Sword Art Online 024: Unital Ring III

Bagian 10

Estimasi waktu baca: 36 menit

Aku membuka pintu rumah, dan Suguha sekali lagi sudah menungguku di aula depan. "Selamat datang, Kakak! Ngomong-ngomong, Kakak terlam..."
Namun sapaan yang sama seperti yang diberikannya padaku tadi malam itu tertelan sebelum selesai diucapkan. Aku pasti memasang ekspresi yang sangat aneh di wajahku. Aku berusaha menenangkan diri dan memberinya sapaan yang normal.
"Aku pulang, Suguha."
"...Selamat datang. Apa terjadi... sesuatu?"
Memang ada. Hampir terlalu banyak hal yang terjadi. Tapi itu bukan jenis hal yang bisa kujelaskan lewat obrolan singkat di depan pintu.
"Yah... begitulah. Ada makanan nggak?" tanyaku, melepas sepatu dan merapikannya.
Suguha mengerjapkan mata dan menjawab, "Uh, ada. Aku ada latihan sepulang sekolah, jadi aku juga baru sampai rumah. Ibu bikin kari, dan ada nasi yang baru matang juga. Kakak bisa langsung makan."
"Syukurlah. Yui bilang kota di hutan... maksudku, dia bilang Ruis na Ríg masih aman untuk saat ini. Aku bisa ceritakan apa yang terjadi sambil kita makan."
"Baiklah. Aku akan menyiapkannya."
Adikku berlari kecil ke dapur dengan pakaian olahraganya, dan aku melangkah naik ke kamarku.
Jadwal kerja ibuku dimulai dan berakhir jauh lebih lambat daripada pekerja kantoran pada umumnya, tetapi ia masih menyempatkan memasak kari serta memastikan selimutku dijemur. Tempat tidurku telah dirapikan dengan sempurna untukku.
Remaja laki-laki pada umumnya mungkin akan memprotes hal ini.
Jangan masuk ke kamarku tanpa izin!
Tapi aku benar-benar merasa bersyukur. Adikku yang manis namun agak manja mungkin akan masuk ke sini semaunya sendiri, tapi ibuku sangat menghormati otonomiku, dan walau ayahku hanya pulang beberapa kali dalam setahun, aku sangat menghormatinya. Aku tak bisa lebih beruntung dari ini.
Namun saat aku berdiri di kamarku, yang telah divakum rapi oleh ibuku, satu-satunya hal yang bisa kupikirkan hanyalah kembali ke Underworld sesegera mungkin. Jika aku memejamkan mata, aku bisa membayangkan dengan begitu jelas sepasang mata hijau yang kuat di balik topeng Eolyne Herlentz itu.
Kalau itu semua cuma kebetulan besar, syukurlah. Tapi sampai aku bisa memastikan kalau itu murni kebetulan belaka, kegelisahan di dadaku ini takkan mau sirna.
Setelah log out pada pukul 5:11, aku bahkan tak menunggu balok kepala STL terangkat sebelum aku berteriak, "Biarkan aku masuk kembali sekarang juga!"
Tapi Dr. Koujiro tidak mengizinkanku kembali masuk. Ada dua alasan: Program diagnosis mandiri STL mendeteksi sejumlah masalah mekanis ringan, dan setelah aku siuman, denyut nadi serta tekanan darahku melampaui batas normal. Aku tak bisa berbuat apa-apa soal alasan yang pertama, tapi alasan yang kedua sudah pasti disebabkan oleh faktor mental, bukan fisik.
Dan Dr. Koujiro berkata bahwa dalam misi investigasi Underworld ini, tak ada yang menjadi prioritas lebih tinggi dibanding kesejahteraan diriku dan Asuna. Aku pasti terlihat sangat kacau, karena Asuna dan Alice juga ikut memperingatkanku untuk tidak melakukannya. Aku kalah suara telak dan terpaksa menyerah untuk kembali melakukan dive.
Kami bakal menyusun laporan tentang dive tersebut di lain hari. Asuna dan aku mengucapkan selamat tinggal pada Alice sebelum pos pemeriksaan keamanan, lalu masuk ke taksi yang dipesankan Rath untuk kami. Aku turun di Stasiun Shibuya, dan aku pasti terus melamun di sepanjang perjalanan. Benar-benar sangat disayangkan menyia-nyiakan hari ulang tahun Asuna, tapi perasaan mendesak ini tak kunjung meninggalkanku.
Bagaimana jika—bagaimana jika itu bukan cuma kebetulan gila semata? Bagaimana kalau ada semacam hubungan antara Komandan Eolyne dan Eugeo? Itu berarti... Itu bisa jadi berarti.........
"Buruan, Kak!" panggil Suguha dari lantai bawah.
Aku tersentak dan kembali sadar. "Oh! Maaf! Segera turun!" seruku balik dan buru-buru mengganti seragamku dengan pakaian rumah.
Bukannya Eolyne atau Underworld telah menghilang. Kalau boleh dibilang, justru akulah yang lenyap di depan mata mereka. Itu pasti jadi kejadian yang cukup mengagetkan. Aku harus meminta maaf saat bertemu mereka nanti.
Investigasi penuh kami dijadwalkan pada hari Sabtu, tiga hari dari sekarang, yang akan berlangsung dari pagi hingga malam. Aku hanya perlu mengendalikan kecemasanku ini dan mencoba fokus pada Unital Ring—serta tugas sekolahku, tentu saja.
Aku membawa kemeja seragam dan kaus dalamku ke lorong untuk dicuci, dan mencium aroma kari yang menguar dari bawah. Kesadaran akan betapa laparnya diriku mempercepat langkah kakiku dan membawaku bergegas turun ke lantai bawah.

Malam keempat di Unital Ring tiba dengan guyuran hujan lebat yang menderas. Menurut penuturan Alice dan Yui, memang sempat ada hujan singkat di beberapa tempat sepanjang hari, tetapi baru kali inilah hujan turun selebat ini semenjak gim ini dimulai.
Hujan dari program The Seed ini tidaklah setidak-nyaman hujan di dunia nyata maupun versi simulasinya di Underworld, tetapi tak bisa dimungkiri bahwa hujan ini tetap memengaruhi jarak pandang seseorang.
Setidaknya ini tidak mengancam nyawa, nggak seperti badai es di sabana itu, batinku seraya menatap hamparan langit gelap nan mengintimidasi dari beranda pondok kayu. Agil muncul dari dalam, menggenggam mug tembikar di masing-masing tangannya, dan merengut menatap langit.
"Padahal aku berniat fokus menaikkan level (leveling-up) malam ini. Nggak bakal gampang kalau cuacanya begini," keluhnya, menyodorkan salah satu mug itu kepadaku.
Aku pun berterima kasih padanya. "Kau kan masih bisa berburu di tengah hujan."
"Nggak deh, aku ini anak Tokyo. Aku nggak bisa akrab sama hujan."
"......Aku belum pernah dengar kalau orang Tokyo itu nggak tahan hujan," cibirku usil, mendekatkan mug itu ke bibirku.
Cairan di dalamnya bukanlah teh barli shiso merah seperti yang dibuatkan Asuna untukku semalam, melainkan sesuatu yang rasanya mirip kopi hitam dengan perisa jahe dan kayu manis. Cita rasanya terasa aneh, tetapi kalau harus memilih di antara keduanya, yang satu ini rasanya lebih cocok di lidahku.
