Sword Art Online 024: Unital Ring III
Bagian 9
Estimasi waktu baca: 77 menitBadan pencarian dan studi sumber daya laut yang dikenal sebagai Rath memiliki sebuah gedung perkantoran kecil di sebuah jalan belakang di distrik Roppongi, Minato Ward, Tokyo.Awalnya ini merupakan kantor cabang Roppongi, sementara lokasi utamanya adalah Ocean Turtle, yang mengapung di laut lepas Kepulauan Izu. Namun semenjak pemerintah menutup struktur megafloat tersebut, tempat ini secara otomatis beralih fungsi menjadi basis operasi mereka.Pada pukul setengah tiga sesuai waktu janji temu kami, kami menekan bel interkom di lantai satu dan menunggu pintu otomatis terbuka, kemudian kami naik lift menuju lantai lima.Di ujung lorong terdapat kunci pintar (smart lock) lainnya, yang mengharuskan pemindaian bio-ID dan ponsel pintar sebelum pintunya bergeser terbuka untuk kami."Kirito, Asuna, selamat datang!" seru sebuah suara bernada riang tatkala seorang wanita berambut pirang dan bermata biru yang berbalut blus putih serta rok biru dongker merentangkan kedua lengannya."Senang bisa melihatmu lagi, Alice!" seru Asuna, melompat maju dan memeluknya. Aku menyusul dengan mengangkat kepalan tanganku untuk beradu tinju pelan (knuckle bump).Tentu saja, kami baru saja menghabiskan waktu bersama Integrity Knight Alice Synthesis Thirty di dalam Unital Ring pagi ini. Namun kesempatan untuk menjumpainya di dunia nyata terbilang sangat langka.Pasca pengumuman publik yang menyingkap statusnya sebagai bottom-up AI sejati pertama di dunia, Alice menjadi sangat sibuk memenuhi berbagai undangan wawancara media, urusan bisnis, serta kunjungan sekolah, dan ia juga masih berada tepat di tengah-tengah pusaran perdebatan publik menyoal apakah ia benar-benar eksis sebagai manusia.Hal yang kian memperumit keadaan adalah fakta bahwa Rath merupakan sebuah badan administratif independen—dengan kata lain, sebuah lembaga riset semi-publik dan semi-swasta, sehingga pada akhirnya, kepemilikan legal atas Alice jatuh ke tangan pemerintah.Ditambah lagi, terjadi tarik ulur di antara tiga lembaga pemerintah yang berbeda soal siapa yang berhak memegang kendali penuh dalam hal ini: Departemen Pertahanan, tempat bernaungnya sang pemimpin Proyek Alicization, Seijirou Kikuoka; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi, yang mengoperasikan Ocean Turtle sebagai kapal riset kelautan; serta Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi, yang menjadi ujung tombak strategi AI generasi mendatang bagi negara ini.Tak gentar akan hal itu, Kikuoka dan Dr.Koujiro Rinko memanfaatkan situasi ini untuk memperlambat pergerakan pemerintah dan membawa perdebatan mengenai hak asasi manusia bagi AI ke dalam ruang lingkup pemikiran publik.Apa yang mereka butuhkan adalah membuat sebanyak mungkin orang mengakui kualitas Alice yang menyerupai manusia—kemanusiaannya yang sesungguhnya, tepatnya—dan hal itu mengharuskan mereka untuk memamerkan Alice di sebanyak mungkin acara dan pesta.Baru belakangan ini jadwalnya mulai sedikit melonggar, yang mana menjadi alasan mengapa kami bisa pergi berpetualang bersamanya di Unital Ring. Di kehidupan nyata, kami belum bertemu dengannya selama dua minggu terakhir."Ayo—mari kita menuju ruang STL," ajaknya, berbalik dengan langkah bergegas.Gerakan tersebut diiringi desing aktuator yang sayup-sayup namun masih terdengar jelas. Tubuh mesin mutakhir rancangan Takeru Higa itu memang terus mengalami perbaikan dan pembaruan setiap harinya, tetapi sayangnya masih belum mencapai tahap di mana wujudnya tak bisa dibedakan dari manusia biologis.Kendati demikian, Higa mengklaim bahwa suatu hari nanti kita juga bakal menjadi lebih seperti Alice—dan bahwa di masa depan yang jauh, manusia dan AI akan melebur menjadi satu, menciptakan bentuk kehidupan yang sama sekali baru yang disebut technium.Aku sungguh berharap bisa menyaksikan hari itu tiba selagi aku masih bernapas, batinku seraya melangkah mengekor di belakang Alice dan Asuna menyusuri lorong.
Persis seperti dugaanku, saat menjumpai kami untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir, Dr. Koujiro langsung meminta maaf atas permintaan mendadak Kikuoka. Namun kami justru sangat menantikan kesempatan untuk kembali mengunjungi Underworld, sehingga kami sama sekali tak membutuhkan permintaan maaf tersebut.Sewajarnya, Dr. Koujiro beserta para stafnya telah mempertimbangkan untuk mengirimkan perwakilan dari Rath guna menginspeksi Underworld dari dalam. Akan tetapi, lantaran mereka tak bisa menggunakan satu pun akun super (super-account) maupun akun tingkat tinggi lainnya, dan minimnya pengetahuan mereka akan cara kerja alam manusia di sana, mereka pun mencapai kesimpulan bahwa opsi terbaiknya adalah membiarkanku melakukan dive itu sendiri.Aku sangat menghargai keputusan tersebut, tetapi sejujur-jujurnya, aku juga tak tahu banyak soal apa yang tengah terjadi di dalam sana.Pada dive kami yang terakhir, Asuna, Alice, dan aku muncul di luar angkasa, di mana kami berjumpa dengan para Integrity Pilot bernama Stica dan Laurannei, yang menerbangkan kami ke Centoria menggunakan pesawat luar angkasa mereka, lalu membawa kami ke kediaman Laurannei dengan menyembunyikan kami di ruang kargo sebuah kendaraan yang aneh.Tak ada jendela di ruang kargo tersebut, jadi aku tak bisa melihat banyak soal keadaan Centoria, dan batas waktu kami telah habis hanya setelah sedikit berbincang dengan kedua gadis itu, jadi ekspedisi tersebut terbilang sangat tidak memadai jika disebut sebagai misi pencarian fakta.Saat ini, waktu di Underworld telah dikunci agar selaras dengan waktu dunia nyata, sehingga akselerasinya ditiadakan. Kami takkan mendapati diri kami terlempar berabad-abad jauhnya ke masa depan pada dive kami berikutnya. Walaupun demikian..."...Andai saja mereka bisa mengembalikannya ke akselerasi seribu kali lipat setidaknya selama kita berada di dalam sana," gerutuku seraya melepas jaket seragamku di ruang STL.Dr. Koujiro mendongak dari pengecekan mesinnya dan memberiku seringaian."Aku mendengarkan keluhan semacam itu lima kali sehari di Rath. Mereka ingin kami mempercepatnya karena tugas-tugas terasa memakan waktu selamanya, atau karena mereka tak punya waktu untuk bermain gim."Ia terlihat cukup lelah, sejujurnya, jadi aku pun melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di benakku dengan jujur."Apa STL memang tidak bisa digunakan seperti itu? Bukan cuma untuk Underworld, maksudku. Bisakah kita melakukan dive ke kantor virtual mana pun dan menggunakan tingkat Akselerasi Fluctlight (Fluctlight Acceleration/FLA) untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat...?""Singkatnya, bisa. Tapi untuk melakukannya, kau butuh perangkat keras layaknya Main Visualizer di Ocean Turtle. Dan untuk membangun satu unitnya, biayanya bakal setara dengan sepuluh buah mainframe paling mutakhir."Aku sempat berpikir untuk menanyakan berapa persisnya harga satu buah mainframe itu namun memutuskan untuk mengurungkan niatku.Dr. Koujiro terkekeh dan melanjutkan, "Namun di masa depan yang jauh—katakanlah tiga puluh atau empat puluh tahun dari sekarang—perangkat wearable (dapat dikenakan) dengan kemampuan FLA mungkin bakal jadi hal yang lumrah, sehingga semua orang bisa bekerja atau belajar di lingkungan dengan waktu yang terakselerasi. Atau main gim, pastinya.""Tiga puluh tahun...?" Pada tahun 2056, usiaku bakal mendekati kepala lima. Apakah aku masih akan bermain VRMMO saat itu? Apakah konsep MMORPG masih eksis pada titik tersebut?"Bakal jauh lebih menyenangkan kalau hal itu bisa terwujud lebih awal. Dalam sepuluh tahun, kalau memungkinkan...," balasku, melirik ke arah kursi bersandar (reclining chair) yang disiapkan di sebelah STL. Alice telah duduk di sana, dengan sabar menunggu kami selesai bersiap."Alice, bagaimana perkembangannya di Kota Kiri—maksudku, di Ruis na Ríg?"Jawaban sang kesatria mengalir begitu lancar dan fasih, seolah-olah ia memang sudah menanti pertanyaanku."Pada saat aku log out tiga puluh menit yang lalu, keadaannya sangat damai. Kaum Patter sedang bekerja keras di ladang mereka, dan kaum Bashin telah pergi berburu dan membawa pulang seekor rusa besar. Semuanya saling membarter hasil panen dan tangkapan daging mereka, dan berbaur dengan sangat rukun di luar dugaan.""Syukurlah mendengarnya. Aku sempat sedikit khawatir kaum Bashin bakal mencoba memakan kaum Patter," ujarku, setengah bercanda. Bukan Alice yang merespons, melainkan Asuna dari sisi lain layar yang memisahkan kedua STL tersebut."Sebagian besar pola makan kaum Bashin itu berbasis tumbuhan," sahutnya dengan nada kesal."Mereka tidak diizinkan memburu hewan sebelum mereka berdoa pada Pohon Dewa (Trees of God), dan ada batasan berapa banyak yang boleh mereka buru dalam sehari."Sembari ia berbicara, aku mendengar suara pakaian yang tengah diganti. Aku cuma melepas jaketku sebelum melakukan dive, tetapi Asuna, persis seperti yang dilakukannya terakhir kali, sedang berganti mengenakan perlengkapan STL yang disediakan (begitulah cara Rath menyebut gaun piyama sederhana itu). Saat aku menanyakan alasannya, ia berdalih bahwa seragamnya bakal kusut nanti."...Apa Pohon Dewa itu pohon-pohon raksasa yang ada di Sabana Giyoru?" tanyaku, seraya membaringkan diri di atas ranjang gel STL. Asuna, yang sudah selesai berganti pakaian, melongok dari balik dinding penyekat untuk menjawab."Benar. Aku melihatnya semalam. Pohonnya mirip pohon baobab, ada dua buah, menjulang setinggi tiga ratus kaki di puncak sebuah bukit. Pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Aku jadi paham kenapa mereka berdoa pada pohon-pohon itu.""Ahhh... Itu mengingatkanku, koin perak yang Sinon berikan padaku memiliki ukiran dua pohon di bagian belakangnya. Aku penasaran apa itu pohon yang sama dengan yang kaulihat.""Entahlah. Aku tidak melihat koinnya," balasnya seraya mengedikkan bahu."Bukan," sahut Alice dari arah yang lain, "pohon di koin 100 el itu tidak terlihat seperti pohon baobab di dunia nyata. Kalau boleh dibilang, pohon itu justru lebih menyerupai pohon berdaun lebar, seperti oak platinum."Agak sulit memang membayangkannya, lantaran oak platinum adalah spesies yang unik hanya ada di Underworld, tetapi aku paham apa yang Alice maksud. Kemungkinan besar, terdapat kebudayaan lain di dunia Unital Ring selain kaum Bashin yang juga memuja citra dua pohon kembar. Aku membuat catatan di dalam benakku untuk menanyakan pada Sinon, seandainya aku bertemu dengannya malam ini, dari mana ia mendapatkan koin tersebut."Baiklah, semuanya sudah siap," Dr. Koujiro memberitahu kami. Ia telah selesai mengutak-atik tabletnya."Bagaimana perasaan kalian?""Siap berangkat!" ujarku, mewakili seluruh kelompok. Asuna dan Alice mengangguk antusias."Kalau begitu... sekarang hampir pukul tiga. Saat jam menunjukkan pukul lima, gunakan perintah gestur yang sama seperti terakhir kali untuk log out. Kalau kalian tidak keluar sendiri, aku akan memutus koneksi kalian pada pukul lima lewat sepuluh.""...Dokter yakin kita tidak bisa mengundurnya sampai jam enam?" pintaku memelas, tetapi Dr. Koujiro sama sekali tak tergoyahkan."Tidak boleh," tolaknya dengan tegas. "Dive kali ini adalah untuk mengecek keselamatan. Kami tidak bisa membiarkan kalian melakukan dive dalam jangka waktu yang lebih lama kecuali kami benar-benar tahu kalian berdua bisa terhubung tanpa kendala apa pun.""Baiiiklah...""Investigasi yang sesungguhnya mengenai insiden penyusupan itu harus menunggu sampai hari Sabtu nanti. Kalian bebas berkeliling Centoria, tapi jangan dekati Central Cathedral!" tegas Dr. Koujiro, memperjelas poin larangannya.Ia menoleh pada Alice dan melanjutkan, "Aku yakin ada banyak hal yang juga ingin kauketahui... tapi aku mohon bersabarlah sedikit lagi. Aku pastikan kau bakal bisa mengunjungi Underworld setiap hari selama apa pun yang kau mau. Dalam waktu yang sangat dekat.""Ya, Dr. Koujiro. Aku mengerti," balas Alice diiringi senyuman. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi bersandar dan memejamkan mata. Asuna dan aku membaringkan diri kembali di atas ranjang gel kami dan menempatkan kepala kami pas ke dalam lekukan sandaran kepalanya."Mari kita mulai, kalau begitu."Dr. Koujiro mengetuk tabletnya, meredupkan pencahayaan di dalam ruangan. Diiringi suara gemuruh yang berat, balok bagian kepala STL bergeser turun menutupi kepalaku.Suara-suara mekanis itu perlahan menjauh, berubah menjadi derau aneh layaknya embusan angin sepoi-sepoi atau riak ombak yang menyapu tepian pantai. Mesin itu mengakses fluctlight-ku—jiwaku yang sesungguhnya—menarikku menjauh dari dunia nyata. Aku merasa begitu damai, tanpa beban. Saat aku terperosok ke dalam kegelapan, sensasinya terasa hampir nostalgik bagiku.
Pertama-tama, aku melihat cahaya.Kecemerlangan mungil itu meluas, membias menjadi hamparan warna-warni—menyelimuti indra penglihatanku—bahkan melampauinya. Aku mengerjap beberapa kali menatap cahaya tersebut, lalu menyadari bahwa aku tengah menatap langsung ke arah matahari dari balik sebuah jendela.Setelah menarik pandanganku dari jendela lengkung yang besar itu, aku mengamati sekelilingku. Langit-langit ruangan ini menjulang tinggi, dengan dinding dan pilar penopang yang dihias apik dengan gaya Eropa abad pertengahan... bukan, lebih tepatnya dengan gaya Centoria. Ini adalah kamar tamu di kediaman Arabel, tempat Laurannei membawaku pada dive terakhirku. Aku tengah duduk di sebuah sofa kecil di dalam ruangan yang luas.Di sebelah kanan, terdapat sofa tiga dudukan tempat Asuna dan Alice duduk berdampingan. Keduanya tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tanpa mematahkan sepatah kata pun. Asuna mengambil wujud Goddess of Creation, Stacia, berbalut zirah berkilau layaknya mutiara di atas gaun putihnya. Sedangkan Alice mengenakan zirah emas di atas gaun birunya, pakaian Integrity Knight andalannya.Selanjutnya, aku menunduk untuk menatap diriku sendiri. Aku mengenakan jaket hitam dengan ujung bawah memanjang layaknya mantel, dipadukan dengan celana berwarna senada. Terdapat lipatan kain yang besar bergaya fly-front (untuk menyembunyikan kancing) dan epolet (tanda pangkat) di bahu, ditambah lengan dan kerah yang terbuat dari kain putih bersulamkan benang emas.Pakaian ini... mirip tapi tidak sama persis dengan seragam murid elite Akademi Ahli Pedang (Swordcraft Academy). Ini adalah pakaian yang kupinjam dari gudang senjata Central Cathedral setelah aku berhasil lolos dari sel bawah tanah. Aku terus mengenakannya di sepanjang pertarunganku melawan para Integrity Knights, Prime Senator Chudelkin, dan Administrator, jadi pada akhirnya pakaian ini sudah compang-camping dan sobek di mana-mana, tetapi sekarang kondisinya tampak begitu sempurna bagaikan baru."...Hei, Alice, apa yang sebenarnya terjadi dengan pakaian ini?""Hah?" Alice mengernyit dan mengerjapkan matanya."Eee... aku memasukkannya ke dalam barang bawaanmu saat membawamu ke Rulid dari Central Cathedral. Selka memberiku pelajaran menjahit, dan aku telah memperbaikinya, lalu memakaikannya kembali padamu saat kita berpartisipasi dalam pertempuran untuk mempertahankan alam manusia. Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya...""Hmm... tapi tak ada tanda-tanda bekas jahitan pada pakaian ini sama sekali...""Kirito, apa itu benar-benar hal yang perlu kaupikirkan saat ini juga?" tegur Alice dengan nada jengkel. Lalu, seolah memutar kembali kata-kata yang baru saja diucapkannya beberapa detik lalu, ia tersentak berdiri, membuat zirahnya bergemerincing."Selka!"Ia bergegas melintasi lantai menuju jendela lengkung di sebelah selatan, menempelkan kedua tangannya pada kaca, dan terdiam.Asuna dan aku saling bertukar pandang, lantas bangkit berdiri. Kami melangkah ke sisi Alice dan menyaksikan pemandangan yang sebelumnya mustahil terlihat akibat silau cahaya matahari tadi.Nun jauh di balik kota, menjulang sebuah menara putih raksasa yang seolah membelah langit senja. Central Cathedral milik Gereja Axiom, jantung dari keempat kekaisaran umat manusia...Pada akhirnya, aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kembali ke Underworld, dan aku pun menarik napas dalam-dalam. Tanganku bergerak dengan sendirinya, meraba-raba mencari sumber beban yang membebani pinggulku.Di sisi kiriku terpasang sebilah pedang hitam dengan desain yang memancarkan kekuatan: Night-Sky Blade. Di sisi kananku bertengger sebilah pedang putih nan indah dengan desain yang elegan: Blue Rose Sword.Aku mengangkat tanganku untuk menggenggam sarung Blue Rose Sword, menelusuri ukiran mawar yang halus pada gagangnya. Aku terus membelai dan mengusapnya untuk melihat apakah aku bisa merasakan sesuatu. Namun, satu-satunya sensasi yang tersalurkan ke kulitku hanyalah rasa dingin dan keras.Tentu saja, tak tersisa setitik pun jejak kehangatan tubuh dari sang pemilik sah pedang ini, si pemuda berambut sewarna rami tersebut.Selanjutnya, aku beralih merengkuh gagangnya yang ramping. Aku mencoba menghunus pedang itu, tetapi aku tak sanggup menariknya lepas.Selama pertarungan melawan Administrator, Blue Rose Sword telah melebur bersama Eugeo dan menjelma menjadi pedang raksasa, yang kemudian dipatahkan menjadi dua oleh rapier milik sang penguasa.Di masa War of Underworld, usai aku tersadar dari komaku, aku sempat memperbaiki pedang ini menggunakan Inkarnasi (Incarnation), tetapi aku tak bisa memastikan sekarang apakah pedang ini masih utuh atau telah kembali ke kondisinya yang patah seperti sediakala.Inkarnasi di Underworld memanfaatkan kekuatan imajinasi untuk menimpa ulang (overwrite) wujud suatu benda, tetapi itu hanyalah kekuatan sementara yang tidak dapat mengubah apa pun secara permanen.Satu pengecualian yang paling nyata adalah adik perempuan kesayangan Alice, Selka Zuberg.Meski aku sendiri tak mengingatnya, seusai aku siuman di dunia nyata pada tanggal 1 Agustus lalu, aku sempat memberitahu Alice, "Adikmu, Selka, memilih untuk dibekukan dalam tidur panjang (deep freeze) demi menanti kepulanganmu. Ia masih tertidur saat ini, di puncak bukit di lantai delapan puluh Katedral Pusat."Seandainya hal itu benar adanya, maka ia pasti masih menanti Alice di sana, di menara putih yang kini menjulang di depan mata kami. Ia telah menunggu selama ini.Akan tetapi, menurut penuturan Stica dan Laurannei, saat ini adalah tahun bintang (stellar year) 582. Itu hanyalah perubahan nama kalender dari penamaan HE (Human Era/Era Manusia) dan sama sekali bukan sistem penanggalan yang sepenuhnya baru.War of Underworld pecah pada tahun 380 HE, yang berarti lebih dari dua abad telah berlalu. Apakah orang-orang yang kini mengelola katedral membiarkan Selka begitu saja tak tersentuh layaknya patung batu selama kurun waktu tersebut?Menurut kedua gadis itu, bukan lagi Gereja Axiom yang memegang kendali atas Underworld, melainkan sebuah badan pemerintahan yang dikenal sebagai Dewan Penyatuan Bintang (Stellar Unification Council). Nama itu terdengar samar-samar familier di telingaku.Selepas menghentikan Gabriel Miller, yang bertindak sebagai Dewa Kegelapan Vecta, aku kembali ke Centoria bersama Asuna dan Pasukan Penjaga Manusia (Human Guardian Army). Kami mendapati diri kami harus bekerja sama dengan para Integrity Knights untuk meredam kekacauan, yang mana terjadi secara alamiah.Rupanya, kelompok penguasa baru yang kami sepakati untuk dibentuk kala itu bernama Dewan Penyatuan Manusia (Human Unification Council)."Hei, Asuna..."Aku menoleh ke arahnya, berniat menanyakan apakah ia memiliki ingatan yang sama. Namun tepat saat aku melakukannya, aku tersentak dan mematung kaku.Di belakang Asuna, yang tengah menatapku dengan raut terkejut, aku bisa melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka. Dan dari balik celah tersebut, sesosok bayangan mungil tengah mengintip ke arah kami.Alice dan Asuna menyadarinya sama cepatnya. Setelah memancing perhatian dari tiga orang sekaligus, sosok mungil itu buru-buru menarik diri, tetapi Asuna berseru, "T-tunggu! Kami bukan orang mencurigakan kok."Uh, jelas-jelas kita mencurigakan, batinku. Kalau anak itu adalah penghuni tempat ini, maka pada dasarnya kitalah si penyusup yang mendobrak masuk ke rumahnya.Namun pesona kebaikan alami Asuna—kalau kau mau menyebutnya demikian—rupanya cukup meyakinkan, dan dalam hitungan detik, sosok itu muncul kembali. Kami menanti dengan sabar seraya ia melangkah masuk ke dalam ruangan dengan kelambanan yang menyiksa.Sosok itu adalah seorang anak berusia delapan atau sembilan tahun, yang kemungkinan besar adalah anak laki-laki. Ia mengenakan kemeja putih dan celana selutut berbahan beludru hitam, dengan rambut hitam yang dipangkas pendek.Di mataku, ia tampak persis seperti tuan muda kecil yang modis dari keluarga kaya raya. Berdasarkan paras dan warna rambutnya, aku menebak bahwa ia adalah adik laki-laki Laurannei.Anak lelaki itu menatapku, lalu Asuna, kemudian Alice. Ia membungkuk hormat dan berbicara dengan suara yang jauh lebih lantang dan renyah daripada yang kuduga.
