Sword Art Online 024: Unital Ring III

Bagian 8

Estimasi waktu baca: 22 menit

07:15 PAGI, RABU, 30 SEPTEMBER Saat kereta ekspres itu mulai bergerak maju diiringi deru pelan, aku menyandarkan punggungku ke kursi dan memejamkan mata.
Kereta ekspres tersebut berangkat dari Stasiun Honkawagoe, yang terdekat dari rumahku, di Jalur Seibu Shinjuku, yang mana pada jam segini menjanjikan peluang bagus untuk mendapatkan tempat duduk asalkan kau sudi menunggu cukup lama. Pada hari-hari sekolah biasa, aku sering kali terpaksa berdiri sepanjang jalan sampai ke Tanishi, tetapi hari ini aku ingin melakukan segala cara yang kubisa untuk meringankan rasa kantukku.
Semenjak insiden UR bermula di hari Minggu, tiga malam telah berlalu, dan aku telah melakukan dive semalaman suntuk secara berturut-turut. Bahkan aku pun kini mulai mencapai batas kelelahanku.
Aku tidak tahu siapa dalang di balik insiden UR ini, tetapi aku sungguh ingin bertanya pada mereka kenapa mereka tak melakukannya pas liburan musim panas saja. Dengan begitu aku bisa saja tancap gas main dua puluh jam sehari dan mencapai tanah yang disingkap oleh cahaya surgawi itu di hari ketiga. (Atau setidaknya begitulah yang kukatakan pada diriku sendiri.)
Aku bisa merasakan pikiran-pikiran ini menarik benakku semakin dalam menuju jurang pesona tidur, tetapi aku tetap bertahan kuat tepat sebelum momen di mana aku takkan bisa terbangun lagi. Ada dua alasan untuk ini: Pertama, aku cemas bakal menjatuhkan tas yang tengah kupeluk dengan kedua lenganku, dan kedua, aku sama sekali tak bisa menyingkirkan suara bernada tinggi dari sang penyihir Mutasina saat menghantamkan ujung bawah tongkatnya ke tanah dari pikiranku.
Pada akhirnya, ia tak mengaktifkan sihir pencekikannya lagi sebelum aku log out pada pukul empat semalam—eh, pagi ini.
Ada kemungkinan bahwa ancamannya soal jangkauan yang tak terbatas itu hanyalah gertakan semata, dan mantranya takkan sampai padaku yang berada lima belas mil jauhnya dari Reruntuhan Stiss, tetapi itu tak lebih dari angan-angan kosong. Sihir itu terbukti cukup konyol hingga bisa bereaksi pada seratus orang sekaligus, jadi tentu saja efeknya kemungkinan besar juga sanggup menjangkau hingga ke ujung dunia.
Semalam, Alice, Kuro, Argo, dan aku berhasil pulang dengan selamat dan disambut hangat oleh rekan-rekan kami, terlepas dari betapa larutnya waktu saat itu. Yang mengejutkanku, di sana bukan hanya ada kaum Patter, melainkan juga tambahan sepuluh orang kaum Bashin.
Lisbeth, Yui, dan Asuna telah berangkat menuju pemukiman Bashin tak lama setelah Alice dan aku pergi. Mereka juga sempat menghadapi berbagai masalah tersendiri—dikejar oleh field boss laba-laba cambuk raksasa, terperosok ke dalam lubang undur-undur raksasa—namun perjalanan melintasi bagian tenggara Sabana Giyoru itu memakan waktu kurang dari dua jam bagi mereka.
Ketika mereka tiba di desa Bashin, mereka menawarkan dendeng bison, yang mana disambut dengan penuh suka cita oleh kaum Bashin, lalu mengangkat topik soal relokasi pemukiman. Saat mereka mengakui bahwa kota baru kami belum tentu 100% aman, sang pemimpin pemukiman, Yzelma, menghunus pedangnya dan berkata, "Kalau begitu tunjukkan padaku bahwa kalian punya kekuatan untuk melindungi kota kalian beserta rakyatnya."
Pada saat itu, Lisbeth berada di level 12, Yui di level 11, dan Asuna di level 10. Terlebih lagi, Asuna dan Yui telah memilih ability tree Sagacity, jadi mereka tidak cocok untuk pertarungan jarak dekat. Namun Asuna meletakkan tangannya di bahu Lisbeth sebelum gadis itu sempat berdiri, dan ia berujar, "Tidak, biar aku saja."
