Sword Art Online 025: Unital Ring IV
Bagian 3
Estimasi waktu baca: 17 menitWaktu menunjukkan pukul sebelas malam, dan kami menghentikan rapat sejenak untuk jeda toilet selama sepuluh menit. Seperti teman-temanku, aku pun log out.Aku muncul dari dalam gim di atas tempat tidurku, menatap langit-langit yang gelap selama beberapa saat, menunggu perasaan melayang itu menghilang.Aku sudah bersiap untuk menerima sejumlah kritik tajam karena merahasiakan sesuatu dari kelompok ketika aku mengungkapkan bahwa aku sebenarnya telah terkena Noose of the Accursed, tetapi dengan bantuan Argo, aku terhindar dari penceramahan mereka untuk sementara waktu. Namun seperti yang kutakutkan, topik sesi tersebut malah beralih ke arah bagaimana cara menghilangkan sihir itu alih-alih melihat gambaran yang lebih besar, jadi aku mengusulkan agar kami beristirahat sejenak.Waktu terlalu berharga untuk disia-siakan hanya demi menyingkirkan tanda di leherku. Jika aku akan bermain sampai jam empat pagi, itu menyisakan waktu lima jam untuk kami bekerja—dan aku tidak yakin kami akan mampu menyelesaikan persiapan untuk menghadapi invasi Mutasina."...Jika perlu, aku mungkin harus melakukan dive dari sekolah," gumamku, bangkit duduk. Aku melepaskan AmuSphere dan memakai Augma sebagai gantinya, saat sebuah suara berteriak "Kakak!" dan pintu di sebelah kananku terbuka lebar. Itu adalah Suguha, mengenakan kaus dan celana pendek. Ia langsung berlari keluar dari kamarnya segera setelah ia log out, menilai dari AmuSphere di tangannya."H-hei, kau setidaknya bisa—"Ketuk pintu dulu, baru saja aku ingin mengatakannya, hanya untuk disela oleh Suguha yang melompat ke atas tempat tidurku, mendorongku kembali ke bawah. Ia mengangkangiku dengan lututnya, dadanya membusung dengan perasaan marah."Itulah masalahnya!""A-apanya?" tanyaku.Alisnya terlihat tajam bahkan di saat normal, tetapi sekarang alis itu benar-benar menukik tajam karena amarah. "Kau tahu apa! Maksudku kebiasaan burukmu yang menanggung semua masalah sendirian! Seperti di Underworld, dengan fase... fase...""Fase akselerasi maksimum?""Ya, itu! Kau sudah diperingatkan bahwa jika kau tidak log out sebelum fase itu dimulai, akan ada konsekuensinya, tapi Asuna ada di sana bersamamu, dan dia bilang kau tidak pernah memperingatkannya tentang hal itu!""K-karena jika aku melakukannya, ia pasti akan bersikeras untuk tinggal di Underworld bersamaku...""Meskipun begitu, kau harus mengatakannya!"Mata Suguha bergerak sedikit ke atas."Kau setuju, kan, Yui?!" lanjutnya.Sesosok peri mungil terbang ke bawah dari atas kepalaku, meletakkan tangannya di pinggul di udara persis seperti Suguha, dan membuat versi kecil yang menggemaskan dari ekspresi marah dan mengomel. "Itu benar, Papa! Papa seharusnya lebih mempercayai Mama dan Suguha dan kami semua!"Dengan putriku yang ikut serta dalam penceramahan ini, tidak ada lagi ruang untuk membantah."K-kalian benar; aku minta maaf. Aku pikir itu akan membuat kalian khawatir," ujarku, merapatkan kedua tanganku sebagai tanda permintaan maaf.Yui bergerak naik untuk duduk di bahu Suguha. "Mengkhawatirkan orang lain dan membiarkan mereka mengkhawatirkan Papa adalah bagian penting dari komunikasi dalam sebuah komunitas, Papa.""Itu benar, Kakak. Jelas, masuk akal untuk tidak melakukan hal-hal yang akan membuat orang lain mengkhawatirkanmu, tetapi jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, kau harus bisa mengakuinya dan mencari bantuan, bukannya menyembunyikannya."Ceramah Suguha menyita