Sword Art Online 026: Unital Ring V

Bagian 11

Estimasi waktu baca: 8 menit

"Bunga Lobelia..."
Setelah berpikir sejenak, Sinon menyimpulkan bahwa ia sama sekali tidak memiliki ingatan tentang item dengan nama tersebut.
Namun sebelum ia sempat meminta detail lebih lanjut dari Chett, Silica dan Lisbeth berseru serempak, "Lobelia?!"
"Tunggu, kalian tahu?" tanya Sinon. Mereka mengangguk, namun wajah mereka tampak muram penuh ketakutan dan kewaspadaan.
"...Itu adalah bahan dasar untuk membuat racun tingkat 5 dengan efek paralisis dan damage," bisik Silica dengan suara serak.
"Apakah itu ada... di ALO?" tanya Sinon.
"Bukan. Bukan di ALO," jawab Lisbeth sambil menggelengkan kepalanya. Seluruh pasang mata tertuju padanya. Jawabannya mengejutkan mereka semua. "Bunga Lobelia berasal dari SAO."
Bagaimana bisa bunga beracun dari dunia Sword Art Online, yang telah lenyap selama hampir dua tahun, eksis di dunia Unital Ring? Misteri itu harus menunggu untuk dipecahkan nanti. Mereka pun meminta informasi lebih lanjut kepada Chett.
Gadis itu menjelaskan bahwa lobelia, item yang diperlukan untuk mengalahkan tawon hijau raksasa tersebut, tumbuh di bagian pangkal pohon-pohon tua yang sudah mati. Masalahnya, sama sekali tidak ada pepohonan di Giyoru Savanna yang gersang, dan pepohonan manapun yang mati di sana akan hancur menjadi debu dalam hitungan saat, sehingga para leluhur bangsa Patter tidak mampu mengumpulkan cukup bunga untuk menghentikan serbuan para tawon raksasa. Namun ada berton-ton pepohonan di Great Zelletelio Forest, dan pohon-pohon yang mati tidak akan lenyap begitu saja. Faktanya, ada banyak pohon mati tanpa daun yang tersebar di mana-mana di seluruh hutan setiap kali mereka melangkah.
Seandainya saja mereka tahu fakta ini sejak awal, mereka pasti sudah memanen bunga lobelia dari pohon-pohon tersebut sedari tadi, namun memang begitulah cara kerja gim RPG. Terlebih lagi, mereka tidak tahu seperti apa wujud bunga itu. Chett sendiri belum pernah melihat bunga lobelia secara langsung seumur hidupnya, jadi awalnya mereka berencana mengandalkan deskripsi yang diceritakan oleh ayah Chett. Namun berhubung Lisbeth, Silica, Argo, Klein, dan Agil pernah bermain di SAO, mereka sudah pernah melihat tanaman aslinya di Aincrad.
Kelima mantan pemain SAO itu berpencar untuk mencari pohon-pohon besar yang sudah mati. Agil adalah orang pertama yang mengangkat tangannya dan berseru, "Ketemu!" Yang lainnya langsung berkerumun mengelilinginya.
Prajurit pengguna kapak itu menunjuk ke arah sekuntum bunga mungil yang bersembunyi di kaki pohon yang mulai membusuk. Keempat kelopaknya berwarna biru violet yang indah, namun cara tangkainya yang berpilin seolah menahan penderitaan tampak sedikit menyeramkan. Daunnya berwarna hijau keunguan, sedangkan putik dan benang sarinya berwarna hitam pekat.
"Aww, imut banget. Nggak kelihatan kayak bunga beracun mematikan sama sekali," komentar Dikkos, pemimpin kelompok Weed Eaters. Ia berjongkok ke arah bunga tersebut, dengan suara gemeretak keras dari zirah sisiknya, lalu mengulurkan tangan untuk memetiknya.
"Ah!" seru Silica dan Agil, namun sudah terlambat. Ia menggenggam pangkal tangkai lobelia itu dengan jari telanjangnya lalu menariknya hingga lepas.
