Sword Art Online 024: Unital Ring III

Bagian 5

Estimasi waktu baca: 32 menit

Kendati kami tak pernah memperhitungkan pertarungan ekstra tersebut, aku toh tetap berhasil menemui Argo persis seperti rencana kami di kereta tadi siang. Ide awalku sebenarnya adalah langsung bertolak kembali menuju Hutan Besar Zelletelio.
Namun Argo menyatakan bahwa ia ingin masuk kembali ke dalam Reruntuhan Stiss. Ada dua alasan untuk itu. Yang pertama adalah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan quest The Ancient Spirit’s Curse.
Yang kedua adalah untuk menyusup ke dalam ajang kumpul-kumpul kelompok pemain ahli strategi yang rencananya bakal digelar di pusat reruntuhan pada pukul sepuluh malam.
"...Dengar, aku juga penasaran... tapi apa acara kumpul-kumpul kecil ini terbuka untuk pihak luar juga?" tanyaku. Kami tengah berjalan menuju gerbang utara Reruntuhan Stiss.
Argo memilin rambut dengan jemarinya seraya menjawab, "Oh, santai saja. Bakal ada nyaris seratus orang di sana. Walaupun mungkin kita perlu sedikit merombak penampilan kita."
"Benar juga... ini sudah jelas bukan perlengkapan awal starter gear, dan tak terlihat seperti bawaan dari ALO juga," ujarku, menunduk menatap zirah logam sederhana yang tengah kukenakan. Lalu sesuatu terlintas di benakku.
"Sebenarnya kita bisa melepas zirah ini saja, tapi bagaimana dengan Kuro? Dia bakal sangat mencolok perhatian."
Di sebelah kananku, Kuro melangkah dengan anggunnya, seekor binatang buas nan gagah yang panjangnya dengan mudah melampaui tujuh kaki dari ujung kepala hingga ujung ekor. Aku bisa berasumsi bahwa nyaris belum ada pemain yang memiliki hewan peliharaan mereka sendiri, jadi seekor macan kumbang sudah pasti akan memancing atensi.
"Ah, poin yang bagus... Ada banyak rumah kosong di sana, jadi mungkin kau bisa menitipkannya di sana untuk menunggu kita?"
"Kurasa itu bisa jadi salah satu opsi..."
Selama aku berada di sekolah, Kuro rupanya sanggup bermain dengan hewan jinak lainnya, berpatroli keliling kota, dan tidur siang dengan sendirinya.
Berpisah lebih dari delapan jam dari pemiliknya nyatanya tak sampai membatalkan efek beast-taming, jadi kupikir terpisah selama tiga puluh menitan seharusnya tidak jadi masalah, tetapi aku tak urung merasa cemas juga, apalagi di wilayah yang asing ini, dengan begitu banyaknya pemain lain yang berlalu-lalang.
"Kalau begitu, aku akan tinggal bersama Kuro," cetus Alice dari sebelah kiriku.
Aku menoleh ke arahnya. "Kau yakin?"
"Aku tak suka berada di tengah kerumunan. Sebagai gantinya, kau bisa mengurus pesanan belanja Sinon untukku," ujarnya, seraya menyodorkan karung kulit dan koin tersebut. Aku menyelipkannya ke dalam kantong di sabukku.
"Tentu, tentu saja aku bisa melakukannya... tapi perasaanku mengatakan kita takkan menemukan peluru maupun bubuk mesiu."
"Kalau memang tak ada, ya tak ada. Asal jangan kau menggelapkan uang itu dan menghabiskannya untuk beli makanan."
"Aku ini bukan anak kecil," bantahku.
Argo terkikik pelan.
Aku memasukkan seluruh zirah logamku kembali ke dalam penyimpanan dan menggantinya dengan mengenakan jubah linen kasar yang membalut pakaianku. Penampilan itu membuatku terlihat layaknya pemain level rendah yang baru saja kehilangan perlengkapan warisan kerennya pasca berakhirnya grace period.
Alice toh sedari tadi sudah mengenakan jubah berkerudungnya, jadi penampilannya tak banyak berubah meski zirahnya dilepas. Kami tetap menyiagakan pedang kami karena rasanya terlalu waswas jika tak membawanya, tetapi jubah itu sukses menyembunyikan sebagian besar wujudnya.
"Yaaah, astaga, aku juga pengin jubah berkerudung kayak gitu satu. Rasanya ada yang kurang kalau wajahku terekspos terus-terusan," keluh Argo saat kami mendekati gerbang utara Reruntuhan Stiss. Tanah di sekitar kami terasa padat dan keras. Nyaris tak ada tumbuhan yang hidup di sini.
"Harusnya kau bilang dari tadi. Kita bisa membuat kain semacam ini di tempat yang punya banyak rumput untuk dicabut."
"Benarkah? Itu beneran terbuat dari rumput?"
"Yah, bukan sembarang rumput sih."
"Kalau begitu, kasih jubahmu itu buatku."
"T-tidak bisa!" protesku.
Alice membuka ring menu-nya. "Aku yakin masih ada sedikit kain yang tersisa. Aku bisa membuatkanmu jubah berkerudungmu sendiri."
"Benarkah? Kau yakin, Alicchi?"
"Ayolah, jangan memberinya julukan seenaknya begitu."
"Hi-hi, aku tidak keberatan kok. Menyenangkan juga punya nama panggilan khusus," ujar Alice dengan murah hati. Ia membuka menu perakitan Tailoring-nya dan menekan beberapa tombol, dan seketika itu juga, sebuah jubah berkerudung abu-abu muncul di atas jendela melayangnya.
"Wow, cuma dengan ketukan tombol, ya? Praktis dan mudah," puji Argo, merasa terkesan.
"Cuma item sederhana semacam ini saja yang bisa dibuat langsung dari menu," peringat Alice, menyerahkan jubah itu padanya.
"Ini untukmu, Argo."
"Makasih, Alicchi. Aku nggak bakal lupa utang budi ini padamu," pungkas Argo, lalu mengenakan jubah tersebut untuk menutupi zirah kulit yang pastinya ia bawa dari ALO. Saat kerudungnya dinaikkan, ia terlihat persis seperti si Tikus dari masa-masa SAO dulu—hanya saja di kedua pipinya tak ada gambaran tiga helai kumis tersebut.
Aku baru saja berpikir bagaimana aku bakal menahannya dan menggambar kumis itu seandainya aku punya spidol permanen, ketika ia tiba-tiba memelototiku.
"Kiri-boy, kau nggak seharusnya menatap seorang wanita sampai segitunya."
"M-maaf," gumamku dan kembali menatap ke depan.
