Sword Art Online 024: Unital Ring III

Bagian 2

Estimasi waktu baca: 21 menit

Aku menyelesaikan belanjaku di Ikebukuro, lalu naik kereta ekspres Jalur Tobu-Tojo selama tiga puluh dua menit. Jalanan di bundaran pintu masuk barat di Stasiun Kawagoe masih kering. Menurut aplikasi cuaca, aku punya sekitar sepuluh menit sebelum hujan mulai turun. Terburu-buru, aku berlari ke tempat parkir sepeda umum dan mengeluarkan sepedaku.
Rute tercepat dari stasiun ke rumahku adalah melewati area kota tua Little Edo (Edo Kecil). Selalu ada kemacetan di sana, tetapi setelah perluasan jalan lima atau enam tahun yang lalu, mereka menambahkan jalur sepeda yang memudahkan akses bagi pesepeda sepertiku.
Aku mengayuh sekuat tenaga, merasakan awan hujan yang mengancam dari arah selatan, dan berbelok ke kanan begitu aku melewati Little Edo. Sesaat setelah aku tiba di rumahku di dekat kuil besar, rintik-rintik air yang besar mulai berjatuhan. Aku memarkir sepeda gunungku di bawah atap dan menggunakan tas kedap airku untuk menepis hujan seraya melompat masuk melalui pintu depan.
Aku bahkan belum sempat mengumumkan kedatanganku sebelum Suguha, yang sudah menunggu di atas anak tangga teras dengan tracksuit-nya, berseru, "Selamat datang, Kakak! Ngomong-ngomong, kau terlambat!"
"Mau bagaimana lagi. Waktu perjalananku dua kali lipat lebih lama darimu...," aku baru saja mulai bicara sebelum tiba-tiba merasakan déjà vu.
"Tunggu... bukankah kita sudah membicarakan hal ini kemarin?"
"Memang," Suguha mengiyakan, mengonfirmasi kecurigaanku.
Aku tidak sedang terjebak dalam putaran waktu harian, kan? tanyaku dalam hati saat ia menyodorkan handuk yang sama seperti sehari sebelumnya. Aku menerimanya dengan penuh rasa syukur, menyeka keringat dan rintik hujan di kulitku.
"Jadi, eh, kurasa kau butuh aku untuk langsung dive secepatnya lagi hari ini...?"
"Pastinya! Kami tidak bisa memutuskan apa yang harus dilakukan dengan Kota Kirito kalau kau tidak ada."
"Tunggu dulu... sejak kapan itu jadi namanya?!"
"Semua orang menyebutnya begitu sekarang. Ayo, cepat ke kamarmu... Hei, kau beli apa? Jajanan mewah?" tanyanya, menyadari tas belanja berlogo department store di tanganku. Tas itu memang terlihat seperti berisi makanan manis yang mahal, tetapi sayangnya isinya adalah sesuatu yang lain.
"Bukan, um, ini, eh...," gumamku, yang mana sudah cukup bagi Suguha untuk menebaknya.
"Ohhh, oke, aku paham. Tunggu... kau membelinya hari ini?! Itu terlalu mepet, Tuan!!"
"Itu cuma bukti betapa lamanya waktu yang kuhabiskan untuk memikirkannya... Ngomong-ngomong, kau juga mau masuk, kan? Lakukan dive dari kamarmu sendiri kali ini."
"Baiklah, baiklah. Ada onigiri di dapur," ujarnya sembari menyeringai, lalu berlari kecil menaiki tangga. Aku menuju ke dapur, membuat catatan di benakku untuk membeli hadiah ulang tahun Suguha lebih awal pada tahun depan.

Sesampainya di kamar, aku berganti dengan pakaian yang lebih nyaman, menyantap onigiri isi salmon dan telur ikan kod buatan Suguha, lalu menuntaskan urusan kamar mandiku sebelum akhirnya merebahkan diri di ranjang dan mengenakan AmuSphere-ku.
Tiga hari telah berlalu semenjak insiden UR bermula, tetapi teka-teki yang menyelimutinya justru semakin dalam, alih-alih menemui titik terang. Berbagai opini berseliweran dengan cepat dan liar di media sosial maupun forum daring, tetapi tak satu pun dari pendapat itu yang keluar dari ranah spekulasi belaka, begitulah yang diceritakan Argo padaku dalam perjalanan menuju Ginza tadi.
