Sword Art Online 027: Unital Ring VI
Bagian 4
Estimasi waktu baca: 17 menitIngatan Integrity Knight Alice Synthesis Thirty dimulai di dalam sebuah ruang hampa yang dipenuhi cahaya putih bersih. Ia mengenakan kain tipis, terbaring miring.Ia mengangkat kelopak matanya, mengerjap menahan silau yang terang, dan perlahan bangkit untuk duduk. Alice menatap sekeliling, kebingungan setengah sadar di mana ia berada dan apa yang sedang ia lakukan di sana. Saat itulah ia menyadari bahwa ia bahkan tidak tahu siapa dirinya sendiri. Nama dan latar belakangnya menjadi misteri baginya, dan ia tidak bisa melakukan apa pun selain duduk mematung dalam keadaan linglung, sampai sebuah suara yang lebih manis dari suguhan manis mana pun dan lebih halus dari sutra, berbicara dari arah belakangnya..."...Kakak? Ada apa, Alice?"Sebuah tangan mengguncang pelan bahunya, membuat kedua mata Alice terbelalak seketika.Di hadapannya ada seorang gadis berambut pirang pucat jerami, menatapnya dengan penuh raut kecemasan. Sebenarnya, usianya sudah terlalu dewasa untuk disebut sebagai "gadis", tetapi meskipun begitu, terlihat jelas di dalam air bahwa tubuhnya tetap sekurus biasanya."Sepertinya aku sempat tertidur sebentar. Aku tidak apa-apa, Selka," jawab Alice, memancing seulas senyum dari adiknya."Iya, rasanya luar biasa sekali, kan? Berendam di dalam pemandian katedral bersamamu selalu jadi salah satu impianku.""Ha-ha... Bak mandi di pondok tengah hutan tempat tinggalku dulu terlalu sempit buat kita pakai bersamaan.""Kukira tempat mandi di gereja Rulid itu sudah besar, tapi kalau dibandingkan dengan tempat ini, ukurannya ibarat tikus melawan sapi," celetuk Selka, menggunakan perumpamaan umum Underworld. Perumpamaan yang terasa familier itu sontak membuat Alice terkikik."...? Memangnya apa yang lucu?""Maaf. Kalau di dunia nyata, mereka bakal mengibaratkannya seperti membandingkan penyu dengan bulan.""Apa itu... penyu?""Aku sendiri belum pernah melihatnya langsung, tapi sepengetahuanku itu sejenis kura-kura.""Kura-kura?! Kenapa mereka membandingkan Lunaria—maksudku, Admina—dengan kura-kura? Yang satu itu planet, dan yang satunya kan cuma hewan biasa," gerutu Selka sambil mencipratkan air. Sayangnya, Alice juga tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan untuknya. Seandainya ini di dunia nyata, ia pasti sudah bisa memunculkan jendela holo visual untuk langsung menelusurinya via online... namun, tentu saja, hal itu tidak bisa dilakukan di sini.Alih-alih menjawab, ia hanya mengangkat bahu. "Dunia mereka dipenuhi dengan segala macam perumpamaan aneh.""Ohhh... itu mengingatkanku. Aku sempat sadar kalau Kirito dan Asuna sesekali melontarkan beberapa kosakata aneh," gumam Selka, menatap lurus menembus kaca jendela di depan. Alice mengikuti arah pandangannya.Di balik jendela raksasa yang mengelilingi Pemandian Besar Katedral Sentral, tirai bintang-gemintang berkelap-kelip dalam kebisuan. Setengah lingkaran keemasan yang melayang di antara bintang-bintang itu selalu dikenal Alice sebagai Lunaria, tetapi di tahun-tahun belakangan ini, nama resminya telah diubah menjadi bintang pendamping, Admina.Kemungkinan besar Kirito-lah yang menamai bintang utama ini Cardina, dan kembarannya di seberang angkasa Admina. Jelas sekali bahwa keduanya dinamai untuk menghormati sang pendeta bijak Cardinal dan pontifex Administrator. Suatu hari nanti, ia ingin bertanya mengapa pria itu menamai sebuah planet dengan nama wanita yang sama yang ia kalahkan dalam pertarungan sengit yang amat mengerikan itu, tetapi sayangnya, Kirito tidak lagi memiliki ingatan apa pun sebagai Star King."