Sword Art Online 026: Unital Ring V

Bagian 4

Estimasi waktu baca: 8 menit

Di langit seberang jendela, pendaran perak yang tadinya jauh kini kian mengecil.
Begitu cahaya itu—yang begitu kecil hingga takkan pernah kauperhatikan kecuali kau tahu keberadaannya—menembus gumpalan awan putih bagai kapas dan lenyap, Asuna melepaskan napas yang sedari tadi ditahannya.
Alice sedang menatap ke arah langit tepat di sebelah kirinya. "Jadi mereka sudah pergi," ucapnya.
"Mereka sudah pergi," balas Asuna. Alice sempat memejamkan matanya sesaat, mengucapkan doa dalam hati, lalu membenamkan dirinya lebih dalam ke dalam air panas yang jernih.
Sepuluh menit sebelumnya, dragoncraft berwarna perak itu meninggalkan Pos Pantau Bintang Fajar. Setelah melepas kepergian mereka, para gadis mengikuti saran Airy dan bergegas turun ke Pemandian Besar yang terletak lima lantai di bawah sana. Airy beralasan hal itu karena mereka tidak bisa melihat pesawat tersebut terbang menjauh melewati pepohonan di atas, namun mereka tidak bisa menepis perasaan bahwa operator itu sebenarnya tahu persis obsesi rahasia mereka terhadap pemandian.
Faktanya, jendela-jendela di Pemandian Besar membentang sampai ke langit-langit dan menawarkan pemandangan langit biru yang jernih ke segala arah. dragoncraft yang membubung secara vertikal itu tampak agak tembus pandang entah bagaimana caranya, sehingga sulit untuk ditemukan, namun bahkan kendaraan pribadi Star King pun tidak bisa menyembunyikan pendaran dari semburan mesinnya. Dengan begitu, mereka dapat memastikan bahwa dragoncraft tersebut berhasil keluar ke luar angkasa dengan selamat, tetapi saat Asuna membenamkan tubuhnya hingga sebahu, ia berpikir bahwa mungkin saja ada orang asing di bawah sana di Centoria yang juga menyaksikannya... atau mungkin dua orang, atau tiga orang.
"Ahhhhh......" Desahan itu lolos dari bibirnya. Tubuhnya diselimuti oleh kenyamanan yang merelaksasikannya hingga ke lubuk hati, bahkan sampai ke dalam benaknya. Rasanya hal ini pernah terjadi sebelumnya, sudah lama sekali.
Sebenarnya... itu bukan sekadar imajinasinya. Kejadian itu terjadi di lantai tujuh Aincrad, bukan? Jadi hampir empat tahun lalu dari sudut pandang saat ini.
Ia dan Kirito berada di sebuah hotel yang terhubung dengan kasino raksasa, pusat dari rentetan pencarian yang panjang, dan mereka sempat berpisah pada suatu titik—yang berujung pada dirinya yang menikmati pemandian hotel yang mewah, meskipun tidak sekolom indah tempat ini. Saat itu ia bersama Argo si informan; seorang gadis NPC yang mengelola kasino; dan NPC lainnya, seorang ksatria dark elf. Ia sangat mengagumi ksatria wanita itu seperti kakaknya sendiri dan membiarkan wanita tersebut menuangkan air ke punggungnya untuk membersihkannya. Lalu wanita itu menunjukkan sisi usil yang jarang dimiliki oleh NPC kebanyakan dan menjalankan jarinya menelusuri tulang belakang Asuna...
Rasa sakit yang tiba-tiba melintas dari punggung Asuna menembus dadanya, membuat napasnya tersangkut di tenggorokan. Ia menepis kembali kenangan itu dan memilih fokus pada sensasi air pemandian yang membelai kulitnya.
Syukurlah, rasa sakit itu melebur seiring berjalannya waktu. Hari-hari itu tidak akan pernah kembali, dan ia tidak akan pernah bisa bersatu kembali dengan ksatria dark elf tersebut atau para NPC lainnya. Namun dunia Aincrad, yang begitu keras mereka perjuangkan untuk bertahan hidup, telah menjadi tempat buaian dari mana pohon besar Seed Nexus tumbuh, dan bunga yang mekar di cabang tertingginya adalah Underworld.
