Sword Art Online 026: Unital Ring V

Bagian 13

Estimasi waktu baca: 15 menit

Racun lobelia yang sudah jadi mengisi tepat dua puluh botol kecil. Racun itu cukup mematikan hingga satu tegukan saja bisa membunuh, jadi mereka memiliki cukup persediaan untuk menewaskan lebih dari seratus pemain, namun tawon hijau raksasa itu tampaknya cukup kebal terhadap racun, dan mereka tidak akan begitu saja meminum cairan itu sesuai perintah.
Agak terlambat, Silica mulai bertanya-tanya bagaimana cara mereka memberikan racun tersebut kepada serangga-serangga itu. Syukurlah, para leluhur bangsa Patter telah memecahkan masalah ini dengan cara yang sangat tidak biasa.
Menurut Chett, tawon raksasa itu menyerang kota-kota hewan besar seperti manusia dan demi-human, di mana banyak mangsa berkumpul di satu tempat, lalu menumbuhkan bunga-bunga raksasa di tanah tempat mayat-mayat itu tergeletak. Nektar dari bunga-bunga itulah makanan yang mereka gunakan untuk memperbanyak jumlah mereka, sehingga satu kelompok besar bisa memisahkan diri dari koloni dan memulai koloni yang baru.
Ada banyak bunga mirip raflesia di dalam kubah yang mereka lihat tadi. Itu berarti tempat tersebut dulunya adalah rumah bagi semacam hewan sebelum para tawon menyerbu dan memusnahkan mereka untuk menumbuhkan bunga sebagai gantinya.
"...Artinya kalau sarangnya menjadi terlalu besar, sebagian tawon akan pergi untuk membangun sarang yang baru..." gumam Silica.
Klein menambahkan dengan niat membantu, "Proses itu namanya swarming!"
"Terima kasih, tapi kita tidak butuh fakta hewan acak sekarang," balas Lisbeth tanpa ragu. Bibirnya terkatup rapat. "Kalau itu benar, maka mereka mungkin akan menyerang Ruis na Ríg selanjutnya. Itu adalah alasan lain mengapa kita tidak boleh membuang-buang waktu. Dan dengan durabilitas racun yang sangat terbatas, kita harus melakukannya dengan cepat."
"Benar sekali. Apa semuanya sudah siap?" tanya Sinon, yang mengambil peran sebagai pemimpin raid. Kelompok itu bersorak.
Mereka telah menyelesaikan semua persiapan lainnya selagi lobelia dimasak. Dua puluh empat pemain ikut serta dalam pertempuran ini. Mereka membagi diri menjadi enam party yang beranggotakan tiga hingga lima orang, di mana masing-masing party menerima tiga botol racun. Dua botol terakhir diberikan kepada Argo dan Chett sebagai cadangan karena kelincahan mereka.
Kayu gelondongan yang mereka kumpulkan di dalam gubuk dimasukkan ke dalam ruang inventaris semua pemain tipe strength. Kelompok itu berbagi makanan dan minuman untuk memastikan SP dan TP semua orang terisi penuh, dan moral mereka sedang tinggi-tingginya. Kini satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah berdoa agar metode tradisional bangsa Patter untuk membunuh tawon raksasa ini benar-benar ampuh.
Pada pukul setengah empat sore, kelompok itu kembali melewati terowongan dan menyusup masuk ke dalam kubah di bawah dahan pohon raksasa. Menurut Friscoll, bebatuan dan semak-semak di sekitar pintu masuk kubah berada di luar zona reaksi tawon, jadi mereka membangun dinding kayu gelondongan di sepanjang batas tersebut untuk berfungsi sebagai bridgehead (pangkal pertahanan). Selanjutnya, enam pemain tipe pengintai yang ahli dalam hal mengendap-endap menyusup ke area aktivitas tawon, mengenakan ghillie suit yang mereka buat dengan meniru milik suku Patter.