...Apakah kamu pernah pergi ke Admina, Selka?" tanyanya terdorong rasa ingin tahu tiba-tiba.Adiknya kembali mencipratkan air. "Tentu saja! Malahan, aku ikut hadir waktu ekspedisi perdana ke sana. Saat aku turun dari kapal naga dan melangkah masuk ke ladang hamparan bunga kuning yang membentang luas hingga ke ujung cakrawala... itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan.""...Ah, tentu saja. Kamu kan komandan pasukan artifikator suci."Itu adalah sebuah gelar yang tidak eksis di masa Gereja Axiom dua abad yang lalu. Para artifikator suci di lingkungan Gereja pada masa itu disebut biarawan/biarawati, dan mereka mengabdi di bawah empat pendeta tinggi, dengan Perdana Senator Chudelkin berada di atas mereka semua. Itu artinya posisi komandan pasukan artifikator suci adalah penerus spiritual kedudukan Chudelkin, meskipun gelar itu sebelumnya sempat disandang oleh Ayuha Furia sebelum Selka.Sejarah memalukan itu memang tidak nyaman untuk dikenang, namun tabiat dan karakter menjijikkan pendahulu mereka sama sekali tidak menodai pencapaian gemilang yang ditorehkan Ayuha dan Selka."Kamu sudah berjuang dengan hebat, Selka," ujar Alice seraya mengulurkan tangannya untuk membelai lembut rambut lembap adiknya. Secara fisik dan mental, Selka kini lebih tua darinya, tetapi adik perempuan akan selalu menjadi adik perempuan. Gadis itu tersenyum lebar dengan bahagia lalu menyandarkan diri pada tubuh Alice.Ketika Kirito dan Asuna lenyap ditelan pilar-pilar cahaya di lantai delapan puluh tadi, Alice berasumsi dirinya juga akan ditarik keluar beberapa saat kemudian dan spontan memeluk Selka dengan erat. Akan tetapi, detik demi detik berlalu tanpa adanya perubahan sama sekali, dan pada akhirnya, dengan perasaan agak canggung, ia melepaskan pelukannya pada sang adik. Kemungkinan besar, Dr. Koujiro telah berbaik hati dengan memberinya kelonggaran untuk melanjutkan penyelamannya.Ia amat mensyukuri hal itu, kendati ia tak punya alat untuk berkomunikasi dengan dunia nyata, sehingga ia sama sekali tidak tahu kapan koneksinya mungkin diputus sewaktu-waktu. Awalnya, ia bimbang soal bagaimana cara menghabiskan waktu tambahan ini, hingga kemudian Selka berseru nyaring, "Aku ingin berendam di pemandian!"Bagaimanapun juga, Selka sudah terduduk mematung di Taman Puncak Awan (Cloudtop Garden) selama 140 tahun lamanya. Airy tiada henti membersihkan debu dari tubuh membatu Selka setiap hari selama masa itu, tapi dapat dimengerti jika ia sangat ingin membersihkan dirinya. Ronie dan Tiese langsung menyetujui, alhasil rombongan itu pun beranjak dari lantai delapan puluh menuju lantai sembilan puluh, di mana Airy dan Eolyne meninggalkan mereka sejenak untuk menunaikan tugas lain, membiarkan keenam gadis itu (beserta seekor hewan peliharaan) menikmati pemandian sepuasnya. Alice, Stica, dan Laurannei sebenarnya baru saja mandi empat jam lalu, tapi godaan Pemandian Besar katedral itu begitu memikat hingga masuk ke sana berulang kali dalam sehari tak akan mengurangi daya tariknya.Tak jauh dari mereka, keempat orang lainnya duduk melingkar, asyik mengobrol. Sepertinya dua gadis keturunan itu sedang memaparkan silsilah keluarga mereka kepada para