Menjelang pukul delapan, semua orang kecuali Argo telah hadir, jadi kami pun melangsungkan rapat rutin kami, lalu beralih ke waktu luang (free time). Kami bisa menunggu sampai jam sembilan untuk melihat apakah hujannya reda, tetapi kalaupun tidak, kami harus tetap mulai membangun lebih banyak pertahanan kota. Bagaimanapun juga, pasukan berkekuatan seratus orang bisa saja merangsek masuk ke hutan kami besok malam.
Kota Ruis na Ríg mendapat dorongan kekuatan besar dengan kedatangan prajurit Yzelma beserta kesepuluh pejuang Bashin miliknya, tetapi kalau memungkinkan, aku tak mau begitu saja melemparkan mereka ke peran yang paling berbahaya.
Kematian bersifat final bagi pemain maupun NPC di sini, tetapi kami hanya akan menderita kehilangan akses menuju Unital Ring; sedangkan para NPC kemungkinan besar eksistensinya bakal terhapus untuk selamanya.
Di SAO dulu, sebagian besar NPC akan muncul kembali (respawn) dalam kurun waktu tertentu setelah kematian mereka, dan NPC di ALO bersifat abadi, mustahil untuk dilukai. Tak ada belas kasihan semacam itu di tempat ini.
Jadi, merupakan tugas kamilah untuk menghadapi musuh secara langsung, tetapi kami juga tak sanggup menanggung kerugian apa pun. Dan hal yang kian merumitkan masalah ini adalah fakta bahwa para pemain musuh ini sebetulnya tak punya pilihan lain selain menyerang kami. Mereka dipaksa untuk menuruti perintah Mutasina akibat mantra Noose of the Accursed miliknya. Harapan awalku adalah agar mereka mau menggunakan desa kami sebagai basis operasi, bukan malah menyerangnya.
Karena itulah, kami menghabiskan sedikit waktu saat rapat tadi untuk mendiskusikan bagaimana cara mencegah terjadinya pertarungan hidup mati seperti saat melawan tim Schulz kemarin, dan hal itu terbukti menjadi pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.
Baru saja keluar dari Underworld, aku tak ayal membatin dengan penuh penyesalan, Andai saja aku punya Blue Rose Sword dan kekuatan Inkarnasi-ku. Aku bisa saja melumpuhkan seratus orang itu dalam sekejap dan melenyapkan Mutasina sendirian.
Akan tetapi, di Unital Ring ini, Kirito cuma punya status level 18, pedang panjang besi, dan sihir pembusuk (decay magic). Tak diragukan lagi kalau menyemburkan Rotten Shot (Tembakan Busuk) ke wajah Mutasina yang sok angkuh itu bakal terasa sangat memuaskan, tetapi itu takkan bisa mengalahkannya untuk selamanya.
Dalam waktu kurang dari semenit, Sinon-lah yang memberikan ide pertama yang benar-benar berguna. Ia telah mewarisi senapan antimaterial (antimateriel rifle) Hecate II yang sangat tangguh dari GGO. Senjata itu mampu membunuh bos dinosaurus raksasa di barat Sabana Giyoru secara instan, jadi senjata itu pastinya cukup kuat untuk menghabisi Mutasina sang penyihir hanya dengan satu tembakan, tak peduli entah dia berada di level 20 atau level 30—asalkan tembakannya tepat sasaran.
"Masalahnya ada di situ," tambah Sinon dengan getir. Hecate II sama menuntutnya dengan Excalibur milikku dan Ray Grace milik Asuna dalam hal persyaratan status. Ia bahkan tak sanggup mengangkat senapan itu, apalagi membidikkannya.
Sewaktu melawan bos dinosaurus itu, ia mendapat bantuan dari beberapa Ornith pemberani untuk menstabilkan larasnya, tetapi menurut penuturannya, merupakan sebuah keajaiban ia bisa mengenai titik lemah monster itu bahkan dengan bantuan tersebut.
Kalau kami berniat membidik Mutasina, kami butuh peluang yang lebih baik ketimbang sebuah keajaiban. Kami harus bisa menemukan solusi kreatif untuk menembakkan Hecate itu dengan cara apa pun. Jawaban paling sederhana adalah memasangkannya pada sesuatu yang berat, tetapi hal itu justru akan membuat bidikannya makin sulit diarahkan.
"Kalau ini di dunia nyata, bakal gampang banget tinggal pergi ke toko perkakas untuk mencari material, lalu merakit dudukan senapan sederhana," klaim Klein.
Terlepas dari apakah dia benar-benar bisa melakukannya atau tidak, memang benar bahwa di dunia ini, kau hanya bisa membuat barang-barang yang ada di dalam menu produksi skill-mu. Dan tidak ada dudukan senapan di bawah skill Pertukangan Kayu (Carpentry), Pertukangan Batu (Stoneworking), maupun Pandai Besi (Blacksmithing).
"Kalau kita mau pakai ide Sinon, aku yang bakal jadi pembawanya," tawar Agil. Aku melirik sang pengguna kapak di sebelah kananku. Avatarnya terlihat berotot dan kuat, tapi penampilan fisik tidak ada hubungannya dengan angka status dalam sebuah VRMMO.
Aku meringis dan berkata, "Itu tawaran yang sangat berbaik hati, tapi kau masih level 10, Agil. Silica saja bisa mengalahkanmu adu panco saat ini."
"Hmph..."
Bibir pria bertubuh besar itu mencibir. Ia memang berhasil naik beberapa level tadi malam saat aku pergi ke Reruntuhan Stiss, tapi ia masihlah yang paling rendah di antara kelompok teman-teman kami. Hal itu tak bisa dihindari, mengingat ia adalah orang terakhir yang melakukan konversi dan punya pekerjaan siang hari mengelola kafenya, tapi aku yakin kenyataan itu pasti mengganjal di hatinya, terlebih ia dulunya selalu bermain sebagai tank yang tangguh dan kokoh yang bertugas melindungi rekan-rekannya di sepanjang SAO dan ALO.
"Makanya niatnya aku mau fokus leveling-up malam ini. Tapi nggak ada gunanya nekat bertaruh nyawa di malam yang hujan begini...," gerutunya.
"Benar juga," ujarku. Dibandingkan dengan video game tradisional, informasi sensorik memainkan peran yang sangat besar dalam pengalaman bermain VRMMO. Banyak hal selain jarak pandang yang penting dalam urusan mendeteksi bahaya: suara dan bau samar dari berbagai monster, jejak yang tertinggal di lantai dan dinding, bahkan rasa air yang samar pun bisa memberimu informasi krusial.
Aku menanggapinya dengan sangat serius, sampai-sampai aku secara mandiri mempelajari sebuah fenomena yang kusebut hypersensing (pengindraan super), yakni momen-momen di mana aku menerima semacam peringatan indra keenam akan serangan musuh sebelum hal itu terjadi.
Jadi, sebuah hutan di malam hari saat turun hujan, di mana kelima indra terhambat dengan satu dan lain cara, setidaknya sama berbahayanya dengan sebuah dungeon, atau bahkan lebih parah dari itu. Aku pernah mendengar banyak cerita tentang para pemain di Aincrad yang mencoba memonopoli titik monster (tempat grinding) yang bagus di tengah kondisi berbahaya dan berujung pada kematian mereka. Aku tak mau berasumsi bahwa semua yang ada di SAO dan Unital Ring itu sama, tetapi memang benar bahwa kematian adalah perkara yang sangat fatal di kedua dunia tersebut.
