Sword Art Online 024: Unital Ring III

Bagian 4

Estimasi waktu baca: 23 menit

"Yah, namanya juga sungai. Pasti bakal ada air terjun," komentarku, dengan air menetes dari sekujur tubuhku.
Alice bergumam lemas, "Coba saja kau memikirkan hal itu lima menit lebih awal."
"Hei, kalaupun kita tahu itu ada di depan sana, toh ada tebing di kedua sisi, jadi satu-satunya pilihan kita cuma melompat ke tepian atau mencoba mendayung melawan arus..."
"Kalau saja kita mencari, barangkali ada tempat untuk memanjat."
Kuro menimpali, "Grau!" tanda setuju, lalu mengibaskan tubuhnya kuat-kuat untuk menyingkirkan sisa-sisa air. Sebagian besar cipratan airnya mengenai diriku, tetapi hal itu sekadar mengubah kondisiku dari basah kuyup menjadi basah total, yang mana nyaris tidak ada bedanya.
"...Ngomong-ngomong, setidaknya ini tidak berujung pada bencana total. Tidak ada yang tenggelam, dan perahunya memang terbalik, tapi tidak sampai hancur."
"Kedua hal itu adalah mukjizat—itu tadi air terjun setinggi tiga puluh mel. Kau harusnya bersyukur pada Stacia kita masih hidup."
"Oke..."
Sejujurnya, hal itu agak sulit dilakukan. Bagiku, Dewi Penciptaan Underworld, Stacia, tak lain dan tak bukan adalah Asuna.
Di dalam benaknya, Alice berhasil mempertahankan konsep yang terpisah antara sosok Stacia yang selama ini ia percayai dengan Stacia sang Super-Account 01. Namun setiap kali aku memejamkan mata dan memikirkan Stacia, wajah yang terlintas di benakku pastilah wajah Asuna.
Terlepas dari itu, aku memanjatkan doa dalam hati kepada Asuna-Stacia, lalu menelaah situasi. Setelah terjatuh dari air terjun, Alice, Kuro, dan aku terseret arus sejauh beberapa ratus yard ke hilir sungai, berpegangan erat pada perahu yang terbalik, hingga kami pada akhirnya berhasil naik ke tepian.
Di bagian hilir air terjun, kedua sisi sungai telah kembali menjadi tepian daratan yang wajar, tetapi seandainya masih berupa tebing, kami mungkin bakal terseret jauh hingga ke muara sungai. Dengan asumsi memang ada laut di suatu tempat di dekat daratan ini.
Hikmah di balik semua ini adalah tempat kami terdampar di tepian rupanya tidak begitu jauh dari tempat yang awalnya ingin kami jadikan titik pendaratan. Tujuan kami, Reruntuhan Stiss, tampaknya masih berjarak sekitar tiga mil dari titik ini.
Di bawah siraman cahaya bulan, medan di depan kami berupa padang rumput datar yang mengingatkanku pada area di sekitar Town of Beginnings di lantai satu Aincrad. Kalau kami berlari cepat, kami bisa sampai di sana dalam waktu lima belas menit.
Itu berarti perkiraan waktu kedatangan kami adalah pukul delapan lewat empat puluh lima malam. Rencana awalku adalah tiba di sana pada pukul sembilan, atau paling lambat setengah sepuluh, jadi kano tersebut rupanya telah menghemat cukup banyak waktu kami.
Dengan sedikit susah payah, aku dan Alice membalikkan perahu itu kembali dan menambatkannya di tepi sungai di belakang kami. Benda itu takkan bisa masuk ke dalam inventarisku, jadi kami terpaksa harus meninggalkannya di sini. Awalnya aku berharap bisa membawanya pulang melewati rute kedatangan kami, tetapi keberadaan air terjun itu membuatnya mustahil.
Alice pasti sedang memikirkan hal yang sama, karena ia melirik ke belakang dan berujar, "Kalau memang dibutuhkan, kita terpaksa harus membongkarnya kembali demi materialnya."
"Benar juga... meskipun kutebak kita takkan mendapatkan kayu jati Zelle itu kembali."
"Karena perahu itu dipahat langsung dari gelondongannya. Aku bisa menebang yang lain, kalau memang diperlukan. Itulah alasan kita menandainya di peta."
Namun aku tahu bahwa ia sebenarnya tak ingin membongkarnya. Kami memang tak memberikan nama pada kano ini layaknya Tilnel, tetapi sebuah perahu selalu terasa lebih dari sekadar item biasa.
"Kita pikirkan cara yang lebih baik untuk mengurusnya nanti. Tapi untuk sekarang... ayo kita jalan," ujarku. Perlengkapan kami sementara itu telah mengering, jadi aku dan Alice pun melangkah pergi.

