Sword Art Online 027: Unital Ring VI

Bagian 2

Estimasi waktu baca: 30 menit

Mataku mengerjap terbuka, menampakkan langit-langit metalik dengan lampu panel yang diatur pada tingkat pencahayaan rendah.
Itu adalah ruang STL di kantor Rath Roppongi. Blok kepala Soul Translator sudah terbuka, tidak lagi terpasang melingkupi kepalaku seperti biasanya.
Dengan perlahan dan lembut, aku mendudukkan diri dari ranjang gel. Di dekat sana, aku bisa melihat Alice dalam balutan seragamnya, beristirahat di kursi rebah darurat. Ia belum sepenuhnya terbangun; matanya terpejam dan tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
Di sebelah ranjang STL lainnya, Asuna—yang mengenakan gaun khusus untuk penyelaman penuh—mengangkat kedua lengannya dan meregangkan badan. Ketika ia menyadari aku sedang memperhatikannya, ia menyeringai penuh rasa bersalah dan bergumam, "Kerja bagus di dalam sana, Kirito."
"Kamu juga, Asuna."
Aku turun dari ranjang, meraih sebotol air mineral dari troli beroda di sepanjang dinding, lalu membawanya kembali ke arah Asuna. Aku membuka tutupnya dan menyerahkannya padanya. Asuna mengucapkan terima kasih lalu langsung meneguk air tersebut dengan lahap.
Pemandangan saat ia minum tiba-tiba membuatku sangat menyadari rasa haus yang kurasakan sendiri. Mengingat kembali hari ini, aku telah meninggalkan rumah sejak pukul lima pagi dan mulai menyelam ke Underworld lewat pukul tujuh, jadi aku belum makan atau minum setetes pun selama sepuluh jam penuh. Dr. Koujiro memberi kami batas waktu yang ketat karena bertahan dalam penyelaman tanpa henti lebih lama dari itu akan memerlukan infus cairan.
Aku membuka botol lainnya dan menghabiskan hampir setengahnya dalam sekali teguk sebelum menarik napas. Setelah rasa haus teratasi, hal berikutnya yang menuntut perhatian adalah rasa laparku; sayangnya, tidak ada makanan di atas troli karena hal tersebut memang tidak diizinkan di dalam ruangan.
Di saat-saat seperti inilah aku merasa iri pada tubuh mekanik Alice. Ia tidak butuh makanan atau air, meskipun ia pasti memiliki segudang masalah fisik lain yang tidak kuketahui.
Sementara pikiran-pikiran itu dan banyak hal lainnya berkelebat di benakku, aku merogoh tas di rak terbawah troli dan mengeluarkan ponselku. Saat sistem pengenalan wajah menyalakan layar, Yui muncul di sana.
"Papa, Mama, kalian sudah selesai menyelamnya!"
"Terima kasih sudah menunggu kami, Yui," jawabku, lalu mengarahkan ponsel ke arah Asuna. Ia tersenyum dan melambaikan tangan. "Terima kasih sudah menjaga kami, Yui. Tidak ada masalah, kan?"
"Betul. Tidak ada upaya meretas jaringan internal Rath. Dan tidak ada orang atau benda mencurigakan yang muncul di kamera pengawas."
"Baguslah. Kami bisa bersantai dan fokus menyelam berkat bantuanmu, Yui."
"Eh-heh-heh," ia terkikik. "Kalau begitu, aku akan kembali ke Unital Ring sekarang. Nanti kita ngobrol lagi, Papa dan Mama!"
"Sampaikan salam kami pada semuanya," kataku sambil memutar layar kembali ke arahku.
Yui menjawab, "Pasti!" lalu menghilang.
Begitu ponselku masuk kembali ke dalam tas, sebuah pemikiran melintas di benakku, dan aku menoleh ke arah kursi rebah. Mata Alice masih terpejam. Seharusnya kita keluar dari sistem secara bersamaan, pikirku dengan cemas.
Asuna jelas memikirkan hal yang sama. "Dia belum bangun juga?"
"Ya... sudah hampir tiga menit. Jangan-jangan ada masalah koneksi..."
"Kurasa tidak ada gunanya mengguncang tubuhnya," ucap Asuna, namun ia tetap bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kursi rebah. Tepat sebelum tangan yang diulurkannya menyentuh bahu Alice, suara motor pintu geser menginterupsinya.
Sesosok figur berjas lab putih—Dr. Koujiro—memasuki ruangan bersama satu orang lainnya.
"Kirigaya, Asuna, selamat datang kembali. Sudah minum?" tanyanya.
Aku mengangkat botol air di tanganku. "Sudah. Tapi aku minta maaf karena tidak bisa keluar sebelum jam lima."
"Itu juga yang terjadi terakhir kali. Aku sudah punya firasat." Ia mengangkat bahu.
"Rinko," kata Asuna, "Alice belum bangun. Apa terjadi sesuatu...?"
"Oh, bukan begitu. Karena kalian bertiga tidak kembali sebelum pukul lima, aku menduga ada hal penting yang sedang terjadi di sana, jadi beliau dan aku memutuskan untuk membiarkannya melanjutkan penyelaman," ujar Dr. Koujiro sambil melirik ke sebelah bahu kirinya.
Berdiri di belakangnya adalah seorang pria bertubuh tinggi yang mengenakan kombinasi gaya modis berupa jaket linen keren dan kemeja kerah pita, lengkap dengan kacamata tanpa bingkai berensa agak gelap. Setiap kali aku bertemu dengannya, ia selalu tampil dengan gaya yang sangat berbeda, dan meskipun ia selalu tampak ramah pada awalnya, senyum misterius itu tidak pernah berubah.
"Eh, Pak Kikuoka. Apa yang Anda lakukan di sini?" tanyaku.
Seijirou Kikuoka—yang terkadang menjadi anggota Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi, terkadang bagian dari Pasukan Bela Diri, namun sebenarnya memiliki identitas yang jauh lebih misterius dari itu—mengubah senyumannya menjadi meringis. "Ayolah, aku ini pendiri Rath. Seharusnya tidak begitu mengejutkan kalau aku ada di sini."
"Dari yang kudengar, Anda melimpahkan peran publik kepada Rinko dan malah jalan-jalan santai sepanjang waktu."
"Wah, jalan-jalan santai adalah sebutan yang kasar..." protes Kikuoka sambil merentangkan kedua tangannya secara teatrikal.
