Sword Art Online 024: Unital Ring III
Bagian 3
Estimasi waktu baca: 22 menitPer pukul tujuh malam pada tanggal 29 September, data karakter umum milikku dan rekan-rekan tepercayaku adalah sebagai berikut:KIRITO
1H Swords / Blacksmithing / Carpentry / Woodworking / Stoneworking / Beast-Taming, Level-16 (Brawn)SINON
Guns / Thief / Stoneworking, Level-16 (Swiftness)ALICE
Bastard Swords / Pottery / Weaving / Tailoring, Level-15 (Brawn)LEAFA
Bastard Swords / Woodworking / Pottery, Level-12 (Brawn)LISBETH
Maces / Blacksmithing / Carpentry / Weaving, Level-11 (Toughness)SILICA
Short Swords / Beast-Taming / Weaving, Level-10 (Swiftness)YUI
Daggers / Fire Magic / Cooking / Weaving, Level-10 (Sagacity)ASUNA
Rapiers / Herbalist / Cooking / Woodworking / Pottery / Weaving / Tailoring / Beast-Taming, Level-9 (Sagacity)KLEIN
Curved Swords / Woodworking / Stoneworking, Level-8 (Brawn)AGIL
Axes / Woodworking / Stoneworking, Level-8 (Toughness)MISHA
Thornspike cave bear, Level-6AGA
Long-billed giant agamid, Level-5KURO
Lapispine dark panther, Level-5PINA
Feathery Dragon, Level-2Level Klein dan Agil tergolong rendah lantaran mereka baru melakukan konversi kemarin. Asuna memang sudah log in saat Unital Ring bermula, tetapi levelnya berada di kisaran bawah karena ia lebih sering bertugas menjaga markas, pikirku.Di sisi lain, ia juga telah memperoleh skill paling banyak. Namun jika berbicara soal RPG bertahan hidup survival RPG, urat nadi yang paling utama adalah nyawa itu sendiri: HP.Sinon dan aku memiliki level tertinggi karena kami telah menumbangkan monster bos. Aku telah menghabisi beruang gua berduri yang spawn sebelum Misha serta mengalahkan Goliath Rana, sementara Sinon telah menaklukkan sterocephalus.Lain waktu, aku harus mengajak Asuna dalam perburuan besar, agar ia bisa mendongkrak levelnya. Kendati demikian, kesatria bertelinga kucing di sisiku ini nyatanya juga melakukan tugas pertahanan markas sama seringnya dengan Asuna.Aku menutup daftar temanku, yang sedari tadi kuperhatikan saksama seraya kami berlari menyusuri sungai, lalu bertanya pada rekanku, "Alice, kapan kau berhasil menaikkan levelmu setinggi itu?""Sepanjang siang kemarin dan hari ini, tentu saja. Lagipula, aku kan tidak pergi bersekolah."Terdengar sekelumit nada merajuk dalam jawabannya, dan aku merasa bersalah karenanya. Alice telah mengajukan petisi pada Rath agar mengizinkannya bersekolah di returnee school, tetapi mudah ditebak bahwa mereka takkan membiarkannya melakukan hal semacam itu.Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa agar mereka setidaknya mengizinkan Alice berkunjung ke sekolah sebelum Asuna lulus pada bulan Maret tahun depan."Apakah ada monster yang bagus untuk menaikkan level di sekitar rumah... eh, kota? Semua monster yang kutemui cuma makhluk-makhluk kecil nan lincah seperti rubah dan kelelawar...""Di dalam hutan, ya. Tapi mau kecil dan lincah atau tidak, kau seharusnya tahu betul kalau aku tidak suka dengan gagasan membunuh sejumlah besar hewan demi mendapatkan experience.""Oh... benar, benar. Jadi apa yang kaulakukan?"Alice melirik sungai gelap di sebelah kanan kami dan bergumam, "Aku tidak yakin apa mereka muncul di dekat bagian sungai ini... tapi tepat di sebelah barat kota, ada jurang yang sangat dalam, dan di dalamnya terdapat monster yang disebut four-eyed giant flatworm.""Bermata empat...? Monster macam apa itu?""Kurang lebih wujudnya seperti lintah raksasa, dengan lebar sekitar lima belas cen dan panjang lebih dari dua mel," ujar Alice seraya merentangkan kedua tangannya untuk mempraktekkannya.Ia sudah mulai terbiasa dengan ukuran dunia nyata akhir-akhir ini, tetapi saat kami sedang berdua, ia sering kali kembali menggunakan satuan cen dan mel khas Underworld. Ia mungkin bahkan tidak menyadari kalau ia sedang melakukannya."Seluruh tubuh mereka berwarna abu-abu tembus pandang, yang mana membuat mereka sulit dilihat kecuali pada tengah hari, saat sinar matahari menerpa sungai tepat di dasar jurang. Sesuai namanya, mereka memiliki empat mata, dan kau harus menebas tepat di bagian tengah mata mereka untuk mengalahkan mereka.Jika kau membelah bagian tengah tubuhnya, potongan kedua itu akan menumbuhkan kepalanya sendiri, lalu memanjangkan tubuhnya sehingga kau harus berhadapan dengan dua ekor cacing dewasa seutuhnya.""Ugh, kedengarannya seperti planaria..."Aku meringis. Lalu aku teringat pada pelajaran biologi semasa SMP bahwa planaria, cacing martil, dan sejenisnya itu pada dasarnya adalah jenis-jenis cacing pipih yang berbeda."Tentu saja, cacing pipih raksasa bermata empat juga makhluk hidup, tapi aku merasa secara mental jauh lebih mudah untuk membasmi mereka ketimbang rubah maupun kelinci. Kurasa ini yang namanya... Apa sebutannya bagi manusia...?""Ego?""Ya. Kata itu adalah salah satu kata suci dunia nyata kalian yang aneh... eh, bahasa Inggris ya kalian menyebutnya? Rasanya sulit sekali untuk mempelajari semuanya," keluh Alice.Di sisinya yang lain, berlari melompat-lompat di atas pasir, Kuro menggeram seolah ingin unjuk gigi. Aku yakin ia bukannya sedang memprotes fakta bahwa aku sering kali memberinya perintah menyerang baik dalam bahasa Jepang maupun bahasa Inggris... mungkin saja."Yah, aku setuju denganmu soal itu. Memang sulit mempelajarinya... tapi, berburu monster yang bisa membelah diri seperti itu sendirian juga berbahaya lho. Kalau kau mati di sini, tamatlah riwayatmu.""Apa bedanya hal itu dengan Underworld dan dunia nyata?" balasnya telak, yang mana merupakan poin yang bagus.Alice menempatkan bobot yang setara pada setiap dunia yang ia kunjungi. Tempat-tempat di mana kau bisa bangkit kembali tak peduli berapa kali pun kau mati, seperti ALO dan GGO, merupakan pengecualian baginya.Saat kau terbiasa dengan siklus mati dan bangkit kembali yang santai di dalam sebuah VRMMO, barangkali hal itu mulai mengubah pandanganmu tentang apa itu kehidupan, aku mulai bertanya-tanya, sebuah renungan filosofis yang terbilang cukup dalam dan tak biasa bagiku. Suara Alice membawaku kembali ke dunia nyata."Lagi pula, karena memotong cacing pipih raksasa bermata empat itu membuat mereka berkembang biak, monster itu malah makin bagus untuk menaikkan level.""Hah...? Ohhh, begitu rupanya. Jadi kalau kau sengaja terus-terusan menggandakannya lalu membunuh yang satunya, kau bisa terus-farming mereka tanpa harus menunggu mereka respawn," komentarku, merasa terkesan."Hah...? Kalau di jurang yang dalam, berarti di dalam air, kan? Kau bisa berenang, Alice?"Seketika, ia menusukkan jari-jarinya ke bagian lengan atasku yang tak terlindungi zirah."Kau ini punya kebiasaan melontarkan pernyataan-pernyataan santai yang menunjukkan betapa rendahnya penilaianmu padaku. Aku akui, cuma sedikit orang di alam manusia yang pandai berenang, tapi aku adalah salah satunya.""Lalu, dari mana kau belajar berenang? Kau kan nggak mungkin berenang di Sungai Rul atau Danau Norkia, kan?" tanyaku, merujuk pada perairan di area luar Centoria Utara.Alice memicingkan matanya sejenak mengenang masa lalu, lalu ia menggelengkan kepala."Tidak, tentu saja tidak. Aku yakin kau belum lupa kalau lantai sembilan puluh di Central Cathedral itu punya kolam sepanjang empat puluh mel..."Ia berhenti dengan canggung di situ. Gagal menyadari ekspresi Ups! di wajahnya, aku berseru, "Tunggu, kau berenang di Great Bath?! Itu pasti terjadi setelah kau menjadi seorang Integrity Knight. Jadi selama kau bersikap sangat keren dan tenang di depanku dan Eugeo, diam-diam kau ini tipe orang yang asyik berenang bolak-balik di pe—Aduh!" Ia menusukku lebih keras dari sebelumnya.