Senjatanya adalah rapier besi unggul tempaan Lisbeth, tetapi zirahnya adalah pelindung dada ringan yang sama dengan yang dikenakan Yui, ditambah pelindung untuk lengan dan kakinya. Kapten Yzelma juga cuma mengenakan kulit di bagian dada dan pinggangnya, tetapi ia satu kepala penuh lebih tinggi dari Asuna dan memiliki otot yang mengesankan. Senjatanya berupa parang lengkung yang sangat tebal, menyerupai gabungan antara pedang dan kapak.
Saat melihat rapier yang rapuh itu, yang sepertinya bakal langsung hancur berkeping-keping kalau senjata mereka saling berbenturan, Yzelma dan para prajurit lainnya berasumsi bahwa Asuna tak lebih dari sekadar ajang pemanasan sebelum melawan Lisbeth, sang pengguna gada (mace).
Namun Asuna menghindari serangan membabi buta Yzelma dengan olah kaki (footwork) yang sederhana, menanti momen saat lawannya kehilangan keseimbangan, lalu ia menghantam bagian tengah parang itu menggunakan skill Rapier dua tebasan beruntun, Parallel Sting.
Yzelma mengakui kekalahannya, lalu menunjuk kapten berikutnya tepat di tempat itu juga sebelum secara pribadi meminta untuk ikut bergabung dalam ekspedisi menuju Hutan Besar Zelletelio.
Setelah Yzelma mencalonkan dirinya untuk pergi, sembilan orang kaum Bashin lainnya ikut bergabung, dan rombongan perjalanan yang berjumlah tiga belas orang itu menghempaskan laba-laba cambuk dan undur-undur tersebut dalam perjalanan kembali mereka menuju kota hutan sekitar pukul sebelas malam.
Jadi kami pada akhirnya pulang terlambat dua jam, di mana pada saat itu kaum Bashin telah membagi ruang tempat tinggal di kuadran barat kota dan mulai sibuk membangun perabotan yang mereka butuhkan. Asuna tertawa dan mengatakan bahwa keterlambatan kami rasanya berlalu dalam sekejap mata.
Mereka sempat khawatir kaum Bashin bakal menganggap Kuro dan Misha sebagai target buruan potensial, tetapi rupanya para prajurit itu melihat nilai kepahlawanan yang lebih tinggi pada seseorang yang sanggup menjinakkan monster semacam itu ketimbang pada seseorang yang memburu mereka. Wajarnya, seorang beast-tamer beruang menempati peringkat yang lebih tinggi dari seorang penjinak binatang macan kumbang, jadi bagi kaum Bashin, Silica adalah anggota kota yang paling diagungkan. Tentu saja, aku tak keberatan sama sekali dengan hal itu.
Seusai pesta penyambutan sederhana, para anggota kelompok utama berkumpul di ruang tamu pondok kami untuk mengadakan rapat lagi. Ketika Klein dan Agil mengetahui bahwa anggota terbaru kami adalah Argo yang sama dengan pembuat panduan strategi dulu, mereka tertegun, tetapi kami tak punya waktu untuk bernostalgia tentang masa lalu. Kami harus membicarakan soal ancaman Mutasina secepat mungkin.
Saat aku memberitahu mereka tentang kekuatan kegelapan yang luar biasa dari Noose of the Accursed, dan kemungkinan invasi seratus pemain paling cepat besok malam, bahkan Klein pun tak bisa melontarkan lelucon apa pun. Namun kami semua sepakat bahwa meninggalkan kota dan kabur mendahului mereka bukanlah sebuah pilihan. Kalau mereka menyerang, kami akan melawan balik.
Sebagai secercah kabar positif, aku bisa menjelaskan bahwa kami telah mengkamuflasekan pintu masuk ke gua di balik air terjun, menunda kemampuan mereka untuk mempersenjatai setiap anggota dengan perlengkapan besi—dan memberitahu mereka bahwa kelompok Holgar, Dikkos, dan Tsuburo tengah diancam oleh Mutasina, yang mana pastinya berimbas buruk pada moral pasukan mereka.
Kendati demikian, selisih jumlah kami masih terlampau jauh. Dengan tambahan sepuluh orang Bashin dan dua puluh orang Patter, ditambah Argo, kami kini berjumlah empat puluh satu orang, plus empat hewan peliharaan. Kalau kau menganggap Misha dan Pina memiliki gabungan kekuatan setara lima orang, dan masing-masing setara dua orang untuk Kuro dan Aga, itu menempatkan kekuatan kami di angka lima puluh, hanya separuh dari jumlah musuh. Untuk menutupi ketertinggalan tersebut, kami membutuhkan satu siasat besar lagi demi keuntungan kami.
