Sword Art Online 025: Unital Ring IV
Bagian 7
Estimasi waktu baca: 41 menitSuara langkah pasukan sepatu bot yang bergesekan dengan kerikil di tepian sungai bergema dengan berat di tengah gelapnya malam.Itu adalah raid party yang beranggotakan hampir sembilan puluh orang, dan meskipun disatukan secara paksa dari para pemain yang diancam agar patuh, tidak ada satu pun komentar basa-basi dari kelompok itu. Pada awalnya mereka berkumpul dengan tujuan untuk menaklukkan Unital Ring, jadi kedisiplinan mereka jauh lebih baik daripada yang kuperkirakan sebelumnya.Tetapi moral kami juga sama tingginya, jika tidak lebih tinggi. Di antara para pemain ALO dan Insectsite, kami menampilkan kumpulan kelompok yang lebih beragam, namun empat puluh empat dari kami mengintai dalam keheningan total di antara pepohonan di kedua sisi Sungai Maruba. Aku bahkan tidak bisa mendengar siapa pun bernapas.Kelompok Mutasina bergerak menyusuri tepi timur sungai yang lebar dengan langkah yang terukur. Aku tidak hanya bisa melihat cahaya obor mereka, tetapi juga pendaran kusam dari cahaya api yang memantul di zirah kulit mereka.Masalah sebenarnya adalah di mana tepatnya posisi Mutasina di dalam barisan tersebut. Kami tidak bisa mengaktifkan jebakannya sampai kami berhasil mengidentifikasi lokasinya. Saat ini, Pasukan Kirito—mau tidak mau aku harus menerima nama itu dengan enggan—terbagi menjadi dua kelompok yang bersembunyi di pepohonan di kedua sisi sungai. Aku bertanggung jawab atas tim timur, sementara Asuna memimpin tim barat. Hanya Asuna, Sinon, dan aku, yang menunggu jauh di hulu sungai, yang membuka menu cincin kami sehingga kami bisa mengirim friend message ke dua orang lainnya segera setelah kami melihat Mutasina, untuk memberi tahu mereka perihal lokasinya. Sejauh ini belum ada kabar dari keduanya.Alasan mengapa hanya kami bertiga yang membuka menu adalah karena pendaran cahaya dari jendela antarmuka itu mengancam akan membongkar tempat persembunyian kami. Kami bertiga masing-masing bersembunyi di balik semak-semak yang ditutupi oleh kain hitam tebal penghalang cahaya. Andai kami memiliki lebih banyak kain itu, kami bisa menyuruh lebih banyak pemain membuka jendela menu mereka, tapi Asuna belum bisa membuat pewarna hitam. Kami mendaur ulang kain tersebut dari pakaian hitam yang dijatuhkan oleh para pemain yang telah tewas.Aku menatap dasar sungai melalui celah sempit di balik kain. Obor terdepan yang berayun di barisan paling depan dari kelompok itu sekarang berjarak kurang dari enam puluh kaki jauhnya, dan aku bisa melihat para pemainnya dengan sangat jelas.Garis depan terdiri dari para tank, yang dilengkapi dengan zirah kulit bertatah logam (studded leather armor) dan perisai kulit bundar. Tubuh dan perisai mereka yang besar menghalangi pandanganku terhadap orang-orang yang berjalan di belakang mereka. Aku harus menunggu kelompok pertama ini lewat untuk mencari Mutasina, tetapi karena posisi kami di hutan ini hanya tiga kaki lebih tinggi dari pinggiran sungai, kami mengundang peluang yang lebih besar untuk terlihat semakin lama kami menunggu di sini.Tepat di sebelah kananku, tubuh ramping Kuro menegang. Aku mengelus punggungnya dengan lembut, secara mental menyuruh sang panther untuk tetap tenang. Misha juga berada di tepi timur, sementara Aga menunggu bersama Asuna di tepi barat. Kami hanya bisa berdoa agar ketiga binatang buas itu tetap diam.Tiga tank di barisan depan berjalan lewat, hanya berjarak lima belas kaki jauhnya.Aku mengenali sosok yang berada di tengah dari ketiganya, yang bertubuh sangat tinggi. Ia adalah pemimpin Absolute Survivor Squad yang telah mengatur pertemuan di Reruntuhan Stiss: Holgar. Ia memerankan sosok MC yang ceria di atas panggung, namun raut wajahnya saat ia berjalan lewat malam ini tampak tegang dan penuh tekad.Zirah bertatah logam pada para tank itu cukup berat untuk ukuran bahan kulit, tetapi mereka tidak memiliki pelindung tenggorokan, jadi leher mereka terlihat jelas. Aku bisa melihat cincin hitam itu dengan sangat jelas di bawah temaram cahaya jingga dari obor-obor tersebut.Mutasina mengatakan bahwa noose terkutuk itulah yang akan mengikat para pemain ALO bersama-sama dan membimbing mereka ke tujuan akhir. Tetapi hal itu takkan menjadi akhir dari permainan ini. Di mana letak kesenangan dalam memainkan sebuah gim di mana kau menjalankan perintah hanya murni karena teror akan dicekik sampai mati lemas?Aku tidak sedang memprotes keras gaya bermain Mutasina yang curang. Ia hanya mengambil opsi terbaik yang tersedia baginya sebagai salah satu dari sekian banyak pemain yang terjebak di Unital Ring. Dan kami juga melakukan semua yang kami bisa untuk bersaing dengannya.Setelah Holgar dan tank lainnya lewat, kelompok berikutnya adalah para pengintai berzirah ringan, yang mengenakan baju zirah kain serta membawa pedang pendek dan belati. Belum ada tanda-tanda Mutasina. Bisakah dia berada di tempat lain? Tapi kalau begitu, kau pasti berekspektasi para pemain ini setidaknya akan sedikit mengobrol. Tidak, sang penyihir itu pasti berada di suatu tempat di antara barisan ini.Di mana? Di mana kira-kira dia berada?Dalam waktu kurang dari tiga menit, ujung barisan prosesi itu akan mencapai lokasi jebakan. Apapun yang terjadi, kami harus mengaktifkannya pada saat itu juga. Namun begitu itu terjadi, peluang kami untuk menghentikan Mutasina akan menurun drastis.Sinon pasti merasa sangat frustrasi di daerah hulu sungai sana. Aku ingin mengiriminya pesan yang menenangkan agar ia bersabar, tetapi aku tidak bisa mengalihkan sepercik pun perhatianku. Aku terus membuka mataku selebar yang kubisa, menatap saksama pada pasukan yang diam membisu di hadapanku.Proficiency skill Night Vision telah naik menjadi 7, kata sebuah jendela pop-up yang tiba-tiba muncul, menghalangi pandanganku. Aku menyapu jendela itu ke samping, berusaha keras menahan kekesalanku.Tepat pada saat itu, sebuah siluet yang tertanam kuat di ingatanku mulai menampakkan diri: sebuah tongkat panjang, menjulang dari tengah-tengah kelompok penyerang yang dilengkapi dengan zirah kulit dan pedang panjang.Sebuah tongkat dengan batu permata raksasa yang tertanam di kepalanya yang berbentuk wajik—dipegang oleh pemain bertubuh ramping yang mengenakan jubah putih dengan tudung yang ditarik rendah. Itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mutasina sang penyihir.Terdapat dua pemain pedang yang lebih pendek berjalan di depan Mutasina. Zirah kehitaman mereka, yang dibuat dengan gaya yang serupa, terlihat cukup mahal untuk ukuran bahan kulit. Mereka mengenakan topi dari bahan yang sama, dan aku tidak bisa melihat wajah mereka, tetapi aku berasumsi mereka adalah Viola dan Dia, seperti yang telah Friscoll beritahukan kepada kami.Dan di belakangnya terdapat seorang mage bertubuh tinggi yang mengenakan jubah hitam pekat. Tongkat sang mage cukup panjang tetapi selain dari itu tidak ada yang istimewa. Ia pastilah dark mage yang bernama Magis. Jadi mereka berempat itulah keseluruhan dari Virtual Study Society.Dua pemain pedang dan dua mage merupakan kombinasi kelompok yang bagus untuk sebuah kuartet, tetapi rasanya tidak seimbang jika kedua perapal mantra sihir itu sama-sama dark mage. Kemungkinan besar, mereka mewarisi skill sihir gelap (dark magic) dari ALO, tetapi di Unital Ring, skill sihir berawal dalam keadaan terkunci, dan