"Aku telah mendengar banyak tentang kalian semua dari kakak perempuanku, Laurannei. Aku Phercy Arabel. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan kalian."Aku baru saja berpikir bahwa itu adalah perkenalan yang sangat berani dari seseorang yang baru saja mencoba kabur beberapa saat yang lalu, tetapi kemudian aku menyadari bahwa tungkainya yang ramping itu tengah gemetar.Tentu saja ia ketakutan. Aku tak tahu bagaimana Laurannei menjelaskan tentang kami kepadanya, tetapi kami datang melintasi waktu dari masa lalu yang terlampau jauh, jadi kami lebih mirip hantu ketimbang penyusup baginya. Namun Phercy merapatkan kedua tangannya dan menegakkan tubuhnya tegak-tegak.Gadis dari keluarga Arabel yang melayaniku sebagai pelayan pribadiku di Akademi Ahli Pedang (Swordcraft Academy) dulu juga bersikap sama. Biasanya, ia tampak pemalu, tetapi ketika saatnya tiba, ia bisa bersikap begitu luar biasa berani.Sebagai seorang murid biasa semasa War of Underworld, ia telah bergabung dengan Pasukan Penjaga Manusia (Human Guardian Army) dan berjuang melindungiku selagi aku berada dalam kondisi koma.Laurannei dan Phercy kemungkinan besar adalah kerabat jauh Ronie, atau barangkali keturunan langsungnya. Dan rekan sesama pilot Laurannei, Stica Schtrinen, merupakan keturunan dari sahabat Ronie, Tiese.Ya, di tahun bintang (stellar year) 582 Underworld ini, Ronie dan Tiese sudah lama tiada. Dan bukan cuma mereka; Sortiliena, Nona Azurica, Pak Tua Garitta, Sadore... semua orang yang telah menolong dan membimbingku kini telah kembali ke akar fluctlight mereka. Walaupun aku baru log out dari sistem ini sedikit lebih dari sebulan yang lalu...Tertikam oleh rasa sakit yang mendadak menusuk jantungku, aku tak sanggup bereaksi. Karenanya, Asuna-lah yang melangkah hati-hati menghampiri Phercy; anak lelaki itu tersentak ketakutan. Asuna berjongkok saat jaraknya tersisa sekitar enam kaki darinya, menyejajarkan dirinya dengan tingkat pandangan anak itu."Senang bertemu denganmu, Phercy. Aku Asuna. Pria berbaju hitam di sana itu Kirito, dan wanita berbaju emas itu Alice. Halo.""......"Phercy nyaris tak meluangkan setengah detik pun untuk menatapku sebelum akhirnya memusatkan pandangannya pada Alice. Mata biru keabu-abuannya membelalak kaget."Nona... Alice..."Terdapat ketakutan dan penghormatan yang mendalam pada raut wajah rapuh anak lelaki itu. Rupanya, legenda Alice Synthesis Thirty masih hidup di kalangan masyarakat dunia ini, dua abad berselang.Menurut Laurannei, Asuna dan aku memegang gelar kebesaran sebagai Raja Bintang (Star King) dan Ratu Bintang (Star Queen) hingga tiga puluh tahun yang lalu, tetapi Phercy tampaknya tak mengenali nama kami. Secara pribadi, aku toh tidak percaya dua pertiga dari omong kosong soal Raja Bintang itu.Anak lelaki itu terus memaku tatapannya pada sang kesatria emas seraya ia berbicara."Apa kau... benar-benar dia? Alice yang sama, Sang Kesatria Osmanthus (Zaitun Manis), yang muncul di semua buku sejarah dan dongeng...?"Alice tampak tak yakin bagaimana harus bereaksi terhadap pertanyaan ini."Aku tak tahu bagaimana caramu membuktikan aku ini 'benar-benar dia' atau bukan... tapi namaku memang Alice Synthesis Thirty, dan ini adalah Osmanthus Blade (Pedang Zaitun Manis)."Ia menepuk pedang panjang di pinggul kirinya, dan wajah Phercy seketika berbinar-binar. Sama seperti di dunia nyata, anak lelaki seumurannya di Underworld agaknya juga sangat menggandrungi senjata."Osmanthus Blade! Astag—maksudku, itu luar biasa! Itu senjata ilahi (divine weapon) sungguhan dari zaman kuno... Senjata yang melenyapkan gunung dan membungkam badai hanya dengan sekali ayun...!""......"Alice tak ayal tersentak mendengar hal itu. Seni Kendali Senjata Sempurna (Perfect Weapon Control) milik Osmanthus Blade memang memiliki kekuatan yang luar biasa—aku sendiri pernah merasakannya secara langsung—namun kisah-kisah tentangnya barangkali telah sedikit dibumbui seiring penceritaan selama dua ratus tahun.Dengan menahan dorongan untuk menggoda sang kesatria yang angkuh itu, aku menyadari bahwa rasa perih dari kedukaanku mulai mereda. Aku mengembuskan napas dan bertanya pada anak lelaki itu, "Hei, Phercy, kau tadi bilang 'senjata ilahi sungguhan'... Apa itu berarti Objek Ilahi (Divine Object) sudah tak ada lagi di era ini?"Ekspresi Phercy kembali mengeras."Benar," ujarnya."Konon katanya, ketika para Integrity Knights—bukan Integrity Pilots seperti kakakku, melainkan mereka yang menunggangi naga hidup—disegel untuk selamanya, semua Divine Objects yang ada juga ikut disegel bersama mereka.""Disegel...?"Aku bertukar pandang dengan Alice dan Asuna.Sedikit lebih dari sebulan yang lalu, Stica dan Laurannei sempat memberi kami penjelasan tentang keadaan Underworld saat ini di ruangan yang sama ini, tetapi akibat keterbatasan waktu dan fakta bahwa mereka juga punya banyak pertanyaan untuk kami, informasi terbaik yang bisa kami peroleh hanyalah gambaran tentang keseimbangan dunia dan struktur penguasa pada saat itu. Aku nyaris tak tahu apa pun soal apa yang telah terjadi selama dua ratus tahun terakhir.Ditambah lagi, kata disegel itu terasa lebih dari sekadar membawa firasat buruk."Phercy, kapan para kesatria kuno itu disegel?" tanya Alice.Pipi anak lelaki itu sedikit merona saat ia menjawab, "Aku dengar tepat setelah kita beralih dari kalender Era Manusia ke Era Bintang... jadi sekitar seratus tahun yang lalu.""Seratus tahun...," ulang Alice. Ia kembali menatap katedral itu melalui jendela.Waktu di Underworld kini selaras dengan dunia nyata, jadi ini sudah lewat pukul tiga sore di sini juga. Namun musimnya tampaknya tidak sejajar—kemungkinan besar karena bulan di Underworld secara seragam berjumlah 30 hari, dan setahun berjumlah 360 hari—sehingga langit di sini sudah terlihat jauh lebih gelap. Udara di dalam ruangan itu pun terasa sangat dingin.Asuna, yang berpakaian paling tipis di antara kami, sedikit menggigil, yang mana disadari oleh Phercy."Oh... lumayan dingin di sini, ya?" ujarnya."Biar kunyalakan heater (pemanasnya)."H-heater?Namun baru sejenak aku memikirkan hal itu, anak lelaki tersebut sudah berjalan menuju dinding di dekat pintu masuk dan menarik salah satu dari dua tuas di sana. Terdengar bunyi klak dari lima atau enam celah memanjang di sepanjang dinding, tepat di atas lantai. Dengungan pelan menyusul, dan tiba-tiba saja udara hangat mengalir menerpa kaki kami. Prosesnya jauh lebih cepat ketimbang pendingin ruangan (air conditioner) di dunia nyata sekalipun."B... bagaimana kau melakukannya?" tanya Alice.Phercy sejenak terperanjat oleh pertanyaan itu. Ia berjalan kembali menghampiri dan berkata, "Oh, tentu saja, belum ada coolers (pendingin) di era Anda, Nona Alice.""C-coolers?""Iya. Di ruang bawah tanah terdapat tabung-tabung tersegel yang berisi elemen panas abadi, elemen embun beku abadi, dan elemen angin abadi, beserta panel kendalinya. Semua itu menyediakan pendingin dan pemanas untuk udara dan air di seluruh penjuru rumah."""Tabung tersegel?!"" Alice dan aku berseru serempak.Elemen embun beku sih masih mending, tapi memasukkan elemen panas ke dalam wadah tertutup rapat itu sangatlah berbahaya. Sangat mudah membuat elemen itu masuk ke status overheat (terlalu panas) yang tak terkendali, yang bisa berujung pada ledakan dahsyat.Mungkin begitulah cara kerja pesawat naga (dragoncraft) milik Laurannei dan Stica, tetapi siapa kiranya yang sudi mengembangkan penggunaan elemen yang sebuas dan senekat itu? Alice dan aku sama-sama dilanda rasa terkejut sekaligus jengkel.Asuna angkat bicara mewakili kelompok kami."Ohhh, jadi begitu cara kerjanya. Sangat menakjubkan. Apa semua rumah lain juga punya benda yang sama?""Iya, dan benda-benda ini mulai masuk ke sejumlah rumah rakyat jelata juga, bukan cuma kediaman bangsawan. Tapi," ujar Phercy, raut wajah kekanak-kanakannya kini memancarkan keseriusan yang sangat dewasa, "sekitar tiga tahun yang lalu, semua kota besar, bukan cuma Centoria, mulai menderita kekurangan pasokan daya spasial (spatial power supply). Kami menggunakan tabung tersegel bukan cuma di rumah dan tempat usaha, melainkan juga di pabrik, fasilitas umum, serta mechamobile dan mechamotive yang berlalu-lalang di penjuru kota.""Mecha... motive...?"Aku kembali bertukar pandang dengan Alice. Terakhir kali, kami diantar ke rumah ini dari bandara menggunakan sesuatu yang menyerupai kereta tanpa kuda. Jadi benda itu disebut mechamobile. Dari kedelapan elemen yang ada, elemen panas menghabiskan daya suci spasial dalam jumlah tertinggi, jadi masuk akal bila menggunakannya dalam jumlah tak terbatas di seluruh penjuru kota besar bakal mengeringkan pasokan dayanya.Siapa sangka mereka bakal berurusan dengan penipisan sumber daya alam di Underworld juga? keluhku dalam hati, mendengarkan erangan samar yang berasal dari sistem pendingin ruangan tersebut. Lalu aku menyadari bahwa aku sama sekali tak mendengar suara lain."Hei, Phercy, apa Laurannei dan anggota keluargamu yang lain sedang tidak ada di rumah?" tanyaku, tak memedulikan penggunaan panggilan kehormatan khusus apa pun pada anak lelaki itu. Ia tampaknya tak keberatan."Tidak. Kakakku sedang bertugas di pangkalan, tentu saja. Ibuku juga ada di sana, dan ayahku bekerja untuk pemerintahan Centoria Utara. Oh, tapi..."Ia membuka pintu dan bertepuk tangan dua kali, cukup keras. Terdengar bunyi gemerincing dari lorong, di luar pandangan kami. Dalam hitungan detik, gumpalan abu-abu raksasa melompat masuk ke ruang tamu, dan kami bertiga refleks mencondongkan tubuh ke belakang karena kaget.Itu adalah seekor domba... bukan, seekor anjing. Tapi aku belum pernah melihat anjing sungguhan yang wujudnya seperti ini. Kalau harus dideskripsikan dalam satu kalimat, anjing ini terlihat seperti ras Afghan hound dengan ikal-ikal tebal yang mengembang. Wajahnya ramping dan rupawan, tetapi bulu hiasan melingkar ikal di sekitar telinganya, yang entah kenapa mengingatkanku pada bangsawan Eropa abad pertengahan. Malahan, aku baru menyadari kalau anjing ini mirip dengan orang tertentu: potret Johann Sebastian Bach yang terpajang di ruang musik SD-ku dulu.Anjing abu-abu besar itu duduk dengan sopan di sebelah Phercy, kedua kaki depannya berjejer rapi, dan menatap kami dengan mata besarnya. Phercy mengelus bagian belakang kepalanya dan berkata, "Ini Beru, seekor Bruha Curl dari Wesdarath. Umurnya mungkin lebih tua dariku, tapi dia sahabat terbaikku."Anjing berbulu ikal itu menggonggong riang, seakan menyetujui pernyataan tersebut. Asuna seketika merapatkan kedua tangannya di depan dada dan berseru, "Oh... anjing yang besar sekali! Boleh aku mengelusnya?""S-silakan saja," ujar Phercy, tetapi Asuna sudah bergerak mendahului.Ia menghampiri dengan postur merendah dan dari arah samping, agar tidak mengintimidasi anjing tersebut. Ia berjongkok dan berkata dengan nada menenangkan di dekat telinganya, "Halo, Beru. Aku Asuna.""Guk!"Balasan itu sama sekali tak terdengar memusuhi. Asuna membiarkan Beru mengendus tangannya cukup lama sebelum ia menggaruk lembut bagian belakang telinga anjing itu. Beru tampak sangat menyukainya, jadi Asuna menggaruknya lebih kuat."...Asuna benar-benar menyukai anjing," bisik Alice.Aku membalasnya dengan anggukan."Kukira dia lebih suka anjing kecil, tapi sepertinya dia juga suka yang besar.""Itu membuatku penasaran bagaimana reaksinya kalau bertemu Divine Beast berwujud anjing.""Hah... kalian punya makhluk semacam itu di Underworld?""Dulu sekali, sangat lama. Tapi yang lebih penting," ujar Alice, merendahkan suaranya hingga terdengar lebih pelan lagi, "apa kau tak merasa ini aneh? Kalau kakak dan kedua orang tuanya pergi bekerja, hari ini pastinya bukan hari libur. Lantas kenapa anak seusianya tidak berada di sekolah?""Hah...? Jangan-jangan dia memang sudah pulang sekolah?""Ini baru jam tiga lewat lima belas," ujar Alice, menatap jam analog yang tergantung di dinding.Semasa aku melakukan dive di Underworld dulu, cara untuk mengetahui waktu adalah lewat lonceng khusus di setiap kota dan desa yang mengalunkan melodi khas pada setiap jam dan setengah jam. Tak terhitung sudah berapa kali aku mendamba, Andai saja aku punya jam. Rupanya, seseorang telah menemukannya dalam kurun dua abad semenjak saat itu.Terlepas dari itu, jarum emas itu memang menunjuk ke angka tiga lewat lima belas. Aku tidak tahu detail jam pulang sekolah dasar dan kegiatan sepulang sekolah di sini, tetapi kalau kau bilang ini terlalu awal baginya untuk pulang, aku mungkin akan memercayaimu."...Tanyakan langsung padanya, Alice.""...Kau tanyakan saja sendiri.""Kan kau yang mengungkitnya duluan.""Aku cuma bilang itu sedikit aneh."Selagi kami berdua berdebat dan saling melempar tanggung jawab, Asuna, yang kedua tangannya sibuk mengusap-usap leher Beru, bertanya, "Jadi kau sudah selesai sekolah hari ini, Phercy?"Kami berdua menoleh ke arahnya. Mata biru keabu-abuan Phercy membelalak sesaat sebelum ia menundukkan pandangannya ke lantai. Kendati demikian, raut wajah Asuna tak berubah; ia menunggu anak lelaki itu angkat bicara. Aura lembutnya yang merangkul segalanya, murni dari kehadirannya ketimbang kata-kata atau gestur tubuhnya, adalah aset terbesar yang dimiliki Asuna.Phercy mengangkat wajahnya sedikit untuk menatapnya. Beru mencondongkan tubuh dan menjilat tangan tuannya. Hal itu seolah memberi anak lelaki tersebut keberanian untuk berbicara."Sebenarnya... aku sudah tidak masuk sekolah selama hampir tiga bulan," ungkapnya.Pertama masalah lingkungan, sekarang krisis pendidikan! batinku dengan ceplas-ceplos. Tentu saja, aku takkan mengatakannya lantang-lantang, karena tak peduli di dunia mana pun, seorang anak seusianya yang tidak bisa pergi ke sekolah adalah sebuah masalah serius.Asuna memberinya senyuman yang sangat baik dan lembut, mengangguk, lalu bertanya, "Dan kau sekarang kelas berapa, Phercy?""...Tahun ketiga di Sekolah Remaja Dasar Centoria Utara (North Centoria Primary Juvenile School)." Seperti dugaanku, itu menempatkan usianya di sekitar delapan atau sembilan tahun.Gaya bicaranya memang lebih tua dari usianya, tetapi di dalam hatinya, ia masihlah sangat belia. Mengambil contoh dari Laurannei, sepertinya keluarganya tidaklah sepenuhnya disfungsional, jadi mungkinkah ada masalah perundungan (bullying)? Apakah masih ada masalah perpeloncoan, seperti hal-hal yang dilakukan para bangsawan kelas atas pada Eugeo dan aku setelah kami mempermalukan mereka dulu? Tergantung bagaimana ceritanya nanti, aku mungkin harus menyerbu sekolah itu dan mengikat beberapa anak nakal, pikirku.Namun Phercy hanya menggaruk leher Beru sejenak. Ia menatap Asuna, yang dengan sabar menjaga keheningannya, lalu beralih menatap Alice, yang berdiri di ambang jendela. Dengan penderitaan yang kentara, ia menjelaskan, "Aku tidak pergi ke sekolah... karena aku payah dalam menggunakan pedang."Entah karena alasan aneh apa, aku tidak langsung mencerna apa yang ia maksud dengan "pedang". Asuna dan Alice sepertinya juga sempat kebingungan sejenak, sampai Asuna menyentuh rapier di sisinya—itu adalah senjata khusus GM bernama Radiant Light—dan bertanya, sekadar untuk memastikan, "Maksudmu... seperti pedang ini? Kalian menggunakan pedang di sekolah remaja?"Kini giliran Phercy yang tampak terkejut."Tentu saja. Ilmu pedang adalah bagian yang sangat penting dari pelajaran kami. Murid mana pun yang ingin masuk ke Akademi Ahli Pedang Kekaisaran Centoria Utara (North Centoria Imperial Swordcraft Academy) harus mendapat nilai tinggi dalam ilmu pedang.""......!"Aku menarik napas tajam dan melangkah setapak lebih dekat ke arah anak lelaki itu."Para Integrity Knights sudah tidak ada, tapi Swordcraft Academy masih berdiri?! Di hutan di Distrik Lima?!"Anak lelaki itu tampak terkejut oleh intensitasku, tetapi keterkejutannya segera digantikan oleh rasa heran yang luar biasa."Apa kau bilang namamu tadi... Kirito? Kakakku bilang kau adalah orang dari dunia lain (otherworlder). Kau tahu soal Swordcraft Academy?"Pada dive sebelumnya, aku bersikeras memberitahu Stica dan Laurannei bahwa aku hanyalah orang dari dunia lain, bukan Raja Bintang yang kaku atau semacamnya, dan mereka rupanya menuruti permintaanku dengan mendeskripsikanku seperti itu pada anak lelaki ini. Aku penasaran bagaimana Phercy memahami konsep dunia lain, tetapi aku bisa menanyakannya belakangan. Untuk saat ini, aku menjawab dengan bangga, "Tentu saja aku tahu. Aku lulusan dari sekolah itu."Aku langsung menyesalinya sesaat setelah aku mengucapkannya. Kenyataannya, Eugeo dan aku telah melakukan pelanggaran terhadap Taboo Index pada bulan Mei, tepat setelah kami menjadi murid elite di tahun kedua kami, dan kami pun ditendang keluar dari sekolah. Untungnya, tak ada satu orang pun di sini yang bisa menegurku atas—"E-hem." Alice berdeham dengan penuh penekanan, dan aku refleks membungkukkan bahuku.Integrity Knight yang muncul untuk menangkap kami atas kejahatan yang layak diganjar pemecatan itu tak lain dan tak bukan adalah Alice Synthesis Thirty. Namun membuat ralat sekarang hanya akan menghancurkan rasa hormat yang baru saja kudapatkan dari Phercy kecil, jadi aku berpura-pura tidak mendengarnya.Untungnya, Phercy tak menyadari apa yang baru saja terjadi. Wajahnya berbinar-binar, ia berkata, "K-kau lulusan dari sana?! Tapi bagaimana caramu masuk kalau kau adalah orang dari dunia lain?!""Aku menerima rekomendasi di Zakkaria dan mengikuti ujian masuk. Aku kurang begitu ahli dalam sacred arts, jadi tahun pertamaku terasa cukup berat, tapi di tahun keduaku, aku adalah murid elite kursi keenam."Bagian itu, setidaknya, bukanlah sebuah kebohongan. Seandainya Swordcraft Academy masih menjadi sekolah yang aktif, maka jika kau mengecek daftar registrasi sekolah, seharusnya masih ada catatan berusia dua abad yang menyebutkan bahwa aku menempati kursi keenam, dan Eugeo berada di kursi kelima.Phercy menangkupkan kedua tangan mungilnya dengan penuh kegembiraan. Tubuhnya benar-benar gemetar antusias."Kursi keenam...?! I-itu luar biasa... Pantas saja mereka bilang kalau kau adalah pengikut Nona Alice!""Oh, aku takkan bilang aku sehebat i—Tunggu, apa?" gagapku, baru menyadari apa yang sebenarnya ia ucapkan. Asuna dan Alice kontan meledak dalam tawa.
