Sword Art Online 025: Unital Ring IV

Bagian 8

Estimasi waktu baca: 10 menit

Aku menjulurkan sepotong daging mentah The Life Harvester dengan ragu, dan sebuah paruh besar merampasnya dengan kecepatan mengerikan, menelannya bulat-bulat.
Di sebelah kiriku, Kuro menggeram tanda tidak senang, jadi aku memberikan sepotong daging pada sang panther juga. Kemudian burung pemangsa pemilik paruh mematikan itu mencicit, mendorongku untuk menyodorkan potongan lainnya padanya.
Burung itu, yang ukurannya kira-kira sebesar Kuro, dikenal sebagai rajawali ekor panjang timah (leaden long-tailed eagle). Sesuai dengan namanya, bulu-bulu burung itu berwarna abu-abu gelap, dan ujung bulu ekornya nyaris cukup panjang hingga terseret di tanah. Paruh dan cakarnya bahkan berwarna lebih gelap daripada bulunya, nyaris sepenuhnya berwarna hitam kecuali kilau kebiruan di bagian ujungnya yang tajam.
Pada saat kami menyelesaikan perundingan kami dengan Holgar dan anak buahnya, HP milik burung yang telah ditinggalkan itu nyaris habis. Meskipun demikian, ia tetap berusaha memenuhi perintah pemiliknya yang tak punya hati dan menyerang kami saat kami mendekat. Aku sempat berpikir menyingkirkan makhluk itu dari penderitaannya akan menjadi sebuah belas kasihan, tetapi Yui bersikeras bahwa ia ingin menyelamatkan burung tersebut. Lagipula, ia adalah MVP pada malam ini, dan aku tidak bisa menolak permintaannya. Aku mendekat lalu menawarkan sedikit daging harve mentah, memprediksi akan digigit. Benar saja, makhluk itu menyerangku dengan paruhnya tanpa sedikit pun menoleh pada daging tersebut, namun aku terus menyodorkan daging itu ke depan wajahnya selagi aku menghindari serangannya, dan pada akhirnya burung itu—atau lebih tepatnya, sistem gim—menyerah dan membiarkan meteran taming muncul.
Untungnya, aku memiliki banyak daging harve yang tersedia, jadi aku terus memberi makan hewan buas itu dan mengisi meterannya sedikit demi sedikit, dan akhirnya berhasil setelah dua puluh menit yang panjang. Semua kawananku berhenti sejenak untuk menyaksikan proses ini, begitu juga dengan delapan puluh lebih mantan anggota pasukan Mutasina. Ketika aku akhirnya mengepalkan tinjuku tinggi-tinggi tanda kemenangan, aku disuguhi tepuk tangan meriah dari kerumunan orang.
Tentu saja, aku sedang tidak mood untuk melompat begitu saja ke punggung burung itu, jadi aku bergabung dengan yang lain—termasuk Friscoll, yang telah kami bebaskan dari penjara suteranya—dan berjalan kaki membelah hutan kembali menuju Ruis na Ríg, tempat kami memulai pesta makan malam lainnya di area terbuka dekat istal. Para mantan prajurit pasukan Mutasina menenggak harve panggang dan sup harve dengan kecepatan luar biasa, dan kami serta para serangga beserta kaum Bashin dan kaum Patter juga tidak rela untuk kalah makan. Aku yakin sekali pastilah kami telah menghabiskan semua dagingnya saat ini, namun saat bertanya pada kepala koki kami, Asuna, ia memberitahuku (yang membuatku ngeri) bahwa "Kurasa kita sudah menghabiskan sekitar dua puluh persennya pada malam ini."
Kalau dipikir-pikir lagi, The Life Harvester panjangnya lebih dari enam puluh kaki. Jika panjang seekor sapi adalah sekitar enam kaki, maka makhluk ini ukurannya setara dengan dua puluh sapi yang dijejer dalam dua baris. Aku rasa aku pernah membaca di suatu tempat bahwa satu ekor sapi saja dapat menghasilkan seribu porsi barbeku, sehingga The Life Harvester dapat memberi makan dua puluh ribu orang. Dengan standar itu, mengonsumsi 20 persen di antaranya dalam dua kali jamuan perayaan sebenarnya merupakan sebuah prestasi yang luar biasa.