Monster kelinci dan siput yang bermunculan di padang rumput tersebut nyatanya jauh lebih lemah dibandingkan yang ada di hutan. Masing-masing kurang lebih bisa dikalahkan hanya dengan satu sword skill, tetapi mereka nyaris tidak memberikan experience sama sekali, dan item yang dijatuhkannya pun kurang menarik.
Namun seperti kata pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, dan di sepanjang pelarian kami, masing-masing dari kami berhasil naik level: level 17 untukku, level 16 untuk Alice, dan level 6 untuk Kuro. Hal itu membuat stok ability point menjadi enam, jadi aku memutuskan untuk membuka menu dan menghabiskan salah satunya.
Untuk saat ini, aku telah menaikkan Brawn ke rank 8, dan kemampuan lanjutannya Bonebreaker ke rank 1. Sebagai kemampuan second-tier, Bonebreaker membutuhkan dua poin untuk satu rank, jadi aku memutuskan untuk langsung mendongkrak Brawn ke rank 10. Aku baru saja hendak menekan tombol persetujuan, tetapi berhenti sejenak untuk mengecek Alice lebih dulu.
"Kemampuan apa saja tadi yang kauambil?"
"Aku punya Brawn di rank 10, Bonebreaker di rank 1, Assault di rank 1, dan Ironbreaker di rank 2."
"I-Ironbreaker?" ulangku.
Nama itu tidak terdengar familier bagiku, tetapi kemudian aku menyadari alasannya.
"T-tunggu... bukankah itu kemampuan tier 4? Dan kau menaikkannya dua level? Kau menghabiskan delapan poin untuk itu?!"
Bertolak belakang dengan keterkejutanku, respons Alice justru terdengar sangat santai.
"Aku suka efeknya."
"E-efek apa itu?"
"Peningkatan damage pada zirah musuh saat menyerang. Lagipula, pedang seorang Integrity Knight memang ditujukan untuk menghancurkan perisai atau zirah apa pun hanya dengan sekali ayunan."
"...Ah, benar juga..."
Di Cloudtop Garden di lantai delapan puluh Central Cathedral, aku pernah saling bertukar serang dengan Alice Synthesis Thirty. Aku ingat pernah berpikir kalau aku melancarkan kombo sword skill padanya, aku bakal punya peluang menang, tetapi Pedang Osmanthus milik Alice begitu kuatnya sampai-sampai aku tak bisa menangkisnya, dan dalam sekejap saja ia telah menjebakku hingga terpojok ke dinding.
Jiwa gamer di dalam diriku ingin mengatakan bahwa mengambil kemampuan tingkat tinggi di saat level keseluruhan masih rendah adalah penggunaan sumber daya yang tidak efisien, tetapi sejujurnya itu bukan urusanku untuk mengatakannya. Unital Ring memang bukan sekadar gim, tetapi ini tetaplah sesuatu yang kaumainkan. Cara terbaik untuk membangun karaktermu adalah dengan mengikuti suara hatimu sendiri.
"Yah, aku jadi tahu harus berpaling pada siapa saat kita berhadapan dengan musuh berzirah tebal nanti."
"Dan aku akan mengizinkanmu mengurus slime dan cacing. Aku sedang muak dengan hal-hal yang licin dan menggeliat untuk saat ini."
"Siap laksanakan," kataku, seraya bertanya-tanya sudah berapa banyak cacing pipih raksasa bermata empat yang telah ia bunuh. Aku menekan tombol ACCEPT pada pembelian Brawn-ku.
Kami tak bertemu dengan monster apa pun yang layak diperhitungkan setelah itu, tetapi kami berujung harus mengambil beberapa jalan memutar karena alasan yang tak terduga. Semakin kami mendekati tempat tujuan kami, semakin kami mulai melihat kelompok-kelompok pemain yang sedang menaikkan level dengan obor di tangan. Kalau kami berlari menghampiri mereka di tengah kegelapan, mereka bisa-bisa salah mengira kami sebagai para PKer.
Kami memadamkan obor dan menuju barat daya, waspada agar tak berpapasan dengan pemain lain. Tujuan kami mulai tampak tepat saat kami mencapai puncak sebuah bukit kecil.
Itu adalah sebuah kota bertembok raksasa yang menjulang tinggi di atas dataran bagaikan sebuah gunung kecil. Terdapat beberapa dinding konsentris yang melengkung landai, membentuk wujud menyerupai gasing terbalik. Kota yang bermandikan cahaya bulan itu tampaknya berdiameter sekitar dua pertiga mil dan memiliki tinggi enam ratus kaki. Dari segi skalanya saja, kota ini lebih besar dari Town of Beginnings.