Rapat berlangsung hingga pukul dua pagi, dan kami saling melontarkan banyak ide, tetapi tak satu pun di antaranya yang praktis maupun realistis, dan hal itu pun menjadi pekerjaan rumah yang harus kami pikirkan semalaman. Di sisi lain, pekerjaan rumah sebelumnya soal mengganti nama Kota Kirito membuahkan usulan yang cukup cerdik dari Leafa.
Pilihannya adalah Ruis na Ríg. Itu adalah nama kastel seorang raja dalam mitologi Celtic kuno yang dikelilingi oleh dinding melingkar, persis seperti kota hutan kami. Kota kami memang tak punya raja, tetapi tak seorang pun menentang pilihan tersebut. Malahan, nama itu diterima secara aklamasi di tempat itu juga, menjadikannya nama resmi kami. Apakah Ruis na Ríg bakal menjadi kota sungguhan atau berubah menjadi reruntuhan hanya dalam tiga hari akan sangat bergantung pada pertempuran besok malam.
Argo terus-menerus mencuri pandang ke arahku selama rapat berlangsung, yang mana kutafsirkan sebagai desakan agar aku memberitahu semua orang bahwa aku juga telah terkena sihir Mutasina, tetapi pada akhirnya aku tak sanggup mengungkitnya.
Seandainya aku melakukannya, semua orang pasti bakal mengkhawatirkanku, marah, dan menjadikan pembatalan mantra itu sebagai prioritas utama kami. Namun aku menyimpan sebuah keyakinan buruk bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah dengan membunuh Mutasina dan mematahkan tongkatnya jadi dua. Waktu kami sangatlah berharga, dan aku tak ingin membuang-buang waktu orang lain. Kami harus berfokus pada peningkatan level dan kemahiran skill semua orang demi mempertahankan kota kami.
Argo menghampiriku seusai rapat dan berbisik, "Dasar keras kepala."
Namun ia tetap menghargai keputusanku, hanya menambahkan, "Akan kulakukan semua yang kubisa," sebelum kembali bergabung dengan yang lainnya.
Dia memang benar soal sifat keras kepalaku, tetapi aku bukannya memutuskan bahwa kutukan itu mustahil dihilangkan tanpa bukti apa pun.
Setelah aku menjelaskan soal Jerat itu secara mendetail di rapat, Yui merasa bahwa informasi tersebut sangatlah meresahkan. Ia berkata bahwa skalanya terlampau masif dan efeknya terlampau kuat.
Dengan asumsi bahwa Mutasina telah mewarisi skill sihir kegelapan dari ALO, kemahirannya seharusnya merosot drastis ke level 100 setelah masa tenggang berakhir. Pada titik itu, sihir apa pun yang bisa digunakannya bakal setara dengan Sharp Nail tiga tebasan milikku untuk skill One-Handed Sword.
Namun Noose of the Accursed merupakan sebuah mahakarya sihir yang luar biasa, bahkan lebih hebat ketimbang sword skill ultimate, Nova Ascension sepuluh tebasan—atau barangkali serangan ultimate dari skill Dual Blades, yang tak eksis di ALO, Eclipse dua puluh tujuh tebasan...
Tak seorang pun sanggup membalas sepatah kata setelah pernyataan Yui tersebut, tetapi tak dapat dimungkiri bahwa Mutasina telah menggunakan sihir dengan kemahiran di level 1.000. Jadi untuk membatalkan kutukan tersebut bakal membutuhkan sihir dari level yang setara atau item dengan kekuatan yang sepadan. Rasanya cuma bakal buang-buang waktu kalau kami berfokus untuk menyingkirkan kutukan itu sebelum kami memahami bagaimana Mutasina sanggup merapal sihir tersebut.
Aku nyaris tertidur dengan pemikiran-pemikiran ini berkecamuk di benakku ketika kereta ekspres itu meluncur memasuki Stasiun Hana-Koganei. Di stasiun berikutnya, Tanishi, aku harus turun dan beralih menggunakan kereta layanan lokal. Aku tidak sempat power nap, tetapi setidaknya aku bakal punya waktu sekitar dua puluh menit untuk tidur begitu aku sampai di sekolah nanti.
Aku membetulkan posisi kantong kertas yang bertengger di atas tas sekolahku di pangkuanku dan secara mental mempersiapkan diriku untuk beranjak dari kenyamanan kursiku. Kereta merampungkan belokan pelan, membawa sengatan sinar mentari pagi menerpa bagian belakang leherku menembus jendela. Awan yang membawa hujan sepanjang malam telah menyingkir ke timur. Cuaca sepertinya akan cerah hari ini.

