Sword Art Online 027: Unital Ring VI

Bagian 3

Estimasi waktu baca: 38 menit

Saat ia mendekati pintu depan, sistem rumah pintar mendeteksi ponsel di dalam tasnya dan membuka tiga lapis kunci secara otomatis. Asuna Yuuki menyesuaikan posisi kotak kertas di lengan kirinya agar ia bisa membuka pintu dengan tangan kanannya. Di dalam, rumah itu terasa remang dan sunyi. Menurut jadwal yang ia periksa pagi itu, ayahnya sedang pergi bermain golf dan ibunya berada di universitas, sehingga tidak ada yang akan pulang sebelum jam sembilan malam, sementara kakak laki-lakinya sedang dalam perjalanan ke daerah Kansai hingga esok hari.
Sebelumnya, ia tidak pernah memikirkan apa pun saat pulang ke rumah yang kosong, tetapi kini ia mulai merasa bahwa itu adalah pengalaman yang sepi. Hal itu terasa aneh, mengingat ia mungkin akan meninggalkan rumah dalam setengah tahun lagi—atau mungkin justru itulah alasan mengapa ia merasa seperti ini sejak awal.
Ia mampir ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan wajah, lalu berjalan menaiki tangga. Begitu ia masuk ke dalam kamarnya, lampu menyala secara otomatis, dan pendingin ruangan mulai beroperasi. Ia meletakkan kotak itu di atas meja dan menghela napas panjang.
Sebenarnya Asuna ingin segera membuka tutupnya, tetapi ia bersabar, menyiapkan pakaian ganti, lalu turun kembali ke bawah menuju kamar mandi. Ia sudah memasang pengatur waktu sebelum meninggalkan kantor Rath, jadi bak mandinya sudah terisi penuh dengan air hangat. Ada kalanya sistem rumah pintar ini terasa seolah mencampuri urusannya, tetapi ini adalah fitur yang bisa sangat ia hargai.
Pertama-tama, ia membilas keringat hari itu menggunakan shower sebelum berpindah masuk ke dalam bak mandi. Sensasi air yang terasa sedikit terlalu panas saat merendam kulit hingga sebatas bahunya membuatnya mendesah, "Hahffff..." dengan penuh kelegaan.
Bak mandi di rumah keluarga Yuuki adalah batas ukuran maksimal untuk sebuah sistem pemandian modern: model 1822, yang berarti memiliki panjang 1,8 meter pada sisi pendek dan 2,2 meter pada sisi panjang, atau berukuran 6 kali 7 kaki. Tentu saja itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Pemandian Besar di Katedral Sentral—Pemandian Besar berukuran 60 kali 120 kaki.
Dalam waktu subjektif, baru lima jam lalu ia menikmati pengalaman mandi bersama Alice, Airy, Stica, Laurannei, dan Natsu, di mana saat itu ia sempat berpikir, Kalau aku terlalu terbiasa dengan pemandian ini, aku tidak akan puas lagi dengan bak mandiku di rumah. Namun kini ia harus mengakui bahwa ada jenis relaksasi tertentu yang hanya bisa didapatkan di bak mandi rumah sendiri.
Biasanya, ia suka meneteskan minyak aromaterapi ke dalam bak air suam-suam kuku sambil menyiapkan air minum dingin dan Augma-nya di dekatnya, tetapi tidak ada waktu untuk melakukan itu hari ini. Ia menyelesaikan mandinya dengan cepat, mengeringkan rambutnya, lalu melakukan perawatan kulit. Saat itu jam menunjukkan pukul enam empat puluh lima.
Ia memakan hidangan ringkas di dapur, menggosok gigi, lalu kembali ke kamarnya.
Untuk berjaga-jaga, ia memeriksa apakah semua jendela sudah tertutup rapat dan tertutup tirai, barulah ia membuka kotak di atas mejanya. Ia mengangkat anak kucing abu-abu yang meringkuk dari dalam bahan pelindung pengemasan, meletakkannya di atas bantal duduk besar di lantai, lalu menekan sakelar di bawah kaki kanan depannya.
Bangun sekali lagi, anak kucing itu duduk tegak dengan kedua cakar depannya berjajar rapi secara berdampingan, persis seperti patung Mesir. Mata kehijauannya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sepuluh detik kemudian, ia melompat turun dari bantal ke lantai, meletakkan satu cakar di atas pangkuan Asuna yang sedang berlutut, dan mengeong memohon, "Mew, mew."
Berdasarkan ekspresi dan suaranya, tampak jelas bahwa ia sedang mengeluh lapar.
"Kamu lapar, Yon-chan? Tunggu sebentar..."
Ia berdiri, bermaksud turun ke dapur untuk mencari makanan yang mungkin disukai anak kucing, sampai ia ingat bahwa Yon-chan adalah sebuah robot. Ia membeku, tak yakin apa yang harus dilakukan.
Untungnya, jawaban untuk masalah itu ada pada catatan Seijirou Kikuoka.
Asuna kembali ke meja dan memasukkan kedua tangannya ke dalam bahan pelindung kotak, meraba-raba sampai ia menyentuh sesuatu yang terasa seperti papan berlapis plastik. Ia mengeluarkan sebuah papan hitam yang kira-kira seukuran kertas standar A4: papan pengisi daya nirkabel (wireless charging pad). Ia membuka bungkus plastik itu, menyambungkan kabel USB yang disediakan ke alas tersebut, lalu menancapkan steker di ujung lainnya ke stopkontak dinding. Setelah ia meletakkannya di lantai, kucing itu mengeong lalu meringkuk di atas papan tersebut.
Ia mungkin akan terus tertidur sampai baterainya penuh kembali. Asuna membelai bulunya yang lembut dan berbisik, "Kita akan menjadi teman baik, Yon-chan."
Sejujurnya, ia masih belum berniat memberikan kepercayaan penuhnya kepada Seijirou Kikuoka. Masih ada 1 persen kemungkinan bahwa memberinya anak kucing robot ini adalah bagian dari rencananya yang lain. Tetapi setidaknya, ia yakin pria itu bukanlah pria berengsek yang akan menggunakan mikrofon dan kamera bawaan di robot ini untuk memata-matainya.
Kantong plastik tempat alas pengisi daya itu berada juga memuat secarik kertas terlipat yang tampaknya adalah buku petunjuk pengoperasian. Ia membacanya sekilas sampai ia bisa memastikan bahwa pengisian daya hingga penuh membutuhkan waktu sekitar lima jam.
Saat Yon-chan bangun nanti, aku ingin memperkenalkannya kepada Yui, batinnya sambil duduk di tepi tempat tidur.
Ada rasa penat di benaknya saat ini. Ia telah meninggalkan rumah pada pukul tujuh pagi dan menyelam ke Underworld sejak pukul sembilan hingga lima sore, jadi wajar jika ia merasa lelah, tetapi ia hanya mengalami satu insiden pertarungan, dan tubuh aslinya terus terbaring santai di atas ranjang gel sepanjang waktu. Kazuto memang menyuruhnya untuk tidur lebih awal, tetapi ia masih sanggup beraktivitas selama tiga atau empat jam lagi.
Ia mengambil AmuSphere-nya dari rak di meja samping lalu memakaikannya ke kepala. Begitu posisi dan tinggi bantal dirasa sudah pas baginya, ia pun berbaring di tempat tidur. Ruangan itu secara otomatis menyesuaikan lampu langit-langit ke mode malam.
Merilekskan seluruh tubuhnya, ia memejamkan mata lalu berseru, "Link Start."
Kembali berada di dunia Unital Ring untuk pertama kalinya dalam tujuh belas jam, Asuna mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu pondok kayu. Namun tak terlihat sosok Yui, yang baru dua jam lalu sedang online, maupun teman-temannya yang lain.
Selanjutnya, ia memeriksa statusnya sendiri.