Asuna membungkuk kecil kepadanya. "Senang bisa berjumpa dengan Anda lagi, Pak Kikuoka."
"Ah, ya. Sudah berapa lama ya, sekitar dua bulan? Aku senang kalian terlihat sehat."
"Terima kasih. Bagaimana pemulihan Anda, Pak Kikuoka?"
"Aku sudah dinyatakan pulih total sejak lama. Yang tersisa hanyalah beberapa bekas luka."
Meskipun terdengar seperti percakapan akrab, aku bisa merasakan semacam ketegangan gugup di balik kata-kata mereka. Asuna pernah berkata bahwa ia merasa Kikuoka berada dalam kategori "di antara orang baik dan orang yang tidak begitu baik". Dan Kikuoka tampak sedikit defensif, entah karena merasa bersalah terus menyeret kami ke dalam masalah atau karena alasan lain yang tidak kuketahui.
Setidaknya ini adalah dunia nyata, di mana Asuna tidak bisa secara fisik menggantung Kikuoka dari berbagai bagian tubuhnya, pikirku dalam hati.
Dr. Koujiro bertepuk tangan dengan sigap. "Nah, mari kita bersiap agar kalian berdua bisa pulang. Keluarga kalian akan khawatir jika kalian terlalu larut kembali."
"Eh... tidak mau dengar cerita tentang penyelaman kami?" tanyaku.
Ia melirik ke arah kursi rebah. "Aku akan mendengarnya dari Alice nanti. Maaf karena membebani kalian yang sedang kelelahan setelah penyelaman panjang, tapi maukah kalian menceritakan kisahnya kepada Letnan—ah, maaf, kepada Pak Kikuoka?"
"Boleh saja, tapi itu akan memakan waktu jauh lebih lama daripada dua atau tiga menit."
"Tidak masalah," ucap Kikuoka sambil mempermainkan kunci mobil di antara jemarinya. "Aku yang akan mengantar kamu dan Asuna pulang, jadi kita punya waktu di mobil untuk ngobrol. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan juga."
"Mau bertanya, ya...?"
Aku menatapnya dengan curiga, berharap ia tidak hendak menimpakan lebih banyak pekerjaan ke pundakku. Kikuoka dengan santai mengabaikan tatapan itu dan berjalan menuju pintu.
"Begitu kalian selesai berganti pakaian dan semacamnya, naiklah lift ke garasi di lantai basement kedua. Sampai jumpa di sana."
Pintu itu terbuka, lalu tertutup kembali.
Asuna berbalik ke arah kami dan bertanya pelan kepada Dr. Koujiro, "Bagaimana status Pak Kikuoka sekarang? Di atas kertas, apakah dia masih tercatat tewas di Ocean Turtle?"
Aku telah menanyakan pertanyaan persis yang sama sebelum penyelaman pagi tadi. Dr. Koujiro mengabaikanku dengan menyuruhku bertanya langsung kepadanya, namun aku berharap kali ini ia mau menjawab dengan serius.
"Yah, aku bisa memberitahumu, tapi kurasa kalian hanya akan mengira aku sedang bercanda untuk melepaskan diri dari kalian..."
"Aku tidak akan mengira begitu!" seru Asuna.
Dokter itu menatapku penuh penekanan sebelum berkata, "Reizaburou Kikuoka."
"Huh?" ucap Asuna dan aku bersamaan. Aku bertukar pandang dengan Asuna, lalu bertanya, "S-siapa itu...?"
"Saudara kembar Seijirou."
"...Pak Kikuoka punya saudara kembar...? Jadi dia meminjam identitas saudaranya itu?" tanya Asuna heran.
Namun Dr. Koujiro hanya memasang ekspresi jengkel yang sama seperti sepuluh jam lalu dan menggelengkan kepala. "Tidak, orang itu tidak ada. Higa memodifikasi registrasi kota, register duplikat biro regional, dan sensus nasional untuk menciptakan saudara baginya dari udara kosong."
Kami tertegun bisu. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin diajukan—Bagaimana dia melakukan itu? Bukankah itu sebuah kejahatan?—tetapi rasanya percuma juga untuk dipusingkan.
Pada akhirnya, Asuna hanya berkata, "Baiklah, aku akan berganti pakaian," lalu berjalan ke balik sekrup yang dipasang di sudut ruangan. Kurang dari satu menit, ia sudah berganti dari gaun penyelamannya ke pakaian biasa dan kembali. Aku hanya melepas pakaian luar saat menyelam, jadi aku tidak perlu mengganti apa pun.
"Um... kalau memungkinkan, aku ingin Alice menginap di sana malam ini," usulku.
Dr. Koujiro mengangguk. "Itu memang rencanaku. Pastikan kalian berdua tidur yang nyenyak malam ini."
"Terima kasih. Aku akan melakukannya."
"Aku juga. Sampai jumpa," tambah Asuna sambil membungkuk. Aku ikut membungkuk, lalu mengikutinya keluar dari ruang STL.
Kami naik lift turun ke garasi dan mendapati sebuah mobil telah menunggu kami. Itu adalah sebuah sedan ukuran sedang dengan warna dan gaya yang tidak mencolok. Aku mengintip melalui jendela samping ke arah kursi pengemudi, di mana Kikuoka melihatku dan menunjuk ke kursi belakang di sebelah kirinya.
Aku membuka pintu dan masuk. Sebenarnya aku lebih suka mendahulukan wanita, tetapi Asuna akan diantar lebih dulu sebelum aku, yang membuat keluar lewat sisi kiri nanti akan merepotkan.
Asuna masuk setelah aku dan menutup pintu, menghasilkan bunyi bumf berat yang memuaskan. Logo di roda kemudi berasal dari produsen Swedia yang kukenal. Untuk ukuran mobil asing, ini jelas jenis mobil yang bersahaja namun berkualitas tinggi.
"Terima kasih sudah menunggu," kataku dari kursi belakang. "Mengingat kepribadianmu, aku tadinya mengira kamu akan pakai mobil yang tampak jauh lebih mencurigakan."
Kikuoka terkekeh. "Dan aku memang mengendarai mobil yang jauh lebih mencurigakan saat aku punya waktu luang. Tapi ini adalah mobil perusahaan Rath."
"Oh, begitu rupanya..."
Ini pasti pilihan Rinko, pikirku sambil mengeklik sabuk pengaman. Setelah memastikan Asuna melakukan hal yang sama, aku berkata, "Baiklah, ayo jalan."