Dari dekat, Reruntuhan Stiss ternyata jauh lebih besar dari yang pernah kubayangkan. Dinding luarnya saja pasti setinggi seratus kaki. Setiap balok batu yang membentuk struktur itu memiliki panjang sisi lebih dari tiga kaki, tetapi aku sama sekali tak bisa menebak bagaimana mereka menyusunnya sedari awal—maupun bagaimana dinding itu bisa hancur.
Ornamen pada gerbang itu sangat rumit dan mengisyaratkan bahwa, sebelum kehancurannya, kota ini pastilah sama indahnya dengan ukurannya yang masif. Namun kini tak ada lagi warga sipil maupun saudagar yang berlalu-lalang melewati gerbang tersebut.
Yang mengejutkanku, aku juga tak melihat satu pun pemain. Setidaknya lima ribu pemain pasti telah dikonversi ke dalam Unital Ring dari ALO, dan hampir semuanya seharusnya masih aktif di sekitar reruntuhan ini.
Waktu telah menunjukkan lewat pukul sembilan malam, yang mana merupakan prime time bagi para pemain VRMMO. Awalnya aku berharap bisa melihat para pemain yang berangkat berburu ke alam liar dan kembali untuk mengisi ulang perbekalan. Saat aku mengutarakan hal ini, Argo memiliki jawaban yang sangat sederhana.
"Oh, itu karena gerbang utara nggak terlalu populer."
"Hah? Populer?"
"Setidaknya menurut wiki yang sama tadi sih. Jalurnya terlalu rumit, jadi gerbang ini nggak menawarkan akses mudah ke pusat kota, ditambah lagi monster jarang banget muncul di sebelah utara reruntuhan. Makanya aku pilih tempat ini sebagai titik kumpul kita, sebenarnya."
"Aha... tapi biarpun begitu, masa iya tak ada satu orang pun...?"
"Dengar ya, Kiri-boy. Nggak semua pemain ALO—atau pemain dari gim Seed lainnya—masih mainin gim ini. Menurutku, jumlahnya kurang dari separuh... mungkin sepertiganya. Sisanya cuma sekadar menunggu waktu, menanti situasi ini kelar dengan sendirinya. Termasuk para pemimpin peri di ALO."
"......"
Setelah ia mengatakannya, hal itu memang terdengar seperti respons yang jauh lebih masuk akal. Insiden UR sejatinya memang murni itu—sebuah insiden. Mengingat para pemain membayar biaya bulanan pada berbagai perusahaan yang mengelola VRMMO mereka, pada dasarnya ini bisa dibilang tindakan kriminal.
Hanya orang-orang yang benar-benar kecanduan gim daring yang bisa cukup optimis atau egois untuk benar-benar mengikuti pengumuman tentang "tanah yang disingkap oleh cahaya surgawi" tersebut padahal kau tak tahu apakah hal itu benar atau tidak. Itu artinya orang-orang yang perkumpulannya tengah coba kami susupi adalah mereka yang memiliki pola pikir semacam itu. Orang-orang seperti Mocri dan Schulz. Orang-orang yang menanggapi hal ini kelewat serius.
Tanpa sadar, aku telah menghentikan langkahku, dan aku mendongak mendapati bahwa Alice, Argo, dan Kuro sudah berada jauh di depan, menungguku.
"Oh... maaf," gumamku, kembali mempercepat langkah.
Setelah melewati gerbang yang setengah runtuh tersebut, aku merasa suhu tubuhku menurun. Jalan batu yang lebar itu hanya terbentang sejauh beberapa lusin yard sebelum menabrak dinding lain dan bercabang ke kiri dan kanan.
"Seingatku ada rumah kosong yang berguna di sekitar sini," ujar Argo, mengambil alih pimpinan. Kami mengikutinya tanpa banyak protes.

Rumah-rumah di dalam Reruntuhan Stiss dibangun seolah-olah menempel pada bagian dalam dinding kastel yang berlapis-lapis itu. Sungguh cara yang buruk untuk mendapatkan sinar matahari kalau kau bertanya padaku, tetapi rasanya mustahil itu jadi alasan mengapa kota ini jatuh dalam kehancuran.
Bangunan-bangunan itu adalah apartemen batu megah yang tampak mengingatkan pada beberapa kota kuno besar di Eropa, tetapi hampir semuanya telah runtuh berantakan, sama seperti dindingnya. Kami bergegas melewatinya karena tampaknya monster serangga dan hama telah bermukim di sebagian besar bangunan tersebut.
Rumah tempat Argo membawa kami memiliki lubang menganga di langit-langitnya, tetapi pintu depan dan tangga di dalamnya masih utuh, menyisakan satu ruangan di lantai dua yang bisa digunakan. Argo dan aku meninggalkan Alice dan Kuro di sana, lalu melangkah menuju pusat reruntuhan.
Rangkaian belokan ke kanan dan ke kiri yang rumit melintasi jalanan itu membuatku benar-benar kehilangan arah, tetapi Argo pastilah memiliki semacam indra khusus untuk hal-hal semacam ini, karena ia terus membawa kami melangkah tanpa ragu sedikit pun.
Setelah kami berjalan menempuh jarak yang terasa seperti sepertiga mil, sebuah jalur air pun tampak. Jalur air itu berfungsi layaknya semacam garis batas; sesaat setelah kami dengan waswas melintasi jembatan yang mulai runtuh itu, area tersebut seketika terlihat berbeda.
Di sini, terdapat dudukan obor besi cor pada interval yang teratur, dengan nyala api oranye yang berkelap-kelip. Jauh di baliknya, toko-toko kecil di tepi jalan bermunculan di sana-sini, dan semakin banyak NPC serta pemain yang mulai terlihat.
Tidak seperti di SAO, di Unital Ring kau tidak bisa memanggil kursor target hanya dengan menatap seseorang, tetapi para NPC itu semuanya memiliki kulit pucat pasi bak mayat dan mengenakan tunik bergaya Romawi, jadi mudah saja untuk membedakan mereka. Semua toko menjual material berkualitas rendah, dan tak ada peluru maupun amunisi yang dijual.
"Kaum Bashin kelihatannya sangat bugar dan sehat, tapi semua NPC di sini pucat banget...," gumamku.
Argo mengangkat bahu. "Yah, bisa dipahami sih. Kau pastinya bakal jadi pucat, kalau tinggal di tempat semacam ini."
"Jujur saja, mereka terlihat seperti ras yang benar-benar berbeda. Ras apa sih NPC di sini?"
"Nggak tahu... Nyaris mustahil buat menebak apa yang para NPC ini omongin. Coba saja bicara dengan mereka, nanti kau bakal tahu. Satu-satunya pengecualian cuma para penjaga toko."
"Ahhh, begitu ya..."
Itu berarti sama saja dengan kaum Bashin dan Patter. Menurut Sinon, NPC yang bisa kauajak bicara akan mengajarimu beberapa kosakata, dan mengulangi pelafalannya dalam jumlah yang cukup akan membantumu mempelajari language skill mereka.