Segala sesuatu saling terhubung dan mengalir bersama. Dahan dan ranting pohon itu telah disatukan ke dalam Unital Ring untuk menjadi satu. Hal itu hampir seperti Sefirot, pohon kehidupan dalam mistisisme Kabbalah.
Entah mengapa, ia memikirkan ejaan dari Aincrad. Kirito sempat mengatakan bahwa sebelum insiden Akihiko Kayaba dimatikan, diumumkan bahwa "Aincrad" adalah singkatan dari "An INCarnating RADius."
Namun pohon Sefirot bermula dari Ain, terinspirasi dari Ayin, kata dalam bahasa Ibrani untuk ketiadaan, bukan? Jika bagian itu dipotong, yang tersisa adalah crad. Ia tidak tahu apakah itu adalah suku kata atau kata dalam bahasa Ibrani, namun jika itu bahasa Inggris, kata pertama yang terlintas di pikirannya adalah cradle (buaian). Buaian dari ketiadaan.
Namun bukankah dalam Kabbalah, hal yang tak terbatas berasal dari ketiadaan? Dan dari ketidakterbatasan itulah muncul......
Asuna membiarkan sisa kenangan itu menggantung di sana dan menghela napas. Percuma saja mencoba memahami jalan pikiran Akihiko Kayaba. Demi mimpinya akan dunia alternatif yang sesungguhnya, ia menjebak sepuluh ribu orang nyata, membiarkan empat ribu dari mereka tewas, sementara di saat yang sama dengan tenang memainkan peran Heathcliff, pemimpin Knights of the Blood. Tidak ada cara untuk memahami isi kepala orang seperti dirinya.
Namun jika menyangkut sistem full-dive yang dikembangkannya serta evolusinya—Soul Translation—ia tidak bisa menahan rasa takjub yang luar biasa.
Hingga saat ini, ia telah merasakan tak terhitung banyaknya pemandian tidak hanya di dunia nyata, tetapi di berbagai jenis gim VRMMO, dan rasanya pemandian di Underworld melampaui dunia nyata. Bukan hanya karena tidak ada hal yang terasa janggal pada pergerakan cairan dan sensasi kulitnya, namun sensasi kelegaan yang begitu luar biasa jelas membuat jiwanya seolah-olah ikut berendam di dalam pemandian tersebut.
Namun hal itu memang masuk akal; Rath mengembangkan Soul Translator untuk memungkinkan jiwa manusia mengakses simulasinya. Kendati demikian, dibandingkan dengan saat terakhir kali ia berada di pemandian khusus ini—dua bulan lalu di dunia nyata, dua ratus tahun yang lalu dalam kalender Era Stellar—ketepatan kesensoran rasanya telah dibawa ke level yang sepenuhnya baru.
Kalau aku terlalu terbiasa dengan pemandian ini, aku tidak akan merasa puas lagi dengan pemandian di rumah, pikirnya, merasa cemas. Semuanya terasa begitu menenangkan.
"Hei! Sti, apa yang kaulakukan?!" seseorang berteriak, disusul oleh cipratan air yang sangat besar.
Di seberang pemandian raksasa itu, seorang gadis berambut merah sedang berenang ke arah sini menggunakan gaya batu yang bersemangat. Pemandian itu memiliki panjang keseluruhan 130 kaki dan lebar lebih dari 60 kaki, jadi wajar saja jika seseorang ingin berenang di dalamnya... dan kemudian terdengar cipratan air lainnya.
Tepat setelah menegur Stica, Laurannei memutuskan untuk melompat ke dalam pemandian dari koridor di tengah. Dengan teknik yang sempurna, ia segera menyusul rekannya dan mulai memimpin di depan. Sebagai respons, Stica mempercepat lajunya, dan kedua pilot itu melanjutkan balapan mereka melewati Asuna dan Alice ke arah sebaliknya.
"...Aku dulu juga pernah berlatih berenang di pemandian ini. Tentu saja, itu kulakukan hanya saat ruangannya kosong," gumam Alice pelan.