Satu-satunya hal yang kami ketahui secara pasti adalah belum ada satu pun pemain yang berhasil mencapai "tanah yang disingkap oleh cahaya surgawi." Tentu saja kami juga ingin mencapai tempat itu, tetapi peluang kami untuk menjadi yang pertama terbilang sangatlah kecil.
Sebagian besar anggota kelompok kami terdiri dari pelajar dan orang dewasa pekerja yang tak bisa terus-terusan log in dari pagi hingga malam setiap harinya. Kami memang masih memiliki keuntungan berupa jatuhnya seluruh rumah kami di titik sejauh lima belas mil melewati Reruntuhan Stiss, yang merupakan titik awal resmi bagi seluruh pemain konversi ALO.
Itu berarti seharusnya posisi kami berada lebih jauh di depan ketimbang pemain ALO mana pun, tetapi dalam waktu seminggu, kami pasti akan disalip oleh para gamer hardcore yang sanggup melakukan dive seharian penuh. Kami saja sudah diserang oleh para PKer selama dua malam berturut-turut. Andai saja mereka memiliki perlengkapan dan level yang setara dengan kami, kami pasti sudah rata dengan tanah.
Kendati demikian, bukan berarti kami lantas bisa memilih opsi untuk membolos sekolah. Aku hanya perlu menunaikan kewajiban sekolahku dengan sepantasnya dan bermain sebaik mungkin di sisa waktu yang ada. Aku meredupkan lampu kamar, memejamkan mata, dan menyerukan, "Link Start."
Pendaran cahaya pelangi yang menyusul kemudian menghapus gravitasi yang menahanku di ranjang dan mengirim kesadaranku mengangkasa menuju dunia virtual. Saat sensasi gravitasi itu kembali, aku membuka mata. Aku melihat langit-langit pondok kayu yang tak asing lagi... dan menghela napas lega.
Selama berada di sekolah tadi, aku sempat cemas akan kemungkinan datangnya serangan ketiga, tetapi rumahku rupanya masih aman untuk saat ini. Tentu saja, aku memiliki sarana untuk menerima komunikasi dari Alice atau Yui pada siang hari, jadi seandainya ada serangan, mereka pasti akan memberitahuku, dan aku bakal langsung melesat keluar dari ruang kelas menuju UKS agar bisa melakukan full-dive dengan Augma. Walaupun jelas, aku sangat ingin menghindari hal semacam itu sebisa mungkin.
Aku bangkit duduk, membuat zirah logamku yang kini terasa familier itu bergemerincing seraya aku menyapu pandangan ke sekeliling ruang tengah pondok. Saat aku log out pagi ini, pondok ini disesaki oleh seluruh teman yang telah berkumpul bersama kami, tetapi sekarang ruangan ini kosong melompong, padahal Leafa baru saja melakukan dive beberapa menit sebelumku.
"...Hei, Sugu... maksudku, Leafa, kau di sini?" panggilku, melangkah menuju pintu depan dan membuka daun pintu dari kayu tebal tersebut.
Di luar terhampar halaman melingkar kami, yang dikelilingi oleh dinding batu tinggi dan berdiameter enam puluh yard, dengan luas area sekitar 1.950 kaki persegi. Sejumlah stasiun produksi berukuran besar ditempatkan di sepanjang dinding. Bagian dalam area ini rupanya juga kosong.
Bukan cuma Yui dan Alice yang tidak ada di sini, tetapi bahkan trio penjaga kami pun tak menampakkan batang hidungnya: Aga, kadal agamid raksasa berparuh panjang; Kuro, si macan kumbang lapispine; dan Misha, sang beruang gua berduri. Aku mulai merasa cemas. Sekali lagi, aku berseru, "Halo...? Ada orang...?"
Namun suaraku hanya lenyap tertelan senja yang memerah. Semua orang telah memastikan untuk mendaftarkan satu sama lain ke dalam daftar teman sebelum log out pagi ini, jadi seandainya aku membuka ring menu, aku bisa mengirimkan pesan kepada siapa pun dari mereka, tetapi kengerian dari situasi ini memicu ketakutan lama di benakku bahwa jangan-jangan aku akan mendapati daftar temanku ikut kosong juga, sehingga aku enggan mengangkat tanganku untuk membukanya.