Setelah itu, sang kesatria yang angkuh tersebut terlalu kesal untuk berbicara denganku, tetapi setidaknya, aku telah mengetahui bagaimana Alice bisa menaikkan levelnya secepat itu. Dalam buku catatan di benakku, aku mencatat gagasan untuk membawa semua orang ke sana guna mengujinya nanti.Ada banyak sekali bebatuan di sepanjang tepian sungai, tetapi tepat di bibir air itu sendiri, bebatuan tersebut membaur menjadi pasir halus dan padat yang jauh lebih mudah untuk dipijak saat berlari.Meskipun monster bermunculan di sana, satu-satunya tipe yang agresif secara aktif hanyalah kepiting lincah bernama purple scuttling crab dan serangga terbang menjijikkan bernama saw snake fly, tetapi tak satu pun dari mereka memiliki serangan spesial yang merepotkan; alih-alih, mereka hanya memiliki status yang lumayan tinggi.Seandainya kami masih berada di level satu digit, monster-monster itu pasti bakal merepotkan, tetapi di level 16 dan level 15, kami bisa menanganinya dengan baik, terlebih lagi dengan bantuan Kuro, yang entah sejak kapan telah mencapai level 5.Party Mocri dua malam yang lalu dan grup sergapan Schulz semalam pastilah sama-sama melewati tepian sungai ini. Itu berarti jika ada musuh baru yang sedang menuju kota kami, ada kemungkinan kami akan berpapasan langsung dengan mereka selama kami berada di sini.Oleh karena itu, kami tidak bisa menggunakan obor untuk sementara waktu, memilih untuk mengikuti cahaya bintang yang temaram sebagai gantinya. Syukurlah, bulan bersinar terang di sini, tidak seperti di dunia nyata, yang sedang gelap dan diguyur hujan.Kami menghabiskan tiga puluhan menit bergegas menerobos kegelapan, meraup kemahiran dalam skill Night Vision, hingga akhirnya jalan keluar dari hutan tampak di depan mata, dan aku pun memperlambat lajuku.Rimbunnya semak belukar dan pepohonan di sepanjang sungai mulai menipis, bertransisi menjadi semak-semak rendah yang pada akhirnya juga lenyap sepenuhnya. Yang tersisa di baliknya hanyalah hamparan padang rumput kosong yang luas, sungguh mengingatkan pada sabana Afrika persis seperti namanya.Kami berada di ujung timur Sabana Giyoru. Sungai itu terus mengalir ke selatan, tetapi tepian pasirnya yang padat telah menghilang, digantikan oleh tebing-tebing curam yang menjulang di kedua sisinya. Kami harus melanjutkan perjalanan melintasi padang rumput dari titik ini."Seandainya saja kita punya perahu...," gumamku, seraya menyuapkan sedikit dendeng bison pada Kuro. Alice memberiku tatapan penuh tanya."Tidak bisakah kau membuatnya?""Hah? Perahu?""Bukan kapal layar yang megah, tapi pastinya kau bisa membuat sebuah kano...""......Ada benarnya juga," akuku.Menurut apa yang dikatakan yang lain, Reruntuhan Stiss berada di sepanjang aliran sungai ini, jauh di sebelah selatan. Sebuah kano memang takkan banyak gunanya bagi kami jika harus melawan arus ke hulu, tetapi jika kami sekadar menyusuri arus ke hilir untuk sampai ke sana...Aku membuka ring menu-ku dan mengecek opsi crafting untuk skill Beginner Carpentry. Aku menggulir ke bawah melewati item-item terkait pembangunan rumah seperti Crude Wood Hut dan Crude Stone Wall."Ah... ini dia."Nyaris di bagian paling dasar daftar tersebut, aku menemukan Crude Large Dugout Canoe, dan aku menjentikkan jariku.Lebih bagusnya lagi, ikon di sebelah kanan namanya adalah tanda kotak ganda. Jika yang tertera adalah simbol palu, kami harus memahat batang kayunya secara manual, tetapi kotak ganda menandakan sesuatu yang bisa kaubuat hanya dengan menekan satu tombol di menu, asalkan kau memiliki materialnya.Ada Crude Small Dugout Canoe tepat di bawahnya, tetapi benda itu cuma bisa memuat dua orang. Kuro harus ikut bersama kami, jadi kami harus membuat versi yang lebih besarnya."Coba kulihat. Material untuk kano kayu galian yang besar... satu gelondong kayu tebal yang sudah digergaji, dua gelondong kayu biasa yang sudah digergaji, sepuluh utas tali tipis, dua puluh buah paku besi, dan dua botol minyak biji rami (linseed oil).""Banyak sekali ya macamnya...?""Ya begitulah, kan nggak mungkin cuma modal batang pohon berongga doang," sahutku, mengetuk setiap item itu satu per satu secara bergantian. UI Unital Ring terbilang sangat prima; jika kau mengetuk sebuah item, sistem akan memunculkan deskripsi dan memberitahumu berapa banyak yang kaumiliki."Kita tidak punya gelondongan kayunya," catatku, "tapi kita bisa menebang beberapa pohon untuk itu. Tali tipisnya juga baru ada separuhnya, tapi kita bisa membuatnya dari rumput... Ugh, kurang tiga paku. Dan kita takkan bisa membuatnya di sini."Untuk membuat paku besi dari nol, kami perlu melebur bijih besi menjadi ingot di dalam furnace, lalu meletakkannya di atas anvil dan menempanya dengan palu. Tungku pembakaran dan paron kami berada di halaman luar pondok kayu, dan tak mungkin kami berjalan mundur sejauh itu sekarang."Urgh, padahal kita sudah punya tiga botol minyak biji rami... Alice, kau kebetulan tidak punya sisa paku ekstra yang kaubawa, kan...?""Jangan terlalu berharap padaku," jawabnya, seraya membuka menunya. Ia masuk ke penyimpanan item-nya dan dengan cepat menyortirnya."Sepertinya... aku tidak punya...""Sudah kuduga..."Skill perakitan Alice adalah Tailoring, Pottery, dan Weaving; tak satu pun dari skill itu punya kaitan dengan paku. Dan paku besi adalah komoditas berharga saat ini—kami baru membuatnya untuk memperbaiki pondok dan membangun sumur."Sial. Kita terpaksa harus berlari melintasi padang rumput. Lagipula memang itu ide awalnya.""Benar," ujar Alice, menggerakkan jarinya untuk menutup menu—namun ia berhenti."Tidak... tunggu. Aku lumayan yakin kalau di antara item yang dijatuhkan para penyerang kemarin itu ada..."Ia menggulir daftar tersebut, lalu menekan tombolnya kuat-kuat. Di atas jendelanya muncul..."Sebuah kursi?"Itu adalah sebuah kursi bulat kecil. Desainnya sangat sederhana, dengan empat kaki yang terpasang di sisi dudukan, dan warnanya tampak kuno."Kenapa juga orang-orang yang datang untuk membunuh kita membawa-bawa kursi...?""Entahlah... Mungkin mereka menggunakannya untuk duduk saat istirahat?""...Maksudku, kurasa memang lebih nyaman daripada duduk di tanah. Jadi... ada apa dengan kursi ini?""Kita bongkar, tentu saja."Aku meninju telapak tanganku tanda mengerti. Ya, kaki kursi itu menempel pada dudukannya dengan paku logam. Jika kami bisa mendapatkan paku-paku itu kembali, kami akan punya material yang dibutuhkan kano kayu galian tersebut."Tapi peluang untuk mendapatkan kembali pakunya tanpa merusaknya sangatlah rendah.""Itulah kenapa kami butuh kau yang membongkarnya, karena kau punya skill Carpentry. Itu seharusnya sedikit meningkatkan peluang keberhasilannya.""...Benar juga."Alice memang benar, tetapi meskipun probabilitas angka keberhasilanku menurut sistem gim mungkin naik seiring dengan skill-ku, aku sama sekali tak punya kepercayaan diri sebesar itu pada keberuntungan asliku. Diam-diam aku percaya bahwa semua keberuntungan bawaan lahirku sudah habis terpakai untuk bertahan hidup di SAO di sisi Asuna.Aku baru saja hendak memintanya untuk langsung membongkarnya, ketika Kuro menggesekkan kepalanya ke sisi kiriku."Growr!" geramnya, dan sebuah pencerahan menghantam benakku.Sungguh sebuah keberuntungan sekali seumur hidup aku berhasil menjinakkan Kuro kemarin, saat kami tinggal menghitung detik sebelum mati kedinginan. Berdasarkan kekuatan dan frekuensi kemunculannya, macan kumbang lapispine adalah monster yang sangat langka. Peluang keberhasilan untuk menangkap makhluk semacam itu tanpa punya skill Beast-Taming sedikit pun pastilah mendekati nol."