Sword Art Online 024: Unital Ring III
Bagian 1
Estimasi waktu baca: 18 menit"Aku yakin kau sudah cukup mengenalku. Akhirnya kita bertemu juga, Chrysheight."Argo si Tikus menyunggingkan senyum angkuh, membiarkan aku dan Kikuoka Seijirou sama-sama ternganga.Chrysheight adalah nama karakter yang digunakan Kikuoka saat ia bermain ALfheim Online. Chrys berasal dari chrysanthemum (bunga krisan), nama bahasa Inggris dari bunga kiku pada namanya, sementara height (ketinggian) dimaksudkan untuk memunculkan makna 'bukit' dari kanji yang lain, yaitu oka.Ras perinya adalah Undine, dan kelas pemainnya adalah mage. Hafalannya terhadap sekian banyak Spellwords (Mantra Sihir) di dalam gim sangatlah membantu selama pertarungan melawan bos, tetapi ia sangat jarang log in, sehingga hanya sedikit pemain ALO yang bahkan mengetahui namanya.Hubungan apa yang mungkin dimiliki Chrysheight dengan Argo, yang bahkan tidak bermain ALO? Dan sebelum itu, bagaimana Argo bisa tahu bahwa kedua pria itu adalah orang yang sama? Ditambah lagi, bagaimana ia bisa mengendus bahwa orang yang kutemui di kafe mewah Ginza ini adalah Kikuoka...?Diombang-ambingkan oleh gelombang pertanyaan demi pertanyaan, aku hanya bisa menatap mereka berdua, mencari jawaban."...Begitu ya, jadi itu kau saat itu...," gumam Kikuoka pada dirinya sendiri begitu ia pulih dari keterkejutannya.Saat yang mana maksudnya?! jeritku dalam hati. Argo dan Kikuoka tampaknya sedang melangsungkan semacam pertarungan batin, dan tak satu pun dari mereka ingin menjelaskan situasinya padaku.Baiklah kalau begitu. Aku mau makan kue saja. Aku merajuk, membolak-balik buku menu dan memutuskan apa yang ingin kupesan dalam waktu sekitar sepuluh detik. Seolah-olah menggunakan telepati, pelayan itu muncul di meja kami dan bertanya, "Apakah Anda sudah memutuskan ingin memesan apa?""Aku pesan kue keju dengan saus kastanya dan cappuccino panas," pesanku tanpa selip lidah—kuenya seharga 1.900 yen dan kopinya 1.200 yen, dua-duanya harga yang bikin melotot—lalu menyodorkan buku menu itu pada Argo."Bapak yang ramah ini yang akan mentraktir, jadi pesanlah apa pun yang kau mau.""Aw, benarkah? Kau tidak mau membayari tagihanku, Kiri-boy?" godanya, lalu mulai membolak-balik menu. Ia sama sekali tak terlihat terintimidasi oleh deretan harga tersebut."Aku pesan kue spesial bulan ini dan royal milk tea, panas," ujarnya. Pelayan itu membungkuk dan pergi.Aku meraih buku menu itu dan, meskipun tahu ini tidak sopan, secara otomatis menambahkan harga pesanan Argo di kepalaku, lalu menggabungkannya dengan pesananku. Kue dan tehnya seharga 3.500 yen, yang membuat total pesanan kami menjadi 6.600 yen.Ia mungkin saja mengikutiku atas inisiatifnya sendiri, tetapi tetap saja ini salahku ia berada di sini. Aku pasrah menerima tugas mengerikan apa pun yang mungkin akan Kikuoka minta sebagai imbalannya, tahu bahwa aku takkan bisa menolaknya.Namun kemudian Kikuoka berkata, "Yah... aku toh memang harus menghubungimu lagi, Argo, jadi..."Ia menyendok sepotong parfait pir di hadapannya dengan sendoknya yang panjang dan tipis lalu menyuapkannya ke mulut. Akhirnya, kesabaranku habis, dan aku harus bertanya:"Jadi bagaimana kalian berdua bisa saling kenal?""Kami ini klien dan penyelidik," jawab Argo."Yang mana yang mana?" tanyaku."Apa kau masih harus bertanya? Bapak ini kliennya."Aku menatap Kikuoka di seberang meja."Apa yang kau minta untuk ia lakukan...?""Kau tahu seorang pegawai negeri tidak seharusnya membicarakan tugas resmi mereka," elaknya."Tapi kau kan agen pemerintah gadungan.""Wah, itu kasar sekali... tapi sejujurnya, toh tidak ada gunanya juga menyembunyikannya darimu, Kirito," akunya, lalu merendahkan suaranya menjadi bisikan."Kau tahu perusahaan Kamura, kan?""Kamura... pengembang Augma?""Ya. Kami mendapat info bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang mencurigakan dengan sebuah dunia VRMMO, itulah sebabnya aku menyewanya.""Mencurigakan...? Kuharap ini bukan sesuatu seperti insiden Ordinal Scale yang terulang