Sword Art Online 026: Unital Ring V
Bagian 12
Estimasi waktu baca: 12 menitTidak pada titik mana pun, baik di dunia nyata maupun di dunia virtual mana pun, aku pernah berlari sekeras saat ini, putusku di dalam hati sembari mengerahkan seluruh tenagaku mengejar ular hitam yang melayang itu.Untungnya, lanskap yang kami lalui benar-benar konsisten dengan deretan perbukitan yang rendah dan landai, dan cadangan staminaku ternyata jauh lebih dalam dari yang kusadari. Napasku memburu kasar dan otot-ototku terasa perih, namun aku berhasil mempertahankan ritme lari yang pasti sudah akan membuatku tumbang sejak lama di dunia nyata, dan Eolyne pun terus mengimbangi kecepatanku.Aku ingat bahwa selama Perang Dunia Lain dua abad lalu, pasukan sekunder manusia dan serikat petarung dari Dark Territory harus menempuh perjalanan ratusan mil dengan berjalan kaki. Level otoritas milikku jauh lebih tinggi dari mereka, jadi aku tidak boleh menyerah dan menangis menyerah hanya setelah berlari beberapa puluh mil, tegurku pada diri sendiri.Setelah tiga puluh menit memaksakan diri berlari kencang, ular hitam itu akhirnya mulai melayang turun. Berdoa di dalam hati, aku bergumam, "Apakah kita akhirnya sampai di tujuan?""Kuharap begitu," jawab Eolyne. Aku meliriknya lewat bahuku.Yang Mulia komandan pilot telah melonggarkan seragamnya hingga ke bagian dada, dan keringat bercucuran membasahi dahinya. Topeng kulitnya tampak sangat tidak nyaman, dan seandainya aku tidak merasa canggung untuk menyinggungnya, aku pasti sudah menyuruhnya untuk melepasnya saja.Di sisi lain, ia pernah bilang ia memakai topeng itu karena kulit di sekitar matanya sensitif terhadap sinar matahari. Solus masih belum menampakkan diri dari balik lereng bukit di timur, jadi ia sepertinya bisa melepasnya sekarang, setidaknya untuk sesaat."Oh! Kirito, di sana!" seru Eolyne, menarik perhatianku kembali padanya.Ada sesuatu di balik bukit yang sedang kami daki saat ini.Di kaki cekungan lembah yang menampung kepekatan dini hari, terdapat sebuah struktur yang jelas-jelas buatan manusia. Tingginya kira-kira setara dengan gedung tiga lantai, dan ukurannya tidak terlalu lebar, namun struktur itu didampingi oleh jalan terdekat yang panjangnya sekitar lima ratus yard—tidak, itu landasan pacu. Berarti tempat ini..."...Sebuah pangkalan?""Sepertinya begitu," Eolyne setuju. Ia menaruh tangannya di pundakku untuk menahanku, lalu merangkak menuju puncak bukit dengan posisi merunduk, dan akhirnya turun dengan merangkak.Di langit, ular hitam itu terbang lurus menuju bangunan persegi panjang tersebut, hingga tak lagi terlihat di tengah bayang-bayang. Hal itu menegaskan kepastianku bahwa apa pun yang melahirkan ular hitam itu ada di dalam bangunan tersebut."Kirito, apa kamu melihatnya? Di ujung landasan pacu," bisik Eolyne tiba-tiba. Aku menoleh ke arah kiri.Di ujung landasan pacu, sesuatu yang gelap tampak mendekam. Awalnya aku mengira itu adalah semacam ikan pari raksasa, hingga aku menyadari bahwa itu juga merupakan buatan manusia. Itu adalah dragoncraft raksasa, ukurannya bahkan melampaui X'rphan Mk. 13."