Namun setelah diamati lebih saksama, dinding-dindingnya runtuh di beberapa tempat, dan nyaris tak ada cahaya yang terlihat. Terdapat pendaran kabut oranye tipis di bagian tengahnya, tetapi secara keseluruhan tempat itu lebih terlihat seperti sebuah dungeon ketimbang sebuah kota.
"...Jadi itulah Reruntuhan Stiss," ujar Alice dari puncak bukit.
Ia mengangkat tepi tudungnya. "Dinding itu tidak terlihat seperti runtuh secara alami. Seolah-olah pernah terjadi pertempuran besar di sana."
"Sekarang setelah kau menyebutkannya, iya juga... Ada lubang besar di tengahnya itu juga. Dinding itu kelihatannya setebal enam kaki. Kau butuh meriam untuk menghasilkan kerusakan semacam itu, kan?"
"Mungkin memang begitu adanya. Atau semacam sacred art yang setara... maksudku, sihir."
Jika dunia ini memiliki senapan musket flintlock, maka mungkin saja mereka punya meriam yang setara, semacam smoothbore muzzleloader. Mungkinkah suatu pasukan di masa lalu yang jauh pernah menyusun artileri mereka di dataran ini dan membombardir kota tersebut? Atau Alice yang benar, dan itu adalah semacam sihir tingkat tinggi...?
"Jadi... di bagian reruntuhan mana kita akan menemuinya?"
"Oh, benar juga," ujarku, teringat alasan sebenarnya kami datang jauh-jauh kemari. Mataku menyapu sisi kanan kota tersebut.
"Ummm... di bawah pohon dedalu willow besar yang berjarak lima ratus yard tepat di utara reruntuhan pada jam sembilan."
"Kalau begitu waktumu tinggal lima menit lagi."
"Kalau kita bakal telat, aku sudah mengiriminya pesan di dunia nyata, tapi kurasa kita bakal sampai tepat waktu. Kuro, kau lapar?"
Aku tak tahu seberapa banyak dari ucapanku yang bisa dipahami oleh macan kumbang itu, yang sedari tadi duduk dengan sopan di sisiku, tetapi ia mengeong "Gau!" dan berdiri.
Kupikir menemukan pohon yang dimaksud akan sulit di tengah kegelapan ini, tetapi setelah membidik arah yang tepat dan berlari ke arah selatan-barat daya, tak lama kemudian aku mendapati siluet yang sepertinya cocok dengan deskripsinya. Bahkan di dalam gelap pun, sulit rasanya untuk salah mengenali juntaian cabang pohon dedalu yang panjang itu. Tempat itu tampak seperti lokasi yang sangat pas bagi kemunculan monster tipe astral, tetapi aku percaya bahwa Argo takkan memilih lokasi angker sebagai tempat pertemuan.
Saat kami mendekati pohon tua yang berkerut itu, aku memanggil, "Hei, Argo, kau di sana?" dengan volume yang kuanggap cukup pelan.
"Kirito!" jerit Alice tiba-tiba.
"Grurrrr!" geram Kuro. Dan terakhir, sebuah suara gaib berseru, "Byohhhh!"
Secara insting aku mencengkeram gagang pedangku dan memindai area sekitar kami. Ada sesuatu yang tampak seperti batu nisan hancur di kaki pohon dedalu raksasa itu—dan semacam pendaran cahaya samar. Sesaat setelah aku melihatnya, sesosok bayangan pucat menyelinap lurus keluar dari dalam tanah. Sosok itu mengenakan gaun kuno yang compang-camping dan memiliki rambut panjang yang menutupi wajahnya serta lengan yang menjulur panjang bagaikan ranting mati. Setiap bagian tubuhnya tembus pandang.
"Ada hantu!!" seruku seraya menghunus pedangku.
Alice menyiagakan bastard sword-nya, dan Kuro memasang kuda-kuda melompatnya.
"Byohhhh!" hantu itu meraung lagi, pendar cahaya pucat nan dingin memancar dari sepasang matanya di balik poni yang menjuntai tersebut. Sejauh ini ia hanya menargetkanku, tetapi sudah ada kursor gelendong (spindle) merah di atas kepalanya. Nama di bawah batang HP-nya adalah Vengeful Wraith (Roh Pendendam).
Bahasa Inggris, ya? batinku menyadarinya. Nama-nama semua monster lain yang pernah kami temui sebelumnya berupa deskripsi dalam bahasa Jepang. Satu-satunya pengecualian lain dari pola ini adalah katak penyembur api di dalam dinding raksasa itu, Goliath Rana. Jika memang ada aturan bahwa semua monster tipe bos memiliki nama dalam bahasa Inggris, maka aku tidak boleh memandang sebelah mata roh ini.