Tujuannya adalah menuangkan racun lobelia ke bagian tengah kubangan berisi nektar dari puluhan bunga mirip raflesia itu—yang sebenarnya bernama gargamol. Para tawon akan tertarik oleh aroma manisnya, mengisap sebagian nektar beracun tersebut, lalu menderita kelumpuhan.
Jika berhasil, hal itu akan cukup banyak menguras kekuatan tempur musuh, namun para pemain yang menuangkan racun menanggung risiko yang besar. Ghillie suit tidaklah sempurna, jadi seandainya ada tawon yang kebetulan memergoki mereka, dan mereka tidak bisa lari kembali ke bridgehead, mereka bisa saja tewas.
Para sukarelawan untuk misi berbahaya itu adalah Dikkos, yang secara mengejutkan mengambil ability Swiftness, seorang kumbang macan Six bernama Ceecee, Friscoll, Argo, Silica, dan Chett si Patter. Memaparkan NPC pada bahaya mematikan bukanlah hal yang ideal, namun Chett benar-benar bersikeras untuk ikut serta. Ia telah menunjukkan kepada kelompok itu cara mencari bunga lobelia, cara mengekstrak dan menggunakan racunnya, dan bahkan cara membuat ghillie suit, jadi mereka berutang padanya untuk memberikannya hak berpartisipasi dalam misi tersebut jika memang itu yang ia inginkan.
Silica berbisik kepada Sinon agar memberikan perlindungan tembakan senapan jika Chett membutuhkannya, lalu mengikuti Argo melewati bridgehead.
Ia telah naik ke level 17 saat menjelajahi hutan, sehingga total ability point miliknya saat ini berjumlah enam belas. Sejauh ini ia menyimpan separuhnya, dan kini ia menggunakannya untuk Concealment, ability tingkat empat di kelompok Swiftness. Kemampuan itu akan memberikan peningkatan besar pada skill Hiding miliknya—namun tidak seperti pada gim-gim lama yang tradisional, VRMMO selalu menyimpan bahaya tergelincir di lumpur atau tersandung batu. Ia memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak terlalu fokus pada udara di atasnya hingga ceroboh dan tersandung sesuatu di tanah.
Tugas Silica adalah area arah jam sembilan, jika kamu membayangkan kubah tersebut seperti jam dilihat dari atas dan membaginya menjadi enam irisan. Ada banyak rerumputan tinggi di sana-sini di sepanjang jalurnya, jadi ia menunggu celah saat tidak ada tawon di sekitarnya, lalu mengendap-endap dari satu rerumputan ke rerumputan lainnya.
Lebar kubah alami itu mencapai lima puluh yard, jadi jarak dari area tunggu di belakang bridgehead ke zonanya bahkan tidak sampai dua puluh yard. Ia mencapai rumpun rumput tinggi berukuran besar yang berada kira-kira di tengah rutenya dalam waktu sembilan puluh detik, mengambil napas sejenak, lalu memeriksa kondisi yang lain. Ceecee dan Argo memilih menangani dua titik terjauh, dan mereka kini sudah mencapai bagian tengah kubah.
Silica sebelumnya cuma pernah mendengar nama kumbang macan. Hewan itu rupanya berasal dari Australia dan konon merupakan serangga pelari darat tercepat di dunia. Sesuai dengan reputasinya, kaki panjang dan kurus Ceecee bergerak dengan gesit, melesat dari satu tempat berlindung ke tempat berlindung lainnya bagaikan sihir teleportasi. Sementara itu, Argo meluncur di atas tanah semulus seorang ninja.
Bertekad agar tidak menjadi orang terakhir yang tiba di titik posisinya, Silica baru saja bersiap melesat keluar dari rerumputan ketika ia mendengar dengungan keras dan rendah dari kepakan sayap berat persis di atas kepalanya.
Seketika itu juga, ia membeku kaku. Tubuhnya menyatu dengan rerumputan, dan ia membatin, Pergi sana! Pergi! Namun suara dengungan itu hanya bolak-balik dan tak kunjung menjauhi posisinya.