perhatianku sepenuhnya sehingga aku baru menyadari bahwa ia memakai Augma-nya, yang menyembul di bawah rambut bob-nya. Ia pasti telah mengirim pesan telepati kepada Yui bahwa mereka akan menggerebek kamarku sebelum mereka log out."Kalian benar. Aku minta maaf. Aku sudah memetik pelajaranku. Aku akan membicarakan hal-hal seperti ini dengan orang lain lain kali," umumku lagi.Adikku memelototiku dari atas. "Sumpah demi Stacia?""S-sumpah demi Stacia.""Bagus!"Pada akhirnya, wajahnya mengerut menjadi senyuman, dan Suguha turun dari atasku, duduk di ruang kosong di tempat tidur. Ia tidak tampak berniat untuk pergi, jadi aku langsung bertanya, tanpa basa-basi, "Bukankah kau harus ke toilet?""Aku sudah. Mungkin Kakak yang harus pergi.""Y-ya, aku akan pergi..."Aku menapakkan kakiku di lantai, dan Suguha menambahkan, "Bawakan juga air soda dari kulkas! Yang rasa jeruk nipis!""Ya, ya," erangku, keluar ke lorong. Aku mulai berjalan menuju kamar mandi tetapi menyadari Yui terbang tepat di sebelah kiriku."Um, Nona Yui... aku mau ke toilet...," bisikku, yang awalnya membuat peri itu terkejut."Oh! Maafkan aku, Papa!" gagapnya. "Aku hanya punya sesuatu yang cuma boleh didengar olehmu...""Ada apa?""Lihat ini," ucapnya, menunjukkan sebuah jendela holo padaku. Itu adalah tampilan real-time dari tanda-tanda vitalku, dengan angka dan grafik untuk suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung. Sensor mikro yang ditanamkan di dadaku mengirimkan informasi tersebut ke Augma.Sensor ini ditanamkan—di rumah sakit khusus, tentu saja—saat aku hendak melakukan pekerjaan sebagai penyelam tes STL untuk Institut Eksplorasi dan Penelitian Sumber Daya Oseanik, yang lebih dikenal sebagai Rath, atas rekomendasi mereka. Karena pekerjaannya secara teknis sudah berakhir, aku bisa saja melepaskannya, tetapi aku memilih untuk tidak melakukannya, karena tiga alasan. Satu, karena itu akan menyakitkan. Dua, aku tidak perlu memasang monitor jantung saat mengendarai sepeda untuk berolahraga. Dan tiga, karena Asuna suka memantau tanda-tanda vitalku, entah karena alasan apa.Aku merasa anehnya malu karena suhu dan detak jantungku bisa terlihat, tetapi aku merasa sulit untuk mengatakan, "Sudah cukup." Jadi aku membiarkan sensor itu di tempatnya. Tapi kenapa data itu dimunculkan ke dalam perbincangan sekarang...?Yui memberiku jawaban cepat untuk pertanyaan itu. "Ini adalah data vital Papa yang dimulai dari pukul 10:18:35 semalam, Papa.""Setelah jam sepuluh...?" ulangku, bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan pada saat itu.Kemudian aku ingat bahwa itu adalah saat Argo dan aku menyelinap ke pertemuan para pemain ALO di coliseum di tengah Reruntuhan Stiss. Aku sedang melawan godaan pesta prasmanan dan berpikir untuk menyelinap pergi ketika Mutasina merapal sihir besar-besaran dari atas panggung. Ya, pukul 10:18 adalah menit yang sama ketika Noose itu menghentikan pernapasanku.Tercengang, aku melihat ke tempat yang ditunjuk Yui di bagian bawah dari tiga grafik garis tersebut: detak jantungku."Sayangnya, cip sensor yang ditanamkan di dada Papa tidak dapat memantau jumlah tarikan napas yang telah Papa ambil, jadi tidak ada cara untuk menentukan apakah Noose of the Accursed benar-benar menghentikan pernapasan Papa. Tetapi Papa bisa melihat bahwa detak jantung Papa melonjak tajam ke atas di sini.""Ya, aku lihat... Tapi itu normal, kan? Detak jantungmu naik cukup banyak bahkan saat bertarung dengan monster, jadi meskipun sensasinya virtual, wajar jika merasa