Sword Art Online 024: Unital Ring III
Bagian 6
Estimasi waktu baca: 33 menitWaktu menunjukkan pukul 10:40 malam.Setelah melewati berbagai liku-liku yang sama sekali tak terduga, ajang kumpul-kumpul "ramah" itu pun bubar, dan Argo serta aku menyelinap keluar dari arena di tengah kerumunan.Awalnya aku ingin pergi lebih awal setelah mengecek situasinya, tetapi perkembangan yang terjadi mengharuskan kami untuk tinggal dan menyaksikan semuanya hingga tuntas. Alice dan Kuro telah ditinggalkan sendirian terlalu lama. Aku ingin segera kembali pada mereka sekarang, tetapi kalau kami tidak menyempatkan diri mengunjungi toko-toko itu setidaknya sekali, aku sama saja menanggung Debuff ini dengan sia-sia.Kami bertanya pada seorang pemain yang lewat di mana kami bisa menemukan toko yang mau membeli item kami dan beranjak menuju sebuah bangunan di sudut pasar. Saudagar tua itu, yang bertubuh kekar namun pucat, mengamati semua kulit serta tulang hiena, bison, dan kadal air (newt) dan semacamnya itu, lalu mematok harga tiga el dan tujuh puluh delapan dim."......Tiga el?"Argo dan aku saling berpandangan. Hiena memang tak seberapa, tetapi bison itu—yang bernama resmi long-haired gale cattle—adalah salah satu monster yang lebih berbahaya di Sabana Giyoru, dan kadal air serta aksolotl dari dungeon dinding raksasa sama sekali tidak bisa dibilang lemah. Cuma segitu harga yang mau ia berikan pada kami?Penjaga toko itu tampaknya menyadari keraguan kami atas tawarannya."Dengar ya, kawan-kawan, aku sudah melebihkan harganya untuk kalian. Bahan-bahan ini semuanya material langka di sekitar sini, asal kalian tahu. Tapi kulit yang belum diolah dan semacamnya ini nilainya memang tak seberapa.""Ahhh, jadi harganya bakal lebih mahal kalau kami menyamaknya sendiri lebih dulu..."Aku mempertimbangkan untuk menarik kembali tawaran tersebut guna melakukan hal itu terlebih dahulu, tetapi aku tak punya petunjuk alat apa saja yang dibutuhkan dan bagaimana langkah-langkahnya, dan terlebih lagi, tidak jelas kapan kiranya kami bakal benar-benar mengunjungi kota ini lagi.Aku sedang bimbang menimbang-nimbang opsi tersebut ketika seorang pria berbalut zirah kulit yang tengah mengamati etalase toko di sudut ruangan menoleh dan berujar, "Hei, sobat, tiga el dan tujuh puluh delapan dim itu harta karun besar lho, kau tahu? Aku sudah duduk di sini bertanya-tanya apakah aku harus membeli sepuluh item ini seharga satu dim, biar kau ada gambaran."...Apakah dia NPC? Atau pemain? "Malahan, dari mana kau mendapatkan bulu berkualitas tinggi semacam itu? Apa ada tempat pengumpulan (collection spot) yang bagus di sekitar sini? Aku bakal bayar tiga dim untuk detailnya."Menyimpulkan bahwa ia pada akhirnya adalah seorang pemain, aku menjawab sejujurnya, "Tempatnya lumayan jauh. Jauh di utara dari tempat New Aincrad jatuh.""Ugh, kau sudah sampai sejauh itu? Jadi kurasa kau ini salah satu dari frontliner yang mentereng itu, walaupun pakaianmu buluk begitu.""G... garis depan? Kalian menyebut orang-orang dengan sebutan itu?""Awalnya, kami punya istilah seperti hardcore atau sprinter atau pemain top, tapi entah sejak kapan, kami sepakat memakai sebutan yang itu. Hei, bukannya para frontliner lagi pada ngumpul di coliseum, ya? Tadi mereka berisik banget sebelum akhirnya mendadak sepi banget. Terjadi sesuatu?" Aku nyaris memegangi tenggorokanku namun berhasil menahan dorongan tersebut."Nggak sih... tapi aku memang sempat mengintip ke dalam. Terima kasih atas sarannya.""Sama-sama."Pria itu kembali menoleh ke rak, jadi aku kembali ke penjaga toko dan berkata, "Aku terima tawaranmu.""Kalau begitu sepakat. Terima kasih."Terdengar efek suara gemerincing, dan material di atas meja kasir lenyap. Sebuah pesan muncul di pandanganku, menginformasikan bahwa aku telah mendapatkan 1-el Brass Coin (Koin Kuningan 1-el) x3, 1-dim Copper Coin (Koin Tembaga 1-dim) x78. Untuk berjaga-jaga, aku mengintip ke sekeliling interior toko, tetapi aku tak melihat satu pun peluru maupun bubuk mesiu. Aku melambaikan tangan pada penjaga toko dan meninggalkan bangunan itu, mengembuskan napas panjang seraya berjalan ke utara."Jadi kurasa koin perak seratus el milik Sinon itu uang yang cukup besar. Kurasa itu setara dengan sekitar sepuluh ribu col di SAO ya? Kira-kira dari mana dia mendapatkannya," ujarku pada rekanku, tetapi tak mendapat balasan. Nyatanya, semenjak kami meninggalkan arena, ia bersikap luar biasa pendiam."Um, Argo?" panggilku, menatap ke balik kerudungnya. Argo menghentikan langkahnya. Ketika ia akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar serak dan lemas, tak seperti biasanya."...Maafkan aku, Kiri-boy. Kau menerima tembakan dari mantra sialan itu demi melindungiku...""Apa, kau merasa nggak enak soal itu?" tanyaku setelah terdiam sepersekian detik. Aku harus mengingatkan diriku sendiri, Itu si Tikus, bukan Nona Hosaka Tomo! dan merangkulkan lenganku di bahunya."Kalau mau dihitung-hitung, aku bahkan tak bisa memberitahumu sudah berapa kali panduan strategi milik Argo menyelamatkan nyawaku. Dibandingkan dengan utang budiku padamu dari masa-masa SAO, ini bukan apa-apa. Apa yang selalu kubilang? Setiap malam pasti berakhir dengan fajar, dan setiap kutukan pasti akan luntur dengan satu atau lain cara.""Rasanya aku belum pernah dengar kau bilang begitu. Tapi ya, memang benar harusnya ada cara buat menghilangkan sihir itu," ujarnya seraya mengangguk.Hal itu mengingatkanku pada sesuatu."Eh, dan ngomong-ngomong soal sihir itu," ujarku, "kau keberatan kalau kita tidak menyebutkannya pada Alice atau Asuna untuk sementara waktu? Aku lebih memilih menunggu sampai aku punya cara untuk membatalkannya sebelum membicarakannya.""Itu kau banget sih, Kiri-boy."Ia melepaskan diri dari rangkulanku, tampak sedikit lebih mirip dengan pialang informasi penuh muslihat yang sangat kukenal."Aku nggak bakal bilang ke mereka. Tapi aku nggak bisa menjamin apa yang bakal terjadi kalau mereka menyelipkan uang padaku."
Dengan koin-koin baruku, kami membeli makanan dari kedai-kedai yang tersebar di sana-sini, dan menimba air gratis dari sumur sebanyak yang sanggup kami bawa, sebelum akhirnya berlari cepat kembali ke ruangan terbengkalai di dekat gerbang utara.Kami mengenakan zirah kami kembali di pintu masuk, lalu melangkah ke dalam. Aku sempat mengirim pesan selagi kami di jalan, tetapi untuk berjaga-jaga, aku mengetuk dua kali sebelum membuka pintu."Kalian terlambat!" Alice langsung mengomeliku."Gra-rooo!" rengek Kuro, teguran keduanya terdengar bak suara stereo.Aku mengusap leher macan kumbang hitam tersebut saat ia melompat ke arahku dan berkata pada Alice, "Maaf, maaf, situasinya tak berjalan persis seperti rencana...""Setidaknya tidak bisakah kau memberiku perkiraan kapan kalian akan kembali?""Eh... benar juga. Aku akan mengabarimu lain kali... Malahan, kurasa aku seharusnya melakukan hal yang sama pada semua orang yang sedang berjaga di kota selama kita pergi...""Aku sudah mengirimkan pesan bahwa kita takkan kembali sampai paling cepat tengah malam nanti.""M-makasih buat itu. Um, ini untukmu, kalau kau mau."Aku mengeluarkan beberapa makanan yang telah kami beli dan menatanya di atas meja usang di tengah ruangan. Makanan itu memang cuma berasal dari kedai kaki lima, jadi bahan-bahannya bukanlah kualitas nomor wahid, tetapi masing-masing memiliki tampilan dan aroma yang cukup menggoda, mulai dari sesuatu yang menyerupai sandwich pita berupa kantong roti renyah berisi daging panggang dan sayuran di dalamnya, hingga sesuatu semacam shish kebab dengan tumpukan irisan daging yang ditusukkan pada lidi dan dibakar hingga harum, sampai ke sesuatu yang mirip quesadilla berupa adonan tipis yang menyelimuti keju dan bawang bombai lalu dimasak hingga lumer. Namun saat Alice melihat makanan tersebut, ia justru memelototiku."Kirito, jangan-jangan kau...?""Oh! Bukan! Aku tidak memakai uang Sinon untuk beli ini kok. Aku menjual sebagian materialku untuk mendapatkan uang. Ini, uangnya kukembalikan padamu... Sayangnya, kami tak menemukan peluru satu pun," ujarku, mengembalikan karung kulit berisi koin bernilai seratus el lebih tersebut.Pada akhirnya, raut wajah Alice pun melembut."Aku akan memercayaimu soal isinya. Kalau begitu, aku terima tawaran makananmu dengan senang hati."Ia menggigit quesadilla tersebut, mengunyahnya beberapa kali, lalu berujar, "Lumayan enak."Alice adalah seorang Integrity Knight di Underworld, sebuah posisi yang bahkan jauh lebih diagungkan ketimbang kaisar di alam manusia, tetapi urusan selera lidahnya tidaklah terlampau mewah. Kalau boleh dibilang, ia justru lebih menyukai makanan rumahan yang merakyat. Tentu saja, tubuh mesinnya di dunia nyata tak memiliki fungsi untuk makan, jadi ia hanya bisa menikmati sensasi mencicipi masakan di dunia virtual.Namun di ALO, ia biasanya memesan hamburg steak, stew, dan spageti untuk hidangannya. Asuna telah berusaha sebaik mungkin untuk mereka ulang resep kari dan ramen demi Alice, tetapi eksperimen yang masih berjalan itu terpaksa tertunda di tengah jalan akibat seluruh insiden ini. Sembari berdoa agar suatu hari nanti kami berkesempatan untuk duduk bersama mengelilingi meja makan dengan Alice di dunia nyata, aku mengambil shish kebab itu. Kuro menduselkan kepalanya ke pinggangku, jadi aku meloloskan beberapa potong daging dari lidi tersebut dan menyuapkannya satu per satu pada sang macan kumbang. Sembari melamun, aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada dunia Unital Ring begitu seseorang mencapai tanah yang disingkap oleh cahaya surgawi. Apakah dunia ini akan lenyap selamanya? Apakah Kuro, Aga, dan Misha akan ikut menghilang bersamanya?"Kau nggak makan, Kiri-boy?" tanya Argo, memegang shish kebab di satu tangan dan quesadilla di tangan yang lain.Aku mendongak. "Ini aku makan, kok."Aku meraup sandwich pita itu dan mengangkatnya ke mulutku. Sejujurnya aku tak punya banyak nafsu makan, tetapi aku harus memulihkan TP dan SP-ku sebelum kami berangkat. Aku melahap sandwich itu dalam satu gigitan besar, mendapati sensasi realistis dari irisan daging tipis dan sayuran mentah yang renyah berderak di sela-sela gigiku. Grafis Unital Ring jelas berada jauh melampaui visual engine VR mana pun yang ada saat ini—dan hal yang sama juga berlaku untuk pemodelan rasanya. Siapa yang sanggup menciptakan semua ini dan untuk apa? tanyaku dalam hati untuk yang kesekian kalinya seraya mengunyah roti pita tersebut.Sesaat setelah kami melewati gerbang utara menuju padang terbuka, aku menyadari bahwa aku lupa melakukan satu