pendahulu mereka. Kendati begitu, bila mereka benar-benar berniat merunut rinci sejarah keluarga sepanjang dua abad, niscaya mereka akan tertahan di dalam sana selama berjam-jam.Alice punya setumpuk perbendaharaan topik obrolan yang niatnya akan ia bicarakan andai saja ia bisa bertemu Selka lagi, namun kini setelah mereka berada di sini, saling berendam di pemandian, sensasi air panasnya saja sudah memanjakan raga dan jiwanya, meresap dalam-dalam hingga membuatnya merasa seakan seluruh eksistensinya tengah melayang bebas. Itulah alasan mengapa ia mulai terlelap sebelumnya. Sungguh sebuah pemborosan semata, tertidur tepat di saat ia sedang merasakan kebahagiaan yang telah ia idam-idamkan sekian lama..."...Kakak lelah, ya? Kalau Kak Alice mau tidur, tidurlah sebentar," bisik Selka pelan.Alice berjuang keras mengangkat kembali kelopak matanya yang mulai meredup tanpa disadarinya. "Tidak, aku tidak apa-apa. Aku akhirnya dapat kesempatan untuk berjumpa denganmu lagi—kita harus terus berbincang.""Ha-ha... Kakak ini persis seperti anak kecil saja." Selka terkikik geli. Meski Alice menganggap ucapan itu menyindir secara personal, secara mental Selka kini—menurut informasi Airy—sudah berusia di atas tujuh puluh tahun, sementara Alice sendiri hanya mengantongi kumpulan ingatan selama enam tahun dan beberapa bulan.Ia kini telah berhenti meyakini bahwa wujud Alice Synthesis Thirty hanyalah sebatas entitas jiwa sementara yang mendiami raga Alice Zuberg semata. Namun biarpun begitu, ada kalanya ia merasa kelakuannya tak tertahankan layaknya kanak-kanak dan penuh kekonyolan.Sekali lagi ia menjulurkan tangannya, menyusuri pelan paras pipi Selka, yang terasa jauh lebih dewasa ketimbang figur gadis kecil dalam kenangannya."Selka... apakah kamu menempuh seni pembekuan abadi (life-freezing) demi diriku...?" tanya Alice, menyuarakan sebuah pertanyaan yang sedari tadi enggan ia utarakan secara gamblang.Seketika ia merutuki kekeliruannya, tapi semuanya sudah terlambat. Selka meraih tangan Alice dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. "Tentu saja iya. Tapi itu bukan satu-satunya alasannya.""...Maksudmu?""Yah... seni pembekuan abadi memang mengehentikan berkurangnya kapasitas kehidupan (Life) dan memudarnya kemudaan paras seiring waktu, tapi seni itu mustahil menghalangi merosotnya kapasitas serta fragmentasi fluctlight. Agar kami sanggup menanti datangnya hari saat kamu kembali lagi ke Underworld, kami harus memulihkan seni purba pengubah tubuh menjadi batu yang sudah lenyap itu, formula Deep Freeze (Pembekuan Dalam)... Tapi..."Ia menghentikan ucapannya sejenak, merenungkan jawabannya sembari merenung memandang langit utara."...Biarawati Azalia dulu di Rulid pernah mengajariku kalau sudah jadi kodrat alam bagi semua manusia untuk dilahirkan, bertumbuh, menua, lalu tiada—bahwa itu semua adalah kehendak Dewi Stacia. Makanya, sejak dulu aku selalu memendam penolakan terhadap konsep seni pembekuan abadi maupun seni pembatukan. Aku dirundung keraguan, apa benar tindakan memulihkan seni sakral yang mencederai dogma Gereja cuma demi menuruti ego sempitku semata untuk melihatmu sekali lagi? Sampai akhirnya, pada suatu hari aku mengutarakan kerisauanku itu kepada Kirito...""Pria itu pasti menyuruhmu kalau bersikap egois sesekali itu tidak apa-apa, kan?" sela Alice.Raut Selka seketika menampakkan ekspresi keheranan yang kentara. Tak lama kemudian tawa gadis itu meledak. "Betul sekali! Tapi pas dia mengatakannya, kalimatnya lebih seperti, 'Kamu boleh bersikap jauuuh, jauuuuh lebih egois lagi, Selka! Aku memaafkanmu!'""