tidak bisa bernapas akan menyebabkan jantungmu berdebar kencang...""Bukan itu masalahnya," ucapnya serius, menggelengkan kepalanya. "Sistem pembatasan keamanan AmuSphere dirancang untuk aktif jika detak jantung pengguna melewati ambang batas maksimum tertentu selama setidaknya lima detik. Ambang batasnya diatur pada dua ratus dua puluh, dikurangi usia pengguna. Jadi, dalam kasus Papa, batasnya adalah dua ratus tiga.""Dua ratus dua, minggu depan," catatku tanpa tujuan yang jelas."Memang," jawab Yui, meladeniku sepersekian detik. "Tapi lihat di sini. Denyut nadi Papa naik menjadi dua ratus lima pada pukul 10:18:41, lalu turun menjadi seratus sembilan puluh lima setelah empat detik. Pada detik ke 0:48, denyut nadinya naik menjadi dua ratus empat, lalu turun lagi setelah empat detik, ke angka seratus sembilan puluhan. Pada detik ke 0:55, detaknya turun kembali ke denyut nadi normal.""...Uh-huh..."Grafik denyut nadi menunjukkan persis apa yang ditunjukkan Yui. Aku telah melewati ambang batas maksimum sebanyak dua kali, tetapi kedua kasus tersebut berlangsung tepat di bawah lima detik yang dibutuhkan untuk melepaskanku dari sistem. Aku terkejut oleh angka-angka itu sendiri, tetapi mekanisme keamanannya tampaknya berfungsi normal."Jadi apa masalahnya?""Detak jantung Papa melewati ambang batas keamanan dua kali dalam waktu dua puluh detik, tetapi kedua kalinya, detak itu menurun setelah empat detik. Aku merasa bahwa kekhususan periode empat detik itu bersifat buatan.""Buatan... Maksudmu, karena kedua kalinya detaknya turun tepat sebelum mencapai batas waktu lima detik? Tapi itu bisa saja cuma kebetulan, kan? Grafik detak jantung ini didasarkan pada pembacaan sensor dadaku, bukan AmuSphere, dan seharusnya tidak ada cara bagi AmuSphere itu sendiri untuk mengendalikan detak jantungku.""Itu akurat. Namun," Yui memperingatkan, "bahkan jika itu murni kebetulan bahwa detak jantung Papa turun dua kali setelah empat detik, jika sihir yang sama dirapal pada seratus orang di tempat yang sama, seharusnya ada lebih dari segelintir dari mereka yang telah memicu ambang batas keamanan dan dikeluarkan secara paksa oleh perangkat mereka. Ketika Noose of the Accursed diaktifkan, apakah Papa memperhatikan ada pemain di sekitar Papa yang terputus dari jaringan?""......Um..."Aku menatap kegelapan di ujung lorong, menggunakannya sebagai layar untuk membayangkan apa yang telah kulihat. Saat Noose itu aktif, aku sangat putus asa untuk mengeluarkan benda yang tersangkut di tenggorokanku sehingga aku tidak punya kemampuan untuk melihat sekelilingku, tetapi meskipun demikian, aku tidak dapat mengingat adanya cahaya atau suara apa pun yang menyertai efek log out. Setelah sensasi mencekik itu lenyap, kepadatan kerumunan di coliseum tetap sama seperti sebelum sihir itu diaktifkan."...Tidak. Aku tidak bisa memastikan... Tapi kurasa tidak ada satu pun orang yang dikeluarkan dari dalam gim akibat pemutusan darurat...""Begitu ya...," jawab Yui, tetapi hanya itu saja. Ia menutup jendela holo itu dan melayang lebih tinggi. "Maaf telah mengganggu perjalanan toilet Papa. Silakan lanjutkan."Aku merasa sedikit sadar diri mendengar hal itu dari Yui, yang tidak punya kebutuhan ke toilet, tetapi tidak ada waktu untuk disia-siakan—hanya tersisa empat menit dari waktu istirahat."B-baiklah. Kembalilah ke kamar.""Akan kulakukan!"Ia terbang pergi dengan suara gemerincing, melewati pintu begitu saja, di mana pada titik itu aku berbalik dan berlari secepat kilat menuju kamar mandi.