Aku menuruni anak tangga teras dan menjejak tanah, berjalan memotong secara diagonal melintasi halaman menuju gerbang selatan. Selama invasi semalam, Asuna, Alice, dan Silica telah bertarung mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan gerbang kayu ini. Dengan hati-hati kudorong gerbang itu hingga terbuka.
Kemarin, masih ada hutan lebat di sekeliling pondok, tetapi pemandangannya telah berubah drastis. Setelah para penyerbu membakar pepohonan, kelompok kami memanfaatkan sisa-sisa kehancuran tersebut dan menggunakan kayunya untuk mendirikan sejumlah rumah.
Diameter dari area yang Suguha sebut sebagai Kota Kirito—yang rasanya mustahil untuk diganti namanya sekarang—kini terbentang sejauh dua ratus kaki. Area ini terbagi menjadi kuadran utara, selatan, timur, dan barat oleh jalanan bersilang berbentuk X. Area selatan tepat di depanku ini rencananya akan dijadikan distrik bisnis, tetapi karena belum ada satu pun toko yang buka, tempat ini terasa layaknya sebuah kota hantu.
Jalanan yang mengitari dinding melingkar pondok kayu, yang kami namai Jalan Lingkar Dalam (Inner Perimeter Road), bercabang menjadi Jalan Pukul Empat dan Jalan Pukul Delapan, yang masing-masing mengarah ke tenggara dan barat daya. Namun tak ada seorang pun yang terlihat di kedua arah tersebut.
Aku meraup napas dalam-dalam ke paru-paru virtualku, berniat memanggil nama seseorang sekeras yang kubisa kali ini—namun kuurungkan dan menahan napasku saat telingaku menangkap sesuatu yang terdengar lamat-lamat seperti suara tawa seorang anak kecil.
Sensasi tak menyenangkan merayap turun di tulang punggungku. Mustahil ada anak-anak di tempat ini. Kalau begitu, apakah itu... hantu? Apakah kekosongan kota kami memancing masuknya monster tipe hantu?
Aku mengembuskan napasku perlahan, memasang telinga. Kali ini, aku benar-benar mendengar suara tawa bernada tinggi tersebut. Ini bukan sekadar halusinasiku. Suara itu berasal dari arah timur.
Aku memanggil ring menu-ku dan mengenakan longsword besi kualitas unggulku, lalu melangkah ke timur menyusuri sisi dinding batu yang memagari pondok kayu. Sebuah bangunan kayu berukuran besar tak lama kemudian tampak di sebelah kanan.
Area timur adalah kawasan permukiman bagi kaum Patter, para NPC manusia tikus yang dibawa Sinon tadi malam. Area berbentuk kipas itu memiliki sebuah balai pertemuan besar di bagian ujungnya, yang mana sedang kutatap saat ini. Bagian tengah area tersebut adalah lahan kosong untuk menanam hasil panen, sementara pinggiran luarnya berjajar rumah-rumah mungil nan ringkas.
Terdengar lagi sebuah pekikan riang. Bukan dari arah balai pertemuan... melainkan lahan kosong di seberangnya. Membayangkan skenario horor berupa hantu penyerbu yang menyapu bersih kedua puluh kaum Patter, aku mengendap-endap menyusuri Jalan Pukul Empat. Jalanan itu belum diaspal, jadi sepatu bot berlapis besiku tidak menimbulkan banyak suara. Aku terus maju merayap di sepanjang dinding balai pertemuan, lalu mengintip dari sisi bangunan.
Dan suara yang keluar dari mulutku adalah, "Weh?"
Lahan kosong di bagian tengah, yang terbagi-bagi layaknya lapisan kue, tadinya masih berupa tanah gundul baru tadi pagi. Namun sekarang, separuh bagian utaranya telah digarap menjadi bedengan-bedengan, tempat kaum Patter merawat sesuatu yang tampak seperti tanaman jagung.
Separuh bagian selatan, yang masih kosong, menampilkan Leafa, Silica, Alice, Asuna, dan Yui, semuanya berdiri berjajar, mengawasi sang penjaga besar berkaki empat: Misha, si beruang gua berduri. Namun sebenarnya, bukan beruang itu yang tengah mereka tatap dan senyumi, melainkan lima anak Patter muda yang duduk berjajar mengangkangi punggung Misha.