...Gaya bicaranya langsung terngiang di kepalaku sekarang.""Hi-hi. Dan tepat sehabis itu, sekalipun waktu itu statusku di katedral adalah biarawati magang, dia malah menceritakan satu fakta yang menghempas telak fondasi keimananku—kalau sosok manusia paling egois sejagat raya itu adalah Administrator, entitas di balik penciptaan Gereja Axiom maupun Indeks Tabu. Selepas mendengar ceritanya itu, rasanya seluruh polemik pribadiku serasa picisan jika disandingkan, lalu aku menetapkan hati buat memprioritaskan apa yang sungguh-sungguh berarti dalam hidupku.""Apa itu...?""Untuk kembali melihatmu, tentunya."Selka menarik tangan Alice lalu mendekapkannya ke dadanya, kemudian ia melepaskannya."...Setelah itu, aku mulai meriset seni pembatukan (petrification art) berdampingan dengan Nona Ayuha... Sewaktu itu, niat asliku tak sampai ingin menjalani pembekuan abadi, tapi Kakak pasti bakal syok kan kalau pas ketemu lagi rupanya aku sudah jadi nenek-nenek peot? Dan persis di sekitar waktu itu juga, Ronie dan Tiese turut memutuskan buat menjalani pembekuan abadi dengan alasan mereka sendiri, jadi aku mengambil keputusan buat menjalaninya bareng mereka.""Mereka juga...?" bisik Alice seraya mengarahkan pandangannya pada grup berempat yang berada di kejauhan. "Apa alasan mereka?""Hmm... Sebaiknya Kakak tanyakan sendiri saja ke mereka..."Jawaban itu sontak memangkas seluruh rentetan pertanyaan di kepala Alice. Sebetulnya, sewaktu di Taman Puncak Awan (Cloudtop Garden) ia memang menganggap pemaparan Airy agak ganjil. Dulu Alice memang hanya sempat bertegur sapa dengan Ronie dan Tiese selama sekelumit hari di tengah berkecamuknya Perang Dunia Lain, tapi ia menilai mereka sebagai pribadi gadis-gadis belia yang luar biasa baik hati nan manis. Kendati itu seratus persen murni wujud khayalannya saja, ia dulu meyakini bahwa mereka kelak bakal dipertemukan dengan tambatan hati yang cocok, membangun bahtera rumah tangga, memiliki anak, dan mengecap kebahagiaan hingga di usia senja.Jadi meskipun soal pengangkatan mereka sebagai Integrity Knight itu hal lain, Alice dibuat terkejut bukan kepalang saat mengetahui mereka menempuh ritual pembekuan abadi. Enggan meranggas dimakan usia, seperti yang Selka singgung barusan, berarti dengan sengaja memutus siklus dirimu sendiri dari tatanan hukum alam yang niscaya. Sederet kesatria yang pernah melintasi usia lebih dari ratusan tahun—seperti Deusolbert, Fanatio, hingga Bercouli—sama sekali tak terlihat menganggap kehidupan abadi itu sebagai sebuah kebahagiaan, begitulah batin Alice. Demikian pula halnya dengan para Integrity Knight yang lain, bahkan juga Administrator, sosok yang dengan tangannya sendiri memprakarsai seni itu pada dirinya sendiri.Selka agaknya berhasil membaca siratan yang tersirat dari raut wajah Alice. Gadis itu mencodongkan badannya lantas membisikkan sesuatu di telinganya: "Aku tahu aku nggak seharusnya bilang ini, tapi itu bukan alasan yang menyedihkan kok. Aku yakin mereka bakal dengan senang hati menceritakannya ke Kakak.""Oh... kalau begitu aku rasa aku akan menanyakannya pas ada kesempatan nanti," ujar Alice sembari membalas senyuman.Baru saja ia mau menyarankan agar mereka beranjak menyudahi sesi