hal."Oh... Argo, apakah quest hantu kunomu itu ada update sama sekali? Apa kau perlu mengurusnya?""Nggak masalah. Ada hal yang jauh lebih penting untuk kita urus," aku Argo.Di sisi lainnya, Alice bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?""Akan kami jelaskan sembari jalan."Begitu aku yakin tidak ada pemain lain dalam jarak pandang, kami mulai berlari ke arah timur laut. Aku mendeskripsikan rentetan kejadian di acara perkumpulan tersebut, menanggalkan satu informasi spesifik, dan raut wajah Alice berubah semakin terusik semakin jauh aku bercerita. Ketika aku selesai, ia tak bisa menyembunyikan amarah dalam suaranya."Memangnya wanita bernama Mutasina itu pikir dia siapa?! Seandainya aku ada di sana, aku pasti sudah menebasnya jadi dua!""Sebenarnya, levelnya benar-benar tinggi. Kemungkinan besar lebih tinggi dari kita semua.""Itu tidak penting! Tapi... syukurlah kalian berdua tidak terkena kutukan itu, kalau semua orang di sana juga kena." Kelalaianku yang disengaja itu, tentu saja, adalah fakta bahwa aku juga terkena mantra Noose of the Accursed tersebut. Untungnya, pelindung leher pada zirahku menyembunyikan garis kutukan yang terukir di tenggorokanku.Ketika aku mengakui kebenarannya pada Alice nanti, ia pastinya akan lebih dari sekadar murka, tetapi jika aku memberitahunya sekarang, ia pasti akan berbalik kembali ke reruntuhan dan mencoba membalaskan dendamku pada Mutasina."Yah, aku lumayan sering latihan membelah sihir waktu di ALO dulu," balasku, melirik ke arah Argo. Sang pialang informasi itu membalas dengan tatapan yang seolah berkata, Iya, aku tahu, jadi aku mengalihkan pembicaraan."Masalah sebenarnya adalah Mutasina dan seratus lebih pemain level tinggi di bawah kendalinya bakal menyerang kota kita. Ini bukan jenis situasi yang bisa kita redakan lewat diskusi. Kita harus siap tempur untuk melawan balik.""Kapan mereka akan menyerang?""Kata Mutasina lusa... malam tanggal 1 Oktober. Rencana mereka rupanya adalah menghabiskan waktu dua hari untuk mendongkrak kualitas perlengkapan semua orang hingga mencapai standar fine leather minimum, jadi mungkin saja lebih lambat dari itu tapi pastinya tidak akan lebih awal," jelasku.Argo memiringkan kepalanya dengan cekatan tanda terkejut seraya ia berlari."Tapi, Kiri-boy, kau benar-benar berpikir keseratus orang di sana itu bakal ikut andil dalam penyerangan? Sihir pencekikan Mutasina itu memang sinting sih, tapi dia nggak bisa ngapa-ngapain kalau mereka log out, kau tahu kan?""Tentu, memang benar... tapi tidak log in ke dalam gim berarti tidak ikut berpartisipasi dalam upaya menamatkan Unital Ring. Orang-orang di stadion tadi itu adalah pemain tingkat lanjut (advanced player), tipe pemain yang dulu kausebut pelopor (front-runner). Kalau satu-satunya pilihan lain yang mereka punya adalah lempar handuk dan menyerah, kurasa mereka bakal tunduk pada jeratan tangan Mutasina di leher mereka dan terus melangkah maju menuju garis akhir.""...Kurasa kau benar. Maksudku, orang-orang garis depan di SAO dulu juga terus melangkah maju, padahal nyawa mereka sendiri taruhannya.""Ya. Mereka memang gila.""Aku pengin banget balik ke orang-orang itu dan ngasih mereka survei. Nanyain siapa yang menurut mereka paling gila," ujarnya diiringi seringaian. Sembari percakapan ini berlangsung, kami melesat melintasi padang rumput dalam kecepatan penuh. Kami terpaksa harus mengambil jalan memutar menghindari sejumlah party pemburu, tetapi tak ada kendala yang berarti, dan kami berhasil tiba kembali di sungai—yang Mutasina sebut sebagai Sungai Maruba.Aku sempat memberikan peluang lebih dari lima puluh persen kalau benda itu sudah hilang, tetapi kano kayu galian kami masih berada tepat di tempat kutambatkan sebelumnya di air. Argo cukup terkesan dengan hasil kreasi kami; aku mendudukkannya di tempat dekat buritan, menempatkan Alice di depannya, dan membiarkan Kuro kembali mengambil alih bagian haluan. Aku menarik jangkar, memiringkan dayung, dan membuat kano itu berenang melawan arus. Kalau saja kami bisa terus mengapung melawan arus hingga kembali ke Hutan Besar Zelletelio. Tak butuh waktu lama sebelum kami mendengar gemuruh berat yang sama dengan yang kami dengar saat perjalanan berangkat tadi. Sulit untuk menakar skalanya hanya dengan penerangan cahaya bulan, tetapi Alice memperkirakan tinggi air terjun masif itu mencapai seratus kaki. Mustahil kano ini—atau perahu mana pun—bisa kembali naik ke atas sana."Kurasa sampai di sini saja riwayat perahu ini," gumamku.Alice membalas dengan nada menyesal, "Sayangnya begitu. Kita terpaksa menepi dan membongkarnya jadi material.""Aye, aye, sir," ujarku, lalu bertanya-tanya, Tunggu, bukannya harusnya, "Aye, aye, ma'am"? Namun kemudian aku menyadari bahwa Alice mungkin toh takkan mengerti kata-kata bahasa Inggris tersebut.Aku baru saja hendak memutar dayung ke sisi kanan kapal saat Argo tiba-tiba menyela, "Tunggu dulu! Kiri-boy, kau tahu ada sesuatu yang harus kau lakukan sebelum kau membongkar perahu ini!"Aku mengerjap kaget."Lakukan? Seperti apa misalnya?""Ayolah, kau ada di depan air terjun raksasa di dunia virtual! Cuma ada satu hal yang bisa dilakukan, bodoh!""...Ohhh." Aku menyeringai begitu menyadari apa yang ia maksud. Namun tak sesederhana itu kenyataannya."Dengar ya, Argo, ini mungkin dunia gim, tapi ini adalah VRMMO berbasis realisme. Satu gerakan salah saja bisa menghancurkan perahu ini berkeping-keping.""Makanya jangan sampai salah gerakan! Ayo, maju kecepatan penuh!" instruksi Argo tanpa rasa tanggung jawab. Kuro mengeong menyetujui. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa toh perahu ini akan hancur dengan satu atau lain cara, dan aku pun kembali mendorong dayungnya ke depan."Ah... apa yang kaulakukan?" tanya Alice dengan nada sedikit cemas.Aku memberinya jawaban samar "Sudah, sudah" dan terus mengayuh maju."Tapi, Kirito, air terjunnya—""Sudah, sudah, sudah.""Air terjunnya!""Sudah, sudah, sudah, sudah."Sementara perdebatan ini berlangsung, kano itu telah mencapai kolam air terjun yang luas. Air terjun raksasa beserta deru gemuruhnya yang tak kunjung padam kini berada tepat di hadapan kami.Aku memusatkan perhatian pada air terjun itu, yang diterangi oleh cahaya bulan dan bintang-bintang, dan melihat bebatuan besar menonjol di kedua sisi yang membuatnya mustahil untuk dikitari. Ada satu titik di dekat tengah air terjun, persis di sebelah kanan, di mana sebatang pohon mencuat keluar dan membuat arusnya sedikit lebih lemah di bawahnya. Kalau kami mau menerobos masuk, di situlah tempatnya."Oke, kita mulai! Pegangan yang erat!"Aku memiringkan dayung dengan kedua tangan sejauh yang kubisa, mengayuh ke kiri dan kanan dengan tenaga maksimal. Kano itu berakselerasi dengan gesit, menerjang menuju air bah dari atas, yang berkilau keperakan di bawah siraman cahaya bulan. "Kirito! Jangan gegabah! Mukjizat takkan terjadi dua kali!"Mungkin Alice merujuk pada fakta bahwa kami telah jatuh dari tebing ini sebelumnya dan selamat. Aku tidak lantas menyangkalnya, tetapi aku memang cenderung suka bertingkah sembrono untuk menyeimbangi sifatnya yang lurus."Tidak, mukjizat pasti akan terjadi! Akan kubuat hal itu jadi nyata!" teriakku tanpa dasar.Kano itu menerjang air terjun yang menderu dalam kecepatan maksimal. Pertama-tama Kuro meraung, "Graoowr!" lalu Argo berseru heboh, "Yahooo!" dan disusul jeritan Alice, "Kyaaaaaa!"Semua yang bisa kulihat hanyalah warna biru. Tekanan air yang luar biasa menjepit bahuku, mendorong perahu itu ke bawah. Kalau sisi kano ini tenggelam sedikit saja lebih rendah, air akan membanjiri masuk dan menenggelamkan kami."Hrrrrrrg!" Di dalam benakku, aku meratap, Harusnya aku nggak ngelakuin iinii! namun kendati demikian, aku terus mengayuh sekuat tenaga. Namun sayangnya, kano itu tak kunjung bergerak maju.Tepat saat aku menyangka kano itu bakal tenggelam untuk selamanya, tekanan pada dayungnya mereda. Aku menoleh ke belakang dan melihat Alice, dengan air yang menghantam langsung punggungnya, tengah memegangi ujung dayung.Dengan gabungan kekuatan kami berdua, dayung itu berderit menahan tekanan air yang begitu besar, tetapi hal itu sukses membantu meluncurkan kano tersebut ke depan untuk menembus derasnya arus pada akhirnya. Dalam sekejap, deru gemuruh dan tekanan airnya sirna, dan aku sempat tak percaya sejenak sebelum aku buru-buru menghentikan laju kano kami. Perahu itu meluncur beberapa kaki ke depan di perairan yang tenang lalu berhenti."...Semuanya tak apa-apa?" tanyaku, lantaran tak ada cara untuk memastikannya di tengah sekeliling kami yang gelap gulita. Argo dan Kuro merespons dari depan, dan sesaat kemudian, aku mendengar dengusan kesal Alice di belakangku. "Yah... kita selamat, aku akui itu. Tapi aku benar-benar ogah ikut campur dalam upaya mukjizat yang ketiga kalinya nanti.""Makasih atas bantuannya," ujarku, menarik sebatang obor dari inventarisku dan menyalakannya. Saat aku mengangkatnya lebih tinggi, aku berpikir betapa aku sangat mendambakan sebuah lentera sekarang ini... atau yang lebih bagus lagi, sihir cahaya.Cahaya api mengekspos sebuah gua alam raksasa. Gugusan stalaktit menggantung dari langit-langit, dan stalagmit tumbuh dari tepian air dalam konfigurasi yang ganjil.Di belakang kami, aku bisa melihat pintu keluar sempit yang melaluinya bagian belakang air terjun itu terlihat. Seandainya kami menerjang air terjun itu meleset tiga kaki saja ke sisi mana pun, kami pasti sudah menabrak batu padat dan tenggelam.Setelah itu beres, aku kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling gua. Lantainya dialiri genangan air yang mengalir tenang, yang berarti kami bisa terus menggerakkan kano ini ke depan... namun ada sesuatu yang lebih penting dari itu."Itu... besi! Bijih besi!" seruku sesaat setelah aku menyadari keberadaan bebatuan hitam kemerahan yang mencuat dari dinding abu-abu tersebut, seketika melupakan semua rasa tak nyaman akibat basah kuyup barusan."Whoa, dan di sana... dan di sebelah sana juga!""Hei, tenang dulu, Kiri-boy. Kita harusnya mikirin apa yang mesti dilakuin sekarang, bukannya malah pusingin soal bijih...""Tidak, bijih ini jauh lebih penting dari masa depan!"Aku mengayuh kano mendekat ke tepian kanan."Ambil alih dayungnya, Alice... Arusnya tenang di sini, jadi kau tinggal memegangnya tegak lurus di dalam air.""