Pasti bakal menyenangkan kalau pada akhirnya bisa menguasai semua bahasa suku yang berbeda, tetapi berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk itu? Aku tengah merenungkan pemikiran ini ketika kedai-kedai jalanan itu mulai bertransisi menjadi toko-toko interior kecil: toko item, obat-obatan, dan senjata.
"Kau keberatan kalau kita masuk ke toko senjata itu?" tanyaku.
"Sudah kulihat-lihat ke dalam sana. Nggak ada peluru, nggak ada bubuk mesiu, dan tentu saja, nggak ada senapan."
"...Nggak heran juga sih."
Itu artinya kami harus pergi ke Sabana Giyoru untuk mendapatkan bahan-bahan pembuat bubuk mesiu. Di sini, distrik komersial kecil itu berakhir setelah sekitar lima puluh yard, saat sebuah lengkungan agung mulai terlihat. Setelah melewatinya, kami pun tiba di pusat Reruntuhan Stiss.
Ruang melingkar itu dikelilingi oleh bangunan-bangunan besar layaknya puri kastel dan gereja, dengan sebuah struktur batu masif menyerupai Colosseum Roma di bagian tengahnya. Berbagai lengkungan berjajar di dinding luarnya, yang mana setengah runtuh persis seperti seluruh bagian reruntuhan lainnya, tetapi kami bisa merasakan kehadiran banyak orang di dalamnya.
"...Apakah itu tempat untuk apa yang disebut-sebut ajang kumpul-kumpul ramah ini?"
"Benar sekali," konfirmasi Argo.
Ia mencondongkan tubuh lebih dekat ke telingaku dan berbisik, "Dengar, kalau ada yang bertanya kau ikut tim yang mana, bilang saja Announcer Fan Club. Itu adalah kelompok yang paling longgar dari semuanya, dan mereka nyaris tak pernah mendata keanggotaan mereka, jadi itu yang paling minim risikonya untuk membongkar kedok kita."
"Aha... Dan biar kuperjelas, penyiar yang dimaksud adalah suara yang berbicara pada semua orang di hari pertama ketika masa tenggang berakhir, kan? Orang yang bilang 'semuanya akan diberikan' itu?"
"Yah, aku kan nggak mendengarnya."
"Oh, benar juga..."
Namun itulah satu-satunya momen suara layaknya pengumuman sistem muncul di Unital Ring, jadi pastilah itu yang menjadi rujukannya. Itu adalah suara yang sangat memikat, harus kuakui. Walaupun begitu...
"Orang-orang ini pasti sudah gila banget kalau sampai membuat klub penggemar cuma buat sebuah suara. Kita bahkan nggak tahu apa suara itu milik manusia, dewa, atau iblis, atau apakah wujudnya menyerupai manusia atau bukan."
"Mungkin justru itulah yang mereka suka. Kalau boleh kutebak sih," cetus Argo tanpa bukti apa pun.
Ia mulai berjalan menuju stadion, melintasi bebatuan yang aus menuju gerbang utama. Setelah menyusuri terowongan gelap di baliknya, kami muncul bukan di bangku penonton melainkan di arena itu sendiri.
Di ruang berdiameter 160 kaki tersebut, terdapat hampir seratus pemain yang sedang berkumpul, persis seperti info dari Argo. Sebagian besar dari mereka mengenakan perlengkapan kain, tetapi aku bisa melihat beberapa zirah kulit dan chain mail juga. Berdasarkan desainnya, benda-benda ini adalah perlengkapan warisan dari ALO, bukan hasil perakitan baru.
Jika ini adalah jajaran pemain top dari basis pemain konversi ALO, belum ada satu pun dari mereka yang mencapai Zaman Besi. Di ujung utara arena, terdapat sebuah panggung batu dengan banyak api dekoratif di atasnya. Siapa pun yang mengadakan acara ini kemungkinan besar akan muncul di sana.
"...Argo, SP dan TP-mu aman?" tanyaku untuk berjaga-jaga. Kepala sang pialang informasi itu mengayun ke atas dan ke kiri.
"Hmm. Aku masih punya air dari sumur itu, tapi aku kurang yakin dengan stok makananku."
"Ini." Aku mengeluarkan dua potong dendeng bison dan memberikan salah satunya padanya.
"Aw, makasih," ujarnya seraya menerimanya, tetapi ia tak langsung memasukkannya ke mulut.
"Meskipun sama kau, aku tetep ngerasa nggak enak kalau nerima sesuatu secara gratis."
English Text: “‘One of us,’ huh? Heh…the phrase makes my ears feel all prickly,” she said, which I took to be a combination of prickly and ticklish. Terjemahan Bahasa Indonesia:
"'Salah satu dari kami,' ya? Heh... frasa itu bikin telingaku terasa berduri," ujarnya, yang mana kutafsirkan sebagai perpaduan antara terasa seperti tertusuk duri dan menggelitik.
Di tengah catatan misterius tersebut, Argo lantas menggigit dendengnya, dan aku pun ikut menyantap bagianku. Rasa daging bison yang kupanen dari Sabana Giyoru itu cukup mirip dengan daging sapi. Aromanya tidak sekuat beruang gua berduri, dan lebih mudah untuk dimakan.
Argo rupanya jauh lebih lapar dari yang ia perlihatkan, karena ia menghabiskan dendengnya dalam sekejap. Lalu ia mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti buah yang sempit dan memanjang dari karung di pinggangnya. Ia memutar batang silindrisnya hingga lepas, lalu mengangkatnya ke bibir. Ada semacam cairan di dalamnya—air?
"A-apa itu?" tanyaku begitu ia selesai minum. Argo memasang kembali batangnya sebagai penutup dan menjawab, "Ada sumur agak ke selatan dari alun-alun pusat ini, dan ada pohon tumbuh di sebelahnya. NPC yang mengelola sumur itu memberikan satu buah untuk tiap pemain, yang bisa kaugunakan sebagai canteen... Nggak bisa muat banyak sih."
"Hah! Yah... memang benar bahkan mendapatkan wadah penampung air saja tidak mudah," komentarku, merasa terkesan. Aku mematerialisasikan kendi air keramik buatan Asuna dan meminum sedikit air dari dalamnya. Kendi itu bisa menampung tiga kali lipat lebih banyak dari buah tersebut, tetapi benda ini berat dan rapuh, jadi aku tak bisa begitu saja meletakkannya dalam jangkauan lengan di tubuhku.
Aku ingin mendapatkan kantong kulit yang lebih ringan dan tangguh, tetapi ada terlalu banyak prioritas yang lebih tinggi untuk saat ini. Sementara itu, waktu menjelang pukul sepuluh, dan gumaman mulai terdengar dari bagian depan kerumunan. Aku melirik ke atas dan melihat empat orang menaiki anak tangga di sebelah kanan panggung.