Kalau tawon itu memergoki persembunyiannya, ia pasti sudah menyerang sekarang. Silica harus menengadahkan wajahnya ke atas untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, namun hal itu akan sia-sia jika justru membuat si tawon mendeteksi keberadaannya. Pina sedang menunggu di belakang bridgehead bersama Misha, dan Silica tidak mengenakan senjata maupun baju zirah apa pun yang akan menyembul keluar dari balik ghillie suit-nya. Hal apa yang sedang menarik perhatian tawon itu?
Tiba-tiba, ia bisa mendengar sesuatu yang menggaruk-garuk di dekat bahu kirinya.
Tetap dalam posisinya, ia menjulurkan tangan kanannya untuk mencari sumber suara tersebut. Jari-jarinya menyentuh sebuah benda bulat, jadi ia menggenggamnya dan menarik benda itu dari bahunya agar ia bisa melihatnya langsung.
"!!"
Jeritan tanpa suara meluncur tercekik dari tenggorokannya; butuh seluruh tekad kuatnya agar suara itu tidak benar-benar terlontar keluar.
Menggelepar dan menggerak-gerakkan kakinya di telapak tangannya, terdapat seekor serangga raksasa dengan panjang sekitar empat inci. Tentu saja, makhluk itu tidak terbilang raksasa jika dibandingkan dengan tawon mengerikan yang melayang di atas kepalanya, namun makhluk itu jelas sangat menakutkan menurut standar dunia nyata. Tubuhnya bulat seperti bola dan tembus pandang, dengan cairan berwarna keemasan memenuhi bagian dalamnya. Kepalanya memanjang dan menyempit, dengan mulut menonjol berbentuk jarum. Serangga itu kemungkinan besar menusuk tanaman untuk mengisap getahnya, namun tak ada alasan mengapa ia tidak bisa melakukan hal yang sama pada darah hewan.
Menggenggamnya pastilah terhitung sebagai sebuah serangan, karena gim itu lantas memunculkan tulisan Amber Honeysucker Tick pada kursor di atas kepala serangga tersebut. Jadi itu adalah seekor kutu babi, bukan sekadar serangga—namun fakta itu malah membuatnya terlihat 30 persen lebih menjijikkan. Tapi kalau kutu itu adalah alasan si tawon raksasa melayang di atas kepalanya...
Ilustrasi
"...!"
Hanya dengan sentakan pergelangan tangannya, Silica melemparkan kutu berwarna kuning gading itu ke arah kiri. Kutu bundar yang penuh dengan nektar itu menggelinding dan berjatuhan di atas tanah.
Tiba-tiba, tawon hijau itu menukik turun dengan dengungan yang sangat nyaring. Ia merengkuh kutu tersebut menggunakan keenam kakinya, lalu terbang ke atas. Ternyata tawon itu mengincar kutu pengisap madu itu sedari tadi. Jika Silica tidak menyadarinya saat itu, tawon itu mungkin akan langsung menukik turun menimpa dirinya dan memergokinya di balik penyamarannya.
Mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan sedikit lebih teliti kali ini, ia menyadari kutu-kutu serupa juga berjalan mondar-mandir di sana-sini di seluruh cekungan kubah. Mereka kemungkinan besar adalah jebakan yang ditujukan bagi para pemain yang mencoba menyusup masuk melintasi kubah. Kalau kamu tidak sadar ada kutu yang merayap ke tubuhmu, tawon-tawon itu akan datang untuk mengambil kutu tersebut dan akhirnya menemukanmu.
Ia ingin memperingatkan kelima pemain lainnya namun ia tak bisa berteriak. Ia bisa saja mengirim pesan sistem, namun Chett takkan bisa menerimanya.
Tapi rekan-rekan kita semuanya adalah pemain veteran berpengalaman, dan Chett adalah prajurit yang berani dan pintar. Selama mereka menyadari keberadaan kutu-kutu itu, mereka bakal paham bahaya yang ditimbulkannya, batin Silica. Ia melanjutkan perjalanannya, berhati-hati tidak hanya pada kepakan sayap di atas udara tetapi juga pada pergerakan kutu-kutu di atas tanah. Ia akhirnya berhasil melintasi sisa sepuluh yard terakhir menuju zona tujuannya.