kau hanya bisa mengaktifkannya dengan menemukan dan menggunakan magicrystal bertipe serupa. Kristal semacam itu cukup langka sejak awal; dari mana mereka bisa menemukan dua buah kristal, yang keduanya bertipe kegelapan?Aku sangat ingin mencari tahu, tetapi aku tahu aku tidak akan memiliki kesempatan untuk bertanya. Dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit, entah Mutasina atau aku yang akan mati.Wanita itu semakin mendekat, dikelilingi oleh para pemain pedang layaknya pengawal pribadinya. Meskipun terdapat bebatuan seukuran kepalan tangan di seluruh tepi sungai, bagian atas avatarnya tetap diam hampir sempurna. Ketiga orang lainnya juga melakukan hal yang sama... Mereka sangat terbiasa dengan lingkungan full-dive. Itu berarti indra mereka juga sama tajamnya secara proporsional. Momen saat mereka berada paling dekat denganku akan menjadi momen di mana penyergapan kami berada dalam bahaya terbesar untuk terbongkar.Mereka terus mendekat secara langsung, dengan langkah yang tidak terganggu. Mereka semakin mendekat dan mendekat ke arah semak-semak tempatku bersembunyi... dan kemudian berlalu pergi, menuju ke hulu sungai. Garis depan Holgar sudah hilang tertelan kegelapan di belakangku.Di depan barisan mereka, terdapat air terjun kecil setinggi sekitar enam kaki yang memercik dengan riang. Secara alami, tepian sungai itu terhalang oleh lereng curam dengan ketinggian yang sama, tetapi tanahnya telah terkikis membentuk undakan, sehingga para prajurit berzirah berat sekalipun akan dapat memanjat naik tanpa kesulitan.Namun, mereka tidak akan memanjat lereng tersebut dan melanjutkan perjalanan ke arah hulu sungai.Air terjun yang mengalir deras menuruni lereng di sini tidak ada pada dua setengah jam yang lalu. Kami memilih sebuah titik di mana hutan mendesak masuk ke arah air dari kedua sisinya dan kemudian bekerja sama menyusun berton-ton kayu gelondongan dan batu untuk membendung sungai, menciptakan sebuah bendungan darurat. Aku mendapat petunjuk untuk ide ini ketika kembali dari Reruntuhan Stiss dua malam yang lalu, saat aku menggunakan sistem crafting untuk memblokir pintu masuk ke gua di balik air terjun. Aku sempat berasumsi bahwa hal itu mustahil, tetapi desakan Argo bahwa gim ini menantang nalar bermain yang umum dari para pemainnya berubah menjadi perspektif baru bagiku.Di Unital Ring, para pemain memiliki kebebasan yang lebih besar daripada di SAO atau ALO. Kebebasan tersebut meliputi kemampuan untuk mengubah lanskap sampai tingkat tertentu. Kau tidak bisa secara tiba-tiba memblokir sungai menggunakan dinding batu, tetapi jika kau memberikan air yang mengalir itu tempat yang baru untuk mengalir, sangatlah mungkin untuk membuat benda-benda crafting di dalam aliran sungai.Pertama, aku menancapkan kayu-kayu gelondongan yang kokoh ke dalam sungai selebar lima belas kaki, dengan jarak sekitar tiga kaki satu sama lain. Di antara batang kayu tersebut, aku tidak menancapkan dinding batu, melainkan penghalang batu setinggi satu kaki, secara perlahan dan metodis meninggikan penghalang tersebut sedikit demi sedikit.Dari hulu sungai, benda buatan yang menghalangi aliran sungai itu terlihat sangat jelas. Namun dari hilir, air terjun tempat sungai tumpah melewati bendungan itu menyembunyikannya dari pandangan. Lebih jauh lagi, aku pernah menuruni air terjun besar setinggi seratus kaki bersama Alice dan Argo menggunakan kano, jadi pastinya kehadiran air terjun setinggi enam kaki di sini tidak akan terasa tidak wajar. Benar saja, bagian terdepan dari barisan prosesi itu tidak berhenti. Mereka berbaris lurus menuju lereng berbentuk undakan tangga di sebelah kanan air terjun. Mutasina tidak memberikan perintah untuk berhenti.Secara praktis aku bisa merasakan ketegangan yang menusuk dari teman-temanku, yang sedang bersembunyi menunggu. Setiap dari mereka pasti berpikir, Cepat, cepat. Tapi belum saatnya... Kami butuh kelompok Mutasina berada sedekat mungkin dengan air terjun itu, atau mereka akan mampu bergegas naik ke sisi tepian sungai untuk menyelamatkan diri.Sedikit lebih dekat... Tiga kaki lagi.........Sekarang.Aku menekan tombol SEND pada pesan yang telah tertulis di jendelaku. Perintah sederhana berbunyi TEMBAK! terkirim kepada Asuna dan Sinon secara bersamaan.Setengah detik kemudian, sebuah lubang masif muncul di tengah air terjun selebar lima belas kaki itu, dan pilar air melesat ke atas dari permukaan sungai di depannya. Nyaris secepat itu pula, suara gemuruh layaknya guntur memenuhi udara."Whoa!!""Apakah itu kilat?!"Barisan pasukan Mutasina tiba-tiba menjadi kacau balau, para pemain berbicara dengan nada waspada. Namun, kejutan yang sesungguhnya baru saja dimulai.Terdapat lima pilar yang menopang bendungan kami. Empat pilar di sebelah kiri dan kanan terbuat dari kayu pinus spiral tua yang kokoh, tetapi satu pilar yang berada di tengah terbuat dari kayu jati Zelle yang lebih langka dan lebih kuat.Batang kayu yang telah menahan tekanan air yang luar biasa besar pada bendungan selama dua setengah jam itu baru saja hancur berkeping-keping secara spektakuler, berkat peluru kaliber 12,7 mm dari Hecate II milik Sinon. Itu adalah salah satu dari enam peluru berharganya yang tersisa, yang mungkin tidak akan pernah bisa tergantikan.Pada rapat kami di kabin kayu, secara alami kami mempertimbangkan untuk menggunakan Hecate guna membidik Mutasina secara langsung. Namun senjata warisan tersebut adalah monster yang sesungguhnya, setara dengan Excalibur milikku atau bahkan lebih hebat lagi, dan menuntut stat yang sesuai dengannya. Dalam keadaannya saat ini, Sinon tidak bisa memakainya. Klein menyarankan untuk membuat dudukan senapan portabel yang bisa dibawa, dan Agil menawarkan diri untuk membawanya sendiri, tetapi tidak ada satu pun dari rencana tersebut yang memungkinkan terjadinya tembakan presisi.Sebagai gantinya, aku menyarankan untuk memasang Hecate dengan erat pada beberapa batang kayu, mencegah terjadinya penyesuaian bidikan tetapi memungkinkannya untuk menembak pada satu titik yang akurat. Bidikan kami tidak akan diarahkan kepada seorang pemain, melainkan pada batang kayu jati Zelle yang menopang bendungan tersebut.Sebuah hantaman langsung dari peluru yang kemungkinan besar mampu membunuh The Life Harvester dalam satu tembakan terbukti lebih dari cukup untuk menghancurkan batang kayu setebal dua puluh inci itu. Adapun apa yang terjadi setelahnya...Diiringi suara gemuruh dahsyat yang cukup keras untuk menyapu bersih segala jejak ingatan tentang tembakan senjata satu detik sebelumnya, bendungan itu runtuh dari bagian tengah tanpa sokongan intinya.Gelombang air bah, yang dibanjiri pecahan batu dan kayu, dilepaskan sepenuhnya. Garis depan pasukan Mutasina tertelan habis tanpa ada harapan untuk melarikan diri. Bahkan seorang prajurit berzirah berat sekalipun tidak akan mampu menahan energi terpendam dari air yang tertahan di balik bendungan selama dua setengah jam. Sejumlah dari mereka mencoba menyeberangi arus untuk memanjat tepian sungai, namun mereka tidak pernah berhasil mendekat, menjerit saat pusaran air yang membengkak menggulung mereka.Seiring kekacauan yang terjadi, aku mengamati bagian tengah formasi musuh dengan sangat cermat.Dengan gaya yang mengesankan, keempat anggota Virtual Study Society tidak menyerah pada kepanikan saat menghadapi banjir bandang tersebut. Mutasina