...Baiklah," ujar sang kesatria, menerima posisi juru mudi tersebut dengan pasrah. Aku menancapkan obor ke dalam soket di sisi kano dan melompat ke atas tanah padat. Permukaannya licin, jadi aku melangkah berhati-hati mengitari stalagmit tersebut untuk mendekati bongkahan bijih itu. Kali pertama aku menemukan bijih besi, di gua beruang di Hutan Zelletelio, aku terpaksa harus menggunakan metode primitif, yakni memecahkannya dengan kapak batu. Butuh banyak waktu, dan aku tak mendapatkan banyak hasil darinya.Namun kini, aku punya fine iron pickaxe, persembahan dari Lisbeth. Aku mengeluarkannya dari inventarisku, menggenggamnya erat-erat di tanganku, dan menghantamkannya kuat-kuat ke bijih yang mencuat dari dinding tersebut.Hantaman itu menghasilkan bunyi trink bernada tinggi dan memercikkan bunga api yang melompat dan memantul. Di dunia nyata, kau akan mengekstraksi bijih semacam ini dengan memecahkan bebatuan lain di sekitar urat bijihnya, tetapi di sini, hal itu hanya akan memberimu batu biasa. Kau harus menghantam bijih yang terekspos itu secara langsung.Urat bijih seukuran ini bakal butuh setidaknya tiga puluh pukulan dengan kapak batu, tetapi beliung besi andalanku sukses menciptakan retakan besar pada bijih itu hanya setelah delapan ayunan. Dua atau tiga pukulan lagi, dan bijih itu akan runtuh ke tanah menjadi beberapa bongkahan. Aku cuma perlu berhati-hati agar benda itu tak menggelinding ke air di belakangku..."Kiri-boy, di atasmu!""Grau!"Peringatan Argo dan Kuro seketika mengalihkan perhatianku ke atas. Kukira itu adalah monster, tetapi aku malah melihat dua stalaktit masif bergoyang dan bergetar di atasku."Whoa!"Aku melompat mundur sekuat tenaga, tepat sebelum pilar-pilar batu tajam itu jatuh tanpa suara dan menghancurkan titik tempatku berdiri tadi. Aku tidak memakai helm, jadi hantaman di kepalaku pasti akan langsung membunuhku... atau setidaknya menguras 20 atau 30 persen HP-ku."A-apa kau tidak apa-apa?!" seru Alice. Aku mengangkat tanganku untuk melambai."Aku tidak apa-apa... Menarik. Jadi stalaktit ini dirancang untuk jatuh kalau kau menambang bijih tanpa memperhatikan sekitarmu..."Kalau aku sendirian, aku pasti takkan sempat menyadarinya, batinku, merasa sangat bersyukur atas kehadiran rekan-rekanku di sini.Argo, sementara itu, terdengar lebih kesal dengan kejadian tersebut."Kau nggak punya helm buat dipakai, kan? Mungkin mending kau nggak usah repot-repot ngelakuin ini, Kiri-boy.""Urgh..."Memang benar aku tidak punya perlengkapan kepala di inventarisku. Kenyataannya, sejak masa-masa SAO hingga sekarang, aku nyaris tak pernah mengenakan helm jenis apa pun. Bukan karena aku merasa penampilanku lebih keren begini, tetapi karena dalam RPG full-dive, kerugian pada pandangan dan pendengaranmu jauh lebih besar ketimbang keuntungan dari pertahanan ekstra.Bahkan Heathcliff, pemimpin Knights of the Blood, yang merupakan pemain dengan pola pikir pertahanan yang luar biasa mengerikan, tidak mengenakannya, dan hal itu meyakinkanku bahwa logikaku masuk akal. Lagipula, ia tak lain dan tak bukan adalah Kayaba Akihiko, bapak dari VRMMO...Pemikiran-pemikiran inilah yang melintas di benakku seraya aku kembali ke posisiku di depan bijih besi yang retak tersebut."Aku memang tak punya helm, tapi aku yakin aku bakal baik-baik saja selama aku lebih waspada," ujarku pada Argo, lalu mengangkat beliungku.Begitu aku yakin tidak ada stalaktit yang mengancam akan jatuh, aku kembali menghantam batu tersebut. Pada pukulan ketiga, bijih itu pecah menjadi empat bagian dan menggelinding jatuh ke tanah. Aku buru-buru meraup pecahan-pecahan itu dan melemparkannya ke dalam inventarisku.Satu-satunya tempat di sekitar pondok kayu tempat bijih besi bisa ditemukan hanyalah gua lama Misha, jadi pasokan kami tidak bisa dibilang melimpah. Kalau aku bisa mengisi penuh kapasitas bawaku dengan bijih dan membawanya pulang, itu akan jadi bantuan besar bagi kota kami yang tengah berkembang.Setelah itu, aku menghentikan kano setiap kali aku melihat bijih besi dan kembali menghantam dengan beliungku. Selain besi, terdapat pula bijih tembaga dan perak dalam jumlah kecil. Bahkan ada kristal juga, meskipun aku belum tahu apa kegunaannya nanti. Aku mengumpulkan semuanya seraya kami melaju semakin jauh ke dalam gua.Ini mungkin gua alam, tetapi tempat ini jelas-jelas sebuah dungeon, jadi sesekali ada monster yang bermunculan. Yang terburuk adalah kelelawar raksasa yang terbang tiga atau empat ekor sekaligus, mencoba memadamkan oborku.Begitu cahayanya padam, kami bertiga takkan bisa mengayunkan senjata sampai kami mendapatkan penerangan baru, karena khawatir kami malah tak sengaja menebas satu sama lain. Namun Kuro, setia pada namanya sebagai macan kumbang hitam, bisa melihat musuh-musuh kami bahkan di dalam kegelapan, dan ia menepis jatuh kelelawar-kelelawar gesit itu dengan cakar depannya yang kuat.Dalam waktu kurang dari setengah jam, Alice, Argo, dan aku telah mengisi penuh penyimpanan kami dengan sumber daya alam, dan aku merasa sangat puas... atau setidaknya, seharusnya aku merasa begitu. "...Kelihatannya kau tidak terlalu senang," tegur Alice.Aku menutup jendelaku dan menanggapi perkataannya. "Ya... masalahnya, aku baru menyadari sesuatu yang sangat merepotkan.""Ada apa?" "Gua ini jaraknya tidak terlalu jauh dari Reruntuhan Stiss, kan? Yang berarti hanya masalah waktu sebelum kelompok pemain Mutasina menemukannya. Dan kalau kau bisa mendapatkan bijih sebanyak ini dari sini, takkan sulit untuk mempersenjatai keseratus orang itu dengan perlengkapan besi."Raut wajah Alice menegang. Tim pimpinan Schulz, yang menyerang kami tadi malam—yang rupanya bernama Fawkes—beranggotakan dua puluhan orang, dan sekitar separuh dari mereka memiliki senjata besi. Dan kami nyaris saja tidak memenangkan pertarungan tersebut. Kalau pasukan berjumlah seratus orang yang semuanya mengenakan besi menyerang, kami takkan punya peluang menang sedikit pun."...Ya, itu akan sama tidak menguntungkannya dengan Battle of the Eastern Gate," ujarnya, suaranya terdengar keras.Battle of the Eastern Gate adalah pembuka dari War of Underworld, yang telah melibatkan seluruh Underworld. Saat pertempuran itu terjadi, aku masih dalam keadaan koma, jadi aku hanya punya ingatan yang paling samar tentang atmosfer mencekam yang menyelimuti kamp manusia.Namun bagi Alice, itu adalah pertempuran di mana ia kehilangan satu-satunya muridnya, Eldrie Synthesis Thirty-One. Aku merasa bersalah karena membuat Alice memandang pertarungan PvP di Unital Ring sama seperti Perang Underworld... namun kemudian aku memikirkannya kembali. Bagi Alice, keduanya adalah pertempuran sungguhan yang menuntut upaya terbaiknya.Aku menepuk kedua pipiku untuk memarahi diriku sendiri atas momen kebodohan itu. Saat ia memberiku tatapan penasaran, aku menjelaskan, "Itu bukan berarti aku bisa langsung menyerah. Kalau seratus orang bersenjata besi melancarkan penyergapan terhadap kita, tamatlah riwayat kita. Tapi kita tahu kamp musuh, dan kita tahu kita bisa mendapatkan bijih besi di sini. Kalau kita menyatukan pikiran kita dan memunculkan ide-ide, aku yakin kita bisa menemukan cara untuk menang." "...Ya, itu benar," ujar Alice seraya tersenyum."Kalau begitu, bakal kuberi kalian ide bagus sekarang juga. Gratis, malahan," cetus Argo, yang tengah mengelus leher Kuro di haluan kano."I-ide apa itu?""Kita nggak mau musuh menambang bijih besi dari gua ini, kan? Jadi kenapa nggak kita tutup saja semuanya?""Menutup... guanya?!"Aku terperanjat selama beberapa detik, lalu mengedarkan pandangan. Gua ini selebar dua puluh hingga dua puluh lima kaki—dan kurang lebih setinggi itu juga. Ada banyak percabangan, membuat ukuran penuhnya sulit untuk ditaksir. Kami telah bergerak lambat seraya mengumpulkan sumber daya, tetapi setelah tiga puluh menit pun kami belum juga mencapai ujungnya, jadi bisa saja gua ini memiliki panjang satu atau dua mil, sejauh yang kami tahu."Kalau kita mencoba menimbun tempat ini, kita bakal butuh sepuluh truk penuh dinamit. Dan bahkan di Unital Ring sekalipun, kutebak perubahan lanskap besar semacam itu mustahil untuk dilakukan," bantahku, menggunakan akal sehat biasa.Namun Argo hanya balik menyeringai padaku."Aku bukannya bilang kita harus menimbun semuanya. Cukup pintu keluar di balik air terjun itu. Kalau kita menutupnya di sana, mereka takkan bisa masuk.""Oh... b-benar juga. Ya, memang benar... tapi itu pun tugas yang sangat besar. Cuma memukuli langit-langit dengan beliung nggak bakal cukup...""Ah... begitu rupanya. Aku mengerti."Alice meninju telapak tangannya."Maksudmu bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membangun.""Membangun...? Oh! Aku mengerti. Maksudmu membuat dinding batu tepat di pintu masuknya," ujarku, akhirnya menyadari apa yang diisyaratkan oleh Argo. Aku mengangkat tangan untuk menjentikkan jariku namun menghentikan niatku sebelum melakukannya."Tapi tunggu, itu tidak akan berhasil, kan? Maksudku, kalau seorang pemain bisa membangun dinding atau tangga di dungeon, kau bisa membuat jalan pintas petamu sendiri dan mengganggu pemain lain sesukamu.""Yah, uji saja sendiri sana dan lihat," ujar Argo. Aku menyadari bahwa ucapannya ada benarnya. Jadi aku menggunakan jariku yang batal menjentik itu dan malah membuka menu, memunculkan menu perakitan Beginner Carpentry dan menemukan Stacked Rock Wall di dalam daftar. Dinding bayangan tembus pandang yang muncul berwarna abu-abu karena posisi awalnya berpotongan dengan dinding gua, tetapi menggesernya ke samping mengubah warnanya menjadi ungu muda."...Sepertinya ini berhasil..." "Tuh, lihat, kan? Aku sudah menduga kalau ini selaras dengan filosofi desain UR," ujar Argo dengan penuh percaya diri.Atas dasar rasa frustrasi karena tidak memikirkan hal ini sendiri, aku balas melontarkan, "Apa memangnya filosofi desain UR?""Singkat kata, eksesif. Peta dunia yang eksesif luasnya, grafis yang eksesif mendetail, kemampuan dan skill yang eksesif ekstensif... Keseluruhan gim ini dirancang untuk menantang pengalaman bermain kita sebagai pemain. Mereka yang memasang batasan pada apa yang bisa mereka lakukan bakal mati duluan, dan mereka yang muncul dengan ide-ide di luar batas akal sehat adalah mereka yang akan bertahan hidup.""