HP-nya penuh, sementara indikator MP, TP, dan SP miliknya semuanya berada di kisaran 80 persen. Perlengkapan pelindungnya adalah gaun linen dan zirah besi kualitas tinggi buatan Lisbeth, sementara senjatanya—sebilah rapier—terbuat dari material yang dua tingkat lebih tinggi: baja murni (fine steel).
Jika dibandingkan dengan seragam Kesatria Pilot yang ia pinjam di Underworld, pakaiannya saat ini sangat sederhana dan terasa kasar saat disentuh, namun hal ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jubah serat rumput primitif yang ia buat sesaat setelah mereka pertama kali tersedot ke tempat ini.
Insiden UR ini terjadi pada pukul lima sore di tanggal 27 September, dan saat ini waktu menunjukkan pukul tujuh malam di tanggal 3 Oktober, jadi sejauh ini sudah enam hari dua jam berlalu. Hal yang menakjubkan adalah waktu terasa bagaikan sudah berlalu enam hari sekaligus terasa baru enam hari saja.
Pada awal insiden, ia sempat berasumsi bahwa mereka akan kembali ke tempat asal mereka di The Seed Nexus dalam waktu paling lama dua atau tiga hari, namun kini hal tersebut rasanya mungkin tidak akan pernah terjadi. Anomali ini akan terus bertahan sampai ada seseorang yang mencapai pusat peta dunia seperti yang diindikasikan pada pengumuman awal: daratan yang ditunjukkan oleh cahaya dari surga.
Terlepas dari hal itu, ia bertekad akan melindungi pondok kayu ini beserta Kota Kirito, yang lebih dikenal sebagai Ruis na Ríg.
Dengan sumpah yang terpatri di benaknya, ia membuka pintu dan melangkah keluar ke teras. Matahari sudah lama terbenam, hanya menyisakan semburat warna nila pudar di ufuk langit sebelah barat, namun begitu banyak obor yang dinyalakan di sekitar area itu memandikan halaman luar dengan cahaya api berwarna jingga.
Halaman rumah yang dipenuhi dengan berbagai perlengkapan fasilitas kriya itu terasa sama sunyinya dengan bagian dalam rumah. Akan tetapi, terdengar suara keributan aneh yang datang dari balik dinding batu setinggi sepuluh kaki yang mengelilingi tanah lapang bundar tersebut. Suara itu berdengung layaknya ada kerumunan besar orang yang sedang berlalu lalang tepat di sisi lain dinding itu, namun hal ini rasanya mustahil.
Merasa curiga, Asuna berjalan menuju gerbang kayu di sisi selatan dinding untuk keluar—namun mendadak berhenti mendadak.
Tidak ada gerbang di sana. Sebuah pintu raksasa masih berdiri tegak di tempat itu terakhir kali ia log out, tetapi kini yang ada hanyalah sebidang dinding abu-abu.
Tentu ia tidak salah membedakan antara arah utara dan selatan. Asuna berputar mencari, tetapi tetap saja yang ia lihat hanyalah dinding. Program The Seed sangat stabil secara menjengkelkan, sehingga tidak mungkin program ini tiba-tiba mengalami bug dan menyebabkan sebuah gerbang menghilang begitu saja tanpa memengaruhi hal lainnya.
Kini ia benar-benar merasa kebingungan. Ia menatap ke sekeliling, mencari apa pun yang dapat memberinya petunjuk, lalu menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak ada di sana. Di sisi barat pekarangan, tepat di samping tungku peleburan, berdiri sebuah struktur batu menyerupai menara. Bangunan itu tingginya kira-kira sama dengan dinding batu yang mengelilinginya, dengan satu pintu di bagian dasarnya dan sebuah tangga di sisi kirinya yang bisa dipanjat untuk menuju ke puncak.
Ia berlari kecil mendekatinya dan menimbang apakah akan memanjat tangga tersebut atau membuka pintunya, lalu akhirnya memilih opsi untuk memanjat. Tangga itu terbuat dari kayu dan terasa kokoh serta kuat. Tangga itu tidak berderit sedikit pun di bawah bobot Asuna, sekalipun ia memakai seluruh peralatan tempurnya. Walau begitu, ia tetap memanjatnya dengan hati-hati. Puncak menara itu memiliki atap kecil seluas empat setengah kaki persegi, dengan pegangan pengaman di sekelilingnya, layaknya menara pengintai.
Setelah berhasil naik, Asuna memegang erat pegangan kayu pinus berbentuk spiral itu dan berjinjit agar bisa melihat lebih jauh ke seberang dinding batu.
Ia terkesiap. "A-apa...?!"
Jalan setapak melingkar yang mengelilingi pondok kayu tersebut, yang mereka juluki Jalan Perimeter Dalam (Inner Perimeter Road), sedang dilewati oleh puluhan orang, dengan beberapa dari mereka berdiri dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengobrol. Berbeda dengan permainan lain, kamu tidak bisa memunculkan kursor dengan memfokuskan pandangan pada seseorang di dunia ini, jadi tidak ada indikator dari dalam gim untuk membedakan antara NPC dan pemain. Namun jika ia memercayai insting dan pengalamannya selama bertahun-tahun, mereka semua pastilah pemain sungguhan.
Dan bukan hanya di perimeter dalam saja. Jalan Pukul Delapan di arah barat daya, distrik komersial di sebelah kirinya, dan bahkan area tempat tinggal suku Bashin di sebelah kanannya juga dipenuhi riuh redam pemain. Hanya dari apa yang sanggup matanya tangkap, ada lebih dari seratus orang di sana dengan mudahnya. Jika seluruh bagian Ruis na Ríg sesibuk ini, maka setidaknya ada tiga—bukan, lebih dari lima ratus orang di sini. Mereka memang pernah kedatangan pengunjung dari Reruntuhan Stiss di arah selatan sebelumnya, tapi bahkan saat tersibuk sekalipun, jumlahnya tidak pernah lebih dari lima puluh orang dalam waktu bersamaan.
Mungkinkah penyihir Mutasina datang membawa pasukan besar lainnya saat ia, Kirito, dan Alice pergi, dan akhirnya berhasil merebut kendali Ruis na Ríg? Jika memang begitu, ke mana teman-temannya yang lain? Tentu mereka tidak mungkin disingkirkan semuanya...
Dicekam oleh kengerian akan skenario terburuk, Asuna tersentak mendengar suara familier menyapanya, "Hei, Asuna!"
Ia segera beranjak dari pegangan kayu lalu memandang ke arah bawah tangga. Di bawah sana, berdiri melambaikan tangan padanya, seorang gadis yang memakai celemek: Lisbeth si pandai besi.
"Liz!"
Asuna yang merasa lega langsung membalas lambaian tangannya. Ia berbalik, memegang kedua sisi tangga, dan menyesuaikan pegangannya dengan hati-hati untuk meluncur turun secara langsung. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung memutar tubuh dan bertanya cepat, "Ada apa dengan orang-orang di kota ini?! Apa semuanya baik-baik saja?! Di mana kalian tadi?!"
"Oh ya, awalnya memang mengagetkan, kan?" ucap Lisbeth diiringi seringai. Ia menunjuk pintu di bagian dasar menara itu. "Aku masuk lewat sini. Kami menggali terowongan bawah tanah, dan tembusannya ada di area Bashin."
"Terowongan? Tapi kenapa...? Dan apa yang terjadi dengan gerbang yang sebelumnya ada di sini?"
"Hmm, kurasa aku harus menceritakan semuanya secara berurutan... Ini mungkin butuh waktu agak lama, jadi mari kita duduk di sebelah sana," kata Lisbeth seraya menunjuk ke deretan fasilitas pandai besi tempat ia biasa menjalankan pekerjaannya. Ia duduk di atas kursi bundar di depan paron tempa, sementara Asuna duduk di bangku taman yang berseberangan dengannya.
