat para goblin segera membubarkan diri, tetapi para pemain di sekitarku hanya memberiku tatapan penuh kecurigaan.
"Tutup mulutmu! Kami tak bisa putar balik dan kabur sekarang!" seru salah satu dari mereka.
Ia menerjang dengan tombak pendek, yang mana buru-buru kutangkis. Sikap itu masuk akal juga, jadi aku beralih ke mode bertarung, mendorongnya balik, dan menerbangkannya hingga jatuh terjengkang dengan Vertical.
Sejak saat itu, terjadilah perkelahian jarak dekat (melee) habis-habisan, tanpa taktik, kerja sama tim, maupun perencanaan, murni kekacauan belaka.
Separuh dari petarung musuh sedang sibuk menghadapi beruang gua berduri, jadi aku memastikan untuk tidak terlalu dekat dengan mereka, dan memusatkan fokusku untuk menumbangkan separuh kelompok mereka yang lain. Senapan musket Sinon dan sihir api Yui merupakan bantuan yang sangat besar, dan mereka mengidentifikasi setiap pemain yang mencoba melancarkan sword skill besar untuk menyerang balik diriku, lalu menghabisi mereka.
Hal itu memungkinkanku untuk hanya berfokus pada lawan yang kuhadapi pada momen itu saja. Tentu saja musuh juga tidak bodoh, jadi beberapa dari mereka mencoba untuk menetralisasi Sinon dan Yui, tetapi Kuro dan kelompok Patter membantu mencegahnya.
Hal yang benar-benar menentukan arah pertempuran adalah Asuna dan Alice, yang menyimpulkan bahwa tak ada lagi yang mengincar pondok sehingga mereka melompat turun dari dinding untuk ikut bergabung dalam pertarungan. Mereka melampiaskan rasa frustrasi mereka atas pertarungan defensif yang panjang ke arah musuh dan, dalam waktu kurang dari lima menit, mengeliminasi delapan anggota barisan belakang tersebut.
Saat kami akhirnya mendapatkan momen untuk bernapas, aku menoleh pada mereka berdua dan berkata, "Kerja bagus sudah mengendalikan situasi. Maaf kami sangat..."
"Groaaagh!!" Sebuah raungan dengan volume dan keganasan yang lebih tinggi dari sebelumnya memotong ucapanku. Aku menoleh ke sebelah kiri dan melihat delapan penyerang yang tersisa dan, di seberang mereka, sang beruang gua berduri dengan kaki depan terbuka lebar. Kami pernah melihat gerakan itu tadi malam. Dan itu berarti serangan beruang berikutnya adalah...
"Oh, gawat... Semuanya, tiarap!!" seruku, menjatuhkan diriku ke tanah. Setengah detik kemudian, teman-temanku melakukan hal yang sama.
Pada detik berikutnya, pola kilat di dada sang beruang memancarkan pendar. Badai jarum menyembur ke luar, membombardir kedelapan petarung musuh tersebut.
Bahkan saat mengenakan zirah lempeng (plate mail)-nya dari gim lamanya tadi malam, Alice dibuat sekarat nyaris mati oleh serangan itu. Namun aku tak bisa melihat efeknya pada para pemain. Aku harus tetap menekan wajahku ke tanah karena sebuah duri nyasar menyerempet puncak kepalaku.
Aku bisa mendengar jarum-jarum logam itu menancap di tanah, pepohonan, dan bebatuan di sekeliling kami. Syukurlah, aku masih bisa melihat batang HP party dengan wajah tertelungkup di tanah, jadi aku berdoa takkan ada yang mati sebelum serangannya usai.
Seseorang di sebelah belakangku menjerit "Aduh!" dan batang HP Klein langsung anjlok drastis. Agil menderita sedikit damage selanjutnya, dan kemudian satu duri menancap di bahu kiriku. Jika kau bahkan tak bisa menghindari duri-duri itu saat tengkurap rata dengan tanah, maka satu-satunya cara untuk menghindarinya hanyalah dengan menggali lubang ke bawah tanah atau terbang ke udara.
