Sword Art Online 024: Unital Ring III

Bagian 7

Estimasi waktu baca: 13 menit

"...Begitu kita kembali ke kota, hal pertama yang harus kita bangun adalah pemandian," ujar Alice sembari menghela napas, duduk di salah satu kursi kano.
Biasanya, aku akan membalas dengan sesuatu seperti "Urusan mandi bisa dipikirkan nanti. Pakai saja air sungai kalau kau memang mau," namun dalam kasus ini, aku terpaksa sependapat dengannya. Di depan Alice, Argo bergumam, "Mandi sepertinya enak," dan Kuro menimpali dengan suara pelan, "Gaur..."
Monster bos dari gua di balik air terjun itu adalah seekor siput telanjang (slug) raksasa. Nama resminya adalah Stinking Snail (Siput Bau)—Argo menjelaskan padaku apa arti kata bahasa Inggris tersebut—dan aku harus setuju dengan penamaan itu.
Siput raksasa sepanjang sepuluh kaki itu menyemburkan cairan berbau yang benar-benar menjijikkan, yang mana lebih berdampak pada tekad kami ketimbang pada HP kami.
Tentu saja, cairan bau itu bukan sekadar menguarkan bau busuk; cairan itu memberikan tiga efek status sekaligus, yakni pengurangan MP secara berkala, abnormalitas penglihatan, dan peningkatan waktu cooldown (jeda keahlian). Ditambah lagi, medan pertempurannya adalah sebuah gua berbentuk kubah di mana siput itu merayap melintasi langit-langit dalam kecepatan tinggi, memaksa kami untuk mengejarnya menggunakan kano dan melancarkan sword skill sambil melompat hanya demi bisa mengenainya.
Nilai serangan fisik siput itu sebenarnya tergolong rendah, jadi setelah beberapa saat, kami berhenti mencoba menghindari serangan cairannya dan langsung menerjang maju menggunakan sword skill, tetapi pada akhir pertarungan kami begitu berlumuran lapisan lendir yang menjijikkan sampai-sampai kami enggan merayakan kenaikan level kami. Hal pertama yang kami lakukan adalah menyelam ke dalam danau gua untuk membersihkan lendir tersebut, tetapi entah bagaimana aku masih bisa mencium baunya.
"Jadi... perahu ini membawa kita ke tempat tujuan kita, katamu... kan?" tanya Argo.
Aku berhenti mengendus-endus tubuhku sendiri dan mendongak. Ruang bos berupa danau bawah tanah itu tampak seperti jalan buntu, tetapi saat makhluk itu mati, sebuah dinding di bagian belakang bergemuruh naik, menyingkap jalur air yang baru. Kami terus melaju, tetapi aku tak bisa menebak apa yang bakal kami temukan di depan sana. Dan suara gemuruh yang sama terdengar setelah kami melewatinya, jadi aku harus berasumsi bahwa tak ada jalan kembali ke ruang bos tersebut.
"Kalau di New Aincrad, pasti bakal ada tangga menuju lantai berikutnya...," gumamku tanpa pikir panjang.
Alice segera menanggapi ucapan itu.
"Ngomong-ngomong soal itu... apa yang terjadi pada New Aincrad setelah tempat itu jatuh?"
"Hah? Yah... kemungkinan besar masih ada di tempat mendaratnya, kan?"
Baik Alice maupun aku tidak menyaksikan tontonan kastel terapung raksasa yang menghantam bumi tersebut, tetapi menurut Liz dan Silica, dampaknya setara dengan Peristiwa Tunguska. Aku sempat berpikir, Kalian juga nggak lihat Peristiwa Tunguska terjadi, kan, namun menurut Yui, yang saat itu masih memiliki akses ke data peta, kejatuhan tersebut benar-benar menghancurkan lantai satu hingga dua puluh lima New Aincrad, jadi pastinya itu adalah benturan yang teramat dahsyat.
Alice juga telah mendengar semua itu, jadi aku memberinya tatapan bingung. Sang kesatria mengerucutkan bibirnya.
"Ya, aku tahu soal itu. Tapi pertanyaanku adalah: Apa masih ada yang bisa masuk ke dalamnya?"
"Oh... Hmm, kalau soal itu aku kurang yakin. Kalau kita bisa mendekat, kita mungkin bisa menemukan rute yang membawa kita masuk ke dalam... Kau mau pergi ke sana?"
"Ya, kurasa begitu. Aku sudah penasaran sejak tadi."