Menyadari bahwa perkemahan mereka tidak sedang dalam bahaya, Asuna tetap tak bisa menahan diri untuk melirik ke arah leher Lisbeth. Sesuai dugaannya, kulit seputih putih telur yang sehat milik temannya itu terbebas dari lingkaran hitam mengerikan Noose of the Accursed (Jerat Terkutuk), mantra pencekikan banyak target yang mengerikan milik Mutasina.
Lisbeth tampaknya tidak menyadari perhatian Asuna. Ia membuka inventarisnya dan mengeluarkan dua buah cangkir berwarna hijau yang memancarkan sedikit rona pendar warna-warni. Selanjutnya, ia mengambil kantong air dari kulit dan menuangkan cairan berwarna cokelat tua ke dalam cangkir-cangkir tersebut.
"Ini dia," katanya. Asuna menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Cangkir itu terlihat dan terasa seperti logam, tetapi bobotnya sangat mengejutkan karena begitu ringan.
"Kapan kamu belajar membuat barang seperti ini?" tanya Asuna.
Lisbeth memberinya kedipan mata penuh rahasia. "Keahlianku makin meningkat dari hari ke hari. Aku membuat ini dari tempurung gilnaris hornet (lebah tanduk gilnaris)."
"Lebah tanduk... Maksudmu lebah? Benda ini terbuat dari tempurung lebah?!" seru Asuna sambil menjauhkan wajahnya dari cangkir tersebut.
Lisbeth terkekeh lepas. "Tenang saja. Aku meleburnya dan mengubahnya menjadi batangan baja gilnaris. Lihat? Kata lebah bahkan tidak ada lagi di namanya. Pantas saja lebah-lebah sialan itu tangguh sekali; cangkang mereka pada dasarnya terbuat dari logam."
"...'Lebah sialan'? Liz, apa kamu habis bertarung melawan lebah raksasa?"
"Lebih dari sekadar bertarung biasa," ucap Lisbeth penuh teka-teki sebelum mengangkat cangkir hijau metalik itu ke bibirnya. Asuna dengan ragu-ragu melakukan hal yang sama; tak ada bau yang aneh dari minumannya. Malah, cairan itu memiliki aroma yang mengingatkannya pada teh hitam.
Ia menyesapnya dan menemukan rasa yang mirip dengan campuran beberapa jenis teh kental yang diberi perisa buah. Seandainya saja ini disajikan dingin, batinnya. Akan tetapi, meskipun disajikan dalam suhu ruangan, rasa minuman itu jauh lebih enak daripada teh yang dibuat Asuna dengan menyeduh dedaunan acak yang ada di sekitar mereka. Minuman itu bahkan memberikan efek pemulihan MP skala ringan.
"Apa kamu yang membuat teh ini juga?"
"Oh, tentu saja... tidak. Suku Patter yang menjual barang ini."
"Oooh... Jadi mereka berjualan teh sekarang, selain makanan awetan?"
Kalau rasanya seenak ini dan ada begitu banyak pelanggan di sekitar, teh ini pasti akan laris manis terjual, pikirnya sebelum kembali ke pertanyaan awalnya.
"Lalu kenapa ada banyak sekali orang di sini?" tanyanya, mendorong Lisbeth untuk menceritakan semua kejadian pada hari itu.
Lisbeth menjelaskan bagaimana ia pergi bersama Silica dan Klein ke Hutan Zelletelio utara untuk mencari titik penambangan bijih besi. Ia mendeskripsikan kerumunan gilnaris hornet raksasa dan penemuan mereka atas Friscoll, yang sedang mengintai sarang kawanan tersebut. Ia menyampaikan cerita Friscoll mengenai dunia Unital Ring yang terdiri dari tiga cincin konsentris dan bahwa rute menuju tingkatan berikutnya mengharuskan mereka melewati sarang lebah tersebut, dan ia juga menceritakan bagaimana mereka bekerja sama dengan Dikkos serta para pemain Alfheim Online lainnya, Zarion dan para pemain Insectsite, beserta suku Bashin dan Patter untuk menghadapi pertarungan itu dan keluar sebagai pemenang...
Begitu Lisbeth selesai bercerita, Asuna menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan tanggapan.
"...Jadi maksudmu, kawanan lebah raksasa dan ratu mereka punya peran yang mirip dengan bos di lantai dua puluh lima dan lima puluh di SAO?"
"Ummm... ya, kurasa begitu?" ucap Lisbeth pada awalnya, tetapi kemudian ia mengubah pikirannya. "Sebenarnya, mengingat kamu ikut membantu mengalahkan bos lantai tujuh puluh lima di Aincrad, aku tidak tahu apakah aku akan menempatkan pertarungan bos kali ini di level yang sama."
"Oh, jangan bilang begitu. Unital Ring sama saja dengan SAO di mana kamu tidak boleh mati. Lagi pula, tim penyerbuanmu cuma beranggotakan dua puluh empat orang, kan? Dari apa yang kudengar, itu mungkin pertarungan yang dirancang untuk diselesaikan oleh grup beranggotakan lima puluh orang atau lebih..."
"Hmm. Yah, ruangan bosnya... bukan berupa ruangan sih, lebih mirip kubah pohon raksasa... Aku yakin ruang seluas itu bisa menampung seratus pemain dengan mudah. Pertarungannya sebenarnya sangat sengit, tapi MVP-nya sudah pasti Sinon dan Silica. Kepemimpinan dan akurasi Sinon sangat mengesankan, dan Silica... Ia mengingatkanku pada Kirito."
"Hah...? Pada cara bertarungnya?" tanya Asuna bingung. Dalam benaknya, gaya bertarung Silica yang lincah untuk masuk dan keluar jangkauan serangan musuh sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan gaya pertarungan jarak dekat ofensif nan brutal milik Kirito, yang didukung oleh kemampuan pengenalan situasional yang luar biasa.
Namun di luar dugaannya, Lisbeth menggelengkan kepalanya dan berkata, "Bukan dari segi kekuatannya, melainkan imajinasinya. Saat sang ratu keluar untuk bertarung, ada banyak sekali kejutan yang muncul, tapi kemampuan Silica untuk berpikir cepat dan bereaksi terhadap semua itu benar-benar akan membuatmu kagum. Terutama saat ia memberikan serangan penutup! Lima dari kami mengepung ratu lebah itu saat ia jatuh ke tanah, lalu kami mengangkat lengan kami tinggi-tinggi seperti ini dan memanggil senjata warisan kami, yang sebenarnya terlalu berat untuk diangkat, dan..."
Ia bangkit dari kursinya dengan penuh semangat, mengangkat tangannya ke atas untuk memperagakan hal tersebut.
"Kami menjatuhkan senjatanya tepat menimpa sang ratu! Terdengar seperti taktik yang akan dipikirkan oleh Kirito, kan?! Benar-benar ide gila yang memanfaatkan cara kerja sistem! Tepat seperti bagaimana kamu memaksimalkan kekuatan saat sedang terdesak!"
"Ha-ha... Ya, aku paham," ucap Asuna sembari terkikik geli.
Lisbeth mengerjap, kembali ke kesadarannya, lalu berdeham pelan dan duduk kembali. "Yah... intinya, aku cuma mau bilang rasanya menyenangkan melihat adik-adik kelasmu kini menunjukkan kemampuan mereka yang sebenarnya."
Asuna tertawa lagi. "Ini bukan tim olahraga sekolah tahu."
Membahas soal itu, Asuna pernah mendengar bahwa Lisbeth berencana untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Apakah itu berarti begitu ia lulus dari sekolah khusus korban insiden SAO dan masuk perguruan tinggi, ia juga akan pensiun bermain VRMMO?