kembali," ujarku, mengerutkan kening.Kikuoka mengangkat kedua tangannya seolah memohon ampun."Tidak, aku takkan meminta Argo untuk menangani sesuatu yang sebegitu berbahayanya. Lagipula, aku menyewanya sebelum insiden Ordinal Scale. Ini cuma soal sebuah gim yang jelas-jelas tak menghasilkan keuntungan apa pun—malahan, gim itu pastinya membuat mereka merugi besar—dan nyaris tidak mendapatkan publisitas sama sekali.""Hmm...""Berdasarkan laporan Argo, aku tidak melihat adanya bukti yang mungkin mengarah pada aktivitas kriminal. Ia memang sehebat rumor yang beredar soal pekerjaannya... tapi aku tak menyangka ia bakal melacakku sampai ke dunia nyata seperti ini juga.""Kenapa? Apa kau mangkir membayar jasanya?""Sama sekali tidak. Aku membayarnya persis sesuai dengan tagihan yang ia berikan. Aku cuma belum bisa memberikannya satu hal ekstra yang ia minta sebagai bonus," ujarnya seraya menggerakkan tangan dengan canggung.Argo menggerutu, "Buatku, apa yang kau sebut 'bonus' itu justru hadiah utamanya. Makanya aku menemuimu secara langsung, untuk memaksamu bertindak supaya aku bisa menagihnya.""Maafkan aku soal itu. Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau Chrysheight itu aku? Aku cuma pernah bertemu denganmu sekali di ALO setengah tahun yang lalu."Setengah tahun yang lalu berarti akhir Maret 2026. Kamura merilis Augma pada bulan April, jadi itu terjadi tepat sebelumnya. Gim VR macam apa ini, yang dioperasikan secara diam-diam oleh perusahaan yang mengkhususkan diri pada perangkat AR? Aku harus menahan dorongan untuk menyela dan bertanya.Argo membuka lipatan tangannya dan merentangkannya di atas meja."Aku tidak melacak nama aslimu atau semacamnya kok. Aku cuma melakukan sedikit riset di ALO dan dengan cepat mengetahui kalau Chrysheight adalah temannya Kirito. Hari ini, Kiri-boy bilang dia bolos kelas karena dipanggil oleh paman tua yang mencurigakan, dan dari situlah aku tahu."Aku menghela napas dan menyahut, "Oh, ayolah, Argo, tidak ada intuisi orang yang sebegitu hebatnya."Kikuoka pun tampak tak senang dengan sindirannya."'Paman tua yang mencurigakan' itu agak kasar, lho. Aku ini menganggap diriku sebagai pria yang sangat rajin dan sedang berada di puncak kedewasaannya."Argo melirikku lebih dulu dan bercanda, "Aku berhasil selamat melewati SAO murni mengandalkan intuisi yang bagus lho, ingat?"Lalu ia menatap Kikuoka dan menyatakan, "Kau itu tidak pernah terlihat lebih dari sekadar paman tua yang mencurigakan di mataku."Komentar pertamanya itu kelewat merendah, sementara komentar yang kedua tak dapat dimungkiri kebenarannya, batinku. Namun sebelum aku sempat menyampaikan tanggapan tajam tersebut, potongan-potongan kue kami tiba di meja. Cheesecake panggang itu memiliki warna keemasan yang cantik, dan saus kastanya cokelat muda yang dilumurkan di atasnya berkilau tertimpa cahaya. Aku sebenarnya bukan penggemar berat makanan manis, tetapi aku terpaksa menjeda percakapan sejenak dan meraih garpuku. Gigitan pertamanya terasa lembut di lidahku dan kaya akan rasa, dan seruputan cappuccino pahit membilasnya untuk mereset kembali lidahku.Kue milik Argo, menu spesial bulan ini, adalah mille-feuille apel, yang kulihat juga tampak sangat enak. Begitu kami berdua menyelesaikan separuh hidangan kami, piringnya bergeser ke arahku."Ayo tukaran sekarang, Kiri-boy.""...Tak ada alasan untuk menolak," ujarku, terlepas dari keraguan sesaat, lalu mendorong cheesecake-ku ke sebelah kiri. Satu-satunya alasan keraguanku adalah seringai yang Kikuoka lemparkan pada kami.Di titik tertentu nanti aku harus meyakinkannya kalau Argo tak lebih dari sekadar teman seperjuangan lama, batinku seraya mencicipi mille-feuille tersebut.Di antara lapisan-lapisan kulit pai renyah yang ringan dan harum, terdapat isian selai apel yang melimpah dan krim custard yang manisnya pas. Kue itu juga sangat enak. Termasuk dengan minumannya, semuanya ini memang benar-benar sepadan dengan harga 6.600 yen... kalau kau punya uang sebanyak itu untuk dihabiskan.