berendam kala sebuah seruan bernada santai nan tegas berkumandang dari ambang pintu ruang ganti, "Makanannya sudah siap, semuanya."Tiba-tiba saja, seakan memahami arti kalimat tersebut, Natsu, si tikus basah bertelinga panjang itu, melesat menyeruak dari dalam air sembari memekik nyaring, "Kyurururu!"Mereka semua lekas beranjak dari pemandian, mengeringkan badan, kemudian membalut diri, sebelum akhirnya mengekor langkah Airy ke Menara Pandang Bintang Fajar (Morning Star Lookout) di lantai sembilan puluh lima.Batas lingkar terluar lantai itu, yang mana dua abad silam masih dibiarkan terbuka menghadap angkasa, saat ini tertutup rapat oleh barisan pot marmer panjang yang ditanami pepohonan rimbun. Teronggok di titik sentral ruangan mahaluas itu sebuah kapal naga agung berwarna putih bersih. Pada pandangan perdana, kondisinya seakan tak ada bedanya saat terakhir ia menilik lantai ini di paruh awal hari, namun usai meneliti fisik X'rphan Mk. 13 secara saksama, ia mendapati pelat zirah bawahnya terkoyak parah, meremukkan seluruh jaringan pipa serta sirkuit mekanis di baliknya. Alice memang buta sama sekali soal permesinan jeroan kapal naga, tetapi instingnya lurus menyuarakan bahwa skala kerusakan ini tak akan bisa ditambal dengan gampang.Langkahnya terhenti tepat di ujung undakan demi memandangi kapal naga yang remuk itu; sementara Ronie serta Tiese berjalan melampauinya lantas ikut termangu usai melangkah beberapa tapak.Airy sempat memaparkan jika wujud paripurna X'rphan resmi dirampungkan—satu istilah yang dimaknai Alice selesai dibangun—tepat seratus tahun silam, di tahun 482 Kalender Stellar (SE). Selka, Ronie, dan Tiese sendiri dibekukan jadi patung batu di 441, jadi konklusinya ini mestilah kali perdana seumur hidup mereka menyaksikan wujud kendaraan itu.Prakiraan Alice sukses terbukti valid. Tiese berujar penuh decak kagum, "Jadi inilah desain final kapal naga ciptaan Kirito..."Ronie lantas menunjuk lurus ke bagian buritan kapal. "Lihat deh, ada tiga lubang pembuangan di sana. Dia beneran sukses merakit model dua kursi pakai tiga mesin sekaligus."Selka tak mau kalah menimpali. "Aku takjub kapal ini bisa terbang sejauh itu dari Admina sampai ke Cardina dengan kondisi remuk begitu...""Bukan, kapal ini tidak terbang," ralat Airy lugas, dengan Natsu bertengger kalem di atas bahunya."Hah...?" Fakta itu memantik rasa bingung di kepala Ronie. "Tapi rusaknya kan karena diserang pas lagi di Admina, kan?""Tepat sekali. Tuan Kirito membuka sebuah 'pintu' dimensi dari Admina yang tembus ke lokasi ini dan langsung menteleportasikan kapal X'rphan menembusnya."Alice mati-matian meredam hasrat tawa demi menutupi reaksi ketiganya yang tengah terpana kaku.Meski rentang durasi berpuluh-puluh tahun yang telah dihabiskan para kesatria gadis tersebut semenjak eksodus Alice dari semesta ini terasa menempatkannya bak pejalan tertinggal yang dipaksa mengejar dari buritan, nyatanya tetap ada satu fenomena universal abadi seputar kepiawaian Kirito dalam memancing syok dan ketakjuban khalayak pada segala zaman."Silakan duduk," tawar Airy sambil menyilakan tangan ke arah meja bundar. Baru setelah itu, ia memalingkan wajah ke arah sang naga besi lantas melantangkan vokalnya. "Tuan Eolyne, waktunya bersantap."Sejurus berselang, melesat sesosok siluet menyembul keluar dari robekan menganga di perut sang wahana naga lantas mendarat ke lantai dengan manuver