memang berhenti, tetapi dua pemain pedang wanita berpakaian hitam, Viola dan Dia, berteriak serempak, "Semuanya, naik ke tepian!"Mereka bergerak untuk mengevakuasi diri ke sisi timur sungai—menuju hutan tempat kami mengintai—tetapi membiarkan puluhan penyumbang damage berkerumun dalam formasi yang begitu ketat justru menjadi bumerang bagi mereka. Para tank dan pengintai, yang tersapu mundur oleh arus deras itu, bertabrakan dengan para penyumbang damage, saling bergelut dengan mereka dan menciptakan sebuah rintangan yang sangat besar. Kuartet Mutasina terdiam tak bergerak sejenak, lalu tertelan oleh air. Entah ia tetap tenang atau panik, tidak ada pemain yang sanggup mempertahankan posisi mereka dalam melawan banjir tersebut.Segera setelah aku mendapatkan konfirmasi visual bahwa kelompoknya telah tersapu, aku mengirimkan pesan berikutnya.MAJU!Pesan ini ditujukan untuk Asuna, meskipun aku juga mengirimkannya pada Sinon. Bersama-sama, kami melompat keluar dari semak belukar dan memberikan isyarat tangan kepada party kami yang mengintai menunggu di dekat kami.Dengan Kuro yang berada sedikit di depan, aku berlari cepat sekuat tenaga di batas tepat di antara hutan dan dasar sungai. Bahkan dengan kecepatan penuh sekalipun, aku nyaris tidak bisa mengejar kelompok Mutasina yang berada di dalam air. Mungkin beberapa pemain menyadari kehadiran kami, namun dalam keadaan terjebak di pusaran arus deras seperti mereka, yang bisa mereka lakukan hanyalah berusaha agar tidak tenggelam.Saat aku berlari, kekuatan terjangan air itu berangsur-angsur melemah. Pertama, para pemain berzirah berat tersangkut pada bebatuan atau cabang pohon di dasar sungai, lalu para pemain tingkat menengah terjerat dengan mereka. Di barisan depan pemain berzirah ringan, yang masih mengambang di permukaan, adalah Magis dan Mutasina, yang pastinya merupakan orang yang paling ringan di antara semuanya dalam hal berat perlengkapan. Mereka telah terseret menjauh dari Viola dan Dia.Sejauh ini, semuanya telah berjalan sesuai rencana. Sekarang kami tinggal menunggu Mutasina berhenti. Aku sempat khawatir akan keberadaan Magis yang begitu dekat, tetapi seorang mage tidak akan mampu bereaksi dengan cepat terhadap serangan terjang.Ketinggian gelombang pasang itu perlahan menyusut. Bahkan para pemain berzirah ringan pun mulai terjebak sekarang, memanjat naik ke tepi pantai dengan kekuatan mereka sendiri. Di depan Mutasina dan Magis, yang masih terombang-ambing arus, terdapat sebuah gundukan pasir yang besar. Mereka mengoreksi arah untuk menujunya, menancapkan ujung tongkat mereka ke bagian depan gundukan pasir yang berkerikil... dan berhenti.Inilah saatnya."Ayo maju!" teriakku dengan tegas, lalu aku melesat keluar dari dalam hutan, melompat turun ke dasar sungai tiga kaki di bawah. Segera setelah aku mendarat, pedangku telah terbebas, dan aku berlari dengan kecepatan penuh ke arah Mutasina, yang berada kurang dari enam puluh kaki di depanku. Sungai mengalir di antara dasar sungai dan gundukan pasir, tetapi karena alirannya dialihkan mengitari tepian itu, lebarnya kurang dari lima belas kaki, dan aku bisa melompatinya dengan bantuan sword skill. Di sisi lain sungai, tim Asuna melompat turun pada waktu yang bersamaan, berlari ke arah depan. Aku bisa mendengar teriakan dan raungan dari unit berzirah ringan jauh di arah hulu saat mereka menyadari kehadiran kami, namun aku telah menempatkan Misha untuk memimpin kelompok terpisah guna menangani mereka.Tugasku adalah untuk menyingkirkan Mutasina dari Unital Ring selamanya. Menghabisi nyawa tanpa belas kasihan tidak benar-benar sejalan dengan etos pribadiku, namun aku tahu sejak momen ia mengalungkan simbol itu di tenggorokanku bahwa ia tidak akan mau berkompromi lewat dialog. Membebaskan para pemain yang terbelenggu dan mencegah teman-temanku dari menderita nasib yang sama mengharuskanku untuk menjalankan misi semacam ini, saat ini juga.Di ujung gundukan pasir, Mutasina dan Magis akhirnya bangkit berdiri, setelah menyadari penyergapan kami, tetapi gerakan mereka canggung, entah karena pusing setelah diombang-ambingkan oleh air atau karena jubah basah mereka yang kelewat berat. Bahkan seandainya mereka mencoba merapal sihir, aku dapat menghentikan gerakan perapalan mereka dengan sword skill pada jarak sedekat ini.Aku menyandarkan pedangku di bahu kananku, bersiap untuk mengeksekusi skill Sonic Leap.Tiga langkah lagi sampai aku berada dalam jangkauan. Dua...Tiba-tiba, dasar sungai di bawah kakiku memancarkan cahaya ungu kebiruan. Dan bukan hanya itu. Ada lekukan, pola, dan simbol-simbol yang muncul di atas permukaan berbatu itu dalam sebuah tekstur yang rumit. Itu adalah lingkaran sihir. Nyatanya...Itu adalah efek prekusor dari sihir Noose of the Accursed. Lingkaran masif berdiameter 150 kaki itu, membentang penuh menutupi timku maupun tim Asuna. Tapi kenapa? Mutasina berada tepat di hadapanku, menggunakan tongkatnya untuk menopang dirinya berdiri. Ia tidak melakukan gerakan aktivasi. Hal yang sama juga berlaku pada Magis.Namun hal terakhir yang harus kulakukan adalah berdiri mematung dalam keterkejutan. Aku memang sudah berada di bawah efek Noose, tetapi aku tidak bisa membiarkan hal yang sama menimpa teman-temanku.Di belakang sang penyihir yang masih linglung, seekor monster bangkit yang penampilannya sama sekali tidak terlihat selain layaknya dewa yang mengerikan. Makhluk itu memiliki bagian dada seorang wanita, duduk di atas sekumpulan tentakel yang menggeliat. Keempat lengannya masing-masing memiliki dua sendi, dan kepalanya dipenuhi duri-duri yang mencuat."Semuanya, keluar dari lingkaran sihir itu!! Kau juga, Kuro!!" teriakku sekeras yang kubisa, sembari mengaktifkan Sonic Leap. Aku tidak tahu bagaimana cara mereka mengaktifkan sihir itu, tetapi selama aku berhasil mengalahkan Mutasina, Noose itu akan dibatalkan secara permanen, bahkan jika yang lainnya tidak bisa melarikan diri tepat waktu."Haah!"Aku melontarkan diriku dari atas tanah tepat pada momen aku merasakan akselerasi sistem bekerja, melintasi lima belas kaki sungai dalam satu lompatan tunggal dan menebas bahu Mutasina yang tak berdaya dan tanpa perlindungan.Kachiiiing! Terdengar suara benturan yang hebat, dan sentakan keras menjalar di sepanjang lenganku, membuatku mati rasa hingga ke siku. Di belakang Mutasina, Magis telah menjulurkan tongkatnya dengan kecepatan yang mengerikan—dan senjatanya, yang secara keseluruhan tampak seperti dahan pohon keriput, menahan pedangku. Bilah bajanya tenggelam beberapa inci ke dalam kepala tongkat itu, namun senjatanya jelas lebih berkualitas daripada kelihatannya, karena ia menghentikan seranganku seketika.Kekuatan hantaman dari sword skill itu tersebar dari titik tersebut, meniup mundur tudung Mutasina dengan hembusan angin. Rambut panjang sehitam gagaknya melecut dengan ganas, dan pendaran dari lingkaran sihir mengungkapkan wajah yang pucat.Fitur wajahnya terlihat halus dan rupawan, persis seperti yang kuingat. Namun ada tikaman tajam di benakku, sebuah tusukan rasa ganjil. Sumbernya adalah... matanya. Meskipun tidak ada emosi di wajahnya, ada lapisan ketakutan di mata abu-abunya yang melebar. Mutasina yang kulihat di reruntuhan takkan merasa terkejut sedikit pun, sekalipun ujung pedang berada sehelai rambut jauhnya dari bola matanya.Ini adalah orang lain. Seorang pemeran pengganti.