Rupanya, Laurannei telah menjelaskan pada adiknya bahwa Kirito sang orang dari dunia lain (otherworlder) adalah pengikut Alice sang Integrity Knight. Namun aku tak bisa benar-benar menyalahkannya atas hal itu.Gadis-gadis itu mencecar kami, bertanya kenapa kami kembali kalau bukan untuk menjadi Raja dan Ratu Bintang lagi, jadi karena panik agar mereka berhenti mendesakku, aku menjelaskan bahwa kami adalah pengawal Alice. Entah bagaimana ceritanya di tengah jalan, kata pengawal berubah menjadi pengikut, tapi kalau ada yang harus disalahkan, itu adalah salahku, bukan salah Laurannei. Jadi aku menerima status baruku sebagai pelayan Alice."Ya, kau memang butuh bakat berpedang untuk masuk ke Swordcraft Academy," jelasku pada Phercy, "tapi kau baru kelas tiga di sekolah dasar, kan? Kau takkan mengikuti ujian masuk sampai kau lulus sekolah menengah, jadi kau masih punya waktu setidaknya enam tahun lagi. Kau bakal tumbuh dan berkembang pesat sampai saat itu tiba, jadi jangan mulai panik seolah kau harus bisa menguasai semuanya saat ini juga."Dengan tangannya bertumpu di atas kepala anjingnya, Phercy memberiku senyuman yang menyiratkan kesedihan yang jauh melampaui usianya. Ia menggelengkan kepalanya pelan."Kakak dan kedua orang tuaku juga mengatakan hal yang sama padaku. Tapi... aku telah ditelantarkan oleh Terraria, Dewi Pedang dan Bumi.""...?"Ada dua hal dari pernyataan itu yang mengusikku. Aku bertukar pandang dengan Alice. Dua ratus tahun yang lalu, Terraria adalah dewi yang mengelola berkah bumi, dan ia tak punya sangkut paut apa pun dengan pedang. Dan apa pula maksudnya dengan "ditelantarkan"?Phercy menatap kami sekilas, lalu melepaskan anjingnya untuk menatap telapak tangannya sendiri."Dalam tiga tahun semenjak aku pertama kali memegang pedang, tak sekalipun aku pernah berhasil mengaktifkan teknik pamungkas (ultimate technique). Aku memegang pedang kayuku dan mengambil kuda-kuda, persis seperti teman-teman sekelasku, tapi aku bahkan tak bisa melakukan Lightning Slash (Tebasan Kilat) yang paling dasar sekalipun. Orang tuaku menyewa guru privat untukku karena cemas, tapi guru itu lempar handuk cuma setelah satu minggu."Ia mengepalkan tangan itu dan memuntahkan kata-kata dari tenggorokannya seolah ucapan itu memberinya rasa sakit fisik."Dengan setiap hasil menyedihkan di pelajaran ilmu pedang, aku mempermalukan keluarga Arabel. Aku secara pribadi telah mencorengkan lumpur pada nama leluhurku, yang diangkat menjadi Integrity Knight pada usia tujuh belas tahun atas jasa besarnya di masa Rebellion of the Four Empires: Ronie Arabel Thirty-Three."Sesaat setelah aku mendengar nama itu, aku merasa seakan ada kilat yang baru saja menyambar otakku, dan aku mengerang.Ronie... gadis kecil manis yang dulu bekerja sebagai pelayan pribadiku itu, seorang Integrity Knight? Aku juga belum pernah mendengar frasa Rebellion of the Four Empires. Apakah pernah terjadi perang mengerikan lainnya di sini setelah War of Underworld?Sekali lagi, aku merasa frustrasi lantaran aku nyaris tak punya ingatan apa pun setelah mengalahkan Vecta. Selama fase akselerasi maksimum, di mana satu detik di dunia nyata setara dengan lima juta detik di sini, Asuna dan aku konon telah hidup di Underworld selama hampir dua abad. Namun apa yang terjadi di sini dan apa yang kami lakukan benar-benar luput dari ingatanku.Ingatan terakhirku, entah kenapa, adalah terlibat baku hantam dengan Komandan Iskahn dari Pasukan Kegelapan (Dark Army) di tengah negosiasi perdamaian di reruntuhan Gerbang Timur. Ada bayangan Iskahn di benakku, dengan pipi bengkak, berkata, Aku akui, kau lebih kuat dariku, jadi aku yakin negosiasi itu berhasil, tapi ingatanku berhenti sampai di situ saja.Ya... kalau dipikir-pikir lagi, akselerasi waktu itu berhenti tepat tiga menit setelah Asuna dan aku log out dari Underworld, jadi kami pada dasarnya masih hadir di dunia ini hingga sekitar tiga puluh tahun yang lalu.Itu memang bukan waktu yang baru-baru amat, tetapi bukan juga masa lalu yang terlampau jauh. Bagian soal aku menjadi raja itu kemungkinan besar adalah semacam kekeliruan, tapi aku ragu kami hidup terasing di pegunungan yang jauh, jadi pastinya masih ada beberapa orang yang hidup saat ini yang pernah berinteraksi langsung dengan kami.Namun menemukan mereka bakal jadi hal yang sulit. Aku tak bisa begitu saja berkeliling Centoria dan bertanya pada setiap orang tua yang kutemui, "Apa kau mengenalku?"Lagipula tujuan dari dive ini adalah untuk mencari tahu siapa yang menyusup ke Underworld dan apa yang mereka inginkan. Terang-terangan memamerkan kehadiranku di sini justru bakal jadi hal yang kontraproduktif, sejujurnya.Jadi untuk saat ini, aku harus menekan hasratku untuk mengetahui lebih banyak soal Ronie dan Tiese. Aku bertanya pada Phercy, "Waktu kau bilang kau nggak bisa mengaktifkan teknik pamungkas, apa maksudnya kau nggak bisa menyelesaikan efek penuhnya? Atau tekniknya bahkan sama sekali nggak menghasilkan, uh... pendar cahaya berwarna itu?""Yang kedua... Tak peduli berapa kali pun aku mencoba, aku tak bisa memunculkan cahaya atau suara apa pun.""Hrmm...?" Asuna dan Alice sama bingungnya denganku.Ya, teknik pamungkas—apa yang kami sebut sebagai sword skill—memang punya trik tersendiri, tetapi bahkan seorang pemula total di ranah VRMMO pun bisa menguasainya dalam waktu dua puluh atau tiga puluh menit. Kau cuma perlu menahan pedang di posisi dan sudut yang tepat, dan begitu kau terbiasa, kau bahkan bisa mengaktifkannya sambil melompat atau dengan posisi terbalik. Apa memang mungkin seseorang berlatih selama tiga tahun dan tak pernah sekalipun sukses mengeksekusi sword skill dengan benar?"...Ummm, Phercy? Aku takkan memaksamu kalau kau tak mau, tapi menurutmu bisakah kau mencobanya untukku, sekali saja?"Anak lelaki kurus itu menegang dan menatap lantai. Beberapa saat kemudian, ia menjawab dengan suara serak, "Maafkan... aku... Aku tahu ini adalah sebuah kehormatan besar bisa disaksikan oleh Nona Alice dan pengikutnya, tapi pedang kayuku ada di dalam kotak paling ujung di bagian belakang gudang perkakas. Aku tak bisa mengambilnya dengan mudah..."Ucapan itu tak terdengar seperti kebohongan, tetapi itu jelas-jelas sebuah alasan untuk menghindar. Kalau ia tak mengambil kesempatan ini, seluruh perasaan sia-sia dan keraguan diri yang telah menumpuk di dalam diri anak lelaki itu hanya akan makin membesar.Aku sempat terpikir untuk meminjaminya pedang namun mengurungkan niatku. Blue Rose Sword dan Night-Sky Blade keduanya adalah Divine Objects dengan tingkat prioritas di atas empat puluh. Hal yang sama berlaku untuk Osmanthus Blade milik Alice dan Radiant Light milik Asuna. Anak lelaki berusia sembilan tahun takkan sanggup mengangkatnya. Aku mulai bertanya-tanya barang apa saja yang kupunya di dalam inventarisku—dan lalu tersadar bahwa tak ada penyimpanan virtual di Underworld. Satu-satunya barang bawaan yang kupunya saat ini hanyalah dua pedangku dan benda-benda kecil apa pun yang ada di dalam kantong sabuk serta saku-sakuku.Kalau begitu... Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu yang luas itu, dan mataku tertuju pada sebuah tempat lilin perak di atas meja. Benda itu sepertinya cuma dijadikan sebagai hiasan interior sederhana, lantaran tak ada sebatang lilin pun yang terpasang di sana.Aku menghampiri meja itu dan memungutnya. Asuna tampak kebingungan, dan ada kilat kecurigaan di mata Alice, tetapi sebelum mereka sempat mengatakan apa pun, aku memusatkan konsentrasiku. Beru merasakan sesuatu dan menggonggong, "Guk!" namun usapan lembut dari Phercy berhasil membuat anjing itu kembali tenang.Tiba-tiba saja, tempat lilin itu berpendar dan mulai berubah bentuk. Ketiga lengannya melebur menjadi satu—menjelma menjadi bilah pedang pendek. Bagian dasarnya yang lebar menyusut menjadi sebuah gagang yang diukir halus.Dalam waktu lima detik, tempat lilin itu telah berubah wujud menjadi pedang pendek dengan ukuran yang pas untuk seorang anak kecil. Aku mengayunkannya naik turun untuk menguji keseimbangannya tepat ketika Alice melangkah lebar menghampiriku."Dasar bodoh! Harus berapa kali kubilang kalau kau tak bisa sembarangan menggunakan Inkarnasi untuk menyelesaikan setiap masalah sepele?!"Aku meringis dan membungkukkan bahuku, menoleh ke arah Asuna untuk meminta bantuan. Namun sang Goddess of Creation itu cuma mengedikkan bahunya. Terpaksalah aku harus membela diriku sendiri."Y-yah, kan nggak ada pilihan yang lebih baik... lagipula itu cuma perubahan wujud yang sederhana. Aku sama sekali tak mengubah materialnya...""Bukan itu masalahnya!!"Sudah kuduga dia bakal bilang begitu. Sejujurnya, aku juga ingin menguji apakah aku masih bisa menggunakan Inkarnasi dengan cara yang sama seperti saat aku bertarung melawan Vecta. Kekuatanku tampaknya belum memudar, tetapi kalau aku terlalu terbiasa menggunakannya, aku bakal benar-benar merasa frustrasi saat harus kembali ke Unital Ring tanpa kekuatan ini."Maaf, maaf, aku nggak bakal berlebihan kok. Tapi lihatlah—lumayan bagus, kan?" ujarku, memamerkan pedang kecil itu pada Alice. Sementara itu, kedua mata biru keabu-abuan Phercy membelalak begitu lebar seolah-olah bola matanya bakal melompat keluar dari kepalanya, dan mulutnya ternganga lebar. Pada akhirnya, ia menemukan kekuatan untuk berbicara."K... Kirito... apa tadi itu... Inkarnasi?" gagapnya. "Seni rahasia yang dikembangkan oleh para Integrity Knights kuno dan yang, bahkan hingga saat ini, hanya bisa digunakan oleh para pilot tingkat tertinggi...? Padahal kau kan cuma seorang pengikut...""A-apa benar begitu fakta tentang Inkarnasi sekarang?" Dua ratus tahun yang lalu, bukan cuma para Integrity Knights saja yang bisa menggunakannya. Bahkan para murid di akademi pun bisa... namun kalau dipikir-pikir lagi, mungkin mengubah susunan material asli dari sebuah benda memanglah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh para kesatria seperti Alice. Kalau begitu, lebih baik aku berlagak santai saja."Yah, terlepas dari itu, di antara para pengikutnya, kemampuanku ini lebih mendekati kesatria sungguhan.""Kurasa memang pastinya begitu. Lagipula, kau punya dua pedang...""Nah, tepat sekali. Omong-omong, ambillah ini," ujarku, menjepit ujung bilah pedang perak tersebut dan menyodorkan senjata kecil itu pada Phercy.Anak lelaki itu sempat ragu, tetapi ia memberanikan diri dan menggenggam gagangnya. Sama sepertiku tadi, ia mengayunkannya naik turun beberapa kali, lantas mendongak dengan sangat terkejut."Rasanya... sangat mudah digunakan. Padahal ini jauh lebih berat dari pedang kayuku, tapi kenapa...?""Aku memusatkan bobotnya di bagian gagang peganganmu. Serangannya bakal jauh lebih kuat kalau bobotnya lebih condong ke arah ujung bilah, tapi itu malah membuatnya lebih sulit untuk dikendalikan.""Oh, begitu ya..."Phercy menatap lekat pedang di tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam."Kalau begitu... aku bakal mencoba Lightning Slash.""Serius? Di sini?" Skill tersebut—yang kukenal dengan nama Vertical—memiliki jangkauan yang sangat panjang di luar dugaan, jadi aku sempat khawatir gerakannya bakal merusak perabotan di dalam rumah, tetapi Phercy hanya mengangguk."Kalau efeknya mulai aktif, aku bakal langsung menghentikannya.""Ah."Aku cemas mendengar nada pasrah dalam suara anak lelaki itu, tetapi aku tak mengatakan apa-apa lagi dan melangkah mundur ke arah jendela. Asuna bergeser dari posisinya di dekat pintu untuk berdiri di sebelah Alice.Phercy mengambil jarak antara dirinya dan Beru, dengan posisi memunggungi dinding yang ada pintunya, lalu memasang kuda-kuda. Pertama-tama, ia menahan pedang pendek itu di ketinggian sedang, menarik kaki kanannya sedikit ke belakang, lalu mengangkat pedangnya lebih tinggi lagi. Pergelangan tangannya hanya sedikit dimiringkan, menahan bilahnya pada sudut empat puluh lima derajat.Posisi untuk Vertical Arc nyaris sejajar, dan Vertical Square empat tebasan sudutnya jauh lebih tajam, sekitar minus empat puluh lima derajat. Namun untuk Vertical yang sederhana, kuda-kuda ini sudah tepat."Kuda-kudanya sudah pas," ujar Asuna."Sangat mengesankan," bisik Alice.Seperti yang mereka utarakan, postur Phercy tampak begitu sempurna. Posisi dan sudut pedang serta kuda-kuda sang pengguna sudah tak bisa dikoreksi lagi. Namun, tak ada pendar cahaya biru maupun getaran bernada tinggi yang muncul."Kenapa tidak bisa...?" gumamku dan menghunus Night-Sky Blade dari sisi kiriku tanpa memikirkan apa yang tengah kulakukan.Dengan bobot familier di genggaman, aku mengangkatnya ke atas bahu kananku. Aku mengambil gerakan Vertical, sebuah gestur yang telah kulakukan ribuan, atau bahkan puluhan ribu kali, semenjak masa-masa SAO dulu.Dengungan yang tak asing memenuhi telingaku, dan pendar cahaya biru menyelimuti bilah pedang tersebut. Phercy menoleh ke arahku, dan kepasrahan serta keputusasaan kontan memenuhi raut wajahnya. Ia menurunkan pedangnya dengan tak berdaya. Aku buru-buru membatalkan sword skill-ku dan mengembalikan pedangku ke dalam sarungnya. Asuna dan Alice menatapku tajam."A—aku cuma mau memastikan kalau skill-nya masih berfungsi," protesku lemah.Phercy menundukkan kepalanya, jadi aku berjongkok untuk menatap matanya. "Kuda-kudamu sudah sempurna. Tapi kurasa itu bukan penghiburan yang berarti...""Tidak... aku senang mendengarmu mengatakannya, Kirito," ujar anak lelaki itu, tersenyum canggung. Ia menatap pedang di tangan kanannya."Lalu... apa maksudmu bukan salahku kalau aku tidak bisa menggunakan teknik-teknik ini?""Bukan, kurasa bukan begitu. Pasti ada suatu faktor eksternal yang memengaruhinya. Walaupun, aku tak bisa langsung memastikan apa faktor itu..."Sejujurnya, aku bisa saja berlatih bersama Phercy selama beberapa jam ke depan untuk mencari tahu apa gerangan faktor eksternal ini, tetapi hal itu tak memungkinkan. Dr. Koujiro hanya memberi kami waktu dua jam, dan kami sudah menghabiskan empat puluh menit di antaranya.Anak lelaki itu, yang memiliki kedewasaan melampaui usianya, tampak jelas menekan emosinya untuk memamerkan senyuman tegar."Aku sudah cukup senang mengetahui kalau ini bukan salahku. Setidaknya dengan begini... aku bisa meratapi nasib burukku karena para dewa telah menelantarkanku.""......"Aku tak bisa menyetujui hal itu. Aku menggigit bibirku.Underworld sebenarnya tidak memiliki dewa. Ketiga dewi—Stacia, Solus, dan Terraria—hanyalah kisah karangan yang meminjam nama akun-akun super (super-account) milik Rath guna menopang otoritas Gereja Axiom pimpinan Administrator. Bukanlah kehendak dewa yang mencegah Phercy menggunakan sword skill—pasti ada sesuatu yang lebih konkret dari itu.Sayangnya, untuk saat ini tak ada jawaban lain yang bakal memuaskan anak lelaki tersebut."Ini... terima kasih," ujar Phercy, menyodorkan pedang perak itu dengan kedua tangannya."Tidak, simpan saja," ujarku."Um... tapi...""Pedang itu terasa pas di tanganmu, kan? Kau tak perlu menggunakannya untuk berlatih. Pegang dan ayunkan saja secara berkala kalau kau sedang tidak ada kerjaan lain.""..."Phercy masih tampak enggan menerimanya. Dari balik bahuku, Alice berujar, "Simpan saja, dan mungkin sesuatu akan berubah. Lagipula benda itu pada dasarnya adalah barang milik keluarga Arabel."Ya, itu memang benar, batinku. Tak mungkin juga aku mengambilnya."Kirito, kenapa tidak kau buatkan sarung pedangnya sekalian?" usul Asuna. Aku menegakkan tubuh."Apa? Tapi aku kan tak punya material untuk...""Kalau begitu tolong gunakan ini," ujar Phercy, menawarkan alas kulit tebal yang tadinya berada di bawah tempat lilin di atas meja. Kalau aku terus-terusan begini, ruang tamu ini bakal kehabisan barang untuk diubah, tetapi alas itu memang terlihat tak wajar tergeletak begitu saja tanpa penyangga lilin di atasnya. Terlebih lagi, aku tak kuasa menolak saat melihat sepasang mata anak lelaki itu berbinar-binar gembira, tak seperti beberapa saat yang lalu."Y-yah, kalau kau memaksa..."Aku mengambil alas itu, menatap sekilas ke arah pedang di tangan Phercy, lalu memusatkan bayangan di kepalaku. Alas persegi panjang itu berpendar putih dan mulai berubah bentuk, bergerak seolah-olah hidup.Benda itu menggulung dirinya sendiri, lalu memipih, dan salah satu ujungnya meruncing. Saat cahayanya lenyap, aku tengah memegang sebuah sarung pedang kulit berwarna cokelat kemerahan."Ini dia," ujarku seraya menyodorkannya.Phercy menerimanya dengan sorot mata takjub. Ia menyarungkan pedang pendek itu ke dalamnya."...Luar biasa. Pas sekali!""Memang sengaja kubuat begitu.""Aku tak percaya kau bisa melakukan hal seperti ini dengan Inkarnasi...""Tapi ingat ya, aku ini cuma seorang pengikut. Inkarnasi Nona Alice bahkan jauh lebih luar biasa," klaimku. Alice menusuk punggung bawahku, dan aku nyaris tak bisa menahan diri untuk tidak memekik.Asuna hanya menatapku tak percaya. Ia meletakkan kedua tangannya di atas lututnya. "Hei, Phercy, menurutmu apa kau bisa memandu kami berkeliling kota?""Hah...?" respons anak lelaki itu terkejut—dan bukan cuma dia yang bereaksi begitu. Alisku berkerut cemas, tetapi kemudian aku menyadari bahwa itu sebenarnya adalah ide yang bagus.Untuk menyelidiki sang penyusup, kami harus menjelajah keluar menuju Centoria. Namun segalanya pasti telah banyak berubah dalam dua abad terakhir, dan bakal jauh lebih baik bagi kami untuk memiliki seorang pemandu ketimbang kami bertiga hanya berkeliaran membabi buta.Phercy menggantungkan pedang pendek itu di sabuknya dan memikirkan permintaan tersebut. Ia pun dengan cepat menyetujuinya."Baiklah. Orang tuaku melarangku pergi keluar sendirian, tapi kurasa tidak apa-apa kalau aku pergi bersama kalian. Akan tetapi..."Ia menatap Asuna dan Alice, menyipitkan matanya seolah tengah menatap sesuatu yang menyilaukan, dan menambahkan, "Kurasa pakaian kalian bakal terlalu mencolok, Nona Alice dan Asuna. Bahkan penjaga istana pun sudah tak lagi memakai zirah lempeng (plate armor) berukuran penuh.""Oh... hmm, apa yang harus kita lakukan?" gumam Asuna. Ia mulai berbisik-bisik dengan Alice, tetapi perhatianku malah teralihkan oleh hal lain yang diucapkannya."Eh... istana? Maksudmu, kastel kaisar?"Kini giliran Phercy yang tampak kebingungan."Kaisar...? Bukan, keluarga kekaisaran telah dibubarkan pasca Rebellion of the Four Empires dua ratus tahun yang lalu. Kastel di Distrik Satu saat ini menjadi pusat pemerintahan Centoria Utara. Saat aku bilang 'istana', maksudku adalah Central Cathedral.""Oh... tapi bukankah Stellar Unification Council yang memegang kendali atas alam manusia sekarang? Apa ada raja yang memimpin di atas mereka juga?""Dulu pernah ada bertahun-tahun yang lalu. Seseorang yang dijuluki Raja Bintang, yang tak hanya memerintah alam kita ini namun juga kedua bintang kembar, Cardina dan Admina..."Mulai lagi urusan Raja Bintang ini, batinku, menatap Alice dan Asuna. Keduanya tampak mencurigai apa yang baru saja mereka dengar, dan raut wajahku pastinya terlihat sama.Aku tak tahu kenapa Laurannei dan Stica berasumsi bahwa kami berdua adalah Raja dan Ratu Bintang, tetapi semakin aku memikirkannya, semakin mustahil rasanya aku sanggup mengemban peran semacam itu. Di sisi lain, adegan terakhir yang kuingat adalah berhadapan dengan Komandan Iskahn dari Wilayah Kegelapan (Dark Territory), sebagai perwakilan alam manusia. Agaknya, aku tengah mencari momen yang pas untuk menyerahkan peran tersebut pada seorang Integrity Knight. Apakah hal itu tak pernah terjadi, dan aku terjebak dalam peran itu, lalu pada akhirnya secara otomatis menjadi raja? Dan hal itu menjadikan Asuna sebagai ratunya...?"Nggak, nggak, nggak mungkin...," gumamku. Lalu aku bertanya pada anak lelaki itu, "Siapa nama sang Raja Bintang?"Phercy tak bereaksi sedikit pun saat ia mendengar namaku tadi, jadi namanya tak mungkin "Kirito". Tapi bagaimana kalau itu adalah nama yang memiliki keterkaitan dengan namaku? Aku merasa cemas, menanti jawabannya."Namanya tak pernah disebutkan," jawab Phercy."Hah?""Nama Raja Bintang dan Ratu Bintang telah dihapus dari seluruh catatan resmi maupun kisah sejarah tentang mereka. Diklaim bahwa langkah ini diambil guna mencegah kerabat atau keturunan mana pun muncul setelah kematian mereka, yang bisa menjerumuskan pemerintahan ke dalam kekacauan... tapi...""......"Aku kembali bertukar pandang dengan para gadis. Rasanya mustahil bisa sepenuhnya menghapus nama seorang kepala negara dari sejarah.Mungkin saja ada raja-raja dari Mesir Kuno atau Babilonia yang namanya tak dikenal, tetapi itu terjadi ribuan tahun silam. Raja Bintang di Underworld memegang kendali hanya beberapa dekade yang lalu. Namun rasanya terlalu kejam bila mencecar anak berusia sembilan tahun ini lebih jauh mengenai topik tersebut. Aku pun mengesampingkan masalah Raja Bintang ini untuk sementara waktu dan kembali ke topik yang sedang dibahas."Baiklah... jadi kurasa kita harus meninggalkan zirah mereka di rumah ini?""...Aku sih tidak keberatan melepas zirah ini," ujar Alice, menepuk Osmanthus Blade dengan tangannya, "tapi bagaimana dengan pedangku...? Aku enggan melepaskannya.""Sejujurnya, aku setuju soal yang satu itu," gerutuku seraya merengut.Namun Phercy hanya menyunggingkan senyum. "Pedang tidak akan jadi masalah. Bukanlah hal yang aneh bagi para bangsawan untuk membawa-bawa pedang. Bahkan beberapa rakyat jelata pun melakukannya.""Ahhh..."Menurut Laurannei dan Stica, sistem bangsawan enam tingkat memang telah dihapuskan, tetapi tidak dengan konsep kebangsawanan itu sendiri. Aku tak bisa menentukan apakah itu hal yang baik atau buruk bagi Underworld.Namun untuk saat ini, kami memutuskan untuk memanfaatkannya, dan kami berdua tetap menyandang pedang kami. Rasanya agak timpang di mataku melihat orang-orang masih menggunakan pedang ketimbang senjata api di tempat di mana pesawat terbang bisa mengudara hingga ke luar angkasa, tetapi aku menduga keberadaan sacred arts membuat senjata api tak pernah dirasa perlu untuk dikembangkan.Zirah Asuna dan Alice dimasukkan ke dalam kabinet di sudut ruang tamu atas usul Phercy. Ia juga meminjamkan jubah cokelat yang tak mencolok untuk menutupi tubuh mereka, dan pada saat kami siap untuk berangkat, jam di dinding sudah mendekati pukul empat. Syukurlah, tepat ketika jarum menit menyentuh angka dua belas di atas, melodi yang familier mengalun masuk menembus jendela.Bahkan di era jam sekalipun, Lonceng Penanda Waktu (Bells of Time-Tolling) masih terus memainkan melodi tiap jam tersebut setiap harinya.Saat lonceng berhenti berdentang, waktu kami tersisa satu jam sebelum batas waktu habis. Pertama-tama, kami akan memintanya memandu kami ke area tersibuk di Centoria Utara, lalu kami bakal berkeliling dan makan—eh, mengumpulkan informasi selama waktu masih memungkinkan.Kami mengikuti Phercy keluar dari ruang tamu menuju lorong panjang yang membentang ke dua arah. Pada kunjungan kami sebelumnya, situasinya terlalu kacau bagiku untuk menyadari bahwa kediaman Arabel jauh lebih besar dari dugaanku. Ronie sang pelayan pribadi dulu pernah bercerita bahwa ayahnya dan ayah Tiese adalah bangsawan tingkat enam dan kehidupan mereka terbilang cukup sederhana. Mungkin mereka telah membangun ulang atau memindahkan rumah mereka dalam kurun dua ratus tahun terakhir ini.Anak lelaki beserta anjingnya itu memimpin kami menuju aula pintu masuk yang sangat luas.Kita mungkin bisa memasukkan seluruh pondok kayu kita ke dalam aula ini! batinku."...Kau bisa menaruh empat buah meja pingpong utuh di sini," bisikku pada Asuna, yang mana langsung memberiku tatapan curiga."Sejak kapan kau suka main pingpong?""Nggak pernah, sih.""Terus kenapa kau membandingkannya dengan meja pingpong...?""Yah, lapangan tenis rasanya bukan perbandingan yang akurat," jadi...Selagi kami berdebat hal yang tak penting, Phercy mengambil mantel wol dari gantungan yang kokoh dan mengenakannya untuk menutupi pedang pendeknya. Ia mengatakan sesuatu pada Beru, yang langsung membalas, "Guk-uh!" dan berlari kecil kembali menyusuri lorong."Mari kita berangkat kalau begitu," ujarnya, seraya mendorong pintu ganda yang besar itu. Embusan angin dingin menyelinap masuk dan meniup rambut panjang para gadis. Namun, ini bukanlah angin berdebu khas Tokyo di musim dingin. Ini adalah udara Centoria Utara, sarat akan kelembapan dari Danau Norkia—udara Underworld.Aku kembali, batinku, seraya mengekor di belakang mereka bertiga keluar melewati pintu.