Entah bagaimana, aku berhasil melewati kelasku pagi ini tanpa tertidur. Sama seperti kemarin, aku bergegas menuju taman rahasia di luar yang berbatasan dengan perpustakaan. Di satu tanganku ada kantong berisi kudapan yang kubeli dari kantin, dan di tangan lainnya ada kantong belanja berlogo department store.
Setelah aku melewati celah sempit yang tersembunyi oleh deretan pot tanaman, aroma segar rerumputan menggelitik hidungku. Rerumputan di sana sudah lumayan kering, tetapi dedaunan di pepohonan tampak sehijau zamrud, dan aku seolah bisa mendengar suara air yang mengalir melintasi urat-urat daunnya, setelah diisap dengan rakus oleh akar-akarnya.
Aku menghentikan langkahku persis satu pijakan saat memasuki ruang hijau tersebut, menatap sosok gadis yang berdiri membelakangiku di bawah pohon siris putih dan cendana di tengah bukit kecil itu.
Di bawah pendaran cahaya hijau pucat yang menyelinap menembus celah dahan, rambut panjangnya berkilau cemerlang. Walaupun ia mengenakan seragam sekolah kami yang familier, ia terasa bagaikan makhluk peri (fey), begitu fana seolah ia bisa saja lenyap jika aku melangkah lebih dekat.
Tepat pada saat itu, merasakan kehadiranku yang mematung, sang gadis berbalik. Ia tersenyum sejenak saat melihatku, lalu mengerucutkan bibirnya. Aku bergegas menghampirinya, tetapi ia membuang muka dengan ekspresi merajuk.
"Kenapa kau selalu memperhatikanku dari belakang begitu, Kirito?"
"Oh, ayolah, aku nggak selalu begitu, kan..."
"Kau sudah begitu semenjak awal kita bertemu."
"A-awal...?"
"Di menara labirin pertama Aincrad, kau diam-diam memperhatikanku bertarung melawan para kobold itu, kan?"
Tertegun atas singgungan soal sesuatu yang terjadi nyaris empat tahun silam, aku cuma bisa meringis dan membantah, "Y-yah, aku kan nggak mungkin mengganggu pertarunganmu... dan aku langsung mengajakmu bicara begitu kau selesai."
"Ya, dan kalimat yang kauucapkan adalah, 'Itu tadi overkill.' Sejujurnya, kesan pertamaku padamu adalah kau itu perpaduan antara orang aneh dan orang gila."
"Hei, itu jahat banget... Padahal aku sejujurnya mengkhawatirkan kondisimu, dan begitu reaksimu...?"
Ia mendadak menyunggingkan senyum dan terkekeh, dan aku pun ikut tertawa. Namun kenyataannya, alasanku tak mengatakan apa pun padanya sampai pertarungan itu usai adalah karena aku terlalu terbuai oleh pemandangan di depanku. Aku telah tertawan oleh keindahan teknik pedang Asuna, yang membelah kegelapan bagaikan bintang jatuh.
Sehabis tertawa, Asuna merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memelukku erat.
"Sejujurnya, aku lumayan senang kau mengatakan sesuatu. Setidaknya dengan begitu, aku tahu masih ada pemain di dunia itu yang benar-benar peduli pada orang lain."
"......"
Aku tak tahu bagaimana harus merespons ucapan itu. Satu-satunya hal yang terpikirkan olehku adalah balas memeluknya, tetapi aku juga tak bisa melakukannya, karena kedua tanganku sedang penuh. Sebagai gantinya, aku menyandarkan kepalaku ke kepalanya, berharap bisa menyalurkan perasaanku secara langsung. Aku tak tahu apakah upayaku berhasil, tetapi beberapa detik kemudian, ia menarik diri perlahan diiringi senyuman lembutnya yang biasa.
"Nah, ayo kita makan siang. Maaf sudah merepotkanmu untuk membelikannya."
"Tentu saja. Maksudku, hari ini kan hari..."
Ia menempelkan satu jarinya di bibirku untuk menghentikanku.
"Aku lebih ingin mendengarnya setelah kita makan."
"...Dimengerti."
Aku memindahkan kedua kantong ke satu tangan, memungkinkanku untuk menarik lembaran polietilen dari sakuku dan membentangkannya di atas rerumputan. Kantong belanja yang panjang dan tipis itu kuletakkan di sudut agar tak menghalangi, sehingga kami bisa berfokus pada sandwich baguette dan jus sayuran dari kantin. Kami sudah makan baguette untuk makan siang kemarin, tapi mereka selalu merombak menunya setiap hari, jadi aku tak pernah bosan menyantapnya.