"Hgyaaaah!" jerit Dikkos seketika, membungkukkan punggungnya karena kesakitan. Ia lalu jatuh terjerembab ke tanah pada sisi kirinya. Bar HP miliknya kini dihiasi oleh ikon bunga biru berlatar belakang hitam. Tubuh Dikkos membeku kaku, dan HP-nya perlahan-lahan menurun, yang berarti efek Debuff itu memberikan kombinasi paralisis dan damage sekaligus.
"Astaga kawan, jangan dipetik pakai tangan kosong dong!" seru Argo dengan nada jengkel. Ia mengambil botol kecil dari kantong sabuknya, menarik penutupnya, lalu menjejalkannya ke dalam mulut Dikkos. Itu adalah ramuan penawar racun yang diracik oleh Asuna dan Sinon menggunakan skill Pharmaceutical, namun ramuan itu dibuat dari campuran acak dedaunan dan kacang-kacangan yang ditemukan di sekitar sana dengan tingkat skill proficiency yang rendah. Jika ramuan ini tidak ampuh, petualangan Dikkos di Unital Ring mungkin akan berakhir di sini.
Namun untungnya, penurunan HP-nya berhenti setelah mencapai sepertiga dari jumlah awalnya, dan ikon Debuff itu lenyap tak lama kemudian. Dikkos duduk dengan goyah, menjauh dari bunga lobelia di dekatnya, lalu mengerang, "Gila, yang barusan bener-bener telak... Aku kira kemampuan Antivenom dan Resistance bakal membantuku, tapi tetep aja, aku kena efek racun cuma gara-gara metik bunganya."
"Kami sudah memperingatkanmu kalau benda itu benar-benar berbahaya. Kalau kamu sampai memakannya, kamu pasti sudah mati sekarang," omel Lisbeth kepadanya.
Dengan pandangan menerawang, Chett menambahkan, "Kukira semua manusia itu pintar."
Terlepas dari masalah yang tidak perlu tersebut, kini semua orang memiliki kesempatan untuk melihat seperti apa bentuk bunga lobelia, sehingga sejak saat itu, mereka bisa membagi diri menjadi kelompok-kelompok beranggotakan tiga atau empat orang untuk mencari dan memanen tanaman tersebut.
Pada pukul tiga sore, mereka berkumpul kembali dan memasukkan hasil panenan bunga mereka ke dalam panci rebusan besar yang dikeluarkan Klein dari inventarisnya. Meskipun ada dua puluh orang yang melakukan pencarian di area yang luas, hasil kumpulannya tidak cukup untuk memenuhi setengah dari panci itu. Beruntung, Chett memberitahu mereka bahwa jumlah itu sudah cukup.
Mereka menyiapkan tungku dan meja di depan gubuk penyimpanan mereka, mengisi panci dengan air yang cukup untuk merendam seluruh bunga lobelia, lalu menyalakan api kecil di bawahnya. Panci itu mulai mengeluarkan uap hampir dalam sekejap, jadi Sinon dengan pelan bertanya kepada Chett, "Apakah aman kalau menghirup uap ini?"
"Tidak apa-apa. Tapi Ayah berpesan untuk tidak pernah mencicipi kaldunya sama sekali."
"Aku juga nggak niat," jawab Sinon dengan seringai miring, lalu mencondongkan tubuhnya ke atas panci. Seketika itu juga, hidungnya dipenuhi aroma wangi yang belum pernah ia temui di dunia ini—meskipun secara teknis, dunia virtual bukanlah bagian dari "dunia ini." Aroma yang menyenangkan itu memenuhi benaknya dan membuatnya linglung sesaat.
Itu adalah perpaduan aroma yang manis, segar, dan pekat sekaligus; ia membayangkan parfum mewah seharga puluhan ribu yen sebotol mungkin wanginya seperti ini, meskipun ia sendiri belum pernah menggunakan parfum semacam itu. Tanpa sadar, Silica, Lisbeth, dan Leafa telah berkerumun mengelilingi panci tersebut, menghirup aromanya dalam-dalam.
Sinon memastikan untuk menghirup kembali aroma itu dalam-dalam untuk dinikmati, lalu mengembuskannya. "Aku ngerti... Pantas saja mereka harus memperingatkan orang-orang supaya tidak mencicipinya."
"Aku setuju. Wanginya manis banget," tambah Silica.