Kediaman Arabel memiliki halaman depan yang luas selain interiornya yang megah. Pepohonan pendek yang dipangkas rapi berjejer di sepanjang jalan setapak berbatu yang mengarah keluar dari pintu, dengan gerbang besi tempa berwarna hitam di ujungnya. Di sisi kanan halaman terdapat sebuah bangunan panjang dengan daun jendela (rana) di bagian depannya. Mungkin itu semacam garasi untuk mechamobile, atau apa pun sebutan mereka untuk benda itu. Tentu saja, aku takkan mengakui kalau aku sebenarnya ingin mencoba mengemudikannya.Berbalik untuk mendapatkan pandangan menyeluruh dari kediaman tersebut, aku bisa melihat bahwa bangunan utamanya jauh lebih megah dari yang kubayangkan; bangunannya setinggi dua lantai dengan desain yang simetris. Menurut penilaianku, ini adalah rumah bangsawan tingkat pertama atau kedua. Keluarga Arabel pastilah sangat sukses dalam dua abad terakhir... namun apa artinya rumah sebesar ini kalau aku tak melihat ada satu pelayan pun di sini?Aku kembali menghadap ke depan. Di balik gerbang, terdapat lebih banyak rumah batu besar, tidak seelok milik keluarga Arabel namun tetap sangat mengesankan pada porsinya masing-masing. Di belakang bangunan-bangunan itu, Central Cathedral tampak membelah langit. Ketinggiannya tak berubah selama dua ratus tahun terakhir, dan aku bisa melihat kubah menyerupai observatorium di bagian atapnya. Dulu tempat itu merupakan kamar tidur Administrator, tetapi kemungkinan besar, tak ada lagi yang tinggal di sana sekarang."Ayo, Kirito."Panggilan itu membawa pandanganku kembali turun ke tempat Asuna, Alice, dan Phercy berdiri, menungguku."Oh, maaf."Aku berlari kecil untuk menyusul mereka dan mencoba mempersiapkan mentalku untuk kunjungan pertamaku ke Centoria dalam kurun dua abad. Namun kemudian aku menyadari sesuatu yang ganjil di kejauhan, layaknya sebuah alat musik tiup kayu raksasa yang memainkan nada yang sama tanpa henti.Nguung, nguung, bunyinya terdengar, perlahan-lahan semakin keras setiap detiknya. Bukan karena volumenya yang meningkat, melainkan karena sumber suaranya yang semakin mendekat.Tiba-tiba saja, Phercy berputar kaget seolah baru saja tersambar sesuatu, dan ia menunjuk ke sebelah kanan jalan setapak berbatu itu."Sembunyi di balik semak-semak itu sekarang!"Nada suaranya dan sorot matanya tak menyisakan ruang untuk bantahan.Murni karena insting, aku menyambar lengan Asuna dan Alice lalu berlari, menarik mereka bersamaku, dan melompat ke dalam rimbunan tanaman setinggi tiga kaki di sekitar garasi. Untungnya, pendaratannya cukup empuk; aku mendorong mereka masuk lebih dulu, lalu ikut bersembunyi di samping mereka.Dari celah dedaunan, aku bisa melihat sebuah objek bergerak berukuran besar muncul tepat di luar gerbang depan. Wujudnya berupa kendaraan berbentuk kotak sederhana dengan roda-roda besar di setiap sudutnya. Itu pastilah mechamobile yang Phercy sebutkan tadi.Pada dive sebelumnya, kami pernah menaiki salah satunya dari bandara menuju kediaman ini, tetapi yang satu ini jelas-jelas lebih besar dari yang kemarin. Badannya dicat dengan warna abu-abu muda, dan terdapat huruf kanji serta katakana di bagian sisinya—di sini, mereka menyebutnya sebagai bahasa umum (common tongue)—meskipun aku tak bisa membacanya dengan jelas karena terhalang jeruji gerbang.Aku bisa melihat sirene di bagian atapnya, yang pastinya merupakan sumber dari suara ganjil tadi, jadi kendaraan ini mungkin setara dengan ambulans atau mobil polisi.Suara sirenenya berhenti, dan sebuah pintu di bagian samping terayun terbuka dengan kasar, memuntahkan sejumlah orang dari dalamnya. Mereka mendorong gerbang besar itu terbuka dari luar dan bergegas masuk ke pelataran rumah. Total ada enam orang... semuanya mengenakan seragam dan topi abu-abu, dengan pedang pendek terpasang di sabuk mereka."Dari mana asal seragam-seragam itu?" bisik Asuna.Alice maupun aku sama-sama menggelengkan kepala."Entahlah.""Aku tak mengenalinya."Kalau Alice saja tidak tahu, itu pastilah seragam kelompok tertentu yang tidak eksis dua ratus tahun yang lalu. Orang yang paling muda di antara keenamnya berada di usia dua puluhan, dan yang tertua mungkin sekitar lima puluhan, jadi mereka bukanlah murid sekolah.Aku menahan napasku saat seorang pria muda mengeluarkan sesuatu yang bentuknya menyerupai kotak bento dari tas selempangnya dan mulai mengarahkannya ke sekeliling. Pria tertua yang memiliki janggut panjang menghampirinya dan bertanya dengan tegang, "Apa Inkarnameternya (Incarnameter) masih menangkap sinyal bacaan?""Tidak ada yang baru, tapi jejaknya sangat jelas. Dua buah senjata Inkarnasi seni pertarungan diaktifkan dalam waktu singkat di dalam rumah ini baru-baru ini, Kapten.""Hrmm..."Kapten berjanggut itu mengawasi halaman depan yang luas tersebut dan pada akhirnya menyadari kehadiran Phercy yang berdiri tepat di sana, di tengah-tengah jalan setapak."Hei! Kau!" bentaknya dengan penekanan yang berlebihan, membuat Phercy tersentak kaget.Aku bisa merasakan Asuna dan Alice menegang di sebelahku, jadi aku diam-diam mencengkeram ujung bawah jubah mereka untuk mencegah keduanya melompat keluar dari tempat persembunyian kami.Tiga dari pria-pria itu, termasuk sang kapten, bergegas menghampiri Phercy, berteriak cukup keras hingga kami bisa mendengar setiap kata yang diucapkannya, meskipun jarak kami setidaknya terpisah sejauh dua puluh yard."Apa kau tinggal di rumah ini?!"Phercy mundur selangkah, terintimidasi oleh sikap mereka, tetapi ia dengan berani memulihkan ketenangannya dan berdiri tegak."Ya, saya Phercy Arabel.""Tapi kenapa kau ada di rumah pada jam segini...? Ah, abaikan soal itu. Apa bangsawan Nogran Arabel, mantan pilot Rochelinn Arabel, atau pilot Laurannei Arabel ada di rumah?!""Tidak... ayah, ibu, dan kakakku masih bekerja.""Begitu rupanya..."Kapten itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling pekarangan. Jantungku serasa melompat ke tenggorokan saat tatapan tajamnya menyapu ke arah kami, tetapi sepertinya ia melewatkan tempat persembunyian kami, dan ia kembali menoleh pada Phercy."Apa ada sesuatu yang terjadi di sini sekitar tiga puluh menit yang lalu? Apa kau mendengar suara ganjil atau melihat orang-orang yang mencurigakan di sekitar sini?"Phercy mungkin tidak mendengar suara yang ganjil, tetapi ia jelas-jelas melihat beberapa orang yang mencurigakan.Ia menggelengkan kepalanya."Saya tidak memperhatikan apa-apa, Pak.""Hmm... aneh sekali. Kami mendeteksi senjata Inkarnasi seni pertarungan di kediaman ini sebelumnya...," gerutu sang kapten seraya melipat lengannya.Salah satu anak buahnya berkata, "Kapten, menurut Anda mungkinkah ini sinyal keliru yang sama seperti yang kita dapatkan bulan lalu?""Tapi dalam kedua insiden ini, semua Inkarnameter di kantor berbunyi serempak. Benda-benda ini memang instrumen presisi, tapi tak mungkin semuanya rusak di saat yang bersamaan, dengan cara yang sama."Mendengar percakapan itu, Alice bertanya-tanya, "Apa itu... senjata Inkarnasi?""Entahlah...""Dan alat Inkarnameter itu... apa alat itu mampu mendeteksi penggunaan Inkarnasi?""Entahlah..."Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi, tetapi hal itu tak menghentikan Alice untuk menatapku tajam atas ketidakbergunaanku. Ia pun kembali mengintip.Keenam pria itu masih mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman depan kediaman, tetapi tak satu pun dari mereka yang melangkah keluar dari jalan setapak untuk menyelidiki lebih jauh; mungkin ada semacam aturan yang melarangnya.Pada akhirnya, mereka tampaknya sepakat dengan kesimpulan "kerusakan perangkat", berkumpul sejenak untuk mendiskusikan sesuatu, dan kelima pria selain sang kapten berjalan kembali ke arah gerbang.Kapten itu tetap bersama Phercy, dan ia berjongkok untuk menatap mata anak itu demi meminta maaf."Maaf sudah mengejutkanmu seperti ini, Phercy. Sepertinya kami keliru. Tapi aku bisa melihat kalau kau membuat bangga keluargamu yang tersohor itu—kau sangat berani untuk ukuran anak semuda ini. Apa kau berencana menjadi pilot seperti kakakmu?"Berhenti mengobrol dan kembalilah bekerja! desisku dalam hati, tahu betul betapa sulitnya topik ini bagi Phercy. Namun anak lelaki itu sangatlah tegar."Tidak, saya ingin menjadi seorang cendekiawan," ujarnya."Sebagian besar pilot dari keluarga Arabel adalah perempuan.""Aha. Yah, kau tak seharusnya menutup kemungkinan masa depan di usiamu yang masih sangat muda ini," ucap pria itu, yang menurutku agak tidak peka.Tepat ketika sang kapten hendak beranjak pergi, salah satu bawahannya—yang termuda, yang membawa Inkarnameter—berlari kembali menghampirinya."Kita mendapat sinyal Inkarnasi yang baru tapi sangat lemah!""Apa?!" seru sang kapten, berdiri tegak dan melongok ke arah kotak tersebut. Agak lucu melihat cara mereka mengarahkan kotak itu ke seluruh penjuru taman, tetapi situasi saat ini sama sekali tidak bisa dibilang lucu.Aku nyaris bertanya-tanya apakah kemarahan diam-diamku tadi memicu penggunaan Inkarnasi secara tak sengaja, dan aku pun berusaha sebaik mungkin untuk menenangkan perasaanku."Ah..." Alice tersentak lagi."A-ada apa?""Apa menurutmu Inkarnameter itu bereaksi terhadap pedang yang kauberikan pada Phercy?""Hah...? Tapi kan sudah lebih dari tiga puluh menit sejak aku mengubah wujudnya.""Mantan pontifex (pemimpin tertinggi/Administrator) pernah berkata bahwa butuh waktu bagi sebuah benda yang diubah melalui Inkarnasi untuk menetap dalam wujud barunya. Aku tidak tahu apa maksudnya kala itu, tapi barangkali benda itu menyimpan jejak kekuatan Inkarnasinya, layaknya logam yang baru dicetak masih menyimpan panasnya...""......"Terdengar gila, tapi aku tak bisa mengesampingkan kemungkinan itu. Setelah semua penggunaan yang kulakukan terhadapnya, aku benar-benar tak memahami cara kerja persis dari sistem Inkarnasi Underworld yang unik ini.Namun kalau dipikir-pikir lagi, aku ingat saat aku menggunakan Inkarnasi untuk menghidupkan kembali bunga-bunga zephilia yang dicabut oleh teman-teman sekelasku di Swordcraft Academy, ada pendaran cahaya redup yang tersisa di sekitar bunga-bunga itu. Meminjam metafora Alice, jika Inkarnameter itu menangkap sisa "panas" tersebut, maka pria-pria itu bakal segera menyadari bahwa pedang Phercy adalah sumbernya.Kami tak bisa mengharapkan anak berusia sembilan tahun ini untuk menyembunyikan kami sekaligus mengarang alasan untuk keluar dari masalah di saat yang bersamaan. Kami harus menyelesaikannya sekarang juga, atau situasinya mungkin bakal semakin merusak mental anak lelaki itu di saat ia sendiri sudah cukup terpuruk."Asuna, Alice," bisikku, melepaskan cengkeraman pada ujung bawah jubah mereka, "begitu aku keluar, tunggu kesempatan kalian untuk kembali masuk ke dalam rumah, pakai zirah kalian, dan log out."Jawaban yang sudah kuduga datang serentak."Apa maksudmu? Aku juga ikut!""Siapa peduli soal zirah? Aku ikut!""Kalau kita tidak mengambil zirah itu sekarang, kita mungkin takkan dapat kesempatan lagi. Lagipula, kita harus menghindari konflik di sini dengan cara apa pun, kan, Alice?" ujarku, menunjuk kantong kulit di sabuk Alice.Sang kesatria menggigit bibirnya. Aku tahu kantong itu berisi sesuatu yang luar biasa penting baginya: dua butir telur milik Amayori dan Takiguri, naga-naga yang telah mengorbankan nyawa mereka demi melindungi Alice dan yang telah kuputar ulang (rewind) kondisinya kembali ke wujud sebelum menetas.Kalau para penjaga itu bertindak kasar padanya dan memecahkan telur-telur tersebut, bahkan aku pun takkan bisa memperbaikinya.Ia mendekap kantongnya dengan sangat hati-hati, melindungi isinya, jadi aku menoleh pada Asuna dan berujar, "Aku bakal baik-baik saja. Aku bakal pakai ini untuk kabur kalau sampai terdesak. Tolong bilang saja pada Dr. Koujiro untuk menunggu sampai jam lima, sesuai kesepakatan kita."Aku mengangkat tangan kiriku, mencegah Asuna melontarkan protes apa pun yang sudah di ujung lidah.Lantaran Underworld tidak memiliki user interface selain Stacia Window, Dr.Koujiro dan Ketua Higa telah menyematkan perintah gestur khusus yang bisa kami gunakan untuk log out secara sukarela.Kau harus merentangkan jari-jari tangan kirimu, dan jika STL mendeteksi bahwa kau melipat jari kelingking, jari tengah, jempol, jari manis, dan jari telunjukmu, secara berurutan, sistem akan langsung me-log out dirimu.Waktu aku mencobanya di dunia nyata, otot-otot tanganku sampai menjerit kesakitan, tapi aku bisa melakukannya dalam waktu dua detik di Underworld. Dan berbeda dari dunia Unital Ring, aku takkan meninggalkan tubuh tanpa jiwa di sini, jadi cara ini sangat cocok digunakan sebagai metode melarikan diri darurat."...Baiklah. Tapi hati-hati ya, oke?" bisik Asuna, dengan kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya.Aku tersenyum dan membalas, "Tentu saja," lantas mengangguk pada Alice dan melepas pedang dari pinggangku."Tolong pegangkan ini, ya?"Aku menyerahkan Night-Sky Blade pada Asuna, dan Blue Rose Sword pada Alice—semata-mata karena masing-masing pedang itu sangat berat—dan menyelinap keluar dari semak-semak.Sang kapten dan anak buahnya masih sibuk menodongkan Inkarnameter ke seluruh penjuru tengah halaman depan. Phercy dengan hati-hati dan diam-diam terus menghindari perangkat tersebut, sadar betul bahwa pedangnya-lah yang memicu alat itu. Namun hal itu takkan bisa bertahan lama.Tak ada waktu lagi untuk mencari jalan keluar yang mulus dan tanpa suara dari situasi ini. Aku berjongkok dan bergerak ke belakang garasi, lalu diam-diam menghasilkan dua puluh elemen angin, menempatkan masing-masing sepuluh elemen di bawah setiap kakiku.Lalu aku melepaskan energi angin mereka, memanfaatkannya layaknya mesin roket untuk melesat lurus ke atas dengan kecepatan luar biasa. Aku bisa saja menggunakan Lengan Inkarnasi (Incarnate Arms)—yaitu psikokinesis—untuk menggerakkan diriku, tetapi menggunakan elemen terbukti lebih cepat di saat kecepatan menjadi kunci utama.Setelah melesat ke atas sekitar tiga ratus kaki, aku beralih ke mode terjun bebas (free-falling). Baik para pria itu maupun Phercy belum menyadari keberadaanku. Aku merentangkan lenganku untuk menyempurnakan rute pendaratanku, meluncur turun dengan kaki lebih dulu.Tepat sebelum aku menghantam tanah, aku melepaskan sisa beberapa elemen angin terakhir untuk mengendalikan pendaratanku. Diiringi suara bang! yang memekakkan telinga, aku mendarat persis enam kaki di depan sang kapten."Aaah!!" jeritnya, melompat mundur saking kagetnya. Anggota muda yang memegang Inkarnameter itu pun jatuh terduduk menabrak bokongnya sendiri.Aku terang-terangan menatap tajam ke arah Phercy kecil, mengirimkan isyarat bisu padanya agar ia berpura-pura tidak tahu menahu. Tentu saja, aku tak punya kekuatan telepati, tetapi anak lelaki itu toh mengerjapkan mata dan langsung mengambil jarak."S-siapa kau?!" raung sang kapten berjanggut, menghunus pedangnya. Itu bukanlah pedang biasa; terdapat semacam perangkat mekanis pada bagian gagangnya. Aku baru saja bertanya-tanya apa fungsi dari alat itu ketika sang kapten menekan sebuah tombol bundar dengan jempolnya.Zzzap! Percikan api kuning merambat naik turun menyelimuti seluruh bagian bilah pedang."Wah... apa itu listrik? Bagaimana kau bisa memunculkannya?" tanyaku, tak sanggup menahan rasa penasaranku.Setahuku tidak ada elemen listrik di Underworld.Namun ia tak menjawab pertanyaanku."Bicara! Sebutkan nama dan alamatmu!""Ummm... namaku Kirito, tapi aku nggak punya alamat...""Nggak punya alamat?! Lalu di mana kau tidur selama ini?!""Ummm, aku nggak ingat. Atau lebih tepatnya, yang pertama kali kutahu, aku sudah ada di dalam kediaman ini...""Jangan konyol. Kau berharap aku bakal percaya kalau kau adalah Anak Hilang Vecta (lost child of Vecta) di zaman sekarang ini?" cetus sang kapten, memicu gelombang nostalgia di benakku. Namun pernyataan berikutnya kurang familier di telingaku."Kalau begitu, sebutkan nomor pendudukmu!""Hah? Aku... nggak punya nomor apa pun...""Itu mustahil! Nomor itu tertera di Stacia Window-mu!""O-oh, benar..."Aku membuat pola huruf S di udara menggunakan tangan kananku, lalu mengetuk lengan kiriku. Alunan lonceng tua yang tak asing menandai kemunculan sebuah jendela yang menampilkan rentetan karakter di bagian atasnya yang bertuliskan, UNIT ID: NND7-6355."Ummm, nomornya NND7-6355.""NND7? Itu kan jauh di utara sana... Tunggu sebentar. Angka enam ribuan?! Benar-benar omong kosong!" sungut sang kapten, merangsek mendekat dengan pedang listriknya untuk mengintip jendela unguku. Kemudian rahang berjanggutnya seketika anjlok."Apa...?! Bahkan nenekku saja ada di angka delapan ribuan. Bagaimana mungkin anak muda ini punya angka serendah itu...?"Hal itu memancing ingatanku. Unit ID yang tertera di Stacia Window merupakan nomor seri bagi semua orang yang lahir di area tertentu. Aku "lahir" di Rulid pada tahun 370 HE. Jadi dua ratus tahun kemudian, sudah sewajarnya kalau angka tersebut menjadi jauh lebih tinggi semenjak saat itu. Jadi bagaimana aku harus menjelaskan hal ini?"K-Kapten!" pekik anggota yang memegang Inkarnameter, yang masih jatuh terduduk di tanah."Dialah yang memicu Inkarnameter ini! Saya rasa dia memegang semacam senjata Inkarnasi!""Apaaaa?!"Sang kapten melompat mundur dan mengangkat pedang listriknya. Keempat pria lainnya bergegas mendekat dari arah gerbang. Namun yang terpenting dari semuanya, aku sukses menarik kecurigaan menjauh dari Phercy. Aku berdeham dan berbicara dengan suara paling garang yang bisa kukerahkan."Benar. Akulah yang baru saja menggunakan Inkarnasi. Kejadiannya kurang dari satu jam yang lalu.""Jadi kau mengakuinya?! Penggunaan senjata Inkarnasi tanpa izin adalah pelanggaran terhadap Hukum Dasar Manusia (Basic Human Law)!!""Um, itu sebenarnya bukan senjata sih...""Lalu apa itu tadi? Apa kau mau bilang kalau itu adalah Inkarnasi milikmu sendiri?!"Aku bahkan tak sempat menjawab, Iya, memang benar, sebelum sang kapten meneriakkan perintah kepada bawahannya."Tangkap pria ini! Kalau dia melawan, jangan ragu untuk menggunakan electroblade (pedang listrik) kalian!"Oh, sial. Kukira sebutannya "pedang listrik", batinku, seraya menyodorkan kedua tanganku secara bersamaan. Salah seorang dari pria itu mengeluarkan sepasang borgol sederhana dan menguncinya di pergelangan tanganku dengan bunyi klik.Sensasi baja dingin yang menyentuh kulitku ini terasa ganjil namun familier, dan aku sempat bertanya-tanya kenapa rasanya bisa begitu sampai akhirnya aku teringat bahwa ini adalah kedua kalinya aku ditangkap di dunia ini.Setelah melanggar Taboo Index di Swordcraft Academy, Eugeo dan aku telah digiring ke Central Cathedral oleh Alice yang sama yang kini tengah bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari sini, dan kami dirantai di dalam sel bawah tanah di sana.Dulu, kami menyilangkan rantai yang menawan kami satu sama lain dan menariknya sekuat tenaga untuk mengikis Life (Daya Tahan) rantai tersebut hingga putus. Namun aku tak bisa melakukannya sendirian sekarang.Waktu rantainya putus, kita kehilangan keseimbangan, dan kau mengeluh saat kepalamu terbentur dinding, batinku, berbicara pada rekan seperjuanganku yang telah lama tiada itu.Aku melirik Phercy sekali lagi. Anak lelaki itu tampaknya paham betul apa yang tengah kulakukan, dan ia memberikan anggukan yang sangat tipis. Aku mungkin takkan pernah melihatnya lagi. Aku memberinya tatapan yang seolah berkata, Semoga berhasil, Nak, lalu berbalik untuk melangkah menuju gerbang depan.
Meskipun dijejalkan masuk secara paksa melalui pintu, bagian dalam mechamobile ini ternyata sangat nyaman di luar dugaan. Roda-rodanya dilapisi dengan zat penahan guncangan menyerupai karet hitam, dan bahkan dilengkapi dengan suspensi per daun (plate-spring). Jalanannya terbuat dari susunan batu bata (cobblestone), jadi masih terasa ada sedikit guncangan, tapi tidak sampai membuatku harus menahan lidahku agar tidak tak sengaja tergigit.Tentu saja, aku tak mengucapkan sepatah kata pun di sepanjang jalan—aku terlalu sibuk menatap keluar jendela dengan mulut setengah ternganga. Centoria Utara di tahun bintang 582 masih menggunakan desain bangunan yang kuingat dari dua abad yang lalu, tetapi segala hal lainnya telah benar-benar berubah total.Jalanan yang telah diperlebar itu dipenuhi kendaraan dari berbagai ukuran, lampu jalan bersinar terang di mana-mana, dan yang paling mengejutkan dari semuanya, sekitar sepertiga dari orang-orang di trotoar adalah para demi-human (manusia setengah monster), seperti goblin, orc, dan ogre. Aku bahkan melihat raksasa setinggi sepuluh kaki.Awalnya, aku berasumsi bahwa mereka adalah turis dari Dark Territory, tetapi cara mereka berbincang santai di sudut-sudut jalan dengan ras lain dan menikmati teh di kafe terbuka membuat mereka terlihat sangat kerasan seolah memang membaur tinggal di sini. Terdapat pula kemiripan pada gaya berpakaian mereka, jadi aku mau tak mau harus menyimpulkan bahwa sebagian besar dari para non-human itu merupakan penduduk asli Centoria.Sewaktu aku tinggal di sini dulu, kaum demi-human dari Dark Territory selalu diperlakukan layaknya monster jahat oleh umat manusia di keempat kekaisaran. Keduanya benar-benar merupakan dunia yang terpisah. Para penguasa dari generasi ke generasi pastilah telah bekerja sangat keras untuk mewujudkan pemandangan ini menjadi kenyataan.Meskipun, menurut penuturan Stica dan Laurannei, Raja dan Ratu Bintang-lah yang telah memegang kendali atas Underworld selama dua ratus tahun—dan sosok itu konon adalah aku dan Asuna."Nggak... nggak mungkin," gumamku pada diriku sendiri.Pria muda berseragam di sebelahku menyikut pinggangku dan membentak, "Diam!""S-siap, Pak."Aku langsung bungkam dan membenamkan tubuhku ke bantalan kursi yang tipis ini.Mechamobile ini melaju lurus menyusuri jalan utama dan memasuki Distrik Satu Centoria Utara—tempat di mana Istana Kekaisaran dulu pernah berdiri.Dari apa yang bisa kulihat menembus kaca depan, kastelnya sendiri masih ada di sana, tetapi aku tak lagi bisa melihat satu pun bendera yang memampang lambang Kekaisaran Norlangarth maupun Gereja Axiom. Sebagai gantinya, terdapat panji-panji berwarna putih bersih dengan simbol biru yang tak kukenali tertera di atasnya. Simbolnya berupa sebuah lingkaran yang diiringi oleh tiga titik... sebuah desain yang tak pernah eksis dua ratus tahun silam."...Simbol apa itu?" bisikku pada pria muda di sebelahku.Rasa tak percayanya kali ini sepertinya mengalahkan kemarahannya, jadi ia memberiku tatapan yang sangat tidak mengenakkan dan berujar, "Apa kau mau bilang kalau kau tidak mengenali logo Stellar Unification Council?""Ohhh, jadi itu toh logonya...""Semua orang mempelajari hal itu di tahun pertama sekolah dasar. Lingkaran besar itu melambangkan orbit bintang kembar. Titik di kanan atas adalah Cardina, titik di kiri bawah adalah bintang pendampingnya, Admina, dan titik di tengah adalah Solus.""Ahhh, aku paham sekarang...," gumamku, kembali memusatkan perhatian pada panji-panji tersebut. Pada ujung bawahnya yang meruncing, terdapat lambang yang berbeda, baru kusadari. Lambangnya lebih kecil dan sulit untuk dilihat jelas, tetapi wujudnya tampak seperti dua pedang vertikal yang dililit oleh semacam bunga."Kalau yang di bagian bawah itu lambang apa...?""Kau benar-benar menanyakan hal semacam ini padaku? Itu sudah pasti lambang sang Raja Bintang...," bisik pria muda tersebut.Mechamobile itu berbelok ke kiri pada titik tersebut, menimbulkan guncangan hebat. Kami melintasi trotoar untuk memasuki Kastel Norlangarth—atau lebih tepatnya, gedung pemerintahan yang berada di pekarangannya. Tulisan hitam di badan kendaraan abu-abu ini menyebutkan Pengawal Kekaisaran Centoria Utara (North Centoria Imperial Guard), jadi ini pastilah markas besar mereka.Area parkir tersebut, yang tidak bisa dibilang luas-luas amat, telah diisi oleh dua kendaraan serupa. Kalau cuma tiga kendaraan ini yang mereka punya untuk menjangkau seluruh Centoria Utara, jumlahnya memang tak banyak, tetapi kemudian aku teringat bahwa penduduk Underworld pada dasarnya tak pernah melanggar hukum.Fakta itu pasti tak banyak berubah dalam kurun dua ratus tahun, dan mengingat ancaman dari Wilayah Kegelapan agaknya juga telah sirna, mereka hanya membutuhkan pasukan seminimal mungkin untuk menjaga ketertiban.Kendaraan itu berhenti di tempat parkir paling ujung dalam, dan para anggota pasukan itu dengan sigap melompat keluar, berbaris di depan pintu sebelah kanan, tempatku duduk. Sang kapten membukanya dan membentak, "Keluar!"Aku toh juga merasa butuh peregangan badan yang layak, jadi aku menurutinya dengan senang hati—namun aku menyempatkan diri melirik jam analog kecil yang terpasang di depan kursi pengemudi. Waktu menunjukkan pukul 4:40, yang berarti aku cuma punya sisa dua puluh menit sebelum waktu yang kujanjikan pada Dr. Koujiro habis—dan tiga puluh menit sebelum aku ditarik paksa keluar dari simulasi."Cepat keluar!" bentak sang kapten lagi, jadi aku bergegas menurutinya seraya membatin, Iya, iya, aku dengar kok. Pria-pria itu sontak mengepungku dari segala sisi.Markas besar Imperial Guard, di sebelah barat area parkir, adalah bangunan empat lantai yang luar biasa besar, tetapi dengan keberadaan gedung pemerintahan yang menjulang tepat di sebelah utara, serta skala Central Cathedral yang tak masuk akal jauh di belakangnya, sulit rasanya untuk merasa begitu takjub dibuatnya.Kami menyeberangi pelataran berubin itu dan melangkah masuk, dengan para pengawal tetap menjaga formasi mengelilingiku. Menghadap langsung ke arah pintu lobi adalah meja resepsionis yang besar, dengan para petugas pria dan wanita tengah bekerja. Mereka semua menatapku—kemungkinan besar karena sangat jarang ada penjahat sungguhan yang tertangkap—jadi aku berniat melambaikan tangan pada mereka, tetapi borgol di tanganku mencegah niatan itu.Mereka menggiringku ke sebuah ruangan kecil yang melompong di bagian belakang lantai dua. Satu-satunya benda di dalamnya hanyalah sebuah meja, dua buah kursi, dan sebuah jam bundar di dinding. Ruangan itu benar-benar menyerupai ruang interogasi yang sangat klise sampai-sampai aku nyaris tertawa terbahak-bahak saat melihatnya.Aku mengambil kursi yang lebih jauh dari pintu, mendongak menatap sang kapten yang berdiri di seberangku, dan bertanya, "Bukannya kau seharusnya mencoba membujukku dengan semangkuk katsudon (nasi mangkuk daging babi) panas?""A-apa?""Erm, bukan apa-apa.""Duduk saja di sana dan jaga sikapmu! Tuan Direktur akan datang kemari untuk menginterogasimu secara langsung!" umum sang kapten sebelum berderap keluar dari ruangan.Para pengawal menutup pintunya, tetapi aku tidak mendengar bunyi kunci berderit menutup, dan mereka bahkan sama sekali tak melakukan penggeledahan badan padaku. Aku jadi agak cemas dengan standar kerja Pengawal Kekaisaran Centoria Utara ini.Bersandar pada kursi berpunggung keras itu, aku merenungkan bahwa ditangkap kembali bukanlah sesuatu yang pernah kubayangkan bakal kualami lagi, tetapi dalam artian tertentu, situasi ini lumayan menguntungkan. Seperti apa pun sosok direktur Imperial Guard ini, ia pastinya berada di posisi yang mampu memahami berbagai peristiwa yang tengah terjadi di Centoria Utara dengan jauh lebih baik ketimbang orang lain. Seandainya aku bisa melontarkan pertanyaan yang tepat, aku mungkin saja bisa mendulang semacam petunjuk terkait sang penyusup di Underworld.Aku menanti dengan tidak sabar, tetapi pintunya tak kunjung terbuka setelah satu menit, maupun dua menit berlalu. Memasuki menit ketiga, aku mencapai batas kesabaranku dan memutuskan bahwa tak ada salahnya aku mencari tahu cara kerja jam mereka. Aku bangkit berdiri dan memindahkan kursi ke arah dinding. Seraya membisikkan permintaan maaf dalam hati pada kursi tersebut, aku memanjat dan berpijak di atas dudukannya dengan sepatuku lalu menyimak saksama perangkat yang tergantung di dinding itu.Tak ada suara detak mekanis yang terdengar. Alih-alih, benda itu memancarkan getaran samar nan misterius yang terdengar layaknya derik jangkrik. Sama sekali tak ada cara untuk menerka bagaimana cara kerjanya kalau hanya mengandalkan suara. Aku menjauhkan telingaku dan mengamati permukaan kayunya untuk mencari nama pabrik maupun pengrajinnya, tetapi tak ada apa pun tertera di sana kecuali kedua belas angka...Tunggu dulu. Tepat di atas angka 6, terdapat sebuah simbol mungil yang terukir di permukaannya, ukurannya nyaris tak sampai sepersekian inci. Ukirannya begitu halus sampai-sampai sulit untuk melihat detailnya dengan mata telanjang, tetapi wujudnya tampak menyerupai dua garis di atas bentuk belah ketupat, lumayan mirip dengan simbol di bagian bawah panji-panji yang tergantung di gedung pemerintahan tadi.Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, berharap bisa menemukan sebuah kaca pembesar, tetapi tentu saja, benda semacam itu tak ada di sini. Jadi aku mengangkat tanganku dengan niatan untuk menciptakan lensa kristal sebagai gantinya, tepat ketika aku mendengar derap beberapa langkah kaki menghampiri pintu. Aku buru-buru melompat turun dari kursi, memindahkannya kembali ke posisi semula, dan duduk manis.Pintu itu terayun terbuka tanpa ketukan. Sang kapten berjanggut masuk lebih dulu. "Berdiri! Yang Mulia, Direktur Boharsson yang terhormat, akan menemuimu sekarang!"Dengan disematkannya gelar "Yang Mulia", sulit rasanya untuk tidak membentuk opini tertentu bahkan sebelum melihat sosoknya. Sekalipun hierarki kebangsawanan telah dihapuskan dan kaum demi-human kini hidup membaur di Centoria, tampaknya kesadaran kelas yang terukir di dalam jiwa para penduduk Underworld masihlah hidup dan mengakar kuat.Aku bangkit berdiri dengan patuh, sementara sang kapten melangkah masuk dan menanti di samping pintu. Hentakan tumit sepatu bot berderap berat melintasi ambang pintu, menyingkap sesosok pria pendek dan gempal yang sepertinya berusia sekitar enam puluhan.Desain dasar seragamnya sama dengan milik kapten, tetapi terdapat epolet emas yang berkilau cemerlang di bahunya, sederet lencana penghargaan pengabdian warna-warni di dadanya, dan pedang di pinggul kirinya bukanlah desain praktis electroblade melainkan sebuah pedang saber yang sangat dekoratif. Ia bahkan memiliki kumis bergaya eksentrik yang ujung-ujungnya dilengkungkan ke atas. Bahkan dari masa dua ratus tahun yang lalu sekalipun, aku merasa belum pernah melihat bangsawan congkak yang begitu klise layaknya pria ini.Yang Mulia itu duduk dan memosisikan dirinya senyaman mungkin di kursi yang berada di seberangku, lantas berdeham berat bersiap-siap untuk angkat bicara. Namun, ia tak pernah mendapat kesempatan tersebut."Berhenti di situ!" seru sebuah suara yang tajam, membuat tubuh menyerupai gentong milik sang bangsawan berguncang karena kaget. Kapten itu hendak menerjang keluar dari ambang pintu namun dengan segera terdorong mundur kembali ke dalam.Menderap masuk ke dalam ruang interogasi yang sempit itu adalah dua orang yang mengenakan jubah biru tua yang serasi. Keduanya bertubuh pendek namun memancarkan aura penuh wibawa yang sukses mengintimidasi sang kapten berjanggut maupun sang direktur berkumis. Mereka mengenakan topi bergaya pelaut dengan pinggiran terlipat yang diturunkan menutupi alis, jadi aku tak bisa melihat wajah mereka dengan terlalu jelas."A-apa maksud semua ini?!" sembur bangsawan Boharsson pada akhirnya.Salah satu sosok berjubah biru itu membentak, "Kasus ini berada di bawah wewenang Integrity Pilots. Berlaku mulai saat ini juga. Serahkan tersangkanya sekarang.""Hrrg...," gerutu pria gempal itu tatkala mereka menyodorkan lencana topi tepat di bawah hidungnya. Kombinasi panah bersilang dan lingkaran itu dulunya adalah lambang milik Integrity Knights—dan Gereja Axiom.Gereja itu memang sudah tak lagi eksis, tetapi Boharsson mundur teratur seolah memori genetik akan ketakutan tersebut masih mengintai di dalam fluctlight-nya."Baiklah! Terserah kalian mau apakan dia! Ayo pergi, Torev!""Siap, Pak!" sahut sang kapten berjanggut, yang rupanya bernama Torev, baru aku sadari sekarang. Ia bergegas keluar mengekor sang direktur yang tengah naik pitam, tanpa memberikan satu lirikan pun padaku.Kini hanya tersisa kedua sosok berjubah biru itu dan aku, dan aku baru saja bertanya-tanya apa yang bakal terjadi selanjutnya—ketika mereka menutup pintu, melepas topi mereka, dan menyebut namaku dengan nada yang luar biasa ramah."Tuan Kirito, Anda akhirnya kembali pada kami!""Kami sungguh senang bisa berjumpa dengan Anda lagi, terlepas dari keadaannya, Tuan Kirito!""......Ah."Pada akhirnya, aku menyadari bahwa kedua sosok berjubah itu tak lain dan tak bukan adalah para pilot muda yang kujumpai pada dive terakhirku, Laurannei Arabel dan Stica Schtrinen.Dengan pandangan yang lebih jernih, tampak begitu jelas bagiku betapa bayang-bayang sosok Ronie masih melekat kuat pada Laurannei—begitu pula Tiese pada Stica. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum sanggup membalas sapaan mereka.