Ia membuka mulutnya untuk bertanya, namun lalu mengurungkan niat tersebut. Ia ingin menghargai momen kebersamaan ini bersama semuanya selagi masih bisa... setidaknya sampai insiden UR terselesaikan dan semua orang bisa kembali ke ALO.
Sebagai gantinya, ia kembali ke topik awal. "Jadi kalian berhasil mengalahkan bos lebah itu. Apa hubungannya dengan kerumunan orang-orang di Ruis na Ríg ini?"
"Yah, ada sebuah tebing di sebelah utara hutan... Friscoll menyebutnya sebagai penghalang pertama. Aku tadi bilang kan kalau bos lebah itu bagaikan penjaga penghalang tersebut. Nah, kabar bahwa kami berhasil mengalahkannya langsung menyebar ke Reruntuhan Stiss. Rupanya, kami adalah kelompok ketiga tercepat di Unital Ring yang berhasil mengalahkan bos penjaga tersebut."
"Yang ketiga... Gim apa yang menempati posisi pertama dan kedua?"
"Aku tidak tahu urutannya, tapi sepertinya itu adalah pemain dari Asuka Empire dan sebuah gim bernama Apocalyptic Date."
Asuna tidak begitu familier dengan semua hal mengenai The Seed Nexus, namun ia pernah mendengar tentang kedua gim tersebut. Asuka Empire adalah VRMMO bertema Jepang yang dimainkan oleh Yuuki dan Sleeping Knights sebelum mereka beralih ke ALO. Apocalyptic Date (AD) adalah gim bernuansa pasca-apokaliptik yang luar biasa populer meskipun memilih konsep niche yang mengharuskan semua avatar pemainnya berupa hewan antropomorfik (anthro).
"Menarik... Jadi pada intinya, semua pemain ALO yang mendengar kalian berhasil mengalahkan bos penjaga mengira kita punya peluang untuk mengejar AE dan AD, lalu mereka memindahkan basis operasi mereka ke Ruis na Ríg?" tebak Asuna.
Lisbeth membenarkan tebakannya dengan sedikit tersipu. "Ya, bisa dibilang begitu. Tentu saja yang datang hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan pemain ALO, tapi kita tetap kedatangan sekitar lima atau enam ratus orang..."
"Kamu harusnya bangga! Kerja keras kalian membuat begitu banyak orang bersemangat menatap peluang masa depan mereka," ucap Asuna seraya mencondongkan badan ke depan untuk menepuk lengan Lisbeth. Temannya itu menggosok sisi hidungnya dan terkekeh menahan malu. Gestur itu begitu teatrikal sehingga Asuna pun tak kuasa untuk menahan tawa. Ia menatap dinding batu yang mengelilingi lahan pondok kayu mereka.
"...Yah, aku paham kenapa ada banyak sekali orang di sini, tapi kenapa gerbangnya hilang?"
"Oh, itu gampang. Kamu tahu kan kalau gerbang dan pintu yang bisa dibangun sendiri di Unital Ring tidak dibekali kunci bersistem dari dalam gim?"
Perkataannya ada benarnya. Gerbang yang hilang tersebut sebelumnya hanya dikunci menggunakan palang kayu primitif dari arah dalam. Sangat sulit untuk menjaganya tetap tertutup rapat saat tim Schulz menyerang, yang diduga kuat dibujuk oleh kelompok Mutasina, Asuna mengingat samar-samar sambil mendengarkan penjelasan Lisbeth.
"Kami mengalahkan bos sekitar jam empat, dan aku kembali ke Ruis na Ríg pada pukul lima. Tak lama setelah itu, menjelang pukul enam, para pelancong pertama dari Reruntuhan Stiss mulai berdatangan ke sini. Masalahnya adalah, semua orang pasti akan menjelajahi kota baru ketika mereka sampai di sana, kan? Wajar saja jika mereka penasaran dengan apa yang ada di balik struktur dinding batu bundar di tengah kota ini. Kami sudah memasang palang kayunya, tapi mereka menggedor-gedor gerbang dan mencoba memanjat pilarnya, kamu mengerti kan... Jadi setelah berdiskusi dengan Agil dan kawan-kawan, kami melakukan pembongkaran gerbang secara darurat, menambal celah dinding batunya, dan mengubahnya agar kita bisa keluar-masuk melalui terowongan."
"Jadi begitu ceritanya..."
Awalnya ia sempat berpikir bahwa hilangnya gerbang itu karena bug, tetapi penjelasan ini masuk akal. Kalau Asuna menjadi salah satu pendatang tersebut, ia mungkin akan cukup penasaran untuk mencoba mengetuk gerbang itu juga.
"Tapi... kalau memang begitu kasusnya, membongkar gerbang tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Siapa pun yang cukup lincah bisa saja memanjat dinding, dan kamu juga bisa menghancurkan dindingnya langsung dengan palu yang cukup kuat..."
"Ya, itulah masalahnya." Lisbeth mengerang sambil melirik sinis ke arah dinding seraya menghabiskan teh buahnya. Asuna juga menandaskan minumannya dan menghela napas.
Dua puluh menit telah berlalu sejak ia mulai menyelam, dan kini tirai bintang-bintang tampak berkelap-kelip di langit malam yang biru. Jika jalanan menuju Kawagoe lancar, Kikuoka seharusnya sudah mengantar Kirito tiba di rumah sekarang, tetapi pria itu pun masih butuh tambahan waktu sepuluh menit untuk bersiap log in.
"...Tapi, dari apa yang kudengar, Dikkos dan Holgar dan para pemain lainnya telah memperingatkan semua orang bahwa rumah di tengah kota ini adalah milik Kirito dan melarang siapa pun untuk mengganggunya," Lisbeth menenangkan Asuna sembari menuangkan teh lagi.
"Oh, syukurlah," gumam Asuna, namun sebuah pemikiran serius mendadak muncul di benaknya. "Tunggu... bukannya itu justru akan meningkatkan peluang orang-orang yang memang ingin mengincar pondok ini...?"
"Ah-ha-ha-ha. Ya, itulah masalah utamanya." Lisbeth meringis.
Kirito adalah sang Pendekar Pedang Hitam yang menyelesaikan SAO, bertarung hebat melawan Yuuki di turnamen duel ALO, dan menjadikannya dirinya legenda berbekal pedang cahaya di turnamen Bullet of Bullets GGO—pada titik ini, hampir semua pemain VRMMO setidaknya pernah mendengar namanya. Sayangnya, tidak semua dari mereka menyukainya. Dan jika mereka mengetahui bahwa rumah Kirito berada di sini, di Unital Ring, di mana segalanya mungkin terjadi, ada kemungkinan besar seseorang akan mencoba mengganggunya.
"Mungkin kita setidaknya harus memperkuat dindingnya," gumam Asuna.
Senyum Lisbeth seketika memudar. "Ya, dinding ini kan cuma terbuat dari susunan batu dari Sungai Maruba yang direkatkan dengan tanah liat. Malahan, aku rasa aku belum mengecek durabilitasnya saat ini."
Ia lalu berdiri dengan cangkir masih di tangan, dan Asuna pun mengikutinya.
Di depan dinding, Lisbeth mengetuk batu menggunakan tangannya yang bebas. Jendela atribut yang muncul menampilkan Crude Stone Wall, Structure, Durability: 527.3 (Dinding Batu Kasar, Struktur, Durabilitas: 527.3). Durabilitas sebongkah batu tunggal berkisar antara lima sampai sepuluh, jadi angka ini terasa wajar untuk sebuah bagian struktur dinding, namun ada satu baris teks tambahan di bagian bawah. Lisbeth juga menyadarinya dan membacanya keras-keras.
"Hmm? Apa ini...? Protection of the Ancient Oak: Added Durability: 100,000 (Perlindungan Pohon Ek Kuno: Penambahan Durabilitas: 100.000)... T-tunggu, seratus ribu?!"