...Sebenarnya, kau benar... Kurasa aku lumayan beruntung." Aku menggaruk leher Kuro, lalu mengangkat kursi bulat itu. Terkejut oleh bobotnya, aku mengetuknya dengan tanganku yang bebas, memunculkan nama item Fine Evergreen Oak Round Chair. Para penyerang semalam tak mungkin merakit benda ini. Mereka pasti menemukannya di suatu tempat.Sejenak, aku merasa ragu untuk menghancurkan item dengan deskriptor Fine, tetapi ketahanan kursi itu sudah nyaris habis sepenuhnya. Kalau aku berusaha sangat keras pada skill Carpentry, aku mungkin bakal bisa membuat perlengkapan Fine-ku sendiri, batinku meyakinkan diri, dan aku pun menekan tombol DISMANTLE di menu.Terdengar bunyi gemeretak keras, dan kursi bulat itu hancur berkeping-keping lalu menghilang. Sumber daya yang kudapatkan kembali diatur agar langsung masuk ke dalam inventarisku, jadi dengan penuh rasa waswas aku mengecek jendelaku. Tepat di bagian paling atas daftar saat disortir berdasarkan item baru adalah... tiga buah Fine Iron Nails."Yesss!""Kau berhasil!" seru Alice, yang mengintip dari balik bahuku dengan senyum semringah yang langka. Aku mengangkat kedua tanganku ke arahnya. Ia tampak bingung dengan gestur tersebut dan pada akhirnya meniruku. Aku memberinya high five ganda, lalu berlari melesat ke dalam hutan sebelum ia sempat marah.Begitu aku memastikan situasinya aman, aku menyalakan obor. Berbekal cahaya tersebut, aku mengamati pepohonan untuk mencari spesimen yang cocok. Bahan utama yang dibutuhkan resep itu adalah sebatang gelondong kayu tebal yang sudah digergaji, jadi itu artinya kami harus menebang pohon yang lebih besar dari pinus spiral.Untungnya, dalam waktu yang kumiliki sebelum Alice menyusul, aku berhasil menemukan pohon berdaun lebar yang megah dengan diameter lima kaki. Aku mengetuk kulit batangnya yang halus, memunculkan sebuah pop-up diiringi bunyi syuuut.Namanya adalah Aged Zelle Teak. Rasanya aku pernah mendengar tentang pohon bernama jati (teak) di dunia nyata, tapi apa kira-kira arti Zelle? Butuh beberapa saat, tapi aku akhirnya paham."Ohhh... Zelle, seperti dalam Hutan Zelletelio...""Pohon yang luar biasa," komentar Alice, yang pada akhirnya tidak jadi memprotes high five paksaku tadi."Ya, mungkin ini spesies langka. Kita harus mengingat tempat ini.""Kenapa tidak kautandai saja di petamu?""Hah?" Memangnya bisa begitu? heranku. Aku membuka jendela peta dan mencoba menekan dan menahan titik tempat penanda kami berada. Sebuah sub-jendela kecil muncul menampilkan berbagai macam ikon kecil di atasnya. Aku memilih salah satu yang tampak seperti pohon.Terdengar bunyi letupan kecil, dan sebuah ikon tiga dimensi muncul di peta."Oooh. Praktis juga. Coba saja kau memberitahuku soal ini lebih awal.""Kurasa cuma kau satu-satunya orang yang belum menyadarinya," komentarnya."...Maaf," gumamku.Aku menutup jendelaku dan menyilangkan tangan untuk meraih pedangku. Namun Alice berujar, "Biar aku saja. Lagipula pedangku lebih berat. Tolong pegangkan penerangannya.""Benarkah? Ada trik khusus lho untuk menebang pohon dengan pedang.""Kan sudah kubilang, aku dulu mencari nafkah dengan menebang pohon yang jauh lebih besar dari ini di Rulid.""...Oh. Iya juga," gumamku.Alice melemparkan senyum sekilas padaku, lalu memberi isyarat agar aku mundur. Kuro dan aku mundur beberapa langkah, dan aku mengangkat obor untuk menerangi jalannya. Sang kesatria menurunkan tudungnya, menatap ke arah jati Zelle raksasa itu, lalu memosisikan kakinya dalam kuda-kuda depan-belakang.Ia menggenggam gagang bastard sword-nya dengan tangan kanan dan menghunusnya dengan mulus, merendahkan titik berat tubuhnya sedikit saja. Lalu ia mengaktifkan sword skill Horizontal.Sesaat, bayangan Alice dalam balutan rok kain putih dan zirah besi sederhananya seolah berubah wujud menjadi Alice the Integrity Knight. Longsword-nya melukiskan garis biru di kegelapan, menghantam batang jati Zelle itu dari sudut yang sempurna dan menghasilkan bunyi Takk! kencang yang memuaskan.Saat percikan cahayanya memudar, bilah pedang itu telah amblas lebih dari delapan inci ke dalam batang pohon yang kokoh tersebut."Oh... Kurasa satu ayunan saja tidak cukup," catatnya."Sudah luar biasa kau bisa memotong sedalam itu cuma dengan satu ayunan," ujarku penuh kekaguman.Dengan suara sedikit lebih keras, aku berseru, "Alice, aku akan membuat tali selagi kau mengurus pohon itu!" Ia mengacungkan jempol padaku sementara aku menancapkan obor ke dahan di dekatku untuk menstabilkannya, lalu aku berjongkok di atas rerumputan di dekat kakiku.
Lima menit kemudian, dengan semua material di tangan, kami kembali menuju sungai.Aku membuka menu skill Beginning Carpentry lagi dan menekan tombol untuk membuat crude large dugout canoe.Seketika, wujud perahu ungu tembus pandang muncul di atas permukaan air yang gelap. Itu adalah ghost object, benda yang sama seperti yang muncul saat menentukan di mana harus meletakkan dinding batu, misalnya.Dengan tangan kananku, aku mengendalikan penempatan bayangan tersebut.Segera setelah bayangan itu terangkat di atas air, garis tepinya berubah menjadi abu-abu; rupanya, objek itu harus menyentuh air agar aku bisa menciptakan kanonya. Begitu bayangan itu berada tepat di dekat tepian, aku mengepalkan tanganku.Bagian-bagian kano berjatuhan dari udara kosong diiringi efek suara yang merdu dan terpasang sempurna pada posisinya di dalam objek bayangan tersebut. Benda itu mencebur ke air lalu mengapung kembali—sebuah contoh kano galian yang sempurna, dengan panjang lebih dari enam belas kaki dan lebar tiga kaki.Namun ini bukan sekadar perahu yang dipahat dari sebatang kayu tunggal. Ada dua lengan yang menjulur dari sisi kanan dan berujung pada pelampung sempit nan panjang—sebuah cadik (outrigger).Dengan memperhitungkan hal itu, lebar total perahu ini jadinya sekitar enam kaki. Terdapat pula dayung panjang yang tergeletak di atas kano dan tali jangkar yang tenggelam di bagian buritan."Wah, wah. Ini lumayan mengesankan.""Semua ini berkat kayu luar biasa yang kau sediakan untuk kita, Alice," balasku, melompat ke dalam perahu. Kano itu terasa lebih stabil dari dugaanku, kemungkinan besar berkat cadiknya.Aku menancapkan obor ke dalam soket di sepanjang sisi perahu, lalu mengulurkan tangan untuk menarik Alice masuk menyusulku. Kuro melompat dengan lincah ke bagian haluan. Kano ini memang pantas disebut "besar" karena alasan yang bagus; dengan dua orang dan satu ekor hewan di dalamnya, masih ada banyak ruang tersisa di bentang enam belas kakinya.Waktu saat ini menunjukkan pukul delapan malam. Kami menghabiskan sekitar setengah jam untuk membuat kano ini, tetapi ini seharusnya memungkinkan kami untuk memangkas waktu perjalanan cukup banyak, jika dibandingkan dengan berjalan kaki di darat dan bertarung melawan monster."Oke, ayo berangkat!" umumku, seraya menarik jangkarnya.Di haluan, Kuro menggeram dengan gagahnya. "Grurrrr!"