Bahkan bau-bauan pun kalah oleh hujan, batinku seraya hidungku berkedut. Di tengah udara lembap, aku menangkap aroma sesuatu yang wangi. Angin berembus dari arah barat, jadi mungkin kaum Bashin sedang memasak daging di area kumpul mereka di sisi barat Ruis na Ríg.
Baunya sangat samar, padahal pondok kayu ini hanya berjarak sekitar enam puluh kaki, sebuah contoh nyata betapa kuatnya hujan mampu menutupi aroma penciuman.
"...Di rapat semalam," gumamku, "Alice sempat menyebutkan sebuah titik di sepanjang Sungai Maruba yang bakal bagus untuk grinding di siang hari."
"Masalahnya, waktu tersinkronisasi di UR," balas Agil.
"Mungkin aku harus menutup kafe lagi besok..."
"Hei, jangan sampai kau bertengkar dengan istrimu gara-gara kami," tambahku buru-buru, tetapi entah kenapa, ia malah menyeringai ke arahku.
Dicey Café milik Agil adalah kedai kopi bergaya Amerika di siang hari dan bar koktail di malam hari; Agil mengelolanya di siang hari, dan istrinya menangani jam operasional malam hari. Selama dua tahun Agil terjebak di SAO, istrinya terus menjalankan bisnis tersebut siang dan malam—dan nyaris kehabisan tenaga untuk mempertahankan semuanya. Hal itu membuatku khawatir kalau kebiasaan bermain VRMMO Agil yang terus berlanjut ini bisa menjadi pertanda awal dari masalah dalam bentuk lain...
"Nyonya besarku malah sibuk main (game) di siang hari," ujarnya sambil nyengir.
Mulutku sontak menganga. "Eh... masa sih?"
"Faktanya, dia sudah lebih dulu main game online daripada aku."
"Wah... tapi... tunggu dulu. Apa istrimu juga main game The Seed? Bukannya itu berarti dia...?"
Aku masih berbicara ketika Kuro, yang sedari tadi meringkuk di sepanjang dinding beranda, mengangkat kepalanya dan menggeram singkat. Di halaman depan, Aga berhenti bermain-main dengan riang di tengah hujan dan berdiri mematung, moncong runcingnya terangkat mengendus ke arah timur.
"Ada apa, Kuro?" tanyaku, berjalan mendekat untuk menggaruk leher macan kumbang itu, tetapi ia tak kunjung berhenti menggeram. Aku mendengarkan saksama namun cuma bisa mendengar suara hujan...
Tidak.
Ada sesuatu yang lain. Bukan suara. Sesuatu yang merambat menembus kulit di telapak kakiku. Sebuah getaran yang samar namun tak wajar.
"...Gempa bumi?" gumam Agil, yang menyadarinya di saat yang bersamaan denganku, memantapkan pijakannya di atas beranda.
"Sejak kapan virtual reality punya gempa bumi...? Bukannya nggak mungkin sih...," balasku, meletakkan sebelah tanganku di permukaan beranda itu sendiri.
Seketika terjadi sentakan hebat!, sebuah gelombang kejut yang lebih dari sekadar getaran biasa, yang mengguncang seluruh pondok. Tubuhku terhuyung, kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan mug di tanganku yang lain.
Tembikar rapuh itu kontan hancur berkeping-keping, melesap menjadi partikel-partikel biru. Suara pecahannya tenggelam di tengah jeritan para gadis di dalam rumah dan teriakan Klein: "Agil, arah timur!"
Aku melompat keluar menerjang hujan lebat. Di dunia nyata, mustahil untuk bisa mengetahui dari arah mana pusat aktivitas seismik berasal hanya dengan mengandalkan indramu semata, tetapi di VR ini, aku bisa merasakannya dari arah ke mana tubuhku terhuyung.
Kuro dan Agil mengekorku ke halaman, dan yang lainnya buru-buru berhamburan keluar dari rumah di belakang kami. Aku berlari ke tengah ruang terbuka dan berbalik, tetapi pondok dan dinding pertahanan kami terlalu tinggi untuk bisa melihat ke arah hutan.
Aku bisa mendengar suara pekikan melengking dari sisi lain, kemungkinan besar dari kaum Patter yang berwujud menyerupai tikus. Tanah kembali berguncang. Apa pun sumbernya, guncangan itu semakin mendekat pada setiap repetisinya.
"Keluar lewat Gerbang Jam Empat (Four O'Clock Gate)!" seruku, bergegas menuju Jalan Lingkar Dalam (Inner Perimeter Road) dan berbelok ke kiri. Rute itu membawaku ke Jalan Jam Empat (Four O'Clock Road), di mana banyak kaum Patter sudah bermunculan keluar dari rumah mereka untuk menatap langit dengan cemas.
"Tetaplah di dalam. Terlalu bahaya di luar sini... Er, tolong bilang begitu pada mereka!" pintaku pada Yui, yang berada persis di belakangku, dan membuat catatan di benakku untuk melatih kemampuan bahasa Patter dan Bashin-ku segera setelah aku punya kesempatan.
Tepat setelah membuka gerbang tenggara untuk keluar kota, guncangan ketiga melanda. Guncangan itu nyaris membuatku jatuh terpelanting.
"Aaah..."
"Wah, awas!" Lisbeth memegangi lengan kiriku, menahanku agar tetap berdiri tegak.
"M... makasih."
"Santai saja. Terus apa yang harus kita lakukan?! Kalau ini bukan sekadar gempa bumi biasa...," komentarnya.
Yang lainnya tampak tegang. Jika guncangan ini bukanlah fenomena alam dari Hutan Besar Zelletelio melainkan ulah monster atau pemain lain, maka itu pastilah sesuatu yang memiliki daya hancur luar biasa, setara dengan sihir agung (grand magic).
"...Mari kita coba cari tahu apa penyebabnya dulu," usulku, yang disetujui oleh semuanya. Delapan adalah batas maksimal ukuran party (kelompok) di Unital Ring, dan kami ada sepuluh orang, jadi kami membagi diri menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari lima orang dan menautkan keduanya sebagai raid party (kelompok penyerbuan skala besar).
Asuna, Yui, Leafa, Klein, dan aku menjadi Tim A, sementara Sinon, Alice, Lisbeth, Silica, dan Agil menjadi Tim B. Argo takkan bisa datang tepat waktu, tetapi seandainya ia muncul, ia bakal bergabung di Tim A.
Aku menginstruksikan Sinon, pemimpin Tim B, untuk mengambil arah ke kiri, lalu aku bergegas menerobos masuk ke dalam hutan yang gelap gulita bersama empat anggota party-ku dan dua hewan peliharaan kami. Tim B, yang membawa Misha bersama mereka, mengekor secara paralel, tiga puluh kaki di sebelah kiri kami.
Hujan sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda mereda. Semak belukar yang basah kuyup terus-menerus mengancam bakal membuat kami tergelincir, jadi kami harus ekstra hati-hati saat berlari ke arah timur. Rembulan bersembunyi di balik awan, jadi lima yard adalah jarak pandang terbaik yang bisa kulihat ke depan, dan guyuran hujan memastikan obor apa pun bakal padam dalam hitungan detik.
Berkat skill Penglihatan Malam (Night Vision)-ku, aku masih bisa melihat samar-samar wujud pepohonan dan semak-semak, jadi aku memimpin jalan bagi yang lain, berlari dengan kecepatan yang cukup pelan agar aku tidak tersandung dan jatuh.
Belum ada guncangan keempat, tetapi aku masih bisa merasakan getaran yang datang silih berganti menembus pijakanku. Aku rasa aku juga menangkap suara gemeretak dan retakan kehancuran yang samar.