Wraith itulah yang mengakhiri aksi saling tatap kami.
"Byohhh!" ratapnya, meluncur ke samping di udara sebelum menerjang ke arahku. Sebuah tangan dengan kuku yang panjang dan tajam mengayun cepat ke arah leherku.
Aku bereaksi dengan gesit, mengangkat pedangku dan melompat mundur. Aku memilih untuk menjaga jarak di antara kami, semata-mata karena aku tidak yakin apakah aku bisa menangkis serangannya.
Firasat itu seketika terbukti benar, karena tangan wraith itu menghantam pedangku, melambat sesaat, lalu melesat menembusnya begitu saja dengan efek menyerupai kepulan asap.
"Whoa...!"
Aku terhuyung ke belakang di udara. Cakar tajamnya meleset hanya satu inci dari tenggorokanku, meninggalkan lima garis pucat yang menggantung di udara.
Begitu kakiku menjejak tanah, aku melancarkan tusukan balasan. Ujung longsword besi unggulku mengenai sisi tubuh wraith itu, tetapi ini pun menghasilkan efek kepulan asap yang sama dan tidak memberikan umpan balik fisik apa pun. Hanya beberapa piksel yang berkurang dari batang HP-nya, tidak lebih.
"Alice, serangan fisik nyaris tidak mempan padanya!" peringatku, kembali mundur menjauh.
"Memang begitulah cara kerja hantu!" balasnya.
Hantu tidak eksis di Underworld—meskipun aku pernah berhadapan dengan sesuatu semacam roh hidup di sana—jadi dia pasti mempelajarinya dari ALO. Yah, semoga saja bukan dari pengalamannya di dunia nyata...
Apa pun itu, ada dua metode umum untuk menghadapi musuh tipe astral yang kebal terhadap serangan fisik. Entah kau menggunakan mantra serangan, seperti sihir api atau cahaya, atau kau menggunakan senjata yang telah diberi enchantment (sihir penguat) tertentu.
Tak satu pun dari metode itu yang bisa jadi pilihan saat ini. Aku yakin Pedang Suci, Excalibur, bisa mengusir hantu ini hanya dengan satu tebasan, tetapi pedang itu tertinggal di pondok, dan aku pun belum bisa mengangkatnya dengan statusku saat ini.
"Byohhhh..."
Mulut wraith yang robek itu menganga membentuk senyuman mengejek. Namun pemandangan itu memicu sebuah pemikiran di benakku.
Apa yang terjadi pada orang yang akan kami temui di pohon dedalu ini, Argo si Tikus? Ia tak terlihat di mana pun. Argo memang lincah, tapi ia takkan punya peluang melawan wraith sekeji ini sebagai karakter level 1 yang baru saja dikonversi.
Apakah Argo sudah mati sebelum kami tiba di sini? Apakah ia telah diusir selamanya dari dunia Unital Ring? Ketakutan terburukku membuatku mematung sesaat, dan wraith itu tidak menyia-nyiakan kesempatannya.
"Byoaaa!"
Makhluk itu amblas ke dalam tanah hingga sebatas pinggang, lalu menerjang dari ketinggian tersebut. Reaksiku terlambat, tetapi aku berhasil menyilangkan pedangku dengan lengan kirinya; kendati demikian, ayunan cakarnya yang mengarah ke atas dari arah tanah menembus bilah pedang dan sarung tanganku, mengoyak lengan bawahku dalam-dalam.
Aku merasakan sengatan yang mematikan rasa dan hawa dingin yang menusuk. Lebih dari 10 persen dari batang HP-ku terkuras, dan sebuah ikon Debuff yang menyerupai kristal es muncul. Itu adalah tanda damage pembekuan berkelanjutan, efek yang menimpa kami saat badai es di sabana waktu itu.
"Sialan!" umpatku.
Alice mencengkeram bahuku dan menarikku ke belakang agar ia bisa menggantikan posisiku.
"Yaaaa!" teriaknya, bastard sword-nya bersinar di tangannya.
Itu adalah tebasan horizontal yang brilian dan berat yang mengingatkanku pada masa-masa lamanya sebagai Integrity Knight. Bastard sword itu, yang dua atau tiga inci lebih panjang dari pedangku, mengenai tubuh si wraith, tetapi serangannya hanya membelahnya bagaikan asap dan nyaris tidak memberikan damage berarti.
Selanjutnya, Kuro melompat menerjang si wraith, menancapkan taring besarnya ke bahu makhluk itu. Serangan fisik tersebut memberikan efek yang sedikit lebih besar ketimbang pedang besi kami, menguras sekitar 3 persen dari HP-nya, tetapi wraith itu takkan tumbang tanpa perlawanan.