Dalam dua atau tiga menit latihan, aku sudah mendapatkan garis besar cara mendayung kano tersebut—sebagian besar karena kendalinya sama persis dengan gondola di lantai empat Aincrad.Jika kau memiringkan dayung ke depan untuk mengayuh, kano akan melaju ke depan, dan jika kau mendirikannya tegak lurus, kau akan mengerem. Miringkan ke belakang dan kayuh, dan kano itu akan menarikmu mundur. Miringkan ke kanan untuk berbelok ke kiri, dan miringkan ke kiri untuk berbelok ke kanan. Kami mengikuti arus sungai, jadi kayuhan ringan saja sudah cukup untuk membuat kano itu meluncur ke depan semakin lama semakin cepat.Setelah beberapa saat, aku melihat sebuah pesan yang berbunyi Skill Ship Handling diperoleh. Kemahiran telah naik ke level 1. Aku mengeceknya untuk melihat efeknya, dan tertulis bahwa skill itu akan membuat kano berbelok lebih cepat dan mengurangi kemungkinan terbalik.Mengemudikan kapal itu sendiri adalah hal yang menyenangkan, tetapi sayangnya, karena tebing-tebing yang menjorok di atas kami, pemandangannya tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan lantai empat Aincrad, bahkan dengan mempertimbangkan fakta bahwa ini adalah malam hari.Sembari mengemudi, aku mengenang kembali dengan penuh suka cita saat-saat aku meluncur melintasi jalur air bersama Asuna di gondola cat putih kami, Tilnel. Di bagian depan, Alice menoleh dan menarikku keluar dari lamunanku."Jadi... ada urusan apa sebenarnya Dr. Koujiro denganmu?""Hah...?" Pikiranku kosong sejenak, lalu aku baru sadar bahwa ia sedang membicarakan pesan tentang "toko kue mahal" tersebut."Ah, benar juga... Dr. Koujiro sebenarnya cuma menyampaikan pesan dari orang lain.""Aha... aku sudah menduga kalau memang begitu kenyataannya," gumam Alice.Ia berbalik untuk menghadapku secara langsung. "Kikuoka yang memanggilmu, kan?"Berdasarkan nada suara dan ekspresinya, aku bisa menebak bahwa ia tidak memiliki penilaian yang tinggi terhadap Kikuoka Seijirou. Aku tak bisa menyalahkannya—ia nyaris tidak pernah berbicara serius dengannya.Aku akui orangnya memang sangat mencurigakan, tapi dia punya sisi baiknya juga lho. Contohnya pas dia traktir potongan-potongan kue mahal."Apa kau ikut denganku semata-mata cuma karena ingin menanyakan hal itu?" pancingku."Itu bukan satu-satunya alasan. Jadi... apa kata Kikuoka?"Aku ragu sejenak, lalu teringat bahwa aku kemungkinan besar memang akan menjelaskan semuanya malam ini. Aku memperlambat laju kano kayu itu dan menyampaikannya secara singkat: "Seseorang dari entah dari mana telah menyusup ke Underworld.""......!"Mata birunya membelalak lebar, dan ia sedikit bangkit dari tempat duduknya."Penyusup...?! Siapa orangnya?!""Benar-benar misteri. Dia bilang tak ada cara untuk menyelidikinya dari dunia nyata."Ia mematung dalam posisi setengah berdiri, lalu menghela napas dan duduk kembali."...Aku jadi heran kenapa Dr. Koujiro tidak memberitahuku.""Karena ia tahu kau bakal langsung melancarkan aksi dive-bomb ke dalam sana pada kesempatan pertama.""Baru belakangan ini aku tahu kalau istilah slang dive-bomb yang kalian pakai belum tentu merujuk pada teknik pengeboman dari udara," komentarnya, yang mana kuanggap sebagai pertanda bahwa ia sudah sedikit lebih tenang."Ya, tak bisa kupungkiri. Kurasa aku mungkin punya kecenderungan untuk tersinggung dan kehilangan kendali dalam amarah lebih cepat daripada orang lain."Maksudmu kau tak pernah menyadarinya sebelum ini?! batinku, dengan bijak menyimpannya untuk diriku sendiri."Dengar, aku tahu rasanya tidak bisa duduk diam dalam keadaan darurat. Tapi sungguh mustahil menemukan satu individu yang bersembunyi di Underworld kalau kau tidak punya rencana untuk itu. Kau tahu itu...""Jadi orang-orang di sana akan dibiarkan mengurus diri mereka sendiri?""Sama sekali tidak. Kikuoka memanggilku untuk memintaku melakukan dive ke Underworld, sebenarnya.""...! Kalau kau pergi, maka aku juga—," ia mulai bicara, bangkit dari kursinya lagi, hingga aku mengulurkan tangan untuk menghentikannya."Tentu saja kau akan ikut denganku. Aku cuma setuju dengan syarat itu. Jangan salahkan Dr. Koujiro karena tidak memberitahumu soal penyusup tersebut. Ia memikirkan keselamatan kita di atas segalanya.""...Aku mengerti. Ia adalah salah satu orang di dunia nyata yang paling kupercayai.""Eh... apakah aku salah satunya juga?""Pertanyaan semacam itulah yang menurunkan tingkat kepercayaan orang padamu," ketusnya, tampak sangat kesal. Namun ia menambahkan pertanyaannya sendiri."Apakah cuma aku satu-satunya orang yang kauminta untuk ikut serta?""Tidak, aku... eh... juga meminta Asuna untuk ikut.""Sudah kuduga."Aku mencoba membaca raut wajahnya dari samping, tetapi aku tidak memiliki skill yang dibutuhkan untuk menafsirkan emosi yang tersimpan di sana.
Sembari kami berbincang, kano itu terus melaju di sepanjang sungai yang gelap hingga jarak tempuh kami melampaui sepuluh mil dari kota hutan kami. Rute menuju tempat tujuan kami, Reruntuhan Stiss, berjarak hampir dua puluh mil, jadi jika tak ada halang rintang yang menunda kami, kami seharusnya tiba dalam tiga puluh menit lagi.Sebelum berangkat, aku sudah banyak minum air dan makan, tetapi saat kuperhatikan sekarang, batang TP-ku nyaris turun hingga tersisa separuh. Namun selama kami berada di atas perahu, aku tak perlu khawatir akan kehabisan air.Aku mengeluarkan sebuah cangkir tanah liat dari inventarisku dan menyendokkannya ke sungai, lalu minum bergantian dengan Alice. Aku agak gugup mengambil air di tengah kegelapan, saat aku tak bisa benar-benar melihat seberapa jernih airnya, tetapi rasanya tak buruk, dan Kuro pun meminumnya juga, jadi kupikir aku takkan jatuh sakit karenanya.Sungai itu semakin lama semakin melebar, tetapi tebing-tebing curam di kedua sisinya terus membentang tanpa ujung. Sifat lanskap yang repetitif ini membuatku mengantuk.Namun tampaknya momen saat aku mulai terangguk-angguk mengantuk itulah yang tepat dipilih oleh monster-monster berwujud seperti nimfa capung dan siput kolam untuk melompat ke dalam kano dan mulai menyerang, sehingga aku batal mengemudi sambil tidur yang bisa memicu kecelakaan.Aku membiarkan petaku terus terbuka sepanjang waktu. Di sekeliling kami hanyalah hamparan warna abu-abu yang mengindikasikan medan yang belum terpetakan, terkecuali satu garis biru tipis penanda sungai. Skill Ship Handling-ku sudah naik ke level 5, yang mana membuatku bertanya-tanya apakah aku harus beralih class menjadi seorang pelaut saja.Lalu Alice berujar, "Kirito... kau dengar sesuatu?" dan Kuro mengangkat ekor panjangnya seraya menggeram, menatap lurus ke depan.Musuh? Apa ada field boss di depan sana? Aku mengamati dan memasang telinga, bulu kudukku meremang. Sepertinya ada suara yang lamat-lamat namun berat terdengar di kejauhan.Sesuatu yang menyerupai raungan binatang buas raksasa—hanya saja suaranya tak berubah-ubah. Itu hanyalah raungan yang konstan. Dan perlahan-lahan semakin mengeras."Kirito, hentikan perahunya!" jerit Alice, dan barulah aku mengerti. Memang tak mudah untuk melihatnya hanya dengan penerangan obor dan sinar bulan, tetapi permukaan sungai di depan kami tiba-tiba saja lenyap."...A-air terjun!" seruku dan mendorong dayung ke belakang sekuat tenaga. Namun kano kayu galian yang melaju dalam kecepatan penuh sangatlah sulit untuk diperlambat. Suara gemuruhnya kini sudah sangat memekakkan telinga, menenggelamkan suara kami.Kemudian sensasi melayang menyelimuti tubuhku. Nyatanya, aku memang sedang melayang. Kano itu telah melewati bibir air terjun, dan aku kini tengah terbang di udara."Waaaaaah!!" "Kyaaaaaa!!"Jeritan kami hanya bisa ditandingi oleh lolongan Kuro, "Arooooo!"