Dibandingkan dengan kaum dewasanya, anak-anak Patter ini memiliki moncong yang lebih pendek dan telinga yang lebih kecil. Mereka memekik kegirangan setiap kali beruang itu melangkahkan kakinya yang berat. Ukuran mereka tak lebih besar dari bayi manusia, jadi kalau Misha yang bertubuh sepanjang sepuluh kaki itu mau melahap mereka dalam satu gigitan, ia pasti bisa... namun ada satu hal lain yang lebih mengkhawatirkan sekarang.
"...Hei, apa anak-anak itu...?" bisikku ke telinga Leafa, tetapi adik perempuanku itu malah menoleh dan berseru, "Oh, kau akhirnya sampai juga!" Hal itu membuat Asuna dan yang lainnya menyadariku dan menyapa.
Aku otomatis membalas sapaan mereka, "Hei," lalu mencoba melontarkan pertanyaanku lagi. "Apa tikus-tikus kecil... eh, Patter kecil itu datang dari suatu tempat? Rombongannya kan semuanya orang dewasa waktu kita meninggalkan dungeon di Sabana Giyoru itu, kan?"
Leafa, Silica, dan Asuna memalingkan wajah dengan canggung, jadi Alice berujar dengan nada kebingungan, "Tampaknya mereka lahir semalam."
"L-lahir?!" ulangku, menatap punggung Misha lagi. Kelima anak yang asyik bermain itu memang sekecil kacang di atas beruang raksasa tersebut, tetapi mereka tidak terlihat seperti bayi yang baru lahir.
"Apa ada salah satu kaum Patter yang sedang hamil...? Dan kalaupun iya, mereka kelihatan cukup besar untuk ukuran bayi berusia setengah hari."
Kali ini, Yui-lah yang menjelaskan. "Papa, aku sudah bersama kaum Patter sepanjang hari ini. Anak-anak itu muncul secara bersamaan sekitar jam sembilan pagi ini. Kaum Patter sepertinya sudah tahu kalau mereka akan muncul dan telah menyiapkan tempat tidur untuk mereka jauh sebelumnya. Saat mereka muncul, kelima-limanya kira-kira sebesar ini..." Ia merentangkan tangannya untuk menunjukkan ukuran sebesar buah melon.
"Mereka tadinya cuma anak-anak kecil, dan mereka telah tumbuh menjadi seperti yang Papa lihat sekarang dalam sembilan jam terakhir. Mereka bahkan sudah bisa bicara, walaupun cuma kata-kata satuan."
"Wahhh..."
Hanya itu yang bisa kuucapkan. Lima bayi lahir dalam semalam dan tumbuh sebesar ini dalam setengah hari. Kalau begini terus lajunya, kota ini bakal dipenuhi oleh kaum Patter dalam waktu seminggu.
Yui merasakan kekhawatiranku dan menjelaskan, "Berdasarkan ekstrapolasi dari kumpulan data terbatas milikku, NPC di dunia Unital Ring tampaknya bertambah dan berkurang jumlahnya berdasarkan ruang gerak dan lingkungan hidup mereka. Kapasitas rumah yang kalian bangun untuk kaum Patter lebih dari dua puluh, jadi mungkin bayi-bayi itu muncul untuk menyesuaikan jumlah yang diperkirakan akan tinggal di ruang sebesar ini."
"Ahhh... jadi begitu ya maksudnya," gumam Asuna.
"Aku kaget banget lihat anak-anak itu waktu aku log in—dan makin kaget lagi waktu Yui bilang mereka baru lahir pagi ini. Tapi secanggih apa pun dunia virtual Unital Ring, mereka nggak bakal memodelkan, kau tahu... siklus reproduksi serealistis itu secara mendetail." 
Tanpa ragu sedikit pun, Alice menimpali, "Underworld sejatinya bekerja dengan cara yang sama seperti dunia nyata."
Baik Asuna, Silica, maupun Leafa tak bisa membalas perkataan itu, membiarkanku yang harus menyentuh topik panas ibarat besi membara tersebut.
"Y-yah, Underworld itu pengecualian yang sangat spesial dari aturan mainnya..."
Namun kemudian aku teringat bahwa ada satu pengecualian penting lainnya: Sword Art Online.
Jika kau menggali sangat dalam ke menu pengaturan dan menonaktifkan pengaturan moral code, kau bisa melakukan Hal Itu. Kau memang tidak bisa punya bayi—sejauh yang kutahu.