Rasanya seperti desain yang merusak keseimbangan gim (game-breaking)... tapi ya kembali lagi, banyak dari hal ini adalah salah kami sendiri karena berada di tempat yang jaraknya lebih dari lima belas mil dari titik awal. Aku berdoa dalam hati, Oke, oke, kami memang tidak seharusnya ada di sini. Beri saja kami kesempatan untuk menaikkan level sebagaimana mestinya!
Dengan satu tancapan terakhir di tanah hanya beberapa inci dari hidungku, badai jarum itu akhirnya mereda.
Aku mendongak dengan hati-hati untuk melihat beruang gua berduri itu menurunkan kaki depannya ke tanah dan kedelapan pemain yang berada lebih dekat dengan kami berdiri berkerumun. Keempat tank berada dalam satu barisan, perisai terangkat, dengan keempat damage dealer (penyerang) bersembunyi di belakang mereka. Mereka tampaknya berhasil memblokir hujan duri tersebut dari jarak dekat, sebuah strategi nekat dan kekuatan pertahanan yang patut diacungi jempol...
Namun kemudian poros-poros tajam di tengah kursor berbentuk cincin di atas kepala mereka melesat turun secara bersamaan. Delapan avatar terurai menjadi satu, menerbangkan jutaan pita ke langit malam.
Saat pita-pita itu lenyap, sekumpulan tas hitam berisi barang bawaan mereka jatuh ke tanah diiringi bunyi debuk, tetapi sekarang bukanlah waktunya untuk terdistraksi. Dari posisiku yang masih tengkurap, aku mengerang, "Yang benar saja..."
Beruang gua berduri itu mendengus. Sepasang mata merahnya yang berkilat menatap tajam ke arah kami. Beruang itu jelas-jelas menjadikan kami targetnya, tetapi aku tak bisa langsung memutuskan dalam sekejap apakah kami harus lari atau bertarung saat ini.
Aku sempat terkena salah satu jarum di bahuku, jadi aku bisa melihat kursor si beruang. Sisa HP-nya berada sedikit di atas 60 persen. Para penyerang telah memberikan perlawanan yang sengit terhadap beruang itu, tetapi seperti dugaanku, ia masih dalam kondisi yang cukup prima. Dengan kelompok kami, aku tahu kami memiliki peluang menang yang lebih baik daripada nol persen, tetapi aku tak bisa memastikan kami akan menang tanpa ada yang gugur.
Tidak, tunggu sebentar. Kami kan tidak sedang membicarakan soal melawan beruang ini...
Saat itulah, muncul dari belakang dan melompat melewatiku, Klein, dan Agil, sesosok bayangan mungil menampakkan diri. Itu adalah Silica, dengan Pina di bahu kanannya dan kedua tangannya yang kosong. Ia mendekati beruang gua tersebut.
"H-hei, Silica!" seruku, bangkit dari tengkurapku.
Ia tak menoleh. "Biar aku yang urus ini!" desisnya.
Aku paham, tentu saja, bahwa ia bukannya berbicara soal membunuh beruang itu, melainkan menjinakkannya. Namun sejujurnya hal itu tampak jauh lebih sulit ketimbang mengalahkannya. Nyaris sebuah keajaiban aku bisa menjinakkan Kuro sang lapispine dark panther, tetapi itu terjadi saat kami berdua sedang berlindung dari badai es, dan hal itu mungkin saja menjadi salah satu faktor penentu keberhasilanku.
Di sisi lain, beruang gua berduri itu sedang dalam kondisi murka setelah menerima banyak serangan dalam waktu yang lama, dan bahkan setelah membantai delapan penyerangnya dalam sekejap, ia tak menunjukkan tanda-tanda kepuasan. Ini berbanding terbalik dengan situasi bersama Kuro, dan rasanya makhluk ini bukanlah binatang buas yang bisa ditaklukkan Silica tanpa mewarisi skill Beast-Taming (Penjinak Binatang)-nya.
Namun ia mendekati beruang itu tanpa rasa takut, terlepas dari taringnya yang menyeringai dan geramannya yang mengancam. Di cakarnya, ia sedang menggenggam sebongkah besar sesuatu. Benda itu adalah sepotong daging katak, yang matang sempurna akibat kobaran api. Seketika, aku menyadari apa yang harus kulakukan.