1H Swords / Blacksmithing / Carpentry / Woodworking / Stoneworking / Beast-Taming, Level-16 (Brawn)SINON
Guns / Thief / Stoneworking, Level-16 (Swiftness)ALICE
Bastard Swords / Pottery / Weaving / Tailoring, Level-15 (Brawn)LEAFA
Bastard Swords / Woodworking / Pottery, Level-12 (Brawn)LISBETH
Maces / Blacksmithing / Carpentry / Weaving, Level-11 (Toughness)SILICA
Short Swords / Beast-Taming / Weaving, Level-10 (Swiftness)YUI
Daggers / Fire Magic / Cooking / Weaving, Level-10 (Sagacity)ASUNA
Rapiers / Herbalist / Cooking / Woodworking / Pottery / Weaving / Tailoring / Beast-Taming, Level-9 (Sagacity)KLEIN
Curved Swords / Woodworking / Stoneworking, Level-8 (Brawn)AGIL
Axes / Woodworking / Stoneworking, Level-8 (Toughness)MISHA
Thornspike cave bear, Level-6AGA
Long-billed giant agamid, Level-5KURO
Lapispine dark panther, Level-5PINA
Feathery Dragon, Level-2Level Klein dan Agil tergolong rendah lantaran mereka baru melakukan konversi kemarin. Asuna memang sudah log in saat Unital Ring bermula, tetapi levelnya berada di kisaran bawah karena ia lebih sering bertugas menjaga markas, pikirku.Di sisi lain, ia juga telah memperoleh skill paling banyak. Namun jika berbicara soal RPG bertahan hidup survival RPG, urat nadi yang paling utama adalah nyawa itu sendiri: HP.Sinon dan aku memiliki level tertinggi karena kami telah menumbangkan monster bos. Aku telah menghabisi beruang gua berduri yang spawn sebelum Misha serta mengalahkan Goliath Rana, sementara Sinon telah menaklukkan sterocephalus.Lain waktu, aku harus mengajak Asuna dalam perburuan besar, agar ia bisa mendongkrak levelnya. Kendati demikian, kesatria bertelinga kucing di sisiku ini nyatanya juga melakukan tugas pertahanan markas sama seringnya dengan Asuna.Aku menutup daftar temanku, yang sedari tadi kuperhatikan saksama seraya kami berlari menyusuri sungai, lalu bertanya pada rekanku, "Alice, kapan kau berhasil menaikkan levelmu setinggi itu?""Sepanjang siang kemarin dan hari ini, tentu saja. Lagipula, aku kan tidak pergi bersekolah."Terdengar sekelumit nada merajuk dalam jawabannya, dan aku merasa bersalah karenanya. Alice telah mengajukan petisi pada Rath agar mengizinkannya bersekolah di returnee school, tetapi mudah ditebak bahwa mereka takkan membiarkannya melakukan hal semacam itu.Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa agar mereka setidaknya mengizinkan Alice berkunjung ke sekolah sebelum Asuna lulus pada bulan Maret tahun depan."Apakah ada monster yang bagus untuk menaikkan level di sekitar rumah... eh, kota? Semua monster yang kutemui cuma makhluk-makhluk kecil nan lincah seperti rubah dan kelelawar...""Di dalam hutan, ya. Tapi mau kecil dan lincah atau tidak, kau seharusnya tahu betul kalau aku tidak suka dengan gagasan membunuh sejumlah besar hewan demi mendapatkan experience.""Oh... benar, benar. Jadi apa yang kaulakukan?"Alice melirik sungai gelap di sebelah kanan kami dan bergumam, "Aku tidak yakin apa mereka muncul di dekat bagian sungai ini... tapi tepat di sebelah barat kota, ada jurang yang sangat dalam, dan di dalamnya terdapat monster yang disebut four-eyed giant flatworm.""Bermata empat...? Monster macam apa itu?""Kurang lebih wujudnya seperti lintah raksasa, dengan lebar sekitar lima belas cen dan panjang lebih dari dua mel," ujar Alice seraya merentangkan kedua tangannya untuk mempraktekkannya.Ia sudah mulai terbiasa dengan ukuran dunia nyata akhir-akhir ini, tetapi saat kami sedang berdua, ia sering kali kembali menggunakan satuan cen dan mel khas Underworld. Ia mungkin bahkan tidak menyadari kalau ia sedang melakukannya."Seluruh tubuh mereka berwarna abu-abu tembus pandang, yang mana membuat mereka sulit dilihat kecuali pada tengah hari, saat sinar matahari menerpa sungai tepat di dasar jurang. Sesuai namanya, mereka memiliki empat mata, dan kau harus menebas tepat di bagian tengah mata mereka untuk mengalahkan mereka.Jika kau membelah bagian tengah tubuhnya, potongan kedua itu akan menumbuhkan kepalanya sendiri, lalu memanjangkan tubuhnya sehingga kau harus berhadapan dengan dua ekor cacing dewasa seutuhnya.""Ugh, kedengarannya seperti planaria..."Aku meringis. Lalu aku teringat pada pelajaran biologi semasa SMP bahwa planaria, cacing martil, dan sejenisnya itu pada dasarnya adalah jenis-jenis cacing pipih yang berbeda."Tentu saja, cacing pipih raksasa bermata empat juga makhluk hidup, tapi aku merasa secara mental jauh lebih mudah untuk membasmi mereka ketimbang rubah maupun kelinci. Kurasa ini yang namanya... Apa sebutannya bagi manusia...?""Ego?""Ya. Kata itu adalah salah satu kata suci dunia nyata kalian yang aneh... eh, bahasa Inggris ya kalian menyebutnya? Rasanya sulit sekali untuk mempelajari semuanya," keluh Alice.Di sisinya yang lain, berlari melompat-lompat di atas pasir, Kuro menggeram seolah ingin unjuk gigi. Aku yakin ia bukannya sedang memprotes fakta bahwa aku sering kali memberinya perintah menyerang baik dalam bahasa Jepang maupun bahasa Inggris... mungkin saja."Yah, aku setuju denganmu soal itu. Memang sulit mempelajarinya... tapi, berburu monster yang bisa membelah diri seperti itu sendirian juga berbahaya lho. Kalau kau mati di sini, tamatlah riwayatmu.""Apa bedanya hal itu dengan Underworld dan dunia nyata?" balasnya telak, yang mana merupakan poin yang bagus.Alice menempatkan bobot yang setara pada setiap dunia yang ia kunjungi. Tempat-tempat di mana kau bisa bangkit kembali tak peduli berapa kali pun kau mati, seperti ALO dan GGO, merupakan pengecualian baginya.Saat kau terbiasa dengan siklus mati dan bangkit kembali yang santai di dalam sebuah VRMMO, barangkali hal itu mulai mengubah pandanganmu tentang apa itu kehidupan, aku mulai bertanya-tanya, sebuah renungan filosofis yang terbilang cukup dalam dan tak biasa bagiku. Suara Alice membawaku kembali ke dunia nyata."Lagi pula, karena memotong cacing pipih raksasa bermata empat itu membuat mereka berkembang biak, monster itu malah makin bagus untuk menaikkan level.""Hah...? Ohhh, begitu rupanya. Jadi kalau kau sengaja terus-terusan menggandakannya lalu membunuh yang satunya, kau bisa terus-farming mereka tanpa harus menunggu mereka respawn," komentarku, merasa terkesan."Hah...? Kalau di jurang yang dalam, berarti di dalam air, kan? Kau bisa berenang, Alice?"Seketika, ia menusukkan jari-jarinya ke bagian lengan atasku yang tak terlindungi zirah."Kau ini punya kebiasaan melontarkan pernyataan-pernyataan santai yang menunjukkan betapa rendahnya penilaianmu padaku. Aku akui, cuma sedikit orang di alam manusia yang pandai berenang, tapi aku adalah salah satunya.""Lalu, dari mana kau belajar berenang? Kau kan nggak mungkin berenang di Sungai Rul atau Danau Norkia, kan?" tanyaku, merujuk pada perairan di area luar Centoria Utara.Alice memicingkan matanya sejenak mengenang masa lalu, lalu ia menggelengkan kepala."Tidak, tentu saja tidak. Aku yakin kau belum lupa kalau lantai sembilan puluh di Central Cathedral itu punya kolam sepanjang empat puluh mel..."Ia berhenti dengan canggung di situ. Gagal menyadari ekspresi Ups! di wajahnya, aku berseru, "Tunggu, kau berenang di Great Bath?! Itu pasti terjadi setelah kau menjadi seorang Integrity Knight. Jadi selama kau bersikap sangat keren dan tenang di depanku dan Eugeo, diam-diam kau ini tipe orang yang asyik berenang bolak-balik di pe—Aduh!" Ia menusukku lebih keras dari sebelumnya.