* * *
Aku mencuci tangan dan wajahku di wastafel, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air soda rasa jeruk nipis untuk Suguha dan sebotol teh oolong untukku sendiri sebelum kembali ke kamarku. Sepanjang waktu, aku memikirkan apa yang telah Yui tunjukkan kepadaku.Jika detak jantung keseratus orang di tempat kejadian telah turun tepat sebelum langkah-langkah keamanan diaktifkan, maka sihir pencekikan Mutasina entah bagaimana mengetahui denyut nadi maksimum yang diperbolehkan di masing-masing AmuSphere pemain—dan dapat membatasi detak jantung mereka sehingga mereka tidak melewati nilai tersebut selama lima detik penuh.Aku hampir tidak percaya hal seperti itu mungkin terjadi. Karena batas maksimumnya adalah 220 dikurangi usia pemain, angkanya akan berbeda untuk setiap pemain, dan bahkan jika kau dapat memperoleh angka itu, bukanlah otak yang mengendalikan laju palpitasi jantung, melainkan area pada jantung itu sendiri yang disebut nodus sinoatrial. Tidak mungkin gelombang mikro AmuSphere dapat menjangkau sejauh itu.Pasti ada sesuatu yang kulewatkan. Jika sihir Mutasina sedang mengendalikan sesuatu, itu bukanlah detak jantung itu sendiri... melainkan sesuatu yang berhubungan dengannya, seperti..."Kakak lama sekali!" teriak suara yang membuatku sadar aku sudah kembali ke kamarku. Suguha duduk di sana di atas tempat tidur, melambaikan tangannya memanggilku. "Hanya tersisa sembilan puluh detik!""Maaf, maaf. Tapi mereka tidak akan marah karena keterlambatan satu atau dua menit...""Itu bukan contoh yang baik untuk diberikan oleh seorang pemimpin!""S-satu hal, secara resmi aku bukanlah pemimpin...," bantahku lemah, menyerahkan sebotol air itu kepadanya. Air soda yang persediaannya selalu kami jaga dengan baik di rumah itu membutuhkan sedikit tenaga pergelangan tangan untuk membukanya, tetapi adikku yang berlatih kendo tidak mengalami kesulitan merusak segelnya dan menenggak air itu dengan rakus. Ia membuat ringisan kekanak-kanakan saat karbonasinya merobek tenggorokannya dan kemudian mengeluarkan karbon dioksida dengan seanggun mungkin sebelum memasang tutupnya kembali dan meletakkan botol itu di sandaran kepala ranjang."Satu menit lagi! Cepat, cepat, cepat!"Suguha berbaring di tempat tidur, dan aku buru-buru menarik teh oolong dari bibirku."Serius? Kau akan melakukan dive di sini lagi?""Salahmu sendiri karena kembali sangat terlambat. Lagipula, untuk berjaga-jaga, jika sihir Mutasina benar-benar membuat napasmu berhenti, aku harus melakukan tindakan penyelamatan nyawa padamu."Aku tidak yakin seberapa serius ia berbicara, tetapi aku tidak bisa sekadar menertawakan pernyataan seperti itu. Yui, yang melayang di dekatnya, mengangguk serius."Jika itu terjadi, Leafa harus mengurus Papa!""Serahkan padaku!"Melihat mereka saling mendukung membuatku menyadari betapa sudah sangat lamanya mereka berdua saling mengenal.* * *