"Ada apa di depan arah ini, Kirito?" tanya Asuna, dengan suara yang cukup keras agar bisa kudengar mengalahkan derau hujan, seraya menarik tangan Yui untuk mengikutinya.
"Kita belum terlalu banyak menjelajah ke arah sini, tapi aku cukup yakin ada lembah besar di sebelah sini."
"Berarti mungkin saja ada tanah longsor yang terjadi gara-gara hujan?!" terka Klein dengan nada optimis, berlari dengan langkah-langkah panjang.
Aku tak ayal menyeringai mendengarnya. "Kalau segala sesuatunya runtuh di dalam VRMMO setiap kali hujan turun, seluruh tempat ini bakal hancur berantakan."
"Dan lagipula di sini tak ada pekerja konstruksi untuk membangun fasilitas umum," tukas Leafa.
"Yah, kurasa kau benar," gerutu Klein.
Sementara itu, pepohonan di depan mulai menipis. Kalau ingatanku akurat, sebentar lagi akan ada dua bukit berukuran cukup besar, dengan sebuah ngarai raksasa yang membentang lurus membelah keduanya. Aku belum sempat mengecek apa yang ada di ujung lain ngarai tersebut.
"Kita keluar dari rimbunan pohon!" peringatku pada rekan-rekanku, seraya berlari melewati pohon pinus spiral yang ukurannya luar biasa besar. Hutan itu terbuka membentuk pola huruf V, berganti menjadi hamparan rerumputan yang tinggi. Awan hitam pekat bergelung di atas sana, memecut kami dengan guyuran hujan dan menerangi daratan lewat sambaran kilat putih yang menyambar sesekali.
Di sisi depan sana, sesuai ingatanku, terdapat dua buah bukit—atau mungkin aslinya hanya ada satu bukit di masa lampau, yang terbelah menjadi dua oleh celah menganga di daratan yang kini memisahkannya. Ngarai tersebut memiliki lebar sekitar seratus kaki, dan dasarnya dipenuhi oleh bongkahan-bongkahan batu yang lebih besar ketimbang Misha.
Aku sudah mengantisipasi bahwa sumber gempa bumi tersebut berada di suatu tempat di padang ini, tetapi aku tak melihat ada sesuatu yang abnormal untuk saat ini. Masih ada getaran-getaran mikro yang samar merambat menembus kakiku, tetapi sudah beberapa menit berlalu sejak pergeseran vertikal terakhir yang cukup besar untuk menjatuhkanku.
Apakah ini benar-benar sekadar fenomena alam belaka? Aku pun mulai sedikit menenangkan diri.
Namun kemudian sambaran kilat yang sangat terang menerangi segalanya dengan pendar putih, dan sebuah formasi batuan raksasa yang menjulang dari dasar ngarai, setinggi lebih dari tiga puluh kaki, mendadak hancur berkeping-keping, seolah-olah meledak dari dalam.
Guncangan yang menyusul setelahnya adalah yang terdahsyat sejauh ini, dan aku terpaksa mencengkeram bahu Kuro agar tak jatuh terjungkal. Asuna, Yui, dan Leafa saling berpegangan untuk menjaga keseimbangan satu sama lain, tetapi Klein jatuh terpelanting dengan spektakuler menabrak bokongnya sendiri.
Biasanya, insiden jatuh semacam itu bakal langsung diikuti rentetan makian penuh amarah, tetapi dalam kasus ini, ia bahkan tak punya waktu untuk melakukannya. Sesosok bayangan telah muncul dari balik bongkahan batu yang hancur tersebut, ukurannya luar biasa masif, tak tertandingi.
Kami terpisah setidaknya dua ratus yard jauhnya, dan dasar ngarai tersebut berada jauh di bawah posisi kami saat ini, tetapi tekanan yang kurasakan sungguh sangat mencekik; membuat napasku memburu dan dangkal.
Bukan cuma ukurannya, melainkan bentuknya juga yang sukses membangkitkan ketakutan primordial (naluriah) di dalam diriku.
"Makhluk apa itu...?" tanya Leafa.
"Apa-apaan itu...?" gumam Klein di saat yang bersamaan.
Aku pun tak sanggup melontarkan sepatah kata pun yang masuk akal. Wujud yang kulihat lewat penerangan kilat tadi terlalu ganjil bahkan sekadar untuk dideskripsikan.
Tanpa diragukan lagi, ini adalah monster terbesar yang pernah kujumpai sejauh ini di Unital Ring. Sinon sempat bilang kalau bos dinosaurus sterocephalus yang ia lawan dulu memiliki panjang tiga puluh kaki dari kepala hingga ekor, tetapi monster yang tengah kutatap saat ini setidaknya memiliki panjang dua kali lipat dari itu.
Kepalanya masih memiliki sedikit unsur humanoid (menyerupai manusia), tetapi terdapat empat buah mata yang menyala merah terang, dan mulutnya terbelah tak cuma ke atas dan ke bawah, tapi juga ke kiri dan ke kanan. Bagian belakang kepalanya memanjang, dan sejumlah tanduk mencuat keluar dari sisi-sisinya.
Tepat di bawah kepalanya terdapat dua lengan, yang memiliki lengan bawah yang luar biasa panjang dan berujung pada bilah sabit tajam. Tubuhnya menggembung layaknya tong, dan sebuah mulut vertikal ternganga di tengah-tengahnya.
Batas fitur humanoid-nya hanya sampai di situ saja. Pinggangnya melengkung ke belakang pada sudut sembilan puluh derajat, terhubung pada bagian tengah tubuh yang masif dan beruas-ruas layaknya kelabang. Kaki-kakinya yang berbuku-buku tumbuh berjejeran, berujung pada ujung runcing yang mirip dengan lengan sabitnya, dan bagian ekor tubuhnya berupa tonjolan tajam menyerupai tombak.
Seluruh tubuhnya diselimuti cangkang hitam berkilau, tetapi yang membuatnya terlihat semakin aneh bin menjijikkan adalah otot-otot beriak yang tampak jelas di balik cangkang tersebut. Wujudnya menyerupai serangga (insectoid), tetapi tekstur makhluk itu adalah tekstur hewan bertulang belakang (vertebrate). Hanya ada satu kata yang kutahu yang mampu merangkum kengerian makhluk ini: iblis.
Penyebab rentetan guncangan yang melanda Ruis na Ríg kemungkinan besar adalah makhluk raksasa tersebut yang menghancurkan bongkahan-bongkahan batu itu. Kalau makhluk itu sampai mencapai kota, seluruh jerih payah yang telah kami kerahkan untuk proses konstruksi dan perbaikan pondok kayu kami bakal sia-sia belaka, karena monster itu pasti akan meratakan pemukiman kami dengan tanah.
Menatap sosok makhluk di dasar ngarai itu, yang sejenak menghentikan pergerakan majunya, aku bergumam entah pada siapa, "Makhluk apa itu... dan apa yang dilakukannya di sini...?"
Kelabang berwajah manusia sepanjang lebih dari tujuh puluh kaki itu sama sekali tak memiliki satu pun kesamaan dengan monster-monster berwujud hewan di Hutan Besar Zelletelio. Kami telah menjumpai beruang di hutan, macan tutul di padang rumput, dan kepiting di sungai—semua hewan ini masih bisa dinalar dengan akal sehat.