"Klein, Agil, cari daging-daging itu dari dalam hutan."
"M-mengerti."
"Tentu saja."
Kami bergerak dengan hati-hati, merendahkan postur tubuh dan tak melepaskan pandangan dari Silica agar tidak memancing kemarahan beruang itu. Api telah selesai melahap habis seluruh pohon pinus spiral di sekitar pondok kayu dan sebagian besar sudah padam saat ini. Kami mengamati tanah yang menghitam, memunguti potongan-potongan daging katak mendesis dan memasukkannya kembali ke dalam penyimpanan item virtual kami.
Sementara itu, Silica berada dalam jarak enam kaki dari beruang gua berduri yang tengah menggeram itu, dan dengan hati-hati melemparkan sepotong daging.
"Waktunya makan malam, Tuan Beruang," ujarnya.
"Grr groaaah!" ia meraung sebagai balasan.
Beruang gua berduri itu berdiri dengan kaki belakangnya dan mengacungkan cakar yang mengancam, setajam pisau. Saat berdiri tegak, tingginya dengan mudah mencapai sepuluh kaki, dan Silica adalah yang bertubuh paling mungil di kelompok kami setelah Yui. Perbedaan ukuran tak bisa lebih kontras dari ini, tetapi ukuran fisik tidaklah merepresentasikan kekuatan avatar dalam sebuah VRMMO. Kendati demikian, aku bisa membayangkan dengan jelas satu sapuan ganas dari cakarnya akan mencerai-beraikan Silica seperti yang baru saja ia lakukan pada para pemain lain itu.
Namun hal itu tidak terjadi. Alih-alih, sang beruang menurunkan kaki depannya dan kembali menapak dengan keempat kakinya. Ia mengendus daging katak di hadapannya, lalu melahap bongkahan itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya beberapa kali, dan menelannya.
"..."
Aku berhenti mengumpulkan daging sejenak untuk menyaksikan konfrontasi antara Silica dan sang beruang. Ia kemungkinan sudah melihat meteran penjinak binatang berbentuk melingkar untuk targetnya. Ia menunggu waktu yang tepat, lalu menyodorkan lebih banyak daging dari tangannya yang lain. Beruang itu langsung menyambarnya.
Saat ia membuka inventarisnya dengan tangan kosong, aku buru-buru mendesis pada Agil dan Klein, "Lakukan pertukaran (trade) padaku semua daging yang sudah kalian kumpulkan."
Bukan cuma Agil dan Klein; aku juga menerima jendela pertukaran dari Leafa, Asuna, dan Alice. Aku memukul tombol YES (YA) berturut-turut dengan cepat, lalu mengendap-endap hingga berada dalam jarak delapan kaki dari Silica, jarak maksimal untuk permintaan pertukaran.
Ia menyetujui pertukaranku begitu permintaan itu masuk, yang berarti Silica kini memiliki seluruh daging katak matang tersebut di inventarisnya. Satu-satunya hal yang tersisa untuk kami lakukan hanyalah berdoa.
Silica mengambil petunjuk dari meteran yang hanya bisa ia lihat, melemparkan potongan daging katak satu demi satu. Beruang itu menggigit dan menelannya secara beruntun, tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Ada lebih dari tiga puluh potong daging yang telah kutukarkan pada Silica, tetapi dengan laju saat ini, semuanya akan habis dalam waktu kurang dari tiga menit. Jika jumlah itu tak cukup untuk menjinakkan binatang buas tersebut, kami kembali dihadapkan pada pertanyaan apakah harus bertarung atau melarikan diri.
Dari balik bahunya, aku bisa melihat tampilan inventaris Daging Goliath Rana Bakar yang semakin menipis. Sepuluh potong turun menjadi lima, lalu tiga, dua, satu... nol.Setelah melemparkan potongan daging terakhir, Silica berbisik dengan tegang, "Meterannya tertahan di angka sembilan puluh sembilan persen sejak tadi."
"...Oke, aku yakin masih ada satu potong daging lagi yang terlewat. Kami akan mencarinya," ujarku, berbalik kembali menghadap hutan.