"S-senang bisa melihat kalian lagi. Aku sangat yakin aku sudah pernah bilang sebelumnya kalau kalian nggak perlu memanggilku Tuan."Keduanya sontak menggelengkan kepala."Kami tak bisa melakukannya, Tuan Kirito.""Sejujurnya, kami malah lebih suka memanggil Anda Yang Mulia Raja Bintang.""...Jangan sekali-kali melakukannya," tolakku, merasakan sensasi dingin merayapi tulang belakangku."Jadi... kenapa kalian bisa ada di sini?""Phercy memberitahuku," jawab Laurannei yang berambut hitam. Awalnya ucapan itu terdengar sudah menjawab pertanyaanku, tetapi aku segera tersadar sebelum menelannya mentah-mentah."Tunggu, tapi... mechamobile tadi membawaku langsung ke sini. Dan pangkalan para pilot kan ada di luar kota, iya kan? Mustahil Phercy bisa berlari menyusul dan memanggilmu tepat waktu."Stica yang berambut merah berkata dengan cemas, "Saya rasa Anda belum mendapatkan ingatan Anda kembali, Tuan Kirito... Sebagai Raja Bintang, Anda-lah yang menemukan pemancar suara (vocal transmitter).""V-vocal transmitter? Benda apa itu?""Sesuai namanya, itu adalah Objek Rancang (Designed Object) yang memancarkan suara seseorang.""D-Designed Object?"Itu sama sekali nggak ngejawab pertanyaanku! batinku. Mungkin itu adalah singkatan dari Objek Ilahi rancangan manusia (human-designed Divine Object)? Kalau benda itu memancarkan suara manusia, kemungkinan besar itu adalah semacam telepon, kan?Jadi Underworld bukan cuma punya mobil dan pesawat, tapi juga telepon...?"Hmm, aku benar-benar berpikir kalau Raja Bintang ini orang lain, bukan aku... Aku sama sekali nggak punya ingatan apa pun soal benda pemancar suara ini...""Kita bisa mendiskusikannya nanti. Pertama-tama, kita harus segera pergi dari sini," ujar Laurannei, kembali mengenakan topinya."Kedengarannya seperti rencana yang bagus... tapi apa kita bakal kembali ke rumahmu?""Tentu saya ingin melakukannya, tapi para pengawal itu mungkin saja akan menyusup masuk lagi... Saya akan menjelaskan ke mana kita akan pergi begitu kita sudah meninggalkan gedung ini."Laurannei membuka pintu dan mengecek ke kedua arah, lalu menoleh ke belakang dan memberikan isyarat, jadi aku pun mengikuti Stica keluar dari ruang interogasi.Aku tidak melihat satu pun pengawal di lorong. Kami bergegas turun ke lantai satu, menyeberangi lobi, dan melangkah keluar. Terdapat sebuah mechamobile baru di pintu masuk pelataran parkir.Kalau kendaraan resmi pengawal kota berbentuk seperti mobil kotak yang sederhana, yang satu ini adalah sedan yang lebih modis. Bumper depannya memiliki gril (grill) kokoh di atasnya, lalu kompartemen mesin yang panjang, serta kabin dengan langit-langit rendah.Kendaraan itu berwarna hitam mengilap tanpa ada tulisan apa pun yang bisa kulihat di sisinya, hanya ada lencana perak kebanggaan berupa kombinasi lingkaran dan salib di bagian moncong mobil.Laurannei memutar menuju kursi pengemudi—kemudinya berada di sebelah kanan, persis seperti di Jepang—sementara Stica membuka pintu kiri belakang dan memberiku isyarat pandangan. Aku tak mau bertingkah seperti anak kecil dan menyerukan, Aku mau duduk di depan! jadi aku mengambil tempat duduk yang ditawarkan padaku.Stica menutup pintu, yang mana menghasilkan bunyi berat dan tebal yang menandakan kemewahan. Kursinya begitu empuk dan berbantalan tebal, membuat perbedaan kenyamanannya dengan kendaraan Imperial Guard terasa makin jomplang. Aku membenamkan diriku ke dalamnya, mengembuskan napas, dan melirik ke arah kananku.Sudah ada seseorang yang duduk di sana, dan aku tersentak kaget lalu mencondongkan tubuh menjauh.Orang ini mengenakan jubah dengan warna yang sama dengan gadis-gadis itu dan memakai topi yang serupa. Berdasarkan posturnya, aku menebak ia adalah seorang pria, tetapi pinggiran topinya yang lebar ditarik rendah menutupi wajah, dan kerahnya ditegakkan tinggi-tinggi, sehingga aku tak bisa melihat detail wajahnya sama sekali.Kaki orang itu disilangkan, terbalut sepatu bot yang disemir mengilap, dan kedua tangannya bertumpu di atas pangkuannya, dengan jari-jari yang saling bertaut namun diam tak bergerak sedikit pun. Aku menatap lekat sosok misterius tersebut, lalu mencondongkan tubuh ke arah kursi pengemudi dan bertanya pelan, "Um, Laurannei... siapa ini?""Komandan Integrity Pilots.""Komandan...?!" pekikku tertahan tatkala pintu sisi penumpang ditutup.Laurannei menginjak pedal gas, dan elemen-elemen panas di bawah kap mesin menggeram lembut, menggerakkan kendaraan raksasa itu maju dengan mulus. Aku sebelumnya tidak merasa kalau mechamobile yang tadi tidak nyaman-nyaman amat, tapi sedan yang satu ini jelas-jelas jauh lebih superior. Tingkat teknologi Underworld bahkan belum mencapai tahap ban berisi udara, jadi bagaimana caranya mereka bisa meredam semua guncangan ini dengan begitu baik?Namun dalam situasi seperti ini, teknologi otomotif bukanlah hal yang penting. Aku jauh lebih penasaran dengan sosok di sebelah kananku ini.Aku berasumsi bahwa "Komandan" adalah pangkat tertinggi dalam jajaran Integrity Pilots. Dari apa yang diceritakan para gadis itu sebelumnya, Integrity Pilots merupakan bagian dari Pasukan Antariksa Underworld (Underworld Space Force), yang memiliki komandan tertingginya sendiri, tetapi pada praktiknya, baik pasukan antariksa maupun pasukan darat, keduanya berada di bawah komando Ordo Integrity Pilots (Integrity Pilothood).The Human Guardian Army di masa War of Underworld dua abad silam juga memiliki hubungan hierarki serupa dengan Ordo Integrity Pilots (Integrity Knighthood) pada masa itu. Hal itu berarti orang yang duduk di sebelahku ini memegang kendali atas seluruh kekuatan militer Underworld.Lantas kenapa sosok ultra-VIP ini ikut menumpang di dalam mobil yang datang menjemputku? Dan kenapa ia diam seribu bahasa dan menolak menatapku, apalagi mengajak bicara?Aku terus-menerus mencuri pandang ke arah kanan, mencoba mencari tahu bagaimana aku harus merespons situasi ini. Hal yang paling membuatku bingung adalah kenapa Stica dan Laurannei juga sama sekali tak mengatakan apa-apa. Kau pasti berpikir mereka seharusnya memberikan semacam perkenalan atau penjelasan.Tanpa tahu harus berbuat apa lagi, aku memutuskan untuk meniru pose sang komandan, menyandarkan tubuhku, menyilangkan satu kaki di atas kaki lainnya, dan menautkan jari-jariku. Aku melirik ke kanan untuk melihat apakah tindakanku memancing reaksi apa pun.Tepat pada saat itu, mobil berbelok ke kiri di sebuah persimpangan, dan cahaya matahari menembus masuk melalui jendela, mendarat di bahu sang komandan. Di celah antara pinggiran topi dan lipatan kerah jaketnya, sinar mentari menyoroti rambut bergelombang yang lembut. Warnanya bukan pirang, melainkan cokelat keemasan yang lebih gelap.Dalam satu kata: sewarna rami (flaxen). Tiba-tiba saja, jantungku mulai berdebar kencang tanpa alasan. Napasku memburu dan menjadi lebih dangkal; ujung-ujung jariku terasa dingin dan kebas.Dengan canggung, aku menolehkan leherku ke kanan, menangkap keseluruhan wujud sang komandan ke dalam pandanganku. Kalau ia memang seorang pria, posturnya tidak kurus maupun kekar. Kalaupun harus memilih, ia lebih condong ke arah ramping, mirip dengan postur tubuhku. Namun bahkan dari balik mantel tebalnya sekalipun, aku bisa melihat bahwa otot-ototnya terlatih dengan sangat baik.Aku ingin mengulurkan tangan dan menyentuh bahunya untuk melihat seberapa kokoh tubuhnya. Malahan, aku ingin merobek topengnya, menyibakkan kerah itu, dan menatap wajahnya terang-terangan. Semakin cepat aku bisa memastikan siapa bukan dirinya, semakin cepat aku bisa menenangkan hatiku.Hasrat yang mendesak ini menjelma menjadi Inkarnasi bawah sadar, menggapai ke arah sang komandan, mencoba menyentuh bahunya. Seketika terjadi sentakan mendadak yang memukulku mundur; mataku membelalak karena terkejut. Sang komandan telah menepis paksa Lengan Inkarnasi-ku dengan kekuatan Inkarnasinya sendiri yang luar biasa."Er... bukan, aku nggak bermaksud...," gagapku.Untaian kata, "Sangat menarik," memotong ucapanku.Sang komandan akhirnya bergerak, menarik perlahan tangan kirinya keluar dari sakunya."Jadi inikah Inkarnasi dari pria yang menyebut dirinya sendiri sebagai sang Raja Bintang. Aku jadi paham kenapa Imperial Guard salah mengiranya sebagai senjata Inkarnasi."Suaranya. Sama sekali tak ada nada kasar di dalamnya. Nadanya terdengar selembut beludru, dengan sedikit treble (nada tinggi) yang agak feminin, tetapi memiliki inti yang kuat dan tegas.Sang komandan mengangkat tangannya, menjepit pinggiran topinya, dan mengangkatnya perlahan. Rambut bergelombang sewarna rami (flaxen) itu tergerai, berkilau indah tertimpa cahaya mentari senja.Stica berputar menoleh dari kursi penumpang depan, tampak jelas tak sanggup lagi menahan sesuatu yang selama ini dipendamnya. "Tuh, Anda lihat sendiri kan, Komandan? Benar-benar dia, kan?!""Aku belum membenarkannya. Ada beberapa orang di Integrity Pilothood yang bisa menggunakan Inkarnasi pada tingkat ini.""Tidak, ini berbeda!" protes Stica, mendekap kedua tangannya di dada."Kirito menggunakan teknik yang belum pernah kulihat sebelumnya saat melawan Abyssal Horror, monster luar angkasa mitos itu... Dia melakukannya hanya dengan seni berpedang! Tak ada orang lain selain sang Raja Bintang legendaris itu sendiri yang bisa melakukan hal semacam itu!""Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan," ujar pria tersebut, yang kemungkinan besar adalah orang paling berkuasa di Underworld saat ini bersama dengan kepala Stellar Unification Council.Namun, ia tak lantas bersikap angkuh. Ia berdeham dan menambahkan, "Ah, Laurannei. Kalau kau tak keberatan, bisakah kita mampir sebentar ke Jalan Timur Ketiga di Distrik Enam?""Tidak bisa. Masih ada sisa pai madu dari toko Jumping Deer di pangkalan.""Tapi rasanya paling enak kalau baru saja matang.""Semua makanan juga begitu."Aku cuma bisa terpaku menatap profil wajah sang komandan. Aku tak bisa mengenali detail wajahnya. Bukan semata-mata karena silau cahaya matahari yang menerobos dari jendela di belakangnya, melainkan karena topeng kulit putih yang menutupi separuh atas wajahnya. Walau begitu, bagian mulut yang terekspos itu terlihat persis sepertinya. Atau mungkin hanya harapanku sajalah yang membuatku berpikir demikian."Baiklah, baiklah. Kalau begitu langsung saja kembali ke pangkalan," ujar sang komandan diiringi helaan napas kecewa. Ia menoleh ke arahku dengan santai. Di balik poninya yang lembut dan tergerai, topeng putih itu menutupi garis rambut hingga hidungnya, tetapi dari balik lubang matanya, yang terlindung oleh lensa kaca tipis, sepasang mata hijau zamrudnya menatap tajam."......Eu......"Ia sedikit mengernyit mendengar suara yang lolos dari bibirku, tetapi ekspresi itu segera berubah menjadi seulas senyum tipis.Akan tetapi, itu bukanlah senyuman hangat nan lembut yang telah kulihat berkali-kali. Pria ini memang memiliki mata dan suara yang sama dengan rekan seperjuanganku, yang telah gugur dua ratus tahun silam, tetapi senyumannya terasa licik, sarkastis, dan tertutup dari siapa pun. Ia mengulurkan tangannya padaku.
"Tolong maafkan topengku ini. Kulit di sekitar mataku sangat sensitif terhadap cahaya Solus. Aku E... Maaf. Aku adalah Komandan Integrity Pilot Eolyne Herlentz. Senang bertemu denganmu, Kirito.""Eolyne...," ulangku hampa, merenungkan nama yang tak familier tersebut. Mungkinkah ini semua cuma kebetulan semata? Kemiripan yang aneh dalam batas parameter fisik yang menentukan penampilan penduduk Underworld? Ataukah mata dan suaranya sajalah yang menyerupai dirinya, dan di balik topeng itu, sisa wajahnya takkan bisa kukenali?Butuh seluruh kendali diriku untuk tidak merobek topengnya. Bahkan tanpa melihat wajahnya sekalipun, kalau aku bisa menyentuhnya, aku mungkin bisa mendapati sesuatu yang bermakna, apa saja. Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya, dan bergerak untuk menyambut uluran tangan Komandan Eolyne, yang tengah menungguku dengan sabar.Namun saat jaraknya tinggal beberapa inci lagi, aku mendapati diriku disergap oleh sensasi ganjil yang melumpuhkan. Sensasi seperti diriku tengah direnggut paksa dari tubuhku, seolah ikatan antara daging dan kesadaran mulai terlepas. Rasanya seperti...Log out.Secara otomatis, aku melirik ke arah kursi pengemudi. Jam yang terpasang di dasbor menunjuk ke angka 5:11. Aku tidak keluar pada pukul lima tepat, jadi seperti yang telah Dr. Koujiro peringatkan, ia mulai memprakarsai proses log out, lengkap dengan ekstra satu menit sebagai bentuk belas kasihan."Tidak... tunggu!" seruku, berbicara pada sang ilmuwan di dunia nyata, lalu berusaha menggapai tangan Komandan Eolyne yang tampak tertegun. Namun tepat saat jari-jari kami bersentuhan, dunia ini diselimuti oleh cahaya pelangi dan lenyap seketika.
Persis seperti dugaanku, saat menjumpai kami untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir, Dr. Koujiro langsung meminta maaf atas permintaan mendadak Kikuoka. Namun kami justru sangat menantikan kesempatan untuk kembali mengunjungi Underworld, sehingga kami sama sekali tak membutuhkan permintaan maaf tersebut.Sewajarnya, Dr. Koujiro beserta para stafnya telah mempertimbangkan untuk mengirimkan perwakilan dari Rath guna menginspeksi Underworld dari dalam. Akan tetapi, lantaran mereka tak bisa menggunakan satu pun akun super (super-account) maupun akun tingkat tinggi lainnya, dan minimnya pengetahuan mereka akan cara kerja alam manusia di sana, mereka pun mencapai kesimpulan bahwa opsi terbaiknya adalah membiarkanku melakukan dive itu sendiri.Aku sangat menghargai keputusan tersebut, tetapi sejujur-jujurnya, aku juga tak tahu banyak soal apa yang tengah terjadi di dalam sana.Pada dive kami yang terakhir, Asuna, Alice, dan aku muncul di luar angkasa, di mana kami berjumpa dengan para Integrity Pilot bernama Stica dan Laurannei, yang menerbangkan kami ke Centoria menggunakan pesawat luar angkasa mereka, lalu membawa kami ke kediaman Laurannei dengan menyembunyikan kami di ruang kargo sebuah kendaraan yang aneh.Tak ada jendela di ruang kargo tersebut, jadi aku tak bisa melihat banyak soal keadaan Centoria, dan batas waktu kami telah habis hanya setelah sedikit berbincang dengan kedua gadis itu, jadi ekspedisi tersebut terbilang sangat tidak memadai jika disebut sebagai misi pencarian fakta.Saat ini, waktu di Underworld telah dikunci agar selaras dengan waktu dunia nyata, sehingga akselerasinya ditiadakan. Kami takkan mendapati diri kami terlempar berabad-abad jauhnya ke masa depan pada dive kami berikutnya. Walaupun demikian..."...Andai saja mereka bisa mengembalikannya ke akselerasi seribu kali lipat setidaknya selama kita berada di dalam sana," gerutuku seraya melepas jaket seragamku di ruang STL.Dr. Koujiro mendongak dari pengecekan mesinnya dan memberiku seringaian."Aku mendengarkan keluhan semacam itu lima kali sehari di Rath. Mereka ingin kami mempercepatnya karena tugas-tugas terasa memakan waktu selamanya, atau karena mereka tak punya waktu untuk bermain gim."Ia terlihat cukup lelah, sejujurnya, jadi aku pun melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di benakku dengan jujur."Apa STL memang tidak bisa digunakan seperti itu? Bukan cuma untuk Underworld, maksudku. Bisakah kita melakukan dive ke kantor virtual mana pun dan menggunakan tingkat Akselerasi Fluctlight (Fluctlight Acceleration/FLA) untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat...?""Singkatnya, bisa. Tapi untuk melakukannya, kau butuh perangkat keras layaknya Main Visualizer di Ocean Turtle. Dan untuk membangun satu unitnya, biayanya bakal setara dengan sepuluh buah mainframe paling mutakhir."Aku sempat berpikir untuk menanyakan berapa persisnya harga satu buah mainframe itu namun memutuskan untuk mengurungkan niatku.Dr. Koujiro terkekeh dan melanjutkan, "Namun di masa depan yang jauh—katakanlah tiga puluh atau empat puluh tahun dari sekarang—perangkat wearable (dapat dikenakan) dengan kemampuan FLA mungkin bakal jadi hal yang lumrah, sehingga semua orang bisa bekerja atau belajar di lingkungan dengan waktu yang terakselerasi. Atau main gim, pastinya.""Tiga puluh tahun...?" Pada tahun 2056, usiaku bakal mendekati kepala lima. Apakah aku masih akan bermain VRMMO saat itu? Apakah konsep MMORPG masih eksis pada titik tersebut?"Bakal jauh lebih menyenangkan kalau hal itu bisa terwujud lebih awal. Dalam sepuluh tahun, kalau memungkinkan...," balasku, melirik ke arah kursi bersandar (reclining chair) yang disiapkan di sebelah STL. Alice telah duduk di sana, dengan sabar menunggu kami selesai bersiap."Alice, bagaimana perkembangannya di Kota Kiri—maksudku, di Ruis na Ríg?"Jawaban sang kesatria mengalir begitu lancar dan fasih, seolah-olah ia memang sudah menanti pertanyaanku."Pada saat aku log out tiga puluh menit yang lalu, keadaannya sangat damai. Kaum Patter sedang bekerja keras di ladang mereka, dan kaum Bashin telah pergi berburu dan membawa pulang seekor rusa besar. Semuanya saling membarter hasil panen dan tangkapan daging mereka, dan berbaur dengan sangat rukun di luar dugaan.""Syukurlah mendengarnya. Aku sempat sedikit khawatir kaum Bashin bakal mencoba memakan kaum Patter," ujarku, setengah bercanda. Bukan Alice yang merespons, melainkan Asuna dari sisi lain layar yang memisahkan kedua STL tersebut."Sebagian besar pola makan kaum Bashin itu berbasis tumbuhan," sahutnya dengan nada kesal."Mereka tidak diizinkan memburu hewan sebelum mereka berdoa pada Pohon Dewa (Trees of God), dan ada batasan berapa banyak yang boleh mereka buru dalam sehari."Sembari ia berbicara, aku mendengar suara pakaian yang tengah diganti. Aku cuma melepas jaketku sebelum melakukan dive, tetapi Asuna, persis seperti yang dilakukannya terakhir kali, sedang berganti mengenakan perlengkapan STL yang disediakan (begitulah cara Rath menyebut gaun piyama sederhana itu). Saat aku menanyakan alasannya, ia berdalih bahwa seragamnya bakal kusut nanti."...Apa Pohon Dewa itu pohon-pohon raksasa yang ada di Sabana Giyoru?" tanyaku, seraya membaringkan diri di atas ranjang gel STL. Asuna, yang sudah selesai berganti pakaian, melongok dari balik dinding penyekat untuk menjawab."Benar. Aku melihatnya semalam. Pohonnya mirip pohon baobab, ada dua buah, menjulang setinggi tiga ratus kaki di puncak sebuah bukit. Pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Aku jadi paham kenapa mereka berdoa pada pohon-pohon itu.""Ahhh... Itu mengingatkanku, koin perak yang Sinon berikan padaku memiliki ukiran dua pohon di bagian belakangnya. Aku penasaran apa itu pohon yang sama dengan yang kaulihat.""Entahlah. Aku tidak melihat koinnya," balasnya seraya mengedikkan bahu."Bukan," sahut Alice dari arah yang lain, "pohon di koin 100 el itu tidak terlihat seperti pohon baobab di dunia nyata. Kalau boleh dibilang, pohon itu justru lebih menyerupai pohon berdaun lebar, seperti oak platinum."Agak sulit memang membayangkannya, lantaran oak platinum adalah spesies yang unik hanya ada di Underworld, tetapi aku paham apa yang Alice maksud. Kemungkinan besar, terdapat kebudayaan lain di dunia Unital Ring selain kaum Bashin yang juga memuja citra dua pohon kembar. Aku membuat catatan di dalam benakku untuk menanyakan pada Sinon, seandainya aku bertemu dengannya malam ini, dari mana ia mendapatkan koin tersebut."Baiklah, semuanya sudah siap," Dr. Koujiro memberitahu kami. Ia telah selesai mengutak-atik tabletnya."Bagaimana perasaan kalian?""Siap berangkat!" ujarku, mewakili seluruh kelompok. Asuna dan Alice mengangguk antusias."Kalau begitu... sekarang hampir pukul tiga. Saat jam menunjukkan pukul lima, gunakan perintah gestur yang sama seperti terakhir kali untuk log out. Kalau kalian tidak keluar sendiri, aku akan memutus koneksi kalian pada pukul lima lewat sepuluh.""...Dokter yakin kita tidak bisa mengundurnya sampai jam enam?" pintaku memelas, tetapi Dr. Koujiro sama sekali tak tergoyahkan."Tidak boleh," tolaknya dengan tegas. "Dive kali ini adalah untuk mengecek keselamatan. Kami tidak bisa membiarkan kalian melakukan dive dalam jangka waktu yang lebih lama kecuali kami benar-benar tahu kalian berdua bisa terhubung tanpa kendala apa pun.""Baiiiklah...""Investigasi yang sesungguhnya mengenai insiden penyusupan itu harus menunggu sampai hari Sabtu nanti. Kalian bebas berkeliling Centoria, tapi jangan dekati Central Cathedral!" tegas Dr. Koujiro, memperjelas poin larangannya.Ia menoleh pada Alice dan melanjutkan, "Aku yakin ada banyak hal yang juga ingin kauketahui... tapi aku mohon bersabarlah sedikit lagi. Aku pastikan kau bakal bisa mengunjungi Underworld setiap hari selama apa pun yang kau mau. Dalam waktu yang sangat dekat.""Ya, Dr. Koujiro. Aku mengerti," balas Alice diiringi senyuman. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi bersandar dan memejamkan mata. Asuna dan aku membaringkan diri kembali di atas ranjang gel kami dan menempatkan kepala kami pas ke dalam lekukan sandaran kepalanya."Mari kita mulai, kalau begitu."Dr. Koujiro mengetuk tabletnya, meredupkan pencahayaan di dalam ruangan. Diiringi suara gemuruh yang berat, balok bagian kepala STL bergeser turun menutupi kepalaku.Suara-suara mekanis itu perlahan menjauh, berubah menjadi derau aneh layaknya embusan angin sepoi-sepoi atau riak ombak yang menyapu tepian pantai. Mesin itu mengakses fluctlight-ku—jiwaku yang sesungguhnya—menarikku menjauh dari dunia nyata. Aku merasa begitu damai, tanpa beban. Saat aku terperosok ke dalam kegelapan, sensasinya terasa hampir nostalgik bagiku.