"Soal apa?"
"Semua pemain yang mati akibat jatuhnya New Aincrad pastinya sudah dihidupkan kembali di Reruntuhan Stiss. Tapi apa yang terjadi pada orang-orang yang tinggal di kota dan desa di seluruh lantai tersebut?"
"......!"
Aku menarik napas tajam. Ya, ada banyak NPC sipil yang tinggal di New Aincrad. Apa yang terjadi pada mereka ketika dua puluh lima lantai itu diluluhlantakkan?
NPC di ALO pada dasarnya adalah abadi, jadi mereka kemungkinan tidak akan menerima damage dan mati seperti halnya para pemain, tetapi aku belum mendengar apa pun soal ada pihak lain yang diteleportasi ke reruntuhan. Ditambah lagi, ada kemungkinan bahwa mereka sekarang berubah menjadi seperti NPC di Unital Ring, seperti halnya kaum Bashin dan Patter, yang sudah pasti tidak kebal dari kematian.
"...Argo, apa kau tahu apa yang terjadi pada NPC New Aincrad?"
"Nggak. Aku nggak menyelidiki soal itu...," aku sang pialang informasi, membuat raut wajah Alice berubah menegang.
Pada titik waktu ini, Alice mengerti secara logis apa sebenarnya NPC di dalam sebuah VRMMO. Namun secara emosional, ia masih merasa kesulitan untuk memisahkan keduanya.
Aku tak bisa menyalahkannya; penduduk Underworld memiliki jiwa—fluctlight—persis layaknya manusia biologis mana pun, tetapi dalam beberapa sisi, mereka juga ibarat NPC. Dan aku pun tak ingin menganggap NPC AI tanya-jawab sederhana sebagai objek gim berkepala kosong yang bergerak ke sana kemari bagaikan robot.
"...Setelah kita kembali ke hutan, kita bakal mengecek apa yang terjadi pada New Aincrad," gumamku.
Alice sekilas menatapku, lalu mengangguk.
Kano kayu galian itu meluncur membelah kanal alami dalam diam. Aku mengecek layar peta, tetapi kau tidak bisa melihat peta dunia saat berada di dalam dungeon, jadi aku sama sekali tak bisa menebak di belahan dunia mana kami berada saat ini. Namun dari segi arah, setidaknya, kami tidak bergerak semakin jauh dari Hutan Besar Zelletelio—yakinku pada diriku sendiri.
Setelah beralih ke inventarisku, aku teringat, "Oh, ngomong-ngomong, kita dapat magicrystal dari bos siput itu."
Argo berbalik dengan penuh perhatian.
"Benarkah, Kiri-boy? Tapi dia kan nggak pakai sihir apa pun ke kita."
"Bukannya sudah jadi pemahaman umum gamer kalau cuma musuh yang pakai sihir saja yang bisa ngejatuhin magicrystal?"
"Urgh..." Wajahnya memucat namun kembali normal diiringi seringaian cepat.
"Terus magicrystal jenis apa itu?"
"Coba kita lihat..."
Aku menyortir inventarisku berdasarkan yang paling baru didapat, lalu menemukan apa yang kucari tepat di bawah material tubuh si siput.
"Tulisannya... magicrystal of rot."
"Rot? Apa artinya itu?" tanya Alice penasaran.
"Membusuk. Kerusakan."
"......Jadi itu magicrystal buat sihir korosi (decay magic)?"
"A... kurasa begitu. Kau mau memakannya, Alice?"
"Tidak, terima kasih," tolak sang kesatria itu serta-merta.
Aku menoleh pada sang pialang informasi.
"Kau mau, Argo?"
"Aku pass (lewat)."
"......"
Aku membatin, Yaaah, ayolah! namun aku tahu menyuarakannya lantang-lantang hanya akan berujung pada percakapan yang tak menyenangkan.
Namun sebelum aku bisa menutup inventarisku, Argo berujar, "Itu ngingetin aku... bukannya ada semacam magicrystal yang dijatuhin hantu pohon dedalu tadi, Kiri-boy?"
"Hah? Oh... benar juga, ada."
Wraith pendendam itu meninggalkan pendar cahaya biru pucat saat ia lenyap, dan aku berlari menaiki batang pohon untuk mengambilnya. Aku menggulir daftar item-ku, melewati semua material yang kukumpulkan di gua, lalu makanan yang kubeli di reruntuhan, kemudian...