Namun Silica menggeleng. "Tidak, sepotong daging lagi dari jenis yang sama takkan bisa menutupi kekurangan satu persen itu. Aku akan mencoba menjinakkannya dalam kondisi ini."
Sudah ada seutas tali panjang di tangan kirinya. Jika ia melingkarkannya di leher beruang gua berduri itu dan mengikatnya erat, maka upaya penjinakan itu berhasil, tetapi mau tak mau aku merasa bahwa kekurangan 1 persen itu akan menjadi faktor penentunya.
"Tunggu, mungkin ada makanan lain..."
Aku membuka inventarisku, menggulirnya dengan buru-buru. Ada banyak sekali material acak di sana, mengingat kami baru berada di dunia virtual ini selama satu setengah hari, tetapi nyaris tak ada bahan makanan. Daging hiena, ekor salamander, sayap kelelawar... Tak satu pun dari benda-benda itu yang tampak seperti makanan yang disukai beruang. Lagipula, apa sih yang suka dimakan beruang? Salmon? Apel? Rebung? Aku belum melihat satu pun dari benda-benda itu sejauh ini.
Aku baru saja hendak menyerah pada gagasan untuk menaikkan meteran itu melewati angka 99 persen ketika sebuah suara berujar, "Silica, ini."
Sinon telah mengendap-endap di belakangku dan menyodorkan sebuah toples biru seukuran kepalan tangan. Aku sama sekali tak bisa menebak apa isinya. Namun Sinon memulai di lokasi yang berbeda dan telah melintasi Sabana Giyoru yang luas seorang diri. Aku hanya bisa menaruh kepercayaanku padanya.
Silica menerima toples itu, langsung memasukkan tangannya ke dalam, dan meraup isinya. Benda itu adalah gumpalan agak padat berwarna keputihan. Ia tak bisa melemparkannya karena teksturnya yang lembek, jadi ia merayap mendekati beruang itu dengan hati-hati sebagai gantinya.
"Ini, rasanya enak lho," bisiknya seraya mengulurkan tangannya. Beruang gua berduri itu menatap benda tersebut dengan waspada.
"Gruh...," dengusnya seraya mengendus.
Namun ia tampaknya tak memberikan reaksi lebih lanjut.
Sinon bergumam, "Kurasa masih kurang bagus kalau disajikan mentah..."
Hal itu masuk akal bagiku. Beruang gua berduri itu mungkin bukan monster bos, tetapi makhluk itu jelas merupakan tipe langka, dan mungkin saja ia mensyaratkan semua umpan makanannya dimasak atau diolah dengan cara tertentu. Namun bagaimana caramu menyajikan gumpalan putih itu?
Sebuah bayangan kecil melesat di antara aku dan Sinon. Dari sudut mataku, ukurannya terlihat sebesar Yui, tetapi itu bukanlah dirinya. Sosok itu memiliki bulu cokelat dan ekor yang panjang nan ramping—salah satu dari kaum Patter. Pemimpin kelompok itu, kalau aku tidak salah ingat.
Patter itu bergegas dengan kecepatan hewan pengerat sejati ke arah Silica dan memiringkan toples kuning yang dipegangnya ke atas tangan Silica. Cairan emas yang kental menetes jatuh melumuri benda putih tersebut. Begitu selesai, Patter itu langsung berlari kembali ke barisan belakang dengan sama cepatnya.
"......?"
Sinon dan aku menatap dengan mulut ternganga. Dan kemudian—beruang gua berduri itu kembali mengendus benda tersebut dan menjilat gumpalan aneh yang berada di tangan Silica itu dalam satu jilatan basah.
Tangannya yang lain segera bergerak, melingkarkan tali panjang itu di sekeliling leher tebal sang beruang dan membentuk sebuah simpul yang ia tarik hingga tertutup rapat. Tubuh beruang gua berduri itu berkilat—dan kursor cincin merah tuanya berubah menjadi hijau.
Dalam keheningan yang menyusul kemudian, Silica terkulai lemas ke tanah.
"Hrar!" beruang itu menyalak dan menjilat pipinya dengan lidah yang superbesar.