enteng. Tak lain dan tak bukan, ia adalah Komandan Pasukan Pilot, Eolyne Herlentz.Raut mukanya masih terhalang topeng seputih salju, namun balutan seragam kebesarannya telah ditukar dengan sepasang busana terusan kerja yang lebih kasual. Menilik bercak noda yang mengotori kainnya, sang komandan jelas-jelas tengah membedah level keparahan atau sekadar mengusahakan bongkar pasang guna mereparasinya.Stica serta Laurannei jadi rombongan yang paling buncit mencapai bibir undakan, dan tak sampai sedetik sejak netra mereka membentur eksistensi sang komandan, gerak tubuh mereka seketika dikuasai rasa panik yang konyol."Tuan, perkenankan kami sajalah yang membereskan perbaikannya!""Kami bakal segera memanggil divisi montir buat merapat ke sini sekarang juga!""Tidak, opsi itu mustahil dieksekusi," pungkas Eolyne seraya menutul-nutulkan sehelai lap menyeka keringat di tengkuknya sembari menderap mendekat. Tuturnya tetap takzim nan tenang, walau sekilas menyisakan jejak kuyu. "Kita diharamkan memboyong rombongan montir menerobos barikade lantai tersegel katedral ini, ditambah tak ada secuil pun metode buat memindahkan jasad X'rphan merapat ke pangkalan utama. Ya, skenario itu mungkin saja dibikin gampang oleh Kirito jika dia mengandalkan Incarnation-nya (Inkarnasi), tapi jeroan mesin ini ibarat labirin yang penuh jebakan dari ragam mekanisme peranti rumit yang bahkan tak sekalipun pernah kutengok. Kadar kesulitannya mungkin jauh di atas daya jangkau rasional tim montir sekalipun, jadi untuk meminimalisasi bocornya rahasia... aku bertaruh lebih masuk akal kalau kapal ini dibiarkan terkunci permanen di sini..."Alice sempat mau mengemukakan saran seandainya lantaran Kirito-lah sang arsitek kapal naga itu, artinya ia pastinya dibekali kelihaian mereparasinya juga, namun diurungkannya gagasan itu lamat-lamat. Pada rentang dimensi masa kini, sel terkecil di benaknya niscaya lenyap perihal rekam jejaknya mengukir cetak biru penciptaannya.Kala merenungkan iktikad Kirito yang menampuk lakon sebagai Star King, utamanya menimbang tabiatnya yang lompong dari gelora kehausan menjarah takhta atau memonopoli kekuasaan mutlak, mungkinkah putusan itu diambil semata lantaran nihilnya muara lain dari desakan komitmen yang diembannya. Faktanya, berabad-abad tarikan waktu sudah sudi ia donasikan bagi ekuilibrium seisi Underworld. Pendar asa masih ia rajut moga kelak kepingan ingatan tersebut kembali menyatu ke kepalanya, andaikata cuma diperuntukkan agar rungunya bisa menyerap alunan terima kasih atas segala kucuran peluh pelayanannya—walau teramat perih membisikkan impian itu, manakala tersadar jika pusaran perombakan memori macam itu riskan mengukir ulang kepribadian Kirito yang dipujanya hari ini.Rumor menyebutkan jika dari awal Kirito dan Asuna-lah pihak yang memohonkan penghapusan rekam memori lakon Star King & Queen itu. Memang, perkara sempitnya kubikasi memori barangkali salah satunya, namun mustahil tak ada akal buat mengeruk sisa ruang dan dalam rute yang sama tetap melestarikan kepingan coretan kenangan paling sakral. Atas dalih apakah mereka berani membumihanguskan hamparan riwayat pualam pengalaman mereka, yang sejatinya baru merekah persis semenjak berlalunya epos Perang Dunia Lain (Otherworld War)?Renungan eksistensial itu mendadak luluh lantak tatkala Selka menyergap telapak tangannya sembari beranjak sigap."Ayo, Alice, hidangannya