Setelah itu, sang kesatria yang angkuh tersebut terlalu kesal untuk berbicara denganku, tetapi setidaknya, aku telah mengetahui bagaimana Alice bisa menaikkan levelnya secepat itu. Dalam buku catatan di benakku, aku mencatat gagasan untuk membawa semua orang ke sana guna mengujinya nanti.Ada banyak sekali bebatuan di sepanjang tepian sungai, tetapi tepat di bibir air itu sendiri, bebatuan tersebut membaur menjadi pasir halus dan padat yang jauh lebih mudah untuk dipijak saat berlari.Meskipun monster bermunculan di sana, satu-satunya tipe yang agresif secara aktif hanyalah kepiting lincah bernama purple scuttling crab dan serangga terbang menjijikkan bernama saw snake fly, tetapi tak satu pun dari mereka memiliki serangan spesial yang merepotkan; alih-alih, mereka hanya memiliki status yang lumayan tinggi.Seandainya kami masih berada di level satu digit, monster-monster itu pasti bakal merepotkan, tetapi di level 16 dan level 15, kami bisa menanganinya dengan baik, terlebih lagi dengan bantuan Kuro, yang entah sejak kapan telah mencapai level 5.Party Mocri dua malam yang lalu dan grup sergapan Schulz semalam pastilah sama-sama melewati tepian sungai ini. Itu berarti jika ada musuh baru yang sedang menuju kota kami, ada kemungkinan kami akan berpapasan langsung dengan mereka selama kami berada di sini.Oleh karena itu, kami tidak bisa menggunakan obor untuk sementara waktu, memilih untuk mengikuti cahaya bintang yang temaram sebagai gantinya. Syukurlah, bulan bersinar terang di sini, tidak seperti di dunia nyata, yang sedang gelap dan diguyur hujan.Kami menghabiskan tiga puluhan menit bergegas menerobos kegelapan, meraup kemahiran dalam skill Night Vision, hingga akhirnya jalan keluar dari hutan tampak di depan mata, dan aku pun memperlambat lajuku.Rimbunnya semak belukar dan pepohonan di sepanjang sungai mulai menipis, bertransisi menjadi semak-semak rendah yang pada akhirnya juga lenyap sepenuhnya. Yang tersisa di baliknya hanyalah hamparan padang rumput kosong yang luas, sungguh mengingatkan pada sabana Afrika persis seperti namanya.Kami berada di ujung timur Sabana Giyoru. Sungai itu terus mengalir ke selatan, tetapi tepian pasirnya yang padat telah menghilang, digantikan oleh tebing-tebing curam yang menjulang di kedua sisinya. Kami harus melanjutkan perjalanan melintasi padang rumput dari titik ini."Seandainya saja kita punya perahu...," gumamku, seraya menyuapkan sedikit dendeng bison pada Kuro. Alice memberiku tatapan penuh tanya."Tidak bisakah kau membuatnya?""Hah? Perahu?""Bukan kapal layar yang megah, tapi pastinya kau bisa membuat sebuah kano...""......Ada benarnya juga," akuku.Menurut apa yang dikatakan yang lain, Reruntuhan Stiss berada di sepanjang aliran sungai ini, jauh di sebelah selatan. Sebuah kano memang takkan banyak gunanya bagi kami jika harus melawan arus ke hulu, tetapi jika kami sekadar menyusuri arus ke hilir untuk sampai ke sana...Aku membuka ring menu-ku dan mengecek opsi crafting untuk skill Beginner Carpentry. Aku menggulir ke bawah melewati item-item terkait pembangunan rumah seperti Crude Wood Hut dan Crude Stone Wall."Ah... ini dia."Nyaris di bagian paling dasar daftar tersebut, aku menemukan Crude Large Dugout Canoe, dan aku menjentikkan jariku.Lebih bagusnya lagi, ikon di sebelah kanan namanya adalah tanda kotak ganda. Jika yang tertera adalah simbol palu, kami harus memahat batang kayunya secara manual, tetapi kotak ganda menandakan sesuatu yang bisa kaubuat hanya dengan menekan satu tombol di menu, asalkan kau memiliki materialnya.Ada Crude Small Dugout Canoe tepat di bawahnya, tetapi benda itu cuma bisa memuat dua orang. Kuro harus ikut bersama kami, jadi kami harus membuat versi yang lebih besarnya."Coba kulihat. Material untuk kano kayu galian yang besar... satu gelondong kayu tebal yang sudah digergaji, dua gelondong kayu biasa yang sudah digergaji, sepuluh utas tali tipis, dua puluh buah paku besi, dan dua botol minyak biji rami (linseed oil).""Banyak sekali ya macamnya...?""Ya begitulah, kan nggak mungkin cuma modal batang pohon berongga doang," sahutku, mengetuk setiap item itu satu per satu secara bergantian. UI Unital Ring terbilang sangat prima; jika kau mengetuk sebuah item, sistem akan memunculkan deskripsi dan memberitahumu berapa banyak yang kaumiliki."Kita tidak punya gelondongan kayunya," catatku, "tapi kita bisa menebang beberapa pohon untuk itu. Tali tipisnya juga baru ada separuhnya, tapi kita bisa membuatnya dari rumput... Ugh, kurang tiga paku. Dan kita takkan bisa membuatnya di sini."Untuk membuat paku besi dari nol, kami perlu melebur bijih besi menjadi ingot di dalam furnace, lalu meletakkannya di atas anvil dan menempanya dengan palu. Tungku pembakaran dan paron kami berada di halaman luar pondok kayu, dan tak mungkin kami berjalan mundur sejauh itu sekarang."Urgh, padahal kita sudah punya tiga botol minyak biji rami... Alice, kau kebetulan tidak punya sisa paku ekstra yang kaubawa, kan...?""Jangan terlalu berharap padaku," jawabnya, seraya membuka menunya. Ia masuk ke penyimpanan item-nya dan dengan cepat menyortirnya."Sepertinya... aku tidak punya...""Sudah kuduga..."Skill perakitan Alice adalah Tailoring, Pottery, dan Weaving; tak satu pun dari skill itu punya kaitan dengan paku. Dan paku besi adalah komoditas berharga saat ini—kami baru membuatnya untuk memperbaiki pondok dan membangun sumur."Sial. Kita terpaksa harus berlari melintasi padang rumput. Lagipula memang itu ide awalnya.""Benar," ujar Alice, menggerakkan jarinya untuk menutup menu—namun ia berhenti."Tidak... tunggu. Aku lumayan yakin kalau di antara item yang dijatuhkan para penyerang kemarin itu ada..."Ia menggulir daftar tersebut, lalu menekan tombolnya kuat-kuat. Di atas jendelanya muncul..."Sebuah kursi?"Itu adalah sebuah kursi bulat kecil. Desainnya sangat sederhana, dengan empat kaki yang terpasang di sisi dudukan, dan warnanya tampak kuno."Kenapa juga orang-orang yang datang untuk membunuh kita membawa-bawa kursi...?""Entahlah... Mungkin mereka menggunakannya untuk duduk saat istirahat?""...Maksudku, kurasa memang lebih nyaman daripada duduk di tanah. Jadi... ada apa dengan kursi ini?""Kita bongkar, tentu saja."Aku meninju telapak tanganku tanda mengerti. Ya, kaki kursi itu menempel pada dudukannya dengan paku logam. Jika kami bisa mendapatkan paku-paku itu kembali, kami akan punya material yang dibutuhkan kano kayu galian tersebut."Tapi peluang untuk mendapatkan kembali pakunya tanpa merusaknya sangatlah rendah.""Itulah kenapa kami butuh kau yang membongkarnya, karena kau punya skill Carpentry. Itu seharusnya sedikit meningkatkan peluang keberhasilannya.""...Benar juga."Alice memang benar, tetapi meskipun probabilitas angka keberhasilanku menurut sistem gim mungkin naik seiring dengan skill-ku, aku sama sekali tak punya kepercayaan diri sebesar itu pada keberuntungan asliku. Diam-diam aku percaya bahwa semua keberuntungan bawaan lahirku sudah habis terpakai untuk bertahan hidup di SAO di sisi Asuna.Aku baru saja hendak memintanya untuk langsung membongkarnya, ketika Kuro menggesekkan kepalanya ke sisi kiriku."Growr!" geramnya, dan sebuah pencerahan menghantam benakku.Sungguh sebuah keberuntungan sekali seumur hidup aku berhasil menjinakkan Kuro kemarin, saat kami tinggal menghitung detik sebelum mati kedinginan. Berdasarkan kekuatan dan frekuensi kemunculannya, macan kumbang lapispine adalah monster yang sangat langka. Peluang keberhasilan untuk menangkap makhluk semacam itu tanpa punya skill Beast-Taming sedikit pun pastilah mendekati nol."