Kedua gadis itu saling pandang dengan penuh keterkejutan, lalu menatap jendela pop-up itu kembali, tetapi mereka tidak salah baca pada kali pertama. Pondok kayu itu sendiri memiliki ketahanan dasar sebesar 12.500, jadi angka baru ini benar-benar jauh lebih besar dari angka tersebut.
"Protection of the Ancient Oak... tapi tidak ada pohon kuno di sini," gumam Asuna seraya memandang ke sekeliling tanah lapang tersebut. Mereka memang telah menanam sebuah pohon hias di sebelah pondok, tetapi itu jelas bukan pohon kuno. Dan sama sekali tidak ada perlindungan semacam ini pada dinding tersebut saat mereka pertama kali membangunnya.
Perlindungan. Di mana aku pernah melihat istilah ini sebelumnya...?
"...Oh!" seru Asuna dan seketika berlari ke ujung lain pekarangan.
"Hei! Kamu mau ke mana, Asuna?!" seru Lisbeth berteriak dari belakang, tetapi Asuna sama sekali tidak melambatkan larinya. Ia melintasi hamparan rumput dan baru mengerem berhenti saat ia tepat berada di depan pondok. Ia mengetuk dinding kayunya dengan paksa untuk memunculkan jendela kontrol rumah tersebut.
Terdapat empat tombol yang bertuliskan INFORMATION (INFORMASI), TRADE (TUKAR), REPAIR (PERBAIKI), dan DISMANTLE (BONGKAR). Ia memilih tombol INFORMATION, memanggil jendela sekunder yang memuat bagian efek perlindungan khusus di bagian bawah.
Level 1 / Protection of the Forest: Within a radius of 100 feet of the center of the building, the owner and any friends or party members have a small chance of executing attack skills whose requirements are not yet met. (Level 1 / Perlindungan Hutan: Dalam radius 100 kaki dari pusat bangunan, pemilik dan teman atau anggota party memiliki sedikit peluang untuk mengeksekusi skill serangan yang persyaratannya belum terpenuhi.)
Ia ingat efek ini. Namun di suatu saat, ada efek perlindungan tambahan yang ditambahkan.
Level 2 / Protection of the Bear: Within a radius of 150 feet of the center of the building, any animals tamed by the owner or owner's friends will not lose affinity points and will gain an extra 20 defense. (Level 2 / Perlindungan Beruang: Dalam radius 150 kaki dari pusat bangunan, hewan apa pun yang dijinakkan oleh pemilik atau teman pemilik tidak akan kehilangan poin kedekatan dan akan mendapatkan tambahan pertahanan sebesar 20 poin.)
Dan lalu satu efek lagi.
Level 3 / Protection of the Ancient Oak: Within a radius of 150 feet of the center of the building, all secondary structures will gain an addition 1,000 to 100,000 durability, depending on the type. This additional durability will not degrade over time. (Level 3 / Perlindungan Pohon Ek Kuno: Dalam radius 150 kaki dari pusat bangunan, semua struktur sekunder akan mendapatkan tambahan daya tahan 1.000 hingga 100.000, tergantung pada jenisnya. Tambahan daya tahan ini tidak akan menurun seiring berjalannya waktu.)
"Ini dia!" seru mereka berdua bersaman.
Sumber angka daya tahan seratus ribu itu berhasil diungkap, namun hal ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Sejak hari pertama, saat mereka memperbaiki pondok kayu, Asuna sama sekali tidak melakukan perluasan atau penambahan terhadap pondok tersebut, lalu bagaimana tingkat strukturnya bisa naik dua kali? Tentu nilainya tidak meningkat begitu saja seiring berjalannya waktu.
Dengan tidak yakin, Lisbeth menduga, "Mungkin... bukan rumahnya sendiri yang meluas, tetapi segala sesuatu yang dibangun di sekitarnya telah meningkatkan levelnya..."
Dugaan itu sekilas tampak masuk akal, namun Asuna menyadari hal ini juga agak tidak logis.
"Ruis na Ríg punya banyak struktur perumahan yang berbeda, dan mereka semua memiliki tingkat strukturnya sendiri-sendiri, kan? Kalau teori itu benar, bukankah semua rumah tersebut akan terus-menerus memberikan efek satu sama lain dan membuat levelnya meningkat tanpa batas?"
"Poin yang bagus... Oh, tunggu!" seru Lisbeth, lalu mengetuk label SPECIAL EFFECTS (EFEK KHUSUS) pada jendela menu.
Disertai bunyi denting lonceng kecil, sebuah jendela Tips pun muncul. Asuna sudah melupakan keberadaan panduan ini. Ia membaca teksnya bersama Lisbeth.
When a residential structure is built without any other residential structures within a radius of 1,500 feet, it becomes a primary structure and gains special effects in accordance with its structure level. Anything built in close proximity to the primary structure is categorized as a secondary structure and receives the primary structure's special effects. (Saat struktur hunian dibangun tanpa ada struktur hunian lain dalam radius 1.500 kaki, struktur tersebut akan menjadi struktur utama dan mendapatkan efek khusus sesuai dengan tingkat strukturnya. Segala sesuatu yang dibangun di dekat struktur utama akan dikategorikan sebagai struktur sekunder dan menerima efek perlindungan struktur utama.)
"Ummm...?"
Lisbeth tampak bingung dengan apa yang dibacanya, jadi Asuna menjelaskan bagian yang ia pahami.
"Itu berarti hanya sebuah bangunan yang didirikan sendirian di tengah antah-berantahlah yang bisa menjadi struktur utama—pada dasarnya, bangunan utama—dan semua rumah serta dinding serta bangunan lain yang dibangun setelahnya akan diperlakukan sebagai perluasan bangunan utamanya. Dan Protection of the Ancient Oak itu hanya berlaku untuk struktur sekunder..."
"Hrrm," gumam Lisbeth, kemudian kali ini mengetuk label STRUCTURE LEVEL (TINGKAT STRUKTUR). Jendela sekunder itu lantas memunculkan jendela cabang kecil dengan sebuah tombol melingkar.
All primary structures have a structure level. Structure level rises as the primary structure is strengthened and expanded or as secondary structures are built. When structure level rises, protective effects are added. Secondary structures always have a structure level of zero, however, and do not earn protective effects of their own. (Semua struktur utama memiliki tingkat struktur. Tingkat struktur meningkat saat struktur utama diperkuat dan diperluas atau saat struktur sekunder dibangun. Saat tingkat struktur meningkat, efek perlindungan akan ditambahkan. Akan tetapi, struktur sekunder selalu memiliki tingkat struktur nol, dan tidak bisa mendapatkan efek perlindungan mereka sendiri.)
"Ahhh, aku paham sekarang," sahut Lisbeth, yang kali ini bisa menangkap maksudnya dengan cepat. Ia menjentikkan jarinya. "Jadi alasan kenapa level pondok kayu ini naik adalah karena kita membangun begitu banyak rumah di sekelilingnya. Tapi karena rumah-rumah lainnya adalah struktur sekunder, mereka tidak memberikan poin pengalaman (experience) ke satu sama lain."
"Saat membangun semua rumah untuk Ruis na Ríg ini, seseorang mungkin akan menyadari efek perlindungan itu jika mereka mengecek pondok kayunya dengan saksama. Apa pun itu, Protection of the Ancient Oak ini akan sangat membantu. Selama pondok kayunya tidak dihancurkan, ini berarti semua rumah dan tembok pertahanan di Ruis na Ríg pada dasarnya tidak bisa dihancurkan."
"Ya, kurasa begitu. Oh, tapi..."
Lisbeth menutup dua jendela kecil itu dan kembali memeriksa penjelasan tentang Protection of the Ancient Oak pada pop-up aslinya.