...Sayapnya besar sekali..." gumamku membalas."Ya," Eolyne membenarkan, "pesawat itu telah dimaksimalkan untuk menampung kapasitas yang besar, bukan untuk kecepatan. Kurasa ada banyak penyangga di bawah sayap utama yang besar itu.""Itu artinya... pesawat itulah yang menembakkan semua rudal berpandu itu ke arah kita?""Kurasa begitu," jawabnya pelan. "Namun kalau begitu kenyataannya, itu berarti kita sudah terdeteksi saat mendekati Admina jauh sebelum kita tiba. Entah bagaimana informasi kita bocor atau mereka menggunakan semacam sistem pendeteksi canggih yang bahkan aku pun tak mengetahuinya..."Tentu saja aku sama sekali awam kalau menyangkut urusan militer dan intelijen, namun aku mengerti bahwa kedua kemungkinan tersebut merupakan masalah besar bagi Eolyne. Aku tidak bisa begitu saja mengangkat bahu dan menganggapnya "bukan urusanku," namun aku juga tak punya apa-apa untuk ditambahkan."...Kirito. Aku harus menyelidiki pangkalan itu. Tentu saja, ini akan melibatkan tingkat bahaya tertentu, jadi aku tak bisa memintamu ikut bersamaku...""Tentu saja aku ikut. Itu bahkan bukan sebuah pertanyaan," balasku cepat. Sebelum Eolyne sempat menolak, aku menambahkan, "Kalau aku membiarkanmu pergi sendiri dan terjadi sesuatu padamu, aku tidak tahu harus bilang apa pada Stica dan Laurannei. Lagipula, mungkin hal yang kucari ada di dalam sana. Sebenarnya... jika tidak masalah menggunakan Incarnation, kita tidak perlu mengendap-endap. Aku tinggal mencabut bangunan itu dari tanah dan membongkar dinding serta atapnya satu demi satu...""......"Entah karena merasa kesal atau kagum—kemungkinan besar yang pertama—Eolyne tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Ia memulihkan diri lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Orang-orang di dalam sana mungkin tahu kita jatuh, namun mereka seharusnya belum tahu bahwa kita sudah menemukan pangkalan mereka. Pelakunya mungkin sedang berada di tempat lain saat ini, dan tidak ada ruginya mempertahankan kerahasiaan kita untuk sementara waktu.""Benar juga... Baiklah, aku akan menuruti perintahmu mulai dari sini," umumku. Meskipun Eolyne menatapku curiga, ia menerima tawaran itu."Baiklah. Tapi aku hanya punya satu perintah: Pegang tanganku dan jangan dilepas.""M-memegang tanganmu...? Kurasa kita sudah bukan pada umur yang harus cemas bakal tersesat.""Bukan itu maksudku. Kita harus menggunakan Hollow Incarnation.""H-holo...?"Aku tidak bisa mencerna kata apa yang ia ucapkan dan terpaksa menunggu Eolyne mengejanya di udara untukku."Hollow...? Apa maksudnya?""Itu adalah bentuk tingkat lanjut dari Incarnation-Hiding Incarnation yang tadi kusebutkan: Incarnation yang menghapus keberadaanmu.""Menghapus... keberadaanmu..."Kini giliranku yang benar-benar terguncang. Aku menatap lekat pada topeng kulit putih itu, ternganga, lalu bertanya padanya dengan suara pelan, "Maksudmu membayangkan dirimu sendiri dilenyapkan?""Bukan, bukan seperti itu," kata Eolyne, menggelengkan kepalanya dengan kuat. Dengan nada memperingatkan, ia menjelaskan, "Diyakini mustahil untuk menghapus keberadaanmu sendiri menggunakan kekuatan Incarnation. Lagipula, sumber Incarnation itu adalah dirimu sendiri. Ibaratnya mencoba menggunakan tabung isap mesin pembersih untuk menyedot mesin itu sendiri."Hah! Jadi mereka punya benda semacam alat pengisap debu di sini juga? batinku, mulai terdistraksi. "Itu perumpamaan yang masuk akal," kataku lantang.Mulut Eolyne masih mengerucut. "Tapi dengan tingkat penguasaan Incarnation milikmu, kurasa kamu mungkin bisa membengkokkan hukum alam itu juga, Kirito. Jadi jangan coba-coba menghapus dirimu