Momen kesadaranku bertepatan dengan sinar cahaya yang menembak keluar dari keempat lengan monster itu.Greeeee!Sinar-sinar itu memekik layaknya monster, menghantam semua kawananku saat mereka berusaha kabur dari lingkaran itu. Sialnya, aku harus berasumsi bahwa tak seorang pun punya cukup waktu untuk menghindar pergi. Bahkan pemeran pengganti di hadapanku pun tersungkur saat sinar itu menghantam tenggorokannya yang terekspos.Setelah sinar yang ditembakkan sudah cukup mengenai semua orang yang ada, makhluk mengerikan itu hancur menjadi ketiadaan.Mutasina pastilah berada di suatu tempat di dekat sini dan telah mengatur orang pengganti yang membawa tongkat identik, hanya untuk memancing kami masuk ke dalam jangkauan Noose-nya—lalu merapal sihir pencekik itu pada semua orang, tanpa belas kasihan. Aku kini ingat bahwa Mutasina juga memasukkan anggota Virtual Study Society di pertemuan Reruntuhan Stiss demi mendapatkan kepercayaan orang-orang lainnya—dan menyapu mereka semua bersamanya. Rekan-rekannya kemungkinan besar setuju untuk menjadi bagian dari umpannya, dan ini adalah rencana yang cerdas, tidak diragukan lagi—tetapi hal itu membuatku muak saat memikirkannya.Dengan pedangku yang masih terperangkap di tongkat Magis, aku bertanya kepada sang pemeran pengganti yang tidak kukenal itu, "Apakah ini benar-benar yang kau inginkan?"Bukan gadis itu yang menjawab, melainkan Magis, yang menjulang di belakang punggungnya bagaikan malaikat maut."Astaga," serunya, dari kegelapan di balik tudungnya. "Dengar, Kirito. Aku tidak menyangkal hakmu untuk mengejar cita-cita pahlawanmu, tetapi kami melakukan yang terbaik untuk menamatkan gim ini di sini. Apakah ini benar-benar tempat yang tepat untuk memaksakan standarmu kepada orang lain?"Suaranya dalam dan lembut, seperti suara seorang guru, tetapi kata-katanya tajam. Ya, setiap orang memiliki hak untuk memainkan MMORPG dengan cara mereka sendiri, dan kau tidak bisa menceramahi orang lain tentang bagaimana mereka harus mengikuti superioritas moralmu. Kenyataannya, bukan hanya suara dan nada bicaranya—bahkan pendapatnya pun terdengar seperti seorang guru...Tiba-tiba, sebuah pemikiran menghantamku:Orang ini adalah "Sensei". Dialah sosok misterius yang mengajarkan party Mocri cara bertarung melawan pemain lain—dan kemungkinan juga menghasut kelompok Schulz untuk melancarkan serangan mereka. Jika demikian, maka bahkan percakapan yang tak perlu ini pun kemungkinan besar sedang menutupi suatu tujuan strategis miliknya.Mutasina telah mencapai tujuannya untuk merapal Noose pada kami; yang perlu ia lakukan hanyalah mengaktifkan efeknya untuk menundukkan kami semua di bawah kehendaknya. Yang perlu ia lakukan hanyalah menumbukkan ujung tongkatnya ke tanah, lantas mengapa ia tidak melakukannya?Apakah dia belum bisa melakukannya? Apakah dia berada di suatu tempat di mana dia tidak bisa melakukannya? Mungkin itu adalah sebuah tempat tanpa pijakan tanah yang padat. Seperti sungai. Atau..."Langit!"Aku mendorong ke depan dengan pedangku sekuat tenaga dan menatap ke arah langit.Meskipun tidak ada bulan, bintang-bintang bersinar terang. Dengan membuka mataku selebar mungkin, efek Night Vision-ku mulai bekerja, mencerahkan detail pandanganku sedikit. Di langit abu-abu gelap, tampak sesosok bayangan hitam yang berputar-putar tanpa suara. Itu adalah seekor burung raksasa dengan lebar sayap setidaknya sepuluh kaki. Aku tidak bisa melihatnya dari tanah, tetapi kemungkinan besar Mutasina berada di punggungnya. Mungkin ia terbang berputar karena sedang mencari tempat yang aman untuk mendarat di dalam hutan.Begitu ia mendarat, itu akan menjadi sekakmat. Kami harus melakukan sesuatu saat ia masih mengudara. Tetapi aku tidak bisa menjangkaunya dengan sword skill, dan satu-satunya serangan jarak jauh yang kami miliki adalah sihir api Yui, sihir pembusukan milikku, dan Hecate milik Sinon. Dengan arah bidikan senapan runduk yang terkunci di satu titik, itu tidak mungkin dilakukan; dan starting spell Flame Arrow tidak akan cukup kuat untuk menjatuhkan burung raksasa itu. Sihir Rotten Shot milikku takkan menghasilkan lebih dari sekadar jebakan iseng semata.Aku melirik sekilas ke hulu sungai, tempat pasukan musuh yang tersapu banjir bandang mulai memulihkan diri. Begitu mereka menyadari situasinya, mereka akan mengikuti perintah awal mereka dan menyerang kami. Tidak jelas apakah para letnan akan menghentikan mereka, tetapi kami tidak bisa membiarkan segala sesuatunya berjalan seperti ini saja.Satu-satunya opsi yang tersisa adalah mengambil batu dan melemparnya. Aku mulai memikirkan keras ke arah sana ketika raungan buas meletus dari belakangku."Groaaaahh!"Berdiri dengan dua kaki di tepi sungai adalah Misha, si beruang gua duri, kedua kakinya terentang sepenuhnya. Pola zig-zag berwarna putih di dadanya bersinar di bawah cahaya bintang yang redup.Benar juga—kami memang memiliki satu serangan jarak jauh.Pola di dada Misha memancarkan kilatan cahaya. Banyaknya jarum yang melesat dari dadanya meluncur di langit malam layaknya rudal antipesawat udara, menyelimuti burung raksasa yang berputar-putar hampir dua ratus kaki di atas kepala. Bulu-bulu meledak berjatuhan tanpa suara.Serangan itu gagal menghabisi seluruh HP burung itu, tetapi cukup untuk menyebabkan makhluk itu kehilangan keseimbangannya. Burung itu mulai menukik jatuh ke arah tanah, mengepakkan sayapnya dengan panik untuk mendapatkan kembali daya angkatnya.Gawat. Mutasina masih memiliki pilihan untuk kabur begitu saja dari tempat ini. Jika ia menarik burung itu menjauh dan keluar dari pandangan, kami takkan pernah mendapatkan kesempatan lagi untuk membunuhnya.Jatuh! Kumohon, jatuhlah! harapku di dalam hati.Lalu ledakan bulu lainnya berjatuhan dari bagian dada kanan burung itu. Aku mendengar suara tembakan bergema: Baaang... Itu bukanlah suara dentuman gemuruh dari Hecate. Sinon pastilah telah meninggalkan posisinya untuk mendekat, lalu menembak burung itu menggunakan sebuah senapan musket.Tambahan damage itu terlalu besar bagi burung monster tersebut untuk bisa ditahan kali ini. Ia mengepakkan sayapnya dengan canggung dan mulai turun ke arah sungai. Saat ia terbang lebih rendah, sosok di punggung burung itu pun mulai terlihat.Mutasina telah menghindari ledakan langsung dari jarum-jarum itu, tetapi ia tak punya pilihan tempat pendaratan sekarang. Bisakah aku mengalahkannya tepat pada saat ia turun? Hal itu akan menentukan hasil dari pertempuran ini.Aku melepaskan ketegangan di lututku dan langsung membenamkan pijakanku tanpa peringatan. Pedangku, yang masih tertancap pada tongkat