Kikuoka menghabiskan parfait-nya tepat di saat kami, dua remaja kelaparan, mengosongkan piring kami."Harus kuakui, makanan manis di tempat ini benar-benar sangat memuaskan. Aku cuma bisa memimpikan tempat ini saat aku berada di Samudra Pasifik," ujarnya, merujuk pada Ocean Turtle saat kapal itu masih berada di laut lepas Kepulauan Izu.Mereka mungkin tidak punya hidangan penutup mewah di sana, tetapi Asuna pernah bilang bahwa kantin di dalam kapal sebenarnya lumayan enak. Sayangnya, aku pingsan sepanjang waktu itu, jadi aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk mencobanya.Mengabaikan renunganku sendiri soal hal itu, Kikuoka bersikeras melanjutkan dan berujar, "Anehnya, di dalam mimpiku, aku selalu bersamamu, Kirito. Padahal di dunia nyata kita baru dua kali datang ke tempat ini bersama.""...Aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus meresponsnya," sahutku.Kikuoka membalas dengan penuh teka-teki, "Respons itu saja sudah cukup," lalu menghabiskan sisa kopinya. Kemudian ia melirik arloji penyelam di pergelangannya, memasang raut wajah serius."Jadi. Sebelum aku masuk ke alasan sebenarnya kenapa kau ada di sini... bolehkah aku berasumsi bahwa kau juga akan menjadi anggota pasukan Kirito, Argo?""H-hei... aku tak ingat pernah mendirikan pasukan!""Kalau begitu sebut saja Tim Kirito, atau Kirito and His Band of Merry Companions. Pertanyaanku adalah, apakah dia akan bertarung di pihakmu kalau ada masalah?""...Bagaimana?" tanyaku, menyerahkan tongkat estafet jawaban pada wanita muda di sisiku.Bahu Argo berjingkat."Mmm, yah, kurasa aku bisa bilang kalau rencanaku adalah bergabung dengan pasukan Kiri-boy di Unital Ring. Di luar itu, aku sedang mempertimbangkan opsi-opsiku di dunia VR lain...""Ya, tapi bukankah hampir semuanya sudah terserap ke dalam UR?""Masih ada dunia VR yang bukan bagian dari The Seed Nexus, Nak," ujarnya seraya tersenyum simpul.Lalu ia beralih menatap Kikuoka."Jadi katakan padaku, Chrysheight. Apa kau memanggil Kiri-boy untuk membicarakan dunia yang tidak terhubung ke Nexus?""Hah...? Benarkah?" tanyaku, menatap Kikuoka. Hingga detik ini, aku berasumsi urusannya ini berkaitan dengan insiden UR yang tengah berlangsung. Namun—tidak.Setelah diingat-ingat kembali, Alice mengirimkan pesannya padaku (Tanggal dua puluh sembilan, pukul lima belas. Toko kue mahal.) sebelum New Aincrad jatuh menghantam tanah. Jadi seluruh kekacauan ini belum meledak saat Kikuoka pertama kali mencoba menghubungiku.Aku dan Argo menatap lekat-lekat wajah Kikuoka seolah ingin melubanginya. Ia mendorong pangkal kacamata bingkai hitamnya dan bergumam, "Ya, itu benar. Apa yang ingin kubicarakan denganmu hari ini—apa yang ingin kuminta untuk kaulakukan—tidak ada kaitan langsungnya dengan urusan Unital Ring ini."Aku akan berterus terang padamu, karena kita tidak punya waktu seharian: Kirito, maukah kau melakukan dive ke Underworld lagi?""......"Aku cuma bisa menatapnya. Sinar matahari musim dingin yang menembus jendela menghadap selatan memantul di kacamatanya, sehingga aku tak bisa membaca ekspresinya. Aku bisa merasakan telapak tanganku memanas."Kedengarannya... bagus," ujarku, suaraku serak."Tapi kenapa kau harus menyampaikannya secara langsung padaku? Kau kan bisa saja menyuruh Dr. Koujiro untuk menyampaikan pesannya.""Sebenarnya, Dr. Koujiro menentang pelibatanmu lagi. Ia bilang padaku kalau aku mau menarikmu masuk, silakan saja pergi dan jelaskan sendiri padamu.""Ah..."Itu masuk akal juga. Selama sebulan terakhir, setiap kali aku menyinggung soal keinginanku mengunjungi Underworld lagi, Dr. Rinko Koujiro takkan mengatakan apa pun selain, "Kami sedang menilai situasinya."Ia bukannya bersikap jahat, tentu saja, hanya saja ia memikirkan kesejahteraan pribadiku. Kendati demikian, melakukan dive dari The Soul Translator (STL) di kantor cabang Rath di Roppongi takkan membahayakan tubuh fisikku, dan di dalam Underworld... Yah, memang terdengar arogan mendeskripsikannya begini, tetapi tak ada lagi yang bisa mengancamku di sana."...Begitu ya. Jadi apa yang ingin kauminta kulakukan dengan melakukan dive ke sana?"Kikuoka mengedarkan pandangan ke sekeliling kami. Ini siang hari di hari kerja, jadi sama sekali tidak terlalu ramai. Setiap meja di dekat kami kosong melompong. Tak mungkin ada yang menguping, tetapi ia merendahkan suaranya lebih pelan lagi hingga nyaris tak terdengar."Entah bagaimana, seseorang telah menyusup ke Underworld.""