"Byohhh!" ia melolong penuh amarah, menusukkan kedua set kukunya ke punggung Kuro.
"Gyipe!" pekik macan kumbang itu, efek damage merah bertaburan saat ia melompat menjauh. Kuro juga kehilangan lebih dari 10 persen HP-nya, dan menderita Debuff pembekuan yang sama.
Aku berusaha mengabaikan sensasi dingin yang menusuk tulang itu seraya bergegas menghampiri dan melingkarkan lengan kiriku di atas punggung Kuro yang melengkung. Aku tak menganggap diriku sebagai seorang beast-tamer sejati, dan keberhasilanku menjinakkan binatang kemarin hanyalah murni keberuntungan, tetapi gagasan kehilangan hewan peliharaan baruku hanya dalam sehari membuatku begitu ketakutan hingga kakiku gemetar.
Kalau begini terus, kami takkan punya peluang menang. Haruskah kami mundur untuk saat ini? Apakah mungkin bisa kabur dari musuh yang bergerak begitu cepat di udara? Dan ngomong-ngomong, apakah wajar ada musuh seberbahaya ini ditempatkan hanya lima ratus yard dari titik spawn awal permainan?
Kami adalah petarung garis depan di level 16 dan level 17 dengan hewan peliharaan yang berfokus pada pertarungan, tetapi kami harus berjuang mati-matian mempertahankan nyawa kami. Karakter yang benar-benar baru keluar dari kota pastinya takkan punya peluang sedikit pun. Apa tujuannya menempatkan wraith ini di sini...?
Aku bimbang, tak bisa memutuskan apakah harus terus bertarung atau menyerah saja, ketika aku mendengar sebuah suara dari belakangku: "Kiri-boy! Dia lemah terhadap api!"
Sesuatu yang berkilau terbang melesat ke arahku. Itu adalah cincin api—bukan, sebuah obor yang berputar. Aku nyaris tak berhasil menangkap proyektil yang memercikkan bunga api itu dengan tanganku yang bebas.
"Alice, aku butuh lima detik!" teriakku.
"Akan kuberikan sepuluh detik!" sahutnya dengan berani.
Aku menjatuhkan pedangku dan membuka menu secepat yang kubisa. Di inventarisku, hanya tersisa satu botol minyak biji rami. Aku mengeluarkannya, membuka sumbat gabusnya dengan ibu jari, dan menuangkan isinya ke pedangku. Begitu minyak itu melapisi kedua sisi bilah pedang, aku membuang botolnya dan kembali berdiri.
Alice baru saja menepis wraith itu dengan bastard sword-nya. Makhluk itu nyaris tidak kehilangan HP sedikit pun, seperti biasa, tetapi ayunan tersebut nyatanya berhasil memukul mundur wraith itu sedikit, alih-alih sekadar menembusnya. Setelah kuperhatikan lebih saksama, aku menyadari bahwa Alice memegang pedangnya tegak lurus dan menghantamkan pangkal sisi datarnya, alih-alih menebas.
Sangat menarik, batinku, lalu memberikan komando.
"Alice, switch!" Sang kesatria dengan sigap melompat menyingkir seraya aku menyulutkan obor ke arah pedangku.
Dengan bunyi wuussh, minyak itu tersulut api, menyelimuti bilah pedang dengan kobaran api merah yang menyala-nyala. Ini adalah cara tercepat dan termudah untuk memberikan atribut api pada pedangku, tetapi waktu efektifnya akan jauh lebih singkat ketimbang enchantment sihir, dan kalau aku mengayunkannya terlalu liar, aku bisa-bisa memadamkan apinya.
"Byuueee!" erang sang roh pendendam, mengangkat tangannya dan mundur menjauh dari obor dan pedang api tersebut. Namun inilah kesempatanku.
Jangan padam! desakku pada senjataku, mengangkat pedang api dadakan tersebut. Warna merah kobaran api dan warna kuning-hijau efek skill-ku berpadu.
"Hah!" Aku melompat sembari memekik. Sonic Leap aktif, dan aku melesat menembus kegelapan, melancarkan tebasan di sepanjang pergerakanku.
"Byohhh!!"
Wraith itu menjulurkan tangan kanannya. Sebuah sigil yang rumit muncul, dan jarum-jarum bercahaya melesat dari kelima jarinya.
Serangan sihir... tapi kalau aku mencoba beralih ke posisi bertahan, itu akan membuat sword skill-ku gagal. Memercayakan zirah buatan Lisbeth untuk menjalankan tugasnya, aku mengabaikan jarum-jarum itu dan melanjutkan terjanganku.