Kami meminum habis semua bir yang dibawakan oleh para pemain Insectsite pada kesempatan sebelumnya, jadi Klein mengeluh, "Seandainya saja kita punya bir," tidak kurang dari sepuluh kali, tetapi perayaan malam ini cukup semarak bahkan tanpa manfaat dari alkohol virtual tersebut. Holgar, Dikkos, dan Tsuburo pada akhirnya mengakui bahwa mereka akan memainkan Unital Ring di bawah ancaman Noose hingga mereka menamatkan permainannya atau mati, sehingga pasti sulit untuk menggambarkan rasa kebebasan mereka. Tentu saja aku pun merasakan hal yang sama.
Satu-satunya kekhawatiranku adalah bahwa kami membiarkan seluruh kelompok Virtual Study Society melarikan diri, bukan hanya Mutasina saja. Kami telah menghancurkan tongkatnya, jadi aku berasumsi sangat mustahil baginya untuk merapal sihir pencekik mengerikan itu lagi, tapi tidak mungkin mereka akan menyerah begitu saja terhadap tujuan mereka di Unital Ring. Aku punya firasat kami akan bertemu mereka lagi, dengan trik lain yang tak terduga yang telah mereka persiapkan.
Tetapi itu adalah urusan nanti. Dan aku takkan mengizinkan mereka menyiksa Yui, Asuna, dan teman-temanku lagi.
Aku sedang duduk diam di pinggir perayaan yang mulai mereda, mengikrarkan sumpah pada diriku sendiri sembari memberi makan malam pada kedua hewan peliharaanku, ketika langkah kaki yang pelan mendekat. Hanya ada satu orang yang mempraktikkan langkah kaki mengendap-endap semacam itu layaknya sebuah rutinitas belaka...
"Kerja bagus hari ini, Sinon," ujarku, menoleh ke arah sang penembak jitu, yang mengenakan jubah hijau gelap untuk menutupi zirah perangnya yang agak terbuka.
Ia berkedip kaget karena telah terdeteksi dan menjawab, "Kerja bagus untukmu juga. Aku menyuruh Holgar untuk membagi anak buahnya untuk beristirahat di bangunan-bangunan di area selatan."
"Apakah kita punya cukup ruangan... eh, tempat tidur?"
"Tidak terlalu, jadi Liz membuat lebih banyak lagi di tempat. Lagipula, kita punya banyak bahan mentah."
"Tetapi, aku tidak tahu apakah aku akan merasa gembira jika harus tidur di kasur dari kayu kasar dan rumput kering..."
"Itu cuma sekadar untuk log out. Mereka bisa tidur nyenyak di lantai sekalipun," tukasnya, yang membuatku terkekeh.
Aku memutuskan untuk membicarakan sesuatu yang belum bisa kusampaikan di pesta tadi. "Ngomong-ngomong, Sinon, terima kasih banyak atas bantuanmu. Kalau kau tidak menembak jitu menggunakan senapan musketmu itu, aku tidak akan bisa menjatuhkan Mutasina ke tanah," ucapku, membungkuk tanda terima kasih.
Sinon tampak ragu dalam menerima pujian ini. Ia memandang rajawali ekor panjang timah itu. "Sejujurnya: aku membidik Mutasina, bukan burung itu, tapi itulah yang terbaik yang bisa kulakukan menggunakan musket. Aku jadi tak berguna sama sekali di pertempuran sesudah hal itu. Aku harus meningkatkan akurasiku lebih jauh lagi..."
"Hmmm... Menggunakan senjata apakah mantan pemain GGO lainnya bertarung, sesudah masa tenggang waktunya berakhir?"
"Dari yang kulihat online, nyaris semua orang menggunakan busur silang atau senapan sundut (matchlock) yang mereka temukan di sekitar reruntuhan awal."