......"Aku sama sekali tak bisa membantah hal tersebut.Saat bertarung melawan roh pendendam itu, aku menggunakan minyak biji rami untuk menyulut pedangku dengan api dan membelah sang hantu, yang mana kebal terhadap serangan fisik. Namun itu tetaplah ide yang mengandalkan pengetahuan seorang gamer.Akan tetapi, saat wraith itu mulai menyatu kembali, Argo telah merebut obor dari tanganku dan menjejalkannya ke dalam luka tebasannya, memicu ledakan. Itu adalah kreativitas murni, sebuah ide yang melampaui akal sehat.Di masa-masa SAO dulu, aku juga pernah memunculkan segala macam ide liar, dan mencobanya tanpa rasa takut. Sembilan puluh sembilan dari seratus ide itu gagal, tetapi ada banyak waktu di mana satu ide sukses itu berhasil menyelamatkan nyawaku.Namun semenjak aku mulai bermain dan menikmati ALO layaknya gim normal biasa, aku telah kehilangan semangat penuh inisiatif itu. Aku telah kehilangan spark-ku. Aku ingin menepuk kedua pipiku lagi, tetapi aku masih memegangi bayangan dinding batu tersebut, jadi aku mengepalkan tinjuku sebagai gantinya. Sejumlah balok batu yang dipahat kasar berjatuhan pada tempatnya dari udara kosong. Sebuah dinding bersisi enam kaki muncul di tepi dinding gua."...Kau berhasil," ujar Argo dengan bangga."Aku berhasil," ulangku, mempertimbangkan hal ini.Kalau kami bisa membangun dinding di sini, kami bahkan bisa membangun rumah dan fasilitas produksi di dalam gua ini, kalau ruangannya cukup. Dengan kata lain, kami bisa membuat markas kami sendiri.Kami tak hanya bisa menyegel mulut gua dengan dinding—kami bisa membangun markas di dalamnya dan memproduksi sejumlah besar ingot besi lalu membangun Kota Kirito dari bijih besi, tepat di dalam sini. Itu bakal jauh lebih efektif ketimbang mengangkut semuanya ke hutan yang jauh itu. Itu pun sebenarnya merupakan ide yang masuk akal sehat, alih-alih ide yang tak lazim, tetapi aku merasa hal itu patut untuk dicoba. Namun untuk saat ini..."Baiklah. Kita pakai ide bagusmu, Argo, dan memblokir pintu masuknya. Sayang banget sih kita nggak bakal bisa menjelajahi gua ini sampai ke ujungnya, tapi yah mau bagaimana lagi...""Kalau begitu kenapa nggak kita pergi ke ujungnya dulu saja? Pasukan Mutasina nggak bakal ninggalin reruntuhan sampai lusa malam, kan?""Yah, itu memang benar..."Barisan penyerangan mungkin akan dilangsungkan dalam dua hari lagi, tetapi mereka sudah mulai menaikkan level dan mengumpulkan kulit saat ini, aku tahu itu. Tak ada jaminan bahwa setidaknya salah satu dari mereka takkan menemukan air terjun ini dan mencoba mencari di bawahnya, seperti yang kami lakukan. "Masalahnya, aku masih agak sedikit cemas, jadi aku bakal balik ke pintu masuk. Kalian berdua cari-cari di sekitar sini dulu untuk sekarang.""Apa?!" seru Alice."Kalau begitu kita semua harusnya balik...""Bakal jauh lebih cepat lari di pinggir air daripada bolak-balik pakai kano. Lagipula aku sudah belajar cara menangani semua monster ini.""Kalau begitu pergilah bareng anak ini," ujar Argo, menepuk bagian belakang leher Kuro.Sang macan kumbang menggeram, "Grau!""Eh... kalian yakin kalian berdua bakal baik-baik saja?""Nah kan, kau meremehkanku lagi," gumam Alice, pipinya menggembung layaknya anak kecil yang merajuk."Levelku hampir menyamai levelmu sekarang. Argo juga petarung yang hebat. Kau harusnya lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri." "Benar itu. Dengar ya, kita nggak bakal coba ngelakuin hal yang nekat-nekat kok, jadi mending kau bawa Kuro bersamamu. Malahan," cetus Argo, menepuk punggung sang macan kumbang yang lebar dan bertenaga, "menurutmu kau bisa menunggangi makhluk ini?""Apa, di punggung Kuro?""Coba saja dulu.""Tapi gimana kalau dia malah marah...?" balasku. Namun dari segi fisiknya, macan kumbang itu jelas terlihat sanggup melakukannya. Aku melompat dari kano ke bebatuan kering, dan Kuro mengikutiku keluar dengan langkah kakinya yang ringan, lalu merebahkan diri di sebelahku tanpa perlu diberi perintah. "...Kuro, kau keberatan kalau kutunggangi?" tanyaku.Makhluk itu menggeram, "Grau."Aku menafsirkannya sebagai persetujuan dan dengan waswas mengangkangi punggungnya. Sesaat setelah beban tubuhku bertumpu padanya, Kuro berdiri dengan mudahnya, membawaku lengkap dengan zirah penuhku. "Whoa... sepertinya ini bakal berhasil...?""Tuh, kan? Sekarang perintahkan dia buat lari," desak Argo.Setelah ragu sejenak, aku mengarahkan tungganganku, "Kuro, maju!"Seketika itu juga, ia meraung antusias dan mulai melesat di sepanjang tepi air di dalam gua—terlepas dari fakta bahwa cuma ada sekitar empat kaki ruang kering di sana."Aaaaah!!"Aku memegang obor dengan tangan kiriku, jadi hanya tangan kanankulah satu-satunya tumpuanku untuk mencengkeram bulu biru lapis di punggung Kuro. Di belakangku, aku mendengar suara berseru "Cepat kembali!" dan "Hati-hati!" namun suaranya perlahan makin meredup tiap detiknya. Lantai guanya tak sepenuhnya datar melainkan bergelombang, dengan stalagmit tajam mencuat di sana-sini, tetapi kendati demikian, sang macan kumbang hitam dengan lincahnya melompati semua rintangan tersebut tanpa mengurangi kecepatannya.Kalau dipikir-pikir lagi, Kuro awalnya memang berlari ke dalam gua di tengah Sabana Giyoru itu untuk berlindung dari badai es. Barangkali lapispine dark panther sedari awal memang menjadikan gua sebagai rumah mereka.Ini adalah pertama kalinya aku menunggangi seekor macan kumbang, tetapi aku sudah sering menunggang kuda—cuma di dunia virtual, tentu saja. Aku mengingat kembali bagaimana cara meredam guncangan dan goyangan dahsyat dari pengalaman tersebut, dan begitu aku merasa sudah seirama dengan Kuro, sebuah pesan baru muncul. Skill Riding diperoleh. Kemahiran telah naik ke level 1.Jadi sistem mengkategorikan Kuro sebagai tunggangan. Itu berarti Misha, si beruang gua berduri, juga sama, mengingat ia bisa menampung lima anak Patter itu sekaligus. Sedangkan Aga, si agamid raksasa berparuh panjang, ukurannya sama dengan Kuro... tapi aku tidak bisa memastikannya. Aku bisa meminta Asuna untuk mencobanya nanti setelah kami kembali ke kota.Sementara itu, Kuro melesat menembus kegelapan. Saat kami tiba di jalan bercabang, ia akan mengikuti arahanku selama aku menarik bulu punggungnya ke arah yang kutuju. Sesekali, monster bermunculan, tetapi aku memperkirakan kami bisa melesat melewati mereka begitu saja. Dan kalaupun aku memancing segerombolan monster yang mengekor di belakangku, tidak ada pemain lain di dalam gua ini yang mungkin akan terancam bahaya karenanya. Perjalanan yang memakan waktu tiga puluh menit dengan kano—termasuk waktu menambang dan bertarung—hanya butuh tujuh atau delapan menit untuk diselesaikan Kuro lewat jalur darat, seraya kami memasuki bagian lurus tunggal yang kukenali. Aku menarik mundur kulit sang macan kumbang untuk memperlambat lajunya. Suara deru air terjun terdengar sayup-sayup namun semakin mengeras. "Kuro, berhenti."Macan kumbang itu seketika berhenti, jadi aku turun dan mengusap-usap bagian belakang lehernya sebagai tanda terima kasih, lalu mengeluarkan sepotong dendeng bison untuk kuberikan sebagai hadiah. Untukku sendiri, aku punya sisa shish kebab dari Reruntuhan Stiss untuk kukunyah seraya melangkah menuju pintu masuk gua.Ketika lebih banyak cahaya tampak di depan, aku memadamkan obor, dan aku bisa melihat celah bukaan yang membiarkan sinar bulan pucat masuk. Aku kembali mengamati ukuran pintu keluar itu lekat-lekat; tingginya dan lebarnya sekitar delapan kaki. Terasa sempit saat kami menerobos masuk menggunakan kano tadi, tetapi sekarang saat aku berpikir untuk memblokirnya, celah itu terasa sangat besar.Di sisi lain, aku cuma meletakkan hasil rakitan di sana dengan bantuan menu, bukan menyusun batu satu per satu, jadi ukurannya tak terlalu jadi masalah. Masalah sebenarnya adalah apakah aku bisa meletakkan dinding batu melintasi jalur sungai yang mengalir menembus gua ini, dan untuk mengetahuinya, aku harus mengujinya.Inventarisku sudah penuh dengan bijih dan kristal, jadi aku mematerialisasikan beberapa bongkahan bijih dan menumpuknya di tanah, lalu meraih beliungku. Dinding gua itu masih menampilkan lubang tempat aku mengekstraksi bijih besi pertama tadi. Sumber daya di dunia ini beregenerasi seiring berjalannya waktu, tetapi siklusnya cukup lambat jika dibandingkan dengan RPG pada umumnya. Aku membidikkan beliung ke sebuah titik tepat di sebelah lubang itu, dan satu ayunan saja berhasil memecahkan sebongkah batu abu-abu. Aku memungutnya dan mengecek propertinya: Namanya adalah Favilliteresite. Kalau favillite familier yang banyak ditemukan dalam jumlah tak terbatas di hulu sungai sana adalah semacam batu kapur yang rapuh, maka batu ini adalah batu kapur yang halus, kurasa. Hal itu mungkin menjadikannya material dengan tier yang lebih tinggi, tetapi aku ragu benda ini cukup berharga untuk jauh-jauh ditambang ke mari.Setelah beberapa saat, aku telah mengisi penuh inventarisku dengan semua favilliteresite yang bisa kubawa, lalu mengumpulkan sedikit tanah liat dari tepian air dan memilih Crude Stone Wall dari menu perakitan. Aku meletakkan objek bayangan itu tepat di depan pintu keluar, tetapi warnanya berubah menjadi abu-abu, mengindikasikan bahwa aku tidak bisa meletakkannya di sana. Aku menenggelamkannya ke dalam air, tetapi tetap tidak ada perubahan."Sudah kuduga..."Itu semua masih dalam batas ekspektasiku, jadi aku menggeser bayangan itu ke kanan, dan warnanya akhirnya kembali berubah ungu saat lebih dari separuh dasar bangunannya bertumpu di atas tanah. Aku mengepalkan tanganku di sana dan menciptakan dinding batu tersebut. Lalu aku menggali lebih banyak batu dan tanah liat dan mencoba memasangkannya menyatu dengan dinding yang pertama, tetapi warnanya tak kunjung berubah ungu."Hmm..." Yah, masuk akal sih kalau dinding batu raksasa tidak bisa begitu saja melayang di udara tanpa penopang apa pun. Dan lagipula, mencoba memblokir pintu masuk dungeon itu memang agak sinting. Aku baru saja hendak membatalkan seluruh eksperimen ini ketika kata-kata Argo terngiang kembali di benakku.Keseluruhan gim ini dirancang untuk menantang pengalaman bermain kita sebagai pemain.Aku harus berpikir, bukan seperti seorang gamer melainkan seperti seorang tukang kayu. Alasan aku tidak bisa meletakkan dinding di sungai adalah karena benda itu akan menghalangi aliran air. Jadi bagaimana kalau berupa struktur yang tidak menghambat aliran?Aku menggulir menu Beginner Carpentry sampai mataku tertuju pada nama Crude Wooden Pillar. Benda itu cuma membutuhkan satu gelondong kayu. Aku tahu aku masih punya beberapa gelondong pinus spiral yang tersisa, jadi aku menekan tombol rakit, menciptakan bayangan pilar bundar yang sederhana. Aku mengayunkannya di atas air, lalu menariknya ke bawah, dan ketika bagian dasarnya menyentuh dasar sungai, objek itu berubah menjadi ungu."Ya!" Tanpa pikir panjang, aku mengepalkan tangan yang bebas dengan penuh kemenangan, yang mana membuat Kuro mengibaskan ekornya dari tanah di dekatku.Lalu aku menyesuaikan posisinya dengan hati-hati dan menciptakan pilar tersebut. Dengan