Terdapat enam bunga gargamol di area ini. Ia memiliki tiga botol racun lobelia, jadi ia bisa menggunakan setengah botol untuk setiap bunga. Namun tawon-tawon itu hinggap di atas bunga-bunga tersebut secara bergantian satu per satu untuk mengisap genangan nektar di dalamnya. Ia harus memperhitungkan ketepatan waktunya dengan sangat saksama.
Silica bersembunyi di petak rumput sepuluh kaki dari bunga pertama lalu mengawasi pohon di bagian tengah kubah. Sekalipun pohon itu besar, ukuran sarang tawon yang tumbuh menempel pada batangnya layaknya tumor ganas itu sungguh luar biasa mengerikan. Hanya dalam jarak pandangnya, ada lebih dari seratus ekor tawon yang berlalu lalang keluar masuk sarang tersebut. Kursor tidak muncul di gim ini kecuali kamu menyerang target atau sebaliknya dijadikan target, jadi nama tawon-tawon itu masih belum diketahui.
Menurut Friscoll, yang telah memantau kubah itu mendahului semua orang, aktivitas makan tawon-tawon itu tampak acak, namun begitu seekor tawon sudah minum dari sekuntum bunga, tidak akan ada tawon lain yang mengunjungi bunga yang sama setidaknya selama tiga puluh detik. Dengan kata lain, jika kamu menunggu sampai tawon itu meninggalkan bunganya, kamu akan mendapatkan peluang pasti untuk menuangkan racun lobelia ke dalamnya.
Dilihat dari jarak dekat, bunga gargamol itu cukup tidak sedap dipandang. Yang lebih besar memiliki lebar mencapai enam kaki. Kelopaknya yang tebal berwarna merah keunguan cemerlang dengan banyak bintik-bintik hijau berpendar. Jika ditatap terlalu lama, bunga itu kemungkinan bakal membuat matamu berkunang-kunang. Bunga raflesia asli tidak memiliki tangkai, tumbuh langsung dari tanah, namun bunga gargamol tumbuh di atas batang silinder dengan panjang dan lebar sekitar dua puluh inci. Kutu-kutu pengisap madu itu merangkak naik ke batangnya beberapa ekor sekaligus, menancapkan mulut tajam mereka ke permukaannya yang keras.
Seekor tawon raksasa hinggap di atas kelopak gargamol yang tebal. Antenanya bergoyang sedikit, lalu ia menundukkan kepalanya ke arah bagian tengah yang menyerupai vas dan menancapkannya ke dalam. Kilau metalik di bagian perut tengahnya berkerut-kerut seiring ia meregang dan berkontraksi. Makhluk itu tidak terlihat seperti model 3D mana pun yang pernah dilihat Silica.
Sepuluh detik kemudian, tawon itu menarik kepalanya dari bunga, membersihkan rahangnya menggunakan lengan depan, lalu merentangkan sayap cokelatnya dan terbang melesat.
Sekarang.
Silica muncul dari rerumputan dan berlari menuju bunga gargamol tersebut. Ia mencabut sumbat botol racun itu dan mengulurkan tangannya sejauh mungkin melewati kelopaknya. Jangkauannya pas-pasan untuk bisa mencapai bagian tengahnya, jadi ia memiringkan botol itu dengan hati-hati.
Cairan biru yang nyaris tidak kental mengalir keluar dari mulut botol ke dalam lubang di tengah bunga. Ia memperkirakan sekitar setengah dari isi botol telah tertuang, lalu dengan cepat menegakkan botolnya kembali.
Namun gerakannya itu sedikit terlalu kasar, karena beberapa tetes muncrat keluar dari ujung botol melewati tangan Silica lalu jatuh menimpa kelopak bunga.
Ia berjengit terkejut, lalu menjejalkan sumbatnya dengan erat kembali ke dalam mulut botol. Lebih dari dua puluh detik telah berlalu sejak tawon tadi terbang menjauh. Sepuluh detik adalah waktu tercepat yang dimungkinkan bagi tawon berikutnya untuk datang mendekat.