"Ini niçoise-mu, Asuna."
"Makasih. Kau pilih apa, Kirito?"
"Gorgonzola dan tomat kering."
"Oooh, kedengarannya enak. Mau kita bagi dua setengah-setengah?"
"Oke, kalau kau mau..."
Di sisi lain, aku tak bisa membelah sandwich baguette panggang yang keras itu menjadi dua bagian rapi cuma dengan tanganku, dan rasanya kurang pantas kalau aku memberinya potongan yang sudah kugigit duluan.
Untungnya, Asuna mengeluarkan sesuatu berwarna perak dari saku roknya. Itu adalah gantungan kunci dengan dua buah kunci terpasang di sana—bukan, itu sebuah alat serbaguna mungil. Ia memanjangkan sebilah pisau berukuran sekitar dua inci, lalu menyodorkannya padaku dengan bagian gagang mengarah ke depan.
"Ini. Semoga berhasil!"
".........M-makasih..."
Aku menerimanya dan memberinya tatapan aneh.
"...Apa kau selalu bawa-bawa benda ini?"
"Iya, selalu."
"Buat apa...? Kau bakal kesulitan menjawab pertanyaan kalau sampai ada polisi yang mencegat dan menginterogasimu."
"Gadis remaja nggak bakal diinterogasi sama polisi."
Aku tak terlalu yakin soal itu, tetapi raut wajah Asuna berubah lebih serius dan ia menyatakan, "Aku sudah membulatkan tekadku. Lain kali, aku yang bakal menjauhkanmu dari bahaya."
"Hah......?"
Setelah sempat kebingungan sejenak, aku pun mengerti apa yang ia maksud.
Sekitar tiga bulan yang lalu, aku mengalami henti jantung setelah disuntikkan obat pelemas otot oleh Kanamoto Atsushi, alias Johnny Black dari guild PK Laughing Coffin, tepat di depan mata Asuna. Yang perlu kulakukan untuk merasakan ketakutan dan kecemasan yang ia alami kala itu hanyalah dengan membayangkan posisi kami dibalik. Aku pasti akan bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku bakal melakukan apa pun dayaku untuk mencegah hal itu terjadi lagi.
Namun...
"...Nggak apa-apa kok. Xaxa dan Johnny Black sudah ditangkap. Nggak ada lagi orang yang bakal mengincarku," ujarku, mencoba menjelaskan bahwa aku tak ingin ia membawa-bawa pisau ke mana-mana, sekalipun itu demi diriku. Namun ekspresi Asuna tak berubah.
"Itu mungkin benar, tapi aku menolak merasakan penyesalan semacam itu lagi," tegasnya, tak memberikan ruang untuk bantahan. Aku terpaksa menerimanya.
"......Baiklah."
Setelah menatap pisau itu cukup lama, aku menggunakan bungkus yang dilipat sebagai talenan dan menekan bilahnya ke bagian tengah sandwich. Bentuknya mungkin terlihat seperti pisau mainan ukuran dua inci, tetapi benda itu memotong dengan sangat tajam, dan dengan tekanan yang cukup, pisau itu membelah roti Prancis yang keras itu dengan mudah. Aku memotong sandwich pertama menjadi dua tanpa banyak kendala dan mulai memotong yang kedua.
"...Selesai."
Aku membungkus ulang separuh bagian sandwich niçoise dan tomat kering lalu menyodorkannya pada Asuna, yang mana langsung berterima kasih padaku. Selembar tisu sangat berguna untuk mengelap bilah pisau itu hingga bersih sebelum aku melipatnya kembali dan mengembalikannya.
Kedua sandwich baguette itu sungguh lezat, dan aku senang kami bisa saling berbagi, tetapi masih ada sebersit rasa gundah di dadaku, ibarat kerikil yang enggan disingkirkan. Seandainya masih ada anggota Laughing Coffin tak dikenal yang mengintai di luar sana, lalu mereka menyerang dan memicu Asuna untuk melawan balik menggunakan pisaunya, ia bisa saja ditangkap atas tuduhan pembelaan diri yang berlebihan.
Tentu saja, aku tak ingin satu pun dari kami terluka. Namun sudah pasti solusi optimalnya bukanlah dengan membiarkan Asuna membawa-bawa senjata setiap saat. Mungkin harusnya aku yang membawa pisau itu ke mana-mana. Tapi tidak... pasti ada cara yang lebih baik.
Aku mengunyah dalam diam, merenungkan topik yang menekan batin ini, ketika Asuna bergumam, "Maaf karena membuatmu cemas begini."