beberapa kali pengulangan lagi, aku telah membuat empat pilar yang berfungsi sebagai perpanjangan dari dinding batu yang asli. Hal itu menghabiskan semua gelondong kayuku, jadi aku cuma bisa berdoa semoga itu cukup.Aku memilih dinding batu dari menu lagi. Kali ini, aku memasangkannya agar menyatu dengan dinding asli dan keempat pilar kayu tersebut. Seketika, objek bayangan abu-abu itu berubah menjadi ungu, dan aku berseru, "Berhasil!!"Setelah mengepalkan tanganku, sejumlah besar batu berjatuhan pada posisinya, memblokir 80 persen dari pintu masuk gua. Tiba-tiba saja keadaan menjadi jauh lebih gelap, jadi aku menyalakan obor lagi.Dari sana, sisanya hanyalah pengulangan sederhana. Aku memasukkan lebih banyak batu dan tanah liat ke dalam inventarisku, lalu menambahkannya ke dinding tersebut. Aku menempatkan tiga buah bersebelahan dan dua lagi di atasnya, dan setelah itu pintu keluar benar-benar hilang dari pandangan.Namun itu tidak benar-benar menyegel pintu keluarnya secara total. Lagipula itu hanyalah dinding batu yang kasar, dan durability-nya tidak cukup tinggi untuk mencegahnya dihancurkan dengan cara yang tepat. Pilar kayu di bawah air malah lebih lemah lagi.Namun dinding yang kubangun terbuat dari favilliteresite yang sama dengan gua itu sendiri, jadi dari luar, warna dan teksturnya seharusnya cukup menyatu sempurna sehingga akan sangat sulit untuk mendeteksi bahwa bangunan itu menutupi pintu masuk ke sebuah gua.Tentu saja dinding itu mungkin takkan bertahan selamanya. Namun saat ini, satu-satunya yang benar-benar perlu kami lakukan hanyalah mencegah pasukan Mutasina mempersenjatai diri mereka dengan perlengkapan besi.Aku menyelipkan tanganku ke balik pelindung tenggorokanku untuk menyentuh simbol bergaya choker yang selama ini kusembunyikan dari seluruh dunia—Jerat-ku. Sihir penghenti napas itu tidak pernah aktif sekali pun sejak aku meninggalkan reruntuhan, jadi itu mungkin berarti Holgar dan yang lainnya sedang patuh pada perintah Mutasina untuk saat ini. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku takkan pernah mau mengalami teror semacam itu lagi. Rasanya seperti menatap langsung pada perjumpaan dengan kematian.Namun aku harus pasrah menghadapinya. Saat pada akhirnya aku harus berhadapan langsung dengan Mutasina, dan ia mengetahui bahwa aku juga berada di bawah pengaruh Jerat-nya, ia pasti akan mengaktifkan mantranya tanpa pikir panjang. Dan peluang untuk menemukan solusi guna melepaskan kutukan itu sebelum momen tersebut tiba sangatlah tipis.Apa pun yang terjadi, aku harus melakukan apa yang kubisa untuk saat ini. Aku menurunkan tanganku dan membuka ring menu, lalu mengirimkan pesan pada Alice: Penyegelan pintu masuk selesai. Sedang jalan kembali.Ia seketika membalas dengan Dimengerti. Kami telah menemukan ruang bosnya."...'Bos,' katanya," ujarku pada Kuro seraya menggelengkan kepala.Macan kumbang itu hanya mengeong, seolah-olah ingin berkata, "Tenagaku masih penuh!"
Dengan koin-koin baruku, kami membeli makanan dari kedai-kedai yang tersebar di sana-sini, dan menimba air gratis dari sumur sebanyak yang sanggup kami bawa, sebelum akhirnya berlari cepat kembali ke ruangan terbengkalai di dekat gerbang utara.Kami mengenakan zirah kami kembali di pintu masuk, lalu melangkah ke dalam. Aku sempat mengirim pesan selagi kami di jalan, tetapi untuk berjaga-jaga, aku mengetuk dua kali sebelum membuka pintu."Kalian terlambat!" Alice langsung mengomeliku."Gra-rooo!" rengek Kuro, teguran keduanya terdengar bak suara stereo.Aku mengusap leher macan kumbang hitam tersebut saat ia melompat ke arahku dan berkata pada Alice, "Maaf, maaf, situasinya tak berjalan persis seperti rencana...""Setidaknya tidak bisakah kau memberiku perkiraan kapan kalian akan kembali?""Eh... benar juga. Aku akan mengabarimu lain kali... Malahan, kurasa aku seharusnya melakukan hal yang sama pada semua orang yang sedang berjaga di kota selama kita pergi...""Aku sudah mengirimkan pesan bahwa kita takkan kembali sampai paling cepat tengah malam nanti.""M-makasih buat itu. Um, ini untukmu, kalau kau mau."Aku mengeluarkan beberapa makanan yang telah kami beli dan menatanya di atas meja usang di tengah ruangan. Makanan itu memang cuma berasal dari kedai kaki lima, jadi bahan-bahannya bukanlah kualitas nomor wahid, tetapi masing-masing memiliki tampilan dan aroma yang cukup menggoda, mulai dari sesuatu yang menyerupai sandwich pita berupa kantong roti renyah berisi daging panggang dan sayuran di dalamnya, hingga sesuatu semacam shish kebab dengan tumpukan irisan daging yang ditusukkan pada lidi dan dibakar hingga harum, sampai ke sesuatu yang mirip quesadilla berupa adonan tipis yang menyelimuti keju dan bawang bombai lalu dimasak hingga lumer. Namun saat Alice melihat makanan tersebut, ia justru memelototiku."Kirito, jangan-jangan kau...?""Oh! Bukan! Aku tidak memakai uang Sinon untuk beli ini kok. Aku menjual sebagian materialku untuk mendapatkan uang. Ini, uangnya kukembalikan padamu... Sayangnya, kami tak menemukan peluru satu pun," ujarku, mengembalikan karung kulit berisi koin bernilai seratus el lebih tersebut.Pada akhirnya, raut wajah Alice pun melembut."Aku akan memercayaimu soal isinya. Kalau begitu, aku terima tawaran makananmu dengan senang hati."Ia menggigit quesadilla tersebut, mengunyahnya beberapa kali, lalu berujar, "Lumayan enak."Alice adalah seorang Integrity Knight di Underworld, sebuah posisi yang bahkan jauh lebih diagungkan ketimbang kaisar di alam manusia, tetapi urusan selera lidahnya tidaklah terlampau mewah. Kalau boleh dibilang, ia justru lebih menyukai makanan rumahan yang merakyat. Tentu saja, tubuh mesinnya di dunia nyata tak memiliki fungsi untuk makan, jadi ia hanya bisa menikmati sensasi mencicipi masakan di dunia virtual.Namun di ALO, ia biasanya memesan hamburg steak, stew, dan spageti untuk hidangannya. Asuna telah berusaha sebaik mungkin untuk mereka ulang resep kari dan ramen demi Alice, tetapi eksperimen yang masih berjalan itu terpaksa tertunda di tengah jalan akibat seluruh insiden ini. Sembari berdoa agar suatu hari nanti kami berkesempatan untuk duduk bersama mengelilingi meja makan dengan Alice di dunia nyata, aku mengambil shish kebab itu. Kuro menduselkan kepalanya ke pinggangku, jadi aku meloloskan beberapa potong daging dari lidi tersebut dan menyuapkannya satu per satu pada sang macan kumbang. Sembari melamun, aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada dunia Unital Ring begitu seseorang mencapai tanah yang disingkap oleh cahaya surgawi. Apakah dunia ini akan lenyap selamanya? Apakah Kuro, Aga, dan Misha akan ikut menghilang bersamanya?"Kau nggak makan, Kiri-boy?" tanya Argo, memegang shish kebab di satu tangan dan quesadilla di tangan yang lain.Aku mendongak. "Ini aku makan, kok."Aku meraup sandwich pita itu dan mengangkatnya ke mulutku. Sejujurnya aku tak punya banyak nafsu makan, tetapi aku harus memulihkan TP dan SP-ku sebelum kami berangkat. Aku melahap sandwich itu dalam satu gigitan besar, mendapati sensasi realistis dari irisan daging tipis dan sayuran mentah yang renyah berderak di sela-sela gigiku. Grafis Unital Ring jelas berada jauh melampaui visual engine VR mana pun yang ada saat ini—dan hal yang sama juga berlaku untuk pemodelan rasanya. Siapa yang sanggup menciptakan semua ini dan untuk apa? tanyaku dalam hati untuk yang kesekian kalinya seraya mengunyah roti pita tersebut.Sesaat setelah kami melewati gerbang utara menuju padang terbuka, aku menyadari bahwa aku lupa melakukan satu hal."Oh... Argo, apakah quest hantu kunomu itu ada update sama sekali? Apa kau perlu mengurusnya?""Nggak masalah. Ada hal yang jauh lebih penting untuk kita urus," aku Argo.Di sisi lainnya, Alice bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?""Akan kami jelaskan sembari jalan."Begitu aku yakin tidak ada pemain lain dalam jarak pandang, kami mulai berlari ke arah timur laut. Aku mendeskripsikan rentetan kejadian di acara perkumpulan tersebut, menanggalkan satu informasi spesifik, dan raut wajah Alice berubah semakin terusik semakin jauh aku bercerita. Ketika aku selesai, ia tak bisa menyembunyikan amarah dalam suaranya."Memangnya wanita bernama Mutasina itu pikir dia siapa?! Seandainya aku ada di sana, aku pasti sudah menebasnya jadi dua!""Sebenarnya, levelnya benar-benar tinggi. Kemungkinan besar lebih tinggi dari kita semua.""Itu tidak penting! Tapi... syukurlah kalian berdua tidak terkena kutukan itu, kalau semua orang di sana juga kena." Kelalaianku yang disengaja itu, tentu saja, adalah fakta bahwa aku juga terkena mantra Noose of the Accursed tersebut. Untungnya, pelindung leher pada zirahku menyembunyikan garis kutukan yang terukir di tenggorokanku.Ketika aku mengakui kebenarannya pada Alice nanti, ia pastinya akan lebih dari sekadar murka, tetapi jika aku memberitahunya sekarang, ia pasti akan berbalik kembali ke reruntuhan dan mencoba membalaskan dendamku pada Mutasina."Yah, aku lumayan sering latihan membelah sihir waktu di ALO dulu," balasku, melirik ke arah Argo. Sang pialang informasi itu membalas dengan tatapan yang seolah berkata, Iya, aku tahu, jadi aku mengalihkan pembicaraan."Masalah sebenarnya adalah Mutasina dan seratus lebih pemain level tinggi di bawah kendalinya bakal menyerang kota kita. Ini bukan jenis situasi yang bisa kita redakan lewat diskusi. Kita harus siap tempur untuk melawan balik.""Kapan mereka akan menyerang?""Kata Mutasina lusa... malam tanggal 1 Oktober. Rencana mereka rupanya adalah menghabiskan waktu dua hari untuk mendongkrak kualitas perlengkapan semua orang hingga mencapai standar fine leather minimum, jadi mungkin saja lebih lambat dari itu tapi pastinya tidak akan lebih awal," jelasku.Argo memiringkan kepalanya dengan cekatan tanda terkejut seraya ia berlari."Tapi, Kiri-boy, kau benar-benar berpikir keseratus orang di sana itu bakal ikut andil dalam penyerangan? Sihir pencekikan Mutasina itu memang sinting sih, tapi dia nggak bisa ngapa-ngapain kalau mereka log out, kau tahu kan?""Tentu, memang benar... tapi tidak log in ke dalam gim berarti tidak ikut berpartisipasi dalam upaya menamatkan Unital Ring. Orang-orang di stadion tadi itu adalah pemain tingkat lanjut (advanced player), tipe pemain yang dulu kausebut pelopor (front-runner). Kalau satu-satunya pilihan lain yang mereka punya adalah lempar handuk dan menyerah, kurasa mereka bakal tunduk pada jeratan tangan Mutasina di leher mereka dan terus melangkah maju menuju garis akhir.""