"Terima kasih tumpangannya," tambah Asuna.
Kikuoka meletakkan kedua tangannya di setir dan berkata datar, "Baiklah kalau begitu." Disusul deruman halus, mesin mobil pun hidup. Meskipun berukuran sedang, mobil seberat hampir dua ton itu hampir tidak bergetar sama sekali saat meluncur mulus ke depan. Hal itu mengingatkan ku pada mechamobile berelemen panas yang kukuasai di Underworld.
Kendaraan listrik itu dengan mudah menaiki tanjakan curam di pintu keluar garasi, lalu berbelok ke Jalan Museum Seni dan mempercepat laju. Dari sini ke rumah Asuna di Miyasaka, Setagaya Ward, butuh waktu dua puluh menit lewat Rute 246—yah, di jam sibuk seperti ini, mungkin sekitar tiga puluh menit.
Bahkan waktu segitu sepertinya tidak akan cukup untuk menceritakan semua informasi yang kami peroleh dari penyelaman hari ini, tetapi aku tidak perlu menceritakan semuanya kepada Kikuoka. Ia memintaku mengidentifikasi orang yang menggunakan fungsi konversi The Seed untuk menyusup ke Underworld. Ia tidak perlu tahu tentang situasi keluarga Eolyne, atau cerita lengkap bagaimana kami membebaskan Selka dan yang lainnya dari pembekuan.
Namun kami tetap tidak memiliki petunjuk apa pun yang mengarah pada penyusup sebenarnya, batinku penuh penyesalan. Kendati demikian, aku menyibukkan diri mencoba merangkum apa yang telah terjadi di dalam kepalaku.
"Kirito, ada sebuah kotak di kursi penumpang. Maukah kamu membukanya untukku?" tanya Kikuoka. Terkejut, aku melirik melewati konsol tengah ke kursi di sebelah kirinya. Memang ada sebuah kotak kertas polos, lebih besar dari kotak sepatu, tergeletak di sana. Aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya dan meletakkannya di kursi belakang di antara Asuna dan aku.
Jika kotak itu dibungkus kado, aku mungkin akan mengiranya sebagai hadiah ulang tahun telat tiga hari untuk Asuna, tetapi tidak ada sehelai pita pun di sana. Sebaliknya, seseorang menuliskan Test 4 di atasnya menggunakan spidol hitam. Kami berdua saling bertukar pandang, lalu aku membuka penutupnya agar kami bisa melihat bagian dalam.
"Hah—?!"
"Wah!!"
Isinya sungguh mengejutkan.
Meringkuk di tengah tumpukan bahan pelindung adalah seekor anak kucing yang usianya sepertinya belum genap beberapa bulan.
"Jangan taruh kucing di dalam kotak seperti ini!" bentakku, mengulurkan kedua tangan untuk mengangkat anak kucing abu-abu yang berbulu lembut itu. Seketika itu juga, aku membungkuk kaget. Tubuh anak kucing itu terasa benar-benar dingin dan keras. Tepat sebelum aku menjerit dan melepaskannya, aku menyadari bahwa itu bukan bangkai sungguhan. Pertama-tama, beratnya terlalu berlebihan untuk ukuran anak kucing sebesar ini, dan ada sesuatu yang ganjil serta salah pada bentuk persendiannya.
"Apakah ini... palsu?" gumamku.
Asuna sama takjubnya. Ia mengulurkan tangan dengan ragu-ragu untuk menyentuh punggung anak kucing itu. "Oh... benar juga. Apa ini, Pak Kikuoka?"
"Robot jenis kucing dari masa depan," jawabnya sinis, merujuk pada karakter terkenal tertentu. "Cuma bercanda. Ada tombol di bawah lambung kanannya. Tekan dan tahan."
Aku meraba bagian bawah sendi kaki depan kanan dan menemukan sebuah benda bulat menonjol. Seperti yang ia katakan, aku menekannya selama beberapa detik.
Tiba-tiba, anak kucing itu bergetar. Matanya yang terpejam terbuka lebar, dan ia menatap langsung ke arahku.
"Meowww," ia mengeong dengan menggemaskan, namun diiringi sedikit nada protes. Aku buru-buru menjatuhkan kotak kosong itu ke lantai dan menurunkan anak kucing tersebut ke jok di antara Asuna dan aku. Ia memutar tubuhnya dan melompat turun dari tanganku ke jok, lalu meregangkan badan dengan gerakan yang sangat alami, kemudian mendongak menatap Asuna.
"Mewww," ia mengeong manja, jelas-jelas sedang mencari perhatian Asuna. Mata Asuna langsung berbinar. Ia menggaruk dagu anak kucing itu. Kucing tersebut menikmatinya sejenak, lalu melompat ke pangkuan Asuna dan meringkuk. Ia bahkan mulai mendengkur (purr), persis seperti kucing sungguhan.
Aku mengamatinya selama beberapa detik sebelum mencondongkan tubuh ke arah sandaran kepala di depanku untuk bertanya, "Pak Kikuoka, benda ini benar-benar robot...?"
"Kamu tadi menyalakannya, kan? Ini adalah model uji robot peliharaan, menggunakan aktuator CNT yang sama—otot buatan—dari tubuh mekanik Alice. Higa mencurahkan banyak kerja keras untuk benda ini."
"Begitu ya... Pantesan aku sudah lama tidak melihatnya. Dia pasti sibuk mengerjakan benda ini," komentarku, lalu merasa malu karena sempat terpeleset menggunakan gaya bicara Higa sedetik tadi. Aku menambahkan, "J-jadi ini hobinya? Atau hobi Anda?"
"Ayolah. Jumlah uang yang menggelinding untuk mengembangkan model itu luar biasa besar. Dr. Koujiro akan menghajarku sampai babak belur kalau aku menghamburkan uang sebanyak itu cuma buat 'hobi'," kata Kikuoka dengan tidak nyaman. Ia memutar kemudi ke kanan, dan kendaraan listrik kami meluncur mulus melewati persimpangan di Nishiazabu.
Seperti yang kuduga, Jalan Roppongi sangat padat pada Sabtu malam, tetapi tidak sampai membuat kami berhenti total. Ada sebuah peta navigasi layar multi besar di bagian depan yang menunjukkan lalu lintas di sekitar Stasiun Shibuya mulai terurai. Kami toh akan tiba di rumah Asuna sebelum jam enam.