"Oh... hei, yang ini kelihatannya bagus! Ini magicrystal of ice."
"Oooh, lumayan juga. Ayo pelajari saja."
"Hah...? Aku? Kalian yakin?"
Aku menatap Argo, lalu Alice. Keduanya mengangguk memberikan dorongan semangat. Aku bergerak menekan tombol untuk mematerialisasikan magicrystal tersebut namun mengurungkan niatku.
"...Jangan ah. Aku simpan dulu saja," ujarku.
"Kenapa?" tanya Alice.
Aku mempertimbangkan pertanyaan itu, lalu menjawab, "Yah, aku sudah mulai mendalami ability tree Brawn, kan? Kurasa bakal lebih baik kalau skill sihir ini dikasihkan ke orang yang fokus ke Sagacity saja."
Itu memang benar, tetapi bukan itu satu-satunya alasanku. Secara emosional, bukan rasional, aku merasa sihir es tidak akan cocok untukku. Sihir es—atau lebih tepatnya, seni embun beku (frost arts)—adalah spesialisasi mendiang sahabat karibku. Aku tak pernah bisa membuat lebih dari lima elemen embun beku sekaligus, tetapi ia sanggup mengendalikan hingga tujuh atau delapan.
Alice bisa merasakan sentimenku, dan ia memamerkan senyuman lembut.
"Begitu ya. Kalau begitu kau harus menyimpan magicrystal es itu sampai kita menemukan orang yang tepat untuk menerimanya."
"Akan kulakukan," ujarku, mulai menutup jendela menu, tetapi Argo kembali bersuara.
"Kalau begitu, pelajari sihir pembusukan itu sebagai gantinya."
"Yaaah... Aku nggak mau yang itu! Sihir kegelapan (dark magic) masih mendingan..."
"Serius? Kau mau pilih-pilih soal ginian? MP-mu juga nggak kepakai buat yang lain sekarang, mending cari aja kegunaannya!"
Kalau gitu kau saja yang pelajari! batinku.
Namun dari segi MP secara keseluruhan, aku punya lebih banyak, lantaran sudah berada di level 18—aku sempat naik level saat pertarungan melawan siput raksasa tadi—sementara Argo baru mencapai level 11, setelah naik tiga level. Satu-satunya cara untuk meningkatkan kemahiran dalam skill sihir adalah dengan menggunakannya berulang kali, jadi memiliki lebih banyak MP berarti punya lebih banyak kesempatan untuk merapal mantra.
"...Baiklah," ujarku, mengumpulkan keberanian dan mematerialisasikan magicrystal pembusukan tersebut. Kristal itu berupa sebuah bola yang berdiameter sekitar setengah inci. Ukurannya sama dengan magicrystal api yang kuberikan pada Yui kemarin, tetapi tak seperti bola merah rubi yang indah itu, bola yang satu ini berwarna abu-abu keruh, layaknya lumpur rebus.
Untuk mempelajari skill sihir, aku harus memasukkan magicrystal ini ke dalam mulutku dan memecahkannya dengan gigiku. Saat Yui melakukannya, ia menyemburkan api. Lantas apa yang bakal terjadi saat aku...?
"Ayo—cepat telan," desak Argo.
Dia benar-benar menikmati momen ini! rutukku dalam hati.
Ilustrasi Kirito, Argo, dan Alice Menatap Magicrystal.
Namun dengan berani kumasukkan batu abu-abu itu ke dalam mulutku. Rasanya licin dan keras, tetapi untuk saat ini tak ada rasanya sama sekali. Aku menjepitnya di sela-sela geraham kananku dan memberikan tekanan yang stabil. Pada akhirnya, terasa sensasi retakan. Memasrahkan diriku pada segala konsekuensinya, aku pun menggigitnya kuat-kuat.
".........Bweaaak!!"
Meski berada di hadapan para wanita, aku membekap mulut dengan kedua tanganku, membungkuk, dan tersedak sekuat tenaga.
Aku tidak punya pilihan lain, karena ketika bola kristal itu pecah, isinya memenuhi mulutku dengan cairan yang memiliki rasa dan bau paling busuk yang pernah kualami seumur hidupku, di dunia nyata maupun virtual. Kalau aku harus membandingkannya dengan sesuatu... Tidak, mencoba memikirkan perbandingan nyatanya malah benar-benar akan membuatku muntah.