...Kurasa kau benar. Maksudku, orang-orang garis depan di SAO dulu juga terus melangkah maju, padahal nyawa mereka sendiri taruhannya.""Ya. Mereka memang gila.""Aku pengin banget balik ke orang-orang itu dan ngasih mereka survei. Nanyain siapa yang menurut mereka paling gila," ujarnya diiringi seringaian. Sembari percakapan ini berlangsung, kami melesat melintasi padang rumput dalam kecepatan penuh. Kami terpaksa harus mengambil jalan memutar menghindari sejumlah party pemburu, tetapi tak ada kendala yang berarti, dan kami berhasil tiba kembali di sungai—yang Mutasina sebut sebagai Sungai Maruba.Aku sempat memberikan peluang lebih dari lima puluh persen kalau benda itu sudah hilang, tetapi kano kayu galian kami masih berada tepat di tempat kutambatkan sebelumnya di air. Argo cukup terkesan dengan hasil kreasi kami; aku mendudukkannya di tempat dekat buritan, menempatkan Alice di depannya, dan membiarkan Kuro kembali mengambil alih bagian haluan. Aku menarik jangkar, memiringkan dayung, dan membuat kano itu berenang melawan arus. Kalau saja kami bisa terus mengapung melawan arus hingga kembali ke Hutan Besar Zelletelio. Tak butuh waktu lama sebelum kami mendengar gemuruh berat yang sama dengan yang kami dengar saat perjalanan berangkat tadi. Sulit untuk menakar skalanya hanya dengan penerangan cahaya bulan, tetapi Alice memperkirakan tinggi air terjun masif itu mencapai seratus kaki. Mustahil kano ini—atau perahu mana pun—bisa kembali naik ke atas sana."Kurasa sampai di sini saja riwayat perahu ini," gumamku.Alice membalas dengan nada menyesal, "Sayangnya begitu. Kita terpaksa menepi dan membongkarnya jadi material.""Aye, aye, sir," ujarku, lalu bertanya-tanya, Tunggu, bukannya harusnya, "Aye, aye, ma'am"? Namun kemudian aku menyadari bahwa Alice mungkin toh takkan mengerti kata-kata bahasa Inggris tersebut.Aku baru saja hendak memutar dayung ke sisi kanan kapal saat Argo tiba-tiba menyela, "Tunggu dulu! Kiri-boy, kau tahu ada sesuatu yang harus kau lakukan sebelum kau membongkar perahu ini!"Aku mengerjap kaget."Lakukan? Seperti apa misalnya?""Ayolah, kau ada di depan air terjun raksasa di dunia virtual! Cuma ada satu hal yang bisa dilakukan, bodoh!""...Ohhh." Aku menyeringai begitu menyadari apa yang ia maksud. Namun tak sesederhana itu kenyataannya."Dengar ya, Argo, ini mungkin dunia gim, tapi ini adalah VRMMO berbasis realisme. Satu gerakan salah saja bisa menghancurkan perahu ini berkeping-keping.""Makanya jangan sampai salah gerakan! Ayo, maju kecepatan penuh!" instruksi Argo tanpa rasa tanggung jawab. Kuro mengeong menyetujui. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa toh perahu ini akan hancur dengan satu atau lain cara, dan aku pun kembali mendorong dayungnya ke depan."Ah... apa yang kaulakukan?" tanya Alice dengan nada sedikit cemas.Aku memberinya jawaban samar "Sudah, sudah" dan terus mengayuh maju."Tapi, Kirito, air terjunnya—""Sudah, sudah, sudah.""Air terjunnya!""Sudah, sudah, sudah, sudah."Sementara perdebatan ini berlangsung, kano itu telah mencapai kolam air terjun yang luas. Air terjun raksasa beserta deru gemuruhnya yang tak kunjung padam kini berada tepat di hadapan kami.Aku memusatkan perhatian pada air terjun itu, yang diterangi oleh cahaya bulan dan bintang-bintang, dan melihat bebatuan besar menonjol di kedua sisi yang membuatnya mustahil untuk dikitari. Ada satu titik di dekat tengah air terjun, persis di sebelah kanan, di mana sebatang pohon mencuat keluar dan membuat arusnya sedikit lebih lemah di bawahnya. Kalau kami mau menerobos masuk, di situlah tempatnya."Oke, kita mulai! Pegangan yang erat!"Aku memiringkan dayung dengan kedua tangan sejauh yang kubisa, mengayuh ke kiri dan kanan dengan tenaga maksimal. Kano itu berakselerasi dengan gesit, menerjang menuju air bah dari atas, yang berkilau keperakan di bawah siraman cahaya bulan. "Kirito! Jangan gegabah! Mukjizat takkan terjadi dua kali!"Mungkin Alice merujuk pada fakta bahwa kami telah jatuh dari tebing ini sebelumnya dan selamat. Aku tidak lantas menyangkalnya, tetapi aku memang cenderung suka bertingkah sembrono untuk menyeimbangi sifatnya yang lurus."Tidak, mukjizat pasti akan terjadi! Akan kubuat hal itu jadi nyata!" teriakku tanpa dasar.Kano itu menerjang air terjun yang menderu dalam kecepatan maksimal. Pertama-tama Kuro meraung, "Graoowr!" lalu Argo berseru heboh, "Yahooo!" dan disusul jeritan Alice, "Kyaaaaaa!"Semua yang bisa kulihat hanyalah warna biru. Tekanan air yang luar biasa menjepit bahuku, mendorong perahu itu ke bawah. Kalau sisi kano ini tenggelam sedikit saja lebih rendah, air akan membanjiri masuk dan menenggelamkan kami."Hrrrrrrg!" Di dalam benakku, aku meratap, Harusnya aku nggak ngelakuin iinii! namun kendati demikian, aku terus mengayuh sekuat tenaga. Namun sayangnya, kano itu tak kunjung bergerak maju.Tepat saat aku menyangka kano itu bakal tenggelam untuk selamanya, tekanan pada dayungnya mereda. Aku menoleh ke belakang dan melihat Alice, dengan air yang menghantam langsung punggungnya, tengah memegangi ujung dayung.Dengan gabungan kekuatan kami berdua, dayung itu berderit menahan tekanan air yang begitu besar, tetapi hal itu sukses membantu meluncurkan kano tersebut ke depan untuk menembus derasnya arus pada akhirnya. Dalam sekejap, deru gemuruh dan tekanan airnya sirna, dan aku sempat tak percaya sejenak sebelum aku buru-buru menghentikan laju kano kami. Perahu itu meluncur beberapa kaki ke depan di perairan yang tenang lalu berhenti."...Semuanya tak apa-apa?" tanyaku, lantaran tak ada cara untuk memastikannya di tengah sekeliling kami yang gelap gulita. Argo dan Kuro merespons dari depan, dan sesaat kemudian, aku mendengar dengusan kesal Alice di belakangku. "Yah... kita selamat, aku akui itu. Tapi aku benar-benar ogah ikut campur dalam upaya mukjizat yang ketiga kalinya nanti.""Makasih atas bantuannya," ujarku, menarik sebatang obor dari inventarisku dan menyalakannya. Saat aku mengangkatnya lebih tinggi, aku berpikir betapa aku sangat mendambakan sebuah lentera sekarang ini... atau yang lebih bagus lagi, sihir cahaya.Cahaya api mengekspos sebuah gua alam raksasa. Gugusan stalaktit menggantung dari langit-langit, dan stalagmit tumbuh dari tepian air dalam konfigurasi yang ganjil.Di belakang kami, aku bisa melihat pintu keluar sempit yang melaluinya bagian belakang air terjun itu terlihat. Seandainya kami menerjang air terjun itu meleset tiga kaki saja ke sisi mana pun, kami pasti sudah menabrak batu padat dan tenggelam.Setelah itu beres, aku kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling gua. Lantainya dialiri genangan air yang mengalir tenang, yang berarti kami bisa terus menggerakkan kano ini ke depan... namun ada sesuatu yang lebih penting dari itu."Itu... besi! Bijih besi!" seruku sesaat setelah aku menyadari keberadaan bebatuan hitam kemerahan yang mencuat dari dinding abu-abu tersebut, seketika melupakan semua rasa tak nyaman akibat basah kuyup barusan."Whoa, dan di sana... dan di sebelah sana juga!""Hei, tenang dulu, Kiri-boy. Kita harusnya mikirin apa yang mesti dilakuin sekarang, bukannya malah pusingin soal bijih...""Tidak, bijih ini jauh lebih penting dari masa depan!"Aku mengayuh kano mendekat ke tepian kanan."Ambil alih dayungnya, Alice... Arusnya tenang di sini, jadi kau tinggal memegangnya tegak lurus di dalam air.""...Baiklah," ujar sang kesatria, menerima posisi juru mudi tersebut dengan pasrah. Aku menancapkan obor ke dalam soket di sisi kano dan melompat ke atas tanah padat. Permukaannya licin, jadi aku melangkah berhati-hati mengitari stalagmit tersebut untuk mendekati bongkahan bijih itu. Kali pertama aku menemukan bijih besi, di gua beruang di Hutan Zelletelio, aku terpaksa harus menggunakan metode primitif, yakni memecahkannya dengan kapak batu. Butuh banyak waktu, dan aku tak mendapatkan banyak hasil darinya.Namun kini, aku punya fine iron pickaxe, persembahan dari Lisbeth. Aku mengeluarkannya dari inventarisku, menggenggamnya erat-erat di tanganku, dan menghantamkannya kuat-kuat ke bijih yang mencuat dari dinding tersebut.Hantaman itu menghasilkan bunyi trink bernada tinggi dan memercikkan bunga api yang melompat dan memantul. Di dunia nyata, kau akan mengekstraksi bijih semacam ini dengan memecahkan bebatuan lain di sekitar urat bijihnya, tetapi di sini, hal itu hanya akan memberimu batu biasa. Kau harus menghantam bijih yang terekspos itu secara langsung.Urat bijih seukuran ini bakal butuh setidaknya tiga puluh pukulan dengan kapak batu, tetapi beliung besi andalanku sukses menciptakan retakan besar pada bijih itu hanya setelah delapan ayunan. Dua atau tiga pukulan lagi, dan bijih itu akan runtuh ke tanah menjadi beberapa bongkahan. Aku cuma perlu berhati-hati agar benda itu tak menggelinding ke air di belakangku..."Kiri-boy, di atasmu!""Grau!"Peringatan Argo dan Kuro seketika mengalihkan perhatianku ke atas. Kukira itu adalah monster, tetapi aku malah melihat dua stalaktit masif bergoyang dan bergetar di atasku."Whoa!"Aku melompat mundur sekuat tenaga, tepat sebelum pilar-pilar batu tajam itu jatuh tanpa suara dan menghancurkan titik tempatku berdiri tadi. Aku tidak memakai helm, jadi hantaman di kepalaku pasti akan langsung membunuhku... atau setidaknya menguras 20 atau 30 persen HP-ku."A-apa kau tidak apa-apa?!" seru Alice. Aku mengangkat tanganku untuk melambai."Aku tidak apa-apa... Menarik. Jadi stalaktit ini dirancang untuk jatuh kalau kau menambang bijih tanpa memperhatikan sekitarmu..."Kalau aku sendirian, aku pasti takkan sempat menyadarinya, batinku, merasa sangat bersyukur atas kehadiran rekan-rekanku di sini.Argo, sementara itu, terdengar lebih kesal dengan kejadian tersebut."Kau nggak punya helm buat dipakai, kan? Mungkin mending kau nggak usah repot-repot ngelakuin ini, Kiri-boy.""Urgh..."Memang benar aku tidak punya perlengkapan kepala di inventarisku. Kenyataannya, sejak masa-masa SAO hingga sekarang, aku nyaris tak pernah mengenakan helm jenis apa pun. Bukan karena aku merasa penampilanku lebih keren begini, tetapi karena dalam RPG full-dive, kerugian pada pandangan dan pendengaranmu jauh lebih besar ketimbang keuntungan dari pertahanan ekstra.Bahkan Heathcliff, pemimpin Knights of the Blood, yang merupakan pemain dengan pola pikir pertahanan yang luar biasa mengerikan, tidak mengenakannya, dan hal itu meyakinkanku bahwa logikaku masuk akal. Lagipula, ia tak lain dan tak bukan adalah Kayaba Akihiko, bapak dari VRMMO...Pemikiran-pemikiran inilah yang melintas di benakku seraya aku kembali ke posisiku di depan bijih besi yang retak