Namun sejak awal, mengapa Kayaba Akihiko memasukkan sistem semacam itu ke dalam gimnya? The Seed Package tidak memuat fungsi tersebut, jadi aku berasumsi hal yang sama juga berlaku untuk Unital Ring. Kecuali...
"Mereka mungkin takkan menciptakan ulang semua prosesnya, tapi mengingat gim ini punya konsep pembangunan dunia yang begitu mendetail, kalau NPC bisa punya anak, mungkin pemain juga bisa," gumamku lebih kepada diriku sendiri dan nyaris tanpa berpikir.
"Tentu saja kau nggak bisa punya bayi!!" jerit Leafa, menepuk punggungku dengan tenaga penuh.
Rasanya tak sakit, tetapi aku tetap saja memekik "Aduh!"
Ilustrasi Leafa Memukul Punggung Kirito.
"U-untuk apa pukulan barusan?"
"Karena kau aneh, Kirito! Kalau pemain punya bayi, siapa yang bakal jadi bayinya?!"
"Y-yah... kupikir bakal mirip NPC, jadi sebentuk AI—" 
Namun aku tak sempat menyelesaikan kalimat itu. Rasa sakit yang tiba-tiba bagaikan percikan api perak melesat menembus pusat kepalaku, sontak membuatku jatuh terjerembap.
"Ah......"
Aku terhuyung dan limbung; Alice dengan sigap mencengkeram lengan kananku untuk menopangku. Leafa mencondongkan tubuh mendekat dan meneliti wajahku.
"A-ada apa, Kakak?"
"Nggak tahu... aku nggak apa-apa. Cuma agak sakit kepala."
Namun, nada suara Silica terdengar cemas. "Kirito, kau kurang tidur. Bukankah sebaiknya kau log off lebih awal malam ini?" Di atas kepalanya, naga mungil Pina bersenandung, "Kyurrrr..."
"T-tidak, aku tidak apa-apa. Rasanya sudah normal sekarang," klaimku. Faktanya, rasa sakit itu hanya berlangsung sesaat. Aku menggelengkan kepala sekeras yang kubisa—bukan berarti gerakan virtual punya efek apa pun pada otak asliku—dan tak merasakan apa-apa.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, bertanya-tanya apa yang baru saja merasukiku, dan bersirobok dengan mata Asuna. Ekspresinya tampak kosong. Sepasang mata cokelat hazelnya menatap ke arahku namun seolah menembus lurus melewatinya menuju kejauhan.
"...Asuna?" panggilku pelan.
Ia mengerjap dengan cepat, dan matanya kembali fokus.
"Oh... maafkan aku. Aku tadi melamun."
"Semuanya kurang tidur, ya? Mungkin malam ini, kita harus membiarkan teman-teman log out lebih awal kalau mereka membutuhkannya."
"Ide bagus. Itu berlaku untukmu juga lho, Kirito."
"Mengerti," balasku, kendati aku sama sekali tak punya niatan untuk tidur lebih awal. Instingku mengatakan bahwa malam ini, hari ketiga di dalam gim, akan menjadi penentu antara keselamatan kota kami atau kehancurannya—sekaligus hidup dan matinya kelompok kami.
Di tengah alun-alun, Misha terus berjalan memutar perlahan, sementara bayi-bayi manusia tikus itu memekik dan tertawa di punggungnya. Jika hanya butuh setengah hari bagi mereka untuk tumbuh dari bayi menjadi anak-anak, apakah mereka akan menjadi dewasa dalam beberapa hari lagi atau akankah mereka tetap berada dalam fase pertumbuhan ini untuk sementara waktu? Apa pun itu, kami harus melindungi kota ini agar anak-anak itu juga tetap hidup.
"Jadi... di mana Kuro dan Aga?" tanyaku, teringat pada dua hewan peliharaan kami yang lain. Silica melirik ke arah barat daya dan menjawab, "Liz dan Sinon membawa mereka untuk mengumpulkan batu dari tepi sungai. Sebenarnya kami mau mengirim Misha juga, tapi kami tak tega mengakhiri kesenangan anak-anak itu..."
"Ah, begitu ya." Di dunia Unital Ring, hewan peliharaan akan mematuhi perintah dari teman yang telah didaftarkan oleh pemiliknya, hingga batasan tertentu.
"Mungkin aku harus pergi membantu juga," gumamku. Asuna, Leafa, Alice, dan Yui serempak menyetujuinya. Kami meninggalkan Silica, si pemilik Misha, untuk bertanggung jawab atas situasi di sini, lalu melangkah menuju gerbang barat daya kota.