Pertama-tama, aku melihat cahaya.Kecemerlangan mungil itu meluas, membias menjadi hamparan warna-warni—menyelimuti indra penglihatanku—bahkan melampauinya. Aku mengerjap beberapa kali menatap cahaya tersebut, lalu menyadari bahwa aku tengah menatap langsung ke arah matahari dari balik sebuah jendela.Setelah menarik pandanganku dari jendela lengkung yang besar itu, aku mengamati sekelilingku. Langit-langit ruangan ini menjulang tinggi, dengan dinding dan pilar penopang yang dihias apik dengan gaya Eropa abad pertengahan... bukan, lebih tepatnya dengan gaya Centoria. Ini adalah kamar tamu di kediaman Arabel, tempat Laurannei membawaku pada dive terakhirku. Aku tengah duduk di sebuah sofa kecil di dalam ruangan yang luas.Di sebelah kanan, terdapat sofa tiga dudukan tempat Asuna dan Alice duduk berdampingan. Keduanya tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tanpa mematahkan sepatah kata pun. Asuna mengambil wujud Goddess of Creation, Stacia, berbalut zirah berkilau layaknya mutiara di atas gaun putihnya. Sedangkan Alice mengenakan zirah emas di atas gaun birunya, pakaian Integrity Knight andalannya.Selanjutnya, aku menunduk untuk menatap diriku sendiri. Aku mengenakan jaket hitam dengan ujung bawah memanjang layaknya mantel, dipadukan dengan celana berwarna senada. Terdapat lipatan kain yang besar bergaya fly-front (untuk menyembunyikan kancing) dan epolet (tanda pangkat) di bahu, ditambah lengan dan kerah yang terbuat dari kain putih bersulamkan benang emas.Pakaian ini... mirip tapi tidak sama persis dengan seragam murid elite Akademi Ahli Pedang (Swordcraft Academy). Ini adalah pakaian yang kupinjam dari gudang senjata Central Cathedral setelah aku berhasil lolos dari sel bawah tanah. Aku terus mengenakannya di sepanjang pertarunganku melawan para Integrity Knights, Prime Senator Chudelkin, dan Administrator, jadi pada akhirnya pakaian ini sudah compang-camping dan sobek di mana-mana, tetapi sekarang kondisinya tampak begitu sempurna bagaikan baru."...Hei, Alice, apa yang sebenarnya terjadi dengan pakaian ini?""Hah?" Alice mengernyit dan mengerjapkan matanya."Eee... aku memasukkannya ke dalam barang bawaanmu saat membawamu ke Rulid dari Central Cathedral. Selka memberiku pelajaran menjahit, dan aku telah memperbaikinya, lalu memakaikannya kembali padamu saat kita berpartisipasi dalam pertempuran untuk mempertahankan alam manusia. Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya...""Hmm... tapi tak ada tanda-tanda bekas jahitan pada pakaian ini sama sekali...""Kirito, apa itu benar-benar hal yang perlu kaupikirkan saat ini juga?" tegur Alice dengan nada jengkel. Lalu, seolah memutar kembali kata-kata yang baru saja diucapkannya beberapa detik lalu, ia tersentak berdiri, membuat zirahnya bergemerincing."Selka!"Ia bergegas melintasi lantai menuju jendela lengkung di sebelah selatan, menempelkan kedua tangannya pada kaca, dan terdiam.Asuna dan aku saling bertukar pandang, lantas bangkit berdiri. Kami melangkah ke sisi Alice dan menyaksikan pemandangan yang sebelumnya mustahil terlihat akibat silau cahaya matahari tadi.Nun jauh di balik kota, menjulang sebuah menara putih raksasa yang seolah membelah langit senja. Central Cathedral milik Gereja Axiom, jantung dari keempat kekaisaran umat manusia...Pada akhirnya, aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kembali ke Underworld, dan aku pun menarik napas dalam-dalam. Tanganku bergerak dengan sendirinya, meraba-raba mencari sumber beban yang membebani pinggulku.Di sisi kiriku terpasang sebilah pedang hitam dengan desain yang memancarkan kekuatan: Night-Sky Blade. Di sisi kananku bertengger sebilah pedang putih nan indah dengan desain yang elegan: Blue Rose Sword.Aku mengangkat tanganku untuk menggenggam sarung Blue Rose Sword, menelusuri ukiran mawar yang halus pada gagangnya. Aku terus membelai dan mengusapnya untuk melihat apakah aku bisa merasakan sesuatu. Namun, satu-satunya sensasi yang tersalurkan ke kulitku hanyalah rasa dingin dan keras.Tentu saja, tak tersisa setitik pun jejak kehangatan tubuh dari sang pemilik sah pedang ini, si pemuda berambut sewarna rami tersebut.Selanjutnya, aku beralih merengkuh gagangnya yang ramping. Aku mencoba menghunus pedang itu, tetapi aku tak sanggup menariknya lepas.Selama pertarungan melawan Administrator, Blue Rose Sword telah melebur bersama Eugeo dan menjelma menjadi pedang raksasa, yang kemudian dipatahkan menjadi dua oleh rapier milik sang penguasa.Di masa War of Underworld, usai aku tersadar dari komaku, aku sempat memperbaiki pedang ini menggunakan Inkarnasi (Incarnation), tetapi aku tak bisa memastikan sekarang apakah pedang ini masih utuh atau telah kembali ke kondisinya yang patah seperti sediakala.Inkarnasi di Underworld memanfaatkan kekuatan imajinasi untuk menimpa ulang (overwrite) wujud suatu benda, tetapi itu hanyalah kekuatan sementara yang tidak dapat mengubah apa pun secara permanen.Satu pengecualian yang paling nyata adalah adik perempuan kesayangan Alice, Selka Zuberg.Meski aku sendiri tak mengingatnya, seusai aku siuman di dunia nyata pada tanggal 1 Agustus lalu, aku sempat memberitahu Alice, "Adikmu, Selka, memilih untuk dibekukan dalam tidur panjang (deep freeze) demi menanti kepulanganmu. Ia masih tertidur saat ini, di puncak bukit di lantai delapan puluh Katedral Pusat."Seandainya hal itu benar adanya, maka ia pasti masih menanti Alice di sana, di menara putih yang kini menjulang di depan mata kami. Ia telah menunggu selama ini.Akan tetapi, menurut penuturan Stica dan Laurannei, saat ini adalah tahun bintang (stellar year) 582. Itu hanyalah perubahan nama kalender dari penamaan HE (Human Era/Era Manusia) dan sama sekali bukan sistem penanggalan yang sepenuhnya baru.War of Underworld pecah pada tahun 380 HE, yang berarti lebih dari dua abad telah berlalu. Apakah orang-orang yang kini mengelola katedral membiarkan Selka begitu saja tak tersentuh layaknya patung batu selama kurun waktu tersebut?Menurut kedua gadis itu, bukan lagi Gereja Axiom yang memegang kendali atas Underworld, melainkan sebuah badan pemerintahan yang dikenal sebagai Dewan Penyatuan Bintang (Stellar Unification Council). Nama itu terdengar samar-samar familier di telingaku.Selepas menghentikan Gabriel Miller, yang bertindak sebagai Dewa Kegelapan Vecta, aku kembali ke Centoria bersama Asuna dan Pasukan Penjaga Manusia (Human Guardian Army). Kami mendapati diri kami harus bekerja sama dengan para Integrity Knights untuk meredam kekacauan, yang mana terjadi secara alamiah.Rupanya, kelompok penguasa baru yang kami sepakati untuk dibentuk kala itu bernama Dewan Penyatuan Manusia (Human Unification Council)."Hei, Asuna..."Aku menoleh ke arahnya, berniat menanyakan apakah ia memiliki ingatan yang sama. Namun tepat saat aku melakukannya, aku tersentak dan mematung kaku.Di belakang Asuna, yang tengah menatapku dengan raut terkejut, aku bisa melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka. Dan dari balik celah tersebut, sesosok bayangan mungil tengah mengintip ke arah kami.Alice dan Asuna menyadarinya sama cepatnya. Setelah memancing perhatian dari tiga orang sekaligus, sosok mungil itu buru-buru menarik diri, tetapi Asuna berseru, "T-tunggu! Kami bukan orang mencurigakan kok."Uh, jelas-jelas kita mencurigakan, batinku. Kalau anak itu adalah penghuni tempat ini, maka pada dasarnya kitalah si penyusup yang mendobrak masuk ke rumahnya.Namun pesona kebaikan alami Asuna—kalau kau mau menyebutnya demikian—rupanya cukup meyakinkan, dan dalam hitungan detik, sosok itu muncul kembali. Kami menanti dengan sabar seraya ia melangkah masuk ke dalam ruangan dengan kelambanan yang menyiksa.Sosok itu adalah seorang anak berusia delapan atau sembilan tahun, yang kemungkinan besar adalah anak laki-laki. Ia mengenakan kemeja putih dan celana selutut berbahan beludru hitam, dengan rambut hitam yang dipangkas pendek.Di mataku, ia tampak persis seperti tuan muda kecil yang modis dari keluarga kaya raya. Berdasarkan paras dan warna rambutnya, aku menebak bahwa ia adalah adik laki-laki Laurannei.Anak lelaki itu menatapku, lalu Asuna, kemudian Alice. Ia membungkuk hormat dan berbicara dengan suara yang jauh lebih lantang dan renyah daripada yang kuduga.
Rupanya, Laurannei telah menjelaskan pada adiknya bahwa Kirito sang orang dari dunia lain (otherworlder) adalah pengikut Alice sang Integrity Knight. Namun aku tak bisa benar-benar menyalahkannya atas hal itu.Gadis-gadis itu mencecar kami, bertanya kenapa kami kembali kalau bukan untuk menjadi Raja dan Ratu Bintang lagi, jadi karena panik agar mereka berhenti mendesakku, aku menjelaskan bahwa kami adalah pengawal Alice. Entah bagaimana ceritanya di tengah jalan, kata pengawal berubah menjadi pengikut, tapi kalau ada yang harus disalahkan, itu adalah salahku, bukan salah Laurannei. Jadi aku menerima status baruku sebagai pelayan Alice."Ya, kau memang butuh bakat berpedang untuk masuk ke Swordcraft Academy," jelasku pada Phercy, "tapi kau baru kelas tiga di sekolah dasar, kan? Kau takkan mengikuti ujian masuk sampai kau lulus sekolah menengah, jadi kau masih punya waktu setidaknya enam tahun lagi. Kau bakal tumbuh dan berkembang pesat sampai saat itu tiba, jadi jangan mulai panik seolah kau harus bisa menguasai semuanya saat ini juga."Dengan tangannya bertumpu di atas kepala anjingnya, Phercy memberiku senyuman yang menyiratkan kesedihan yang jauh melampaui usianya. Ia menggelengkan kepalanya pelan."Kakak dan kedua orang tuaku juga mengatakan hal yang sama padaku. Tapi... aku telah ditelantarkan oleh Terraria, Dewi Pedang dan Bumi.""...?"Ada dua hal dari pernyataan itu yang mengusikku. Aku bertukar pandang dengan Alice. Dua ratus tahun yang lalu, Terraria adalah dewi yang mengelola berkah bumi, dan ia tak punya sangkut paut apa pun dengan pedang. Dan apa pula maksudnya dengan "ditelantarkan"?Phercy menatap kami sekilas, lalu melepaskan anjingnya untuk menatap telapak tangannya sendiri."Dalam tiga tahun semenjak aku pertama kali memegang pedang, tak sekalipun aku pernah berhasil mengaktifkan teknik pamungkas (ultimate technique). Aku memegang pedang kayuku dan mengambil kuda-kuda, persis seperti teman-teman sekelasku, tapi aku bahkan tak bisa melakukan Lightning Slash (Tebasan Kilat) yang paling dasar sekalipun. Orang tuaku menyewa guru privat untukku karena cemas, tapi guru itu lempar handuk cuma setelah satu minggu."Ia mengepalkan tangan itu dan memuntahkan kata-kata dari tenggorokannya seolah ucapan itu memberinya rasa sakit fisik."Dengan setiap hasil menyedihkan di pelajaran ilmu pedang, aku mempermalukan keluarga Arabel. Aku secara pribadi telah mencorengkan lumpur pada nama leluhurku, yang diangkat menjadi Integrity Knight pada usia tujuh belas tahun atas jasa besarnya di masa Rebellion of the Four Empires: Ronie Arabel Thirty-Three."Sesaat setelah aku mendengar nama itu, aku merasa seakan ada kilat yang baru saja menyambar otakku, dan aku mengerang.Ronie... gadis kecil manis yang dulu bekerja sebagai pelayan pribadiku itu, seorang Integrity Knight? Aku juga belum pernah mendengar frasa Rebellion of the Four Empires. Apakah pernah terjadi perang mengerikan lainnya di sini setelah War of Underworld?Sekali lagi, aku merasa frustrasi lantaran aku nyaris tak punya ingatan apa pun setelah mengalahkan Vecta. Selama fase akselerasi maksimum, di mana satu detik di dunia nyata setara dengan lima juta detik di sini, Asuna dan aku konon telah hidup di Underworld selama hampir dua abad. Namun apa yang terjadi di sini dan apa yang kami lakukan benar-benar luput dari ingatanku.Ingatan terakhirku, entah kenapa, adalah terlibat baku hantam dengan Komandan Iskahn dari Pasukan Kegelapan (Dark Army) di tengah negosiasi perdamaian di reruntuhan Gerbang Timur. Ada bayangan Iskahn di benakku, dengan pipi bengkak, berkata, Aku akui, kau lebih kuat dariku, jadi aku yakin negosiasi itu berhasil, tapi ingatanku berhenti sampai di situ saja.Ya... kalau dipikir-pikir lagi, akselerasi waktu itu berhenti tepat tiga menit setelah Asuna dan aku log out dari Underworld, jadi kami pada dasarnya masih hadir di dunia ini hingga sekitar tiga puluh tahun yang lalu.Itu memang bukan waktu yang baru-baru amat, tetapi bukan juga masa lalu yang terlampau jauh. Bagian soal aku menjadi raja itu kemungkinan besar adalah semacam kekeliruan, tapi aku ragu kami hidup terasing di pegunungan yang jauh, jadi pastinya masih ada beberapa orang yang hidup saat ini yang pernah berinteraksi langsung dengan kami.Namun menemukan mereka bakal jadi hal yang sulit. Aku tak bisa begitu saja berkeliling Centoria dan bertanya pada setiap orang tua yang kutemui, "Apa kau mengenalku?"Lagipula tujuan dari dive ini adalah untuk mencari tahu siapa yang menyusup ke Underworld dan apa yang mereka inginkan. Terang-terangan memamerkan kehadiranku di sini justru bakal jadi hal yang kontraproduktif, sejujurnya.Jadi untuk saat ini, aku harus menekan hasratku untuk mengetahui lebih banyak soal Ronie dan Tiese. Aku bertanya pada Phercy, "Waktu kau bilang kau nggak bisa mengaktifkan teknik pamungkas, apa maksudnya kau nggak bisa menyelesaikan efek penuhnya? Atau tekniknya bahkan sama sekali nggak menghasilkan, uh... pendar cahaya berwarna itu?""Yang kedua... Tak peduli berapa kali pun aku mencoba, aku tak bisa memunculkan cahaya atau suara apa pun.""Hrmm...?" Asuna dan Alice sama bingungnya denganku.Ya, teknik pamungkas—apa yang kami sebut sebagai sword skill—memang punya trik tersendiri, tetapi bahkan seorang pemula total di ranah VRMMO pun bisa menguasainya dalam waktu dua puluh atau tiga puluh menit. Kau cuma perlu menahan pedang di posisi dan sudut yang tepat, dan begitu kau terbiasa, kau bahkan bisa mengaktifkannya sambil melompat atau dengan posisi terbalik. Apa memang mungkin seseorang berlatih selama tiga tahun dan tak pernah sekalipun sukses mengeksekusi sword skill dengan benar?"...Ummm, Phercy? Aku takkan memaksamu kalau kau tak mau, tapi menurutmu bisakah kau mencobanya untukku, sekali saja?"Anak lelaki kurus itu menegang dan menatap lantai. Beberapa saat kemudian, ia menjawab dengan suara serak, "Maafkan... aku... Aku tahu ini adalah sebuah kehormatan besar bisa disaksikan oleh Nona Alice dan pengikutnya, tapi pedang kayuku ada di dalam kotak paling ujung di bagian belakang gudang perkakas. Aku tak bisa mengambilnya dengan mudah..."Ucapan itu tak terdengar seperti kebohongan, tetapi itu jelas-jelas sebuah alasan untuk menghindar. Kalau ia tak mengambil kesempatan ini, seluruh perasaan sia-sia dan keraguan diri yang telah menumpuk di dalam diri anak lelaki itu hanya akan makin membesar.Aku sempat terpikir untuk meminjaminya pedang namun mengurungkan niatku. Blue Rose Sword dan Night-Sky Blade keduanya adalah Divine Objects dengan tingkat prioritas di atas empat puluh. Hal yang sama berlaku untuk Osmanthus Blade milik Alice dan Radiant Light milik Asuna. Anak lelaki berusia sembilan tahun takkan sanggup mengangkatnya. Aku mulai bertanya-tanya barang apa saja yang kupunya di dalam inventarisku—dan lalu tersadar bahwa tak ada penyimpanan virtual di Underworld. Satu-satunya barang bawaan yang kupunya saat ini hanyalah dua pedangku dan benda-benda kecil apa pun yang ada di dalam kantong sabuk serta saku-sakuku.Kalau begitu... Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu yang luas itu, dan mataku tertuju pada sebuah tempat lilin perak di atas meja. Benda itu sepertinya cuma dijadikan sebagai hiasan interior sederhana, lantaran tak ada sebatang lilin pun yang terpasang di sana.Aku menghampiri meja itu dan memungutnya. Asuna tampak kebingungan, dan ada kilat kecurigaan di mata Alice, tetapi sebelum mereka sempat mengatakan apa pun, aku memusatkan konsentrasiku. Beru merasakan sesuatu dan menggonggong, "Guk!" namun usapan lembut dari Phercy berhasil membuat anjing itu kembali tenang.Tiba-tiba saja, tempat lilin itu berpendar dan mulai berubah bentuk. Ketiga lengannya melebur menjadi satu—menjelma menjadi bilah pedang pendek. Bagian dasarnya yang lebar menyusut menjadi sebuah gagang yang diukir halus.Dalam waktu lima detik, tempat lilin itu telah berubah wujud menjadi pedang pendek dengan ukuran yang pas untuk seorang anak kecil. Aku mengayunkannya naik turun untuk menguji keseimbangannya tepat ketika Alice melangkah lebar menghampiriku."Dasar bodoh! Harus berapa kali kubilang kalau kau tak bisa sembarangan menggunakan Inkarnasi untuk menyelesaikan setiap masalah sepele?!"Aku meringis dan membungkukkan bahuku, menoleh ke arah Asuna untuk meminta bantuan. Namun sang Goddess of Creation itu cuma mengedikkan bahunya. Terpaksalah aku harus membela diriku sendiri."Y-yah, kan nggak ada pilihan yang lebih baik... lagipula itu cuma perubahan wujud yang sederhana. Aku sama sekali tak mengubah materialnya...""Bukan itu masalahnya!!"Sudah kuduga dia bakal bilang begitu. Sejujurnya, aku juga ingin menguji apakah aku masih bisa menggunakan Inkarnasi dengan cara yang sama seperti saat aku bertarung melawan Vecta. Kekuatanku tampaknya belum memudar, tetapi kalau aku terlalu terbiasa menggunakannya, aku bakal benar-benar merasa frustrasi saat harus kembali ke Unital Ring tanpa kekuatan ini."Maaf, maaf, aku nggak bakal berlebihan kok. Tapi lihatlah—lumayan bagus, kan?" ujarku, memamerkan pedang kecil itu pada Alice. Sementara itu, kedua mata biru keabu-abuan Phercy membelalak begitu lebar seolah-olah bola matanya bakal melompat keluar dari kepalanya, dan mulutnya ternganga lebar. Pada akhirnya, ia menemukan kekuatan untuk berbicara."K... Kirito... apa tadi itu... Inkarnasi?" gagapnya. "Seni rahasia yang dikembangkan oleh para Integrity Knights kuno dan yang, bahkan hingga saat ini, hanya bisa digunakan oleh para pilot tingkat tertinggi...? Padahal kau kan cuma seorang pengikut...""A-apa benar begitu fakta tentang Inkarnasi sekarang?" Dua ratus tahun yang lalu, bukan cuma para Integrity Knights saja yang bisa menggunakannya. Bahkan para murid di akademi pun bisa... namun kalau dipikir-pikir lagi, mungkin mengubah susunan material asli dari sebuah benda memanglah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh para kesatria seperti Alice. Kalau begitu, lebih baik aku berlagak santai saja."Yah, terlepas dari itu, di antara para pengikutnya, kemampuanku ini lebih mendekati kesatria sungguhan.""Kurasa memang pastinya begitu. Lagipula, kau punya dua pedang...""Nah, tepat sekali. Omong-omong, ambillah ini," ujarku, menjepit ujung bilah pedang perak tersebut dan menyodorkan senjata kecil itu pada Phercy.Anak lelaki itu sempat ragu, tetapi ia memberanikan diri dan menggenggam gagangnya. Sama sepertiku tadi, ia mengayunkannya naik turun beberapa kali, lantas mendongak dengan sangat terkejut."Rasanya... sangat mudah digunakan. Padahal ini jauh lebih berat dari pedang kayuku, tapi kenapa...?""Aku memusatkan bobotnya di bagian gagang peganganmu. Serangannya bakal jauh lebih kuat kalau bobotnya lebih condong ke arah ujung bilah, tapi itu malah membuatnya lebih sulit untuk dikendalikan.""Oh, begitu ya..."Phercy menatap lekat pedang di tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam."Kalau begitu... aku bakal mencoba Lightning Slash.""Serius? Di sini?" Skill tersebut—yang kukenal dengan nama Vertical—memiliki jangkauan yang sangat panjang di luar dugaan, jadi aku sempat khawatir gerakannya bakal merusak perabotan di dalam rumah, tetapi Phercy hanya mengangguk."Kalau efeknya mulai aktif, aku bakal langsung menghentikannya.""Ah."Aku cemas mendengar nada pasrah dalam suara anak lelaki itu, tetapi aku tak mengatakan apa-apa lagi dan melangkah mundur ke arah jendela. Asuna bergeser dari posisinya di dekat pintu untuk berdiri di sebelah Alice.Phercy mengambil jarak antara dirinya dan Beru, dengan posisi memunggungi dinding yang ada pintunya, lalu memasang kuda-kuda. Pertama-tama, ia menahan pedang pendek itu di ketinggian sedang, menarik kaki kanannya sedikit ke belakang, lalu mengangkat pedangnya lebih tinggi lagi. Pergelangan tangannya hanya sedikit dimiringkan, menahan bilahnya pada sudut empat puluh lima derajat.Posisi untuk Vertical Arc nyaris sejajar, dan Vertical Square empat tebasan sudutnya jauh lebih tajam, sekitar minus empat puluh lima derajat. Namun untuk Vertical yang sederhana, kuda-kuda ini sudah tepat."Kuda-kudanya sudah pas," ujar Asuna."Sangat mengesankan," bisik Alice.Seperti yang mereka utarakan, postur Phercy tampak begitu sempurna. Posisi dan sudut pedang serta kuda-kuda sang pengguna sudah tak bisa dikoreksi lagi. Namun, tak ada pendar cahaya biru maupun getaran bernada tinggi yang muncul."Kenapa tidak bisa...?" gumamku dan menghunus Night-Sky Blade dari sisi kiriku tanpa memikirkan apa yang tengah kulakukan.Dengan bobot familier di genggaman, aku mengangkatnya ke atas bahu kananku. Aku mengambil gerakan Vertical, sebuah gestur yang telah kulakukan ribuan, atau bahkan puluhan ribu kali, semenjak masa-masa SAO dulu.Dengungan yang tak asing memenuhi telingaku, dan pendar cahaya biru menyelimuti bilah pedang tersebut. Phercy menoleh ke arahku, dan kepasrahan serta keputusasaan kontan memenuhi raut wajahnya. Ia menurunkan pedangnya dengan tak berdaya. Aku buru-buru membatalkan sword skill-ku dan mengembalikan pedangku ke dalam sarungnya. Asuna dan Alice menatapku tajam."A—aku cuma mau memastikan kalau skill-nya masih berfungsi," protesku lemah.Phercy menundukkan kepalanya, jadi aku berjongkok untuk menatap matanya. "Kuda-kudamu sudah sempurna. Tapi kurasa itu bukan penghiburan yang berarti...""Tidak... aku senang mendengarmu mengatakannya, Kirito," ujar anak lelaki itu, tersenyum canggung. Ia menatap pedang di tangan kanannya."Lalu... apa maksudmu bukan salahku kalau aku tidak bisa menggunakan teknik-teknik ini?""Bukan, kurasa bukan begitu. Pasti ada suatu faktor eksternal yang memengaruhinya. Walaupun, aku tak bisa langsung memastikan apa faktor itu..."Sejujurnya, aku bisa saja berlatih bersama Phercy selama beberapa jam ke depan untuk mencari tahu apa gerangan faktor eksternal ini, tetapi hal itu tak memungkinkan. Dr. Koujiro hanya memberi kami waktu dua jam, dan kami sudah menghabiskan empat puluh menit di antaranya.Anak lelaki itu, yang memiliki kedewasaan melampaui usianya, tampak jelas menekan emosinya untuk memamerkan senyuman tegar."Aku sudah cukup senang mengetahui kalau ini bukan salahku. Setidaknya dengan begini... aku bisa meratapi nasib burukku karena para dewa telah menelantarkanku.""