tersebut."Aku memang tak punya helm, tapi aku yakin aku bakal baik-baik saja selama aku lebih waspada," ujarku pada Argo, lalu mengangkat beliungku.Begitu aku yakin tidak ada stalaktit yang mengancam akan jatuh, aku kembali menghantam batu tersebut. Pada pukulan ketiga, bijih itu pecah menjadi empat bagian dan menggelinding jatuh ke tanah. Aku buru-buru meraup pecahan-pecahan itu dan melemparkannya ke dalam inventarisku.Satu-satunya tempat di sekitar pondok kayu tempat bijih besi bisa ditemukan hanyalah gua lama Misha, jadi pasokan kami tidak bisa dibilang melimpah. Kalau aku bisa mengisi penuh kapasitas bawaku dengan bijih dan membawanya pulang, itu akan jadi bantuan besar bagi kota kami yang tengah berkembang.Setelah itu, aku menghentikan kano setiap kali aku melihat bijih besi dan kembali menghantam dengan beliungku. Selain besi, terdapat pula bijih tembaga dan perak dalam jumlah kecil. Bahkan ada kristal juga, meskipun aku belum tahu apa kegunaannya nanti. Aku mengumpulkan semuanya seraya kami melaju semakin jauh ke dalam gua.Ini mungkin gua alam, tetapi tempat ini jelas-jelas sebuah dungeon, jadi sesekali ada monster yang bermunculan. Yang terburuk adalah kelelawar raksasa yang terbang tiga atau empat ekor sekaligus, mencoba memadamkan oborku.Begitu cahayanya padam, kami bertiga takkan bisa mengayunkan senjata sampai kami mendapatkan penerangan baru, karena khawatir kami malah tak sengaja menebas satu sama lain. Namun Kuro, setia pada namanya sebagai macan kumbang hitam, bisa melihat musuh-musuh kami bahkan di dalam kegelapan, dan ia menepis jatuh kelelawar-kelelawar gesit itu dengan cakar depannya yang kuat.Dalam waktu kurang dari setengah jam, Alice, Argo, dan aku telah mengisi penuh penyimpanan kami dengan sumber daya alam, dan aku merasa sangat puas... atau setidaknya, seharusnya aku merasa begitu. "...Kelihatannya kau tidak terlalu senang," tegur Alice.Aku menutup jendelaku dan menanggapi perkataannya. "Ya... masalahnya, aku baru menyadari sesuatu yang sangat merepotkan.""Ada apa?" "Gua ini jaraknya tidak terlalu jauh dari Reruntuhan Stiss, kan? Yang berarti hanya masalah waktu sebelum kelompok pemain Mutasina menemukannya. Dan kalau kau bisa mendapatkan bijih sebanyak ini dari sini, takkan sulit untuk mempersenjatai keseratus orang itu dengan perlengkapan besi."Raut wajah Alice menegang. Tim pimpinan Schulz, yang menyerang kami tadi malam—yang rupanya bernama Fawkes—beranggotakan dua puluhan orang, dan sekitar separuh dari mereka memiliki senjata besi. Dan kami nyaris saja tidak memenangkan pertarungan tersebut. Kalau pasukan berjumlah seratus orang yang semuanya mengenakan besi menyerang, kami takkan punya peluang menang sedikit pun."...Ya, itu akan sama tidak menguntungkannya dengan Battle of the Eastern Gate," ujarnya, suaranya terdengar keras.Battle of the Eastern Gate adalah pembuka dari War of Underworld, yang telah melibatkan seluruh Underworld. Saat pertempuran itu terjadi, aku masih dalam keadaan koma, jadi aku hanya punya ingatan yang paling samar tentang atmosfer mencekam yang menyelimuti kamp manusia.Namun bagi Alice, itu adalah pertempuran di mana ia kehilangan satu-satunya muridnya, Eldrie Synthesis Thirty-One. Aku merasa bersalah karena membuat Alice memandang pertarungan PvP di Unital Ring sama seperti Perang Underworld... namun kemudian aku memikirkannya kembali. Bagi Alice, keduanya adalah pertempuran sungguhan yang menuntut upaya terbaiknya.Aku menepuk kedua pipiku untuk memarahi diriku sendiri atas momen kebodohan itu. Saat ia memberiku tatapan penasaran, aku menjelaskan, "Itu bukan berarti aku bisa langsung menyerah. Kalau seratus orang bersenjata besi melancarkan penyergapan terhadap kita, tamatlah riwayat kita. Tapi kita tahu kamp musuh, dan kita tahu kita bisa mendapatkan bijih besi di sini. Kalau kita menyatukan pikiran kita dan memunculkan ide-ide, aku yakin kita bisa menemukan cara untuk menang." "...Ya, itu benar," ujar Alice seraya tersenyum."Kalau begitu, bakal kuberi kalian ide bagus sekarang juga. Gratis, malahan," cetus Argo, yang tengah mengelus leher Kuro di haluan kano."I-ide apa itu?""Kita nggak mau musuh menambang bijih besi dari gua ini, kan? Jadi kenapa nggak kita tutup saja semuanya?""Menutup... guanya?!"Aku terperanjat selama beberapa detik, lalu mengedarkan pandangan. Gua ini selebar dua puluh hingga dua puluh lima kaki—dan kurang lebih setinggi itu juga. Ada banyak percabangan, membuat ukuran penuhnya sulit untuk ditaksir. Kami telah bergerak lambat seraya mengumpulkan sumber daya, tetapi setelah tiga puluh menit pun kami belum juga mencapai ujungnya, jadi bisa saja gua ini memiliki panjang satu atau dua mil, sejauh yang kami tahu."Kalau kita mencoba menimbun tempat ini, kita bakal butuh sepuluh truk penuh dinamit. Dan bahkan di Unital Ring sekalipun, kutebak perubahan lanskap besar semacam itu mustahil untuk dilakukan," bantahku, menggunakan akal sehat biasa.Namun Argo hanya balik menyeringai padaku."Aku bukannya bilang kita harus menimbun semuanya. Cukup pintu keluar di balik air terjun itu. Kalau kita menutupnya di sana, mereka takkan bisa masuk.""Oh... b-benar juga. Ya, memang benar... tapi itu pun tugas yang sangat besar. Cuma memukuli langit-langit dengan beliung nggak bakal cukup...""Ah... begitu rupanya. Aku mengerti."Alice meninju telapak tangannya."Maksudmu bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membangun.""Membangun...? Oh! Aku mengerti. Maksudmu membuat dinding batu tepat di pintu masuknya," ujarku, akhirnya menyadari apa yang diisyaratkan oleh Argo. Aku mengangkat tangan untuk menjentikkan jariku namun menghentikan niatku sebelum melakukannya."Tapi tunggu, itu tidak akan berhasil, kan? Maksudku, kalau seorang pemain bisa membangun dinding atau tangga di dungeon, kau bisa membuat jalan pintas petamu sendiri dan mengganggu pemain lain sesukamu.""Yah, uji saja sendiri sana dan lihat," ujar Argo. Aku menyadari bahwa ucapannya ada benarnya. Jadi aku menggunakan jariku yang batal menjentik itu dan malah membuka menu, memunculkan menu perakitan Beginner Carpentry dan menemukan Stacked Rock Wall di dalam daftar. Dinding bayangan tembus pandang yang muncul berwarna abu-abu karena posisi awalnya berpotongan dengan dinding gua, tetapi menggesernya ke samping mengubah warnanya menjadi ungu muda."...Sepertinya ini berhasil..." "Tuh, lihat, kan? Aku sudah menduga kalau ini selaras dengan filosofi desain UR," ujar Argo dengan penuh percaya diri.Atas dasar rasa frustrasi karena tidak memikirkan hal ini sendiri, aku balas melontarkan, "Apa memangnya filosofi desain UR?""Singkat kata, eksesif. Peta dunia yang eksesif luasnya, grafis yang eksesif mendetail, kemampuan dan skill yang eksesif ekstensif... Keseluruhan gim ini dirancang untuk menantang pengalaman bermain kita sebagai pemain. Mereka yang memasang batasan pada apa yang bisa mereka lakukan bakal mati duluan, dan mereka yang muncul dengan ide-ide di luar batas akal sehat adalah mereka yang akan bertahan hidup.""......"Aku sama sekali tak bisa membantah hal tersebut.Saat bertarung melawan roh pendendam itu, aku menggunakan minyak biji rami untuk menyulut pedangku dengan api dan membelah sang hantu, yang mana kebal terhadap serangan fisik. Namun itu tetaplah ide yang mengandalkan pengetahuan seorang gamer.Akan tetapi, saat wraith itu mulai menyatu kembali, Argo telah merebut obor dari tanganku dan menjejalkannya ke dalam luka tebasannya, memicu ledakan. Itu adalah kreativitas murni, sebuah ide yang melampaui akal sehat.Di masa-masa SAO dulu, aku juga pernah memunculkan segala macam ide liar, dan mencobanya tanpa rasa takut. Sembilan puluh sembilan dari seratus ide itu gagal, tetapi ada banyak waktu di mana satu ide sukses itu berhasil menyelamatkan nyawaku.Namun semenjak aku mulai bermain dan menikmati ALO layaknya gim normal biasa, aku telah kehilangan semangat penuh inisiatif itu. Aku telah kehilangan spark-ku. Aku ingin menepuk kedua pipiku lagi, tetapi aku masih memegangi bayangan dinding batu tersebut, jadi aku mengepalkan tinjuku sebagai gantinya. Sejumlah balok batu yang dipahat kasar berjatuhan pada tempatnya dari udara kosong. Sebuah dinding bersisi enam kaki muncul di tepi dinding gua."...Kau berhasil," ujar Argo dengan bangga."Aku berhasil," ulangku, mempertimbangkan hal ini.Kalau kami bisa membangun dinding di sini, kami bahkan bisa membangun rumah dan fasilitas produksi di dalam gua ini, kalau ruangannya cukup. Dengan kata lain, kami bisa membuat markas kami sendiri.Kami tak hanya bisa menyegel mulut gua dengan dinding—kami bisa membangun markas di dalamnya dan memproduksi sejumlah besar ingot besi lalu membangun Kota Kirito dari bijih besi, tepat di dalam sini. Itu bakal jauh lebih efektif ketimbang mengangkut semuanya ke hutan yang jauh itu. Itu pun sebenarnya merupakan ide yang masuk akal sehat, alih-alih ide yang tak lazim, tetapi aku merasa hal itu patut untuk dicoba. Namun untuk saat ini..."Baiklah. Kita pakai ide bagusmu, Argo, dan memblokir pintu masuknya. Sayang banget sih kita nggak bakal bisa menjelajahi gua ini sampai ke ujungnya, tapi yah mau bagaimana lagi...""Kalau begitu kenapa nggak kita pergi ke ujungnya dulu saja? Pasukan Mutasina nggak bakal ninggalin reruntuhan sampai lusa malam, kan?""Yah, itu memang benar..."Barisan penyerangan mungkin akan dilangsungkan dalam dua hari lagi, tetapi mereka sudah mulai menaikkan level dan mengumpulkan kulit saat ini, aku tahu itu. Tak ada jaminan bahwa setidaknya salah satu dari mereka takkan menemukan air terjun ini dan mencoba mencari di bawahnya, seperti yang kami lakukan. "Masalahnya, aku masih agak sedikit cemas, jadi aku bakal balik ke pintu masuk. Kalian berdua cari-cari di sekitar sini dulu untuk sekarang.""Apa?!" seru Alice."Kalau begitu kita semua harusnya balik...""Bakal jauh lebih cepat lari di pinggir air daripada bolak-balik pakai kano. Lagipula aku sudah belajar cara menangani semua monster ini.""Kalau begitu pergilah bareng anak ini," ujar Argo, menepuk bagian belakang leher Kuro.Sang macan kumbang menggeram, "Grau!""Eh... kalian yakin kalian berdua bakal baik-baik saja?""Nah kan, kau meremehkanku lagi," gumam Alice, pipinya menggembung layaknya anak kecil yang merajuk."Levelku hampir menyamai levelmu sekarang. Argo juga petarung yang hebat. Kau harusnya lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri." "Benar itu. Dengar ya, kita nggak bakal coba ngelakuin hal yang nekat-nekat kok, jadi mending kau bawa Kuro bersamamu. Malahan," cetus Argo, menepuk