"Raaah!" Aku bisa merasakan tiga jarum menancap di tubuhku di tempat yang berbeda seraya aku mengayunkan pedang. Senjata apiku menahan lonjakan kecepatan dari Sonic Leap dan menebas tubuh hantu itu mulai dari bahu kirinya hingga ke pinggang kanannya.
"Byaaaaah!" pekik si wraith, menarik diri mundur.
Batang HP-nya merosot drastis. Segala ketahanan alotnya itu kini tinggal sejarah, karena HP-nya seketika turun melewati separuh ke angka 40 persen... 30... dan berhenti di 25.
Asap putih mengepul dari bagian tubuh atas si wraith yang telah kutebas menjadi dua, menyambungkan kedua bagian itu kembali bagaikan lem. Aku ingin memberikan serangan penyelesaian, tetapi nyala api pedangku meredup, dan aku belum bisa bergerak usai menggunakan sword skill.
Tepat pada saat itulah seseorang merebut obor dari tangan kiriku dan menjejalkannya ke dalam celah yang mulai menutup di bagian perut si wraith.
Seketika setelah itu, kedua belahan itu menutup rapat. Namun obor yang terjebak di antara keduanya masih menyala dan kobarannya semakin membesar seraya membakar bagian dalam si wraith.
"Byohhhhhhhh!" jerit sang musuh gaib, menggeliat kesakitan, hingga bahkan pekikannya pun berubah menjadi api. Kobaran api menyembur dari matanya. Batang HP-nya terus menyusut, dan kali ini mencapai angka nol.
Substansi astral putih dan kobaran api merah menciptakan efek semburat layaknya marmer saat keduanya membesar menjadi sebuah ledakan yang mengguncang tanah di bawah kakiku. Tak mungkin monster kroco sembarangan punya efek kematian sespektakuler ini.
Untuk sesaat terakhir, aku sempat berpikir, Lalu buat apa mereka menaruh bos sialan di sini?! dan kemudian pikiran itu lenyap dari benakku. Ada pendar cahaya biru kecil di titik tempat wraith itu meledak. Cahaya itu perlahan mulai naik, mendekati percabangan pohon dedalu.
"T-tunggu!" seruku, memanjat batang berkerut pohon itu dengan panik. Begitu aku mencapai bagian batang yang terbelah dua, aku mencondongkan tubuh ke belakang dan melompat sekuat tenaga. Jemari tanganku yang terentang nyaris saja menyentuh cahaya biru itu. Cahaya itu membesar dan meletus bagaikan gelembung, dan aku melakukan salto ke belakang ganda sebelum mendarat kembali ke tanah.
Sembari menghela napas lega, aku menoleh ke arah pemain yang telah menghabisi sang roh pendendam lewat aksi akrobatik dengan obor itu. Zirah kulit sederhana berwarna cokelat pasir. Belati kecil di pinggul kiri. Rambut pendek tak beraturan sewarna jerami. Sepasang mata besar berwarna cokelat muda.
"Hei, Ar—" Aku terpaksa menghentikan ucapanku di tengah kalimat. Kaki avatar kecil itu diselimuti oleh cincin-cincin cahaya biru yang berpendar—pertanda kenaikan level. Tiga cincin, empat, lima, enam... Akhirnya, cincin-cincin itu berhenti bermunculan setelah hitungan ketujuh.
"Yah, makasih atas bantuannya sampai ke level 8. Nggak nyangka bakal dapat sebanyak itu."
"Yah, pastinya dong. Manuver tadi itu memang sepadan dengan imbalan sebesar itu... tapi bukan itu yang mau kubilang."
Aku menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Alice dan Kuro baik-baik saja sebelum melanjutkan, "Argo, kenapa kau menyuruh kami menemuimu di tempat seberbahaya ini? Kau sempat membuatku berpikir kalau wraith itu sudah membunuhmu."
"Aku malah berasumsi itu adalah jebakan yang ditujukan untuk membunuh kita," cetus Alice seraya melangkah mendekat.
Argo meringis. "Yah, kurasa aku nggak bisa menyalahkan kalian karena curiga," ujarnya, melompat maju agar bisa mendongak menatap Alice, yang lebih tinggi setengah kepala darinya.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa avatar Argo ini terlihat jelas lebih muda ketimbang penampilannya di dunia nyata. Entah mengapa, hal itu terasa lebih familier bagiku ketimbang aneh atau canggung. Lagipula, itu adalah avatar yang sama persis dengan yang dimiliki Argo di SAO. Namun kemarin, dia pernah bilang...
"Tunggu, bukankah kau bilang kau tak pernah menyalin data karakter SAO-mu ke ALO?"