Namun baru saja kami berjalan beberapa yard ke arah barat menyusuri perimeter dalam, derap langkah lain terdengar mendekat. Lisbeth dan Sinon muncul dari Jalan Pukul Delapan, diikuti oleh Kuro dan Aga. Kedua hewan itu memanggul tas muatan di punggung mereka, yang kemungkinan besar dibuat oleh Asuna.
"Hei, teman-teman," sapaku.
Lisbeth membalas dengan seruan "Heiya!" yang riang, tetapi Sinon justru menunduk, tampak tenggelam dalam pikirannya. Aku menggaruk leher Kuro saat hewan itu mendekat dan bertanya pada sang penembak jitu, "Ada masalah, Sinon?"
"Hah...? Oh iya, cuma saja..."
Sinon menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangan ke arah kelompok kami.
"Aku sedang berpikir tentang betapa bagusnya kita punya sumber daya melimpah di sekitar Kota Kirito," ujarnya, "tapi kemungkinan besar siapa pun yang menyerang kita nanti akan menganggap hal itu berguna juga bagi mereka."
"Eh... apa maksudmu?"
"Begini contohnya. Kalau skill Carpentry mendaftar hal-hal seperti catapult dan battering ram di dalam menunya, maka kau bisa menggunakan batu-batu di sungai dan kayu dari hutan untuk membangun sebanyak yang kau mau, kan? Dan kau bahkan tidak perlu repot-repot sejauh itu. Mereka sudah bisa membangun pillbox untuk difungsikan sebagai markas penyerangan mereka..."
"Pillbox," ulangku, melirik yang lain.
Dalam pemahamanku yang awam, pillbox adalah struktur yang dilengkapi dengan beberapa persenjataan berat yang mampu menembak secara otomatis. Senapan musket yang dibawa Sinon sekarang takkan bisa melubangi dinding kota kami, dan kau bisa dengan mudah mendekatinya saat ia sedang mengisi ulang peluru. Kenapa harus khawatir?
"Oh!" seruku, akhirnya mengerti.
"Pemain GGO yang lain pasti bakal membawa masuk senapan mesin raksasa dan hal-hal semacam itu, ya?"
"Ya. Sama seperti Hecate milikku, aku yakin semua senjata itu terlalu berat untuk digunakan para pemain sekarang, tapi lambat laun mereka pasti akan sanggup. Kita harus bersiap dengan sebuah rencana sebelum hal itu terjadi."
"Hmmmm..."
Pada saat ini, sangat sulit untuk membayangkan skenario tersebut secara realistis. Ketapel dan pendobrak saja sudah cukup merepotkan, tetapi sungguh mustahil membayangkan serangkaian bungker batu dengan senapan mesin berat yang menyalak keluar dari dalamnya.
Namun itu adalah jenis pertempuran yang sudah sangat, sangat sering diikuti oleh Sinon di GGO, aku yakin itu. Mengingat kaum Patter kini telah pindah ke kota ini dan memiliki anak, kami tidak bisa begitu saja menelantarkan nasib mereka. Kami punya kewajiban untuk mengantisipasi segala kemungkinan skenario dan bersiap menghadapinya.
"...Baiklah. Aku yakin kalau kita menyatukan pikiran dan berpikir, kita akan menemukan cara untuk mencegah musuh menggunakan sumber daya di luar untuk melawan kita. Tapi hal pertama yang harus kita diskusikan hari ini adalah"—aku berhenti sejenak, mengedarkan pandangan ke setiap orang yang hadir—"apa yang harus kita lakukan dengan nama kota ini."
"Hah? Namanya kan Kota Kirito, iya kan?" sahut Sinon.
Asuna dan yang lainnya mulai mengangguk, jadi aku merentangkan lenganku dan memprotes, "Tidak, tidak, tidak! Kalau kalian menyebutnya begitu, itu cuma akan membuat kita lebih rentan untuk diserang!"
"Oh, kau cukup sadar diri rupanya kalau mereka mengincarmu?" komentar Lisbeth sinis. Aku tak bisa menjawab, dan tak lama kemudian Leafa dan Asuna mulai terkikik. Dengan wajah yang benar-benar datar, Alice berujar, "Sebenarnya apa saja sih yang kau perbuat di ALO dan dunia-dunia lain ini?"