Tapi kembali ke robot kucing berbulu tadi. Bulunya begitu realistis, rasanya tidak mungkin itu buatan artifisial. "Kalau ini bukan untuk hobi," gumamku, "lalu untuk apa...?"
"Apakah kalian mau menjadikannya produk komersial?" tanya Asuna sambil mengelus anak kucing tersebut. Mulutku menganga. Pasti bukan itu tujuannya, pikirku, namun pengemudi kami tidak henti-hentinya memuji kepekaannya.
"Kamu sangat jeli, Asuna. Betul sekali... Kami berniat memasarkannya paling cepat tahun depan."
"Hahhh? Rath mau menjual benda-benda ini?" tanyaku terperangah.
Kikuoka memutar bola matanya tanpa bisa ditangkap jelas. "Tentu saja tidak. Kami hanya menangani perencanaan dan pengembangan. Produksi dan distribusinya harus dilakukan oleh produsen besar, perusahaan seperti RCT Progress."
Mataku langsung beralih menatap Asuna saat mendengar nama itu disebut. Putri dari mantan CEO RCT Progress itu hanya tersenyum dan berkata dengan tenang, "RCT Progress pernah menjual robot peliharaan di masa lalu, jadi aku yakin mereka akan tertarik. Meskipun negosiasinya pasti akan sangat sulit."
"Ha-ha-ha, kurasa memang begitu. Tapi aku yakin teknologi robotik kita adalah yang terbaik di dunia. Cukup melihat Yon-chan di sana akan meyakinkan siapa pun tentang hal itu."
"Yon-chan...?"
Asuna dan aku kembali bertukar pandang. Robot-robot buatan Rath berawal dari Ichiemon dan Niemon, para pahlawan Ocean Turtle, jadi aku harus berasumsi bahwa "Yon-chan" adalah nama panggilan untuk Test Prototype Four di sini, seperti yang tertera pada tulisan di kotak. Siapa sih orang kurang kreatif yang memberi nama pada robot-robot malang ini?
Tidak, jangan buang waktu memikirkan hal itu, kataku pada diri sendiri, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus Yon-chan yang sedang meringkuk di pangkuan Asuna. Saat pertama kali menyentuhnya, tubuhnya begitu dingin sampai-sampai aku mengira kucing itu sudah mati, tetapi sekarang setelah mesin dan baterainya aktif, rasanya agak hangat saat disentuh.
"Ya, kamu mungkin bisa menjual banyak barang ini..." bisikku pada diri sendiri.
Kikuoka mendengarnya dan berkata dengan gembira, "Kan? Dan jika Rath bisa mendapatkan beberapa sumber pendapatan yang stabil dan mandiri seperti ini, kita akan lebih mudah menangkis faksi yang ingin proyek Underworld dibubarkan."
Yah, jika tujuannya seperti itu, maka rencana pengembangan robot peliharaan yang tadinya terasa muncul entah dari mana ini sukses mendapatkan dukunganku. Aku menatap wajah Kikuoka melalui kaca spion dan bertanya, "Kalau hal yang ingin kamu bicarakan dengan kami adalah robot peliharaan ini, itu berarti kamu ingin kami melakukan sesuatu untukmu, kan? Apa lagi kali ini?"
Di dalam kaca spion, aku melihatnya menyeringai.
"Aku senang kamu begitu peka."
"Lucu sekali—biasanya aku mendengar kebalikannya."
"Masalahnya adalah... Yon-chan di sana sudah hampir memenuhi semua target kita pada perangkat keras (hardware). Perangkat lunak (software)-nya lah yang sedang kita hadapi masalah."
"Begitukah...?" tanya Asuna terkejut. "Tapi rasanya begitu nyata bagiku."
Aku harus setuju. Cara ia meregangkan badan dan melompat ke pangkuan Asuna terasa sangat meyakinkan. Namun Kikuoka hanya menggelengkan kepala.
"Reaksinya terhadap sentuhan manusia sudah bagus. Masalahnya adalah tindakan spontannya... Jika kamu memprogram apa yang harus dilakukan dari A sampai Z, robot itu jadi tidak punya kepribadian, dan jika kamu menyerahkannya pada AI, ia akhirnya berhenti bertingkah seperti kucing sungguhan. Kemarin, sebelum kita mereset data pembelajarannya, Yon-chan sempat mencoba berjalan dengan dua kaki."
"......Meskipun sebenarnya mungkin ada juga pasar yang meminati hal itu," gumamku pelan. "Jadi apa yang ingin kamu suruh kami lakukan? Rasanya tidak mungkin ada hal yang bisa kami kerjakan tapi tidak bisa dilakukan oleh Higa."
"Oh, aku tidak memintamu melakukan apa pun soal Yon-chan. Hanya saja, eh... Apakah ada kucing di Underworld juga, Kirito?"
"Hah? Yah, ada sih..."
"Apakah mereka benar-benar bersikap seperti kucing?"
"Mereka tidak berjalan dengan dua kaki atau menggonggong seperti anjing, kalau itu yang kamu maksud," kataku, lalu menyadari arah pembicaraannya. "Tunggu... apakah kamu menyarankan agar aku membawa keluar kucing dari Underworld bersamaku?"
"Tepat sekali," katanya sambil menyeringai lagi. Dengan cepat ia menjelaskan, "Waktu kita mulai menjalankan simulasi Underworld, hewan hanyalah program sederhana yang disertakan dalam The Seed Package, tapi setelah lima abad belajar dalam waktu internal, mereka seharusnya sudah memperoleh tingkat kerumitan yang canggih dan sangat matang, kurasa. Aku hanya tidak habis pikir bagaimana persisnya simulasi itu berhasil menciptakan kucing yang benar-benar mirip kucing dan anjing yang mirip anjing."
Komentarnya mengingatkanku pada Natsu, teman tikus basah bertelinga panjang milik Airy. Itu bukan kucing, melainkan tikus—bahkan lebih mirip kelinci. Namun cara ia mengambil kacang dengan kedua tangan lalu mengunyahnya, kemudian berbalik dan memekik, terasa begitu alami tanpa ada kesan buatan. Natsu mungkin adalah individu yang spesial, tetapi kemungkinan besar ada kucing di dunia itu yang telah mencapai tingkat perkembangan serupa.
Kikuoka tampaknya berpikir bahwa jika aku bisa mengekspor kucing semacam itu dari Underworld dan memuatnya ke tubuh Yon-chan, hasilnya akan menjadi robot kucing yang sangat canggih dan meyakinkan.