"Yap, aku memang bilang begitu. Aku membuat karakter yang benar-benar baru dari nol untuk menemui Chrysheight. Aku sebenarnya bisa saja membawa akun yang itu ke sini... tapi kalau aku bakal berpetualang bareng kau dan A-chan, kupikir penampilan yang ini yang terbaik."
"Artinya... kau memindahkan karakter SAO-mu ke ALO untuk pertama kalinya hari ini lalu log in ke sini menggunakan karakter itu...? Ras peri mana yang kaupilih?" tanyaku, meneliti kepala dan kulitnya secara saksama.
"Jangan menatapku intens begitu dong," keluhnya seraya meringis.
"Aku tak sempat mendapat kesempatan untuk memilih ras. Aku mencoba masuk ke ALO, dan gim itu malah langsung melemparkanku kemari. Aku sadar-sadar sudah berpakaian seperti ini."
"Ohhh... jadi kurasa kau murni manusia. Atau setidaknya, manusia menurut istilah Aincrad... Aku membayangkan pihak Ymir pasti sedang kacau balau, melihat ALO direnggut dari kendali mereka seperti ini. Aku malah kaget sistemnya tetap mengizinkanmu memindahkan datamu."
"Itulah intinya," ujarnya.
"Aku memasukkan ID dan kata sandi SAO-ku ke situs web Ymir, dan begitu aku menekan tombolnya, mereka langsung mengirimkan ID baru. Tidak ada orang yang menangani proses itu secara manual."
"Hah... padahal dulu mereka melakukannya secara manual lho. Kurasa mereka telah mengotomatiskan prosesnya di suatu waktu," gumamku, terkejut. Aku mengangkat bahu, menyimpulkan hal itu tidak terlalu penting.
"Omong-omong, kau belum menjawab pertanyaan awalku."
"Ah, soal alasan aku memilih tempat ini buat janjian?" ujar Argo, melirik ke arah pohon dedalu raksasa tersebut. Ia meringis tipis.
"Kurasa untuk kali ini aku nggak mengerjakan PR-ku dengan baik. Di salah satu wiki UR yang lagi digarap orang-orang itu, ada unggahan peta area ini, dan ada tanda pohon dedalu di atasnya, lengkap dengan keterangan aman di sini, tidak ada monster muncul yang kelewat membantu."
"Hah?! Apanya yang aman...?! Pemain level rendah mana pun takkan punya harapan hidup!" protesku. Alice mengangguk, dan bahkan Kuro ikut menggeram tanda setuju.
Argo memperhatikan Kuro dan berkata, "Macan kumbangmu itu keren juga. Peliharaannya siapa?"
"Milikku. Sebagai si Tikus, kok bisa-bisanya kau takut pada anjing tapi biasa saja dengan kucing?"
"Tumben kau ingat. Asal kau tahu saja ya, anjing itu juga berburu tikus. Secara harfiah memang ada ras anjing yang namanya rat terrier."
"Oh, wow... tapi siapa peduli soal itu? Aku sedang bicara soal si wraith! Memangnya wiki strategi yang kau cek itu keliru soal hal ini?"
"Sepertinya sih nggak begitu menurutku. Coba lihat ini." Argo membuka ring menu-nya dan beralih ke jendela quest.
Ternyata sudah ada tiga quest di sana. Judulnya adalah Melindungi Kelinci (Rekomendasi Level: 1), Item Hilang di Selokan (Rekomendasi Level: 3), dan Kutukan Roh Kuno (Rekomendasi Level: 20).
"Tunggu, jangan-jangan yang itu?! Jadi wraith tadi adalah bos quest?!"
"Sepertinya begitu. Bos itu nggak bakal muncul kecuali kau sudah mengambil quest-nya dan memenuhi persyaratannya."
"Tapi baik Kirito maupun aku tidak mengambil quest ini," tunjuk Alice. Aku mengangguk. Untuk berjaga-jaga, aku mengecek daftar quest-ku sendiri. Kosong.
Kami menatap Argo. Sang pialang informasi itu tampak menyesal.
"Kutebak ini murni kombinasi kebetulan saja."
"Hah...?"
"Aku datang kemari sekitar sepuluh menit sebelum waktu janjian kita jam sembilan. Nisan di kaki pohon dedalu itu mulai bercahaya, dan lalu..."
Ia menunjuk pada penanda makam kecil berlumut tersebut, yang diterangi oleh sinar bulan di atasnya. Tak ada satu pun dari nisan itu yang tampak mencurigakan untuk saat ini, tetapi seingatku nisan itu memang memancarkan pendaran cahaya pucatnya sendiri saat kami pertama kali tiba.