Di belakangku, kudengar sebuah suara bertanya, "Apakah... berhasil?"
Itu adalah Alice. Bahkan di malam hari pun, warna biru safir di matanya tak kehilangan sedikit pun kecemerlangannya, meskipun kini matanya tampak skeptis. Aku sendiri tak sepenuhnya bisa memercayainya, tetapi kursor itu tak dapat dimungkiri telah berubah dari merah menjadi hijau.
"Kurasa... berhasil."
"Aku tak menyangka ini akan berhasil. Mungkin Silica punya skill untuk menjinakkan naga liar dari kekaisaran barat."
"Kita harus mengajaknya ke Underworld suatu hari nanti untuk menguji gagasan itu," balasku sebelum beralih menatap Sinon.
"Jadi, eh... apa sebenarnya benda putih tadi?"
"Mentega."
"M-mentega?! Dari mana kau mendapatkannya?!"
"Seorang anak kaum Ornith yang memberikannya padaku."
"......Oh..."
Aku menepis kebingunganku dan menoleh dari balik bahu menatap kaum Patter.
"...Dan apa yang dituangkan anak tikus itu ke atas menteganya?"
"Entahlah." Sinon mengangkat bahu.
Yui-lah yang menjawab, melangkah mendekat seraya menggandeng tangan Asuna. "Kurasa itu madu, Papa."
"M-madu?! Dari mana mereka...?"
"Dahulu kala, kaum Patter mengumpulkan madu dari Sabana Giyoru. Rupanya, madu itu adalah harta karun yang telah diwariskan turun-temurun di klan mereka selama ratusan tahun."
"Benarkah? Itu adalah madu dengan umur simpan berabad-abad? Kenapa mereka memberikan sesuatu yang begitu berharga pada kita...?" tanyaku, kembali menoleh ke arah kaum Patter.
Yui berujar, "Aku tidak menanyakannya pada mereka. Haruskah aku bertanya?"
"Mungkin lebih baik jangan," sahut Asuna sembari tersenyum sebelum aku sempat menjawab.
"Kau tentu tidak ingin orang-orang bertanya kenapa kau menyelamatkan seseorang, bukan?"
"Yah... kurasa itu poin yang bagus..."
Meskipun biasanya justru aku yang diselamatkan, batinku. Kuro menggesekkan kepalanya ke pinggulku dan melolong dengan nada yang sangat mirip seperti kekehan penuh arti.
"Yah, kalau begitu ceritanya, aku bisa paham bagaimana hal itu membantu kita menjinakkan beruang tadi!" celetuk Leafa. Lisbeth memberinya tatapan aneh.
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Maksudku, itu kan madu dan mentega! Itu kombinasi yang tak tertahankan!"
"Mungkin buatmu saja," gumamku, hanya saja perutku memilih momen yang sangat tepat itu untuk berbunyi nyaring.
Agil dan Klein meledak dalam tawa, dan para gadis pun ikut tertawa.

Pada akhirnya, kami tidak pernah mendapat kesempatan untuk mencari tahu mengapa kelompok Schulz menyerang pondok kayu kami. Namun jika hal itu sudah terjadi dua kali, pasti akan terjadi untuk ketiga kalinya. Dan kami semua sepakat bahwa serangan ketiga kemungkinan besar akan jauh lebih masif ketimbang dua serangan pertama.
Jadi kami hanya merayakan secara singkat reuni kami dengan Sinon, Agil, dan Klein lalu duduk mengelilingi api unggun di halaman depan pondok untuk mendiskusikan topik pertahanan.
Di ujung barat daya halaman bertembok itu, beruang gua berduri, Misha (dinamai oleh Silica), tengah bergelung tidur miring dengan Kuro dan Aga tertidur lelap di atas bulu perutnya yang tampak mewah. Itu adalah pemandangan yang begitu damai hingga sulit dipercaya baru saja terjadi pertempuran dahsyat di seberang dinding sana.
Jika entah bagaimana status jinak kami pada Misha hilang karena kekurangan makanan, pemandangan bak neraka itu akan terulang kembali, jadi begitu rapat kami usai, kami harus segera pergi mencari makanan yang disukai beruang.