...!"Mataku membelalak. Aku balas berbisik, "Menyusup...? Apa maksudmu?! Siapa yang melakukannya?! Kapan?!""Tahan, tahan," balasnya, mengangkat kedua tangannya.Ia melirik Argo."Ngomong-ngomong, seberapa banyak yang kau ketahui soal Underworld...?""Sakit rasanya harus mengakui ini, sebagai seorang pialang informasi (info dealer), tetapi aku tak tahu apa pun lebih dari apa yang diberitakan oleh media arus utama.""Jadi kau tahu Underworld termuat di dalam Ocean Turtle, dan Ocean Turtle sedang di-lockdown (ditutup aksesnya) di laut dekat Hachijojima.""Ya, tapi aku tidak benar-benar tahu apa yang kaumaksud dengan 'di-lockdown', secara spesifik.""Persis seperti kedengarannya. Ada kapal penjaga dari Pasukan Bela Diri Maritim dan kapal patroli dari penjaga pantai yang berjaga selama dua puluh empat jam sehari agar tak ada yang mendekat. Ingat bagaimana kapal media pernah mencoba menerobos blokade, dan kapal patroli terpaksa melepaskan tembakan peringatan untuk menakuti mereka?""Ya, aku ingat berita itu. Yah, kurang lebih seperti yang kuduga," aku Argo.Kikuoka kembali menatapku."Saat aku bilang ada yang menyusup, aku bukan bicara soal seseorang yang secara fisik mengendap-endap masuk ke Ocean Turtle, tentu saja. Seminggu yang lalu, kami menemukan jejak seseorang melakukan dive ke Underworld yang bukan berasal dari pihak Rath.""Dive...," gumamku.Underworld dibangun di atas jenis struktur data khusus yang disebut Mnemonic Visuals, yang berarti dunia itu tak bisa diakses kecuali dengan The Soul Translator (STL) di Ocean Turtle atau di kantor cabang Rath di Roppongi. Setidaknya, begitulah asumsiku saat mulai bekerja dengan mereka. Namun ternyata tak sesederhana itu.Faktanya, visual mnemonik Underworld, yang serealistis pemandangan di dunia nyata, eksis secara paralel dengan gaya model poligonal yang lebih tradisional, menggunakan program The Seed. Kau memang harus menggunakan STL untuk mendapatkan pengalaman dengan fidelitas tinggi (high-fidelity), tetapi kau tetap bisa mengakses Underworld dengan AmuSphere, jika kau menginginkan pengalaman yang setara dengan SAO dan ALO.Di puncak War of Underworld, ribuan pemain VRMMO dari Jepang, Amerika, Korea, dan Tiongkok melakukan dive ke Underworld untuk mengikuti pertempuran sengit. Yang berarti bahwa, sejatinya, kau hanya butuh sebuah AmuSphere untuk memasuki Underworld."Tapi... bagaimana mereka bisa masuk? Satu-satunya cara untuk melakukan dive ke Underworld sekarang adalah melalui server di Islandia yang alamat IP-nya dikirimkan padaku... maksudku, pada Alice. Benar, kan?""Ya, koneksi satelit yang digunakan Rath telah diblokir atas perintah pemerintah. Kemungkinan besar, itu berarti si penyusup pasti menggunakan rute yang sama...""......"Aku menatap piring yang dipenuhi serpihan mille-feuille dan memikirkan hal ini dalam-dalam. Kecurigaanku adalah bahwa alamat IP untuk mencapai Underworld dikirimkan kepada kami oleh semacam hantu digital Akihiko Kayaba.Ia telah bersembunyi di dalam Niemon, sebuah tubuh robot humanoid, mengamati berlangsungnya Proyek Alicization, hingga pada akhirnya ia menerjang masuk ke dalam ruang penahanan reaktor nuklir untuk menyelamatkan Ocean Turtle dari ledakan uap air.Namun, tak ada yang ditemukan dari sisa-sisa Niemon selain lapisan minyak setelah itu. Jika Kayaba telah memasang semacam alat komunikasi di Ocean Turtle sebagai tindakan terakhir Niemon, maka barangkali penyusup tersebut juga mendapatkan alamat server itu dari Kayaba—kalau bukan Kayaba itu sendiri."...Tuan Kikuoka, bagaimana Anda bisa tahu bahwa seseorang di luar Rath telah mencapai Underworld? Pemantauan real-time dari Roppongi kan tidak mungkin dilakukan, bukan?" tanyaku.Ia mengerutkan kening, mengangguk."Itu benar. Untungnya, aku setidaknya bisa melihat log akses dari server gateway (gerbang jaringan) di Ocean Turtle, berkat server eksterior khusus tersebut. Log itu menyimpan semua akses dari luar.""Dari luar...?""Node Jepang milik The Seed Nexus. Yang berarti seseorang telah mengonversi karakternya sendiri ke dalam Underworld."