"A...air... Aiiiir..." erangku, seraya mengulurkan tanganku. Argo menyerahkan sebuah wadah sederhana penuh air sumur—sebuah buah yang dilubangi. Aku merebutnya, membuka tutupnya, dan dengan putus asa menenggak air dingin itu.
Bahkan setelah menghabiskan tetes terakhirnya, sisa rasa yang mengerikan itu tak kunjung hilang, tetapi setidaknya aku sudah melewati masa kejang-kejangnya.
"...Ma-makasih..."
Aku mengembalikan wadah itu. Sebuah pesan baru muncul di depan mataku. Skill sihir korosi diperoleh. Kemahiran telah naik ke level 1.
"........."
Baru melihat kata korosi saja sukses membuat perutku mual lagi. Seandainya syarat mutlak untuk mendapatkan skill itu adalah tidak memuntahkan cairan mengerikan tersebut, aku yakin sembilan dari sepuluh orang pasti akan gagal dalam ujian ini.
Apa pun itu, aku sekarang adalah penyihir kedua—bukan, pendekar pedang sihir?—setelah Yui. Aku beralih ke jendela skill-ku untuk mengecek detailnya, dan tertulis di sana bahwa hanya ada satu mantra yang bisa kugunakan pada tingkat kemahiran level 1.
"Apa-apaan ini...? Rotten Shot: Menembakkan gumpalan sesuatu yang busuk. Sesuatu yang busuk...? Seperti apa bentuknya? Dan nama macam apa pula itu...?" gerutuku, sementara Argo tampak seolah sedang mati-matian menahan diri agar tidak meledak dalam tawa.
"Ayo, pakai saja sana," tantangnya.
"Kalau kau berani ketawa, tembakan kedua bakal kuarahkan padamu," ancamku, menekan nama sihir korosi itu, lalu membaca petunjuk yang muncul.
Tertulis bahwa gestur dasar untuk mengaktifkan sihir korosi adalah dengan merentangkan kedua tangan membentuk bentuk bulat, seperti memegang bola, dengan saling menyentuhkan ujung jari-jarimu. Setelah mencobanya, aku harus mengakui bahwa dibandingkan dengan gestur untuk sihir api—menekan telapak tangan kanan ke kepalan tangan kiri—gestur yang satu ini sama sekali tidak terlihat sekeren itu.
Namun sihirnya benar-benar aktif, dan pendar cahaya abu-abu kehijauan menyelimuti tanganku. Selanjutnya adalah gerakan jari untuk Rotten Shot. Yang satu ini terbilang sederhana: menarik kedua tanganku saling menjauh sehingga ujung-ujung jariku kini terpisah jarak sejauh delapan inci.
Di sela-sela kedua tanganku, sebuah bola seukuran jeruk muncul, memancarkan warna yang sama dengan auranya. Permukaannya meriak dengan cairan layaknya makhluk hidup. Wujudnya benar-benar terlihat persis seperti "sesuatu yang busuk".
Sebuah lingkaran target berwarna ungu muda juga mulai terlihat. Saat ini lingkaran itu menempel di dasar kano, tetapi ketika aku mengangkat tanganku, lingkaran itu ikut bergerak, hingga melayang tepat di atas wajah Argo. Dua orang lainnya sepertinya tak bisa melihatnya.
Sesaat aku sempat tergoda oleh niat jahil untuk melepaskan tembakan itu sekarang juga padanya; aku terpaksa menahan diri dengan mengingatkan diriku, Kau sebentar lagi berumur delapan belas tahun, jadi bersikaplah layaknya orang dewasa!
Alih-alih menurutinya, aku menggeser lingkaran target ke sebuah stalaktit yang menggantung di atas tepi sungai di sebelah kiri, dan meremas kedua tanganku untuk menembakkannya. Bola abu-abu itu melesat diiringi bunyi splurp! yang mengerikan. Benda itu menghantam bagian tengah stalaktit, mendarat tepat sasaran, dan memuncratkan isinya ke mana-mana.
Namun, tidak ada hal lain yang terjadi setelahnya. Itu adalah stalaktit yang sangat ramping dan rapuh, tapi tak ada satu retakan pun yang membekas pada permukaannya.
"...Sepertinya sihir itu nggak ngasih damage fisik yang berarti," komentar Argo dengan nada datar.
"Tapi mungkin sihir itu bakal berguna sebagai cara buat mengganggu musuh, kan?" tambah Alice dalam usahanya untuk bersikap suportif. Kuro hanya mengibaskan ekornya di bagian haluan kano, berusaha sebaik mungkin agar tak ikut campur di tengah-tengah urusan ini.