Magis, kutarik mundur ke atas bahu kananku. Dengan sedikit penyesuaian pada posisi kuda-kudaku, bilah pedang itu mulai memancarkan cahaya biru. Ketika kau tidak bisa menggerakkan pedangmu, kau bisa menggerakkan tubuhmu untuk memaksanya ke dalam pergerakan yang tepat untuk sebuah sword skill."Mmm...?" erang Magis. Ia mencoba melompat menghindar, tetapi sudah terlambat.Menyingkirkan sang pemeran pengganti yang masih linglung ke samping menggunakan tanganku yang bebas, aku mengaktifkan skill satu serangan Vertical dengan lengan pedangku.Shunk! Bilah pedang itu memotong menembus tongkat panjang tersebut beserta jari-jari pria yang memegangnya. Sekarang sang mage tidak bisa melakukan gestur sihir apa pun sampai ia pulih dari damage lokalnya tersebut. Aku ingin menghabisinya saat ini juga, tetapi ada urusan yang lebih mendesak."Semuanya, arahkan bidikan ke titik jatuhnya burung itu!" teriakku, melompati tubuh Magis yang telah tumbang dan mulai berlari.Aku berdoa agar ia jatuh di suatu tempat di hilir sungai yang tak memiliki rintangan apa pun, tapi tentu saja hal itu tidak akan semudah itu. Burung yang menukik tajam itu akan jatuh ke sisi barat sungai, sekitar dua puluh yard ke arah hulu dari gundukan pasir.Pasukan Mutasina bersiap siaga di sepanjang tepi kanan sungai, tetapi mereka belum pulih dari guncangan akibat banjir bandang tadi atau terintimidasi oleh raungan Misha; sehingga reaksi mereka menjadi lambat. Aku mungkin masih memiliki satu kesempatan untuk melancarkan serangan telak pada Mutasina sesaat setelah ia mendarat.Aku menyeberangi perairan dengan lompatan biasa kali ini, menuju ke tepi barat sungai. Di sebelah kiriku, aku bergabung dengan Asuna, yang telah menghunus rapier-nya.Sekilas pandang ke arahnya saja sudah cukup untuk mengenali cincin hitam di lehernya yang jenjang. Tetapi tidak ada sekelumit pun rasa takut di raut wajahnya. Hanya ada konsentrasi murni yang terpancar di kedua matanya selagi ia berlari menuju titik sasaran kami, sepenuhnya merasuki identitas sang Flash sekali lagi.Tunggangan Mutasina adalah burung pemangsa berbulu gelap. Aku tidak tahu apakah itu elang rajawali atau elang alap-alap, tetapi cakar dan paruhnya yang tajam pasti akan memberikan serangan yang menyakitkan. Namun untuk saat ini, yang bisa dilakukannya hanyalah memperlambat kecepatan jatuhnya, jadi aku tidak merasa perlu menganggapnya sebagai musuh. Satu-satunya sasaranku adalah Mutasina. Aku akan membelahnya menjadi dua pada saat ia melompat dari punggung burung itu dan mendarat di atas tanah.Selagi berlari, aku mengukur timing untuk mengeksekusi sword skill-ku.Di bagian belakang kepalaku, aku membayangkan apa yang akan terjadi dalam beberapa detik ke depan. Mutasina akan melompat dari punggung burung raksasa itu tepat sebelum menabrak tepian sungai, mendarat, lalu menancapkan tongkatnya ke tanah. Aku memulai hitungan mundur di dalam hati sampai waktu aku harus melepaskan Sonic Leap, sehingga aku akan menghantamnya bersamaan dengan saat ia mendarat. Tujuh, enam, lima...Tepat pada saat itu, sesosok figur kecil terpisah dari burung yang jatuh itu. Mutasina telah melompat turun."...!!"Aku menahan napas seraya berlari. Ia masih berada di udara pada ketinggian setidaknya tujuh puluh kaki. Tidak mungkin ia bisa mendarat dengan stabil dari ketinggian seperti itu. Ia akan menerima damage yang sangat besar akibat jatuh dari ketinggian tersebut, kecuali ia telah mengambil ability Landing di pohon keahlian Swiftness dan meningkatkannya ke tingkat 10.Atau mungkin ia memiliki cara lain untuk menetralkan kecepatannya—tetapi Mutasina jatuh ke tanah bahkan lebih cepat dari burung itu.Alih-alih merentangkan tungkainya dalam upaya untuk meningkatkan hambatan angin, ia meluruskan tubuhnya, mencondongkan tongkat di tangan kanannya ke depan, menuju tanah.Tiba-tiba, aku menyadari apa yang ia rencanakan. Di dekatku, Asuna terkesiap."Rgh..."Kami meningkatkan kecepatan. Aku mulai mengambil kuda-kuda persiapan untuk Sonic Leap, sementara Asuna melakukan hal yang sama untuk Shooting Star. Cahaya mengalir ke pedang panjangku dan rapier-nya, dan kedua senjata itu mulai bergetar dengan dengungan bernada tinggi... Tapi sebelum aku bisa melontarkan diriku ke depan, ujung bawah tongkat Mutasina lebih dulu bersentuhan dengan batu besar di tepi sungai.Craaaaack! Disertai suara layaknya tembakan senapan, batu itu terbelah menjadi dua.Tangan Mutasina melepaskan tongkat itu. Ia menghantam tepian sungai dengan bahu lebih dulu, terpental dengan keras, melakukan salto, dan jatuh terjerembap ke atas tanah. Simbol di sekeliling leher kami—Noose of the Accursed—mulai memancarkan cahaya berwarna ungu-biru.Sesuatu yang lengket menyumbat tenggorokanku. Aku tidak bisa menarik atau mengembuskan napas. Sensasi tercekik yang realistis itulah hal yang tidak ingin kualami lagi seumur hidup.Abaikan saja! Ini cuma sebuah ilusi! Aku meyakinkan diriku sendiri dengan segenap kemauan yang kumiliki, lalu mengaktifkan Sonic Leap. Meskipun upaya Asuna sedikit tersandung, ia juga berhasil mengeksekusi Shooting Star.Di depan sana, sang penyihir berjubah putih itu sedang mengangkat dirinya untuk berdiri. Sihir Noose pastilah terhitung sebagai sebuah serangan, karena kursor gelendongnya sekarang aktif di atas kepalanya. Meski upayanya menumbuk batu dengan tongkatnya telah berhasil menangkal sebagian guncangan akibat dampak benturan, namun ia tetap menderita damage cukup besar dan HP-nya masih tidak lebih dari 20 persen.Masing-masing dari serangan kami ini akan lebih dari cukup untuk menghabisinya, jika saja kami berhasil mengenai dirinya."......!!" Aku meraung tanpa suara, mengayunkan pedang yang memancarkan pendaran cahaya hijau tepat ke arah bahu kiri Mutasina.Ujung pedang yang mematikan itu menerjang ke arah penyihir yang sedang menunduk tersebut—dan kemudian, dengan kecepatan fenomenal, sesosok bayangan gelap melesat di hadapanku dan menangkis seranganku dengan menggunakan pedang panjang yang ramping. Di sebelahku, rapier Asuna dihentikan oleh bayangan lainnya. Dua bunyi benturan logam terdengar nyaring, dan percikan api jingga menerangi kedua sosok tersebut.Keduanya adalah wanita bertubuh pendek yang mengenakan zirah kulit berwarna hitam, dan mengenakan topi kulit berwarna serupa. Itu adalah Viola dan Dia dari Virtual Study Society. Musuhku menatap tajam ke arahku dengan luapan kegembiraan dan permusuhan yang mengerikan. Terdapat cincin bercahaya di sekeliling lehernya yang sempit. Keduanya juga tak dapat bernapas, tetapi mereka telah melompat keluar dari sungai untuk mempertahankan Mutasina.