sendiri dengan Incarnation, bahkan sebagai bahan candaan sekalipun.""A-aku akan menyimpan pelajaran itu baik-baik di dalam hati," janjiku, mengangkat tangan. "Lalu apa sebenarnya Hollow Incarnation ini?""Sederhananya, ini adalah penggunaan Incarnation untuk menghapus dirimu dari persepsi orang lain... Yah, mungkin menghapus bukanlah kata yang tepat... Mengencerkan? Atau mungkin melebur...""Mengencerkan? Melebur...?" ulangku.Dengan perut rata menyentuh tanah, Eolyne mengangkat bahunya. "Akan butuh waktu sejam penuh kalau aku mencoba menjelaskannya dengan detail. Percaya sajalah kalau kamu tetap menempel padaku, para penjaga takkan bisa melihatmu.""B-baiklah... aku percaya padamu.""Bagus. Kalau begitu pegang tanganku," ucapnya, menyodorkan tangan kirinya. Aku meraihnya dan menggenggamnya erat.Eolyne memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang dan pelan.Tiba-tiba saja, aku disergap oleh sensasi yang sangat aneh. Semacam efek riak gelombang terjadi di depan mataku, bermula di hadapanku lalu menyebar ke belakang. Batas antara diriku dan dunia di sekitarku menjadi samar, dan perasaan tanpa beban menyelimutiku, seolah tubuhku memuai ke udara.Sensasi itu mereda dengan sangat cepat namun tidak sepenuhnya hilang. Mengencerkan memang merupakan kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Eksistensiku terasa lebih tipis dari sebelumnya.Di sebelahku, kontur sosok Eolyne beriak-riak halus namun tak terbantahkan. Rasanya seolah kami berdua telah berubah menjadi hantu. Tanpa pikir panjang aku meremas tangannya, dan ia membalas remasanku sebagai tanda menenangkan. Efek penipisan itu hanya terjadi secara visual saja. Fisik kami masih menempati ruang tersebut.Jika sensasi yang benar-benar janggal ini adalah hasil dari manipulasi realitas melalui imajinasi, maka tingkat Incarnation milik Eolyne mungkin tidak sebanding denganku dalam hal kekuatan murni, namun kemahiran tekniknya jauh melampaui milikku.Aku tidak boleh terlalu membanggakan diri hanya karena bisa melakukan hal-hal seperti membuat dinding pelindung atau mengangkat dragoncraft ke udara, tegurku pada diri sendiri. Kami mulai menyusuri perbukitan turun, menyeimbangkan ritme langkah kami dengan saksama.Pangkalan rahasia itu ternyata jauh lebih rumit daripada dugaanku di awal.Gedung itu sendiri merupakan perpaduan kokoh dari kerangka logam dan batu; dindingnya tampak setebal hampir tiga kaki. Terlepas dari omongan besarku tadi, mustahil menganggap remeh urusan mengangkat benda seberat ini hanya dengan Incarnation.Gedung itu tampak memiliki sisi berukuran sekitar lima puluh yard dengan tinggi sepuluh yard. Di sisi barat, yang menghadap ke arah landasan pacu, terdapat gerbang shutter masif bergaya gudang penyimpanan, sementara pintu masuk untuk para personel berada di sisi selatan. Namun kami berjalan mengarah ke gerbang belakang di sisi utara.Para penjaga berseragam gelap berdiri berjaga di kedua sisi gerbang. Mereka tidak membawa pedang maupun tombak, melainkan senjata yang bentuknya sangat jelas mirip dengan senapan. Senapan itu tidak sepenuhnya sama dengan senapan api di dunia nyata, namun pasti akan terasa lebih dari sekadar sakit jika kami tertembak.Namun Eolyne terus berjalan lurus menuju gerbang tersebut, bahkan tidak repot-repot memelankan langkahnya. Para penjaga seharusnya sudah bisa melihat kami