Bahkan tanpa memiliki kemampuan apa pun di ability tree Sagacity, aku memiliki cukup MP untuk melepaskan tiga Rotten Shot secara beruntun, jadi aku terus-menerus memberondong kegelapan dengan tembakan demi tembakan yang sia-sia demi meningkatkan kemahiran sihirku. Lima belas menit berselang, sesuatu berubah di depan sana. Terdapat pendaran biru reflektif yang samar di mana-mana—cahaya bulan tengah menyusup masuk ke dalam gua.
Aku tak ingin merusak momen dengan menyerukan "Itu pintu keluarnya!" lantang-lantang, jadi aku terus mengayuh dayung dalam diam. Argo dan Alice menatap lurus ke depan. Jalur air tersebut menyempit sedikit demi sedikit, lantas mulai berkelok ke kiri dan kanan hingga aku mulai khawatir kano sepanjang enam belas kaki ini mungkin bakal benar-benar tersangkut di tikungan.
Lalu, tanpa peringatan, dinding-dinding itu melenyap. Kano kami meluncur maju memasuki permukaan berarus yang luas. Itu adalah sebuah sungai.
Di belakang kami, terdapat sebuah celah sempit di satu titik pada dinding batu yang curam. Dengan segala tonjolan tersebut, dari kejauhan celah itu mungkin bakal terlihat seperti ceruk biasa pada umumnya.
Aku bergegas membuka peta duniaku dan mendapati bahwa kami berada tepat di titik tengah antara air terjun tempat kami memasuki dungeon tadi dan ujung selatan Hutan Besar Zelletelio. Itu berarti ini adalah Sungai Maruba yang sama persis dengan yang Alice dan aku susuri beberapa jam sebelumnya. Menyadari hal itu, pemandangan di sekitar kami memang terasa cukup familier bagiku.
"...Jadi rupanya ada pintu masuk gua tepat di sebelah sini," gumam Alice.
"Aku sama sekali tak menyadarinya," balasku.
"Tapi aku yakin pintu di ruang bos takkan bisa dibuka dari sisi ini, jadi paling-paling tempat itu cuma bakal jadi gua buntu semata."
"Apa kau benar-benar yakin kita takkan bisa membukanya?" tanyanya.
"Hmm, entahlah..."
Dalam logika gim, kau mungkin saja bisa menerobos masuk lewat pintu belakang setelah bosnya dikalahkan, tetapi Unital Ring tampaknya juga bersikeras untuk membalikkan asumsi semacam itu. Cara terbaik untuk mencari tahu adalah dengan mencobanya langsung, tetapi aku tak ingin berada di dekat-dekat gua itu untuk sementara waktu.
"Yah, terlepas dari itu semua, kita sukses ngebawa perahu ini ngelewatin air terjun sana. Jadi pada akhirnya kau nggak perlu capek-capek ngebongkarnya," ujar Argo.
Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan menarik napas dalam-dalam. Alice memejamkan matanya, menikmati sejenak momen relaksasi tersebut, dan bahkan Kuro melakukan peregangan tubuh yang sangat menyerupai gestur kucing di buritan perahu.
Sesaat, aku berhenti mengayuh kano dan menghirup udara segar dalam-dalam ke paru-paruku. Namun, hal itu sama sekali tak melonggarkan sensasi tercekik di tenggorokanku. Aku sepertinya harus hidup dengan perasaan ganjil tersebut hingga aku berhasil menyingkirkan kutukannya.
Jam gim di sudut kanan bawah pandanganku menunjukkan bahwa waktu baru saja berganti melewati tengah malam. Rasanya seolah-olah kami telah terjebak di dalam gua itu berabad-abad lamanya, tetapi nyatanya baru sekitar satu jam berlalu. Sekalipun harus melawan arus, kano ini sanggup mempertahankan laju secepat dua belas mil per jam, jadi dari sini, kami bisa tiba kembali di Hutan Zelletelio dalam kurun waktu sekitar tiga puluh menit, dengan asumsi tak ada aral melintang.
Aku mengalihkan jendelaku yang masih terbuka ke tab pesan, lantas mengetikkan pesan singkat pada Asuna: Semuanya aman. Kami kembali sebelum pukul satu. Kemudian, satu pemikiran lain terlintas di benakku, dan aku pun menambahkan, Selamat ulang tahun.

Komentar (0)

Memuat komentar...