English Text: Sadly, the spiral pines and other trees around here were two and a half feet at the largest, not nearly big enough to make a table that seated twelve. Terjemahan Bahasa Indonesia:
Sayangnya, pohon pinus spiral dan pepohonan lain di sekitar sini paling besar hanya berukuran dua setengah kaki, sama sekali tidak cukup besar untuk membuat meja yang bisa menampung dua belas orang.
Untungnya, oven tanam di dapur masih ada di sini, dan Lisbeth telah membuatkan kami sebuah panci dengan skill Blacksmithing-nya, jadi kami bisa merebus air. Asuna membawa keluar panci yang mengepul itu dan menaburkan bubuk hitam ke dalamnya.
"...Apa itu, Asuna?" tanya Lisbeth.
Asuna menjawab dengan bangga, "Waktu aku menunggu kalian semalam, aku memetik banyak daun di hutan, lalu mencoba menyangrainya di panci. Daun-daun itu berubah jadi bubuk, dan aku mendapatkan skill Pharmaceutical. Pokoknya, separuhnya kurebus dan kujadikan cairan, dan sisanya berubah jadi pewarna."
"Pewarna...," ulangku, lalu menyadari sesuatu. Saat aku berangkat ke Sabana Giyoru, rambut Asuna berwarna biru muda, persis seperti di Alfheim, tetapi sekarang warnanya kembali menjadi cokelat muda, sama seperti yang ia miliki di masa-masa Aincrad.
"...Kau mewarnai rambutmu sendiri?"
"Akhirnya kau sadar juga," ujarnya, jengkel.
"Berapa banyak pewarna lain yang kaubuat?" tanyaku menindaklanjuti.
"Ummm, ada cokelat yang lebih tua, merah pekat, dan abu-abu tua, seingatku."
"Hrmm..." Sejenak, aku mempertimbangkan untuk mewarnai rambutku, tetapi tak satu pun dari warna-warna itu terdengar cocok untukku.
Silica memainkan rambutnya sendiri, yang berwarna cokelat muda seperti milik Asuna.
"Kutebak warna-warna terang dan juga hitam murni kemungkinan adalah warna pewarna langka. Bakal sia-sia kalau kau mengubah warna rambutmu."
"Hrrrrrmmm...," gerutuku.
Sementara itu, Asuna menata cangkir tembikar buatan sendiri yang cukup untuk semua orang, lalu menyendok isi panci tersebut dengan sendok sayur kayu.
"Aku juga berhasil membuat beberapa jenis teh. Daun-daun inilah yang mendapat respons paling bagus."
"Itu cuma kalau dibandingkan dengan yang lain," komentar Alice, yang kemungkinan telah menjadi tester Asuna. Silica mengangguk setuju dengan penuh semangat.
Warna cairan di dalam cangkir-cangkir yang dibagikan Asuna adalah ungu kehitaman yang pekat. Aku mengendusnya; jika kau menyebutnya teh dan menyodorkannya padaku, aku akan menerima saja bahwa itu teh. Namun jika kau menyebutnya obat, aku mungkin akan setuju juga. Aroma kompleks semacam itulah yang menstimulasi hidungku. Bohong kalau kubilang aku tidak gugup, tetapi aku tak bisa bersikap kasar dan mengabaikan kerja keras Asuna.
Aku menyesapnya dengan ragu dan menemukan rasa yang mirip dengan teh barley yang dicampur ekstrak shiso merah. Ikon daun muncul di sebelah kanan batang HP-ku, mengindikasikan sebuah Buff.
"...Ini obat!" seruku, dan Alice serta Silica mengangguk dengan sangat setuju.
Aku penasaran dengan efek Buff-nya, tetapi rasanya tidak buruk, jadi aku bersandar dan menikmatinya, memberikan Asuna banyak ulasan dan apresiasi. Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul tujuh, dan Klein pun log in. Agil dijadwalkan akan muncul menjelang pukul sepuluh; dia mengelola kafe dan bar, jadi hal itu sudah bisa dimaklumi.
Begitu rapat dimulai, aku pertama-tama mengangkat topik tentang nama kota. Sayangnya, tak satu pun dari kami yang memiliki tingkat kreativitas cukup untuk menimpa nama sepopuler Kota Kirito, jadi hal itu pun menjadi pekerjaan rumah bagi kelompok kami.