"Tertulis radius efeknya adalah seratus lima puluh kaki, jadi kurasa jarak itu akan menjadi batas seberapa jauh kita bisa memperluas bangunan Ruis na Ríg..."
"Tapi jarak lima puluh meter (lima puluh yard) seharusnya sudah cukup kan? Aku cukup yakin batas kota kita saat ini baru di radius tiga puluh meter."
"Yaah," desah Lisbeth dengan penuh arti, dan menunduk melirik ke sebelah kanannya. Asuna mengikuti pandangannya dan mengecek jam. Saat itu pukul setengah lapan malam—sudah saatnya Kirito muncul.
Tepat ketika pemikiran itu terlintas di benaknya, pintu di teras sebelah kiri mereka pun terbuka.
Ia dan Lisbeth mendongak. Benar saja, sosok itu adalah Kirito yang melompat keluar dari pondok kayu. Kedua gadis itu sedang berdiri di dekat dinding batu, jadi pria itu sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka, melempar tubuhnya keluar dari teras dan langsung berlari melesat ke arah barat daya. Saat ia mencapai titik tempat gerbang kayu sebelumnya berada kemarin, ia mengerem paksa hingga terseret dalam kepulan debu.
"A-apa apaan ini-?! Tidak ada gerbangnya!"
Asuna menatap tepat di kedua mata Lisbeth, dan mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Dua menit kemudian, Asuna, Lisbeth, dan Kirito berjalan menelusuri terowongan dari menara yang baru dibangun di sebelah barat tersebut.
Berdasarkan cerita yang ia dengar sebelumnya, kelompok Lisbeth mengalahkan bos penjaga sekitar pukul empat sore, dan rombongan orang-orang mulai tiba di Ruis na Ríg dari Reruntuhan Stiss sekitar pukul enam sore. Mengingat rute perjalanannya berjarak hampir dua puluh mil (sekitar 32 km) antara kedua titik tersebut, itu adalah kecepatan perjalanan yang luar biasa, namun ini juga berarti bahwa teman-teman mereka telah membongkar gerbang, membangun menara baru, dan menggali terowongan darurat tersebut hanya dalam waktu satu jam setelah para tamu itu tiba.
Tentu saja ini adalah dunia gim, sehingga proses pembongkaran layaknya konstruksi merupakan proses instan yang bisa dilakukan langsung dari menu kontrol, namun menggali terowongan tidak mungkin semudah itu. Sejujurnya, Asuna bahkan tidak sadar kalau seorang pemain bisa menggali lubang yang cukup besar untuk dilewati orang di Unital Ring. Dalam dunia SAO dan ALO, pijakan tanah kebal terhadap segala jenis kerusakan. Ia awalnya berasumsi hal yang sama juga berlaku di sini.
Mereka menyusuri terowongan tanah kotor itu sejauh enam puluh kaki (sekitar 18 meter), di mana lalu terdapat tangga menuju ke atas di ujung jalan. Lisbeth naik lebih dulu dengan membawa obor, dan di bagian atas, mereka muncul di dalam sebuah tenda kecil. Tenda ini juga baru dibangun; lantainya masih berupa tanah kosong, dan tidak ada perabotan maupun orang sama sekali di dalamnya.
Kirito adalah orang terakhir yang menaiki tangga. Ia mengangkat sedikit kain tenda yang menutupi pintu keluar agar bisa mengintip keluar.
"Ahhh, jadi jalan ini tembus ke dalam kawasan tempat tinggal Bashin. Ya, kurasa tidak ada pengunjung yang akan keluyuran berjalan-jalan ke tempat ini."
"Begitulah pikiranmu." Lisbeth merengut. "Tapi beberapa pemain baru yang keliling kota malah masuk ke dalam rumah keluarga Bashin dan Patter seolah-olah itu rumah mereka sendiri, jadi kami harus memagari tempat tinggal mereka dengan pagar tinggi. Hal itu meredakan situasi untuk saat ini, tapi Agil memperkirakan hal ini bisa berkembang menjadi masalah besar di masa depan."
"Hah...? Apa maksudmu?"
"Yah, coba kalian lihat ke arah luar kota," ajak Lisbeth, seraya mengangkat penutup kemah agar ia bisa melangkah keluar.
Kawasan tempat tinggal Bashin berbentuk seperti seperempat irisan dari kue cincin (ring cake) melingkar. Tenda-tenda dengan beragam ukuran didirikan di ujung timur kawasan tersebut, sedangkan tiga buah bangunan panjang dan sempit berbahan kayu ditempatkan di bagian ujung barat.
Kemarin, tidak ada dinding yang memisahkan area perumahan tersebut dengan jalan, namun kini terdapat pagar setinggi enam kaki yang mengelilingi perumahan penduduk tersebut. Akan tetapi, perumahan ini tidak sepenuhnya tertutup rapat; ada gerbang di sisi utara dan selatan, dan tidak ada pagar pembatas sama sekali di sepanjang jalan interior. Sebagai gantinya, deretan tenda dagang (mercantile tents) berukuran lebih kecil didirikan menghadap ke jalanan, dan tenda-tenda tersebut sesak dipenuhi pelanggan.
Orang-orang Bashin sangat ahli dalam merakit perlengkapan, tulang belulang, dan taring menjadi perkakas serta benda-benda berguna—zirah kulit dan senjata tulang rakitan mereka sangat ringan, kokoh, dan terlihat bagus. Produk mereka juga sama sekali tidak murah, tetapi pasti ada lebih dari segelintir pemain yang lebih memilih barang-barang buatan Bashin dibanding perlengkapan besi ortodoks milik Lisbeth.
Lisbeth memikirkan hal yang sama pada saat itu. "Aku tidak boleh kalah," gumamnya, lalu melangkah ke arah gerbang utara.
Mereka menyusuri jalan barat laut—Jalan Pukul Sepuluh—menyapa para pejuang Bashin yang familier yang berpapasan dengan mereka di jalan. Di seberang jalanan tersebut adalah kawasan istal hewan, sehingga hanya ada segelintir pelanggan di sana.
Tiga kandang tersebut menaungi beruang gua berduri (thornspike cave bear) peliharaan Silica, Misha; macan kumbang duri lapis (lapispine dark panther) dan elang ekor panjang timah (leaden long-tailed eagle) peliharaan Kirito, Kuro dan Namari; serta agamidae raksasa berparuh panjang (long-billed giant agamid) milik Asuna, Aga. Sudah hampir dua puluh jam berlalu sejak Asuna terakhir kali memberi makan Aga secara langsung menggunakan tangannya, tetapi para NPC yang mengelola istal menjaga hewan-hewan itu dengan sangat baik, dan berkat efek Protection of the Bear (Perlindungan Beruang), tingkat kedekatan (afinitas) hewan peliharaan mereka tidak akan menurun, jadi Asuna menahan kerinduannya untuk melihat Aga dan bergegas mengikuti Lisbeth.
Mereka berjalan menuruni Jalan Pukul Sepuluh menuju Jalan Perimeter Luar, di mana gerbang barat laut Ruis na Ríg pun terlihat. Gerbang tersebut terbuka lebar, tanpa ada penjaga yang memblokir jalan sama sekali, dan di seberangnya terhampar Hutan Besar Zelletelio yang luas. Atau setidaknya, seharusnya pemandangannya seperti itu.
"Hah?!"
"A-apa ini?!"
Asuna dan Kirito luar biasa terkejut.
Hutan itu telah ditebang selebar dua puluh yard tambahan dari tembok luar kota, di mana banyak sekali bangunan rumah sekarang berjejalan saling berdempetan. Mayoritas hanyalah berupa gubuk kayu kasar, namun ada beberapa yang terlihat seperti pondok batu kecil. Bangunan-bangunan itu didirikan dengan sangat tidak beraturan, sesempit yang diizinkan oleh batas sistem; rumah-rumah itu menghadap ke segala arah yang berlawanan, dan jalan-jalan setapak yang membentang di antaranya berkelok-kelok ruwet. Di celah sempit di mana tak ada ruang lagi bagi pemain mana pun untuk memasukkan gubuk sekecil apa pun, para pemain berkerumun berdekatan mengelilingi api unggun, dua atau tiga orang di setiap perapiannya.