Orang pertama adalah seorang pria jangkung dengan zirah bertatah logam (studded armor) dan pedang satu tangan (one-handed sword). Orang kedua mengenakan zirah sisik (scale armor) dan pedang lengkung (scimitar). Yang ketiga memakai zirah kain namun menyandang pedang dua tangan (two-handed sword) raksasa di punggungnya, sementara yang keempat bertubuh ramping, mengenakan kerudung putih... mungkin seorang wanita. Jarak mereka nyaris 150 kaki jauhnya, jadi aku tak bisa melihat detail wajah mereka.
"Hei, ayo kita maju mendekat," bisikku pada Argo dan mulai mencondongkan badan dari dinding, tetapi ia menahanku.
"Yang kita butuhkan cuma mendengar suara mereka. Jangan lakukan apa pun yang membuat dirimu makin kelihatan."
".........Siap, laksanakan."
Saat seorang pialang informasi dengan keahlian dalam penyusupan memberimu saran semacam itu, kau pasti mematuhinya. Aku memasang telinga ke arah para pembicara, berniat menangkap setiap perkataan mereka.
"Hei, teman-teman, kita akan mulai!" ujar pria pertama yang naik ke panggung, yang mengenakan zirah bertatah.
English Text: His voice was loud and clear. “I’m the person who set this informal event up. I’m Holgar, and I run a group called the Absolute Survivor Squad! Many, many thanks to you all for coming together!” I didn’t recognize his name, but I felt a wave of familiar nostalgia, and I recognized the source at once. Terjemahan Bahasa Indonesia:
Suaranya terdengar lantang dan jelas.
"Aku adalah orang yang mengadakan acara informal ini. Aku Holgar, dan aku memimpin sebuah kelompok bernama Absolute Survivor Squad! Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah berkumpul!"
Aku tak mengenali namanya, tetapi aku merasakan gelombang nostalgia yang tak asing, dan aku seketika mengenali sumbernya.
Di kota Tolbana di sisi utara lantai pertama Aincrad, terdapat panggung melingkar yang serupa, meskipun jauh lebih kecil dari ini, dan di sanalah rapat strategi bos pertama kali diadakan. Seorang pendekar pedang bernama Diavel telah memimpin jalannya rapat, dan ia memperkenalkan dirinya dengan gaya yang lantang dan ceria.
Namaku Diavel, dan aku suka menganggap diriku sedang berperan sebagai seorang kesatria!
Seseorang di kerumunan balas berseru, Aku taruhan kau pasti berharap bisa bilang kalau kau sedang berperan jadi pahlawan! dan memancing tawa dari para penonton.
Satu komentar sederhana dari Diavel telah membantu mencairkan suasana kerumunan, dan aku ingat betul bagaimana aku merasakan karismanya pada momen tersebut.
Dan sekarang setelah aku memikirkannya, Argo pertama kali datang kepadaku sebagai perantara untuknya. Ia bilang bahwa pria itu ingin membeli Anneal Blade +6 milikku. Dia pada akhirnya menawarkan nyaris 30.000 col, jumlah yang masif, tetapi aku menolak semua tawarannya.
Terkadang aku kembali mengenang kejadian itu. Seandainya aku jadi menjual pedangku, apakah Diavel takkan mengambil risiko sebesar itu saat mencoba mendapatkan bonus Last Attack pada bos lantai dan akibatnya takkan berujung pada kematiannya...?
Aku menepis sentimen sesaat itu dan mendengarkan Holgar melanjutkan ucapannya.
"Izinkan aku memperkenalkan teman-teman baik lainnya yang telah membantu mengadakan perkumpulan ini! Pertama-tama, pemimpin Weed Eaters, Dikkos!" Pria yang membawa scimitar itu mengangkat kedua tangannya, dan sorak-sorai pun menggema.
"Selanjutnya, pemimpin Announcer Fan Club, Tsuburo!"
Tepuk tangan bagi sang pengguna greatsword itu terdengar lebih tertahan, tetapi suara dan sorak-sorainya terasa lebih berat dan jantan.
"Terakhir, pemimpin Virtual Study Society, Mutasina!"
Desir gumaman merayap di tengah kerumunan yang seolah menyuarakan kata Siapa? secara kolektif. Namun kebingungan itu hanya bertahan hingga Mutasina menurunkan kerudungnya, mengekspos rambut hitam panjang dan kulit putih bersih. Bahkan dari jarak sejauh ini pun, aku bisa menebak dari aura dan reaksi orang-orang bahwa ia adalah sosok yang sangat cantik.
Lebih dari 90 persen dari kumpulan orang itu adalah laki-laki, dan mereka meledak dalam sorak-sorai dan siulan paling kencang sejauh ini. Mutasina melambaikan tangannya dengan ceria, memancing mereka hingga semakin heboh.
Begitu kerumunan kembali tenang, Holgar melangkah maju lagi. "Kami yang akan memimpin jalannya diskusi hari ini! Sayangnya, kabarnya Tim Fawkes rata dengan tanah tadi malam, jadi mereka tidak ada di sini!"
Desas-desus langsung meriak ke seantero arena. Aku belum pernah mendengar tentang kelompok tersebut. Aku menoleh ke arah Argo, tetapi ia hanya memalingkan pandangannya dan membisu. Terdengar suara-suara dari kerumunan yang menuntut penjelasan, tetapi jawaban yang diberikan Holgar tidaklah banyak membantu.
"Sayangnya, aku juga tidak tahu detailnya. Rupanya, orang-orang di Fawkes mengajak beberapa pihak lain untuk meninggalkan reruntuhan bersama mereka semalam, dan sepertinya mereka terlibat pertempuran kelompok di suatu tempat di utara lalu kalah."
Beberapa pemain yang berada lebih dekat dengan kami mendiskusikan berita ini di antara mereka.
"Utara, maksudnya, melawan kaum Bashin?"
"Orang-orang itu berbahaya... Dulu ada yang pernah menantang kaum Bashin selama masa tenggang, waktu mereka masih bisa memakai perlengkapan warisan dan skill terbaik mereka, dan mereka semua dihajar habis-habisan."
"Nggak mungkin Fawkes nggak tahu soal itu. Kenapa juga mereka mau-maunya melakukan pertaruhan seberbahaya itu...?"
Sembari menguping percakapan tersebut, perasaan firasat buruk menyelimutiku, tetapi aku menekannya dan mengabaikannya, mencoba berfokus pada panggung. Holgar melangkah maju, pantulan cahaya api berkilat pada tatah logam di zirahnya.
"Apa pun itu!" teriaknya.