Ia berjongkok dan bergerak menjauhi gargamol tersebut. Begitu ia kembali bersembunyi di dalam rimbunan rumput yang ia inginkan, barulah ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya.
Saat rapat strategi tadi, ia berasumsi bahwa meneteskan racun itu pada kenyataannya akan mudah, namun dalam praktiknya, hal itu jauh lebih rumit. Kalau saja ada setetes cairan itu yang mendarat di tangannya tadi, ia pasti sudah seketika lumpuh dan terjatuh ke atas bunga. Mengenakan sarung tangan berlapis besi milik Lisbeth sebenarnya bakal memberinya ketahanan racun yang lebih besar, namun sarung tangan itu mengganggu kepekaan di ujung jarinya. Itu adalah masalah lain yang secara unik eksklusif ada di VRMMO. Silica mencatat dalam benaknya untuk mencari sarung tangan kulit tanpa jari seperti yang dipakai Kirito, kalau-kalau ada kenalannya yang punya skill Leatherworking. Ia pun berlari menuju bunga berikutnya.
Aplikasi racun yang kedua, ketiga, dan keempat berjalan jauh lebih mulus, dan ia kini sudah memegang botol terakhirnya.
Lima belas menit telah berlalu sejak misi tersebut dimulai—secara teknis, terhitung sejak racun lobelia itu selesai diracik. Mereka membutuhkan sebanyak mungkin tawon menenggak racun itu sebelum efeknya memudar. Tidak ada waktu untuk disia-siakan.
Ia menunggu dengan tak sabar hingga tawon kelima meninggalkan bunga gargamol, dan ia baru saja keluar dari persembunyiannya ketika ia mendengar jeritan melengking tinggi persis di belakangnya.
"Squeeeeee!"
Ia berbalik dan melihat, sekitar lima belas yard jauhnya, sebuah siluet gelap raksasa lepas landas terbang ke udara.
Awalnya, ia mengira itu adalah tawon raksasa seukuran mammoth, namun dengan cepat ia menyadari kekeliruannya. Itu adalah dua ekor tawon, bekerja sama menggotong sesuatu. Benda itu tampak seperti gumpalan rumput tebal yang mengembang. Bukan...
Itu adalah ghillie suit. Dengan Chett di dalamnya.
Tawon-tawon itu mencengkeram kepala dan punggungnya, namun Chett tidak memberikan perlawanan apa pun, tungkai dan ekornya terayun lemas ke bawah—ia rupanya sudah pingsan. Silica melihat ke arah kursor HP-nya dan mendapati bahwa gadis mungil itu masih memiliki lebih dari 80 persen HP, namun terdapat ikon Debuff yang menampilkan gambar sengat beracun. Salah satu dari tawon itu pastinya telah menyengat dan melumpuhkannya.
Chett adalah yang paling mungil dan paling pandai bersembunyi dari mereka berenam, jadi bagaimana bisa ia dipergoki mendahului yang lain? Apa pun alasannya, mereka harus menyelamatkannya.
Silica meletakkan botol racun di tanah, lalu menyelipkan tangannya ke dalam ghillie suit-nya dan mencengkeram gagang belati baja halusnya di pinggul kirinya. Namun tawon-tawon itu kini sudah berada setinggi dua puluh kaki di udara. Bahkan sword skill bertipe lompatan pun tidak akan bisa membantunya menjangkau mereka sekarang.
"...Sinon!" desis Silica, melirik ke arah bridgehead di sisi selatan kubah.
Sinon rupanya sudah bersimpuh di pinggir struktur pertahanan dengan senapannya yang sudah membidik siap tembak. Namun sedetik berlalu, disusul detik berikutnya, moncong senapan itu tak kunjung memuntahkan peluru.
Tembak! desaknya di dalam hati, lalu barulah ia menyadari apa masalahnya. Posisi kedua tawon itu saling bertumpang tindih dengan tubuh Chett yang lumpuh. Bahkan seorang penembak jitu sehebat Sinon pun akan kesulitan untuk melepaskan tembakan bersih dan sempurna yang hanya mengenai salah satu dari tawon tersebut. Namun jika dibiarkan begini saja, tawon-tawon itu akan membawa Chett ke dalam sarang nun tinggi di atas.