"Eh... tidak, akulah yang jadi penyebab kecemasan di sini. Aku nyaris mati tepat di depan matamu... Harusnya aku bisa menjaga diriku sendiri dengan lebih baik."
"Tidak, itu benar. Aku tahu aku juga terlalu memikirkan banyak hal secara berlebihan. Aku sendiri merasa seperti orang gila karena membawa-bawa benda ini. Tapi... kau selalu punya kecenderungan menarik orang-orang mendekat padamu, semenjak masa SAO dulu. Orang-orang baik... maupun orang-orang yang tidak begitu baik..."
Aku ingin membantahnya, tetapi aku tahu aku tak bisa melakukannya. Orang-orang di Laughing Coffin pertama kali mencoba membunuhku di awal mula Aincrad, tepat di lantai ketiga.
Mengingat-ingat hal itu kembali, bahkan setelah konversi ke Unital Ring sekalipun, sudah tiga kali orang menyebutkan namaku saat mereka menyerang: Mocri di malam pertama, Schulz di malam kedua, dan Mutasina semalam. Di SMP dulu, aku adalah tipe cowok yang bahkan dilupakan oleh teman sekelasku sendiri. Kombinasi kancing kemeja mana yang salah kupasang hingga memicu perbedaan sedrastis ini?
Di sisi lain, aku tak bisa mengubah namaku begitu saja pada titik ini. Dan kalau Asuna merasa cemas, sudah jadi tugasku untuk membantunya merasa tenang.
"...Aku bakal lebih berhati-hati soal keselamatanku. Mungkin aku bisa bertanya pada Kikuoka apakah ada cara untuk memastikan keamanan pribadi yang lebih baik."
Asuna mengangkat sebelah alisnya, masih memegangi potongan terakhir sandwich-nya.
"Asal kau tahu saja, aku menempatkannya persis di tengah-tengah antara orang baik dan orang yang tidak begitu baik."
"Ahhh. Yah... kau mungkin benar," ujarku sambil meringis.
Asuna pun terkikik.

Kami menghabiskan sandwich kami bersama, lalu meminum jus sayuran tersebut. Setelah membereskan sampah kami, kami duduk berdampingan di atas lembaran alas, menatap ke arah langit.
Masih ada nuansa musim panas di hamparan langit biru itu, tetapi entah bagaimana ruang hijau kecil ini seolah punya cara tersendiri untuk menghalau hawa panas. Kendati dikelilingi oleh gedung-gedung di segala penjuru, embusan angin sepoi-sepoi yang sejuk membelai rambut Asuna.
Untuk yang kesepuluh kalinya setidaknya, aku bertanya-tanya siapa kiranya yang merawat tempat ini; tak ada siswa maupun staf pengajar lain di sekitar sini, seperti biasa.
Di atas kami, dedaunan dari pohon cendana dan siris putih bergemerisik lembut. Pohon cendana itu ukurannya sedikit lebih besar, tetapi menurut Asuna, itu adalah spesies setengah parasit, dan pohon itu tengah menyerap sebagian air dan nutrisi dari akar pohon siris putih di sebelahnya.
Hal itu pastilah sangat menyiksa bagi sang pohon siris, tetapi pepohonan tak bisa bicara. Mereka cuma bisa menggerakkan dedaunan mereka bergemerisik tertiup angin.
Aku telah menerima begitu banyak hal dari Asuna. Apakah aku sudah memberikan sesuatu sebagai balasannya? Mengesampingkan pemikiran itu untuk sementara waktu, aku menoleh dan menatap tepat ke dalam kedua matanya.
"...Selamat ulang tahun, Asuna."
Aku mencurahkan segenap perasaanku ke dalam ucapan itu. Asuna balas menatapku, seakan tengah meresapi perasaan tersebut. Sesaat kemudian, ia berujar lembut, "Terima kasih, Kirito."
Kami berdua mencondongkan tubuh mendekat dan berbagi ciuman singkat. Kami memang masih berada di sekolah, tetapi pastinya hal itu bisa dimaklumi kalau dilakukan di taman rahasia ini.
"...Sejujurnya," bisiknya, menyandarkan kepalanya di bahuku, "aku nggak suka momen seperti ini tahun lalu. Aku nggak mau terpisah jarak umur dua tahun darimu selama satu minggu ini."
"Eh... kau memikirkan hal itu?"
"Itu masalah besar tahu! Tapi... di Underworld, kau sudah menyusulku dalam hal usia mental, kan?"