Asuna terkikik. "Waktu aku masih kecil, aku berenang di pemandian di Kurhaus... itulah nama pemandian umum yang sangat besar di dunia nyata. Ibuku sangat marah besar padaku."
Saat itulah Asuna teringat bahwa orang tua Alice telah meninggal bertahun-tahun lalu setelah masa kecilnya di Rulid. Namun ia tidak sempat meminta maaf atas ucapannya tersebut.
"Jangan merasa kasihan padaku," ucap Alice cepat. "Aku tidak punya ingatan apa pun tentang masa kecil awalku... aku tidak bisa meminta lebih banyak selain kesempatan untuk bisa bersatu kembali dengan Selka."
Asuna mengulurkan tangannya di bawah air, mencoba menyentuh tangan Alice. Ketika ia menemukannya, ia menggenggamnya erat-erat. "Kirito pasti akan menemukan seni suci yang bisa membatalkan pembekuan itu. Dia pasti menemukannya."
"Ya, aku juga mempercayainya. Hanya saja...," Alice menggantung kalimatnya. Seolah bertanya pada dirinya sendiri maupun siapapun, ia melanjutkan, "Kenapa Kirito—sang Star King—menyembunyikan formula itu di Admina? Jika beliau menginginkan tempat yang aman, tidak ada tempat yang lebih aman selain lantai-lantai atas Central Cathedral."
"Itu... benar juga...," gumam Asuna sambil menatap permukaan air.
Seekor bola bulu kecil berwarna cokelat berenang perlahan dari kanan ke kiri, memunculkan suara cipratan kecil. Itu adalah Natsu, hewan peliharaan Airy. Alice mencatat dengan nada datar, "Jadi... tikus itu bisa berenang..."
"Wetrat bertelinga panjang menghuni wilayah rawa-rawa di sebelah utara ibu kota," jawab Airy yang mendekat dari belakang Natsu. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, tampak sedikit malu-malu, lalu menjelaskan, "Mereka memiliki selaput di antara jari-jari kakinya, jadi jika mereka berenang dengan sekuat tenaga, kecepatan mereka bahkan melebihi ikan."
"Oh, aku... tidak tahu soal itu..."
Natsu bereaksi karena menjadi pusat perhatian dengan cara menyelam ke dalam air. Makhluk itu berubah menjadi bayangan gelap yang hampir tak terlihat, melesat pergi dengan kecepatan yang mencengangkan. Di hadapannya, Stica dan Laurannei telah berputar arah di ujung kiri pemandian dan masih berenang berdampingan secara paralel. Natsu melakukan putaran di belakang mereka, mendahului mereka dengan mudah, lalu melanjutkan perjalanannya menuju ujung kanan. Tepat sebelum mencapai garis akhir, makhluk itu melompat keluar dari air dan mendarat di jalur marmer, berbalik sambil berseru bangga, "Kurrrrrr, kyurrr!"
Asuna, yang tidak mengerti bahasa hewan pengerat, seketika langsung memahami artinya: "Aku menang!"
Demonstrasi itu cukup untuk melerai balapan antara Stica dan Laurannei, yang menatap Natsu yang keluar sebagai pemenang dengan tertegun. Setelah beberapa saat, mereka berdua mulai bertepuk tangan. Natsu berbalik, bahkan tampak lebih bangga dari sebelumnya, membusungkan dadanya hingga ia terjatuh telentang.
"Ha... ha-ha-ha...," tawa Alice pelan, tak kuasa menahannya. Asuna ikut bergabung. Bahkan Airy pun mulai tertawa, lembut dan penuh keanggunan.
Saat air di sekelilingnya bergetar mengikuti tawanya, Asuna berpikir, Aku harus melindungi dunia ini. Tidak ada pilihan lain. Aku tidak boleh membiarkan siapa pun menghancurkannya sebelum momen yang diprediksikan oleh Dr. Koujiro pada konferensi pers sebulan lalu menjadi kenyataan: sebuah dunia di mana orang-orang dari dunia nyata dan warga Underworld dapat berinteraksi sebagai sesama manusia yang setara.
Itulah tugas yang telah dipercayakan kepadaku sebagai imbalan atas kekuatanku sebagai Stacia, Goddess of Creation...

Komentar (0)

Memuat komentar...