Cahaya berpendar pada pedangku dan Asuna memudar.Pada saat yang sama, rasa sakit di tenggorokanku mencapai puncaknya, dan aku tersungkur berlutut. Asuna juga jatuh tergulai di sebelah kiriku. Aku ingin membantunya melarikan diri, setidaknya, tetapi kemudian Viola dan Dia juga ikut jatuh ke tanah. Meskipun telah mengetahui tentang efek dari sihir itu, para anggota Virtual Study Society tersebut juga tak sanggup menahan rasa sakitnya.Aku tidak bisa menyalahkan mereka. Meskipun tahu bahwa tubuh aslimu masih baik-baik saja, sensasi tak bisa bernapas memanggil ketakutan primordial yang membuat anggota tubuh mati rasa dan menguras kemampuanmu untuk berpikir. Jantungku berdebar kencang, dan darah memompa tanpa henti di telingaku.Berusaha keras untuk melihat ke belakang, aku bisa melihat semua teman kami sedang berlutut di dasar sungai atau tersungkur di tanah. Kaum Bashin, kaum Patter, dan bahkan para hewan peliharaan kami juga termasuk. Sungguh sulit untuk melihat Kuro, Aga, dan Misha meringkuk dalam penderitaan, dengan Noose bersinar di leher mereka.Di sebelah kanan, hampir seratus pemain telah jatuh kembali ke dalam air, meronta-ronta dengan hebat. Tak ada seorang pun yang bisa berbicara, sehingga satu-satunya suara yang terdengar adalah gemuruh air dan kepakan lemah sayap burung raksasa yang terluka itu, kini karena ia juga telah mendarat di dasar sungai.Di tengah neraka sunyi ini, sang penyihir perlahan bangkit dan berdiri. Ia meremas tongkatnya, yang masih tertancap di antara pecahan batu, dan mencabutnya dari tanah. Batu permata yang tertanam di kepalanya memancarkan warna ungu-biru mencekam yang sama dengan warna Noose.Mutasina menyapu tudungnya ke belakang, memperlihatkan kecantikannya, dan mengamati area sekitar. Fitur wajahnya memang mirip dengan sang pemeran pengganti, tetapi ada sesuatu yang samar-samar tidak manusiawi dari aura wanita yang asli ini.Menghadap ke depan sekali lagi, bibir tipisnya melengkung ke atas membentuk seulas senyuman."Kerja bagus yang luar biasa," gumamnya, berjalan menghampiri Asuna dan diriku. Ia berhenti tepat di belakang Viola dan Dia yang sedang meronta kesakitan lalu melanjutkan ucapannya, "Aku punya firasat kalian tidak akan sebosankan itu untuk sekadar bersembunyi di markas kalian... Tapi aku tak pernah menduga kalian akan membendung sungainya. Aku tak pernah mengira sistem crafting bisa melakukan hal sehebat itu. Rencana kalian benar-benar melampaui ekspektasiku. Aku berasumsi bahwa kesehatanku takkan berkurang lebih dari sepersepuluhnya akibat damage hingga ke akhir gim ini, tapi kalian hampir membunuhku dengan memaksaku melompat dari tunggangan terbangku."Ia terkekeh penuh dengan nada kemenangan, dan wajahnya memudar menjadi dua, lalu menyatu kembali. Apakah itu merupakan artifak visual akibat dari sihir Noose tersebut, atau karena otak biologisku yang sedang dibanjiri luapan adrenalin? Aku bisa saja mengalahkan Mutasina jika aku mampu menebasnya sekarang, tetapi tak ada sedikit pun tenaga yang kumiliki untuk memegang pedangku. Dalam melawan kepanikan akibat mati lemas ini, yang bisa kulakukan hanyalah menahan tubuhku agar tidak meronta-ronta.Asuna menempelkan tangan kirinya di tenggorokannya, dengan tangan kanannya tertancap ke pasir tepi sungai. Pemandangannya itu mendatangkan gelombang amarah baru di dalam diriku terhadap wanita di depanku, namun bahkan perasaan itu pun terkalahkan oleh ketidakmampuan yang mengerikan untuk bernapas.Sebelumnya aku percaya bahwa, di balik segala sihir mengerikan apa pun yang Mutasina miliki, ia tetaplah tak lebih dari seorang pemain Unital Ring belaka. Bahwa metode serta gelagatnya yang kejam itu hanyalah gaya bermainnya yang khas. Tapi aku begitu naif. Wanita ini bukanlah orang biasa yang sedang memainkan peran sebagai penyihir jahat. Ia menantang dunia ini bukan sebagai seorang gamer VRMMO, melainkan sebagai sesuatu yang berasal dari dimensi yang sepenuhnya berbeda.Seakan merasakan luapan teror yang mengalir di benakku, ia berkata, "Jadi, kau sudah mencapai batasmu? Ketika aku menguji ini sebelumnya, tak seorang pun bisa menembus rintangan tiga menit. Hanya ada satu cara untuk terbebas dari Noose: yaitu dengan log out. Tentu saja, itu akan meninggalkan avatarmu tepat di sini, dalam keadaan yang sepenuhnya tak berdaya."Ia mengayun-ayunkan bagian pangkal dari tongkat panjangnya di udara dengan nada menggoda. Jika kami bisa membuatnya memukulkan ujung tongkatnya itu ke tanah, penderitaan ini akan berakhir.Tiba-tiba, senyuman Mutasina lenyap. Dengan ekspresi datar, ia menatap lurus ke arahku dan mengumumkan, "Kirito the Black Swordsman. Asuna the Flash. Jika kau bersedia bersumpah setia padaku sebagai imbalan dari akhir penderitaan kalian, serahkan pangkal pedang kalian."Dalam konteks permainan, hal ini sama sekali tidak ada artinya. Jika aku menyerahkan pedangku padanya, aku akan memiliki banyak kesempatan untuk menyerang Mutasina secara mengejutkan dan menyergapnya nanti.Namun, baik diriku, Asuna, maupun semua kawan kami (sepengetahuanku) tidak memiliki kepribadian... atau keyakinan yang memungkinkan hal tersebut. Jika kami mengikrarkan kesetiaan sebagai ganti nyawa kami, kami tidak akan punya pilihan selain bertindak sesuai dengan pilihan itu. Mutasina menuntut sumpah pada pedangku, mengetahui tentang sisi dari diriku yang seperti ini.Jadi hanya sampai di sinilah kita.Aku tak sanggup lagi terus-menerus membiarkan Asuna, teman-temanku, dan bahkan Yui terpapar penderitaan yang mengerikan ini.Dengan jari-jemari yang nyaris tak bisa merasakan apa-apa, entah bagaimana aku berhasil mencengkeram pangkal pedangku, dan aku mencoba untuk mengangkatnya.Tepat pada saat itu, aku mendengar suara percikan air di sebelah kanan, diikuti oleh langkah kaki yang ringan dan cepat. Kepala Mutasina berpaling. Walaupun kaku, aku berhasil menoleh ke kanan.Berlari menembus air, memercik dengan kuat, dengan rambut hitam panjang dan gaun putih... adalah Yui.Ia berlari lurus ke arah Mutasina dengan tatapan penuh tekad di kedua matanya. Pedangnya tidak terhunus, tetapi ada cahaya merah di kedua tangannya, dan Noose bersinar biru di sekeliling leher mungilnya.Yui adalah sebuah program AI, namun ia bisa menerima informasi sensorik melalui avatarnya. Termasuk rasa panas, dingin, dan rasa sakit, yang ia interpretasikan sebagai sesuatu yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, selayaknya yang dirasakan oleh manusia. Itu adalah salah satu aspek inti dari desain AI buatan Kayaba Akihiko, dan bahkan Yui sendiri pernah mengatakan bahwa ia memprediksi tak bisa bernapas akan melumpuhkannya dengan penderitaan yang sama dengan yang kami rasakan. Jadi, bagaimana...?Ketika Mutasina melihatnya, ia melompat mundur dan mengempit tongkatnya di bawah lengan, lalu mulai merapal sihir gelap menggunakan gerakan tangannya. Namun gerakannya itu terlihat canggung karena ia memegang tongkat itu dengan menjepit lengannya pada sisi badannya.Menyadari hal ini, Yui membuat gerakan menarik panah menggunakan tangannya yang memerah. Tangan kirinya menjulur lurus, dan tangan kanannya ditarik kembali ke bahu, lalu seutas garis api yang tipis muncul. Itu adalah teknik starting spell sihir api, Flame Arrow.Yui membidikkannya seraya berlari lalu mengepalkan tangannya tanpa ragu sedikit pun.Shwa! Panah itu melesat ke depan. Mutasina kembali mencengkeram tongkatnya dan menangkisnya. Anak panah itu meledak menjadi percikan api dan berpencar menghilang. Itu adalah trik yang serupa dengan teknik peledak sihirku—namun hal itu memaksanya untuk membatalkan gerakan sihir gelapnya, dan ia tidak memiliki cukup waktu untuk memulai dari awal.Kini saat jaraknya tinggal sepuluh kaki lagi, Yui menghunus pedang pendeknya dari sisi kirinya lalu melompat dengan kuat."Yaaaaah!" raungnya, begitu buas terlepas dari usianya yang masih muda. Tubuh mungilnya melengkung sejauh yang bisa dilakukannya di udara, melepaskan sebuah serangan mematikan.Mutasina, di sisi lain, mengangkat tongkatnya dengan kedua tangannya untuk memblokir pedang Yui.Claaaang! Hal itu menyebabkan sebuah benturan logam, memercikkan bunga api putih yang menerangi wajah para petarungnya.Permata keunguan menyala di ujung tongkat Mutasina berkedip sejenak. Dan pada momen itu, aku merasakan benda lengket yang tersangkut di tenggorokanku bergetar. Jadi tebakanku benar... Efek dari sihir Noose itu terhubung dengan tongkat tersebut.Yui terpental mundur dan melanjutkan serangannya lagi segera setelah ia mendarat. Kali ini, ia tidak mencoba satu ayunan besar, melainkan