Dia memang benar, kalau dipikir-pikir lagi. Aku telah menghabiskan waktu dua tahun di Underworld yang waktunya dipercepat, padahal di dunia nyata tak sampai satu minggu berlalu. Secara mental, umurku sudah nyaris dua puluh tahun, yang mana membuatku lebih tua dari Asuna, meskipun aku sama sekali tak merasakannya.
"Oh... kalau begitu kurasa hari ini kau malah sudah menyusulku satu tahun."
"Anggap saja begitu. Walaupun begitu, minggu depan giliranku yang bakal mengucapkan selamat ulang tahun kedelapan belas padamu, Kirito."
"Tolong lakukanlah." Kami pun tertawa.
Itulah momen yang tepat. Aku meraih kantong belanja yang kusimpan di belakangku dan mengangkatnya ke arahnya, menopang bagian bawahnya dengan kedua tangan.
"Um... ini hadiah buatmu."
Aku harus menahan dorongan untuk melontarkan komentar merendah seperti Ini bukan barang mewah atau Aku nggak tahu harus membelikanmu apa lagi. Asuna menghadiahiku dengan senyuman yang berseri-seri saat ia menerima kantong tersebut.
"Terima kasih, Kirito. Boleh kubuka?"
"Y-ya. Silakan."
Ia dengan hati-hati mengelupas stiker yang menyegel kantong kado itu dan melongok ke dalam. Kepalanya sedikit miring karena penasaran, dan ia meletakkan kantong itu agar ia bisa merogoh ke dalamnya.
Ia mengeluarkan sebuah bungkusan panjang yang diikat dengan pita merah. Setelah melepaskan selotip yang menahan bagian atasnya tetap tertutup, kain nirkamen (nonwoven fabric) itu terbuka layaknya kelopak bunga, menyingkap isi di dalamnya.
Itu adalah sebuah tanaman setinggi sekitar delapan inci, ditempatkan di dalam sebuah pot berwarna putih. Dari bagian bawah batang yang kecil itu, sejumlah daun bertepi bergerigi yang khas tampak bersemi. Asuna menyentuh lembut salah satu daunnya dan mendongak.
"Ini bibit pohon sugar maple!"
"Y-ya. Kau bisa langsung tahu cuma dengan melihatnya...?"
"Tentu saja aku bisa. Pohon ini menyimpan begitu banyak kenangan bagi kita... Aku menyukainya. Terima kasih, Kirito," bisiknya, memelukku erat. Aku melingkarkan lenganku di punggung rampingnya dan merasakan kenangan lampau kembali terlintas dengan detail yang begitu hidup.
Ilustrasi Asuna Memeluk Kirito.
Pohon dari kenangan kami yang Asuna maksud bukanlah pohon utuh melainkan pohon dalam wujud balok kayu. Dulu di pondok hutan awal kami di lantai dua puluh dua Aincrad, terdapat sebuah kursi goyang yang dipahat dari kayu mapel di geladak kayu kami.
Kursi goyang itu dibuatkan untuk kami oleh seorang pengrajin kayu bernama Mahocle, dan benda itu seakan menjadi semacam simbol bagi dua minggu singkat usia pernikahan kami. Asuna selalu menyuruhku duduk di sana terlebih dahulu, lalu ia akan melompat ke pangkuanku layaknya seekor kucing. Sepotong perabotan virtual untuk pernikahan virtual—namun waktu dan emosi yang kami bagi bersama sepenuhnya nyata.
Saat Argo memberitahuku kemarin bahwa tak ada gunanya memisahkan Asuna versi virtual dan Asuna versi dunia nyata di dalam benakku, aku tercetus ide untuk memberinya hadiah yang menyimbolkan masa lalu dan masa depan kami menjadi satu.
"Aku berpikir kita bakal merawat bibit ini sama-sama dan menjadikannya pohon yang besar nan agung suatu hari nanti... walaupun untuk sementara waktu ini masih bakal jadi tanggung jawabmu," ujarku.
Wajahnya terbenam di kemejaku, tetapi aku bisa mendengar isak tangis dalam suaranya.
"Ya... ya. Pohon ini bakal jadi pohon yang besar nan indah... Nanti sampai di rumah, aku bakal memindahkannya ke pot yang lebih besar, dan......"
Ucapannya terhenti dengan janggal. Aku memberinya tatapan penasaran, dan Asuna tiba-tiba mendongak menatapku, sudut matanya berkaca-kaca, lalu ia menoleh ke sekeliling.
"A-ada apa?"
"......Aku cuma berpikir... Menurutmu apa kita bisa menanamnya di sini? Dengan begitu, kita berdua bisa merawatnya sama-sama."