"Senapan sundut...? Senjata apa lagi itu?"
Untungnya, Nona Sinon siap menceramahiku habis-habisan. "Pada dasarnya, itu adalah senapan yang memakai sumbu. Secara teknis, senjata itu diklasifikasikan sebagai musket layaknya senapanku, tapi senapanku itu adalah flintlock musket, bukannya matchlock musket. Keduanya jauh lebih mudah untuk ditembakkan dibandingkan senjata aslinya di dunia nyata, tapi meski begitu, sebuah matchlock mengharuskanmu untuk menyalakan sumbunya, jadi butuh beberapa detik tambahan dibandingkan flintlock."
"Ohhh, sumbu... Sepertinya hal itu bisa bikin stres ya, kalau kau sudah terbiasa dengan segala macam senapan laser di GGO... "
"Ya, jauh lebih mudah ketika bisa menembakkan lima puluh atau seratus tembakan berturut-turut hanya dengan satu kemasan daya." Sinon menyeringai. "Tapi kalau kau sudah terbiasa memegang matchlock, beda waktunya cuma dua atau tiga detik dari merapal Flame Arrow. Ketika kau berhadapan dengan puluhan dari senjata itu sekaligus, mereka merupakan ancaman yang sangat besar... Titik awal pemain GGO terletak tepat di sebelah kiri pemain ALO, jadi kemungkinan besar kita akan bertemu dengan mereka selagi kita bergerak maju ke arah pusat peta dunia. "
"Pendapat yang bagus... Kita perlu bekerja keras untuk mengembangkan perisai dan zirah pelindung yang bisa menahan tembakan peluru sebelum hal itu terjadi. Tapi lebih baik lagi, kita bisa berdamai dengan mereka, layaknya dengan anak buah Holgar."
"Benar," akui Sinon, menatap langit malam ke arah utara-timur laut—dataran yang ditunjukkan oleh cahaya surgawi. "Tapi kalaupun kita bisa bekerja sama dengan mereka, seiring kita bergerak lebih dekat ke tujuan, pada akhirnya kita akan..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi aku tak perlu mendengarnya untuk mengetahui apa yang ia maksudkan. Jika hanya satu tim—atau satu pemain lajang—yang bisa menamatkan gim ini, mereka pada akhirnya harus menentukan seorang pemenang di antara mereka yang saling bekerja sama. Entah melalui jalur dialog, undian, suit batu-gunting-kertas, atau seperti yang Mutasina katakan, melalui pertarungan maut.
"...Aku yakin kita akan menemukan jawaban yang tepat saat waktunya tiba," ucapku padanya, seraya memberikan sisa potongan daging terakhir kepada sang rajawali ekor panjang timah. Burung itu melahap habis daging tersebut dengan riang, lalu mencicit "Pwee!" dan mulai melangkah menuju istal di belakang kami tanpa perlu diperintah. Kuro membuntutinya, merasa sama-sama kenyang.
"...Akan kau beri nama apa burung itu?"
"Hah? Hmmm..."
Aku menamai sang lapispine dark panther dengan sebutan Kuro karena warna hitamnya, jadi jika aku memilih nama bahasa Jepang menggunakan logika yang sama, aku harus menamai burung berwarna abu-abu tersebut Haiiro, tapi orang-orang seperti Leafa kemungkinan besar akan mengejekku karena mencetuskan nama yang klise lagi.
"Jadi... apa saja nama-nama lainnya untuk warna abu-abu?" tanyaku pada Sinon.
Kutu buku itu membuktikan ketenarannya, karena ia tak membuang-buang waktu sedikit pun untuk membuat daftar namanya. "Yah, ada nezumi iro, yang ini mirip abu-abu tikus; lalu ada usuzumi iro, itu adalah warna dari tinta air yang pudar; lalu ada namari iro, warna timah."