"Satu-satunya hal yang bisa kuberitahukan pada kalian sekarang adalah bahwa Unital Ring tidak akan berjalan sederhana ataupun mudah! Ini adalah malam ketiga semenjak insiden ini bermula, dan masih belum ada tanda-tanda pemulihan gim menurut Ymir! Jadi mari kita capai tanah yang disingkap oleh cahaya surgawi, kita-kita orang ALO ini, dan selesaikan masalah ini dari dalam!"
Sorak-sorai antusiasme dan persetujuan menggema dari kerumunan, memenuhi arena yang luas tersebut. Teman-temanku dan aku (termasuk Argo) secara teknis adalah bagian dari "orang-orang ALO," yang mana membuat tujuan kami sama dengan semua orang lain di tempat ini. Kami tak berniat menyusul diam-diam mendahului siapa pun, layaknya kelompok Mocri di hari pertama, dan jika kami punya kesempatan untuk bekerja sama dengan pihak lain, kami harus melakukannya.
Alasan kami membangun sebuah kota di hutan adalah agar para pemain ALO yang berangkat dari sini akan memandang kami sebagai checkpoint pertama di rute perjalanan mereka—asalkan kami bisa bertahan menghadapi serangan ketiga.
Akan tetapi... Aku menunggu pernyataan Holgar selanjutnya, tak sanggup mengusir firasat buruk itu, bahkan saat aku berusaha mengendalikannya.
Begitu sorak-sorai mereda, sang pendekar pedang jangkung itu kembali ke nada suaranya yang ringan dan bersahabat seperti sebelumnya.
"Tujuan dari pertemuan ramah tamah malam ini adalah untuk memperdalam ikatan dan berbagi informasi di antara empat tim kita, yang telah memutuskan untuk bermain secara kooperatif! Kami juga menyediakan makanan dan minuman, jadi isilah TP dan SP kalian sesuka hati! Asalkan kalian suka daging kelinci serta rerumputan dan buah-buahan lokal!"
Terdengar sorak-sorai lagi dari kerumunan. Sejumlah gerobak kayu, yang jelas-jelas dibuat dengan skill Carpentry, meluncur keluar dari terowongan di kedua sisi panggung. Bahan-bahan yang diremehkan dengan rendah hati oleh Holgar itu rupanya telah dimasak dengan layak, dan panci-panci serta hidangan besar itu mengepulkan aroma bumbu yang wangi nan memikat.
"...Dari mana mereka mendapatkan rempah-rempah itu?" tanyaku.
"Mereka menjualnya di pasar di luar," jawab Argo. Aku membuat catatan di benakku untuk membelinya sedikit sebelum kami pergi. Satu-satunya uang tunai yang kubawa berasal dari Sinon, tetapi aku yakin aku bisa mendapatkan cukup uang untuk membeli bumbu dengan menjual beberapa material di inventarisku.
Meskipun aku sangat penasaran dengan makanannya, diam-diam mencicipi makanan gratis saat aku seharusnya menyusup ke sebuah pertemuan adalah puncak ketidaksopanan. Untuk saat ini, aku telah melihat gambaran umum dari sikap dan kemampuan para pemain konversi ALO yang menanggapi gim ini dengan serius. Itu saja sudah jadi imbalan yang cukup.
"Yakin nggak mau makan dulu sebelum kita pergi?" Argo menyeringai.
Aku memberinya tatapan tajam.
"Aku nggak tertarik memberimu bukti buat teorimu soal 'Kirito itu rakus di dunia virtual'. Ayo, kita cabut dari sini selagi mereka masih sibuk."
"Mengerti. Lagipula kita bisa menyetok makanan di kedai. Aku taruhan Alicchi dan Kurocchi pasti lagi kelaparan sekarang."
"Ya, ayo kita lakukan," ujarku, memutus hasratku pada hidangan tersebut dan berbalik menuju terowongan tempat kami datang.
Namun tepat pada saat itu, cahaya ungu kebiruan menerangi bebatuan di kakiku.
"Apa—?!"
"Apa itu?!"
Argo dan aku berbalik dengan waspada. Namun tak satu pun dari seratus orang itu mendengar kami—mereka sendiri tengah menjerit-jerit. Ini jelas bukan bagian yang direncanakan dari acara malam ini.
Aku berjinjit dan mengamati tanah dengan saksama. Bukan bebatuan itu sendiri yang bercahaya, melainkan sebuah tekstur rumit yang melayang di atas batu itu sendiri. Tekstur itu terdiri dari banyak cincin, pola, dan simbol, persis seperti...
"Sebuah lingkaran sihir...?" gumamku, mengikuti garis-garis itu dengan mataku hingga ke tengah arena.
Terdapat sebuah lambang besar di sana, bersinar lebih terang dari bagian lainnya—pusat dari lingkaran tersebut. Dengan kata lain, ada lingkaran sihir selebar 150 kaki yang memenuhi seluruh arena melingkar tersebut. Di ALO, ini akan dianggap sebagai mantra besar (major spell), yang berada di atas kategori sihir biasa. Atau mungkin bahkan melampaui itu, sebuah mantra agung (grand spell).
Simbol di bagian tengah itu tiba-tiba mulai bergerak dengan sendirinya. Simbol itu menggeliat, meriak, dan berpusar. Dalam sekejap, simbol itu membesar menjadi pilar cahaya setinggi lebih dari tiga puluh kaki, lalu terbelah dan runtuh, membentuk siluet baru yang janggal.
Sebuah kepala sempit yang ditutupi duri-duri tak berujung. Rambut panjang, kusut masai dan tersiksa. Empat lengan dengan masing-masing dua persendian. Tubuh bagian atas layaknya seorang wanita kurus kering dan bagian bawah berupa sulur-sulur peraba yang menggeliat. Itu adalah monster yang hanya bisa dideskripsikan sebagai semacam dewa sesat yang kelam. Makhluk itu mengangkat keempat lengannya tinggi-tinggi di atas kepala dan meraungkan sesuatu dalam bahasa yang bukan bahasa manusia. Bola-bola hitam kebiruan membesar dari telapak tangannya yang terbuka.
Sihir? Apa? Siapa? Kenapa? Di mana? Berbagai pertanyaan meledak di benakku layaknya percikan api. Ini jelas merupakan suatu tindakan sihir yang penuh niat jahat. Metode terbaik untuk menanganinya adalah dengan menyerang si perapal dan membatalkan mantranya, tetapi mengidentifikasi mereka di tengah kerumunan ini akan sangat sulit.
"Kiri-boy, kita harus pergi!" teriak Argo, dan ia mulai berlari menuju pintu keluar utara. Namun instingku mengatakan ia takkan berhasil kabur tepat waktu, jadi aku mencengkeram kerah kerudungnya dan menahannya, seraya menghunus pedangku.
"Tetap sembunyi!" seruku, tepat saat sejumlah besar proyektil cahaya melesat dari telapak tangan sang dewa sesat.