Tiga puluh menit kemudian, Kikuoka selesai membayar tagihannya, lebih dari 10.000 yen termasuk pajak—dengan uang tunai, entah karena alasan apa—lalu memberitahuku bahwa ia akan menghubungiku lagi nanti malam, dan menghilang ke dalam hiruk pikuk Ginza.Setelah setelannya tak terlihat lagi, aku tetap diam di sana di trotoar, berpikir. Ada begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan sampai-sampai aku merasa hanya dengan memiringkan kepala saja akan membuat kelebihan informasi tumpah dari telingaku. Insiden UR masih berlangsung. Seminggu yang lalu, ada akses tak terduga ke Underworld. Dan aktivitas mencurigakan di Kamura, yang menjadi alasan Kikuoka dan Argo bekerja sama...Aku menoleh pada Argo, yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya dan saat ini sedang membunyikan lehernya."Kue tadi memang enak banget, tapi tempat-tempat semacam itu bikin bahuku kaku, tahu.""...Tak bisa kubantah," gumamku, mengambil selangkah lebih dekat padanya."Tapi sebenarnya apa yang kaulakukan di sini sejak awal? Kau bahkan tak membicarakan soal bayaranmu atau apa pun itu.""Itu bukan jenis barang yang bisa dia berikan cuma dengan jentikan jari. Aku juga nggak buru-buru kok soal itu.""...Apa yang kau minta darinya?""Mmm... yah, kurasa aku bisa memberitahumu secara gratis. Itu adalah detail di dunia nyata tentang seorang penyintas SAO.""Penyintas...? M-maksudmu, waktu kau menerima pekerjaan itu... kau tahu kalau Kikuoka—maksudku, Chrysheight—bekerja di bidang yang bisa memberitahumu hal itu?""Dia memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari Divisi Virtual Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi.""Oh, itu masuk akal... Jadi... apakah itu seseorang yang kukenal...?" tanyaku, tak yakin apakah aku harus bertanya.Seringai tipis menarik salah satu sudut pipi Argo."Nggak bisa memberitahumu sejauh itu. Ini murni... info pribadi.""Ahhh..."Tentu saja, Argo telah melalui pengalamannya sendiri selama dua tahun itu. Aku takkan ikut campur mencampuri masa lalunya. Aku mengembuskan napas, mencoba mengalihkan pembicaraan, dan menatap langit. Entah sejak kapan, awan kelabu tua telah menutupi separuh langit, gema pertanda buruk dari keadaan pikiranku.Argo mengikuti arah pandanganku dan berujar membantu, "Peluang hujan di pusat kota setelah jam enam adalah tujuh puluh persen.""Wah, benarkah...? Bagaimana dengan Kawagoe?" tanyaku tanpa berpikir."Kau kan bisa cari tahu sendiri," ujarnya dengan nada jengkel."Tapi karena aku ini sangat baik... aku bakal carikan buatmu."Ia mengeluarkan ponsel pintar dari sakunya dan mengetuk layarnya beberapa kali, lalu menyeringai."Nah, ini dia. Kawagoe pada jam enam... peluangnya delapan puluh persen.""...Terima kasih."Aku punya payung lipat kecil di saku samping tas selempangku, tapi aku tak bisa menggunakannya saat mengendarai sepeda, jadi kalau hujan benar-benar turun saat aku kembali ke Kawagoe, aku terpaksa harus berjalan kaki menempuh mil terakhir ke rumah. Kalau aku punya jas hujan lengkap, aku bisa saja menerobosnya dengan sepeda, tapi aku sudah diperingatkan tentang bahaya berkendara di malam hari saat hujan oleh ibuku... dan Suguha, dan Asuna, serta Yui. Mereka sudah mengkhawatirkanku melakukan hal itu dalam banyak kesempatan, jadi aku harus menuruti mereka kali ini.Kalau aku naik kereta bawah tanah sekarang juga, aku mungkin bisa sampai di Stasiun Honkawagoe sebelum hujan turun, tapi aku masih punya satu misi penting yang tersisa. Mempersiapkan mentalku untuk berjalan kaki sejauh satu mil di tengah hujan, aku mulai mengucapkan selamat tinggal namun kemudian berubah pikiran."Ummm... Argo, ada hal lain yang ingin kuketahui..."Seringainya berubah menjadi kerutan dahi yang dilebih-lebihkan secara komikal."Aku beneran bakal memungut bayaran darimu nih sekarang.""Silakan saja.""...Baiklah. Apa itu?""Misalnya... katakanlah ulang tahun Asuna sudah dekat. Apa yang akan kauberikan padanya?"Mulutnya ternganga. Sesaat kemudian, hela napas yang sangat panjang lolos darinya."