Kedua puluh kaum Patter sedang beristirahat di ruang tengah pondok kayu. Namun kami juga harus berada di lokasi yang aman untuk log out dengan selamat, jadi kami harus membangun struktur baru untuk mereka di lain waktu. Seperti biasa, ada berton-ton hal yang harus dilakukan. Namun untuk saat ini...
"Kita harus memperkuat dinding ini, kan?" ujar Klein seraya merentangkan lengannya.
"Dan membuatnya dua kali lebih tinggi." Alice mengangguk.
"Kelompok terakhir tadi memanjat dinding tanpa rasa takut. Kita butuh dinding yang cukup tinggi untuk menimbulkan damage serius kalau mereka jatuh. Dan kita juga harus meratakan semua ceruk dan tonjolan di permukaan luarnya."
Aku harus berjuang menahan senyum, menyadari bahwa ia sedang memikirkan struktur pertahanan idealnya: dinding putih kapur dari Central Cathedral (Katedral Pusat). Meski begitu, aku tak bisa menyembunyikannya dari indra tajam sang kesatria, dan ia menatapku dengan pandangan menusuk.
"Kau belum mengatakan apa-apa sedari tadi, Kirito. Apa kau tidak punya pendapat?"
"Maaf, maaf. Hanya sedang berpikir," gumamku, menundukkan kepala dan berdeham.
"Yah... aku tidak keberatan untuk memperkuat pertahanan kita, tetapi kurasa pada akhirnya akan ada batas atas apa yang bisa kita lakukan dalam hal itu. Kita bisa membuat dindingnya lebih tinggi, tapi nanti mereka akan menggunakan tangga. Dan seiring pemain mencapai level yang lebih tinggi, mereka akan mendapatkan lebih banyak jenis serangan jarak jauh..."
"Lalu bagaimana caramu mengharapkan kita mempertahankan tempat ini?" tukas Lisbeth tidak sabar.
Aku memutuskan untuk mengutarakan ide yang sudah kupikirkan masak-masak sejak kaum Patter meminta ikut dalam rombongan perjalanan kami.
"Tidakkah menurut kalian alasan mengapa kita terus-terusan diserang adalah karena kita hanyalah satu rumah pemain kecil yang terisolasi di alam liar?"
"Hah? Kau mau membangun lebih banyak rumah?"
"Ya. Tapi bukan cuma satu atau dua. Kita akan membangun sebuah kota di sini."
"......"
Sembilan pasang mata menatapku dalam kebisuan yang tercengang.
Asuna adalah yang pertama angkat bicara.
"Sekadar mendirikan banyak bangunan tidak lantas menjadikannya sebuah kota, Kirito. Kau butuh orang untuk tinggal di dalamnya."
"Yah, kaum Patter kan bakal butuh rumah, ya kan? Kalau kita membangun lima atau enam rumah untuk mereka, itu akan membuatnya lebih terlihat seperti kota, kan?"
"Jadi kau mau menjadikan mereka sebagai perisai?" tanya Sinon tajam.
Aku menggelengkan kepala.
"Bukan, bukan, kita akan menjaga mereka tetap aman juga. Itu cuma berarti kita mungkin akan memanfaatkan kehadiran mereka untuk membantu membuat kubu kita terlihat lebih besar dan menjadikan lokasi ini lebih sulit untuk diserang pemain lain..."
Aku bisa melihat bahwa argumenku tak berhasil meyakinkan teman-temanku, yang ekspresinya justru semakin mengeras saat aku melanjutkan ucapanku.
"Setelah melintasi separuh Sabana Giyoru, aku menyadari bahwa kita diberkahi oleh banyak sumber daya alam di lokasi ini. Ada batu dan kayu yang jumlahnya nyaris tak terbatas untuk membangun rumah di sini. Bijih besi dulunya adalah masalah terbesar kita, tetapi karena sekarang Silica sudah menjinakkan beruang gua berduri itu, kesulitan utamanya sudah teratasi."
Leafa menyela untuk bertanya, "Tunggu... beruang itu tidak akan respawn (muncul kembali)?"