serangkaian tebasan beruntun dengan kecepatan menyilaukan. Namun, Mutasina secara akurat menangkis setiap tebasannya menggunakan tongkatnya.Aku mau tak mau merasa terkesima—sejak kapan skill berpedang Yui menjadi sebaik ini? Ia pasti telah berlatih sekuat tenaga dengan Alice ketika kami sedang bersekolah. Aku merasakan semacam gaya bertarung yang serupa dengan sang kesatria itu dalam tiap gerakannya.Sayangnya, gerakannya masih terlalu lugu.Itu bukanlah suatu hal yang buruk, pada prinsipnya. Jika boleh dibilang, itu adalah jalan pintas menuju kemajuan. Ia bisa mempelajari trik-trik seperti gerak tipuan dan kelihaian tangan belakangan.Tetapi alasan mengapa gaya bertarung Alice yang presisi dan berani itu berhasil adalah karena adanya dorongan kecepatan dan beban luar biasa kuat di baliknya. Gaya bertarung Yui memiliki banyak kecepatan, namun tak banyak memiliki beban. Dan hal itu berarti bahwa bahkan mage seperti Mutasina bisa dengan mudah menangkis serangannya.Mutasina bersiap memblokir irisan atas dari Yui—namun hal itu adalah tipuan, dan ia lantas minggir menghindar. Pedang Yui hanya mengenai udara kosong belaka, dan ia pun kehilangan keseimbangannya. Mutasina membalasnya menggunakan serangan lutut kirinya.Sepatu bot panjang berlapis baja yang ia kenakan menjulur ke atas melampaui lutut, dan permukaan keras itu mengempaskan tubuh mungil Yui ke udara saat gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan.Amarahku terhadap Mutasina dan ketidakberdayaanku sendiri mencapai puncaknya, dan penglihatanku kembali membayang menjadi dua.Di dekatku, Asuna menggeram pelan entah bagaimana, meskipun batang tenggorokannya tersumbat, dan mencoba untuk bangkit. Tetapi ia tersandung dan tersungkur jatuh kembali ke tanah. Rasa tercekik itu mengalahkan seluruh panca inderanya, mencegah avatarnya agar tidak bergerak.Yui jatuh menimpa bebatuan dengan punggungnya dan menjerit, "Augh!" Serangan telak itu menghilangkan hampir 20 persen HP-nya. Namun, hal itu hanya menghentikannya selama sedetik; ia dengan cepat bangkit, membersihkan pasir dari pipinya dan bersiap dengan pedangnya lagi.Mutasina, yang telah menanganinya tanpa ekspresi, membiarkan bibirnya melengkung dengan perasaan tidak senang. Ia memindahkan pegangan tongkatnya ke satu tangan lalu memasukkan tangannya yang bebas ke dalam jubahnya untuk mencabut sebuah belati yang tipis. Bilahnya setajam jarum jam dan berkilau dingin di bawah pendaran cahaya yang terpancar dari kepala tongkat itu.Mutasina hendak membunuhnya.Aku meronta melawan rasa sakit yang membakar di dalam paru-paruku, sembari mencoba untuk berpikir. Aku tidak akan sanggup berdiri hanya dengan mengandalkan tekad belaka. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyingkirkan sensasi tersedak itu, meskipun cuma untuk beberapa detik. Bisakah aku menimpanya dengan sesuatu yang lebih kuat, seperti rasa sakit? Tidak, pengaturan rasa sakit dalam gim ini tidak seburuk yang ada di Underworld, dan aku toh tidak bisa mengangkat pedangku juga. Aku bisa menggerakkan tanganku, tapi paling-paling, aku cuma bisa menekuk jari-jemariku...Sebuah ide tiba-tiba muncul di benakku, memercik layaknya sengatan listrik. Tidak ada jaminan hal itu akan berhasil. Jika aku gagal, kemungkinan besar aku akan terputus dari jaringan oleh sistem keamanan AmuSphere. Namun aku harus mencobanya.Sembari merentangkan jari-jemariku dengan kaku, aku membentuk sebuah lingkaran menggunakan kedua tanganku, lalu menyentuhkan ujung-ujung jariku satu sama lain: sebuah gestur untuk sihir pembusukan. Gerakan tersebut sudah cukup untuk diakui sebagai sebuah eksekusi motion yang sukses, seraya cahaya abu-abu kehijauan menyebar menyelimuti kedua tanganku.Dari sudut mataku, aku melihat Yui sedang mempersiapkan pedang pendeknya, sementara Mutasina merespons dengan membalikkan belatinya ke belakang dalam cengkeraman backhand.Belum. Mutasina belum menyadari rencanaku. Tepat di depanku, kedua mata Dia tertutup rapat saat ia menahan penderitaannya, sehingga ia belum memperhatikan pendaran warna sihirku. Menggunakan tubuhnya sebagai perisai visual, aku memperhitungkan kapan momen yang tepat.Sosok mungil Yui membungkuk sepenuhnya ke depan, pedangnya tertahan di sisi kanannya. Itu adalah gerakan persiapan untuk Rage Spike, sebuah skill menerjang posisi rendah. Pendaran cahaya biru muda menyelimuti bilah pedangnya, dan udara dipenuhi oleh dengungan bernada tinggi...Sekarang!Aku membuka mulutku selebar mungkin lalu mengarahkan tanganku langsung ke sana. Dalam jarak bidik yang sebegitu dekat, aku tidak perlu repot-repot membidik sama sekali. Aku mengepalkan tanganku, dan bola abu-abu yang tergenggam di dalamnya—starting spell Decay Magic, Rotten Shot—terbang masuk ke dalam mulutku diikuti dengan suara remukan yang memuakkan.Pertama-tama, hidungku tersengat oleh bau busuk yang benar-benar tak terlukiskan, jauh lebih buruk daripada bau apa pun yang pernah kucium dalam hidupku hingga saat itu. Berikutnya, rasa layaknya keputusasaan yang direbus menyebar ke seluruh rongga mulutku. Air mata pun menggenang di pelupuk mataku, dan perutku bergejolak melilit. Dorongan luar biasa kuat untuk muntah menyeruak naik dari dalam perutku, merobek sumbatan yang kurasakan jauh di dalam tenggorokanku. Bukan berarti hal itu memungkinkanku untuk bernapas lagi, namun setidaknya kelumpuhan yang menderaku telah hilang.Aku bisa bergerak."Aaaaaaaaah!!"Aku mengubah doronganku untuk memuntahkan isi perut menjadi sebuah auman panjang, meremas pedangku sekuat tenaga, lalu melompat bangun dari posisiku yang tertelungkup. Dalam sekejap, aku telah melompati Dia dan berlari menerjang ke arah Mutasina. Sang penyihir melirik ke arahku, dan matanya membelalak kaget. Melalui refleks murni belaka, ia lantas mengangkat tongkatnya dengan tangan kanannya.Cahaya abu-abu tumpah ruah melalui sela-sela gigiku yang terkatup rapat selagi aku mengayunkan pedangku ke udara. Sesaat ketika tubuhku memasuki kuda-kuda Vertical, pedang itu sendiri mengatakan kepadaku, "Kau bisa melangkah lebih jauh lagi." Aku memperdalam posisi kuda-kudaku, dan getaran dari pedang itu semakin menguat."Yaaaah!!" Aku meraung lagi, mengaktifkan skill Vertical Square empat rentetan serangan, yang prasyarat kecakapannya aku curigai baru saja tidak terkunci.Tongkat panjang Mutasina memblokir serangan pertamaku dari arah atas, menghasilkan suara memekakkan telinga. Mata pedangku menembus hampir setengah inci ke dalam kepala tongkat, dan walaupun permatanya berkedip sangat kencang, itu belum cukup untuk memutusnya menjadi dua. Jika aku tadi hanya menggunakan Vertical, aku mungkin akan menerima serangan balasan berupa tusukan belati di pinggangku pula.Serangan kedua dan ketiga merupakan rentetan tusukan berkecepatan tinggi, ke arah atas dan bawah. Mutasina memutar tongkatnya lalu menangkis kedua serangan tersebut. Berdasarkan kecepatan reaksinya, ia memang sudah familier dengan Vertical Square.Tanpa goyah, aku mengerahkan segenap tenaga pada ayunan ke bawah keempatku yang sekaligus terakhir.Mutasina menjatuhkan belatinya dan menggunakan kedua tangannya untuk menahan tongkat itu ke atas secara menyamping.Pendaran cahaya biru dari sword skill-ku terpantul di kedua matanya yang gelap dan membelalak.Aku mengayunkan pedangku bukan ke arah tongkatnya, melainkan ke titik di antara kedua matanya.Ayunan yang ini tidak memberikan sensasi guncangan hantaman kuat yang serupa. Alih-alih demikian, terdengar bunyi Krak! yang renyah dan lajur pedang itu terus mendarat ke bawah mendekati tanah, di mana sisa kekuatannya sirna berubah menjadi kepulan debu yang membumbung dalam sebuah lingkaran.Semuanya terdiam membisu sejenak.Tangan kanan dan kiri Mutasina menggenggam tongkat itu—tetapi mereka sekarang terpisahkan oleh ruang kosong.Api hitam menyembur keluar dari ujung yang terpotong pada masing-masing bagian tongkat tersebut lalu dengan cepat menyebar melahap seluruh bagian senjatanya. Batu permata biru keunguan itu hancur secara diam-diam, dan pecahannya hangus terbakar di udara.Selanjutnya, efek pendaran damage merah menyala di kening Mutasina. Ia melemparkan tongkatnya yang terbakar ke samping, menekan kening di antara kedua matanya dengan tangan kirinya, dan mengambil langkah mundur dengan tersandung.Terdapat juga kobaran api tanpa panas yang membakar leherku selagi aku menunggu kelumpuhan usai eksekusi skill itu memudar. Sesaat begitu aku bisa merasakan bahwa Noose itu mulai terbakar hilang, sumbatan di dalam tenggorokanku pun ikut lenyap sirna begitu saja.