Namun...
"Kamu membuatnya terdengar seolah 'membawa keluar kucing' itu hal yang mudah. Aku berasumsi kamu belum lupa, Pak Kikuoka—server Underworld ada di Ocean Turtle di seberang lautan. Aku memang bisa menyelam dari kantor Roppongi, tapi aku tidak akan bisa membawa pulang satu batu pun bersamaku, apalagi seekor kucing."
"Tentu saja aku tidak lupa," kata Kikuoka santai sambil menginjak pedal gas. Kami sudah melewati kawasan Stasiun Shibuya, dan jalan di depan tampak lengang. Mobil melaju kencang, melesat menaiki Rute 246.
Begitu mobil kembali melaju stabil, Kikuoka menjelaskan, "Ini masih sebatas tahap teoretis, tapi dengan bantuan Alice, ada kemungkinan kita bisa mengekspor data dalam jumlah kecil dari Underworld. Itu hanya memerlukan penggunaan konsol sistem dari dalam."
"Dengan bantuan Alice...?" ulangku, kembali merasa bingung.
Untungnya, intuisi tajam Asuna datang menyelamatkanku. "Apakah maksudmu kamu ingin menggunakan lightcube Alice sebagai tempat penyimpanan?" tanyanya agak menegur. Aku tidak bisa menyalahkannya. Walaupun gagasan itu adalah solusi yang cerdas, hal itu juga bukan sesuatu yang bisa kudukung sepenuhnya.
"Itu benar-benar sudah melampaui batas, Pak Kikuoka. Sekalipun kita berasumsi lightcube Alice punya ruang untuk menyimpan hal semacam itu, jika ada sesuatu yang merusak fluctlight-nya dalam proses penulisan data kucing tersebut, kerusakan itu tidak akan bisa diperbaiki," kataku.
"Tentu saja, tentu saja." Kikuoka mengangkat tangan dari setir sebentar untuk membuat gestur permohonan maaf. Ia jelas sudah mengantisipasi reaksi kami ini. "Kita tidak akan menggunakan lightcube asli Alice. Cangkang kranial di kepalanya masih menyisakan sedikit ruang untuk menyimpan lightcube, jadi kita sedang menjajaki kemungkinan untuk menambahkan semacam bank memori tambahan di sana untuknya."
"...Itu tetap terdengar berisiko bagiku. Kamu tidak sedang berpikir untuk mengabaikan kehendak Alice dan melakukan semacam eksperimen menyimpang padanya, kan?"
"Tentu saja tidak. Faktanya, semua ini bermula atas permintaannya sendiri."
"Alice yang meminta ini...?"
Aku tertegun. Ia baru berada di dunia nyata selama dua bulan. Kenapa ia tiba-tiba meminta tambahan memori?
Sebelum aku sempat bertanya, Kikuoka menjelaskan, "Alasan Alice menginginkannya bukan wewenangnya untukku katakan. Kamu harus bertanya langsung kepadanya. Kembali ke topik utama, hal yang ingin kutanyakan pada kalian berdua adalah untuk mencari kucing berpenampilan cerdas pada penyelaman kalian berikutnya ke Underworld."
"Kami tentu bisa mencarinya," kata Asuna, "tapi jika kita membawanya keluar ke dunia nyata, maka kucing itu akan lenyap dari Underworld, kan? Aku rasa pemiliknya akan sangat bersedih."
Itu adalah komentar yang sangat mencerminkan kepedulian Asuna, namun Kikuoka hanya menggelengkan kepala. "Tidak, itu tidak akan terjadi. Para penduduk Underworld yang memiliki fluctlight tidak bisa dibawa ke dunia nyata tanpa mengeluarkan lightcube mereka secara fisik dari Klaster Lightcube, tapi objek bergerak seperti anjing dan kucing bisa disalin begitu saja ke media reguler. Tentu saja, yang asli akan tetap berada di Underworld. Ia bahkan tidak akan menyadari bahwa dirinya telah disalin," katanya sambil menyeringai. "Masalahnya adalah kita tetap tidak bisa membuat salinan itu tanpa pergi ke Ocean Turtle. Tapi jika kita menggunakan konsol internal dan bank memori tambahan Alice, kita rasa kita bisa mengekstrak datanya langsung dari Roppongi."
"...Begitu ya. Cuma satu pertanyaan lagi—jika kita berhasil menyalin data kucing dari Underworld, apakah kamu akan menulisnya ke Yon-chan di sini?"
Aku menatap bagian belakang kepala Kikuoka ketika ia tidak kunjung merespons, lalu berpikir, Kamu salah menilai tingkat empati Asuna, Pak Kikuoka. Pada saat ia melompat ke pangkuannya sehingga Asuna bisa mengelusnya, Yon-chan yang ada bersama kita di dalam mobil ini telah menjadi sesuatu yang ingin dilindungi dan disayangi oleh Asuna.
Namun mantan komandan Rath itu adalah pemikir yang cepat. "Tidak juga. Jika kalian kebetulan menemukan program kucing yang cocok di Underworld, kita akan menempatkannya di Prototype Five, yang saat ini masih dalam tahap pengembangan. Karena kalian lebih mungkin menemukan kucing berukuran dewasa, akan timbul masalah kalau kita memasukkan pikiran itu ke dalam tubuh Yon-chan yang seukuran anak kucing."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan pada Yon-chan? Dibuang?" selidikku, namun Kikuoka dengan lihai membelokkan serangan itu.
"Tidak, tidak, benda ini masih punya ruang untuk dikembangkan, kurasa. Ngomong-ngomong soal itu, Asuna... maukah kamu memelihara Yon-chan dan merawatnya?"
"Hah...? Aku...?"
"Kamu bilang kamu tidak punya hewan peliharaan di rumah, kan?"
"Ya... Karena keluargaku sering bepergian, kami tidak akan sanggup merawatnya..."
"Tapi Yon-chan tidak perlu diberi makan atau dibersihkan kotak kotorannya. Saat tidak ada orang di sekitarnya, ia dirancang untuk masuk ke mode tidur dan mengisi ulang daya. Di sisi lain, ada kemungkinan besar ia akan terus menunjukkan perilaku tidak seperti kucing, tapi aku serahkan pada penilaianmu apakah akan mereset data pembelajarannya. Bagaimana menurutmu?"