Proyektil-proyektil itu mengeluarkan lengkingan greeeeee! yang mengerikan saat melesat ke depan, masing-masing dengan lintasan rumitnya sendiri. Benda-benda itu menghantam segala macam pemain—mereka yang masih syok, mereka yang dilanda teror mematikan, dan mereka yang mencoba menghindar. Itu adalah sihir pelacak (homing magic) tingkat sangat tinggi. Mereka yang terkena tidak langsung tumbang, tetapi mereka pastinya terkena semacam Debuff atau efek damage yang tertunda.
Aku sama sekali tak berniat mencari tahu sendiri apa efek dari serangan tersebut. Aku mengangkat pedangku, melacak dua tembakan yang melesat ke arahku. Menghindarinya adalah hal yang mustahil, dan tak ada zirah mana pun yang bisa menangkisnya.
Namun jika sihir di sini beroperasi dengan logika yang sama seperti di ALO, ada satu cara untuk menanganinya: skill non-sistem khusus yang kukembangkan selama bermain di Alfheim, spell-blasting (penghancur mantra).
Sihir di ALO—akumulasi cahaya yang ditembakkan dari seorang perapal—pada dasarnya tidak memiliki wujud fisik, sehingga mustahil untuk ditangkis menggunakan pedang maupun perisai. Akan tetapi, tepat di pusat mantra tersebut, terdapat sebuah hurtbox yang ukurannya tak lebih dari selebar piksel, yang mana jika dihantam dengan damage non-fisik, bisa menghancurkan mantra itu... sesekali.
Entah mengapa, sword skill SAO eksis di dalam Unital Ring, tetapi aku belum memastikan apakah jurus-jurus itu juga mengandung efek damage elemen ala ALO. Untuk saat ini, aku hanya bisa memercayai bahwa efek itu memang ada.
Memperhatikan peluru-peluru cahaya itu meluncur turun menerjangku dari suatu sudut, aku bersiap melepaskan sword skill dua tebasan beruntun, Vertical Arc. Namun pergerakan proyektil itu tidak mengikuti lengkung parabola yang sederhana; mereka berayun goyah dan berbelok layaknya lemparan knuckleball. Nyaris mustahil untuk menghancurkan keduanya hanya dengan sword skill dua tebasan. Pilihan yang lebih bijak adalah merelakan salah satunya dan berfokus untuk menghancurkan yang lain.
Begitu keputusan sepersekian detik itu kuambil, aku beralih menggunakan Sonic Leap, melompat menyongsong salah satu proyektil yang menghujani diriku. Di ALO, sword skill ini menyuntikkan damage elemen angin ke dalam efek fisiknya. Memercayai bahwa jurus ini akan melakukan hal yang sama di Unital Ring, aku membidik tepat ke pusat cahaya tersebut.
"Grahhh!" raungku, melancarkan tebasan. Sensasinya seperti menghancurkan sebutir biji yang teramat kecil namun sangat keras. Titik cahaya hitam kebiruan itu terbelah di udara layaknya cairan kental. Akan tetapi, proyektil yang satunya lagi berbelok tajam di udara dan menghantam pangkal leherku.
Sensasi yang sungguh ganjil, bukan hawa panas maupun dingin, mencekik tenggorokanku. Rasanya seolah-olah leherku tengah dicengkeram oleh cakar iblis yang tak kasatmata. Aku menggertakkan gigiku dan mendarat dari lompatanku, lalu berbalik.
"Argo, kau tidak apa-apa?!" tanyaku. Ia memundurkan tubuhnya hingga bersandar ke dinding, menatapku dengan mata membelalak lebar. Ia mencicit pelan, "Aku nggak apa-apa, Kiri-boy... tapi... kau..."
"Kita bicarakan nanti! Ayo pindah ke titik di mana kita bisa kabur sewaktu-waktu! Kalau si perapal sadar aku berhasil men-spell-blast tembakannya, kita bakal dalam bahaya!"
"......Mengerti," jawab Argo. Kami berjongkok dan bergegas menyingkir dari sana, berhenti di sebelah terowongan keluar agar kami bisa terus memantau situasi.
Pada saat itu juga, sang dewa bengis yang menjulang di tengah arena melebur ke dalam gelapnya malam. Lingkaran sihir di atas tanah menyusut seraya berputar, lalu lenyap sepenuhnya. Di sela-sela gerobak yang terguling dan makanan yang berserakan di atas tanah, para pemain berdiri mematung dalam syok dan kengerian.
Pada akhirnya, seseorang berujar, "Hei, lehermu..."
Mendengar hal itu, semua orang sontak mengamati bagian bawah dagu pemain terdekat, atau meraba leher mereka sendiri. Tanpa pikir panjang, aku menatap leher pria yang berdiri paling dekat denganku dan mendapati sesuatu yang tampak seperti cincin hitam melingkarinya—namun bukan itu nyatanya. Itu adalah pola berbentuk cincin, yang tergambar langsung di atas kulit.
Aku mencoba menunduk menatap dadaku sendiri, tetapi jelas aku tak bisa melihat leherku, dan aku tidak punya cermin. Saat aku beralih melirik Argo, ia hanya mengangguk gugup ke arahku. Rupanya, cincin itu tergambar di leherku juga. Namun untuk saat ini, aku tidak kehilangan HP, MP, TP, maupun SP, dan aku tak merasakan sensasi aneh apa pun pada avatarku. Debuff macam apa ini sebenarnya? Dan bagaimana mungkin ada yang bisa merapal mantra semasif ini di tahap permainan yang masih seseawal ini?
"Apa-apaan yang baru saja kaulakukan?!" teriak seseorang dari atas panggung. Holgar, Dikkos, dan Tsuburo telah menghunus pedang mereka dan menodongkannya ke arah Mutasina, satu-satunya wanita di kelompok tersebut.
"Mutasina, kau bilang kau bakal memberikan Buff besar untuk memompa semangat kerumunan ini! Ini jelas-jelas semacam Debuff! Ini sama sekali nggak lucu! Bahkan untuk sebuah lelucon sekalipun!" raung Holgar, tetapi Mutasina tidak terintimidasi sedikit pun. Wanita itu bersandar santai pada tongkat panjangnya dan membalas dengan intensitas yang tenang.
"Ini memang bukan lelucon, tentu saja. Semua ini sudah direncanakan."
"Direncanakan...?! Jadi kau menerima tawaran untuk mengadakan kumpul-kumpul ini semata-mata cuma supaya kau bisa merapalkan sihir ini pada kami semua?!"
"Kan sudah kubilang begitu. Nggak ada alasan lain aku mau repot-repot ikut serta dalam perkumpulan tak berguna semacam ini, kan?"
Pernyataan itu disambut dengan lolongan amarah dari sana-sini di tengah kerumunan.