sekarang, namun tak ada satu pun dari mereka yang bergeming.Di dasar bukit, permukaan tanah beralih dari ladang bunga menjadi berkerikil kasar. Sepatu bot kami menimbulkan suara berderak tajam yang tidak menyenangkan, yang membuatku cukup panik, namun lagi-lagi para penjaga sama sekali tidak meresponnya. Jika Hollow Incarnation milik Eolyne hanyalah sebatas jubah penyamaran (invisibility cloak), mustahil itu juga mampu membungkam suara tapak kaki kami, jadi tampaknya penjelasannya memang akurat: kemampuan ini benar-benar menghapus eksistensi kami dari kapasitas persepsi para penjaga sama sekali.Hal itu membuatku mengkhawatirkan daya tahannya dalam mempertahankan kondisi ini, namun di titik ini, yang bisa kulakukan hanyalah mempercayainya. Aku menyeimbangkan ritme langkahku dengan Eolyne saat kami mengambil rute terpendek dan paling lurus menuju pintu belakang pangkalan tersebut.Untungnya, pintu gerbang itu terbuka. Kalau kami memang menghalangi para penjaga agar tidak mempersepsikan kami, mungkin kami bisa saja menghempaskan gerbang itu hingga terbuka lebar tanpa menarik perhatian mereka, namun aku tidak sudi menguji coba hipotesis tersebut.Kerikil kasar itu berganti menjadi tegel batu yang tersusun rapi. Tatapan kosong dari raut wajah para penjaga serta kilau gelap dari senapan mereka kini terlihat tajam dan jelas.Mengingat kembali masa-masa saat aku masih di Centoria sebagai murid di Akademi Pedang, tidak pernah ada penjaga yang berdiri diam seperti ini, karena para warga Underworld tidak pernah melanggar aturan mana pun. Jika sebuah tempat diberi label dilarang masuk, kamu tidak perlu menempatkan penjaga di sana karena tak seorang pun bakal nekat menyusup masuk. Hukum fundamental yang mendasari hal itu masih tetap bertahan dua abad kemudian, lalu mengapa pangkalan ini dan Central Cathedral dijaga begitu ketat?Aku sangat ingin melontarkan pertanyaan ini kepada Eolyne—ia berada persis di sebelahku. Namun aku lupa bertanya apakah aku boleh berbicara kepadanya selama Hollow Incarnation masih aktif. Bakal jadi bencana besar kalau aku sampai membuat Incarnation miliknya goyah dan para penjaga itu langsung memergoki kami. Jadi aku menahan pertanyaanku untuk saat ini—yang berarti kemungkinan besar aku bakal melupakannya nanti—dan memilih fokus pada langkah kakiku.Pintu gerbang itu berada di ujung pagar yang menjorok keluar dari sisi bangunan dengan bentuk persegi panjang. Mengingat ini adalah gerbang belakang, lebarnya hanya sekitar sepuluh kaki. Itu artinya, saat kami berjalan bersisian, kami akan berjalan tepat di hadapan para penjaga. Aku pernah mengalami situasi seperti ini berkali-kali di SAO dan ALO, namun tidak seperti situasi di gim-gim tersebut, ini bukanlah quest yang berjalan mengikuti script yang sudah diatur. Bisa jadi para penjaga ini hanya berpura-pura tidak menyadari kami supaya mereka bisa membombardir kami dengan senapan mereka saat kami berada tepat di sebelah mereka.Terus menahan kewaspadaan penuh sembari menyiapkan diri untuk meluncurkan dinding Incarnate pada hitungan peringatan tercepat, aku melangkah melintasi beberapa yard terakhir. Mata para penjaga dari balik helm yang garang beralih ke arah kami, tembus menatap melewatinya, lalu kembali ke posisi semula. Aku merasakan keringat bermunculan di telapak tanganku, namun tangan Eolyne tetap kering, dan teksturnya