Kenapa logika itu malah dibuang sekarang? Satu-satunya tempat yang pantas bagi monster semacam itu untuk eksis adalah di dasar dungeon yang dalam dan gelap gulita—atau di neraka itu sendiri.
Namun kemudian sesuatu memercik hidup, menggelitik bagian terdalam di otakku. Pernahkah aku melihat monster yang wujudnya menyerupai makhluk ini sebelumnya... di dunia VRMMO lain? Tapi di mana...?
"Hei, Kirito..."
Aku menoleh dan melihat Asuna, yang tengah mendekap Yui di pelukannya, memasang ekspresi kosong.
"Kupikir... aku pernah melihat monster itu sebelumnya..."
Namun sebelum ia sempat membeberkan lebih jauh, suara lain berseru dari sebelah kiri.
"Lihat kaki-kakinya!" Itu suara Sinon, sang pemimpin Tim B, yang telah keluar dari hutan beberapa saat setelah kami.
Penglihatan sang sniper masihlah setajam di dunianya yang sebelumnya, dan ia berhasil menangkap sesuatu yang luput dari pandangan kami.
Aku menepis sensasi menggelitik di kepalaku itu untuk sementara waktu dan menatap saksama. Di dasar ngarai tersebut, yang tersorot secara berkala oleh kilatan petir, terdapat banyak batuan yang lebih kecil di samping reruntuhan yang diakibatkan oleh kelabang berwajah manusia itu. Dan di antara bebatuan tersebut...
"Oh..." pekikku tertahan saat melihatnya.
Sepuluh—lebih tepatnya mendekati dua puluh sosok kecil yang bergerak lamban. Mereka sebenarnya berukuran sebesar manusia, hanya saja terlihat kecil jika dibandingkan dengan kelabang berwajah manusia tersebut, tetapi siluet mereka juga bukanlah siluet manusia. Tubuh-tubuh yang terbalut cangkang keras, tanduk dan rahang yang panjang, serta kaki berjumlah enam. Mereka adalah monster tipe serangga—kacung-kacung dari sang kelabang berwajah manusia.
Tiba-tiba saja, keempat mata makhluk raksasa itu berkilat, merah dan penuh kebencian, lantas mengangkat lengan sabit kanannya.
"Jyaaaaa!"
Bahkan dari jarak dua ratus yard sekalipun, daya raungannya nyaris membuat kaki kami tertekuk lemas. Binatang buas itu mengayunkan salah satu sabitnya dengan kecepatan yang mengerikan.
Ia dengan mudahnya menghancurkan sebongkah batu selebar sepuluh kaki, merobohkan dua atau tiga monster serangga yang berdiri di belakang batu tersebut. Serangga-serangga lain di sekitarnya bergegas mengangkat kawanannya yang terbalik. Kedua puluh serangga itu lantas berlari menuju jalan keluar ngarai.
"Jyashaaa!" lolong iblis itu lagi, mengangkat kedua lengan sabitnya. Ia menghantamkannya beberapa kali ke tanah, dan serangga-serangga yang lebih kecil itu cuma bisa menghindar tipis dari serangannya.
"Apa mereka... saling bertarung?" gumamku.
"Kelihatannya bukan saling bertarung sih," timpal Klein, yang kini sudah kembali berdiri tegak.
"Lebih mirip si besar yang menyerang si kecil-kecil yang lagi kabur. Tapi yang lebih penting... mereka mengarah ke mari!"
Benar saja, monster-monster serangga seukuran manusia itu bergegas naik mendaki lereng bukit yang landai. Kelabang berwajah manusia itu pun kembali bergerak, memburu mereka. Keduanya bakal mencapai batas hutan, tempat kami berdiri saat ini, dalam waktu kurang dari satu menit.
Hal terburuk yang bisa terjadi adalah jika keduanya berbalik menargetkan kami untuk diserang. Haruskah kami bersembunyi di hutan dan menunggu makhluk kelabang raksasa itu menyapu bersih kedua puluh serangga tersebut? Serangga-serangga itu bisa saja menyelinap masuk ke dalam hutan dan terus melaju hingga mencapai Ruis na Ríg.
Mungkin kami harus menyerang dari kejauhan untuk menghentikan pergerakan maju mereka—dan membiarkan kelabang itu yang menghabisi mereka. Berdasarkan apa yang telah kami amati sejauh ini, algoritma makhluk-makhluk yang lebih kecil itu tampaknya memuat pola saling tolong-menolong, jadi kami mungkin bisa memanfaatkannya demi keuntungan kami.
Entah mereka itu monster atau bukan, perasaanku sebenarnya tidak sreg dengan taktik semacam itu, tetapi kalau itu adalah hal yang harus dilakukan untuk melindungi kota dan para NPC-nya, ya sudahlah. Aku menguatkan tekadku untuk melakukan hal yang harus dilakukan dan berseru pada kedua petarung jarak jauh kami.
"Yui, Sinon, gunakan sihir api dan senapan kalian untuk menghentikan laju monster-monster tipe serangga yang ada di depan!"
"Segera laksanakan!"
"Dimengerti," jawab mereka serempak, melangkah maju beberapa tindak.
Sinon membidikkan senapannya, dan Yui merentangkan tangannya, mengarahkan sasaran pada sosok yang menyerupai belalang sentadu anggrek (orchid mantis) di barisan paling depan. Tubuh merah muda pucatnya mencolok menembus hujan, menjadikannya sasaran yang lebih mudah untuk dibidik.
Yui melakukan gestur aktivasi untuk sihir apinya, lalu menarik tangan kanannya ke belakang. Sinon menekankan senapan ke pipinya dan meletakkan jarinya di pelatuk. Jarak ke belalang sentadu anggrek itu adalah 100 yard, dan 150 yard ke arah kelabang berwajah manusia di belakangnya.
Mereka membidik, menarik napas dalam-dalam—dan kemudian Agil berseru, "Tunggu dulu!!" dan melompat ke depan mereka berdua. Sinon begitu terkejut sampai ia mengangkat laras senapannya, dan Yui lekas-lekas menggeser arah tangannya.
"Hei, apa-apaan idemu itu?!" gerutu Sinon, tetapi Agil hanya sempat membalas dengan ucapan "Maaf!" yang singkat. Ia berlari menerjang hujan deras, bahkan tak repot-repot menghunus kapak bermata gandanya.
"W-woah... apa-apaan ini?!" seruku, tetapi pria itu tak menoleh ke belakang. Aku pun cuma bisa berlari mengejarnya. Kawanan monster serangga itu semakin mendekat dari detik ke detik.
Mereka pasti sudah menyadari keberadaan kami sekarang, tetapi di game ini, kau takkan bisa melihat kursor musuh sampai kau atau anggota party-mu melancarkan atau menerima serangan, jadi aku tak bisa memastikan apakah mereka sudah menargetkan kami atau belum. Aku cuma harus bertindak di bawah praduga bahwa mereka sudah menargetkan kami.
"Agil, setidaknya hunus kapakmu!"
Aku mengangkat pedang ke bahuku, bersiap melancarkan sword skill. Namun sang prajurit itu bahkan tak mau meraih senjatanya. Agil selalu bersikap tenang di bawah tekanan—dalam beberapa hal, dialah otak sesungguhnya dari tim kami—namun saat ini ia bersikap seolah baru saja kehilangan akal sehatnya.