"Keparat kau! Lepaskan sihir bodoh ini dari kami!"
"Kau pikir kau bisa mengalahkan kami seratus orang sekaligus?!"
Terdorong oleh amarah mereka, Holgar mengambil satu langkah maju.
"Kau dengar mereka. Batalkan Debuff-nya. Atau kalau tidak, kami akan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang berbeda."
Jelas sekali, "cara yang berbeda" ini berarti membunuh orang yang merapalkan mantranya. Atas aba-aba Holgar, Dikkos dan Tsuburo mengepung Mutasina dari kedua sisi. Orang-orang di arena merangsek semakin dekat ke panggung.
Hal ini memicu sebuah pemikiran di benakku. Di tempat lain di arena ini seharusnya ada anggota lain dari kelompok Mutasina... Virtual Study Society, kan namanya? Apakah ia menempatkan Debuff itu pada mereka juga? Atau apakah ia menyuruh seluruh rekan anggotanya untuk mengevakuasi diri sebelum ia mulai merapalkan sihirnya...?
Aku tidak akan mendapatkan jawaban untuk itu. Apa pun efek yang dimiliki Debuff ini, mustahil baginya untuk menghindari serangan serentak saat dikepung seperti ini. Mutasina mungkin memang sudah menduga akan dibunuh di sini, keluar dari Unital Ring selamanya dan hanya menyisakan misteri yang tak terjawab ini.
"...Baiklah kalau begitu. Kami akan turun tangan sendiri menyelesaikannya!" teriak Holgar, dan ia menarik mundur pedangnya. Pada saat yang bersamaan, pedang dua tangan Tsuburo dan scimitar Dikkos mulai berpendar memancarkan sword skill.
Mutasina hanya berdiri diam di sana, mengangkat tongkat panjangnya dengan satu tangan—lalu menghantamkannya ke tanah. Ujung bawahnya menghasilkan bunyi Kraaakk! bernada tinggi. Seketika, aku tak bisa bernapas, dan aku pun jatuh bertumpu pada lututku.
Rasanya seperti ada sesuatu yang lengket menyumbat tenggorokanku. Aku menekan leherku dengan kedua tanganku, mencoba bernapas dengan putus asa, tetapi aku tak bisa memaksa udara masuk maupun keluar. Di tengah kepanikanku yang mendadak, aku bisa melihat bahwa para penyerang di atas panggung, dan hampir seratus pemain di sekeliling arena, semuanya tengah meronta-ronta di tanah dalam penderitaan.
Ada pendaran biru tipis yang menyelimuti kelompok itu, cahaya redup dari semua cincin yang menyala secara bersamaan. Leherku mungkin mengalami hal yang sama. Pada batang HP-ku, tidak ada damage berkelanjutan yang terjadi, tetapi aku bisa melihat sebuah ikon Debuff di sisi kanan yang tampak seperti sepasang tangan yang mencekik leher.
"Kiri-boy!"
Argo melompat ke sisiku dan menepuk punggungku, tetapi hal itu tak menyingkirkan sensasi sesuatu yang menyumbat tenggorokanku. Sepuluh detik, dua puluh detik... aku bisa merasakan kepanikan tumbuh semakin besar dan kelam di dalam diriku. Sensasi tercekik itu benar-benar terasa nyata—aku merasa seolah tubuhku di dunia nyata juga tidak bernapas. Tapi mungkinkah itu terjadi? Kalau memang memungkinkan untuk menghentikan pernapasan seorang pemain terlepas dari banyaknya lapisan perlindungan yang dibangun ke dalam AmuSphere, ini sama saja dengan mengulang SAO kembali.
Aku mengayunkan tangan kananku, mencoba membuka ring menu-ku. Satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari penderitaan ini pastilah dengan log out. Setelah beberapa kali percobaan yang gagal, akhirnya aku berhasil membukanya, dan aku mencari ikon sistem dari delapan ikon di dalam cincin tersebut. Lalu terdengar bunyi Kraaaakk! kencang lainnya.
Seketika itu juga, saluran pernapasanku kembali lega. Aku menenggak udara dalam-dalam, mengisapnya ke dalam paru-paru avatarku, dengan kedua tangan bertumpu pada tanah. Beberapa detik kemudian, ketika aku akhirnya berhasil melepaskan diri dari kondisi panikku, Argo mencengkeram bahuku dan menarikku berdiri tegak.
"Kau tidak apa-apa, Kiri-boy?!"
"Y... ya, aku tidak apa-apa," balasku lemah. Sebelum menatap ke arah panggung lagi, aku mengecek untuk memastikan ikon Debuff itu telah menghilang. Holgar, Dikkos, dan Tsuburo semuanya membeku, membungkuk bertumpu pada kedua tangan dan lutut mereka. Berdiri dengan agungnya di atas mereka, Mutasina sedikit banyak mengingatkanku—benar-benar cuma sedikit—pada Administrator, yang menguasai alam manusia di Underworld sebagai kepala Axiom Church.
Walaupun baru saja menghentikan napas seratus orang, ia tidak menunjukkan raut sombong maupun takut atas apa yang telah ia perbuat. Satu-satunya ekspresi yang ia tunjukkan hanyalah senyuman pucat. Butuh tekad baja untuk melakukan hal semacam itu.
"Apa kalian mengerti sekarang?" tanyanya dingin, melambaikan tangan kirinya.
"Mantra yang kutempatkan pada setiap orang di sini bernama Noose of the Accursed. Kalian baru saja merasakan sendiri efeknya... dan begitu mantra itu sukses dirapalkan, area efek dan jangka waktunya tidak terbatas."
Para pemain lain di arena bergumam ketakutan. Kata-kata "Tidak mungkin..." lolos dari tenggorokanku.
Tidak terbatas? Tanpa ujung? Jadi setiap kali Mutasina menghantamkan ujung bawah tongkatnya ke tanah, setiap pemain di sini tidak akan bisa bernapas, tak peduli di belahan dunia mana pun mereka berada? Desas-desus itu tumbuh semakin riuh hingga Mutasina mengangkat tongkatnya, membungkam mereka semua.
"Namun tak perlu takut. Aku tidak merapalkan sihir ini pada kalian semua untuk menyiksa kalian. Sama seperti kalian, aku juga ingin menamatkan gim ini... Aku cuma mengikuti jalur paling efektif untuk mewujudkannya."
"...Paling efektif?" geram Tsuburo dengan berani, bangkit berdiri dengan goyah.
"Jalur paling efektif itu adalah mengancam sesama pemain dengan sihir sadis? Ada anggota lain dari Virtual Study Society-mu di sini, kan?"
"Anggota...?" ulang Mutasina, lalu terkekeh.