"Ahhh..."Aku mengembuskan seluruh udara dari paru-paruku, lalu menghirup seteguk udara dingin dan segar dengan rakus. Sisa rasa dari Rotten Shot masih menempel di mulutku, tetapi nikmatnya udara itu membantu menutupi bau busuk tersebut. Aku bisa saja berdiri di sana, sekadar menikmati tindakan bernapas selama beberapa menit, namun pertempuran belumlah usai. Tepat di belakangku ada Viola dan Dia, dan lebih jauh ke belakang di gundukan pasir terdapat Magis dan si pemeran pengganti, yang juga telah terbebas dari Noose. Aku harus melenyapkan Mutasina dari dunia ini sebelum ada satupun dari mereka yang sempat ikut campur.Aku meremas gagang pedang di tanganku dan bangkit.Sang penyihir balas menatapku dengan mata kanannya, masih memegangi keningnya. Aku tidak melihat tanda-tanda kemarahan atau kebencian pada separuh wajahnya yang terlihat. Jika boleh dibilang, ada seulas senyum tipis di bibirnya. Itu tak terlihat seperti sebuah gertakan... Ia mungkin masih memiliki semacam trik serangan balik tak terduga yang disembunyikan.Di belakangku, aku mendengar bunyi nyaring benturan pedang, dan sebuah suara berseru, "Maju, Kirito!"Kemungkinan besar, Asuna menahan si kembar yang sudah pulih itu sendirian. Yang lainnya menyebar di sepanjang tepi air untuk menahan sisa pasukan Mutasina. Aku tak boleh ragu sekarang. Jika Mutasina memiliki serangan rahasia yang telah dipersiapkan, aku harus menebasnya bersamaan dengan serangan itu.Aku menarik pedangku ke arah kanan dan mencondongkan tubuh ke depan, mengambil posisi kuda-kuda untuk skill penerjang rendah, Rage Spike. Tanpa tongkat maupun belatinya, Mutasina tidak memiliki sarana untuk bertahan menghadapinya.Sang penyihir masih tersenyum. Aku menatap lurus ke dalam matanya, yang tampak segelap ruang hampa udara, dan bersiap untuk mengaktifkan skill tersebut.Namun tepat pada momen itu, asap tebal yang mencekik mengepul dari sisi kiri, menutupi pandanganku. Aku tidak mencium bau apa pun dan tak kesulitan bernapas. Itu bukanlah asap secara spesifik, melainkan kegelapan murni yang tak memiliki wujud fisik.Tiba-tiba, aku merasakan suatu kehadiran tepat di sisi kiriku. Sebuah suara berkata, "Kau patut mendapatkan pujian tertinggiku atas semua ini, Kirito. Aku harap kita akan bertemu lagi."Itu adalah suara "Sensei" Magis, dark mage yang seharusnya berada nun jauh di gundukan pasir sana. Aku membatalkan Rage Spike dan menebas ke arah kiri tetapi tak merasakan apa pun."Jangan ada yang bergerak!" peringatku pada teman-temanku, menunggu kegelapan itu memudar. Jika ini terbuat dari sihir, asap ini takkan bertahan lama.Sesuai dugaanku, kegelapan itu mulai memudar dalam waktu sepuluh detik saja. Jika kata-kata Magis bukanlah sebuah tipuan, ia dan Mutasina pasti telah menarik diri dari tempat kejadian, tetapi mereka tak mungkin sudah pergi jauh. Begitu cahaya bintang kembali ke sekitar setengah dari tingkat kecerahan sebelumnya, aku berlari menuju titik tempat Mutasina berdiri tadi.Namun tidak ada tanda-tanda kehadiran sang penyihir maupun Magis. Aku menyapu pandanganku dari dasar sungai bagian hulu, ke arah hutan di sebelah baratku, kemudian ke arah hilir, namun aku tak melihat sosok manusia satupun. Seolah-olah mereka telah benar-benar lenyap bersama asap itu."Kirito...," bisik sebuah suara yang gugup. Aku menoleh ke belakang dan melihat Asuna dengan rapier di tangannya—dan untungnya ia tidak terluka. Merasa lega, aku bertanya, "Di mana Viola dan Dia...?""Mereka lenyap dalam hitungan detik setelah tertelan di dalam asap itu. Padahal, mereka tidak mungkin bisa pergi jauh... ""Tepat... "Mungkin itu adalah mantra ilusi penipuan ganda, dan mereka masih bersembunyi di dekat sini. Jika kami mencari di balik setiap batu dan pohon, kami mungkin akan menemukan mereka, tetapi tak ada waktu untuk itu—tidak ketika hampir seratus pemain berhadapan dengan Agil dan Klein dengan senjata terhunus di tepi air.Namun sebenarnya, ada satu hal lagi.Asuna memikirkannya juga. Kami berlari menuju ke tengah dasar sungai, tempat Yui sedang berdiri mematung."Yui!""Yui, sayang!"Gadis kecil itu, yang masih memegang pedang pendeknya dalam keadaan syok, tersentak dan melihat ke arah kami. Senyuman polos menerangi wajahnya yang berlapis debu pasir."Papa, Mama!" Yui berlari menghampiri kami, dan Asuna dan aku berlutut untuk menangkap dan memeluknya.Aku masih tak tahu bagaimana ia mampu bergerak di bawah efek Noose of the Accursed, tetapi kami akan memiliki banyak waktu untuk bertanya-tanya nanti. Seandainya Yui tidak melakukan yang terbaik dari dirinya, kami pasti sudah menyerah pada pasukan Mutasina atau dibantai. Berapa lama kami melakukan ini?Suasananya terasa telah mereda, jadi aku mendongak menatap ke depan. Di seberang sungai sana, semua pemain di pasukan Mutasina telah menurunkan senjata mereka dan sedang menatap kami dengan ekspresi yang sama sekali baru.Aku melihat Holgar di antara mereka dan aku bangkit berdiri. Sekarang setelah Noose berhasil ditangkal, mereka kemungkinan besar menyadari bahwa mereka tak perlu lagi bertarung. Namun bukan hanya karena mereka telah berada dalam suasana peperangan selama tiga hari terakhir, mereka juga baru saja tersapu ke hilir sungai oleh jebakan kami, sehingga mereka mungkin tidak bisa mengubah pikiran mereka seketika itu juga. Aku harus memulai dialog yang serius dengan Holgar, yang memegang posisi sebagai pemimpin.Setelah maju satu atau dua langkah menuju arah sungai, sebuah pemikiran lain terlintas di benakku, dan aku pun menatap ke arah hilir ke gundukan pasir.Namun pemeran pengganti yang kurobohkan di sana telah menghilang.
Komentar (0)
Memuat komentar...