Seandainya saja ada Kirito atau Asuna di sini! batin Silica.
Ia mengatupkan rahangnya. Mereka sedang berada di Underworld, berjuang melakukan yang terbaik. Ia tidak boleh terus bergantung pada refleks yang mengandalkan bantuan orang lain saja. Ia harus berpikir secara mandiri sekarang.
Dua ekor tawon telah memergoki dan menyerang Chett, namun tidak ada satu pun tawon lain di sekitar kubah yang ikut terseret ke dalam aksi tersebut. Tawon-tawon itu mungkin menganggap Patter kecil itu sebagai mangsa, bukan musuh. Itulah mengapa mereka hanya melumpuhkannya, alih-alih membunuhnya di tempat.
Hal itu mungkin berarti mereka tidak akan langsung membunuhnya begitu dibawa ke dalam sarang. Kendati sangat mengerikan untuk dibayangkan, Chett sepertinya memiliki sedikit kelonggaran waktu sebelum tawon-tawon itu mencoba melahapnya. Kalau mereka bisa memusnahkan seluruh koloni tawon sebelum hal itu terjadi, mereka bisa menyelamatkan Chett.
Dengan segenap tekad yang luar biasa, Silica memalingkan tatapannya menjauh dari rekannya yang tak berdaya—dari sahabatnya itu.
Ia bergegas menuangkan sisa racun lobelia ke bunga-bunga gargamol yang belum diberi racun, lalu melempar botol yang sudah kosong. Ia baru saja bergerak kembali menuju bridgehead ketika ia mendengar sesuatu berdebum jatuh menimpa tanah di dekatnya. Itu adalah seekor tawon yang lumpuh.
Berhubung Chett merupakan salah satu anggota raid dan ia telah diserang, kursor mulai bermunculan di atas kepala tawon-tawon tersebut. Nama yang tertera di sana adalah Gilnaris Worker Hornet. Kata pertamanya sama sekali asing bagi Silica, namun ia mengenali kata terakhirnya; hornet (lebah raksasa) merupakan jenis tawon yang paling besar. Di sisi kanan bar HP-nya terdapat ikon bunga biru berlatar belakang hitam. Racun lobelia itu benar-benar bekerja secara ampuh melumpuhkan sang tawon menggunakan bisa pelumpuhnya.
Seekor tawon lain menyusul jatuh... lalu disusul yang lainnya. Tawon-tawon itu berjatuhan tumbang di kanan dan kiri. Kalau mereka bisa menetralisir separuh dari jumlah kawanan itu, maka kelompok raid berukuran sedang berjumlah dua puluh empat orang—atau dua puluh tiga orang tanpa kehadiran Chett—mampu memenangkan pertempuran ini.
Di atas sana, menyadari apa yang menimpa rekan-rekan mereka, lebih banyak lagi tawon yang belum menenggak nektar beracun mulai berdengung dengan kepanikan luar biasa. Begitu pertempuran dimulai, kubah itu pasti akan seketika berubah menjadi medan perang yang brutal.
Takkan ada waktu untuk berpikir lagi setelah itu terjadi. Silica harus terus sigap mengikuti setiap kemungkinan apa pun yang terjadi dan mengambil keputusan terbaik secepat yang ia mampu. Layaknya yang dilakukan Kirito dan Asuna, namun dengan gayanya sendiri.
Silica mencapai bridgehead hampir bersamaan dengan Argo, Ceecee, Friscoll, dan Dikkos. Ia menempelkan sebelah matanya ke sebuah lubang intip dan melihat Chett dibawa masuk ke dalam sarang.
Aku akan menyelamatkanmu. Aku janji, sumpah Silica.
Sang komandan raid, Sinon, berseru dengan nada membara, "Mulai pertempuran! Tim konstruksi, tim perlindungan, maju!"

Komentar (0)

Memuat komentar...