Topik kami selanjutnya adalah rencana untuk menerima NPC lain setelah kaum Patter. Kandidat pertamanya adalah kaum Bashin, yang telah berteman dengan Silica, Lisbeth, dan Yui serta tinggal tak jauh dari sini.
Kandidat keduanya adalah kaum Ornith, manusia burung yang ditemui Sinon. Mereka akan sangat membantu di permukiman kami karena mereka memiliki musket, yang saat ini merupakan senjata jarak jauh paling kuat, tetapi permukiman mereka berada di seberang Sabana Giyoru yang luas.
Menurut Sinon, di seberang dinding raksasa itu (dan Goliath Rana pengguna sihir di dalamnya) terdapat dinosaurus besar nan kuat. Jadi menyeberangi sabana untuk membujuk kaum Ornith adalah upaya yang mempertaruhkan nyawa, dan tidak ada jaminan mereka akan tertarik untuk pindah.
Hal itu menyisakan kaum Bashin sebagai pilihan paling masuk akal untuk didekati terlebih dahulu. Lisbeth mencalonkan dirinya sendiri untuk melakukan negosiasi tersebut. Yui dan Asuna meminta untuk menemaninya, dan aku sebenarnya ingin ikut juga, tetapi sudah ada misi krusial lain yang menantiku.
Topik diskusi ketiga kami adalah kekhawatiran Sinon tentang melimpahnya sumber daya di sekitar sini yang bisa digunakan untuk melawan kami. Terlepas dari beragamnya pendapat yang dibagikan, kesimpulan kami hanyalah untuk tetap lebih waspada terhadap serangan ketimbang sebelumnya. Kami bisa saja memperluas dinding batu pertahanan kami dan memoles bagian dalamnya dalam upaya untuk tidak menyisakan satu pun batu atau kayu untuk dikumpulkan, tetapi peningkatan ukuran garis pertahanan berarti lonjakan astronomis dalam kekuatan yang dibutuhkan untuk mempertahankannya, dan memanen material-material tersebut akan menjadi sebuah pekerjaan besar.
Terlebih lagi, alasan pembangunan kota ini sedari awal adalah untuk membuat para pemain berpikir dua kali sebelum menyerang kami, jadi prioritas kami seharusnya adalah mengembangkannya menjadi kota sungguhan, ketimbang sekadar meningkatkan pertahanan fisik kami. Karena alasan itulah, kami membutuhkan rekan yang ahli dalam mengumpulkan informasi.
Seusai rapat, Silica, Misha, Sinon, Klein, dan Alice ditinggalkan untuk menjaga Kota Kirito, sementara aku bersiap berangkat bersama Kuro menuju Reruntuhan Stiss, tempatku dijadwalkan untuk bertemu dengan Argo.
Namun sebelum aku bisa melangkah keluar dari gerbang barat daya, Alice datang bergegas mengenakan jubah berkerudung yang menutupi zirah logamnya, seraya berujar, "Aku akan ikut denganmu, Kirito." Telinga kucing yang ia warisi dari avatar ALO-nya pas masuk ke dalam kantong telinga kecil yang dijahitkan pada kerudungnya, yang terlihat sangat menggemaskan.
"Hah...? Kau ikut juga? Kenapa?"
"Tentunya aku tak butuh alasan spesifik untuk ingin pergi dan berkelana," ujar Alice dengan sedikit raut cemberut. Ia bergumam, "Selain itu, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Berdasarkan raut serius di wajahnya, aku bisa membayangkan tentang apa pembicaraan itu. Dan aku jelas takkan bisa menolaknya untuk hal itu.
"...Baiklah," kataku.
"Tapi sebaiknya aku beritahu seseorang kalau kau ikut bersama kami..."
"Aku sudah bilang pada Klein dan Silica. Entah kenapa dia (Klein) malah tersenyum padaku."
"......"
Aku membuat catatan mental untuk mengiriminya pesan agar dia tidak salah paham soal hal itu.
"Baiklah kalau begitu, ayo pergi," ujarku.
"Tapi kita harus bergegas."
"Itu bukan masalah," tegas Alice, dan Kuro menggeram setuju. Dua pemain dan seekor macan kumbang membuka celah pada gerbang kayu yang berat itu dan melangkah meninggalkan kota, berlari ke arah selatan menyusuri jalan setapak menuju sungai.

Komentar (0)

Memuat komentar...