Kembali ke kabin kayu, waktu istirahat kami tersisa tiga puluh detik, tetapi semua orang sudah kembali online. Saat itu sudah lewat jam sebelas, tetapi ada antusiasme yang membara dari seluruh kelompok yang menandakan bahwa kami baru saja akan memulai.Masuk akal kalau mereka termotivasi. Sebelum Mutasina menunjukkan sifat aslinya kepada perkumpulan ramah para pemain ALO (dan Argo serta aku), suasana di sana sangat bersahabat. Aku tidak merasakan permusuhan apa pun dari seratus pemain penuh motivasi di sana. Artinya, jika kami mengalahkan Mutasina dalam pertarungan langsung, tidak akan ada lagi orang tersisa yang ingin menyerang Ruis na Ríg. Dengan rintangan itu diselesaikan, kami akan bebas untuk menantang Unital Ring tanpa kecemasan ekstra.Namun saat mengingat kembali hal itu, party Mocri yang mencoba membunuhku di malam pertama telah menyebutkan sesuatu tentang seorang misterius bernama "Sensei" yang mungkin telah menghasut mereka, dan mungkin saja hal yang sama berlaku untuk tim Schulz, Fawkes, yang menyerang kabin di malam kedua.Ketika sword skill tiga seranganku menghantam Schulz, ia telah mengucapkan beberapa patah kata misterius sebelum ia diusir secara permanen dari alam ini.Kirito... kau... benar-benar...Avatarnya menghilang tepat pada saat itu, jadi aku tidak bisa mendengar kelanjutan dari apa yang akan ia katakan. Aku punya firasat kata-katanya akan berujung pada sebuah pertanyaan, mungkin karena terkejut bahwa aku tidak seperti yang ia harapkan. Jika informasi itu salah, sesuatu yang dicekokkan kepadanya—dan orang yang mengatakannya adalah Sensei yang sama yang telah mengajari Mocri dan teman-temannya pertarungan PvP... maka seseorang sedang memanipulasi para mantan pemain ALO dalam upaya untuk membuat mereka memusnahkan kami dari Unital Ring.Apakah orang itu mungkin adalah pemimpin Virtual Study Society, Mutasina? Atau apakah penyihir itu juga berada di bawah kendali Sensei ini...?Aku berdiri di titik tempat aku log in, merenungkan hal ini, ketika seseorang menepuk punggungku dengan keras."Yo, Kiri, temanku, semuanya sudah di sini! Ada apa? Haruskah kita melanjutkan apa yang sedang kita diskusikan tadi?""Hah? Oh, benar...," gagapku, mendongak menatap Klein, yang mengenakan bandana khasnya. Namun aku tersadar dan menggelengkan kepalaku. "Um, tidak, jangan."Aku berpaling ke arah yang lain, semuanya berdiri di tengah ruang tamu, dan mengumumkan, "Boleh aku minta waktunya sebentar? Sejauh menyangkut rencana kita... sejujurnya aku merasa mencari cara untuk membatalkan kekuatan Noose of the Accursed dengan usaha kita sendiri akan membuang-buang waktu."Beberapa protes muncul sekaligus. Aku menghargai kepedulian mereka demi diriku, tetapi kami memiliki prioritas yang lebih tinggi saat ini."Aku tidak mengatakan aku tidak berpikir ada jalannya. Ada sihir penangkal dan ramuan serta item di ALO, jadi sama sekali bukan hal yang mengejutkan jika hal-hal semacam itu juga ada di sini. Tetapi kita saat ini sangat kekurangan pengetahuan mengenai skill sihir, dan bahkan jika kita menemukan caranya, sihir besar-besaran yang dapat mencekik seratus orang sekaligus secara alami akan membutuhkan metode tingkat tinggi yang setara untuk bisa dibatalkan. Tidak mungkin kita bisa mendapatkan proficiency yang cukup