"......"
Asuna mengelus anak kucing yang sedang tidur di pangkuannya alih-alih menjawab. Meskipun itu hanya robot, aku bisa merasakan bahwa ia sedang merasakan tekanan karena menjadi calon pemilik dan pengurusnya.
"Asuna, kamu tidak harus—" kataku, namun ia memotong pembicaraanku dengan senyuman.
"Terima kasih, Kirito. Tapi aku tidak apa-apa. Aku akan merawat kucing ini untuk sementara waktu, Pak Kikuoka."
"Ah, luar biasa. Panduan dan alas pengisian dayanya ada di dalam kotak. Oh ya, ini masih rahasia perusahaan, jadi alangkah baiknya jika kamu menghindari menunjukkan Yon-chan kepada siapa pun di luar keluarga."
"Dimengerti."
Aku harus menahan dorongan untuk membentak, Oh, tapi kalau ditunjukkan ke keluarganya boleh? Ayah Asuna adalah mantan CEO RCT Progress, dan kakaknya, Kouichirou, adalah seorang eksekutif di perusahaan tersebut, sejauh yang kutahu. Tentu saja, Kikuoka pasti juga mempertimbangkan hal itu. Faktanya, mungkin menunjukkan kucing itu kepada mereka adalah bagian dari rencananya...
"Kirito, bisakah kamu mengambil kotaknya?" pinta Asuna, menarikku keluar dari lamunan. Aku mengulurkan tangan untuk menaruh kembali kotak kertas itu di atas jok. Ia meminta maaf kepada kucing tersebut sebelum menekan saklar untuk mematikannya, lalu merapikan kembali robot anak kucing yang meringkuk itu ke dalam kotak berisi bahan pelindung.
Ia memasang penutup kotak, lalu memegang seluruh benda itu di pangkuannya sambil tersenyum tenang. Melihat reaksinya membuatku bertanya-tanya apakah Yon-chan sebenarnya hanyalah bentuk hadiah ulang tahun yang rumit dari Kikuoka untuk Asuna. Namun rasanya tidak sopan jika aku menanyakannya.
Tanpa terasa, mobil sudah keluar dari Rute 246 dan memasuki Jalan Setagaya. Rumah keluarga Yuuki sudah hampir kelihatan.
"Kamu pasti lelah, Asuna. Tidurlah lebih awal malam ini," bisikku padanya.
Ia menatapku dengan skeptis. "Kamu tetap akan masuk untuk memeriksa keadaan mereka, kan?"
"Yah, iya..."
"Kalau begitu aku ikut masuk. Rasanya banyak sekali hal yang sudah terjadi."
"Oke. Yah, jangan tidur terlalu malam."
"Terima kasih, aku tidak akan tidur larut," ujarnya.
Tepat saat itu, mobil berhenti dengan lampu darurat yang berkedip-kedip.
Asuna mengambil kotak kertas tersebut, berterima kasih kepada Kikuoka atas tumpangannya, lalu turun. Aku bergeser ke kursi kiri agar bisa melambaikan tangan perpisahan dan mengawasinya berjalan melewati gerbang depan rumah.
Begitu lampu sensor di atas gerbang padam, aku kembali menghadap ke depan, bersandar di jok kulit. Aku mengeklik sabuk pengamanku dan menunggu mobil melanjutkan perjalanannya.
Dari sini ke rumah keluarga Kirigaya di Kawagoe, butuh waktu setidaknya satu jam, bahkan lewat Jalan Tol Kan-Etsu. Lampu-lampu kota bersinar kusam menyinari pipi Kikuoka. Aku berkata, "Sebenarnya aku bisa bertanya lebih awal tadi, tapi apa kamu benar-benar akan mengantarku sampai ke rumah? Kamu pasti punya urusan lain yang lebih penting."
"Ini bagian dari tugasku," jawabnya. Entah kenapa, ia menepikan mobil ke pinggir jalan dan menyalakan lampu daruratnya lagi. "Maukah kamu pindah duduk di depan, Kirito?"
"...Boleh juga sih..."
Kamu bisa saja menyuruhku pindah lebih awal, pikirku dalam hati sambil melepas sabuk pengaman agar bisa keluar dari mobil, membuka pintu penumpang, lalu pindah duduk ke kursi depan dan memasang kembali sabuk pengamanku. Kami berkendara ke arah barat menyusuri jalan dua lajur melalui apa yang tampak seperti lingkungan perumahan yang tenang dan normal.
Akhirnya, jalan tersebut berpotongan dengan Rute Metropolitan 8 dekat Stasiun Chitose-Funabashi. Berbelok ke kanan di sana, dan kami bisa mengambil Simpang Susun Nerima langsung menuju awal Jalan Tol Kan-Etsu.
Untungnya, Rute 8 sangat sepi untuk ukuran jam selarut ini. Begitu aku merasakan Kikuoka mulai fokus menyetir, aku mengarahkan pandangan ke jalan dan berkata, "Begitu jalan lingkar luar itu tersambung nanti, perjalanan ke pusat kota Kawagoe dan sebaliknya akan jadi jauh lebih mudah."
"Tentu saja. Tapi dengan kecepatan pembangunan saat ini, kurasa butuh waktu lima tahun lagi."
"Lima tahun..."
Itu adalah topik obrolan pilihanku sendiri, namun aku langsung terdiam seribu bahasa. Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan kulakukan pada tahun 2031, lima tahun dari sekarang.
Seolah bisa membaca pikiranku, Kikuoka melontarkan sebuah pertanyaan, bak seorang paman—ah, maksudku, sepupu yang baik.
"Pada saat itu, umurmu sudah dua puluh dua... eh, tiga ya? Apakah kamu sudah menentukan rencana masa depanmu?"
Aku sudah menceritakan kepada Asuna dan orang tuaku tentang rencanaku untuk mencari pekerjaan di Rath, dan Dr. Koujiro entah bagaimana mengetahuinya sendiri, tetapi aku tidak tahu apakah Kikuoka menyadarinya. Jawaban yang ceroboh bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan di kemudian hari, jadi aku meluangkan waktu beberapa detik untuk mempertimbangkannya.
"Yah, aku ingin kuliah."
"Ah, jadi kamu tidak memilih jalur pro-gamer.".
"D-dengar..."