...Sebenarnya, kau benar... Kurasa aku lumayan beruntung." Aku menggaruk leher Kuro, lalu mengangkat kursi bulat itu. Terkejut oleh bobotnya, aku mengetuknya dengan tanganku yang bebas, memunculkan nama item Fine Evergreen Oak Round Chair. Para penyerang semalam tak mungkin merakit benda ini. Mereka pasti menemukannya di suatu tempat.Sejenak, aku merasa ragu untuk menghancurkan item dengan deskriptor Fine, tetapi ketahanan kursi itu sudah nyaris habis sepenuhnya. Kalau aku berusaha sangat keras pada skill Carpentry, aku mungkin bakal bisa membuat perlengkapan Fine-ku sendiri, batinku meyakinkan diri, dan aku pun menekan tombol DISMANTLE di menu.Terdengar bunyi gemeretak keras, dan kursi bulat itu hancur berkeping-keping lalu menghilang. Sumber daya yang kudapatkan kembali diatur agar langsung masuk ke dalam inventarisku, jadi dengan penuh rasa waswas aku mengecek jendelaku. Tepat di bagian paling atas daftar saat disortir berdasarkan item baru adalah... tiga buah Fine Iron Nails."Yesss!""Kau berhasil!" seru Alice, yang mengintip dari balik bahuku dengan senyum semringah yang langka. Aku mengangkat kedua tanganku ke arahnya. Ia tampak bingung dengan gestur tersebut dan pada akhirnya meniruku. Aku memberinya high five ganda, lalu berlari melesat ke dalam hutan sebelum ia sempat marah.Begitu aku memastikan situasinya aman, aku menyalakan obor. Berbekal cahaya tersebut, aku mengamati pepohonan untuk mencari spesimen yang cocok. Bahan utama yang dibutuhkan resep itu adalah sebatang gelondong kayu tebal yang sudah digergaji, jadi itu artinya kami harus menebang pohon yang lebih besar dari pinus spiral.Untungnya, dalam waktu yang kumiliki sebelum Alice menyusul, aku berhasil menemukan pohon berdaun lebar yang megah dengan diameter lima kaki. Aku mengetuk kulit batangnya yang halus, memunculkan sebuah pop-up diiringi bunyi syuuut.Namanya adalah Aged Zelle Teak. Rasanya aku pernah mendengar tentang pohon bernama jati (teak) di dunia nyata, tapi apa kira-kira arti Zelle? Butuh beberapa saat, tapi aku akhirnya paham."Ohhh... Zelle, seperti dalam Hutan Zelletelio...""Pohon yang luar biasa," komentar Alice, yang pada akhirnya tidak jadi memprotes high five paksaku tadi."Ya, mungkin ini spesies langka. Kita harus mengingat tempat ini.""Kenapa tidak kautandai saja di petamu?""Hah?" Memangnya bisa begitu? heranku. Aku membuka jendela peta dan mencoba menekan dan menahan titik tempat penanda kami berada. Sebuah sub-jendela kecil muncul menampilkan berbagai macam ikon kecil di atasnya. Aku memilih salah satu yang tampak seperti pohon.Terdengar bunyi letupan kecil, dan sebuah ikon tiga dimensi muncul di peta."Oooh. Praktis juga. Coba saja kau memberitahuku soal ini lebih awal.""Kurasa cuma kau satu-satunya orang yang belum menyadarinya," komentarnya."...Maaf," gumamku.Aku menutup jendelaku dan menyilangkan tangan untuk meraih pedangku. Namun Alice berujar, "Biar aku saja. Lagipula pedangku lebih berat. Tolong pegangkan penerangannya.""Benarkah? Ada trik khusus lho untuk menebang pohon dengan pedang.""Kan sudah kubilang, aku dulu mencari nafkah dengan menebang pohon yang jauh lebih besar dari ini di Rulid.""...Oh. Iya juga," gumamku.Alice melemparkan senyum sekilas padaku, lalu memberi isyarat agar aku mundur. Kuro dan aku mundur beberapa langkah, dan aku mengangkat obor untuk menerangi jalannya. Sang kesatria menurunkan tudungnya, menatap ke arah jati Zelle raksasa itu, lalu memosisikan kakinya dalam kuda-kuda depan-belakang.Ia menggenggam gagang bastard sword-nya dengan tangan kanan dan menghunusnya dengan mulus, merendahkan titik berat tubuhnya sedikit saja. Lalu ia mengaktifkan sword skill Horizontal.Sesaat, bayangan Alice dalam balutan rok kain putih dan zirah besi sederhananya seolah berubah wujud menjadi Alice the Integrity Knight. Longsword-nya melukiskan garis biru di kegelapan, menghantam batang jati Zelle itu dari sudut yang sempurna dan menghasilkan bunyi Takk! kencang yang memuaskan.Saat percikan cahayanya memudar, bilah pedang itu telah amblas lebih dari delapan inci ke dalam batang pohon yang kokoh tersebut."Oh... Kurasa satu ayunan saja tidak cukup," catatnya."Sudah luar biasa kau bisa memotong sedalam itu cuma dengan satu ayunan," ujarku penuh kekaguman.Dengan suara sedikit lebih keras, aku berseru, "Alice, aku akan membuat tali selagi kau mengurus pohon itu!" Ia mengacungkan jempol padaku sementara aku menancapkan obor ke dahan di dekatku untuk menstabilkannya, lalu aku berjongkok di atas rerumputan di dekat kakiku.
Lima menit kemudian, dengan semua material di tangan, kami kembali menuju sungai.Aku membuka menu skill Beginning Carpentry lagi dan menekan tombol untuk membuat crude large dugout canoe.Seketika, wujud perahu ungu tembus pandang muncul di atas permukaan air yang gelap. Itu adalah ghost object, benda yang sama seperti yang muncul saat menentukan di mana harus meletakkan dinding batu, misalnya.Dengan tangan kananku, aku mengendalikan penempatan bayangan tersebut.Segera setelah bayangan itu terangkat di atas air, garis tepinya berubah menjadi abu-abu; rupanya, objek itu harus menyentuh air agar aku bisa menciptakan kanonya. Begitu bayangan itu berada tepat di dekat tepian, aku mengepalkan tanganku.Bagian-bagian kano berjatuhan dari udara kosong diiringi efek suara yang merdu dan terpasang sempurna pada posisinya di dalam objek bayangan tersebut. Benda itu mencebur ke air lalu mengapung kembali—sebuah contoh kano galian yang sempurna, dengan panjang lebih dari enam belas kaki dan lebar tiga kaki.Namun ini bukan sekadar perahu yang dipahat dari sebatang kayu tunggal. Ada dua lengan yang menjulur dari sisi kanan dan berujung pada pelampung sempit nan panjang—sebuah cadik (outrigger).Dengan memperhitungkan hal itu, lebar total perahu ini jadinya sekitar enam kaki. Terdapat pula dayung panjang yang tergeletak di atas kano dan tali jangkar yang tenggelam di bagian buritan."Wah, wah. Ini lumayan mengesankan.""Semua ini berkat kayu luar biasa yang kau sediakan untuk kita, Alice," balasku, melompat ke dalam perahu. Kano itu terasa lebih stabil dari dugaanku, kemungkinan besar berkat cadiknya.Aku menancapkan obor ke dalam soket di sepanjang sisi perahu, lalu mengulurkan tangan untuk menarik Alice masuk menyusulku. Kuro melompat dengan lincah ke bagian haluan. Kano ini memang pantas disebut "besar" karena alasan yang bagus; dengan dua orang dan satu ekor hewan di dalamnya, masih ada banyak ruang tersisa di bentang enam belas kakinya.Waktu saat ini menunjukkan pukul delapan malam. Kami menghabiskan sekitar setengah jam untuk membuat kano ini, tetapi ini seharusnya memungkinkan kami untuk memangkas waktu perjalanan cukup banyak, jika dibandingkan dengan berjalan kaki di darat dan bertarung melawan monster."Oke, ayo berangkat!" umumku, seraya menarik jangkarnya.Di haluan, Kuro menggeram dengan gagahnya. "Grurrrr!"