punggung sang macan kumbang yang lebar dan bertenaga, "menurutmu kau bisa menunggangi makhluk ini?""Apa, di punggung Kuro?""Coba saja dulu.""Tapi gimana kalau dia malah marah...?" balasku. Namun dari segi fisiknya, macan kumbang itu jelas terlihat sanggup melakukannya. Aku melompat dari kano ke bebatuan kering, dan Kuro mengikutiku keluar dengan langkah kakinya yang ringan, lalu merebahkan diri di sebelahku tanpa perlu diberi perintah. "...Kuro, kau keberatan kalau kutunggangi?" tanyaku.Makhluk itu menggeram, "Grau."Aku menafsirkannya sebagai persetujuan dan dengan waswas mengangkangi punggungnya. Sesaat setelah beban tubuhku bertumpu padanya, Kuro berdiri dengan mudahnya, membawaku lengkap dengan zirah penuhku. "Whoa... sepertinya ini bakal berhasil...?""Tuh, kan? Sekarang perintahkan dia buat lari," desak Argo.Setelah ragu sejenak, aku mengarahkan tungganganku, "Kuro, maju!"Seketika itu juga, ia meraung antusias dan mulai melesat di sepanjang tepi air di dalam gua—terlepas dari fakta bahwa cuma ada sekitar empat kaki ruang kering di sana."Aaaaah!!"Aku memegang obor dengan tangan kiriku, jadi hanya tangan kanankulah satu-satunya tumpuanku untuk mencengkeram bulu biru lapis di punggung Kuro. Di belakangku, aku mendengar suara berseru "Cepat kembali!" dan "Hati-hati!" namun suaranya perlahan makin meredup tiap detiknya. Lantai guanya tak sepenuhnya datar melainkan bergelombang, dengan stalagmit tajam mencuat di sana-sini, tetapi kendati demikian, sang macan kumbang hitam dengan lincahnya melompati semua rintangan tersebut tanpa mengurangi kecepatannya.Kalau dipikir-pikir lagi, Kuro awalnya memang berlari ke dalam gua di tengah Sabana Giyoru itu untuk berlindung dari badai es. Barangkali lapispine dark panther sedari awal memang menjadikan gua sebagai rumah mereka.Ini adalah pertama kalinya aku menunggangi seekor macan kumbang, tetapi aku sudah sering menunggang kuda—cuma di dunia virtual, tentu saja. Aku mengingat kembali bagaimana cara meredam guncangan dan goyangan dahsyat dari pengalaman tersebut, dan begitu aku merasa sudah seirama dengan Kuro, sebuah pesan baru muncul. Skill Riding diperoleh. Kemahiran telah naik ke level 1.Jadi sistem mengkategorikan Kuro sebagai tunggangan. Itu berarti Misha, si beruang gua berduri, juga sama, mengingat ia bisa menampung lima anak Patter itu sekaligus. Sedangkan Aga, si agamid raksasa berparuh panjang, ukurannya sama dengan Kuro... tapi aku tidak bisa memastikannya. Aku bisa meminta Asuna untuk mencobanya nanti setelah kami kembali ke kota.Sementara itu, Kuro melesat menembus kegelapan. Saat kami tiba di jalan bercabang, ia akan mengikuti arahanku selama aku menarik bulu punggungnya ke arah yang kutuju. Sesekali, monster bermunculan, tetapi aku memperkirakan kami bisa melesat melewati mereka begitu saja. Dan kalaupun aku memancing segerombolan monster yang mengekor di belakangku, tidak ada pemain lain di dalam gua ini yang mungkin akan terancam bahaya karenanya. Perjalanan yang memakan waktu tiga puluh menit dengan kano—termasuk waktu menambang dan bertarung—hanya butuh tujuh atau delapan menit untuk diselesaikan Kuro lewat jalur darat, seraya kami memasuki bagian lurus tunggal yang kukenali. Aku menarik mundur kulit sang macan kumbang untuk memperlambat lajunya. Suara deru air terjun terdengar sayup-sayup namun semakin mengeras. "Kuro, berhenti."Macan kumbang itu seketika berhenti, jadi aku turun dan mengusap-usap bagian belakang lehernya sebagai tanda terima kasih, lalu mengeluarkan sepotong dendeng bison untuk kuberikan sebagai hadiah. Untukku sendiri, aku punya sisa shish kebab dari Reruntuhan Stiss untuk kukunyah seraya melangkah menuju pintu masuk gua.Ketika lebih banyak cahaya tampak di depan, aku memadamkan obor, dan aku bisa melihat celah bukaan yang membiarkan sinar bulan pucat masuk. Aku kembali mengamati ukuran pintu keluar itu lekat-lekat; tingginya dan lebarnya sekitar delapan kaki. Terasa sempit saat kami menerobos masuk menggunakan kano tadi, tetapi sekarang saat aku berpikir untuk memblokirnya, celah itu terasa sangat besar.Di sisi lain, aku cuma meletakkan hasil rakitan di sana dengan bantuan menu, bukan menyusun batu satu per satu, jadi ukurannya tak terlalu jadi masalah. Masalah sebenarnya adalah apakah aku bisa meletakkan dinding batu melintasi jalur sungai yang mengalir menembus gua ini, dan untuk mengetahuinya, aku harus mengujinya.Inventarisku sudah penuh dengan bijih dan kristal, jadi aku mematerialisasikan beberapa bongkahan bijih dan menumpuknya di tanah, lalu meraih beliungku. Dinding gua itu masih menampilkan lubang tempat aku mengekstraksi bijih besi pertama tadi. Sumber daya di dunia ini beregenerasi seiring berjalannya waktu, tetapi siklusnya cukup lambat jika dibandingkan dengan RPG pada umumnya. Aku membidikkan beliung ke sebuah titik tepat di sebelah lubang itu, dan satu ayunan saja berhasil memecahkan sebongkah batu abu-abu. Aku memungutnya dan mengecek propertinya: Namanya adalah Favilliteresite. Kalau favillite familier yang banyak ditemukan dalam jumlah tak terbatas di hulu sungai sana adalah semacam batu kapur yang rapuh, maka batu ini adalah batu kapur yang halus, kurasa. Hal itu mungkin menjadikannya material dengan tier yang lebih tinggi, tetapi aku ragu benda ini cukup berharga untuk jauh-jauh ditambang ke mari.Setelah beberapa saat, aku telah mengisi penuh inventarisku dengan semua favilliteresite yang bisa kubawa, lalu mengumpulkan sedikit tanah liat dari tepian air dan memilih Crude Stone Wall dari menu perakitan. Aku meletakkan objek bayangan itu tepat di depan pintu keluar, tetapi warnanya berubah menjadi abu-abu, mengindikasikan bahwa aku tidak bisa meletakkannya di sana. Aku menenggelamkannya ke dalam air, tetapi tetap tidak ada perubahan."Sudah kuduga..."Itu semua masih dalam batas ekspektasiku, jadi aku menggeser bayangan itu ke kanan, dan warnanya akhirnya kembali berubah ungu saat lebih dari separuh dasar bangunannya bertumpu di atas tanah. Aku mengepalkan tanganku di sana dan menciptakan dinding batu tersebut. Lalu aku menggali lebih banyak batu dan tanah liat dan mencoba memasangkannya menyatu dengan dinding yang pertama, tetapi warnanya tak kunjung berubah ungu."Hmm..." Yah, masuk akal sih kalau dinding batu raksasa tidak bisa begitu saja melayang di udara tanpa penopang apa pun. Dan lagipula, mencoba memblokir pintu masuk dungeon itu memang agak sinting. Aku baru saja hendak membatalkan seluruh eksperimen ini ketika kata-kata Argo terngiang kembali di benakku.Keseluruhan gim ini dirancang untuk menantang pengalaman bermain kita sebagai pemain.Aku harus berpikir, bukan seperti seorang gamer melainkan seperti seorang tukang kayu. Alasan aku tidak bisa meletakkan dinding di sungai adalah karena benda itu akan menghalangi aliran air. Jadi bagaimana kalau berupa struktur yang tidak menghambat aliran?Aku menggulir menu Beginner Carpentry sampai mataku tertuju pada nama Crude Wooden Pillar. Benda itu cuma membutuhkan satu gelondong kayu. Aku tahu aku masih punya beberapa gelondong pinus spiral yang tersisa, jadi aku menekan tombol rakit, menciptakan bayangan pilar bundar yang sederhana. Aku mengayunkannya di atas air, lalu menariknya ke bawah, dan ketika bagian dasarnya menyentuh dasar sungai, objek itu berubah menjadi ungu."Ya!" Tanpa pikir panjang, aku mengepalkan tangan yang bebas dengan penuh kemenangan, yang mana membuat Kuro mengibaskan ekornya dari tanah di dekatku.Lalu aku menyesuaikan posisinya dengan hati-hati dan menciptakan pilar tersebut. Dengan beberapa kali pengulangan lagi, aku telah membuat empat pilar yang berfungsi sebagai perpanjangan dari dinding batu yang asli. Hal itu menghabiskan semua gelondong kayuku, jadi aku cuma bisa berdoa semoga itu cukup.Aku memilih dinding batu dari menu lagi. Kali ini, aku memasangkannya agar menyatu dengan dinding asli dan keempat pilar kayu tersebut. Seketika, objek bayangan abu-abu itu berubah menjadi ungu, dan aku berseru, "Berhasil!!"Setelah mengepalkan tanganku, sejumlah besar batu berjatuhan pada posisinya, memblokir 80 persen dari pintu masuk gua. Tiba-tiba saja keadaan menjadi jauh lebih gelap, jadi aku menyalakan obor lagi.Dari sana, sisanya hanyalah pengulangan sederhana. Aku memasukkan lebih banyak batu dan tanah liat ke dalam inventarisku, lalu menambahkannya ke dinding tersebut. Aku menempatkan tiga buah bersebelahan dan dua lagi di atasnya, dan setelah itu pintu keluar benar-benar hilang dari pandangan.Namun itu tidak benar-benar menyegel pintu keluarnya secara total. Lagipula itu hanyalah dinding batu yang kasar, dan durability-nya tidak cukup tinggi untuk mencegahnya dihancurkan dengan cara yang tepat. Pilar kayu di bawah air malah lebih lemah lagi.Namun dinding yang kubangun terbuat dari favilliteresite yang sama dengan gua itu sendiri, jadi dari luar, warna dan teksturnya seharusnya cukup menyatu sempurna sehingga akan sangat sulit untuk mendeteksi bahwa bangunan itu menutupi pintu masuk ke sebuah gua.Tentu saja dinding itu mungkin takkan bertahan selamanya. Namun saat ini, satu-satunya yang benar-benar perlu kami lakukan hanyalah mencegah pasukan Mutasina mempersenjatai diri mereka dengan perlengkapan besi.Aku menyelipkan tanganku ke balik pelindung tenggorokanku untuk menyentuh simbol bergaya choker yang selama ini kusembunyikan dari seluruh dunia—Jerat-ku. Sihir penghenti napas itu tidak pernah aktif sekali pun sejak aku meninggalkan reruntuhan, jadi itu mungkin berarti Holgar dan yang lainnya sedang patuh pada perintah Mutasina untuk saat ini. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku takkan pernah mau mengalami teror semacam itu lagi. Rasanya seperti menatap langsung pada perjumpaan dengan kematian.Namun aku harus pasrah menghadapinya. Saat pada akhirnya aku harus berhadapan langsung dengan Mutasina, dan ia mengetahui bahwa aku juga berada di bawah pengaruh Jerat-nya, ia pasti akan mengaktifkan mantranya tanpa pikir panjang. Dan peluang untuk menemukan solusi guna melepaskan kutukan itu sebelum momen tersebut tiba sangatlah tipis.Apa pun yang terjadi, aku harus melakukan apa yang kubisa untuk saat ini. Aku menurunkan tanganku dan membuka ring menu, lalu mengirimkan pesan pada Alice: Penyegelan pintu masuk selesai. Sedang jalan kembali.Ia seketika membalas dengan Dimengerti. Kami telah menemukan ruang bosnya."...'Bos,' katanya," ujarku pada Kuro seraya menggelengkan kepala.Macan kumbang itu hanya mengeong, seolah-olah ingin berkata, "Tenagaku masih penuh!"
Komentar (0)
Memuat komentar...