Namun sejujurnya, itu bukan jawaban yang mengada-ada di zaman sekarang. Bahkan sebelum penyelaman penuh muncul, sudah ada sumber penghasilan gim tradisional seperti uang hadiah turnamen, streaming, dan bergabung dengan tim profesional. Dan baru-baru ini ada gim seperti Gun Gale Online yang memungkinkan pemain memperdagangkan mata uang dalam gim dengan uang sungguhan atau menghasilkan mata uang virtual serta token sejenisnya.
Hingga ulang tahunku yang keempat belas, ada bagian dari diriku yang juga bermimpi menjadi seorang gamer profesional. Tapi kemudian...
"...Aku tidak akan bisa bertahan sebagai profesional," gumamku. Aku bisa merasakan pandangan mata Kikuoka melirik ke arah profil wajahku.
"Kenapa kamu bilang begitu? Mengesampingkan apakah kamu benar-benar ingin melakukannya, kurasa kamu punya bakat tingkat profesional dalam gim full-dive apa pun."
"Anda terlalu memujiku. Lagi pula," kataku ragu-ragu. Akhirnya, aku mengakui, "Aku merasa tidak bisa mencapai tingkat kefanatikan membabi buta terhadap gim biasa lagi. Aku tidak akan sanggup bertarung sampai-sampai mempertaruhkan nyawa dan energi jiwaku sendiri seperti yang kulakukan di Aincrad dan Underworld, meskipun aku ingin melakukannya. Jika aku tidak bisa mencapai tingkat intensitas seperti itu, aku tidak punya hak untuk bersaing sebagai seorang profesional."
Sekarang giliran Kikuoka yang terdiam membisu.
Ia mengangkat tangan kirinya dari setir mobil dan melayangkannya di udara, namun pada akhirnya ia tidak mengatakan apa pun dan memilih meletakkannya kembali ke setir. Ia menghela napas pelan, begitu lirih hingga aku tidak akan mendengarnya seandainya mobil ini menggunakan mesin pembakaran internal.
"...Begitu ya," gumamnya pelan dan serius. "Kalau begitu... kurasa misi ini telah menjadi pengalaman yang menyakitkan bagimu... Kurasa ini telah mengembalikan banyak ingatan tentang apa yang kamu alami di Underworld tiga bulan lalu."
"Sebenarnya... ya, hal itu memang memunculkan banyak kenangan," gerutuku. Bukan itu sebenarnya yang ingin kukatakan. "Hal-hal yang terjadi di sana tidak semuanya buruk. Lagi pula, aku terus-menerus merengek pada Rinko agar diizinkan kembali ke Underworld."
"Legas rasanya mendengarnya... tapi aku akan mencamkan ucapanmu, Kirito. Sekarang, aku merasa tidak enak harus menanyakan hal ini padamu sekarang, tapi..."
"Tidak usah merasa tidak enak. Ini tentang penyusup itu, kan?"
"Ya. Apakah kamu menemukan petunjuk apa pun?"
"Nihil," jawabku singkat.
Kikuoka terdiam selama beberapa detik. "Ah. Begitu ya. Yah, bagaimanapun juga Underworld seluas benua. Tentu tidak mudah mencari satu orang di sana."
"Belakangan ini, ukurannya bahkan sudah sekitar dua planet penuh," ralatku. Selama lima belas menit berikutnya, aku menjelaskan rentetan kejadian dari penyelaman hari batasan waktu tadi. Begitu selesai, kami sudah berbelok dari Rute 8 menuju Jalan Mejiro. Ada jalan penghubung di depan kami yang mengarah ke Simpang Susun Nerima.
Kikuoka melajukan mobil menaiki tanjakan dan melewati area tol, berakselerasi hingga enam puluh mil per jam. Torsi mobil listrik itu mendorong punggungku menempel ke jok, namun tarikan ini terasa sangat lembut jika dibandingkan dengan kekuatan mutlak kecepatan maksimum X'rphan Mk. 13.
Begitu mobil kembali melaju konstan, aku melirik panel informasi di sisi pengemudi. Daya baterainya masih di atas 80 persen. Ia akan sanggup mengantarku ke Kawagoe dan berkendara balik ke Roppongi tanpa perlu mengisi daya. Kemudian aku sadar ini hari Sabtu, jadi ia mungkin akan langsung pulang ke rumahnya.
"Ngomong-ngomong, sekarang kamu tinggal di daerah mana?" tanyaku santai.
Sambil sedikit teralihkan, Kikuoka menjawab, "Hah? Oh... di Shinonome."
"Shinonome... jadi, maksudnya di sebelah Ariake. Sudah lama tinggal di sana?"
"Tidak, baru sejak aku mengganti namaku... Wah, hei, informasi lebih dari itu adalah rahasia negara. Kalau kamu mau tahu lebih banyak, kamu harus bergabung dengan sindikatku," canda Kikuoka, kembali ke kesadarannya.
"Kirito," katanya serius, "aku hanya ingin memastikan beberapa hal... Pertama-tama, apakah ketidakmampuan para penduduk Underworld untuk melanggar aturan atau hukum masih tidak berubah, bahkan setelah dua abad berlalu?"
"Ya, kurasa begitu."
Aku melipat jemariku dan menyatukannya di antara bagian belakang kepala dan sandaran kepala sebelum menjelaskan semua hal yang kuketahui tentang topik tersebut.
"Seperti biasa, tidak ada satu pun sehelai sampah yang bisa ditemukan di jalanan Centoria, dan lalu lintasnya berjalan lancar serta tertib. Aku sempat mendapat kesan bahwa para kapten, direktur, dan semacamnya dari kepolisian setempat bersikap agak memaksa dan pongah, jadi tempat itu sama sekali belum bisa disebut sebagai utopia."
"Uh-huh... Dan badan pengatur saat ini di Underworld adalah Dewan Penyatuan Stellar? Apakah mereka mempertahankan tingkat kontrol yang sama seperti yang dulu dilakukan Gereja Axiom?"
"Hmm. Yah, Gereja Axiom dan Administrator pada dasarnya bertindak sebagai pengganti Tuhan, jadi sifatnya mungkin berbeda. Dewan Penyatuan Stellar mungkin tidak disembah atau ditakuti dengan cara yang sama, tetapi kontrol mereka tampaknya sekokoh batu karang."
"Namun ada sabotase terhadap Kesatria Pilot—cabang dari Dewan Penyatuan itu sendiri—dan ada markas tak terafiliasi di Admina tempat mereka menjalankan eksperimen ilegal?"