"...Nisan itu cuma menyala, nggak ada monster atau apa pun itu, tapi perasaanku bener-bener nggak enak soal itu. Aku sempat kepikiran buat ngasih tahu kalian dan mengubah tempat ketemuan kita, tapi aku nggak mau asal log out di sini saja, jadi aku mencoba kembali ke reruntuhan. Terus aku mendengar suara-suara mengerikan di belakangku dan saat aku menoleh aku melihat... makhluk ini."
"Aha... jadi memiliki quest itu berarti kau mengaktifkan nisannya, dan kami pasti telah memenuhi suatu persyaratan yang memicu wraith itu untuk muncul. Apa kriterianya?"
"Rupanya, syaratnya adalah kau harus membawa item perak yang termaterialisasi di tubuhmu."
"Hah? Perak...?"
Aku menutup jendelaku dan mengecek segelintir item yang kusimpan di saku dan kantongku.
"...Aku tidak bawa barang semacam itu."
Saat aku melebur Blárkveld-ku dari ALO, aku mendapatkan beberapa ingot perak unggul, tetapi aku telah memberikan semuanya pada Lisbeth, dan kalaupun aku masih menyimpannya, aku tak punya alasan untuk memegangnya sebagai item fisik.
"Oh... mungkin aku orangnya," ujar Alice, menyadari sesuatu. Ia mengecek ke dalam kantong kain di pinggangnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah karung kulit kecil yang bergemerincing, yang di dalamnya terdapat sebuah lingkaran pipih kecil. Ia menjatuhkan objek perak berkilau itu ke atas telapak tanganku.
"Sebuah koin perak...?"
Koin itu sudah usang dan pudar, tetapi aku harus berasumsi benda itu bukan terbuat dari aluminium maupun nikel. Dari segi ukuran dan ketebalan, koin itu mengingatkanku pada koin 100 yen. Dan faktanya, di satu sisi tertera angka 100, dan di sisi lainnya terdapat desain dua batang pohon. Aku mengetuknya, dan jendela propertinya menampilkan teks 100-el Silver Coin, Mata Uang, Berat: 0,1.
"...Seratus el... Asal kau tahu, ini koin pertama yang kulihat di sini..."
Hampir semua monster yang kami bunuh sejauh ini adalah tipe hewan, dan mereka menjatuhkan material seperti taring dan kulit hewan, tetapi tidak pernah menjatuhkan uang. Aku mendongak dan mengembalikan koin itu pada Alice.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanyaku.
"Sinon yang memberikannya padaku sebelum kita meninggalkan Kota Kirito. Ia berpesan, 'Kalau ada toko NPC di Reruntuhan Stiss, tolong belikan aku semua amunisi musket dan bubuk mesiu yang bisa dibeli dengan uang ini.'"
"Ahhh, begitu ya..."
Kami bisa memulihkan ketahanan pedang kami dengan mengasahnya, tetapi jika Sinon kehabisan peluru musket dan bubuk mesiu, tamatlah riwayatnya. Kaum Ornith yang memberinya senapan itu juga telah mengajarinya cara membuat amunisi dan bubuk mesiunya, tetapi ia bilang bahwa salah satu materialnya hanya bisa dipanen jauh di kedalaman Sabana Giyoru.
Senapan Sinon adalah senjata yang berharga dalam pertempuran, jadi awalnya aku berharap bisa membantunya mendapatkan lebih banyak peluru sebelum ia kehabisan, tetapi jika kami bisa membelinya di toko, itu akan jadi opsi terbaik.
Akan tetapi...
"Hmm, aku nggak ingat ada tempat yang jual peluru dan bubuk mesiu," sahut Argo, memupus harapanku.
"Sebagian besar tempat ini murni reruntuhan betulan, lengkap dengan monster dan semacamnya, tapi ada kota yang lumayan layak tepat di tengah-tengahnya. Ada beberapa toko NPC juga. Tapi mereka cuma menjual peralatan sederhana dan makanan. Itu ditambah perlengkapan awal (starter gear)."
"Eh... makanan? Seperti apa misalnya?" tanyaku, sadar bahwa kami perlu segera memulihkan SP kami. Argo hanya menggelengkan kepalanya.
"Yah, itu salah satu bagian dari dirimu yang nggak ada bedanya sama sekali baik di dunia nyata maupun dunia virtual."
Alice terkikik. "Jadi teringat waktu kau mengeluarkan bakpao kukus itu dari sakumu... Ngomong-ngomong, Kirito, maukah kau memperkenalkan kami?"
"Hah...? Oh! Benar, kalian kan belum pernah bertemu sebelumnya."
Aku berdeham canggung, menerka-nerka bagaimana aku harus mendeskripsikan mereka satu sama lain.
Ini tidaklah mudah.

Komentar (0)

Memuat komentar...