......Dengar, Kiri-boy, itu bukan perumpamaan. Ulang tahun A-chan memang besok. Kau belum menyiapkan kado untuknya?""Tunggu... kau tahu ulang tahun Asuna jatuh pada 30 September?""Aku juga sudah mengenalnya sejak lama, tahu. Hari ini cuma baru pertama kalinya kita bertemu di dunia nyata.""Ya... benar juga sih, kurasa..."Aku dan Asuna memang sudah menikah di Aincrad, tetapi saat itu pun kami hampir tidak pernah bertukar informasi dunia nyata sedikit pun. Baru setelah kastel melayang itu runtuh barulah kami mengakui nama asli dan usia kami satu sama lain. Namun Argo, sesuai dengan sifat aslinya yang selalu ingin tahu, entah bagaimana telah mengetahui hari ulang tahun Asuna saat aku sendiri belum."...Oke, jadi ini bukan perumpamaan. Langsung saja: Menurutmu apa yang disukai Asuna?" tanyaku lagi.Argo menusuk-nusuk lengan atasku."Kiri-boy, fakta bahwa kau berusaha untuk memilihnya itu sendiri adalah bagian dari kadonya. Lagipula, kau seharusnya lebih tahu tentang A-chan daripada aku.""Ya, aku tahu. Yui juga bilang begitu... Dan aku mengerti, tapi..."Aku mengembuskan napas, menatap awan yang mulai merapat. Awan itu tampak siap menumpahkan isinya kapan saja."Belakangan ini, aku mendapati diriku berpikir... Bagaimana jika semua yang kuketahui tentang Asuna hanyalah Asuna yang virtual, dan nyatanya, aku hampir tidak tahu apa-apa tentang Asuna di dunia nyata? Dan... bukan cuma Asuna. Aku bicara soal Liz dan Silica dan Sinon dan Agil dan Klein... Mungkin aku bahkan tidak benar-benar saling sepaham dengan adikku sendiri, Leafa, kecuali melalui dunia virtual...," ujarku, mengakhiri kalimat dengan gumaman.Lalu aku tersenyum canggung."Aku tahu, kau tidak datang kemari setelah dua tahun hanya untuk mendengarkanku mengeluh tentang berbagai hal. Aku akan memikirkan hadiah untuk Asuna. Maaf menahanmu di sini... Kau mau pulang ke Kanagawa sekarang?""Nggak, aku nggak sanggup berkomuter dari bagian barat daya Kanagawa sampai ke Tokyo Barat setiap hari. Aku nyewa apartemen yang dekat dari sekolah."Argo berdeham."Yah, aku ini sebenarnya nggak berada di posisi yang pas untuk ngasih wejangan ke orang lain soal hubungan mereka... tapi sebagai ucapan terima kasih untuk kue mahal tadi, aku bakal memberimu satu saran.""...Gratis?""Gratis. Dengar, Kiri-boy, kau terlalu keras berpikir. Dunia nyata, virtual—itu tetaplah orang yang sama di dalamnya. Nggak ada gunanya memperlakukan mereka seolah-olah itu dua hal yang berbeda.""......""Ada apa dengan tatapan itu?""Aku cuma berpikir... kau ini benar-benar lebih tua dan lebih bijaksana dariku...""Ada alasannya kenapa aku selalu menyebut diriku sendiri sebagai Big Sis!" omelnya, menusuk bahuku lagi. Lalu ia melompat mundur selangkah."Dan ini satu lagi gratis. A-chan nggak bakal senang kalau kau memaksakan diri membeli barang bermerek mahal di Ginza ini."Ia melambaikan tangannya dan berkata, "Yah, sampai jumpa nanti malam!" dan dengan kibasan jaket khaki-nya, Argo pun menghilang ke dalam kerumunan.Aku bersandar ke sisi bangunan dan mengembuskan napas, memikirkan kembali rencanaku sebelumnya untuk, seperti yang ia sebutkan, "memaksakan diri membeli barang bermerek mahal di Ginza."Aku memejamkan mata, memblokir deru kota dari pikiranku, dan membayangkan Asuna, seperti yang kukenal, dari hari pertama kami bertemu hingga hari ini.Asuna di menara labirin lantai satu, berlari kelelahan namun terus-menerus menumbangkan monster dengan sword skill yang semurni dan secepat bintang jatuh. Asuna sebagai wakil komandan Knights of the Blood, memimpin kelompoknya melawan bos lantai. Asuna yang tertidur pulas di kursi goyang di pondok hutan kami di lantai dua puluh dua. Asuna di sisi ranjangku di rumah sakit di Tokorozawa, mendekap NerveGear yang baru saja dilepasnya dariku, menanti. Asuna yang berduel dengan Yuuki si Absolute Sword di New Aincrad setelah itu ditambahkan ke ALO. Asuna yang bertarung di garis terdepan pasukan manusia dengan super-account di Underworld. Dan Asuna yang bersandar di bahuku di taman rahasia di sekolah kepulangan...Dalam kurun waktu hampir empat tahun sejak aku bertemu dengannya, Asuna selalu ada untukku, mendukungku. Tak diragukan lagi bahwa aku telah menerima jauh lebih banyak dari Asuna daripada yang sebenarnya kuberikan padanya. Dan setelah semua itu, berapa kali aku pernah benar-benar mengungkapkan rasa syukur yang kurasakan terhadapnya melalui kata-kata...?"Ah, ya ampun..."Aku kembali mendesah, sekali lagi merasa tidak cukup. Apa pun yang kuberikan padanya sebagai hadiah, satu hal yang pasti harus kulakukan adalah menuangkan perasaanku ke dalam kata-kata untuknya, aku tahu itu. Dengan sumpah itu di benakku, aku melangkah menuju stasiun kereta bawah tanah.