Belalang sentadu anggrek berwarna merah muda pucat itu sudah berada dalam jarak tiga puluh yard. Lengan-lengannya terlipat di depan dada dan berujung pada bilah sabit yang tampak mengerikan, kendati ukurannya terbilang mungil jika dibandingkan dengan milik sang kelabang iblis. Kalau serangannya sampai kena telak, ia bakal merobek paksa sejumlah besar HP, bahkan menembus zirah besi sekalipun. Kalau Agil tidak mau bertarung, terpaksa aku harus menangani yang satu ini sendirian. 
Dengan pemikiran itu, aku menyesuaikan sudut pedangku untuk mengeksekusi Sonic Leap. Tiba-tiba saja, bayangan senyum sedih Phercy Arabel kecil dari perjalananku ke Underworld sebelumnya terlintas di benakku. Aku harus memecahkan alasan kenapa ia tak bisa menggunakan sword skill.
Dengan tekad yang menumpang pada pedangku, layaknya segala hal lainnya, aku bersiap melepaskan skill berkekuatan penuh yang sesungguhnya.
"Hentikaaan!!" raung Agil laksana gelegar guntur, merentangkan kedua tangannya dan berhenti mendadak. Aku pun ikut mengerem langkahku, dan pergeseran postur tersebut membuat sword skill-ku memudar dan batal. 
Lengan Agil yang kekar terentang membentuk garis lurus. Ia berdiri di tengah-tengah padang yang basah kuyup, tampak mengancam sekaligus intens. Di depan sana, dua puluh monster serangga tengah menerjang lurus ke arah kami. Belalang sentadu anggrek di barisan terdepan sudah cukup dekat hingga aku bisa melihat mata majemuk raksasanya berkilat seraya ia mengangkat sabitnya untuk menyerang. 
Kemudian Agil berseru, "Trish?! Apa itu kau, Trish?!"
......Hah?
Betapa terkejutnya aku, belalang sentadu itu kontan berhenti mendadak dengan decitan nyaring, lengan sabitnya sedikit turun pada sudut kaget yang canggung—dan lalu makhluk itu berbicara dengan suara seorang wanita manusia.
"Andy?! Apa yang kau lakukan di sini?!"
......Hahhh?!
Kenapa belalang sentadu itu bisa ngomong? Dan siapa pula Andy?!
Tiba-tiba, aku baru tersadar. Nama karakter Agil diambil dari nama depan dan tengahnya, Andrew dan Gilbert. Monster belalang sentadu anggrek ini mengetahui nama asli Agil.
"Tunggu... Jangan bilang kalau...," bisik Asuna dari sebelah kananku; ia baru saja menyusul kami.
Aku menolehkan kepalaku ke arahnya dan bertanya, "'Jangan bilang kalau' apa?"
"Menurutmu apa belalang sentadu itu adalah... istrinya Agil?"
".........Maaf, apa katamu?" Pikiranku kembali berhenti berfungsi.
Di luar pondok kayu tadi, aku baru saja mendengar Agil mendeskripsikan istrinya sebagai pemain VRMMO, tetapi wujud belalang sentadu ini murni wujud monster belaka. Apakah dia manusia yang telah diubah menjadi monster melalui sihir? Apa hal yang sama juga berlaku untuk semua monster serangga di belakangnya...? 
Hanya butuh sesaat untuk mendapatkan konfirmasi, berkat seekor kumbang rusa (stag beetle) hijau yang berhenti di belakang belalang sentadu tersebut. Rahangnya yang garang membuka dan menutup, memancarkan suara seorang pria—berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih.
"Hei, Hyme, apa-apaan yang kau lakukan?!"
Ia disusul oleh seekor kumbang badak (rhinoceros beetle) berbadan jongkok yang mengayun-ayunkan tanduknya ke sana kemari.
"Siapa mereka?! Kawan atau lawan?!"
Mereka berbicara dengan sangat cepat hingga aku tak bisa memastikan apa yang kudengar, tetapi aku cukup yakin aku telah menangkap intisarinya. Dan sosok yang membalas ucapan mereka bukanlah sang belalang sentadu anggrek, yang rupanya bernama Hyme, melainkan Agil sendiri. Pria keturunan Afrika-Amerika itu menyemburkan bahasa Inggris dengan begitu cepatnya sampai-sampai aku sama sekali tak bisa memahaminya.
Syukurlah, ia sepertinya berhasil meyakinkan kumbang rusa dan kumbang badak tersebut bahwa kami bukanlah musuh mereka, lantaran mereka lekas menurunkan tanduk dan rahang mereka. Serangga-serangga lain segera menyusul; si kumbang rusa pun meneriakkan sesuatu untuk meredam agresi mereka.
Untuk saat ini, kami berhasil menghindari pertarungan dengan pasukan serangga, tapi itu cuma separuh—tidak, 10 persen dari masalah sebenarnya. Kelabang raksasa berwajah manusia itu masih menerjang maju melintasi ngarai di belakang mereka. Kalau kami salah mengambil langkah strategis, baik kami maupun para serangga itu bisa tersapu bersih.
Tepat pada saat itu, secercah cahaya kecil berkilat, meledak di wajah monster kelabang tersebut. Sesaat atau dua saat kemudian, aku mendengar dentuman kecil yang menyusul. Terlalu kecil untuk disebut sebagai ledakan, tetapi bahkan menembus hujan sekalipun, aku bisa melihat dengan jelas asap kuning beracun mengepul dalam jumlah besar; menyelubungi kepala sang kelabang. 
Monster itu menghentikan terjangannya dan meraung "Jyashaaa!" dengan penuh rasa kesal. Serangga—errr, orang—yang melemparkan benda menyerupai granat asap tadi berada di barisan paling belakang pasukan serangga. Dengan jubah berkerudung yang berkibar tertiup angin, pemain bertubuh pendek itu berlari menembus hujan dengan kecepatan luar biasa dan berhenti mendadak dengan decitan tajam tepat di depanku. 
"Maaf, Kiri-boy! Situasinya jadi kacau!"
Tak mungkin aku salah mengenali suara khas itu.
"Argo?!"
"Apa itu kau, Argo?!" seru Asuna. 
Aku menyusulnya dengan tergagap, "Kau—Kenapa—?" yang entah bagaimana diinterpretasikan dengan tepat oleh Argo (mungkin lewat telepati) sebagai Kenapa kau bisa bersama serangga-serangga ini?
Ia menyibakkan tudungnya dan menjawab, "Nanti kujelasin! Kita harus lakuin sesuatu buat ngatasin yang gede itu sekarang!"
"Lakukan sesuatu? Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memancingnya jauh ke tempat lain dan berharap bisa lolos dari jangkauannya."
"Itu nggak bakal mempan. Nggak ada cara buat mutusin aggro-nya (target serangannya). Dia udah ngejar kami sampai ke sini sejauh hampir dua puluh mil."
"Dua puluh mil...?!"
Itu benar-benar tak masuk akal. Kalau kau menempuh jarak dari Ruis na Ríg ke Reruntuhan Stiss di bawah kejaran musuh terus-menerus, kau mau tak mau harus berasumsi bahwa melarikan diri darinya adalah hal yang sepenuhnya mustahil.
"Nggak bisakah kau melempar beberapa bom asap itu lagi, Argo?!" tanya Asuna, tetapi wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Itu yang terakhir. Lagian, bom itu mungkin cuma bisa ngehentiin dia sementara, tapi dia bakal langsung lanjut ngejar setelahnya. Medan apa pun nggak ngaruh buat dia, jadi dia bakal tetep nyusul kalian di mana pun itu."
"Maksudku, dia ngancurin batu-batu segede gaban itu dengan gampang...," tukas Klein.