sudah menunggu!""Ah... iya."Tuntunan Selka menyeretnya merapat ke sebuah meja pualam panjang kelewat bersih, di bawah pendaran kelap-kelip cahaya barisan tempat lilin kandil. Tersusun di pinggir-pinggirnya deretan lima singgasana bonggol ek berlapis platina pada masing-masing ruasnya, ditotal genap menyiapkan sepuluh jatah pelataran santap. Segala deret kursi di sini seolah masih mematung dari zaman keemasan peradaban Gereja Axiom (Axiom Church), dua abad nan lampau.Mengenang masa-masa hidup Alice saat bermukim di dalam menara luhung ini sewaktu menjadi Integrity Knight dulu, ia mencatat bahwa seumur-umur eksodus Administrator turun menapak keluar bilik pertapaannya di titik puncak bangunan itu ibarat fenomena alam sangat langka, dan saat momentum super sporadis itu meletus, satu dari segelintir agendanya tak lain berupa perjamuan memanggil Alice menikmati suguhan teh menyambangi singgasana di Menara Pandang Bintang Fajar ini, dalam hitungan tak lebih dari jari per tahunnya. Kendati begitu porsi keterlibatan Alice tak melampaui seremoni formalitas menjabarkan resume kiprah tugasnya menumpas gerilyawan Dark Territory (Wilayah Kegelapan) semata, dan dari yang tersisa di ingatannya ia tak pernah sudi menyicipi porsi percakapan emosional sekecil apa pun di balik tembok ini. Pun demikian, koki pribadi sang Administrator, si Hana, acap kali meracik setumpuk penganan kudapan panggang eksklusif yang sama sekali mustahil mejeng di meja makan barak biasa di lantai sembilan puluh empat, alhasil mengundang sekelumit antisipasi tersembunyi dari relung batin Alice untuk terus mengharap dihelatnya perjamuan itu lagi.Dan sekarang perabotan meja itu—yang presisi perakitannya bak pinang dibelah dua mematung sama persis layaknya berabad-abad ke belakang—tertimbun penuh sesak oleh beragam gundukan salad berdaun segar, baskom kaldu mengepul uap kental panas, serakan penganan panggang dengan semerbak aroma familier, hingga sebongkah kue utuh berselimut krim manis pekat, yang notabene adalah racikan kuliner yang mustahil disajikan pada masa silam itu.Tiese, Ronie, Stica, berserta Laurannei tampak sudah merebahkan pantatnya menduduki kursi dan siaga menunggu kedatangan rombongan sisanya. Aura wajah dua bocah paling junior itu sayu memancarkan netra hampa berbinar, seolah deraan keroncongan lambung kian hebat mengoyak sukmanya dan menghelanya tergelincir menapaki sensasi melayang tatkala piring-piring ambrosia terhidang tepat di depan cungur hidungnya.Rasanya berdosa menahan liur mereka kian menderas, makanya Alice cepat-cepat menyelinap mendaratkan bokongnya menempati kursi berseberangan persis di muka Tiese. Selka lantas menyusul menempati kursi di ambang sayap Alice, namun Eolyne malah menghentakkan tapak mundur balik memasuki rongga gang dan melemparkan ujaran pada Airy, "Biar aku membasuh diri dulu, Nona Trume.""Baiklah. Tuan bisa menggunakan Pemandian Besar di lantai sembilan puluh," balas Airy sigap.Komandan pilot itu melempar sekilas anggukan lalu lari menderap cekatan menuruni undakan.Airy akhirnya melingkarkan mukanya menilik grup dan melontarkan titah, "Silakan bersantap, semuanya."Tanpa jeda sepersekian detik pun, tangan Stica juga Laurannei ibarat bayangan melesat membekuk alat-alat makan.Beriringan bersama dengan suara sorakan gegap gempita, lantang mereka teriakkan, "Puji syukur atas makanan ini!!"
Komentar (0)
Memuat komentar...