Setelah berhasil memproses keterkejutannya melihat pemandangan menakjubkan itu, Asuna mengakui, "I-ini cukup luar biasa... Tapi kenapa semua ini bisa terjadi...?"
"Kemungkinan karena efek dari Protection of the Ancient Oak," jawab Lisbeth seraya mengetuk dinding gubuk kayu di dekatnya. Karena ia bukanlah pemilik rumah, jendela atribut yang muncul di udara hanya memuat tipe bangunan dan daya tahannya, tapi sesuai dugaannya, jendela itu berisikan tulisan: Protection of the Ancient Oak: Added Durability: 100,000 (Perlindungan Pohon Ek Kuno: Tambahan Durabilitas: 100.000).
"Seseorang pasti mendirikan gubuk tepat di luar tembok lebih awal dan segera menyadari efek perlindungan ini. Biasanya, daya tahan rumah ini hanya sekitar empat atau lima ribu, yang bisa dengan mudah dihancurkan dan dirampok saat kalian tidak online, tapi dengan tambahan angka seratus ribu, rumah-rumah ini dasarnya mustahil untuk dihancurkan. Mengingat kapasitas angkut (carrying capacity) di gim ini sangat terbatas, punya lokasi penyimpanan aman untuk menyimpan material dengan usaha sesedikit mungkin adalah sebuah keuntungan yang sangat masif. Dan kalau kalian punya rumah sendiri, kalian tidak perlu menghamburkan uang menyewa kamar di penginapan setiap kali mau log out," jelas Lisbeth memaparkan logika mereka.
Alasan tersebut benar-benar rasional. Asuna dan Kirito toh sudah bersusah-payah melakukan berbagai cara ekstrem untuk melindungi pondok kayu mereka dari amukan beruang thornspike cave bear pada malam pertama mereka jatuh di Unital Ring.
"...Ahhh, ya. Tidak heran kalau mereka sengaja membangunnya di sini," gumam Kirito menyetujui sambil mengangguk pelan. "Tapi apa hubungannya fenomena ini dengan kawasan perumahan Bashin yang akan berubah menjadi masalah kelak?"
"Ummm, yah, aku cuma menyampaikan lagi apa yang Agil bilang padaku," Lisbeth mengakui, seraya kali ini mengetuk dinding tembok yang mengelilingi Ruis na Ríg menggunakan bagian belakang jarinya. "Begitu kamu berhasil membangun rumah, kamu perlahan bakal mulai menginginkan rumah yang lebih bagus, di lokasi yang lebih aman, dengan area yang lebih luas, benar kan? Tapi separuh lahan di bagian dalam Ruis na Ríg didiami oleh perumahan warga NPC. Bakal ada pemain yang menuntut agar kita mengusir mereka untuk memberi ruang bagi lebih banyak pemain... begitulah menurut Agil."
"Tidak, kita tidak bisa membiarkan itu!" seru Asuna yang langsung merasa marah. "Kita yang membawa orang-orang Bashin dan Patter ke Ruis na Ríg. Waktu Tengkorak—maksudku, waktu monster Life Harvester (Pemanen Nyawa) menyerang, mereka mempertaruhkan nyawa untuk ikut bertarung bersama kita! Kita sama sekali tidak boleh menyingkirkan-"
"Aku mengerti, Asuna. Kita tidak akan pernah melakukan itu," tandas Kirito, mengusap pelan siku pacarnya dengan menenangkan.
Usapan itu membantunya sedikit lebih tenang. Ia menatap sejenak ke arah Kirito sebelum melanjutkan penjelasannya. "Protection of the Ancient Oak memiliki jangkauan seratus lima puluh kaki, jadi kita bisa memperluas kembali tembok pertahanannya ke arah luar sejauh dua puluh yard (sekitar 18 meter) tambahan. Kita bisa meminta semua orang untuk membongkar rumah mereka sementara, menggeser tembok batunya sejauh batas terjauh efek perlindungan, baru kemudian membagi-bagikan lahannya lagi agar semua orang bisa membangun ulang... Bahkan, kalau kita membangun beberapa rumah susun bertingkat dua atau tiga di dalam, kita bisa menampung populasi berlipat ganda dari jumlah sekarang di dalam kota."
"...Memang benar. Namun, hal ini mungkin sangat sulit untuk dipraktikkan langsung," keluh Kirito dengan pandangan merenung.
"Kenapa?" tanyanya.
Pria itu melirik ke arah gerombolan pemain pria yang sedang mengobrol asyik sambil memanggang satai daging di atas api unggun di sebuah lorong gang yang sangat sempit. "Pemain MMO umumnya tidak suka sistem penjatahan kavling (allotment). Mayoritas orang sama sekali tidak menginginkan rumah indah mungil yang dipersiapkan orang lain bagi mereka; mereka ingin memilih sendiri lokasi incaran mereka dan mendirikan rumah persis seperti apa pun yang mereka idamkan. Malahan, aku berani taruhan di luar sana ada orang yang berambisi untuk mendirikan kota mandiri mereka sendiri, yang tidak terikat dengan Ruis na Ríg..."
Kirito menghentikan kalimatnya di sana, terdiam, lalu berpaling menatap Asuna dan Lisbeth sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Itu poin utamanya. Kenapa mereka tidak melakukannya saja? Berdasarkan penjelasanmu tadi, struktur hunian apa pun yang dibangun dalam jarak lima ratus yard dari Ruis na Ríg akan dihitung sebagai-sebagai..."
"Struktur utama," sahut Asuna membantunya melengkapi kalimat.
Kirito lantas menunjuk ke arahnya. "Itu dia. Jadi kalau mereka melakukan hal itu, mereka tetap akan mendapat semua efek perlindungan sekaligus punya lahan seluas yang mereka mau."
"...Ya, itu memang benar...," ucap Asuna, meniru pandangan wajah frustrasi bercampur bingung milik Kirito.
Namun di luar dugaan, Lisbeth menyanggah, "Sebenarnya sih, orang-orang sudah pernah mencoba hal itu."
"Hah?! Maksudmu sudah ada kota lain di sekitar sini?"
"Sebenarnya... aku cuma dapat info ini dari orang ketiga, jadi aku tidak bisa memastikan validitas ceritanya, tapi dari apa yang kudengar, salah satu grup pendatang dari Reruntuhan Stiss membuka lahan di sekitar tepi sungai di arah barat laut dan membangun sebuah rumah. Dan tak kurang dari lima menit, seekor babi hutan raksasa sialan mendadak datang menerjang dan meluluhlantakkan rumahnya sampai hancur berkeping-keping."
"Seekor babi hutan..."
Asuna dan Kirito kembali saling bertukar tatapan.
"...Aku sama sekali belum pernah melihat monster semacam itu di sekitar sini."
"Aku juga tidak pernah melihatnya. Rumah itu tidak mungkin memancingnya secara langsung... sepertinya..."
Komentar tersebut keluar begitu saja dalam sepersekian detik, namun ada sebuah pemikiran yang nyangkut di pikiran Asuna, dan ia lalu menyusuri kembali ingatan yang lalu untuk mencari tahu apa itu.
Pada hari Minggu, tepat enam hari yang lalu, pondok kayu tersebut jatuh terempas ke tanah tempat ini hanya beberapa menit selepas pukul lima sore. Dan beruang gua thornspike yang luar biasa raksasa lantas datang menyerang kira-kira tiga jam berselang.
Bagaimana seandainya serangan itu sesungguhnya bukanlah sebuah kebetulan semata...?