Untuk kali ini, Argo benar-benar terlihat menyesali sesuatu. "Aku bener-bener minta maaf. Aku nggak niat lari sedeket ini ke markas kalian, tapi begitu kami masuk ke hutan, nggak ada tempat buat kabur lagi selain ngarai..."
"Hei, ini jauh lebih baik ketimbang kau mati di tempat lain tanpa kami ketahui," balasku, berpikir keras.
"Ayo kita kalahkan dia," umumku.
"Sekilas saja sudah jelas kalau ini adalah bos yang gila, tapi semua orang ada di sini. Kalau kita bertindak hati-hati dan memperhatikan pola serangannya selagi kita menyerang, seharusnya kita bisa mengalahkannya tanpa kehilangan satu orang pun." 
"Tepat sekali," sahut Alice dengan lantang. Rambut emas kebanggaan sang kesatria itu dipenuhi rintik hujan, pedang bastard-nya terarah pada sosok raksasa yang berjarak seratus yard di depan sana.
"Kita tak bisa terus melarikan diri dari setiap ancaman yang ada. Tak peduli seberapa kuat musuhnya, ada saat-saat di mana kita harus bertarung. Terutama ketika itu berarti melindungi sesuatu yang berharga."
Yang lainnya di sisinya mengangguk setuju. Bahkan Kuro, Aga, Misha, dan Pina pun mengeluarkan suara singkat yang menandakan persetujuan mereka.
Kelabang berwajah manusia, yang masih terselubung asap kuning, kembali bergerak ke arah kami. Aku menangkap pergerakan itu dari sudut mataku dan bertanya pada Argo, "Kita bisa bahas detail kecilnya nanti. Kurasa para serangga ini adalah teman?" 
"Yap. Mereka itu pemain dari game The Seed asal Amerika, Insectsite."
"Insectsite..." 
Jadi mereka tidak diubah menjadi serangga melalui sihir—itu memang wujud asli mereka. Sesuatu tentang VRMMO di mana kau bisa bermain sebagai serangga terdengar familier, kalau dipikir-pikir lagi.
Tapi aku sama sekali tak menduga kalau wujud mereka bakal terlihat sangat... realistis. Hampir semuanya berjalan tegak dengan dua atau empat kaki, tetapi kemiripan mereka dengan manusia hanya sampai di situ saja. Bagaimana dengan mereka yang berkaki enam—atau laba-laba, dengan delapan kaki? Bagaimana cara mereka mengendalikan semua anggota badan itu? 
Tapi aku bisa memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini nanti. Saat ini, aku harus fokus pada tantangan terbesar yang pernah ada semenjak aku dipaksa masuk ke game ini.
"Apa saja pola serangannya, Argo?"
"Sejauh ini semuanya serangan fisik. Dia mengayunkan kail lengannya dan tombak ekornya, melakukan terjangan tubuh, dan menggigit pakai mulut di perutnya."
"Jadi asumsiku serangan utamanya adalah sabit itu," gumamku. 
Tiba-tiba saja, pusat pikiranku kembali mati rasa. Namun tak ada waktu untuk menggali ingatan-ingatanku.
"Aku, Alice, dan Liz akan memancing perhatiannya dan menghentikan serangan sabitnya. Sisanya, serang dari arah samping. Kalau kita bisa memutus kaki-kakinya satu per satu, pada akhirnya makhluk itu pasti akan lumpuh." 
"Dimengerti!" seru mereka dengan penuh semangat. Aku menoleh pada Agil, satu-satunya orang yang tampak kurang antusias, dan berkata, "Aku butuh kau untuk jadi tank buat kami kalau levelmu sudah lebih tinggi nanti. Dan bisakah kau menerjemahkan rencananya untuk para serangga... maksudku, para pemain dari Insectsite itu?"
"Beres," ujar Agil, menyampaikan instruksi tersebut dalam bahasa Inggris bertempo cepat kepada para prajurit serangga. Aku dulu pernah punya impian untuk kuliah di Amerika, jadi bukannya aku sama sekali tak punya kemampuan bahasa itu, tetapi hal terakhir yang kami butuhkan saat ini adalah miskomunikasi.
Begitu Agil selesai, kumbang rusa dan kumbang badak yang paling besar melangkah maju dan berbicara.
"Kami juga bakal bertarung di garis depan!"
"Kulit kami bakal jauh lebih keras daripada zirah kalian!"
Tentu saja aku tak bisa menolak argumen semacam itu.
"Aku mengandalkan kalian!" ujarku pada mereka dalam bahasa Inggris, dan keduanya mengangkat capit mereka dalam gestur yang harus kuasumsikan sebagai acungan jempol ala serangga.
Sekali lagi, tanah berguncang hebat; sang kelabang berwajah manusia telah melanjutkan terjangannya. Jika kami hendak bertarung melawan sesuatu yang sebesar itu, ruang terbuka jelas akan jauh lebih baik ketimbang jurang yang sempit. Medan tempur kami adalah ruang terbuka berbentuk persegi dengan sisi sepanjang seratus yard, membentang dari jalan keluar ngarai hingga ke batas awal hutan.
"Hyme, bergabunglah dengan raid (penyerbuan) kami!" seruku dalam bahasa Inggris pada sang belalang sentadu anggrek, istri Agil, dan mengiriminya sebuah undangan. Belalang sentadu itu menggunakan jari-jari di pangkal sabit kanannya untuk menekan tombol OK pada jendela yang muncul.
Dua puluh keping bar HP tambahan muncul berjejer di sudut kiri pandanganku. Mereka semua telah menerima damage (luka), tetapi tak satu pun dari mereka yang HP-nya melorot di bawah separuh, dan mereka masih memiliki sisa TP serta SP. Fakta bahwa mereka telah berlari sejauh hampir dua puluh mil dan hanya menderita keausan fisik sekecil ini bisa dibilang merupakan tanda kelihaian atau keberuntungan belaka—kemungkinan besar kombinasi keduanya.
"Apa kalian punya metode pemulihan?"
"Pasti punya, dong!"
Hyme sang belalang sentadu berseru pada kawan-kawannya, dan sesosok serangga bersayap cokelat pun melangkah maju. Bentuk keseluruhan mereka menyerupai tonggeret (cicada), tetapi bagian kepalanya memiliki antena peraba (feeler) dengan bentuk yang ganjil. Antena itu bercabang menjadi empat bagian, masing-masing berujung pada sebuah bola besar yang membuatnya terlihat seperti antena satelit. 
Tonggeret bertanduk itu berseru, "Ayo kumpul, guys!" dan para serangga dengan sigap bergegas mendekat lalu merapat. Bola-bola di ujung antena peraba mereka menyemprotkan pancuran cairan putih bercahaya yang mengguyur serangga-serangga lainnya.
HP kedua puluh serangga itu terpulihkan dengan cepat. Itu adalah kekuatan yang sangat membantu, tetapi sepertinya takkan bisa digunakan berturut-turut dalam waktu singkat. Sementara itu, kami masing-masing memiliki dua atau tiga "ramuan"—kendi-kendi tembikar berisi teh regenerasi lambat hasil ciptaan Asuna—dan benda-benda itu tak bisa terus diandalkan untuk menyelamatkan kami dari setiap situasi genting. Kami harus fokus pada pertahanan terlebih dahulu dan memahami sepenuhnya pola serangan musuh.
"Dia datang!" seruku (kali ini dalam bahasa Jepang) tatkala kelabang berwajah manusia itu menerjang keluar dari ngarai dan memasuki padang terbuka.