"Nezumi, Usuzumi... Oh, kurasa aku suka Namari. Terlebih ia juga sudah menerima satu serangan dari peluru timahmu. "
"Bukannya aku sengaja membidiknya, kan sudah kubilang," omelnya seraya meninju bahuku.
Aku meminta maaf, sembari terkekeh-kekeh, lalu memanggil ke arah burung pemangsa yang sedang melangkah pergi itu, "Hei! Mulai sekarang namamu Namari, sekadar informasi!"
Kepala rajawali itu menoleh dengan cepat, dan seolah mengatakan "Itu nama yang bodoh, tapi kurasa aku akan menerimanya," lalu mencicit, "Pwee!"
Keesokan harinya, tanggal 2 Oktober, Ruis na Ríg mulai tumbuh dengan kecepatan yang jauh melampaui ekspektasi awalku.
Pertama-tama, jalan berpanel selebar sepuluh kaki dibangun di sepanjang tepi timur Sungai Maruba, yang berarti perjalanan ke Reruntuhan Stiss yang tidak stabil dan berbatu tiba-tiba menjadi jauh lebih mudah.
Kuadran selatan Ruis na Ríg sekarang benar-benar resmi dibuka untuk bisnis, dan secara mengejutkan sekaligus menjadi sebuah keberuntungan, pemain Insectsite beserta kelompok Holgar sepakat untuk mengambil alih pengelolaan penginapan dan toko serba ada dan sebagainya, yang berarti kami tak lagi perlu melakukan perjalanan ke Reruntuhan Stiss untuk mempekerjakan NPC untuk bekerja bagi kami—asalkan hal semacam itu memang memungkinkan.
Tentu saja, area bagian selatan juga menjadi lokasi bagi gudang senjata Lisbeth, tempat ia memamerkan senjata dan zirah kulit buatannya sendiri, tetapi karena bijih besi masih merupakan barang yang berharga, seri perlengkapan Fine Iron harus dijual dengan harga mahal. Asuna, Alice, dan Leafa menggunakan senjata setingkat di atasnya, yaitu tingkat Steel, tetapi Premium Steel Ingot yang digunakan untuk membuatnya berasal dari peleburan senjata warisanku, Blárkveld yang tangguh, dan kami tidak bisa membuat lebih banyak untuk sementara waktu.
Sementara Lisbeth sangat mendesak adanya sumber bijih besi tambahan yang stabil, tempat penambangan paling menguntungkan yang kami temukan sejauh ini adalah gua rahasia di balik air terjun menyusuri aliran Sungai Maruba. Kami tahu berdasarkan pengalaman menguji bahwa sangat memungkinkan untuk melakukan crafting di dalam gua itu, jadi aku ingin membuat ruang kerja yang mampu melebur ingot di sana, tetapi segala sesuatunya membutuhkan tenaga kerja yang sangat serius. Dan kami tidak bisa menghabiskan seluruh waktu kami hanya untuk mengelola kota. Ruis na Ríg tak lebih dari sebuah pangkalan yang kami butuhkan untuk memulai perjalanan ke pusat dunia.
Ya, sekarang setelah lima hari berlalu semenjak awal fase baru ini bergulir pada 27 September, kami akhirnya telah menyelesaikan tahap persiapan yang kami butuhkan untuk bertolak dari titik pendaratan kabin kayu kami menuju ke arah timur laut: dataran yang ditunjukkan oleh cahaya surgawi. Kami diasumsikan menjadi kelompok yang berkelana paling jauh di antara para pemain ALO mana pun, tetapi tidak ada cara untuk mengetahui seberapa dekat para pemain dari gim lain terhadap tujuannya. Untuk saat ini, yang bisa kami lakukan hanyalah maju terus menggunakan perlengkapan dan stat yang kami punya—tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus aku ketahui.
Keesokan harinya, hari Sabtu, tanggal 3 Oktober, aku bangun awal untuk berangkat meninggalkan rumahku di Kawagoe pada pukul lima lalu tiba di kantor Rath cabang Roppongi di distrik Minato sebelum jam menunjukkan pukul tujuh.

Komentar (0)

Memuat komentar...