......"Aku tak bisa menyetujui hal itu. Aku menggigit bibirku.Underworld sebenarnya tidak memiliki dewa. Ketiga dewi—Stacia, Solus, dan Terraria—hanyalah kisah karangan yang meminjam nama akun-akun super (super-account) milik Rath guna menopang otoritas Gereja Axiom pimpinan Administrator. Bukanlah kehendak dewa yang mencegah Phercy menggunakan sword skill—pasti ada sesuatu yang lebih konkret dari itu.Sayangnya, untuk saat ini tak ada jawaban lain yang bakal memuaskan anak lelaki tersebut."Ini... terima kasih," ujar Phercy, menyodorkan pedang perak itu dengan kedua tangannya."Tidak, simpan saja," ujarku."Um... tapi...""Pedang itu terasa pas di tanganmu, kan? Kau tak perlu menggunakannya untuk berlatih. Pegang dan ayunkan saja secara berkala kalau kau sedang tidak ada kerjaan lain.""..."Phercy masih tampak enggan menerimanya. Dari balik bahuku, Alice berujar, "Simpan saja, dan mungkin sesuatu akan berubah. Lagipula benda itu pada dasarnya adalah barang milik keluarga Arabel."Ya, itu memang benar, batinku. Tak mungkin juga aku mengambilnya."Kirito, kenapa tidak kau buatkan sarung pedangnya sekalian?" usul Asuna. Aku menegakkan tubuh."Apa? Tapi aku kan tak punya material untuk...""Kalau begitu tolong gunakan ini," ujar Phercy, menawarkan alas kulit tebal yang tadinya berada di bawah tempat lilin di atas meja. Kalau aku terus-terusan begini, ruang tamu ini bakal kehabisan barang untuk diubah, tetapi alas itu memang terlihat tak wajar tergeletak begitu saja tanpa penyangga lilin di atasnya. Terlebih lagi, aku tak kuasa menolak saat melihat sepasang mata anak lelaki itu berbinar-binar gembira, tak seperti beberapa saat yang lalu."Y-yah, kalau kau memaksa..."Aku mengambil alas itu, menatap sekilas ke arah pedang di tangan Phercy, lalu memusatkan bayangan di kepalaku. Alas persegi panjang itu berpendar putih dan mulai berubah bentuk, bergerak seolah-olah hidup.Benda itu menggulung dirinya sendiri, lalu memipih, dan salah satu ujungnya meruncing. Saat cahayanya lenyap, aku tengah memegang sebuah sarung pedang kulit berwarna cokelat kemerahan."Ini dia," ujarku seraya menyodorkannya.Phercy menerimanya dengan sorot mata takjub. Ia menyarungkan pedang pendek itu ke dalamnya."...Luar biasa. Pas sekali!""Memang sengaja kubuat begitu.""Aku tak percaya kau bisa melakukan hal seperti ini dengan Inkarnasi...""Tapi ingat ya, aku ini cuma seorang pengikut. Inkarnasi Nona Alice bahkan jauh lebih luar biasa," klaimku. Alice menusuk punggung bawahku, dan aku nyaris tak bisa menahan diri untuk tidak memekik.Asuna hanya menatapku tak percaya. Ia meletakkan kedua tangannya di atas lututnya. "Hei, Phercy, menurutmu apa kau bisa memandu kami berkeliling kota?""Hah...?" respons anak lelaki itu terkejut—dan bukan cuma dia yang bereaksi begitu. Alisku berkerut cemas, tetapi kemudian aku menyadari bahwa itu sebenarnya adalah ide yang bagus.Untuk menyelidiki sang penyusup, kami harus menjelajah keluar menuju Centoria. Namun segalanya pasti telah banyak berubah dalam dua abad terakhir, dan bakal jauh lebih baik bagi kami untuk memiliki seorang pemandu ketimbang kami bertiga hanya berkeliaran membabi buta.Phercy menggantungkan pedang pendek itu di sabuknya dan memikirkan permintaan tersebut. Ia pun dengan cepat menyetujuinya."Baiklah. Orang tuaku melarangku pergi keluar sendirian, tapi kurasa tidak apa-apa kalau aku pergi bersama kalian. Akan tetapi..."Ia menatap Asuna dan Alice, menyipitkan matanya seolah tengah menatap sesuatu yang menyilaukan, dan menambahkan, "Kurasa pakaian kalian bakal terlalu mencolok, Nona Alice dan Asuna. Bahkan penjaga istana pun sudah tak lagi memakai zirah lempeng (plate armor) berukuran penuh.""Oh... hmm, apa yang harus kita lakukan?" gumam Asuna. Ia mulai berbisik-bisik dengan Alice, tetapi perhatianku malah teralihkan oleh hal lain yang diucapkannya."Eh... istana? Maksudmu, kastel kaisar?"Kini giliran Phercy yang tampak kebingungan."Kaisar...? Bukan, keluarga kekaisaran telah dibubarkan pasca Rebellion of the Four Empires dua ratus tahun yang lalu. Kastel di Distrik Satu saat ini menjadi pusat pemerintahan Centoria Utara. Saat aku bilang 'istana', maksudku adalah Central Cathedral.""Oh... tapi bukankah Stellar Unification Council yang memegang kendali atas alam manusia sekarang? Apa ada raja yang memimpin di atas mereka juga?""Dulu pernah ada bertahun-tahun yang lalu. Seseorang yang dijuluki Raja Bintang, yang tak hanya memerintah alam kita ini namun juga kedua bintang kembar, Cardina dan Admina..."Mulai lagi urusan Raja Bintang ini, batinku, menatap Alice dan Asuna. Keduanya tampak mencurigai apa yang baru saja mereka dengar, dan raut wajahku pastinya terlihat sama.Aku tak tahu kenapa Laurannei dan Stica berasumsi bahwa kami berdua adalah Raja dan Ratu Bintang, tetapi semakin aku memikirkannya, semakin mustahil rasanya aku sanggup mengemban peran semacam itu. Di sisi lain, adegan terakhir yang kuingat adalah berhadapan dengan Komandan Iskahn dari Wilayah Kegelapan (Dark Territory), sebagai perwakilan alam manusia. Agaknya, aku tengah mencari momen yang pas untuk menyerahkan peran tersebut pada seorang Integrity Knight. Apakah hal itu tak pernah terjadi, dan aku terjebak dalam peran itu, lalu pada akhirnya secara otomatis menjadi raja? Dan hal itu menjadikan Asuna sebagai ratunya...?"Nggak, nggak, nggak mungkin...," gumamku. Lalu aku bertanya pada anak lelaki itu, "Siapa nama sang Raja Bintang?"Phercy tak bereaksi sedikit pun saat ia mendengar namaku tadi, jadi namanya tak mungkin "Kirito". Tapi bagaimana kalau itu adalah nama yang memiliki keterkaitan dengan namaku? Aku merasa cemas, menanti jawabannya."Namanya tak pernah disebutkan," jawab Phercy."Hah?""Nama Raja Bintang dan Ratu Bintang telah dihapus dari seluruh catatan resmi maupun kisah sejarah tentang mereka. Diklaim bahwa langkah ini diambil guna mencegah kerabat atau keturunan mana pun muncul setelah kematian mereka, yang bisa menjerumuskan pemerintahan ke dalam kekacauan... tapi...""......"Aku kembali bertukar pandang dengan para gadis. Rasanya mustahil bisa sepenuhnya menghapus nama seorang kepala negara dari sejarah.Mungkin saja ada raja-raja dari Mesir Kuno atau Babilonia yang namanya tak dikenal, tetapi itu terjadi ribuan tahun silam. Raja Bintang di Underworld memegang kendali hanya beberapa dekade yang lalu. Namun rasanya terlalu kejam bila mencecar anak berusia sembilan tahun ini lebih jauh mengenai topik tersebut. Aku pun mengesampingkan masalah Raja Bintang ini untuk sementara waktu dan kembali ke topik yang sedang dibahas."Baiklah... jadi kurasa kita harus meninggalkan zirah mereka di rumah ini?""...Aku sih tidak keberatan melepas zirah ini," ujar Alice, menepuk Osmanthus Blade dengan tangannya, "tapi bagaimana dengan pedangku...? Aku enggan melepaskannya.""Sejujurnya, aku setuju soal yang satu itu," gerutuku seraya merengut.Namun Phercy hanya menyunggingkan senyum. "Pedang tidak akan jadi masalah. Bukanlah hal yang aneh bagi para bangsawan untuk membawa-bawa pedang. Bahkan beberapa rakyat jelata pun melakukannya.""Ahhh..."Menurut Laurannei dan Stica, sistem bangsawan enam tingkat memang telah dihapuskan, tetapi tidak dengan konsep kebangsawanan itu sendiri. Aku tak bisa menentukan apakah itu hal yang baik atau buruk bagi Underworld.Namun untuk saat ini, kami memutuskan untuk memanfaatkannya, dan kami berdua tetap menyandang pedang kami. Rasanya agak timpang di mataku melihat orang-orang masih menggunakan pedang ketimbang senjata api di tempat di mana pesawat terbang bisa mengudara hingga ke luar angkasa, tetapi aku menduga keberadaan sacred arts membuat senjata api tak pernah dirasa perlu untuk dikembangkan.Zirah Asuna dan Alice dimasukkan ke dalam kabinet di sudut ruang tamu atas usul Phercy. Ia juga meminjamkan jubah cokelat yang tak mencolok untuk menutupi tubuh mereka, dan pada saat kami siap untuk berangkat, jam di dinding sudah mendekati pukul empat. Syukurlah, tepat ketika jarum menit menyentuh angka dua belas di atas, melodi yang familier mengalun masuk menembus jendela.Bahkan di era jam sekalipun, Lonceng Penanda Waktu (Bells of Time-Tolling) masih terus memainkan melodi tiap jam tersebut setiap harinya.Saat lonceng berhenti berdentang, waktu kami tersisa satu jam sebelum batas waktu habis. Pertama-tama, kami akan memintanya memandu kami ke area tersibuk di Centoria Utara, lalu kami bakal berkeliling dan makan—eh, mengumpulkan informasi selama waktu masih memungkinkan.Kami mengikuti Phercy keluar dari ruang tamu menuju lorong panjang yang membentang ke dua arah. Pada kunjungan kami sebelumnya, situasinya terlalu kacau bagiku untuk menyadari bahwa kediaman Arabel jauh lebih besar dari dugaanku. Ronie sang pelayan pribadi dulu pernah bercerita bahwa ayahnya dan ayah Tiese adalah bangsawan tingkat enam dan kehidupan mereka terbilang cukup sederhana. Mungkin mereka telah membangun ulang atau memindahkan rumah mereka dalam kurun dua ratus tahun terakhir ini.Anak lelaki beserta anjingnya itu memimpin kami menuju aula pintu masuk yang sangat luas.Kita mungkin bisa memasukkan seluruh pondok kayu kita ke dalam aula ini! batinku."...Kau bisa menaruh empat buah meja pingpong utuh di sini," bisikku pada Asuna, yang mana langsung memberiku tatapan curiga."Sejak kapan kau suka main pingpong?""Nggak pernah, sih.""Terus kenapa kau membandingkannya dengan meja pingpong...?""Yah, lapangan tenis rasanya bukan perbandingan yang akurat," jadi...Selagi kami berdebat hal yang tak penting, Phercy mengambil mantel wol dari gantungan yang kokoh dan mengenakannya untuk menutupi pedang pendeknya. Ia mengatakan sesuatu pada Beru, yang langsung membalas, "Guk-uh!" dan berlari kecil kembali menyusuri lorong."Mari kita berangkat kalau begitu," ujarnya, seraya mendorong pintu ganda yang besar itu. Embusan angin dingin menyelinap masuk dan meniup rambut panjang para gadis. Namun, ini bukanlah angin berdebu khas Tokyo di musim dingin. Ini adalah udara Centoria Utara, sarat akan kelembapan dari Danau Norkia—udara Underworld.Aku kembali, batinku, seraya mengekor di belakang mereka bertiga keluar melewati pintu.
Kediaman Arabel memiliki halaman depan yang luas selain interiornya yang megah. Pepohonan pendek yang dipangkas rapi berjejer di sepanjang jalan setapak berbatu yang mengarah keluar dari pintu, dengan gerbang besi tempa berwarna hitam di ujungnya. Di sisi kanan halaman terdapat sebuah bangunan panjang dengan daun jendela (rana) di bagian depannya. Mungkin itu semacam garasi untuk mechamobile, atau apa pun sebutan mereka untuk benda itu. Tentu saja, aku takkan mengakui kalau aku sebenarnya ingin mencoba mengemudikannya.Berbalik untuk mendapatkan pandangan menyeluruh dari kediaman tersebut, aku bisa melihat bahwa bangunan utamanya jauh lebih megah dari yang kubayangkan; bangunannya setinggi dua lantai dengan desain yang simetris. Menurut penilaianku, ini adalah rumah bangsawan tingkat pertama atau kedua. Keluarga Arabel pastilah sangat sukses dalam dua abad terakhir... namun apa artinya rumah sebesar ini kalau aku tak melihat ada satu pelayan pun di sini?Aku kembali menghadap ke depan. Di balik gerbang, terdapat lebih banyak rumah batu besar, tidak seelok milik keluarga Arabel namun tetap sangat mengesankan pada porsinya masing-masing. Di belakang bangunan-bangunan itu, Central Cathedral tampak membelah langit. Ketinggiannya tak berubah selama dua ratus tahun terakhir, dan aku bisa melihat kubah menyerupai observatorium di bagian atapnya. Dulu tempat itu merupakan kamar tidur Administrator, tetapi kemungkinan besar, tak ada lagi yang tinggal di sana sekarang."Ayo, Kirito."Panggilan itu membawa pandanganku kembali turun ke tempat Asuna, Alice, dan Phercy berdiri, menungguku."Oh, maaf."Aku berlari kecil untuk menyusul mereka dan mencoba mempersiapkan mentalku untuk kunjungan pertamaku ke Centoria dalam kurun dua abad. Namun kemudian aku menyadari sesuatu yang ganjil di kejauhan, layaknya sebuah alat musik tiup kayu raksasa yang memainkan nada yang sama tanpa henti.Nguung, nguung, bunyinya terdengar, perlahan-lahan semakin keras setiap detiknya. Bukan karena volumenya yang meningkat, melainkan karena sumber suaranya yang semakin mendekat.Tiba-tiba saja, Phercy berputar kaget seolah baru saja tersambar sesuatu, dan ia menunjuk ke sebelah kanan jalan setapak berbatu itu."Sembunyi di balik semak-semak itu sekarang!"Nada suaranya dan sorot matanya tak menyisakan ruang untuk bantahan.Murni karena insting, aku menyambar lengan Asuna dan Alice lalu berlari, menarik mereka bersamaku, dan melompat ke dalam rimbunan tanaman setinggi tiga kaki di sekitar garasi. Untungnya, pendaratannya cukup empuk; aku mendorong mereka masuk lebih dulu, lalu ikut bersembunyi di samping mereka.Dari celah dedaunan, aku bisa melihat sebuah objek bergerak berukuran besar muncul tepat di luar gerbang depan. Wujudnya berupa kendaraan berbentuk kotak sederhana dengan roda-roda besar di setiap sudutnya. Itu pastilah mechamobile yang Phercy sebutkan tadi.Pada dive sebelumnya, kami pernah menaiki salah satunya dari bandara menuju kediaman ini, tetapi yang satu ini jelas-jelas lebih besar dari yang kemarin. Badannya dicat dengan warna abu-abu muda, dan terdapat huruf kanji serta katakana di bagian sisinya—di sini, mereka menyebutnya sebagai bahasa umum (common tongue)—meskipun aku tak bisa membacanya dengan jelas karena terhalang jeruji gerbang.Aku bisa melihat sirene di bagian atapnya, yang pastinya merupakan sumber dari suara ganjil tadi, jadi kendaraan ini mungkin setara dengan ambulans atau mobil polisi.Suara sirenenya berhenti, dan sebuah pintu di bagian samping terayun terbuka dengan kasar, memuntahkan sejumlah orang dari dalamnya. Mereka mendorong gerbang besar itu terbuka dari luar dan bergegas masuk ke pelataran rumah. Total ada enam orang... semuanya mengenakan seragam dan topi abu-abu, dengan pedang pendek terpasang di sabuk mereka."Dari mana asal seragam-seragam itu?" bisik Asuna.Alice maupun aku sama-sama menggelengkan kepala."Entahlah.""Aku tak mengenalinya."Kalau Alice saja tidak tahu, itu pastilah seragam kelompok tertentu yang tidak eksis dua ratus tahun yang lalu. Orang yang paling muda di antara keenamnya berada di usia dua puluhan, dan yang tertua mungkin sekitar lima puluhan, jadi mereka bukanlah murid sekolah.Aku menahan napasku saat seorang pria muda mengeluarkan sesuatu yang bentuknya menyerupai kotak bento dari tas selempangnya dan mulai mengarahkannya ke sekeliling. Pria tertua yang memiliki janggut panjang menghampirinya dan bertanya dengan tegang, "Apa Inkarnameternya (Incarnameter) masih menangkap sinyal bacaan?""Tidak ada yang baru, tapi jejaknya sangat jelas. Dua buah senjata Inkarnasi seni pertarungan diaktifkan dalam waktu singkat di dalam rumah ini baru-baru ini, Kapten.""Hrmm..."Kapten berjanggut itu mengawasi halaman depan yang luas tersebut dan pada akhirnya menyadari kehadiran Phercy yang berdiri tepat di sana, di tengah-tengah jalan setapak."Hei! Kau!" bentaknya dengan penekanan yang berlebihan, membuat Phercy tersentak kaget.Aku bisa merasakan Asuna dan Alice menegang di sebelahku, jadi aku diam-diam mencengkeram ujung bawah jubah mereka untuk mencegah keduanya melompat keluar dari tempat persembunyian kami.Tiga dari pria-pria itu, termasuk sang kapten, bergegas menghampiri Phercy, berteriak cukup keras hingga kami bisa mendengar setiap kata yang diucapkannya, meskipun jarak kami setidaknya terpisah sejauh dua puluh yard."Apa kau tinggal di rumah ini?!"Phercy mundur selangkah, terintimidasi oleh sikap mereka, tetapi ia dengan berani memulihkan ketenangannya dan berdiri tegak."Ya, saya Phercy Arabel.""Tapi kenapa kau ada di rumah pada jam segini...? Ah, abaikan soal itu. Apa bangsawan Nogran Arabel, mantan pilot Rochelinn Arabel, atau pilot Laurannei Arabel ada di rumah?!""Tidak... ayah, ibu, dan kakakku masih bekerja.""Begitu rupanya..."Kapten itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling pekarangan. Jantungku serasa melompat ke tenggorokan saat tatapan tajamnya menyapu ke arah kami, tetapi sepertinya ia melewatkan tempat persembunyian kami, dan ia kembali menoleh pada Phercy."Apa ada sesuatu yang terjadi di sini sekitar tiga puluh menit yang lalu? Apa kau mendengar suara ganjil atau melihat orang-orang yang mencurigakan di sekitar sini?"Phercy mungkin tidak mendengar suara yang ganjil, tetapi ia jelas-jelas melihat beberapa orang yang mencurigakan.Ia menggelengkan kepalanya."Saya tidak memperhatikan apa-apa, Pak.""Hmm... aneh sekali. Kami mendeteksi senjata Inkarnasi seni pertarungan di kediaman ini sebelumnya...," gerutu sang kapten seraya melipat lengannya.Salah satu anak buahnya berkata, "Kapten, menurut Anda mungkinkah ini sinyal keliru yang sama seperti yang kita dapatkan bulan lalu?""Tapi dalam kedua insiden ini, semua Inkarnameter di kantor berbunyi serempak. Benda-benda ini memang instrumen presisi, tapi tak mungkin semuanya rusak di saat yang bersamaan, dengan cara yang sama."Mendengar percakapan itu, Alice bertanya-tanya, "Apa itu... senjata Inkarnasi?""Entahlah...""Dan alat Inkarnameter itu... apa alat itu mampu mendeteksi penggunaan Inkarnasi?""Entahlah..."Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi, tetapi hal itu tak menghentikan Alice untuk menatapku tajam atas ketidakbergunaanku. Ia pun kembali mengintip.Keenam pria itu masih mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman depan kediaman, tetapi tak satu pun dari mereka yang melangkah keluar dari jalan setapak untuk menyelidiki lebih jauh; mungkin ada semacam aturan yang melarangnya.Pada akhirnya, mereka tampaknya sepakat dengan kesimpulan "kerusakan perangkat", berkumpul sejenak untuk mendiskusikan sesuatu, dan kelima pria selain sang kapten berjalan kembali ke arah gerbang.Kapten itu tetap bersama Phercy, dan ia berjongkok untuk menatap mata anak itu demi meminta maaf."Maaf sudah mengejutkanmu seperti ini, Phercy. Sepertinya kami keliru. Tapi aku bisa melihat kalau kau membuat bangga keluargamu yang tersohor itu—kau sangat berani untuk ukuran anak semuda ini. Apa kau berencana menjadi pilot seperti kakakmu?"Berhenti mengobrol dan kembalilah bekerja! desisku dalam hati, tahu betul betapa sulitnya topik ini bagi Phercy. Namun anak lelaki itu sangatlah tegar."Tidak, saya ingin menjadi seorang cendekiawan," ujarnya."Sebagian besar pilot dari keluarga Arabel adalah perempuan.""Aha. Yah, kau tak seharusnya menutup kemungkinan masa depan di usiamu yang masih sangat muda ini," ucap pria itu, yang menurutku agak tidak peka.Tepat ketika sang kapten hendak beranjak pergi, salah satu bawahannya—yang termuda, yang membawa Inkarnameter—berlari kembali menghampirinya."Kita mendapat sinyal Inkarnasi yang baru tapi sangat lemah!""Apa?!" seru sang kapten, berdiri tegak dan melongok ke arah kotak tersebut. Agak lucu melihat cara mereka mengarahkan kotak itu ke seluruh penjuru taman, tetapi situasi saat ini sama sekali tidak bisa dibilang lucu.Aku nyaris bertanya-tanya apakah kemarahan diam-diamku tadi memicu penggunaan Inkarnasi secara tak sengaja, dan aku pun berusaha sebaik mungkin untuk menenangkan perasaanku."Ah..." Alice tersentak lagi."A-ada apa?""Apa menurutmu Inkarnameter itu bereaksi terhadap pedang yang kauberikan pada Phercy?""Hah...? Tapi kan sudah lebih dari tiga puluh menit sejak aku mengubah wujudnya.""Mantan pontifex (pemimpin tertinggi/Administrator) pernah berkata bahwa butuh waktu bagi sebuah benda yang diubah melalui Inkarnasi untuk menetap dalam wujud barunya. Aku tidak tahu apa maksudnya kala itu, tapi barangkali benda itu menyimpan jejak kekuatan Inkarnasinya, layaknya logam yang baru dicetak masih menyimpan panasnya...""......"Terdengar gila, tapi aku tak bisa mengesampingkan kemungkinan itu. Setelah semua penggunaan yang kulakukan terhadapnya, aku benar-benar tak memahami cara kerja persis dari sistem Inkarnasi Underworld yang unik ini.Namun kalau dipikir-pikir lagi, aku ingat saat aku menggunakan Inkarnasi untuk menghidupkan kembali bunga-bunga zephilia yang dicabut oleh teman-teman sekelasku di Swordcraft Academy, ada pendaran cahaya redup yang tersisa di sekitar bunga-bunga itu. Meminjam metafora Alice, jika Inkarnameter itu menangkap sisa "panas" tersebut, maka pria-pria itu bakal segera menyadari bahwa pedang Phercy adalah sumbernya.Kami tak bisa mengharapkan anak berusia sembilan tahun ini untuk menyembunyikan kami sekaligus mengarang alasan untuk keluar dari masalah di saat yang bersamaan. Kami harus menyelesaikannya sekarang juga, atau situasinya mungkin bakal semakin merusak mental anak lelaki itu di saat ia sendiri sudah cukup terpuruk."Asuna, Alice," bisikku, melepaskan cengkeraman pada ujung bawah jubah mereka, "begitu aku keluar, tunggu kesempatan kalian untuk kembali masuk ke dalam rumah, pakai zirah kalian, dan log out."Jawaban yang sudah kuduga datang serentak."Apa maksudmu? Aku juga ikut!""Siapa peduli soal zirah? Aku ikut!""Kalau kita tidak mengambil zirah itu sekarang, kita mungkin takkan dapat kesempatan lagi. Lagipula, kita harus menghindari konflik di sini dengan cara apa pun, kan, Alice?" ujarku, menunjuk kantong kulit di sabuk Alice.Sang kesatria menggigit bibirnya. Aku tahu kantong itu berisi sesuatu yang luar biasa penting baginya: dua butir telur milik Amayori dan Takiguri, naga-naga yang telah mengorbankan nyawa mereka demi melindungi Alice dan yang telah kuputar ulang (rewind) kondisinya kembali ke wujud sebelum menetas.Kalau para penjaga itu bertindak kasar padanya dan memecahkan telur-telur tersebut, bahkan aku pun takkan bisa memperbaikinya.Ia mendekap kantongnya dengan sangat hati-hati, melindungi isinya, jadi aku menoleh pada Asuna dan berujar, "Aku bakal baik-baik saja. Aku bakal pakai ini untuk kabur kalau sampai terdesak. Tolong bilang saja pada Dr. Koujiro untuk menunggu sampai jam lima, sesuai kesepakatan kita."Aku mengangkat tangan kiriku, mencegah Asuna melontarkan protes apa pun yang sudah di ujung lidah.Lantaran Underworld tidak memiliki user interface selain Stacia Window, Dr.Koujiro dan Ketua Higa telah menyematkan perintah gestur khusus yang bisa kami gunakan untuk log out secara sukarela.Kau harus merentangkan jari-jari tangan kirimu, dan jika STL mendeteksi bahwa kau melipat jari kelingking, jari tengah, jempol, jari manis, dan jari telunjukmu, secara berurutan, sistem akan langsung me-log out dirimu.Waktu aku mencobanya di dunia nyata, otot-otot tanganku sampai menjerit kesakitan, tapi aku bisa melakukannya dalam waktu dua detik di Underworld. Dan berbeda dari dunia Unital Ring, aku takkan meninggalkan tubuh tanpa jiwa di sini, jadi cara ini sangat cocok digunakan sebagai metode melarikan diri darurat."