"Ya, itulah masalahnya..."
Kali ini aku menurunkan kedua tanganku untuk diletakkan di atas dada. Aku mengenang kembali markas misterius yang kami temukan di Admina serta sosok Tohkouga Istar yang penuh teka-teki dan cantik, mengenakan pakaian hitam dan dipanggil Yang Mulia—dan saat itulah aku menyadari bahwa aku lupa menyampaikan satu informasi krusial, atau lebih tepatnya sebuah teori, kepada Kikuoka.
"Tunggu, maaf. Tadi aku bilang aku tidak punya petunjuk tentang penyusup itu, tapi itu tidak benar."
"Maksudnya?"
"Ini cuma dugaan tanpa ada bukti yang mendukungnya... tapi Eo... maksudku, komandan Pasukan Pilot tadi menunjukkan kemungkinan bahwa penyusup dari dunia nyata itu mungkin terhubung dengan sabotase terhadap Kesatria Pilot."
"Ahhh..." Kikuoka mengetuk-ngetuk roda kemudi dengan ujung jemari tangan kirinya. "Komandan itu pasti punya pola pikir yang sangat fleksibel," serunya. "Aku sudah memikirkan banyak hal tentang siapa penyusup itu, tapi aku hanya bisa memikirkan penyabot asing atau mata-mata industri yang mengincar informasi STL."
"Aku merasa itu adalah lompatan logika yang jauh, tapi sang komandan bilang bahwa Dewa Kegelapan Vecta, yang memicu Perang Dunia Lain, adalah orang dari dunia nyata, jadi bukan hal yang tidak mungkin kalau hal serupa bisa terulang kembali..."
"...Begitu ya. Itu poin yang bagus. Tapi... jika memang begitu, hal itu membuat segalanya semakin rumit untuk diurai. Jika tujuan penyusup itu bukanlah untuk mendapatkan akses ke konsol sistem, melainkan untuk mencampuri Underworld itu sendiri, itu mengisyaratkan bahwa mereka sangat berpengetahuan tentang sejarah, medan, dan struktur sosial Underworld. Aku sulit membayangkan manusia seperti itu benar-benar ada," gumam Kikuoka, setengah pada dirinya sendiri.
"Benar juga," aku menyetujui, namun segera menyadari bahwa hal itu belum tentu sesederhana itu. Staf Rath bisa menggunakan STL di Roppongi untuk menyelam ke Underworld dan mengumpulkan informasi, misalnya. Aku tidak ingin mencurigai orang-orang yang sudah kutemui dan berhubungan baik dengan mereka, tetapi orang yang sama yang menembak dan melukai Kikuoka dalam serangan di Ocean Turtle tiga bulan lalu adalah mata-mata yang menyusup ke Rath.
Tentu saja, Kikuoka tidak mungkin mengabaikan kemungkinan itu. Jika ia sudah mengesampingkannya, ia pasti punya alasan yang sangat kuat untuk melakukannya.
Aku menyadari bahwa otot bahuku sempat menegang di suatu titik, jadi aku sengaja merilekskannya dan menatap keluar jendela ke arah barat. Sisa cahaya matahari hampir sepenuhnya lenyap, dan beberapa bintang kecil berkelap-kelip di langit, kesepian dan redup.
Déjà vu menghantamku pada detik itu juga. Jauh, jauh di masa lalu, sepertinya aku pernah menatap bintang-bintang dari kendaraan yang melaju dengan kecepatan konstan, persis seperti ini. Yah, tentu saja aku pernah; keluarga kami sering pergi keluar pada malam hari saat aku masih anak-anak. Namun dalam ingatanku yang samar, bukan Ayah atau Ibu yang memegang kemudi...
"Matahari terbenam lebih cepat sekarang, ya?" kata Kikuoka, menarikku keluar dari lamunan kenangan.
Aku mengerjap mengusir ingatan itu dan berkata, "Yah, kita sudah melewati pertengahan musim gugur sekarang."
"Tahukah kamu apa sebutan untuk hari di musim gugur ketika siang dan malam memiliki durasi yang sama, dalam bahasa Inggris?" tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu membuatku terkejut, namun untungnya aku sempat mempelajari nama hari tersebut di musim gugur dan musim semi, serta titik balik matahari musim panas dan musim dingin.
"Itu autumnal equinox," kataku dengan tingkat keyakinan 98 persen.
Namun Kikuoka mengeluarkan suara dengung bel kesalahan brr-brrr.
"K-kenapa...?"
"Maaf, tapi itu adalah ekuinoks itu sendiri. Hari yang kita peringati di kalender disebut Hari Ekuinoks Musim Gugur."
"Apa-apaan? Itu kan sekadar permainan teknis semata!"
"Dan jika kamu terjebak pada pertanyaan jebakan seperti itu, kamu tidak akan pernah menang di malam kuis trivia Rath."
"...Kalian punya malam kuis trivia?"
"Kamu harus datang ke acara berikutnya," ujarnya. Aku tidak yakin apakah ia serius atau hanya bercanda.
Kikuoka melajukan mobil sedikit lebih cepat. Orang-orang bilang mobil listrik tidak begitu bagus untuk kecepatan tinggi, namun mobil ini mampu melibas kecepatan enam puluh mil per jam tanpa sedikit pun getaran atau kebisingan yang mengganggu. Ini adalah kebalikan total dari motor off-road dua tak kesayanganku, namun mobil ini terasa sangat keren dengan caranya sendiri.
Aku bersandar pada jok kulit mewah, mendengarkan deru angin jalanan yang sayup-sayup, dan merasakan kelopak mataku semakin berat. Tapi obrolan kami belum selesai. Masih ada banyak hal yang harus dibahas mengenai identitas si penyusup...
"Kamu boleh tidur kalau ngantuk," kata Kikuoka tanpa menoleh kepadaku.
Namun jika aku benar-benar tertidur sekarang, aku akan merasa seperti anak kecil yang sedang tidur siang.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawabku, berusaha keras melawan rasa kantuk. Namun begitu kepalaku menyentuh sandaran kepala, ia menolak untuk terangkat lagi.
Kikuoka pasti telah memodifikasi sistem komputernya, karena alunan musik jazz yang lembut dan lambat mulai mengalun perlahan melalui speaker.
Itulah pukulan telak yang menyegel nasibku, membuai pikiranku dengan lembut dan perlahan ke dalam kegelapan.

Komentar (0)

Memuat komentar...