"Ah..."
Kini aku paham. Aku awalnya mengira bahwa Asuna bakal merawatnya bersama tanaman-tanamannya di rumah untuk sementara waktu, tetapi bibit itu sendiri pastinya akan jauh lebih mensyukuri tanah yang layak, dengan segala ruang untuk akar dan dahannya. Kami perlu mencari tahu apakah kami bisa memindahkannya lagi di masa depan, tetapi untuk saat ini, menanamnya di taman rahasia terasa seperti opsi terbaik dari semuanya.
"Ide bagus... tapi kita bahkan tak tahu siapa yang merawat tempat ini...," gumamku.
"Aku ingin mencari tahu sendiri," akunya, "tapi aku juga tak mau memberitahu siapa-siapa dan merusak rahasia kecil kita..."
"Itu dia masalahnya. Untuk saat ini, satu-satunya orang yang tahu soal tempat ini hanyalah kita, Liz, Silica, dan sekarang Argo, setelah kejadian kemarin... Oh!"
Sebuah ide terlintas di benakku. "Kalau begitu, biar Argo saja yang cari tahu. Aku yakin dia bakal bisa memecahkannya dengan sangat mudah, iya kan?"
"Apa?" Mata Asuna membelalak lebar. Secercah senyum cemas samar menggoda di bibirnya.
"Ya, aku yakin Argo bisa menemukan jawabannya... tapi kalau dia menuntut bayaran, itu sepenuhnya tanggung jawabmu."
"Hmph... Y-yah, mengesampingkan soal pengurusnya, apa yang harus kita lakukan dengan tanaman ini? Perlukah aku membawanya pulang?"
"Nggak bakal. Biar aku saja yang membawanya," tolak Asuna serta-merta. Ia meraba tanah di dalam pot untuk memastikan kelembapannya, lalu membungkusnya kembali dan memasukkannya lagi ke dalam kantong kertas.
Ukurannya menjadi selebar enam inci dan setinggi satu setengah kaki dalam wujud seperti itu, tetapi berat totalnya tak sampai empat pon, jadi tidak akan menjadi beban yang terlalu memberatkan bagi seorang gadis untuk ditenteng seharian.
"Tapi... kau tahu kan hari ini jadwalnya ke mana..."
Raut wajah Asuna berubah terkejut. Kami berdua rencananya bakal absen dari kelas siang kami. Tentu saja bukan untuk bolos kelas, melainkan karena, seperti kemarin, kami telah mengajukan izin untuk kunjungan tempat kerja.
Kunjungan kemarin memang cuma kedok semata, tetapi destinasi kami hari ini adalah perusahaan tempatku benar-benar ingin bekerja. Sebuah badan administratif independen yang menyebut dirinya sebagai "organisasi pencarian dan studi sumber daya laut"... dengan kata lain, Rath.
"Hmm..."
Asuna merenungkannya selama beberapa detik, lalu menyetujuinya.
"Yah, pendingin ruangan Rath bagus kok, dan aku yakin bakal baik-baik saja kalau ditinggal selama beberapa jam. Bibit mapel ini benar-benar hidup."
"Kau bisa menilai hal semacam itu?"
"Dari melihat warna dan kilau daunnya. Ini tanaman bagus yang dirawat dengan sangat baik."
"Hee..."
Setelah aku berpisah dengan Argo di Ginza kemarin, aku mencari-cari tempat di kota yang menjual bibit sugar maple. Pencarianku membuahkan hasil di sebuah toko berkebun di dalam sebuah department store di Ikebukuro, dan aku mampir untuk mendapati bahwa itu adalah bisnis yang sangat bonafide. Aku harus mengajak Asuna ke sana suatu hari nanti.
"Kalau begitu, aku setidaknya bakal menegosiasikan agar kita bisa naik taksi saat pulang nanti. Malahan, kita harusnya berangkat sekarang. Jam satu lima belas di pintu masuk utama, bagaimana?"
"Dimengerti," ujarnya.
"Malahan, aku sudah bawa barang-barangku sekalian."
"Hah? Serius?"
Aku mengedarkan pandangan dan melihat tas sekolah yang tak asing bertengger di atas bangku di sudut taman. Sayangnya, aku belum berpikir sejauh itu; barang-barangku masih tertinggal di kelas.
"...Ya sudah, sampai ketemu di gerbang."
"Oke. Terima kasih atas hadiahnya, Kirito."
Ia tersenyum berseri-seri, mendekap erat kantong belanja itu dengan kedua tangannya.

Komentar (0)

Memuat komentar...