"Alasan kalian memilih untuk berkumpul di tempat ini adalah karena adanya keselarasan tujuan sementara, bukan? Biar kuperjelas: Kalian mungkin bisa bekerja sama sekarang, tapi semakin dekat kalian dengan garis akhir, semakin tim-tim kita akan bersaing satu sama lain. Pada akhirnya, bahkan para pemain di dalam satu tim yang sama pun akan saling bertarung dan membunuh satu sama lain. Namun selama sihirku aktif pada kalian, kita bisa menghindari situasi tersebut. Mengerti, kan...? Ini adalah cara terbaik dan paling efektif untuk mencapai garis akhir, bukan begitu?"
Ilustrasi Mutasina sedang Memegang Tongkat Sihirnya.
Ucapan itu nyaris terdengar main-main saat meluncur dari bibirnya. Tsuburo kehabisan kata-kata untuk membalas. Alih-alih dirinya, Dikkos yang masih terduduk di tanah bersuara.
"Tentu saja itu nggak benar! Kami saling memercayai... aku, Holgar, dan Tsuburo ada di pihak yang sama! Kalau pada akhirnya ini berubah jadi balapan, kami takkan pernah mengkhianati apalagi membunuh satu sama lain! Kami bakal saling membantu sampai saat-saat terakhir, lalu berbaris untuk memperebutkan jarak yang tersisa dan memberi selamat pada pemenangnya... Bukankah begitu cara kerja VRMMO?!"
"Ha-ha... ha-ha-ha-ha."
Bahu rampingnya berguncang menahan tawa.
"Ha-ha, ha-ha-ha-ha... Maaf, cuma saja... itu konyol sekali. Kepercayaan? Memberi selamat? Apa kau benar-benar berpikir hal-hal semacam itu terjadi di sini... di dunia virtual ini?"
Suaranya yang tadinya riang, mendadak berubah menjadi sedingin es.
"Tentu saja tidak."
Mata hitamnya menatap tajam para pemain di arena.
"Di dunia virtual... setidaknya, di VRMMO berbasis The Seed, hal-hal seperti kepercayaan, cinta, dan keselamatan tak lebih dari sekadar ilusi. Satu-satunya hal yang nyata adalah kebencian, pengkhianatan, tipu daya, dan keputusasaan. Lagipula, asal usul seluruh dunia virtual full-dive adalah Sword Art Online. Neraka murni yang merenggut empat ribu nyawa bersamanya, diiringi rontaan dan jeritan."
Aku harus menggertakkan gigi agar tak sampai berteriak, Tahu apa kau?! Sejumlah besar pemain telah kehilangan nyawa mereka di Aincrad. Dalam hal korban akibat tindakan satu orang, insiden itu tak pelak merupakan salah satu kekejaman terbesar yang pernah dilakukan dalam sejarah umat manusia. Namun kebencian dan keputusasaan bukanlah satu-satunya hal yang eksis di dunia tersebut. Seandainya itu benar, maka aku takkan mungkin masih bersama Asuna, Silica, Liz, Klein, Agil, dan Argo... semua pemain yang kutemui di Aincrad.
Namun suara dingin Mutasina tak menyimpan apa pun selain ejekan atas pemikiranku.
"Kegelapan yang dilahirkan SAO hanya menyebar ke seluruh The Seed Nexus dan berlipat ganda. Kini dunia-dunia yang tak terbatas itu telah melebur menjadi satu. Di Unital Ring, kegelapan itu akan dikompresi kembali, dan ketika kepadatannya melampaui puncaknya, sesuatu yang baru akan tercipta... sesuatu yang bahkan lebih kelam dan lebih dalam. Dan aku ingin menyaksikan hal itu."
Kemudian, seolah teringat sesuatu, ia menambahkan, "Tentu saja... ada anggota Virtual Study Society juga di sini. Mereka setuju untuk dipapar Noose of the Accursed. Mungkin terdengar kontradiktif, tetapi ada ikatan kepercayaan yang tak tergoyahkan di antara kami. Dan itulah mengapa aku yakin kalian juga akan bisa menemukan kepercayaan tersebut."
Keheningan pekat yang berlangsung selama setidaknya sepuluh detik penuh menyelimuti tempat itu. Holgar, yang masih terduduk di atas panggung, yang pada akhirnya memecah kesunyian.
"Apa sebenarnya... yang kauinginkan dari kami?"
"Bukankah sedari tadi kita sudah menyatakannya? Aku ingin kita menyatukan kekuatan dan bekerja sama menuju tujuan gim ini... tanah yang disingkap oleh cahaya surgawi," ujar Mutasina layaknya kapten sebuah tim olahraga.
Ia tertawa. "Tapi tentu saja, road map yang nyata akan dibutuhkan. Jangan khawatir—tujuan pertama kita sudah jelas."
"Tujuan...?"
"Holgar, dalam pidato pembukaanmu, kau bilang bahwa tim bernama Fawkes rata dengan tanah semalam. Bukan monster bos maupun kaum Bashin yang membunuh mereka. Di sebuah hutan besar, di sebelah timur reruntuhan ini dan jauh di hulu Sungai Maruba, mereka menyerang markas yang dibangun oleh tim lain dan akhirnya dikalahkan."
Seraya para pemain kembali riuh bergemuruh dan bergumam, aku kembali merasakan firasat buruk yang tadi, dan aku menyadari bahwa apa yang kutakutkan ternyata benar. Tim yang mereka sebut Fawkes sudah pasti adalah tim pimpinan Schulz yang menyerang pondok kayu semalam. Dan fakta bahwa Mutasina mengangkat topik ini sekarang hanya bisa berarti satu hal.
"Hal pertama yang akan kalian lakukan adalah menghancurkan tim tersebut."
"...Kenapa juga kami harus melakukannya?" protes Dikkos.
"Pakai saja sihirmu pada mereka dan jadikan mereka budakmu juga, gampang kan?"
Mutasina hanya menepisnya santai.
"Tidak mudah untuk sukses merapalkan Noose of the Accursed. Gerakannya panjang, dan lingkaran sihirnya mustahil untuk tidak disadari. Sihir ini takkan bekerja seefektif ini tanpa situasi dan audiens yang tepat, seperti sekelompok orang yang sudi memercayai kebohongan murahan tentang perapalan mantra Buff agung pada seluruh orang yang berkumpul."
Holgar dan yang lainnya tertegun membisu. Sang penyihir berambut hitam itu melanjutkan dengan lembut, "Jangan menatapku seperti itu. Bukannya kalian kelewat bodoh. Hanya saja musuh yang akan kita hadapi itu terlampau kuat. Asal kalian tahu, yang bermarkas di hutan sebelah utara itu, Hutan Besar Zelletelio, tak lain dan tak bukan adalah tim dari Kirito sang Pendekar Pedang Hitam."

Komentar (0)

Memuat komentar...