...Baiklah. Tapi hati-hati ya, oke?" bisik Asuna, dengan kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya.Aku tersenyum dan membalas, "Tentu saja," lantas mengangguk pada Alice dan melepas pedang dari pinggangku."Tolong pegangkan ini, ya?"Aku menyerahkan Night-Sky Blade pada Asuna, dan Blue Rose Sword pada Alice—semata-mata karena masing-masing pedang itu sangat berat—dan menyelinap keluar dari semak-semak.Sang kapten dan anak buahnya masih sibuk menodongkan Inkarnameter ke seluruh penjuru tengah halaman depan. Phercy dengan hati-hati dan diam-diam terus menghindari perangkat tersebut, sadar betul bahwa pedangnya-lah yang memicu alat itu. Namun hal itu takkan bisa bertahan lama.Tak ada waktu lagi untuk mencari jalan keluar yang mulus dan tanpa suara dari situasi ini. Aku berjongkok dan bergerak ke belakang garasi, lalu diam-diam menghasilkan dua puluh elemen angin, menempatkan masing-masing sepuluh elemen di bawah setiap kakiku.Lalu aku melepaskan energi angin mereka, memanfaatkannya layaknya mesin roket untuk melesat lurus ke atas dengan kecepatan luar biasa. Aku bisa saja menggunakan Lengan Inkarnasi (Incarnate Arms)—yaitu psikokinesis—untuk menggerakkan diriku, tetapi menggunakan elemen terbukti lebih cepat di saat kecepatan menjadi kunci utama.Setelah melesat ke atas sekitar tiga ratus kaki, aku beralih ke mode terjun bebas (free-falling). Baik para pria itu maupun Phercy belum menyadari keberadaanku. Aku merentangkan lenganku untuk menyempurnakan rute pendaratanku, meluncur turun dengan kaki lebih dulu.Tepat sebelum aku menghantam tanah, aku melepaskan sisa beberapa elemen angin terakhir untuk mengendalikan pendaratanku. Diiringi suara bang! yang memekakkan telinga, aku mendarat persis enam kaki di depan sang kapten."Aaah!!" jeritnya, melompat mundur saking kagetnya. Anggota muda yang memegang Inkarnameter itu pun jatuh terduduk menabrak bokongnya sendiri.Aku terang-terangan menatap tajam ke arah Phercy kecil, mengirimkan isyarat bisu padanya agar ia berpura-pura tidak tahu menahu. Tentu saja, aku tak punya kekuatan telepati, tetapi anak lelaki itu toh mengerjapkan mata dan langsung mengambil jarak."S-siapa kau?!" raung sang kapten berjanggut, menghunus pedangnya. Itu bukanlah pedang biasa; terdapat semacam perangkat mekanis pada bagian gagangnya. Aku baru saja bertanya-tanya apa fungsi dari alat itu ketika sang kapten menekan sebuah tombol bundar dengan jempolnya.Zzzap! Percikan api kuning merambat naik turun menyelimuti seluruh bagian bilah pedang."Wah... apa itu listrik? Bagaimana kau bisa memunculkannya?" tanyaku, tak sanggup menahan rasa penasaranku.Setahuku tidak ada elemen listrik di Underworld.Namun ia tak menjawab pertanyaanku."Bicara! Sebutkan nama dan alamatmu!""Ummm... namaku Kirito, tapi aku nggak punya alamat...""Nggak punya alamat?! Lalu di mana kau tidur selama ini?!""Ummm, aku nggak ingat. Atau lebih tepatnya, yang pertama kali kutahu, aku sudah ada di dalam kediaman ini...""Jangan konyol. Kau berharap aku bakal percaya kalau kau adalah Anak Hilang Vecta (lost child of Vecta) di zaman sekarang ini?" cetus sang kapten, memicu gelombang nostalgia di benakku. Namun pernyataan berikutnya kurang familier di telingaku."Kalau begitu, sebutkan nomor pendudukmu!""Hah? Aku... nggak punya nomor apa pun...""Itu mustahil! Nomor itu tertera di Stacia Window-mu!""O-oh, benar..."Aku membuat pola huruf S di udara menggunakan tangan kananku, lalu mengetuk lengan kiriku. Alunan lonceng tua yang tak asing menandai kemunculan sebuah jendela yang menampilkan rentetan karakter di bagian atasnya yang bertuliskan, UNIT ID: NND7-6355."Ummm, nomornya NND7-6355.""NND7? Itu kan jauh di utara sana... Tunggu sebentar. Angka enam ribuan?! Benar-benar omong kosong!" sungut sang kapten, merangsek mendekat dengan pedang listriknya untuk mengintip jendela unguku. Kemudian rahang berjanggutnya seketika anjlok."Apa...?! Bahkan nenekku saja ada di angka delapan ribuan. Bagaimana mungkin anak muda ini punya angka serendah itu...?"Hal itu memancing ingatanku. Unit ID yang tertera di Stacia Window merupakan nomor seri bagi semua orang yang lahir di area tertentu. Aku "lahir" di Rulid pada tahun 370 HE. Jadi dua ratus tahun kemudian, sudah sewajarnya kalau angka tersebut menjadi jauh lebih tinggi semenjak saat itu. Jadi bagaimana aku harus menjelaskan hal ini?"K-Kapten!" pekik anggota yang memegang Inkarnameter, yang masih jatuh terduduk di tanah."Dialah yang memicu Inkarnameter ini! Saya rasa dia memegang semacam senjata Inkarnasi!""Apaaaa?!"Sang kapten melompat mundur dan mengangkat pedang listriknya. Keempat pria lainnya bergegas mendekat dari arah gerbang. Namun yang terpenting dari semuanya, aku sukses menarik kecurigaan menjauh dari Phercy. Aku berdeham dan berbicara dengan suara paling garang yang bisa kukerahkan."Benar. Akulah yang baru saja menggunakan Inkarnasi. Kejadiannya kurang dari satu jam yang lalu.""Jadi kau mengakuinya?! Penggunaan senjata Inkarnasi tanpa izin adalah pelanggaran terhadap Hukum Dasar Manusia (Basic Human Law)!!""Um, itu sebenarnya bukan senjata sih...""Lalu apa itu tadi? Apa kau mau bilang kalau itu adalah Inkarnasi milikmu sendiri?!"Aku bahkan tak sempat menjawab, Iya, memang benar, sebelum sang kapten meneriakkan perintah kepada bawahannya."Tangkap pria ini! Kalau dia melawan, jangan ragu untuk menggunakan electroblade (pedang listrik) kalian!"Oh, sial. Kukira sebutannya "pedang listrik", batinku, seraya menyodorkan kedua tanganku secara bersamaan. Salah seorang dari pria itu mengeluarkan sepasang borgol sederhana dan menguncinya di pergelangan tanganku dengan bunyi klik.Sensasi baja dingin yang menyentuh kulitku ini terasa ganjil namun familier, dan aku sempat bertanya-tanya kenapa rasanya bisa begitu sampai akhirnya aku teringat bahwa ini adalah kedua kalinya aku ditangkap di dunia ini.Setelah melanggar Taboo Index di Swordcraft Academy, Eugeo dan aku telah digiring ke Central Cathedral oleh Alice yang sama yang kini tengah bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari sini, dan kami dirantai di dalam sel bawah tanah di sana.Dulu, kami menyilangkan rantai yang menawan kami satu sama lain dan menariknya sekuat tenaga untuk mengikis Life (Daya Tahan) rantai tersebut hingga putus. Namun aku tak bisa melakukannya sendirian sekarang.Waktu rantainya putus, kita kehilangan keseimbangan, dan kau mengeluh saat kepalamu terbentur dinding, batinku, berbicara pada rekan seperjuanganku yang telah lama tiada itu.Aku melirik Phercy sekali lagi. Anak lelaki itu tampaknya paham betul apa yang tengah kulakukan, dan ia memberikan anggukan yang sangat tipis. Aku mungkin takkan pernah melihatnya lagi. Aku memberinya tatapan yang seolah berkata, Semoga berhasil, Nak, lalu berbalik untuk melangkah menuju gerbang depan.
Meskipun dijejalkan masuk secara paksa melalui pintu, bagian dalam mechamobile ini ternyata sangat nyaman di luar dugaan. Roda-rodanya dilapisi dengan zat penahan guncangan menyerupai karet hitam, dan bahkan dilengkapi dengan suspensi per daun (plate-spring). Jalanannya terbuat dari susunan batu bata (cobblestone), jadi masih terasa ada sedikit guncangan, tapi tidak sampai membuatku harus menahan lidahku agar tidak tak sengaja tergigit.Tentu saja, aku tak mengucapkan sepatah kata pun di sepanjang jalan—aku terlalu sibuk menatap keluar jendela dengan mulut setengah ternganga. Centoria Utara di tahun bintang 582 masih menggunakan desain bangunan yang kuingat dari dua abad yang lalu, tetapi segala hal lainnya telah benar-benar berubah total.Jalanan yang telah diperlebar itu dipenuhi kendaraan dari berbagai ukuran, lampu jalan bersinar terang di mana-mana, dan yang paling mengejutkan dari semuanya, sekitar sepertiga dari orang-orang di trotoar adalah para demi-human (manusia setengah monster), seperti goblin, orc, dan ogre. Aku bahkan melihat raksasa setinggi sepuluh kaki.Awalnya, aku berasumsi bahwa mereka adalah turis dari Dark Territory, tetapi cara mereka berbincang santai di sudut-sudut jalan dengan ras lain dan menikmati teh di kafe terbuka membuat mereka terlihat sangat kerasan seolah memang membaur tinggal di sini. Terdapat pula kemiripan pada gaya berpakaian mereka, jadi aku mau tak mau harus menyimpulkan bahwa sebagian besar dari para non-human itu merupakan penduduk asli Centoria.Sewaktu aku tinggal di sini dulu, kaum demi-human dari Dark Territory selalu diperlakukan layaknya monster jahat oleh umat manusia di keempat kekaisaran. Keduanya benar-benar merupakan dunia yang terpisah. Para penguasa dari generasi ke generasi pastilah telah bekerja sangat keras untuk mewujudkan pemandangan ini menjadi kenyataan.Meskipun, menurut penuturan Stica dan Laurannei, Raja dan Ratu Bintang-lah yang telah memegang kendali atas Underworld selama dua ratus tahun—dan sosok itu konon adalah aku dan Asuna."Nggak... nggak mungkin," gumamku pada diriku sendiri.Pria muda berseragam di sebelahku menyikut pinggangku dan membentak, "Diam!""S-siap, Pak."Aku langsung bungkam dan membenamkan tubuhku ke bantalan kursi yang tipis ini.Mechamobile ini melaju lurus menyusuri jalan utama dan memasuki Distrik Satu Centoria Utara—tempat di mana Istana Kekaisaran dulu pernah berdiri.Dari apa yang bisa kulihat menembus kaca depan, kastelnya sendiri masih ada di sana, tetapi aku tak lagi bisa melihat satu pun bendera yang memampang lambang Kekaisaran Norlangarth maupun Gereja Axiom. Sebagai gantinya, terdapat panji-panji berwarna putih bersih dengan simbol biru yang tak kukenali tertera di atasnya. Simbolnya berupa sebuah lingkaran yang diiringi oleh tiga titik... sebuah desain yang tak pernah eksis dua ratus tahun silam."...Simbol apa itu?" bisikku pada pria muda di sebelahku.Rasa tak percayanya kali ini sepertinya mengalahkan kemarahannya, jadi ia memberiku tatapan yang sangat tidak mengenakkan dan berujar, "Apa kau mau bilang kalau kau tidak mengenali logo Stellar Unification Council?""Ohhh, jadi itu toh logonya...""Semua orang mempelajari hal itu di tahun pertama sekolah dasar. Lingkaran besar itu melambangkan orbit bintang kembar. Titik di kanan atas adalah Cardina, titik di kiri bawah adalah bintang pendampingnya, Admina, dan titik di tengah adalah Solus.""Ahhh, aku paham sekarang...," gumamku, kembali memusatkan perhatian pada panji-panji tersebut. Pada ujung bawahnya yang meruncing, terdapat lambang yang berbeda, baru kusadari. Lambangnya lebih kecil dan sulit untuk dilihat jelas, tetapi wujudnya tampak seperti dua pedang vertikal yang dililit oleh semacam bunga."Kalau yang di bagian bawah itu lambang apa...?""Kau benar-benar menanyakan hal semacam ini padaku? Itu sudah pasti lambang sang Raja Bintang...," bisik pria muda tersebut.Mechamobile itu berbelok ke kiri pada titik tersebut, menimbulkan guncangan hebat. Kami melintasi trotoar untuk memasuki Kastel Norlangarth—atau lebih tepatnya, gedung pemerintahan yang berada di pekarangannya. Tulisan hitam di badan kendaraan abu-abu ini menyebutkan Pengawal Kekaisaran Centoria Utara (North Centoria Imperial Guard), jadi ini pastilah markas besar mereka.Area parkir tersebut, yang tidak bisa dibilang luas-luas amat, telah diisi oleh dua kendaraan serupa. Kalau cuma tiga kendaraan ini yang mereka punya untuk menjangkau seluruh Centoria Utara, jumlahnya memang tak banyak, tetapi kemudian aku teringat bahwa penduduk Underworld pada dasarnya tak pernah melanggar hukum.Fakta itu pasti tak banyak berubah dalam kurun dua ratus tahun, dan mengingat ancaman dari Wilayah Kegelapan agaknya juga telah sirna, mereka hanya membutuhkan pasukan seminimal mungkin untuk menjaga ketertiban.Kendaraan itu berhenti di tempat parkir paling ujung dalam, dan para anggota pasukan itu dengan sigap melompat keluar, berbaris di depan pintu sebelah kanan, tempatku duduk. Sang kapten membukanya dan membentak, "Keluar!"Aku toh juga merasa butuh peregangan badan yang layak, jadi aku menurutinya dengan senang hati—namun aku menyempatkan diri melirik jam analog kecil yang terpasang di depan kursi pengemudi. Waktu menunjukkan pukul 4:40, yang berarti aku cuma punya sisa dua puluh menit sebelum waktu yang kujanjikan pada Dr. Koujiro habis—dan tiga puluh menit sebelum aku ditarik paksa keluar dari simulasi."Cepat keluar!" bentak sang kapten lagi, jadi aku bergegas menurutinya seraya membatin, Iya, iya, aku dengar kok. Pria-pria itu sontak mengepungku dari segala sisi.Markas besar Imperial Guard, di sebelah barat area parkir, adalah bangunan empat lantai yang luar biasa besar, tetapi dengan keberadaan gedung pemerintahan yang menjulang tepat di sebelah utara, serta skala Central Cathedral yang tak masuk akal jauh di belakangnya, sulit rasanya untuk merasa begitu takjub dibuatnya.Kami menyeberangi pelataran berubin itu dan melangkah masuk, dengan para pengawal tetap menjaga formasi mengelilingiku. Menghadap langsung ke arah pintu lobi adalah meja resepsionis yang besar, dengan para petugas pria dan wanita tengah bekerja. Mereka semua menatapku—kemungkinan besar karena sangat jarang ada penjahat sungguhan yang tertangkap—jadi aku berniat melambaikan tangan pada mereka, tetapi borgol di tanganku mencegah niatan itu.Mereka menggiringku ke sebuah ruangan kecil yang melompong di bagian belakang lantai dua. Satu-satunya benda di dalamnya hanyalah sebuah meja, dua buah kursi, dan sebuah jam bundar di dinding. Ruangan itu benar-benar menyerupai ruang interogasi yang sangat klise sampai-sampai aku nyaris tertawa terbahak-bahak saat melihatnya.Aku mengambil kursi yang lebih jauh dari pintu, mendongak menatap sang kapten yang berdiri di seberangku, dan bertanya, "Bukannya kau seharusnya mencoba membujukku dengan semangkuk katsudon (nasi mangkuk daging babi) panas?""A-apa?""Erm, bukan apa-apa.""Duduk saja di sana dan jaga sikapmu! Tuan Direktur akan datang kemari untuk menginterogasimu secara langsung!" umum sang kapten sebelum berderap keluar dari ruangan.Para pengawal menutup pintunya, tetapi aku tidak mendengar bunyi kunci berderit menutup, dan mereka bahkan sama sekali tak melakukan penggeledahan badan padaku. Aku jadi agak cemas dengan standar kerja Pengawal Kekaisaran Centoria Utara ini.Bersandar pada kursi berpunggung keras itu, aku merenungkan bahwa ditangkap kembali bukanlah sesuatu yang pernah kubayangkan bakal kualami lagi, tetapi dalam artian tertentu, situasi ini lumayan menguntungkan. Seperti apa pun sosok direktur Imperial Guard ini, ia pastinya berada di posisi yang mampu memahami berbagai peristiwa yang tengah terjadi di Centoria Utara dengan jauh lebih baik ketimbang orang lain. Seandainya aku bisa melontarkan pertanyaan yang tepat, aku mungkin saja bisa mendulang semacam petunjuk terkait sang penyusup di Underworld.Aku menanti dengan tidak sabar, tetapi pintunya tak kunjung terbuka setelah satu menit, maupun dua menit berlalu. Memasuki menit ketiga, aku mencapai batas kesabaranku dan memutuskan bahwa tak ada salahnya aku mencari tahu cara kerja jam mereka. Aku bangkit berdiri dan memindahkan kursi ke arah dinding. Seraya membisikkan permintaan maaf dalam hati pada kursi tersebut, aku memanjat dan berpijak di atas dudukannya dengan sepatuku lalu menyimak saksama perangkat yang tergantung di dinding itu.Tak ada suara detak mekanis yang terdengar. Alih-alih, benda itu memancarkan getaran samar nan misterius yang terdengar layaknya derik jangkrik. Sama sekali tak ada cara untuk menerka bagaimana cara kerjanya kalau hanya mengandalkan suara. Aku menjauhkan telingaku dan mengamati permukaan kayunya untuk mencari nama pabrik maupun pengrajinnya, tetapi tak ada apa pun tertera di sana kecuali kedua belas angka...Tunggu dulu. Tepat di atas angka 6, terdapat sebuah simbol mungil yang terukir di permukaannya, ukurannya nyaris tak sampai sepersekian inci. Ukirannya begitu halus sampai-sampai sulit untuk melihat detailnya dengan mata telanjang, tetapi wujudnya tampak menyerupai dua garis di atas bentuk belah ketupat, lumayan mirip dengan simbol di bagian bawah panji-panji yang tergantung di gedung pemerintahan tadi.Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, berharap bisa menemukan sebuah kaca pembesar, tetapi tentu saja, benda semacam itu tak ada di sini. Jadi aku mengangkat tanganku dengan niatan untuk menciptakan lensa kristal sebagai gantinya, tepat ketika aku mendengar derap beberapa langkah kaki menghampiri pintu. Aku buru-buru melompat turun dari kursi, memindahkannya kembali ke posisi semula, dan duduk manis.Pintu itu terayun terbuka tanpa ketukan. Sang kapten berjanggut masuk lebih dulu. "Berdiri! Yang Mulia, Direktur Boharsson yang terhormat, akan menemuimu sekarang!"Dengan disematkannya gelar "Yang Mulia", sulit rasanya untuk tidak membentuk opini tertentu bahkan sebelum melihat sosoknya. Sekalipun hierarki kebangsawanan telah dihapuskan dan kaum demi-human kini hidup membaur di Centoria, tampaknya kesadaran kelas yang terukir di dalam jiwa para penduduk Underworld masihlah hidup dan mengakar kuat.Aku bangkit berdiri dengan patuh, sementara sang kapten melangkah masuk dan menanti di samping pintu. Hentakan tumit sepatu bot berderap berat melintasi ambang pintu, menyingkap sesosok pria pendek dan gempal yang sepertinya berusia sekitar enam puluhan.Desain dasar seragamnya sama dengan milik kapten, tetapi terdapat epolet emas yang berkilau cemerlang di bahunya, sederet lencana penghargaan pengabdian warna-warni di dadanya, dan pedang di pinggul kirinya bukanlah desain praktis electroblade melainkan sebuah pedang saber yang sangat dekoratif. Ia bahkan memiliki kumis bergaya eksentrik yang ujung-ujungnya dilengkungkan ke atas. Bahkan dari masa dua ratus tahun yang lalu sekalipun, aku merasa belum pernah melihat bangsawan congkak yang begitu klise layaknya pria ini.Yang Mulia itu duduk dan memosisikan dirinya senyaman mungkin di kursi yang berada di seberangku, lantas berdeham berat bersiap-siap untuk angkat bicara. Namun, ia tak pernah mendapat kesempatan tersebut."Berhenti di situ!" seru sebuah suara yang tajam, membuat tubuh menyerupai gentong milik sang bangsawan berguncang karena kaget. Kapten itu hendak menerjang keluar dari ambang pintu namun dengan segera terdorong mundur kembali ke dalam.Menderap masuk ke dalam ruang interogasi yang sempit itu adalah dua orang yang mengenakan jubah biru tua yang serasi. Keduanya bertubuh pendek namun memancarkan aura penuh wibawa yang sukses mengintimidasi sang kapten berjanggut maupun sang direktur berkumis. Mereka mengenakan topi bergaya pelaut dengan pinggiran terlipat yang diturunkan menutupi alis, jadi aku tak bisa melihat wajah mereka dengan terlalu jelas."A-apa maksud semua ini?!" sembur bangsawan Boharsson pada akhirnya.Salah satu sosok berjubah biru itu membentak, "Kasus ini berada di bawah wewenang Integrity Pilots. Berlaku mulai saat ini juga. Serahkan tersangkanya sekarang.""Hrrg...," gerutu pria gempal itu tatkala mereka menyodorkan lencana topi tepat di bawah hidungnya. Kombinasi panah bersilang dan lingkaran itu dulunya adalah lambang milik Integrity Knights—dan Gereja Axiom.Gereja itu memang sudah tak lagi eksis, tetapi Boharsson mundur teratur seolah memori genetik akan ketakutan tersebut masih mengintai di dalam fluctlight-nya."Baiklah! Terserah kalian mau apakan dia! Ayo pergi, Torev!""Siap, Pak!" sahut sang kapten berjanggut, yang rupanya bernama Torev, baru aku sadari sekarang. Ia bergegas keluar mengekor sang direktur yang tengah naik pitam, tanpa memberikan satu lirikan pun padaku.Kini hanya tersisa kedua sosok berjubah biru itu dan aku, dan aku baru saja bertanya-tanya apa yang bakal terjadi selanjutnya—ketika mereka menutup pintu, melepas topi mereka, dan menyebut namaku dengan nada yang luar biasa ramah."Tuan Kirito, Anda akhirnya kembali pada kami!""Kami sungguh senang bisa berjumpa dengan Anda lagi, terlepas dari keadaannya, Tuan Kirito!""......Ah."Pada akhirnya, aku menyadari bahwa kedua sosok berjubah itu tak lain dan tak bukan adalah para pilot muda yang kujumpai pada dive terakhirku, Laurannei Arabel dan Stica Schtrinen.Dengan pandangan yang lebih jernih, tampak begitu jelas bagiku betapa bayang-bayang sosok Ronie masih melekat kuat pada Laurannei—begitu pula Tiese pada Stica. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum sanggup membalas sapaan mereka.
Komentar (0)
Memuat komentar...