Tiga puluh menit kemudian, Kikuoka selesai membayar tagihannya, lebih dari 10.000 yen termasuk pajak—dengan uang tunai, entah karena alasan apa—lalu memberitahuku bahwa ia akan menghubungiku lagi nanti malam, dan menghilang ke dalam hiruk pikuk Ginza.Setelah setelannya tak terlihat lagi, aku tetap diam di sana di trotoar, berpikir. Ada begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan sampai-sampai aku merasa hanya dengan memiringkan kepala saja akan membuat kelebihan informasi tumpah dari telingaku. Insiden UR masih berlangsung. Seminggu yang lalu, ada akses tak terduga ke Underworld. Dan aktivitas mencurigakan di Kamura, yang menjadi alasan Kikuoka dan Argo bekerja sama...Aku menoleh pada Argo, yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya dan saat ini sedang membunyikan lehernya."Kue tadi memang enak banget, tapi tempat-tempat semacam itu bikin bahuku kaku, tahu.""...Tak bisa kubantah," gumamku, mengambil selangkah lebih dekat padanya."Tapi sebenarnya apa yang kaulakukan di sini sejak awal? Kau bahkan tak membicarakan soal bayaranmu atau apa pun itu.""Itu bukan jenis barang yang bisa dia berikan cuma dengan jentikan jari. Aku juga nggak buru-buru kok soal itu.""...Apa yang kau minta darinya?""Mmm... yah, kurasa aku bisa memberitahumu secara gratis. Itu adalah detail di dunia nyata tentang seorang penyintas SAO.""Penyintas...? M-maksudmu, waktu kau menerima pekerjaan itu... kau tahu kalau Kikuoka—maksudku, Chrysheight—bekerja di bidang yang bisa memberitahumu hal itu?""Dia memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari Divisi Virtual Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi.""Oh, itu masuk akal... Jadi... apakah itu seseorang yang kukenal...?" tanyaku, tak yakin apakah aku harus bertanya.Seringai tipis menarik salah satu sudut pipi Argo."Nggak bisa memberitahumu sejauh itu. Ini murni... info pribadi.""Ahhh..."Tentu saja, Argo telah melalui pengalamannya sendiri selama dua tahun itu. Aku takkan ikut campur mencampuri masa lalunya. Aku mengembuskan napas, mencoba mengalihkan pembicaraan, dan menatap langit. Entah sejak kapan, awan kelabu tua telah menutupi separuh langit, gema pertanda buruk dari keadaan pikiranku.Argo mengikuti arah pandanganku dan berujar membantu, "Peluang hujan di pusat kota setelah jam enam adalah tujuh puluh persen.""Wah, benarkah...? Bagaimana dengan Kawagoe?" tanyaku tanpa berpikir."Kau kan bisa cari tahu sendiri," ujarnya dengan nada jengkel."Tapi karena aku ini sangat baik... aku bakal carikan buatmu."Ia mengeluarkan ponsel pintar dari sakunya dan mengetuk layarnya beberapa kali, lalu menyeringai."Nah, ini dia. Kawagoe pada jam enam... peluangnya delapan puluh persen.""...Terima kasih."Aku punya payung lipat kecil di saku samping tas selempangku, tapi aku tak bisa menggunakannya saat mengendarai sepeda, jadi kalau hujan benar-benar turun saat aku kembali ke Kawagoe, aku terpaksa harus berjalan kaki menempuh mil terakhir ke rumah. Kalau aku punya jas hujan lengkap, aku bisa saja menerobosnya dengan sepeda, tapi aku sudah diperingatkan tentang bahaya berkendara di malam hari saat hujan oleh ibuku... dan Suguha, dan Asuna, serta Yui. Mereka sudah mengkhawatirkanku melakukan hal itu dalam banyak kesempatan, jadi aku harus menuruti mereka kali ini.Kalau aku naik kereta bawah tanah sekarang juga, aku mungkin bisa sampai di Stasiun Honkawagoe sebelum hujan turun, tapi aku masih punya satu misi penting yang tersisa. Mempersiapkan mentalku untuk berjalan kaki sejauh satu mil di tengah hujan, aku mulai mengucapkan selamat tinggal namun kemudian berubah pikiran."Ummm... Argo, ada hal lain yang ingin kuketahui..."Seringainya berubah menjadi kerutan dahi yang dilebih-lebihkan secara komikal."Aku beneran bakal memungut bayaran darimu nih sekarang.""Silakan saja.""...Baiklah. Apa itu?""Misalnya... katakanlah ulang tahun Asuna sudah dekat. Apa yang akan kauberikan padanya?"Mulutnya ternganga. Sesaat kemudian, hela napas yang sangat panjang lolos darinya."......Dengar, Kiri-boy, itu bukan perumpamaan. Ulang tahun A-chan memang besok. Kau belum menyiapkan kado untuknya?""Tunggu... kau tahu ulang tahun Asuna jatuh pada 30 September?""Aku juga sudah mengenalnya sejak lama, tahu. Hari ini cuma baru pertama kalinya kita bertemu di dunia nyata.""Ya... benar juga sih, kurasa..."Aku dan Asuna memang sudah menikah di Aincrad, tetapi saat itu pun kami hampir tidak pernah bertukar informasi dunia nyata sedikit pun. Baru setelah kastel melayang itu runtuh barulah kami mengakui nama asli dan usia kami satu sama lain. Namun Argo, sesuai dengan sifat aslinya yang selalu ingin tahu, entah bagaimana telah mengetahui hari ulang tahun Asuna saat aku sendiri belum."