tinggi untuk melakukannya hanya dalam satu hari—tidak, setengah hari."Kali ini, tidak ada yang membantah.Tetapi aku bisa melihat raut tegang di wajah mereka, seolah-olah mereka semua ikut menderita efek Noose itu sendiri. Mereka mungkin memang merasa seperti itu, sejujurnya. Mereka adalah rekan terbaik yang bisa kuminta, dan karena itulah aku tidak ingin kehilangan satu pun dari mereka dalam perjalanan menyelesaikan gim ini. Untuk melakukannya akan membutuhkan usaha semaksimal mungkin—tanpa mengganggu pelajaran sekolahku, tentu saja—sebelum pasukan Mutasina menyerang.Aku mengangguk perlahan kepada kelompok itu dan sampai pada poin yang paling penting."Sama sulitnya dengan membatalkan Noose of the Accursed adalah dengan mengabaikan efeknya. Sulit untuk menggambarkannya dengan kata-kata... Tapi ketika ia mengaktifkan sihir itu, kau benar-benar merasa seperti tercekik, seperti ada gumpalan besar yang lengket tersangkut di tenggorokanmu. Kau tidak bisa mengembuskan atau menghirup napas, dan tentu saja, kau juga tidak bisa berbicara. Jika kau menghirup napas dalam-dalam dan menahannya tepat sebelum sihir itu diaktifkan, kau mungkin bisa bertahan selama kurang dari satu menit... Tapi yang perlu ia lakukan hanyalah menumbukkan tongkatnya ke tanah, jadi kau harus mengawasi pergerakannya dengan cermat setiap saat, dan itu tidak mungkin dilakukan di dalam pertempuran. Sayangnya, kurasa saran Klein dan Leafa bahwa kita mengalah pada Noose agar bisa mendekat dan menyerang tidak akan berhasil."Perlahan, aku mengembuskan napas dari paru-paru virtual avatarku.Jika kau memikirkannya, udara sebenarnya tidak ada di dunia virtual mana pun. Aroma kayu di kabin kayu gelondongan, dinginnya angin malam yang masuk melalui jendela yang terbuka—ini adalah sensasi yang dikirim langsung oleh AmuSphere ke otak kami. Tidak ada satu pun molekul gas yang membawa bau atau suhu di lingkungan ini. Hal yang sama berlaku untuk sensasi udara yang melewati mulut, tenggorokan, dan paru-paru kita saat kita bernapas. Dalam artian tertentu, dunia ini adalah ruang hampa yang lebih sempurna daripada ruang hampa udara di luar angkasa yang sebenarnya. Namun mengetahui bahwa hal ini benar tidak akan membantu siapa pun untuk mengatasi rasa tercekik yang sangat mengerikan dan nyata itu. Ketidakmampuan untuk bernapas adalah salah satu pengalaman yang begitu saja tertanam ke dalam jiwa manusia sebagai sebuah ketakutan primal..."Namun, Kirito, bagaimana rencanamu bagi kita untuk melawan pasukan yang berjumlah seratus orang?" sebuah suara lembut terdengar, menarik perhatianku kembali ke ruangan dan orang-orang di dalamnya.Itu adalah Alice, yang berdiri tepat di hadapanku. Mata biru sang kesatria itu menatap lurus ke mataku tanpa berkedip.Jika aku akan mengesampingkan rencana Klein dan Leafa untuk secara sengaja menderita di bawah Noose, aku harus menawarkan ide alternatif. Sebuah rencana yang akan membawa kita pada kemenangan tanpa kehilangan satu pun rekan kita, kaum Bashin, kaum Patter, hewan peliharaan, atau dengan hanya memakan kematian musuh seminimal mungkin."