yang dingin membantu menenangkan serta menyeimbangkan perasaanku.Tangan Eugeo dulu juga terasa seperti ini.Kami berhasil melintasi para penjaga dan masuk ke dalam area berpagar. Tidak ada lagi penjaga yang ditempatkan di pintu belakang bangunannya sendiri. Kami membuka pintu kaca itu tanpa suara dan menyusup masuk, disambut oleh sebuah lorong remang-remang yang membentang lurus ke depan. Tidak ada pos penjagaan maupun konter resepsionis, yang semakin memperjelas bahwa tempat ini sama sekali bukan fasilitas resmi untuk tujuan apa pun.Menyusuri koridor tersebut, sebuah lubang tangga muncul di sisi kanan. Kamu bisa memilih untuk naik atau turun—atau terus melangkah di sepanjang lorong. Aku tidak punya waktu untuk memutuskannya sebelum Eolyne menarikku masuk ke lorong tangga itu. Saat kami bersandar ke dinding, ia melepaskan genggaman tanganku sembari mengembuskan napas panjang.Seketika itu juga, riak gelombang di penglihatanku memudar, dan sensasi berjarak yang ganjil itu langsung sirna. Hollow Incarnation telah dinonaktifkan.Dada Eolyne naik turun memburu udara. Aku bertanya pelan, "Apa kamu tidak apa-apa, Eo?""...Ya, aku tidak apa-apa. Sebentar lagi aku akan membaik."Kendati ia meyakinkanku begitu, ia jelas-jelas terlihat pucat pasi bahkan di bawah sorot lampu lorong yang temaram. Aku meraba sabuk seragamku dan menarik keluar botol logam dari deretan simpul pengikat. Laurannei menyebutnya sebagai ramuan pemulihan konsentrasi tingkat tinggi. Aku membuka tutupnya dan menyodorkannya kepada Eolyne.Kelelahan yang menyertai penggunaan Incarnation tidak berupa penurunan nyawa dalam bentuk angka melainkan terkurasnya fluctlight—alias jiwa itu sendiri—sehingga aku tidak tahu apakah ramuan penyembuh bisa banyak membantu. Eolyne tetap menerimanya lalu mengucapkan terima kasih atas bantuanku.Ia mendekatkan botol kecil itu ke bibirnya dan menenggaknya habis dalam satu tegukan. Saat wajahnya kembali menatap ke depan, ada ekspresi aneh yang tergambar di sana, jadi aku bertanya, "Apa itu, ehem... rasanya agak kurang sedap?""Rasanya kayak... teh cofil sangrai hitam pekat yang dipakai buat mengawetkan acar kulit siral...""Aha."Jadi rasanya seperti kopi lemon yang super kental, batinku.Sama sekali tidak ada papan petunjuk arah di dalam area tangga, jadi tidak jelas fasilitas macam apa saja yang berada di lantai berapa."...Lalu dari mana kita mulai pencariannya?""Menurutmu dari mana?" tanyanya balik.Terkesiap, aku menjawab, "Mungkin dari ruang bawah tanah, kurasa.""Kenapa?""Karena kalau ada orang yang mau menjalankan eksperimen licik secara diam-diam, mereka pasti selalu melakukannya di ruang bawah tanah," jawabku.Aku lalu tersadar bahwa satu-satunya yang ada di bawah Central Cathedral hanyalah penjara sel. Namun hal itu terjadi berkat tabiat keras kepala yang egois dari Yang Mulia Administrator. Jika gerombolan penjahat yang menembak jatuh X'rphan memiliki pandangan yang lebih waras, mereka pasti akan menyembunyikan hal-hal yang tidak ingin dilihat oleh publik di tingkat basement.Eolyne mengiyakan jawabanku yang lugu lalu menjauh dari dinding."Baiklah, mari kita mulai dari ruang bawah tanah. Tidak akan ada lagi Hollow Incarnation mulai dari titik ini, jadi pastikan kamu mengawasi bagian punggung kita.""Siap," jawabku, lalu kami mulai mengendap-endap menuruni tangga.
Komentar (0)
Memuat komentar...