"Bakal respawn kalau kita mengalahkannya, tapi tidak kalau kita menjinakkannya, aku berani taruhan. Karena kalau iya, itu berarti kita bisa memanen pasukan monster tak terbendung dalam jumlah tak terbatas. Kita bisa punya sepuluh beruang raksasa yang bertarung untuk kita."
"Aku tidak mau mencoba hal semacam itu lagi," protes Silica seraya bergidik. Di atas kepalanya, Pina membuka sebelah matanya dan mencicit seolah ingin berkata "Setuju".
Kami terkekeh mendengarnya.
"Kita bisa mengunjungi gua itu lagi nanti untuk melihat apakah soal respawn itu benar... namun untuk saat ini, kurasa takkan terlalu sulit bagi kita untuk membuat lebih banyak bangunan. Namun kaum Patter saja tidak akan cukup untuk mengisi seluruh kota, jadi kita harus mencari beberapa NPC lagi."
"Kehadiran kaum Bashin di pihak kita akan sangat menenangkan hati!" celoteh Yui.
Lisbeth mengangguk mantap. Meyakinkan NPC untuk pindah rumah adalah hal yang mustahil di VRMMO lain mana pun, tetapi di sini, rasanya hal itu hanya butuh satu negosiasi yang sukses saja.
Akan sangat bagus jika bisa merekrut kaum Bashin, tetapi aku sebenarnya berharap pada manusia burung Ornith yang ditemui Sinon di sisi barat Sabana Giyoru. Memiliki sekelompok orang yang mahir menggunakan musket akan membuat pertahanan kita jauh lebih tangguh...
"Tapi, Kirito," ujar Agil, membuatku berbalik, "kau memainkan gim ini untuk menamatkannya, kan? Jika kita menuju ke 'tanah yang disingkap oleh cahaya surgawi', cepat atau lambat kita pada akhirnya harus meninggalkan hutan ini."
Betapa memalukannya diriku, aku benar-benar sudah melupakan pengumuman itu hingga ia menunjukkannya. Aku mengerjap beberapa kali, lalu mengangguk cepat.
"Eh... ya... poin yang bagus. Namun ada perbedaan besar antara berangkat dari pangkalan operasi yang aman dan hanya berangkat dari nol. Lagipula, kita semua sedang memikul perlengkapan bawaan yang sangat berat. Jika barang-barang itu harus selalu ada di inventaris kita, itu hanya akan memakan ruang penyimpanan kita. Dan jika kita akan menyimpannya di gudang rumah kita, kita pasti ingin memastikannya seaman mungkin..."
Yang lainnya mempertimbangkan saran ini dengan saksama. Hecate II milik Sinon adalah yang paling signifikan di antara semua itu, tentu saja, tetapi senjata dan zirah bawaan semua orang juga penting bagi mereka masing-masing. Sayangnya, aku telah mengorbankan Blárkveld kesayanganku untuk menciptakan senjata logam kami, tetapi aku masih memiliki Excalibur, yang harus dilindungi dengan cara apa pun. Aku tahu yang lain juga merasakan hal yang sama terhadap milik mereka.
"Yah, aku setuju dengan ide Kirito untuk membangun kota. Bagaimana menurut kalian yang lain?" umum Alice.
Yang lainnya menggumamkan persetujuan mereka. Dengan ditetapkannya hal itu, ia menatapku.
"Tapi kalau kita memulainya dari tahap perencanaan, ini akan jadi proyek besar. Bisa memakan waktu seminggu, atau bahkan sebulan penuh. Bagaimana kalau ada serangan ketiga sebelum kita selesai?"
"Tidak!"
Aku melompat berdiri dan mengepalkan tinjuku, membuat sarung tangan besiku bergemerincing keras.
"Bahkan takkan butuh waktu seminggu! Sekarang jam sebelas, jadi aku akan menyelesaikan rancangan dasar kotanya pada jam tiga nanti! Itu berarti empat jam!"
Alice memekik, "Hah?! Empat jam?!"
Asuna tersenyum simpul.
"Kita bakal kurang tidur lagi."
Yui bersorak, "Mari kita lakukan yang terbaik!"

Komentar (0)

Memuat komentar...