Dalam dua atau tiga menit latihan, aku sudah mendapatkan garis besar cara mendayung kano tersebut—sebagian besar karena kendalinya sama persis dengan gondola di lantai empat Aincrad.Jika kau memiringkan dayung ke depan untuk mengayuh, kano akan melaju ke depan, dan jika kau mendirikannya tegak lurus, kau akan mengerem. Miringkan ke belakang dan kayuh, dan kano itu akan menarikmu mundur. Miringkan ke kanan untuk berbelok ke kiri, dan miringkan ke kiri untuk berbelok ke kanan. Kami mengikuti arus sungai, jadi kayuhan ringan saja sudah cukup untuk membuat kano itu meluncur ke depan semakin lama semakin cepat.Setelah beberapa saat, aku melihat sebuah pesan yang berbunyi Skill Ship Handling diperoleh. Kemahiran telah naik ke level 1. Aku mengeceknya untuk melihat efeknya, dan tertulis bahwa skill itu akan membuat kano berbelok lebih cepat dan mengurangi kemungkinan terbalik.Mengemudikan kapal itu sendiri adalah hal yang menyenangkan, tetapi sayangnya, karena tebing-tebing yang menjorok di atas kami, pemandangannya tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan lantai empat Aincrad, bahkan dengan mempertimbangkan fakta bahwa ini adalah malam hari.Sembari mengemudi, aku mengenang kembali dengan penuh suka cita saat-saat aku meluncur melintasi jalur air bersama Asuna di gondola cat putih kami, Tilnel. Di bagian depan, Alice menoleh dan menarikku keluar dari lamunanku."Jadi... ada urusan apa sebenarnya Dr. Koujiro denganmu?""Hah...?" Pikiranku kosong sejenak, lalu aku baru sadar bahwa ia sedang membicarakan pesan tentang "toko kue mahal" tersebut."Ah, benar juga... Dr. Koujiro sebenarnya cuma menyampaikan pesan dari orang lain.""Aha... aku sudah menduga kalau memang begitu kenyataannya," gumam Alice.Ia berbalik untuk menghadapku secara langsung. "Kikuoka yang memanggilmu, kan?"Berdasarkan nada suara dan ekspresinya, aku bisa menebak bahwa ia tidak memiliki penilaian yang tinggi terhadap Kikuoka Seijirou. Aku tak bisa menyalahkannya—ia nyaris tidak pernah berbicara serius dengannya.Aku akui orangnya memang sangat mencurigakan, tapi dia punya sisi baiknya juga lho. Contohnya pas dia traktir potongan-potongan kue mahal."Apa kau ikut denganku semata-mata cuma karena ingin menanyakan hal itu?" pancingku."Itu bukan satu-satunya alasan. Jadi... apa kata Kikuoka?"Aku ragu sejenak, lalu teringat bahwa aku kemungkinan besar memang akan menjelaskan semuanya malam ini. Aku memperlambat laju kano kayu itu dan menyampaikannya secara singkat: "Seseorang dari entah dari mana telah menyusup ke Underworld.""......!"Mata birunya membelalak lebar, dan ia sedikit bangkit dari tempat duduknya."Penyusup...?! Siapa orangnya?!""Benar-benar misteri. Dia bilang tak ada cara untuk menyelidikinya dari dunia nyata."Ia mematung dalam posisi setengah berdiri, lalu menghela napas dan duduk kembali."...Aku jadi heran kenapa Dr. Koujiro tidak memberitahuku.""Karena ia tahu kau bakal langsung melancarkan aksi dive-bomb ke dalam sana pada kesempatan pertama.""Baru belakangan ini aku tahu kalau istilah slang dive-bomb yang kalian pakai belum tentu merujuk pada teknik pengeboman dari udara," komentarnya, yang mana kuanggap sebagai pertanda bahwa ia sudah sedikit lebih tenang."Ya, tak bisa kupungkiri. Kurasa aku mungkin punya kecenderungan untuk tersinggung dan kehilangan kendali dalam amarah lebih cepat daripada orang lain."Maksudmu kau tak pernah menyadarinya sebelum ini?! batinku, dengan bijak menyimpannya untuk diriku sendiri."Dengar, aku tahu rasanya tidak bisa duduk diam dalam keadaan darurat. Tapi sungguh mustahil menemukan satu individu yang bersembunyi di Underworld kalau kau tidak punya rencana untuk itu. Kau tahu itu...""Jadi orang-orang di sana akan dibiarkan mengurus diri mereka sendiri?""Sama sekali tidak. Kikuoka memanggilku untuk memintaku melakukan dive ke Underworld, sebenarnya.""...! Kalau kau pergi, maka aku juga—," ia mulai bicara, bangkit dari kursinya lagi, hingga aku mengulurkan tangan untuk menghentikannya."Tentu saja kau akan ikut denganku. Aku cuma setuju dengan syarat itu. Jangan salahkan Dr. Koujiro karena tidak memberitahumu soal penyusup tersebut. Ia memikirkan keselamatan kita di atas segalanya.""...Aku mengerti. Ia adalah salah satu orang di dunia nyata yang paling kupercayai.""Eh... apakah aku salah satunya juga?""Pertanyaan semacam itulah yang menurunkan tingkat kepercayaan orang padamu," ketusnya, tampak sangat kesal. Namun ia menambahkan pertanyaannya sendiri."Apakah cuma aku satu-satunya orang yang kauminta untuk ikut serta?""Tidak, aku... eh... juga meminta Asuna untuk ikut.""Sudah kuduga."Aku mencoba membaca raut wajahnya dari samping, tetapi aku tidak memiliki skill yang dibutuhkan untuk menafsirkan emosi yang tersimpan di sana.
Sembari kami berbincang, kano itu terus melaju di sepanjang sungai yang gelap hingga jarak tempuh kami melampaui sepuluh mil dari kota hutan kami. Rute menuju tempat tujuan kami, Reruntuhan Stiss, berjarak hampir dua puluh mil, jadi jika tak ada halang rintang yang menunda kami, kami seharusnya tiba dalam tiga puluh menit lagi.Sebelum berangkat, aku sudah banyak minum air dan makan, tetapi saat kuperhatikan sekarang, batang TP-ku nyaris turun hingga tersisa separuh. Namun selama kami berada di atas perahu, aku tak perlu khawatir akan kehabisan air.Aku mengeluarkan sebuah cangkir tanah liat dari inventarisku dan menyendokkannya ke sungai, lalu minum bergantian dengan Alice. Aku agak gugup mengambil air di tengah kegelapan, saat aku tak bisa benar-benar melihat seberapa jernih airnya, tetapi rasanya tak buruk, dan Kuro pun meminumnya juga, jadi kupikir aku takkan jatuh sakit karenanya.Sungai itu semakin lama semakin melebar, tetapi tebing-tebing curam di kedua sisinya terus membentang tanpa ujung. Sifat lanskap yang repetitif ini membuatku mengantuk.Namun tampaknya momen saat aku mulai terangguk-angguk mengantuk itulah yang tepat dipilih oleh monster-monster berwujud seperti nimfa capung dan siput kolam untuk melompat ke dalam kano dan mulai menyerang, sehingga aku batal mengemudi sambil tidur yang bisa memicu kecelakaan.Aku membiarkan petaku terus terbuka sepanjang waktu. Di sekeliling kami hanyalah hamparan warna abu-abu yang mengindikasikan medan yang belum terpetakan, terkecuali satu garis biru tipis penanda sungai. Skill Ship Handling-ku sudah naik ke level 5, yang mana membuatku bertanya-tanya apakah aku harus beralih class menjadi seorang pelaut saja.Lalu Alice berujar, "Kirito... kau dengar sesuatu?" dan Kuro mengangkat ekor panjangnya seraya menggeram, menatap lurus ke depan.Musuh? Apa ada field boss di depan sana? Aku mengamati dan memasang telinga, bulu kudukku meremang. Sepertinya ada suara yang lamat-lamat namun berat terdengar di kejauhan.Sesuatu yang menyerupai raungan binatang buas raksasa—hanya saja suaranya tak berubah-ubah. Itu hanyalah raungan yang konstan. Dan perlahan-lahan semakin mengeras."Kirito, hentikan perahunya!" jerit Alice, dan barulah aku mengerti. Memang tak mudah untuk melihatnya hanya dengan penerangan obor dan sinar bulan, tetapi permukaan sungai di depan kami tiba-tiba saja lenyap."...A-air terjun!" seruku dan mendorong dayung ke belakang sekuat tenaga. Namun kano kayu galian yang melaju dalam kecepatan penuh sangatlah sulit untuk diperlambat. Suara gemuruhnya kini sudah sangat memekakkan telinga, menenggelamkan suara kami.Kemudian sensasi melayang menyelimuti tubuhku. Nyatanya, aku memang sedang melayang. Kano itu telah melewati bibir air terjun, dan aku kini tengah terbang di udara."Waaaaaah!!" "Kyaaaaaa!!"Jeritan kami hanya bisa ditandingi oleh lolongan Kuro, "Arooooo!"
Komentar (0)
Memuat komentar...