...Oke, jadi ini bukan perumpamaan. Langsung saja: Menurutmu apa yang disukai Asuna?" tanyaku lagi.Argo menusuk-nusuk lengan atasku."Kiri-boy, fakta bahwa kau berusaha untuk memilihnya itu sendiri adalah bagian dari kadonya. Lagipula, kau seharusnya lebih tahu tentang A-chan daripada aku.""Ya, aku tahu. Yui juga bilang begitu... Dan aku mengerti, tapi..."Aku mengembuskan napas, menatap awan yang mulai merapat. Awan itu tampak siap menumpahkan isinya kapan saja."Belakangan ini, aku mendapati diriku berpikir... Bagaimana jika semua yang kuketahui tentang Asuna hanyalah Asuna yang virtual, dan nyatanya, aku hampir tidak tahu apa-apa tentang Asuna di dunia nyata? Dan... bukan cuma Asuna. Aku bicara soal Liz dan Silica dan Sinon dan Agil dan Klein... Mungkin aku bahkan tidak benar-benar saling sepaham dengan adikku sendiri, Leafa, kecuali melalui dunia virtual...," ujarku, mengakhiri kalimat dengan gumaman.Lalu aku tersenyum canggung."Aku tahu, kau tidak datang kemari setelah dua tahun hanya untuk mendengarkanku mengeluh tentang berbagai hal. Aku akan memikirkan hadiah untuk Asuna. Maaf menahanmu di sini... Kau mau pulang ke Kanagawa sekarang?""Nggak, aku nggak sanggup berkomuter dari bagian barat daya Kanagawa sampai ke Tokyo Barat setiap hari. Aku nyewa apartemen yang dekat dari sekolah."Argo berdeham."Yah, aku ini sebenarnya nggak berada di posisi yang pas untuk ngasih wejangan ke orang lain soal hubungan mereka... tapi sebagai ucapan terima kasih untuk kue mahal tadi, aku bakal memberimu satu saran.""...Gratis?""Gratis. Dengar, Kiri-boy, kau terlalu keras berpikir. Dunia nyata, virtual—itu tetaplah orang yang sama di dalamnya. Nggak ada gunanya memperlakukan mereka seolah-olah itu dua hal yang berbeda.""......""Ada apa dengan tatapan itu?""Aku cuma berpikir... kau ini benar-benar lebih tua dan lebih bijaksana dariku...""Ada alasannya kenapa aku selalu menyebut diriku sendiri sebagai Big Sis!" omelnya, menusuk bahuku lagi. Lalu ia melompat mundur selangkah."Dan ini satu lagi gratis. A-chan nggak bakal senang kalau kau memaksakan diri membeli barang bermerek mahal di Ginza ini."Ia melambaikan tangannya dan berkata, "Yah, sampai jumpa nanti malam!" dan dengan kibasan jaket khaki-nya, Argo pun menghilang ke dalam kerumunan.Aku bersandar ke sisi bangunan dan mengembuskan napas, memikirkan kembali rencanaku sebelumnya untuk, seperti yang ia sebutkan, "memaksakan diri membeli barang bermerek mahal di Ginza."Aku memejamkan mata, memblokir deru kota dari pikiranku, dan membayangkan Asuna, seperti yang kukenal, dari hari pertama kami bertemu hingga hari ini.Asuna di menara labirin lantai satu, berlari kelelahan namun terus-menerus menumbangkan monster dengan sword skill yang semurni dan secepat bintang jatuh. Asuna sebagai wakil komandan Knights of the Blood, memimpin kelompoknya melawan bos lantai. Asuna yang tertidur pulas di kursi goyang di pondok hutan kami di lantai dua puluh dua. Asuna di sisi ranjangku di rumah sakit di Tokorozawa, mendekap NerveGear yang baru saja dilepasnya dariku, menanti. Asuna yang berduel dengan Yuuki si Absolute Sword di New Aincrad setelah itu ditambahkan ke ALO. Asuna yang bertarung di garis terdepan pasukan manusia dengan super-account di Underworld. Dan Asuna yang bersandar di bahuku di taman rahasia di sekolah kepulangan...Dalam kurun waktu hampir empat tahun sejak aku bertemu dengannya, Asuna selalu ada untukku, mendukungku. Tak diragukan lagi bahwa aku telah menerima jauh lebih banyak dari Asuna daripada yang sebenarnya kuberikan padanya. Dan setelah semua itu, berapa kali aku pernah benar-benar mengungkapkan rasa syukur yang kurasakan terhadapnya melalui kata-kata...?"Ah, ya ampun..."Aku kembali mendesah, sekali lagi merasa tidak cukup. Apa pun yang kuberikan padanya sebagai hadiah, satu hal yang pasti harus kulakukan adalah menuangkan perasaanku ke dalam kata-kata untuknya, aku tahu itu. Dengan sumpah itu di benakku, aku melangkah menuju stasiun kereta bawah tanah.
Komentar (0)
Memuat komentar...