...Aku ingin menghindari konfrontasi langsung dengan pasukan berkekuatan seratus orang," jawabku."Aku tahu," sahut Klein, "tapi Yui sudah memprediksi bahwa pasukan Mutasina akan menebangi semua pohon di sekitar Ruis na Ríg. Jika kau memiliki dua party raid besar yang bertemu di area datar dan terbuka, itu akan berujung pada pertempuran langsung, kau tahu?""Ya, aku berasumsi begitu. Yang berarti..."Selama rentang waktu lima belas menit, aku menjelaskan gagasan yang telah kupikirkan di benakku sejak aku mengetahui bahwa Mutasina dan pasukan seratus orangnya akan menyerang kota kami. Ada banyak pertanyaan, tetapi pada akhirnya aku mendapat persetujuan semua orang, dan kami memutuskan untuk mulai mempersiapkan rencana tersebut pada pukul sebelas tiga puluh. Namun sebelum itu, kami berkumpul untuk minum teh dan makan camilan guna sedikit mendongkrak semangat.Bir yang disajikan di perjamuan makan beberapa jam sebelumnya telah disediakan dalam jumlah besar oleh geng Insectsite, tetapi tidak ada yang tersisa (akibat perut Klein yang tak berdasar) dan aku tidak tahu dari mana mereka mendapatkan minuman itu. Aku juga menyukainya—aku masih di bawah umur, tetapi tidak ilegal bagiku untuk minum di dunia maya—jadi aku berharap bisa mencari tahu dari mana mereka mendapatkannya dan mendapatkan beberapa untukku sendiri begitu kami telah mengalahkan pasukan Mutasina. Untuk saat ini, aku menyesap teh kami yang rasanya aneh.Setelah ini, Argo dan aku akan bertindak secara terpisah dari kelompok. SP dan TP-ku sudah terisi penuh, jadi aku berjalan menuju pintu untuk berangkat sebelum yang lain, namun diinterupsi oleh tepukan tangan Lisbeth."Baiklah, semuanya! Tolong perhatiannya!"Ada apa ini? Lisbeth berdiri di depan papan, dengan Silica dan Leafa di sebelah kanannya; Sinon, Alice, dan Argo di sebelah kirinya; dan Yui mendorong Asuna ke tengah ruang tamu. Asuna tampak sama bingungnya dengan hal ini sepertiku.Selanjutnya, semua gadis yang disebutkan di atas membuka menu mereka dan pergi ke inventory. Kemudian mereka berhenti sejenak, mengatur waktu bersama ("Bersedia, siap—"), dan berteriak..."Selamat ulang tahun, Asuna!!"Kelompok itu mematerialisasikan sesuatu, secara bersamaan.Itu adalah sekumpulan besar objek berwarna-warni kecil: bunga-bunga. Ledakan bunga menumpuk di atas jendela mereka, yang kemudian disekop oleh ketujuh dari mereka menggunakan kedua tangan dan dilemparkan ke arah Asuna. Kelopak bunga beraneka warna berjatuhan di sekelilingnya bagaikan kepingan salju, memenuhi ruang tamu dengan aromanya yang manis.Klein, Agil, dan Hyme juga tidak menyadari bahwa kejutan ini akan datang, tetapi mereka segera berkumpul dan bertepuk tangan. Asuna mendongak, berkedip karena terkejut, pada hujan kelopak bunga di sekelilingnya, lalu memasang senyum yang menyilaukan."Liz, Silica, Leafa, Shino-non, Yui, Argo, dan Alice... terima kasih banyak semuanya."Aku ikut bertepuk tangan, bertekad untuk tidak tertinggal, dan mau tidak mau berpikir, Aku sangat bersyukur invasi Mutasina tidak terjadi malam ini...Komentar (0)
Memuat komentar...