"...Mungkin itu benar," guman Asuna.
Lisbeth menatapnya heran dan menyahut, "Maksudmu babi hutan itu sungguh-sungguh tertarik ke rumah barunya? Sama sekali kedengaran tidak adil, kan?"
"Tidak... dia mungkin benar. Sebelum kamu berjumpa dengan kami, Liz, pondok kami juga diserang oleh seekor beruang buas superbesar persis pada malam pertama itu."
"Oh, iya. Kalau tidak salah kamu pernah menceritakan itu padaku."
"Awalnya aku mengira monster itu terpancing ke arah kami karena suara aku menggunakan sword skill (skill berpedang) untuk membelah batang pohon menjadi papan-papan kayu gelondongan, tapi mungkin pada dasarnya ada sebuah sistem dalam gim yang sengaja mendatangkan—semacam, monster buas endemik legendaris untuk menyerang setiap rumah yang baru dibangun. Karena bos penjaga di area sekitar sini adalah thornspike cave bear, tapi karena Silica sudah lebih dulu menjinakkan beruang jenis itu, mungkin gim ini merespons hal itu dengan memunculkan babi hutan raksasa untuk menjadi bos penghuni lokal yang baru..."
Lisbeth memekik mengernyitkan wajahnya. "Idih, sistem permainannya kacau sekali, kan?"
Asuna menyetujuinya, tapi mekanisme sistem semacam ini agaknya cukup masuk akal baginya. "Ya, itu memang kejam, tapi efek perlindungannya benar-benar luar biasa kuat. Pasti sangat sulit mendirikan sebuah rumah, atau kota, di tengah alam liar, tetapi begitu tempat tersebut berhasil mapan berdiri, akan butuh kekuatan berkali lipat lebih besar untuk sanggup menghancurkannya. Kurasa itulah keseimbangan gim yang memang sudah dirancang."
"Masuk akal juga," gumam Lisbeth. Ia berputar haluan untuk kembali menatap ke arah Ruis na Ríg.
Area berdiameter enam puluh yard (sekitar 54 meter) sungguh bukanlah apa-apa bagi sebuah pemukiman kota atau pedesaan di dunia nyata. Ada banyak gedung apartemen yang luasnya lebih besar ketimbang area itu. Namun tempat ini adalah kota milik mereka, sebuah aset yang telah mereka pertahankan dan bangun dengan susah payah. Insiden serangan thornspike cave bear di hari pertama, gempuran kawanan Schulz di hari kedua, amukan mengerikan Life Harvester di hari keempat, dan kedatangan pasukan Mutasina di hari kelima... Satu kesalahan pergerakan dalam semua peperangan tersebut bisa membawa pada kekalahan absolut, dan serangan-serangan dengan intensitas yang lebih dahsyat mungkin akan datang di masa depan.
Berdasarkan pertimbangan itu, mereka tidak pantas untuk berpuas diri dengan kejayaan mereka sekarang. Sekalipun Protection of the Ancient Oak sangat kokoh, jikalau musuh bisa menemukan cara meluluhlantakkan struktur pondok kayunya secara langsung, seluruh perlindungan fantastis tersebut akan sirna. Ini adalah dunia yang tidak hanya mendukung penggunaan senjata api primitif beramunisi mesiu belaka, melainkan turut menampilkan armada peliharaan terbang maupun gelombang raksasa sihir mematikan yang mampu menyesakkan napas ratusan orang sekaligus. Apabila penyerang berhasil membombardir pondok tersebut dari udara, tembok pertahanan sekokoh apa pun tidak akan sanggup menolong rumah itu.
"Hei, Liz."
"Hmm?"
"Di bagian Tips yang menerangkan detail fungsi pondok kayu, tertulis bahwa tingkat struktur rumah akan meningkat seiring dengan struktur utama yang terus diperkuat dan diperluas atau ketika struktur sekunder lainnya dibangun... benar, kan?"
"Aku tak percaya kalau kamu berhasil menghafalkan barisan teks itu cuma dengan membacanya satu kali." Lisbeth mengulas seringai tipis. "Yah, aku tak yakin kalimatmu tadi persis sama 100 persen atau tidak dengan panduannya, tapi aku ingat kalau teksnya kurang lebih berbunyi seperti itu."
"Kalau begitu, logikanya kita akan bisa meningkatkan levelnya lagi kalau kita memperbaiki dan memperkuat susunan pondok kayunya sendiri."
"Eh... kamu yakin, Asuna?" timpal Kirito bertanya dari atas sebelah bahunya.
Ia memutar badannya menoleh. "Ya. Kita wajib melakukan semua hal yang bisa kita kerjakan."
"...Kalau begitu, mari kita lakukan," ucap pria itu seraya tersenyum lebar.
Ia pasti berbohong jika ia bilang secara gamblang bahwa ia benar-benar bersemangat dan mendukung proyek ini sepenuhnya. Pondok kayu ini adalah tempatnya menghabiskan waktu dua minggu penuh keajaiban berharga bersama Kirito kala itu, nun jauh di sana di lantai dua puluh dua Aincrad. Ikatan emosional itulah alasan utama yang membuat mereka sangat terobsesi melindunginya setengah mati ketika kediaman tersebut буквально terdampar di dunia Unital Ring, dan ia berambisi untuk membawa bangunannya kembali utuh ke wujud orisinal ke ALO suatu hari nanti. Namun seluruh impian tersebut tak akan ada artinya kalau pondoknya malah remuk dihancurkan di tempat ini, dan di samping semua itu, hal yang membentuk esensi utama sejati rumah tersebut sesungguhnya tidak terletak pada tampilan presisi lekuk aslinya.
Garis senyum tipis yang menghiasi wajah Kirito menampakkan sedikit variasi perubahan raut.
"...Ada apa?"
"Hanya terpikir sesuatu... sewaktu kamu tadi sedang tidak ada, Yui dan aku sempat memperbincangkan rencana penambahan ekstensi area pondok kayu. Awalnya aku kira kamu akan menolak usul tersebut... tapi lalu Yui meyakinkanku kalau mamanya tidak akan memusingkan perubahan tampilan eksterior semata. Bahwa selama sifat esensial dari rumah kediaman itu tetap terawat dengan baik, kamu tidak akan peduli jika desain luar wujudnya harus sedikit diubah."
"Yui bilang begitu...?"
"Jadi aku bertanya apa maksud sebenarnya dari esensi asli rumah kita itu...," Kirito belum merampungkan seluruh ucapannya, tetapi Asuna langsung menahan satu telapak tangannya di depan wajah pria itu untuk menyetopnya.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti maksudnya."
"...Baguslah."
Mereka sama-sama bertukar senyum kecil.
"Ehem!" celetuk seseorang dari belakang punggung mereka dengan volume suara yang kentara disengaja.
Asuna buru-buru berbalik badan. "M-maaf, Liz."
"Siapa, aku? Tidak usah repot-repot minta maaf kepada diriku yang menyedihkan ini! Aku tadi cuma lagi melamun, kalau rasanya asyiiiik banget seandainya kita bisa langsung balik kerja aja sekarang..."
"Eh, k-kerja?"
"Tahu kan? Kerjaan yang semacam ini?" tukas Lisbeth sambil mencontohkan gerakan tangan selayaknya mengayunkan palu berat.
"Oh... ah iya, tadi kamu memang berniat balik lagi ke wilayah pondok kayu buat ngelanjutin tugas di tungku pandai besi, kan?"
"Tepat sekali."
"Lalu teman-teman yang lainnya pergi ke mana?"
"Tentu saja sudah sangat jelas kan?"
Lisbeth mengangkat sebelah tangannya, telunjuknya menuding ke area langit arah utara.
"Mereka sedang menaklukkan dungeon tangga untuk naik ke tingkat kedua!"

Komentar (0)

Memuat komentar...