Pada suatu waktu, isi panci tersebut telah berubah warna menjadi biru terang yang sama dengan kelopak bunganya. Bunga-bunganya sendiri sudah melayut, sepertinya akan segera melarut seutuhnya.
Memetik satu bunga ini dengan tangan kosong saja sudah cukup untuk mengancam nyawa, lalu racun macam apa yang akan dihasilkan dengan merebus satu panci penuh bunga tersebut? Jika seseorang meraih panci itu lalu mengguyurkannya kepada semua orang di sini, itu mungkin sudah lebih dari cukup untuk menewaskan setiap orang yang ada di kelompok ini. Pikiran itu membuat Sinon bergidik ngeri.
"...Kalau kita bisa membuat racun ini, berarti kelompok lain juga bisa... seperti pasukannya Mutasina," gumamnya. Yang lainnya mengangguk, mempertimbangkan kekhawatiran yang sama. Bahkan Klein yang biasanya bersikap santai kini meringis seolah ia baru saja memakan sesuatu yang sangat pahit.
"Para gerombolan PK dulu juga banyak menggunakan racun di SAO," catatnya. "Kalau ini benar-benar racun tingkat 5, ngeri juga rasanya karena kita sudah bisa meraciknya di titik awal permainan seperti ini..."
"Kita juga harus secepatnya mengembangkan penawar untuk racun ini," tambah Argo.
Ekor Chett yang tipis terayun ke depan dan ke belakang. "Racun lobelia memang menakutkan, tapi juga tidak menakutkan."
"Ap-apa maksudnya itu?" tanya Lisbeth.
Tubuh mungil gadis Patter itu mencondong ke belakang sejauh yang dirasa nyaman. "Tiga puluh menit setelah selesai dimasak, warna dan bau racun ini akan memudar hilang. Setelah itu, ia kembali menjadi air biasa."
Kelompok itu saling berpandangan. Jika efektivitas racun itu hanya bertahan selama setengah jam, akan sangat sulit menggunakannya untuk serangan PK berskala besar. Namun itu juga berarti bahwa mereka harus memulai penyerangan—tidak, menyelesaikan penyerangan—terhadap tawon-tawon itu dalam jangka waktu tersebut.
"Chett, berapa menit lagi sampai siap?" tanya Sinon.
Gadis Patter itu melongok ke dalam panci dan mengerutkan kening. "Setelah semua bunganya melarut habis. Mungkin sekitar lima menit lagi."
"Hei, kita nggak bisa bersantai-santai kalau gitu," ucap Klein. Ia, Agil, dan Argo bergegas menghampiri anggota kelompok lainnya yang sedang asyik mengobrol di sekitar area untuk menjelaskan situasinya. Sinon, Silica, dan Lisbeth menata stoples-stoples tembikar kecil di atas meja dan bersiap membagi-bagikan jatah racun tersebut.
Mustahil untuk memastikan apakah rencana improvisasi mereka akan membuahkan hasil pada percobaan pertama. Selalu ada peluang munculnya rintangan tak terduga yang mengacaukan rencana apa pun yang mereka susun, sama seperti saat pertempuran melawan Mutasina tadi malam. Namun keunggulan para pemain VRMMO terletak pada mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada dan dengan keras kepala menyusun rencana-rencana cadangan. Sinon telah mempelajarinya dari Kirito, begitu pula dengan yang lainnya. Betapapun kotor dan menyedihkannya proses itu, siapa pun yang bertahan hidup hingga akhir adalah pemenangnya. Itulah yang terjadi di turnamen Bullet of Bullets GGO, dan hal itu juga berlaku di sini, di Unital Ring.
Sinon menatap ke arah langit yang mulai berkabut, memikirkan Kirito, Asuna, dan Alice, yang tengah bertarung di bawah langit yang sama sekali berbeda, lalu membatin, Kami juga mengerahkan seluruh kemampuan terbaik kami di sini.

Komentar (0)

Memuat komentar...