Dari jarak dekat, ukurannya sungguh luar biasa masif. Kepalanya saja sepanjang lima belas kaki, dan bilah sabit raksasa di setiap lengannya mencapai sepuluh kaki, sedangkan bagian kelabangnya membentang sepanjang lebih dari enam puluh atau tujuh puluh kaki. Bahkan para Dewa Menyimpang (Deviant Gods) di Jotunheim ALO pun tak punya apa pun yang sanggup menandingi skala daya hancur ini.
Namun seperti yang telah kuutarakan pada Agil sebelumnya, ukuran dan penampilan tidaklah terikat pada kekuatan dalam sebuah VRMMO. Game-game dalam engine The Seed umumnya memiliki kecenderungan di mana kekuatan (strength) meningkat lebih cepat bagi avatar yang berukuran lebih besar, dan kelincahan (agility) yang lebih tinggi bagi avatar yang lebih kecil, tetapi seandainya Silica, anggota terkecil di kelompok kami, berada di level 100, ia mungkin saja sanggup mengalahkan kelabang raksasa berwajah manusia itu dalam adu dorong.
Tentu saja, kelompok kami rata-rata baru mencapai sekitar level 13 atau level 14. Meski begitu, jika kami bisa mengeksekusi permainan kooperatif yang sempurna, kami pasti sanggup bertahan menghadapi iblis mengerikan yang luar biasa besar ini—setidaknya itulah yang kuyakini.
"Jyashuaaaa!" raung sang raksasa, mengangakan rahangnya ke empat arah. Seolah satu hal memicu hal lainnya, sambaran kilat menghujani kanopi hitam di atas sana, menerangi sosok makhluk masif tersebut.
"Kuro, kau serang dari samping atas aba-aba Asuna," perintahku pada si macan kumbang seraya mengusap kepalanya yang bulat. Predator itu menggeram dengan nada sedikit memprotes, lalu bergerak untuk menanti di sebelah Aga. Aku mencengkeram erat gagang pedangku sebagai persiapan, bertukar pandang sekilas dengan Asuna. 
"Maju!!" teriakku, menolakkan kaki. Bersama Alice dan Lisbeth, rekan-rekanku di garis depan, serta rekrutan baru kami si kumbang badak dan kumbang rusa, kami menyebar seraya berlari.
Rerumputan di pijakan kami lumayan tebal, tetapi guyuran hujan telah menundukkannya, jadi rerumputan itu tidak sampai menjegal langkah kami seperti yang kutakutkan. Sosok monster itu kian menjulang mendekat, tingginya mencapai lebih dari dua puluh kaki dari permukaan tanah.
"Jyaaa!" Kelabang berwajah manusia itu perlahan menarik mundur sabit kanannya. Bila gerakannya sebesar ini, bakal sangat mudah untuk memperhitungkan timing-nya (waktunya). "Dia menyerang dari kanan! Bersiap untuk menangkis!"
Kami semua memantapkan kuda-kuda, Alice dan aku dengan pedang kami, Lisbeth dengan gadanya, si kumbang badak dengan tanduknya, dan si kumbang rusa dengan rahangnya.
Sabit sepanjang sepuluh kaki itu mulai berayun ke depan diiringi deru angin kencang. Rerumputan di sepanjang permukaan tanah tercabut paksa dan beterbangan ke udara, meski sama sekali tak tersentuh oleh bilah sabit tersebut.
Nggak masalah! Kita pasti bisa menahannya!! sugestiku pada diriku sendiri, nyaris menyerupai sebuah doa, seraya aku mencengkeram erat gagang pedangku. Aku menempelkan sisi datar pedangku ke lengan kiriku guna memperkokoh postur bertahan.
Sabit yang berkilat itu kini berada tepat di hadapanku. Aku mencondongkan tubuh ke depan, bersiap menahan benturan. Alice, Liz, si Badak, dan si Rusa melakukan hal yang sama. Sabit itu beradu dengan pedangku.
Sesaat, aku mengira avatarku telah meledak. Bukannya aku pernah mengalaminya sendiri, tapi hal itu membuatku bertanya-tanya apakah mengendarai sepedaku dengan kecepatan penuh dan menabrak truk gandeng secara frontal bakal terasa seperti ini. Benturan tersebut membuatku merasa seolah tubuhku hancur berkeping-keping. Dunia berputar liar. 
Selama setengah detik, aku bahkan tak menyadari kalau sabit itu telah menyapu bersih pijakanku dan melempar tubuhku melayang ke udara.
"Kirito!" seru sebuah suara, tepat sebelum aku menghantam seseorang. Secara naluriah, aku tahu bahwa Asuna-lah yang telah menangkapku. 
"...!"
Aku mendengar napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mencoba menstabilkan pijakannya, tetapi momentum tubuhku merobohkannya jatuh menabrak rerumputan basah bersamaku.
Di sudut kiri atasku, HP-ku melorot turun dengan laju yang mengerikan. Saat awal HP-ku penuh, tetapi kini telah menyentuh angka 70, 60, 50, sebelum pada akhirnya berhenti tepat sebelum menyentuh angka 40 persen.
"Nggak mungkin..."
Aku sama sekali tak percaya bahwa aku kehilangan hampir dua pertiga health (darah)-ku hanya dengan satu kali serangan padahal aku sudah berusaha menangkisnya. Entah bagaimana ceritanya, pedangku berhasil selamat dari benturan tersebut, tetapi pelindung dada dan sarung tangan kiriku retak dengan parahnya.
Di dekatku, Alice dan Liz terkapar di atas rerumputan, sedangkan si Badak dan si Rusa jatuh telentang. Semuanya menerima jumlah damage yang nyaris serupa.
Aku memfokuskan pandanganku pada kelabang berwajah manusia di depan kami. Makhluk itu telah menyelesaikan ayunan sabitnya, sementara rahang sampingnya membuka dan menutup seolah tengah mengejek kami.
Lantaran telah menerima damage, aku berhasil memunculkan kursor berbentuk gelendong (spindle) di atas kepala monster tersebut. Indikator HP-nya memiliki tiga keping bar. Di bawahnya tertera namanya, yang tertulis dalam alfabet Inggris.
The Life Harvester.
Sesaat setelah melihat nama itu, aku akhirnya paham kenapa sosok kelabang berwajah manusia ini terasa begitu familier.
"Kirito... lihatlah...," ujar Asuna, suaranya berupa bisikan yang gemetar. Ia juga telah mengingatnya, sama sepertiku.
Monster kelabang yang dikenal sebagai The Life Harvester ini adalah bos yang sama persis dengan yang telah menyapu bersih separuh dari pemain-pemain terbaik SAO di lantai ketujuh puluh lima Aincrad: sang Skullreaper.
Satu-satunya pembeda hanyalah bahwa sosok yang ini terbalut oleh daging dan karapas (cangkang pelindung), alih-alih berwujud tulang belulang yang terekspos. Namun bentuknya, pola serangannya... bahkan daya hancur ofensifnya yang luar biasa, semuanya benar-benar identik.
Tapi kenapa? Apa yang dilakukan bos lantai dari SAO di Unital Ring? Pikiranku mendadak kosong. Aku tak sanggup bergerak sedikit pun. Di kejauhan, kedua bilah sabit iblis yang aneh bin ajaib itu terangkat tinggi ke udara. Petir ungu berderak membelah awan badai, membingkai siluetnya yang ganas dengan warna hitam pekat berlatarkan cahaya terang.

Komentar (0)

Memuat komentar...